Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams-Games Tournament) terhadap pemahaman konsep matematika siswa

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT
(TEAMS GAMES TOURNAMENT) TERHADAP PEMAHAMAN
KONSEP MATEMATIKA SISWA

OLEH:
MALKAN SANTOSO
103017027239

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011

ABSTRAK
MALKAN SANTOSO (103017027239), “Pengaruh Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe
(TGT) Terhadap Pemahaman Konsep
Matematika Siswa.”. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,
2011.
Tujuan dari penelitian ini (1) Mengetahui pengaruh pembelajaran matematika
dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (
)
terhadap pemahaman konsep matematika siswa, (2) Mengetahui pemahaman
konsep matematika siswa setelah penerapan pembelajaran dengan model
pembelajaran kooperatif tipe TGT (
), (3)Mengetahui
aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan model pembelajaran
kooperatif tipe TGT (
).Populasi dalam penelitian ini
adalah siswa SMPN 2I Tangerang, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah
siswa kelas VIII SMPN 2I Tangerang tahun ajaran 2010/2011. Teknik
pengambilan sampel menggunakan teknik
, dipilih dua
kelas secara acak untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas
eksperimen memperoleh pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif
tipe
(TGT), sedangkan kelas kontrol memperoleh
pembelajaran secara konvensional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode quasi eksperimen dengan desain penelitian
. Instrumen penelitian yang diberikan berupa
tes yang terdiri dari 20 soal bentuk uraian. Uji prasyarat analisis menggunakan uji
dan uji
, diperoleh bahwa kedua sampel berdistribusi normal dan
homogen.
Dari perhitungan uji statistik diperoleh thitung < ttabel (1,499 < 1,66), maka H0
diterima dan Ha ditolak pada taraf signifikan α = 0,05 dengan derajat kebebasan
(db) = 77. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan
pemahaman konsep matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran
kooperatif tipe TGT dan siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran
konvensional. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
! terdapat pengaruh
pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT
terhadap peningkatan pemahaman matematika siswa.
Kata kunci: "

#
$

%,

#

"

i

!

KATA PENGANTAR

‫اﻟﺮﺣﻴﻢ‬
ّ ‫اﻟﺮﲪﻦ‬
ّ ‫ﺑﺴﻢ اﷲ‬
Puji sukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat
serta karunia nikmatNya yang tiada batas sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
(Teams Games Tournament) Terhadap Pemahaman Konsep Matematika
Siswa” ini dengan baik. Sholawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada
baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah memberikan cahaya dalam hidup
penulis berupa cahaya Islam.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan sebagaimana yang diharapkan. Walaupun waktu, tenaga dan
pikiran telah diperjuangkan dengan segala keterbatasan kemampuan yang penulis
miliki, demi terselesaikannya skripsi ini agar bermanfaat bagi penulis khususnya
dan bagi pembaca pada umumnya.
Ucapan terima kasih yang tak terhingga atas bimbingan, pengarahan,
dukungan serta bantuan dari berbagai pihak kepada penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini. Untuk itu penulis sangat berterima kasih kepada yang terhormat:
1. Prof. Dr. Dede Rosada, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Maifalinda Fatra, M.Pd dan Otong Suhyanto, M.Si selaku Ketua dan
Sekretaris Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Firdausi, S.Si, M.Pd. selaku dosen pembimbing I dan Otong Suhyanto,
M.Si selaku dosen pembimbing II yang selalu sabar dan teliti dalam
mengoreksi dan membimbing penulis dalam membuat skripsi ini.
4. Pimpinan dan seluruh staf Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Seluruh dosen dan karyawan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan pada
umumnya dan Jurusan Pendidikan Matematika khususnya yang telah

ii

memberikan kontribusi pemikiran melalui pengajaran dan diskusi yang
berkaitan dengan skripsi ini.
6. Dra. Widiana Ramayanti selaku kepala sekolah SMPN 21 Tangerang,
serta segenap guru dan karyawan sekolah yang telah memberikan
kesempatan kepada penulis untuk mengadakan penelitian.
7. Paling istimewa untuk ayahanda dan Ibunda tercinta yang nuraninya
mengalir indah dalam darahku, yang telah tulus merawat, membesarkan,
mendidik, dan mencurahkan kasih sayang serta tak bosan?bosannya
memberikan dukungan moril, materil, semangat dan do’a untuk penulis.
8. Sahabat sejatiku, Mahasiswa Satu Angkatan 2003, Jurusan Pendidikan
Matematika yang motonya tak ada putus asa, pasti bisa asal terus
berusaha, karena ada Dia. Yang selalu memberi canda, tawa, serta warna
warni masa perkuliahan; mu_doph, reply, e?both, b?dul, olan, e?mon,
obay, popo, yie, eva, lucky, fera, rosmala, u?wie, lia, thya, anam, syukron,
rijal, away, dan semuanya. terima kasih untuk semua dukungan dan
perhatian yang diberikan kepada penulis. Teruntuk “nenk” Mien Minarni
penulis sampaikan “syukron katsir” berkat motivasi, dampingan serta
kesabarannya selama penulis menyelesaikan skripsi ini. Dan juga kepada
teman?temanku yang tak bisa penulis sebutkan satu persatu.
9. Keluarga besar “Amazon?net”; boz?Doph, Ruri, Vino, lathiev, Moe?in,
thanx a lot atas fasilitas base_camp dan warnetnya sehingga penulis
leluasa untuk “browsing” bahan?bahan pustaka selama penulisan skripsi
ini.
Penulis berharap dan berdo’a kepada Allah SWT, agar seluruh
pengorbanan yang telah diberikan kepada penulis, akan mendapatkan balasan
yang setimpal disisiNya,

!

!

