Respon masyarakat lokal atas kehadiran industri pengolahan tahu (studi kasus: kampung Cikaret, kalurahan Cikaret, kecamatan Bogor Selatan, kota Bogor, Jawa Barat)

(1)

(Studi Kasus: Kampung Cikaret, Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat)

RIZKI AFIANTI I34070116

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011


(2)

ABSTRACT

Agro-industry is an industry which has activities that processing the agricultural products into value product. Tofu processing industry is one of the small-scale agro-industry that process soy as into the agricultural food products called tofu. The purpose of this study are to explain the public respons against the socio-economic and socio-ecology about the presence of tofu processing industries in Kampung Cikaret. Public respons about the presence of tofu processing industries in the region is seen based on the layer of households that were made by the calculation of household income structure. This research method used a quantitative approach supported by qualitative approaches. Primary data was obtained through direct interviews and questionnaires. Secondary data obtained through the documentation and study of literature. The data has been generated and then processed using cross tabulation and descriptive analysis. The analysis unit in this study is the household, to obtain data on income levels and health levels. The interview was done to the head of household to obtain data on opinions about the presence of tofu processing industries in Kampung Cikaret. The selection of respondents used simple random sampling by focusing on one location of Kampung Cikaret. The choice of location was based on a homogeneous society who lived on the outskirt of the river and use it. The research showed that the social, economic and socio-ecology point of views for the presence of tofu processing industries in Kampung Cikaret are affected by the layers of household respondents. Respondent’s opinion about the economic aspects were researched by the work opportunities in tofu processing industries in the local community. There were only a few respondents said that there are work opportunities for local people. In the social aspect of opinion of respondents about the level of competition with immigrants for work in the tofu processing industry. There were a few respondents who claimed that there was competition between immigrants and local communities to work on tofu processing industries. The respondents in the top layer, middle layer and bottom layer stated there is no competition with local communities to work in tofu processing industries. the dominant respondents stated that the social relations between migrants and the local community are good. The socio-ecological impacts of the pollution level of river conditions are seen both before and after the presence of tofu processing industry. Respondents have the opinion that before the presence of tofu processing industry in the region, the rivers were clean, but after the presence of tofu processing industry in the region, the river is not as clean as before. The river which is become one of the quality water source used by local communities was appearing the opinions about the pollution levels of the water sources over the presence of tofu processing industry. Beside that, there are opinions about the comfort level of living and health. When it comes to household’s health level, only two respondents who said that they had itching experience caused by interact with the river that has been polluted by tofu waste. Levels of conflict about the smell and polluted water sources, are only happen in complain level.


(3)

RINGKASAN

RIZKI AFIANTI. Respon Mayarakat Lokal atas Kehadiran Industri Pengolahan Tahu, Studi Kasus: Kampung Cikaret, Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat. Di bawah bimbingan ARYA HADI DHARMAWAN.

Agroindustri skala usaha kecil merupakan industri yang kegiatannya mengolah hasil-hasil pertanian menjadi produk yang bernilai dan dalam kegiatannya menggunakan teknologi sederhana, mampu menyerap tenaga kerja dan memiliki modal terbatas. Agroindustri dalam kegiatannya baik pada skala usaha besar maupun skala usaha kecil berdampak secara sosio-ekonomi maupun sosio-ekologi pada masyarakat sekitarnya. Industri pengolahan tahu merupakan salah satu agroindustri skala kecil dan mengolah kedelai sebagai hasil pertanian menjadi produk makanan yang disebut tahu. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai respon masyarakat lokal terhadap dampak sosio-ekonomi dan sosio-ekologi atas hadirnya industri pengolahan tahu di Kampung Cikaret. Respon masyarakat atas hadirnya industri pengolahan tahu dilihat berdasarkan lapisan rumahtangga yang dibuat melalui perhitungan struktur pendapatan rumahtangga di wilayah Kampung Cikaret.

Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung pendekatan kualiatif. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dan kuesioner. Data sekunder diperoleh melalui dokumentasi dan studi literatur. Data yang telah dihasilkan kemudian diolah menggunakan tabulasi silang dan dianalisis secara deskriptif. Unit analisis dalam penelitian ini adalah unit rumahtangga untuk mendapatkan data mengenai tingkat pendapatan, tingkat kesehatan dan individu yang diwakilkan kepala rumahtangga untuk mendapatkan data mengenai respon atas hadirnya industri pengolahan tahu di Kampung Cikaret. Pemilihan responden menggunakan simple random sampling dengan memfokuskan pada satu lokasi yaitu Kampung Cikaret dan memilih satu RW dengan mengambil tiga RT saja yang dijadikan responden. Pemilihan lokasi ini berdasarkan pada masyarakatnya yang homogen yaitu masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai dan pernah menggunakan sungai. Jumlah responden yang dipilih berdasarkan Rumus Slovin kemudian dilakukan pengundian pada tiga RT yang dipilih.


(4)

Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat respon yang berbeda-beda berdasarkan lapisan rumahtangga responden terhadap dampak sosio-ekonomi dan sosio-ekologi atas hadirnya industri pengolahan tahu di Kampung Cikaret. Pada aspek ekonomi, hanya sedikit responden yang menyatakan adanya kesempatan kerja yang diberikan industri pengolahan tahu bagi masyarakat lokal. Pada aspek sosial mengenai tingkat persaingannya dengan pendatang untuk bekerja di industri pengolahan tahu, hanya sedikit responden yang menyatakan adanya persaingan dengan pendatang untuk bekerja pada industri pengolahan tahu. Pada tingkat persaingan dengan masyarakat lokal, responden pada lapisan atas, lapisan menengah maupun lapisan bawah menyatakan tidak ada persaingan dengan masyarakat lokal untuk bekerja di industri pengolahan tahu. Respon mengenai hubungan sosial responden baik dengan pendatang maupun dengan masyarakat lokal, dominan responden menyatakan hubungan sosialnya baik.

Industri pengolahan tahu menghasilkan limbah cair yang dibuang ke sungai sehingga terdapat respon responden terhadap dampak sosio-ekologi atas hadirnya industri pengolahan tahu. Dampak sosio-ekologi tersebut mengenai tingkat pencemaran dilihat dari kondisi sungai baik sebelum maupun sesudah hadirnya industri pengolahan tahu. Responden menyatakan pendapatnya bahwa sebelum hadirnya industri pengolahan tahu, sungai di wilayahnya jernih. Sebaliknya setelah hadirnya industri pengolahan tahu, sungai di wilayahnya kurang jernih. Sungai yang merupakan salah satu sumber kualitas air bersih yang digunakan oleh masyarakat lokal, membuat adanya pendapat mengenai tingkat pencemaran kualitas sumber air atas hadirnya industri pengolahan tahu. Pada tingkat kenyamanan hidup hanya sedikit responden yang berpendapat bahwa lingkungan tempat tinggalnya kurang nyaman. Pada tingkat kesehatan hanya dua rumahtangga responden yang menyatakan pernah mengalami sakit gatal akibat berinteraksi dengan sungai yang telah tercemar limbah tahu. Tingkat konflik mengenai sikap terhadap bau di sekitar tempat tinggal dan terganggnya kualitas sumber air yang digunakan, responden dominan menyatakan hanya terjadi teguran saja dari masyarakat lokal.


(5)

(Studi Kasus: Kampung Cikaret, Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat)

RIZKI AFIANTI I34070116

SKRIPSI

Sebagai Bagian Persyaratan Mendapatkan Gelar

Sarjana Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Fakultas Ekologi Manusia

Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011


(6)

LEMBAR PENGESAHAN

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini berpendapat bahwa skripsi yang ditulis oleh: Nama Mahasiswa : Rizki Afianti

NRP : I34070116

Program Studi : Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Judul : Respon Masyarakat Lokal atas Kehadiran Industri Pengolahan Tahu (Studi Kasus: Kampung Cikaret, Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat).

Dapat diterima sebagai syarat kelulusan KPM 499 pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Arya Hadi Dharmawan, M.Sc. Agr. NIP. 19630914 199003 1 002

Mengetahui, Ketua Departemen Sains

Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Dr. Ir. Soeryo Adiwibowo, MS NIP. 19550630 198103 1 003


(7)

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “RESPON MASYARAKAT LOKAL ATAS KEHADIRAN INDUSTRI PENGOLAHAN TAHU (Studi Kasus: Kampung Cikaret, Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat)” BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA SUATU PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH. DEMIKIAN PERNYATAAN INI SAYA BUAT DENGAN SESUNGGUHNYA DAN SAYA BERSEDIA MEMPERTANGUNGJAWABKAN PERNYATAAN INI.

Bogor, Agustus 2011

RIZKI AFIANTI I34070116


(8)

RIWAYAT HIDUP

Rizki Afianti dilahirkan di Kota Bogor, Jawa Barat tepatnya pada tanggal 12 Februari 1989. Penulis merupakan anak ketiga dari empat bersaudara, buah hati dari pasangan suami istri Dr. Ir. Ade Wachjar, MS dan Dra. Hj. Sri Adjiwati Sumantri, MPd. Sebagai pelajar, Penulis menempuh pendidikan di TK Tunas Rimba II selama dua tahun, SDN Polisi IV Bogor selama genap enam tahun. Pendidikan penulis dilanjutkan di SMPN 14 Bogor dan SMA Bina Bangsa Sejahtera Bogor masing-masing ditempuh selama tiga tahun. Selanjutnya, penulis menempuh pendidikan tinggi di Institut Pertanian Bogor tepatnya di Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia melalui jalur SPMB.

Semasa SMA Penulis memiliki hobi dalam menulis puisi. Penulis dalam menyalurkan hobinya pernah berpartisipasi pada lomba membuat puisi mengenai kebudayaan yang diadakan oleh UNESCO. Juara II lomba tulis puisi islami di tingkat sekolahan saat duduk di kelas 3 SMA, sempat mengajar anak-anak di TPA gratis di kompleks IPB I Loji Sindang Barang Bogor. Penulis aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan di kampus semasa kuliah. Kegiatan yang pernah diikuti salah satunya adalah kegiatan pelatihan sampah Bukti Cinta Lingkungan (BCL).


(9)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan anugerah-Nya, skripsi yang berjudul “Respon Masyarakat Lokal atas Kehadiran Industri Pengolahan Tahu (Studi Kasus: Kampung Cikaret, Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat)” dapat terselesaikan. Skripsi ini menjelaskan bagaimana respon masyarakat lokal di Kampung Cikaret atas kehadiran industri pengolahan tahu.

Respon masyarakat lokal berdasarkan lapisan rumahtangga mengenai dampak sosio-ekonomi dan sosio-ekologi atas hadirnya industri pengolahan tahu di Kampung Cikaret menjadi hal yang menarik bagi penulis. Harapan penulis, semoga tulisan ini dapat memberikan masukan pada berbagai pihak yang akan melakukan kajian yang sama, serta pada pihak-pihak yang menjadi pelaku agroindustri semoga lebih dapat memperhatikan masyarakat di sekitar kegiatan agroindustri.

Bogor, Agustus 2011

Penulis


(10)

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillah penulis memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan anugerah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sesuai dengan yang telah direncanakan. Penulis juga tidak lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada beberapa pihak yang selama ini memberikan dukungan dan bantuan dalam proses penyelesaian skripsi ini. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Ir. Arya Hadi Dharmawan M.Sc. Agr. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah sabar memberikan dukungan, motivasi dan saran kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

2. Dr. Ir. Rilus A. Kinseng, MA dan Ir. Dwi Sadono, MSi selaku dosen penguji skripsi yang telah memberikan saran dan masukan untuk perbaikan skripsi. 3. Martua Sihaloho, SP. MSi sebagai dosen penguji petik skripsi ini.

