Korupsi Dalam Pembangunan Wilayah Suatu Kajian Ekonomi Politik Dan Budaya

(1)

RIYANTO

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2008


(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi “Korupsi dalam Pembangunan Wilayah : Suatu Kajian Ekonomi Politik dan Budaya” adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Februari 2008

Riyanto


(3)

RIYANTO. Corruption in Regional Development : a Political Economic and

Cultural Study (ISANG GONARSYAH as Chairman, AKHMAD FAUZI and

ARYA HADI DHARMAWAN as Members of the Advisory Committee).

Regional autonomy that has been implemented in Indonesia since 2001 has opened social space for democratization process in regional development. It rendered more authorities to the regional government in managing economic as well as politic agenda. However, due to lack of political as well as administrative, and professional accountability of the regional government as a result of politic, economic and cultural factors interplay, more authorities acquired then have triggered corruption in several regional governments, indicated by among others the emergence of problematic regional regulation. The main objective of this study is to analyze the political economic and cultural factors affecting corruption in regional economic development during the decentralization era in Indonesia.

The research makes use qualitative (descriptive) as well as quantitative (econometric) methodology in identifying and analyzing the political economic and cultural factors affecting corruption in the regional administration. In addition, case studies are conducted in three regencies, i.e. Kabupaten Solok, Kabupaten Sukoharjo and Kabupaten Kutai Kartanegara to elaborate the process of policy making in formulating budget and regional regulation.

Results of the study show that (1) political economic and cultural factors are strongly affecting corruption in regional development in the autonomy era, (2) the seed of corruption has already emerged since the beginning of the decision making process in the executive as well as legislative agencies, and (3) compared to the Administration of Kabupaten Solok which has implemented the practices of good governance, the magnitude of corruption in the Administration of Kabupaten Sukoharjo and Kabupaten Kutai Kartanegara is higher, due respectively to the interplay of political power and cultural factors in Kabupaten Sukoharjo and to the relatively absolute power held by the regent of Kabupaten Kutai Kartanegara.

Keyword : corruption, political economic, cultural factor, regional regulation, regional development, good governance


(4)

Budaya (ISANG GONARSYAH sebagai Ketua, AKHMAD FAUZI dan ARYA HADI DHARMAWAN sebagai Anggota Komisi Pembimbing).

Otonomi daerah yang dilaksanakan sejak tahun 2001 telah membuka ruang sosial bagi proses demokratisasi dalam pembangunan wilayah. Pemerintah daerah (kabupaten/kota) memperoleh kewenangan yang lebih besar untuk mengatur kehidupan ekonomi maupun politik di daerahnya masing-masing. Namun, karena lemahnya akuntabilitas politik, administratif, dan profesionalisme dari sebagian besar pemerintah daerah sebagai akibat dari bakumain (interplay) faktor ekonomi, politik dan budaya, maka kewenangan yang lebih besar dalam bidang ekonomi dan politik tersebut justru memicu korupsi di sementara daerah yang ditandai antara lain oleh munculnya Perda-Perda bermasalah. Tujuan utama penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor ekonomi politik dan budaya yang mempengaruhi korupsi dalam pembangunan wilayah pada era otonomi daerah di Indonesia.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif (deskriptif) dan juga kuantitatif (ekonometrika) untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor ekonomi politik dan budaya yang mempengaruhi korupsi di pemerintahan daerah. Sebagai tambahan, studi kasus juga dilakukan di tiga daerah yakni di Kabupaten Solok, Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Kutai Kartanegara untuk mengelaborasi proses penyusunan anggaran dan peraturan daerah.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa (1) faktor-faktor ekonomi politik dan budaya sangat mempengaruhi terjadinya korupsi dalam pembangunan wilayah di era otonomi daerah, (2) bibit korupsi telah muncul sejak awal proses perumusan kebijakan baik di lembaga eksekutif maupun lembaga legislatif, dan (3) dibandingkan dengan Kabupaten Solok yang mengimplementasikan praktek-praktek penadbiran baik (good governance), tingkat korupsi di Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Kutai Kartanegara lebih tinggi, masing-masing sebagai akibat dari baku main antara kekuatan politik dan faktor budaya di Kabupaten Sukoharjo dan kekuasaan politik yang relatif absolut dari Bupati Kutai Kartanegara.

Kata kunci: korupsi, ekonomi politik, faktor budaya, peraturan daerah, pembangunan


(5)

©

Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2008

Hak Cipta dilindungi oleh undang-undang.

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa

mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian,

penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya


(6)

RIYANTO

Disertasi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada

Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2008


(7)

Nama Mahasiswa : Riyanto

Nomor Pokok : A165034011

Program Studi : Ilmu-Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan

Menyetujui Komisi Pembimbing

Prof. Ir. Isang Gonarsyah, Ph.D Ketua

Prof. Dr. Ir. Akhmad Fauzi, M.Sc Dr. Ir. Arya Hadi Dharmawan, M.Sc.Agr. Anggota Anggota

Mengetahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah

dan Perdesaan

Prof.. Ir. Isang Gonarsyah, Ph.D Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS


(8)

Penguji pada Ujian Tertutup : 1. Dr. Nurmala K. Panjaitan, DEA 2. Dr. Endriatmo Soetarto, MA

Penguji pada Ujian Terbuka : 1. Dr. Ari Kuncoro 2. Dr. J Kristiadi


(9)

rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan disertasi yang membahas mengenai korupsi dengan judul Korupsi dalam Pembangunan Wilayah : Suatu Kajian Ekonomi Politik dan Budaya.

Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada komisi pembimbing : Bapak Prof. Ir. Isang Gonarsyah,Ph.D, Bapak Prof. Dr. Akhmad Fauzi, M.Sc dan Bapak Dr. Ir. Arya Hadi Dharmawan, M.Sc.Agr, atas bimbingannya sejak mencari ide penelitian, perumusan masalah, menentukan fokus penelitian, membangun kerangka pikir, mengarahkan dalam menentukan metode analisis sampai proses analisis serta sintesis. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Prof. Dr. Ir . Affendi Anwar, M.Sc, yang banyak mengkritisi proses penyusunan disertasi ini sejak ujian preliminasi tahap II hingga menjelang akhir penulisan. Selain, itu penulis sampaikan terima kasih kepada Dr. Nurmala K. Panjaitan dan Dr. Endriatmo Soetarto, MA yang telah mengkritisi draft

disertasi ini pada saat Ujian Tertutup. Tak lupa terima kasih disampaikan juga kepada Dr. Ari Kuncoro dan Dr. J. Kristiadi atas sumbangsih pemikiran dan masukan pada saat Ujian Terbuka, yang sangat berharga untuk perbaikan draft

disertasi ini.

Rasa terima kasih juga penulis ingin sampaikan kepada Pimpinan LPEM FEUI Bapak Dr. Muhammad Chotib Basri, Bapak Dr. Widyono Soetjipto , Bapak Dr. Arianto A. Patunru, Ibu Thia Jasmine, SE, M.Sc, Ibu Purwatiningsih, SE, MBA serta seluruh rekan-rekan peneliti LPEM FEUI. Tak lupa, terima kasih tak terhingga untuk rekan-rekan Program S3 PWD, Bapak M. Mubarok, Bapak Askar Jaya, Bpk. Akhmad Aris, yang ikut memberikan dorongan dan bantuan, masukan dalam berbagai diskusi dengan penulis. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada kedua orang tua penulis, Bapak Umar, Ibu Barisah dan seluruh keluarga atas doa dan perhatiannya. Terima kasih yang tak terhingga kepada isteri penulis, Dewi Arini, yang membantu dan menemani penulis menyusun disertasi ini, mengkliping berbagai artikel, journal serta pengertiannya atas waktu penulis yang sedikit untuk keluarga. Penulis juga sampaikan


(10)

pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret, Solo, beserta Tim Survei di Sukoharjo, Teman-teman di POKJA 30 Samarinda, dan adik-adik mahasiswa Unikarta, Tenggarong, Kalimantan Timur Kutai Kartanegara, Sdr. Desi Destriani dan Rahmat serta Tim Survei di Solok serta berbagai pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu. Terima kasih kepada Bpk. Agung Pambudhi di KPPOD yang berkenan memberikan data yang cukup lengkap.

Penulis menyadari bahwa keterbatasan ilmu dan pemahaman yang penulis miliki membuat disertasi ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat penulis harapkan. Atas perhatian semua pihak, penulis ucapkan terima kasih.

Bogor, Februari 2008


(11)

bungsu dari pasangan Umar dan Barisah. Pendidikan sarjana ditempuh di Jurusan Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB, lulus pada tahun 1995. Pada tahun 2003 penulis lulus program magister pada Program Studi Ilmu-Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan pada Program Pascasarjana IPB. Pada tahun 2004, penulis masuk Program Doktor Sekolah Pascasarjana IPB pada program studi Ilmu-Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan.

Penulis bekerja sebagai peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI) sejak tahun 1996 dan tidak kurang lebih dari 40 kegiatan penelitian telah penulis ikuti. Sejak tahun 1997 penulis juga menjadi staf pengajar di Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Penulis menikah dengan Dewi Arini pada tahun 1999 dan telah dikarunia dua anak yaitu Hafizhah Indriyani dan Indra Mahib Zuhair.


(12)

DAFTAR TABEL... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Identifikasi dan Perumusan Masalah ... 5

1.3. Tujuan Penelitian ... 11

1.4. Kegunaan Penelitian ... 12

1.5. Ruang Lingkup dan Batasan Studi ... 12

II. TINJAUAN TEORI DAN PUSTAKA ... 14

2.1. Korupsi dan Perilaku Pencarian Rente(Rent Seeking Behaviour)... 14

2.2. Teori Pembangunan Ekonomi Wilayah: Peranan Politik dan Kelembagaan... 18

2.3. Keterkaitan antara Korupsi dengan Pembangunan Ekonomi Wilayah : Kajian Teoritis dan Empiris ... 20

2.4. Keterkaitan Korupsi dengan Faktor Budaya : Kajian Empiris ... 24

2.5. Berbagai Pendekatan (Model) yang Digunakan dalam Mengkaji Keterkaitan Korupsi dengan Pembangunan Ekonomi ... 28

2.6. Keterkaitan antara Korupsi dengan Perumusan Regulasi : Tinjauan Teori dan Model-Model Ekonomi Politik dalam Kebijakan Publik... 30

III. KERANGKA PEMIKIRAN HIPOTESIS ... 43

3.1. Kerangka Konseptual ... 43

3.2. Hipotesis Penelitian ... 58

IV. METODE ANALISIS DAN PROSEDUR PENELITIAN ... 60

4.1. Metode Analisis untuk Menelaah Kaitan Antara Korupsi dengan Perda-Perda Bermasalah serta Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya : Pendekatan Secara Makro ... 60

4.2. Metode Analisis untuk Menelaah Kaitan antara Korupsi dengan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya : Pendekatan Studi Kasus ……….. 68

4.3. Data dan Prosedur Memperolehnya ... 72

V. EKONOMI POLITIK KORUPSI NASIONAL DAN 75 FAKTOR BUDAYA YANG MEMPENGARUHINYA:


(13)

5.3. Dari Orde Baru ke Era Reformasi : Pola Korupsi dan Kinerja

Perekonomian... 103

5.4. Simpulan ……… 108

VI. FAKTOR EKONOMI POLITIK DAN BUDAYA 111 YANG MEMPENGARUHI KORUPSI DI DAERAH-DAERAH PADA ERA OTONOMI ………. 6.1. Deskripsi Faktor Ekonomi Politik di Daerah pada Era Desentralisasi……….. 114

6.2. Faktor Ekonomi Politik dan Budaya yang Mempengaruhi Korupsi di Daerah pada Era Desentralisasi : Hasil Analisis Model Ekonometrika………. 125

