Perbedaan prestasi siswa dalam pembelajaran pendidikan Agama Islam berdasarkan perbedaan latar belakang sekolah (studi kasus di SMA Darussalam Ciputat)

PERBEDAAN PRESTASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERDASARKAN
PERBEDAAN LATAR BELAKANG SEKOLAH
(Studi Kasus di SMA Darussalam Ciputat)
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh
ANI MAYRANI
106011003548

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TABIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011

ABSTRAK
Ani Mayrani
106011003548
Pendidikan Agama Islam
Perbedaan Prestasi Siswa dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Berdasarkan Perbedaan Latar Belakang Sekolah (Studi Kasus di SMA
Darussalam Ciputat)
Pembahasan skripsi ini dimaksudkan untuk: (1) mendeskripsikan bagaimana
prestasi siswa di bidang Pendidikan Agama Islam ditinjau dari penguasaan materi
PAI, kemampuan membaca Al Quran, dan sikap keberagamaan siswa yang
meliputi: Ketaatan beribadah, gaya hidup, dan moral, (2) mendeskripsikan ada
tidaknya perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar Pendidikan Agama
Islam siswa SMA antara siswa yang berasal dari MTs dengan siswa yang berasal
dari SMP, (3) mendeskripsikan bagaimana solusi atau tindakan guru dalam
mengoptimalkan prestasi siswa yang berbeda latar belakang sekolah antara siswa
yang berasal dari MTs dengan siswa yang berasal dari SMP.
Permasalahan yang muncul adalah “Adakah perbedaan yang signifikan
antara prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa SMA antara siswa yang
berasal dari MTs dengan siswa yang berasal dari SMP”. Berdasarkan
permasalahan yang diajukan tersebut, maka hipotesis yang muncul adalah, Ha:
“Terdapat perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar Pendidikan Agama
Islam siswa SMA antara siswa yang berasal dari MTs dengan siswa yang berasal
dari SMP”. Ho: “Tidak Terdapat perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar
Pendidikan Agama Islam siswa SMA antara siswa yang berasal dari MTs dengan
siswa yang berasal dari SMP”.
Untuk memecahkan permasalahan dan membuktikan hipotesis yang
diajukan, penulis mengadakan penelitian di SMA Darussalam Ciputat dengan
obyek penelitian adalah siswa kelas X dengan sampel berjumlah 30 orang siswa.
Data-data diperoleh melalui angket, tes membaca Al Quran, dan tes hasil belajar
PAI kemudian nilai-nilai tersebut dianalisis dengan menggunakan analisis
komparasional.
Ternyata Hipotesis Nihil (Ho) yang menyatakan tidak adanya perbedaan
yang signifikan antara prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa SMA
antara siswa yang berasal dari MTs dengan siswa yang berasal dari SMP,
diterima. Hal ini memberikan pengertian bahwa asal sekolah pada satuan
pendidikan yang berbeda tidak berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi
belajar Pendidikan Agama Islam.
Selanjutnya upaya guru untuk meningkatkan prestasi siswa dengan adanya
perbedaan latar belakang sekolah, guru dituntut menjalankan fungsinya secara
maksimal sehingga tercipta pembelajaran yang kondusif yang berpengaruh pada
meningkatnya prestasi belajar siswa.

i

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum, wr., wb.
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat, anugerah, dan kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat menyelesesaikan
skripsi ini dengan judul “Perbedaan Prestasi Siswa dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam Berdasarkan Perbedaan Latar Belakang Sekolah
(Studi Kasus di SMA Darussalam Ciputat)”. Penyusunan skripsi ini diajukan
untuk memenuhi salah satu syarat menempuh ujian sarjana pada Jurusan
Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatulah Jakarta.
Penulisan skripsi ini tidak akan selesai tanpa adanya dukungan,
bimbingan, serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan
ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Ibu Dra. Hj. Djunaidatul Munawaroh, M.Ag., dosen pembimbing yang telah
memberikan pemikiran, pengarahan, petunjuk, serta perbaikan sehingga
skripsi ini dapat diselesaikan.

ii

5. Bapak Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag., dosen penasehat akademik yang telah
membantu penulis baik berupa motivasi dan arahan dalam perkuliahan.

6. Seluruh dosen pada Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah mendidik dan

mengajar penulis selama penulis menjadi mahasiswa.
7. Seluruh staff akademik dan administrasi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah banyak membantu penulis selama

mengikuti kegiatan perkuliahan.
8. Pimpinan dan seluruh staf administrasi Perpustakaan Utama, Perpustakaan FITK
yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk meminjamkan bukubuku yang penulis butuhkan sebagai referensi yang berkaitan dengan skripsi ini.

9. Kepala SMA Darussalam Ciputat Bapak Marul Wa’id, S.Ag, Wakepsek/ Bidang
Kurikulum, Staf T.U, dan Bapak M. Yahya, S.Pd selaku guru Pendidikan
Agama Islam yang telah membantu dalam penelitian skripsi ini.

10. Secara khusus penulis mempersembahkan rasa terima kasih yang sedalamdalamnya kepada keluarga tercinta khususnya Bapak, (alm) Ibu, saudara
kembarku Ina, teh Nia, teh Susi dan A’Ade, serta keponakan-keponakan
kecilku yang telah banyak memberikan dorongan moril dan materil kepada
penulis.
11. Teman-teman seperjuangan PAI 2006 kelas B yang tidak bisa disebutkan
namanya satu persatu akan tetapi tanpa mengurangi rasa hormat penulis.