4. Bapak Dr. Ir. Arif Satria, M.Sc sebagai dosen pembimbing akademik yang membantu penulis dalam mengarahkan rencana studi dan membantu menyelesaikan masalah akademik.

5. Masyarakat Kampung Cikaret RW 01 yang telah bersedia membantu penulis dalam proses pengumpulan data.

6. Keluarga tersayang, Papa, Mama dan kedua kakakku serta adikku yang selalu memberikan dukungan dan doa.

7. Ali, Utami, Diah, Rani, Anggi, Ima, sebagai teman satu bimbingan yang selalu berjuang bersama.

8. Akira, Icha, Eka, Dian, Tita, Aris, Cifa dan teman-teman SKPM yang selalu ada saat susah maupun senang dan saling memberikan dukungan.

9. Yudha Santosa yang selalu memberikan semangat, dukungan dan tempat berkeluh kesah selama penulisan berlangsung.

10.Segala pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Akhirnya penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya.

Bogor, Agustus 2011


(11)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ………... xi

DAFTAR TABEL ………... xiii

DAFTAR GAMBAR ……….. xiv

BAB I PENDAHULUAN ...………... 1

1.1 Latar Belakang ……… 1

1.2 Rumusan Masalah ………... 3

1.3 Tujuan Penelitian ……… 5

1.4 Kegunaan Penelitian ………... 6

BAB II PENDEKATAN TEORITIS ………... 7

2.1 Tinjauan Pustaka ………. 7

2.1.1 Pengertian Agroindustri ………. 7

2.1.2 Agroindustri Skala Kecil ……… 8

2.1.3 Fungsi dan Peran Agroindustri ………... 9

2.1.4 Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat Agroindustri ……….. 11

2.1.5 Karakteristik Agroindustri Skala Kecil ……….. 12

2.1.6 Masyarakat lokal ……… 12

2.1.7 Agroindustri Skala Kecil dan Perubahan Sosio-Ekonomi dan Sosio-Ekologi Desa ……… 14

2.1.7.1 Dampak Sosial ………... 14

2.1.7.2 Dampak Ekonomi ………... 15

2.1.7.3 Dampak Ekologi ………... 16

2.2 Kedelai dan Pengolahan Tahu ………. 18

2.3 Kerangka Konseptual ……….. 20

2.4 Kerangka Pemikiran ……… 21

2.5 Hipotesis Penelitian ……….…… 23

2.6 Definisi Konseptual ……… 24

2.7 Definisi Operasional ……… 25

BAB III PENDEKATAN LAPANG ……… 27

3.1 Metode Penelitian .……….. 27

3.2 Jenis dan Sumber Data ……… 27

3.3 Waktu dan Tempat Penelitian ………. 28

3.4 Teknik Pengambilan Sampling dan Penentuan Responden ……… 28

3.5 Pengolahan dan Analisis Data ……… 29

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ………. 30

4.1Gambaran Umum Kelurahan Cikaret ……….…. 30

4.1.1 Kondisi Geografis dan Infrastruktur Kelurahan Cikaret ……….… 30

4.1.2 Kondisi Sosial dan Ekonomi Penduduk ……….. 31

4.1.3 Tata Guna Tanah di Kelurahan Cikaret …………..……… 33

4.2 Gambaran Umum Kampung Cikaret dan Industri Pengolahan Tahu …. 34 4.3 Karakteristik Responden Kampung Cikaret ………... 40

4.3.1 Mata Pencaharian Responden ………. 40

4.3.2 Tingkat Pendidikan Responden ………..………. 41


(12)

4.4 Ikhtisar Karakteristik Responden ……….... 42

BAB V RESPON MASYARAKAT LOKAL ATAS DAMPAK SOSIO-EKONOMI INDUSTRI PENGOLAHAN TAHU ………. 44

5.1 Pendahuluan Dampak Sosio-Ekonomi ………. 44

5.2 Struktur Pendapatan Rumahtangga………... 45

5.3 Persaingan Kesempatan Kerja Masyarakat ……….…. 49

5.3.1 Sikap Masyarakat lokal Terhadap Pendatang ……….. 49

5.3.2 Kesempatan Kerja di Industri Pengolahan Tahu ……….. 51

5.3.3 Persaingan Bekerja di Industri Pengolahan Tahu ……… 55

5.4 Hubungan Masyarakat ………... 58

5.4.1 Hubungan Masyarakat dengan Pendatang ………... 58

5.5 Ikhtisar Respon Masyarakat Lokal atas Dampak Sosio-Ekonomi Hadirnya Industri Pengolahan Tahu ……….. 61

BAB VI RESPON MASYARAKAT LOKAL ATAS DAMPAK SOSIO-EKOLOGI INDUSTRI PENGOLAHAN TAHU ……… 63

6.1 Pendahuluan Dampak Sosio-Ekologi …………..………. 63

6.2 Tingkat Pencemaran Sungai ………. 64

6.2.1 Kondisi Air Sungai ……….. 64

6.2.2 Kualitas Sumber Air ……….………... 68

6.3 Tingkat Kenyamanan Hidup ……… 71

6.3.1 Kondisi Lingkungan Tempat Tinggal ………. 71

6.4 Tingkat Konflik ……… 79

6.4.1 Keributan Tentang Masalah Pencemaran ………... 79

6.4.2 Konflik Bau Akibat Limbah Tahu ……….. 81

6.4.3 Konflik Terganggunya Kualitas Sumber Air Bersih……… 83

6.5 Tingkat Kesehatan ………...……….… 85

6.5 Ikhtisar Respon Masyarakat Lokal atas Dampak Sosio-Ekologi Hadirnya Industri Pengolahan Tahu ……….. 86

BAB VIII PENUTUP ……… 89

7.1 Kesimpulan ……….…….. 89

7.2 Saran ……….……… 90

DAFTAR PUSTAKA ……… 92


(13)

DAFTAR TABEL

Nomor Teks Halaman

Tabel 1 Perbedaan Sektor Pertanian dan Industri ………... 9

Tabel 2 Perkembangan Jumlah Tenaga Kerja dari 40 Macam Perusahaan Agroindustri Selama Lima Tahun di Jawa , 2000-2004 ……… 10

Tabel 3 Jumlah Penduduk Kelurahan Cikaret Berdasarkan Komposisi Umur, Maret 2011 ………. 31

Tabel 4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin, 2011 ……… 32

Tabel 5 Tingkat Pendidikan Masyarakat Kelurahan Cikaret ………. 32

Tabel 6 Mata Pencaharian Masyarakat Kelurahan Cikaret ………. 33

Tabel 7 Penggunaan dan Peruntukan Luas Lahan Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, 2008 ………... 34

Tabel 8 Ikhtisar Karakteristik Responden Kampung Cikaret ………. 43

Tabel 9 Kontribusi Pendapatan Rumahtangga Berdasarkan Peran Masing-masing (Rp/Tahun) ………... 45

Tabel 10 Jenis-jenis Pekerjaan Pada Setiap Lapisan Rumahtangga Responden ……….. 49

Tabel 11 Respon Masyarakat Lokal atas dampak Sosio-Ekologi Hadirnya Industri Pengolahan Tahu ………... 87


(14)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Teks Halaman Gambar 1 Alur Pembuatan Tahu ………... 19

Gambar 2 Kerangka Konseptual ……… 20 Gambar 3 Kerangka Pemikiran ……….. 22 Gambar 4 Diagram Alur Pembuatan Tahu Industri Pengolahan Tahu

Milik Pak Hto di Kampung Cikaret ……….. 38 Gambar 5 Mata Pencaharian Responden Kampung Cikaret, 2011 ……… 40 Gambar 6 Tingkat Pendidikan Responden Kampung Cikaret, 2011 …… 41 Gambar 7 Tingkat Lapisan Pendapatan Rumahtangga Responden

Kampung Cikaret, 2011 ………... 47 Gambar 8 Sikap Responden Terhadap Pendatang di Industri

Pengolahan Tahu ……….. 50 Gambar 9 Pendapat Responden Mengenai Kesempatan Kerja di

Industri Pengolahan Tahu ………. 52 Gambar 10 Persentase Anggota Keluarga yang Bekerja pada Industri

Pengolahan Tahu ……….. 54 Gambar 11 Pendapat Responden Mengenai ada atau tidaknya Persaingan

dengan Pendatang untuk Bekerja di Industri

Pengolahan Tahu ……….. 56 Gambar 12 Hubungan Sosial Responden dengan Masyarakat lokal

Sebelum Ada Industri Pengolahan Tahu ……….. 58 Gambar 13 Hubungan Sosial Responden dengan Masyarakat lokal

Setelah Ada Industri Pengolahan Tahu ……… 59 Gambar 14 Pendapat Responden Mengenai Kondisi Sungai Sebelum

Ada Industri Pengolahan Tahu ………. 64 Gambar 15 Pendapat Responden Mengenai Kondisi Sungai Setelah Ada

Industri Pengolahan Tahu ………. 65 Gambar 16 Pendapat Responden Mengenai Pemanfaatan Sungai Sebelum

Ada Industri Pengolahan Tahu ………. 67 Gambar 17 Pendapat Responden Mengenai Pemanfaatan Sungai Setelah

Ada Industri Pengolahan Tahu ………. 68 Gambar 18 Pendapat Responden Mengenai Kualitas Air yang digunakan


(15)

Gambar 19 Pendapat Responden Mengenai Terganggunya Sumber Air

Akibat Limbah Tahu ………. 70 Gambar 20 Pendapat Responden Mengenai Lingkungan Tempat

Tinggalnya Sebelum Ada Industri Pengolahan Tahu ………... 72 Gambar 21 Pendapat Responden Mengenai Lingkungan Tempat

Tinggalnya Setelah Ada Industri Pengolahan Tahu ………… 73 Gambar 22 Pendapat Responden Mengenai Bau Limbah di Sekitar

Tempat Tinggalnya ………... 75 Gambar 23 Pendapat Responden Mengenai Jarak Lingkungan Tempat

Tinggalnya dengan Pembuangan Limbah Tahu ………... 76 Gambar 24 Pendapat Responden Mengenai Jarak Rumahnya dengan

Saluran Pembuangan Limbah Tahu ………. 76 Gambar 25 Pendapat Responden Mengenai Kenyamanan Lingkungan

Tempat Tinggalnya ………... 77 Gambar 26 Pengalaman Responden Mengenai Keributan Akibat

Pencemaran Limbah Tahu ……… 80 Gambar 27 Sikap Responden mengenai Konflik Bau di Sekitar Tempat

Tinggal ……….. 82 Gambar 28 Sikap Responden Mengenai Kualitas Sumber Air Bersih …… 83


(16)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Negara-negara berkembang secara umum keadaannya sangat berbeda dengan negara maju. Standar kualitas kehidupan masih rendah, pangan masih belum mencukupi kebutuhan penduduknya, kelaparan mengancam. Dalam memecahkan masalah pada kondisi demikian, maka negara-negara berkembang harus melaksanakan pembangunan. Negara-negara berkembang kesejahteraannya akan semakin merosot dan akan membawa kehancuran tanpa adanya pembangunan. Salah satu strategi dari pembangunan tersebut adalah melalui industrialisasi dengan memanfaatkan teknologi tinggi seperti industri-industri yang mengolah sumberdaya alam yang tidak dapat menolak penggunaan teknologi tinggi (Kristanto 2004).

