Protection policy and management of water resources based on voluntary approach in Hydropower Plants

(1)

DI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR

ZAKIYAH

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012


(2)

HALAMAN PERNYATAAN

Dengan ini penulis menyatakan bahwa Disertasi Perlindungan dan Pengelolaan Sumber Daya Air Berbasis Sukarela di Pembangkit Listrik Tenaga Air adalah karya penulis dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di akhir Disertasi.

Bogor, Januari 2012 Zakiyah P062040151


(3)

ZAKIYAH, Protection Policy and Management of Water Resources Based on Voluntary Approach in Hydropower Plants, Supervised by SURJONO H. SUTJAHJO, BUNASOR SANIM and SUNARYA.

ABSTRACT

The main objective of this research was to formulate a voluntary-based environmental management and protection policy at PLTA Saguling, Cirata, Tanggari I dan II. The changes of land use was analyzed based on data image from the satellite of Landsat-7 ETM. The results indicated that the area of forest at up watershed of PLTA Saguling (17.12%) and of Cirata (18.87%) in 2001 decreased by respectively 5.62% and 5.03% in 2007. The decrease was only 0.0021% each year at PLTA Tanggari. The quality of water (inlet-outlet) was described based on the T-test statistics that indicated there was no significant change (α=0.005). The activity of PLTA did not add the load of water contamination. The level of interests and power of the stakeholders was analyzed using stakeholder analysis in which indicated that PLTA was the key stakeholder. The result of legal review required PLTA to conduct the conservation of water resources in accordance with the present regulations. Values of the environment services of those water resources were approached by TEV showed that the value of PLTA Saguling was Rp 885.95 billions; PLTA Cirata was Rp 1,669.50 billions; PLTA Tanggari was Rp 252.88 billions. The alternative policy was analyzed using AHP showed incentive and disincentive policies as priority. The dynamic model designed with the Powersim showed the projection of several options of the future. A conceptual model of policy that indicated the relationships of stakeholders, operational systems, financial supports, and policy implication in order to reach the goals of water resources protection and management based on voluntary approach at PLTA.

Keywords: voluntary approach, protection policy and management of water resources, hydropower plant, conceptual model of voluntary policy.


(4)

ZAKIYAH, Kebijakan Perlindungan dan Pengelolaan Sumberdaya Air Berbasis Sukarela di Pembangkit Listrik Tenaga Air, dibawah bimbingan SURJONO H.SUTJAHJO, BUNASOR SANIM and SUNARYA.

RINGKASAN

Kebijakan berbasis sukarela dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan merupakan respon pragmatis organisasi (firma) atas kebutuhan publik pada lingkungan hidup yang bersih dengan cara fleksibel (Higley et al 2001). Pragmatis dalam suatu kebijakan tidak identik dengan oportunistik dan praktis-isme, namun mengacu pada keharusan bahwa setiap ide merujuk pada konsekuensi implementasinya, etis dan strategis untuk kepentingan publik bukan elite (Nugroho 2011). Pendekatan sering disebut swa-regulasi, inisiatif sukarela, kode sukarela, environmental charters, penjanjian sukarela, pengaturan lingkungan negosiasi. Secara taksonomi pendekatan ini dikelompokkan ke dalam tiga kelompok utama, yaitu (1) komitmen unilateral yang dibuat oleh pencemar, (2) Perjanjian negosiasi antara institusi dan pihak yang berwenang, dan (3) skema sukarela publik yang dikembangkan oleh lembaga publik. ISO 14001 menjadi salah satu tool yang digunakan PLTA untuk menetapkan kebijakan dan pengelolaan sumberdaya air sehingga pemanfaatannya tetap menjaga kepentingan ekonomi, sosial, budaya, dan perlindungan serta pelestarian ekosistem.

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk merumuskan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Tujuan spesifik penelitian yaitu untuk: (1) menganalisis kondisi perubahan penggunaan lahan dan kualitas sumberdaya air yang dimanfaatkan PLTA; (2) menganalisis tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholder, serta landasan regulasi terkait pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA; (3) menganalisis nilai jasa lingkungan yang diberikan sumberdaya air PLTA secara berkelanjutan; dan (4) merumuskan model kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA.

Kegiatan pengumpulan data penelitian di empat PLTA yaitu PLTA Saguling, PLTA Cirata, PLTA Tanggari I dan PLTA Tanggari II yang di laksanakan selama 14 bulan. Pemenuhan regulasi dilakukan dengan pendekatan deskriptif atas parameter kualitas air pada inlet dan outlet PLTA kurun waktu 2005 – 2010. Selain itu analis perubahan lahan DAS hulu dengan GIS based landsat image. Akseptasi stakeholder dianalisis dengan analisis stakeholder atas dasar justifikasi pakar. Regulasi saat ini ditinjau dengan legal review. Nilai jasa lingkungan dihitung dengan pendekatan Total Economic Value(TEV). Sedangkan pemilihan alternatif kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela dengan metode Analytical Hierarchy Process. Model dinamik dibangun berdasarkan basis data dan basis knowledge. Semua hasil analisis disintesis menjadi sebuah model konseptual kebijakan.

Hasil penelitian menunjukkan karakteristik sumberdaya air berupa kualitas, kuantitas, dan kontinuitas air yang dimanfaatkan PLTA saat ini menurun signifikan karena dipengaruhi perubahan penggunaan lahan pada DAS hulu PLTA. Perubahan penggunaan lahan terjadi pada DAS hulu PLTA Cirata dan Saguling (DAS Citarum) di Provinsi Jawa Barat, maupun DAS hulu PLTA


(5)

Tanggari I dan II (DAS Tondano) di Provinsi Sulawesi Utara dengan menganalisis citra satelit pada tahun 2001 dan tahun 2007.

Luas hutan pada DAS Waduk Saguling menurun pesat dari 38.139,80 ha (17,12%) pada tahun 2001 menjadi hanya 12.531 ha (5,62%) pada tahun 2007. Sementara pada DAS Waduk Cirata, luas hutan juga menurun pesat dari 87.817 ha (18,87%) pada tahun 2001 menjadi hanya 23.392 ha (5,03%) pada tahun 2007. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan penggunaan lahan dari hutan terutama menjadi perkebunan. Hasil interpretasi yang berbeda terjadi pada DAS Tondano, dengan luas hutan sebesar 18.323 ha pada tahun 2001 berubah menjadi sekitar 18.098 ha pada tahun 2007. Hal ini menunjukkan terjadinya pengurangan luas hutan hanya sekitar 0,0021% setiap tahunnya.

Kualitas air waduk di lokasi studi, secara umum masih memenuhi peraturan pemerintah No. 82 Tahun 2001 (Kelas 4) yang berlaku untuk keperluan operasional PLTA. Hasil uji-T menunjukkan tidak ada perubahan nyata (α=0,005) kualitas air inlet dan outlet PLTA. Hal ini mengindikasikan bahwa kegiatan PLTA tidak menambah beban pencemaran air. PLTA harus tetap menjaga kelestarian sumberdaya air sesuai dengan UU Nomor 7 Tahun 2004 secara sukarela, guna mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Akseptasi stakeholder merupakan hal sangat krusial dalam penerapan Sistem Manajemen Lingkungan di PLTA. PLTA belum memberi peluang yang cukup bagi stakeholder terkait untuk memberi input baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan sistem manajemen lingkungan dan melaksanakan komunikasi aktif dengan stakeholderkunci seperti Kementerian Kehutanan, PLN (Persero), Perhutani/HTI, Dinas LH, Dinas Kehutanan, Dinas PU, Perusahaan pengguna lainnya dan masyarakat. Selain itu masih terdapat stakeholder pendukung (sekunder) dan stakeholder eksternal yang bisa diajak bekerja sama dan diberdayakan untuk mendukung program perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air PLTA berbasis sukarela.

Terkait dengan pemenuhan peraturan perundang-undangan yang berlaku, PLTA berkomitmen untuk melakukan konservasi sumberdaya air sesuai dengan konsepsi yang terdapat dalam UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air, PP Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumberdaya air, PP Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, dan Kepmen LH Nomor KEP-02/MENKLH/I/1988 tentang Penetapan Baku Mutu Lingkungan.

Penerapan SML di PLTA memiliki nilai ekonomi jasa lingkungan yang cukup besar baik ditinjau dari nilai guna (use value), maupun nilai bukan guna (non-use value). Besar nilai ekonomi total (TEV) per tahun dari penerapan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA (1) Saguling mencapai Rp 885,95 milyar; (2) Cirata mencapai Rp 1.669,50 milyar; (3) Tanggari mencapai Rp 252,88 milyar..

Alternatif desain kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela pada PLTA yang diprioritaskan adalah insentif dan disinsentif. Faktor yang paling berpengaruh untuk melaksanakan alternatif di atas adalah tekanan pemerintah. Peran pemerintah sangat besar untuk implementasi kebijakan pendekatan sukarela ini. Kebijakan insentif dan disinsentif merupakan tool regulasi yang fundamental untuk mencapai tujuan perlindungan lingkungan berbasis sukarela. Namun demikian untuk tujuan kontinuitas PLTA, pengakuan


(6)

publik dan liabilitas lingkungan diperlukan alternatif desain kebijakan penguatan infrastruktur kelembagaan dan institusional.

Model dinamik perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA bisa didesain berdasarkan basis data dan basis pengetahuan (knowledge). Kinerja sumberdaya air PLTA menjadi basis data pemodelan lingkungan (perubahan penggunaan lahan, kualitas, dan kuantitas air) serta nilai guna jasa lingkungan. Pemilihan kebijakan prioritas menggunakan AHP, hasil analisis stakeholder dan perhitungan nilai bukan guna jasa lingkungan menjadi basis knowledge pemodelan. Model dinamik mampu memperlihatkan proyeksi pilihan-pilihan kondisi di masa depan yang bisa dijadikan penunjang penetapan kebijakan terkait perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air PLTA berbasis sukarela.

Berdasarkan sistem input output dalam pengelolaan sumberdaya air terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh aspek kepentingan lingkungan hidup, kepentingan ekonomi, dan kepentingan sosial, serta aspek operasional. Kebijakan dalam aspek operasional terdiri dari: (1) program pemenuhan regulasi; (2) program penataan kelembagaan; serta (3) program implementasi insentif dan disinsentif. Kebijakan dalam aspek sosial terdiri dari: (1) program peningkatan komunikasi eksternal; dan (2) program pemberdayaan masyarakat. Kebijakan dalam aspek ekonomi terdiri dari: (1) program peningkatan nilai jasa lingkungan sumberdaya air. Kebijakan dalam aspek lingkungan terdiri dari: (1) program perbaikan penggunaan lahan; dan (2) program peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya air.

Pengembangan infrastruktur kelembangaan dan institusional pendekatan sukarela kelihatannya dapat meningkatkan pengakuan masyarakat termasuk investor. Independensi lembaga dan transparansi pelaksanaan perlu dikembangkan termasuk memberi ruang bagi stakeholder dalam pengembangan infrastuktur ini. Sementara dari sisi pendanaan, pengelola PLTA berperan aktif sebagai leading sektor secara operasional menyisihkan sebagain keuntungannya untuk pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. Mekanisme yang digunakan melalui biaya sukarela (Corporate Sosial Responsibility – CSR) maupun skema pengelolaan nilai jasa lingkungan lainnya berdasarkan kesadaran dan partisipasi semua pihak.

