Model manajemen pengetahuan pada klaster industri barang jadi lateks di Jawa Barat dan Banten

MODEL
L MANAJ
JEMEN PE
ENGETAHUAN PA
ADA KLA
ASTER
INDU
USTRI BA
ARANG JA
ADI LATE
EKS DI JA
AWA BAR
RAT
DAN BANTE
EN

Y SUGIAR
RTO
DEDY

SEK
KOLAH PASCA
ASARJAN
NA
INSTIITUT PE
ERTANIA
AN BOG
GOR
B
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi yang berjudul Model Manajemen
Pengetahuan pada Klaster Industri Barang Jadi Lateks di Jawa Barat dan Banten
adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan
dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang
berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari
penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di
bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Januari 2012

Dedy Sugiarto
F361020051

ii

ABSTRACT
DEDY SUGIARTO. Knowledge management model at latex goods industrial
cluster in West Java and Banten. Supervised by SYAMSUL MA’ARIF,
MARIMIN, ILLAH SAILAH, SUKARDI, SUHARTO HONGGOKUSUMO.
The objective of this research was to design knowledge management
model at latex goods industrial cluster by taking cases in West Java and Banten
Provinces. Latex goods industry in this area is dominated by small and medium
enterprises (SME) that produce latex goods. The common problems for SME
were lack of knowledge, technological skills, equipment, and marketing network,
and also limited access to formal training. Fuzzy analytical hierarchy process
technique was used to determine cluster strategy and knowledge management
strategy. Knowledge gap analysis with fuzzy logic approach was used to identify
key knowledge areas. Fuzzy average technique and Sugeno fuzzy inference
system were used in this knowledge gap model. Fuzzy quality function
deployment (FQFD), fuzzy failure mode and effect analysis (FFMEA), and expert
systems were used to codify key knowledge area for supporting cluster initiative.
The model was packaged in decision support system software. Knowledge
management portal was developed using drupal content management system to
support knowledge sharing in cluster.
This research showed that innnovation and technology initiative was the
most important initiative for developing latex goods industrial cluster. Therefore,
knowledge about innovation and technology, especially production process design
and control, are the related knowledge area that should be managed to develop
cluster. Nine knowledge areas were detected based on fuzzy knowledge gap
analysis. They were compound formulation, coagulant formulation, raw material
inspection, dispersion process, dispersion inspection, compound dipping,
leaching, vulcanization, and final inspection and failure analysis. Combination of
codification and personalization strategy was the most important knowledge
management strategy to support innovation and technology initiative and managed
key knowledge areas. Result from the FQFD analysis showed that process design
in compound dipping, vulcanization system, vulcanization process, and latex
concentrate were the key processes in latex dipping in order to meet product
technical characteristic. FFMEA analysis showed that latex incoming process and
compounding between latex concentrate and chemical dispersion were the
processes with highest fuzzy risk priority number. Knowledge codification media
such as knowledge taxonomy and expert systems were constructed to codify
knowledge about latex dipped goods process design and control. Knowledge
management portal was designed for storing and sharing these key knowledge
areas.
Keywords : knowledge management strategy, industrial cluster, fuzzy AHP,
fuzzy QFD, fuzzy FMEA, expert systems, latex goods

iii

RINGKASAN
DEDY SUGIARTO. Model manajemen pengetahuan pada klaster industri barang
jadi lateks di Jawa Barat dan Banten. Dibawah bimbingan : SYAMSUL
MA’ARIF, MARIMIN, ILLAH SAILAH, SUKARDI, dan SUHARTO
HONGGOKUSUMO.
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model
manajemen
pengetahuan pada klaster industri barang jadi lateks dengan mengambil studi
kasus di propinsi Jawa Barat dan Banten. Secara rinci tujuan tersebut adalah
menghasilkan model pemilihan strategi pengembangan klaster; menghasilkan
model analisis kesenjangan pengetahuan dan penentuan area pengetahuan kunci;
menghasilkan model pemilihan strategi manajemen pengetahuan; menghasilkan
model kodifikasi pengetahuan disain proses; menghasilkan model kodifikasi
pengetahuan kegagalan proses; serta menghasilkan rancangan portal manajemen
pengetahuan sebagai sarana berbagi pengetahuan.
Rancang bangun model manajemen pengetahuan terbagi menjadi dua
bagian yaitu model sistem pendukung keputusan strategi pengetahuan dan sistem
manajemen pengetahuan. Teknik fuzzy analytical hierarchy process (FAHP)
digunakan untuk menentukan strategi klaster dan strategi manajemen
pengetahuan. Teknik analisis kesenjangan pengetahuan dengan pendekatan logika
fuzzy digunakan untuk menentukan area pengetahuan kunci. Kodifikasi
pengetahuan menggunakan teknik fuzzy quality function deployment (FQFD),
fuzzy failure mode and effect analysis (FFMEA) dan sistem pakar. Model sistem
manajemen pengetahuan dirancang dalam bentuk portal manajemen pengetahuan
menggunakan drupal content management system.
Model strategi pengembangan klaster diawali dengan identifikasi aktor
utama, perspektif pengembangan klaster, tujuan strategis pengembangan klaster
serta inisiatif strategi dalam klaster menggunakan model yang dikembangkan dari
model Balanced Scorecard. Model yang dikembangkan tersebut berdasarkan
empat perspektif untuk mengukur kinerja suatu klaster industri yaitu kinerja
perusahaan, hasil sosial/ekonomi, efisiensi kolektif dan modal sosial. Adapun
tujuan strategis dalam kinerja perusahaan adalah peningkatan pasar serta
peningkatan produktivitas dan kualitas. Tujuan strategis dalam perspektif hasil
sosial/ekonomi adalah peningkatan lapangan pekerjaan, dan peningkatan
ketersediaan tenaga kerja terspesialisasi, peningkatan kemampuan inovasi dan
peningkatan konsumsi karet alam. Tujuan strategis dalam efesiensi kolektif adalah
penurunan biaya dan peningkatan kerjasama. Tujuan strategis dalam perspektif
modal sosial adalah peningkatan jumlah anggota klaster yang terlibat dalam
kerjasama. Inisiatif strategi klaster ditetapkan ada tiga yaitu inovasi dan teknologi
(peningkatan kemampuan produksi, difusi teknologi dan standar teknik),
kerjasama komersial (pemasaran ekspor dan pengadaan bahan baku) serta
pengembangan bisnis.
Pengembangan model berikutnya adalah model analisis kesenjangan
pengetahuan terhadap aktor utama strategi klaster serta penentuan area
pengetahuan kunci. Kesenjangan pengetahuan yang terjadi serta area pengetahuan
kunci yang didapatkan kemudian dikelola dalam suatu model strategi manajemen
pengetahuan. Strategi manajemen pengetahuan ini bertujuan untuk memandu dan