Indonesia menganut kebijakan pembangunan sektor pertanian melalui peningkatan nilai tambah produk pertanian melalui agroindustri. Kebijakan ini merupakan prasyarat bagi pembangunan industrialisasi lebih lanjut di sektor pertanian dan sektor terkait lainnya. Para ahli ekonomi mengemukakan bahwa keberhasilan suatu pembangunan industrialisasi tergantung dari pembanguan pertanian yang dapat menciptakan landasan bagi pertumbuhan ekonomi. Mayoritas masyarakat di negara-negara berkembang seperti Indonesia adalah masyarakat petani, sedangkan barang-barang hasil industri memerlukan dukungan daya beli dari masyarakat, sehingga pendapatan masyarakat harus diperbaiki terlebih dulu. Kenyataannya pembangunan pertanian di pedesaan mengandung dilemma. Produktivitas pertanian harus ditingkatkan guna meningkatkan pendapatan masyarakat agar daya belinya tinggi tetapi, dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian, pemerintah menganjurkan untuk menggunakan teknologi modern. Teknologi modern ini digunakan baik dalam proses penanaman maupun pengolahan pertanian. Secara keseluruhan justru anjuran dari pemerintah untuk menggunakan teknologi modern berdampak pada penghematan tenaga kerja sehingga menimbulkan pengangguran dan keadaan setengah menganggur. Anjuran menggunakan teknologi modern justru


(17)

menyebabkan penurunan pada pendapatan sebagian penduduk pedesaan. Mengatasi dilemma dalam menjalankan kebijakan pembangunan pertanian, pemerintah mengadakan kebijakan lain yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah. Kebijakan lain yang dilakukan oleh pemerintah adalah menciptakan industri pengolahan pertanian di pedesaan, baik skala kecil dan rumahtangga ataupun skala besar. Adanya industri pengolahan pertanian di pedesaan ini dapat membantu menyerap sebagian tenaga kerja yang menganggur dan membantu menambah penghasilan pada tenaga kerja yang setengah mengaggur. Industri pengolahan di pedesaan ini tidak hanya terbatas pada pengolahan hasil pertanian, tapi juga dapat mengolah barang-barang atau bahan-bahan input pertanian, seperti industri pembibitan, pupuk, obat-obatan, alat-alat pertanian dan sebagainya (Raharjo 1986).

Esje (1997) mengemukakan bahwa kebijakan yang dilakukan pemerintah selama ini tidak lain adalah keinginan untuk menyeimbangkan antara sektor pertanian dan sektor industri. Tahun 80-an pemerintah mengeluarkan kebijakan mengenai strategi pembangunan pertanian baru yaitu agroindustri, bahkan pemerintah membuat kebijakan-kebijakan lain untuk mensukseskan agroindustri. Agroindustri berasal dari dua kata yaitu agricultural dan industry yang berarti merupakan suatu industri yang menggunakan hasil-hasil pertanian sebagai bahan baku utamanya. Sebagaimana Soekartawi (2005) mendefinisikan bahwa agroindustri merupakan industri yang berbahan baku utama dari produk pertanian. Kehadiran agroindustri mampu meningkatkan pendapatan para pelaku agroindustri, mampu menyerap tenaga kerja, mampu meningkatkan perolehan devisa negara dan mampu mendorong munculnya industri-industri lain.

Agroindustri yang berada di desa biasanya merupakan industri pengolahan pertanian dalam skala kecil atau industri dalam skala rumahtangga yang dibangun oleh masyarakat di desa sebagai pelaku agroindustri. Industri pengolahan pertanian skala kecil merupakan industri pengolahan yang berbahan baku hasil pertanian dan diharapkan dapat membantu membuka peluang kesempatan bekerja, membuka peluang terhadap sumber pendapatan, serta dapat memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat di desa. Strategi pengembangan industrialisasi pertanian di Indonesia tidak bisa lepas dari adanya realitas, skala industri usaha besar,


(18)

menengah dan kecil hadir secara bersamaan. Hadirnya masing-masing skala usaha pada industrialisasi pertanian ini disebabkan karena dalam kenyataannya terdapat industri hulu dan hilir yang saling berkaitan satu dan lainnya. Namun dalam banyak kasus yang terjadi bahwa industri pertanian skala kecil seringkali menjadi tumpuan bagi pengembangan industri pertanian. Industri pertanian skala kecil menggunakan teknologi sederhana, modal yang tidak begitu besar, banyak menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat lokal, bahan bakunya fleksibel dan padat karya. Seperti halnya agroindustri dalam skala kecil atau skala rumahtangga lebih banyak hadir di desa sebagai industri pertanian skala kecil. Masyarakat lebih menyukai industri pertanian skala kecil karena tidak membutuhkan modal yang banyak tetapi mampu menyerap tenaga kerja di desa. Industri pertanian skala kecil yang hanya menggunakan teknologi sederhana belum memiliki cara yang tepat dalam pengolahan limbah yang mengakibatkan masalah terhadap penurunan kualitas lingkungan yang sehat. Limbah yang dihasilkan oleh industri-industri pertanian skala kecil dapat dikatakan merugikan lingkungan sekitarnya. Pembangunan industri pengolahan hasil pertanian di pedesaan seperti agroindustri dapat dikatakan memiliki andil terhadap aspek sosial-ekonomi dan sosio-ekologi masyarakat di desa.

1.2Rumusan Masalah

Desa sejak lama dijadikan sebagai objek kebijakan ekonomi pembangunan dan pengaturan kehidupan sosial di berbagai sektor. Salah satu kebijakan yang intensif dilakukan oleh pemerintah selama ini adalah kebijakan pembangunan pertanian. Menurut Rahardjo (1984) pembangunan pertanian dan pedesaan selama ini mengalami dilemma. Satu pihak produksi pertanian harus ditingkatkan karena merupakan landasan dan prasyarat bagi proses industrialisasi. Akan tetapi kenyataannya, peningkatan produktivitas yang dilakukan dengan menggunakan teknologi efisien, menimbulkan penghematan tenaga kerja di sektor pertanian. Penghematan tenaga kerja di sektor pertanian cenderung menimbulkan proses marginalisasi masyarakat di wilayah pedesaan.

Industri pengolahan pertanian menjadi solusi dari penghematan tenaga kerja di sektor pertanian yang terjadi selama ini. Industri pengolahan pertanian skala


(19)

usaha kecil biasanya berada di desa dan memiliki keterbatasan modal dan menggunakan teknologi sederhana dalam kegiatannya. Indusri pengolahan pertanian yang berada di desa dapat dikategorikan sebagai industri pedesaan. Produsen dan tenaga kerja industri pengolahan pertanian yang berdiri di desa terutama industri pengolahan pertanian skala usaha kecil biasanya merupakan masyarakat lokal. Beberapa penelitian yang telah dilakukan, di beberapa daerah di Indonesia. Sunarjan (1991), mengemukakan penelitiannya bahwa industri rokok kretek sebagai industri pedesaan memiliki dampak terhadap aspek sosio-ekonomi masyarakat lokal. Pada industri rokok kretek di pedesaan menyebabkan perubahan kepemilikan lahan dan pemanfaatan lahan. Lahan yang awalnya dimanfaatkan untuk pertanian sawah kini berubah menjadi perumahan dan kepentingan agroindustri rokok kretek. Perubahan kepemilikan lahan sawah disertai dengan perubahan mata pencaharian. Masyarakat yang tadinya bekerja di sawah, kini bekerja pada industri rokok kretek. Penelitian yang diungkapkan Suhandi et.al (1989-1990), bahwa pembangunan industri di pedesaan mengakibatkan dampak sosial-ekonomi yakni menyebabkan areal lahan pertanian menyempit dan mengakibatkan hilangnya mata pencaharian bagi petani, sehingga sebagian masyarakat petani akan beralih pekerjaan menjadi buruh industri atau pedagang.

Kristanto (2004) mengungkapkan bahwa pembangunan industri dapat menyebabkan perubahan lingkungan terhadap aspek sosial-ekonomi, budaya maupun pencemaran. Industri telah meningkatkan permintaan akan sumberdaya alam sebagai bahan baku utama proses pengolahan dan memaksa sistem alam untuk menyerap hasil sampingan yaitu limbah. Salim (1986) mengungkapkan bahwa industri mempunyai pengaruh besar terhadap lingkungan. Hal ini karena industri adalah kegiatan mengubah sumber alam menjadi produk baru dan industri menghasilkan limbah atau ampas dari kegiatannya yang mencemarkan lingkungan. Limbah merupakan buangan berupa cairan, padat maupun gas yang berasal dari suatu lingkungan masyarakat, yang dihasilkan oleh aktivitas industrial atau rumahtangga di sektor domestik maupun publik. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi setelah revolusi industri merupakan gejala dari kebijakan pembangunan yang kurang menyadari pentingnya lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan hidup ini mengakibatkan terganggunya


(20)

keselarasan hubungan manusia dengan lingkungan. Seperti pembangunan pertanian yang selama ini dijalankan dengan tujuan peningkatan produktivitas.

Pada dasarnya peningkatan produktivitas dalam pembangunan pertanian justru menggunakan bahan-bahan kimia dalam proses produksinya dan kurang memperhatikan dampak terhadap kerusakan lingkungan hidup. Beberapa penelitian yang telah membahas dan menganalisis agroindustri sebagai industri pengolahan di pedesaan masih sedikit yang menyinggung isu mengenai limbah yang dihasilkan oleh kegiatan agroindustri terhadap lingkungan hidup masyarakat di pedesaan. Jika ditelusuri lebih lanjut terdapat hubungan sirkuler antara manusia dan lingkungan hidupnya. Hubungan antara manusia dengan lingkungan hidupnya sangat kompleks, karena dalam lingkungan hidup ada terdapat banyak unsur. Manusia melakukan kegiatan yang pada dasarnya mempengaruhi lingkungan hidupnya, begitupun sebaliknya (Soemarwoto 2004).

Seperti dalam penelitian Rachmat (1993) mengungkapkan terdapat dampak pencemaran air limbah dari industri kecil penyamakan kulit di Sukaregang, terhadap kualitas air Sungai Ciwalen, dan Sungai Cigulampeng. Kedua sungai tersebut merupakan sumber aliran irigasi untuk sawah-sawah sekitar. Pencemaran kedua air sungai tersebut menyebabkan terhambatnya pertumbuhan padi dan terganggunya produktivitas pada hasil panen.

Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. maka terdapat beberapa hal yang dapat diangkat sebagai bahan pertimbangan untuk dikaji dalam studi agroindustri:

1. Apa dan bagaimana respon masyarakat lokal terhadap dampak sosio-ekonomi atas hadirnya industri pengolahan tahu di Kampung Cikaret? 2. Apa dan bagaimana respon masyarakat lokal terhadap dampak

sosio-ekologi atas hadirnya industri pengolahan tahu di Kampung Cikaret?

1.3Tujuan Penelitian

Berdasarkan pemaparan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan ini adalah untuk:

1. Menjelaskan respon masyarakat lokal terhadap dampak sosio-ekonomi atas hadirnya industri pengolahan tahu di Kampung Cikaret.


(21)

2. Menjelaskan respon masyarakat lokal terhadap dampak sosio-ekologi atas hadirnya industri pengolahan tahu di Kampung Cikaret.

1.4Kegunaan Penelitian

Penelitian ini dapat berguna bagi berbagai pihak yang terkait,

1. Bagi akademisi dan perguruan tinggi. Penelitian ini dapat menambah wawasan serta ilmu pengetahuan dalam mengkaji secara ilmiah mengenai respon masyarakat terhadap aspek sosio-ekonomi dan sosio-ekologi atas hadirnya agroindustri khusunya industri pengolahan tahu.