Keywords: pendekatan sukarela, perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air, Pembangkit Listrik Tenaga Air, model konseptual kebijakan sukarela.


(7)

©Hak cipta milik IPB, tahun 2012 Hak cipta dilindungi Undang-undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebut sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk laporan apapun tanpa izin IPB.


(8)

KEBIJAKAN PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN

SUMBER DAYA AIR BERBASIS SUKARELA

DI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR

ZAKIYAH

Disertasi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor

Pada Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012


(9)

Penguji pada ujian tertutup : Dr. Ir. Etty Riani, MS

Dr. Ir. M. Yanuar Jarwadi Purwanto, MS.

Penguji pada ujian terbuka : Dr. Albert Napitupulu, SE., MSi. Dr. Zulkifli Rangkuti, SE., MM., MSi.


(10)

Judul Disertasi : Kebijakan Perlindungan dan Pengelolaan Sumber Daya Air Berbasis Sukarela di Pembangkit Listrik Tenaga Air

Nama : Zakiyah

NIM : P062040151

Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Disetujui Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Surjono Hadi Sutjahjo, M.S. Ketua

Prof. Dr. Bunasor Sanim, M.Sc. Drs. Sunarya, Ph.D Anggota Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi PSL Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, M.S Dr. Ir. Dahrul Syah,M.Sc.Agr


(11)

PRAKATA

Seiring dengan meluasnya konteks pembangunan berkelanjutan yang mengkaitkan korporasi dengan isu sosial dan lingkungan hingga penggunaan sumberdaya dan teknologi, memunculkan pendekatan kebijakan perlindungan lingkungan berbasis sukarela (voluntary approach) untuk membangun perilaku industri dalam mengurangi polusi. Suatu pendekatan yang melengkapi pendekatan berbasis hukum dan paradigma ekonomi yang telah dikenal sebelumnya. Fleksibilitas yang ditawarkan menjadikan konsep ini sangat diminati karena perusahaan dapat merespon dengan cepat kebutuhan stakeholder akan perlindungan lingkungan melalui berbagai inovasi sesuai dengan skala dan kondisi mereka tanpa mengabaikan perundang-undangan dan kewajiban yang terkait bagi dirinya. Sekilas esensi ini menjadi bagian penting dari disertasi yang berjudul “Kebijakan Perlindungan dan Pengelolaan Sumberdaya Air Berbasis Sukarela di PLTA”.

Dalam proses pembuatan disertasi tidak terlepas dari proses diskusi akademik yang intensif dengan para pembimbing yakni : Prof. Dr. Ir. Surjono Hadi Sutjahjo, MS (Ketua), Prof. Dr. Ir. Bunasor Sanim, MSc. (anggota) dan Drs. Sunarya, Ph.D (anggota). Para pembimbing telah memberikan masukan berupa kritik dan saran terhadap disertasi dan memberi pengayaan terhadap perkembangan intelektual penulis. Oleh karenanya tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada mereka. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana,MS selaku Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan atas dukungan, motivasi dan pelayanan akademik yang baik selama masa studi. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Rektor Institut Pertanian Bogor dan Dekan Sekolah Pascasarjana IPB atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan di IPB. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan Badan Standardisasi Nasional yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan studi ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Manajemen PLTA Saguling, Manajemen PLTA Cirata, Manajemen PLTA Tanggari I, dan Manajemen PLTA Tanggari II yang telah menerima penulis untuk melakukan penelitian. Akhirnya penulis juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta atas dorongan dan doanya yang tidak pernah putus siang-malam.

Semoga disertasi ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, pengembangan kebijakan perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang.

Bogor, Januari 2012 Zakiyah


(12)

RIWAYAT HIDUP

Zakiyah dilahirkan di Jakarta pada tanggal 10 Oktober 1964 dari pasangan H. Marzuki dan Hj. Maswa. Anak kesepuluh dari dua belas bersaudara ini menikah dengan Prof. Dr. Dwi Purwoko, MS dan dikaruniai putri yang bernama Nabila.

Pendidikan sarjana diselesaikan di Institut Teknologi Bandung Jurusan Kimia. Pendidikan Strata 2 di selesaikan pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ipwija. Kemudian melanjutkan Strata 3 di Institut Pertanian Bogor, Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Kini penulis bekerja di Badan Standardisasi Nasional (BSN). Sebelum bergabung di BSN, penulis bekerja di Pusat Standardisasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Selama bekerja penulis pernah menjadi peneliti LIPI dan pernah dipercaya sebagai Kepala Pusat Akreditasi Lembaga Sertifikasi BSN dan Direktur Akreditasi Lembaga Sertifikasi Komite Akreditasi Nasional (KAN). Saat ini penulis menjadi Management Representative BSN, dan di tingkat regional menjadi Quality Manager for Pacific Accredition Cooperation (PAC). Penulis juga menjadi salah satu anggota (expert) di ISO/CASCO WG 30 bidang Conformity Assessment - Personnel Certification System.

Salah satu tulisan yang dimuat di jurnal terakreditasi terkait dengan disertasi ini adalah Akseptasi stakeholder terhadap program lingkungan berbasis ISO 14001: studi kasus PLTA pada Majalah Berita Iptek (BIPT) LIPI edisi 49 Tahun 2011.


(13)

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR TABEL ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN... xix

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Kerangka Pemikiran ... 4

1.3. Perumusan Masalah... 6

1.4. Tujuan Penelitian ... 10

1.5. Manfaat Penelitian ... 10

1.6. Novelty (Kebaruan)... 10

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 12

2.1. Kebijakan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan... 13

2.2. Kebijakan Perlindungan Lingkungan Pendekatan Sukarela... 17

2.3. Sistem Manajemen Lingkungan... 20

2.3.1. Komitmen dan Kebijakan Lingkungan... 22

2.3.2. Tinjauan Lingkungan Awal... 23

2.3.3. Perencanaan Kebijakan Lingkungan ... 23

2.3.4. Implementasi Kebijakan Lingkungan... 25

2.3.5. Pengukuran dan Evaluasi ... 26

2.3.6. Audit dan Tinjauan Manajemen ... 26

2.3.7. Komunikasi dan Pelaporan Lingkungan... 27

2.4. Sumberdaya Air dan Pemanfaatanya ... 27

2.4.1. Jasa Lingkungan Sumberdaya Air... 36

2.4.2. Metode Valuasi Ekonomi... 39

2.4.3. Metode Valuasi Kontingensi (Contingent Valuation Method) ... 40

2.4.4. Metode Metode Biaya Perjalanan (Travel Cost Method) ... 41

2.4.5. Perhitungan Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA... 42


(14)

III. METODE PENELITIAN ... 48

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian... 48

3.2. Tahapan Penelitian ... 50

3.3. Penentuan Responden... 53

3.3.1. Responden Pakar ... 53

3.3.2. Responden Valuasi Ekonomi ... 53

3.4. Jenis dan Sumber Data ... 54

3.5. Metode Pengumpulan Data... 54

3.6. Metode Analisis Data ... 56

3.6.1. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan ... 56

3.6.2. Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value) ... 56

3.6.3. Analisis Legal Review... 57

3.6.4. Analisis Stakeholder... 57

3.6.5. Analytical Hierarchy Process(AHP) ... 59

3.6.6. Analisis Kebijakan... 63

3.6.7. Analisis Sistem Dinamik... 64

3.6.8. Verifikasi dan Validasi ... 64

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 66

4.1. Gambaran Umum PLTA ... 66

4.1.1. PLTA Saguling dan Cirata di Provinsi Jawa Barat ... 66

4.1.2. PLTA Tanggari I dan II di Provinsi Sulawesi Utara ... 69

4.2. Perubahan Penggunaan Lahan di Wilayah PLTA... 70

4.2.1. Perubahan Penggunaan Lahan pada DAS Citarum ... 70

4.2.2. Perubahan Penggunaan Lahan pada DAS Tondano ... 77

4.3. Kualitas Air Sungai di Wilayah PLTA... 81

4.3.1. Kualitas Air Sungai di PLTA Saguling dan Cirata ... 82

4.3.2. Kualitas Air Sungai di PLTA Tanggari I dan II ... 85

4.4. Institusi dan Regulasi Terkait Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA... 89

4.4.1. Stakeholderdalam Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA... 90

4.4.2. Tinjauan Regulasi dalam Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA ... 94


(15)

4.5.1. Nilai Ekonomi Total Jasa Lingkungan Sumberdaya Air

PLTA Saguling dan Cirata di Provinsi Jawa Barat ... 98

4.5.2. Nilai Ekonomi Total Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA Tanggari I dan II di Provinsi Sulawesi Utara ... 106

4.6. Prioritas Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA ... 109

4.6.1. Struktur AHP dan Nilai Eigen... 110

4.6.2. Kontribusi Peran Setiap Level... 113

4.6.3. Pengembangan Keputusan Alternatif Kebijakan ... 116

4.7. Model Dinamik Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA... 119

4.7.1. Sub-model Sosial... 122

4.7.2. Sub-model Lingkungan... 123

4.7.3. Sub-model Ekonomi ... 124

4.7.4. Skenario Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA... 127

4.7.5. Validasi Model ... 129

4.8. Model Konseptual Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA... 131

4.9. Implikasi Kebijakan ... 134

V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 138

5.1. Kesimpulan ... 138

5.2. Saran ... 140


(16)

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Kerangka pemikiran kebijakan perlindungan dan pengelolaan

sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA... 6

2. Perumusan masalah perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. ... 8

3. Model sistem manajemen lingkungan (Sumber: ISO 2004). ... 21

4. Komponen SML dan interaksinya (Sumber: Cheremisinoff 2006) ... 22

5. Nilai ekonomi total ekosistem air (Kamer 2005). ... 39

6. Metode valuasi lingkungan (Sumber: Rianse 2010)... 40

7. Diagram input-output model perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela ... 46

8. Lokasi penelitian : (a) DAS PLTA Saguling dan (b) DAS PLTA Cirata di Propinsi Jawa Barat... 49

9. Lokasi penelitian PLTA Tanggari di Propinsi Sulawesi Utara ... 50

10. Tahapan pelaksanaan penelitian ... 52

11. Tingkat pengaruh dan kepentingan berbagai stakeholder... 58

12. Desain struktur hierarki analitik kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela... 60

13. Citra satelit pada DAS Citarum: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007 ... 71

14. Penggunaan lahan DAS Saguling: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007. ... 72

15. Penggunaan lahan DAS Cirata: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007... 73

16. Citra satelit pada DAS Tondano: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007 ... 78

17. Penggunaan lahan DAS Tondano pada tahun 2001... 78

18. Penggunaan lahan DAS Tondano pada tahun 2007... 79

19. Nilai median konsentrasi COD di PLTA Tanggari I tahun 2005-2010 ... 88

20. Nilai median konsentrasi COD di PLTA Tanggari II 2005-2010 ... 88

21. Pemetaan para pemangku kepentingan PLTA berdasarkan tingkat kepentingan dan pengaruhnya ... 91

22. Struktur AHP dan nilai eigen pada hirarki model disain kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA... 112

