Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu

ABSTRAK
ELWIDYA BASTIAN, C44063391. Penanganan dan Pendistribusian Hasil
Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu. Dibimbing oleh ANWAR BEY
PANE dan RETNO MUNINGGAR
Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu merupakan satu-satunya
pelabuhan perikanan tibe B di pantai selatan Jawa Barat. Adanya penanganan dan
pendistribusian hasil tangkapan yang baik dapat menarik nelayan untuk
mendaratkan hasil tangkapan di sana karena dapat meningkatkan pendapatan
nelayan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui aktifitas penanganan dan
pendistribusian hasil tangkapan, besaran biayanya dan nilai organoleptik hasil
tangkapan dominan di PPN Palabuhanratu. Analisis data dilakukan secara
deskriptif untuk kondisi aktual penanganan dan pendistribusian, analisis finansial
untuk besaran biayanya dan analisis statistik non parametrik untuk nilai
organoleptik. Hasil analisis menyatakan secara umum penanganan hasil
tangkapan di tempat pendaratan belum dilakukan oleh nelayan, hasil tangkapan
baru ditangani di tempat pedagang pengumpul, perusahaan pengumpul dan
pedagang pengecer. Pendistribusian hasil tangkapan dilakukan dalam bentuk
segar dan ikan olahan dengan tujuan lokal, nasional dan ekspor. Biaya
penanganan berupa biaya-biaya penyediaan alat dan bahan penanganan,
sedangkan biaya-biaya pendistribusian terdiri dari pas masuk, sewa sarana
pendistribusian dan biaya angkut. Urutan hasil tangkapan dari mutu paling tinggi
di tempat pendaratan adalah tongkol, cakalang, layur dan tuna-tuna kecil,
sedangkan di tempat pedagang pengecer adalah cakalang, tongkol, layur dan tunatuna kecil. Masih terdapat beberapa kekurangan dalam penanganan hasil
tangkapan di PPN Palabuhanratu yang harus diperbaiki.

Kata kunci : hasil tangkapan, organoleptik, PPN Palabuhanratu, penanganan,
pendistribusian

ii

ABSTRACK
ELWIDYA BASTIAN, C44063391. Handling and Distribution of the Catch with
the Cost in PPN Palabuhanratu. Supervised by ANWAR BEY PANE and RETNO
MUNINGGAR
Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu is the only one fishing port
type B on the south coast of West Java. The existence a good handling and
distribution of the catch can attract fishermen to land the cacth in there because
can increase the income of fishermen. The study was conducted to dertermine the
activity of handling and distribution of the catch, the amount of the cost and
organoleptic value of the dominant catch in PPN Palabuhanratu. Data analysis
was conducted descriptively to the actual conditions of handling and distribution,
financial analysis to the amount of the cost dan non-parametric statistical analysis
to organoleptic value. The analysis states in general handling of the catch at
landing site not handling by fishermen, the catch just handling on-site collectors,
corporate colectors dan retailers. The catch are distribution by type of fresh and
fickle in destination local, national dan export. Handling cost is include providing
equipment and material handling cost, while distribution cost in include pass go
into PPN Palabuhanratu, the rent of distributions tool dan cost of transport. The
catch from the highest quality at the landing site is tongkol, cakalang, layur dan
tuna-tuna kecil, while at the retailers is cakalang, tongkol, layur dan tuna-tuna
kecil. There are still some of weakness in handling of the catch in PPN
Palabuhanratu be fixed.

Key words : the cacth, organoleptic, PPN Palabuhanratu, handling, distribution

iii

1

1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Usaha penangkapan ikan akan menghasilkan hasil tangkapan sebagai output
atau hasil dari usaha tersebut. Hasil tangkapan dari usaha penangkapan ikan
merupakan sumberdaya ikan yang ditangkap oleh alat penangkap ikan melalui
operasi penangkapan ikan di perairan laut, yang mana hasil tangkapan tersebut
dapat digunakan sebagai bahan makanan. Hasil tangkapan dapat berupa ikan,
binatang berkulit keras, binatang berkulit lunak, tumbuhan air, binatang
bercangkang dan binatang air lainnya. Hasil tangkapan tersebut harus ditangani
dengan cara yang khusus dan baik.
Hasil tangkapan merupakan komoditi yang mudah rusak dan cepat busuk,
terutama bila terkena suhu tinggi. Karena sifatnya yang mudah busuk sehingga
dibutuhkan penanganan hasil tangkapan yang baik untuk menjaga mutunya.
Penanganan hasil tangkapan dapat berupa grading (pengelompokan berdasarkan
jenis, ukuran dan mutu), pencucian, pengaturan suhu, pembersihan, pengemasan
dan lainnya. Penanganan bertujuan mempertahankan mutu atau kesegaran hasil
tangkapan, sehingga penanganan hasil tangkapan dapat diartikan sebagai cara
memperlakukan hasil tangkapan agar mutu atau kesegarannya terjaga.
Adanya penanganan hasil tangkapan yang baik, efektif dan efisien akan
membuat mutu hasil tangkapan terjaga pada kondisi yang bagus. Hasil tangkapan
yang mutu bagus, harganya akan lebih tinggi dan permintaannya juga akan
meningkat. Selain itu permintaan hasil tangkapan untuk konsumsi atau industri
biasanya adalah hasil tangkapan yang bermutu tinggi.
Kegiatan penangkapan ikan dan penanganan hasil tangkapan membutuhkan
pembiayaan dalam operasinya. Pembiayaan penanganan merupakan total semua
biaya (biaya investasi dan biaya produksi) yang dikeluarkan oleh pelaku
penanganan untuk melakukan kegiatan penanganan terhadap suatu hasil
tangkapan. Biaya penanganan tersebut dapat dibuat dalam satuan waktu per hari,
ber bulan dan atau per tahun.

2
Pembiayan tersebut di atas membuat pelaku penanganan membutuhkan
sumber pemasukan. Pemasukan didapatkan dengan “mengalirkan” hasil
tangkapan tersebut kepada pihak lain sehingga hasil tangkapan memiliki nilai.
“Mengalirkan” hasil tangkapan dari produsen sampai ke tangan konsumen disebut
dengan pendistribusian hasil tangkapan.
Pendistribusian hasil tangkapan dapat dilakukan terhadap hasil tangkapan
hidup, segar dan beku. Hasil tangkapan hidup, segar dan beku didistribusikan
kepada pedagang, rumah tangga, restoran, perusahaan pengolahan dan konsumen
lainnya. Hasil tangkapan tersebut setelah sampai di tangan konsumen akan
digunakan sebagai bahan pangan yang dikonsumsi, sehingga sangat penting bagi
konsumen untuk mengetahui bagaimana sumber pangan tersebut ditangani dan
didistribusikan.
Pengolahan hasil tangkapan pada umumnya dilakukan oleh perusahaan,
dimana perusahaan tersebut menjadikan hasil tangkapan sebagai bahan bakunya.
Kualitas produk hasil olahan tersebut akan sangat bergantung kepada kualitas
bahan bakunya, maka sangat penting bagi perusahaan untuk mendapatkan
informasi mengenai penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan yang akan
dijadikan bahan baku.
Hasil tangkapan yang didaratkan di pelabuhan perikanan selain ditujukan
untuk konsumsi lokal juga dapat didistribusikan keluar daerah dan atau ekspor.
Pendistribusian hasil tangkapan dari pelabuhan baik keluar daerah maupun ekspor
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan di daerah atau negara lain agar hasil
tangkapan tersebut dapat mempunyai nilai tambah. Selain itu adanya
pendistribusian hasil tangkapan ke luar daerah dan atau ekspor akan mampu
secara langsung menambah pemasukan bagi pelaku pendistribusian khususnya
dan secara tidak langsung kepada pelabuhan umumnya.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, hasil tangkapan dapat didistribusikan
ke daerah lokal, luar daerah dan ekspor. Setiap jenis hasil tangkapan yang
didaratkan, akan didistribusikan dengan jumlah dan tujuan pendistribusian yang
berbeda sesuai dengan permintaan yang masuk ke pelabuhan. Perbedaan jumlah
dan tujuan pendistribusian tersebut dapat dipetakan, dengan tujuan agar
mempermudah mendapatkan informasi mengenai seberapa besar dan ke mana

