Pengaruh kombinasi model pembelajaran kooperatif tipe teams-games-tournament (tgt) dengan make a match terhadap hasil belajar biologi siswa (kuasi eksperimen pada Kelas XI IPA Madrasah Aliyah Negeri Jonggol)

PENGARUH KOMBINASI MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF TIPE TEAMS-GAMES-TOURNAMENT (TGT)
DENGAN MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR
BIOLOGI SISWA
(Kuasi Eksperimen pada Kelas XI IPA Madrasah Aliyah Negeri Jonggol)

Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh :
MUHAMAD PAHRUDIN
NIM: 109016100071

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1435 H/2014 M

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH

Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama

: Muhamad Pahrudin

NIM

: 109016100071

Jurusan/Prodi

: Pendidikan IPA/ Pendidikan Biologi

Angkatan Tahun

: 2009

Alamat

: Kp. Campaka Rt.04 Rw. 02 Desa Nagacipta Kec. Serang
Baru Kab. Bekasi, Jawa Barat. Kode Pos 17336.

MENYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA
Bahwa

skripsi

yang

berjudul

Pengaruh

Kombinasi

Model

Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams-Games-Tournament (TGT) dengan
Make a Match terhadap Hasil Belajar Biologi Sis wa adalah benar hasil karya
sendiri di bawah bimbingan dosen :
1.

2.

Nama

: Ir. Mahmud Siregar, M.Si

NIP

: 19540310 198803 1 001

Dosen Jurusan

: Pendidikan IPA

Nama

: Dr. Sujiyo Miranto, M.Pd

NIP

: 19681226 200003 1 003

Dosen Jurusan

: Pendidikan IPA

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya siap
menerima segala konsekuensinya apabila terbukti bahwa skripsi ini bukan hasil
karya sendiri.
Jakarta, 12 Mei 2014

Muhamad Pahrudin
NIM. 109016100071

ABSTRAK

Muhamad Pahrudin. 109016100071. Pengaruh Kombinasi Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams-Games-Tournament (TGT) Dengan
Make a Match Terhadap Hasil Belajar Biologi Sis wa. Skripsi, Program Studi
Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kombinasi model pembelajaran
kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT) dengan Make a match terhadap
hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA pada konsep Sistem Peredaran Darah.
Penelitian ini dilaksanakan di MAN Jonggol tahun ajaran 2013/2014 pada bulan
November 2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi
eksperimen dengan desain penelitian nonequivalent (pre-test and post-test)
control group design. Pengambilan sampel menggunakan dengan teknik simple
random sampling. Sampel penelitian berjumlah 76 siswa yang terdiri dari 36
siswa kelas eksperimen dan 36 siswa kelas kontrol. Instrumen penelitian yang
digunakan adalah tes hasil belajar, yang berupa tes pilihan ganda yang telah diuji
validitas dan reliabilitas. Hasil analisis data kedua kelompok menggunakan uji-t,
diperoleh hasil thitung 4.61935 dan ttabel pada taraf signifikan α=0.05 sebesar
1.9925, maka thitung > ttabel. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh
kombinasi model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT)
dengan Make a Match terhadap hasil belajar biologi siswa di kelas XI IPA pada
konsep Sistem Peredaran Darah Manusia.

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, Teams-Games-Tournament (TGT), Make
a match, Hasil Belajar Biologi.

i

ABSTRACT
Muhamad Pahrudin. 109016100071. The Influence of Combination of
Cooperative Learning Model Type Teams-Games-Tournament (TGT) With
Make a Match To Biology Student Learning Outcomes. BA Thesis, Program of
Biology Education, Departement of Natural Sciences Education, Faculty of
Tarbiya and Teaching Sciences, State Islamic University (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
This research aims to know the influence combination of cooperative learning
model type Teams-Games-Tournament (TGT) with Make a Match to biology
learning outcomes on the concept of circulatory system. The research in MAN
Jonggol. The research is a quasi experimental study with nonequivalent (pre-test
and post-test) control group design. The technique sampling is simple random
sampling. A sample of the study consisted of 76 students, which 38 students in
experimental group and 38 students in control group. An instrument reaserch is
used the test result learning by multiple choice test that has been test of validity
and reliability. Analysis of data using t-test, obtained the value of t count is 4.61935
and t table at the level of significant in α=0.05 is 1.9925, amounting to then t count >
t table. Therefore, it indicated that there are influence of combination of cooperative
learning model type Teams-Games-Tournament (TGT) with Make a Match to
biology student learning outcomes of the high school student classes xi on the
concept of circulatory system in MAN Jonggol.

Keyword: Cooperative Learning, Teams-Games-Tournament (TGT), Make a
Match, Biology Learning Outcome.

ii

KATA PENGANTAR
   
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan
nikmat dan rahmat serta hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan skripsi ini. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah
dan terlimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. sebagai suri tauladan
bagi umat Islam, yang telah memberikan qudwah hasanah untuk ummatnya guna
mencapau insan kamil. Semoga senantiasa mendapatkan syafa’atnya di yaumil
akhir. Amin.
Penyelesaian penulisan skripsi ini tak semudah membalikan telapak tangan,
penulis membutuhkan perjuangan serta pengorbanan baik moril maupun materil.
Butuh tekad serta kemauan yang kuat dalam menghadapi segala halangan dan
kendala. Namun atas bantuan, motivasi, serta bimbingan dari semua pihak pada
akhirnya penulisan skipsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu, sudah
selayaknya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, di antaranya :
1.

Ibu Dra. Nurlena Rifa’i, MA, Ph.D., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2.

Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc., Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Alam (IPA), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.

3.

Ibu Dr. Zulfiani, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Biologi.

4.

Bapak Ir. Mahmud Siregar, M.Si., pembimbing I yang penuh kesabaran serta
keikhlasan telah meluangkan waktu, tenaga, pikiran, serta motivasi kepada
penulis.

5.

Bapak Dr. Sujiyo Miranto, M.Pd., pembimbing II terima kasih atas waktu,
saran, dan arahan selama penulisan skripsi.

6.

Kepala MAN Jonggol, Ibu Dra. Hj. Nani Ruhyani, M.Pd., yang telah
mengizinkan penulis melakukan penelitian di sekolah tersebut. Ibu Siti
Fatimah, S.Pd., selaku Guru Biologi kelas XI yang telah membantu penulis
iii

selama melakukan penelitian. Bapak Miman Hilamsyah, M.Pd., selaku
wakasek bidang kurikulum yang membantu penulis. Seluruh siswa kelas XI
IPA 1 dan IPA 2 yang sangat luar biasa.
7.