23. Kontribusi faktor terhadap alternatif kebijakan... 113


(17)

25. Kontribusi tujuan terhadap alternatif kebijakan. ... 115

26. Pengambilan keputusan dengan cara histogram dalam penetapan kebijakan perlindungan lingkungan sukarela di PLTA... .116

27. Pengambilan keputusan dengan cara scatter plot dalam penetapan kebijakan perlindungan lingkungan sukarela di PLTA ...117

28. Diagram simpul kausal (causal loop) model pengelolaan sumberdaya air di PLTA... ..120

29. Stock flow diagrammodel pengelolaan sumberdaya air PLTA berbasis sukarela ... ...121

30. Hasil simulasi jumlah penduduk... 122

31. Hasil simulasi perubahan penggunaan lahan ... 123

32. Hasil simulasi nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air ... 125

33. Hasil simulasi nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air ... 126

34. Hasil simulasi skenario penggunaan lahan... 128

35. Perbandingan jumlah penduduk aktual dan simulasi... 130

36. AME dari hasil validasi jumlah penduduk aktual dan simulasi ... 131


(18)

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Asas perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup ... 15

2. Matriks rangkuman metode penelitian ... 55

3. Matriks perbandingan berpasangan berdasarkan skala Saaty ... 61

4. Nilai indeks random ... 62

5. Perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Saguling... 74

6. Perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Cirata ... 75

7. Perubahan penggunaan lahan pada DAS Tondano... 80

8. Hasil uji T kualitas air di PLTA Saguling ... 82

9. Hasil uji T kualitas air di PLTA Cirata ... 83

10. Hasil uji T kualitas air di PLTA Tanggari I ... 86

11. Hasil uji T kualitas di PLTA Tanggari II ... 87

12. Matrik analisis stakeholderperlindungan sumberdaya air di PLTA ... 90

13. Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Saguling ... 103

14. Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Cirata... 106

15. Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Tanggari I dan II... 108

16. Nilai kontribusi faktor dalam menetapkan pilihan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela ... 113

17. Nilai kontribusi aktor dalam menetapkan pilihan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela ... 114

18. Nilai kontribusi tujuan dalam menetapkan pilihan kebijakan perlindungan sumberdaya air berbasis sukarela ... 115

19. Nilai alternatif kebijakan perlindungan lingkungan sukarela... 116

20. Hasil simulasi Hasil simulasi perubahan penggunaan lahan... 124

21. Hasil simulasi nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air ... 125

22. Hasil simulasi nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air ... 126

23. Hasil simulasi nilai total jasa lingkungan sumberdaya air ... 127


(19)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1. Kualitas Air Rata-rata Inlet dan Oulet di PLTA Saguling Tahun

2005-2010 ... 15 2. Kualitas Air Rata-rata Inlet dan Oulet di PLTA Cirata Tahun 2005-2010 ... 55 3. Kualitas Air Rata-rata Inlet dan Oulet di PLTA Tanggari I Tahun

2005-2010 ... 61 4. Kualitas Air Rata-rata Inlet dan Oulet di PLTA Tanggari II Tahun

2005-2010 ... 62 5. Dinamika Sebaran Kualitas Air Inlet dan Oulet di PLTA Saguling Tahun

2005-2010... 74 6. Dinamika Sebaran Kualitas Air Inlet dan Oulet di PLTA Cirata Tahun

2005-2010 ... 75 7. Dinamika Sebaran Kualitas Air Inlet dan Oulet di PLTA Tanggari I

Tahun 2005-2010 ... 80 8. Dinamika Sebaran Kualitas Air Inlet dan Oulet di PLTA Tanggari II

Tahun 2005-2010 ... 82 9. Rincian Nilai Ekonomi Total (TEV) Jasa Lingkungan Sumberdaya Air ... 83 10. Model Perlindungan dan Pengelolaan Sumberdaya air di PLTA Berbasis


(20)

1.1. Latar Belakang

Konsep pembangunan berkelanjutan yang menekankan perlunya pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan secara berkesinambungan untuk memenuhi kebutuhan antar generasi, mendorong dilakukannya penggunaan sumberdaya secara efisien. Oleh karena itu dikembangkan sejumlah kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan yang menguraikan prinsip dan instrumen lingkungan sebagai acuan semua pihak yang berkepentingan (WCED 1987).

Kebijakan lingkungan yang awalnya dikembangkan dengan pendekatan command and control dan hanya menjadi domain regulator, selanjutnya menggunakan pendekatan baru yang lebih lentur untuk membangun perilaku industri dalam mengurangi polusi (Hart 1997). Hal ini disebabkan berkembangnya konteks pembangunan berkelanjutan yang mengkaitkan penggunaan sumberdaya dan teknologi yang digunakan oleh perusahaan dengan isu sosial dan lingkungan. Pendekatan ini disebut dengan pendekatan sukarela (voluntary approach) (Higley et al.2001; Potoski & Prakash 2003).

Kebijakan perlindungan lingkungan berbasis sukarela memberi kelenturan kepada organisasi (industri, perusahaan, firma) untuk meningkatkan kinerja lingkungan sesuai dengan aktivitas yang mereka lakukan (Barde 2000). Organisasi dapat mengambil tindakan dengan segera untuk menyelesaikan masalah lingkungan yang dihadapi, tanpa menunggu adanya aturan legislasi atau ketentuan pajak terlebih dahulu (OECD 2003).

Pendekatan ini diyakini mampu memberi manfaat bagi masyarakat, industri dan pemerintah. Masyarakat memperoleh manfaat berupa lingkungan hidup yang baik; organisasi dapat menekan biaya melalui penggunaan sumberdaya secara efisien; dan pemerintah juga dapat mengurangi kegiatan pemantauan yang akhirnya menurunkan beban administrasi maupun biaya penegakan hukum (Potoski 2003; Uchida 2004).


(21)

Salah satu tool yang banyak diacu oleh organisasi untuk memperagakan komitmen mereka terhadap perlindungan lingkungan sekaligus untuk memenuhi peraturan perundang-undangan adalah standar sistem manajemen lingkungan yang diterbitkan oleh International Organization for Standardization (ISO). Beberapa penelitian dan kajian mengenai penerapan standar ini menunjukkan bahwa organisasi dapat mengurangi polusi secara progresif dan memenuhi peraturan perundangan-undangan yang lebih baik (Dasgupta et al. 2000); menghemat biaya dan mencegah isu lingkungan yang tidak diharapkan (Wesly & Rogoff 2008); membangun corporate image (Yusoffet al. 2010); dan program sukarela berbasis standar mampu mendorong terciptanya rantai nilai korporasi multinasional antara perusahaan dan pemasok (Prakash et al.2006).

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebagai salah satu pihak yang memanfaatkan sumberdaya air dalam kegiatan industrinya, sangat tergantung pada ketersediaan sumberdaya air baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Oleh karena itu, PLTA berkepentingan untuk melakukan berbagai tindakan perlindungan lingkungan. Saat ini, tindakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air di banyak PLTA masih banyak terpola pada ketentuan yang terdapat di dalam aturan legislasi dan cenderung terbatas pada penyampaian laporan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL). Pengelolaan sumberdaya air oleh PLTA perlu dilakukan dengan pendekatan sukarela, karena PLTA dapat mengkreasikan tindakan perlindungan dan pengelolaan sumber daya air sesuai dengan keperluan dan tanggungjawabnya. Selaku pemanfaat sumberdaya air, PLTA selain harus memperhatikan persyaratan teknis juga memiliki tanggungjawab untuk menjaga fungsi sumberdaya air setelah digunakannya agar tetap bisa dimanfaatkan oleh pihak lain. Sumberdaya air harus dikelola sebagai sumberdaya yang terbatas dan vulnarable, serta sumberdaya alam yang bernilai ekonomi.

Menurut Sanim (2011), UU No 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air secara eksplisit merupakan kontrak sosial antara pemerintah dan warga negaranya, serta menjamin akses setiap orang ke sumber air untuk mendapatkan air. Sumberdaya air mempunyai fungsi sosial, lingkungan hidup, serta ekonomi yang diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras. Hal ini menunjukkan bahwa


(22)

pemanfaataan dan peruntukan sumberdaya air lebih diprioritaskan untuk kepentingan umum dari pada kepentingan individu. Fungsi lingkungan hidup menempatkan sumberdaya sebagai bagian dari ekosistem, dan tempat kelangsungan hidup flora dan fauna. Sedangkan fungsi ekonomi lebih menekankan pada pendayagunaan air untuk menunjang kehidupan usaha.

Komitmen untuk mencegah terjadinya pencemaran, mengharuskan PLTA untuk memastikan bahwa bahan baku (material) yang digunakannya memenuhi ketentuan teknis maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku. PLTA juga harus memastikan air yang dilepaskan ke badan sungai tidak mengurangi fungsinya untuk dimanfaatkan pihak lainnya. Selain itu daya air yang dikonversi menjadi energi listrik berasal dari air sungai yang tergolong barang publik yang tidak dimiliki oleh siapapun, melainkan dalam bentuk kepemilikan bersama (global common/common resources) dan memiliki nilai intrinsik yang harus diasumsikan terbatas dan langka (Sanim 2011).

Berdasarkan paparan di atas, perlu dilakukan penelitian perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Inisiatif pengendalian aspek lingkungan dari pemanfaatan sumberdaya air untuk mencegah dampak negatif lingkungan, tidak hanya memberi manfaat bagi PLTA tetapi juga bagi ekosistem dan stakeholder lainnya. PLTA harus memahami secara baik kondisi sumberdaya air, serta pandangan dan tekanan stakeholder dalam pengembangan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela. Selain itu, nilai jasa lingkungan sumberdaya air perlu dihitung guna meningkatkan pemahaman pentingnya nilai ekonomi sumberdaya air. Penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA secara jelas untuk dipertimbangkan dalam pengambilan kebijakan yang bisa mendorong pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Penelitian dirancang terhadap PLTA yang telah mendapat sertifikat ISO 14001 yang berada di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa dengan karakteristik tekanan populasi penduduk, kebutuhan energi listrik, kapasitas produksi, dan jenis bendung yang relatif berbeda. PLTA Saguling dan Cirata di Provinsi Jawa Barat menjadi objek penelitian mewakili PLTA di Pulau Jawa, sementara PLTA


(23)

Tanggari I dan II di Provinsi Sulawesi Utara menjadi objek penelitian mewakili PLTA di luar Pulau Jawa.

PLTA Saguling dan Cirata berada pada wilayah dengan tekanan populasi dan kebutuhan energi tinggi, sehingga relatif berada pada lingkungan dengan tingkat perubahan penggunaan lahan yang tinggi juga. Selain itu, PLTA ini memiliki kapasitas produksi yang cukup besar dan berada pada waduk yang memiliki bendungan buatan dengan genangan relatif luas. Sementara PLTA Tanggari I dan II berada pada wilayah dengan tekanan penduduk dan kebutuhan energi yang relatif lebih rendah, sehingga berada pada lingkungan dengan tingkat perubahan penggunaan lahan yang lebih rendah juga. PLTA ini juga merupakan PLTA yang tidak berada di waduk, tetapi langsung di badan sungai dengan mengalirkan langsung air sungai (run off river) ke dalam instalasi pembangkitan, serta memiliki kapasitas produksi yang lebih kecil. Perbedaan karakteristik tersebut diperkirakan memberikan perilaku sumberdaya alam yang relatif berbeda, sehingga perlu dikaji pendekatan perlindungan dan pengelolaan lingkungannya.