3
pendistribusian hasil tangkapan dilakukan. Pemetaan dapat diartikan sebagai
penyajian data ke dalam peta tematik sehingga memudahkan intrepetasi data bagi
yang membacanya.
Tidak jauh berbeda dengan penanganan hasil tangkapan, pendistribusian
hasil tangkapan juga memiliki pembiayan untuk melakukan operasi kegiatannya.
Biaya pendistribusian yang dimaksud adalah seluruh biaya (biaya investasi dan
biaya produksi) yang dikeluarkan distributor untuk mengalirkan hasil tangkapan
ke tangan konsumen. Seperti halnya biaya penanganan, biaya pendistribusian juga
dapat dibuat dalam satuan waktu per hari, per bulan dan atau per tahun.
Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu merupakan salah satu
pelabuhan yang berpartisipasi dalam ekspor hasil tangkapan dari Indonesia.
Adapun hasil tangkapan PPN Palabuhanratu yang di ekspor adalah tuna dan layur.
Hal tersebut karena PPN Palabuhanratu terletak di pantai selatan Jawa yang
langsung berhubungan dengan Samudera Hindia, sehingga komoditas tuna,
tongkol dan layur masih bisa dieksploitasi dengan baik.
Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu dekat dengan daerah
pemasaran Jakarta, kalau ditempuh melalui jalan darat hanya memerlukan waktu
3-4 jam. Waktu tempuh yang cukup singkat dan menggunakan rantai dingin (suhu
rendah) membuat hasil tangkapan dapat diekspor melalui Jakarta. Berdasarkan hal
tersebut sangat diharapkan PPN Palabuhanratu dapat berpartisipasi optimum
dalam penyediaan hasil tangkapan yang berkualitas melalui sistem penanganan
dan pendistribusian yang baik.
Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa penanganan dan
pendistribusian merupakan hal penting untuk diperhatikan dalam pelabuhan
perikanan. Begitu juga di PPN Palabuhanratu, penanganan dan pendistribusian
hasil tangkapan merupakan salah satu hal penting yang harus menjadi perhatian.
Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai penanganan dan
pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu untuk mengetahui
gambaran karakteristik dan aktivitas penanganan dan pendistribusian hasil
tangkapan.

4
Diharapkan, dengan adanya penelitian ini dapat diketahui jenis, jumlah dan
harga hasil tangkapan serta pelaku , cara, jalur, tujuan dan biaya penanganan dan
pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu.

1.2 Perumusan Masalah
Permasalahan yang menjadi acuan dalam penelitian ini adalah belum
diketahuinya dengan jelas :
1. Kondisi penanganan hasil tangkapan yang terjadi di PPN Palabuhanratu
2. Kegiatan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu dan peta
pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu ke daerah-daerah
tujuan pendistribusian
3. Besaran biaya penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan yang
dikeluarkan oleh nelayan, pedagang pengumpul, perusahaan pengumpul dan
pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu

1.3 Tujuan
Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk :
1. Mengetahui kondisi penanganan hasil tangkapan yang terjadi di PPN
Palabuhanratu baik penanganan di tempat pendaratan, di tempat pedagang
pengumpul maupun di tempat pedagang pengecer
2. Mendapatkan gambaran kegiatan pendistribusian hasil tangkapan di PPN
Palabuhanratu, serta peta pendistribusian hasil tangkapan dari PPN
Palabuhanratu ke daerah-daerah tujuan pendistribusiannya
3. Mendapatkan besaran biaya penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan
yang dikeluarkan oleh nelayan, pedagang pengumpul, perusahaan pengumpul
dan pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu

1.4 Manfaat
Penelitian ini diharapkan membawa manfaat bagi :
1. Nelayan, pedagang, perusahaan dan pengelola pelabuhan yaitu memberikan
informasi dan masukan mengenai penanganan dan pendistribusian hasil
tangkapan di PPN Palabuhanratu

5
2. Nelayan untuk memberikan informasi kemana dan seberapa besar hasil
tangkapan mereka didistribusikan
3. Pengelola pelabuhan, pedagang dan perusahaan yaitu memberikan informasi
tentang peta pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu
4. Nelayan, pedagang, perusahaan dan pengelola PPN Palabuhanratu yaitu
memberikan informasi besaran investasi dan besaran biaya produksi yang
dikeluarkan untuk penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan

6

2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hasil Tangkapan
Ikan, menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (2010) pada pasal 41
ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia No 45 tahun 2009 tentang Perikanan
merupakan segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus
hidupnya berada di dalam lingkungan perairan. Ikan ini meliputi ikan bersirip
(Pisces); udang, rajungan, kepiting dan sebangsanya (Crustacea); kerang, tiram,
cumi-cumi, gurita, siput dan sebangsanya (Mollusca); ubur-ubur dan sebangsanya
(Coelenterata); teripang, bulu babi dan sebangsanya (Echinodermata); paus,
lumba-lumba, pesut, duyung dan sebangsanya (Mamalia); rumput laut dan
tumbuh-tumbuhan lain yang hidupnya dalam air (Algae); dan biota perairan
lainnya yang terkait dengan jenis-jenis di atas termasuk ikan.
Sumberdaya ikan menurut Mallawa (2006) terbagi menjadi dua yaitu ikan
konsumsi dan ikan non konsumsi. Ikan konsumsi tersebut terdiri dari ikan pelagis
besar, ikan pelagis kecil, ikan demersal, udang dan crustacea lainnya, ikan karang
konsumsi dan cumi-cumi. Ikan non konsumsi terdiri dari ikan hias dan benih alam
komersial.
Sumberdaya ikan yang ditangkap oleh alat penangkap ikan, melalui operasi
penangkapan ikan, disebut dengan hasil tangkapan. Hasil tangkapan secara umum
digunakan sebagai bahan makanan sumber protein (ikan konsumsi). Hasil
tangkapan dapat diklasifikasikan berdasarkan habitat asalnya terbagi menjadi dua
jenis yaitu hasil tangkapan pelagis dan demersal. Hasil tangkapan pelagis adalah
hasil tangkapan sumberdaya ikan yang hidup di bagian atas dan kolom perairan.
Menurut Aryadi (2007) sifat sumberdaya ini di habitatnya suka berkelompok,
sehingga penyebarannya tidak merata. Selain itu ruayanya jauh dengan olah gerak
yang besar. Sumberdaya ikan pelagis juga dapat dibagi menjadi dua kelompok
berdasarkan ukurannya, yaitu ikan pelagis besar dan ikan pelagis kecil. Contoh
ikan pelagis besar adalah cakalang (Katsuwonus pelamis), tuna mata besar
(Thunnus obesus) dan tuna sirip biru (Thunnus maccoyii), sedangkan beberapa
ikan yang termasuk ikan pelagis kecil adalah tongkol (Auxis sp.) dan tenggiri
(Scomberromorus sp.).