.
Jakarta, Februari 2011
Penulis,
Malkan Santoso

iii

DAFTAR ISI
ABSTRAK ................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................ ii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ....................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. viii

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................. 1
B. Identifikasi Masalah ..................................................... 6
C. Pembatasan Masalah ................................................... 6
D. Rumusan Masalah ......................................................... 7
E. Tujuan Penelitian ......................................................... 7
F. Manfaat Penelitian ....................................................... 7

BAB II

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR
DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Landasan Teori ............................................................. 9
1. Pemahaman Konsep Matematika ............................. 9
a. Pengertian Pemahaman ....................................... 9
b. Pengertian Konsep .............................................. 10
c. Pengertian dan Karakteristik Matematika........... 12
2. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
(

) .................................... 18

a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif .................. 18
b. Karakteristik dan Urgensi Pembelajaran
Kooperatif ........................................................... 21
c. Teori yang Melandasi Pembelajaran
Kooperatif ........................................................... 24
iv

d. TGT (

) .................... 27

e. Langkah?langkah model pembelajaran
kooperatif tipe TGT ............................................ 31
B. Hasil Penelitian yang Relevan ..................................... 35
C. Kerangka Berpikir ....................................................... 36
D. Pengajuan Hipotesis ..................................................... 37

BAB III

METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian .................................... 38
B. Metode dan Desain Penelitian ..................................... 38
C. Populasi dan Sampel Penelitian ................................... 39
D. Teknik Pengumpulan Data .......................................... 40
E. Instrumen Penelitian .................................................... 41
F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ........................ 44
G. Hipotesis Statistik ......................................................... 49

BAB IV

HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data ............................................................... 50
B. Pengujian Persyaratan Analisis .................................. 58
C. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan ........................ 60
D. Keterbatasan Penelitian ............................................... 63

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ................................................................... 64
B. Saran .............................................................................. 65

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 67
LAMPIRAN LAMPIRAN ......................................................................... 70

v

DAFTAR TABEL
1. Lembar Skor Game ................................................................................ 33
2. Perhitungan Poin Turnamen .................................................................... 33
3. Lembar Rangkuman Kelompok .............................................................. 34
4. Kriteria Pemberian Penghargaan ............................................................. 35
5. Desain Penelitian ..................................................................................... 39
6. Perincian Populasi dan Sampel .............................................................. 39
7. Penskoran Aspek Lembar Observasi Aktifitas Belajar Siswa ................. 40
8. Kriteria Pemberian Skor Essay ................................................................ 44
9. Kualifikasi Persentase skor Hasil Observasi Keaktifan Belajar siswa ..... 49
10. Distribusi Frekuensi Pemahaman Konsep Kelompok Eksperimen ......... 51
11. Distribusi Frekuensi Indikator Pemahaman Konsep Kelompok
Eksperimen .............................................................................................. 53
12. Distribusi Frekuensi Pemahaman Konsep Kelompok Kontrol ............... 54
13. Distribusi Frekuensi Indikator Pemahaman Konsep Kelompok
Kontrol

................................................................................................. 56

14. Perbandingan Hasil Posttest Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ................................................................................... 57
15. Hasil Uji Normalitas Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ................................................................................... 59
16. Hasil Uji Homogenitas Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ................................................................................... 59
17. Hasil Uji?t Kelompok Eksperimen dan Kelompok kontrol ..................... 60
18. Perhitungan Validitas Test Uraian .......................................................... 122
19. Perhitungan Reliabilitas Test Uraian ....................................................... 125
20. Perhitungan Daya BedaTest Uraian ........................................................ 127
21. Perhitungan Tingkat Kesukaran Test Uraian .......................................... 129
22. Penghitungan Uji Normalitas Kelompok Eksperimen ............................ 145
23. Penghitungan Uji Normalitas Kelompok Kontrol ................................... 147

vi

DAFTAR GAMBAR
1.

Diagram Pembagian Meja Turnamen Siswa .......................................... 29

2.

Histogram dan Poligon Frekuensi Pemahaman Konsep Kelompok
Eksperimen ............................................................................................. 52

3.

Histogram dan Poligon Frekuensi Pemahaman Konsep Kelompok
Kontrol ................................................................................................ 55

vii

DAFTAR LAMPIRAN
1.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelompok Eksperimen ........ 70

2.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelompok Kontrol ............. 99

3.

Lembar Observasi Kegiatan Belajar Matematika siswa............................ 105

4.

Rekapitulasi Skor Observasi Aktifitas Belajar Matematika Siswa ......... 106

5.

Kisi?kisi Instrumen Test Essay .................................................................. 107

6.

Lembar Soal (Test) ................................................................................... 110

7.

Jawaban Instrumen Test Essay ................................................................. 113

8.

Langkah?langkah Penghitungan Validitas Test Uraian ............................ 121

9.

Langkah?langkah Penghitungan Reliabilitas Test Uraian ......................... 124

10. Langkah?langkah Penghitungan Daya Pembeda Test Uraian ................... 126
11. Langkah?langkah Penghitungan Tingkat Kesukaran Test Uraian ............. 128
12. Rekapitulasi Nilai Posttest ........................................................................ 131
13. Rekapitulasi Skor Observasi Aktifitas Belajar Siswa .............................. 134
14. Penghitungan Data Statistik Awal Kelompok Eksperimen ....................... 135
15. Penghitungan Data Statistik Awal Kelompok Kontrol ............................ 140
16. Penghitungan Uji Normalitas Kelompok Eksperimen .............................. 145
17. Penghitungan Uji Normalitas Kelompok Kontrol ..................................... 147
18. Penghitungan Uji Homogenitas ............................................................... 149
19. Penghitungan Pengujian Hipotesis ........................................................... 151
20. Pedoman Wawancara ............................................................................... 153
21. Hasil Wawancara ...................................................................................... 154
22. Tabel Product Moment ............................................................................. 157
23. Tabel Kritis L Untuk Uji Lilliefors .......................................................... 158
24. Tabel Nilai Fischer (Daftar A) .................................................................. 159
25. Tabel Nilai Fischer (Daftar B) ................................................................. 163
26. Tabel Distribusi Normal ........................................................................... 164
27. Surat Bimbingan Skripsi .......................................................................... 169
28. Surat Permohonan Penelitian ................................................................... 170
29. Lembar Uji Referensi ............................................................................... 171
viii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu upaya untuk memberikan
pengetahuan, wawasan, ketrampilan dan keahlian tertentu kepada individu
guna mengembangkan bakat serta kepribadian mereka. Pendidikan membuat
manusia berusaha mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi
setiap perubahan yang terjadi akibat adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Hal ini disebutkan dalam undang?undang sistem pendidikan
nasional:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.”1
Oleh karena itu masalah pendidikan perlu mendapat perhatian dan
penanganan yang lebih baik yang menyangkut berbagai masalah yang
berkaitan dengan kuantitas ataupun kualitasnya.
Manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan akan mempunyai
derajat kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah SWT, hal ini sesuai dengan
firman Allah dalam surat Al?Mujadalah pada akhir ayat 11:

ْ ُ_ ْ‫َ أو‬jKْ kِ ‫ﱠ‬M‫ َوا‬hْ lُ mْ nِ ‫ُ[ْ ا‬mnَ ‫َ أ‬jKْ kِ ‫ﱠ‬M‫ ﷲُ ا‬Rِ َS ْUَK
Uٌ Wْ Xِ Yَ َ‫ِ َ]` َ_ ْ^ َ]\ُ[ْ ن‬a ُ‫ َوﷲ‬d
ٍ e‫ َد َر‬hَ \ْ ^ِ M‫[اا‬
Artinya :
“. . . &

!

