Protection policy and management of water resources based on voluntary approach in Hydropower Plants

KEBIJAKAN PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN
SUMBER DAYA AIR BERBASIS SUKARELA
DI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR

ZAKIYAH

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

ii

HALAMAN PERNYATAAN

Dengan ini penulis menyatakan bahwa Disertasi Perlindungan dan
Pengelolaan Sumber Daya Air Berbasis Sukarela di Pembangkit Listrik Tenaga
Air adalah karya penulis dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan
dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi
berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari
penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di
akhir Disertasi.

Bogor, Januari 2012
Zakiyah
P062040151

iii

ZAKIYAH, Protection Policy and Management of Water Resources Based on
Voluntary Approach in Hydropower Plants, Supervised by SURJONO H.
SUTJAHJO, BUNASOR SANIM and SUNARYA.

ABSTRACT

The main objective of this research was to formulate a voluntary-based
environmental management and protection policy at PLTA Saguling, Cirata,
Tanggari I dan II. The changes of land use was analyzed based on data image
from the satellite of Landsat-7 ETM. The results indicated that the area of forest at
up watershed of PLTA Saguling (17.12%) and of Cirata (18.87%) in 2001
decreased by respectively 5.62% and 5.03% in 2007. The decrease was only
0.0021% each year at PLTA Tanggari. The quality of water (inlet-outlet) was
described based on the T-test statistics that indicated there was no significant
change (α=0.005). The activity of PLTA did not add the load of water
contamination. The level of interests and power of the stakeholders was analyzed
using stakeholder analysis in which indicated that PLTA was the key stakeholder.
The result of legal review required PLTA to conduct the conservation of water
resources in accordance with the present regulations. Values of the environment
services of those water resources were approached by TEV showed that the value
of PLTA Saguling was Rp 885.95 billions; PLTA Cirata was Rp 1,669.50
billions; PLTA Tanggari was Rp 252.88 billions. The alternative policy was
analyzed using AHP showed incentive and disincentive policies as priority. The
dynamic model designed with the Powersim showed the projection of several
options of the future. A conceptual model of policy that indicated the relationships
of stakeholders, operational systems, financial supports, and policy implication in
order to reach the goals of water resources protection and management based on
voluntary approach at PLTA.
Keywords: voluntary approach, protection policy and management of water
resources, hydropower plant, conceptual model of voluntary policy.

iv

ZAKIYAH, Kebijakan Perlindungan dan Pengelolaan Sumberdaya Air Berbasis
Sukarela di Pembangkit Listrik Tenaga Air, dibawah bimbingan SURJONO
H.SUTJAHJO, BUNASOR SANIM and SUNARYA.

RINGKASAN
Kebijakan berbasis sukarela dalam perlindungan dan pengelolaan
lingkungan merupakan respon pragmatis organisasi (firma) atas kebutuhan publik
pada lingkungan hidup yang bersih dengan cara fleksibel (Higley et al 2001).
Pragmatis dalam suatu kebijakan tidak identik dengan oportunistik dan praktisisme, namun mengacu pada keharusan bahwa setiap ide merujuk pada
konsekuensi implementasinya, etis dan strategis untuk kepentingan publik bukan
elite (Nugroho 2011). Pendekatan sering disebut swa-regulasi, inisiatif sukarela,
kode sukarela, environmental charters, penjanjian sukarela, pengaturan
lingkungan negosiasi. Secara taksonomi pendekatan ini dikelompokkan ke dalam
tiga kelompok utama, yaitu (1) komitmen unilateral yang dibuat oleh pencemar,
(2) Perjanjian negosiasi antara institusi dan pihak yang berwenang, dan (3) skema
sukarela publik yang dikembangkan oleh lembaga publik. ISO 14001 menjadi
salah satu tool yang digunakan PLTA untuk menetapkan kebijakan dan
pengelolaan sumberdaya air sehingga pemanfaatannya tetap menjaga kepentingan
ekonomi, sosial, budaya, dan perlindungan serta pelestarian ekosistem.
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk merumuskan kebijakan
perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Tujuan
spesifik penelitian yaitu untuk: (1) menganalisis kondisi perubahan penggunaan
lahan dan kualitas sumberdaya air yang dimanfaatkan PLTA; (2) menganalisis
tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholder, serta landasan regulasi terkait
pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA; (3) menganalisis nilai
jasa lingkungan yang diberikan sumberdaya air PLTA secara berkelanjutan; dan
(4) merumuskan model kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air
berbasis sukarela di PLTA.
Kegiatan pengumpulan data penelitian di empat PLTA yaitu PLTA
Saguling, PLTA Cirata, PLTA Tanggari I dan PLTA Tanggari II yang di
laksanakan selama 14 bulan. Pemenuhan regulasi dilakukan dengan pendekatan
deskriptif atas parameter kualitas air pada inlet dan outlet PLTA kurun waktu
2005 – 2010. Selain itu analis perubahan lahan DAS hulu dengan GIS based
landsat image. Akseptasi stakeholder dianalisis dengan analisis stakeholder atas
dasar justifikasi pakar. Regulasi saat ini ditinjau dengan legal review. Nilai jasa
lingkungan dihitung dengan pendekatan Total Economic Value (TEV). Sedangkan
pemilihan alternatif kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air
berbasis sukarela dengan metode Analytical Hierarchy Process. Model dinamik
dibangun berdasarkan basis data dan basis knowledge. Semua hasil analisis
disintesis menjadi sebuah model konseptual kebijakan.
Hasil penelitian menunjukkan karakteristik sumberdaya air berupa kualitas,
kuantitas, dan kontinuitas air yang dimanfaatkan PLTA saat ini menurun
signifikan karena dipengaruhi perubahan penggunaan lahan pada DAS hulu
PLTA. Perubahan penggunaan lahan terjadi pada DAS hulu PLTA Cirata dan
Saguling (DAS Citarum) di Provinsi Jawa Barat, maupun DAS hulu PLTA

v

Tanggari I dan II (DAS Tondano) di Provinsi Sulawesi Utara dengan menganalisis
citra satelit pada tahun 2001 dan tahun 2007.
Luas hutan pada DAS Waduk Saguling menurun pesat dari 38.139,80 ha
(17,12%) pada tahun 2001 menjadi hanya 12.531 ha (5,62%) pada tahun 2007.
Sementara pada DAS Waduk Cirata, luas hutan juga menurun pesat dari 87.817
ha (18,87%) pada tahun 2001 menjadi hanya 23.392 ha (5,03%) pada tahun 2007.
Hal ini disebabkan terjadinya perubahan penggunaan lahan dari hutan terutama
menjadi perkebunan. Hasil interpretasi yang berbeda terjadi pada DAS Tondano,
dengan luas hutan sebesar 18.323 ha pada tahun 2001 berubah menjadi sekitar
18.098 ha pada tahun 2007. Hal ini menunjukkan terjadinya pengurangan luas
hutan hanya sekitar 0,0021% setiap tahunnya.
Kualitas air waduk di lokasi studi, secara umum masih memenuhi peraturan
pemerintah No. 82 Tahun 2001 (Kelas 4) yang berlaku untuk keperluan
operasional PLTA. Hasil uji-T menunjukkan tidak ada perubahan nyata (α=0,005)
kualitas air inlet dan outlet PLTA. Hal ini mengindikasikan bahwa kegiatan PLTA
tidak menambah beban pencemaran air. PLTA harus tetap menjaga kelestarian
sumberdaya air sesuai dengan UU Nomor 7 Tahun 2004 secara sukarela, guna
mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
Akseptasi stakeholder merupakan hal sangat krusial dalam penerapan
Sistem Manajemen Lingkungan di PLTA. PLTA belum memberi peluang yang
cukup bagi stakeholder terkait untuk memberi input baik dalam perencanaan
maupun pelaksanaan sistem manajemen lingkungan dan melaksanakan
komunikasi aktif dengan stakeholder kunci seperti Kementerian Kehutanan, PLN
(Persero), Perhutani/HTI, Dinas LH, Dinas Kehutanan, Dinas PU, Perusahaan
pengguna lainnya dan masyarakat. Selain itu masih terdapat stakeholder
pendukung (sekunder) dan stakeholder eksternal yang bisa diajak bekerja sama
dan diberdayakan untuk mendukung program perlindungan dan pengelolaan
sumberdaya air PLTA berbasis sukarela.
Terkait dengan pemenuhan peraturan perundang-undangan yang berlaku,
PLTA berkomitmen untuk melakukan konservasi sumberdaya air sesuai dengan
konsepsi yang terdapat dalam UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air,
PP Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumberdaya air, PP Nomor 82
Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air,
dan Kepmen LH Nomor KEP-02/MENKLH/I/1988 tentang Penetapan Baku Mutu
Lingkungan.
Penerapan SML di PLTA memiliki nilai ekonomi jasa lingkungan yang
cukup besar baik ditinjau dari nilai guna (use value), maupun nilai bukan guna
(non-use value). Besar nilai ekonomi total (TEV) per tahun dari penerapan
perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA (1)
Saguling mencapai Rp 885,95 milyar; (2) Cirata mencapai Rp 1.669,50 milyar; (3)
Tanggari mencapai Rp 252,88 milyar..
Alternatif desain kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air
berbasis sukarela pada PLTA yang diprioritaskan adalah insentif dan disinsentif.
Faktor yang paling berpengaruh untuk melaksanakan alternatif di atas adalah
tekanan pemerintah. Peran pemerintah sangat besar untuk implementasi kebijakan
pendekatan sukarela ini. Kebijakan insentif dan disinsentif merupakan tool
regulasi yang fundamental untuk mencapai tujuan perlindungan lingkungan
berbasis sukarela. Namun demikian untuk tujuan kontinuitas PLTA, pengakuan

vi

publik dan liabilitas lingkungan diperlukan alternatif desain kebijakan penguatan
infrastruktur kelembagaan dan institusional.
Model dinamik perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis
sukarela di PLTA bisa didesain berdasarkan basis data dan basis pengetahuan
(knowledge). Kinerja sumberdaya air PLTA menjadi basis data pemodelan
lingkungan (perubahan penggunaan lahan, kualitas, dan kuantitas air) serta nilai
guna jasa lingkungan. Pemilihan kebijakan prioritas menggunakan AHP, hasil
analisis stakeholder dan perhitungan nilai bukan guna jasa lingkungan menjadi
basis knowledge pemodelan. Model dinamik mampu memperlihatkan proyeksi
pilihan-pilihan kondisi di masa depan yang bisa dijadikan penunjang penetapan
kebijakan terkait perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air PLTA berbasis
sukarela.
Berdasarkan sistem input output dalam pengelolaan sumberdaya air terdapat
beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh aspek kepentingan lingkungan hidup,
kepentingan ekonomi, dan kepentingan sosial, serta aspek operasional. Kebijakan
dalam aspek operasional terdiri dari: (1) program pemenuhan regulasi; (2)
program penataan kelembagaan; serta (3) program implementasi insentif dan
disinsentif. Kebijakan dalam aspek sosial terdiri dari: (1) program peningkatan
komunikasi eksternal; dan (2) program pemberdayaan masyarakat. Kebijakan
dalam aspek ekonomi terdiri dari: (1) program peningkatan nilai jasa lingkungan
sumberdaya air. Kebijakan dalam aspek lingkungan terdiri dari: (1) program
perbaikan penggunaan lahan; dan (2) program peningkatan kualitas dan kuantitas
sumberdaya air.
Pengembangan infrastruktur kelembangaan dan institusional pendekatan
sukarela kelihatannya dapat meningkatkan pengakuan masyarakat termasuk
investor. Independensi lembaga dan transparansi pelaksanaan perlu dikembangkan
termasuk memberi ruang bagi stakeholder dalam pengembangan infrastuktur ini.
Sementara dari sisi pendanaan, pengelola PLTA berperan aktif sebagai leading
sektor secara operasional menyisihkan sebagain keuntungannya untuk
pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. Mekanisme yang digunakan
melalui biaya sukarela (Corporate Sosial Responsibility – CSR) maupun skema
pengelolaan nilai jasa lingkungan lainnya berdasarkan kesadaran dan partisipasi
semua pihak.
Keywords: pendekatan sukarela, perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air,
Pembangkit Listrik Tenaga Air, model konseptual kebijakan sukarela.

vii

©Hak cipta milik IPB, tahun 2012
Hak cipta dilindungi Undang-undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebut sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar
IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk laporan apapun tanpa izin IPB.

viii

KEBIJAKAN PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN
SUMBER DAYA AIR BERBASIS SUKARELA
DI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR

ZAKIYAH

Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor
Pada Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

ix

Penguji pada ujian tertutup :

Dr. Ir. Etty Riani, MS
Dr. Ir. M. Yanuar Jarwadi Purwanto, MS.