7
Hasil tangkapan demersal merupakan hasil tangkapan sumberdaya ikan
yang hidup di dekat atau di dasar perairan. Adapun sifatnya menurut Aryadi
(2007), membentuk kelompok yang kecil, penambahan populasinya tidak banyak
bervariasi karena dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang relatif stabil, dan
ruaya yang tidak terlalu jauh dengan aktivitas gerak yang relatif rendah. Hasil
tangkapan yang termasuk jenis ikan demersal antara lain adalah cucut (Sphyrna
sp.), layur (Trichiurus savala), kakap merah (Lutjanus sp.), pari (Dasyatis sp.) dan
lainnya.
Selain ikan, binatang berkulit lunak dan berkulit keras juga merupakan hasil
tangkapan yang penting di Indonesia. Contoh binatang berkulit lunak adalah
cumi-cumi yang termasuk jenis cumi dan sotong. Menurut Mallawa (2006)
terdapat banyak jenis cumi-cumi di Indonesia namun yang paling banyak
tertangkap adalah jenis Loligo edulis. Contoh binantang berkulit keras adalah
udang, kepiting dan rajungan; berbagai jenis udang antara lain udang jerbung,
udang windu dan udang lainnya.
Hasil tangkapan di atas tidak semuanya selalu terdapat di setiap pelabuhan
perikanan. Hal itu bergantung kepada keadaan perairan daerah penangkapan ikan
dimana ikan tersebut ditangkap yang menentukan jenis dan jumlah hasil
tangkapan yang didaratkan di pelabuhan, sehingga jenis dan jumlah hasil
tangkapan di suatu pelabuhan dapat berbeda dengan pelabuhan lainnya.
Tidak semua hasil tangkapan di suatu pelabuhan memiliki nilai jual dan
permintaan konsumen yang tinggi. Hasil tangkapan yang memiliki nilai jual dan
permintaan konsumen yang tinggi disebut dengan ikan ekonomis penting.
Menurut Aryadi (2007), ikan ekonomis penting tersebut memiliki perbedaan pada
tingkat kontinuitas dan jumlah produktifitasnya. Hasil tangkapan yang memiliki
tingkat kontinuitas dan jumlah produktifitas yang tinggi dari pada ikan ekomomis
penting lainnya disebut dengan komoditas unggulan.
Aryadi menambahkan bahwa secara garis besar komoditas unggulan hasil
tangkapan dapat dikelompokkan menjadi dua yakni :
1) Komoditas unggulan lokal, yaitu jika komoditas tersebut telah memenuhi
kriteria komoditas unggulan, tetapi masih dipasarkan di dalam negeri (lokal),
baik dalam bentuk segar maupun telah diolah

8
2) Komoditas unggulan ekspor, yaitu komoditas yang telah memenuhi kriteria
komoditas unggulan dan dipasarkan ke luar negeri (ekspor)

2.2 Penanganan dan Mutu Hasil Tangkapan
Penanganan hasil tangkapan merupakan segala cara memperlakukan hasil
tangkapan untuk menjaga mutu hasil tangkapan. Penanganan dalam usaha
penangkapan ikan memegang peran yang sangat penting. Hal tersebut
dikarenakan baik dan buruknya penanganan akan mempengaruhi mutu hasil
tangkapan yang ditangani. Semakin bagus mutu hasil tangkapan maka harga dan
permintaan hasil tangkapan tersebut juga akan semakin bagus.
Hasil tangkapan mempunyai karakteristik yang berbeda jika dibandingkan
dengan komoditas lain, yaitu mudah busuk dan rusak. Penanganan yang
semestinya diharapkan mampu membantu mempertahankan mutu hasil tangkapan,
karena mutu hasil tangkapan sebenarnya tidak dapat ditingkatkan lagi. Mutu hasil
tangkapan hanya dapat dipertahankan dengan menghentikan metabolisme bakteri
yang ada di dalam tubuh hasil tangkapan. Salah satu cara yang dapat digunakan
yaitu dengan penyimpanan yang menggunakan es untuk mengurangi degradasi
atau penurunan kesegaran fisik hasil tangkapan, mencegah penurunan mutu dan
penciutan karena hasil tangkapan mengering (Junianto, 2003).
Penanganan hasil tangkapan dimulai dari setelah hasil tangkapan tiba di atas
kapal sampai dengan hasil tangkapan didistribusikan, karena proses perubahan
mutu hasil tangkapan telah terjadi sejak ikan selesai ditangkap sampai
didistribusikan. Ikan ditempatkan di palka kapal, sesampainya di pelabuhan
selanjutnya dikeluarkan ke dek sampai dermaga bongkar kemudian dari dermaga
tersebut diangkut menuju ke tempat pelelangan ikan (TPI) dan seterusnya sampai
pendistribusian ke konsumen (Mulyadi, 2007).
Penanganan terhadap hasil tangkapan dapat berupa pencucian, pembersihan,
pemotongan, pengklasifikasian, pengolahan, penyimpanan, pemberian bahan lain,
pengaturan suhu dan lainnya. Cara penanganan hasil tangkapan baik di atas kapal,
di darat, maupun selama pengangkutan dan pendistribusian, serta penanganan
selama penjualan dan pengeceran menurut Berita Perikanan Papua (2007) adalah
sebagai berikut :

9
1) Penanganan di atas kapal
(1) Hasil tangkapan dipisahkan berdasar spesies dan ukuran
(2) Hasil tangkapan dibongkar dari kapal atau perahu secara cepat dan
higienis agar terhindar dari kenaikan suhu dan bakteri
(3) Mencuci hasil tangkapan harus dengan air yang bersih, jangan memakai
air dari kolam pelabuhan
(4) Hasil tangkapan dimasukkan ke dalam wadah dan diselimuti es curah
(5) Harus dihindarkan pemakaian alat-alat yang dapat menimbulkan
kerusakan fisik, seperti sekop, garpu, pisau dan lain-lain.
(6) Lantai dek kapal dibersihkan sebelum dan sesudah pembongkaran hasil
tangkapan dan tidak menggunakan air dari kolam pelabuhan
2) Penanganan di darat
(1) Wadah hasil tangkapan segera dinaikkan ke atas lantai dermaga dan
langsung diangkut menuju TPI
(2) TPI harus bersih dan hasil tangkapan tidak boleh diletakkan langsung di
lantai TPI tanpa wadah
(3) Setelah hasil tangkapan sampai di TPI hasil tangkapan segera dilelang dan
selama proses lelang berjalan suhu hasil tangkapan harus senantiasa
terjaga
(4) Hasil tangkapan langsung dibawa oleh pemenang lelang
3) Penanganan selama pengangkutan dan pendistribusian
(1) Suhu hasil tangkapan harus selalu dijaga dan hasil tangkapan jangan
terkena matahari langsung
(2) Hasil tangkapan dilapisi dengan es curah, bagian lapisan paling bawah dan
paling atas esnya lebih tebal daripada lapisan lainnya
(3) Sebaiknya menggunakan mobil bak tertutup yang telah dilengkapi dengan
pengatur suhu
4) Penanganan selama penjualan dan pengeceran
(1) Hasil tangkapan ditempatkan di wadah khusus dan diusahakan
tumpukannya tidak besar dan tinggi karena dapat menyebabkan hasil
tangkapan pada lapisan terbawah rusak