iv

mendefinisikan strategi, proses akuisisi pengetahuan dan kelembagaan untuk
mengelola pengetahuan dalam klaster industri. Strategi manajemen pengetahuan
memiliki tiga alternatif yaitu strategi kodifikasi, strategi personalisasi dan strategi
kombinasi. Strategi kodifikasi menekankan pada aspek teknologi untuk akuisisi,
penyimpanan dan penyebaran pengetahuan dari pakar. Sedangkan strategi
personalisasi berasumsi bahwa banyak pengetahuan bersifat tersembunyi (tacit)
sehingga kodifikasi tidak cocok untuk mentransmisi jenis pemahaman ini.
Pendekatan ini dilakukan kebanyakan melalui kontak pribadi ke pribadi. Strategi
kombinasi menggabungkan kedua strategi manajemen pengetahuan yang ada
yaitu kodifikasi (teknologikal) dan personalisasi. Strategi kodifikasi pengetahuan
kemudian diimplementasikan menggunakan teknik FQFD, FFMEA dan sistem
pakar.
Berdasarkan hasil verifikasi model strategi pengembangan klaster dengan
melibatkan tiga orang pakar yaitu peneliti pada Balai Penelitian Teknologi Karet
Bogor, Kepala Bidang Promosi dan Kerjasama Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Jawa Barat serta seorang pelaku usaha barang jadi lateks dapat
diketahui bahwa aktor yang memiliki prioritas tertinggi dalam pengembangan
klaster adalah lembaga pendukung diikuti oleh pemerintah dan industri. Prioritas
tertinggi perspektif pengembangan klaster berturut-turut adalah perpektif efisiensi
kolektif dan diikuti oleh perspektif hasil sosial/ekonomi, kinerja perusahaan serta
perspektif modal sosial.
Tujuan strategis pengembangan klaster secara berurutan dari yang terbesar
adalah peningkatan kerjasama, peningkatan produktivitas dan kualitas, perluasan
pasar, peningkatan kemampuan inovasi, peningkatan jumlah anggota klaster aktif,
peningkatan lapangan pekerja, penurunan biaya, peningkatan tenaga kerja
terspesialisasi dan peningkatan konsumsi karet alam. Sejalan dengan perspektif
efisiensi kolektif yang memiliki bobot terbesar, maka peningkatan kerjasama yang
merupakan salah satu tujuan strategis dalam perspektif efiensi kolektif juga
memiliki bobot terbesar. Inisiatif strategi pengembangan klaster yang memiliki
bobot terbesar adalah strategi inovasi dan teknologi diikuti oleh pengembangan
bisnis dan kerjasama komersial. Dengan terpilihnya inovasi dan teknologi sebagai
strategi terpilih, hal ini berarti pengetahuan teknologi proses yang menunjang
strategi inovasi dan teknologi merupakan pengetahuan paling terkait dalam
pengembangan klaster.
Berdasarkan verifikasi model analisis kesenjangan pengetahuan dan
penentuan area pengetahuan kunci dapat diketahui bahwa terdapat sembilan area
pengetahuan yang perlu menjadi prioritas pengembangan dalam manajemen
pengetahuan yaitu formulasi kompon, formulasi koagulan, pemeriksaan bahan
baku, pembuatan dispersi, pemeriksaan dispersi, penjadian kompon, pencucian,
vulkanisasi, dan pemeriksaan produk serta analisis kegagalan. Area pengetahuan
formulasi kompon berada pada daerah red alert zone yang paling utama dimana
area ini harus menjadi prioritas paling utama. Kompon lateks adalah campuran
antara lateks dengan berbagai bahan kimia untuk memperoleh hasil akhir suatu
barang jadi lateks. Bahan kimia kompon yang secara umum terdiri dari bahan
pemvulkanisasi, pengaktif, pencepat, antioksidan, pengisi, pewarna dan
sebagainya. Tingkat kesulitan pada penguasaan area pengetahuan ini antara lain
karena formula kompon lateks pada umumnya disesuaikan dengan jenis produk