Orang tua tercinta, Ayahanda Engkas dan Ibunda Uryati yang selalu sabar
mendoakan dan memberikan semangat kepada penulis sehingga penulis
selalu termotivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

8.

Kakak dan adik-adik tercinta, Muhammad Wahyudin, SE., Muhamad
Kamaludin, Siti Khodijah, dan Muhamad Zainal Abidin yang membuat
penulis termotivasi agar memberikan teladan kepada mereka.

9.

Kawan-kawan angkatan 2009 Pendidikan Biologi UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, terutama Diqi, Nanda, Mirna, dan Amel terima kasih karena telah
menggoreskan cerita dalam kehidupan penulis. Toni, Ria, Syifa, Reni terima
kasih untuk kebersamaannya. Karina, Desti, dan Imam terima kasih untuk
perjuangan yang tanpa hentinya. Awwalia terima kasih untuk pinjaman
bukunya.

10. Seluruh pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini yang tidak
dapat penulis sebutkan satu-persatu.
Penulis hanya bisa berharap semoga Allah SWT memberikan balasan yang
sepadan kepada semua pihak atas jasa dan bantuan yang telah diberikan. Semoga
karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pembacanya dan dapat memberikan
kontribusi bagi peningkatan kualitas pendidikan, khususnya bidang studi biologi.

Jakarta, 14 April 2014
Penulis

Muhamad Pahrudin

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK.......................................................................................................... i
ABSTRACT ....................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... v
DAFTAR TABEL.............................................................................................. vii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... ix
BAB I

PENDAHULUAN ............................................................................. 1
A. Latar Belakang Masalah .............................................................. 1
B. Identifikasi Masalah .................................................................... 6
C. Pembatasan Masalah ................................................................... 6
D. Perumusan Masalah ..................................................................... 7
E.

Tujuan Penelitian ......................................................................... 7

F. Manfaat Penelitian ....................................................................... 7
BAB II

DESKRIPSI TERORETIS, KERANGKA BERPIKIR, DAN
HIPOTESIS ....................................................................................... 9
A. Deskriptik Teoretis ...................................................................... 9
1. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative learning) ................... 9
a. Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif .............................. 10
b. Karakteristik dan Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif ........ 12
c. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif ..................... 12
d. Keunggulan Pembelajaran Kooperatif ............................... 13
e. Tipe Model Pembelajaran Kooperatif ................................ 14
1) Teams-Games-Tournament (TGT) ............................. 14
2) Make a Match.............................................................. 17
f.

Kombinasi Pembelajaran TGT Dengan Make a Match ..... 19

2. Hasil Belajar............................................................................ 21
a. Pengertian Hasil Belajar.................................................... 21
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ............ 24

v

B. Hasil Penelitian yang Relevan ..................................................... 26
C. Kerangka Berpikir ....................................................................... 28
D. Hipotesis Penelitian ..................................................................... 29
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ..................................................... 30
A. Waktu dan Tempat Penelitian ..................................................... 30
B. Metode dan Desain Penelitian ..................................................... 30
C. Populasi dan Sampel.................................................................... 32
D. Variabel Penelitian ...................................................................... 32
E.

Teknik Pengumpulan Data .......................................................... 33

F. Instrumen Penelitian .................................................................... 33
G. Kalibrasi Instrumen ..................................................................... 34
H. Teknik Analisis Data ................................................................... 38
I.

Hipotesis Statistik ........................................................................ 40

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................... 41
A. Hasil Penelitian............................................................................ 41
B. Analisis Data ............................................................................... 43
C. Penerapan Kombinasi Model Pembelajaran Kooperatif ............. 46
D. Hasil Belajar Biologi ................................................................... 51
E. Pengaruh Penerapan Kombinasi .................................................. 57
BAB V PENUTUP .......................................................................................... 63
A. Kesimpulan .................................................................................. 63
B. Saran ............................................................................................ 63
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 64
LAMPIRAN-LAMPIRAN................................................................................ 68

vi

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. Rekapitulasi Hasil Ujian Nasional SMA/MA 2011-2012 di Kecamatan
Jonggol ............................................................................................. 3
Tabel 1.2. Rekapitulasi Hasil Ulangan Harian Kelas XI IPA ............................ 4
Tabel 2.1. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif ......................... 13
Tabel 3.1. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian .......................................................... 34
Tabel 4.1. Skor pretest kelas kontrol dan kelas eksperimen .............................. 41
Tabel 4.2. Skor posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen ............................. 42
Tabel 4.3. Hasil Uji Normalitas......................................................................... 43
Tabel 4.4 Uji Homogenitas................................................................................. 44
Tabel 4.5 Hasil Uji-t untuk nilai pretest dari kelas kontrol dan eksperimen...... 45
Tabel 4.6 Hasil Uji-t untuk nilai posttest dari kelas kontrol dan eksperimen .... 46
Tabel 4.7 Analisis Hasil Belajar ......................................................................... 51

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Penempatan anggota kelompok pada meja turnamen................... 16
Gambar 2.2. Skema Krangka Teoritis ............................................................... 29
Gambar 3.1. Desain Penelitian .......................................................................... 30
Gambar 4.1. Persentase Frekuensi Jenjang Kognitif ......................................... 56

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas eksperimen........ 68
Lampiran 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas kontrol .............. 94
Lampiran 3. Lembar Kerja Siswa (LKS) ............................................................ 105
Lampiran 4. Rekapitulasi Nilai Kelompok Kombinasi ....................................... 121
Lampiran 5. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian ....................................................... 124
Lampiran 6. Instrumen Tes ................................................................................. 143
Lampiran 7. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes Pilihan Ganda .......... 148
Lampiran 8. Uji Tingkat Kesukaran Instrumen Tes Pilihan Ganda .................... 149
Lampiran 9. Uji Daya Beda Instrumen Tes Pilihan Ganda................................. 150
Lampiran 10. Rekapitulasi Hasil Uji Coba Instrumen Penelitian ....................... 151
Lampiran 11. Penghitungan Mean, Median, Modus dan Standar Deviasi.......... 153
Lampiran 12. Uji Normalitas Data Pretest dan Posttest ..................................... 161
Lampiran 13. Uji Homogenitas Data Pretest dan Posttest.................................. 167
Lampiran 14. Uji Hipotesis ................................................................................. 169
Lampiran 15. Protokol Wawancara Pra Penelitian ............................................. 172
Lampiran 17. Form Lembar Observasi ............................................................... 174
Lampiran 18 Surat-Surat ..................................................................................... 178
Lampiran 19 Lembar Uji Referensi .................................................................... 181