10
(2) Sebaiknya hasil tangkapan ditempatkan di dalam wadah yang mampu
melindungi hasil tangkapan dari matahari, debu, serangga, binatang dan
kotoran
(3) Sebaiknya suhu hasil tangkapan selama penjualan dan pengeceran tetap
terjaga, bisa dilakukan dengan cara dilapisi es
(4) Selain itu hasil tangkapan akan lebih terjamin mutunya jika tidak sering
disentuh dengan tangan
Agar dapat melakukan penanganan hasil tangkapan dengan baik, diperlukan
sarana dan prasarana pelabuhan perikanan yang menunjang keberlangsungan
penanganan hasil tangkapan. Adapun sarana dan prasarana pelabuhan perikanan
yang dimanfaatkan dalam kegiatan penanganan hasil tangkapan adalah tempat
pelelangan ikan (TPI), instalasi air bersih, pabrik es, dermaga, kolam pelabuhan
dan lain sebagainya. Jika sarana dan prasarana pelabuhan perikanan tersebut
tersedia dalam keadaaan baik, maka penanganan hasil tangkapan dapat berjalan
dengan lancar, sehingga mutu hasil tangkapan akan terjaga dengan baik pula.
Penilaian mutu hasil tangkapan yang akan ditangani perlu diketahui.
Penilaian mutu tersebut menurut Pane (2012) dapat diketahui setidaknya dengan 3
cara yaitu :
1) Pengukuran kadar N dari hasil tangkapan
2) Perhitungan jumlah bakteri yang terkandung di dalam hasil tangkapan
3) Penilaian skala organoleptik dari hasil tangkapan
Penilaian skala organoleptik jika dibandingkan dengan kedua cara lainnya
memiliki kelebihan yaitu waktu penilaian yang lebih cepat dan biayanya relatif
tidak ada, namun kelemahannya yaitu penilaian skala organoleptik bersifat
subjektif karena sangat bergantung kepada ketajaman indra dari orang yang
melakukan penilaian. Pengujian organoleptik dilakukan dengan berpedoman
kepada daftar spesifikasi dan skala nilai skala organoleptik yang dikeluarkan oleh
Departemen Pertanian (1984) dan SNI 01.2346.2006 dari Badan Standarisasi
Nasional (Tabel 1):

11
Tabel 1 Daftar nilai skala organoleptik hasil tangkapan
Spesifikasi
1. MATA
- Cerah, bola mata menonjol, kornea jernih
- Cerah bola mata rata, kornea jernih
- Agak cerah, bola mata rata, pupil agak keabu-abuan, kornea agak
jernih
- Bola mata agak cekung, pupil berubah keabu-abuan, kornea agak
keruh
- Bola mata agak cekung, pupil keabu-abuan, kornea agak keruh
- Bola mata cekung, pupil mulai berubah menjadi putih susu, kornea
keruh
- Bola mata cekung, pupil putih susu, kornea jernih
- Bola mata tenggelam, ditutupi lendir kuning yang tebal
2. INSANG
- Warna merah cemerlang, tanpa lendir dan bakteri
- Warna merah kurang cemerlang, tanpa lendir
- Warna merah agak kusam, tanpa lendir
- Merah agak kusam, tanpa lendir
- Mulai ada kolaborasi merah muda, merah coklat, sedikit lendir
- Mulai ada diskolaborasi, sedikit lendir
- Perubahan warna merah coklat, lendir tebal
- Warna merah coklat atau kelabu, lendir tebal
- Warna putih kelabu, lendir tebal sekali
3. DAGING DAN PERUT
- Sayatan daging sangat cemerlang, berwarna asli, tidak ada sayatan
tulang belakang, perut utuh, ginjal merah terang, dinding perut,
dagingnya utuh, bau isi perut segar
- Sayatan daging sangat cemerlang, warna asli, tidak ada pemerahan
sepanjang tulang belakang, perut utuh, ginjal merah terang,
dinding perut, dagingnya masih utuh, bau netral
- Sayatan daging cemerlang, warna asli, ada sedikit pemerahan pada
sepanjang tulang belakang, perut agak lembek, ginjal merah mulai
pudar, bau netral
- Daging agak lembek, agak kemerahan pada tulang belakang, perut
agak lembek, sedikit bau susu
- Sayatan daging mulai pudar, didua perut lembek, banyak
pemerahan pada tulang belakang, bau seperti susu
- Sayatan daging tidak cemerlang, didua perut lunak, pemerahan
sepanjang tulang belakang, rusuk mulai lembek, bau perut sedikit
asam
- Sayatan daging kusam, warna merah jelas sekali pada sepanjang
tulang belakang, dinding perut lunak sekali, bau asam amoniak
- Sayatan daging kusam sekali, warna merah jelas sepanjang tulang
belakang, dinding perut memudar, bau busuk sekali

Nilai
Skala
9
8
7
6
5
4
3
1
9
8
7
6
5
4
3
2
1

9

8

7
6
5
4
2
1

12
Lanjutan Tabel 1
Spesifikasi
4. KONSITENSI
- Padat, elastis bila ditekan dengan jari, sulit menyobek daging dari
tulang belakang
- Agak padat, elastis bila ditekan dengan jari, sulit menyobek jari
dari tulang belakang, kadang-kadang agak lunak sesuai dengan
jenisnya
- Agak lunak, elastis bila ditekan dengan jari, agak mudah
menyobek daging dari tulang belakang
- Agak lunak, kurang elastis bila ditekan dengan jari, agak mudah
menyobek daging dari tulang belakang
- Agak lunak, belum ada bekas jari bila ditekan, mudah menyobek
daging dari tulang belakang
- Lunak, bekas jari terlihat bila ditekan tetapi cepat hilang, mudah
menyobek daging dari tulang belakang
- Lunak, bekas jari terlihah lama bila ditekan dan mudah menyobek
daging dari tulang belakang
- Lunak, bekas jari terlihat lama bila ditekan, mudah sekali
menyobek daging dari tulang belakang
- Sangat lunak, bekas jari tidak mau hilang bila ditekan, mudah
sekali menyobek daging dari tulang belakang