v

yang akan dihasilkan karena umumnya mempunyai sifat tertentu yang
diutamakan.
Berdasarkan verifikasi model strategi manajemen pengetahuan dapat
diketahui bahwa strategi yang paling sesuai untuk mendukung kesiapan aktor
utama dalam strategi inovasi dan teknologi serta mengelola pengetahuan kunci
adalah strategi kombinasi dibandingkan dengan strategi personalisasi dan
kodifikasi. Bobot kriteria yang paling dipentingkan untuk menjalankan strategi
tersebut berturut-turut berdasarkan tingkat kepentingannya adalah budaya dan
orang, dukungan pemerintah, komunikasi, biaya dan waktu. Kriteria budaya dan
orang yang memiliki bobot tertinggi serta lebih besarnya bobot strategi
personalisasi dibandingkan bobot strategi kodifikasi dikarenakan strategi ini
memang dirancang untuk mendukung strategi inovasi dan teknologi untuk
pengembangan klaster. Hal ini dikarenakan pendekatan teknologi atau kodifikasi
tidak dapat secara cukup mendukung inovasi karena ketidakmampuannya untuk
mengeksploitasi pengetahuan tacit.
Hasil dari FQFD menunjukkan pula bahwa rancangan proses mengenai
metode pencelupan kompon lateks, sistem vulkanisasi yang digunakan, proses
vulkanisasi dan bahan baku lateks pekat adalah proses kunci untuk dapat
memenuhi persyaratan teknis produk. Hasil FFMEA menunjukkan bahwa proses
penerimaan lateks serta proses pencampuran dan pemeraman kompon lateks
adalah proses yang tingkat resiko kegagalan paling tinggi. Media kodifikasi
seperti taksonomi pengetahuan, peta pengetahuan dan sistem pakar digunakan
untuk beberapa area pengetahuan kunci tersebut.
Pengelolaan area pengetahuan kunci tersebut kemudian diusulkan melalui
portal manajemen pengetahuan dan pembentukan komunitas keahlian atau yang
dikenal dengan nama Community of Practice (CoP). Hal ini merupakan
konsekuensi dari strategi kombinasi antara kodifikasi dan personalisasi yang telah
ditentukan sebelumnya. CoP adalah sekelompok orang yang berbagi suatu
perhatian atau minat
untuk sesuatu yang mereka ketahui bagaimana
melakukannya serta mereka yang saling berinteraksi secara teratur dengan tujuan
untuk belajar bagaimana cara melakukan sesuatu itu secara lebih baik. CoP
berorientasi pada pertukaran pengalaman atau praktek-raktek terbaik (best
practices) yang telah dilakukan oleh para peneliti barang jadi lateks yang tersebar
pada beberapa institusi seperti BPTK Bogor, BATAN, BPPT, perguruan tinggi
serta pemasok bahan kimia. Pembentukan CoP ini juga diharapkan dapat
mengatasi masalah dalam faktor budaya dan orang. Seperti diketahui sebelumnya
faktor inilah yang paling menentukan untuk implementasi strategi manajemen
pengetahuan. Melalui mekanisme CoP dan portal manajemen pengetahuan
diharapkan terjadi proses berbagi pengetahuan di antara aktor utama
pengembangan klaster industri barang jadi lateks alam skala kecil dan menengah
di Jawa Barat dan Banten sehingga dapat semakin berkontribusi dalam proses
pembelajaran dan pelatihan kepada pelaku usaha skala kecil dan menengah
tersebut.
Kata kunci : strategi manajemen pengetahuan, klaster industri, fuzzy AHP, fuzzy
QFD, fuzzy FMEA, sistem pakar, barang jadi lateks,

vi

© Hak cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan
pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan,
penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak
merugikan kepentingan yang wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya
tulis dalam bentuk apapun tanpa seizin IPB

vii

MODEL MANAJEMEN PENGETAHUAN PADA KLASTER
INDUSTRI BARANG JADI LATEKS DI JAWA BARAT
DAN BANTEN

DEDY SUGIARTO

Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor pada
Program Studi Teknologi Industri Pertanian

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
viii

Penguji pada Ujian Tertutup : 1. Prof. Dr. Ir. Ani Suryani, DEA
2. Dr. Ary Achyar Alfa, MSi
Penguji pada Ujian Terbuka: 1. Dr. Ir. Uhendi Haris, Msi
2. Dr. Dedi Mulyadi

ix

Judul Disertasi

:

Model Manajemen Pengetahuan pada Klaster Industri
Barang Jadi Lateks di Jawa Barat dan Banten

Nama

:

Dedy Sugiarto

NRP

:

F361020051

Disetujui,
Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Syamsul Ma’arif, M.Eng
Ketua

Prof. Dr. Ir. Marimin, M.Sc
Anggota

Dr. Ir. Illah Sailah, MS
Anggota

Dr. Ir. Sukardi, MM
Anggota

Dr. Suharto Honggokusumo
Anggota

Diketahui,

Ketua Program Studi
Teknologi Industri Pertanian

Dekan Sekolah Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Machfud, MS

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr

Tanggal Ujian Terbuka : 13 Januari 2012

x

Tanggal Lulus : .......................

PRAKATA
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan hidayah dan
pertolongan-Nya sehingga disertasi ini dapat diselesaikan.
Ucapan terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kepada :
1. Komisi pembimbing yaitu Prof. Dr. Ir. M Syamsul Ma’arif, M.Eng, selaku
ketua komisi dan Prof. Dr. Ir. Marimin, Dr. Ir. Illah Sailah, Dr. Ir. Sukardi
MM, dan Dr. Suharto Honggokusumo, sebagai anggota komisi pembimbing
atas bimbingannya dalam penyelesaian disertasi ini.
2. Rektor Universitas Trisakti, pimpinan Fakultas Teknologi Industri serta
pimpinan Jurusan Teknik Industri Universitas Trisakti atas kesempatan tugas
belajar yang diberikan kepada penulis
3. Prof. Dr. Ir. Ani Suryani, DEA, Dr. Ary Achyar Alfa, Dr. Ir. Machfud dan
Dr. Ir. Sugiyono atas waktunya dan saran perbaikan pada saat Ujian Tertutup.
4. Dr. Ir. Uhendi Haris dan Dr. Dedi Mulyadi atas waktunya dan saran
perbaikan pada saat Ujian Terbuka
5. Ibu Hani Yuhani, Kepala Bidang Promosi dan Kerjasama Dinas Indag Jawa
Barat, ibu Yuli, pengusaha barang jadi lateks, Prof. Marga Utama dari PT.
Rel-Ion yang bergerak dalam bidang sterilisasi serta Agus W, SSi selaku staf
PT. Saptindo Surgica sebagai responden ahli
6. Binti Sholihah, ST M.Kom atas bantuannya dalam pembuatan program
sistem pendukung keputusan dan portal manajemen pengetahuan
7. Rekan-rekan seperjuangan di program studi Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor serta rekan-rekan dosen, karyawan dan mahasiswa di
Jurusan Teknik Industri Universitas Trisakti
8. Isteri tercinta Retno Budiani, ayahanda dan ibunda tercinta Drs. H.
Sjamsuddin (alm) dan Hj. Sufatilah, anak-anak tersayang Muhammad Fadhil
Ghifari, Ahmad Fauzan Kamaluddin dan Faishal Makarim Kamali
9. Semua pihak atas segala doa dan dukungannya.
Akhir kata penulis berharap semoga disertasi ini bermanfaat bagi semua
pihak yang memerlukan.
Bogor, Januari 2012
Dedy Sugiarto
xi

