Upaya Peningkatkan Hasil Belajar Kimia Siswa Melalui Model Kooperatif Tipe Team Games Tournament (TGT) Pada Konsep Sistem Koloid

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR KIMIA SISWA
MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT) PADA KONSEP
SISTEM KOLOID
(Penelitian Tindakan Kelas Pada SMAN 12 Tangerang)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

OLEH:
SUSI SUSILAWATI
106016200634

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1434 H/2013 M

ABSTRAK
Susi Susilawati, NIM 106016200634. Upaya Peningkatan Hasil Belajar Kimia
Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif tipe Team Games Tournament
(TGT) Pada Konsep Sistem Koloid, Program Studi Pendidikan Kimia, Jurusan
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua
siklus. Tiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA 3 SMA Negeri 12 Kota Tangerang
tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah siswa sebanyak 42 orang yang terdiri dari
17 siswa laki-laki dan 25 siswa perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk
meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep sistem koloid. Untuk mencapai
tujuan tersebut, peneliti menerapkan desain tindakan berdasarkan prinsip-prinsip
desain pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe Team Games
Tournament (TGT) diantaranya adalah siswa memainkan permainan dengan
anggota-anggota tim lain untuk memperoleh tambahan poin untuk skor tim
mereka. Permainan dilakukan dengan menggunakan kartu soal yang dimainkan
pada saat turnamen untuk memperoleh skor kelompok/tim. Instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini berupa tes kognitif bentuk pilihan ganda. Dari
hasil penelitian menunjukkan rata-rata pencapaian hasil belajar siswa setiap
siklusnya yaitu 76,00 pada siklus I dan 81,81 pada siklus II. Sedangkan persentase
ketuntasan klasikal siswa pada siklus I dan siklus II adalah 71,43%; 85,71%
dengan skor N-gain 0,58; 0,74. Maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) dapat
meningkatkan hasil belajar kimia siswa pada konsep sistem koloid.

Kata kunci: Penelitian Tindakan Kelas, Hasil belajar siswa, Model pembelajaran
kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT).

i

ABSTRACT
Susi Susilawati, NIM 106016200634. Improving Learning Outcomes Through
Chemistry Student Cooperative Learning Type Team Games Tournament (TGT)
On the Concept of Colloid Systems, Chemistry Education Studies Program,
Department of Natural Sciences Education, Faculty of Tarbiya and Teaching,
Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, 2013.
This study is an action research conducted in two cycles. Each cycle consists of
planning, implementation, observation and reflection. Subjects were students of
class XI IPA 3 SMA N 12 Tangerang academic year 2011/2012 with amount of
students 42 people consisting of 17 male students and 25 female students. This
study aims to improve student learning outcomes in the concept of colloidal
systems. To achieve these objectives, the researchers apply a design based on the
principles of action learning cooperative learning design type Team Games
Tournament (TGT) of them were students played a game with the other team
members to obtain additional points for their team score. The game is done by
using a card about being played at the tournament to earn a score of groups /
teams. The instrument used in this study in the form of multiple choice cognitive
test. The results showed an average student achievement each cycle are 76.00 and
81.81 in the first cycle to the second cycle. While the classical completeness
percentage of students in the first cycle and the second cycle was 71.43%, 85.71%
with a score of N-gain 0.58; 0.74. then it can be concluded that the
implementation of cooperative learning type Team Games Tournament (TGT) can
improve learning outcomes chemistry students to the concept of colloidal systems.
Keywords: classroom action research, student learning, cooperative learning
ltype Team Games Tournament (TGT).

ii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahim
Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur kehadirat Illahi Rabbi, Tuhan
semesta alam, Raja Manusia yang berkat rahmat dan kuasa-Nya kepada penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan karya ilmiah berupa skripsi dengan
judul “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Kimia Siswa Melalui Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games Tournament (TGT) Pada Konsep
Sistem Koloid Kelas XI IPA 3 SMAN 12 Tangerang .” Skripsi ini ditujukkan
untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar sarjana Srata I (SI). Shalawat
serta salam teriring kepada Baginda Rasulullah SAW, sebagai pembawa
peradaban yang membawa manusia keluar dari masa kegelapan dan kebodohan
menuju masa yang penuh cahaya dan semoga salam tetap tercurah pada keluarga
dan para sahabatnya.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna dan tidak terlepas
dari dukungan dan dorongan dari berbagai pihak. Mudah-mudahan Allah SWT
membalas jasa dan pengorbanan mereka yang telah membantu menyelesaikan
skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga
kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Rif’at Syauqi Nawawi, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Nengsih Juanengsih, M.Pd., selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Bapak Dedi Irwandi, M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Kimia,
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan sekaligus Dosen Pembimbing II yang senantiasa selalu
iii

memberikan arahan, semangat, dukungan dan bimbingan dengan penuh
kesabaran. Semoga bapak selalu dimuliakan oleh Allah SWT.
5. Ibu Dr. Zulfiani, selaku Dosen Pembimbing I yang senantiasa meluangkan
waktu, tenaga dan pikirannya untuk memberikan arahan, semangat, dukungan
dan bimbingan dengan penuh kesabaran.
6. Bapak Drs. H. Nandang Suryana, selaku Kepala SMA N 12 Tangerang yang
telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di
sekolah tersebut.
7. Bapak Hariyanto, S.Pd. MM. selaku guru pengajar kimia kelas XI di SMA N
12 Tangerang yang telah memberikan kesempatan dan bersedia bekerjasama
dalam pelaksanaan penelitian.
8. Teruntuk keluargaku, ayahanda Sajidin dan ibunda Maesih tercinta yang tiada
henti memberikan do’a, kasih sayang, dan nasihatnya. Adikku (Rijal dan
Fahmi) tersayang yang selalu memberikan semangat.
9. Teruntuk Teteh-teteh ku tercinta terima kasih sudah memberikan motivasi dan
gambaran hidup yang nyata. Bibi tersayang yang selalu membantu dan
mendengarkan segala kelu kesah ku.
10. Teruntuk yang tercinta Dian Herdiana yang selalu ada di samping ku
memberikan suport, kekuatan serta bantuan yang tak henti-hentinya dan tak
kenal lelah.
11. Sahabat-sahabat-Q Lia, Lin, Isfy, Rida, Eka dan Fefi. Persahabatan yang kita
alami kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang
membuat persahabatan kita mempunyai nilai yang indah.
12. Teman-teman kimia angkatan 2006.
13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu atas segala bantuannya
dalam menyelesaikan skripsi ini.
Akhirnya penulis hanya dapat memanjatkan do’a kepada Allah SWT
semoga segala perhatian, motivasi dan bantuannya dibalas oleh-Nya sebagai amal
kebaikan. Amin.