2. Memberikan sumbangan pengetahuan bagi masyarakat, pemerintah dan swasta dalam melakukan kebijakan terhadap kegiatan agroindustri khususnya industri pengolahan tahu di pedesaan.


(22)

BAB II

PENDEKATAN TEORITIS

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Pengertian Agroindustri

Agroindustri adalah salah satu cabang industri yang mempunyai kaitan erat dan langsung dengan pertanian. Apabila pertanian diartikan sebagai proses yang menghasilkan produk pertanian di tingkat primer, maka kaitannya dengan industri dapat berkaitan ke belakang maupun ke depan (Soekartawi 1994). Agroindustri dapat diartikan menjadi dua pengertian, pengertian agroindustri yang pertama adalah industri yang berbahan baku utama dari produk pertanian. Konteks pengertian ini menekankan pada food Processing management dalam suatu perusahaan produk olahan yang bahan baku utamanya adalah produk pertanian. pengertian agroindustri yang kedua bahwa agroindustri diartikan sebagai suatu tahapan pembangunan sebagai kelanjutan dari pembangunan pertanian, tetapi sebelum tahapan pembangunan tersebut mencapai pembangunan industri (Soekartawi 2005).

Agroindustri menurut Jamaran (1995) sebagaimana dikutip Widiastuti (2003), bahwa agroindustri adalah proses memberikan nilai tambah yang dilakukan pada produk hasil pertanian yang pada prinsipnya menggunakan perlakukan-perlakuan atau proses secara kimia, fisika, atau dengan bantuan aktivitas biologis. Menurut Barlow dan William (1989) sebagaimana dikutip Widiastuti (2003) menyatakan bahwa agroindustri terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu:

1. Initial Processing. Merupakan kegiatan produksi yang langsung dikerjakan oleh petani seperti pembuatan kopra, lembaran karet, pengupasan kopi, dan sebagainya , tetapi kualitasnya relatif kurang baik. 2. Intermediate processing. Merupakan kegiatan produksi yang melanjutkan

kegiatan dari initial processing dalam bentuk yang dapat disimpan dan diangkut.


(23)

3. Final Processing. Merupakan kegiatan industri yang mengolah produk dari intermediate processing menjadi bentuk yang dapat langsung dikonsumsi oleh masyarakat.

Agroindustri yang berkelanjutan adalah agroindustri yang memiliki konsep keberlanjutan, agroindustri yang dibangun dan dikembangkan memperhatikan aspek-aspek manajemen dan konservasi sumberdaya alam. Semua teknologi yang digunakan serta kelembagaan yang terlibat dalam proses pembangunan diarahkan untuk memenuhi kepentingan manusia masa sekarang maupun masa yang akan datang. Jadi, teknologi yang digunakan harus sesuai dengan daya dukung sumberdaya alam, memperkecil resiko degradasi lingkungan, secara ekonomi menguntungkan dan secara sosial diterima oleh masyarakat (Soekartawi 1988 sebagaimana dikutip Soekartawi 2005).

2.1.2 Agroindustri Skala Kecil

Jenis agroindustri dilihat dari segi skala usaha terdiri dari dua macam yaitu: jenis pertama adalah agroindustri dengan skala kecil yakni pemiliknya bertindak apa saja, mulai dari pembelian bahan baku, pengolahan dan penjualan hasil olahan agroindustri. Agroindustri skala usaha kecil tidak memiliki kejelasan dalam pembagian tugasnya. Jenis kedua adalah agroindustri dengan skala usaha agak besar, terdapat kejelasan dalam hal pembagian tugas, baik dalam pembelian bahan baku untuk pasokan bahan agroindustri, pengolahan, administrasi, keuangan, pergudangan, pemasaran dan lainnya (Soekartawi 2005).

Soekartawi (2005) mengemukakan bahwa agroindustri skala kecil merupakan industri yang mengolah hasil pertanian sebagai bahan baku utamanya. Agroindustri skala kecil modalnya terbatas, dapat menyesuaikan dengan kondisi dan keadaan-keadaan yang mudah berubah seperti yang biasanya dikeluhkan oleh perusahaan agroindustri skala usaha besar. Agroindustri skala usaha kecil, kepemilikan atau penguasaan faktor produksi terutama tanah dan modal rendah. Tingkat kemampuan dan pendidikan sumberdaya manusia yang umumnya masih rendah. Kemampuan dalam memanfaatkan dan memperluas peluang dan akses pasar masih rendah, memiliki keterbatasan akses terhadap sumber-sumber permodalan dan keterbatasan dalam penguasaan teknologi.


(24)

Perbedaan skala usaha ini mempengaruhi terhadap pengembangan usaha agroindustri salah satunya adalah karena modal dan kualitas sumberdaya manusia yang dimiliki juga berbeda. Seperti dalam penelitian Suhada (2005) menyatakan bahwa dalam industri penyamakan kulit terdapat dua skala usaha yang menentukan kualitas sumberdaya manusia yang dipekerjakan. Skala usaha menengah rata-rata sumberdaya manusianya memiliki pendidikan perguruan tinggi-SLTA. Skala usaha kecil sumberdaya manusianya memiliki pendidikan SLTP-SD. Perbedaan juga terlihat dalam modal, dalam skala usaha kecil modal yang diberikan adalah dari pengusaha menengah atau sendiri sedangkan skala usaha menengah modal yang dimiliki dari perbankan.

2.1.3 Fungsi dan Peran Agroindustri

Agroindustri memiliki fungsi untuk menjembatani dua sektor yang memiliki ciri-ciri yang sangat berbeda. Sektor tersebut adalah sektor pertanian dan sektor industri. Kedua sektor ini memiliki ciri-ciri yang berbeda. Pada Tabel 1 disajikan perbedaan antara sektor pertanian dan industri.

Tabel 1. Perbedaan Sektor Pertanian dan Industri

Segi perbedaan Pertanian Industri Lokasi Musim Mutu Modal Tenaga Kerja Usaha Tersebar Tergantung Tidak Menentu ( Mudah Rusak ) Relatif Kurang Intensif Intensif

Subsistem, semi atau non komersial

Terpusat

Tidak tergantung Jelas Relatif

(Tidak Mudah Rusak) Intensif

Relatif Kurang Intensif Komersial

Sumber: Baharsyah, 1987

Rachmawati (2002) mengungkapkan bahwa agroindustri mempunyai posisi penting yaitu sebagai jembatan antara sektor pertanian, sektor industri dan sektor perdagangan. Dalam penelitiannya salah satu komoditi yang merupakan sub sektor pertanian untuk dikembangkan dalam agroindustri adalah kentang. Komoditi kentang banyak berkembang terutama di daerah Pangalengan Bandung, Jawa Barat. Komoditi kentang di daerah tersebut diolah menjadi keripik, kerupuk


(25)

dan dodol, kemudian dikemas dalam bentuk industri kecil rumahtangga lalu produknya dijual. Terlihat jelas bahwa agroindustri memang sebagai penghubung di ketiga sektor tersebut.

Perbedaan sektor pertanian dan sektor industri yang diungkapkan oleh Sembiring (1995) bahwa pada sektor industri barang-barang yang dihasilkan mengikuti perkembangan harga dan pendapatan sifatnya sangat elastis. Sedangkan yang dirasakan sektor pertanian lebih banyak dihadapi oleh kendala, hal ini disebabkan hasil pertanian ada yang berupa musiman, sehingga mudah busuk. Permasalahan lainnya adalah penawaran terhadap hasil pertanian yang dihadapi adalah lokasi konsumen dan produk produsen pertanian jauh letaknya. Selain itu, terdapat peran agroindustri adalah sebagai suatu pembangunan pertanian yang dapat dilihat dari kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja, peningkatan devisa, pendorong tumbuhnya industri lain (Soekartawi 2005). Berikut merupakan perkembangan agroindustri dalam melaksanakan perannya untuk penyerapan tenaga kerja.

Tabel 2. Perkembangan Jumlah Tenaga Kerja dari 40 Macam Perusahaan Agroindustri Selama Lima Tahun di Jawa , 2000-2004

No Tahun Jumlah (Orang)

1 2 3 4 5

2000 2001 2002 2003 2004

744.347 750.930 758.836 785.021 787.107 Sumber : Soekartawi, 2005

Tabel 2 menggambarkan bahwa memang terdapat perkembangan selama lima tahun terhadap jumlah tenaga kerja dari 40 macam perusahaan agroindustri di Jawa. Dimulai dari tahun 2000 yang jumlah orang yang bekerja di perusahaan agroindustri terdapat 744.347 orang. Tahun 2001 terjadi peningkatan jumlah tenaga kerja di perusahaan agroindustri menjadi sebesar 750.930 orang. Kemudian di tahun berikutnya yaitu tahun 2002, 2003, 2004, masing-masing mengalami peningkatan dalam penyerapan tenaga kerja. Pada tahun 2002 menjadi berjumlah 758.836 orang, tahun 2003 menjadi berjumlah 785.021 orang, tahun


(26)

2004 menjadi berjumlah 787.107 orang. Selama lima tahun tersebut, dapat dinyatakan bahwa perusahaan agroindustri mampu menyerap tenaga kerja setiap tahunnya.

2.1.4 Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat Agroindustri

Keberlangsungan kegiatan agroindustri tidak terlepas dari adanya faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengembangan agroindustri, baik faktor-faktor pendukung maupun faktor penghambat. Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya mengungkapkan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kegiatan agroindustri. Seperti pada penelitian Suhada (2005) dalam penelitiannya terhadap strategi pengembangan agroindustri penyamakan kulit di wilayah Kabupaten Garut Jawa Barat, berpendapat bahwa ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan industri penyamakan kulit yang ditelitinya yaitu faktor teknologi, sumberdaya manusia, dan modal. Faktor-faktor itulah yang mempengaruhi skala usaha agroindustri yang dikembangkan, jika menggunakan teknologi yang efisien dengan sumberdaya yang rata-rata memiliki pendidikan tinggi serta modal yang cukup besar maka tidak lain agroindustri yang dikembangkan pun memiliki skala yang lebih besar.

Penelitian yang sama diungkapkan oleh Rachmawati (2002) terhadap studi pengembangan sistem agroindustri kentang di wilayah pedesaan, berpendapat terdapat beberapa faktor yang berperan dalam pengembangan agroindustri kentang. Faktor-faktor tersebut yaitu bahan baku, sumberdaya manusia, peluang dan potensi pasar, permodalan, penyebaran teknologi, sarana dan prasarana dan kebijakan pemerintah. Lebih jelasnya diungkapkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Sufandi (2006) dalam penelitiannya terhadap strategi pengembangan agroindustri pedesaan di Kabupaten Bengkalis mengungkapkan adanya faktor-faktor yang memang dapat menguatkan kegiatan agroindustri agar dapat berlangsung dengan baik. Faktor-faktor tersebut yaitu, pertama diperlukan adanya Lembaga Pembina seperti Dinas Kehutanan, Perkebunan, Perindustrian, dan Koperasi yang merupakan modal utama dalam usaha pengembangan agroindustri pedesaan. Keberadaan lembaga inilah yang nantinya akan menjadi fasilitator bagi pelaku usaha agroindustri di pedesaan. Kedua diperlukan kebijakan


(27)

pemerintah untuk mendukung kegiatan agroindustri seperti halnya yang dilakukan oleh pemerintah di Kabupaten Bengkalis yaitu mendukung untuk menjadikan kabupaten bengkalis menjadi pusat perdagangan Asia Tenggara 2020. Ketiga adalah kualitas produk, seperti pada masyarakat di Kabupaten Bengkalis cenderung menyukai produk yang bebas pengawet. Kemudian hal terpenting dalam memperlancar kegiatan agroindustri pedesaan adalah penyediaan sarana dan prasarana yang harus diperhatikan. Selain itu modal usaha dalam pengembangan agroindustri juga harus dibantu oleh pemerintah dan koperasi bagi pengusaha-pengusaha kecil.

2.1.5 Karakteristik Agroindustri Skala Kecil

Karakteristik agroindustri yang menonjol adalah adanya ketergantungan antar elemen-elemen agroindustri. Elemen-elemen agroindustri tersebut yaitu pengadaan bahan baku, pengolahan dan pemasaran produk. Elemen-elemen tersebut saling berkaitan satu dan lainnya.

Karakteristik agroindustri skala kecil yaitu pemiliki bertindak apa saja mulai dari pembelian bahan baku, pengolahan, bahkan sampai menjual hasil olahan agroindustri. Agroindustri skala kecil tidak jelas adanya pembagian tugas, berbeda dengan agroindustri skala menengah atau skala besar terdapat pembagian tugas yang jelas. Potensi agroindustri skala kecil selain mampu menyerap tenaga kerja juga kontribusinya dalam menyumbang perekonomian (Soekartawi 2005).

2.1.6 Masyarakat lokal

Desa secara umum diartikan sebagai suatu gejala yang bersifat universal, sebagai suatu komunitas kecil yang terikat lokalitas tertentu baik tempat tinggalnya (secara menetap) maupun bagi pemenuhan kebutuhannya dan terutama tergantung pada pertanian (Rahardjo 1999). Desa juga diartikan sebagai suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat, termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi, pemerintahan terendah dan langsung dibawah camat serta berhak menyelenggarakan rumahtangganya sendiri dalam ikatan negara kesatuan Republik Indonesia (BPS 1986).


(28)

Soekmono (1992) sebagaimana dikutip Raharjo (1999), mengatakan bahwa desa merupakan kumpulan dari komunitas kecil yang hidupnya tergantung pada pertanian dan telah ada di Indonesia semenjak zaman prasejarah, yakni pada zaman Neeolitikum. Pengertian masyarakat menurut beberapa ahli sebagaimana dikutip dalam Mutakin dan Gunawan (2003):

1. Masyarakat adalah golongan besar atau kecil terdiri dari beberapa manusia, yang dengan atau karena sendirinya bertalian secara golongan dan pengaruh-mempengaruhi satu sama lain.

2. Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan yang terikat oleh suatu rasa identitas.

3. Masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang hidup dan bekerja sama dalam waktu yang cukup lama, sehingga mereka dapat mengorganisir diri dan sadar bahwa mereka merupakan suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang jelas.

4. Masyarakat adalah sekelompok orang yang identifikasinya sama, teratur sedemikian rupa di dalam menjalankan segala sesuatu yang diperlukan bagi hidup bersama secara harmonis.

Definisi-definisi tersebut menampilkan ciri-ciri masyarakat sebagai berikut: 1. Manusia yang hidup bersama, dua atau lebih

2. Bergaul dalam jangka waktu relatif lama

3. Setiap anggotanya menyadari sebagai satu kesatuan

4. Bersama membangun sebuah kebudayaan yang membuat keteraturan dalam kehidupan bersama.

Masyarakat lokal memiliki ciri-ciri karakteristik seperti: hubungan lebih bersifat intim dan awet, mobilitas sosial rendah, homogen, keluarga lebih ditekankan fungsinya sebagai unit ekonomi, populasi anak dalam proporsi yang lebih besar. Desa memiliki potensi-potensi yang meliputi alam, lingkungan hidup manusia, penduduk, usaha-usaha manusia, prasarana-prasarana yang dibuat (Sajogyo 1983).


(29)

2.1.7 Agroindustri Skala Kecil dan Perubahan Sosio-Ekonomi dan Sosio- Ekologi Pedesaan

Agroindustri merupakan salah satu hasil dari kebijakan pemerintah terhadap industri pengolahan di pedesaan baik dalam skala usaha kecil maupun skala usaha besar yang memang memiliki andil dalam perubahan desa. Perubahan desa ini merupakan dampak dari hadirnya agroindustri baik dampak positif maupun dampak negatif, baik pada aspek ekonomi, maupun pada aspek sosio-ekologi sekitar kawasan yang dijadikan sasaran dalam kegiatan agroindustri.

Agroindustri skala kecil yang masih menggunakan teknologi sederhana bukan berarti tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap aspek sosio-ekonomi dan aspek sosio-ekologi. Agroindustri dengan skala kecil justru membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak karena teknologinya masih sederhana. Teknologi yang masih sederhana juga mengakibatkan pengelolaan limbah hasil dari kegiatan agroindustri belum secara maksimal diatasi. Bila dibandingkan dengan agroindustri skala besar, agroindustri skala kecil biasanya memiliki tenaga kerja yang berpendidikan dan keterampilan rendah. Sehingga pengetahuan terhadap pengelolaan limbah hasil buangan dari kegiatan pun minim.

2.1.7.1 Dampak Sosial

Kegiatan pembangunan yang dilakukan pemerintah sebagai dasar kebijakan dalam mengangkat perekonomian masyarakat lokal membawa dampak pada aspek sosial masyarakat. Salah satu penelitian studi mengenai pembangunan industri manufaktur yang dilakukan oleh Suhandi et.al (1989-1990) mengungkapkan adanya perubahan cara berpikir sosial masyarakat lokal akibat kehadiran industri yaitu sebelum masuknya industri anak perempuan dianggap tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi, karena nantinya hanya mengurus urusan rumah saja. Namun setelah masuk dan berkembangnya industri, pola pemikiran mengenai anak perempuan berubah. Para orang tua menyekolahkan anak perempuannya mencapai tingkat pendidikan tertentu. Hal ini dikarenakan adanya prasyarat minimal pendidikan tertentu untuk bekerja di pabrik. Adanya industri manufaktur juga mengubah status kepemilikan lahan. lahan-lahan yang berada di desa dibeli oleh pihak industri dan dijadikan sebagai lahan untuk kepentingan industri.


(30)

Pemilik lahan memilih menjual lahannya pada pihak industri sehingga warga bekerja sebagai petani harus kehilangan pekerjaannnya.

Penelitian studi agroindustri lain yang dilakukan oleh Sunarjan (1991) yaitu industri rokok kretek di Desa Lor Kabupaten Kudus Provinsi Jawa Tengah menyatakan, pada aspek sosial terjadi perubahan dalam hal kepemilikan dan pemanfaatan tanah. Awalnya, tanah di Desa Lor sebagai lahan pertanian sawah, namun masuknya industri membuat perubahan dalam hal pemanfaatan tanah. Tanah yang digunakan untuk pertanian kini dijual untuk dijadikan perumahan dan kepentingan industri rokok kretek. Terdapat juga perubahan dalam sifat gotong royong yang dimiliki oleh masyarakat di Desa Lor. Masyarakat tadinya memiliki sifat gotong royong yang tinggi, namun setelah industri rokok kretek masuk ke Desa Lor terdapat penurunan pada sifat gotong royong. Perubahan sifat gotong royong ini berkaitan dengan perubahan mata pencaharian masyarakat. Awalnya masyarakat bekerja di sawah saling bergotong royong tetapi kini masyarakat bekerja sebagai buruh di industri rokok kretek.

2.1.7.2 Dampak Ekonomi

Agroindustri merupakan industri pedesaan yang didirikan untuk mendekatkan antara sektor indusri dan sektor pertanian. Kegiatan agroindustri merupakan salah satu kegiatan sekunder yang dilakukan guna mengatasi ekonomi golongan petani di pedesaan. Kegiatan primer pertanian belum cukup mengatasi perekonomian petani. Golongan petani gurem, buruh tani, dan tenaga kerja umumnya di pedesaan sangat menggantungkan ekonominya pada kegiatan sekunder pertanian (Shaw dan Edgar 1977 sebagaimana dikutip Rahardjo 1984).

Studi penelitian yang dilakukan oleh Sundari (2000) menyatakan, adanya keterkaitan terhadap pengembangan agroindustri gula tebu di Jawa Timur. Keterkaitan agroindustri tebu ini baik secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap tingkat pendapatan petani tebu dan positif terhadap perkembangan perekonomian wilayah Jawa Timur. Hal ini dikarenakan tebu merupakan bahan baku dalam membuat gula, sedangkan gula sangat dibutuhkan dalam kegiatan industri makanan dan minuman. Pernyataan mengenai adanya dampak agroindustri terhadap aspek ekonomi juga diungkapkan dalam penelitian


(31)

agroindustri yang dilakukan oleh Sembiring (1995) bahwa, agroindustri di Sumatera Utara melakukan ekspor industri kayu lapis. Adanya penyerapan tenaga kerja di Sumatera Utara sebesar 2,8 persen penyerapan tenaga kerja sektor agroindustri dari jumlah tenaga kerja 105.929 di sektor industri Sumatera Utara.

2.1.7.3 Dampak Sosio-Ekologi

Dampak sosio-ekologi adalah perubahan lingkungan hidup yang terkait dengan kehidupan masyarakat dan hubungan-hubungan sosial yang dijalani oleh warga masyarakat dalam suatu kawasan. Jika ditelusuri lebih lanjut, terdapat hubungan sirkuler antara manusia dan lingkungan hidupnya. Hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya sangatlah kompleks. Manusia melakukan kegiatan yang pada dasarnya mempengaruhi lingkungan hidupnya, begitupun sebaliknya (Soemarwoto 2004). Perubahan lingkungan hidup dapat menimbulkan dampak secara langsung dan tidak langsung terhadap kesehatan manusia. Seperti pada perluasan daerah pertanian dan modernisasi industri dan pertanian membawa serta akibat yang nanti tidak diharapkan seperti kerusakan lingkungan hidup. Sampah/limbah menjadi masalah yang harus diperhatikan dalam lingkungan. Sampah/limbah industri, terlebih-lebih sampah kimia menyebabkan kerusakan dan pencemaran lingkungan baik lingkungan air, udara dan daratan (Suyitno dan Daldjoeni 1982).

Salah satu dampak dari kegiatan agroindustri tidak mungkin terlepas dari adanya limbah buangan hasil proses kegiatan selama kegiatan agroindustri berlangsung. Pembuangan limbah ini berkaitan dengan pengaruhnya terhadap lingkungan kawasan agroindustri. Beberapa studi mengenai agroindustri memang lebih cenderung meneliti mengenai perubahan agroindustri terhadap aspek sosial, aspek ekonomi dan meneliti mengenai strategi pengembangan agroindustri. Kajian agroindustri masih sedikit yang meneliti mengenai masalah limbah yang dihasilkan dari kegiatan agroindustri.

Penelitian mengenai studi agroindustri yang dilakukan oleh Suhada (2005), mengenai strategi pengembangan agroindustri penyamakan kulit di wilayah Sukaregang Kabupaten Garut Jawa Barat mengungkapkan terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pengembangan agroindustri kulit di


(32)

Sukaregang yakni adalah teknologi, sumberdaya manusia, dan modal. Menurutnya industri penyamakan kulit memerlukan teknologi yang tinggi karena dalam proses penyamakannnya menggunkaan bahan-bahan kimia sehingga mesin yang dimiliki pun diimpor dari Eropa. Berbeda jauh dengan penelitian yang dilakukan oleh Syaf (2005), meskipun berada pada wilayah penelitian yang sama, justru Syaf meneliti mengenai karakteristik industri pengolahan kulit dan dampak limbah terhadap lingkungan sosial ekonomi masyarakat sekitar. Syaf pada penelitiannya yaitu mengumpulkan pendapat masyarakat mengenai dampak sosio-ekonomi serta dampak limbah dari kegiatan agroindustri. Hasil penelitian Syaf yang ditemukan yaitu terdapat perbedaan antara pendapat masyarakat hulu dan hilir mengenai dampak limbah di kawasannya. Masyarakat hilir merasakan dampak limbah agroindustri kulit terhadap lingkungannya yakni, air sungai menjadi berbau dan jika melewati daerah perairan di dekat kawasan industri maka akan tercium bau yang tidak sedap.

Penelitian Rachmat (1993) menganalisis mengenai adanya pencemaran air sungai akibat limbah industri kulit di Sukaregang. Pencemaran air sungai yang menjadi sumber irigasi bagi sawah berdampak pada pertumbuhan padi serta hasil panen. Maka dapat disimpulkan, pencemaran akibat limbah industri bukan hanya berdampak bagi masyarakat sekitar tetapi juga pada ekosistem yang berada disekitarnya.

Pencemaran lingkungan bukan hanya disebabkan oleh pembangunan sektoral saja, tetapi pembangunan industri pedesaan seperti agroindustri juga memiliki peran didalamnya. Kegiatan pembangunan seharusnya memikirkan bagaimana mencegah penurunan mutu lingkungan akibat pencemaran. Dalam menghindari pencemaran dapat dilakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Proyek-proyek pembangunan yang memerlukan AMDAL adalah prasarana seperti jalan raya, pelabuhan, lapangan terbang; industri dan industrial estate; pembangkit tenaga, energi dan distribusinya; pertambangan; perubahan bentuk lahan seperti penebangan hutan; penggunaan bahan kimia (Salim 1986). Berdasarkan penelitian Wahyono (2009), mengenai pengelolaan lingkungan pasca AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) pada industri kimia di Kabupaten Bogor berpendapat bahwa


(33)

permasalahan lingkungan di Kabupaten Bogor sangat terkait dengan keberadaan industri-industri disana. Terdapat isu utama lingkungan hidup di Kabupaten Bogor diantaranya rendahnya mutu air sungai, penurunan air bawah tanah dan zona rawan air bawah tanah, tingginya angka penyakit diare dan kasus pencemaran air limbah dan tanah. Menurutnya penting bagi karyawan suatu industri untuk memiliki pengetahuan mengenai pencemaran lingkungan dan perusahaan yang memiliki sertifikat sebaiknya memiliki personil yang bertanggung jawab terhadap masalah lingkungan.

2.2 Kedelai dan Pengolahan Tahu

Salah satu tanaman pangan yang dibutuhkan oleh sebagian besar penduduk Indonesia adalah kedelai (Glysine max (L) Merril). Kedelai adalah tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak. Di Indonesia kedelai dibudidayakan sejak abad 17 sebagai tanaman yang bijinya dapat dimakan dan daunnya dijadikan pupuk hijau. Kedelai yang dibudidayakan sebenarnya terdiri dari dua spesies: Glycine max yang disebut kedelai putih, yang bijinya bisa berwarna kuning, agak putih, atau hijau, dan Glycine soja atau kedelai hitam yang memiliki biji hitam.

Glycine max merupakan tanaman asli daerah Asia subtropik seperti RRC dan Jepang Selatan, sementara Glycine soja merupakan tanaman asli Asia tropis di Asia Tenggara. Kedelai dikenal dengan berbagai nama daerah, seperti: Kacang bulu (Minangkabau), Retah mejong (Lampung), Kedele (Melayu), Kedele (Sunda), Kedele (Jawa Tenggah), Khadele (Madura), Kadele (Bali), Lebui bawad (Sasak), Kadalle (Sulawesi Selatan). Adanya berbagai nama daerah ini menunjukkan bahwa kedelai telah lama dikenal di Indonesia. Tanaman ini telah menyebar ke Jepang, Korea, Asia Tenggara, dan Indonesia. Kedelai dapat diolah menjadi: tempe, keripik tempe, tahu, kecap, susu, dan lain-lainnya. Proses pengolahan kedelai menjadi berbagai makanan pada umumnya merupakan proses yang sederhana dan peralatan yang digunakan cukup dengan alat-alat yang biasa dipakai di rumahtangga, kecuali mesin pengupas, penggiling, dan cetakan.

Tahu merupakan salah satu jenis lauk pauk yang banyak diminati dan digemari masyarakat Indonesia, karena harganya murah, mudah didapat dan bergizi tinggi. Istilah tahu berasal dari Cina, Tao-hu atau teu-hu. Teu artinya


(34)

kedelai dan hu artinya lumat jadi bubur. Jadi, secara harfiah tahu berarti makanan dengan bahan baku kedelai yang dilumatkan menjadi bubur. Pengolahan kedelai menjadi tahu melewati beberapa tahapan. Tahapan-tahapan pembuatan tahu harus dilakukan secara bertahap guna menghasilkan tahu yang berkualitas. Pada Gambar 1 disajikan alur tahapan-tahapan dalam pembuatan tahu.

Keterangan:

Gambar 1. Diagram Alur Pembuatan Tahu Sumber: Muslimin dan Ansar (2010)

KEDELAI

Dicuci

Direndam

Ditiriskan

Ditumbuk

Dimasak hingga Mengental

Disaring

Diendapkan dengan batu tahu dan asam cuka

Dicetak

Tahu

Ampas tahu Limbah cair

Limbah cair

Merupakan hubungan

Menghasilkan


(35)

Gambar 1 menjelaskan bagaimana alur pembuatan tahu. Alur pembuatan tahu dimulai dengan mempersiapkan bahan baku utamanya yaitu kedelai. Kedelai untuk membuat tahu harus dicuci terlebih dulu. Pencucian pada kedelai ini berguna untuk melepaskan batang, kulit, daun dan kotoran yang menempel pada kedelai. Kedelai yang telah dicuci bersih kemudian direndam dan ditiriskan lalu ditumbuk menggunakan air hangat. Kedelai yang telah ditumbuk lalu dimasak kembali hingga menjadi bubur kedelai. Jika kedelai dirasa telah mengental, maka bubur kedelai disaring. Hasil saringan kemudian diendapkan menggunakan batu tahu dan asam cuka. Pemberian batu tahu dan asam cuka berguna untuk menggumpalkan adonan bubur kedelai menjadi satu. Setelah bubur kedelai dirasakan telah menyatu maka selanjutkan bubur kedelai dapat dicetak ke dalam cetakan menjadi tahu (Muslimin dan Ansar 2010).

2.3 Kerangka Konseptual

Agroindustri merupakan sebuah harapan untuk menyeimbangkan sektor industrialisasi dengan pembangunan pertanian. Agroindustri yang berada dalam masyarakat selama ini memberikan dampak secara sosio-ekonomi maupun secara sosio-ekologi. Seperti pada beberapa studi yang telah ada mengenai agroindustri, agroindustri merupakan salah satu bentuk dalam penciptaan lapangan pekerjaan. Agroindustri merupakan bagian dari peningkatan nilai produk-produk pertanian. Kegiatan agroindustri tidak lepas dari adanya hasil buangan (limbah), baik agroindustri skala usaha kecil maupun skala usaha besar sama-sama memberikan sumbangan hasil buangan berupa limbah terhadap lingkungan. Agroindustri dapat dikatakan berdampak terhadap sosio-ekonomi dan sosio-ekologi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Pada Gambar 2 disajikan kerangka konseptual penelitian ini.

Gambar 2. Kerangka Konseptual

Agroindustri

Sosio-ekologi Pencemaran Konflik

Kenyamanan hidup Kesehatan

Sosio-Ekonomi Kesempatan bekerja Kerjasama


(36)

Penjelasan Gambar 2 agroindustri merupakan industri yang mengolah hasil-hasil pertanian, baik skala usaha besar maupun skala usaha kecil. Kedua skala usaha agroindustri tersebut berdampak terhadap aspek ekonomi dan sosio-ekologi masyarakat. Pada aspek sosio-ekonomi dapat dilihat perubahannya terhadap masyarakat lokal sekitar kegiatan agroindustri. Aspek sosio-ekonomi dilihat pada persaingan, kerjasama, kesempatan bekerja dan sumber pendapatan masyarakat yang menjadi sasaran agroindustri. Kegiatan agroindustri baik skala usaha besar maupun skala usaha kecil menghasilkan limbah yang berdampak pada pencemaran lingkungan masyarakat di lokal. Limbah yang dihasilkan oleh kegiatan agroindustri ini berdampak pada sosio-ekologi, mengubah kenyamanan hidup dan berpengaruh pada kesehatan masyarakat di sekitarnya. Perubahan kenyamanan hidup yang dirasakan ini akan menimbulkan terjadinya konflik ekologi.

2.4 Kerangka Pemikiran

Berdasarkan studi literatur yang telah ada mengenai dampak sosio-ekonomi dan sosio-ekologi dari kegiatan agroindustri, maka penelitian ini ingin melihat apa dan bagaimana opini masyarakat lokal terhadap dampak ekonomi dan sosio-ekologi kehadiran industri pengolahan tahu sebagai salah satu bentuk agroindustri. Penelitian ini mengambil kasus industri pengolahan tahu di Kampung Cikaret sebagai lokasi penelitian. Industri pengolahan tahu merupakan industri yang mengolah kedelai sebagai hasil pertanian menjadi panganan yang disebut tahu. Industri pengolahan tahu di Kampung Cikaret merupakan salah satu kegiatan agroindustri dengan skala usaha kecil.

Kehadiran industri pengolahan tahu skala usaha yang kecil ini berdampak pada aspek sosio-ekonomi dan sosio-ekologi masyarakat lokal. Dampak yang ditimbulkan ini berupa dampak positif maupun dampak negatif. Kehadiran industri pengolahan tahu yang menimbulkan dampak di Kampung Cikaret, menghasilkan berbagai opini dari masyarakat sekitarnya. Opini masyarakat lokal terhadap kehadiran industri pengolahan tahu di Kampung Cikaret berupa opini pada dampak ekonomi, dampak sosial maupun dampak sosio-ekologis yang ditimbulkan. Pada Gambar 3 disajikan kerangka pemikiran pada penelitian ini.


(37)

Keterangan: Respon yang diukur

Menyebabkan

Gambar 3. Kerangka Pemikiran

Pengolahan Tahu

Respon Ekonomi (dirasakan oleh masyarakat

lokal)

1. Tingkat Pendapatan Masyarakat Lokal 2. Tingkat Kesempatan

Kerja Masyarakat Lokal pada Industri Pengolahan Tahu

Respon Sosial

(dirasakan masyarakat lokal) 1. Tingkat Persaingan Bekerja

antara Pendatang dan Masyarakat Lokal

2. Tingkat Persaingan Bekerja antara Masyarakat Lokal dan Masyarakat Lokal

3. Tingkat Hubungan Sosial antara Pendatang dan Masyarakat Lokal

4. Tingkat Hubungan Sosial antara Masyarakat Lokal dan Masyarakat Lokal

Respon Sosio-Ekologi (dirasakan masyarakat lokal)

Tingkat Pencemaran

Tingkat Kenyamanan Hidup Tingkat Konflik

Tingkat Kesehatan (digali secara kualitatif)

Limbah Cair Jumlah Pendatang

(Pencari Kerja)


(38)

Pada Gambar 3 menjelaskan mengenai kerangka pemikiran dalam penelitian ini. Adanya industri pengolahan tahu menyebabkan pendatang yang mencari kerja dan menyebabkan adanya limbah cair pada kegiatan pengolahan tahu. Sejumlah pendatang yang mencari pekerjaan berdampak pada ekonomi, sosial masyarakat lokal, sedangkan limbah cair yang dihasilkan berdampak pada kondisi ekologis lingkungan masyarakat lokal. Dampak yang ditimbulkan oleh kehadiran industri tahu menimbulkan berbagai respon dari masyarakat lokal. Respon tersebut berbeda-beda menurut lapisan pendapatan rumahtangga masyarakat lokal. Pada aspek ekonomi akibat adanya industri pengolahan tahu menimbulkan respon masyarakat lokal terhadap tingkat kesempatan kerja yang diberikan industri pengolahan tahu terhadap masyarakat lokal.