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 1969 sebagai anak
ketiga dari pasangan Drs. H. Sjamsuddin (alm) dan Hj. Sufatilah. Pendidikan
sarjana ditempuh di Program Studi Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, lulus tahun 1993. Pendidikan
pascasarjana (S2) ditempuh di Program Studi Magister Manajemen dengan
konsentrasi Manajemen Produksi/Operasi, Universitas Trisakti, lulus tahun 1998.
Kesempatan untuk mengikuti program Doktor Teknologi Industri Pertanian
diperoleh pada tahun 2002 dengan beasiswa dari Universitas Trisakti serta
bantuan dana penelitian melalui program hibah penelitian mahasiswa program
doktor dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan
Nasional.
Penulis bekerja sebagai dosen tetap di Jurusan Teknik Industri Fakultas
Teknologi Industri Universitas Trisakti sejak tahun 1994 dengan penempatan pada
Laboratorium Statistika Industri. Selain itu pula penulis aktif mengajar pada
Universitas Esa Unggul serta sebagai konsultan pelatihan bidang aplikasi
statistika dan pengendalian kualitas pada lembaga pelatihan Sinergi Prima Inti
(SPIN Training) yang berlokasi di Bandung.
Selama mengikuti perkuliahan program S3 beberapa artikel yang ditulis
bersama dosen pembimbing telah diterbitkan yaitu artikel dengan judul Integrasi
Manajemen Pengetahuan dengan Balanced Scorecard yang diterbitkan pada
Jurnal Teknik Industri Universitas Trisakti pada tahun 2004; Pemilihan Produk
Hilir Karet Berbasis Lateks Potensial serta Perumusan Strateginya dengan
Menggunakan Metode AHP, Fuzzy AHP dan Logika Fuzzy yang diterbitkan pada
Prosiding Seminar Nasional Operations Research/Management Sciences Jurusan
Teknik Industri Universitas Trisakti pada tahun 2005 serta Pemilihan Strategi
Pengembangan Klaster Industri dan Strategi Manajemen Pengetahuan pada
Klaster Industri Barang Jadi Lateks yang diterbitkan pada Jurnal Teknologi
Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor pada tahun 2011. Satu artikel dengan
judul Pemilihan Area Pengetahuan Kunci pada Proses Produksi Barang Celup
Lateks dengan Pendekatan Logika Fuzzy akan diterbitkan pada Jurnal Teknik
Industri Universitas Trisakti pada bulan Maret 2012.
xii

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI

..............................................................................................

xiii

DAFTAR TABEL ..........................................................................................

xv

DAFTAR GAMBAR .....................................................................................

xvii

DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................

xx

1 PENDAHULUAN ................................................................................... .
1.1 Latar Belakang ....................................................................................
1.2 Tujuan Penelitian ................................................................................
1.3 Ruang Lingkup Penelitian ..................................................................
1.4 Kegunaan Penelitian ............................................................................

1
1
5
5
5

2 TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................
2.1 Perkembangan Manajemen Strategik ................................................
2.2 Data, Informasi dan Pengetahuan .....................................................
2.3 Strategi Pengetahuan .........................................................................
2.4 Manajemen Pengetahuan ..................................................................
2.5 Strategi Pengetahuan dan Strategi Manajemen Pengetahuan ..........
2.6 Pendekatan Sistem ...........................................................................
2.7 Sistem Pendukung Keputusan dan Sistem Pakar .............................
2.8 Teknologi Pengolahan Barang Jadi Lateks.......................................
2.9 Logika Fuzzy ....................................................................................
2.10 Analytic Hierarchy Process .............................................................
2.11 Quality Function Deployment ..........................................................
2.12 Failure Mode and Effect Analysis ....................................................
2.13 Penelitian Terdahulu ........................................................................

7
7
10
14
15
19
21
22
25
29
34
36
40
45

3 METODE PENELITIAN ..........................................................................
3.1 Kerangka Pemikiran Konseptual.........................................................
3.2 Tahapan Penelitian ............................................... .............................
3.3 Metode Pengumpulan Data ................................................................
3.4 Teknik Pengolahan Data ....................................................................
3.5 Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................

49
49
50
51
51
52

4 ANALISIS SISTEM ................. ................................................................
4.1 Struktur Pasar dan Produsen Barang Jadi Lateks .................... ........
4.2 Pola Sebaran Tenaga Kerja Industri Hilir Karet pada Beberapa
Propinsi .............................................................................................
4.3 Pemetaan Klaster Industri Barang Jadi Lateks di Jawa Barat dan
Banten ................................................................................................
4.4 Analisis Kebutuhan .........................................................................
4.5 Formulasi Permasalahan ....................................................................
4.6 Identifikasi Sistem .............................................................................

53
53

xiii

55
57
60
61
62

5

PEMODELAN SISTEM ...........................................................................
5.1 Konfigurasi Model Sistem Penunjang Keputusan ..............................
5.2 Sistem Manajemen Basis Model ........................................................
5.2.1 Model Pemilihan Strategi Pengembangan Klaster dan
Area Pengetahuan Terkait .........................................................
5.2.2 Model Analisis Kesenjangan Pengetahuan dan Penentuan Area
Pengetahuan Kunci ......... ...........................................................
5.2.2 Model Pemilihan Strategi Manajemen Pengetahuan ..................
5.2.4 Model Kodifikasi Pengetahuan Disain Proses...........................
5.2.5 Model Kodifikasi Pengetahuan Kegagalan Proses...................
5.3 Sistem Manajemen Basis Data ..........................................................
5.4 Sistem Manajemen Dialog .................................................................

63
63
64
64
66
70
72
74
80
80

6 HASIL DAN ANALISIS STRATEGI PENGETAHUAN......................
81
6.1 Model Pemilihan Strategi Pengembangan Klaster dan Area
Pengetahuan Terkait ..........................................................................
81
6.2 Model Analisis Kesenjangan Pengetahuan dan Penentuan Area
Pengetahuan Kunci ......... ..................................................................
84
6.3.Model Pemilihan Strategi Manajemen Pengetahuan .........................
89
6.4 Model Kodifikasi Pengetahuan Disain Proses................................... 91
6.5 Model Kodifikasi Pengetahuan Kegagalan Proses...........................
96
6.6 Validasi Model................................................................................... 108
7 PERANCANGAN PORTAL MANAJEMEN PENGETAHUAN...........
7.1 Analisis Kebutuhan Sistem ..............................................................
7.1.1. Kebutuhan Fungsional ...........................................................
7.1.2. Kebutuhan Pengguna ..........................................................
7.2 Perancangan Sistem ........................................................................