iv

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih
terdapat banyak kesalahan. Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan kritik
yang membangun demi sempurnanya skripsi ini. Besar harapan penulis, semoga
skripsi

ini dapat

bermanfaat

bagi semua

pihak

yang

membaca dan

membutuhkannya.

Tangerang, Februari 2013
Penulis

v

DAFTAR ISI
ABSTRAK ................................................................................................... i
ABSTRACT ................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR .................................................................................. iii
DAFTAR ISI ................................................................................................ vi
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ........................................................................................ ix
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xi

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................... 1
B. Identifikasi Area dan Fokus Penelitian ....................................... 7
C. Pembatasan Fokus Penelitian ..................................................... 7
D. Perumusan Masalah Penelitian ................................................... 8
E. Tujuan Penelitian Tindakan ....................................................... 8
F. Kegunaan Hasil Penelitian ......................................................... 8

BAB II KAJIAN TEORITIK DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL
INTERVENSI TINDAKAN
A. Acuan Teori Area dan Fokus yang Diteliti ................................. 9
1. Model Pembelajaran Kooperatif ............................................ 9
a. Pembelajaran Kooperatif ................................................... 9
b. Team Games Tournament (TGT) ...................................... 17
2. Hakikat Belajar ..................................................................... 27
a. Hasil Belajar ..................................................................... 29
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar .............. 31
3. Sistem Koloid ........................................................................ 33
a. Sistem Dispersi ................................................................. 33
b. Jenis-Jenis Koloid ............................................................. 34
c. Sifat-Sifat Koloid .............................................................. 35
d. Peranan Koloid dalam Kehidupan Sehari-Hari .................. 36
vi

B. Hasil Penelitian yang Relevan .................................................... 36
C. Pengajuan Konseptual Perencanaan Tindakan ............................ 39
D. Hipotesis Tindakan .................................................................... 40

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................... 41
B. Metode dan Rancangan Siklus Penelitian ................................... 41
C. Subjek/Partisipan yang Terlibat dalam Penelitian ....................... 42
D. Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian ................................. 43
E. Tahapan Intervensi Tindakan ..................................................... 43
F. Hasil Intervensi Tindakan yang Diharapkan ............................... 44
G. Data dan Sumber Data ............................................................... 45
H. Instrumen-instrumen Pengumpul Data Penelitian ....................... 45
I. Teknik Pengumpulan Data ......................................................... 47
J. Teknik Pemeriksaan Keterpercayaan (Trusworthiness) Studi ..... 48
K. Analisis Data dan Intervensi Hasil Analisis ................................ 51
L. Tindak Lanjut/Pengembangan Perencanaan Tindakan ................ 53

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Temuan Hasil Penelitian ............................................................ 55
1. Siklus I ................................................................................ 55
2. Siklus II ............................................................................... 66
B. Pembahasan ............................................................................... 76

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................... 80
B. Saran ......................................................................................... 80

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 81

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Games Rulers ........................................................................... 22
Gambar 2.2. Penempatan Meja Turnamen .................................................... 23
Gambar 2.3. Bagan Pengajuan Konseptual Perencanaan Tindakan ............... 40
Gambar 3.1. Desain Intervensi Tindakan ...................................................... 42

viii

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif ...................... 14
Tabel 2.2. Perbedaan Kelompok Belajar Kooperatif dan Konvensional ........ 15
Tabel 2.3. Skema model pembelajaran kooperatif tipe TGT ......................... 19
Tabel 2.4. Lembar Skor Game ..................................................................... 25
Tabel 2.5. Lembar Perhitungan Poin Turnamen ........................................... 25
Tabel 2.6. Lembar Rangkuman Nilai Kelompok .......................................... 26
Tabel 2.7. Kiteria Menentukan Penghargaan ................................................ 26
Tabel 2.8. Perbedaan Antara Larutan, Koloid dan Suspensi ......................... 34
Tabel 2.9. Perbandingan Sistem Koloid ....................................................... 34
Tabel 3.1. Tahap Interpensi Tindakan .......................................................... 43
Tabel 3.2. Data dan Sumber Data ................................................................. 45
Tabel 3.3

Kisi-Kisi Soal Tes Hasil Belajar pada Konsep Sistem Koloid ...... 46

Tabel 3.4. Teknik Pengumpulan Data .......................................................... 47
Tabel 3.5. Kriteria Reliabilitas Instrumen ..................................................... 49
Tabel 3.6. Pedoman Kriteria Indeks Kesukaran Soal .................................... 50
Tabel 3.7. Klasifikasi Daya Pembeda ........................................................... 51
Tabel 3.8. Klasifikasi Penilaian Indikator TGT ............................................ 52
Tabel 3.9. Kriteria Pengujian Observasi ....................................................... 53
Tabel 4.1. Kegiatan Guru dan Siswa Siklus I ............................................... 56
Tabel 4.2. Data Observasi Kegiatan Kelompok Siswa Siklus I ...................... 58
Tabel 4.3. Data Observasi Kegiatan Guru pada Siklus I ............................... 59
Tabel 4.4. Hasil Catatan Lapangan Siklus I ................................................. 60
Tabel 4.5. Hasil Wawancara dengan Siswa Siklus I ..................................... 62
Tabel 4.6. Hasil Tes Kemampuan Siswa Pada Siklus I ................................. 63
Tabel 4.7. Kekurangan dan Tindakan Perbaikan Siklus I .............................. 64
Tabel 4.8. Kegiatan Guru dan Siswa Siklus II .............................................. 67
Tabel 4.9. Data Observasi Kegiatan Kelompok Siswa Siklus II .................... 69
Tabel 4.10. Data Observasi Kegiatan Guru pada Siklus II .............................. 70
Tabel 4.11. Hasil Catatan Lapangan Siklus II ................................................ 72
ix