12. Sahabat-sahabat tersayang : Irna Purnamasari, Dini Rahmawati, Dahria Daud,
Aminah Tuzuhriyah, Adhe Putri Iriyani, Aisyah, Dewi Priyandini, Siti
Bariroh, dan Syarifatul Barokah.

iii

13. Sahabat-sahabat terbaik di Bogor : Fuzy, Endah, Asri, Ina MJ, Euis, Neneng,
dan Emi. Terima kasih atas persahabatan yang indah.
14. Serta semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kelemahan dan
kekurangan baik dalam penyajian materi maupun pemberian analisisnya. Namun
penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat.
Wassalamu’alaikum, wr., wb.
Jakarta, Maret 2011

Penulis

iv

DAFTAR ISI

Halaman
ABSTRAK ........................................................................................................

i

KATA PENGANTAR ......................................................................................

ii

DAFTAR ISI ....................................................................................................

v

DAFTAR TABEL ............................................................................................ viii

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ............................................................

1

B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah ......................

3

1. Identifikasi Masalah ............................................................... 3
2. Pembatasan Masalah .............................................................. 3
3. Perumusan Masalah ................................................................ 3
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ..................................................... 4
1. Tujuan Penelitian .................................................................... 4
2. Manfaat Penelitian .................................................................. 4

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESA
A. Pendidikan Agama Islam .............................................................

6

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam ....................................

6

2. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Agama Islam .......................... 9
a. Tujuan Pendidikan Agama Islam ....................................... 9
b. Fungsi Pendidikan Agama Islam ..................................... 10
3. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam ............................ 11
B. Prestasi Belajar ............................................................................ 14
1. Pengertian Belajar ................................................................ 14
2. Indikator Belajar ................................................................... 16

v

3. Pengertian Prestasi Belajar ................................................... 16
4. Pengukuran Prestasi Belajar ................................................. 17
5. Unsur-Unsur Kompetensi Prestasi Belajar PAI ................... 18
6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar ........... 20
C. Kerangka Berpikir ...................................................................... 25
D. Hipotesis ..................................................................................... 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian ...................................................................... 27
B. Variabel Penelitian ...................................................................... 27
C. Populasi dan Sampel ................................................................... 28
D. Instrumen Pengumpulan Data ..................................................... 28
1. Tes ......................................................................................... 28
2. Angket atau Kuesioner .......................................................... 30
3. Wawancara ........................................................................... 32
4. Observasi .............................................................................. 32
5. Dokumentasi .......................................................................... 32
E. Kalibrasi Instrumen ...................................................................... 33
1. Uji Validitas Instrumen .......................................................... 33
2. Uji Reliabilitas Instrumen ...................................................... 35
F. Teknik Pengolahan dan Analisa Data ......................................... 37

BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum tentang SMA Darussalam ............................. 40
1. Sejarah Berdiri SMA Darussalam ........................................ 40
2. Visi dan Misi SMA Darussalam ........................................... 41
3. Sarana dan Prasarana ............................................................. 41
4. Keadaan Guru, Karyawan dan Siswa .................................... 43
B. Penguasaan Materi Pendidikan agama Islam .............................. 45
C. Kemampuan Membaca Al Quran ................................................ 46

vi

D. Sikap Keberagamaan Siswa .......................................................... 47
E. Analisis Perbedaan Latar Belakang Sekolah terhadap Penguasaan
Materi PAI, Kemampuan Membaca Al Quran, dan Sikap
Keberagamaan ............................................................................... 48
F. Interpretasi Data .......................................................................... 54
G. Keterbatasan Penelitian ................................................................ 56

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................... 57
B. Saran ................................................................................................ 58

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN

vii

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1

Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar PAI ........................................ 29

Tabel 2

Kisi-Kisi Instrumen Angket Sikap Keberagamaan Siswa .................. 31

Tabel 3

Perhitungan Uji Validitas ..................................................................... 34

Tabel 4

Data Pengajar SMA Darussalam ........................................................ 43

Tabel 5

Data Karyawan SMA Darusalam ....................................................... 44

Tabel 6

Jumlah Siswa/I SMA Darusalam ....................................................... 44

Tabel 7

Distribusi Frekuensi Penguasaan Materi PAI Siswa Asal MTs dan
Siswa Asal SMP ................................................................................. 46

Tabel 8 Distribusi Frekuensi Kemampuan Membaca Al Quran Siswa Asal MTs
dan Siswa Asal SMP .......................................................................... 47
Tabel 9 Distribusi Frekuensi Sikap Keberagamaan Siswa Asal MTs dan Siswa
Asal SMP ............................................................................................. 48
Tabel 10 Perhitungan untuk Memperoleh Mean dan Deviasi untuk Memperoleh
Perbedaan Penguasaan Materi PAI ...................................................... 49
Tabel 11 Perhitungan untuk Memperoleh Mean dan Deviasi untuk Memperoleh
Perbedaan Kemampuan Membaca Al Quran ....................................... 50
Tabel 12 Perhitungan untuk Memperoleh Mean dan Deviasi untuk Memperoleh
Perbedaan Sikap Keberagamaan Siswa .............................................. 52

viii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah usaha sadar mentransformasikan pengetahuan dan
keterampilan yang diselenggarakan berdasarkan rencana yang matang, jelas,
mantap, lengkap dan menyeluruh berdasarkan pemikiran rasional-obyektif
yang bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik bagi peranannya di masa
yang akan datang.1
Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional

disebutkan mengenai fungsi dan tujuan pendidikan nasional.

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa. Sedang tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.