109
109
105
110
111

8 IMPLIKASI MODEL ..............................................................................
8.1 Implikasi Teoritis ............................................................................
8.2 Implikasi Manajerial .......................................................................
8.3 Kelebihan dan Kekurangan Model ..................................................

119
119
121
122

9 KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 123
9.1 Kesimpulan ........................................ .............................................. 123
9.2 Saran ................................................................................................. 125
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 127

xiv

DAFTAR TABEL

Halaman
1

Produksi dan konsumsi karet alam beberapa negara tahun 2010 ............. 4

2

Persentase penggunaan strategi manajemen pengetahuan ........................ 20

3

Penelitian terdahulu mengenai manajemen pengetahuan dan klaster
industri ...................................................................................................... 47

4

Produksi dari tiga negara pemain utama sarung tangan lateks ................. 54

5

Agroindustri sarung tangan lateks (anggota Indonesian Rubber Glove
Manufacturers Association / IRGMA) ..................................................... 54

6

Jenis dan kapasitas produksi dari industri barang jadi lateks di
Indonesia.................................................................................................... 55

7

Jumlah tenaga kerja berdasarkan kategori barang jadi karet dan
propinsi....................................................................................................... 56

8

Kebutuhan aktor dalam agroindustri barang jadi lateks ............................ 61

9

Penyajian fuzzy pada skala AHP ............................................................... 66

10

Penyajian fuzzy pada skala kondisi area pengetahuan saat ini
menggunakan TFN ................................................................................... 68

11

Penyajian fuzzy pada skala kebutuhan area pengetahuan saat ini
menggunakan TFN ................................................................................... 68

12

Penyajian fuzzy pada skala kebutuhan atau kepentingan area pengetahuan saat
ini menggunakan Trapezoidal Fuzzy Number ............................................. 69

.
13

Penyajian fuzzy pada skala kondisi saat ini area pengetahuan saat ini
menggunakan Trapezoidal Fuzzy Number....................................................

.. 69

14

Fuzzy number tingkat kepentingan atribut................................................. 73

15

Fuzzy number hubungan............................................................................ 73

16

Parameter fungsi keanggotaan variabel input............................................ 76

17

Parameter fungsi keanggotaan variabel output.......................................... 77

18

Prioritas aktor utama dan perspektif pengembangan klaster...................... 82

xv

19

Prioritas tujuan strategis dan strategi pengembangan klaster..................

84

20

Daerah pengembangan dari masing area pengetahuan.............................

89

21

Tingkat kepentingan atribut barang jadi...................................................

91

22

Hasil defuzzifikasi karakteristik proses..................................................... 95

23

Bentuk-bentuk kegagalan proses dalam proses sarung tangan lateks....... 97

24

Nilai fuzzy risk priority number (FRPN)................................................... 99

25

Validasi model strategi pengetahuan....................................................... 108

xvi

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1

Model berlian porter ...............................................................................

9

2

Keterkaitan data, informasi dan pengetahuan ........................................

12

3

Model strategi pengetahuan ..................................................................

15

4

Model socialization, externalization, combination, internalization .......

17

5

Siklus manajemen pengetahuan .............................................................

19

6

Konfigurasi model dasar sistem manajemen ahli ...................................

22

7

Tahap pembentukan sistem pakar ..........................................................

25

8

Pohon industri karet ...............................................................................

26

9

Kurva segitiga .......................................................................................

31

10

Kurva trapesium ...................................................................................

32

11

Rumah kualitas .....................................................................................

36

12

Model SECI dan konversi QFD dari pengetahuan tacit ke eksplisit...

40

13.

Matriks fuzzy FMEA rule ...................................................................

44

14

Keterkaitan FMEA dalam model SECI.................................................

44

15.

Posisi penelitian ....................................................................................

48

16

Kerangka pemikiran penelitian .............................................................

50

17

Tahapan penelitian ................................................................................

52

18

Struktur pasar barang jadi karet dunia .................................................

53

19

Plot konsentrasi tenaga kerja berdasarkan propinsi dan kelompok
BJK ........................................................................................................

56

Plot konsentrasi tenaga kerja berdasarkan propinsi dan kelompok
BJK ........................................................................................................

57

Pemetaan klaster agroindustri barang jadi lateks skala kecil dan
menengah di Jawa Barat dan Banten ......................................................

58

20

21.

xvii

22

Diagram input-output ..............................................................................

62

23

Konfigurasi model sistem pendukung keputusan strategi pengetahuan ..

63

24

Diagram alir model strategi pengembangan klaster berbasis
pengetahuan ..........................................................................................

65

25

Diagram alir model penentuan area pengetahuan kunci

67

26

Representasi fuzzy dari matriks kesenjangan pengetahuan....................... 68

27

Diagram alir model pemilihan strategi manajemen pengetahuan............. 71

28

Diagram alir model kodifikasi pengetahuan disain proses
menggunakan QFD ..................................................................................

72

Diagram alir kodifikasi pengetahuan kegagalan proses menggunakan
teknik FFMEA..........................................................................................

75

29

...............

30

Diagram konseptual sistem pakar rekomendasi penanggulangan
kegagalan proses...................................................................................... . 80

31

Model pemilihan strategi pengembangan klaster.....................................

82

32

Tampilan input penilaian setiap area pengetahuan...................................

85

33

Tampilan output penilaian setiap area pengetahuan................................

86

34

Penyajian tingkat kondisi saat ini dalam bentuk trapezoidal fuzzy
number.....................................................................................................

86

35

Basis aturan dalam sistem penalaran fuzzy dengan metode Sugeno.......

87

36

Contoh nilai output sistem penalaran fuzzy dengan metode Sugeno.....

87

37

Model keputusan pemilihan strategi manajemen pengetahuan.............

90

38

Hubungan antara karakteristik produk dan proses ..................................

92

39.

Taksonomi pengetahuan proses barang celup lateks ..............................