Tabel 4.12. Hasil Wawancara dengan Siswa Siklus II .................................... 73
Tabel 4.13. Hasil Tes Kemampuan Siswa Pada Siklus II ................................ 74

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pedoman Wawancara Pra Penelitian ......................................... 84
Lampiran 2 Daftar Nilai Siswa Semester Genap 2010/2011 ......................... 89
Lampiran 3

Daftar Nilai Siswa Semester Ganjil 2011/2012 ......................... 91

Lampiran 4

Silabus ..................................................................................... 93

Lampiran 5

Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus I ............... 95

Lampiran 6

Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus II ............. 108

Lampiran 7

Lembar Kerja Siswa (LKS) Siklus I ......................................... 122

Lampiran 8

Lembar Kerja Siswa (LKS) Siklus II ........................................ 127

Lampiran 9

Kartu Soal dan Jawaban Turnamen Siklus I .............................. 133

Lampiran 10 Kartu Soal dan Jawaban Turnamen Siklus II ............................. 135
Lampiran 11 Meja Pertandingan TGT ........................................................... 137
Lampiran 12 Lembar Skor Game .................................................................. 138
Lampiran 13 Lembar Jawaban Turnamen ...................................................... 139
Lampiran 14 Lembar Rangkuman Nilai Kelompok ....................................... 140
Lampiran 15 Daftar Kelompok Belajar Siswa ............................................... 145
Lampiran 16 Kisi-Kisi Instrumen Soal Siklus I ............................................. 146
Lampiran 17 Kisi-Kisi Instrumen Soal Siklus II ............................................ 157
Lampiran 18 Tabel Uji Validitas Instrumen Tes Kognitif Siklus I ................. 168
Lampiran 19 Tabel Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Siklus I ......................... 169
Lampiran 20 Perhitungan Uji Validitas Intrumen Siklus I ............................. 170
Lampiran 21 Perhitungan Uji Reliabilitas Instrumen Siklus I ........................ 171
Lampiran 22 Tabel Uji Taraf Kesukaran Soal Siklus I ................................... 172
Lampiran 23 Tabel Uji Daya Beda Siklus I ................................................... 174
Lampiran 24 Perhitungan Tingkat Kesukaran dan Daya Beda Siklus I .......... 176
Lampiran 25 Rekapitulasi Instrumen Siklus I ................................................ 177
Lampiran 26 Tabel Uji Validitas Instrumen Tes Kognitif Siklus II ................ 178
Lampiran 27 Tabel Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Siklus II ........................ 179
Lampiran 28 Perhitungan Uji Validitas Intrumen Siklus II ............................ 180
Lampiran 29 Perhitungan Uji Reliabilitas Instrumen Siklus II ....................... 181
xi

Lampiran 30 Tabel Uji Taraf Kesukaran Soal Siklus II ................................. 182
Lampiran 31 Tabel Uji Daya Beda Siklus II .................................................. 184
Lampiran 32 Perhitungan Tingkat Kesukaran dan Daya Beda Siklus II ......... 186
Lampiran 33 Rekapitulasi Instrumen Siklus II ............................................... 187
Lampiran 34 Daftar Tabel Fischer ................................................................. 188
Lampiran 35 Instrumen Tes Penguasaan Konsep Sistem Koloid Siklus I ....... 189
Lampiran 36 Instrumen Tes Penguasaan Konsep Sistem Koloid Siklus II ...... 192
Lampiran 37 Tabel Data Nilai Pretest-Postest Siklus I dan Siklus II .............. 194
Lampiran 38 Tabel Analisis Pretest Siklus I .................................................. 195
Lampiran 39 Tabel Analisis Postest Siklus I .................................................. 197
Lampiran 40 Tabel Analisis Pretest Siklus II ................................................. 199
Lampiran 41 Tabel Analisis Postest Siklus II ................................................ 201
Lampiran 42 Tabel Skor N-Gain Siklus I dan Siklus II .................................. 203
Lampiran 43 Tabel Tindakan Kegiatan Guru dan Siswa Siklus I ................... 204
Lampiran 44 Tabel Tindakan Kegiatan Guru dan Siswa Siklus II .................. 206
Lampiran 45 Format Lembar Observasi Kegiatan Siswa ............................... 208
Lampiran 46 Lembar Observasi Kegiatan Siswa Siklus I ............................... 212
Lampiran 47 Lembar Observasi Kegiatan Siswa Siklus II ............................. 214
Lampiran 48 Rekapitulasi Persentase Lembar Observasi Kegiatan Siswa ...... 216
Lampiran 49 Format Lembar Observasi Kegiatan Guru ................................. 217
Lampiran 50 Lembar Observasi Observasi Kegiatan Guru Siklus I ............... 219
Lampiran 51 Lembar Observasi Observasi Kegiatan Guru Siklus II .............. 220
Lampiran 52 Format Catatan Lapangan ......................................................... 221
Lampiran 53 Hasil Catatan Lapangan Siklus I ............................................... 222
Lampiran 54 Hasil Catatan Lapangan Siklus II .............................................. 224
Lampiran 55 Pedoman Wawancara Siklus I ................................................. 226
Lampiran 56 Pedoman Wawancara Siklus II ................................................ 228
Lampiran 57 Hasil Wawancara Setelah Tindakan Siklus I ............................. 230
Lampiran 58 Hasil Wawancara Setelah Tindakan Siklus II ............................ 235
Lampiran 59 Tabel Lembar Rekomendasi Siklus I ........................................ 239
Lampiran 60 Tabel Lembar Rekomendasi Siklus II ....................................... 242
xii