!
' (

"

!

!

&

"

! .”2

1

UU SISDIKNAS RI No. 20 Th. 2003 Bab II pasal 3, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), Cet.
Ke?3, h. 5.
2
DEPAG, & ) *
+ (Jakarta: CV. Kathoda, 2005), h. 793.

1

2

Begitu penting pendidikan sehingga harus dijadikan prioritas utama
dalam pembangunan bangsa. Oleh karena itu diperlukan mutu pendidikan
yang baik sehingga tercipta proses pendidikan yang cerdas, damai, terbuka,
demokratis, dan kompetitif.
Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran.
“Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur?unsur
manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling
mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.”3 Proses pembelajaran
ini dapat terjadi di sekolah atau di luar sekolah.
Sebagai salah satu lembaga yang menyelenggarakan pendidikan
formal, sekolah mempunyai peranan penting dalam usaha mendewasakan
siswa agar menjadi anggota masyarakat yang berguna. Untuk tujuan tersebut,
sekolah menyelenggarakan kegiatan belajar?mengajar dan kurikulum sebagai
wadah dan bahan mentahnya.
Matematika merupakan kurikulum dan mata pelajaran yang ada dalam
tiap tingkatan sekolah, mulai dari Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah
(SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) dan
Sekolah

Menengah

Atas/Madrasah

Aliyah

(SMA/MA).

Keberadaan

matematika diperlukan di tiap tingkat sekolah karena matematika memegang
peranan penting dalam ilmu pengetahuan, sehingga siswa di tiap tingkat
sekolah harus mempelajari matematika.
Dalam proses belajar mengajar matematika, diharapkan terjadi transfer
belajar, yakni materi yang disajikan guru dapat diterapkan ke dalam struktur
kognitif siswa. Struktur kognitif adalah perangkat fakta?fakta, konsep?konsep,
generalisasi?generalisasi yang terorganisasi yang telah dipelajari dan dikuasai
seseorang.4 Fakta? fakta yang dimaksud misalnya ruas garis dan sudut
sedangkan konsep?konsep yang dimaksud misalnya titik dan garis.

3

70.

4

Oemar Hamalik, #

Slameto, ,
cet. ke?5 h. 24.

, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), cet. ke?8, h.

!
!

!

"

+ (Jakarta: Rineka Cipta, 2010),

3

Hamalik dalam bukunya
!

,

!

mengemukakan bahwa Ranah kognitif menurut Bloom,

dkk terdiri dari enam jenis perilaku sebagai berikut: (1) Pengetahuan,
mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan
dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian,
kaidah, teori, prinsip, atau metode; (2) Pemahaman, mencakup kemampuan
menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari; (3) Penerapan,
mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi
masalah yang nyata dan baru; (4) Analisis mencakup kemampuan merinci
suatu kesatuan ke dalam bagian?bagian sehingga struktur keseluruhan dapat
dipahami dengan baik; (5) Sintesis, mencakup kemampuan membentuk
pendapat suatu pola baru; dan (6) Evaluasi, mencakup kemampuan
membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu.5
Aspek pemahaman dalam ranah kognitif menurut Bloom berada dalam urutan
kedua setelah aspek pengetahuan.
Akibat terjadinya transfer belajar yang diterapkan ke dalam struktur
kognitif siswa, Siswa dapat menguasai materi pelajaran tidak hanya terbatas
pada tahap ingatan tanpa pengertian, tetapi bahan pelajaran dapat diserap
secara bermakna. Demikian pula dengan tujuan pengajaran matematika yang
akan tercapai dengan pengajaran bermakna. Konsep?konsep matematika
tersusun secara terstruktur, logis dan matematis mulai dari konsep yang
sederhana sampai pada konsep prasyarat selanjutnya.
Mata pelajaran Matematika selain mempunyai sifat abstrak, pemahaman
konsep yang baik sangatlah penting karena untuk memahami konsep yang
baru diperlukan pemahaman konsep sebelumnya.65 Sampai saat ini masih
banyak ditemui kesulitan siswa dalam memahami konsep?konsep matematika.
Akibatnya, siswa kesulitan untuk memahami konsep?konsep selanjutnya.
Sehingga siswa akan menganggap bahwa matematika adalah pelajaran yang
sulit dan tidak menyenangkan. Menurut Ruseffendi dalam bukunya yang
5

Oemar Hamalik,
Citra Aditya Bakti, 1990), h. 148.
6
www.mathematic.transdigit.com

,

!

!

+ (Bandung:PT

4

berjudul

"

! "

!

+"

+

, hal ini disebabkan oleh beberapa aspek diantaranya kecerdasan siswa,
bakat siswa, kemampuan belajar, minat siswa, model penyajian materi, pribadi
dan sikap guru, suasana belajar, kompetensi guru, serta kondisi masyarakat
luas.
Wahyudin dalam Inayah mengemukakan bahwa tingkat penguasaan
atau hasil belajar matematika terhadap matematika cenderung rendah. Salah
satu penyebab rendahnya penguasaan atau hasil belajar siswa dalam
matematika adalah siswa tidak memahami konsep?konsep atau persoalan?
persoalan yang diberikan dalam pembelajaran matematika.76Agar siswa dapat
memahami konsep matematika dengan baik maka perlu dikembangkan suatu
cara atau metode pengajaran matematika guna membantu siswa dalam
memahami konsep dan menentukan hubungan yang bermakna dalam
menyelesaikan soal?soal matematika.
Metode mengajar merupakan sarana interaksi guru dengan siswa
dalam kegiatan belajar mengajar. Perlu diperhatikan adanya ketepatan dalam
memilih metode mengajar, metode mengajar yang dipilih harus sesuai dengan
tujuan, jenis dan sifat materi yang diajarkan. Kemampuan guru dalam
memahami dan melaksanakan metode tersebut sangat berpengaruh terhadap
hasil yang dicapai. Kesalahan menggunakan suatu metode dapat menimbulkan
kebosanan, kurang dipahami dan monoton sehingga mengakibatkan sikap
acuh terhadap pelajaran matematika.
Salah satu metode

yang memungkinkan siswa dapat memahami

konsep matematika dengan baik adalah metode pembelajaran
(TGT). TGT merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran
yaitu pembelajaran yang dilaksanakan di dalam kelas

-

dengan membentuk kelompok?kelompok kecil, guru memberikan permainan?
permainan akademik dan guru mengadakan turnamen/kompetisi antar
kelompok. Hal ini memungkinkan siswa yang belum memahami konsep yang
7

Nina Nurinayah, “
!
!.
$ .%
/
,
"
!
”, Skripsi Pendidikan Matematika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, (Jakarta:
Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008), h. 4. t.d.