Dampak sosial akibat adanya industri pengolahan tahu menimbulkan respon masyarakat lokal terhadap tingkat persaingan bekerja antara pendatang yang mencari pekerjaan di industri pengolahan tahu dengan masyarakat lokal yang berada di industri pengolahan tahu. Respon mengenai tingkat persaingan juga dapat dilihat pada tingkat persaingan antara masyarakat lokal dan masyarakat lokal yang mencari pekerjaan di industri pengolahan tahu. Respon masyarakat mengenai hubungan sosialnya dengan pendatang dan hubungan sosialnya dengan masyarakat lokal baik sebelum hadirnya industri pengolahan tahu maupun sesudah hadirnya industri pengolahan tahu. Pada aspek sosio-ekologi akibat adanya industri pengolahan tahu yang menghasilkan limbah cair menimbulkan berbagai respon pada masyarakat lokal. Respon masyarakat mengenai tingkat pencemaran, tingkat kesehatan rumahtangga, tingkat kenyamanan hidup di sekitar lingkungan tempat tinggalnya dan tingkat konflik berbeda-beda setiap lapisan struktur pendapatan rumahtangga.

2.5 Hipotesis Penelitian

1. Diduga respon tentang sosio-ekonomi terhadap masyarakat lokal atas hadirnya industri pengolahan tahu, menurut lapisan atau tingkat pendapatan rumahtangga responden, berbeda-beda.


(39)

2. Diduga respon masyarakat lokal atas gangguan sosio-ekologi akibat hadirnya industri pengolahan tahu, menurut lapisan atau tingkat pendapatan rumahtangga responden, berbeda-beda.

3. Diduga gangguan ekologis yang muncul akibat hadirnya industri pengolahan tahu menyebabkan interaksi sosial yang disasosiatif (konflik).

2.6 Definisi Konseptual

1. Industri pedesaan adalah industri menunjang kegiatan pertanian serta memproduksi barang-barang konsumsi yang dibutuhkan rakyat banyak, baik dalam bentuk industri dengan unit-unit kecil maupun dalam bentuk besar seperti pabrik.

2. Industri pengolahan tahu adalah industri pengolahan hasil pertanian berupa kedelai yang diolah menjadi bentuk panganan yang dinamakan tahu. 3. Dampak sosio-ekonomi adalah hasil dari suatu gejala atau kegiatan

terhadap sosial ekonomi.

4. Dampak sosial-ekologi adalah dampak yang dihasilkan dari kegiatan manusia terhadap alam.

5. Persaingan adalah suatu proses sosial dimana dua orang atau lebih berjuang dengan cara bersaing satu sama lain untuk memiliki atau memperoleh sesuatu.

6. Hubungan sosial adalah komunikasi yang terjalin antar dua individu atau lebih.

7. Pendapatan adalah jumlah uang yang diterima selama satu tahun dan telah dikurangi dengan biaya-biaya lainnya sebagai imbalan dari pekerjaan. 8. Kesehatan adalah tidak adanya gangguan pada organ tubuh baik secara

fisik maupun mental.

9. Pencemaran adalah perubahan kondisi akibat suatu kegiatan yang berdampak buruk terhadap unsur-unsur seperti air, udara, tanah.

10.Kenyamanan hidup adalah kesempatan seseorang untuk mendapatkan lingkungan yang bersih.

11.Konflik adalah pertentangan yang melibatkan dua pihak karena berbeda pandangan, berbeda tujuan.


(40)

2.7Definisi Operasional

1. Tingkat persaingan kerja adalah suatu proses sosial dimana dua orang atau lebih berjuang dengan cara bersaing satu sama lain untuk memiliki atau memperoleh pekerjaan. Tingkat persaingan kerja diukur dari ada atau tidaknya kesempatan kerja bagi masyarakat lokal untuk bekerja pada industri pengolahan tahu di wilayahnya.

a) Tidak ada kesempatan kerja bagi masyarakat lokal untuk bekerja di industri pengolahan tahu = skor 0

b) Ada kesempatan kerja bagi masyarakat lokal untuk bekerja di industri pengolahan tahu = skor 1

2. Tingkat hubungan sosial adalah komunikasi yang terjalin antar dua individu atau lebih. Tingkat hubungan sosial diukur dari aktif atau tidaknya responden mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara bersama. Baik kegiatan antara sesama warga ataupun antara warga dan pendatang.

a) Tidak aktif mengikuti kegiatan-kegiatan = skor 0 b) Aktif mengikuti kegiatan-kegiatan = skor 1

3. Tingkat pendapatan adalah jumlah uang yang diterima selama satu tahun dan telah dikurangi dengan biaya-biaya lainnya sebagai imbalan dari pekerjaan. Ukuran tingkat pendapatan ditentukan berdasarkan jumlah rata-rata pendapatan rumahtangga masyarakat lokal. Tingkat pendapatan dihitung menggunakan sebaran normal dengan rumus:

a) Lapisan rendah = -½ standar deviasi

b) Lapisan menengah = - ½ standar deviasi ≤ x ≤ + ½ standar deviasi

c) Lapisan atas = +½ standar deviasi

4. Tingkat pencemaran lingkungan hidup adalah perubahan kondisi akibat suatu kegiatan yang berdampak buruk terhadap unsur-unsur seperti air, udara, tanah. Tingkat pencemaran diukur dari kategori respon responden terhadap kondisi kualitas sumber air (sungai) di wilayahnya:

a) Sangat tercemar = skor 2 b) Sedikit tercemar = skor 1


(41)

c) Tidak ada pencemaran = skor 0

5. Tingkat kenyamanan hidup adalah kesempatan seseorang untuk mendapatkan lingkungan yang bersih. Tingkat kenyamanan hidup diukur dari respon masyarakat terhadap lingkungan tempat tinggalnya sebelum dan sesudah adanya industri pengolahan tahu.

a) Lingkungan tempat tinggal tidak bersih = skor 0 b) Lingkungan tempat tinggal bersih = skor 1

6. Konflik adalah pertentangan yang melibatkan dua pihak karena berbeda pandangan, berbeda tujuan. Tingkat konflik pencemaran diukur dari respon masyarakat mengenai tindakan atau sikap terhadap pencemaran yang terjadi.

a) Baku Hantam = skor 4 b) Teguran = skor 3

c) Pembicaraan ringan = skor 2 d) Desas-desus = skor 1


(42)

BAB III

PENDEKATAN LAPANG 3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian yang dipilih adalah metode penelitian survei dengan menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh pendekatan kualitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk lebih memahami fakta sosial yang menjadi fokus penelitian (Singarimbun dan Sofian 1989). Pendekatan kuantitatif ini menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden. Pendekatan kualitatif digunakan dengan cara pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan menggali pemahaman responden secara subjektif sehingga dapat mendukung data kuantitatif.

Sebelum pengambilan data yang sesungguhnya, maka dilakukan uji kuesioner terlebih dulu pada informan dan beberapa responden. Setelah dilakukan uji kuesioner akan dilakukan proses revisi, setelah itu baru dilakukan penelitian sesungguhnya. Uji kuesioner ini berguna untuk reabilitas dan validitas data.

3.2 Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakana jenis data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode triangulasi yaitu melalui kuesioner, wawancara mendalam, dan pengamatan. Data primer didapatkan melalui hasil wawancara, kuesioner yang diisi oleh responden dan pengamatan. Data sekunder seperti data mengenai potensi kelurahan, profil Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor diperoleh dari buku profil Kelurahan Cikaret.

Kuesioner digunakan pada unit analisis rumahtangga dan individu yaitu masyarakat yang di Kampung Cikaret dan tinggal disekitar industri pengolahan tahu. Kuesioner juga digunakan untuk mendapat data mengenai opini masyarakat lokal terhadap dampak yang ditimbulkan atas hadirnya industri pengolahan tahu. Pengamatan juga dilakukan untuk mengetahui mengenai ada tidaknya dampak sosio-ekonomi dan sosio-ekologi yang disebabkan industri pengolahan tahu di Kampung Cikaret, Kelurahan Cikaret. Analisis atau studi dokumen dilakukan untuk mendapatkan data profil dan potensi wilayah Kelurahan Cikaret, khususnya


(43)

mengenai karakteristik masyarakat, potensi kelurahan, jumlah penduduknya, geografis hingga data mengenai laporan kondisi tahunan data statistik kelurahan.

3.3 Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kampung Cikaret, Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini berdasarkan dari informasi KOPTI (Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia) yang menyebutkan ada industri pengolahan tahu yang sudah terkenal di wilayah Cikaret. Selain itu dipilihnya wilayah Kampung Cikaret sebagai lokasi penelitian karena karakteristik masyarakatnya sesuai dengan penelitian yaitu masyarakat lokal di Kampung Cikaret hampir semua pernah menggunakan sungai.

Penelitian ini difokuskan di RT 06, RT 03, RT 07 yang berada di RW 01. Pemilihan lokasi RT berdasarkan pada aliran sungai yang mengitari daerah RW 01 serta masyarakatnya yang hampir semua pernah menggunakan sungai dalam kebutuhan sehari-harinya. Penelitian ini dilaksanakan pada akhir Bulan Maret hingga akhir Bulan April 2011.

3.4 Teknik Pengambilan Sampling dan Penentuan Responden

Unit analisis studi ini adalah unit rumahtangga dan individu yang digunakan sebagai sampel. Unit rumah tangga untuk melihat tingkat pendapatan rumahtangga dan tingkat kesehatan, sedangkan individu yang diwakili oleh kepala rumahtangga untuk mendapatkan respon mengenai dampak sosio-ekonomi dan sosio-ekologi atas hadirnya industri pengolahan tahu. Pemilihan sampel menggunakan teknik Simple Random Sampling. Asumsi menggunakan Simple Random Sampling karena populasi yang terdapat di lokasi penelitian merupakan populasi yang homogen. Populasi yang homogen ini dinilai dari masyarakatnya yang pernah menggunakan sungai dan tinggal di pinggiran sungai. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan Rumus Slovin dengan populasi sebanyak 180 rumahtangga dari tiga RT dan nilai kritis sebesar 10 persen.

n= N/1+ Ne2 n = Besaran Sampel

N= Populasi e = Titik Kritis


(1)

89

BAB VII PENUTUP

7.1 Kesimpulan

Respon masyarakat lokal tentang dampak sosio-ekonomi atas hadirnya industri pengolahan tahu, menurut lapisan rumahtangga berbeda-beda. Terdapat pendapat dari masyarakat lokal mengenai tingkat kesempatan kerja yang diberikan industri pengolahan tahu pada masyarakat lokal. Jumlah responden yang berpendapat bahwa ada kesempatan kerja bagi masyarakat lokal hanya sedikit. Pada aspek sosial-ekonomi pendapat responden mengenai tingkat persaingannya dengan pendatang untuk bekerja di industri pengolahan tahu hanya sedikit responden yang menyatakan adanya persaingan dengan pendatang untuk bekerja pada industri pengolahan tahu. Pada tingkat persaingan dengan masyarakat lokal, responden pada lapisan atas, lapisan menengah maupun lapisan bawah menyatakan tidak ada persaingan dengan masyarakat lokal untuk bekerja di industri pengolahan tahu. Respon lainnya yaitu mengenai hubungan sosial responden baik dengan pendatang maupun dengan masyarakat lokal, responden dominan menyatakan bahwa hubungan sosialnya tergolong baik.

Respon masyarakat lokal dampak sosio-ekologi atas hadirnya industri pengolahan tahu pertama terdapat pendapat mengenai pencemaran yang terjadi dan terdapat sikap atau tindakan dari masyakat lokal atas dampak pencemaran yang diberikan. Dampak sosio-ekologi tersebut mengenai tingkat pencemaran dilihat dari kondisi sungai baik sebelum maupun sesudah hadirnya industri pengolahan tahu. Responden menyatakan bahwa sebelum hadirnya industri pengolahan tahu sungai di wilayahnya jernih, sedangkan setelah hadirnya industri pengolahan tahu sungai di wilayahnya kurang jernih. Sungai yang merupakan salah satu sumber air bersih yang digunakan oleh masyarakat lokal, akan tetapi sungai di Kampung Cikaret telah tercemar limbah tahu sehingga kualitas sumber air sungai atas hadirnya industri pengolahan tahu memburuk. Selain mengenai tingkat pencemaran, terdapat pendapat mengenai tingkat kenyamanan hidup dan tingkat kesehatan. Pada tingkat kenyamanan responden sebagian menjawab tidak nyaman dengan bau yang ditimbulkan limbah tahu. Pada tingkat kesehatan hanya


(2)

dua rumahtangga responden yang menyatakan pernah mengalami sakit gatal akibat berinteraksi dengan sungai yang telah tercemar limbah tahu. Responden lainnya berpendapat bahwa tidak ada penyakit yang disebabkan oleh limbah tahu. Hasil respon dari masyarakat lokal terhadap dampak sosio-ekologi atas hadirnya industri pengolahan tahu, dapat disimpulkan bahwa industri pengolahan tahu mencemari lingkungan hidup di wilayah Kampung Cikaret. Pencemaran lingkungan hidup akibat limbah tahu di wilayah Kampung Cikaret membuat masyarakat lokal menyikapinya dengan tindakan melalui teguran kepada pihak industri pengolahan tahu. Sikap teguran terhadap bau di sekitar tempat tinggal dan terhadap gangguan kualitas sumber air yang digunakan masyarakat lokal akibat limbah tahu yang mengalir ke sungai.

7.2 Saran

Berikut beberapa saran terhadap penelitian yang telah dilakukan terkait dengan industri pengolahan tahu sebagai industri pedesaan:

1. Industri pengolahan tahu sebagai industri pedesaan tidak memberikan dampak terhadap sosio-ekonomi masyarakat. Hal ini disebabkan tidak terbukannya industri pengolahan tahu terhadap perekrutan pengrajin tahu. Sifat tertutup yang dilakukan oleh industri pengolahan tahu ini dikarenakan keterbatasannya dalam menyediakan fasilitas terhadap para pengrajin tahu. Dalam hal ini diperlukan peranan dari pemerintah dalam membantu pengembangan usaha industri pedesaan. Jika fasilitas yang dimiliki tidak lagi terbatas, maka industri pengolahan tahu yang berada di desa pun akan mengadakan perekrutan pengrajin tahu secara terbuka, sehingga masyarakat tidak lagi beropini bahwa tidak ada kesempatan untuk bekerja di industri pedesaan.

2. Agroindustri sebagai industri pedesaan akan berjalan sebagaimana mestinya jika masyarakat di desa memiliki ketertarikan di bidangnya. Ketidaktertarikan masyarakat terhadap industri pedesaan seperti industri pengolahan tahu disebabkan karena masyarakat kurang memiliki pengetahuan mengenai bidang pengolahan kedelai menjadi panganan seperti tahu. Sehingga dibutuhkan peran serta pemerintah untuk memberikan wawasan mengenai industri pedesaan yang mengolah hasil-hasil pertanian. Peran serta pemerintah ini dibutuhkan dalam


(3)

91

rangka mensukseskan strategi pertanian baru yang telah diresmikannya sebagai upaya penyeimbang antara pembangunan industri dan kemajuan pertanian. 3. Pencemaran sungai disebabkan minimnya pengetahuan dan modal pada

industri pedesaan. Seharusnya pelaku agroindustri atau industri pedesaan telah memperhitungkan resiko yang timbul akibat aktifitas industrinya. Selain itu, pelaku agroindustri harus memiliki keterampilan dalam pengolahan limbah hasil buangan dari proses produksinya. Seperti pada industri pengolahan tahu, limbah tahu yang padat dapat dijadikan pakan ternak, dan bahan baku dalam pembuatan oncom. Limbah cair yang selama ini bermasalah juga dapat dijadikan sebagai makanan yang dinamakan nata de soya seperti yang dilakukan oleh pengrajin-pengrajin tahu di kawasan Bandung, Sumedang dan Majalengka. Jika tidak ingin limbah cair tahu diolah menjadi makanan, dapat juga diolah menjadi biogas. Namun limbah cair tahu yang dijadikan biogas membutuhkan modal yang tidak sedikit.


(4)

(Studi Kasus: Kampung Cikaret, Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat)

RIZKI AFIANTI I34070116

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011


(5)

92

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistika. 1986. Potensi Desa di Kabupaten Bogor. Kabupaten Bogor [ID]: BPS.105 Hal.

Baharsyah S. 1987. Memasyarakatkan Hasil Pemikiran & Penelitian dalam Pengembangan Agroindustri Menyongsong Era Industri. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor. 232 Hal.

Esje I. 1997. Tanah, Pertanian dan Pemiskinan Petani. Dalam: Wacana Utama [Internet]. [Dikutip 23 November 2010]; 02 (10): 1-3. www.elsppat.or.id/download/file/w10_a1.pdf.

Fuadri. 2009. Strategi Pengembangan Agroindustri Komoditi Unggulan Kabupaten Aceh Barat [Tesis]. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor. 156 Hal.

Kristanto P. 2004. Ekologi Industri. Yogyakarta [ID]: Universitas Kristen Petra Surabaya dan Penerbit Andi. 352 Hal.

Mirajiani 2003. Dampak Industrialisasi dan Perubahan Sosial Terhadap Agresivitas Masyarakat Studi Kasus: Suatu Analisis Sosial (Gunung Waja, Industri Cilegon) [Tesis]. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor. 170 Hal.

Muslimin L dan Ansari M. 2010. Pengolahan dan Pemanfaatan Kedelai. Jakarta [ID]: Kementrian Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Formal dan Informal, Direktorat Pendidikan Kesetaraan. 65 Hal.

Mutakin A dan Gurniwan K.P. 2003. Dinamika Masyarakat Indonesia. Jakarta [ID]: Departemen Pendidikan Nasional. 233 Hal.

Prasetyo B dan Miftahul L.J. 2006. Metode Penelitian kuantitatif. Jakarta [ID]: PT. RajaGrafindo Persada. 250 Hal.

Rachmat M. 1993. Dampak Pencemaran Air Terhadap Kualitas Air Sungai dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Sawah Studi Kasus: Kasus Pencemaran Air Limbah dari Industri Kecil Penyamakan Kulit Sukaregang di Sub DAS Ciwalen Kabupaten Garut [Tesis]. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor. 197 Hal.

Rachmawati D. 2002. Studi Pengembangan Agroindustri Kentang di Wilayah Pedesaan [Tesis]. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor. 111 Hal.

Raharjo. 1999. Pedesaan dan Pertanian. Yogyakarta [ID]: Gadjah Mada University Press. 235 Hal.

Rahardjo M. D. 1984. Transformasi Pertanian, Industrialisasi dan Kesempatan Kerja. Jakarta [ID]: Penerbit Universitas Indonesia. 308 Hal.

Sajogyo S. 1983. Sosiologi Pedesaan Jilid 2. Jakarta [ID]: Yayasan Obor Indonesia. 253 Hal.

Salim E. 1986. Pembangunan Berwawasan Lingkungan. Jakarta [ID]: LP3ES. 222 Hal.


(6)

Sembiring S.A. 1995. Peranan Agroindustri Terhadap Ekonomi di Provinsi Sumatera Utara (Analisis Input-Output) [Tesis]. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor. 174 Hal.

Singarimbun M dan Sofian E. 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta [ID]: LP3ES. 336 Hal.

Soekartawi. 1994. Pembangunan Pertanian. Jakarta [ID]: PT. Raja Grafindo Persada. 174 Hal.

Soekartawi. 2005. Agroindustri dalam Perspektif Sosial Ekonomi. Jakarta [ID]: PT. Raja Grafindo Persada. 140 Hal.

Soemarwoto O. 1991. Analisis Dampak Lingkungan. Yogyakarta [ID]: Gadjah Mada University Press. 114 Hal.

Soemarwoto O. 2004. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta [ID]: Djambatan. 357 Hal.

Sufandi. 2006. Strategi Pengembangan Agroindustri Pedesaan di Kabupaten Bengkalis [Tesis]. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor. 133 Hal.

Suhada A. 2005. Kajian Strategi Pengembangan Agroindustri Penyamakan Kulit di Wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat [Skripsi]. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor. 112 Hal.

Suhandi A. et.al. 1989-1990. Perubahan Pola Kehidupan Masyarakat Akibat Pertumbuhan Industri (Studi Kasus: Daerah Jawa Barat). Jakarta [ID]: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 158 Hal.

Sunarjan Y.Y.F.R. 1991. Industri dan Perubahan Sosial Ekonomi Pedesaan Studi Kasus Masuknya Industri Rokok Kretek di Desa Gunung Lor, Kabupaten Kudus, Jawa Timur [Tesis]. Bogor [ID]: Universitas Kristen Satya Wacana dan Institut Pertanian Bogor. 105 Hal.

Sundari S. 2000. Analisis Dampak Agroindustri Tebu Terhadap Peningkatan Pendapatan Petani dan Pengembangan Perekonomian Wilayah di Jawa Timur [Tesis]. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor. 143 Hal.

Suyitno A & Daldjoeni N. 1982. Pedesaan, Lingkungan dan Pembangunan. Bandung [ID]: Penerbit Alumni. 258 Hal.

Syaf A.H. 2005. Karakteristik Industri Pengolahan Kulit dan Dampak Limbah Terhadap Lingkungan Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitar (Studi Kasus Sentra Industri Kulit Sukaregang Garut, Jawa Barat) [Tesis]. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor. 215 Hal.

Wahyono A. D. 2009. Pengelolaan Lingkungan Pasca AMDAL, UKL/UP atau ISO 14001 Pada Industri Kimia di Kabupaten Bogor [Tesis]. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor. 102 Hal.

Wahyuni E.S dan Pudji M. 2009. Metodologi Penelitian Sosial. Bogor [ID]: Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor. 101 Hal.

Widiastuti M. 2003. Peranan Agroindustri dalam Perekonomian di Kalimantan Tengah [Tesis]. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor. 89 Hal.