Lampiran 61 Parameter Lembar Observasi Kegiatan Guru ............................. 244
Lampiran 62 Parameter Lembar Observasi Kegiatan Siswa ............................ 248
Lampiran 63 Dokumentasi Kegiatan Selama Proses Pembelajaran ................ 252

xiii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini telah
mengalami kemajuan yang sangat pesat disegala bidang. Hal tersebut
menuntut pada kemajuan dalam sistem pendidikan. Pendidikan yang baik
akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan akan berguna
bagi diri serta lingkungan sekitarnya.
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan
manusia yang berfikir bagaimana menjalani kehidupan dunia ini dalam rangka
mempertahankan hidup. Manusia sebagai mahluk sempurna yang diberikan
kelebihan oleh Allah swt dengan suatu bentuk akal pada diri manusia yang
tidak dimiliki mahluk Allah swt yang lain dalam kehidupannya, sedangkan
untuk mengolah akal pikirnya diperlukan suatu pola pendidikan melalui suatu
proses pembelajaran.
Proses pembelajaran dapat dianggap sebagai suatu sistem. Dengan
demikian, keberhasilannya dapat ditentukan oleh berbagai komponen yang
membentuk sistem itu sendiri. Banyak komponen yang berpengaruh terhadap
proses dan hasil belajar. Diantara sekian banyak komponen yang berpengaruh
itu, komponen guru merupakan salah satu komponen yang menentukan, sebab
guru merupakan ujung tombak yang secara langsung berhubungan dengan
siswa sebagai objek dan subjek belajar. Oleh karena itu, berkualitas dan
tidaknya proses belajar sangat bergantung pada kemampuan dan perilaku guru
dalam pengelolaan pembelajaran. Dengan kata lain, guru merupakan faktor
penting yang dapat menentukan kualitas pembelajaran. Kualitas pembelajaran
dapat dilihat dari dua sisi yang sama pentingnya, yakni sisi proses dan sisi
hasil belajar. Proses berkaitan dengan pola perilaku siswa dalam mempelajari

1

2

bahan pelajaran, sedangkan hasil belajar berkaitan dengan perubahan perilaku
yang diperoleh sebagai pengaruh dari proses belajar.1
Hasil belajar merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan
proses belajar. Berhasil atau tidaknya guru dalam proses belajar dapat dilihat
pada pencapaian hasil belajar yang diperoleh siswa. Ada banyak faktor yang
dapat mempengaruhi hasil belajar siswa diantaranya, model dan strategi
pembelajaran yang diterapkan oleh guru dalam kelas, lingkungan belajar
siswa, dan media pengajaran yang digunakan oleh guru. Ketidak tepatan
strategi pembelajaran guru akan berakibat pada rendahnya motivasi dan
aktivitas belajar siswa. Karena menurut tonih feronika strategi belajar
mengajar adalah “cara dan urutan yang ditempuh seorang guru dalam
mengajar agar berhasil atau tujuan pembelajaran tercapai.”2
Perkembangan model dan strategi pembelajaran saat ini, cukup
memberikan peluang yang besar bagi para guru pada umumnya, sebab guru
tinggal memilih strategi belajar mana yang tepat untuk dapat menyampaikan
materi pelajaran kepada siswa dengan mudah dan terarah. Di dalam belajar
mengajar strategi merupakan pola-pola umum kegiatan guru anak didik dalam
perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mewujudkan tujuan yang telah
digariskan.3 Walaupun banyak strategi pembelajaran saat ini sesungguhnya
guru harus dapat memilah dan memilih manakah strategi pembelajaran yang
tepat yang harus digunakan untuk proses pembelajaran pada setiap materi
pelajaran.
Uraian di atas menunjukkan bahwa dalam menghadapi keragaman
model dan strategi pembelajaran yang sudah ada dan keluasan materi yang
akan diajarkan, seorang guru harus mempunyai wawasan yang luas mengenai
teori belajar dan mengajar serta memiliki penguasaan terhadap materi yang
akan diajarkan. Kemampuan tersebut merupakan kebutuhan yang wajib

1

Wina Sanjaya. Penelitian Tindakan Kelas. (Jakarta : Prenada Media Grup, 2010) h. 3
Tonih Feronika, “Strategi Pembelajaran Kimia”, (Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah,
2008) h. 3
3
Syaifu Bahri Djamarah dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta : Rineka
Cipta, 2006). h. 5
2