ix

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Mengajar tidak hanya sebatas pentransferan ilmu pengetahuan semata,
melainkan bagaimana peserta didik dapat mengekspresikan diri mereka sesuai
dengan potensi dan bakat yang mereka miliki, sehingga peserta didik dapat
menjadi manusia yang mengerti akan dirinya sendiri. Pembelajaran merupakan
upaya untuk membelajarkan peserta didik. Dimana dalam prosesnya terdapat
kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode untuk mencapai
hasil pembelajaran yang diinginkan. 1 Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan
bagian penting dari tugas pendidik. Hal ini berdasarkan kepada Undang-undang
No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 39 ayat (2)
disebutkan bahwa “pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas
merencanakan
pembelajaran,

dan

melaksanakan

proses

pembelajaran,

menilai

hasil

melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan

penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada
perguruan tinggi.”2
Menurut hasil survey United National, Scientific, and Cultural
Organization (UNESCO) terhadap kualitas pendidikan di negara- neagara
berkembang di Asia Pasific, “kualitas pendidikan di Indonesia menempati
peringkat 10 dari 14 negara yang di survey. Sedangkan untuk kualitas para guru,
kualitasnya berada pada level 14 dari 14 negara berkembang yang di survey. ”3
Berbeda dengan hasil survey Political and Economic Risk Consultant (PERC)
mengenai kualitas pendidikan di Indonesia, menurut PERC “kualitas pendidikan
1

Hamzah B. Uno dan Masru Kuadrat, Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran,
(Jakarta: Bu mi A ksara, 2010), h. 4.
2
Undang–Undang Republik Indonesia No. 20 Th 2003 Tentang Sistem Pendid ikan
Nasional
http://www.bapsi.undip.ac.id/images/Download/Dokumen/uu%20no.20%20thn%202003%20sisdi
knas.pdf diakses pada 12/01/ 2013 puku l 0:18 WIB.
3
Irvan Jaya Musrida, Makalah Permasalahan Pendidikan di Indonesia.
http://van88.wo rdpress.com/makalah-permasalahan-pendidikan-di-indonesia/
diakses pada
20/ 09/ 2013 pukul 11.05 WIB

1

2

di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia
berada di bawah Vietnam.”4
Faktor yang menjadi penyebab rendahnya kualitas pendidikan di
Indonesia adalah ketidak- mampuannya guru dalam menggali potensi anak. Guru
merupakan faktor dominan yang menentukan suasanan belajar siswa di sekolah.
“Kualitas interaksi guru- murid dipengaruhi oleh karakteristik dari setting (ruang
kelas, penggunaan ruangan, sumber belajar dan lain- lain) dan dimensi sosial
kelompok (norma, peraturan, keterkaitan, distribusi kekuatan dan pengaruh)”.5
Pengaturan latar dan dimensi sosial yang tepat dalam pembelajaran akan
membantu dalam proses pembelajaran, meningkatkan suasana belajar, dan juga
membantu mempermudah interaksi antara guru dan murid. Meski demikian,
masih banyak dijumpai pengajaran yang dilakukan oleh guru dengan memaksakan
kehendak dalam pembelajarannya tanpa memperhatikan kebutuhan, minat, dan
bakat yang dimiliki siswa. Padahal, bakat dan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa
berbeda-beda.
Selain itu, faktor lain yang dapat menyebabkan rendahnya kualitas
pendidikan di Indonesia adalah kemampuan guru dalam menggunakan variasi
dalam metode pembelajaran. Menurut Haryono, “Variasi guru dalam mengajar,
seperti variasi dalam penggunaan metode mengajar guru dan variasi dalam
penggunaan alat peraga, merupakan beberapa contoh yang dapat membangkitkan
motivasi belajar siswa.”6 Penggunaan variasi model pembelajaran dapat
membantu siswa dalam meningkatkan motivasi belajar sehingga proses
pembelajaran yang terjadi akan lebih menyenangkan dan aktif. Dengan terjadinya
suasana belajar yang aktif dari semua pihak di dalam kelas, maka pembelajaran
akan memberikan hasil yang baik pula.

4

Dhika. 2012. Masalah Pendidikan di Indonesia dan Solusianya . http://mahasiswasibuk.blogspot.com/2012/01/ masalah-pendidikan -di-indonesia-dan.html diakses pada 20/09/2013
pukul 11.00 WIB
5
Forrest W. Parkay dan Baverly Hardcastle Stanford, Menjadi Seorang Guru, terj. Dan i
Dharyani, (Jakarta: PT. Indeks, 2008), ed. VII, h. 170.
6
Moh Haryono, “Penggunaan Variasi Metode Mengajar untuk Membangkit kan Motivasi
Belajar Matematika”, Jurnal Widyatama. Vo l. 4 no. 4, Desember 2007, h. 11.

3

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Jonggol merupakan salah satu MAN
yang berada di Kabupaten Bogor. Statistik hasil UN MAN Jonggol mengalami
penurunan. Dari data Puspendik, pada tahun 2011 MAN Jonggol menempati
urutan 978, berada jauh dari SMAN 1 Jonggol yang menempati urutan 480. Pada
tahun 2012, hampir seluruh SMA dan MA yang ada di Kecamatan Jonggol
mengalami penurunan hasil UN, hanya SMA PGRI 27 yang mengalami kenaikan
hasil UN. Berikut rekapitulasi hasil UN yang diambil dari Puspendik.

Tabel 1.1. Rekapitulasi Hasil Ujian Nasional SMA/MA 2011-2012 di Kecamatan
Jonggol 7
Sekolah

Tahun

Indo

Ing

Mtk

Fis

Kim

Bio

Rataan Ranking *)

MAN
Jonggol

2011

7,79

7,99

6,94

7,69

7,90

8,33

7,77

978

2012

7,62

7,39

7,11

7,07

8,11

7,64

7,49

1108

SMAN 1
Jonggol

2011

8,24

8,48

7,70

8,42

8,68

8,27

8,30

480

2012

7,84

7,50

7,29

6,94

7,89

7,47

7,49

1111

SMA Bina
Insan

2011

8,03

7,78

7,10

8,07

8,21

7,99

7,86

924

2012

7,59

7,39

7,23

7,11

7,87

7,63

7,47

1121

SMA
7,57 8,28 7,18 8,13 7,75
7,50
2011
7,74
1004
PGRI 27
7,84 7,74 7,52 7,46 8,23
7,98
2012
7.80
867
Jonggol
Keterangan : *) Ranking dari Provinsi Jawa Barat, pada 2011 terdapat 1217
sekolah dan pada 2012 terdapat 1270 sekolah.

Salah satu mata pelajaran yang mengalami penurunan hasil belajar adalah
Biologi. Hasil wawancara dengan Guru Biologi di MAN jonggol, salah satu
konsep yang susah untuk dipelajari adalah konsep sistem pada tubuh manusia
yang berada di kelas XI. Hampir seluruh konsep yang dipelajari pada kelas XI
IPA adalah sistem pada manusia dari Sistem Rangka Tubuh hingga Sistem
Reproduksi. Kesulitan siswa dalam mempelajari konsep ini dikare nakan
banyaknya istilah yang harus dipahami oleh siswa.
7

Puspendik, http://118.98.234.22/sekretariat/hasilun/index.php/hasilun
20/ 09/ 2013 pukul 11.20 WIB

diakses pada

4

Hasil ulangan harian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pada
kelas XI IPA di MAN Jonggol masih banyak yang belum mencapai nilai KKM
sebesar 70. Pencapaian hasil pembelajaran di kelas XI dapat berdampak pada hasil
Nilai UN. Karena 40% soal UN berasal dari konsep yang berada di kelas XI.
Berikut rekapitulasi nilai ulangan harian siswa pada Mata Pelajaran Biologi di XI
IPA tahun ajaran 2013-2014.

Tabel 1.2. Rekapitulasi Hasil Ulangan Harian Kelas XI IPA
Ulangan
Harian Ke-

XI IPA 1

XI IPA 2

XI IPA 3

Rataan

1

39.9

32.3

51.6

41.3

2

66.9

66.6

69.6

67.7

Rataan

53.4

49.5

60.6

54.5

Sumber: Buku Nilai Guru Biologi MAN Jonggol
Salah satu upaya memecahkan permasalahan proses pembelajaran biologi
dalam penguasaan istilah asing yaitu dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif. Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan model
pembelajaran yang berasaskan kepada manusia sebagai makhluk sosial.
Pembelajaran kooperatif mengajak siswa untuk berperan aktif dalam proses
pembelajaran sehingga diharapkan hasil dari pembelajaran ini siswa lebih
memahami konsep yang sedang dipelajari tanpa mereka sadari karena peran aktif
mereka dalam pembelajaran.
Pembelajaran

kooperatif

memiliki

banyak

tipe

dalam

proses

pembelajarannya diantaranya adalah tipe Teams-games-Tournament (TGT) dan
tipe Make a Match. Pada kedua tipe ini terdapat satu kesamaan yaitu sama-sama
mengusung permainan dalam proses pembelajarannya. Sehingga pembelajaran
yang dilakukan dengan

menggunakan kedua tipe tersebut akan

lebih

menyenangkan.
Tipe TGT merupakan pembelajaran kooperatif yang dalam tahapannya
menggunakan turnamen untuk me-review hasil pembelajaran. Menurut Slavin,

5

TGT perlu dikombinasikan dengan metode lain dalam upaya meningkatkan hasil
belajar siswa. 8 Sehingga diperlukan upaya untuk melihat kombinasi yang cocok
untuk penggunaan metode TGT.
Kelemahan yang terjadi pada model TGT adalah proses pembelajaran
yang dapat menimbulkan kejenuhan. Proses pembelajaran dengan menggunakan
TGT dilakukan dengan ceramah oleh guru dan diskusi kelompok. Ceramah dan
diskusi merupakan metode yang baik dalam pembelajaran, namun dalam
penerapannya perlu adanya variasi yang lebih menekankan kepada keaktifan
siswa dalam memahami suatu konsep secara mandiri. Jika hal ini tidak dilakukan
maka akan terjadi kejenuhan dalam belajar sehingga semangat siswa akan
berkurang.

Hal

mengkombinasikan

tersebut

yang

melandasi

metode

TGT

dengan

pemikiran

metode

Slavin

tertentu

yang

untuk
lebih

menyenangkan dalam proses belajarnya.
Selain hal tersebut, penggunaan turnamen sebagai cara untuk melihat
hasil proses belajar dilakukan setelah beberapa kali pertemuan. Dengan demikian,
dalam proses belajar sebelum turnamen diperlukan suatu metode yang dalam
proses belajarnya mampu meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, membantu
siswa dalam memahami konsep, serta meningkatkan peran aktif siswa dalam
metode. Sehingga dalam proses pengkombinasiannya tidak terjadi kejenuhan yang
dapat menurunkan motivasi belajar.
Make a match merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang
yang memfokuskan siswa untuk mencari pengetahuan dan informasi dengan
baik. 9 Pada pembelajaran make a match, siswa dituntut untuk mempelajari konsep
secara berpasangan sehingga dapat dibutuhkan kerjasama dan kemampuan
komunikasi siswa dalam pembelajaran ini. Kelemahan dalam metode ini adalah
kurangnya motivasi belajar siswa dalam menyerap informasi dari metode ini. Hal
ini disebabkan karena tipe ini kurang memberikan tantangan kepada siswa berupa

8
Robert E. Slavin. Cooperative Learning “Teori, Riset dan Praktik”, terj. Nurulita
Yusron (Bandung: Nusa Media, 2010), cet ke-15, h. 178.
9
Miftahul Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-Isu Metodis dan
Pragmatis, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), h. 244.