96

40

Rule Editor untuk sistem Fuzzy..............................................................

98

41

Tampilan sistem pakar dalam menanyakan masalah ............................. 105

42

Tree diagram dalam sistem pakar............................................................. 106

xviii

43

Tampilan sistem pakar dalam mengkonfirmasi penyebab kegagalan...

44

Tampilan sistem pakar dalam mengkonfirmasi penyebab kegagalan
berikutnya............................................................................................... 107

45

Tampilan sistem pakar dalam memberikan solusi.................................... 107

46

Use Case sistem portal manajemen pengetahuan..................................... 111

47

Menu lihat artikel...................................................................................... 117

48

Menu lihat peta pengetahuan.................................................................... 117

49

Menu input profil pengguna..................................................................... 118

50

Menu cari pakar...................................................................................... 118

51

Diagram konseptual aliran pengetahuan dalam klaster industri barang
jadi lateks................................................................................................. 120

52

Model manajemen pengetahuan pada klaster industri barang jadi
lateks........................................................................................................ 122

xix

107

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
1

Kuesioner Pemilihan Inisiatif Strategi.................................................

133

2

Data hasil perbandingan berpasangan kuesioner strategi klaster ......

138

3

Contoh Perhitungan FAHP antar Perspektif untuk Perusahaan ..........

151

4

Kuesioner Pemilihan Strategi Manajemen Pengetahuan.......................

154

5

Contoh Data Hasil Perbandingan Berpasangan Kuesioner Strategi
Manajemen Pengetahuan.......................................................................

157

6

Data Penilaian Analisis Kesenjangan Pengetahuan...............................

158

7

Rule dalam FFMEA dan contoh perhitungan defuzzifikasi..................

162

8

Petunjuk Penggunaan Sistem Pendukung Keputusan Model Strategi
Pengetahuan untuk Klaster Industri Barang Jadi Lateks .....................

178

9

Rule Base Sistem Pakar.........................................................................

183

10

Validation Tree Sistem Pakar................................................................

201

11

Perhitungan Aritmatika Fuzzy dalam QFD..........................................

202

12

Tabel FMEA .........................................................................................

207

13

Petunjuk Penggunaan Portal Manajemen Pengetahuan.........................

210

xx

DAFTAR ISTILAH

Data

Himpunan diskret, kenyataan obyektif mengenai berbagai
peristiwa atau kejadian. Dalam konteks organisasi data lebih
digambarkan sebagai catatan terstruktur dari berbagai transaksi.

Eksternalisasi

Mengubah pengetahuan tersembunyi kepada pengetahuan
eksplisit baru (misal memproduksi suatu dokumen tertulis yang
menggambarkan prosedur yang digunakan untuk masalah
tertentu)

FAHP

Fuzzy Analytical Hierarchy Process – proses pemecahan
masalah yang mampu memecahkan persoalan pengambilan
keputusan kompleks secara kuantitatif dengan pendekatan fuzzy

FFMEA

Fuzzy failure mode and effect analysis - sebuah teknik
mengidentifikasi penyebab kegagalan dari produk atau proses
dan perencanaan untuk penghilangan penyebab kegagalannya
dengan pendekatan fuzzy

FQFD

Fuzzy quality function deployment - pendekatan terstruktur
unuk mengintegrasikan voice of customer ke dalam proses
pengembangan produk yang diintegrasikan dengan pendekatan
fuzzy

Klaster industri

Konsentrasi geografis dari perusahaan-perusahaan yang saling
terhubungkan, pemasok-pemasok, penyedia jasa, perusahaanperusahaan dalam industri terkait serta institusi lain (perguruan
tinggi, badan standarisasi, asosiasi dagang) dalam suatu
lapangan usaha tertentu yang saling bersaing tetapi juga bekerja
sama

Industri Besar

Perusahaan atau usaha industi yang memiliki tenaga kerja 100
orang atau lebih

Industri Sedang /
Menengah

Perusahaan atau usaha industi yang memiliki tenaga kerja 2099 orang

Industri Kecil

Perusahaan atau usaha industi yang memiliki tenaga kerja 5-19
orang

Informasi

Data yang dapat menjadi berbeda. Informasi dapat mengubah
penerima informasi dalam memandang sesuatu. Istilah
menginformasikan dapat diartikan sebagai memberi bentuk.

Internalisasi

Penciptaan pengetahuan tersembunyi baru dari pengetahuan
eksplisit (misal mendapatkan pemahaman awal dengan
membaca suatu dokumen)

xxi

Kodifikasi
pengetahuan

Mengubah pengetahuan menjadi kode agar sebisa mungkin
mudah untuk diatur, eksplisit, mudah dipindahkan, dimengerti
dan diakses oleh orang lain

Kombinasi

Penciptaan pengetahuan eksplisit baru dengan menggabungkan,
menggolongkan, dan menyatukan pengetahuan eksplisit yang
sudah ada (misal analisis statistik terhadap data pasar).

Manajemen
pengetahuan

Proses
mendapatkan,
transformasi,
dan
penyebaran
pengetahuan secara menyeluruh di dalam organisasi sehingga
pengetahuan tersebut dapat dibagikan dan digunakan

Pengetahuan

Campuran cair dari pengalaman, nilai, informasi kontekstual,
pandangan pakar dan intuisi yang menyediakan lingkungan dan
kerangka untuk mengevaluasi dan menggabungkan pengalaman
baru dan informasi.

Pengetahuan eksplisit

Kebijakan, petunjuk prosedural, laporan resmi, laporan, desain
produk, strategi, tujuan, misi dan kemampuan inti dari
perusahaan dan teknologi informasi insfrastruktur. Ia adalah
pengetahuan yang telah dikodifikasi (terdokumentasikan)
dalam format yang dapat dibagikan kepada orang lain atau
ditransformasi ke dalam suatu proses tanpa menuntut interaksi
antar pribadi.