3

dimiliki oleh seorang guru, karena dengan kemampuan tersebut seorang guru
dapat menentukan kombinasi yang tepat antara teori mengajar yang akan
dipergunakan dengan materi yang akan diajarkan, yang akhirnya juga turut
mempengaruhi pemilihan strategi pembelajaran yang diterapkan.
Pembelajaran kimia yang pada umumnya masih lebih banyak terfokus
pada guru, sedangkan siswa hanya menjadi pendengar dan tidak ikut
berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Pembelajaran lebih dominan
dilaksanakan dengan metode ceramah, lalu siswa diberikan contoh soal dan
cara pengerjaannya kemudian mereka mengerjakan latihan soal yang
diberikan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari guru kimia, diketahui
bahwa sebagian besar siswa kelas XI IPA 3 SMA N 12 sangat jarang yang
bertanya tentang materi yang belum dipahami kepada guru. Terbukti dari hasil
observasi yang dilakukan peneliti di dalam kelas tersebut hanya 4,7% siswa
saja yang mengajukan pertanyaan. Rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa
pun masih cukup rendah, masih banyak siswa yang memperoleh nilai dibawah
KKM yang ditentukan. Begitu juga pada materi-materi yang berupa
pemahaman konsep, seperti salah satunya nilai rata-rata hasil belajar siswa
pada konsep sistem koloid tahun ajaran 2010/2011 masih begitu rendah hanya
27,3% siswa yang memperoleh nilai di atas KKM (Lampiran 2).
Berdasarkan hasil observasi langsung di dalam kelas dan wawancara
dengan guru kimia kelas XI SMA N 12 Tangerang diperoleh hasil bahwa :
1. Motivasi dan kesiapan belajar kimia siswa yang cukup rendah, hal ini
terlihat pada sebagian besar siswa yang baru mengeluarkan buku dan alatalat belajarnya setelah guru meminta.
2. Kurangnya keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, terlihat masih
sangat jarangnya siswa yang bertanya kepada guru saat proses
pembelajaran berlangsung, hanya terdapat 4,7% dari 42 siswa.
3. Beberapa siswa kurang fokus dalam menyimak materi yang disampaikan
oleh guru. Terlihat masih ada siswa yang mengerjakan tugas lain dan
mengobrol saat guru sedang menyampaikan materi.

4

4. Siswa masih cukup sulit memahami konsep kimia. Begitu juga pada materi
yang berupa teori, seperti pada konsep sistem koloid.
5. Rata-rata nilai ulangan harian kimia siswa masih banyak yang memperoleh
nilai dibawah KKM yang ditentukan. Dari rata-rata nilai ulangan harian
siswa pada semester ganjil hanya 4,7% siswa yang hasil belajarnya
mencapai nilai di atas KKM, maka dari itu masih banyak siswa yang hasil
belajarnya masih di bawah nilai KKM (Lampiran 3).
Dari hasil wawancara dengan siswa di kelas XI IPA 3 SMA N 12
Tangerang sebagian besar siswa menjelaskan bahwa kesulitan mereka dalam
mempelajari kimia yaitu dalam pemahaman konsep, hal itu disebabkan cara
menjelaskan guru yang terlalu cepat dan singkat sehingga siswa tidak terlalu
faham atas materi tersebut, kemudian dalam proses pembelajaran guru hanya
menggunakan metode ceramah saja, maka siswa merasa tidak tertarik dan
jenuh untuk mempelajarinya. Begitu juga dengan suasana belajar di dalam
kelas sebagian besar siswa merasa bosan dengan pembelajaran yang monoton
dan berpusat pada guru, hanya sedikit atau tidak sama sekali materi yang
mereka peroleh.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara terlihat bahwa siswa
mengalami masalah dalam belajar. Terlihat dari hasil belajar, motivasi dan
keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
Mencermati permasalahan yang dikemukakan di atas, guru dituntut
untuk dapat membuat siswa berminat dan termotivasi untuk belajar. Guru
dapat meningkatkan aktifitas dan motivasi siswa dalam proses pembelajaran
dengan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Suasana pembelajaran
yang menyenangkan dapat diciptakan oleh guru dengan mengetahui proses
belajar

siswa

dan

mengoptimalkannya

dengan

menerapkan

model

pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT). Melalui
penelitian ini diterapkan suatu model pembelajaran yang diharapkan mampu
mengkondisikan siswa sedemikian rupa sehingga siswa dapat berpartisipasi
aktif dalam proses pembelajaran.

5

Pembelajaran kooperatif menurut Eggen and Kauchak (dalam Trianto)
merupakan sebuah kelompok strategi pembelajaran yang melibatkan siswa
bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Pembelajaran
kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa
dalam belajar, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan
dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada
siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar.4
Selama belajar secara kooperatif siswa tetap tinggal dalam kelompoknya
selama beberapa kali pertemuan. Mereka diajarkan keterampilan-keterampilan
khusus agar dapat bekerja sama dengan aktif dan baik di dalam kelompoknya,
seperti menjadi pendengar aktif, memberikan penjelasan kepada teman
sekelompoknya, berdiskusi dan sebagainya. Agar terlaksana dengan baik,
siswa di beri lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang
direncanakan untuk diajarkan.5
Model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT)
merupakan model pembelajaran secara kelompok yang disertai permainan dan
pertandingan, dalam proses pembelajaran kooperatif tipe Team Games
Tournament (TGT) ini siswa memainkan permainan-permainan dengan
anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masingmasing permainan yang dikemas dalam bentuk turnamen ini dapat berperan
sebagai salah satu kegiatan yang menyenangkan dalam proses pembelajaran.
tipe ini merupakan medium yang luwes sehingga berbagai maksud dan tujuan
pendidikan dapat tercapai sebab tipe pembelajaran seperti ini menyenangkan,
biasanya orang yang sedang belajar merasa sedang memikul beban yang berat.
Dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games
Tournament (TGT) dapat mempengaruhi tingkat konsentrasi, kecepatan
menyerap materi pelajaran, serta kematangan pemahaman terhadap jumlah
materi pelajaran.
4

Trianto. “Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif”. (Jakarta : Prenada
Media Group, 2010), h. 58
5
Trianto. “Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif”. (Jakarta : Prenada
Media Group, 2010), h. 57

6

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, timbulah suatu keinginan
peneliti untuk mengadakan penelitian tindakan kelas. Adapun judul dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut : “Upaya Peningkatan Hasil Belajar
Kimia Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games
Tournament (TGT) Pada Konsep Sistem Koloid Kelas XI IPA 3 SMAN 12
Tangerang .”