6

pertandingan antar kelompok yang dirasa dapat memicu semangat belajar siswa
sehingga dapat memberikan hasil belajar yang lebih baik.
Berdasarkan kepada kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh tipe
TGT dan make a match, dirasa jika dikombinasikan dapat meminimalkan
kekurangan yang dimiliki oleh keduanya. Proses pembelajaran akan meningkat
dengan dilakukannya make a match sehingga siswa akan berperan aktif dalam
proses pembelajaran serta akan adanya turnamen dati TGT sebagai review hasil
dari proses pembelajaran tersebut. Dengan dilakukannya hal tersebut, maka dapat
diperkirakan meningkatkan hasil belajar. Dikarenakan hal demikian, maka penulis
tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Kombinasi
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams–Games–Tournament (TGT)
Dengan Make A Match Terhadap Hasil Belajar Biologi Sis wa”
B. Identifikasi Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi beberapa
masalah yang muncul, yaitu:
1. Hasil belajar biologi siswa di MAN Jonggol masih belum memuaskan dilihat

dari pencapaian nilai UN dan Ulangan Harian yang masih rendah.
2. Banyaknya istilah-istilah yang harus dipahami oleh siswa pada konsep sistem

pada manusia di kelas XI, sehingga mengakibatkan hasil belajar siswa dalam
mata pelajaran biologi kurang memuaskan.
3. Pembelajaran TGT kurang memberikan motivasi dalam proses belajar karena

turnamen berguna dalam meninjau kembali materi yang telah dipelajari
sebelumnya, sehingga diperlukan kombinasi dengan metode lain yang
mampu meningkatkan motivasi proses belajar siswa.
C. Pembatasan Masalah
Agar pembahasan skripsi tidak terlalu luas dan terarah, maka perlu
adanya pembatasan masalah. Untuk itu penulis batasi masalah yang sesuai dengan
judul, yaitu sebagai berikut:

7

1. Kombinasi model pembelajaran kooperatif tipe Teams–Games–Tournament
(TGT) dengan Make A Match. Pemilihan pembatasan ini bertujuan supaya
pembelajaran yang dilakukan berpusat pada siswa (student centered) dan
pembelajaran yang menyenangkan dikarenakan permainan-permainan yang
dilakukan.
2. Hasil belajar siswa berupa aspek kognitif jenjang C 1 –C4 pada konsep Sistem
Peredaran Darah Manusia.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka penulis merumuskan
masalah sebagai berikut “Apakah kombinasi model pembelajaran kooperatif tipe
Teams – Games – Tournament (TGT) dengan Make a Match dapat mempengaruhi
hasil belajar siswa?”

E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan
kombinasi model pembelajaran TGT dan Make a Match terhadap hasil belajar
biologi siswa pada konsep Sistem Peredaran Darah Manusia.

F. Manfaat Penelitian
Secara umum, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pikiran dan sebagai referensi dalam upaya meningkatkan hasil belajar biologi
siswa MAN, secara khusus yaitu sebagai berikut:
1.

Bagi guru
Menambah wawasan tentang salah satu alternatif model pembelajaran
untuk meningkatkan hasil belajar biologi siswa serta dapat meningkatkan
profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar di kelas.

2.

Bagi peneliti
Memberikan pengetahuan dan pengalaman baru mengenai penerapan
kombinasi model pembelajaran pembelajaran kooperatif tipe TGT dan Make

8

a Match serta memahami bagaimana kondisi sosial yang cocok dalam sebuah
aktivitas belajar.
3.

Bagi pembaca
Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan suatu kajian yang menarik
untuk diteliti lebih lanjut dan lebih mendalam sehingga menghasilkan model
pembelajaran baru yang dapat menjadi solusi dari pembelajaran biologi.

BAB II
DESKRIPSI TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR,
DAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoretis
1.

Pembelajaran Koope ratif (Cooperative Learning)
Cooperative learning menurut Scott B. Watson adalah lingkungan belajar

kelas yang memungkinkan siswa bekerja sama dalam suatu kelompok kecil yang
heterogen. 1 Penekanan utama menurut Watson dalam pembelajaran kooperatif
adalah pentingnya pembelajaran kelompok secara heterogen yang dilakukan oleh
siswa. Denngan adanya kelompok yang heterogen tersebut, setiap siswa dapat
belajar dari siswa lainnya.
Menurut Slavin, seperti yang dikutip oleh Zulfiani dkk, menyatakan bahwa
pembelajaran kooperatif merupakan suatu strategi belajar dimana siswa dalam
kelompok kecil saling membantu untuk memahami suatu bahan pelajaran,
memeriksa dan memperbaiki jawaban teman, serta kegiatan lainnya dengan tujuan
prestasi belajar tertinggi. 2 Slavin lebih menekankan cara atau kegiatan yang harus
dilakukan dalam kelompok supaya pembelajaran dalam kelompok kecil dapat
mencapai tujuan dari pembelajaran.
Teori

yang

melandasi

pembelajaran

kooperatif

adalah

teori

konstruktivisme yang dikembangkan oleh Vygotsky yaitu suatu pendekatan
dimana siswa harus secara langsung menemukan dan mentransformasikan
informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan yang ada dan
merevisinya bila perlu. Dukungan teori Vygotsky terhadap model pembelajaran
kooperatif adalah penekanan belajar sebagai proses dialog interaktif atau
pembelajaran berbasis sosial. Dengan adanya dialog interaktif ini maka
diharapkan siswa dapat membangun pengetahuannya secara mandiri sehingga
siswa akan lebih paham dengan konsep yang sedang dipelajari.
1
Warsono, Hariyanto, Pembelajaran Aktif: Teori dan Asesmen, (Bandung: PT
Rosdakarya Offset, 2012), h. 160.
2
Zulfiani, Tonih Feronika, Kinkin Suartin i, Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lemlit
UIN Jakarta, 2009), h. 130.

9

10

Berdasarkan beberapa pengertian tentang pembelajaran kooperatif di atas,
dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang
sistematis yang mengelompokkan peserta didik dalam beberapa kelompok kecil
yang didalamnya terjadi interaksi sosial yang saling membantu yang bertujuan
untuk meningkatkan hasil belajar.
Dalam pembelajaran kooperatif, kemampuan sosial siswa sangat penting. 3
Dengan kemampuan sosial yang baik, siswa dapat membantu anggota
kelompoknya dalam memahami suatu konsep tetapi siswa tidak dapat membantu
dalam permainan atau turnamen. Pembelajaran kooperatif sangat baik dalam
meningkatkan pemahaman siswa. 4 Hal ini dikarenakan siswa belajar bersama
dalam kelompok (berdiskusi) sehingga siswa akan belajar lebih baik dibandingkan
hanya mendengarkan penjelasan guru.

a.

Uns ur-Uns ur Pembelajaran Kooperatif
Tidak semua belajar kelompok dapat dikatakan pembelajaran kooperatif.