6.3. Apakah Benar Korupsi Sudah Membudaya ? ... 134

6.4. Simpulan... 143

VII. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELUANG 145

TERJADINYA KORUPSI : STUDI KASUS DI KABUPATEN SUKOHARJO, KABUPATEN SOLOK DAN KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA……… 7.1. Gambaran Umum Struktur Sosio Budaya Masyarakat di Tiga Lokasi 145 Studi ………... 7.2. Gambaran Umum Struktur Ekonomi Politik Pembangunan Wilayah di Tiga Lokasi Studi ……….... 153

7.3. Korupsi dalam APBD dan faktor-Faktor Ekonomi Politik dan Budaya yang Mempengaruhinya: Mekanisme Proses Perumusan, Pelaksanaan dan Pengawasan Perda APBD ………. 158

7.4. Korupsi dalam Perizinan Usaha dan Faktor-Faktor Ekonomi Politik dan Budaya yang Mempengaruhinya ………... 192

7.5. Simpulan ………... 227

VIII.SIMPULAN, SARAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 230

8.1. Simpulan ………... 230

8.2. Implikasi Kebijakan dan Saran ………. 231

8.3. Saran untuk Penelitian Selanjutnya ………... 233

DAFTAR PUSTAKA ……….... 235


(14)

DAFTAR TABEL

Halaman 1 Variabel yang Digunakan dalam model Ekonometrika dan

Deskripsinya……….. 62

2 Distribusi Kursi DPR Hasil Pemilu 1999 ………. 92

3 Kelompok Usaha , Perusahaan dan Proyek yang Dimenangkan dalam Tender ……….. 97

4 Proporsi Anggota DPR yang Juga Pengusaha... 99

5 Indikator Kinerja Perekonomian Indonesia dari Era Orde Baru sampai Era Reformasi…... 104

6 Nilai APBD Beberapa Kabupaten/Kota Tahun 1996/1997 dan Tahun 2001... 115

7. Perbandingan Dana Bagi Hasil (Pajak Non Pajak), SDO, Inpres Sebelum Desentralisasi Fiskal (Tahun 1996/1997) dengan Dana Perimbangan Setelah Desentralisasi Fiskal Tahun 2001………... 116

8. Kenaikan (dalam %) APBD Daerah (Kabupaten/kota dan Propinsi) Tahun 2001 Dibandingkan dengan APBD Daerah Tahun 2000... 117

9. Dana Perimbangan (Triliun Rupiah) 2002-2005……….. 117

10. Kualitas Kepemimpin Kepala Daerah dan Tingkat Kemiskinan ………. 120

11. Latar Belakang Pekerjaan Kepala Daerah Terpilih Hasil Pilkada Langsung 2005-2006………. . 120

12. SK Menteri Keuangan untuk Pembatalan Perda Bermasalah………... 123

13. Hasil Estimasi Faktor Ekonomi Politik dan Budaya yang Mempengaruhi Indeks Korupsi (KORUPNDX)... 126

14. Hasil Estimasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Perumusan dan Pelaksanaan Perda…... 131

15. Hasil Estimasi Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kualitas Birokrasi... 132

16 Hasil Estimasi Faktor-Faktor yang Menentukan Besarnya DAU tahun 2005…………... . 132

17. Deskripsi Sosio-Budaya di Tiga Lokasi Penelitian... 153

18. Karakteristik Demografi dan Ekonomi Daerah Penelitian………. 154

19. Perolehan Suara Pemilu 2004 Masing-Masing Partai Politik (dalam persen) di Daerah Penelitian... 155

20 Bupati, Wakil Bupati dan Parpol Pendukung dalam Pilkada Langsung Tahun 2005……….………... ... 157

21. Laporan Perhitungan Belanja APBD Kabupaten Solok Tahun 2005…... 171

22. Struktur Belanja APBD Kabupaten Sukoharjo Tahun 2005………... 175

23. Persentase Sektor Usaha yang di Survei... 193

24. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Pilihan Parpol pada Pemilu 2004... 194

25. Keterlibatan Pengusaha dalam Perumusan Regulasi (%)... 200

26. Persentase Respon Pengusaha Terhadap Perubahan Kebijakan... .. 200

27. Persebaran Jumlah Perizinan Menurut Jenis Perizinan Kuasa Pertambangan (KP) di Kaltim………... 207

28. Beberapa Perusahaan yang Memiliki Izin Kuasa Pertambangan ………... 208


(15)

29. Jumlah Izin Kuasa Pertambangan (KP) Menurut Jenis Usaha di Kaltim

Tahun 2006………... 208

30. Biaya Administrasi Resmi yang Harus Dibayarkan Oleh Pemohon

Kuasa Pertambangan……… 216

31. Besarnya Biaya Untuk Unit Pelayanan Informasi dan Pencadangan Wilayah Pertambangan (UPIPWP) di

Kabupaten Kukar………... 218 32 Proporsi Responden di Tiga Daerah dan Waktu yang Digunakan

untuk Berhubungan dengan Birokrasi…... 221 33 Persepsi Responden (%) Terhadap Hambatan Aktivitas yang

Disebabkan oleh Perizinan………. 221 34 Hasil Uji Chi-Square untuk Melihat Kaitan antara Fenomena

Penyuapan dalam Perizinan Usaha dengan Faktor Ekonomi

Politik dan Budaya……….. 223

35. Estimasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Peluang Menyuap………... 224 36. Penilaian Prinsip-Prinsip Penadbiran Baik di Daerah Penelitian…... 227


(16)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Buchanan –Tullock Model………... 33

2 Aktor-Aktor Utama dalam Pemerintahan Representatif…………... 44

3 Skema Representasi Permintaan dan Penawaran Kebijakan………. 47

4 Kecenderungnan Kenaikan Indeks Harga Konsumen dari Tahun 1990-2006... 105

5 Indeks Gini Indonesia... 107

6 Persentase Responden yang Menjawab Uang Pelicin Sebagai Sesuatu yang Wajar dan sebagai Suatu Kebiasaan ... 138

7 Tingkat Apatisme Perusahaan terhadap Korupsi di Daerah Penelitian ... 8 Respons Malu Pengusaha di Daerah Penelitian, Jika Mereka Melakukan Korupsi dan Ditayangkan di Televisi ... 139

9 Perolehan Suara di DPRD masing-masing Parpol di Daerah Penelitian... 157

10 Alur Proses Perencanaan Pembangunan………. 162

11 Lama Melakukan Kegiatan (Umur) Usaha Responden ………... 194

12 Urutan Perizinan KP ... 211

13 Mekanisme Proses Perizinan KP Eksploitasi dan Pertambangan... 212

14 Indeks Kualitas Pelayanan Perizinan di Tiga Daerah Penelitian…... 220

15 Banyaknya Perusahaan yang Melakukan Penyuapan dan Tidak Menyuap ketika Mengurus Perizinan ………... 222


(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Variabel-Variabel yang Terdapat pada Data KPPOD 2005……….. 243

Lampiran 2. Kuesioner untuk Survei Lapangan………... 253

Lampiran 3. Gambar Pembangunan Proyek Mercusuar dan Dominasi Media Massa Pendukung Bupati di Kabupaten Kutai Kartanegara…... 264

Lampiran 4. Gambaran Suasana Perizinan di Kabupaten Solok……….... 265

Lampiran 5. Gambaran Suasana Perizinan di Kabupaten Sukoharjo………. 267


(18)

1.1. Latar Belakang

Data dari Masyarakat Transparency International (2005) menunjukkan bahwa korupsi terjadi di semua negara dengan bentuk dan derajat yang berbeda-beda. Menurut Rose-Ackerman (1997), luas dan akutnya korupsi merupakan gejala (symptom) bahwa negara tidak atau kurang berfungsi dengan baik

(poorly functioning state). Negara-negara yang telah berfungsi dengan baik

dicirikan oleh keberhasilannya membangun tata aturan (kelembagaan) sosial, ekonomi, dan politik yang diperlukan dalam hidup berbangsa dan bernegara secara lebih baik. Negara yang demikian pada umumnya berhasil mengekang dan mengendalikan korupsi. Itulah mengapa negara-negara yang telah maju seperti Swiss, Swedia, Denmark, Jerman, Perancis mengalami tingkat korupsi yang sangat rendah.

Sementara itu, negara-negara berkembang yang dalam proses pembangunannya belum berhasil membangun tata aturan sosial, ekonomi dan politiknya seperti Nigeria, Kameron, Kenya, Uganda, Vietnam, Philipina, Indonesia dan sebagainya, cenderung mempunyai derajat korupsi yang sangat tinggi (Transparency International, 2005). Dalam sejarah pembangunannya, negara-negara tersebut masih mengalami berbagai kendala karena buruknya tata aturan (kelembagaan) sosial, ekonomi dan politik yang memicu terjadinya korupsi, sehingga walaupun negara tersebut kaya akan sumber daya alam, tetap saja negara ini gagal dalam pembangunan ekonominya. Fenomena ini mendorong banyak ahli ekonomi pembangunan untuk mengkaji keterkaitan antara korupsi dengan pembangunan, khususnya korupsi yang terjadi dalam proses pembangunan di berbagai negara berkembang.

Kajian mengenai keterkaitan antara korupsi dan dampaknya terhadap pembangunan ekonomi menghasilkan dua pandangan yang berlawanan. Pandangan pertama mengatakan bahwa dalam kondisi pajak dan aturan-aturan yang berlebihan dan cenderung menghambat aktivitas ekonomi, suap (bribery)

dapat menjadi pelumas (grease) dalam perekonomian, karena dengan suap dapat diatasi hambatan dan kelambanan birokrasi. Pandangan ini dikenal dengan


(19)

istilah hipotesis pelumas efisien (efficient grease hypothesis) sebagaimana dikemukakan oleh Huntington (1968) dan Lui (1985).

Dalam perkembangannya, pandangan hipotesis pelumas efisien mulai dipertanyakan karena sejumlah asumsi yang digunakan. Sebagai contoh, misalnya, asumsi bahwa distorsi-distorsi regulasi dapat dimitigasi oleh penyuapan. Asumsi ini kurang mendapat dukungan yang sahih, karena sering kali distorsi-distorsi dalam perekonomian dan suap umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang sama.

Bardhan (1997) mengeritik teori hipotesis pelumas efisien dengan mengatakan bahwa distorsi-distorsi tersebut tidak eksogen (exogenous) terhadap sistem, tetapi merupakan bagian yang inheren (built-in) dalam praktek-praktek korupsi dari sistem politik yang bercirikan hubungan patron-klien. Karena birokrat memiliki kekuasaan untuk menentukan suatu aturan tertentu, maka aturan–aturan yang menghambat secara endogen dibuat oleh pejabat pemerintah yang korup, sedemikian sehingga mereka menyusun bentuk dan sejumlah hambatan terhadap perusahaan agar mereka dapat memperoleh uang sogokan semaksimal mungkin. Akibatnya perusahaan yang telah membayar uang sogokan lebih besar, akan tetap harus membayar uang suap yang lebih besar lagi. Oleh karena itu penyuapan menciptakan biaya ekonomi yang tinggi sehingga berdampak negatif terhadap perekonomian dan pembangunan wilayah.

Penelitian empirik yang dilakukan oleh para ahli di berbagai negara berkembang mendukung argumen bahwa korupsi berdampak negatif terhadap perekonomian dan proses pembangunan. Myrdal (1970) yang melakukan penelitian tentang korupsi di negara-negara di kawasan Asia Selatan menemukan bahwa perilaku korupsi menghambat laju modernisasi di kawasan tersebut. Bardhan (1987), Mauro (1995), Klitgaard (1998), Bareto (2000), Lambsdorff (1999) menemukan bahwa korupsi berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Rose-Ackerman (1997) menemukan bahwa korupsi membuat negara akan terjebak pada stagnasi dan terus hidup dalam kejatuhan ekonomi, karena korupsi merupakan gejala (symptom) yang menunjukkan negara kurang berfungsi dengan baik sehingga pertumbuhan ekonominya lambat.