Pengetahuan
tersembunyi (tacit)

Penyimpanan kumulatif dari pengalaman, peta mental,
pengertian yang mendalam (insight) ketajaman, keahlian, knowhow, rahasia dagang, kumpulan ketrampilan, pemahaman dan
pembelajaran yang dimiliki organisasi, juga budaya organisasi
yang telah melekat di masa lalu. Sebagai contoh penjelasan
bagaimana cara mengendari sebuah sepeda sulit didokumentasi
secara eksplisit, dan karena itu tersembunyi

Sosialisasi

Konversi pengetahuan tersembunyi kepada pengetahuan
tersembunyi yang baru melalui interaksi sosial dan pengalaman
bersama antar anggota organisasi (misal penasihat).

Strategi

Bagaimana mencapai dan mempertahankan posisi industri
untuk mempertahankan keunggulan bersaing

Strategi pengetahuan

Penyeimbangan sumber daya berbasis pengetahuan dan
kapabilitas dengan pengetahuan yang dibutuhkan untuk
menyediakan produk dan jasa dengan cara yang lebih baik
dibandingkan pesaingnya.

xxii

1

1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Teori strategi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa sumber daya yang tak
terlihat (intangible resources) seperti pengetahuan, keahlian, motivasi, budaya,
teknologi, kompetensi dan kemitraan (relationship) adalah pendorong yang paling
penting untuk mencapai keunggulan bersaing yang berkelanjutan dibandingkan
sumber daya yang terlihat (tangible resources) seperti bahan baku, mesin, tanah,
modal dan pabrik (Marti, 2004; Abdollahi et al., 2008; Denford dan Chan, 2011).
Di tengah situasi persaingan yang semakin kompetitif ditandai dengan
bertambahnya jumlah pemain pasar di tingkat lokal, nasional maupun
internasional serta tuntutan pasar yang semakin tinggi, sebuah perusahaan tidak
lagi hanya bisa mengandalkan kepada lokasi yang mudah dicapai, bahan baku
yang mudah didapat atau ketersediaan akses modal, tetapi juga kemampuan untuk
bisa menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan inovatif. Untuk itu tentunya
perusahaan harus memiliki sumber daya pengetahuan yang cukup,

baik

pengetahuan mengenai teknologi proses, pasar dan pemasaran, pengembangan
bisnis maupun area pengetahuan lainnya sesuai kebutuhan perusahaan. Nonaka
dan Takeuchi (1995) juga menekankan bahwa saat ini perusahaan yang ingin
sukses adalah mereka yang secara konsisten menciptakan pengetahuan baru,
menyebarkannya secara luas dalam organisasi, dan secara cepat mengubahnya
menjadi berbagai teknologi dan produk baru.
Konsep penggunaan pengetahuan dalam strategi bersaing memunculkan
teori mengenai strategi pengetahuan yang antara lain dikemukakan oleh Zack
(1999).

Strategi

pengetahuan

memberikan

pengertian

strategi

berbasis

pengetahuan, yaitu strategi bersaing yang didasarkan pada modal intelektual dan
kapabilitas yang dimiliki perusahaan. Pada saat perusahaan telah mengidentifikasi
strategi bersaing yang akan digunakan maka tindakan harus dilakukan untuk
mengelola kesenjangan pengetahuan yang mungkin terjadi untuk melaksanakan
strategi tersebut seperti dengan cara merekrut keahlian tertentu, membangun
sistem penyimpanan dokumen on line, membangun komunitas keahlian,

2

mengakuisisi perusahaan, lisensi teknologi, dan sebagainya. Strategi pengetahuan
berorientasi pada apa pengetahuan yang bersifat strategik.
Clarke dan Turner (2004) menyatakan bahwa pandangan mengenai
pentingnya strategi pengetahuan untuk meciptakan keunggulan bersaing
perusahaan selama ini lebih banyak dikaitkan dengan teori mengenai pandangan
berbasis sumber daya (resource based view/ RBV) yang diperkenalkan oleh
Wernerfelt pada tahun 1984. RBV memperkenalkan bahwa keunggulan
kompetitif suatu organisasi diturunkan dari sumber daya yang bernilai dan unik
dimana pesaing akan sangat membutuhkan biaya besar untuk menirunya. Dalam
literatur manajemen strategik terdapat dua pandangan lain untuk mencapai
keunggulan bersaing yaitu struktur industri atau pandangan berbasis pasar (market
based view/ MBV) dan pandangan relasional (Clarke dan

Turner 2004).

Pandangan struktur industri diperkenalkan oleh Porter pada tahun 1980

dan

pandangan relasional diperkenalkan oleh Dyer dan Singh pada tahun 1998.
Berbeda dengan RBV yang menetapkan perusahaan sebagai unit utama dalam
analisis, pandangan relasional menetapkan jaringan antar perusahaan sebagai unit
analisis (Dyer dan Singh 1998). Clarke dan Turner (2004) menekankan perlunya
model strategi pengetahuan yang lebih komprehensif dengan melibatkan
pandangan relasional seperti klaster industri.
Selain

keterkaitan

strategi

pengetahuan

dengan

klaster

industri,

pengetahuan sebagai salah satu sumber daya tak terlihat semakin menunjukkan
posisi strategisnya ditandai dengan kemunculan teori mengenai manajemen
pengetahuan serta berbagai penerapannya di berbagai perusahaan atau organisasi
(Nonaka dan Takeuchi 1995; Davenport dan Prusak 1998). Cara bagaimana
sumber daya pengetahuan tersebut dikelola merupakan domain dari manajemen
pengetahuan (Sangkala, 2006).
Beberapa penelitian tentang manajemen pengetahuan yang terkait dengan
konsep strategi pengetahuan dan klaster industri telah dilakukan Van Horne et al.
(2005), Sureephong (2007), serta Chen and Xiangzhen (2010). Penelitian Van
Horne et al. (2005) menghasilkan suatu model manajemen pengetahuan untuk
mengelola pengetahuan pada industri kehutanan di Kanada dengan perguruan
tinggi dan pusat penelitian bertindak sebagai aktor utama. Penelitian Sureephong