Belajar kelompok dapat dikatakan sebagai pembelajaran kooperatif jika dalam
pembelajarannya menerapkan lima unsur pembelajaran kooperatif. Lima unsur
tersebut adalah:
1) Positive interdevendence (saling ketergantungan positif)
2) Personal responsibility (tanggung jawab perseorangan)
3) Face to face promotive interaction (interaksi promotif)
4) Interpersonal skill (komunikasi antaranggota)
5) Group processing (pemrosesan kelompok). 5

Unsur

pertama

dalam

pembelajaran

kooperatif

adalah

saling

ketergantungan positif. Unsur ini merupakan unsur yang penting dalam
Mansur Harmandar dan Emine CIL, “The Effects of Science Teaching Through Team
Game Tournament Technique on Success Level and Affective Characteristics of Students”, Jurnal
of Turkish Science Education, Volu me 5, Issu 2, August 2008, h. 38.
4
Michael M van Wyk, “The Effects of Teams -Games-Tournaments on Achievment,
Retention, and Attitudes of Economics Education Students ”, Makalah, 2010 EABR & ETLC
Conference Proceedings, Dublin, Ireland, 2010, h. 37.
5
Agus Suprijono, Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2012), cet IX, h. 58.
3

11

pembelajaran kooperatif. Unsur ini menuntut supaya anggota tim bekerja sama
satu sama lain dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dengan rasa tanggung jawab
tersebut, maka jika terdapat anggota kelompok yang gagal maka anggota
kelompok yang lain akan mendapatkan dampak dari kegagalan anggota kelompok
yang gagal. Dengan demikian, terdapat dua pertanggung-jawaban kelompok
dalam unsur ini, yaitu mempelajari bahan yang ditugaskan kepada kelompok dan
menjamin semua anggota kelompok secara individu mempelajari bahan yang
ditugaskan tersebut.
Unsur kedua pembelajaran kooperatif adalah tanggung jawab individual.
Hasil akhir dari suatu kelompok merupakan gabungan dari hasil- hasil dari anggota
kelompoknya, artinya setiap anggota kelompok memberikan kontribusi yang sama
terhadap kelompok. Dengan dimilikinya tanggung jawab oleh setiap individu
adalah membuat anggota kelompok lainnya sama paham dengan pemahaman
yang dimilikinya.
Unsur ketiga pembelajaran kooperatif adalah interaksi pro motif. Unsur
ketiga ini merupakan unsur yang dapat menghasilkan saling ketergantungan. Pada
unsur ini, posisi siswa diharuskan berinteraksi secara langsung dengan anggota
kelompok lainnya. Interaksi yang terjadi bertujuan untuk saling membantu satu
sama lain dalam proses pembelajaran serta bekerja sama dalam memecahkan
masalah.
Unsur

keempat

pembelajaran

kooperatif

adalah

keterampilan

berkomunikasi. Keterampilan komunikasi sangat penting dalam pembelajaran
kooperatif. Komunikasi dalam kelompok haruslah berjalan baik antar satu
individu dengan individu lainnya. Karena berhasil atau tidaknya proses
pembelajaran kooperatif bergantung kepada kualitas komunikasi dalam kelompok.
Unsur kelima pembelajaran kooperatif adalah pemrosesan kelompok.
Tujuan dari pemrosesan kelompok adalah meningkatkan efektivitas anggota
dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan pembelajaran untuk mencapai
tujuan kelompok dalam pembelajaran.

12

b.

Karakteristik dan Prinsip Pembelajaran Koope ratif
Pembelajaran kooperatif berbeda dengan pembelajaran dengan strategi

yang lain. Perbedaan ini dapat dilihat dari proses pembelajaran yang menekankan
kepada pada kerja sama dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif memiliki
karakteristik yang berbeda dengan model pembelajaran yang lain, yaitu:
1) Pembelajaran secara tim
2) Didasarkan pada manajemen kooperatif
3) Kemauan untuk bekerja sama
4) Keterampilan bekerja sama. 6

Menurut George Jacobs, para ahli telah sepakat bahwa terdapat delapan
prinsip yang harus diterapkan dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:
1) Pembentukan kelompok harus heterogen
2) Perlu keterampilan kolaboratif
3) Otonomi kelompok
4) Interaksi simultan
5) Partisipasi yang adil dan setara
6) Tanggung jawab individu
7) Ketergantungan positif
8) Kerja sama sebagai nilai karakter. 7

c.

Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif
Terdapat enam langkah utama di dalam pembelajaran kooperatif, pelajaran

dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa untuk
belajar. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif secara ringkas dapat
dilihat pada tabel 2.1.

6

Rusman, Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 207.
7
Warsono, Hariyanto, Op.cit., h. 162

13

Tabel 2.1. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif 8
Fase-Fase

Perilaku Guru

Fase 1: Present goals and set
Menyampaikan

Menjelaskan tujuan pembelajaran dan

tujuan

dan

mempersiapkan

peserta

didik

siap

mempersiapkan peserta didik

belajar

Fase 2: Present information

Mempresentasikan informasi kepada

Menyajikan informasi

peserta didik secara verbal

Fase 3: Organize students into

Memberikan penjelasan kepada peserta

learning teams

didik tentang tata cara pembentukan tim

Mengorganisir

peserta

didik

ke

belajar

dan

membantu

kelompok

dalam tim-tim belajar

melakukan transisi yang efisien

Fase 4: Assis team work and study

Membantu

Membantu kerja tim dan belajar

peserta didik mengerjakan tugasnya

Fase 5: Test on the materials

Menguji pengetahuan peserta didik

Mengevaluasi

mengenai berbagai materi pembelajara n

tim- tim

atau

belajar

selama

kelompok-kelompok

mempresentasikan hasil kerjanya
Fase 6: Provide recognition
Mmemberikan

pengakuan

Mempersiapkan cara untuk mengakui
atau

penghargaan

d.

usaha dan prestasi individu maupun
kelompok

Keunggulan Pe mbelajaran Kooperatif
Keunggulan penggunaan model pembelajaran kooperatif bagi peserta didik

maupun pendidik adalah sebagai berikut:
1) Peserta didik dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri,
menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
2) Dapat meningkatkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan
kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide- ide orang lain.
3) Dapat membantu siswa untuk peduli pada orang lain.

8

Agus Suprijono, Op. cit., h. 65.

14

4) Dapat meningkatkan rasa bertanggung jawab siswa dalam belajar.
5) Model yang baik untuk

meningkatkan prestasi akademik sekaligus

keterampilan sosial.
6) Interaksi secara langsung selama pembelajaran dapat meningkatkan motivasi
dan memberikan rangsangan untuk berpikir. 9

e.