(20)

Studi yang dilakukan oleh Hill (1999), MacIntyre (1999) dan Kuncoro (2002) menghasilkan temuan bahwa dampak korupsi di Indonesia terhadap pembangunan ekonominya jauh lebih buruk dan sangat mengkhawatirkan. Pada era Pemerintahan Orde Baru korupsi tumbuh subur melalui jalur birokrasi (badan pemerintah). Dominannya posisi birokrasi pemerintah sebagai sumber utama penyedia barang, jasa, lapangan kerja, dan sebagai pengatur kegiatan ekonomi menyebabkan makin maraknya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) saat itu. Korupsi dilakukan melalui kolusi antara birokrat dengan pengusaha. Perkiraan kebocoran anggaran negara (APBN) waktu itu ditaksir mencapai hingga 30% sampai 50% (Indonesian Corruption Watch, 2000; Rosidi, 2006; Nurdjana, 2005).

Dipicu oleh krisis moneter akibat jatuhnya nilai tukar bath pada Juli 1997, korupsi yang masif dan kolosal yang dilakukan oleh pemerintahan Orde Baru akhirnya menyebabkan terjadinya krisis nasional yang berkepanjangan dan dampaknya masih terasa hingga kini. Hill (1999) menunjukkan bahwa kekuasaan yang sentralistik dan korupsi pada era Orde Baru menyebabkan bangsa Indonesia sangat rentan terhadap krisis. MacIntyre (1999) juga menemukan bahwa regulasi keuangan dan perbankan yang sangat rentan bersama dengan krisis pengelolaan perbankan akibat kolusi antara bankir– pengusaha–birokrat merupakan faktor utama hilangnya kepercayaan investor yang memicu terjadinya krisis ekonomi tahun 1998. Kuncoro (2002) menunjukkan bahwa daerah-daerah di Indonesia yang mempunyai tingkat suap yang tinggi akan dijauhi oleh perusahaan-perusahaan baru yang kemudian akan mempunyai dampak pada menurunnya produktivitas secara agregat.

Menyadari dampak negatif korupsi terhadap pembangunan mendorong lembaga-lembaga internasional, seperti Bank Dunia (World Bank) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berusaha secara terus menerus untuk memberantas dan menekan korupsi. Bahkan, sejak September 2007, kedua lembaga tersebut meluncurkan program StAR (Stolen Asset Recovery) initiative yakni sebuah program kerjasama global dan bilateral untuk membantu negara-negara berkembang agar pembangunan ekonominya dapat berjalan lebih efektif dengan cara memperkuat akuntabilitas kelembagaan dan membantu


(21)

mengembalikan harta yang dikorupsi dan dilarikan ke luar negeri oleh para mantan pemimpin negaranya.

Sementara itu, berbagai usaha memberantas korupsi di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1960-an. Rahayu (2005) menjelaskan bahwa pada masa Orde Lama di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, tercatat dua kali dibentuk Badan Pemberantasan Korupsi, namun pada waktu itu pemerintah setengah hati menjalankannya. Pada awal masa pemerintahannya, Presiden Soeharto membentuk Tim Pemberantasan Korupsi (TPK) yang diketuai oleh Jaksa Agung. Pada tahun 1970, karena ketidakseriusan TPK dalam memberantas korupsi, mahasiswa dan pelajar melakukan unjuk rasa memprotes keberadaan TPK. Akibat maraknya gelombang protes tersebut, akhirnya Presiden Soeharto waktu itu, membentuk Komite Empat yang beranggotakan tokoh-tokoh tua yang dianggap bersih dan berwibawa, seperti Prof Johannes, IJ Kasimo, Mr Wilopo, dan A Tjokroaminoto. Mereka diberi tugas untuk membersihkan korupsi di Departemen Agama, Bulog, CV Waringin, Telkom, Pertamina dan lain-lain. Tetapi Tim ini bagai “macan ompong”, karena hasil temuannya dalam mengungkap korupsi pada waktu itu tidak direspons oleh pemerintah.

Upaya pemberantasan korupsi memperoleh momentumnya kembali bersamaan dengan runtuhnya rezim Orde Baru. Reformasi yang dipelopori oleh mahasiswa pada tahun 1998 menempatkan pemberantasan korupsi sebagai salah satu agenda reformasi. Hal ini tertuang dalam ketetapan MPR RI No XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme. Sejak saat itu wacana anti korupsi semakin berkembang dengan munculnya organisasi-organisasi yang bergerak untuk memberantas korupsi, seiring dengan adanya kebebasan pers dan kebebasan politik. Dari wacana yang berkembang tersebut kemudian muncul gagasan untuk melakukan pendekatan legal dalam pemberantasan korupsi seperti perbaikan UU Anti Korupsi, UU Perlindungan Saksi, Ombudsman, dan lain-lain (Indonesian

Corruption Watch, 2000). Perangkat dan berbagai ketentuan hukum dibuat

pada masa Pemerintahan Habibie sebagai upaya pemberantasan korupsi. Sebut saja misalnya UU No 28 tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang


(22)

bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme dan UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Usaha tersebut dilanjutkan pada Pemerintahan Megawati yang melahirkan UU Nomor 30 tahun 2002 tentang pembentukan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). Dengan KPK inilah Pemerintahan SBY-JK giat memberantas korupsi. Untuk melengkapi alat hukum pemberantasan korupsi, Pemerintahan SBY-JK mengeluarkan UU Nomor 7 tahun 2006 tentang ratifikasi konvensi PBB menentang korupsi (UN Convention Againts Corruption) yang di dalamnya memasukkan bribery (penyuapan) dan penggelapan sebagai delik pidana korupsi.

Namun demikian usaha tersebut belum memberikan hasil optimal. Data

Transparency International dalam enam tahun terakhir selalu menempatkan

Indonesia sebagai kelompok negara paling korup di dunia1. Ini menandakan bahwa korupsi terus berlangsung dan makin merajalela. Bahkan skalanya meluas ke berbagai daerah, terutama sejak otonomi daerah diimplementasikan pada tahun 2001. Masuknya orang-orang baru dalam pemerintahan, baik di legislatif maupun eksekutif di tingkat nasional dan lokal (daerah) juga tidak mampu menciptakan perbaikan yang berarti dalam mengurangi korupsi. Bahkan mereka malah larut dan ikut melakukan korupsi.

1.2. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Pola-pola akumulasi kekuasaan politik dan kekayaan ekonomi yang berbasis perilaku pencarian rente (rent seeking) yang tumbuh subur di era Orde Baru terus berlangsung hingga kini. Berbagai “aksi” anggota parlemen yang kita saksikan sejak parlemen tahun 1999 dan parlemen tahun 2004 berhasil memperluas cengkeraman partai-partai politik terhadap sumber-sumber keuangan negara, baik di tingkat nasional maupun lokal. Pada tingkat nasional kasus seperti Bulogate, Bank Bali, Bank Mandiri, BLBI, BPPN dan lainnya memberikan indikasi kuat bahwa partai-partai politik yang ada saat ini, benar-benar berusaha mengontrol pundi-pundi keuangan negara. Partai politik yang

1


(23)

demikian menunjukkan bahwa partai-partai tersebut bukan merupakan partai politik modern.

Di sisi lain duduknya pengusaha-pengusaha besar di kepengurusan partai-partai politik yang berkuasa saat ini makin menegaskan kuatnya kontrol korporasi terhadap partai politik dan pemerintahan, sementara birokrasi telah menjelma dari jejaring rente pengusaha besar –yang berperan sebagai pendana politik (political financiers) pada masa Orde Baru- menjadi aktor-aktor penentu kebijakan publik dewasa ini. Konfigurasi politik nasional pada saat ini dapat disebut sebagai pemantapan struktur-struktur pencarian rente warisan Orde Baru (Simanjuntak, 2005). Robison dan Hadiz (2004) menengarai fenomena maraknya korupsi, kolusi dan nepotisme saat ini sebagai akibat kuatnya

politico-business oligarchy yang didukung oleh tiga kekuatan yaitu pengusaha

hitam-birokrasi-militer. Dalam konteks ini, birokrasi akhirnya menjadi mesin pelaku politik dan pelaku bisnis sebagai sarana apropriasi sumber-sumber daya ekonomi maupun politik (Indonesian Corruption Watch [ICW], 2000).

Aksi pencarian rente tersebut bahkan terus meluas ke berbagai daerah, seiring dengan diimplementasikannya kebijakan otonomi daerah pada tahun 2001. Di satu sisi, otonomi daerah telah membuka ruang sosial bagi proses demokratisasi dalam pembangunan wilayah. Dengan otonomi daerah, pemerintah daerah (kabupaten/kota) memperoleh kewenangan yang lebih besar untuk mengatur kehidupan ekonomi maupun politik di daerahnya masing-masing. Namun, di sisi yang lain, karena lemahnya akuntabilitas politik, administratif, dan profesionalisme pemerintahan daerah sebagai akibat dari bakumain (interplay) antara faktor politik, ekonomi dan budaya, kewenangan yang lebih besar tersebut justru memicu terjadinya korupsi yang berasal dari perilaku pencarian rente.

Henderson dan Kuncoro (2004) menemukan bahwa setelah desentralisasi fiskal tahun 2001, penyuapan (korupsi) pada tingkat pemerintahan daerah meningkat sejalan dengan (fakta bahwa) makin banyaknya aturan-aturan baru yang diterbitkan oleh pemerintah daerah, khususnya pajak, retribusi dan berbagai jenis perizinan serta kebijakan (regulasi) di daerah yang diciptakan sebagai aturan semu (artificial) agar pejabat lokal (birokrasi lokal) bersama


(24)

dengan kelompok kepentingan tertentu memperoleh peluang mendapatkan rente ekonomi sebesar-besarnya.Patut dicatat, bahwa sejak tahun 2001 sampai tahun 2003 telah muncul 3 844 peraturan daerah (perda) baik tentang APBD, pajak, retribusi, perizinan dan regulasi lainnya. Hasil kajian Komisi Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah, KPPOD (2005) menunjukkan bahwa dari 3 844 perda yang muncul tersebut, hanya sekitar 14% yang tidak “bermasalah”, dan selebihnya, sekitar 86%, menimbulkan banyak masalah antara lain berpotensi menciptakan ekonomi biaya tinggi, menimbulkan persaingan tidak sehat, menghalangi akses masyarakat terhadap sumber daya, menghalangi lalu lintas barang antar daerah, adanya ketidakjelasan kriteria jenis jasa yang diberikan pemerintah daerah yang perlu dibiayai dengan retribusi, dan pengenaan pajak/pungutan yang berganda dengan pungutan/pajak yang telah ada.

Regulasi-regulasi yang bermasalah memang bukan hal yang baru terjadi pada era desentralisasi saat ini, tetapi sebelum desentralisasi diberlakukan regulasi tersebut sudah ada. Misalnya regulasi yang dibuat oleh Pemerintah Daerah (Pemda) yang memberlakukan halangan-halangan dalam bentuk tarif dan tata niaga dalam perdagangan untuk melindungi kepentingan usaha atau dagang kelompok yang menyuap birokrat pemerintah daerah tersebut (SMERU,1999). Ray (2003) menjabarkan asal-muasal dari kebanyakan kebijakan Pemda yang diskriminatif dan anti-persaingan tepat sebelum dimulainya proses otonomi. Namun, desentralisasi yang diwarnai oleh masih lemahnya akuntabilitas pemerintahan daerah, makin menambah persoalan-persoalan dan tekanan baru dalam perumusan, pelaksanaan dan pengawasan regulasi.