1

Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), Ed. 1, Cet. 5,

h. 2

1

2

Dalam kaitannya dengan tujuan pendidikan nasional yang telah
ditetapkan tersebut, maka Pendidikan Agama pada umumnya dan Pendidikan
Agama Islam pada khususnya sangat diperlukan dan mempunyai peranan
yang sangat penting. Dan untuk mencapai tujuan itu, maka pendidikan agama
wajib dimasukkan dalam kurikulum sekolah pada setiap jenis, jalur dan
jenjang pendidikan.
Pendidikan agama Islam di setiap sekolah, memiliki susunan
kurikulum

yang

berbeda

sesuai

dengan

jenis,

jalur

dan

jenjang

pendidikannya. Pendidikan agama Islam di SMP berbeda dengan pendidikan
agama Islam di MTs. Pendidikan Agama Islam di MTs lebih banyak
dibandingkan Pendidikan Agama Islam di SMP. Mata pelajaran pendidikan
agama Islam yang dipelajari di SMP hanya dalam satu modul saja, sedang di
MTs mata pelajaran pendidikan agama Islam dibagi dalam beberapa sub
bidang studi, seperti Al Quran Hadits, Aqidah Akhlak, Fiqih, Tarikh, dan
Bahasa Arab. Terlihat ada perbedaan antara MTs dengan SMP dalam beban
dan pengalaman belajar agama Islam.
Perbedaan kurikulum mata pelajaran Pendidikan Agama Islam antara
MTs dengan SMP tersebut membawa pengaruh terhadap prestasi belajar
siswa, ditinjau dari penguasaan sejumlah pengetahuan atau materi pendidikan
Agama Islam, kemampuan membaca Al Quran, dan sikap keberagamaan
siswa yang meliputi: ketaatan dalam menjalankan ibadah, gaya hidup dan
moral.
Berdasarkan masalah tersebut, maka diperlukan langkah-langkah yang
jelas oleh guru untuk mengupayakan optimalisasi kemampuan siswa dalam
mengikuti pembelajaran pendidikan agama Islam sehingga siswa mendapat
prestasi belajar sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang
telah ditetapkan. Berdasarkan indikasi masalah tersebut peneliti berminat
mengkaji dan menuangkan hasil penelitian ke dalam skripsi yang berjudul
“Perbedaan Prestasi Siswa dalam Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam Berdasarkan Perbedaan Latar Belakang Sekolah (Studi Kasus di
SMA Darussalam) ”.

3

B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah
1.

Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang terkait dalam penelitian ini,

maka identifikasi masalah yang diambil oleh peneliti adalah:
a.

Adanya perbedaan beban dan pengalaman belajar pendidikan agama
Islam antara MTs dengan SMP

b.

Adanya perbedaan prestasi belajar pendidikan agama Islam ditinjau dari
penguasaan materi PAI, kemampuan membaca Al Quran dan sikap
keberagamaan siswa SMA antara siswa yang berasal dari MTs dengan
siswa yang berasal dari SMP.

2.

Pembatasan Masalah
Berdasarkan masalah yang telah diidentifikasi, penelitian ini dibatasi

pada: Pengujian tingkat kemampuan siswa belajar pendidikan agama Islam
berdasarkan perbedaan latar belakang sekolah antara siswa yang berasal dari
MTs dengan siswa yang berasal dari SMP ditinjau dari:
a.

Kemampuan penguasaan materi pendidikan agama Islam

b.

Kemampuan membaca Al Quran

c.

Sikap keberagamaan siswa yang meliputi: Ketaatan beribadah, gaya
hidup, dan moral

3.

Perumusan Masalah
Berdasarkan

pembatasan

masalah

yang

telah

dikemukakan

sebelumnya, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana prestasi siswa di bidang Pendidikan Agama Islam ditinjau dari
penguasaan materi PAI, kemampuan membaca Al Quran dan sikap
keberagamaan siswa yang meliputi: Ketaatan beribadah, gaya hidup, dan
moral?

4

b. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar
Pendidikan Agama Islam siswa SMA antara siswa yang berasal dari MTs
dengan siswa yang berasal dari SMP?
c. Bagaimana tindakan guru dalam mengoptimalkan prestasi siswa SMA
dalam pembelajaran PAI berdasarkan perbedaan latar belakang sekolah
antara siswa yang berasal dari MTs dengan siswa yang berasal dari SMP?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a.

Untuk mendeskripsikan bagaimana prestasi siswa di bidang Pendidikan
Agama Islam ditinjau dari penguasaan materi PAI, kemampuan membaca
Al Quran dan sikap keberagamaan siswa yang meliputi: Ketaatan
beribadah, gaya hidup, dan moral.

b.

Untuk mendeskripsikan ada tidaknya perbedaan yang signifikan antara
prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa SMA antara siswa yang
berasal dari MTs dengan siswa yang berasal dari SMP.

c.

Untuk mendeskripsikan bagaimana solusi atau tindakan guru dalam
mengoptimalkan prestasi siswa SMA yang berbeda latar belakang
sekolah antara siswa yang berasal dari MTs dengan siswa yang berasal
dari SMP

2. Manfaat Penelitian
a.

Manfaat Teoritis



Memberikan pengetahuan dan wawasan mengenai prestasi belajar
siswa berdasarkan perbedaan latar belakang sekolah.

5

b. Manfaat Praktis


Bagi pendidik, dapat menjadi masukan yang berguna agar dalam
mendidik siswa, perlakuannya terhadap siswa harus sesuai dengan
kemampuan dan tingkat pengetahuannya sehingga setiap siswa dapat
memahami materi yang diajarkan.



Bagi siswa, dapat menjadi bahan masukan agar meningkatkan
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi belajar dan prestasi belajar
sehingga siswa dapat memperoleh hasil yang memuaskan.



Bagi peneliti, sebagai bahan untuk memberikan informasi dan acuan
untuk mengembangkan penelitian selanjutnya.