Tipe Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang

memiliki tipe atau jenis pembelajaran yang banyak, diantaranya adalah tipe
Student Teams Achivement Division (TAD), Jigsaw, Teams-Games-Tournament
(TGT), Make a Match, Group Investigation, Team Accelerated Instructional
(TAI), Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Dalam tulisan
ini hanya dua tipe model pembelajaran yang akan dibahas, yaitu tipe TeamsGames-Tournament (TGT) dan Make a Match.

1) Teams-Games-Tournament (TGT)
Charlton, Williams dan McLaughlin mengemukakan bahwa pembelajaran
dengan games dapat membuat siswa lebih aktif dan merasa senang untuk belajar.
Pembelajaran tersebut terlihat menarik ketika penjelasan guru dikombinasikan
dengan games sehingga penyampaian materi menjadi lebih cepat tersampaikan. 10
Dikembangkan oleh David DeVries dan Keith Edwards, TGT merupakan
metode pembelajaran pertama dari Johns Hopkins. Metode ini menggunakan
turnamen akademik dalam evaluasinya yang disetiap anggotanya masing- masing
memberikan poin untuk kelompoknya.
Dalam metode ini, setiap siswa dalam kelompok harus saling membantu
dalam mempersiapkan diri untuk permainan dengan mempelajari lembar kegiatan
dan menjelaskan masalah satu sama lain. Tetapi ketika dalam turnamen teman

9

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan , (Jakarta:
Kencana, 2007), h. 249
10
Charlton, B., Williams, R. L., dan McLaughlin, T.F. “Educational Games: A Technique
to Acquisition of Reading Skills of Children with Learning Disability”, International Journal of
Special Education. Volu me 20, Nu mber 2, 2005, h. 66-72.

15

sekelompok tidak boleh saling membantu. Sehingga sangat penting tanggung
jawab individu dalam metode ini. Berikut ini deskripsi dari komponen-komponen
dalam metode ini.
Tim. Terdiri dari empat atau lima siswa yang mewakili seluruh komponen
kelas seperti kemampuan akademik dan jenis kelamin. Fungsi utama tim adalah
memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar, dan mempersiapkan
anggotanya untuk menghadapi turnamen. Tim merupakan bagian yang penting
dalam metode TGT. Tim memberikan dukungan kelompok bagi kinerja akademik
dalam pembelajaran seperti memberikan perhatian dan respek terhadap anggota
kelompok. Sehingga dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan hubungan
emosional antar kelompok, rasa harga diri, dan saling menghargai terhadap
kelebihan dan kekurangan yang dimiliki masing- masing anggota kelompok.
Game. Game pada TGT terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang kontenya
relevan yang dirancang untuk menguji pengetahuan siswa yang diperolehnya dari
presentasi di kelas dan pelaksanaan tim. Game dalam TGT dilaksanakan
bersamaan dengan turnamen yaitu berupa kegiatan cerdas cermat antar kelompok
dengan masing- masing kelompok memberikan perananan dalam kemenangan
kelompoknya.
Turnamen. Turnamen adalah sebuah struktur dimana game berlangsung.
Pada turnamen pertama, guru menunjuk siswa untuk berada pada meja turnamen –
tiga siswa berprestasi tinggi sebelumnya berada di meja 1, tiga berikutnya pada
meja 2, dan seterusnya. Ilustrasi hubungan antara tim heterogen dan meja
turnamen homogen dapat dilihat pada gambar 2.1.

16

Gambar 2.1. Penempatan anggota kelompok pada meja turnamen 11

Slavin menjelaskan terdapat lima komponen utama dalam TGT, yaitu:
pembelajaran awal, kelompok belajar, permainan, turnamen/kompetisi, dan
pengakuan kelompok. 12
a) Pembelajaran awal, pembelajaran awal pada metode TGT tidak berbeda
dengan pengajaran biasa, hanya pelajaran difokuskan kepada materi yang
sedang dibahas saja. Tujuan pelajaran awal adalah membentuk siswa dalam
kecakapan komunikasi, menggali informasi, kecakapan bekerjasama dalam
kelompok, dan kecakapan dalam memecahkan masalah.
b) Kelompok belajar (Team Study), pada kelompok belajar siswa mempelajari
materi pelajaran dari sumber belajar kemudian menjawab pertanyaanpertanyaan yang disusun oleh guru. Setelah menjawab pertanyaan tersebut,
perwakilan siswa mempresentasikan hasil belajarnya. Tujuan kelompok
belajar pada kegiatan ini adalah memperoleh kecakapan mengolah informasi,
mengambil keputusan dengan cerdas, kecakapan bekerjasama dan kecakapan
berkomunikasi.

11

Robert E. Slavin. Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik, terj. Nurulita
Yusron (Bandung: Nusa Media, 2010), cet ke-15, 168.
12
Zulfiani, dkk, Op. cit., h. 145

17

c) Permainan (Games), pertanyaan dalam permainan disusun dan dirancang dari
materi- materi yang telah disajikan untuk menguji pengetahuan siswa yang
diperoleh mewakili masing- masing kelompok. Setiap siswa mengambil
sebuah kartu yang diberi nomor dan menjawab pertanyaan yang sesuai
dengan pada kartu tersebut.
d) Turnamen, siswa yang berada dalam satu kelompok akan dipisahkan kepada
meja- meja pertandingan sesuai dengan tingkatan kecerdasan mereka. Pada
meja pertandingan disediakan satu set lembar pertandingan berupa kunci
jawaban, kartu nomor dan format skor pertandingan.
e) Penghargaan tim (Team Recognition), penghargaan diberikan kepada
kelompok yang memiliki poin tertinggi. Penghargaan dapat berupa hadiah
atau sertifikat atas usaha yang dilakukan kelompok selama belajar sehingga
mencapai kriteria yang telah disepakati bersama.

2) Make a Match
Metode make a Match dikembangkan oleh Lorna Curran. Salah satu
keunggulan metode ini adalah siswa mencari pasangan kartu sambil belajar
mengenai konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. 13 Tujuan dari
metode ini antara lain: 1) pendalaman materi; 2) penggalian materi; 3)
edutainment.14 Pada penggunaan metode ini, siswa diminta untuk mencari
pasangan kartu yang merupakan pasangan kartu yang mereka miliki sebelum
batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin.
Langkah- langkah dalam pembelajaran Make a Match adalah sebagai
berikut:
a) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi topik/konsep yang cocok untuk
sesi review.
b) Setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan jawabannya atau soal dari
kartu yang dipegang.
c) Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya.
13

Rusman,Op. cit., h. 223.
Miftahul Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-Isu Metodis dan
Paradigmatis, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), h. 251.
14

18

d) Siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
e) Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar setiap siswa mendapatkan kartu
yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
f) Kesimpulan.