3

(2007) menghasilkan suatu model sistem manajemen pengetahuan untuk
mengelola pengetahuan pemasaran ekspor pada klaster industri keramik skala
kecil dan menengah di Thailand dengan aktor utama adalah asosiasi industri
keramik. Penelitian Chen dan Xiangzhen (2010) menghasilkan suatu model sistem
manajemen pengetahuan untuk memajukan kompetensi inti pada klaster industri.
Namun demikian model strategi dan manajemen pengetahuan pada beberapa
penelitian terdahulu tersebut belum terkait dengan pemilihan inisiatif strategi
pengembangan klaster serta strategi manajemen pengetahuan untuk mendukung
strategi pengembangan klaster.
Sebagai obyek dalam penelitian perancangan model manajemen
pengetahuan ini adalah sentra industri barang jadi lateks di Jawa Barat dan
Banten. Berdasarkan BPPT (2003) dan Hartarto (2004), sentra industri secara
umum dapat dijadikan pintu masuk dalam pembentukan klaster. Industri barang
jadi lateks antara lain terkonsentrasi di propinsi Sumatera Utara yang didominasi
oleh industri sarung tangan berskala besar serta di propinsi Jawa Barat dan Banten
yang lebih didominasi oleh industri barang jadi lateks terutama barang celup
berskala kecil dan menengah. Secara umum industri berskala kecil dan menengah
ini masih jauh tertinggal dibandingkan industri yang berskala besar dalam hal
pengetahuan, teknologi dan pemasaran terutama untuk ekspor.
Dalam rangka pengembangan industri berbasis karet ini, Ridha et al.
(2000) juga menekankan bahwa pada era perdagangan bebas, perdagangan
industri karet akan sangat ditentukan oleh daya saing mutu dan harga jual
sehingga penguasaan teknologi, kemudahan dalam mendapatkan bahan baku,
efisiensi pengolahan serta ketersediaan tenaga ahli akan mendukung industri karet
di dalam negeri menjadi kompetitif di pasar domestik dan dunia. Nelly dan Haris
(2010) menekankan pula bahwa dengan meningkatkan pengetahuan dan keahlian
sumber daya manusia dalam hal teknologi, peralatan dan jejaring pemasaran akan
dapat meningkatkan pendapatan perusahaan secara signifikan.
Permasalahan lain secara lebih makro dalam sektor agroindustri karet saat
ini adalah konsumsi dalam negeri yang hanya sekitar 16% dari total produksi
karet alam nasional seperti dapat dilihat pada Tabel 1 serta ragam produk barang
jadi yang masih terbatas, yang didominasi oleh produk berbasis karet remah

4

(crumb rubber). Karet remah dikemas dengan ukuran dan berat standar yang
secara umum dikonsumsi oleh industri barang jadi karet skala besar seperti
industri ban yang memiliki mesin banbury dan kneader. Hal ini menunjukkan
masih lemahnya industri hilir karet atau barang jadi karet non ban di Indonesia
dalam menyerap karet alam dalam negeri.
Secara umum karet alam dalam negeri dikonsumsi oleh industri hilir yang
berbasiskan pada karet padat dan cair (barang jadi lateks) baik berskala besar
maupun berskala kecil dan menengah. Nancy et al. (2001) dan Suparto dan
Syamsu (2008) menekankan pentingnya mengembangkan industri berbasis lateks
untuk memacu peningkatan konsumsi karet alam dalam negeri mengingat barang
jadi lateks merupakan produk yang kandungan karetnya paling tinggi. Barang jadi
lateks sendiri dapat terdiri atas beberapa jenis produk yaitu barang celup lateks
seperti sarung tangan, kondom, kateter, komponen spygmomanometer; barang
cetakan seperti karet busa seperti kasur lateks dan bantal lateks serta barang jadi
karet cair seperti perekat lateks.
Tabel 1 Produksi dan konsumsi karet alam beberapa negara tahun 2010
(IRSG 2010)
Negara
Thailand
Indonesia
Malaysia
India
Vietnam
Srilanka

Produksi
(juta ton)
3,22
2,70
0,92
0,86
0,75
0,14

Konsumsi
(juta ton)
0,41
0,43
0,50
1,01
0
0

% Kons. Thd
Prod.
12,74
15,93
54,35
117,44
0
0

Pendekatan yang dilakukan Pemerintah untuk mengembangkan sektor
industri berbasis karet adalah menggunakan pendekatan klaster industri. Hal ini
tercantum dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 7/2005 mengenai
penguatan dan penumbuhan klaster-klaster industri inti, yaitu : 1) Industri
makanan dan minuman; 2) Industri pengolahan hasil laut; 3) Industri tekstil dan
produk tekstil; 4) Industri alas kaki; 5) Industri kelapa sawit; 6) Industri barang
kayu (termasuk rotan dan bambu); 7) Industri karet dan barang karet; 8) Industri

5

pulp dan kertas; 9) Industri mesin listrik dan peralatan listrik; dan 10) Industri
petrokimia.
Beberapa penelitian oleh Albaladejo M (2001),

Karaev (2007) dan

Zeinalnezhad M et al. (2010) menunjukkan bahwa pendekatan klaster dapat
digunakan meningkatkan daya saing dari industri kecil dan menengah. Namun
demikian pengembangan klaster dihadapkan pada suatu permasalahan bagaimana
membangun dan mempertahankan kerjasama antar anggota klaster. Sejalan
dengan bergesernya era industri kepada era pengetahuan maka pengembangan
klaster juga perlu mempertimbangkan strategi pengembangan berbasiskan
pengetahuan serta kerjasama dalam bentuk berbagi pengetahuan (knowledge
sharing) antar anggota klaster.
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan umum dari penelitian ini adalah menghasilkan model manajemen
pengetahuan untuk pengembangan klaster agroindustri barang jadi lateks di Jawa
Barat dan Banten. Secara rinci tujuan tersebut meliputi : (1) Menghasilkan model
pemilihan strategi pengembangan klaster berbasis pengetahuan; (2) Menghasilkan
model analisis kesenjangan pengetahuan dan penentuan area pengetahuan kunci;
(3) Menghasilkan model pemilihan strategi manajemen pengetahuan; (4)
Menghasilkan model kodifikasi pengetahuan disain proses dari area pengetahuan
kunci ; (5) Menghasilkan model kodifikasi pengetahuan kegagalan proses; (6)
Menghasilkan rancangan portal manajem

Dokumen yang terkait

Model manajemen pengetahuan pada klaster industri barang jadi lateks di Jawa Barat dan Banten