Persoalan-persoalan dan tekanan-tekanan dalam perumusan, pelaksanaan dan pengawasan regulasi yang memicu terjadinya korupsi juga berasal dari faktor budaya masyarakat dan budaya birokrasi di berbagai daerah yang jauh dari prinsip-prinsip penadbiran baik (good governance). Bangkitnya kembali faktor-faktor primordialisme dan komunalisme yang berinteraksi dengan birokrasi lama yang kental dengan budaya feodalistik, makin memicu banyaknya regulasi-regulasi yang bermasalah (Simanjuntak, 2005). Tumbuh suburnya perilaku suap-menyuap juga terkait dengan warisan kondisi historis kultural yang telah berjalan berabad-abad akibat represi yang dilakukan oleh


(25)

penjajah (Alatas dalam Damanhuri, 2006). Karena hal tersebut berlangsung lama dan secara terus menerus, akibatnya masyarakat menilai bahwa upeti dan uang sogokan untuk menunjukkan loyalitas terhadap atasan atau penguasa sebagai sesuatu yang biasa. Pemaknaan sedemikian dari masyarakat sangat menentukan eksistensi dan meluasnya korupsi (Panjaitan, 2007).

Budaya feodalistik yang mewarnai birokrasi pada masa Orde Baru makin tumbuh subur, seiring dengan makin berkembangnya sistem politik yang berbasis pada budaya politik Jawa. Kondisi ini tidak lepas dari figur Presiden Soeharto waktu itu, yang berasal dari Jawa dengan mengadopsi kepemimpinan model kerajaan Jawa (Dwiyanto et al, 2005). Melalui penerapan sistem politik sentralistik dan hegemoni, penyeragaman diberlakukan di lingkungan birokrasi pemerintah. Loyalitas para aparat birokrasi pemerintah ditujukan kepada negara dan pemerintah, bukan kepada rakyat.

Akhirnya, seperti yang kita lihat, budaya feodalistik dan paternalistik yang melekat pada birokrasi yang tumbuh subur pada masa Orde Baru, terus berkembang mewarnai masyarakat dan birokrasi di berbagai daerah hingga saat ini. Bahkan menurut Simanjuntak (2005), budaya feodalistik yang melekat pada birokrasi ini seperti mendapat “suntikan” energi baru dengan adanya otonomi daerah.

Sentralisasi birokrasi pada masa Orde Baru telah menyebabkan birokrasi terjebak dalam pengembangan kultur organisasi yang lebih berorientasi vertikal daripada kultur horizontal yang lebih berorientasi kepada kepentingan publik. Hal ini menyebabkan terjadinya patologi dalam bentuk tindakan penyimpangan kekuasaan dan wewenang yang dilakukan oleh birokrasi.

Masuknya orang-orang partai ke dalam lingkaran kekuasaan dan jalur birokrasi di berbagai daerah sejak reformasi dan otonomi daerah diberlakukan, pada akhirnya mendesak kekuasaan birokrasi yang semula sebenarnya sudah sangat besar (Hendytio, 2006). Persoalannya, menjadi serius ketika orang-orang partai politik mengambil peran dalam birokrasi, menduduki jabatan-jabatan teknis yang terkait langsung dengan implementasi suatu regulasi (kebijakan) di daerah. Konflik kepentingan antara partai politik dan pemerintah daerah menjadi tidak terhindarkan. Akan sangat sulit bagi seorang kader partai


(26)

untuk meletakkan kepentingan partainya di bawah kepentingan publik. Sebab keberadaan seorang kader partai di dalam posisi birokrasi pada dasarnya adalah untuk mengumpulkan sumber-sumber bagi partai, baik sumber keuangan, sumber daya manusia, maupun sumber kekuasaan dan pengaruh (Hendytio, 2006).

Perilaku pencarian rente yang ditandai oleh munculnya berbagai Perda “bermasalah” tersebut selanjutnya memicu meluasnya korupsi di berbagai daerah. Data ICW (2004) menunjukkan bahwa pada tahun 2004 ada 432 kasus korupsi di berbagai daerah yang mayoritas dilakukan oleh Kepala Daerah (83 kasus) dan anggota DPRD (124 kasus) baik itu melalui Perda APBD maupun melalui Perda tentang Perizinan, Pajak dan Retribusi.

Berdasarkan uraian di atas, korupsi yang marak di berbagai daerah yang membawa implikasi yang luas dalam menghambat pembangunan wilayah berakar dari munculnya berbagai regulasi yang diciptakan baik untuk kepentingan birokrat itu sendiri maupun untuk kepentingan suatu kelompok tertentu. Berbagai Perda yang sesungguhnya dibuat untuk memaksimalkan pemanfaatan sumber daya alam dan keuangan, secara khusus (partikular) telah dijadikan sebagai area untuk mendapatkan keuntungan pribadi, memperkaya diri sendiri atau orang lain dengan melanggar atau membuat dan mengubah peraturan yang ada.

Dalam konteks pembangunan wilayah, pemerintah menetapkan regulasi dan tingkat pajak sebagai instrumen kebijakan publik. Regulasi yang ditetapkan akan sangat berpengaruh bagi dunia usaha, sehingga swasta menginginkan regulasi yang terbentuk dan dapat diinterpretasikan sesuai dengan kepentingan mereka dengan jalan melakukan lobi dan penyuapan (Rose-Ackerman, 1999). Maka perilaku korupsi dimulai dari intervensi individu dan swasta dalam perumusan, pelaksanaan serta dalam pengawasan regulasi tersebut.

Melihat fenomena korupsi yang muncul yang bersumber dari berbagai proses perumusan, pelaksanaan dan pengawasan regulasi dalam proses pembangunan wilayah tersebut, mengisyaratkan adanya kegagalan yang serius dalam usaha menyalurkan kepentingan pribadi ke arah tujuan-tujuan produktif dalam pembangunan wilayah. Akibatnya seperti yang telah dijelaskan, daya


(27)

saing produk suatu wilayah (Indonesia) akan menurun, iklim investasi terhambat dan pada akhirnya menghambat pembangunan wilayah itu sendiri.

Oleh karena itu kajian untuk mengidentifikasi dan menganalisis bagaimana mekanisme dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya korupsi pada proses pembangunan wilayah, terutama dalam kaitannya dengan perumusan, pelaksanaan dan pengawasan regulasi/kebijakan, akan sangat membantu, bukan hanya dalam usaha untuk menekan korupsi yang muncul di berbagai daerah saat ini, tetapi juga membantu mencapai keberhasilan proses pembangunan wilayah itu sendiri.

Beberapa studi terdahulu telah menelaah kaitan antara korupsi dan pembangunan ekonomi di berbagai negara berkembang termasuk di Indonesia seperti penelitian yang dilakukan oleh Huntington (1968), Myrdal (1970), Krueger (1974), Lui (1985), Bardhan (1987; 1997), Mauro (1995), Klitgaard (1998), Lambsdorff (1999), Rose-Ackerman (2000), Bareto (2000), Kuncoro (2002; 2006), Henderson dan Kuncoro (2004; 2005) dan World Bank (2006), tetapi penelitian tersebut pada umumnya membahas dampak korupsi terhadap pembangunan dan berbagai tipologi korupsi. Kalaupun ada yang membahas faktor-faktor yang mempengaruhi korupsi, pada umumnya masih bersifat parsial dan pada tataran terjadinya korupsi pada pelaksanaan program-program pembangunan yang bersifat makro. Studi ini mencoba menelaah secara lebih komprehensif dan mendalam mengenai mekanisme terjadinya korupsi dan keterkaitannya dengan faktor ekonomi politik dan budaya dengan mengambil titik masuk (entry point) analisis pada bagaimana mekanisme perumusan regulasi serta respons pemangku kepentingan (stakeholders) dalam proses perumusan, pelaksanaan dan pengawasan regulasi. Titik masuk analisis tersebut didasarkan pada indikasi bahwa munculnya “bibit” korupsi terjadi sejak awal proses perumusan regulasi atau Perda itu sendiri.

Selain itu, studi ini juga menganalisis interaksi dan peranan masing-masing pemangku kepentingan dalam proses perumusan kebijakan, termasuk partai politik dan birokrasi, di mana kepemimpinan (leadership) menempati posisi yang strategis dan faktor budaya sangat berpengaruh terhadap pola interaksi dan respons para pemangku kepentingan tersebut. Hal tersebut


(28)

didasarkan pada (1) fakta yang terjadi saat ini yakni betapa sulitnya mencari pemimpin yang berkualitas negarawan, (2) kekhawatiran bahwa korupsi telah membudaya. Jika korupsi sudah menjadi nilai budaya, maka makin sulit usaha memberantas dan menekan korupsi.

Berdasarkan uraian diatas, secara umum pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana kaitan antara faktor ekonomi politik dan budaya dengan terjadinya korupsi di berbagai daerah di Indonesia. Secara terperinci pertanyaan penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Bagaimana mekanisme dan pola perumusan regulasi/Perda dan keterkaitannya dengan terjadinya korupsi ?

2. Seberapa besar tingkat korupsi terjadi dalam perumusan, pelaksanaan dan pengawasan regulasi di beberapa daerah di Indonesia dan apakah korupsi sudah membudaya?

3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi masyarakat, perusahaan (swasta) dalam memilih instrumen untuk mengatasi koersi yang disebabkan oleh adanya suatu regulasi yang tidak sesuai dengan keinginan?

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis keterkaitan faktor ekonomi politik dan budaya dengan terjadinya korupsi di berbagai daerah di Indonesia di era otonomi daerah. Secara terinci, penelitian ini bertujuan:

1. Menganalisis bagaimana suatu Perda dirumuskan, menemukan polanya dan keterkaitannya dengan terjadinya korupsi di beberapa daerah (kabupaten/kota) di Indonesia serta menguji adanya korupsi yang dilakukan dengan cara mempengaruhi proses perumusan kebijakan sehingga terbentuk regulasi yang melegalkan suatu perilaku korup hingga lahirnya korupsi yang terlegalisasi (legalized corruption).

2. Menganalisis seberapa besar tingkat korupsi yang terjadi dalam perumusan, pelaksanaan dan pengawasan regulasi di beberapa daerah di Indonesia dan menganalisis apakah korupsi benar-benar sudah membudaya?

3. Mengidentifikasi dan menganalisis faktor ekonomi politik dan budaya yang mempengaruhi masyarakat, perusahaan (swasta) dalam memilih


(29)

instrumen untuk mengatasi koersi yang disebabkan oleh adanya suatu regulasi yang tidak sesuai dengan keinginan.

1.4. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :

1. Dunia akademik dalam memperkaya khazanah pengetahuan tentang korupsi di Indonesia, terutama pengetahuan tentang akar masalah korupsi yang terjadi di berbagai daerah pada era desentralisasi saat ini. 2. Pemerintah daerah (eksekutif) dan legislatif, sebagai bahan masukan

dalam proses perumusan, pelaksanaan dan pengawasan kebijakan/regulasi yang bisa mengekang (menekan) terjadinya korupsi di daerah

3. Masyarakat, swasta dan pemerintah daerah untuk mempraktekkan prinsip-prinsip penadbiran baik (good governance) dalam proses pembuatan, pelaksanaan dan pengawasan regulasi yang yang melibatkan mereka.

1.5. Ruang Lingkup dan Batasan Studi

Karena sangat luasnya pengertian korupsi, maka studi ini difokuskan pada korupsi yang terjadi dalam proses perumusan, pelaksanaan dan pengawasan regulasi di daerah kabupaten/kota di Indonesia. Studi ini dibatasi pada pengertian korupsi yang terjadi pada anggaran publik (APDB) dan korupsi dalam konteks sebagai pengurang biaya yang dilakukan melalui manipulasi regulasi perizinan. Dalam konteks ini, korupsi mencakup perilaku koruptif

(corruptive behaviour) yang dapat berbentuk penyuapan, aktivitas pencarian

rente (rent seeking activity) dan penggelembungan (mark up) biaya. Oleh karena itu pengertian kajian ekonomi politik dalam studi ini adalah studi keterkaitan dan interaksi antara fenomena ekonomi dengan fenomena politik atau secara kongkrit, studi yang mempelajari bagaimana interaksi ekonomi politik pembuat kebijakan (pemerintahan) membuat regulasi untuk kepentingan ekonomi masyarakat dan/atau negara.