Kelebihan metode Make a Match dalam pembelajaran adalah:
a) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, baik secara kognitif maupun
fisik;
b) karena ada unsur permainan, metode ini menyenagkan;
c) meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dan dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa;
d) efektif melatih kedisiplinan siswa menghargai waktu untuk belajar. 15

Selain memiliki kelebihan, make a match juga memiliki kelemahan, yaitu:
a) jika tidak dipersiapkan dengan baik, akan banyak waktu yang terbuang;
b) pada awal-awal penerapan metode, banyak siswa yang akan malu
berpasangan dengan lawan jenisnya;
c) guru harus hati- hati dan bijaksana saat memberikan hukuman pada siswa
yang tidak mendapatkan pasangan, karena mereka bisa malu;
d) menggunakan metode ini secara terus menerus akan menimbulkan kebosanan.

Menurut Sry Risnawati, pembelajaran make a match memiliki kelebihan
dan kekurangan dalam penggunaannya. Kelebihan metode make a match bagi
siswa yaitu sebagai berikut:
a) mampu menciptakan suasana belajar aktif dan menyenangkan;
b) materi pembelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa;
c) mampu meningkatkan hasil belajar siswa mencapai taraf ketuntasan belajar
secara klasikal 87,50%.
15

16

Miftahul Huda, Ibid., h. 253.
Sry Risnawati, “Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Sosiologi Melalu i Penerapan
Cooperative Learn ing Model Make a Match”, Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011, h.
31
16

19

Disamping memiliki kelebihan di atas, pembelajaran dengan menggunakan
make a match juga memiliki kelemahan, yaitu:
a) diperlukan bimbingan dari guru untuk melakukan kegiatan;
b) waktu yang tersedia perlu dibatasi jangan sampai siswa terlalu banyak
bermain- main dalam proses pembelajaran;
c) guru perlu persiapan bahan dan alat yang memadai. 17

f.

Kombinasi Pembelajaran TGT Dengan Make a Match
Proses pembelajaran yang terjadi dalam kelas tidak hanya menggunakan

satu model atau metode saja dalam penerapannya, akan tetapi menggunakan dua
atau tiga model yang sesuai dengan tujuan dari pembelajaran serta karakteristik
dari siswanya. Metode teams-games-tournament (TGT) dan make a match
memiliki persamaan diantara keduanya, yaitu sama-sama mengusung permainan
di dalam pelaksanaan pembelajarannya.
TGT dapat dilakukan disemua umur dan semua mata pelajaran, k arena
sifatnya yang mengutamakan turnamen yang dalam hal ini seperti lomba cerdas
cermat. Sehingga semua karakteristik siswa dan mata pelajaran dapat dilakukan
menggunakan model ini.
Make a Match dianggap tidak cocok digunakan di tingkat SMA karena
sifat permainannya tidak sesuai dengan karakteristik siswa SMA yang mampu
berpikir abstrak. Akan tetapi siswa SMA termasuk kedalam masa remaja yang
terbagi kedalam dua fase yaitu fase remaja awal (12-17 tahun untuk perempuan
dan 13-18 untuk laki- laki) dan fase remaja akhir (17-21 tahun untuk perempuan
dan 18-22 tahun untuk laki- laki). Dimana dalam masa ini adalah masa pencarian
dan penjelajahan identitas diri. 18 Sehingga dalam pembelajaran yang dilakukan
harus mampu membantu siswa menemukan identitasnya. Sehingga Make a Match
yang akan digunakan di SMA haruslah dimodifikasi sesuai dengan karakteristik
dari siswa SMA.

17

Ibid.
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2006), h. 141.
18

20

Tahapan-tahapan dalam pembelajaran yang mengkombinasikan TGT dan
Make a Match di SMA sebagai berikut:
1) Pembelajaran awal
Tahapan pembelajaran awal dalam model kombinasi TGT dan make a
Match disampaikan oleh guru dengan memberikan gambaran besar pada
konsep yang akan dibahas. Pada pembelajaran awal ini membantu siswa
dalam menemukan konsep awal dan tujuan dari pembelajaran.
2) Kelompok belajar
Kelompok belajar merupakan pembelajaran yang dilakukan secara
berkelompok yang dipandu oleh guru baik melalui pertanyaan-pertanyaan
yang harus dijawab ataupun mencari pengetahuan konsep yang lebih
mendalam daripada yang diberikan di pembelajaran awal. Dalam kelompok
belajar ini dilakukan diskusi kelompok sebagai proses peningkatan
pemahaman

siswa.

Menurut Cruickshank,

diskusi dapat

membantu

meningkatkan kemampuan berpikir ketingkat yang lebih tinggi dan
membantu merubah sikap siswa. 19 Kemudian perwakilan dari anggota
kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Tujuan dari
pembelajaran ini adalah meningkatkan keterampilan siswa dalam mengolah
informasi, bekerjasama, dan berkomunikasi.
3) Permainan
Tahapan

yang

ketiga

adalah

permainan.

Dalam

tahapan

ini

menggunakan permainan yang berada dalam Make a Match

Dokumen yang terkait

Upaya Peningkatkan Hasil Belajar Kimia Siswa Melalui Model Kooperatif Tipe Team Games Tournament (TGT) Pada Konsep Sistem Koloid

0 7 280

Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Adaptasi Makhluk Hidup

0 11 215

Peningkatan hasil belajar kimia siswa dengan mengoptimalkan gaya belajar melalui model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) penelitian tindakan kelas di MAN 11 Jakarta

0 27 232

Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams-Games Tournament) terhadap pemahaman konsep matematika siswa

1 8 185

Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Teams Games Tournament Terhadap Prestasi Belajar Alquran Hadis Siswa (Quasi Eksperimen Di Mts Nur-Attaqwa Jakarta Utara)

1 51 179

Efektivitas pembelajaran kooperatif model make a match dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS: penelitian tindakan kelas di SMP Islam Al-Syukro Ciputat

0 21 119

Pengaruh kombinasi model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT) dengan make a match terhadap hasil belajar biologi siswa

2 8 199

Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih di MTs Islamiyah Ciputat

1 40 0

Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Tgt ( Teams Games Tournament ) Terhadap Hasil Belajar Biologi Pada Konsep Sistem Gerak Pada Manusia

0 6 145

Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dengan Games Digital Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Alat-Alat Optik

3 35 205

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23