BAB II
KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR
DAN HIPOTESA

A. Pendidikan Agama Islam
1.

Pengertian Pendidikan Agama Islam
Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha

manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam
masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, pendidikan atau
paedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan
sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa.
Ki Hajar Dewantara mengemukakan pengertian pendidikan sebagai
berikut: “Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada
anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat
dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”1
Menurut UU RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan
nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

1

Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan: Umum dan Agama Islam, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2006), Ed. Revisi. 5, h. 4

6

7

mengembangkan potensi

dirinya untuk

memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.2
Berdasarkan

beberapa

pengertian

pendidikan

tersebut,

maka

pendidikan dapat dipahami sebagai usaha sadar dan terencana untuk
menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak yang diberikan
oleh orang dewasa agar mendapat keselamatan dan kebahagiaan serta tercapai
suasana belajar dan proses pembelajaran aktif sehingga peserta didik dapat
mengembangkan potensi

dirinya untuk

memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Zakiyah Daradjat mengemukakan pengertian pendidikan agama Islam
sebagai berikut: “Pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina
dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam
secara menyeluruh dan pada akhirnya dapat menghayati dan mengamalkan
serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.”3
Pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk mengarahkan
pertumbuhan dan perkembangan anak dengan segala potensi yang
dianugerahkan oleh Allah kepadanya agar mampu mengemban amanat dan
tanggung jawab sebagai khalifah Allah di bumi dalam pengdiannya kepada
Allah.4
Hakekat pendidikan agama Islam menurut Muzayin Arifin yang
dikutip oleh Armai Arief dalam bukunya Reformasi Pendidikan Islam,
adalah: “Usaha orang dewasa muslim yang bertakwa secara sadar
mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah

2

Departemen Agama RI, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI Tentang
Pendidikan, (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama Islam, 2006), h. 5.
3
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan agama Islam Berbasisi Kompetensi: Konsep
dan Implementasi Kurikulum 2004, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2004) h. 130
4
Abdul Rahman Shaleh, Pendidikan Agama dan Keagamaan, (Jakarta:PT. Gemawindu
Pancaperkasa, 2000), Cet. 1, h. 2

8

(kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal
pertumbuhan dan perkembangannya.”5
Berdasarkan berbagai pandangan tersebut, maka pendidikan agama
Islam adalah suatu usaha sadar untuk mengarahkan pertumbuhan dan
perkembangan fitrah (kemampuan dasar) peserta didik melalui ajaran Islam
dengan segala potensi yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya agar
senantiasa dapat memahami ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan
dan perkembangannya.
Pendidikan agama Islam di SMA diberikan dengan mengikuti
tuntunan bahwa agama Islam diajarkan kepada manusia dengan visi untuk
mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak
mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi
pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik
personal maupun sosial. Dengan adanya tuntunan tersebut, maka diharapkan
siswa memiliki kompetensi-kompetensi sesuai dengan standar kompetensi
dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
Adapun standar kompetensi lulusan mata pelajaran Pendidikan Agama
Islam di SMA, sebagai berikut:6
a.

Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan
perkembangan remaja.

b.

Menghargai keberagaman agama, bangsa, suku, ras, golongan sosial
ekonomi, dan budaya dalam tatanan global.

c.

Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial.

d.

Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di
masyarakat.

e.

Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang
lain.

5

Armai Arief, Reformulasi Pendidikan Islam, (Jakarta: CRSD Press Jakarta, 2005), Cet. 1, h.

20
6

E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2007), Cet. 3, h. 100

9

f.

Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui
berbagai

cara

termasuk

pemanfaatan

teknologi

informasi

yang

mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
g.

Menjaga kebersihan, kesehatan, ketahanan dan kebugaran jasmani dalam
kehidupan sesuai dengan tuntunan agama

h.

Memanfaatkan lingkungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan secara
bertanggung jawab
Dengan adanya standar kompetensi lulusan tersebut, pendidik

diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran sesuai dengan
standar kompetensi dan kompetensi dasar. Peran semua unsur sekolah, orang
tua siswa dan masyarakat sangat penting dalam mendukung keberhasilan
pencapaian tujuan Pendidikan Agama Islam di SMA.

2.

Tujuan dan Fungsi Pendidikan Agama Islam

a.

Tujuan Pendidikan Agama Islam
Pada dasarnya tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan agama

Islam tak terlepas dari eksistensi manusia hidup di dunia ini, yaitu dalam
rangka beribadah kepada Allah SWT.7 Sebagaimana firman Allah dalam surat
Ad-Dzariyat ayat 56.

‫اْإ س إّليعْ د‬

‫ماخل ْت الْج‬

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku. (QS. 51:56)
Untuk merealisasikan tujuan pendidikan agama Islam tersebut, maka
siswa dituntut untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam
sehingga menjadi manusia yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia serta
senantiasa beribadah kepada Allah SWT.
Rumusan tujuan pendidikan agama Islam di atas mengandung
pengertian bahwa proses pendidikan agama Islam yang dilalui dan dialami

7

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2007), Cet. 7, h. 46-47

10

oleh peserta didik di lembaga pendidikan formal, dimulai dari tahapan
kognisi, yakni pengetahuan dan pemahaman peserta didik terhadap ajaran
dan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, untuk selanjutnya menuju
ke tahapan afeksi, yakni terjadinya proses internalisasi ajaran dan nilai agama
ke dalam diri peserta didik, dalam arti menghayati dan meyakininya.
Tahapan afeksi ini terkait erat dengan kognisi, dalam arti penghayatan
dan keyakinan peserta didik menjadi kokoh jika dilandasi oleh pengetahuan
dan pemahamannya terhadap ajaran dan nilai agama Islam. Melalui tahapan
afeksi tersebut diharapkan dapat tumbuh motivasi dalam diri peserta didik dan
tergerak

untuk

mengamalkan

dan

menaati

ajaran

Islam

(tahapan

psikomotorik) yang telah diinternalisasikan dalam dirinya. Dengan demikian
akan terbentuk manusia muslim yang beriman, bertaqwa dan berakhlak
mulia.8
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan
agama Islam adalah merealisasikan manusia muslim dalam memahami,
menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam sehingga menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa serta berilmu pengetahuan yang mampu mengabadikan
diri kepada Allah dengan senantiasa selalu beribadah kepada-Nya.

b. Fungsi Pendidikan Agama Islam
Secara umum, fungsi pendidikan agama Islam adalah sebagai berikut:9
1) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan
peserta didik kepada Allah yang telah ditanamkan lebih dahulu
dalam lingkungan keluarga.
2) Penanaman nilai ajaran Islam, sebagai pedoman hidup untuk
mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