Nilai
Skala
9
8
7
6
5
4
3
2
1

Keterangan : 1 sampai 3 = hasil tangkapan dalam kondisi sangat busuk
4 sampai 5 = hasil tangkapan dalam kondisi busuk
6 sampai 7 = hasil tangkapan dalam kondisi agak baik
8 = hasil tangkapan dalam kondisi baik
9 = hasil tangkapan dalam kondisi sangat baik (prima)
Sumber : Standar Penelitian Indonesia Bidang Perikanan, Petunjuk Pengujian Organoleptik,
Departemen Pertanian (1984) dan SNI 01.2346.2006 dari Badan Standarisasi Nasional

Nilai skala organoleptik dengan skala 9 merupakan nilai untuk hasil
tangkapan dengan mutu tertinggi, sedangkan nilai skala organoleptik dengan skala
1 merupakan nilai untuk hasil tangkapan dengan mutu terendah. Berdasarkan hal
tersebut diketahui semakin tinggi nilai skala organoleptiknya maka semakin bagus
mutu hasil tangkapan tersebut, demikian sebaliknya semakin rendah nilai skala
organoleptiknya maka mutu hasil tangkapan tersebut semakin buruk.
Menurut Pane (2012) di Indonesia ikan dengan nilai skala organoleptik 9
sampai 6 layak dikonsumsi, sedangkan ikan dengan nilai skala organoleptik 5
sampai 1 tidak layak dikonsumsi. Berbeda dari Indonesia, di Uni Eropa ikan yang
layak dikonsumsi adalah ikan dengan nilai skala organoleptik 9 dan 8, ikan
dengan nilai skala organoleptik 7 ke bawah tidak layak di konsumsi.

13
Selain menurut nilai skala organoleptik seperti di atas, mutu hasil tangkapan
juga dapat diperhatikan berdasarkan ciri-ciri hasil tangkapan yang segar dan yang
busuk. Adapun ciri-ciri tersebut menurut Junianto (2003) terdapat pada Tabel 2
berikut ini :

Tabel 2 Ciri hasil tangkapan segar dan hasil tangkapan busuk
Parameter
Hasil Tangkapan Segar
Hasil Tangkapan Busuk
1. Tekstur
Elastis dan jika ditekan tidak Daging kehilangan elastisitasnya
daging
ada bekas jari serta padat
atau lunak dan jika ditekan maka
atau kompak
bekas tekanannya lama hilang
2. Mata
Pupil hitam menonjol dengan Pupil mata kelabu tertutup lendir
kornea jernih, bola mata
seperti putih susu, bola mata
cembung dan cemerlang atau cekung dan keruh
cerah
3. Insang
Insang berwarna merah
Warna merah coklat sampai
cemerlang atau merah tua
keabu-abuan dan lendir tebal
tanpa adanya lendir
4. Bau
Bau segar atau sedikit berbau Bau menusuk seperti asam asetat
amis yang lembut
dan lama kelamaan menjadi bau
busuk yang menusuk hidung
5. Keadaan
Perut tidak pecah masih utuh Perut sobek, warna sayatan
perut dan dan warna sayatan daging
daging kurang cemerlang dan
sayatan
cemerlang serta jika hasil
terdapat warna merah sepanjang
daging
tangkapan dibelah daging
tulang belakang serta jika
melekat pada tulang terutama dibelah daging mudah lepas
rusuknya
6. Keadaan
Warnanya sesuai dengan
Warna sudah pudar dan
kulit dan aslinya dan cemerlang, lendir memucat, lendir tebal dan
dipermukaan jernih dan
menggumpal serta lengket,
lendir
transparan dan baunya khas
warnanya berubah seperti putih
menurut jenisnya
susu
Sumber : Junianto 2003

Jika daftar nilai skala organoleptik hasil tangkapan pada Tabel 1
dibandingkan dengan ciri-ciri hasil tangkapan segar dan busuk pada Tabel 2,
maka diketahui bahwa ciri-ciri hasil tangkapan segar sesuai dengan nilai skala
organoleptik 9, sedangkan ciri-ciri hasil tangkapan busuk mulai terlihat pada nilai
skala organoleptik 5. Berdasarkan uraian ini dapat juga disimpulkan bahwa hasil
tangkapan yang segar adalah ikan dengan nilai skala organoletik 9, sedangkan
ikan yang sudah busuk adalah ikan dengan skala organoleptik 5 sampai dengan 1.

14
2.3 Pendistribusian Hasil Tangkapan
“Mengalirkan” hasil tangkapan kepada pihak lain dapat disebut dengan
pendistribusian hasil tangkapan, sedangkan pendistribusian menurut Keputusan
Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP. 01/MEN/2007 vide Departeman
Kelautan dan Perikanan (2007) yaitu rangkaian kegiatan penyaluran hasil
perikanan dari suatu tempat ke tempat lain dari produksi sampai dengan
pemasaran.
Menurut Mc Donald (1993) vide Malik (2006), pendistribusian adalah istilah
yang biasa digunakan dalam pemasaran untuk menjelaskan bagaimana suatu
produk atau jasa dibuat secara fisik tersedia bagi konsumen. Pendistribusian
meliputi kegiatan pergudangan, transportasi, persediaan, penanganan pesanan dan
lain-lain. Pendistribusian hasil tangkapan akan sangat berbeda dengan
pendistribusian barang hasil pabrik, dikarenakan hasil tangkapan memiliki sifat
dan keadaan khusus yang membuat cara pendistribusiannya berbeda. Ciri-ciri
pendistribusian hasil tangkapan menurut Malik (2006) antara lain :
1. Hasil tangkapan sangat bergantung kepada musim dan iklim, sehingga
penawarannya tidak stabil sepanjang tahun. Padahal permintaan hasil
tangkapan sepanjang tahun relatif stabil karena hasil tangkapan merupakan
bahan pangan yang dibutuhkan oleh konsumen
2. Adanya sifat hasil tangkapan yang sesuai dengan musim membuat
pendistribusian hasil tangkapan tersebut juga musiman
3. Adanya sistem ijon (pemberian kredit atau modal) oleh pengumpul membuat
nelayan harus menjual dan mendistribusikan hasil tangkapannya melalui
pengumpul tersebut.
4. Kelembagaan pendistribusian hasil tangkapan terdiri dari nelayan, pengumpul,
perusahaan, grosir dan pedagang eceran. Pengumpul memiliki kedudukan
yang paling penting dalam pendistribusian hasil tangkapan
Menurut Siregar (1990) vide Aryadi, (2007) ada beberapa persyaratan yang
harus dipenuhi sebelum terjadinya proses pendistribusian yaitu :
1) Ada muatan yang diangkut (sumberdaya)
2) Tersedianya kendaraan sebagai angkutannya (media transportasi)
3) Ada jalan yang dilalui (jalur pendistribusian)