7

B. Identifikasi Area dan Fokus Penelitian
Dari latar belakang masalah di atas, maka penelitian ini difokuskaan
pada beberapa masalah, diantaranya :
1. Motivasi dan kesiapan belajar siswa yang masih rendah.
2. Kurangnya keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.
3. Strategi pembelajaran yang kurang kreatif.
4. Kurangnya pemahaman siswa terhadap konsep kimia terutama pada materi
teori seperti sistem koloid.
5. Hasil belajar kimia yang diperoleh masih relatif rendah, seperti pada
semester ganjil tahun ajaran 2011/2012 hanya 4,7% siswa yang hasil
belajarnya mencapai nilai di atas KKM dan pada konsep sistem koloid
tahun ajaran 2010/2011 hanya 27,3% siswa yang memperoleh nilai di atas
KKM.

C. Pembatasan Fokus Penelitian
Agar masalah ini dapat di bahas dengan jelas dan tidak meluas, maka
penelitian dibatasi pada :
1. Model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT)
dalam penelitian ini adalah model pembelajaran yang diartikan sebagai
interaksi proses belajar mengajar yang dapat membuat siswa termotivasi
dan aktif.
2. Hasil belajar disini diwujudkan dalam bentuk konkrit berupa nilai pada
kemampuan-kemampuan berdasarkan domain kognitif oleh Bloom dengan
jenjang kemampuan yang digunakan C1, C2, C3, dan C4.
3. Sistem koloid adalah materi kelas XI pada semester II, materi yang di
bahas yaitu sistem dispersi, jenis-jenis koloid, sifat-sifat koloid dan
peranannya dalam kehidupan sehari-hari.

8

D. Perumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, masalah dalam penelitian ini
dapat dirumuskan sebagai berikut : “Bagaimanakah peningkatan hasil belajar
kimia siswa pada konsep koloid dengan penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT)?.”

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas, tujuan dalam penelitian ini
adalah untuk meningkatkan hasil belajar kimia siswa pada konsep sistem
koloid melalui model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament
(TGT).

F. Kegunaan Hasil Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Bagi guru, diharapkan dapat dijadikan alternatif model pembelajaran yang
dapat diterapkan di kelas agar dalam proses pembelajaran menjadi lebih
menarik dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar
siswa.
2. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan akan memberikan perbaikan
pembelajaran dan peningkatan mutu pembelajaran khususnya pada mata
pelajaran kimia.

BAB II
KAJIAN TEORITIK DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL
INTERVENSI TINDAKAN

A. Acuan Teori Area dan Fokus yang Diteliti
1. Model Pembelajaran Kooperatif
a. Pembelajaran Kooperatif
Menurut Isjoni pembelajaran adalah “sesuatu yang dilakukan oleh
siswa, bukan dibuat untuk siswa. Pembelajaran pada dasarnya merupakan
upaya pendidik untuk membantu peserta didiknya melakukan kegiatankegiatan belajar. Tujuan pembelajaran adalah terwujudnya efisisensi dan
efektifitas kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik”.1
Perkembangan model pembelajaran dari waktu ke waktu terus
meningkat dan mengalami perubahan. Model pembelajaran menurut Joice
dan Weil (dalam Isjoni) adalah “suatu pola atau rencana yang sudah
direncanakan sedemikian rupa dan digunakan untuk menyusun kurikulum,
mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar
dikelasnya”.2 Dalam penerapamya model pembelajaran ini harus sesuai
dengan kebutuhan siswa.
Sejalan dengan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran,
salah satu model pembelajaran yang kini banyak diminati adalah model
pembelajaran kooperatif atau cooperarative learning.
Cooperative learning adalah suatu model pembelajaran yang saat
ini banyak digunakan untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang
berpusat pada siswa (student oriented), terutama untuk mengatasi
permasalahan yang ditemukan guru dalam mengaktifan siswa, yang tidak
dapat bekerja sama dengan orang lain, kemudian siswa yang agresif dan
tidak peduli pada yang lain.3
1

Isjoni, Cooperatif Learning efektifitas pembelajaran kelompok, (Bandung : Alfabeta
2010)h 11
2
Isjoni, Cooperatif Learning efektifitas pembelajaran kelompok, (Bandung : Alfabeta
2010)h 50
3
Isjoni, Cooperatif Learning Efektifitas Pembelajaran Kelompok, (Bandung : Alfabeta
2010)h 16

9

10

Cooperarative learning berasal dari kata cooperative yang artinya
mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu
sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Menurut Slavin (dalam
Isjoni 2010), mengemukakan “In cooperative learning methods, students
work together in four member teams to master material initially presented
by the teacher”. Dapat dikemukakan bahwa cooperative learning adalah
suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif
sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar.4
Istilah cooperative learning dalam pengertian bahasa Indonesia
dikenal dengan nama pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif
menurut Johnson & Johnson (dalam Tonih Feronika, 2008) adalah cara
belajar yang menggunakan kelompok kecil sehingga siswa bekerja dan
belajar satu sama lain untuk mencapai tujuan kelompok, di dalam belajar
kooperatif siswa berdiskusi dan saling membantu serta mengajak satu
sama lain untuk memahami isi materi pelajaran.5 Dapat juga diartikan
Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan yang berpusat-kelompok dan
berpusat-siswa untuk pengajaran dan pembelajaran dikelas.
Dengan mempraktekan pembelajaran kooperatif di ruang-ruang
kelas, suatu saat kita akan menuai buah persahabatan dan perdamaian,
karena cooperative learning memandang siswa sebagai makhluk sosial
(homo mini socius), bukan homo mini lupus (manusia adalah srigala bagi
sesamanya). Dengan kata lain cooperative learning adalah cara belajar
mengajar berbasiskan peace education (metode belajar mengajar masa
depan) yang pasti mendapat perhatian.6

Pembelajaran kooperatif ini

memberikan lingkungan belajar dimana siswa bekerja sama dalam
kelompok kecil yang kemampuannya berbeda-beda (heterogen) untuk
4

Isjoni, Cooperatif Learning Efektifitas Pembelajaran Kelompok, (Bandung : Alfabeta
2010)h 15
5
Tonih Feronika, Strategi Pembelajaran Kimia, (Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah
2008) h. 56
6
Isjoni, Cooperatif Learning Efektifitas Pembelajaran Kelompok, (Bandung : Alfabeta
2010) h. 19

11

menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Zamroni (dalam Trianto)
mengemukakan bahwa manfaat penerapan belajar kooperatif adalah dapat
mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam wujud input pada
level individual. Disamping itu, belajar kooperatif dapat mengembangkan
rasa sosial dikalangan siswa.7
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa
belajar kooperatif adalah suatu variasi pengajaran yang membagi siswa
menjadi kelompok-kelompok kecil, dalam kelompok tersebut mereka
saling bekerjasama antara satu dengan yang lain dalam memahami dan
menguasai materi pelajaran yang diberikan, serta mengerjakan tugas-tugas
belajar, sehingga dapat meningkatkan motivasi, percaya diri dan sikap
yang lebih positif serta menambah rasa senang siswa dalam belajar.
Dengan pembelajaran kooperatif ini diharapkan siswa akan mendapat
prestasi yang baik dan mempunyai tingkat sosial dan solidaritas yang
tinggi.
Roger dan David Johnson (dalam Anita Lie) mengatakan bahwa
tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk
mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran kooperatif
harus diterapkan, diantaranya adalah sebagai berikut :8

7

Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta : Prenada Media
Group 2010) h. 57
8
Anita Lie, Cooperatif Learning, (Jakarta : PT Grasindo, 2002), h. 31-35

12

a. Saling ketergantungan positif
Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu
menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok
harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai
tujuan mereka.
b. Tanggung jawab perseorangan
Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama.
Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran cooperative learning
membuat persiapan dan menyusun tugas-tugas sedemikian rupa
sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan
tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok
bisa dilaksanakan.
c. Tatap muka
Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka
dan diskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar
untuk membentuk sinergi yang menguntungkan. Inti dari sinergi ini
adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi
kekurangan masing-masing.
d. Komunikasi antar anggota
Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan
berbagai keterampilan berkomunikasi. Proses ini merupakan proses
yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya
pangalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan
emosional para siswa.
e. Evaluasi proses kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk
mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar
selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini
tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa
dilakukan selang beberapa waktu setelah beberapa kali pembelajar
terlibat dalam kegiatan pembelajaran cooperative learning.

13

Secara

umum

pembelajaran

kooperatif

terdiri

dari

lima

9

karakteristik, yaitu :
a. Siswa belajar bersama pada tugas-tugas umum atau aktivitas untuk
menyelesaikan tugas atau aktivitas pembelajaran.
b. Siswa saling bergantung secara positif. Aktivitas diatur sehingga siswa
membutuhkan siswa lain untuk mencapai hasil bersama pembelajaran
yang paling baik ditangani jika melalui kerja kelompok.
c. Siswa belajar bersama dalam kelompok kecilyang terdiri dari 2 sampai
5 siswa.
d. Siswa menggunakan perilaku kooperatif, pro-sosial.
e. Setiap siswa secara mandiri bertanggung jawab untuk pekerjaan
pembelajaran mereka.
Pada dasarnya model cooperative learning dikembangkan untuk
mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang
dirangkum Ibrahim (dalam Isjoni), yaitu10 :
a. Hasil belajar akademik
Dalam cooperative learning meskipun mencakup beragam tujuan
sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis
penting lainnya. Para pengembang model ini telah menunjukkan,
model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai
siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan
dengan hasil belajar.
b. Penerimaan terhadap perbedaan individu
Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai
latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung
pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan
kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.

9

Tonih Feronika, Strategi Pembelajaran Kimia, (Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah
2008) h. 57
10
Isjoni, Cooperatif Learning Efektifitas Pembelajaran Kelompok, (Bandung : Alfabeta
2010) h. 27-28

14

c. Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga cooperative learning adalah mengajarkan
kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi.
Pendekatan kooperatif digunakan dalam pembelajaran di kelas
dengan menciptakan situasi atau kondisi bagi kelompok untuk mencapai
tujuan masing-masing anggota atau kelompok itu sendiri. Pembelajaran
kooperatif membawa maksud belajar bersama-sama dalam satu kelompok
kecil yang mempunyai tujuan yang sama. Siswa memiliki semangat
bekerjasama untuk mencapai tahap pembelajaran yang maksimum bagi
diri sendiri dan juga bagi kelompoknya.11 Terdapat enam langkah utama
atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan pembe;jaran
koopertaif. Langkah-langkah itu ditunjukan pada tabel di bawah ini.12
Tabel. 2.1. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Fase
Fase -1
Menyampaikan tujuan dan
memotivasi siswa
Fase-2
Menyajikan informasi
Fase-3
Mengorganisasikan siswa
ke dalam kelompok
kooperatif
Fase-4
Membimbing kelompok
bekerja dan belajar
Fase-5
Evaluasi
Fase-6
Memberikan penghargaan
11

Tingkah laku guru
Guru menyampaikan semua tujuan
pelajaran yang ingin dicapai pada
pelajaran tersebut dan memotivasi siswa
belajar.
Guru menyajikan informasi kepada siswa
dengan jalan demonstrasi atau lewat
bahan bacaan.
Guru menjelaskan kepada siswa
bagaimana caranya membentuk kelompok
belajat dan membantu setiap kelompok
agar melakukan transisi secara efisien.
Guru membimbing kelompok-kelompok
belajar pada saat mereka mengerjakan
tugas mereka.
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang
materi yang telah dipelajari atau masingmasing kelompok mempersentasikan hasil
kerjanya.
Guru mencari cara-cara untuk menghargai
baik upaya maupun hasil belajar individu
dan kelompok.