8

Muhaimin, et. al, Paradigma Pendidikan Islam, : Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama
Islam di Sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), Cet. 1, h. 78-79
9
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan agama Islam…, h. 134-135

11

3) Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan
dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam.
4) Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan, kekurangan dan
kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan
pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
5) Pencegahan,

yaitu

untuk

menangkal

hal-hal

negatif

dari

lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan
dirinya.
6) Pengajaran tentang ilmu pengetahuan agama Islam secara umum,
sistem dan fungsionalnya.
7) Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki
bakat khusus di bidang pendidikan agama Islam agar bakat tersebut
dapat berkembang secara optimal.
Dari uraian tersebut, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa
pendidikan Agama Islam merupakan sebuah proses yang dilakukan untuk
menciptakan manusia-manusia yang seutuhnya beriman dan bertaqwa kepada
Allah SWT dan dapat menjadikan agama Islam sebagai pembekalan diri
peserta didik supaya mampu mengatasi suatu permasalahan keagamaan dalam
keluarga, dan juga dalam lingkungan sekolah sehingga dapat mengubah
lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam.

3.

Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Secara umum ruang lingkup Pendidikan agama Islam meliputi

keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan
Allah SWT, hubungan manusia dengan sesama manusia, hubungan manusia
dengan dirinya sendiri, dan hubungan manusia dengan makhluk lain dan
lingkungannya.10

10

Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan agama Islam…, h. 131

12

Dari keempat ruang lingkup pendidikan agama Islam tersebut dapat
penulis jabarkan sebagai berikut :
a.

Hubungan Manusia dengan Allah
Hubungan manusia dengan Allah merupakan hubungan yang vertikal

antara makhluk dengan sang khalik yang menempati prioritas utama dalam
pendidikan agama Islam. Pemeliharaan hubungan manusia dengan Allah
dapat dilakukan antara lain sebagai contoh, dengan:11
1) Beriman kepada Allah SWT,
2) Beribadah kepada-Nya dengan jalan melaksanakan shalat, zakat,
puasa dan haji,
3) Mensyukuri nikmat-Nya dengan jalan menerima, mengurus, dan
memanfaatkan semua pemberian Allah kepada manusia,
4) Bersabar menerima cobaan Allah,
5) Memohon ampun atas segala dosa dan bertobat.

b. Hubungan Manusia dengan Sesama Manusia
Hubungan

manusia

dengan

sesamanya

merupakan

hubungan

hotizontal antara manusia dengan manusia dalam kehidupan. Hubungan
manusia dengan manusia lain dalam masyarakat dapat dipelihara antara lain
dengan: (1) tolong menolong, (2) suka memaafkan kesalahan orang lain, (3)
menepati janji, (4) lapang dada, (5) menegakkan keadilan dengan berlaku adil
terhadap diri sendiri dan orang lain.

c.

Hubungan Manusia dengan Dirinya Sendiri
Agama Islam dalam pendidikannya memberikan didikan kepada

manusia agar selalu menghargai dirinya sendiri dengan mencegah semua
yang dapat membahayakan diri. Hal ini sesuai dengan ayat dalam surat At
Tahrim ayat 6.

11

Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), h. 369

13

‫يا ي ا ال ي ءام ا ق ا فس مْ هْلي مْ ا ًا‬
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka” (QS. 66:6)
Hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dapat dilakukan dengan
senantiasa berlaku: (1) sabar, (2) pemaaf, (3) adil, (4) ikhlas, (5) berani, (6)
memegang amanah, (7) mawas diri.12

d. Hubungan Manusia dengan Alam
Dalam Islam telah diajarkan kepada manuisa untuk mengenal dan
mencintai alam semesta dan manusia dilarang untuk merusak apa yang telah
Allah ciptakan di bumi untuk kepentingan manusia. Hal ini ditegaskan Allah
dalam surat Qashas: 77.

‫م الد ْيا حْس‬

‫ي‬

ّ‫إ اه ّيح‬

‫ّت ْس‬

‫ابْتغ في ءاتا اه الدا اْأخ‬

ْ ‫ّت ْغ الْفساد في اْأ‬

‫حْس اه إل ْي‬
‫ا ْل فْسدي‬

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu
dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 28:77)
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada dasarnya ruang lingkup
PAI meliputi tiga aspek yaitu: Aqidah (Keimanan), Akhlak (Ihsan) dan
Syariah (Keislaman). Ketiga aspek tersebut dikembangkan dalam materi
pelajaran, maka secara operasional dalam KTSP materi PAI dapat
dikelompokkan dalam lima aspek, diantaranya:

12

Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam…, h. 370

14

a. Al-Qur’an dan Hadits
b. Aqidah
c. Akhlak
d. Fiqih
e. Tarikh (sejarah Islam). 13

B. Prestasi Belajar
1.

Pengertian Belajar
Belajar adalah modifikasi dan memperteguh kelakuan melalui

pengalaman (Learning is defined as the modification or strengthening of
behavior through experiencing).14 Menurut pengertian ini, belajar merupakan
suatu proses perubahan tingkah laku dalam diri seseorang. Belajar bukan
hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Dapat
dikatakan bahwa orang yang belajar tidak sama keadaannya dengan sebelum
ia melakukan perbuatan belajar itu.
Hilgard mengatakan: “Learning is the process by which an activity
originates or is changed through training procedure (whether in the
laboratory or in natural environment) as distringuished from changes by
factor not attributable to training”. Belajar adalah proses mencari ilmu
pengetahuan yang terjadi dalam diri seseorang melalui latihan, pembelajaran
dan sebagainya, sehingga terjadi perubahan dalam diri.15
Dari pengertian-pengertian belajar yang telah di kemukakan tersebut,
maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:
a.

Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku dalam diri
seseorang

b.

13

Belajar yang sebaik-baiknya yaitu melalui proses pengalaman.