1.2. Kerangka Pemikiran

Undang Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air menyatakan bahwa “Sumberdaya air mempunyai fungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi yang diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras”. Pengelolaan sumberdaya air perlu mempertimbangkan prinsip pendekatan holistik, yang mengkaitkan pembangunan sosial dan ekonomi dengan perlindungan ekosistem alam; pendekatan partisipasi yang melibatkan para pengguna, perencana dan pembuat keputusan; serta mengakui hak asasi manusia untuk memperoleh akses terhadap air dan sanitasi yang bersih dengan harga yang tinggi. Inisiatif sukarela dalam perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air dapat memperkuat dan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan, karena bergeraknya semua komponen atau stakeholdersecara sukarela untuk melindungi sumberdaya air.

Meskipun secara teoritis total volume air di permukaan bumi relatif tetap, dan air akan selalu ada karena air bersirkulasi secara berkesinambungan dari bumi ke atmosfir dan kembali ke bumi ini relatif tetap. Namun ketersediaan air pada


(24)

tempat yang sesuai sepanjang waktu baik kuantitas maupun kualitas yang memadai akan terancam jika dalam pengelolaannya tidak mengindahkan prinsip pelestarian (Cunninghamet al.1999; Titienberg 2003) dan pertimbangan ekonomi (Sanim 2011).

Pemanfaatan sumberdaya air yang tidak dikendalikan secara bijaksana dapat menurunkan kemampuan sumberdaya tersebut dalam memberikan jasa lingkungannya. Pemanfaatan sumberdaya air dan perubahan penggunaan lahan di wilayah hulu menghasilkan dinamika kuantitas dan kualitas air. Tidak hanya PLTA yang memperoleh implikasi dari kerusakan sumberdaya air tetapi juga pemanfaat air sungai lainnya.

Secara umum, saat ini kondisi sumberdaya air pada PLTA di Jawa Barat (Saguling dan Cirata) serta PLTA di Sulawesi Utara (Tanggari I dan II) terancam oleh menurunnya kualitas dan kuantitas air akibat adanya perubahan penggunaan lahan pada DAS hulu PLTA (Gambar 1). Untuk mengantisipasi hal tersebut dan mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan, perlu dilakukan pengelolaan sumberdaya air secara komprehensif. Pengelolaan yang bersifat komprehensif ini diharapkan mampu mendorong kebijakan yang bisa mendukung perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air oleh PLTA berbasis sukarela.

Kondisi tersebut mendorong pengelola PLTA untuk meningkatkan kepedulian terhadap pencapaian kinerja lingkungan melalui berbagai pengendalian dampak lingkungan yang diakibatkannya sesuai dengan kebijakan dan tujuan lingkungan mereka. Inisiatif sukarela dan pemenuhan amanat regulasi tentang sumberdaya air diharapkan mampu menjadi solusi terhadap permasalahan yang mengancam kelestarian sumberdaya air di PLTA.

Pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela ini bisa diterapkan PLTA dengan melakukan komunikasi eksternal dengan seluruh pihak terkait (stakeholder) untuk secara aktif bersama-sama melakukan program yang mendukung pengelolaan sumberdaya air secara berkelanjutan. Program-program tersebut antara lain perbaikan kelembagaan dan pelaksanaan regulasi berbasis sukarela. Kelembagaan yang kuat dengan dasar regulasi diharapkan mampu berperan melakukan perbaikan kondisi lingkungan, khususnya penggunaan lahan pada DAS hulu PLTA guna meningkatkan perbaikan kualitas dan kuantitas


(25)

sumberdaya air. Selain itu, perlu dilakukan inventarisasi, sosialisasi, edukasi dan diseminasi tentang pentingnya nilai ekonomi jasa lingkungan sumberdaya air.

Gambar 1 Kerangka pemikiran kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA.

Implementasi semua program tersebut diharapkan mampu mendukung perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air dalam kerangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan perumusan model kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela oleh PLTA melalui kajian yang mendalam dan komprehensif.

1.3. Perumusan Masalah

Air merupakan barang yang sangat esensial bagi keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di planet ini. Air berfungsi penting bagi budidaya pertanian, industri pembangkit tenaga listrik dan transportasi dan fungsi sosial lainnya, dan semuanya berharap air memiliki nilai yang sangat tinggi (Sanim 2011). Seiring dengan bertambahkanya penduduk dan pembangunan ekonomi, maka permintaan air menjadi terus meningkat. Sementara pasokan air


(26)

semakin kritis. Hal ini membawa konsekuensi fungsi dari air sering terganggu (Fauzi 2004).

Pada sisi lain, pemanfaatan air sungai oleh banyak pihak (industri, rumah tangga dan pertanian) membawa dampak terhadap kualitas air. Umumnya keluaran air yang berasal dari lokasi kegiatan tersebut langsung masuk ke dalam daerah aliran sungai tanpa adanya suatu penyangga, baik berupa pengolahan limbah rumah tangga, industri maupun pertanian. Jumlah keseimbangan bahan juga berkontribusi pada tingkat polusi yang akan ditimbulkan oleh kegiatan tersebut (Tjokrokusumo et al.2000).

Pemanfaatan lahan di daerah hulu atau kawasan greenbelt, atau penggundulan hutan berpengaruh terhadap infiltrasi dan aliran permukaan. Tanpa adanya tetumbuhan di atas permukaan tanah, air akan mengalir lebih cepat secara signifikan. Aliran dari lahan gundul umumnya lebih banyak membawa sedimen (Indarto 2010). Erosi yang terjadi dengan adanya aliran permukaan yang terbawa oleh sungai akhirnya masuk ke dalam waduk dan terendapkan pada dasar waduk, lebih lanjut akan mempengaruhi debit air yang masuk. Permasalahan lain pada sungai atau waduk adalah banyak sampah organik dan non organik baik dari kegiatan KJA maupun perubahan fungsi lahan.

Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sangat tergantung pada ketersediaan sumberdaya air dimana sumber air tersebut berada sehingga layak dalam jangka panjang dan bisa mendukung kontinuitas operasional pembangkit tersebut (Afandi 2010). Ketersediaan air sungai yang masuk dan keluar dari aliran sungai sangat mempengaruhi kontinuitas produksi listrik yang dihasilkannya. Korosi pada instalasi pembangkit tenaga listrik sangat dipengaruhi oleh menurunnya kualitas air dari faktor lingkungan di sekitar (fisika, kimia dan biologi). Korosi pada instalasi pembangkit tenaga listrik telah terlihat pada turbin, pemutar poros, radiator dan sistem pendingin yang terbuat dari logam. Apabila ini terjadi maka biaya pemeliharaan semakin tinggi dan operasional pembangkit menjadi terganggu (Putra 2010). Alur rumusan masalah dalam pengelolaan sumberdaya air di PLTA tersebut disajikan dalam Gambar 2.


(27)

Gambar 2 Perumusan masalah perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA.

PLTA yang diteliti memanfaatkan aliran air (pasokan air dari air permukaan dan air tanah) Sungai Citarum di Jawa Barat untuk PLTA Saguling dan PLTA Cirata, dan aliran Sungai Tondano di Sulawesi Utara untuk PLTA Tanggari I dan Tanggari II. Dalam kegiatan PLTA, energi potensial dari dam atau air terjun diubah menjadi energi mekanik dengan bantuan turbin, dan selanjutnya menjadi energi listrik dengan bantuan generator.

Keberadaan air sungai atau waduk menempati posisi sentral untuk menjamin ketersediaan air dan sumber energi untuk pembangkit listrik guna memenuhi kebutuhan dan menjamin aktivitas sosial, ekonomi dan pembangunan. Pemanfaatan air oleh PLTA sebagai bahan baku untuk menghasilkan listrik, akan memberikan dampak negatif jika pengelolaannya tidak mengindahkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Sebagai salah satu aktor dalam


(28)

pemanfaatan sumberdaya air, keempat PLTA yang diteliti mengambil tindakan perlindungan lingkungan secara proaktif melalui penerapan sistem manajemen lingkungan. Suatu sistem yang menawarkan fleksibilitas yang bertanggungjawab bagi perusahaan untuk menetapkan kebijakan dan program lingkungan sesuai dengan sifat dan karakteristik PLTA, dan menggunakan pendekatan Plan–Do– Check–Action (PDCA) untuk memperoleh hasil dan memberi keuntungan dalam konteks sosial ekonomi secara optimal

PLTA yang telah menerapkan basis sukarela melakukan tindakan perlindungan sumberdaya air secara terprogram agar tidak terjadi penurunan kualitas air dan mempertahankan ketersediaan air yang dibutuhkannya. Kualitas air harus memenuhi peraturan perundangan yang ditetapkan pemerintah dan ketetapan lain yang berlaku. Pemanfaatan sumberdaya air yang memiliki banyak fungsi, memberi karakteristik unik bagi PLTA dalam penetapan program lingkungannya. Program lingkungan PLTA tidak bisa berdiri sendiri, PLTA perlu mempertimbangkan masukan dan tanggapan stakeholder. Akseptabilitas stakeholder akan mempercepat pencapaian target dan tujuan lingkungan PLTA. Hal ini bisa didukung dengan melakukan inventarisasi dan perhitungan, serta peningkatan pemahaman semua stakeholder tentang pentingnya nilai valuasi ekonomi jasa lingkungan yang berasal dari pemanfaatan air. Dengan demikian dari waktu ke waktu, perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air yang dilakukannya akan memberikan benefit kepada PLTA dan lingkungan hidup secara berkelanjutan.

Dari uraian diatas, permasalahan penelitian dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimana kondisi perubahan penggunaan lahan, serta pengaruhnya terhadap kualitas dan kuantitas sumberdaya air yang dimanfaatkan PLTA ?

2. Bagaimana tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholder, serta landasan regulasi terkait pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA ?

3. Berapa besar nilai jasa lingkungan yang diberikan sumberdaya air PLTA secara berkelanjutan ?

4. Bagaimana model kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA ?


(29)

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk merumuskan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Untuk mencapai tujuan umum tersebut terdapat tujuan spesifik penelitian yaitu:

1. Menganalisis kondisi perubahan penggunaan lahan dan kualitas sumberdaya air yang dimanfaatkan PLTA;

2. Menganalisis tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholder, serta landasan regulasi terkait pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA;

3. Menganalisis nilai jasa lingkungan yang diberikan sumberdaya air PLTA secara berkelanjutan;

4. Merumuskan model kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA.

1.5. Manfaat Penelitian

Penelitian kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA memiliki nilai strategis dalam pembangunan berkelanjutan. Adapun manfaat penelitian sebagai berikut:

1. Menjadi acuan dalam penyusunan dan perencanaan pemanfaatan sumberdaya air secara efektif, berkeadilan dan berkelanjutan;

2. Sebagai pertimbangan pengambil keputusan dalam merumuskan dan menetapkan aturan maupun kebijakan perlindungan lingkungan;

3. Memperbanyak khasanah ilmiah di bidang perlindungan lingkungan dengan pendekataan sukarela.

1.6. Novelty(Kebaruan)

Desain perlindungan lingkungan selama ini masih menggunakan pendekatan mandatori (command and control) dimana peran regulator sangat dominan dan adanya keterbatasan ruang inovasi bagi perusahaan untuk melakukan perbaikan lingkungan. Sementara dalam penelitian ini menghasilkan desain kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan yang berbeda dari pendekatan mandatori. Penelitian ini menggunakan pendekatan sistem (system approach) yang menggabungkan tiga aspek secara bersama yaitu: (1) aspek perbaikan


(30)

karakteristik sumberdaya air; (2) aspek perbaikan kelembagaan dan pemenuhan regulasi; serta (3) aspek pemahaman nilai ekonomi jasa lingkungan sumberdaya air melalui komunikasi eksternal dengan pendekatan sukarela. Ketiga aspek ini menjadi pilar utama dalam desain model kebijakan berbasis sukarela yang mendudukkan peran perusahaan dan stakeholder secara bijaksana dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.


(31)

Pembangunan ekonomi seringkali menghadapi trade-off antara pemenuhan kebutuhan pembangunan dan upaya mempertahankan kelestarian lingkungan. Ketersediaan sumberdaya alam yang terbatas menyebabkan penyediaan barang dan jasa tidak akan bisa dilakukan secara terus menurus (Fauzi 2004). Isu keberlanjutan sudah dimulai tahun 1798 ketika Malthus mengkhawatirkan ketersedian lahan akibat ledakan penduduk Inggris tumbuh pesat. Kemudian semakin menjadi perhatian saat Meadow menyimpulkan dalam bukuthe Limit to Growth bahwa pertumbuhan ekonomi akan sangat dibatasi oleh ketersediaan sumberdaya alam (Meadow 1972).

Generasi kini yang memanfaatkan sumberdaya alam dan lingkungan memiliki kewajiban moral untuk menyisakan layanan sumberdaya alam untuk generasi mendatang, yaitu dengan tidak mengekstraksi sumberdaya alam yang menghilangkan kesempatan generasi mendatang untuk menikmati layanan yang sama. Keanekaragaman hayati yang dimiliki sumberdaya alam memiliki nilai ekologi yang sangat tinggi sehingga aktivitas ekonomi perlu memperhatikan fungsi ekologi tersebut. Pemanfaatan sumberdaya alam perlu memberi manfaat dan kesejahteraan antar generasi ( Permanet al. dalamFauzi 2004).

Paradigma pembangunan berkelanjutan yang mengkaitkan hubungan tujuan ekosistem, ekonomi dan sosial, menghendaki manusia untuk selalu mempertimbangkan resiko lingkungan, memberi value sumberdaya alam dan biaya sosial yang akan ditanggung masyarakat dan lingkungan ketika sumberdaya alam tersebut akan dimanfaatkan untuk tujuan pembangunan ekonomi. Konsepsi pembangunan berkelanjutan ini diperluas oleh World Business Council on Sustainable Development yang mengkaitkan peran korporasi dengan isu sosial, lingkungan, dan politik dengan memberi peluang kepada stakeholder untuk mendiskusikan penyelesaian problem pembangunan berkelanjutan secara bersama (Demirag et al.2005).

PLTA merupakan salah satu kegiatan yang mengggunakan sumberdaya air perlu mengkaitkan aktivitasnya dengan paradigma pembangunan berkelanjutan.


(32)

PLTA perlu memposisikan air sebagai sumberdaya alam yang terbatas dan memiliki nilai ekonomi. Oleh karena itu pemanfaatan sumberdaya air harus diikuti dengan upaya mencegah terjadinya kelangkaan air atau terbatasnya fungsi sumberdaya air.

PLTA bekerja dengan cara merubah energi potensial (dari dam atau air terjun) menjadi energi mekanik dengan bantuan turbin dan dari energi mekanik menjadi energi listrik dengan bantuan generator. Komponen dasar PLTA berupa dam, turbin, generator dan transformator. Dam berfungsi untuk menampung air dalam jumlah besar karena turbin memerlukan pasokan air yang cukup dan stabil. Untuk menggerakkan turbin agar bisa berputar harus memiliki debit air 0,004 – 0,01 m3/detik dan ketinggian air 10 - 22 meter dari permukaan turbin. Turbin air mempunyai fungsi untuk mengkonversi energi potensial air menjadi energi mekanik. Air akan memukul sudu-sudu dari turbin sehingga turbin berputar berupa putaran poros. Perputaran turbin dihubungkan ke generator dengan bantuan poros dan gerbox. Generator berfungsi mengkonversi energi mekanik berupa putaran poros turbin menjadi energi listrik. Transformator digunakan untuk mentransformasikan tegangan (V) yang dihasilkan generator dan selanjutnya didistribusikan ke konsumen.

2.1. Kebijakan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan

Perlindungan lingkungan dan sumberdaya alam disadari sangat penting untuk mencapai kemakmuran rakyat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari Undang Undang Dasar 1945 yang menegaskan penggunaan sumberdaya alam untuk kemakmuran rakyat generasi sekarang dan mendatang. Kemudian Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 menegaskan perlunya pengelolaan lingkungan hidup dilandasi oleh kebijaksanaan nasional yang terpadu dan menyeluruh. Untuk itu, lingkungan hidup wajib dikembangkan dan dilestarikan kemampuannya agar tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bangsa dan rakyat Indonesia serta makhluk lainnya, demi kelangsungan dan peningkatan kualitas hidup itu sendiri.

Menyadari pentingnya kontribusi dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perlindungan lingkungan, dilakukan penyempurnaan atas UU Nomor 4 Tahun 1982 menjadi UU Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan


(33)

Hidup.UU ini memantapkan tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. Seiring dengan perlunya jaminan atas kepastian hukum dan perlindungan hak setiap orang untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, sebagai bagian dari perlindungan terhadap keseluruhan ekosistem, maka pada tahun 2009 UU Nomor 23 Tahun 1997 tersebut disempurnakan menjadi UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam UU Nomor 32 Tahun 2009, didefinisikan sebagai upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan dan penegakan hukum. Lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

Asas untuk melaksanakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup terdiri atas tanggung jawab negara, kelestarian dan keberlanjutan, keserasian dan keseimbangan, keterpaduan, manfaat, kehati-hatian, keadilan, ekoregion, keanekaragaman hayati, pencemar membayar, partisipatif, kearifan lokal, tata kelola pemerintahan yang baik; dan otonomi daerah. Adapun penjelasan maksud dari setiap asas tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Gambaran di atas menunjukkan telah terjadinya pergeseran dalam pengembangan kebijakan perlindungan lingkungan dari mengatur pola hubungan antara pemerintah dan industri hingga memberi perlindungan kepada setiap individu untuk memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat. Awal tahun tujuh puluhan, kebijakan lingkungan difokuskan pada pengembangan prinsip lingkungan yang didesain sebagai landasan kebijakan lingkungan pada dunia usaha dan pengakuan internasional, dan pengembangan instrumen lingkungan untuk keperluan implementasi kebijakannya. Kebijakan perlindungan lingkungan umumnya ditetapkan langsung oleh pemerintah. Penetapan baku mutu


(34)

lingkungan, standar emisi, perizinan, pemberian lisensi, pajak, pembebanan biaya (pollution charges) digunakan sebagai instrumen (Barde 2000).

Tabel 1 Asas perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup

Asas Maksud asas

Tanggung jawab negara a) Negara menjamin pemanfaatan sumberdaya alam akan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup rakyat, baik generasi masa kini maupun generasi masa depan.

b) Negara menjamin hak warga atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

c) Negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.

Kelestarian dan keberlanjutan

Setiap orang memikul kewajiban dan tanggungjawab terhadap generasi mendatang dan terhadap sesamanya dalam satu generasi dengan melakukan upaya pelestarian daya dukung ekosistem dan memperbaiki kualitas lingkungan hidup.

Keserasian dan keseimbangan

Pemanfaatan lingkungan hidup harus memperhatikan berbagai aspek seperti kepentingan ekonomi, sosial, budaya, dan perlindungan serta pelestarian ekosistem.

Keterpaduan Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilakukan dengan memadukan berbagai unsur atau menyinergikan berbagai komponen terkait.

Manfaat Segala usaha dan/atau kegiatan pembangunan yang dilaksanakan disesuaikan dengan potensi sumberdaya alam dan lingkungan hidup untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan harkat manusia selaras dengan lingkungannya.

Kehati-hatian Ketidakpastian mengenai dampak suatu usaha dan/atau kegiatan karena keterbatasan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan merupakan alasan untuk menunda langkah-langkah meminimisasi atau menghindari ancaman terhadap pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.

Keadilan Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara, baik lintas daerah, lintas generasi maupun lintas gender. Ekoregion Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus

memperhatikan karakteristik sumberdaya alam, ekosistem, kondisi geografis, budaya masyarakat setempat dan kearifan lokal.

Keanekaragaman hayati Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan upaya terpadu untuk mempertaruhkan keberadaan, keragaman, dan keberlanjutan sumber daya alam hewani yang bersama dengan unsur nonhayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem.


(35)

Tabel 1 lanjutan

Asas Maksud asas

Pencemar membayar Setiap penanggungjawab yang usaha dan/atau kegiatannya menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup wajib menanggung biaya pemulihan lingkungan.

Partisipatif Setiap anggota masyarakat didorong untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kearifan lokal Dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat.

Tata kelola pemerintahan yang baik

Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dijiwai oleh prinsip partisipasi, transparansi, akuntabilitas, efisiensi, dan keadilan.

Otonomi daerah Pemerintah dan pemerintah daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dengan memperhatikan kekhususan dan keragamaan daerah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sumber : UU No. 32/2009

Untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan, terdapat tiga pendekatan kebijakan lingkungan yang digunakan secara umum yaitu pendekatan negosiasi langsung dengan pihak yang bermasalah, pendekatan hukum (command and control) dan pendekatan ekonomi-mekanisme pasar.

Pendekatan negosiasi langsung merupakan cara yang paling sederhana untuk menciptakan efisiensi. Pendekatan ini dapat berjalan dengan baik apabila hak kepemilikan telah didefinisikan dengan jelas. Ketidakjelasan hak kepemilikan akan memungkinkan timbulnya konflik kepentingan (Coase dalamYakin 2004).

Pendekatan hukum atau dikenal dengan command and control approach merupakan pendekatan yang paling umum digunakan oleh lembaga pemerintah. Pemerintah menetapkan standar baku untuk proses, peralatan, dan emisi yang harus ditaati oleh pencemar dan mewajibkan perusahaan untuk melakukan tindakan perlindungan lingkungan. Jika perusahaan tidak memenuhi atau melanggar akan dikenai denda di pengadilan. Pelaksanaan kebijakan ini memerlukan ketentuan dan persyaratan administratif, ketersediaan infrastruktur, dan biaya yang sangat besar. Umumnya biaya perlindungan lingkungan diiringi


(36)

dengan menaikkan harga produk, sehingga konsumen ikut terbebani secara tidak langsung (Barde 2000; Thomas 2003). Meskipun pendekatan hukum merupakan alat efektif untuk mencegah kerusakan lingkungan, pendekatan ini hanya memungkinkan terjadinya interaksi pemerintah dan industri, belum memperhatikan kekuatan masyarakat serta pasar (Afsah et al.1996).

Pendekatan paradigma ekonomi atau sering disebut market instruments berargumen bahwa degradasi lingkungan terjadi akibat pasar tidak memberi nilai (value) atas jasa lingkungan. Kelangkaan tidak dihargai sebagai aset yang harus digunakan secara efisien. Pendekatan ini memasukkan konsep ekonomi seperti pembebanan pajak atau ongkos atas jumlah polusi per unit waktu yang dapat diserap. Pasar yang didalamnya ada masyarakat dan konsumen menjadi aktor untuk memberi tekanan perlunya perlindungan lingkungan atas pengelolaan dan produk perusahaan. Perusahaan menggunakan sumberdaya alam secara efisien dan menerapkan teknologi terbaik untuk mengendalikan pencemaran. Pendekatan ini dinilai lebih mampu mendorong pencegahan polusi yang lebih fleksibel dan ekonomis (Barde 2000).

2.2 Kebijakan Perlindungan Lingkungan Pendekatan Sukarela

Pendekatan hukum dan mekanisme pasar dinilai memiliki kelemahan secara substansial untuk perlindungan lingkungan. Pembatasan regulasi dapat mengurangi kemampuan perusahan untuk merespon dengan cepat tantangan baru di bidang pengembangan proses produksi dan produk. Sementara regulator menjadi lebih terbebani biaya. Ketidaklenturan dan tingginya biaya administrasi yang ditemui saat penerapan pendekatan di atas, memunculkan bentuk kebijakan baru yang dilandasi dengan pendekatan sukarela (OECD 2003, Arimura et al. 2007).

Pendekatan sukarela (voluntary approaches) bukanlah produk intervensi pemerintah atau teori ekonomi. Ia merupakan respon pragmatis atas kebutuhan cara yang lebih fleksibel untuk melindungi perhatian publik terhadap lingkungan yang bersih (Higley et al. 2001). Perusahaan dapat mengambil tindakan dengan segera untuk menyelesaikan masalah lingkungan yang dihadapi, tanpa menunggu adanya aturan legislasi atau ketentuan pajak (OECD 2003). Pendekatan ini


(37)

dimaksudkan untuk lebih responsif membangun perilaku industri dalam mengurangi Polusi (Higley et al. 2001; Potoski & Prakash 2003). Pendekatan sukarela sering disebut sebagai “generasi mendatang dalam kebijakan lingkungan” (Esty et al. 1997).

Sebagai instrumen kebijakan, inisiatif sukarela semakin luas digunakan oleh pemerintah maupun organisasi non pemerintah terutama di Eropa. Perkembangan pendekatan ini didorong oleh kepentingan publik dan meningkatnya kesadaran produsen, konsumen dan shareholder terhadap pembangunan berkelanjutan dan sekaligus menjadi tindakan yang membedakan proses produksi dan produk mereka di pasar (APEC 2005).

Inisiatif sukarela merupakan pelengkap (complement) yang penting dalam kebijakan dan tindakan yang diregulasikan (regulatory action) baik di bidang sosial maupun lingkungan. Ia dapat didesain oleh perusahaan/industri dan diimplementasikan oleh berbagai stakeholder, termasuk pemerintah, serikat dagang dan lembaga swadaya masyarakat (APEC 2005). Beberapa istilah inisiatif sukarela antara lain skema sertifikasi, perjanjian sukarela (voluntary agreement), aturan pelaksanaan (code of conduct), audit lingkungan dan sosial, skema tangung jawab sosial korporasi dan skema perdagangan yang fair (Higley et al.2001).

Tindakan inisiatif perlindungan lingkungan yang dilakukan disesuaikan dengan kebijakan dan tata kelola yang baik (good governance) yang dianut perusahaan, industri atau sektor. Tindakan ini harus memperhatikan penciptaan hubungan yang lebih kooperatif antara pemerintah, industri dan partisipasi pihak ketiga lainnya. Peningkatan kinerja lingkungan dapat melebihi (beyond) ketentuan dan peraturan perundang-undangan ditetapkan oleh pemerintah dan bisa menjadi alternatif legislasi (RNMISD 1998; Higley et al.2001).

Di beberapa negara, program ini berkembang dengan baik karena pemerintah mengintervensi desain dan implementasinya melalui penyediaan sarana seperti insentif keuangan, bantuan teknis, hak pemantauan, maupun dengan menetapkan regulasi yang memaksa mereka untuk berpartisipasi. Kolaborasi dengan stakeholder (non-industri) dan mekanisme pemantauan sangat diperlukan untuk menjaga kredibilitas dan memberi benefit kepada seluruh aktor yang terlibat dalam inisiatif ini (RNMISD 1998).


(38)

Secara taksonomi pendekatan sukarela dibagi ke dalam tiga kelompok utama, yaitu komitmen unilateral yang dibuat oleh pencemar, perjanjian resmi yang dinegosiasi antara industri dengan pihak yang berwenang, dan skema sukarela publik yang dikembangkan oleh badan lingkungan (RNMISD 1998; Higley et al.2001).

Komitmen unilateral merupakan program peningkatan lingkungan yang dibangun oleh perusahaan dan dikomunikasikan kepada stakeholder-nya. Sebagai contoh program “Responsible Care” yang diinisiasi oleh Industri Kimia Canada merupakan tipe ini. Setiap peserta harus mengirimkan rencana lingkungannya untuk diverifikasi pemenuhannya oleh komite eksternal. Komite Eksternal terdiri atas para ahli di bidang industri dan wakil masyarakat. Hasil monitoring disampaikan kepada publik. Contoh lain adalah penerapan sistem manajemen lingkungan (SML) di perusahaan untuk meningkatkan kinerja lingkungan (Higley et al. 2001). SML juga digunakan sebagai tool oleh negara negara Organization foe Economic Co-operation and Development (OECD) untuk memberi bantuan teknis dan pengakuan publik dalam kebijakan lingkungan (Uchida 2004).

Pada skema sukarela publik, pihak yang berwenang menetapkan seperangkat standar mengenai proses dan prosedur yang harus diikuti, atau target yang harus dicapai. Perusahaan setuju untuk memenuhi target tersebut. Contoh penerapan skema ini adalah kesesuaian dengan standar Eco-management and Auditing Scheme (EMAS) Uni Eropa. Perusahaan harus memiliki kebijakan lingkungan, meninjau aspek lingkungan di semua lokasi, menetapkan dan menerapkan program lingkungan, serta melakukan tinjauan kebijakan dan memverifikasi pemenuhan persyaratan tersebut (RNMISD 1998; Higley et al. 2001).

Perjanjian negosiasi dilakukan antara perusahaan dengan pihak yang berwenang (pemerintah) untuk memenuhi target lingkungan yang ditetapkan dalam periode waktu tertentu. Dalam perjanjian negosiasi ini kedua pihak berperan aktif (RNMISD 1998; Higley et al.2001).

Pendekatan berbasis sukarela juga memiliki kelemahan, yaitu jika perusahaan tidak memiliki sistem pengendalian lingkungan yang tepat dapat memungkinkan adanya Free-riding yang akan memanfaatkan peluang untuk tidak


(39)

memasukkan kewajiban perusahaan untuk memenuhi persyaratan regulasi atau kewajiban pajak maupun tindakan kolektif yang sudah dipersyaratkan. Selain itu perusahaan bisa melakukan negosiasi dalam proses perumusan dan penerapan regulasi untuk keuntungan mereka. Ketiadaan regulasi akan menyebabkan masyarakat menanggung biaya sosial atau lingkungan. Bila hal ini terjadi, maka pendekatan sukarela memberi risiko akan terjadinya pelaksanaan regulasi menurut keinginan mereka (regulatory capture) (RNMISD 1998).

Keterbukaan dan transparansi sangat krusial untuk mengurangi kelemahan pendekatan sukarela, sehingga stakeholder/masyarakat dapat berpartisipasi dan memberi umpan balik. Keterlibatan stakeholder memberi peluang tercapainya tujuan dan sasaran lingkungan yang melebihi peraturan yang ditetapkan. Selain itu, untuk menjamin efektivitas diperlukan sistem pemantauan dan pencegahan, serta struktur kelembagaan pendekatan sukarela (RNMISD 1998).

Pemantauan dapat dilakukan oleh pemerintah atau lembaga independen. Hasil pemantauan disampaikan kepada pihak berwenang dan publik secara terbuka. Hasil pemantauan ini menjadi informasi bagi pemerintah untuk memfasilitasi tindakan perbaikan yang diperlukan. Sanksi dapat diberikan apabila terdapat ketidaksesuaian dengan isi perjanjian sukarela. Bentuk sanksi bisa melalui pencabutan subsidi atau dikeluarkan dari para pihak yang berperanserta. Sanksi perlu dicantumkan dalam perundang-undangan atau dimasukkan dalam perjanjian tersebut.

Semua inisiatif sukarela harus mengatur liabilitas untuk menanggung ganti rugi atas kerugian yang diterima oleh pihak lain. Perusahaan yang terbukti melakukan kerusakan secara sengaja atau lalai dapat dikenakan aturan liabilitas ini. Situasi yang berbeda dapat terjadi jika kerusakan terjadi meskipun perusahaan telah memenuhi seluruh perjanjian sukarela. Dalam hal ini pihak pemerintah perlu segera meninjau perjanjian dan mencari solusi yang efektif.

2.3 Sistem Manajemen Lingkungan

Salah satu tool untuk melaksanakan tindakan sukarela diperkenalkannya standar Sistem Manajemen Lingkungan (SML). Secara tipikal, SML terdiri atas


(40)

penetapan, implementasi dan tinjauan kebijakan lingkungan yang diarahkan untuk mengurangi dampak lingkungan akibat operasi yang dilakukan perusahaan (ISO 2004; Arimura et al.2007).

Metodologi implementasi sistem manajemen lingkungan dilakukan dengan Plan-Do-Check-Act (PDCA) suatu model yang mengikuti sistem manajemen yang dikenal dengan Siklus Deming seperti disajikan dalam Gambar 3.

Gambar 3 Model sistem manajemen lingkungan (Sumber: ISO 2004).

Standar didefinisikan sebagai suatu dokumen, yang ditetapkan melalui konsensus dan disahkan oleh badan yang diakui, memuat aturan, panduan atau karakteristik kegiatan atau hasilnya yang dapat digunakan secara umum dan berulang, yang bertujuan untuk mencapai tingkat keteraturan yang optimum dalam konteks tertentu. Standar juga sering digunakan oleh pemerintah untuk menetapkan regulasi teknis untuk keperluan intervensi pasar guna melindungi masyarakat dan konsumennya dari produk yang tidak aman, tidak sehat dan rusaknya lingkungan hidup (ISO/IEC 2002).

Secara umum ada tujuh komponen utama dalam SML yaitu komitmen dan kebijakan lingkungan, tinjauan lingkungan awal, perencanaan kebijakan lingkungan, penerapan kebijakan lingkungan, pengukuran dan evaluasi, audit dan tinjauan, dan komunikasi lingkungan eksternal (Chereminisoff 2006). Ketujuh komponen dan interaksinya dilustrasikan pada Gambar 4.


(41)

Gambar 4 Komponen SML dan interaksinya (Sumber: Cheremisinoff 2006)

2.3.1 Komitmen dan Kebijakan Lingkungan

Penerapan sistem manajemen lingkungan harus memperoleh komitmen manajemen puncak. Tanpa komitmen resmi, suatu sistem tidak akan memiliki kredibilitas dan tidak efektif (Lessem 1989). Kebijakan merupakan suatu deklarasi yang ditandatangi oleh manajemen puncak organisasi bahwa perlindungan lingkungan menjadi prioritas organisasi. Manajemen puncak perlu menyediakan sumberdaya termasuk finansial yang diperlukan (ISO 2004; BSN 2005, Cheremisinoff 2006).

Kebijakan lingkungan yang merupakan keseluruhan maksud dan arah organisasi mengenai kinerja lingkungan memberikan kerangka untuk menetapkan tindakan dan penentuan tujuan serta sasaran lingkungan (ISO 2004, BSN 2005). Kebijakan lingkungan memuat komitmen untuk mencegah polusi, memenuhi peraturan regulasi lingkungan dan aturan yang berlaku, menerapkan proses perbaikan berkelanjutan. Manajemen puncak harus memastikan bahwa kebijakan tersebut diimplementasikan di seluruh organisasi. (ISO 2004, BSN 2005).

Kebijakan lingkungan harus relevan dengan sifat, skala, dan dampak lingkungan dari kegiatan, produk dan jasa organisasi. Dengan demikian kebijakan lingkungan diformulasikan sesuai dengan kebutuhan organisasi dan merefleksikan realitas situasi lingkungan organisasi (ISO 2004, BSN 2005).


(42)

Komitmen untuk memenuhi peraturan perundang-undangan lingkungan yang berlaku dan persyaratan lainnya yang diikuti organisasi, bukan berarti organisasi wajib memenuhi seluruh regulasi dalam waktu bersamaan. Organisasi disyaratkan untuk memiliki rencana atau cara untuk memastikan pemenuhan seluruh peraturan perundang-undangan yang ditetapkan tersebut termasuk yang terdapat dalam perjanjian sukarela jika ada.

Kebijakan lingkungan juga harus memberi kerangka untuk menetapkan dan meninjau sasaran dan target lingkungan. Kebijakan lingkungan juga harus didokumentasikan, diimplementasikan, dipelihara dan dikomunikasikan kepada seluruh pegawai. Implementasi dapat diperagakan melalui instruksi, sasaran dan target, rencana strategik, dan program lingkungan.

Hal penting lainnya, dalam kebijakan lingkungan harus tersedia bagi publik dan pihak yang berkepentingan. Kebijakan harus ditinjau untuk memastikan kesesuaiannya dengan perubahan (internal maupun eksternal) yang mempengaruhi organisasi, misalnya adanya perubahan penggunaan sumberdaya, teknologi produksi, ketentuan regulasi, budaya dan norma yang berlaku (Gabel dan Folme 2000).

2.3.2 Tinjauan Lingkungan Awal

Tinjauan lingkungan awal (TLA) merupakan langkah awal sebelum perusahaan dapat merencanakan dan menerapkan kebijakan lingkungan. Perusahaan melalukan tinjauan yang lengkap terkait isu/aspek lingkungan perusahaan. TLA akan menghasilkan karakteritik baseline perusahaan dalam mengelola isu lingkungan, yang dapat digunakan sebagai basis untuk mengidentifikasi deficiency atau area yang tidak sesuai (noncompliance). Atas dasar ini, perusahaan melakukan inisiatif untuk menghilangkan kesenjangan yang ada.

2.3.3 Perencanaan Kebijakan Lingkungan

Perencanaan yang baik memerlukan pengetahuan interaksi antara perusahaan dengan lingkungan dan publik. Organisasi perlu memahami peraturan perundang-undangan yang berlaku dan kewajiban yang ada di dalamnya. Program


(43)

sebaiknya menetapkan target dan sasaran lingkungan secara spesifik dan jelas, menetapkan cara dan sumberdaya yang diperlukan untuk mencapai hasil serta waktu pelaksanaannya.

Elemen penting dalam perencanaan sistem manajemen lingkungan yaitu identifikasi aspek lingkungan, evaluasi resultansi dampak lingkungan, pertimbangan persyaratan perundang-undangan, penetapan sasaran dan target, serta program lingkungan.

Aspek lingkungan merupakan unsur kegiatan atau produk atau jasa organisasi yang dapat berinteraksi dengan lingkungan. Dampak lingkungan adalah setiap perubahan pada lingkungan, baik yang merugikan atau bermanfaat, keseluruhannya ataupun sebagian disebabkan oleh aspek lingkungan organisasi. Identifikasi aspek lingkungan dalam lingkup sistem manajemen lingkungan dilakukan pada aspek yang dapat dikendalikan dan yang dapat dipengaruhi (ISO 2004, BSN 2005).

Kriteria untuk mengevaluasi aspek lingkungan antara lain isu lingkungan dan peraturan perundang-undangan, tingkat pengendalian organisasi terhadap aspek lingkungan; sifat sumberdaya alam yang digunakan (terbaharui atau tidak); ketersediaan aturan dan praktek organisasi, dan pandangan para pihak yang berkepentingan (ISO 2004, Gilbert 1998).

Persyaratan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan aspek lingkungan organisasi perlu diidentifikasi dan ditentukan bagaimana persyaratan tersebut diterapkan. Persyaratan peraturan perundang-undangan dapat mencakup skala nasional dan internasional; atau peraturan pemerintahan daerah (Ritchie 1997). Tujuan dan sasaran lingkungan perlu mempertimbangkan persyaratan perundang-undangan, aspek lingkungan penting, pilihan teknologi, keuangan, persyaratan operasional dan bisnis; serta pandangan pihak yang berkepentingan.

Program manajemen lingkungan merupakan peta lintasan (roadmap) perusahaan yang akan diikuti menuju pencapaian tujuan dan target lingkungan. Program memuat memuat langkah aksi, jadwal, sumberdaya, tanggungjawab yang diperlukan, dan jangka waktu untuk mencapai tujuan, sasaran dan kebijakan lingkungan.


(44)

2.3.4 Implementasi Kebijakan Lingkungan

Penerapan sistem manajemen lingkungan (SML) akan berhasil bila manajemen dan pegawai memahami program keseluruhan, fungsi dan tanggungjawabnya, menggunakan instruksi kerja, merekam dan mengendalikan dokumen. Perusahaan harus mengembangkan kemampuan dan mekanisme yang diperlukan untuk mencapai kebijakan, tujuan, dan sasaran lingkungan (Ritchie 1997; ISO 2004). Terdapat tujuh elemen dalam prinsip ini, yaitu sumber daya, peran, tanggung jawab dan kewenangan; kompetensi, pelatihan dan kesadaran; komunikasi; dokumentasi; pengendalian dokumen; pengendalian dokumen, pengendalian operasional, dan kesiagaan dan tanggap darurat (Ritchie 1997; ISO 2004).

Sumber daya, peran, tanggung jawab untuk menerapkan, memelihara dan meningkatkan sistem manajemen lingkungan perlu dipastikan. Sumberdaya termasuk sumberdaya manusia dan keterampilan khusus, sarana operasional, teknologi dan sumberdaya keuangan. Kebutuhan sumberdaya diidentifikasi pada setiap fungsi dan tingkat organisasi, serta memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan dengan pencapaian sasaran kinerja lingkungan.

Organisasi harus memastikan setiap orang yang bertugas untuk atau atas nama organisasi yang pekerjaan berpotensi menyebabkan dampak lingkungan penting, mempunyai kompetensi (pendidikan, pelatihan atau pengalaman) yang memadai. Organisasi perlu memberikan pelatihan mengenai aspek lingkungan dan sistem manajemen lingkungan termasuk value dan kebijakan lingkungan organisasi. Pelatihan sangat menentukan keberhasilan dan efektifitas penerapan SML. Identifikasi kebutuhan pelatihan perlu dilakukan untuk mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan dan kompetensi karyawan yang diperlukan untuk membangun SML (ISO 2004, BSN 2005).

Aspek lingkungan dan SML perlu dikomunikasikan dengan pihak internal maupun dengan pihak eksternal guna menangapi kepentingan mereka terkait dengan aspek dan dampak lingkungan operasi organisasi. Komunikasi juga perlu dilakukan dengan pihak otoritas publik mengenai perencanaan situasi darurat dan isu lainnya yang sesuai. Komunikasi eksternal perlu mempertimbangkan


(45)

pandangan dan kepentingan semua pihak yang berkepentingan (ISO 2004, BSN 2005).

Dokumentasi SML mencakup kebijakan, tujuan dan sasaran lingkungan. Dokumentasi perlu dikendalikan, termasuk kemutakhiran dan aksesibilitas dokumen tersebut. Penggunaan dokumen yang salah atau sudah tidak berlaku dapat membawa ketidakefektifan penerapan SML. Pengendalian operasional perlu ditetapkan pada operasi yang terkait dengan aspek lingkungan penting yang telah teridentifikasi. Evaluasi perlu dilakukan untuk memastikan bahwa operasi berjalan dalam mengendalikan atau mengurangi dampak negatif lingkungan (ISO 2004, BSN 2005).

2.3.5 Pengukuran dan Evalusi

Kegiatan pengukuran dan pemeriksaan perlu dilakukan untuk mengetahui adanya defisiensi dan selanjutnya organisasi mengambil langkah untuk melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan yang dibutuhkan sehingga defisiensi (ketidaksesuian) tidak terulang kembali. Kegiatan ini merupakan bagian dari perbaikan berkelanjutan yang disyaratkan standar.

Dalam melakukan kegiatan pemeriksaan, organisasi perlu memastikan peralatan pemantauan dan peralatan pengukuran guna memperoleh data yang benar. Begitupun halnya dengan komitmen manajemen untuk menataati persyaratan peraturan perundang-undangan yang berlaku perlu dievaluasi penaatannya. Bila teridentifikasi adanya ketidaktaatan atau defisiensi maka organisasi harus melaksanakan tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan.

2.3.6 Audit dan Tinjauan Manajemen

Audit internal SML harus dilakukan organisasi untuk mengetahui tingkat efektifiktas penerapan SML pada jangka waktu yang direncanakan. Hasil audit diinformasikan kepada manajemen. Manajemen puncak harus meninjau SML pada jangka waktu tertentu, untuk memelihara kesesuaian, kecukupan dan efektivitas sistem yang berkelanjutan. Tinjauan manajemen harus mengkaji peluang perbaikan dan keperluan untuk melakukan perubahan sistem manajemen lingkungan, kebijakan lingkungan, tujuan dan sasaran lingkungan. Keluaran


(1)

Lampiran 8 Dinamika Sebaran Kualitas Air inletdan outletdi PLTA Tanggari II Tahun 2005-2010

Parameter Satuan

Tahun ke- Baku mutu

2005 2006 2007 2008 2009 2010 Kelas IV

PP no.82/2001 Min. Maks. Min. Maks. Min. Maks. Min. Maks. Min. Maks. Min. Maks.

INLET

Suhu 0C 29.8 29.8 24 28.3 28.1 30.1 - - 28.4 30.1 27.2 28.1 Deviasi 5

TDS mg/L 107 123 107 152.5 122.03 240 119 371 32 372 119 172 2000

TSS mg/L 11.2 13.6 10.3 13.6 5.2 20.4 3.1 26 12.1 25 2.3 31.1 400

Fe mg/L 0 0 0.01 0.38 0 0.79 - - 0.7 5.2 0.003 0.03 (-)

COD mg/L 14.79 16.4 10 31 4.03 15 5.2 12.4 11.8 11.8 - - 100

BOD mg/L 2.44 4.21 2.1 9.8 1.2 4.4 1.9 2.8 3.1 3.1 - - 12

DO mg/L - - - >0

H2S mg/L 0 0 0 0 0.001 0.001 - - 0.0001 0.04 0 0 (-)

pH - 6.8 6.9 6.3 7.7 - - 7.2 7.6 6.9 7.3 7.1 8.64 5-9 NO3- mg/L 0.21 1.1 0.25 1.1 - - 4.72 6.01 3.7 5.8 0.96 1.5 20

PO4-3 mg/L - - 0.16 0.16 - - - - - - 0 0.1 5

OUTLET

Suhu 0C 29.9 29.9 26 28.3 27.2 29.9 - - 28.2 30.1 27.2 28 Deviasi 5

TDS mg/L 104 118 104 149 120 236 120 361 60 360 120 171 2000 TSS mg/L 14.4 17.6 12.1 17.6 6.5 20.1 4.8 25.7 13.2 23.2 1.7 30.2 400

Fe mg/L 0 0 0 0.38 0 0.9 - - 3.1 4.2 0.03 0.05 (-)

COD mg/L 7.28 14.7 13 38.5 6.4 22 11.9 12.8 12.4 12.4 - - 100 BOD mg/L 1.62 2.48 2.8 10.9 1.2 3.8 2.15 3.9 3.7 3.7 - - 12

DO mg/L - - - >0

H2S mg/L 0 0 - - 0.001 0.001 - - 0.001 0.004 0 0 (-)

pH - 6.5 6.9 6.4 7.5 - - 7.3 7.8 6.7 7.2 7.12 8.61 5-9 NO3- mg/L 0.3 0.82 0.35 0.9 - - 5.51 6.51 4.2 6.2 0.93 1.4 20

PO4-3 mg/L - - 0.21 0.21 - - - 0 0.1 5


(2)

Lampiran 9. Rincian Total Economic Value (TEV) Jasa Lingkungan Sumberdaya Air di PLTA

Parameter Saguling Cirata Tanggari I Tanggari II Power 2.158.000.000 1.426.000.000 9.103.600 10.878.615 Harga Jual 591,11 591,11 591,11 591,11 Potensi keuntungan listrik 1.275.615.380.000 842.922.860.000 5.381.228.996 6.430.458.113

Biaya per kWh 463 463 463 463

Biaya listrik 999.607.180.000 660.537.460.000 4.216.878.556 5.039.083.254 Nilai Benefit Listrik 276.008.200.000 182.385.400.000 1.164.350.440 1.391.374.859

Jumlah KJA 4.514 24.000 6.000

-Ikan Mas 2.000 2.000 2.000

-Ikan Nila 2.000 2.000 1.000

-Harga Ikan Mas 14.000 14.000 15.000

-Harga Ikan Nila 15.000 15.000 12.500

-Nilai Ikan 261.812.000.000 1.392.000.000.000 255.000.000.000

-Biaya Benih 1.482.000 1.482.000 1.100.000 -Biaya Pakan 4.500.000 4.500.000 1.825.000

-Biaya Obat 234.000 234.000 50.000

-Biaya Lain 149.000 149.000 300.000

-Biaya Produksi 28.731.610.000 152.760.000.000 19.650.000.000

-Nilai Keuntungan Ikan 233.080.390.000 1.239.240.000.000 235.350.000.000 -Jumlah Pengunjung 1.460 17.516 34.509 -Biaya Transport 116.000 120.000 200.000 -Biaya Akomodasi 33.000 30.000 70.000 -Nilai Ekowisata 217.540.000 2.627.400.000 9.317.430.000

-Luas Penghijauan (ha) 1.024 525 125

-Simpan karbon/ha 194 194 194

-Nilai Karbon/ton 179.091 179.091 179.091 -Nilai Karbon 35.577.531.494 18.250.856.732 4.342.960.388 -Luas DAS 2.228.300.000 4.652.860.000 247.080.000 -Rata-rata curah hujan 3,378 2,557 1,936 -Debit air (inlet PLTA) 3.405.888.000 5.739.552.000 315.360.000

-Penguapan 1,116 1,087 0,650

Harga air (energi) 202 202 202

-Nilai Cadangan Air Tanah 330.174.373.200 222.230.744.400 481.745.760 -Sedimentasi 4.200.000 4.760.000 2.000.000

-Harga air (energi) 202 202 202

-Nilai Cadangan Air Waduk 848.400.000 961.520.000 404.000.000 -Jumlah Penduduk 618.479 234.322 26.558

-WTP 12.500 12.500 12.500

-Option Value 7.730.987.500 2.929.025.000 331.975.000

-Jumlah KK 154.620 58.581 6.640

-WTP 15.000 15.000 15.000

-Preservation Value 2.319.296.250 878.707.500 99.592.500 -Nilai Guna Langsung 509.306.130.000 1.424.252.800.000 245.831.780.440 1.391.374.859 Nilai Guna Tidak Langsung 366.600.304.694 241.443.121.132 5.228.706.148 -Nilai Bukan Guna 10.050.283.750 3.807.732.500 431.567.500 -TEV 885.956.718.444 1.669.503.653.632 251.492.054.088 1.391.374.859 Jabar 2.555.460.372.077 Tanggari Sulut 252.883.428.946


(3)

Lampiran 10. Model Perlindungan da Berbasis Sukarela

TAMPILAN MODEL

Model Perlindungan dan Pengelolaan Sumberdaya Air di PLTA Berbasis Sukarela


(4)

PERSAMAAN MODEL

NO PARAMETER NILAI / PERSAMAAN

1 AME Penduduk ABS(((Penduduk - 'Penduduk Aktual') / 'Penduduk Aktual') * 100) + (0 * 'Batas AME')

2 Batas AME 10

3 Benefit Ikan 'Nilai Ikan Total' - 'Biaya Produksi Ikan' 4 Benefit Listrik 'Nilai Listrik' - 'Biaya Listrik'

5 Biaya Akomodasi 33000

6 Biaya KJA 6365000

7 Biaya Listrik 'Power Listrik' * 'Biaya Produksi Listrik' 8 Biaya Produksi Ikan 'Jumlah KJA' * 'Biaya KJA'

9 Biaya Produksi Listrik 235 10 Biaya Transportasi 116000

11 Debit air 83.6 * 3600

12 eg 0.94

13 FP_Debit air 0.005 * FP_Hutan

14 FP_Hutan - 0.111

15 FP_Nilai Karbon 0.07

16 FP_Penduduk 0.015

17 FP_Pengunjung 0.01

18 FP_Permukiman 0.262 - ('Indeks Pemberdayaan Masyarakat' / 10) 19 FP_Produksi Ikan 'FP_Debit air'

20 FP_Sawah -0.00018

21 FP_Semak 0.75

22 H_efektif 631.27

23 Harga Air Energi 202 24 Harga Ikan Mas 14000 25 Harga Ikan Nila 15000 26 Harga Listrik 591,11

27 Hutan MAX(38139.8,0)

28 Indeks Pemberdayaan Masyarakat

('Kinerja Lingkungan PLTA' * 35000) / Penduduk

29 Input 2283000000 * 3.378


(5)

31 K_power 1.251765 32 Kapasitas Serapan

Karbon

194 33 Kinerja Lingkungan

PLTA

= 'CSR Listrik' / 15000000000

34 konstanta 9.81

35 Kurs US$ 9425,85

36 Lahan Terbuka MAX((MIN(('Luas DAS' - (Hutan + Permukiman + Sawah + Semak + 'Luas Waduk Cirata' + 'Luas Waduk Saguling')),('Luas DAS' Hutan

-Permukiman - Sawah - Semak - 'Luas Waduk Cirata' - 'Luas Waduk Saguling'))), 0)

37 LP_Debit air 'Debit air' * 'FP_Debit air'

38 LP_Hutan Hutan * FP_Hutan

39 LP_Nilai Karbon 'Nilai Karbon' * 'FP_Nilai Karbon' 40 LP_Penduduk Penduduk * FP_Penduduk

41 LP_Pengunjung Pengunjung * FP_Pengunjung 42 LP_Permukiman LPermukiman * FP_Permukiman 43 LP_Produksi Ikan 'Produksi Ikan' * 'FP_Produksi Ikan'

44 LP_Sawah Sawah * FP_Sawah

45 LP_Semak LSemak * FP_Semak

46 LPermukiman 39782.58

47 LSemak 1060.72

48 Luas DAS 222830

49 Luas Penghijauan 1024 50 Luas Waduk Cirata 9814.12 51 Luas Waduk Saguling 13508.88

52 Nilai Air Tanah (Input - Output) * 'Harga Air Energi' 53 Nilai Air Waduk Sedimentasi * 'Harga Air Energi' 54 Nilai Bukan Guna 'Nilai Pilihan' + 'Nilai Kelestarian'

55 Nilai Ekowisata Pengunjung * ('Biaya Akomodasi' + 'Biaya Transportasi')

56 Nilai Guna 'Benefit Listrik' + 'Benefit Ikan' + 'Nilai

Ekowisata' + 'Nilai Serapan Karbon' + 'Nilai Air Tanah' + 'Nilai Air Waduk'


(6)

58 Nilai Ikan Nila 'Jumlah KJA' * 'Produksi Ikan' * 'Harga Ikan Nila' 59 Nilai Ikan Total 'Nilai Ikan Mas' + 'Nilai Ikan Nila'

60 Nilai Karbon 19 * 'Kurs US$'

61 Nilai Kelestarian Penduduk * 'WTP Kelestarian' 62 Nilai Listrik 'Power Listrik' * 'Harga Listrik' 63 Nilai Pilihan Penduduk * 'WTP Pilihan' / 4

64 Nilai Serapan Karbon 'Luas Penghijauan' * 'Kapasitas Serapan Karbon' * 'Nilai Karbon'

65 Penduduk Aktual IF(TIME<2011,(GRAPH(TIME,2001,1,{618479, 636798,650051,667392,670640,676320,692699,7 19785,736943,744181})),Penduduk)

66 Pengunjung 1460

67 Permukiman MIN(LPermukiman,('Luas DAS' - (Hutan + Sawah + Semak + 'Luas Waduk Cirata' + 'Luas Waduk Saguling')))

68 Power Listrik (konstanta * H_efektif * eg * 'Debit air') * K_power

69 Produksi Ikan 2000

70 Sawah 64940.11

71 Sedimentasi 4200000

72 Semak MAX((MIN(LSemak,('Luas DAS' - (Hutan + LPermukiman + Sawah + 'Luas Waduk Cirata' + 'Luas Waduk Saguling')))),0)

73 TEV 'Nilai Guna' + 'Nilai Bukan Guna' 74 WTP Kelestarian 15000