Tonih Feronika, Strategi Pembelajaran Kimia, (Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah
2008) h. 57
12
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta : Prenada
Media Group 2010) h. 66

15

Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk
meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman
sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta
memberi kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersamasama siswa yang berbeda latar belakangnya. Jadi dalam pembelajaran
kooperatif siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa atau sebagai guru.
Dengan bekerja secara kolaboratif untuk mencapai sebuah tujuan bersama,
maka siswa akan mengembangkan keterampilan berhubungan dengan
sesama manusia yang akan sangat bermanfaat bagi kehidupan diluar
sekolah.13
Tabel 2.2
Perbedaan kelompok belajar kooperatif dengan kelompok belajar
konvensional
Kelompok belajar kooperatif
Adanya saling ketergantungan
positif, saling membantu dan saling
memberikan motivasi sehingga ada
interaksi promotif.
Adanya akuntabilitas individual
yang mengukur penguasaan materi
pelajaran tiap anggota kelompok,
dan kelompok diberi umpan balik
tentang hasil belajar para
anggotanya sehingga dapat saling
mengetahui siapa yang memerlukan
bantuan dan siapa yang dapat
memberikan bantuan.
Kelompok belajar heterogen, baik
dalam kemampuan akademik, jenis
kelamin, ras, etnik dan sebagainya
sehingga dapat saling mengetahui
siapa yang memerlukan bantuan
dan siapa yang memberikan
bantuan.
Pimpinan kelompok dipilih secara
demokratis atau bergilir untuk
13

Kelompok belajar konvensional
Guru sering membiarkan adanya
siswa yang mendominasi
kelompok atau menggantungkan
diri pada kelompok.
Akuntabilitas individual sering
diabaikan sehingga tugas-tugas
sering diborong oleh salah
seorang anggota kelompok
sedangkan anggota kelompok
lainnya hanya “mendompleng”
keberhasilan “pemborong”.

Kelompok belajar biasanya
homogen.

Pemimpin kelompok sering
ditentukan oleh guru atau

Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta : Prenada
Media Group 2010) h. 58

16

memberikan pengalaman
memimpin bagi para anggotanya.
Keterampilan sosial yang
diperlukan dalam kerja gotong
royong seperti kepemimpinan,
kemampuan berkomunikasi,
mempercayai orang lain, dan
mengelola konflik secara langsung
diajarkan.
Pada saat belajar kooperatif sedang
berlangsung guru terus melakukan
pemantauan melalui observasi dan
melakukan intervensi jika terjadi
masalah dalam kerja sama antar
anggota kelompok.
Guru memperhatikan secara proses
kelompok yang terjadi dalam
kelompok-kelompok belajar.
Penekanan tidak hanya pada
penyelesaian tugas tetapi juga
hubungan interpersonal (hubungan
antara pribadi yang saling
menghargai)

kelompok dibiarkan untuk
memilih pemimpinnya dengan
cara masing-masing.
Keterampilan sosial sering tidak
secara langsung diajarkan.

Pemantauan melalui observasi
dan intervensi sering tidak
dilakukan oleh guru pada saat
belajar kelompok sedang
berlangsung.
Guru sering tidak memperhatikan
secara proses kelompok yang
terjadi dalam kelompokkelompok belajar.
Penekanan sering hanya pada
penekanan tugas.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Ludgren (dalam Tonih
Feronika) pembelajaran kooperatif memiliki manfaat antara lain :14
a. Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas
b. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
c. Memperbaiki sikap terhadap IPA dan sekolah
d. Memperbaiki kehadiran
e. Angka putus sekolah menjadi rendah
f. Penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih kecil
g. Konflik antara pribadi berkurang
h. Sikap apatis berkurang

14

Tonih Feronika, Strategi Pembelajaran Kimia, (Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah
2008) h. 62-63

17

Selain

memiliki

kelebihan,

pembelajaran

kooperatif

juga

mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya :
a. Dalam kelompok dengan keahlian campuran, sering kali siswa yang
lebih kuat harus mengajar siswa yang lebih lemah dan mengerjakan
sebagian besar tugas kelompok.
b. Waktu pada pembelajaran ini hanya cukup untuk fokus pada tingkatan
yang paling mendasar.
c. Strategi ini mungkin hanya mendukung pemikiran tingkat rendah dan
mengabaikan strategi pemikiran kritis dan tingkat tinggi.
Terdapat lima macam metode belajar kooperatif yang berhasil
dikembangkan para peneliti pendidikan di John Hopkins University yaitu :
STAD (Student Teams Achievement Division), TGT (Teams Games
Tournament), TAI (Team Accelerated Instruction), CIRC (Cooperative
Integrated Reading & Composition) dan Jigsaw II. Tiga diantaranya yaitu,
STAD, TGT, dan Jigsaw II dapat diterapkan pada hampir seluruh subyek
mata pelajaran, sedangkan TAI dan CIRC digunakan pada subyek mata
pelajaran dan jenjang tertentu.

b. Team Games Tournament (TGT)
Model pembelajaran tipe Teams Games Tournament (TGT), atau
Pertandingan Permainan Tim pada mulanya dikembangkan oleh David
DeVries dan Keith Edwards (1995). Pada model ini siswa memainkan
permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh tambahan
poin untuk skor tim mereka.15 Metode TGT ini merupakan suatu metode
pembelajaran dengan pendekatan koopertif, dimana siswa dikelompokkelompokan 4-6 orang perkelompok secara heterogen berdasarkan jenis
kelamin, agama, etnis/suku, sehingga dapat dilatih kecakapan sosial. Pada

15

Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta : Prenada
Media Group 2010) h. 83

18

Team Games Tournament (TGT) ini terdapat tiga prinsip pembelajaran
kooperatif, yaitu :16
a. Interaksi simultan
Interaksi simultan diantara para siswa terjadi pada metode TGT.
Pada saat pembelajaran, siswa berpartisipa

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23