5

disampaikan oleh guru dapat bertanya kepada teman satu timnya untuk
memperoleh informasi lebih, sehingga dalam kegiatan turnamen siswa telah
memahami materi pelajaran dan siap bersaing dengan lawannya.
Dalam pembelajaran kooperatif tipe

(TGT)

ini terdapat beberapa tahap yang harus dilalui selama proses pembelajaran.
Tahap awal, siswa belajar dalam suatu kelompok dan diberikan suatu materi
yang dirancang sebelumnya oleh guru, setelah itu siswa bersaing dalam
turnamen untuk mendapatkan penghargaan kelompok. Selain itu terdapat
kompetisi antar kelompok yang dikemas dalam suatu permainan agar
pembelajaran tidak membosankan. Pembelajaran kooperatif tipe TGT juga
membuat siswa aktif mencari penyelesaian masalah dan mengkomunikasikan
pengetahuan yang dimilikinya kepada orang lain, sehingga masing?masing
siswa diharapkan lebih memahami konsep dan menguasai materi.
Dalam pembelajaran tipe TGT, guru berkeliling untuk membimbing
siswa saat diskusi kelompok. Hal ini memungkinkan siswa untuk berinteraksi
dengan guru. Pendekatan terhadap siswa diharapkan mampu mengurangi rasa
takut bagi siswa untuk bertanya atau berpendapat kepada guru. Berdasarkan
pengamatan peneliti pada saat melakukan observasi di SMPN 21 Tangerang,
proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan metode ekspositori,
pada saat proses pembelajaran, guru menjelaskan materi, memberikan
pertanyaan dan siswa menjawab pertanyaan tersebut secara bersama?sama.
Seorang siswa akan menjawab pertanyaan guru jika ditunjuk oleh guru untuk
menjawab. Jika diberi kesempatan untuk bertanya, siswa hanya berbisik?bisik
dengan teman bahkan sebagian besar hanya diam. Siswa tidak mempunyai
keberanian untuk bertanya maupun menjawab pertanyaan. Siswa mencatat
semua materi yang disampaikan jika guru telah menginstruksikan untuk
mencatat materi. Selama pembelajaran berlangsung sebagian besar siswa tidak
menggunakan buku yang ada untuk membantu menyelesaikan tugas yang
diberikan oleh guru. Mereka hanya menggunakan catatan yang diberikan guru.
Setelah selesai mengerjakan tugas, siswa tidak mempresentasikan hasilnya,

6

tetapi hanya dibahas bersama oleh guru. Hal ini dikarenakan siswa tidak ada
yang berani mempresentasikan hasil tugas mereka.
Berdasar hasil pengamatan tersebut, terdapat beberapa siswa yang
dapat secara langsung memahami konsep yang disampaikan oleh guru dan
sebagian yang lain belum memahami konsep secara jelas. Metode
pembelajaran yang digunakan guru adalah metode ceramah dan tanya jawab.
Bertolak dari semua hal di atas peneliti ingin melakukan suatu penelitian
tentang pengaruh pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap pemahaman
konsep matematika siswa.
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang tersebut dapat diidentifikasi beberapa masalah
antara lain:
1. Matematika dianggap mata pelajaran yang membosankan menurut
sebagian besar siswa.
2. Kurangnya keaktifan siswa ketika proses pembelajaran.
3. Masih rendahnya hasil belajar matematika siswa.
4. Masih rendahnya pemahaman konsep siswa.
5. Kurangnya kreatifitas guru dalam menggunakan metode pembelajaran.

C. Pembatasan Masalah
Agar permasalahan tidak meluas, maka dalam penyusunan skripsi ini
penulis membatasi permasalahannya sebagai berikut:
1. Penelitian dilakukan pada kelas 8 SMPN 21 Tangerang pada tahun ajaran
2010/2011 pada pokok bahasan Teorema Pythagoras dan lingkaran yang
diajarkan pada semester II.
2. Model pembelajaran kooperarif tipe

(TGT)

yang dimaksud adalah proses pembelajaran dengan cara membagi siswa
kedalam kelompok?kelompok kecil, mengadakan diskusi kelompok, dan
mengadakan turnamen dengan menggunakan game akademik di akhir
pembelajaran.

7

3. Pemahaman konsep matematika siswa diukur dari hasil posttest pada
pokok bahasan Teorema Pythagoras dan Lingkaran.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka permasalahan dalam
penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah terdapat pengaruh pembelajaran matematika dengan model
pembelajaran kooperatif tipe TGT (

% terhadap

pemahaman konsep matematika siswa?
2. Bagaimana pemahaman konsep matematika siswa setelah penerapan
pembelajaran kooperatif tipe TGT (

)?

3. Bagaimana aktifitas siswa selama proses pembelajaran dengan model
pembelajaran kooperatif tipe TGT (

%?

E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk:
1. Mengetahui

pengaruh

pembelajaran

matematika

dengan

pembelajaran kooperatif tipe TGT (

model

) terhadap

pemahaman konsep matematika siswa.
2. Mengetahui pemahaman konsep matematika siswa setelah penerapan
pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (
).
3. Mengetahui aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan model
pembelajaran kooperatif tipe TGT (

).

4.
F. Manfaat Penelitian
Setelah dilakukan penelitian mengenai pembelajaran kooperatif tipe
TGT diharapkan dapat memberikan manfaat, diantaranya :
1. Bagi

Guru,

Penelitian

diharapkan

dapat

memberikan

gambaran,

menambah wawasan dan pengalaman melaksanakan pembelajaran dalam
hal ini meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa dengan
metode

(TGT). Selain itu, guru diharapkan

8

dapat mengasah kreativitas dengan menyusun sendiri Lembar Kerja Siswa
(LKS) yang mempermudah guru mencapai tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan.
2. Bagi Peneliti, hasil dari penelitian ini dapat menjadi wahana ilmiah dalam
mengaplikasikan

kemampuan

yang

diperoleh

selama

menjalani

perkuliahan dan dapat memberi gambaran yang jelas mengenai
pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam
upaya meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa.
3. Bagi peneliti lain, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah
khasanah ilmu pendidikan dan sebagai masukan untuk melakukan
penelitian lebih lanjut.

BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN
PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Landasan Teori
1. Pemahaman Konsep Matematika
a. Pengertian Pemahaman
Pemahaman berasal dari kata paham yang dalam kamus besar
bahasa Indonesia diartikan sebagai “mengerti benar” 1. Pemahaman atau
mempunyai beberapa tingkat kedalaman arti yang

-

berbeda. Pemahaman dapat diartikan kemampuan untuk menangkap
makna dari suatu konsep. Pemahaman juga dapat diartikan sebagai
kemampuan menerangkan suatu hal dengan kata?kata yang berbeda
dengan

yang

terdapat

menginterpretasikan

dalam

atau

buku

kemampuan

teks,

kemampuan

menarik

kesimpulan.

“Pemahaman tampak pada alih bahan dari suatu bentuk ke bentuk
lainnya, penafsiran dan memperkirakan.”2 Misalnya menerjemahkan
bahan dari suatu bentuk ke bentuk lainnya, menafsirkan bagan,
menerjemahkan bahan verbal ke rumus matematika. Sedangkan
Hamalik mengatakan, “Pemahaman adalah kemampuan melihat
hubungan?hubungan antara berbagai faktor atau unsur dalam situasi
yang poblematis.”3
Bloom membagi ranah kognitif menjadi 6 bagian, yaitu:
mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisa, mengevaluasi,
dan mengkreasi. (1) Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan
tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan.
Mengingat berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori,

1

Departemen Pendidikan Nasional, #
Pustaka, 2007). Edisi Ke?3, Cet. Ke?3. h.811.
2
Oemar Hamalik, # !
3
Oemar Hamalik,
,
"

9

,

,

0

, (Jakarta: Balai

, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 80.
, (Bandung: Bumi Aksara, 2006), h. 42.

10

prinsip, atau metode; (2) Pemahaman, mencakup kemampuan
menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari; (3) Penerapan,
mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk
menghadapi masalah yang nyata dan baru; (4) Analisis, mencakup
kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian?bagian sehingga
struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik; (5) Sintesis,
mencakup kemampuan membentuk pendapat suatu pola baru; dan (6)
Evaluasi, mencakup

kemampuan membentuk pendapat tentang

beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu.4
“Memahami” merupakan ranah kognitif setelah mengingat.
Anderson dan krathwohl dalam bukunya &

1

+

mengemukakan definisi tentang “memahami”

&
sebagai berikut, 23
+

+

+

'45 “memahami” didefinisikan sebagai membangun
makna pesan instruksional meliputi lisan, tulisan dan komunikasi
grafik.
b. Pengertian Konsep
Para ahli berbeda?beda dalam mendifinisikan suatu konsep.
Hamalik menyatakan bahwa “Konsep adalah suatu kelas atau kategori
stimuli yang memiliki ciri?ciri umum.”6 Sedangkan menurut Kuslan dan
Stone, “konsep adalah sifat khas yang diberikan pada sejumlah objek ,
proses,

fenomena,

atau

peristiwa

yang

dapat

dikelompokkan

berdasarkan kelompok itu.”7 Rumusan definisi diatas mempunyai
4

Oemar Hamalik,
,
!
!
+ (Bandung:PT
Citra Aditya Bakti, 2005), h. 120.
5
Lorin W. Anderson, and David R. Krathwohl, & 1
+
&
, (New York: Addison Wesley Longman, Inc.,2001) p. 30.
6
Oemar Hamalik,
,
!
!
+ (Jakarta:
Bumi Aksara, 2005), Cet. Ke?4, h. 162.
7
Reviandari Widyatiningtyas,
!
+ !
"
!
! 0 &+ dalam http://docs.google.com/viewer?a=v&q

11

makna yang sama, yaitu konsep merupakan suatu abstraksi yang
menggambarkan ciri?ciri umum dari suatu kelompok objek, proses,
peristiwa, fakta atau pengalaman lainnya.
Mengajarkan konsep kepada siswa dapat dibantu dengan
instruksi verbal, yakni sebagai berikut:
1.

Lebih dahulu diajarkan benda?benda yang mengandung konsep
yang dipelajari.

2.

Guru menanyakan konsep itu dalam situasi?situasi yang belum
dihadapi anak lalu ditanya ”Apa ini? ” atau “ Di mana sudutnya? “.
Bila respon salah kita dapat memperbaikinya.

3.

Kemudian anak dihadapkan kepada berbagai situasi yang baru yang
mengandung konsep itu dan menanyakan rangkaian verbal yang
belum pernah dipelajarinya.
Dalam menerima konsep baru hendaknya dalam proses belajar

mengajar siswa diarahkan untuk dapat mencoba melakukannya sendiri.
Siswa diharapkan dapat menemukan konsep yang baru tersebut sebagai
sesuatu yang bermakna baginya. Sehingga dalam menyelesaikan suatu
masalah matematika siswa akan menggunakan konsep yang sudah ia
miliki. Hal ini sejalan dengan pendapat Bruner yang dikutip Suherman
yang menyatakan, bahwa:
“ jika anak ingin mempunyai kemampuan dalam hal menguasai
konsep, teorema, definisi, dan semacamnya, anak harus dilatih
untuk melakukan penyusunan representasinya. Untuk
meletakkan ide atau definisi tertentu dalam pikiran, anak?anak
harus menguasai konsep dengan mencoba dan melakukannya
sendiri. Dengan demikian, jika anak aktif dan terlibat dalam
kegiatan mempelajari konsep yang dilakukan dengan jalan
memperlihatkan representasi konsep tersebut, maka anak akan
lebih memahaminya. ”8
Seorang guru dapat mengetahui tingkat pemahaman siswa
terhadap suatu konsep yang diberikan dengan melihat dari apa yang

8

Erman Suherman,
"
! #
' (Bandung: Jurusan
Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia,2003), h.44.

12

diperbuatnya, seperti ia dapat membedakan dari contoh dan bukan
contoh, ia dapat menyebutkan ciri?ciri dari suatu konsep sampai kepada
kemampuannya dalam memecahkan masalah.
Sedangkan menurut Hamalik, untuk mengetahui apakah siswa
telah mengetahui dan memahami suatu konsep, paling tidak ada empat
yang diperbuatnya. Yaitu sebagai berikut:
a.

Ia dapat menyebutkan nama contoh?contoh konsep bila dia
melihatnya.

b.

Ia dapat menyatakan ciri?ciri konsep tersebut.

c.