Regulasi yang menjadi kajian dalam kaitan dengan terjadinya korupsi dalam studi ini dibatasi pada regulasi yang mengatur aktivitas perekonomian


(30)

masyarakat di suatu daerah (kabupaten/kota), terutama Perda tentang APBD dan Perda yang terkait dengan perizinan usaha yang muncul menjelang dan setelah desentralisasi fiskal diberlakukan mulai tahun 2001.

Oleh karena dalam proses perumusan, pelaksanaan dan pengawasan regulasi, masyarakat, perusahaan (swasta), birokrasi dan eksekutif serta legislatif merupakan pemangku kepentingan yang akan menentukan proses tersebut, maka kajian ini mencakup analisis terhadap interaksi masyarakat, perusahaan, pemerintah daerah dan DPRD, parpol dan akademisi serta LSM dalam merumuskan dan merespon setiap regulasi.

Secara makro, daerah yang akan dianalisis merupakan daerah kabupaten/kota seluruh Indonesia, tetapi secara spesifik studi ini akan memfokuskan pada studi kasus tentang perumusan, pelaksanaan dan pengawasan Perda di tiga daerah yaitu Kabupaten Solok, Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Ketiga daerah tersebut dipilih secara sengaja

(purposive) dengan pertimbangan kondisi kelembagaan (tata-aturan) ekonomi

dan politik daerah, aspek budaya daerah yakni antara budaya feodalistik dan egaliter, dan “kekayaan” daerah yakni antara kaya dan miskin akan sumber daya alam. Kabupaten Solok dipilih karena dari sisi kelembagaan merupakan daerah penyelenggara otonomi terbaik ke-dua dari seluruh kabupaten di Indonesia (KPPOD, 2005) dan dari sisi budaya, daerah ini cenderung egaliter. Sementara itu, Kabupaten Sukoharjo dipilih karena secara kelembagaan merupakan daerah dengan kualitas kelembagaan terburuk ke-tiga di Jawa (KPPOD, 2005) dengan budaya cenderung feodalistik, karena dari sisi historis-kultrural daerah ini sangat dekat dengan pusat kebudayaan Jawa. Sedangkan, Kabupaten Kutai Kartanegara dipilih karena merupakan daerah yang kaya akan sumber daya alam, terutama batu bara dan migas, perkebunan, dan kehutanan, dan sebagai kabupaten yang mempunyai sumber daya keuangan (APBD) terbesar di Indonesia, tetapi secara kelembagaan daerah ini memiliki peringkat nilai kelembagaan yang cenderung buruk (KPPOD, 2005).


(31)

2.1. Korupsi dan Perilaku Pencarian Rente (Rent Seeking Behaviour)

Kata korupsi berasal dari kata Corruptio (dari bahasa Latin), dari kata kerja corrumpere yang artinya dusta, busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok. Dalam perkembangannya, kata korupsi mengandung makna dan konotasi yang luas, baik secara ekonomi maupun politik.

Tranparency International (2005) mendefinisikan korupsi sebagai

penyalahgunaan wewenang di pemerintahan untuk keuntungan pribadi (the

abuse of public office for private gain). Kekuasaan sebagai alat untuk mengatur

negara dan melayani publik telah disalahgunakan untuk keuntungan pribadi. Dalam konteks ekonomi, Shleifer dan Vishny (1993) mendefinisikan :

corruption as the sale by government officials of government

property for personal gain.

Sementara Bardhan (1997) mendefinisikan korupsi sebagai :

The use of public office for private gains, where an official (an agent) entrusted with carrying out of task by the public (principal) engages in some sort of malfeasance for private enrichment which is difficult to monitor for the principal.

Dengan pengertian korupsi sebagaimana dijelaskan di atas, Rose-Ackerman (1999) menyimpulkan bahwa perilaku korupsi tidak pernah terpisah dengan entitas pemerintah (government). Krueger (1974) mengidentifikasi bahwa perilaku pencarian rente (rent seeking behaviour) merupakan usaha-usaha yang dilakukan oleh badan pemerintah dengan melakukan berbagai hambatan (restriksi) melalui regulasi sehingga orang per orang harus bersaing untuk mendapatkan rente tersebut. Kadang-kadang bentuk persaingan dalam pencarian rente (rent seeking)tersebut sangat legal, tetapi juga dapat dalam bentuk-bentuk lainnya, seperti penyuapan, korupsi, penyelundupan, dan pasar gelap. Sementara itu, Stevens (1993) mendefinisikan pencarian rente sebagai usaha dengan menggunakan proses politik (political process) sedemikian sehingga mengizinkan perusahaan atau kelompok perusahaan untuk memperoleh keuntungan ekonomi yang melebihi biaya imbangan (opprotunity cost)-nya. Dengan pengertian seperti ini korupsi terjadi karena perilaku pencarian rente


(32)

dari badan pemerintah dan perusahaan yang berusaha membuat regulasi lewat proses politik sehingga menciptakan peluang untuk melakukan korupsi.

Karena sangat luasnya pengertian korupsi, pembatasan pengertian korupsi dalam berbagai konteks akan sangat membantu dalam memfokuskan suatu analisis. Sebagai contoh misalnya dalam konteks politik, Rose-Ackerman mengidentifikasi korupsi menjadi empat bentuk yaitu kleptokrasi, monopoli bilateral, negara yang didominasi mafia, dan suap kompetitif dengan adanya kemungkinan spiral.

Korupsi dalam bentuk kleptokrasi ditandai oleh korupsi yang terpusat pada puncak pemerintahan. Seorang kleptokrat yang kuat yang menghadapi pelaku swasta yang lemah akan berusaha menguras rente dari masyarakat dan swasta dengan mengorganisasikan aktivitas pencarian rente melalui pengaturan negara. Korupsi dalam bentuk monopoli bilateral ditandai oleh sama besarnya kekuatan antara pemerintah dan swasta, sehingga korupsi dilakukan dengan berbagi keuntungan di antara mereka. Di sisi lain, jika pihak swasta yang kuat berhadapan dengan negara yang lemah, maka akan menimbulkan korupsi dalam bentuk negara yang didominasi oleh mafia swasta. Kasus ini ditandai oleh keadaan bahwa dalam setiap hal kekuasaan swastalah (apakah dalam bentuk perusahaan tunggal atau oligarki yang terjalin kuat) yang mendominasi negara dan yang membeli kerjasama petugas pemerintah. Bentuk terakhir dari korupsi menurut konteks politik adalah suap kompetitif. Kasus ini ditandai oleh sejumlah besar pegawai tingkat rendah berhadapan dengan sejumlah besar warga. Hal ini disebabkan oleh pengawasan yang lemah terhadap korupsi dimana pertanggungjawaban umum juga sangat kurang. Hal ini banyak terjadi dalam proses pelayanan umum yang diberikan pemerintah, misalnya dalam proses pembuatan KTP, SIM, dan sejenisnya .

Sementara itu dalam konteks ekonomi, Rose-Ackerman (1999) mengelompokkan perilaku korupsi badan pemerintah ke dalam aktifitas-aktifitas berikut:

1. Pembayaran untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan (Payments

that equate supply and demand). Pemerintah seringkali menyediakan barang


(33)

harga pasar. Maka kadangkala terdapat dua harga barang yang berlaku : harga dari pemerintah yang rendah dan harga yang tinggi pada pasar kompetitif. Hal ini membuat perusahaan yang membutuhkan barang dan jasa tersebut membayar agen pemerintah (menyuap) untuk mendapatkan akses terhadap pasokan barang dengan harga di bawah harga pasar (Rose-Ackerman, 1999). Besarnya suap merupakan keuntungan bagi agen, dan hal ini tercipta dengan adanya pembentukan keseimbangan dari permintaan dan penawaran yang terjadi. Contohnya, penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) ke industri atau ke luar negeri.

2. Suap yang diterima agen pemerintah sebagai insentif (Bribes as incentive

payments for bureaucrats.) Mengutip dari literatur yang ditulis

Rose-Ackerman (1999):” Since time is money, firms and individual will pay to avoid delay. In many countries a telephone, a passport, or a driver’s license cannot be obtained expeditiously without a payoff. Sometimes the service is avalaible only to the corrupt, but not to the patient but honest

citizen”. Kwik Kian Gie (2003) melihat perilaku korupsi di Indonesia

dengan pemberian insentif sudah terintegrasi dengan pekerjaan agen pemerintah. Pendapatan resmi (official income) yang rendah menyebabkan para agen pemerintah selalu mengandalkan pendapatan di luar pendapatan resmi. Pemberian insentif merupakan aktivitas yang mendominasi di setiap pelayanan pemerintah. Pengurusan perizinan usaha, IMB (Izin Mendirikan Bangunan) dan berbagai pelayanan administrasi publik di Indonesia, tidak pernah dipisahkan dengan fenomena penyuapan (Indonesian Corruption

Watch, 2000; Kuncoro 2002; 2004; 2006; Henderson dan Kuncoro 2004;

2005)

3. Suap yang diterima sebagai cara untuk mengurangi biaya (Bribe to reduce

cost) yang terdiri dari manipulasi regulasi dan manipulasi pajak. Pemerintah

menetapkan regulasi mengenai tingkat pajak. Industri dan perusahaan wajib membayar biaya tersebut. Maka perilaku korupsi dimulai dari intervensi individu dan swasta dalam rancangan regulasi diikuti dengan manipulasi pajak. Regulasi yang akan ditetapkan akan sangat berpengaruh terhadap dunia usaha. Maka swasta menginginkan regulasi yang terbentuk dan dapat


(34)

diinterpretasikan sesuai dengan kepentingan mereka. Dan untuk itu para agen pemerintah sebagai otoritas pembentuk regulasi, dapat menjadikan hal ini sebagai upaya untuk memperkaya diri mereka (Rose-Ackerman,1999).

4. Korupsi pada Pejabat Pemerintahan (Corruption of High-Level Official). George Moody-Stuart (1997) pada “Grand Corruption in Third

World Development” menulis :

“Grand Corruption” occurs at the highest levels of government and involves major government projects and programs.

Pemerintah seringkali memberikan manfaat yang besar bagi swasta dalam memberikan kontrak kerja. Perusahaan kemudian berusaha melakukan suap (bribe) untuk mendapatkan kontrak tersebut. Pemberi suap terbesar terhadap pejabat di pemerintahanlah yang biasanya mendapatkan kontrak tersebut (Rose-Ackerman,1999).

Korupsi dalam pemberian kontrak swasta oleh pemerintah terjadi di setiap negara. Bahkan menurut Tranparency International (2005) hal ini juga terjadi juga pada negara-negara maju yang kredibilitas pemerintahannya tinggi seperti negara-negara Skandinavia, Singapura, Kanada dan Selandia Baru. Di Paraguay suap yang diberikan oleh perusahaan internasional yang memenangkan kontrak selama rezim presiden Alfredo Stroessnes (1954-1989) mencapai 10-20% dari nilai kontrak. Di Indonesia sendiri pada tahun 1970-an dua perusahaan asal Jerman melaporkan memberi suap sebesar 20% dari nilai kontrak kepada pejabat di perusahaan minyak milik negara (Schwarz,1994). Di Zimbabwe kolusi yang dilakukan antara menteri pos dan telekomunikasi dengan perusahaan telekomunikasi Swedia telah membuat spesifikasi tender hanya dimiliki oleh perusahaan tersebut.

Tujuan dari korupsi pada pejabat tinggi (high-official) merupakan aktivitas untuk akumulasi kekayaan para pejabat dan para koleganya. Di Indonesia korupsi jenis ini telah menyebabkan kebocoran uang negara mencapai 30%-50% dari APBN setiap tahunnya (ICW,2000; Rosidi , 2006; Nurdjana, 2005).


(35)

Bentuk dan makna korupsi yang sangat luas dan kompleks tersebut, membuat makna korupsi masih rancu (ambigu) dan sulit dibedakan. Sebagai contoh misalnya perbedaan antara korupsi politik (political coruption) dan korupsi ekonomi (economic corruption) masih belum jelas, khususnya apakah usaha untuk keuntungan pribadi termasuk merancang kebijakan dengan tujuan untuk meningkatkan peluang atau kesempatan agar tetap bertahan di pemerintahan merupakan bentuk korupsi politik atau korupsi ekonomi. Hal ini masih jadi perdebatan, walaupun kemudian bentuk korupsi tersebut dapat dipandang sebagai korupsi ekonomi politik (political economic corruption).

2.2. Teori Pembangunan Ekonomi Wilayah : Peranan Politik dan

Kelembagaan

Perkembangan terkini ilmu pembangunan wilayah mengisyaratkan pentingnya peranan kelembagaan dalam pembangunan ekonomi yang dikenal dengan New Institutional Economics (NIE). Hal utama yang melatarbelakangi berkembangnya NIE adalah munculnya masalah yang berkaitan dengan aksi kolektif (collective action), biaya transaksi (transaction cost), rasionalitas terbatas (bounded rationality) dalam perilaku manusia, perubahan teknologi dan perilaku pencarian rente (Vipriyanti, 2007).

Hayami (2001) menunjukkan bahwa untuk mengeksploitasi komplementaritas antara modal berwujud (tangible) dan tidak berwujud

(intangible) dalam memaksimalisasikan pertumbuhan ekonomi wilayah,

diperlukan desain institusi/kelembagaan yang tepat. Jadi pembangunan ekonomi (economic development) bukan hanya mencakup ekspansi kuantitatif dalam akumulasi kapital, tetapi juga perubahan pada faktor non kuantitatif seperti kelembagaan (institutions), organisasi (organizations) dan budaya

(culture) dimana faktor ekonomi beroperasi. Pertumbuhan ekonomi yang cepat

tidak dapat diwujudkan tanpa mempelajari persyaratan-persyaratan perubahan kelembagaan, organisasi sosial dan politik serta sistem nilai (kultur) masyarakatnya.

Teori pembangunan ekonomi wilayah yang mencoba memasukkan faktor institusi/kelembagaan sebagai determinan pembangunan ekonomi wilayah adalah teori Growth Machine Theory (GMT) dan The New Institutional


(36)

Economics (NIE) Theory. Dua teori ini tidak lagi semata melihat peranan kapital (modal) dan teknologi, tetapi lebih melihat peranan politik dan lembaga politik

(political institution) dalam pembangunan ekonomi. Karena politisi lokal (local

politicians) dan perencana lokal secara langsung mempengaruhi tingkat

pertumbuhan dan lokasi industri melalui peraturan-peraturan, pajak, penyediaan infrastruktur publik, maka teori pembangunan yang mengabaikan dimensi ini adalah keliru. Pembangunan ekonomi tidak akan berhasil jika dimensi kelembagaan politik (political institutions) diabaikan, walaupun akumulasi kapital terus berlangsung. Dua teori ini merupakan kritik yang tajam terhadap teori pertumbuhan neoklasik yang selama ini mengabaikan faktor kelembagaan politik dalam model pembangunan ekonomi suatu wilayah atau kawasan.

Teori NIE berusaha memasukkan faktor kelembagaan (institusi) dan perubahan institusi dalam teori pembangunan ekonomi. Proposisi yang dikembangkan oleh NIE adalah bahwa perkembangan perekonomian suatu wilayah dapat didekati melalui perubahan kelembagaan (institutional change) dan penataan kelembagaan sebagai infrastruktur pengembangan wilayah. Pendekatan ini adalah turunan (derivatif) dari mazhab institusionalisme yang mengembangkan keyakinan bahwa kelembagaan menjadi kata-kunci penting bagi suatu perubahan sosio-ekonomi regional. Gagasan ini dikembangkan dari ide dasar Coase (1937) yang mengajukan proposisi bahwa kelembagaan memastikan bekerjanya sistem organisasi lebih kokoh sekaligus menghindarkan beban biaya ekonomi tinggi yang diperlukan untuk memonitor ketidakpastian dalam proses-proses transaksi yang harus ditanggung oleh pihak-pihak yang berinteraksi. North (1990) mengukuhkan proposisi Coase dengan menyodorkan satu teori perubahan dan adaptasi kelembagaan (institutional adaptation and

change) yang berbasiskan pada asumsi-kerja bahwa kelembagaan politik dan

ekonomi memang menjadi kebutuhan untuk disesuaikan dan dikembangkan guna menekan dilemma biaya transaksi (transaction cost dilemma) yang selalu hadir pada suatu sistem sosial-ekonomi yang berkembang semakin kompleks sebagai akibat pertukaran-pertukaran ekonomi yang bekerja di bawah kelembagaan kapitalistik. Dalam pandangan North (1990) perkembangan perekonomian dan pertukaran (transaksi ekonomi) di suatu wilayah yang terus


(37)

meninggi perlu diimbangi dengan pengembangan sistem tata-pengaturan kelembagaan yang kompatibel, jika tidak, maka akan muncul informal forms of

governance yang hadir untuk memfasilitasi kebutuhan dan pemanfaatan

kesempatan untuk menangguk keuntungan-keuntungan jangka pendek (Dawkins, 2003 seperti dikutip oleh Putri dan Dharmawan, 2006).

Sementara itu, menurut GMT pertumbuhan ekonomi suatu kawasan (negara, daerah) dapat terbentuk sebagai akibat langsung dari aktivitas tata pengaturan administrasi-politik yang secara operasional mampu membangkitkan keputusan–keputusan dan aturan-aturan yang menentukan (decisive) bagi berkembangnya aktivitas ekonomi kawasan tersebut. Artinya, kekuatan organisasi pengaturan politik lokal dapat berfungsi sebagai mesin penggerak perkembangan wilayah lokal. Mesin pertumbuhan yang diperkenalkan oleh teori ini menunjuk pada keberadaan sejumlah organisasi sosial lokal yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi suatu wilayah Berkembangnya aktivitas ekonomi juga berarti sebuah dorongan bagi pertumbuhan ekonomi suatu kawasan.

2.3. Keterkaitan antara Korupsi dengan Pembangunan Ekonomi

Wilayah:Kajian Teoritis dan Empiris

Kepustakaan tentang kaitan antara korupsi dan pembangunan diwarnai oleh adanya perbedaan dua pandangan. Pandangan pertama mengatakan bahwa dalam kondisi pajak dan aturan-aturan yang berlebihan dan cenderung menghambat aktivitas ekonomi, penyuapan (bribery) dapat menjadi pelumas

(grease) dalam perekonomian, karena dengan suap dapat dihindari hambatan

dan lambannya birokrasi. Huntington (1968), misalnya, menyatakan bahwa pajak dan regulasi yang berlebihan akan terus menghambat aktivitas ekonomi, jika tanpa penyuapan. Pandangan ini dikenal dengan istilah hipotesis pelumas efisien (efficient grease hypothesis). Kelemahan pandangan ini terletak pada asumsi yang digunakan yakni bahwa distorsi-distorsi regulasi dapat dimitigasi oleh suap menyuapyang bersifat eksogen.

Sejalan dengan pandangan ini, Lui (1985) dengan model antrian

(queuing model) menunjukkan bahwa korupsi dapat mendorong pertumbuhan


(38)

terkait dengan lambatnya proses perizinan. Menurut Lui (1985), penyuapan dapat menjadi pelumas “mesin” birokrasi yang lambat. Model ini juga mengasumsikan bahwa penyuap dan yang disuap masing-masing berlaku jujur dalam antrian dan tidak ada bencana moral (moral hazard).

Beck dan Maher (1986) serta Lien (1986) seperti dikutip oleh Bardhan (1997) menunjukkan bahwa pemenang dari tender selalu perusahaan yang berani memberikan uang sogokan tertinggi dan hanya perusahaan yang biayanya paling kecil yang berani memberikan suap paling tinggi. Jadi penyuapan membuat perusahaan menjadi lebih efisien. Tentu saja model ini mengandung kelemahan karena model ini mengasumsikan bahwa agen pemerintah hanya mempertimbangkan besaran uang sogokan saja dalam proses tender, penyuap akan memberikan barang yang sesuai dengan kontrak dan tender tidak dibatasi. Padahal dalam kenyataannya banyak proses tender yang diwarnai oleh unsur-unsur nepotisme atau kasus penyuap memberikan barang dan jasa yang dibawah kualitas yang disebut dalam kontrak atau dalam kenyataannya penyuapan digunakan untuk membatasi kompetisi dalam tender (Bardhan,1997).

Dalam perkembangannya, pandangan hipotesis pelumas efisien mulai dipertanyakan karena sejumlah asumsi yang digunakan dalam analisis hubungan korupsi dan pembangunan yang digunakan sangat lemah. Sebagai contoh, misalnya, asumsi bahwa distorsi-distorsi regulasi dapat dimitigasi oleh suap.

Asumsi ini kurang mendapat dukungan yang sahih, karena sering kali distorsi-distorsi dalam perekonomian dan penyuapan disebabkan oleh faktor-faktor yang sama. Bardhan (1997) mengeritik teori hipotesis pelumas efisien dengan mengatakan bahwa distorsi-distorsi tersebut tidak eksogen terhadap sistem, tetapi merupakan bagian yang built-in dalam praktek-praktek korupsi dari sistem politik yang bercirikan hubungan patron-klien. Karena birokrat memiliki kuasa diskresi (discretionary power) dengan suatu aturan tertentu, aturan–aturan yang menghambat secara endogen dibuat oleh pejabat pemerintah yang korup, sedemikian sehingga mereka menyusun bentuk dan sejumlah hambatan terhadap perusahaan agar mereka dapat memperoleh uang sogokan semaksimal mungkin. Akibatnya perusahaan yang telah membayar uang sogokan lebih besar, akan tetap harus membayar uang suap yang lebih besar lagi.


(39)

Berdasarkan argumen ini, penyuapan bukannya menjadi pelumas birokrasi yang bekerja lamban, tetapi segala kelambanan birokrasi tersebut sengaja diciptakan agar birokrasi mempunyai peluang yang lebih banyak untuk melakukan korupsi. Kalau bisa diperlambat, mengapa harus dipercepat.

Argumen lain yang menolak hipotesis pelumas efisien diberikan oleh Krueger (1974). Menurut Krueger (1974) penyuapan menjadi masalah ekonomi karena ia terdeteksi sebagai perilaku pencarian renteyang dilakukan oleh entitas pemerintah. Berbagai penyebab yang memberikan pengaruh negatif berawal dari perilaku tersebut di pemerintahan. Perilaku pencarian rente membuat agen pemerintah menggunakan sebagian dari waktu potensial yang dimilikinya untuk kepentingan dan keuntungan pribadinya. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mencari pendapatan tambahan (extra income). Pendapatan tambahan ini semula berfungsi sebagai penutup kekurangan kebutuhan minimum, namun kebanyakan kemudian berkembang menjadi upaya untuk memperkaya diri sendiri.

Aspek lain bahwa korupsi berdampak negatif bagi perekonomian adalah karena sifatnya yang rahasia (secretive). Tidak seperti pajak, korupsi adalah melawan hukum dan oleh karenanya selalu menghindari pendeteksian. Uang suap sebagai sebuah kontrak tidak bisa dikuatkan di pengadilan. Dan ini membuat peluang bagi yang disuap untuk mengingkari dan minta uang suap lebih tinggi. Beberapa pejabat yang terlibat dalam penyuapan mungkin khawatir dengan masalah reputasi, tetapi kebanyakan dari mereka tidak peduli dengan isu-isu jangka panjang. Oleh karena itulah korupsi berdampak negatif dalam perekonomian (Shleifer dan Vishny, 1993).

Penelitian empirik yang dilakukan oleh para ahli di berbagai negara berkembang mendukung argumen bahwa korupsi berdampak negatif terhadap ekonomi dan pembangunan. Paulo Mauro (1995,1998) mendemonstrasikan bahwa tingkat korupsi yang tinggi berkorelasi dengan rendahnya pangsa tingkat investasi terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Bardhan (1987) menyimpulkan perilaku korupsi di pemerintahan telah menurunkan tingkat pertumbuhan (growth) secara signifikan. Berbagai perilaku korupsi para agen pemerintah seperti suap, penggelapan pajak dan pencurian barang dan jasa pemerintah membuat pendapatan pemerintah (government income) menjadi


(40)

turun. Bila pendapatan pemerintah turun maka dengan dengan sendirinya belanja pemerintah juga akan turun. Investasi yang dilakukan pun sangat kecil pertumbuhannya, besarnya hambatan birokrasi dengan tingginya biaya birokrasi

(cost of bureaucracy) menyebabkan rendahnya tingkat investasi sehingga

memberikan efek langsung terhadap pertumbuhan. Hal ini memberikan efek terusan dimana penyerapan tenaga kerja (demand of labour) menjadi berkurang sehingga tingkat pengangguran (unemployment) menjadi naik. Hal ini juga yang menjadi dasar dari kesimpulan Gupta, Davoodi dan Rosa (1998) yang menyatakan bahwa perilaku korupsi menyebabkan ketidakmerataan (inequality).

Lambsdorff (1999) dengan menelaah hasil-hasil kajian empiris tentang keterikatan korupsi dan pembangunan menemukan bahwa korupsi berkaitan dengan keterlibatan pemerintah yang terlalu jauh dalam sektor swasta, kualitas kelembagaan, dan kurangnya kompetisi, kemiskinan dan ketidakmerataan. Lebih jauh Lambsdorff menjelaskan bahwa korupsi berdampak buruk pada investasi, GDP, belanja pemerintah, Capital Inflow dan FDI, serta perdagangan internasional.

Hill (1999) menunjukkan bahwa kekuasaan yang sentralistik dan korupsi pada era Orde Baru menyebabkan bangsa Indonesia sangat rentan terhadap krisis. MacIntyre (1999) juga menemukan bahwa regulasi keuangan dan perbankan yang sangat rentan bersama dengan krisis pengelolaan perbankan akibat kolusi antara bankir–pengusaha–birokrat merupakan faktor utama hilangnya kepercayaan investor yang memicu terjadinya krisis ekonomi tahun 1998.

Kuncoro (2002) menunjukkan bahwa daerah-daerah di Indonesia yang mempunyai tingkat suap (bribery) yang tinggi akan dijauhi oleh perusahaan-perusahaan baru yang kemudian akan berdampak terhadap menurunnya produktivitas secara agregat. Henderson dan Kuncoro (2004;2005 ) juga menemukan bahwa bribery (suap) yang diduga bisa mempercepat pengurusan perizinan di berbagai daerah ternyata tidak berlaku. Pengusaha yang telah mengeluarkan “uang tambahan” dalam berurusan dengan birokrasi tetap menghadapi lamban dan lamanya berbagai urusan administrasi dengan birokrat. Bahkan banyaknya perilaku pencarian rente di suatu daerah akan cenderung


(41)

meningkatkan ketidakpastian (uncertainty) dalam melakukan usaha atau berinvestasi di daerah tersebut (Kuncoro, 2005).

World Bank (2006) menemukan bahwa maraknya korupsi dalam bentuk suap menyuap, pungutan liar dan sejenisnya membuat iklim investasi sektor non pertanian di perdesaan menjadi terhambat. Hal tersebut menjadi penyebab rendahnya investasi di suatu daerah (KPPOD,2005). Studi yang di lakukan oleh LPEM FEUI (2003) terhadap hambatan perdagangan antar daerah di Indonesia pada era desentralisasi menunjukkan bahwa pungutan-pungutan dan uang suap yang dibayar oleh perusahaan kepada birokrat baik yang terkait dengan proses produksi dan pengangkutan (bahan baku dan produk) menyebabkan meningkatnya biaya produksi dan biaya transportasi barang antar daerah meningkat. Akibatnya barang tersebut menjadi lebih mahal ketika sampai ke tangan konsumen. Harga yang mahal membuat kesejahteraan konsumen menurun. Biaya transportasi yang meningkat akibat pungutan liar dan penyuapan menyebabkan produk yang dihasilkan di suatu daerah menjadi tidak kompetitif di pasar tujuan.

2.4. Keterkaitan Korupsi dengan Faktor Budaya : Kajian Empiris

Secara faktual nilai-nilai budaya mempunyai pengaruh yang signifikan pada praktek-praktek bisnis di berbagai negara (Hofstede, 1997 dalam Husted, 1999). Fenomena penyuapanyang melibatkan interaksi antara dua pihak yakni penyuap dan yang disuap sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya yang inheren ada dalam diri penyuap dan yang disuap, serta lingkungan budaya dimana penyuapan muncul (Husted, 1999). Oleh karena itu, di samping ditentukan oleh faktor sosial ekonomi, penyuapan juga ditentukan oleh faktor budaya.

Myrdal (1970) mengidentifikasi bahwa warisan budaya feodal kerajaan-kerajaan lama yang terbiasa dengan hubungan patron-client, dimana rakyat biasa atau bawahan berkewajiban memberi upeti, kemudian berkembang menjadi suap (uang sogokan) kepada pemegang kekuasaan atau atasan. Tumbuh suburnya perilaku suap-menyuap juga terkait dengan warisan kondisi historis kultural yang telah berjalan berabad-abad akibat represi yang dilakukan oleh penjajah (Alatas dalam Damanhuri, 2006). Rose-Ackerman (1999) menulis


(42)

bahwa korupsi merupakan masalah multidimensional yang telah menjadi kultur. Hal ini ditunjukkan oleh perilaku suap, hubungan patronase, pemberian hadiah yang telah menjadi suatu kebiasaan masyarakat.

Lamsdorff (1999) menunjukkan bahwa kualitas kelembagaan/institusi, sistem penggajian pejabat pemerintah warisan penjajah, gender dan faktor kultural yang tercermin dalam kapital sosial merupakan faktor penyebab korupsi. Triesman (2000) menunjukkan bahwa negara-negara dengan tradisi Protestan dan mewarisi perangkat hukum Inggris memiliki tingkat korupsi yang rendah .

Husted (1999) dan Sanyal (2005) menunjukkan bahwa faktor-faktor budaya, di samping faktor-faktor ekonomi mempengaruhi derajat korupsi di suatu negara. Faktor-faktor budaya yang menurut Husted dan Sanyal yang menjadi determinan korupsi antara lain (1) power distance ; (2) Individualism ; (3) Masculinity-Feminity ; (4) Uncertainty Avoidance ;(5) Confucian Dynamism.

Power distance mengacu pada hanya sedikit anggota suatu institusi yang

powerful dan organisasi-organisasi di suatu negara berharap dan menerima

bahwa kekuasaan didistribusikan secara tidak merata. Faktor Power distance

ini menghasilkan sistem paternalistik (paternalistic system) yang merupakan ruang subur bagi korupsi karena unsur favoritism dan nepotism.

Individualism mengacu pada pengambilan keputusan persoalan hidup

lebih ditentukan secara individual. Menurut Husted (1999) suatu masyarakat yang tingkat individualism rendah, akan mengalami tingkat korupsi yang lebih tinggi. Sementara masculinity mengacu pada dominannya laki-laki dalam kehidupan masyarakat. Makin besar tingkat masculinity, maka makin besar tingkat korupsi. Husted (1999) juga mencatat bahwa negara yang mempunyai karakter kuat sebagai penghindar resiko, cenderung memiliki tingkat korupsi yang lebih tinggi.

Mas’oed (1994) dalam Dwiyanto, et al (2006) menyatakan bahwa faktor kultural dalam masyarakat Indonesia pada umumnya cenderung kondusif untuk mendorong terjadinya korupsi. Faktor kultural tersebut antara lain, perilaku feodalistik yang menghinggapi birokrasi di Indonesia. Perilaku feodalistik membawa berbagai konsekuensi yakni tidak adanya akuntabilitas, karena pertanggungjawaban hanya ditujukan kepada pejabat di atasnya, etos kerja yang


(43)

hanya berorientasi kepada petunjuk pimpinan, tumbuhnya citra (image) bahwa pimpinan selalu benar, pimpinan tidak dapat disalahkan dan sebagainya .

Dwiyanto, et al (2006) menemukan bahwa pengaruh budaya Jawa yang sangat kuat dalam sejarah terbentuknya birokrasi di Indonesia dari zaman kolonial sampai saat ini ikut memberikan ruang yang subur bagi korupsi. Budaya Jawa yang mempercayai bahwa kekuasaan sebagai sesuatu yang tidak dapat dibagi dan merupakan wahyu dari Tuhan, sehingga dalam terminologi politik Jawa tidak pernah dikenal konsep akuntabilitas publik. Hal tersebut merupakan ruang subur bagi tumbuhnya perilaku korup di lingkungan birokrasi.

Faktor budaya lain yang berperan penting dalam tumbuh suburnya korupsi adalah budaya paternalistik yang terus terpelihara dalam birokrasi di Indonesia (Dwiyanto, et al, 2006). Budaya agraris yang masih dimiliki sebagian besar masyarakat Indonesia yang cenderung mengembangkan budaya harmoni sosial dalam masyarakat dan menghindari konflik, menghindari kritik terhadap pimpinan (atasan), dan enggan menuntut haknya atas perlakuan aparat pemerintah yang merugikan kepentingannya juga menjadi kurang kondusif bagi prinsip-prinsip penadbiran baik (good governance). Hal ini akan berimplikasi pada terbukanya peluang agen pemerintah untuk melakukan korupsi.

Sementara itu, Simanjuntak (2005) mengidentifikasi bahwa budaya patrimonial yang hidup subur dibanyak daerah merupakan lahan subur tumbuhnya korupsi. Budaya paternalistik dan patrimonial tersebut tidak memberikan iklim yang bersahabat pada prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas. Simanjuntak (2005) juga mengidentifikasi bahwa primordialisme yang berkombinasi dengan konstruksi birokrasi lama yang dibanyak daerah masih tetap kokoh, terutama di daerah, di mana dana-dana pembangunannya sepenuhnya berasal dari APBD atau bahkan APBN merupakan lahan subur tumbuhnya korupsi saat ini.

Melihat perkembangan studi yang mencoba mengaitkan korupsi dan budaya, tampaknya belum banyak studi yang secara khusus melihat bagaimana mekanisme faktor budaya tersebut berinteraksi dalam proses pembangunan sehingga menimbulkan korupsi. Dalam studi ini, kaitan antara budaya dan korupsi dilihat melalui mekanisme faktor budaya dalam mempengaruhi respons


(44)

pemerintah, masyarakat dan perusahaan dalam menanggapi proses pembuatan, pelaksanaan dan pengawasan regulasi.

Persoalan lain yang perlu dianalisis adalah apakah korupsi sudah membudaya ataukah pernyataan bahwa korupsi sudah membudaya merupakan justifikasi (rasionalisasi) tindakan korupsi dengan memanfaatkan budaya. Mereka yang mengatakan bahwa korupsi sudah membudaya, karena melihat bahwa korupsi sudah menjadi kebiasaan dan meluas dalam praktek bernegara dan berbangsa serta dalam keseharian kehidupan masyarakat. Memang sebagaimana yang dikatakan oleh Bourdieu dalam Sutrisno dan Putranto (2007) bahwa kebiasaan sebagai sesuatu yang penting untuk mengkaji kebudayaan. Menurut Bourdieu kebiasaan merupakan kecenderungan-kecenderungan empiris untuk bertindak dalam cara-cara yang khusus (gaya hidup), sebagai motivasi preferensi, cita rasa dan perasaan (emosi) dan sebagai perilaku yang mendarah daging.

Sementara itu, Sigmund Freud (1961) dalam bukunya Civilizations and

Its Discontents bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh alam sadar dan alam

tidak sadar yang tersembunyi. Kedua alam tersebut saling berinteraksi. Yang ada bersama dalam dua alam tersebut adalah id, ego dan superego. Id adalah naluri-naluri primitif yang menuntut pemuasan selekasnya yang terdiri dari naluri untuk hidup dan naluri untuk mati. Ego senantiasa menjaga kestabilan diri manusia dan bersifat adaptif terhadap kenyataan dan ego merupakan wadah bagi rasio dan akal sehat. Sementara superego merupakan wadah suara hati dan moralitas yang keduanya diturunkan dari masyarakat, khususnya dari sosialisasi dan ajaran atau didikan orang tua.

Berdasarkan uraian tersebut, patut untuk dikemukakan pendapat Koentjaraningrat (2007) yang memberikan kriteria bahwa sesuatu dikatakan telah menjadi nilai budaya (cultural value) jika sesuatu tersebut dalam alam pikiran sebagian besar dari warga masyarakat dianggap sebagai sesuatu yang penting dan berharga dalam hidupnya. Dalam tataran empiris, untuk mengarah kepada jawaban dari pertanyaan di atas, dapat dilakukan dengan mengelaborasi dan mengevaluasi apakah orang yang melakukan korupsi tidak malu lagi melakukan korupsi, karena hal tersebut sudah menjadi kebiasaan dan


(45)

hati nurani serta moralitas sebagian besar masyarakat menilai korupsi bukan sesuatu yang memalukan.

Priyono dalam Sutrisno dan Putranto (2007) mengatakan bahwa budayalah yang digunakan sebagai alasan karena beberapa budaya yang jauh dari penadbiran baik (good governance) merupakan patologi yang merusak tatanan ekonomi politik sehingga mempengaruhi peluang terjadinya korupsi. Jadi, secara sederhana budaya dimanfaatkan sebagai justifikasi (rasionalisasi) melakukan tindakan korupsi.

2.5. Berbagai Pendekatan (Model) yang Digunakan dalam Mengkaji

Keterkaitan Korupsi dengan Pembangunan Ekonomi

Secara umum pendekatan yang digunakan untuk mengkaji kaitan korupsi dengan pembangunan ekonomi dan faktor budaya dikelompokkan menjadi dua yakni penelitian yang bersifat teoritis dan penelitian yang bersifat empiris. Kebanyakan penelitian yang bersifat teoritis membangun model perilaku korupsi pada tingkatan mikro yakni pada level individu. Biasanya perilaku korupsi didasarkan pada riset yang dilakukan kepada para agen pemerintah. Sementara studi yang bersifat empiris lebih banyak mengkaji korupsi pada tingkatan antar negara (Chakrabarti, 2001).

Penelitian yang bersifat teoritis dipelopori oleh Krueger (1974) dan Rose-Ackerman (1975) yang mencoba memahami fenomena korupsi dan perilaku pencarian rente. Studi tersebut merupakan awal dari penelitian mengenai perilaku korupsi. Model teoritis berikutnya diperkenalkan oleh Edward Banfield (1975) yang kemudian dikenal sebagai Banfield Model. Pada model ini, perilaku korupsi digambarkan pada sebuah binary choice, yaitu antara melakukan korupsi atau tidak. Kemudian konsekuensi yang dihasilkan dari keputusan yang dipilih.

Model berikutnya yang mencoba melihat interaksi antara agen pemerintah dengan individu masyarakat/institusi dalam teori permainan (game

theory) adalah Correa Model. Model ini didasarkan pada studi yang dilakukan

Hector Correa (2001). Correa Model menggambarkan berbagai kemungkinan dari interaksi antara pemerintah dengan individu/institusi, baik secara legal maupun illegal dengan menggunakan konsep teori permainan. Correa


(46)

menggambarkan berbagai konsekuensi dari setiap interaksi ini. Model ini lebih lengkap dari model-model korupsi sebelumnya, karena menjelaskan korelasi dengan masyarakat/sosial.

Model-model teoritis yang diuraikan sebelumnya memang berhasil menjelaskan perilaku korupsi individu, tetapi belum memasukkan faktor-faktor sosio-kultural sebagai penyebab perilaku korupsi tersebut. Kajian terhadap penyebab dan akibat korupsi lebih banyak menggunakan pendekatan studi empiris ketika mulai tersedia data persepsi korupsi antar negara beberapa tahun terakhir ini. Oleh karena itu analisis yang digunakan biasanya menggunakan analisis perbandingan antara negara dan berkisar pada analisis regresi dan korelasi. Dengan menggunakan analisis korelasi dan regresi Husted (1999) dan Sanyal (2005) mengkaji keterkaitan korupsi dengan faktor ekonomi dan faktor budaya.

Sementara itu studi empiris lainnya yang dikembangkan oleh Kuncoro (2004,2006) serta Henderson dan Kuncoro (2004,2006) mencoba mengkaji fenomena korupsi pasca desentralisasi di Indonesia pada tingkat lokal (kabupaten/kota) dengan menggunakan pendekatan survei lapangan. Survei dilakukan dengan menanyakan besarnya biaya tambahan yang dikeluarkan oleh perusahaan ketika berhubungan dengan agen pemerintah untuk mengurus administrasi yang berkenaan dengan perizinan, pajak, retribusi dan sebagainya. Dengan menggunakan pendekatan model mikro perusahaan dalam merespons regulasi yang diberikan oleh agen pemerintah, data survei tersebut digunakan untuk mengestimasi keterkaitan antara penyuapan dengan beberapa variabel seperti besarnya pajak, banyaknya retribusi baru dan berbagai aturan baru sejak desentralisasi. Metode estimasinya menggunakan pendekatan model regresi.

Kaitan antara mikro dan makro yakni makro model dari korupsi dengan fondasi mikro model yang kuat coba dikembangkan oleh Chakrabarti (2001). Chakrabarti mengembangkan model yang berusaha melengkapi model yang sudah dikembangkan sebelumnya, yakni dengan menghubungkan studi perilaku korupsi individu dengan perilaku korupsi secara makro antar negara yang selama ini masih merupakan hubungan yang hilang (missing link). Modelnya dikenal dengan nama ”Agent Based Model of Corruption” yang menggunakan


(47)

pendekatan model keseimbangan umum (general equilibrium model). Modelnya terdiri dari static model dan multi-period model.

Model Chakarbarti (2002) di rumuskan dalam bentuk persamaan berikut :

pi = 1______ (2.1)

2 biγ2 ki S(1-q)

Dari persamaan (2.1) tersebut dapat diketahui bahwa tingkat korupsi individu (dishonesty index, Pi) akan berkurang dengan tingkat penghindaran resiko (bi ), tingkat resiko yang mereka hadapi dari aksi pemberantasan korupsi (γ ), tingkat human capital (ki), kualitas dari social institution (S). Tingkat korupsi individu makin tinggi dengan makin meningkatnya level korupsi secara sosial.

Agent Based Model yang dikembangkan oleh Chakrabarti (2001)

memang telah berhasil menjelaskan perilaku korupsi dengan lebih baik dibandingkan dengan model-model sebelumnya. Tetapi model ini sebagaimana juga disadari oleh Chakrabarti belum mampu menjelaskan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku pengambilan resiko (risk taking) seorang agen dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kualitas institusi. Chakrabarti (2001) juga belum mampu menjelaskan bagaimana faktor-faktor sosio kultural tersebut mempengaruhi perilaku risk taking dan institusi. Secara eksplisit Chakrabarti menyebut bahwa sejarah dan bentuk serta sistem hukum akan mempengaruhi rasio sosial kapital/kualitas institusi (S) terhadap human kapital (K).

2.6. Keterkaitan antara Korupsi dengan Perumusan Regulasi : Tinjauan

Teori dan Model-Model Ekonomi Politik dalam Kebijakan Publik

Studi-studi terdahulu menyimpulkan bahwa terjadinya korupsi tidak dapat dipisahkan dari proses pelaksanaan regulasi. Johnson, et al (1998) menemukan bahwa negara dengan banyak regulasi cenderung mempunyai tingkat korupsi yang lebih tinggi dan banyak menumbuhkan aktivitas ekonomi yang tidak tercatat (unofficial economy activity). SMERU (1999) misalnya yang mencoba menganalisis pengaruh regulasi perdagangan di daerah terhadap perekonomian daerah tersebut menemukan bahwa banyak regulasi/kebijakan yang menyangkut pajak, retribusi dan halangan-halangan dalam tarif dan tata niaga perdagangan untuk melindungi kepentingan usaha atau dagang kelompok yang menyuap


(48)

birokrat pemerintah daerah tersebut. Dalam hal ini regulasi memicu terjadinya korupsi. Studi yang di lakukan oleh LPEM FEUI (2003) terhadap hambatan perdagangan antar daerah di Indonesia pada era desentralisasi menunjukkan bahwa pungutan-pungutan dan uang suap yang dibayar oleh perusahaan kepada birokrat karena banyaknya regulasi baik yang terkait dengan proses produksi dan pengangkutan (bahan baku dan produk).

Henderson dan Kuncoro (2004) menemukan bahwa setelah desentralisasi fiskal tahun 2001, suap-menyuap pada tingkat Pemerintahan Daerah (Pemda) meningkat sejalan dengan fakta bahwa makin banyaknya aturan-aturan baru pemerintah daerah khususnya pajak, retribusi dan berbagai jenis perizinan serta kebijakan (regulasi) di daerah yang diciptakan sebagai aturan semu (artificial) agar pejabat lokal (birokrasi lokal) bersama dengan kelompok kepentingan tertentu memperoleh peluang mendapatkan rente dari aturan tersebut.

Secara teoritis suatu kebijakan publik (regulasi) merupakan hasil keputusan/pilihan bersama (collective choice). Penentuan keputusan kolektif mencoba membuat pengaturan untuk menyediakan dan mencari suatu mekanisme/proses bagi pencapaian tujuan untuk mengagregasikan kepentingan-kepentingan individu-individu dalam suatu masyarakat. Aturan yang bisa dipilih adalah metode dictatorship atau memilih orang yang kompeten dan cakap dalam bidang tersebut, membuat konsensus, melakukan voting, menyerahkan keputusan pada perwakilan, membiarkan keputusan diambil oleh kelompok elite. Sebagaimana dikemukan oleh Olson (1965) bahwa tindakan bersama (collective action) sangat kurang terorganisir dan adanya konflik antara kepentingan individu dengan kepentingan bersama sehingga sulit mencapai tingkat optimum sosial yang diinginkan1.

Buchanan dan Tullock dalam The Calculus of Consent (1962), mengembangkan model yang menyangkut pilihan kelembagaan (institutional

choices). Dalam banyak penataan kolektif (collective arrangement), baik itu

berbentuk regulasi atau undang-undang akan berakibat terciptanya keuntungan

(gains) dan biaya yang masuk dalam “utility calculus” individu. Secara logika,

individu akan memilih atau berpindah (migrate) kepada penataan (arrangement)

1


(1)

Lampiran 3. Gambar Pembangunan Proyek Mercusuar dan Dominasi Media Massa Pendukung Bupati di Kabupaten Kutai Kartanegara

(a) Gambar Patung Lembuswana di Pulau Kumala yang Dibangun di Tengah Sungai Mahakam dan Menghadap Langsung ke Kantor Bupati Kutai Kartanegara


(2)

Lampiran 4. Gambaran Suasana Perizinan di Kabupaten Solok

(a) Ruang Depan Kantor Perizinan Kabupaten Solok, 2007


(3)

Lampiran 4. Gambaran Suasana Perizinan di Kabupaten Solok (Lanjutan)

(c) Lembar Depan Kuesioner untuk Evaluasi Pelayanan Perizinan di Kabupaten Solok, 2007

(d) Contoh Penilaian Pelayanan Perizinan oleh Pengguna Pelayanan di Kabupaten Solok, 2007


(4)

(5)

(6)