15
Selain persyaratan, dalam pendistribusian terdapat dua jenis peralatan yang
digunakan yakni :
1. Sarana angkutan yaitu berupa peralatan yang dipakai untuk mengangkut
barang dan penumpang yang digerakkan oleh mesin motor atau penggerak
lainya.
2. Prasarana angkutan yang terdiri dari jalanan (sebagai tempat bergeraknya
sarana angkutan) dan terminal (sebagai tempat memberikan pelayanan kepada
penumpang dalam perjalanan, barang dalam pengiriman dan kendaraan
sebelum maupun sesudah melakukan operasi)
Pendistribusian hasil tangkapan terdiri dari beberapa jenis seperti yang
dijelaskan oleh Moeljanto (1992) vide Aryadi (2007), pendistribusian hasil
tangakapan berdasarkan jalurnya dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu :
1) Pendistribusian melalui jalur darat
Pendistribusian ini menggunakan jalur darat, adapun sarana yang dapat
digunakan di jalan darat antara lain gerobak, kereta api, truk terbuka, atau truk bak
tertutup dengan pendingin. Komoditas yang melalui jalur ini harus didinginkan
sampai suhu 0ºC agar mutunya terjaga.
2) Pendistribusian melalui jalur laut
Pendistribusian lewat jalur laut memakai kapal sebagai sarananya.
Konstruksi palka kapalnya harus lebih baik karena di laut sering terjadi
goncangan, palka yang baik akan melindungi hasil tangkapan dari kehancuran
akibat goncangan.
3) Pendistribusian melalui jalur udara
Sarana pendistribusian lewat jalur udara adalah pesawat terbang. Sarana ini
merupakan sarana pendistribusian yang paling cepat sekaligus paling mahal.
Pendistribusian jenis ini cocok untuk mendistribusikan komoditas hasil tangkapan
yang mempunyai harga mahal dan memerlukan waktu yang singkat untuk
mencapai tujuan.
Kegiatan pendistribusian memerlukan daerah sebagai tujuan pendistribusian.
Daerah tujuan pendistribusian dapat diartikan sebagai daerah-daerah yang
menerima pasokan hasil tangkapan dari pelabuhan perikanan. Daerah tersebut

16
dapat berada di sekitar pelabuhan, ke laur daerah tetapi masih di dalam negara
Indonesia dan sampai ke luar negeri.

2.4 Pemetaan Pendistribusian Hasil Tangkapan
Menurut Hanafiah dan Saepudin (1986) vide Malik (2006) pemetaan
pendistribusian merupakan kegiatan yang meliputi pemetaan wilayah pasar secara
geografis. Kegiatan pemetaan ini berguna untuk mengetahui bagaimana nelayan
meningkatkan produksi sesuai dengan pemesanan dan permintaan, serta
bagaimana keadaan pendistribusian dan cara-cara memperbaikinya dalam
menghadapi permintaan dan pesanan.
Departemen Perdagangan (1977) vide Darmawan (2006) menyebutkan ada
lima jenis pemetaan di dalam kegiatan pendistribusian yaitu :
1) Pemetaan wilayah pasar (market areas mapping)
Langkah pertama yang dapat memberikan gambaran struktur geografis
dalam pendistribusian adalah pembuatan peta (map) yang dapat menggambarkan
secara jelas mengenai batas-batas geografisnya. Secara ideal suatu wilayah dapat
dibagi-bagi kedalam struktur geografis yang menunjukkan luas areal supply untuk
semua ukuran dari barang yang didistribusikan. Peta ini digunakan untuk
merencanakan areal penjualan dan melihat kemungkinan proses pengolahan.
2) Pemetaan kuantitatif (quantified mapping)
Pemetaan kuantitatif berfungsi untuk mengetahui berapa banyak, dari mana
dan kemana hasil tangkapan dijual. Data kuantitatif dapat ditambahkan kedalam
peta wilayah pasar geografis yang telah dibuat. Membandingkan peta untuk waktu
yang berbeda dalam satu tahun akan menunjukkan pola musiman pendistribusian,
sedangkan jika membandingkan peta untuk tahun yang berbeda akan
menunjukkan indikasi peningkatan atau penurunan pendistribusian di suatu pasar.
3) Pemetaan harga (price mapping)
Pemetaan harga berguna dalam perbaikan efisiensi pemasaran, selain itu
komoditas pendistribusian hasil tangkapan biasanya tidak sama satuan dan
kualitasnya, sehingga sangat perlu mencatat satuan dan kualitas yang disesuaikan
dengan harga. Membandingkan peta harga pada waktu yang berbeda bertujuan
untuk mengetahui perubahan dalam struktur harga.

17
4) Pemetaan kualitas (quality mapping)
Berdasarkan kualitas hasil tangkapan dapat dipetakan daerah pasar tujuan
pendistribusian suatu hasil tangkapan. Pemetaan ini dapat menunjukkan
kecendrungan permintaan dan daya beli suatu daerah terhadap hasil tangkapan
yang didistribusikan. Peta kualitas akan sangat membantu dalam memprediksi dan
menggambarkan permintaan konsumen dan trend konsumsi komoditi perikanan.
5) Skema arus barang niaga (commodity flow chart)
Merupakan bagan alir kegiatan pendistribusian hasil tangkapan yang
menunjukkan jalur pendistribusian serta komponen yang terlibat dalam proses
pendistribusian hasil tangkapan dari produsen sampai ke konsumen. Pada peta ini
digambarkan secara jelas struktur kelembagaan atau organisasi dari kegiatan
pendistribusian hasil tangkapan. Tujuannya adalah untuk melihat saluran atau pola
pendistribusian mana yang memungkinkan kegiatan pendistribusian yang paling
efisien.

2.5 Pelabuhan Perikanan
Berdasarkan Departemen Kelautan dan Perikanan (2010) pada pasal 41
ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia No 45 tahun 2009 tentang Perikanan,
pelabuhan perikanan dalam mendukung kegiatan yang berhubungan dengan
pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya, pelabuhan
perikanan berfungsi sebagai :
1) Pelayanan tambat dan labuh kapal perikanan
2) Pelayanan bongkar muat
3) Pelayanan pembinaan mutu dan pengolahan hasil perikanan
4) Pemasaran dan distribusi ikan
5) Pengumpulan data tangkapan dan hasil perikanan
6) Tempat pelaksanaan penyuluhan dan pengembangan masyarakat nelayan
7) Pelaksanaan kegiatan operasional kapal perikanan
8) Tempat pelaksanaan pengawasan dan pengendalian sumberdaya ikan
9) Pelaksanaan kesyahbandaran
10) Tempat pelaksanaan fungsi karantina ikan

18
11) Publikasi hasil pelayanan sandar dan labuh kapal perikanan dan kapal
pengawas kapal perikanan
12) Tempat publikasi hasil riset kelautan dan perikanan
13) Pemantauan wilayan pesisir dan wisata bahari
14) Pengendalian lingkungan
Menurut Lubis (2006), salah satu fungsi pelabuhan yaitu sebagai
kepentingan komersil. Fungsi ini timbul karena pelabuhan perikanan sebagai
tempat awal untuk mempersiapkan pendistribusian produk hasil tangkapan
melalui transaksi pelelangan hasil tangkapan. Selanjutnya pedagang atau bakul
hasil tangkapan akan mengambil hasil tangkapan yang telah dilelang atau dibeli
secara cepat dan diberi es untuk mempertahankan mutu hasil tangkapan tersebut.
Para pedagang atau bakul hasil tangkapan tersebut lalu mendistribusikan hasil
tangkapan dalam bentuk segar dengan menggunakan truk, mobil bak terbuka yang
dilapisi styrofoam, atau mobil yang dilengkapi dengan alat pendingin.
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER. 16/MEN/2006 vide
Departemen Kelautan dan Perikanan (2006) menyatakan bahwa klasifikasi
pelabuhan perikanan dibagi menjadi empat yaitu Pelabuhan Perikanan Samudera
(PPS) atau tipe A, Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) atau tipe B, Pelabuhan
Perikanan Pantai (PPP) atau tipe C dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) atau tipe
D. Klasifikasi tersebut didasarkan kepada kriteria pada Tabel 3. Beberapa contoh
pelabuhan perikanan yang terdapat di Indonesia berdasarkan klasifikasi tersebut
adalah :
1. Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) : PPS Nizam Zachman Jakarta, PPS
Bungus, PPS Belawan, PPS Cilacap dan PPS Kendari
2. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) : PPN Palabuhanratu, PPN Sibolga,
PPN Pekalongan dan PPN Brondong
3. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) : PPP Muncar, PPP Blanakan, PPP
Bojomulyo dan PPP tasik Agung
4. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) : PPI Cisolok, PPI Cituis, PPI Muara Angke
dan PPI Jetis