Muhaimin, et. al, Paradigma Pendidikan Islam…, h. 79
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), Ed. 1, Cet.
5, h. 36
15
Aminuddin Rasyad, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Uhamka Press, 2003), Cet.
4, h. 29
14

15

c.

Hasil

dari

belajar

pada

pokoknya

adalah

memperoleh

informasi/pengetahuan, yang didapat melalui proses pembelajaran dan
latihan.
Berdasarkan beberapa pengertian belajar tersebut, maka tujuan dari
belajar

selain memperoleh pengetahuan juga bertujuan untuk perubahan

tingkah laku. Untuk mengetahui apakah tujuan dari belajar itu telah benarbenar tecapai dan sampai dimanakah hasil belajar yang diinginkan telah
tecapai, maka diperlukan alat yang dapat dipercayai, yaitu dengan
mengadakan evaluasi.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 57 ayat (1), seperti dikutip oleh
Sukardi, evaluasi dilakukan dalam rangka: “Pengendalian mutu pendidikan
secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggaran pendidikan
kepada pihak-pihak yang berkepentingan, diantaranya terhadap peserta didik,
lembaga dan program pendidikan.”16
Evaluasi dapat memunginkan kita untuk:17
1.

Mengukur kompetensi atau kapabilitas siswa apakah mereka telah
merealisasikan tujuan yang telah ditentukan

2.

Menentukan tujuan mana yang belum direalisasikan, sehingga tindakan
perbaikan yang cocok dapat diadakan

3.

Memutuskan tingkat pencapaian siswa, dalam hal kesuksesan mereka
mencapai tujuan yang telah disepakati

4.

Memberikan informasi kepada guru tentang cocok tidaknya strategi
mengajar yang ia gunakan, agar kelebihan dan kekurangan strategi
mengajar tersebut dapat ditentukan

5.

Merencanakan prosedur untuk memperbaiki rencana pelajaran, dan
menentukan apakah sumber belajar tambahan perlu digunakan.

16

M. Sukardi, Evaluasi Pendidikan:Prinsip dan Operasionalnya, (Jakarta:Bumi Akasara,
2009), Ed. 1, Cet. 3, h. 1
17
Ivor K Davies, Pengelolaan Belajar , (Jakarta:CV. Rajawali, 1991), Ed. 1, Cet.2, h. 294

16

Dengan diadakannya evaluasi maka akan diperoleh hasil belajar atau
biasa disebut sebagai prestasi belajar. Dengan adanya prestasi belajar, siswasiswa akan mengetahui hal-hal yang penting, yaitu siswa akan mengetahui
kelemahan-kelemahannya dan juga kekuatan-kekuatannya, dengan begitu ia
pun dapat memikirkan apa yang dapat harus dilakukannya untuk menghadapi
kesulitan-kesulitan belajar sehingga ia dapat memperbaikinya di waktu
mendatang agar memperoleh prestasi belajar yang lebih baik.

2.

Indikator Belajar
Keberhasilan atau kegagalan dalam proses belajar mengajar

merupakan sebuah ukuran atas proses pembelajaran. Apabila merujuk pada
rumusan operasional keberhasilan belajar, maka belajar dikatakan berhasil
apabila diikuti ciri-ciri:18
a.

Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi
tinggi, baik secara individu maupun kelompok

b.

Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran khusus (TPK) telah
dicapai oleh siswa baik secara individual maupun kelompok

c.

Terjadinya

proses

pemahaman

materi

yang

secara

sekuensial

mengantarkan materi tahap berikutnya.

3.

Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan indikator bagi berkualitas atau tidaknya

suatu proses pendidikan. Menurut S. Nasution dalam bukunya Didaktik AsasAsas Mengajar, disebutkan bahwa prestasi belajar adalah perubahan
pengetahuan, kebiasaan, sikap, pengertian, penguasaan dan penghargaan
siswa.19

18

Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar:Melalui
Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2007), Cet. 1, h.
113
19
S. Nasution, Didaktik Asas-Asas Mengajar, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 1995), Ed. 2, Cet.
1, h. 34

17

Dalam pengertian lain, prestasi belajar adalah seperangkat nilai yang
diperoleh peserta didik melalui evaluasi yang dinyatakan dalam bentuk skor
dengan menggunakan simbol baik berupa angka, huruf ataupun kata.
Dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan perubahan
pengetahuan, kebiasaan, sikap, pengertian, dan penguasaan siswa terhadap
materi pelajaran yang diperoleh melalui evaluasi yang dinyatakan dalam
bentuk skor dengan menggunakan simbol baik berupa angka, huruf ataupun
kata dari guru kepada siswa sebagai indikasi sejauhmana siswa telah
mencapai kompetensi sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi
dasar yang telah ditetapkan setelah siswa mengikuti kegiatan belajar.

4.

Pengukuran Prestasi Belajar
Pengukuran adalah proses pengumpulan data yang diperlukan dalam

rangka memberikan judgment yakni berupa keputusan terhadap sesuatu.20
Untuk melakukan pengukuran diperlukan suatu alat yang biasa disebut
dengan alat penilaian. Alat penilaian belajar pada umumya menggunakan tes.
Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang
digunakan

untuk

mengukur

keterampilan,

pengetahuan,

kecerdasan,

kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok.21
Tes yang digunakan dalam pembelajaran, khususnya untuk mengukur
ketercapaian kompetensi, digunakan tes sebagai berikut:
a.

Tes awal, tes ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh
mana materi atau bahan pelajaran yang akan diajarkan telah dikuasai oleh
peserta didik.

b.

Tes akhir, tes akhir dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui
apakah semua materi pelajaran dapat dikuasai dengan baik oleh peserta
didik.

20

Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran:Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jakarta: Kencana, 2008), Ed. 1, Cet. 1, h. 337
21
Zurinal Z dan Wahdi Sayuti, Ilmu Pendidikan: Pengantar dan Dasar-Dasar Pelaksanaan
Pendidikan, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), Cet. 1, h . 141-142

18

c.

Tes diagnostik, yaitu tes yang dilaksanakan untuk melaksanakan secara
tepat jenis kesukaran yang dihadapi oleh peserta didik dalam suatu mata
pelajaran tertentu dan menetapkan cara mengatasi kesukaran atau
kesulitan belajar tersebut.22

d.

Tes formatif, yang disajikan di tengah program pendidikan yang
bertujuan untuk memantau kemajuan belajar peserta didik. Berdasarkan
hasil tes itu, pendidik dan peserta didik dapat mengetahui apa yang perlu
dijelaskan kembali agar peserta didik dapat menguasai materi pelajaran
lebih baik.23

e.

Tes sumatif, berarti tes yang ditujukan untuk mengukur daya serap siswa
terhadap bahan pokok-pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu
semester, satu atau dua tahun pelajaran. Tujuannya adalah untuk
menetapkan tingkat atau taraf keberhasilan belajar siswa dalam suatu
periode belajar tertentu.24
Dalam praktiknya, tes yang digunakan untuk mengukur tercapai atau

tidaknya kompetensi yang telah ditetapkan, digunakan Ujian Tengah
Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS).

5.

Unsur-Unsur Kompetensi Prestasi Belajar PAI
Adapun unsur-unsur kompetensi prestasi belajar siswa di bidang

Pendidikan Agama Islam pada prinsipnya adalah pengungkapan segala hasil
belajar yang meliputi segenap ranah psikologis, yakni ranah kognitif, afektif,
dan psikomotorik.

Zurinal Z dan Wahdi Sayuti, Ilmu Pendidikan…, h. 144
Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar …,h. 78
24
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 2006), Cet. 1, h. 106-107
22

23

19

a.

Ranah Kognitif
Aspek prestasi yang mencakup pada kognitif meliputi:25
1) Pengetahuan,

merupakan pengingatan bahan-bahan yang telah

dipelajari, mulai dari fakta sampai ke teori, yang meyangkut
informasi yang bermanfaat.
2) Pemahaman, yaitu kemampuan untuk menguasai pengertian.
3) Penerapan, yaitu kemampuan untuk menggunakan bahan yang telah
dipelajari ke dalam situasi baru yang nyata.
4) Analisis, yaitu kemampuan untuk merinci bahan menjadi bagianbagian supaya struktur organisasinya mudah dipahami.
5) Sintesis,

yaitu kemampuan mengkombinasikan bagian-bagian

menjadi suatu keseluruhan baru, yang menitik beratkan pada tingkah
laku kreatif dengan cara memformulasikan pola dan struktur baru.
6) Evaluasi, yaitu kemampuan untuk mempertimbangkan nilai bahan
untuk maksud tertentu berdasarkan kriteria internal dan kriteria
eksternal.

b. Ranah Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai.
Ranah afektif ini oleh Krathwohl, Bloom dan Masia ditaksonomi menjadi
lebih rinci lagi didalam lima jenjang, yaitu:26
1) Penerimaan, yaitu suatu keadaan sadar, kemauan untuk menerima,
perhatian terpilih.
2) Sambutan, yaitu suatu sikap terbuka ke arah sambutan, kemauan
untuk merespon, kepuasan yang timbul karena sambutan.
3) Menilai, yaitu penerimaan nilai-nilai, preferensi terhadap suatu nilai,
membuat kesepakatan sehubungan dengan nilai.
4) Organisasi, yaitu suatu konseptualisasi tentang suatu nilai, suatu
organisasi dari suatu sistem nilai.
25

Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran …, h. 80
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran …, h. 81

26

20

5) Karakterisasi dengan suatu kompleks nilai, yaitu suatu formasi
mengenai perangkat umum, suatu manifestasi daripada lompleks
nilai.
Berdasarkan jenjang tersebut dapat dikatakan bahwa tahapan afeksi
merupakan proses terjadinya internalisasi ajaran dan nilai agama ke dalam
diri peserta didik, dalam arti menghayati dan meyakini ajaran agama.

c.

Ranah Psikomotor
Ranah Psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan

(skill) atau kemampuan bertindak dalam mengamalkan dan menaati ajaran
Islam setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu, contohnya
membiasakan

perilaku

husnuzhan

dan

mempraktikkan

adab

dalam

berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan atau menerima tamu dalam
kehidupan sehari-hari.

6.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Keberhasilan siswa dalam belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor,

baik faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal) maupun faktor
yang berasal dari luar individu (eksternal). Menurut Yudhi Munadi dalam
bukunya yang berjudul Media Pembelajaran: Sebuah Pendekatan Baru,
faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar tersebut terdiri: Kondisi
fisiologis, psikologis (intelegensi, perhatian, minat dan bakat, motif dan
motivasi, kognitif dan daya nalar), kondisi lingkungan (alam dan sosial),
faktor instrumental (kurikulum, sarana dan fasilitas, guru).27
Berikut beberapa faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar
siswa, diantaranya:

27

Yudhi Munadi, Media Pembelajaran: Sebuah Pendekatan Baru, (Jakarta: Gaung Persada
Press, 2008), h. 24

21

a.

Faktor Internal
1) Faktor Fisiologis
Secara umum kondisi fisiologis, terdiri dari kondisi fisik dan panca
indera,28 seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan
capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani, dan sebagainya, semuanya
akan membantu dalam proses dan prestasi belajar siswa. Siswa yang
kekurangan gizi, sebab mereka yang kekurangan gizi pada umumnya
cenderung cepat lelah dan capek, cepat mengantuk dan akhirnya tidak
mudah dalam menerima pelajaran.
Disamping kondisi diatas, merupakan hal yang penting juga
memperhatikan kondisi pancaindera. Dengan memahami kelbihan dan
kelemahan

pancaindera

dalam

memperoleh

pengetahuan

atau

pengalaman akan mempermudah dalam memilih dan menetukan jenis
rangsangan atau stimulus dalam proses belajar.

2) Faktor Psikologis
Faktor kedua dari faktor intenal adalah faktor psikologis. Setiap
siswa pada dasarnya memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda, dan
tentunya hal ini akan berpengaruh pada proses dan hasil belajar masingmasing siswa. Beberapa faktor psikologis yang dapat diuraikan
diantaranya meliputi intelegensi, perhatian, minat dan bakat, motif dan
motivasi, dan kognitif dan daya nalar.
Pertama intelegensi, Garret mengemukakan definisi intelegensi
sebagai berikut: “Intellegence, includes at least the abilities demanded in
the solution of problems wich require the comprehension and use of
symbols Artinya, intelegensi itu setidak-tidaknya mencakup kemampuankemampuan yang diperlukan untuk pemecahan masalah-masalah yang
memerlukan pengertian serta menggunakan simbol-simbol.”29

28

Zikri Neni Iska, Psikologi: Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan, (Jakarta: Kizi
Brother’s, 2008), Cet. 2, h. 89
29
M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2007), h. 183

22

Kedua, perhatian, yaitu keaktifan jiwa yang tertuju pada suatu
obyek. Untuk dapat menjamin prestasi belajar yang baik, maka siswa
harus dihadapkan pada obyek-obyek yang dapat menari perhatian siswa,
bila tidak maka perhatian siswa tidak akan terarah pada obyek yang
sedang dipelajarinya.
Ketiga, minat dan bakat. Minat diartikan sebagai kecenderungan
yang tetap untuk memperhatikan kegiatan belajar. Bakat adalah
kemampuan untuk belajar. Kemampuan ini baru akan terealisasi menjadi
kecakapan yang nyata setelah melalui proses belajar dan berlatih.
Keempat, motif dan motivasi. Motif diartikan sebagai daya upaya
yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam setiap diri
manusia pada umumnya mempunyai dua macam motif, yaitu motif yang
sudah ada dalam diri seseorang yang sewaktu-waktu akan muncul tanpa
ada pengaruh dari luar, disebut intrinsic motive. Motif lainnya adalah
motif yang datang dari luar, yakni karena ada pengaruh situasi
lingkungannya, motif ini disebut extrinsic motive. Motivasi adalah usahausaha untuk menyediakan kondisi-kondisi sehingga seseorang mau
melakukan sesuatu.30
Kelima, kognitif dan daya nalar. Pembahasan mengenai ini meliputi
tiga hal, diantaranya, persepsi, mengingat dan berpikir. Persepsi adalah
penginderaan terhadap suatu kesan yang timbul dala lingkungannya.
Mengingat adalah suatu aktivitas kognitif, dimana orang menyadari
bahwa pengetahuannya berasal dari masa yang lampau. Berpikir adalah
proses dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata. Jadi yang
membedakan satu siswa dengan siswa lainnya adalah kadar kekuatan
daya nalarnya.31

30
31

S. Nasution, Didaktik Asas-Asas Mengajar…, h. 73
Yudhi Munadi, Media Pembelajaran…, h. 29-30

23

b. Faktor Eksternal
1) Faktor Lingkungan
Kondisi lingkungan juga mempengaruhi proses dan prestasi belajar
siswa. Lingkungan ini dapat berupa lingkungan fisik atau alam dan dapat
berupa lingkungan sosial.32 Lingkungan alam, misalnya keadaan suhu,
kelembaban, dan sebagainya. Belajar pada tengah hari di ruang yang
memiliki ventilasi udara kurang tentunya akan berbeda belajar di pagi
hari yang udaranya masih segar dengan ruangan yang cukup mendukung.
Lingkungan sosial baik yang berwujud manusia maupun hal-hal
lainnya, juga dapat mempengaruhi proses dan prestasi belajar siswa.
Hirik pikuk lingkungan sosial seperti, suara mesin pabrik, lalu lintas,
gemuruhnya pasar dan lain-lain juga akan berpengaruh terhadap proses
dan prestasi belajar siswa.

2) Faktor Instrumental
Faktor

instrumental

penggunaannya

dirancang

adalah
sesuai

faktor
dengan

yang

keberadaan

prestasi

belajar

dan
yang

diharapkan. Faktor-faktor instrumental ini dapat berupa kurikulum,
sarana dan prasarana dan guru, yang jelas sangat besar pengaruhya dalam
proses dan prestasi belajar siswa karena faktor instrumental inilah yang
menentukan bagaimana proses belajar mengajar itu akar terjadi di dalam
diri si pelajar.33
Salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap prestasi belajar
siswa adalah guru. Guru dalam Islam adalah orang yang bertanggung
jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan seluruh
potensinya, baik potensi kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Guru
juga berarti orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan
pertolongan pada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya

Zikri Neni Iska, Psikologi…, h. 89
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), h. 107

32
33

24

agar mencapai tingkat kedewasaan, serta mampu berdiri sendiri dalam
memenuhi tugasnya sebagai hamba Allah SWT.
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utamanya mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan mengevaluasi
peserta didik. Oleh sebab itu guru diharuskan memiliki beberapa
kompetensi, diantaranya kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan
kompetensi profesional agar siswa memperoleh hasil belajar terbaik
sesuai harapan. Selain itu dalam rangka mengoptimalkan prestasi siswa,
guru dituntut untuk dapat meningkatkan kemampuan belajar pendidikan
agama Islam dengan jalan mengefektifkan proses pembelajaran.
Tindakan guru dalam mengatasi masalah ini adalah sebagai berikut:34
1.

Guru harus mampu menyusun perencanaan pembelajaran yang bijak.
Setiap

guru

harus

mengetahui

unsur-unsur

perencana

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1878 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 495 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 436 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 262 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 381 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 578 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 506 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 320 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 494 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 588 23