Ia dapat memilih, membedakan antara contoh?contoh dari yang
bukan contoh

d.

Ia mungkin lebih mampu memecahkan masalah yang berkenaan
dengan konsep. 9
Begitu pula dalam belajar matematika, siswa harus benar?benar

memahami konsep yang dipelajarinya dengan baik karena matematika
merupakan bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari
pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang?lambang matematika
bersifat artifisial dan baru mempunyai arti setelah sebuah makna
diberikan kepadanya. Jadi matematika di sini merupakan bahasa yang
terdiri dari lambang?lambang yang bersifat artifisial dan sudah
merupakan kesepakatan bersama. Tanpa pemberian makna tersebut
matematika hanya merupakan kumpulan rumus?rumus mati.
c. Pengertian dan Karakteristik Matematika
Istilah

(Inggris),
(Perancis),

6
atau

!/
,

!

yang

(Italia),

9

Oemar Hamalik,

(Jerman),
! (Rusia)

(Belanda) berasal dari perkataan latin

mulanya

diambil

!e yang berarti “
mempunyai akar kata

!

dari

perkataan

Yunani,

”. Perkataan ini
yang berarti pengetahuan atau ilmu
''', h. 166.

13

(!

,

).

Secara etimologi

matematika mempunya

pengertian “ilmu pengetahuan yang diperoleh secara bernalar”10, hal ini
dimaksudkan bukan berarti ilmu lain diperoleh tidak melalui penalaran,
akan tetapi dalam matematika lebih menekankan aktifitas dalam dunia
rasio (penalaran), sedangkan ilmu lain lebih menekankan hasil
observasi atau eksperimen disamping penalaran.
”Secara simpel matematika diartikan sebagai telaah tentang
pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat,
karenanya matematika bukan pengetahuan yang menyendiri,
tetapi keberadaannya untuk membantu manusia dalam
memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan
alam.”11
James dan James dalam kamus matematikanya mengatakan
bahwa, ”matematika adalah ilmu tentang logika, mengenai bentuk,
susunan, besaran, dan konsep?konsep yang berhubungan satu dengan
yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga
bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri.”12 Namun pembagian yang
jelas sangatlah sukar untuk dibuat, sebab cabang?cabang itu semakin
bercampur. Sebagai contoh adanya pendapat yang mengatakan
matematika itu timbul karena pemikiran?pemikiran manusia yang
berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran yang terbagi menjadi 4
wawasan yang luas yaitu aritmatika, aljabar, geometri, dan analisis
dengan aritmatika mencakup teori bilangan dan statistika.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa matematika
adalah ilmu tentang logika yang berkenaan dengan ide?ide, penalaran,
struktur?struktur dan hubungan?hubungannya yang diatur menurut
urutan yang logis. Adapun wilayah pembahasan matematika meliputi
empat wawasan, yaitu aritmatika, aljabar, analisis dan geometri.

10

Erman Suherman,
Asep Jihad,
12
Mulyono Abdurrahman,
Rineka Cipta, 1998), Cet.I, h. 252.
11

#

!
!

7+ h.16.
7+ h. 152.
,
& ! , !

,

+ (Jakarta: PT.

14

Berdasarkan pengertian matematika, maka perlu diperhatikan
beberapa

karakteristik

pembelajaran

matematika

di

sekolah.

Karakteristik yang membedakan matematika dengan pelajaran lain
yaitu dapat dilihat dari objek pembicaraannya yang abstrak,
pembahasan mengandalkan tata nalar artinya info awal dibuat seefisien
mungkin, pengertian/konsep atau pernyataan sangat jelas berjenjang,
melibatkan perhitungan, dapat dipakai dalam ilmu yang lain serta dalam
kehidupan sehari?hari.

13

Menurut Suherman, dkk dalam buku yang

berjudul

"

!

#

, beberapa

karakteristik matematika di sekolah diantaranya adalah bahwa
pembelajaran matematika adalah berjenjang, mengikuti metoda spiral,
menekankan

pola

pikir

deduktif,

serta

menganut

kebenaran

konsistensi.14
Karakteristik pembelajaran matematika yang menyatakan
pembelajaran matematika adalah berjenjang dimaksudkan bahwa materi
matematika diajarkan secara bertahap. Dimulai dari mengajarkan hal
yang konkrit dilanjutkan ke hal yang abstrak. Dalam pembelajaran
matematika terdapat materi atau konsep prasyarat sebagai dasar untuk
memahami materi atau konsep selanjutnya. Oleh karena itu dalam
pembelajaran matematika harus dilakukan tahap demi tahap, dimulai
dengan hal yang sederhana ke hal yang kompleks. Siswa tidak mungkin
mempelajari konsep yang tinggi sebelum siswa menguasai konsep yang
lebih rendah, karenanya matematika diajarkan dari konsep yang mudah
menuju konsep yang lebih sukar.
Selain diajarkan secara bertahap, pembelajaran matematika juga
mengikuti metoda spiral. Dalam mengajarkan konsep yang baru, perlu
dikaitkan dengan konsep yang telah dimiliki siswa sebelumnya,
sekaligus untuk mengingatkannya kembali. Pengulangan konsep
dengan cara memperluas dan memperdalam diperlukan dalam
13
14

Asep Jihad,
Erman Suherman,

#

!

7+hlm, 152?153.
7, hlm. 68.

15

pembelajaran matematika. Metoda spiral yang dimaksud di sini adalah
mengajarkan konsep dengan pengulangan atau perluasan dengan
adanya peningkatan. Jadi, spiral yang dimaksud adalah spiral naik,
bukan spiral datar.
Sifat pembelajaran matematika selanjutnya adalah menekankan
pola pikir deduktif. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa
matematika merupakan ilmu deduktif. Namun demikian, dalam
mengajarkannya, perlu disesuaikan dengan kondisi siswa. Misalnya,
sesuai dengan perkembangan intelektual siswa di SMP, maka dalam
pembelajaran matematika tidak sepenuhnya menggunakan pendekatan
secara deduktif, melainkan dicampur dengan induktif. Seperti dalam
pengenalan teorema pythagoras, tidak langsung diberikan teorema
tersebut.

Tetapi

diawali

dengan

memberikan

simulasi

untuk

mendapatkan teorema tersebut.
Pembelajaran matematika juga menganut kebenaran konsistensi
yang didasarkan kepada kebenaran?kebenaran terdahulu yang telah
diterima. Kebenaran dalam matematika diperoleh secara deduktif.
Walaupun

dimulai

dengan

pembuktian

secara

induktif, tetapi

selanjutnya harus bisa dibuktikan secara deduktif dengan cara
pengandaian.
Pemahaman dalam pengertian pemahaman konsep matematika
mempunyai beberapa tingkat kedalaman arti yang berbeda?beda.
Berikut diuraikan beberapa jenis pemahaman menurut para ahli:
a.

Pollastek membedakan dua jenis pemahaman, yaitu:
1) Pemahaman komputasional, yaitu dapat menerapkan sesuatu
pada perhitungan rutin/sederhana, atau mengerjakannya secara
algoritmik saja.
2) Pemahaman fungsional, yaitu dapat mengkaitkan sesuatu
dengan hal lainnya secara benar dan menyadari proses yang
dilakukan.

16

b.

Copeland membedakan dua jenis pemahaman, yaitu:
1) #

, yaitu dapat mengerjakan sesuatu secara

rutin/algoritmik.
2) #

, yaitu dapat mengerjakan sesuatu dengan sadar akan

proses yang dikerjakannya.
c. Polya membedakan empat jenis pemahaman suatu hukum, yaitu:
1) Pemahaman mekanikal, yaitu pemahaman yang dimiliki
seseorang bila ia dapat mengingat dan menerapkan hukum
secara benar.
2) Pemahaman indukif, yaitu pemahaman yang dimiliki seseorang
bila ia telah mencoba hukum itu berlaku dalam kasus serupa.
3) Pemahaman rasional, yaitu pemahaman yang dimiliki seseorang
bila ia dapat membuktikan hukum itu.
4) Pemahaman intuitif, yaitu pemahaman yang dimiliki seseorang
bila ia telah yakin akan kebenaran hukum itu tanpa ragu?ragu
lagi.15
d. Skemp membedakan dua jenis pemahaman konsep, yaitu
pemahaman
pemahaman

instruksional

(

relasional (

)
).

16

dan

Adapun

masing?masing jenis pemahaman mengandung pengertian sebagai
berikut: :
1) Pemahaman instruksional (

), yaitu

pemahaman atas konsep yang saling terpisah dan hanya hafal
rumus dalam perhitungan sederhana. Dalam tahap ini siswa
hanya sekedar tahu dan hafal suatu rumus dan dapat
menggunakannya untuk menyelesaikan suatu soal, tetapi
belum/tidak bisa menerapkannya pada keadaan lain yan
berkaitan.
15

Asep, Jihad,
# !
"
2008), Cet. Ke?1, h.167
16
Muli,
!
http://muli30.wordpress.com. Diakses 07 Juni 2009

! + (Yogyakarta: Multi Pressindo,
0 &'

17

2) Pemahaman

relasional

(

),

yaitu

pemahaman yang termuat dalam suatu skema atau struktur yang
dapat digunakan pada penyelesaian masalah yang lebih luas.
Dalam tahap ini siswa tidak hanya sekedar tahu dan hafal suatu
rumus, tetapi juga tahu bagaimana dan mengapa rumus itu dapat
digunakan.
e. Menurut Bloom pemahaman dapat dibedakan menjadi tiga kategori
yakni pengubahan (

), pemberian arti (

Pembuatan ekstrapolasi ( 1

).17 Pengubahan (

), dan
),

yaitu pemahaman yang berkaitan dengan kemampuan siswa dalam
menerjemahkan kalimat dalam soal menjadi bentuk kalimat lain,
misalnya menyebutkan variabel?variabel yang diketahui dan yang
ditanyakan. Pemberian arti (0

) yaitu pemahaman yang

berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menentukan konsep?
konsep yang tepat untuk digunakan dalam menyelesaikan soal.
Pembuatan ekstrapolasi (81

) yaitu pemahaman yang

berkaitan dengan kemampuan siswa menerapkan konsep dalam
perhitungan matematis untuk menyelesaikan soal atau menyimpulkan
dari sesuatu yang telah diketahui.
Dari pendapat para ahli diatas, dapat dikatakan bahwa tingkat
penguasaan konsep dalam matematika meliputi:
a. Kemampuan mengucapkan konsep dengan tepat dan benar.
b. Kemampuan menjelaskan konsep dengan kata?kata sendiri.
c. Kemampuan mengidentifikasi sesuatu yang diberikan.
d. Kemampuan menginterpretasikan konsep.
Konsep dalam matematika tidak cukup hanya dihafalkan tetapi
harus dipahami melalui suatu proses berfikir dan aktifitas pemecahan
masalah. Sehingga dapat dinyatakan bahwa matematika merupakan
17

Gusni Satriawati, “
!
8
!"
! !
#
#
!
"
!
" ”, dalam ALGORITMA Jurnal
Matematika dan Pendidikan Matematika, Vol. 1 No.1 Juni 2006, (Jakarta: CEMED UIN Jakarta,
2006), h. 108

18

suatu ilmu yang dinyatakan dengan bahasa simbolis untuk
menyampaikan suatu informasi dengan jelas dan singkat.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, dapat diambil
kesimpulan

bahwa

kemampuan

pemahaman

konsep

adalah

kemampuan siswa untuk menerangkan suatu hal meliputu aspek
penerjemahan, penafsiran dan ekstrapolasi dalam menyelesaikan soal
atau menyimpulkan dari sesuatu yang telah diketahui.
2. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Kata “pembelajaran” dalam “#

,

,

0

4

adalah kata benda yang diartikan sebagai proses, cara, menjadikan
orang atau mahluk hidup belajar.18 Suyitno mengemukakan bahwa
“pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan
terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan peserta
didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan
siswa serta siswa dengan siswa.”19
Menurut Fontana dalam Suherman, “pembelajaran merupakan
upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program
belajar tumbuh dan berkembang secara optimal.”20 Sedangkan
Suherman mengemukakan pengertian lain tentang pembelajaran
antara lain:
a. Menurut konsep sosiologi, pembelajaran adalah proses yang
mempengaruhi sosio?psikologis untuk memelihara kegiatan
belajar tersebut sehingga tiap individu yang belajar akan belajar
secara optimal dalam mencapai tingkat kedewasaan dan dapat
hidup sebagai anggota masyarakat yang baik.

18

Departemen pendidikan Nasional, #
Pustaka, 2007). Edisi Ke?3, Cet. Ke?3, h. 17.
19
www.mathematic.transdigit.com.
20
Suherman,
"

,

,

! ' ' ' ,h. 8.

0

, (Jakarta: Balai

19

b. Menurut konsep komunikasi, pembelajaran adalah proses
perubahan sikap dan pola pikir yang akan menjadi kebiasaan bagi
siswa yang bersangkutan melalui komunikasi fungsional yang
terjasi antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa.21
Pembelajaran dapat pula dikatakan sebagai suatu proses
belajar mengajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan
dievaluasi secara sistematis agar tercapai tujuan?tujuan pembelajaran
secara efektif dan efisien. Pada dasarnya pembelajaran merupakan
interaksi antara pendidik dalam mengajar (
dalam belajar (

) dan peserta didik

).

Proses pembelajaran terjadi secara optimal jika pengetahuan
dipelajari dalam tahap?tahap sebagai berikut :
a. Tahap Enaktif
Suatu tahap pembelajaran dimana pengetahuan dipelajari secara
aktif dengan menggunakan benda?benda konkret atau situasi
nyata.
b. Tahap Ikonik
Suatu tahap pembelajaran dimana pengetahuan diwujudkan dalam
bentuk bayangan visual, gambar atau diagram yang
menggambarkan kegiatan konkret.
c. Tahap Simbolik
Suatu tahap pembelajaran dimana pengetahuan diwujudkan dalam
bentuk simbol?simbol abstrak, baik simbol verbal, lambang?
lambang matematika maupun lambang abstrak lainnya.22
Suherman menyatakan bahwa, “pembelajaran kooperatif
mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah
tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas,
atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama.”23 Menurut
Lie, “sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik
untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas?tugas

21

Suherman,
"
www.mathematic.transdigit.com
23
Erman Suherman,

22

! ' ' ' ,h. 9.
7, h. 218.

20

terstruktur disebut sebagai sistem “pembelajaran gotong royong” atau
pembelajaran kooperatif.”24
Pembelajaran

kooperatif

merupakan

pembelajaran

yang

mendorong siswa bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan
sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu
untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Hal tersebut sesuai dengan
firman Allah pada akhir ayat 159 dalam surat Ali Imran:

‫ ﱠ‬xَ\yَ ْz{‫َ َ| َ[ ﱠ‬S d
َ nْ }َ yَ ‫َ• ِ َذا‬S ◌ۖ Uِ nْ َr‫ ْا‬sِS hْ ُ‫`ورْ ھ‬
‫‚ﱡ‬ƒِ ُK ‫ﷲ‬
َ ‫ﷲِ ۚ◌ إِ ﱠن ﱠ‬
ِ uَ ‫ َو‬...
﴾١٥٩﴿jW\ِ {‫ ُ]|َ َ[ ﱢ‬M‫ْا‬
Artinya:
2' ' '

!

#
!

!
&

'

!

+

!

!

! '”25

&

Pembelajaran
pembelajaran

!

'

kooperatif

juga

yang mendorong siswa

dapat
aktif

diartikan

sebagai

menemukan

sendiri

pengetahuannya melalui keterampilan proses. Siswa aktif belajar dalam
kelompok kecil yang kemampuannya heterogen.
Eggen dan Kauchak dalam Trianto mendefinisikan pembelajaran
kooperatif yaitu sebuah kelompok pengajaran yang melibatkan siswa
bekerja sama dan berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.26

Pembelajaran kooperatif adalah “suatu pembelajaran teman sebaya
dimana siswa bekerjasama dalam kelompok?kelompok kecil yang

24

Anita Lie, 9"
! !! #
. (Jakarta: Grasindo, 2002), h. 12.
25
Depag, Alquran dan terjemahannya, (Jakarta: CV.Kathoda, 2005), h. 90.
26

Trianto, "
"
Media Group, 2009), Cet. Ke?1, h. 58.

0

:

+ (Jakarta: Kencana Prenada

21

mempunyai tanggung jawab bagi individu maupun kelompok terhadap
tugas?tugas”. 27
Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk
meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman
sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta
memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar
bersama?sama

siswa

yang

berbeda

latar

belakangnya.

Dalam

pembelajaran kooperatif ini siswa dapat lebih menemukan dan
memahami konsep?konsep yang sulit melalui diskusi dan bila
dibandingkan

dengan

pembelajaran

individual,

pembelajaran

kooperatif lebih dapat mencapai kesuksesan akademik dan sosial
siswa. Jadi dalam pembelajaran kooperatif siswa berperan ganda yaitu
sebagai siswa ataupun sebagai guru.
Berdasarkan

pendapat?pendapat

di

atas

dapat

diambil

pengertian bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model
pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar dalam kelompok
kecil atau tim untuk saling membantu, saling mendiskusikan dan
berargumentasi dalam menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan
suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama
dalam pembelajaran.
b. Karakteristik dan Urgensi Pembelajaran Kooperatif
Arends dalam Trianto, dkk mengemukakan bahwa kebanyakan
pembelajaran yang menggunakan model kooperatif dapat memiliki
ciri?ciri sebagai berikut:
1. Siswa bekerja dalam

kelompok secara kooperatif untuk

menuntaskan materi belajarnya.

27

Ani Kurniasari, “Komparasi Hasil Belajar Antara Siswa yang Diberi Metode TGT
( 8&"
&"8
3 ;&"8; ) dengan STAD

Dokumen yang terkait

Upaya Peningkatkan Hasil Belajar Kimia Siswa Melalui Model Kooperatif Tipe Team Games Tournament (TGT) Pada Konsep Sistem Koloid

0 7 280

Peningkatan hasil belajar kimia siswa dengan mengoptimalkan gaya belajar melalui model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) penelitian tindakan kelas di MAN 11 Jakarta

0 27 232

Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Teams Games Tournament Terhadap Prestasi Belajar Alquran Hadis Siswa (Quasi Eksperimen Di Mts Nur-Attaqwa Jakarta Utara)

1 51 179

Pengaruh kombinasi model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT) dengan make a match terhadap hasil belajar biologi siswa

2 8 199

Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih di MTs Islamiyah Ciputat

1 40 0

Pengaruh kombinasi model pembelajaran kooperatif tipe teams-games-tournament (tgt) dengan make a match terhadap hasil belajar biologi siswa (kuasi eksperimen pada Kelas XI IPA Madrasah Aliyah Negeri Jonggol)

0 5 199

Upaya meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas 3 melalui metode pembelajaran kooperatif tipe TGT : teams games tournament di MI Darul Muqinin Jakarta Barat

0 29 169

Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dengan Games Digital Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Alat-Alat Optik

3 35 205

PENGARUH MODEL KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP KEMAMPUAN KONSEP BANGUN RUANG.

0 1 4

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MELATIH PEMAHAMAN KONSEP SISWA

0 0 8

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23