19
Tabel 3 Kriteria tipe pelabuhan perikanan di Indonesia
Pelabuhan
Kriteria
Perikanan
1. Samudera (A)
a. Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan
perikanan di laut Teritorial, Zona Ekonomi Eksklusif
dan laut lepas
b. Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan
berukuran sekurang-kurangnya 60 GT
c. Panjang dermaga sekurang-kurangnya 300 m,
kedalaman kolam sekurang-kurangnya minus 3 m
d. Mampu menampung sekurang-kurangnya 100 kapal
perikanan atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya
6.000 GT kapal perikanan sekaligus
e. Hasil tangkapan yang didaratkan sebagian untuk ekspor
f. Terdapat industri perikanan
2. Nusantara (B)
a. Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan
perikanan di laut Teritorial dan Zona Ekonomi Ekslusif
Indonesia.
b. Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan
berukuran sekurang-kurangnya 30 GT
c. Panjang dermaga sekurang-kurangnya 150 m,
kedalaman kolam sekurang-kurangnya minus 3 m
d. Mampu menampung sekurang-kurangnya 75 kapal
perikanan atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya
2.250 GT kapal perikanan sekaligus
e. Hasil tangkapan yang didaratkan sebagian untuk ekspor
3. Pantai (C)
a. Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan
perikanan di perairan pedalaman, perairan kepulauan
dan laut Teritorial
b. Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan
berukuran sekurang-kurangnya 10 GT
c. Panjang dermaga sekurang-kurangnya 100 m,
kedalaman kolam sekurang-kurangnya minus 2 m
d. Mampu menampung sekurang-kurangnya 30 kapal
perikanan atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya
300 GT kapal perikanan sekaligus
4. Pangkalan
a. Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan
Pendaratan Ikan
perikanan di perairan pedalaman dan perairan
(D)
kepulauan
b. Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan
berukuran sekurang-kurangnya 3 GT
c. Panjang dermaga sekurang-kurangnya 50 m, kedalaman
kolam sekurang-kurangnya minus 2 m
d. Mampu menampung sekurang-kurangnya 20 kapal
perikanan atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya
60 GT kapal perikanan sekaligus
Sumber : Departemen Kelautan dan Perikanan (2006)

20
2.6 Analisis Pengujian Perbedaan Mutu Hasil Tangkapan : Mann-Whitney
Test dan Kruskal Wallis Test
Santoso (1999) menjelaskan mengenai statistika seperti penjelasan di bawah
ini. Statistika dalam praktek berhubungan dengan banyak angka, sehingga
statistika sering diasosiasikan dengan sekumpulan data. Statistika dipakai untuk
melakukan berbagai analisis terhadap data seperti peramalan, pengujian dan
lainnya. Statistika terbagi menjadi dua berdasarkan karakteristik datanya yaitu :
1) Statistika parametrik
Statistika parametrik dipakai untuk menganalisis data yang berasal dari
populasi yang berdistribusi normal. Statistika parametrik dapat berupa ratarata/mean, median, standar deviasi, varians, t-test, f-test dan lainnya.
2) Statistika non parametrik.
Statistika non parametrik dipakai untuk menganalisis data yang jumlahnya
sedikit, berupa data kategori atau berasal dari populasi data yang tidak normal.
Statistika non parametrik memiliki beberapa kelebihan dibandingkan statistika
parametrik yaitu :
(1) Tidak mengharuskan data berdistribusi normal, karena itu statistika ini sering
juga dinamakan uji distribusi bebas (distribution free test), dengan demikian
statistika ini dapat dipakai untuk semua bentuk distribusi data dan lebih luas
penggunaannya
(2) Dapat dipakai untuk level data seperti nominal dan ordinal. Hal ini penting
bagi para peneliti sosial
(3) Cenderung lebih sederhana dan mudah dimengerti daripada pengerjaan
statistika parametrik
Disamping kelebihan di atas, statistika non parametrik juga mempunyai
beberapa kelemahan yaitu tidak adanya sistematika yang jelas seperti statistika
parametrik dan tabel yang yang dipakai lebih bervariasi dibandingkan tabel-tabel
standar pada statistika parametrik.
Berikut ini adalah beberapa statistika non parametrik yang dapat digunakan
pada software SPSS (Statistical Product and Service Solutions) pada Tabel 4
berikut ini :

21
Tabel 4 Jenis aplikasi statistika parametrik dan non parametrik berdasarkan
hubungan sampel
Test
Aplikasi
Test Non Parametrik
Parametrik
1. Dua sampel saling berhubungan
t-test
Sign test
(Two Dependent Sampels)
z-tes
Wilcoxon Signed-Rank
Mc Nemar Change test
2. Dua sampel tidak berhubungan
t-test
Mann-Whitney U test
(Two Independent Sampel)
z-tes
Moses Extreme reactions
Chi-Square test
Kolmogorov-Smirnov test
Walt-Wolfowitz runs
3. Beberapa sampel berhubungan
Friedman test
(Several Dependent Sampels)
Kendall W test
Cochran’s Q
4. Beberapa sampel tidak
ANOVA
Kruskal-Wallis test
berhubungan
test
Chi Square test
(Several Independent Sampel)
(f-test)
Median test
Sumber : Santoso (1999)

1) Mann-Whitney test
Menurut Santoso (1999) analisis statistika menggunakan Mann-Whitney test
digunakan untuk membandingkan dua data independent atau data yang tidak
berhubungan. Data pada sampel yang diambil bersifat bebas dan tidak saling
terikat satu dengan lainnya. Analisis ini menggunakan langkah-langkah sebagai
berikut :
 Buka software SPSS
 Buka lembar kerja baru
 Membuat dan member nama variabel sesuai data
 Mengisi data sesuai dengan variabelnya
 Memilih menu statistika, nonparametrik test, grouping variabel, define
group, test type mann-whitney dan oke
 Merangkum dan menganalisis hasil pengujian statistika
 Mengambil keputusan (terima H0 atau tolak H0)
2) Kruskal Wallis test
Santoso (1999) menyatakan bahwa analisis statistika menggunakan Kruskal
Wallis test digunakan untuk membandingkan tiga atau lebih data independent atau
data yang tidak saling berhubungan. Data pada sampel yang diambil bersifat