Penguji pada ujian terbuka :

Dr. Albert Napitupulu, SE., MSi.
Dr. Zulkifli Rangkuti, SE., MM., MSi.

x

Judul Disertasi

:

Kebijakan Perlindungan dan Pengelolaan Sumber Daya Air
Berbasis Sukarela di Pembangkit Listrik Tenaga Air

Nama

:

Zakiyah

NIM

:

P062040151

Program Studi

:

Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Disetujui
Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Surjono Hadi Sutjahjo, M.S.
Ketua

Drs. Sunarya, Ph.D
Anggota

Prof. Dr. Bunasor Sanim, M.Sc.
Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi PSL

Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, M.S
Tanggal Ujian : 7 Januari 2012

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Dahrul Syah,M.Sc.Agr
Tanggal Lulus : .....................

xi

PRAKATA
Seiring dengan meluasnya konteks pembangunan berkelanjutan yang
mengkaitkan korporasi dengan isu sosial dan lingkungan hingga penggunaan
sumberdaya dan teknologi, memunculkan pendekatan kebijakan perlindungan
lingkungan berbasis sukarela (voluntary approach) untuk membangun perilaku
industri dalam mengurangi polusi. Suatu pendekatan yang melengkapi
pendekatan berbasis hukum dan paradigma ekonomi yang telah dikenal
sebelumnya. Fleksibilitas yang ditawarkan menjadikan konsep ini sangat diminati
karena perusahaan dapat merespon dengan cepat kebutuhan stakeholder akan
perlindungan lingkungan melalui berbagai inovasi sesuai dengan skala dan
kondisi mereka tanpa mengabaikan perundang-undangan dan kewajiban yang
terkait bagi dirinya. Sekilas esensi ini menjadi bagian penting dari disertasi yang
berjudul “Kebijakan Perlindungan dan Pengelolaan Sumberdaya Air Berbasis
Sukarela di PLTA”.
Dalam proses pembuatan disertasi tidak terlepas dari proses diskusi
akademik yang intensif dengan para pembimbing yakni : Prof. Dr. Ir. Surjono
Hadi Sutjahjo, MS (Ketua), Prof. Dr. Ir. Bunasor Sanim, MSc. (anggota) dan Drs.
Sunarya, Ph.D (anggota). Para pembimbing telah memberikan masukan berupa
kritik dan saran terhadap disertasi dan memberi pengayaan terhadap
perkembangan intelektual penulis. Oleh karenanya tidak lupa penulis
mengucapkan terima kasih kepada mereka. Penulis juga mengucapkan terima
kasih kepada Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana,MS selaku Ketua Program Studi
Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan atas dukungan, motivasi dan
pelayanan akademik yang baik selama masa studi. Penulis mengucapkan terima
kasih kepada Rektor Institut Pertanian Bogor dan Dekan Sekolah Pascasarjana
IPB atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan
di IPB. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan Badan Standardisasi
Nasional yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan
studi ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Manajemen
PLTA Saguling, Manajemen PLTA Cirata, Manajemen PLTA Tanggari I, dan
Manajemen PLTA Tanggari II yang telah menerima penulis untuk melakukan
penelitian. Akhirnya penulis juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga
tercinta atas dorongan dan doanya yang tidak pernah putus siang-malam.
Semoga disertasi ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu
pengetahuan, pengembangan kebijakan perlindungan lingkungan dan peningkatan
kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang.
Bogor, Januari 2012
Zakiyah

xii

RIWAYAT HIDUP
Zakiyah dilahirkan di Jakarta pada tanggal 10 Oktober 1964 dari pasangan
H. Marzuki dan Hj. Maswa. Anak kesepuluh dari dua belas bersaudara ini
menikah dengan Prof. Dr. Dwi Purwoko, MS dan dikaruniai putri yang bernama
Nabila.
Pendidikan sarjana diselesaikan di Institut Teknologi Bandung Jurusan
Kimia. Pendidikan Strata 2 di selesaikan pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi
Ipwija. Kemudian melanjutkan Strata 3 di Institut Pertanian Bogor, Program Studi
Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Kini penulis bekerja di Badan
Standardisasi Nasional (BSN). Sebelum bergabung di BSN, penulis bekerja di
Pusat Standardisasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Selama bekerja
penulis pernah menjadi peneliti LIPI dan pernah dipercaya sebagai Kepala Pusat
Akreditasi Lembaga Sertifikasi BSN dan Direktur Akreditasi Lembaga Sertifikasi
Komite Akreditasi Nasional (KAN). Saat ini penulis menjadi Management
Representative BSN, dan di tingkat regional menjadi Quality Manager for
Pacific Accredition Cooperation (PAC). Penulis juga menjadi salah satu anggota
(expert) di ISO/CASCO WG 30 bidang Conformity Assessment - Personnel
Certification System.
Salah satu tulisan yang dimuat di jurnal terakreditasi terkait dengan disertasi
ini adalah Akseptasi stakeholder terhadap program lingkungan berbasis ISO
14001: studi kasus PLTA pada Majalah Berita Iptek (BIPT) LIPI edisi 49 Tahun
2011.

xiii

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xvi
DAFTAR TABEL ..........................................................................................xviii
DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... xix
I. PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2. Kerangka Pemikiran ................................................................................. 4
1.3. Perumusan Masalah.................................................................................. 6
1.4. Tujuan Penelitian ................................................................................... 10
1.5. Manfaat Penelitian ................................................................................. 10
1.6. Novelty (Kebaruan)................................................................................ 10
II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... 12
2.1. Kebijakan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan............................ 13
2.2. Kebijakan Perlindungan Lingkungan Pendekatan Sukarela..................... 17
2.3. Sistem Manajemen Lingkungan.............................................................. 20
2.3.1. Komitmen dan Kebijakan Lingkungan........................................ 22
2.3.2. Tinjauan Lingkungan Awal......................................................... 23
2.3.3. Perencanaan Kebijakan Lingkungan ........................................... 23
2.3.4. Implementasi Kebijakan Lingkungan.......................................... 25
2.3.5. Pengukuran dan Evaluasi ............................................................ 26
2.3.6. Audit dan Tinjauan Manajemen .................................................. 26
2.3.7. Komunikasi dan Pelaporan Lingkungan...................................... 27
2.4. Sumberdaya Air dan Pemanfaatanya ...................................................... 27
2.4.1. Jasa Lingkungan Sumberdaya Air............................................... 36
2.4.2. Metode Valuasi Ekonomi............................................................ 39
2.4.3. Metode Valuasi Kontingensi (Contingent Valuation Method) ..... 40
2.4.4. Metode Metode Biaya Perjalanan (Travel Cost Method) ............. 41
2.4.5. Perhitungan Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA................. 42
2.5. Pendekatan Sistem ................................................................................. 45

xiv

III. METODE PENELITIAN ............................................................................ 48
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian................................................................. 48
3.2. Tahapan Penelitian ................................................................................. 50
3.3. Penentuan Responden............................................................................. 53
3.3.1. Responden Pakar ........................................................................ 53
3.3.2. Responden Valuasi Ekonomi ...................................................... 53
3.4. Jenis dan Sumber Data ........................................................................... 54
3.5. Metode Pengumpulan Data..................................................................... 54
3.6. Metode Analisis Data ............................................................................. 56
3.6.1. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan ....................................... 56
3.6.2. Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value) ............................. 56
3.6.3. Analisis Legal Review................................................................. 57
3.6.4. Analisis Stakeholder ................................................................... 57
3.6.5. Analytical Hierarchy Process (AHP) .......................................... 59
3.6.6. Analisis Kebijakan...................................................................... 63
3.6.7. Analisis Sistem Dinamik............................................................. 64
3.6.8. Verifikasi dan Validasi ............................................................... 64
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................... 66
4.1. Gambaran Umum PLTA ........................................................................ 66
4.1.1. PLTA Saguling dan Cirata di Provinsi Jawa Barat ...................... 66
4.1.2. PLTA Tanggari I dan II di Provinsi Sulawesi Utara ................... 69
4.2. Perubahan Penggunaan Lahan di Wilayah PLTA.................................... 70
4.2.1. Perubahan Penggunaan Lahan pada DAS Citarum ...................... 70
4.2.2. Perubahan Penggunaan Lahan pada DAS Tondano ..................... 77
4.3. Kualitas Air Sungai di Wilayah PLTA.................................................... 81
4.3.1. Kualitas Air Sungai di PLTA Saguling dan Cirata ...................... 82
4.3.2. Kualitas Air Sungai di PLTA Tanggari I dan II........................... 85
4.4. Institusi dan Regulasi Terkait Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA......... 89
4.4.1. Stakeholder dalam Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA.............. 90
4.4.2. Tinjauan Regulasi dalam Pengelolaan Sumberdaya Air
PLTA ......................................................................................... 94
4.5. Nilai Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA ...................................... 97

xv

4.5.1. Nilai Ekonomi Total Jasa Lingkungan Sumberdaya Air
PLTA Saguling dan Cirata di Provinsi Jawa Barat ...................... 98
4.5.2. Nilai Ekonomi Total Jasa Lingkungan Sumberdaya Air
PLTA Tanggari I dan II di Provinsi Sulawesi Utara .................. 106
4.6. Prioritas Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA ...................... 109
4.6.1. Struktur AHP dan Nilai Eigen................................................... 110
4.6.2. Kontribusi Peran Setiap Level................................................... 113
4.6.3. Pengembangan Keputusan Alternatif Kebijakan ....................... 116
4.7. Model Dinamik Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA............................ 119
4.7.1. Sub-model Sosial...................................................................... 122
4.7.2. Sub-model Lingkungan............................................................. 123
4.7.3. Sub-model Ekonomi ................................................................. 124
4.7.4. Skenario Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA........................... 127
4.7.5. Validasi Model ......................................................................... 129
4.8. Model Konseptual Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA....... 131
4.9. Implikasi Kebijakan ............................................................................. 134
V. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 138
5.1. Kesimpulan .......................................................................................... 138
5.2. Saran.................................................................................................... 140
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 144

xvi

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1.

Kerangka pemikiran kebijakan perlindungan dan pengelolaan
sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA.................................................... 6

2.

Perumusan masalah perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air
berbasis sukarela di PLTA. ........................................................................... 8

3.

Model sistem manajemen lingkungan (Sumber: ISO 2004). ........................ 21

4.

Komponen SML dan interaksinya (Sumber: Cheremisinoff 2006) .............. 22

5.

Nilai ekonomi total ekosistem air (Kamer 2005). ........................................ 39

6.

Metode valuasi lingkungan (Sumber: Rianse 2010)..................................... 40

7.

Diagram input-output model perlindungan dan pengelolaan sumberdaya
air berbasis sukarela .................................................................................... 46

8.

Lokasi penelitian : (a) DAS PLTA Saguling dan (b) DAS PLTA Cirata di
Propinsi Jawa Barat..................................................................................... 49

9.

Lokasi penelitian PLTA Tanggari di Propinsi Sulawesi Utara ..................... 50

10. Tahapan pelaksanaan penelitian .................................................................. 52
11. Tingkat pengaruh dan kepentingan berbagai stakeholder............................. 58
12. Desain struktur hierarki analitik kebijakan perlindungan dan
pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela............................................. 60
13. Citra satelit pada DAS Citarum: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007 ............ 71
14. Penggunaan lahan DAS Saguling: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007. ........ 72
15. Penggunaan lahan DAS Cirata: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007.............. 73
16. Citra satelit pada DAS Tondano: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007 ........... 78
17. Penggunaan lahan DAS Tondano pada tahun 2001...................................... 78
18. Penggunaan lahan DAS Tondano pada tahun 2007...................................... 79
19. Nilai median konsentrasi COD di PLTA Tanggari I tahun 2005-2010 ......... 88
20. Nilai median konsentrasi COD di PLTA Tanggari II 2005-2010 ................. 88
21. Pemetaan para pemangku kepentingan PLTA berdasarkan tingkat
kepentingan dan pengaruhnya ..................................................................... 91
22. Struktur AHP dan nilai eigen pada hirarki model disain
kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela
di PLTA.................................................................................................... 112
23. Kontribusi faktor terhadap alternatif kebijakan.......................................... 113
24. Kontribusi aktor terhadap alternatif kebijakan. .......................................... 114

xvii

25. Kontribusi tujuan terhadap alternatif kebijakan. ........................................ 115
26. Pengambilan keputusan dengan cara histogram dalam penetapan
kebijakan perlindungan lingkungan sukarela di PLTA.............................. .116
27. Pengambilan keputusan dengan cara scatter plot dalam
penetapan kebijakan perlindungan lingkungan sukarela di PLTA ...............117
28. Diagram simpul kausal (causal loop) model pengelolaan sumberdaya air
di PLTA.................................................................................................. ..120
29. Stock flow diagram model pengelolaan sumberdaya air PLTA
berbasis sukarela ........................................................ ...............................121
30. Hasil simulasi jumlah penduduk................................................................ 122
31. Hasil simulasi perubahan penggunaan lahan ............................................. 123
32. Hasil simulasi nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air ........................ 125
33. Hasil simulasi nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air ............... 126
34. Hasil simulasi skenario penggunaan lahan................................................ 128
35. Perbandingan jumlah penduduk aktual dan simulasi.................................. 130
36. AME dari hasil validasi jumlah penduduk aktual dan simulasi .................. 131
37. Model konseptual pengelolaan sumberdaya air PLTA berbasis sukarela.... 133

xviii

DAFTAR TABEL
Halaman
1.

Asas perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup ................................ 15

2.

Matriks rangkuman metode penelitian ........................................................ 55

3.

Matriks perbandingan berpasangan berdasarkan skala Saaty ...................... 61

4.

Nilai indeks random ................................................................................... 62

5.

Perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Saguling........................... 74

6.

Perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Cirata .............................. 75

7.

Perubahan penggunaan lahan pada DAS Tondano....................................... 80

8.

Hasil uji T kualitas air di PLTA Saguling .................................................. 82

9.

Hasil uji T kualitas air di PLTA Cirata ........................................................ 83

10. Hasil uji T kualitas air di PLTA Tanggari I ................................................. 86
11. Hasil uji T kualitas di PLTA Tanggari II ..................................................... 87
12. Matrik analisis stakeholder perlindungan sumberdaya air di PLTA ............. 90
13. Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Saguling ........ 103
14. Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Cirata............. 106
15. Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Tanggari I dan
II............................................................................................................... 108
16. Nilai kontribusi faktor dalam menetapkan pilihan kebijakan perlindungan
dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela .................................... 113
17. Nilai kontribusi aktor dalam menetapkan pilihan kebijakan perlindungan
dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela .................................... 114
18. Nilai kontribusi tujuan dalam menetapkan pilihan kebijakan perlindungan
sumberdaya air berbasis sukarela .............................................................. 115
19. Nilai alternatif kebijakan perlindungan lingkungan sukarela...................... 116
20. Hasil simulasi Hasil simulasi perubahan penggunaan lahan....................... 124
21. Hasil simulasi nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air ......................... 125
22. Hasil simulasi nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air ............... 126
23. Hasil simulasi nilai total jasa lingkungan sumberdaya air .......................... 127
24. Hasil simulasi skenario perubahan penggunaan lahan................................ 129

xix

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1.

Kualitas Air Rata-rata Inlet dan Oulet di PLTA Saguling Tahun 20052010 ........................................................................................................... 15

2.

Kualitas Air Rata-rata Inlet dan Oulet di PLTA Cirata Tahun 2005-2010 ... 55

3.

Kualitas Air Rata-rata Inlet dan Oulet di PLTA Tanggari I Tahun 20052010 ........................................................................................................... 61

4.

Kualitas Air Rata-rata Inlet dan Oulet di PLTA Tanggari II Tahun 20052010 ........................................................................................................... 62

5.

Dinamika Sebaran Kualitas Air Inlet dan Oulet di PLTA Saguling Tahun
2005-2010................................................................................................... 74

6.

Dinamika Sebaran Kualitas Air Inlet dan Oulet di PLTA Cirata Tahun
2005-2010 .................................................................................................. 75

7.

Dinamika Sebaran Kualitas Air Inlet dan Oulet di PLTA Tanggari I
Tahun 2005-2010 ....................................................................................... 80

8.

Dinamika Sebaran Kualitas Air Inlet dan Oulet di PLTA Tanggari II
Tahun 2005-2010 ...................................................................................... 82

9.

Rincian Nilai Ekonomi Total (TEV) Jasa Lingkungan Sumberdaya Air ...... 83

10. Model Perlindungan dan Pengelolaan Sumberdaya air di PLTA Berbasis
Sukarela...................................................................................................... 86

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Konsep

pembangunan

berkelanjutan

yang

menekankan

perlunya

pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan secara berkesinambungan untuk
memenuhi kebutuhan antar generasi, mendorong dilakukannya penggunaan
sumberdaya secara efisien. Oleh karena itu dikembangkan sejumlah kebijakan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan yang

menguraikan prinsip dan

instrumen lingkungan sebagai acuan semua pihak yang berkepentingan (WCED
1987).
Kebijakan lingkungan yang awalnya dikembangkan dengan pendekatan
command and control dan hanya menjadi domain regulator, selanjutnya
menggunakan pendekatan baru yang lebih lentur untuk membangun perilaku
industri dalam mengurangi polusi (Hart 1997). Hal ini disebabkan berkembangnya
konteks pembangunan berkelanjutan yang mengkaitkan penggunaan sumberdaya
dan teknologi yang digunakan oleh perusahaan dengan isu sosial dan lingkungan.
Pendekatan ini disebut dengan pendekatan sukarela (voluntary approach) (Higley
et al. 2001; Potoski & Prakash 2003).
Kebijakan perlindungan lingkungan berbasis sukarela memberi kelenturan
kepada organisasi (industri, perusahaan, firma) untuk meningkatkan kinerja
lingkungan sesuai dengan aktivitas yang mereka lakukan (Barde 2000). Organisasi
dapat mengambil tindakan dengan segera untuk menyelesaikan masalah
lingkungan yang dihadapi, tanpa menunggu adanya aturan legislasi

atau

ketentuan pajak terlebih dahulu (OECD 2003).
Pendekatan ini diyakini mampu memberi manfaat bagi masyarakat, industri
dan pemerintah. Masyarakat memperoleh manfaat berupa lingkungan hidup yang
baik; organisasi dapat menekan biaya melalui penggunaan sumberdaya secara
efisien; dan pemerintah juga dapat mengurangi kegiatan pemantauan yang
akhirnya menurunkan beban administrasi maupun biaya penegakan hukum
(Potoski 2003; Uchida 2004).

2

Salah satu tool yang banyak diacu oleh organisasi untuk memperagakan
komitmen mereka terhadap perlindungan lingkungan sekaligus untuk memenuhi
peraturan perundang-undangan adalah standar sistem manajemen lingkungan yang
diterbitkan oleh International Organization for Standardization (ISO). Beberapa
penelitian dan kajian mengenai penerapan standar ini menunjukkan bahwa
organisasi dapat mengurangi polusi secara progresif dan memenuhi peraturan
perundangan-undangan yang lebih baik (Dasgupta et al. 2000); menghemat biaya
dan mencegah isu lingkungan yang tidak diharapkan (Wesly & Rogoff 2008);
membangun corporate image (Yusoff et al. 2010); dan program sukarela berbasis
standar mampu mendorong terciptanya rantai nilai korporasi multinasional antara
perusahaan dan pemasok (Prakash et al. 2006).
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebagai salah satu pihak yang
memanfaatkan sumberdaya air dalam kegiatan industrinya, sangat tergantung pada
ketersediaan sumberdaya air baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Oleh
karena itu, PLTA berkepentingan untuk melakukan berbagai tindakan
perlindungan lingkungan.

Saat ini, tindakan perlindungan dan pengelolaan

sumberdaya air di banyak PLTA masih banyak terpola pada ketentuan yang
terdapat di dalam aturan legislasi dan cenderung terbatas pada penyampaian
laporan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana
pemantauan lingkungan (RPL). Pengelolaan sumberdaya air oleh PLTA perlu
dilakukan dengan pendekatan sukarela, karena PLTA dapat mengkreasikan
tindakan perlindungan dan pengelolaan sumber daya air sesuai dengan keperluan
dan tanggungjawabnya. Selaku pemanfaat sumberdaya air, PLTA selain harus
memperhatikan persyaratan teknis juga memiliki tanggungjawab untuk menjaga
fungsi sumberdaya air setelah digunakannya agar tetap bisa dimanfaatkan oleh
pihak lain. Sumberdaya air harus dikelola sebagai sumberdaya yang terbatas dan
vulnarable, serta sumberdaya alam yang bernilai ekonomi.
Menurut Sanim (2011), UU No 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air
secara eksplisit merupakan kontrak sosial antara pemerintah dan warga negaranya,
serta menjamin akses setiap orang ke sumber air untuk mendapatkan air.
Sumberdaya air mempunyai fungsi sosial, lingkungan hidup, serta ekonomi yang
diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras. Hal ini menunjukkan bahwa

3

pemanfaataan dan peruntukan sumberdaya air lebih diprioritaskan untuk
kepentingan umum dari pada kepentingan individu. Fungsi lingkungan hidup
menempatkan

sumberdaya

sebagai

bagian dari ekosistem,

dan tempat

kelangsungan hidup flora dan fauna. Sedangkan fungsi ekonomi lebih
menekankan pada pendayagunaan air untuk menunjang kehidupan usaha.
Komitmen untuk mencegah terjadinya pencemaran, mengharuskan PLTA
untuk memastikan bahwa bahan baku (material) yang digunakannya memenuhi
ketentuan teknis maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku. PLTA
juga harus memastikan air yang dilepaskan ke badan sungai tidak mengurangi
fungsinya untuk dimanfaatkan pihak lainnya. Selain itu daya air yang dikonversi
menjadi energi listrik berasal dari air sungai yang tergolong barang publik yang
tidak dimiliki oleh siapapun, melainkan dalam bentuk kepemilikan bersama
(global common/common resources) dan memiliki nilai intrinsik yang harus
diasumsikan terbatas dan langka (Sanim 2011).
Berdasarkan paparan di atas, perlu dilakukan penelitian perlindungan dan
pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Inisiatif pengendalian
aspek lingkungan dari pemanfaatan sumberdaya air untuk mencegah dampak
negatif lingkungan, tidak hanya memberi manfaat bagi PLTA tetapi juga bagi
ekosistem dan stakeholder lainnya. PLTA harus memahami secara baik kondisi
sumberdaya air, serta pandangan dan tekanan stakeholder dalam pengembangan
kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela. Selain
itu, nilai jasa lingkungan sumberdaya air perlu dihitung guna meningkatkan
pemahaman pentingnya nilai ekonomi sumberdaya air. Penelitian ini diharapkan
dapat memberi gambaran kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air
berbasis sukarela di PLTA secara jelas untuk dipertimbangkan dalam
pengambilan kebijakan yang bisa mendorong pencapaian tujuan pembangunan
berkelanjutan.
Penelitian dirancang terhadap PLTA yang telah mendapat sertifikat ISO
14001 yang berada di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa dengan karakteristik
tekanan populasi penduduk, kebutuhan energi listrik, kapasitas produksi, dan jenis
bendung yang relatif berbeda. PLTA Saguling dan Cirata di Provinsi Jawa Barat
menjadi objek penelitian mewakili PLTA di Pulau Jawa, sementara PLTA

4

Tanggari I dan II di Provinsi Sulawesi Utara menjadi objek penelitian mewakili
PLTA di luar Pulau Jawa.
PLTA Saguling dan Cirata berada pada wilayah dengan tekanan populasi
dan kebutuhan energi tinggi, sehingga relatif berada pada lingkungan dengan
tingkat perubahan penggunaan lahan yang tinggi juga.

Selain itu, PLTA ini

memiliki kapasitas produksi yang cukup besar dan berada pada waduk yang
memiliki bendungan buatan dengan genangan relatif luas. Sementara PLTA
Tanggari I dan II berada pada wilayah dengan tekanan penduduk dan kebutuhan
energi yang relatif lebih rendah, sehingga berada pada lingkungan dengan tingkat
perubahan penggunaan lahan yang lebih rendah juga. PLTA ini juga merupakan
PLTA yang tidak berada di waduk, tetapi langsung di badan sungai dengan
mengalirkan langsung air sungai (run off river) ke dalam instalasi pembangkitan,
serta memiliki kapasitas produksi yang lebih kecil. Perbedaan karakteristik
tersebut diperkirakan memberikan perilaku sumberdaya alam yang relatif berbeda,
sehingga perlu dikaji pendekatan perlindungan dan pengelolaan lingkungannya.

1.2. Kerangka Pemikiran
Undang Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air menyatakan
bahwa “Sumberdaya air mempunyai fungsi sosial, lingkungan hidup, dan
ekonomi yang diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras”.

Pengelolaan

sumberdaya air perlu mempertimbangkan prinsip pendekatan holistik, yang
mengkaitkan pembangunan sosial dan ekonomi dengan perlindungan ekosistem
alam; pendekatan partisipasi yang melibatkan para pengguna, perencana dan
pembuat keputusan; serta mengakui hak asasi manusia untuk memperoleh akses
terhadap air dan sanitasi yang bersih dengan harga yang tinggi. Inisiatif sukarela
dalam perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air dapat memperkuat dan
mempercepat tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan, karena bergeraknya
semua komponen atau stakeholder secara sukarela untuk melindungi sumberdaya
air.
Meskipun secara teoritis total volume air di permukaan bumi relatif tetap,
dan air akan selalu ada karena air bersirkulasi secara berkesinambungan dari bumi
ke atmosfir dan kembali ke bumi ini relatif tetap. Namun ketersediaan air pada

5

tempat yang sesuai sepanjang waktu baik kuantitas maupun kualitas yang
memadai akan terancam jika dalam pengelolaannya tidak mengindahkan prinsip
pelestarian (Cunningham et al. 1999; Titienberg 2003) dan pertimbangan ekonomi
(Sanim 2011).
Pemanfaatan sumberdaya air yang tidak dikendalikan secara bijaksana dapat
menurunkan

kemampuan

sumberdaya

tersebut

dalam

memberikan

jasa

lingkungannya. Pemanfaatan sumberdaya air dan perubahan penggunaan lahan di
wilayah hulu menghasilkan dinamika kuantitas dan kualitas air. Tidak hanya
PLTA yang memperoleh implikasi dari kerusakan sumberdaya air tetapi juga
pemanfaat air sungai lainnya.
Secara umum, saat ini kondisi sumberdaya air pada PLTA di Jawa Barat
(Saguling dan Cirata) serta PLTA di Sulawesi Utara (Tanggari I dan II) terancam
oleh menurunnya kualitas dan kuantitas air akibat adanya perubahan penggunaan
lahan pada DAS hulu PLTA (Gambar 1). Untuk mengantisipasi hal tersebut dan
mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan, perlu dilakukan
pengelolaan sumberdaya air secara komprehensif.

Pengelolaan yang bersifat

komprehensif ini diharapkan mampu mendorong kebijakan yang bisa mendukung
perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air oleh PLTA berbasis sukarela.
Kondisi tersebut mendorong pengelola PLTA untuk meningkatkan
kepedulian

terhadap

pencapaian

kinerja

lingkungan

melalui

berbagai

pengendalian dampak lingkungan yang diakibatkannya sesuai dengan kebijakan
dan tujuan lingkungan mereka. Inisiatif sukarela dan pemenuhan amanat regulasi
tentang sumberdaya air diharapkan mampu menjadi solusi terhadap permasalahan
yang mengancam kelestarian sumberdaya air di PLTA.
Pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela ini bisa diterapkan PLTA
dengan melakukan komunikasi eksternal dengan seluruh pihak terkait
(stakeholder) untuk secara aktif bersama-sama melakukan program yang
mendukung pengelolaan sumberdaya air secara berkelanjutan. Program-program
tersebut antara lain perbaikan kelembagaan dan pelaksanaan regulasi berbasis
sukarela.

Kelembagaan yang kuat dengan dasar regulasi diharapkan mampu

berperan melakukan perbaikan kondisi lingkungan, khususnya penggunaan lahan
pada DAS hulu PLTA guna meningkatkan perbaikan kualitas dan kuantitas

6

sumberdaya air. Selain itu, perlu dilakukan inventarisasi, sosialisasi, edukasi dan
diseminasi tentang pentingnya nilai ekonomi jasa lingkungan sumberdaya air.

Gambar 1 Kerangka pemikiran kebijakan perlindungan dan pengelolaan
sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA.
Implementasi semua program tersebut diharapkan mampu mendukung
perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air dalam kerangka mencapai tujuan
pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan perumusan model
kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela oleh
PLTA melalui kajian yang mendalam dan komprehensif.

1.3. Perumusan Masalah
Air merupakan barang yang sangat esensial bagi keberlangsungan hidup
manusia dan makhluk hidup lainnya di planet ini. Air berfungsi penting bagi
budidaya pertanian, industri pembangkit tenaga listrik dan transportasi dan fungsi
sosial lainnya, dan semuanya berharap air memiliki nilai yang sangat tinggi
(Sanim 2011).

Seiring dengan bertambahkanya penduduk dan pembangunan

ekonomi, maka permintaan air menjadi terus meningkat. Sementara pasokan air

7

semakin kritis. Hal ini membawa konsekuensi fungsi dari air sering terganggu
(Fauzi 2004).
Pada sisi lain, pemanfaatan air sungai oleh banyak pihak (industri, rumah
tangga dan pertanian) membawa dampak terhadap kualitas air.

Umumnya

keluaran air yang berasal dari lokasi kegiatan tersebut langsung masuk ke dalam
daerah aliran sungai tanpa adanya suatu penyangga, baik berupa pengolahan
limbah rumah tangga, industri maupun pertanian. Jumlah keseimbangan bahan
juga berkontribusi pada tingkat polusi yang akan ditimbulkan oleh kegiatan
tersebut (Tjokrokusumo et al. 2000).
Pemanfaatan lahan di daerah hulu atau kawasan greenbelt, atau
penggundulan hutan berpengaruh terhadap infiltrasi dan aliran permukaan. Tanpa
adanya tetumbuhan di atas permukaan tanah, air akan mengalir lebih cepat secara
signifikan. Aliran dari lahan gundul umumnya lebih banyak membawa sedimen
(Indarto 2010). Erosi yang terjadi dengan adanya aliran permukaan yang terbawa
oleh sungai akhirnya masuk ke dalam waduk dan terendapkan pada dasar waduk,
lebih lanjut akan mempengaruhi debit air yang masuk. Permasalahan lain pada
sungai atau waduk adalah banyak sampah organik dan non organik baik dari
kegiatan KJA maupun perubahan fungsi lahan.
Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sangat tergantung pada ketersediaan
sumberdaya air dimana sumber air tersebut berada sehingga layak dalam jangka
panjang dan bisa mendukung kontinuitas operasional pembangkit tersebut (Afandi
2010). Ketersediaan air sungai yang masuk dan keluar dari aliran sungai sangat
mempengaruhi kontinuitas produksi listrik yang dihasilkannya. Korosi pada
instalasi pembangkit tenaga listrik sangat dipengaruhi oleh menurunnya kualitas
air dari faktor lingkungan di sekitar (fisika, kimia dan biologi). Korosi pada
instalasi pembangkit tenaga listrik telah terlihat pada turbin, pemutar poros,
radiator dan sistem pendingin yang terbuat dari logam. Apabila ini terjadi maka
biaya pemeliharaan semakin tinggi dan operasional pembangkit menjadi
terganggu (Putra 2010). Alur rumusan masalah dalam pengelolaan sumberdaya
air di PLTA tersebut disajikan dalam Gambar 2.

8

Gambar 2 Perumusan masalah perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air
berbasis sukarela di PLTA.
PLTA yang diteliti memanfaatkan aliran air (pasokan air dari air permukaan
dan air tanah) Sungai Citarum di Jawa Barat untuk PLTA Saguling dan PLTA
Cirata, dan aliran Sungai Tondano di Sulawesi Utara untuk PLTA Tanggari I dan
Tanggari II. Dalam kegiatan PLTA, energi potensial dari dam atau air terjun
diubah menjadi energi mekanik dengan bantuan turbin, dan selanjutnya menjadi
energi listrik dengan bantuan generator.
Keberadaan air sungai atau waduk menempati posisi sentral untuk
menjamin ketersediaan air dan sumber energi untuk pembangkit listrik guna
memenuhi kebutuhan dan menjamin aktivitas sosial, ekonomi dan pembangunan.
Pemanfaatan air oleh PLTA sebagai bahan baku untuk menghasilkan listrik, akan
memberikan

dampak

negatif

jika

pengelolaannya

tidak

mengindahkan

pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Sebagai salah satu aktor dalam

9

pemanfaatan sumberdaya air, keempat PLTA yang diteliti mengambil tindakan
perlindungan lingkungan secara proaktif melalui penerapan sistem manajemen
lingkungan. Suatu sistem yang menawarkan fleksibilitas yang bertanggungjawab
bagi perusahaan untuk menetapkan kebijakan dan program lingkungan sesuai
dengan sifat dan karakteristik PLTA, dan menggunakan pendekatan Plan–Do–
Check–Action (PDCA) untuk memperoleh hasil dan memberi keuntungan dalam
konteks sosial ekonomi secara optimal
PLTA yang telah menerapkan basis sukarela melakukan tindakan
perlindungan sumberdaya air secara terprogram agar tidak terjadi penurunan
kualitas air dan mempertahankan ketersediaan air yang dibutuhkannya. Kualitas
air harus

memenuhi peraturan perundangan yang ditetapkan pemerintah dan

ketetapan lain yang berlaku. Pemanfaatan sumberdaya air yang memiliki banyak
fungsi, memberi karakteristik unik bagi PLTA dalam penetapan program
lingkungannya. Program lingkungan PLTA tidak bisa berdiri sendiri, PLTA perlu
mempertimbangkan

masukan

dan

tanggapan

stakeholder.

Akseptabilitas

stakeholder akan mempercepat pencapaian target dan tujuan lingkungan PLTA.
Hal ini bisa didukung dengan melakukan inventarisasi dan perhitungan, serta
peningkatan pemahaman semua stakeholder tentang pentingnya nilai valuasi
ekonomi jasa lingkungan yang berasal dari pemanfaatan air. Dengan demikian
dari waktu ke waktu, perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air yang
dilakukannya akan memberikan benefit kepada PLTA dan lingkungan hidup
secara berkelanjutan.
Dari uraian diatas, permasalahan penelitian dirumuskan dalam bentuk
pertanyaan sebagai berikut :
1. Bagaimana kondisi perubahan penggunaan lahan, serta pengaruhnya terhadap
kualitas dan kuantitas sumberdaya air yang dimanfaatkan PLTA ?
2. Bagaimana tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholder, serta landasan
regulasi terkait pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA ?
3. Berapa bes

Dokumen yang terkait

Protection policy and management of water resources based on voluntary approach in Hydropower Plants