22
bebas dan tidak saling terkait satu dengan lainnya. Analisis ini menggunakan
langkah-langkah sebagai berikut :
 Buka software SPSS
 Buka lembar kerja baru
 Membuat dan member nama variabel sesuai data
 Mengisi data sesuai dengan variabelnya
 Memilih menu statistika, nonparametrik test, grouping variabel, define
group, test type kruskal-wallis dan oke
 Merangkum dan menganalisis hasil pengujian statistika
 Mengambil keputusan (terima H0 atau tolak H0)

2.7 Analisis Finansial
Menurut Kadariah (1988) terdapat dua jenis analisis biaya yaitu analisis
finansial dan analisis ekonomi. Analisis finansial merupakan analisis biaya yang
dilihat dari sudut penanam modal, sedangkan analisis ekonomi dilihat dari sudut
perekonomian secara keseluruhan.
Pada analisis finansial terdapat dua jenis pengeluaran yaitu pengeluaran
untuk barang investasi dan biaya untuk produksi. Biaya produksi menurut Rosyidi
(2009) merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh pengusaha untuk dapat
menghasilkan produk atau semua nilai faktor produksi yang digunakan untuk
menghasilkan produk. Biaya produksi ini terbagi atas tiga jenis yaitu :
1. Biaya tetap/fixed cost (FC)
Biaya tetap merupakan biaya yang tidak dipengaruhi oleh jumlah produk
yang dihasilkan atau biaya yang tidak berubah walaupun jumlah produk yang
dihasilkan berubah. Biaya ini tetap harus dikeluarkan atau dibayarkan walaupun
tidak ada produk yang dihasilkan. Contoh dari biaya tetap adalah sewa, asuransi,
biaya pemeliharaan, biaya penyusutan, bagi hasil, gaji, pajak dan alat tulis kantor.
2. Biaya variabel/variabel cost (VC)
Biaya variabel merupakan biaya yang dipengaruhi oleh jumlah produk yang
dihasilkan atau biaya yang berubah sesuai dan searah dengan perubahan jumlah
produk. Biaya ini tidak dikeluarkan atau dibayarkan jika tidak ada produk yang

23
dihasilkan. Contoh dari biaya variabel adalah bahan mentah atau bahan baku,
bahan bakar, penggunaan listrik, penggunaan air dan pengangkutan.
3. Biaya total/total cost (TC)
Biaya total merupakan keseluruhan biaya produksi yang harus dikeluarkan
oleh pengusaha, sehingga biaya ini adalah hasil penjumlahan dari biaya tetap
dengan biaya variabel.
Penyusutan merupakan pengalokasian investasi setiap tahun sepanjang umur
ekomomis proyek atau kegiatan untuk memastikan modal terhitung dalam neraca
rugi laba tahunan (Kadariah, 1988). Standar Akuntansi Keuangan (2007) vide
(Nurlaelani, 2011) mendefinisikan penyusutan sebagai alokasi jumlah suatu aktiva
yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang disetimasi.
Penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode yang dapat
dikelompokan sebagai berikut (Nurlaelani, 2011):
1) Metode aktivitas (Activity Method)
Metode aktivitas (activity method) juga disebut pendekatan beban variabel,
mengasumsikan bahwa penyusutan adalah fungsi dari penggunaan atau
produktivitas bukan dari berlalunya waktu.
2) Metode Garis Lurus (Straight Line Method)
Metode garis lurus mempertimbangkan penyusutan sebagai fungsi dari
waktu, bukan fungsi dari penggunaan.
3) Metode Beban Menurun (Decreasing Charge Method)
Metode beban menurun (Decreasing Charge Method) yang seringkali
disebut metode penyusutan dipercepat menyediakan biaya penyusutan yang lebih
tinggi pada tahun tahun awal dan beban yang lebih rendah pada periode
mendatang. Metode ini terbagi dua yaitu :
 Metode Jumlah Angka Tahun (Sum Of The Year Digits) adalah yang
menghasilkan beban penyusutan yang menurun berdasarkan pecahan yang
menurun dari biaya yang dapat disusutkan.
 Metode Saldo Menurun adalah metode yang menggunakan tarif penyusutan
berupa beberapa kelipatan dari metode garis lurus.

24
4) Metode Penyusutan Khusus
 Metode Kelompok dan Gabungan merupakan metode dimana beberapa akun
aktiva seringkali disusutkan dengan satu tarif. Metode kelompok sering
digunakan apabila aktiva bersangkutan cukup homogen dan memiliki masa
manfaat yang hampir sama. Pendekatan gabungan digunakan apabila aktiva
bersifat heterogen dan memiliki umur manfaat yang berbeda.
 Metode Campuran atau Kombinasi dimana selain metode penyusutan diatas,
perusahaan bebas mengembangkan metode penyusutan sendiri yang khusus
atau dibuat khusus.

25

3 METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian lapang dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan September
2010 dengan tempat penelitian di PPN Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat
(Lampiran 1).

3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer hasil
kuesioner,

data

sekunder

yang

berhubungan

dengan

penanganan

dan

pendistribusian hasil tangkapan, peta dunia dan peta Jawa Barat.. Alat yang
dipakai adalah kuesioner untuk wawancara, Microsoft Office Excel untuk
membuat tabel dan diagram, Adobe Ilustrator 10 dan Corel Draw X4 sebagai
pembuat peta, serta Minitab Solution untuk pengujian normalitas data dan SPSS
12 untuk analisis statistika.

3.3 Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kasus yaitu dengan
mengamati dan mengkaji dua aspek yaitu penanganan dan pendistribusian hasil
tangkapan di PPN Palabuhanratu. Berdasarkan aspek tersebut ingin diketahui data
dan informasi mengenai kondisi terkini dan sekaligus mendapatkan permasalahanpermasalahan

yang

dihadapi

oleh

PPN

Palabuhanratu.

Informasi

dan

permasalahan yang diperoleh digunakan sebagai masukan dalam perbaikan
penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu.
Data atau informasi yang ingin diketahui mengenai penanganan hasil
tangkapan yaitu sarana dan prasarana penanganan, cara penanganan, pelaku
penanganan dan biaya penanganan, sedangkan informasi yang ingin diketahui
mengenai pendistribusian hasil tangkapan yaitu jumlah dan komposisi hasil
tangkapan yang didistribusikan, sarana dan prasarana pendistribusian, cara
pendistribusian, pelaku pendistribusian, alur pendistribusian, daerah tujuan
pendistribusian dan biaya pendistribusian. Untuk mendapatkan hal-hal tersebut
dilakukan pengamatan, wawancara dan pengumpulan data sekunder.

26

1) Pengamatan yang dilakukan pada saat penelitian di lapangan adalah :
(1) Pengamatan aktivitas penanganan di tempat pendaratan terhadap sarana
dan prasarana, alat dan bahan, pelaku dan cara penanganan serta masalah
dalam kegiatan tersebut.
(2) Pengamatan aktivitas penanganan di tempat pedagang pengumpul. Hal
yang diamati dan dicatat adalah sarana dan prasarana yang digunakan, alat
dan bahan penanganan, pelaku penanganan, cara penanganan dan masalah
yang terjadi pada kegiatan tersebut.
(3) Pengamatan aktivitas penanganan di

Dokumen yang terkait

Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu