Pengaruh penggunaan media pembelajaran, strategi mengajar dengan pendekatan kontekstual, dan pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar ekonomi siswa : studi kasus siswa SMA Negeri 5 Yogyakarta tahun pelajaran 2009/2010.

(1)

viii ABSTRAK

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN, STRATEGI MENGAJAR DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL, DAN PENGELOLAAN KELAS TERHADAP PRESTASI BELAJAR EKONOMI

SISWA

Studi Kasus: Siswa SMA Negeri 5 Yogyakarta Tahun Pelajaran 2009/2010

Filipus Cukup Santoso Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2010

Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran, Strategi Mengajar dengan Pendekatan Kontekstual, dan Pengelolaan Kelas terhadap Prestasi Belajar Ekonomi Siswa Studi Kasus pada Siswa Kelas XII SMA Negeri 5 Yogyakarta.

Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus pada siswa SMA Negeri 5 Yogyakarta. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan teknik purposive sampling. Subjek dari penelitian adalah Siswa Kelas XII IPS SMA N 5 Yogyakarta. Jumlah sampel penelitian adalah 94 siswa. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan wawancara. Teknik analisis yang digunakan adalah pengujian statistik non parametrik (Chi Square/Chi Kuadrat).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tidak ada pengaruh antara media pembelajaran dengan prestasi belajar ekonomi siswa (χ2hitung = 1.013 < χ2tabel = 3.84); (2) tidak ada pengaruh antara strategi mengajar dengan pendekatan kontekstual dengan prestasi belajar ekonomi siswa (χ2hitung = 0.239 < χ2tabel = 3.84); (3) tidak ada pengaruh antara pengelolaan kelas dengan prestasi belajar ekonomi siswa (χ2


(2)

ix

ABSTRACT

THE INFLUENCE OF THE USE OF LEARNING MEDIA, LEARNING STRATEGY WITH CONTEXTUAL APPROACH, AND CLASS MANAGEMENT TOWARDS STUDENTS’ ECONOMY LEARNING

ACHIEVEMENT

A Case Study : The Twelfth Grade Students of Social Sciences in the Departement of 5 State Senior High School Yogyakarta

Filipus Cukup Santoso Sanata Dharma University

Yogyakarta 2010

This research aims to observe the influence of the use of learning media, learning strategy with contextual approach, and class management towards students’ economy learning achievement on the twelfth grade Students of Social Sciences in the Departement of 5 State Senior High School Yogyakarta.

This research is a case study research. The technique of gathering the sample was the technique of purposive sampling. The research subjects are the twelfth grade of students Social Sciences the Departement of 5 State Senior High School Yogyakarta. The samples are 94 students. The methods of data gathering are questionnaire and interview. The analysis technique is the assessment of non parametric statistical (Chi Square).

The research result indicates: (1) there isn’t any influence between the learning media and the students’ economy learning achievement ( X2count= 1. 013 < X2table = 3.84); (2) there isn’t any influence between the learning strategy with contextual approach and the students’ economy learning achievement ( X2count = 0.239 < X2table = 3.84); there isn’t any influence between the class management and the students’ economy learning achievement ( X2count = 0.272 < X2table = 3.84).


(3)

i

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN, STRATEGI MENGAJAR DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL, DAN PENGELOLAAN KELAS TERHADAP PRESTASI BELAJAR EKONOMI

SISWA

Studi Kasus: Siswa SMA Negeri 5 Yogyakarta Tahun Pelajaran 2009/2010

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Akuntansi

Disusun oleh :

FILIPUS CUKUP SANTOSO NIM: 051334010

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2010


(4)

(5)

(6)

iv

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya ini untuk:

Yesus Kristus dan Bunda Maria

Kagem Pak Yadi kaliyan Bu Mamik

Saudaraku tersayang mas Agung dan mas Bagus

Seluruh Pahlawan yang gugur dalam perjuangan


(7)

v

MOTO

Aku bisa jika aku yakin aku bisa

Go To Where Your Hearts Brings

Talk Less Do More

Hidup adalah Pilihan, ambil pilihan dan

bertanggung jawablah atas pilihanmu

Bentangan layar-lah yang kita atur dan

bukannya arah angin yang menentukan arah

kita


(8)

(9)

(10)

viii ABSTRAK

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN, STRATEGI MENGAJAR DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL, DAN PENGELOLAAN KELAS TERHADAP PRESTASI BELAJAR EKONOMI

SISWA

Studi Kasus: Siswa SMA Negeri 5 Yogyakarta Tahun Pelajaran 2009/2010

Filipus Cukup Santoso Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2010

Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran, Strategi Mengajar dengan Pendekatan Kontekstual, dan Pengelolaan Kelas terhadap Prestasi Belajar Ekonomi Siswa Studi Kasus pada Siswa Kelas XII SMA Negeri 5 Yogyakarta.

Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus pada siswa SMA Negeri 5 Yogyakarta. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan teknik purposive sampling. Subjek dari penelitian adalah Siswa Kelas XII IPS SMA N 5 Yogyakarta. Jumlah sampel penelitian adalah 94 siswa. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan wawancara. Teknik analisis yang digunakan adalah pengujian statistik non parametrik (Chi Square/Chi Kuadrat).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tidak ada pengaruh antara media pembelajaran dengan prestasi belajar ekonomi siswa (χ2hitung = 1.013 < χ2tabel = 3.84); (2) tidak ada pengaruh antara strategi mengajar dengan pendekatan kontekstual dengan prestasi belajar ekonomi siswa (χ2hitung = 0.239 < χ2tabel = 3.84); (3) tidak ada pengaruh antara pengelolaan kelas dengan prestasi belajar ekonomi siswa (χ2


(11)

ix

ABSTRACT

THE INFLUENCE OF THE USE OF LEARNING MEDIA, LEARNING STRATEGY WITH CONTEXTUAL APPROACH, AND CLASS MANAGEMENT TOWARDS STUDENTS’ ECONOMY LEARNING

ACHIEVEMENT

A Case Study : The Twelfth Grade Students of Social Sciences in the Departement of 5 State Senior High School Yogyakarta

Filipus Cukup Santoso Sanata Dharma University

Yogyakarta 2010

This research aims to observe the influence of the use of learning media, learning strategy with contextual approach, and class management towards students’ economy learning achievement on the twelfth grade Students of Social Sciences in the Departement of 5 State Senior High School Yogyakarta.

This research is a case study research. The technique of gathering the sample was the technique of purposive sampling. The research subjects are the twelfth grade of students Social Sciences the Departement of 5 State Senior High School Yogyakarta. The samples are 94 students. The methods of data gathering are questionnaire and interview. The analysis technique is the assessment of non parametric statistical (Chi Square).

The research result indicates: (1) there isn’t any influence between the learning media and the students’ economy learning achievement ( X2count= 1. 013 < X2table = 3.84); (2) there isn’t any influence between the learning strategy with contextual approach and the students’ economy learning achievement ( X2count = 0.239 < X2table = 3.84); there isn’t any influence between the class management and the students’ economy learning achievement ( X2count = 0.272 < X2table = 3.84).


(12)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas kasih-Nya yang besar, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN, STRATEGI MENGAJAR DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL, DAN PENGELOLAAN KELAS TERHADAP PRESTASI BELAJAR EKONOMI SISWA.”

Penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan skripsi ini tidaklah mungkin terlaksana dengan baik tanpa bantuan, kerjasama, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Romo Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, S.J. selaku Rektor Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan kepribadian kepada penulis di Universitas Sanata Dharma. 2. Bapak Drs. T. Sarkim, M.Ed., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta;

3. Bapak Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta;

4. Bapak Laurentius Saptono, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Akuntansi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta;

5. Bapak Ignatius Bondan Suratno, S.Pd., M.Si. selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dalam memberikan bimbingan, memberikan kritik, dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini;

6. Ibu Cornelio Purwantini, S.Pd., M.SA. selaku Dosen Penguji yang telah banyak meluangkan waktu dalam memberikan bimbingan, memberikan kritik, dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini;

7. Bapak Sebastianus Widanarto Prijowuntato, S.Pd., M.Si. selaku Dosen Penguji yang telah banyak meluangkan waktu dalam memberikan bimbingan, memberikan kritik, dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini; 8. Staf pengajar Program Studi Pendidikan Akuntansi yang telah memberikan


(13)

xi

9. Tenaga administrasi Program Studi Pendidikan Akuntansi yang telah membantu kelancaran proses belajar selama ini;

10. Bapak Drs. Munjid Nur Alamsyah selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 5 Yogyakarta yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian;

11. Ibu Dra. Sumiartinah dan Ibu Dra Retno Sugiharti selaku guru pengampu bidang studi ekonomi SMA 5 Yogyakarta yang sudah berkenan memberikan waktu kepada penulis untuk melakukan penelitian;

12. Staf pengajar dan tenaga administrasi SMA Negeri 5 Yogyakarta yang telah membantu kelancaran pelaksanaan penelitian;

13. Salam dan ucapan banyak terimakasih kepada Bapak Matheus Sujadi dan Ibu Rosalia Mamik S atas segala doa, cinta, kasih sayang, kesabaran, nasehat dan segala bentuk dukungan pada penulis;

14. Saudara-saudaraku tersayang: mas Agung, mas bagus dan mba sari yang selalu memberiku kasih sayang, kesabaran, kepercayaan, nasihat, dan dukungan doa dan materi;

15. ’Dek Natalia Niken Krisnawati yang menjadi motivasiku, semangat dan salah satu tujuanku untuk menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas kasih sayang yang tulus, kesabaran, perhatian, segala bantuan, dan dukungan doanya (aku wis lulus nduk);

16. Keluarga Ibu Anastasia Painten sekeluarga yang telah memberikan dukungan doa selama menyusun skripsi;

17. Seluruh Keluargaku di kaliwungu Mbah Giman kakung dan Putri, Kel Mbah Gono, Mamah sekeluarga untuk semua nasehat dan dukungan kepada Penulis;

18. (Alm) Mbah Mardi Kakung, (Alm) Bude Suti, (Alm) Mbah Denok yang selalu mendoakan ku dari Surga:

19. Mbah Mardi Putri, Bulek Inti, Bulek Suster,Kel Om Sum, Kel Om Karmadi, Om Nardi, Bulek Enggal,Om sihono, Om Kus, Mas Joko, Mba Tutik, Bulek Fani, Ririn, Niken Terima Kasih untuk segala dukungan dan doanya;


(14)

xii

20. Adek-adek sepupuku apin ”hoho”, Vian, Qiuntan, Eta, Agri untuk segala dukungan dan penghiburannya...;

21. Teman-teman Staf PPKM 1 Rm Kun, Rm In, Bu dewi, Mb Tata, Agnes, Agung, Simbah, Dias, David, Tere, Mas Ab, Andri, Hedwig, Via, atas motivasi, nasihat, dan dukungan doanya (cepet Lulus Yo....) tetap rendah hati Luar Biasa;

22. Staf P4 Pak Sento, Bu Prapti, Mba Sari, Mba Yusta, Agus, Noel, Dito terima kasih untuk pengalaman yang tak terlupakan bersama kalian semua;

23. Sr Ana,Mba Reta, Indah, Mbak Kur, Pipi, Tithe, Candra, Leni, Asih, Agnez ”Cempe”, Bangkit, Iwak, Ertyn, Rini, Mas Eka, Mas Kris, Riri, Heni, Ima, Singgih, Feri, Wulan, Tri, Indah, Yuni, Tosu, Lisa ”Pakem”, Eka Fransiska, Katarina, Tya, Whilda, Mas Adi, Boim, Galuh, Coppy, Lusi, Andri, Vita, dan semua teman angkatan 2005 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terimakasih untuk kebersamaan selama kurang lebih empat tahun di kampus tercinta, Universitas Sanata Dharma. Hadiah terindah yang penulis terima saat berkenalan, berteman, bersahabat, berbagi, dan memperoleh kenangan indah bersama kalian;

24. Terimakasih untuk Keluarga Pak Purwanto sudah diijinkan menginap 4 tahun lebih di wuluh 14 kamar 1;

25. Temen-Temen Kos Wuluh 14 Mupet, Krisna, Doni, Yoga, Mas Cahyo terimakasih untuk dukunganannya serta pinjeman baju dan sepatunya ; 26. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah

membantu dan mendukung penulis selama penyusunan skripsi.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis senantiasa menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini.


(15)

xiii

Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak yang berkepentingan.

Penulis,


(16)

xiv DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

PERSEMBAHAN ... iv

MOTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiv

DAFTAR TABEL ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xx

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Batasan Masalah ... 5

C. Rumusan Masalah ... 5

D. Tujuan Penelitian ... 6

E. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A. Media Pembelajaran ... 8

B. Strategi Pembelajaran Dengan Pendekatan Kontekstual ... 15

C. Pengelolaan Kelas ... 29

D. Prestasi Belajar ... 37

E. Kerangka Berfikir ... 38

1. Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar Ekonomi Siswa ... 38


(17)

xv

2. Pengaruh Penggunaan Strategi Mengajar

dengan Pendekatan Kontekstual terhadap

Prestasi Belajar Ekonomi Siswa ... 39

3. Pengaruh Pengelolaan Kelas terhadap Prestasi Belajar Ekonomi Siswa ... 40

F. Hipotesis Penelitian ... 41

BAB III METODE PENELITIAN ... 42

A. Jenis Penelitian ... 42

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 42

C. Subyek dan Obyek Penelitian ... 42

D. Populasi, Sampel, dan Teknik Penarikan Sampel ... 43

1. Populasi ...43

2. Sampel ...43

3. Teknik Penarikan Sampel ...43

E. Variabel Penelitian dan Pengukuran ... 44

1. Variabel Penggunaan Media Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar Siswa...44

2. Variabel Strategi Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual... 46

3. Variabel Pengelolaan Kelas ...48

4. Variabel Prestasi Belajar ...50

F. Teknik Pengumpulan Data ... 50

G. Pengujian Validitas dan Reliabilitas ... 51

1. Pengujian Validitas ...51

2. Pengujian Reliabilitas ...54

H. Teknik Analisis Data ... 56

1.Pengujian Prasyarat Analisis ...56

a. Pengujian Normalitas ... 56


(18)

xvi

2. Pengujian Hipotesis ...57

a. Perumusan Hipotesis ... 57

b. Pengujian Hipotesis... 58

BAB IV GAMBARAN UMUM SEKOLAH ... 61

A. Tujuan Satuan Pendidikan SMA 5 Yogyakarta ... 61

B. Sistem Pendidikan SMA 5 Yogyakarta ... 63

C. Kurikulum Satuan Pendidikan SMA 5 Yogyakarta ... 65

D. Organisasi Sekolah ... 70

E. Sumber Daya Manusia ... 75

F. Data PPDB ... 77

G. Data Jumlah Siswa... 77

H. Data Hasil Ujian ... 77

I. Data Kenaikan Kelas ... 78

J. Susunan Organisasi Sekolah ... 78

K. Komite Sekolah ... 78

L. Kondisi Sekolah ... 80

M. Target Peningkatan Mutu ... 81

N. Fasilitas Pendidikan dan Latihan ... 83

O. Hubungan Sekolah dengan Instansi Lain ... 86

P. Usaha Peningkatan Kualitas Pendidikan Lulusan ... 87

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 90

A. Deskripsi Data ... 90

B. Analisis Data ... 94

1. Pengujian Prasyarat Analisis ... 94

a. Pengujian Normalitas ... 94

b. Pengujian Linieritas ... 95

2. Pengujian Hipotesis ... 97

a. Hipotesis 1 ... 97

b. Hipotesis 2 ... 100


(19)

xvii

C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 105

1. Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar Ekonomi Siswa ... 105

2. Pengaruh Penggunaan Strategi Mengajar dengan Pendekatan Kontekstual terhadap Prestasi Belajar Ekonomi Siswa ... 107

3. Pengaruh Pengelolaan Kelas terhadap Prestasi Belajar Ekonomi Siswa ... 111

BAB VI KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN ... 114

A. Kesimpulan ... 114

B. Keterbatasan ... 115

C. Saran ... 115

DAFTAR PUSTAKA ... 118


(20)

xviii

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 3.1. Operasionalisasi Variabel Pengaruh Penggunan Media

Pembelajaran ... 45

Tabel 3.2. Operasionalisasi Variabel Pengaruh Penggunaan Strategi Mengajar dengan Pendekatan Kontekstual ... 47

Tabel 3.3. Operasionalisasi Variabel Pengaruh Pengelolaan Kelas ... 49

Tabel 3.4. Skoring Berdasarkan Likert ... 50

Tabel 3.5. Rangkuman Uji Validitas Penggunaan Media Pembelajaran 52 Tabel 3.6. Rangkuman Uji Validitas Penggunaan Strategi Mengajar dengan Pendekatan Kontekstual ... 53

Tabel 3.7. Rangkuman Uji Validitas Penggunaan Pengelolaan Kelas ... 54

Tabel 3.8. Rangkuman Uji Reliabilitas Instrumen... 55

Tabel 3.9. Pedoman Intrepetasi Pengaruh Antar Variabel ... 60

Tabel 4.1. Kriteria Ketuntasan Minimal... 69

Tabel 5.1. Sebaran Responden Penelitian ... 90

Tabel 5.2. Deskripsi Variabel Media Pembelajaran ... 91

Tabel 5.3. Deskripsi Variabel Strategi Menngajar dengan Pendekatan Kontekstual ... 92

Tabel 5.4. Deskripsi Variabel Pengelolaan Kelas ... 92

Tabel 5.5. Variabel Prestasi Belajar ... 93

Tabel 5.6. Hasil Pengujian Normalitas ... 94

Tabel 5.7. Hasil Pengujian Linieritas ... 96

Tabel 5.8. Tabel Kontijensi untuk Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar Ekonomi Siswa ... 98

Tabel 5.9. Tabel Kontijensi untuk Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar Ekonomi Siswa setelah penggabungan ... 99


(21)

xix

Tabel 5.10. Tabel Kontijensi Pengaruh Penggunaan Strategi Mengajar dengan Pendekatan Kontekstual terhadap Prestasi Belajar Ekonomi Siswa ... 100 Tabel 5.11. Tabel Kontijensi Pengaruh Penggunaan Strategi Mengajar

dengan Pendekatan Kontekstual terhadap Prestasi Belajar Ekonomi Siswa setelah Penggabungan... 101 Tabel 5.12. Tabel Kontijensi Pengaruh Pengelolaan Kelas terhadap

Prestasi Belajar Ekonomi Siswa ... 103 Tabel 5.13. Tabel Kontijensi Pengaruh Pengelolaan Kelas terhadap


(22)

xx

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Kuesioner Penelitian ... 123 Lampiran 2. Data Validitas dan Reliabilitas ... 130 Lampiran 3. Data Induk Penelitian ... 134 Lampiran 4. Analisis Data ... 137 Lampiran 5. Surat Izin Penelitian ... 155 Lampiran 6. Surat Bukti Penelitian ... 156


(23)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia, pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik dan buruknya manusia menurut ukuran norma. Menyadari hal itu, maka pendidikan harus ditangani serius tidak hanya oleh pemerintah tetapi juga oleh masyarakat. Dengan pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan dengan baik terhadap kondisi yang ada pada saat ini. Pendidikan adalah sebuah usaha untuk menumbuh kembangkan kemampuan atau potensi yang dimiliki manusia yang biasanya dilakukan dengan jalan belajar.

Pendidikan lebih biasa dikenal masyarakat dengan pengajaran di sekolah. Pengajaran di sekolah banyak mengalami perkembangan mulai dari pengajaran tradisional yang memiliki pengajaran konservatif, dimana guru merupakan pusat pembelajaran, sampai pembelajaran modern dimana siswa yang harus mencari dan menemukan sendiri ilmu melalui pengalaman dan interaksi antar individu (sesama siswa ataupun dengan guru). Dalam pengajaran, pengunaan media belajar, metode mengajar, dan pengelolaan kelas yang baik akan membantu siswa dalam mencapai prestasi belajar yang optimal.


(24)

Kondisi pengajaran secara makro di Indonesia dalam lingkup internasional sangat memprihatinkan karena tingkat pemahaman siswa mengenai pelajaran tersebut hanya sebatas materi (teori) semata (Depdiknas, 2008). Banyak siswa mampu menyajikan tingkat hapalan yang baik terhadap materi ajar yang diterima, tetapi pada kenyataannya mereka tidak memahaminya. Kemudian yang lebih memprihatinkan lagi adalah sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan. Dari dua fenomena di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa siswa memiliki kesulitan untuk memahami konsep akademik yang konvensional (ceramah dan pengajaran yang bersifat abstrak), sedangkan yang siswa butuhkan adalah pengajaran yang menarik, konkrit, dan dapat menghubungkan antara dunia siswa sekarang (di bangku sekolah) dengan dunia siswa yang akan datang (dunia kerja).

Ketercapaian prestasi belajar banyak dipengaruhi oleh berbagai hal antara lain penggunaan media pembelajaran, metode mengajar, ketersedian sarana pendukung dalam belajar, lingkungan sekolah dan tempat tinggal, serta pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru. Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi yang selalu melibatkan tiga komponen pokok yaitu pengirim pesan (guru), penerima pesan (siswa), dan komponen pesan itu sendiri yang biasanya berupa materi pelajaran. Pengunaan media belajar akan sangat membantu siswa dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru. Selain itu, penggunaan media belajar akan menarik minat siswa


(25)

terhadap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Penggunaan media belajar akan sangat mendukung dalam pencapaian prestasi belajar siswa.

Penggunaan strategi mengajar juga akan berpengaruh terhadap minat siswa dalam mengikuti pelajaran. Penggunaan strategi mengajar diharapkan menjadikan siswa lebih aktif dan mau berinteraksi dengan siswa lain. Dari beberapa metode mengajar, penulis lebih fokus untuk mendalami penggunaan strategi pembelajaran kontekstual (CTL). Akhir-akhir ini, pembelajaran kontekstual merupakan salah satu pendekatan yang banyak dibicarakan orang. Berbeda dengan strategi-strategi lain, CTL merupakan strategi yang melibatkan dan mendorong siswa untuk beraktivitas secara penuh dalam proses pembelajaran. Melalui proses pembelajaran ini, diharapkan perkembangan siswa terjadi secara utuh, tidak hanya aspek kognitif saja yang berkembang tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa untuk mencapai tujuan, maksudnya guru lebih banyak menggunakan strategi daripada hanya memberi informasi. Pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual diharapkan akan membantu siswa untuk mencapai prestasi belajar secara optimal dan utuh.

Proses belajar mengajar yang dilaksanakan dapat mencapai tujuan sesuai yang dikehendaki apabila kelas dapat diciptakan sebaik mungkin sehingga menunjang proses belajar mengajar. Guru bertugas untuk menciptakan suasana kelas yang interaktif sehingga interaksi positif akan memotivasi siswa untuk lebih mendalami materi dan mengikuti pelajaran


(26)

dengan baik. Oleh karena itu, sebaiknya guru memiliki kemampuan untuk mengelola kelas dengan baik agar siswa dapat meraih prestasi belajar dengan optimal.

Fakta yang ada menunjukkan bahwa banyak permasalahan yang dihadapi siswa dalam proses belajar antara lain karena kurangnya minat belajar anak terhadap materi yang disampaikan, siswa jenuh dengan cara mengajar guru yang seakan tidak ada variasi, dan tidak digunakannya media yang baik sehingga menghambat penyampaian materi belajar. Tidak tersedianya fasilitas pendukung yang seharusnya mampu mengkomunikasikan kegiatan belajar mengajar menjadi hambatan lain yang akhirnya membuat siswa menjadi jenuh karena yang mereka hadapi setiap hari hanya buku, papan tulis, dan guru. Hal ini pada akhirnya akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa.

Masalah lain yang sangat menghambat prestasi siswa adalah kurangnya relasi yang baik antara guru dengan siswa maupun antar siswa itu sendiri. Kadang guru juga perlu memperhatikan hal-hal kecil yang ada pada diri siswa yang mungkin akan menggangu siswa selama menerima pelajaran. Pengelolaan kelas menjadi sangat penting, dimana saat guru tidak mampu mengelola kelas maka siswa akan mengalami rasa tidak nyaman dalam belajar. Pengelolaan kelas dapat meliputi terjalinnya relasi dan bagaiman menata ruangan agar menjadi lebih nyaman. Kasus yang masih segar dalam ingatan adalah bagaimana guru bersikap sewenang-wenang terhadap siswa dengan memberi hukuman yang tidak layak diterima oleh


(27)

siswa didiknya, yang membuat siswa menjadi sangat depresi dan menjadi malas dalam belajar.

Berdasarkan latar belakang masalah dan fakta yang ada dalam masyarakat tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran, Strategi Mengajar dengan Pendekatan Kontekstual, dan Pengelolaan Kelas terhadap Prestasi Belajar Ekonomi Siswa.” Penelitian ini merupakan studi kasus pada SMA Negeri 5 Yogyakarta.

B. Batasan Masalah

Ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor internal sekolah dan faktor eksternal sekolah. Dari dua faktor tersebut, penelitian ini akan difokuskan pada faktor internal yang meliputi penggunaan media belajar, penggunaan strategi mengajar dengan pendekatan kontekstual, dan pengelolaan kelas untuk membantu meningkatkan prestasi belajar ekonomi siswa.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah ada pengaruh penggunaan media belajar terhadap prestasi


(28)

2. Apakah ada pengaruh penggunaan strategi mengajar dengan pendekatan kontekstual terhadap prestasi belajar ekonomi siswa?

3. Apakah ada pengaruh pengelolan kelas terhadap prestasi belajar

ekonomi siswa?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk menyediakan bukti-bukti tentang:

1. Pengaruh penggunaan media belajar terhadap prestasi belajar ekonomi

siswa.

2. Pengaruh penggunaan strategi mengajar dengan pendekatan kontekstual

terhadap prestasi belajar ekonomi siswa.

3. Pengaruh pengelolan kelas terhadap prestasi belajar ekonomi siswa.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi guru

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja guru dalam mengembangkan potensi belajar untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.

2. Bagi sekolah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas sekolah dalam pengajaran agar prestasi belajar siswa dapat tercapai secara optimal.


(29)

3. Bagi Universitas Sanata Dharma

Hasil penelitian ini dapat menjadi referensi ilmiah sebagai hasil kajian empiris tentang penggunaan media belajar, penggunaan strategi

mengajar dengan pendekatan kontekstual, dan pengelolaan kelas

terhadap prestasi belajar ekonomi siswa.

4. Bagi penulis

Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis dalam menyelesaikan kuliah dan memperoleh pengalaman, wawasan, dan belajar menganalisa kemudian mengambil kesimpulan yang tepat.


(30)

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Media Belajar

Menurut Sudrajat (http//teknologipendidikan.wordpress.com//prinsip pengembangan media pendidikan sebuah pengantar), media berasal dari

Bahasa Latin “medium” yang secara harafiah berarti perantara atau

pengantar, artinya adalah media merupakan perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Pendapat lain mengenai media diungkapkan oleh Marshall Mc Luhan dalam Hamalik (2005:201) bahwa media adalah suatu ekstitensi manusia yang memungkinkan mempengaruhi orang lain yang tidak mengadakan kontak langsung dengan dia. Menurut Sudrajat (http://teknologipendidikan.wordpress.com/2006/03/21/prinsippengembanga n-media-pendidikan-sebuah-pengantar), media pembelajaran merupakan teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan

pembelajaran. Dalam tulisan yang sama, National Education

mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang dengar, termasuk teknologi perangkat keras yang dapat dijadikan bahan untuk mempermudah proses belajar. Sementara Hamalik (1994:12) mendefinisikan media belajar atau media pendidikan sebagai alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antar guru dan siswa dalam proses pendidikan. Pendapat ini hampir sama dengan pendapat Sudirman


(31)

(1987:205) bahwa media belajar merupakan bagian dari pengajaran yang di dalamnya terkandung dua unsur pengajaran yaitu pesan atau bahan pengajaran yang disampaikan dan alat penampil materi atau perangkat keras (hardware). Sementara Gerlach dan Ely (Sanjaya, 2006:161) mengemukakan pendapat bahwa media pembelajaran meliputi orang, bahan, peralatan, dan kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Menurut Sudrajat (http://Akmadsudrajat.wordpress.pengembangan. media pembelajaran), media memiliki beberapa fungsi, diantaranya sebagai berikut:

1. media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang

dimiliki oleh para peserta didik.

2. media pembelajaran dapat melampaui batas ruang kelas. Banyak hal

yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas, alasanya adalah mungkin objek terlalu besar, objek terlalu kecil, ataupun objek tidak dapat dipindah. Maka, penggunaan media yang tepat diharapkan dapat menampilkan semua objek bisa di hadapan peserta didik.

3. media pembelajaran memungkinkan interaksi langsung antara peserta

didik dengan lingkungan.

4. media pembelajaran menghasilkan keseragaman pengamatan.

5. media pembelajaran dapat menanamkan konsep dasar yang benar dan

konkrit.

6. media pembelajaran membangkitkan motivasi dan merangsang anak

untuk belajar.

7. media pembelajaran membangkitkan keinginan dan minat baru.

Dari beberapa fungsi yang disebutkan di atas, secara umum media mempunyai kegunaan:

1. memperjelas pesan agar tidak verbalistis;

2. mengatasi keterbatasan ruang dan waktu;


(32)

4. memungkinkan anak belajar mandiri;

5. memberi rangsangan secara sama dan mempersamakan dan

menimbulkan persepsi yang sama.

Hamalik (1994:16) mengemukakan pendapat yang hampir sama tentang fungsi dari media belajar, yaitu sebagai berikut.

1. Media pembelajaran dapat melampui batas pengalaman pribadi siswa

2. Media pembelajaran dapat melampui batas-batas ruang kelas

3. Media pembelajaran dapat membuat siswa mengalami interaksi secara

langsung dengan lingkungan

4. Media pendidikan memberikan pengamatan yang sama dalam

pengamatan

5. Media memberikan konsep yang sebenarnya secara realistis dan teliti

6. Media pembelajaran membangklitkan keinginan dan minat siswa.

7. Media pembelajaran membangkitkan motivasi dan perangsang kegiatan

siswa

8. Media pembelajaran memberikan pengalaman yang langsung dan

menyeluruh

Pendapat lain tentang beberapa fungsi media diungkapkan oleh Sanjaya (2006:168-169) yaitu sebagai berikut.

1. Media pembelajaran dapat menangkap suatu objek atau

peristiwa-peristiwa tertentu.

2. Media pembelajaran dapat memanipulasi keadaaan, peristiwa, dan objek


(33)

3. Media pembelajaran dapat menambah gairah dan motivasi belajar siswa. Selain memiliki berbagai macam fungsi, media pembelajaran juga mempunyai beragam jenis yang dapat dijadikan alternatif pilihan oleh guru dalam proses belajar mengajar. Menurut Sanjaya (2006:170), media pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi beberapa klasifikasi.

1. Media pembelajaran dilihat dari sifatnya

a. Media auditif yaitu media yang hanya dapat didengar saja atau

media yang hanya memilki unsur suara saja.

b. Media visual yaitu media yang hanya dapat dilihat saja, tidak

mengandung unsur suara.

c. Media audio visual yaitu media yang menggabungkan antar media

visual dan media audio.

2. Media dilihat dari kemampuan jangkauannya

a. Media yang memilki daya liput yang luas dan serentak seperti radio

dan televisi.

b. Media yang mempunyai daya liput yang terbatas oleh ruang dan

waktu.

3. Dilihat dari cara atau teknik pemakaiannya

a. Media yang diproyeksikan


(34)

Penggunaan media tidaklah asal pilih, pemilihan media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Di samping itu, perlu diperhatikan pula kriteria lain yang sifatnya adalah melengkapi antara lain seperti biaya, ketepatgunaan, keadaaan peserta didik, dan mutu teknis.

Menurut Hamalik (2005:202), ada 2 (dua) pendekatan yang dilakukan untuk memilih media pembelajaran, yakni:

1. dengan cara memilih media yang telah disediakan di pasaran yang dapat

langsung dibeli oleh guru dan langsung dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini tentunya perlu banyak biaya untuk membelinya, lagi pula media itu belum tentu cocok dengan penyampaian bahan pelajaran dan cocok dengan kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa;

2. memilih berdasarkan kebutuhan nyata yang telah direncanakan

khususnya yang berkenaan dengan tujuan yang akan dicapai.

Sementara Sudirman (1987:211) mengungkapkan bahwa dalam pemilihan media perlu diperhatikan 2 (dua) hal yaitu prinsip pemilihan media dan faktor yang diperhatikan dalam pemilihan media. Prinsip pemilihan media yakni:

1. Tujuan pemilihan.

Memilih media harus disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan atau sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai oleh guru.

2. Karakteristik media pengajaran

Memahami karakteristik media menjadi hal yang penting, karena jika guru menggunakan media tanpa mengetahui karakteristik media maka guru akan mengalami kesulitan jika suatu saat media tersebut mengalami kerusakan ataupun terdapat kendala. Media juga diharapkan bisa mendorong guru untuk berpikir kreatif agar nantinya pembelajaran


(35)

bisa berlangsung dengan menarik dan pada akhirnya bisa sesuai dengan tujuan yang diharapkan guru.

3. Alternatif pilihan

Guru harus dapat mempertimbangkan penggunaan media jika ada alternatif lain yang bisa digunakan.

Dalam buku yang sama, Sudirman (1987:213) menyebutkan berbagai faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilian media. Faktor-faktor tersebut antara lain: (a) objektivitas, objektivitas menunjuk pada unsur-unsur yang digunakan oleh guru dalam memilih media artinya bahwa dalam pemilihan media guru tidak boleh hanya memilih media berdasarkan kesenangan pribadi; (b) program pengajaran, yang dimaksud program pengajaran disini adalah media yang digunakan harus sesuai dengan program pengajaran yang telah ditetapkan sebelumnya; (c) sasaran program, yang dimaksud adalah siswa yang akan dihadapi, perlu diperhatikan juga bahwa setiap jenjang pendidikan memiliki karakteristik yang berbeda; (d) situasi dan kondisi, penggunaan media pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada. Situasi dan kondisi tersebut seperti ruangan, ukuran kelas, kondisi siswa, motivasi, serta keinginan siswa dalam mengikuti pembelajaran; (e) kualitas dan segi teknik, media yang digunakan harus memenuhi syarat kualitas media dan standar keamanan yang berlaku; dan (f) keefektifan dan efisiensi penggunaan, efektif disini adalah apakah media yang akan digunakan dapat memberi informasi sesuai dengan tujuan


(36)

atau program yang ada. Sedangkan yang dimaksud efisien apakah penggunaan media menyita banyak waktu, uang, dan tenaga.

Sanjaya (2006:171) mengungkapkan bahwa prinsip pokok dalam penggunaan atau pemilihan media adalah bahwa penggunaan diarahkan untuk mempermudah belajar siswa dalam memahami materi pelajaran. Dengan demikian, penggunaan media harus dipandang dari sudut kebutuhan siswa. Hal ini perlu ditekankan sebab seringkali media digunakan hanya dilihat dari sudut pandang guru. Agar media pembelajaran benar-benar digunakan untuk membelajarkan siswa, maka Sanjaya (2006:171) mengungkapkan beberapa prinsip.

1. Media yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk

mencapai tujuan pembelajaran. Media tidak diperkenankan hanya untuk hiburan tapi dimaksudkan untuk mempermudah guru dalam menyampaikan materi sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.

2. Media yang akan digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran.

Setiap materi pelajaran memiliki kekhasnan dan kekomplekan. Media yang akan digunakan harus sesuai dengan kompleksitas materi pembelajaran.

3. Media pembelajaran harus sesuai dengan minat, kebutuhan, dan kondisi

siswa. Siswa yang memiliki kemampuan mendengar yang baik akan lebih maksimal jika mengunakan media yang bersifat auditif.

4. Media yang digunakan harus memperhatikan efektivitas dan efisien.

Media yang memerlukan peralatan yang mahal belum tentu efektif untuk mencapai tujuan tertentu dari pembelajaran.

5. Media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam

mengoperasikannya. Jangan sampai guru tidak mengerti bagaimana mengoperasikan media yang akan digunakan karena hal tersebut akan menggangu proses belajar mengajar.

Pendapat lain tentang prinsip penggunaan media diungkapkan oleh Sudjarwo (1988:172). Ada delapan prinsip umum penggunaan media.

1. Tidak ada satupun teknik atau strategi mengajar tanpa melibatkan


(37)

dikombinasikan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan optimal.

2. Tidak ada satupun media yang dapat sesuai dan cocok untuk segala

macam kegiatan belajar. Oleh karena itu, guru harus selektif dalam pemilihan media sebelum media tersebut digunakan dalam kelas.

3. Media tertentu cenderung lebih cepat dan tepat untuk maksud dan

tujuan tertentu dibanding dengan media yang lain.

4. Penggunaan berbagai jenis media secara berlebihan dan tidak

berdasarkan teori pemilihan media dalam tempo yang relatif kurang justru akan mengkaburkan isi pelajaran.

5. Sebelum media diterapkan dalam proses belajar mengajar maka si

pendidik perlu melakukan persiapan yang cukup dan cermat.

6. Selama belajar dengan media sebaiknya siswa juga telah disiapkan

sebelumnya dan siswa harus diperlakukan secara sebaik-baiknya sehingga dapat berperan sebagai peserta belajar yang aktif dan bertanggung jawab pada setiap kejadian selama proses belajar.

7. Media perlu diusahakan agar dapat menjadi bagian integral dari sistem

pendidikan. Artinya bahwa media harus diperlakukan sebagai cara tepat dan proporsional, sehingga media tidak hanya sekedar alat bantu tapi sebagai salah satu mata rantai dalam pendidikan.

8. Jangan menggunakan media untuk sekedar pengisi waktu yang kosong

dengan tujuan rekreasi, karena dengan demikian maka tanggapan siswa selanjutnya akan menganggap media hanya sekedar sebagai hiburan semata.

Akhirnya, karakteristik dan kemampuan masing-masing media perlu diperhatikan oleh guru agar mereka dapat memilih media mana yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang akan dicapai. Selain itu, media harus dapat dirumuskan secara jelas, terarah, sistematis, dan terperinci. Dengan demikian, diharapkan manfaat yang diterima oleh siswa akan lebih optimal sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

B. Strategi Pembelajaran Dengan Pendekatan CTL (Kontekstual)

Dewasa ini ada kecenderungan untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang akan


(38)

dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, akan tetapi pada jangka panjang anak akan mengalami persoalan dalam memecahkan masalah.

Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. Dengan pembelajaran ini, diharapkan pembelajaran akan lebih bermakna dan lebih optimal .

Sebelum membahas lebih dalam mengenai pendekatan kontekstual, akan dibahas mengenai pengertian strategi pembelajaran. Beberapa pendapat mengenai strategi pembelajaran yang dirangkum oleh Uno (2007:1) antara lain:

1. Menurut Kozna, secara umum menjelaskan bahwa strategi

pembelajaran dapat diartikan setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.

2. Menurut Gerlach dan Elly, strategi pembelajaran merupakan cara-cara

yang dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan belajar tertentu.

3. Menurut Dick dan Carey, strategi pembelajaran terdiri dari keseluruhan

komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang atau akan digunakan oleh guru.

4. Grooper mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan

pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu yang sesuai dengan tujuan tertentu.


(39)

Dari berbagai pendapat di atas, Uno menyimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran, sehingga memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya di akhir kegiatan. Pendapat lain mengenai strategi belajar terutama strategi belajar

dalam kelas dikemukakan oleh Singer (2008:1613) “classroom learning that

aims at developing competence and is based on collaboration instead of developing factualknowlegde focused on only validated examples and based on competition in order to establish hierarchies among students.” Dengan demikian strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai pembelajaran dalam kelas yang bertujuan untuk peningkatan kompetensi dan didasarkan pada perpaduan antara pengetahuan umum yang dikhususkan pada materi dan berdasarkan pada kompetisi untuk membangun peringkat antar siswa.

Dari berbagai strategi yang ada, penulis akan lebih memfokuskan pada startegi pembelajaran model kontekstual (CTL). Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu siswa untuk menemukan pengalaman dan ilmu sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajari. Ada berbagai pendapat dari para ahli mengenai arti dari

pendekatan kontekstual ini. Depdiknas dalam Pengembangan Model

Pembelajaran secara Efektif mengungkapkan bahwa pendekatan

kontekstual (Contextual Teaching And Learning) adalah konsep belajar yang


(40)

dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yakni: konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, permodelan, dan penilaian autentik. Sementara pendapat yang lain dingkapkan oleh Mulyasa (http://akhmad sudrajat.Wordpress.com/model

pembelajaran), bahwa pendekatan kontekstual merupakan konsep

pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan kehidupan dunia nyata sehingga peserta didik mampu menerapkan kompetensi belajar dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Sanjaya (2006:253) mengungkapkan hal yang hampir sama dengan 2 (dua) pendapat di atas tentang pendekatan kontekstual yaitu suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk menemukan sendiri materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk menerapkan dalam kehidupan mereka. Peran guru sendiri adalah sebagai

fasilitator, seperti yang diungkapkan oleh Singer (2008:1643) “the teacher

as a facilitator of learning, a coach as well as a partner who helps the student to understand and explain rather than a ‘knowledgeable authorithy ‘ who gives lectrures and imposes standard points view.” Dengan demikian peran guru adalah sebagai fasilitator yang memfasilitasi pembelajaran, seorang pengajar, sekaligus sebagai rekan yang membantu siswa dalam


(41)

memahami dan menjelaskan, bukan sebagai sumber pengetahuan yang memberikan pengajaran dan menentukan sudut pandang.

Sehubungan dengan hal tersebut, terdapat lima karakteristik penting mengenai pendekatan kontekstual.

1. Dalam CTL pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan

yang sudah ada (activity knowledge), artinya apa yang akan dipelajari

tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah ada.

2. Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan

menambah pengetahuan yang baru. Pengetahuan yang baru ini diperoleh dengan cara memepelajari keseluruhan kemudian memperhatikan detailnya.

3. Pemahaman pengetahuan artinya pengetahuan yang diperoleh bukan

untuk dihafalkan tetapi utnuk dipahami dan diyakini.

4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut

5. Melakukan refleksi atas strataegi yang digunakan. Hal ini digunakan

untuk penyempurnaan strategi.

Sementara itu Mulyasa (http//akmadsudrajat.wordpress.

com/2008/0/12/model_pembelajaran) mengungkapkan pendapat yang

senada mengenai elemen yang harus diperhatikan dalam pemebelajaran kontekstual. Elemen tersebut adalah:

1. pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimilki


(42)

2. pembelajaran dimulai dari keseluruhan global menuju bagian-bagian yang secara khusus;

3. pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman dengan cara

menyusun konsep, melakukan sharing dan merevisi, serta

mengembangkan konsep;

4. pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktikkan secara langsung

apa yang sudah dipelajari;

5. adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan

pengetahuan yang dipelajari.

Elemen lain yang perlu diperhatikan adalah peran guru dalam pembelajaran kontekstual. Menurut Mulyasa (http://akhmad sudrajat.Wordpress.com/2008/01/12/model pembelajaran

1. siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang

berkembang. dengan demikian peran guru adalah pembimbing siswa agar mereka bisa belajar sesuai dengan tahap perkembangnya;

), peran guru dalam pendekatan kontekstual ini adalah memberikan kemudahan bagi siswa dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai dan mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar. Selain itu, guru perlu memperhatikan gaya belajar siswa agar nantinya penggunaan strategi bisa tepat sasaran. Menurut Sanjaya (2006:261), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam pendekatan kontektual, antara lain;

2. setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru

dan penuh tantangan, karena belajar bagi mereka adalah memecahkan persoalan yang menantang. peran guru adalah memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa;


(43)

3. belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal-hal yang baru dengan hal-hal yang penuh tantangan. dengan demikian peran guru adalah membantu agar siswa mampu menemukan keterkaitan pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya;

4. belajar bagi anak adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada

atau proses pembentukan skema baru. dengan demikian tugas guru adalah memfasilitasi agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan akomodasi.

Dari berbagai asumsi dan latar belakang tentang CTL, Sanjaya (2006:258) mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru tentang belajar dalam kontek CTL, yaitu:

a. belajar bukanlah menghafal akan tetapi proses rekontruksi pengetahuan

sesuai dengan pengalaman yang sudah ada dalam diri siswa;

b. belajar bukan sekedar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas;

c. belajar adalah proses pemecahan masalah, sebab dengan memecahkan

masalah anak akan berkembang secara utuh yang bukan hanya berkembang secara intelektual akan tetapi melibatkankan emosi dan mental;

d. belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara

bertahap dari yang sederhana menuju yang kompleks;

e. belajar pada hakikatnya adalah mennagkap pengetahuan dari kenyataan.

oleh karena itu pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang memiliki kamna untuk anak.

Sementara itu, Depdiknas (http//pakguruonline.pendidikan.net// pendkonteks)

1. Proses belajar

mengemukakan pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada pemikiran tentang belajar.

a. Belajar tidak hanya sekedar menghafal, siswa harus mengkonstruksi

pengetahuan yang ada di benak mereka sendiri

b. Anak belajar dari mengalami

c. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta yang


(44)

d. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah

2. Transfer belajar

a. Siswa belajar dari mengalami sendiri bukan dari pemberian orang

lain

b. Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang

terbatas

c. Penting bagi siswa untuk tahu manfaat belajar

3. Siswa sebagai pembelajar

a. Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang

tertentu saja

b. Strategi itu penting. Anak akan mempelajari sesuatu yang baru

c. Peran guru adalah menghubungkan antara sesuatu yang baru dengan

pengetahuan yang sudah dimili oleh siswa

d. Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru menjadi bermakna

dan memberi kesempatan kepada siswa untuk menerapkan ide mereka dan menerapkan strategi mereka sendiri

4. Pentingnya lingkungan belajar

a. Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat

pada siswa

b. Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa untuk

menggunakan pengetahuan mereka


(45)

d. Menumbuhkembangkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting

Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. CTL sebagai suatu pendekatan memiliki 7 (tujuh) asas. Asas–asas ini melandasi pelaksanaan proses pembelajaran, 7 (tujuh) asas tersebut adalah sebagai berikut.

1. Kontruktivisme

Kontruktivisme menurut Sanjaya (2006:262) adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksi sendiri pengetahuan di benak mereka. Esensinya adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasi suatu informasi ke situasi lain dan apabila dikehendaki. Dalam pandangan kontruktivisme, strategi memperoleh lebih diutamakan daripada seberapa banyak siswa dapat menampung

informasi. Depdiknas (http//pakguruonline.pendidikan.net//pend

konteks) mengemukakan peran guru dalam rangka melaksanakan tujuan tersebut adalah:


(46)

a. menjadikan pengetahuan menjadi pengetahuan yang bermakna dan relevan bagi siswa;

b. memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan

menerapkan sendiri idenya sendiri dan;

c. menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam

belajar.

Pengetahuan tumbuh berkembang melalui pengalaman. Menurut Pieget dalam Depdiknas (http//pakguruonline.pendidikan.net//pend konteks

2. Menemukan ( inquiry)

) mengemukakan manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya yang harus dikembangkan melalui dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi.

Inkuiri artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistemaits. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu;

a. merumuskan masalah;

b. mengajukan hipotesis;

c. mengumpuklan data;

d. menguji hipotesis;

e. membuat kesimpulan.

Reiff Harwood dan Philipson (Singer:2008,1615) mengemukakan “following elements/processes of inquiry is observing, defining of problems, forming the question, investigating the known, articulating


(47)

the expectation, carrying out the study and community the results to the scientific and to society.” Dengan demikian elemen atau proses dalam inkuiri adalah pengamatan, perumusan masalah, perumusan pertanyaan, penyelidikan hal yang ingin diketahui, menyebutkan tujuan, melaksanakan penelitian, dan menggolongkan hasil ke arah pengetahuan dan kemasyarakatan.

3. Bertanya (questioning)

Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam suatu pembelajaran yang produktif, bertanya akan sangat berguna untuk:

a. menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan

materi pelajaran;

b. membangkitkan motivasi siswa untuk belajar;

c. merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu;

d. memfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan;

e. membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu.

Dalam setiap tahapan dan proses pembelajaran, kegiatan bertanya selalu digunakan. Oleh karena itu, kemampuan guru untuk mengembangkan teknik bretanya sangat diperlukan.


(48)

4. Masyarakat belajar (learning community)

Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil belajar diperoleh dari

kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar

teman ataupun antar kelompok. Dalam kelas CTL, guru disarankan melaksanakan pembelajaran kelompok belajar. Siswa dibagi menjadi kelompok yang anggotanya heterogen agar yang pintar bisa membantu yang kurang pintar, agar mereka lebih bisa menangkap pelajaran yang disampaikan oleh guru. Kegiatan belajar ini bisa terjadi secara optimal apabila tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan bertanya, dan tidak ada yang menganggap salah satu adalah yang lebih tahu. Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang bisa menjadi sumber belajar dan ini berarti setiap orang akan menjadi sangat kaya akan pengetahuan dan pengalaman. Praktik dalam kelas dapat terwujud dalam pembentukan kelompok kecil, kelompok besar, mendatangkan ahli ke dalam kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelompok kelas di atasnya, dan bekerja dengan masyarakat.

5. Permodelan (modeling)

Yang dimaksud asas permodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh siswa. Dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Model juga bisa didatangkan dari luar dan masih banyak lagi permodelan yang bisa dipakai.


(49)

6. Refleksi ( reflection)

Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Menurut Depdiknas, refleksi merupakan respon terhadap kejadian-kejadian, aktivitas dan pengetahuan yang baru. Pengetahuan yang bermakna berasal dari proses. Pengetahuan dimiliki siswa melalui konteks pembelajaran yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit. Kunci dari semua adalah bagaimana pengetahuan itu mengendap di benak siswa, mencatat apa yang sudah dipelajari, dan bagaimana menemukan ide-ide baru. Pada akhir pelajaran guru menyisakan waktu sejenak untuk refleksi, realisasinya berupa:

a. pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperoleh hari itu;

b. catatan atau jurnal di buku siswa;

c. kesan atau saran siswa mengenai pembelajaran hari itu;

d. diskusi;

e. hasil karya.

7. Penilaian autentik (authentic assesment)

Assement adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Apabila data yang diambil menunjukkan bahwa ternyata siswa mendapat kesulitan maka

guru bisa membantu siswa untuk mencari jalan keluar. Assement


(50)

harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Kemudian belajar dinilai dari proses, bukan dari hasil. Penilaian autentik menilai pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa dan penilaian tersebut tidak hanya dari guru saja melainkan bisa dari teman lain atau orang lain. Menurut Depdiknas (http // pakguruonline. Pendidikan. Net // pendidikan kontekstual

a. dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung

), disebutkan karakteristik assement, antara lain:

b. bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif

c. yang diukur adalah keterampilan dan performasi bukan mengingat

fakta

d. berkesinambungan

e. terintegrasi

f. dapat digunakan sebagai feed back

Hal-hal yang digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa, antara lain:

a. proyek/ kegiatan dan laporan

b. pekerjaan rumah (PR)

c. kuis

d. karya tulis

e. penampilan siswa atau presentasi

f. demontrasi


(51)

h. jurnal

i. hasil tes tulis

j. karya lain

Jadi siswa dinilai kemampuannya dengan berbagai cara. Menurut

Bandono (http://bandono.web.id//menyusun_model_pembelajaran

contextual teaching and learning-ctl),

C. Pengelolaan Kelas

penekanan penialian autentik adalah pada pembelajaran yang seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhir periode. Kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh oleh siswa.

Menurut Raka (Sudrajat:http//akmadsudrajat.wordpress.com),

pengelolaan kelas merupakan satu keterampilan yang harus dimiliki guru dalam mengelola kelas. Pengelolaan kelas merupakan hal yang berbeda dari pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar yang di dalamnya mencakup pengaturan orang. Nawawi (1982:116) berpendapat bahwa pengelolaan kelas adalah kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas


(52)

berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berhungan dengan kurikulum dan perkembangan murid. Sejalan dengan pengertian tersebut, Nawawi(1982:127) menjelaskan pengertian kelas dari dua sudut pandang.

1. Kelas dalam arti sempit yakni ruangan yang dibatasi oleh 4 (empat)

dinding, tempat sejumlah murid berkumpul untuk mengikuti proses mengajar.

2. Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan

bagian dari masyarakat sekolah sebagai satu kesatuan, diorganisir menjadi satu unit kerja yang secara dinamis menyelengarakan kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mecapai satu tujuan.

Berbeda dengan Sudirman (1987:310) yang berbendapat bahwa pengelolaan kelas adalah keterampilan bertindak seorang guru berdasarkan sifat-sifat kelas dengan tujuan menciptakan situasi belajar mengajar yang baik. Oemar Hamalik dalam Sudirman (1987:311) mengungkapkan bahwa pengelolaan kelas adalah keterampilan bertindak seorang guru dan suatu alat untuk mengembangkan kerja sama dan dinamika kelas yang stabil walaupun banyak gangguan dan perubahan dalam lingkungan.

Menurut Sudirman (1987:311), pengelolaan kelas bertujuan untuk menciptakan kondisi dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik. Sedangkan tujuan umum dari pengelolaan kelas adalah


(53)

penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Menurut Raka Joni (Sudrajat:http//akmad sudrajat.wordpress.com

1. Masalah individual

), terdapat dua masalah dalam pengelolaan kelas.

a. Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian) b. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukan kekuatan)

c. Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukan balas dendam)

d. Helplessness (peragaan ketidakmampuan)

2. Masalah kelompok

a. Kelas kurang kohesif karena alasan jenis kelamin, suku, tingkatan

sosial, ekonomi, dan lain-lain.

b. Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati

sebelumnya.

c. Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seoarang anggotanya.

d. Membombong anggota kelas yang melanggar peraturan.

e. Kelompok cenderung mudah dialihkan dari tugas yang tengah

dibuat.

f. Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru


(54)

Banyak pendekatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi beberapa masalah di atas. Oleh karena permasalahan dan situasi kelas yang labil, maka guru dituntut untuk menguasai berbagai pendekatan pengelolaan kelas yang cocok untuk semua situasi. Setiap pendekatan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, maka guru dapat mengkombinasikan beberapa pendekatan yang mungkin cocok dan sesuai untuk mengatasi beberapa masalah pengelolaan kelas yang ada. Pendekatan-pendekatan pengelolaan kelas menurut Sudirman (1987:327) tersebut antara lain:

1. Pendekatan otoriter

Pendekatan otoriter melihat pengelolaan kelas semata-mata sebagai upaya untuk menegakkan disiplin dan tata tertib. Pendekatan ini menempatkan guru dalam peranan menciptakan dan memelihara situasi kelas.

2. Pendekatan permisif

Pendekatan ini memusatkan pada usaha untuk memaksimalkan kebebasan siswa. Semua siswa diberi kebebasan untuk melakukan apa saja yang dikehendaki dalam lingkungan.

3. Pendekatan manajerial

Pendekatan ini dilihat dari sudut pandang manajemen yang berintikan konsepsi-konsepsi tentang kepemimpinan. Pandangan ini dapat dibedakan menjadi:

a. Kontrol otoriter: dalam menegakkan disiplin kelas, guru harus


(55)

b. Kebebasan liberal: menurut konsep ini siswa diberi kebebasan sepenuhnya untuk melakukan kegiatan apa saja sesuai dengan tingkat perkembangan.

c. Kebebasan terbimbing: konsep ini merupakan perpaduan antara

kontrol otoriter dan kebebasan liberal. Dalam kebebasan terbimbing, siswa diberi kebebasan untuk melakukan aktivitas namun terbimbing.

4. Pendekatan modifikasi tingkah laku

Pendekatan ini mengemukakan pendapat bahwa semua tingkah laku yang baik atau yang kurang baik merupakan hasil proses belajar. Pendapat lain mengenai pendekatan ini diungkapkan oleh Raka Joni

dalam Sudrajat (http//akhmadsudrajat.wordpress.com

5. Pendekatan iklim sosio emosional

) yang mengungkapkan asumsi mendasar adalah perilaku baik dan buruk individu merupakan hasil belajar. Upaya memodifikasi dengan cara

pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan

negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif).

Pendekatan ini berlandaskan psikologis klinis yang memperkirakan bahwa proses belajar mengajar yang efektif memprasyaratkan keadaan sosio emosional yang baik, dalam arti terdapat hubungan antara guru dan siswa yang baik. Dalam hal ini, Carl Rogers dalam Sudrajat (http//

akhmadsudrajat.wordpress.com) mengemukakan pentingnya sikap


(56)

manusia dan mengerti dari sudut pandang peserta didik. Sementara Nawawi (1982:140) memberikan pendapat yang hampir senada tentang asumsi iklim sosio emosional yaitu asumsi ini mengharuskan guru atau wali kelas menyusun program kelas dan pelaksanaannya didasari hubungan manusiawi yang diwarnai sikap saling menghargai dan saling menghormati antar personal kelas.

6. Pendekatan proses kelompok

Pendekatan proses kelompok ini didasarkan pada psikologis klinis dan dinamika kelompok. Asumsi dasarnya adalah pengalaman belajar sekolah berlangsung dalam konteks kelompok dan sosial, dan tugas guru adalah membina kelompok yang produktif dan efektif. Hal senada

diungkapkan oleh Raka Joni dalam Sudrajat (http//

akhmadsudrajat.wordpress.com

7. Pendekatan eklektif

), bahwa asumsi dasar pendekatan proses kelompok adalah pengalaman belajar yang berlangsung dalam konteks kelompok sosial, dan tugas guru adalah menciptakan, membina, dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif.

Pendekatan ini menggunakan atau mengabungkan pendekatan yang ada (pendekatan sosio emosional dan pendekatan proses kelompok) untuk mengatasi permasalahan pengelolaan kelas. Nawawi (1982:142) mengungkapkan bahwa pendekatan ini menekankan pada potensialitas dan inisiatif wali/guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan yang ada berdasarkan situasi yang ada.


(57)

8. Pendekatan yang berorintasi pada siswa

Lewis (2004:60) mengungkapkan asumsi pendekatan ini adalah kepercayaan bahwa anak-anak perlu mengatasi akibat dari sikapnya sendiri daripada meminta orang dewasa untuk memberitahukan bagaimana harus bersikap. Alasannya adalah bahwa orang termasuk anak-anak mampu memutuskan apakah sikap mereka menimbulkan masalah, apakah masalah sebenarnya, dan bagaimana memecahkannya.

9. Pendekatan yang berorintasi pada guru

Lewis (2004:80) mengungkapkan bahwa pendekatan ini mengubah sikap siswa secara radikal, melakukan apa yang terbaik untuk siswa. Siswa dianggap tidak mampu untuk menyadari apa yang terbaik bagi mereka. Oleh karena itu, guru bertanggung jawab dan berkewajiban untuk memutuskan apa yang terbaik bagi siswanya.

10. Pendekatan intruksional

Adalah pendekatan yang mendasarkan kepada pendirian bahwa pengajaran yang dirancang dan dilaksanakan dengan cermat akan mencegah timbulnya sebagian besar masalah manajerial kelas.

11. Pendekatan intimidasi

Pendekatan ini adalah pendekatan yang memandang manajemen kelas sebagai proses pengendalian perilaku pesrta didik.


(58)

Menurut Gilarso (1988:28), masalah pengelolaan kelas meliputi tiga bidang yang disesuaikan dengan situasi yang dihadapi. Tiga bidang tersebut antara lain: menciptakan kondisi belajar optimal, menanggapi mulainya gangguan, dan mengembalikan kondisi belajar.

1. Menciptakan kondisi belajar yang optimal

Langkah penting yang perlu dilakukan guru adalah memberikan pelajaran dengan baik dan lancar serta melibatkan siswa dalam kegiatan belajar di kelas sehingga mencegah gangguan atau penyelewengan. Tindakan yang dapat dilakukan adalah:

a) sikap tanggap;

b) membagi perhatian;

c) memusatkan perhatian kelompok;

d) memberikan petunjuk yang jelas.

2. Menanggapi mulainya gangguan

Meskipun guru mengajar dengan baik, melibatkan siswa, dan menciptakan suasana belajar yang baik, namun terjadinya tingkah laku siswa mengganggu dalam kelas tidak dapat dicegah. Tindakan yang perlu dilakukan:

a) menegur siswa;

b) memberi tanggapan atau penguatan;

c) menjaga proses belajar mengajar;

d) menjaga laju kecepatan proses belajar mengajar;


(59)

f) keterampilan interaksi dan sikap guru.

3. Mengembalikan kondisi belajar yang optimal bila terjadi gangguan

Seringkali gangguan yang dilakuakn oleh siswa berlangsung terus meskipun sudah ditanggapi oleh guru. Dalam situasi ini perlu digunakan strategi untuk menghadapinya, antara lain:

a) modifikasi tingkah laku siswa;

b) menciptakan iklim sosio emosional;

c) pengelolaan proses kelompok;

d) kombinasi.

Kemampuan guru dalam memilih strategi yang tepat sangat tergantung dari kemampuan untuk menganalisa masalah pengelolaan kelas yang dihadapi dan tajamnya pengamatan tingkah laku siswa.

D. Prestasi Belajar

1. Prestasi belajar

Mulyono (1990:100) mengungkapkan definisi prestasi belajar sebagai penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajarannya, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru. Winkel (1996:102) mengungkapkan bahwa proses belajar yang dialami siswa menghasilkan perubahan dalam pengetahuan/pemahaman. Adanya perubahan tampak dalam prestasi belajar yang dihasilkan oleh siswa terhadap tugas-tugas yang diberikan guru.


(60)

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

Faktor yang mempengaruhi pretasi belajar terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu, sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu. Menurut Mahmud (1990:84), ada 2 (dua) faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah.

a. Faktor internal, antara lain: (1) Need for achivment; (2) takut gagal;

(3) takut sukses; (4) persepsi seseorang mengenai prestasi.

b. Faktor eksternal

Kemampuan dan usaha sangat berpengaruh pada prestasi belajar. Faktor itu mungkin dapat disebakan oleh strategi yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar, pengelolaan kelas, dan media pembelajaran yang digunakan oleh guru.

E. Kerangka Berfikir

1. Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar Ekonomi Siswa

Prestasi belajar siswa diduga dipengaruhi oleh penggunaan media belajar oleh guru. Media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak, pandang, dengar, maupun bentuk 3 (tiga) dimensi. Media pembelajaran ini diharapkan memperjelas materi yang disampaikan oleh guru dan secara tidak langsung memungkinkan interaksi langsung antara peserta dengan guru maupun lingkungan.


(61)

Prestasi belajar sendiri merupakan hasil dari keterampilan yang dikembangkan oleh siswa dalam bentuk nilai ataupun catatan.. Penggunaan media ini secara umum digunakan untuk mempermudah guru dalam penyampaian materi ajar dan mempermudah siswa dalam belajar. Berdasarkan teori yang ada, alat bantu pengajaran dapat membantu guru dalam mengkomunikasikan bahan ajar kepada siswa dan diharapkan penggunaan media pembelajaran dapat membantu siswa dalam meraih prestasi belajar secara optimal. Hasil penelitian Maryono (2007:115) menunjukkan terdapat pengaruh antara positif dan signifikan antara penggunaan media pembelajaran dan prestasi belajar siswa.

2. Pengaruh Penggunaan Strategi Mengajar dengan Pendekatan Kontekstual terhadap Prestasi Belajar Ekonomi Siswa

Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi dengan kehidupan yang sebenarnya. Dalam konteks ini, siswa perlu mengerti apa makna belajar dan manfaatnya untuk mereka. Siswa harus bisa mengerti bahwa pendidikan merupakan aset untuk menjalani kehidupan mereka sehari-hari. Oleh karena itu, siswa diharapkan bisa menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri ilmu yang mereka dapatkan.

Peran guru dalam kelas kontekstual adalah membantu siswa mencapai tujuan. Maksudnya adalah guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Pendekatan konstekstual


(62)

dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran lebih produktif dan bermakna. Dengan demikian penggunaan pendekatan kontekstual ini diduga akan mempermudah siswa untuk mencapai prestasi belajar mereka secara optimal.

3. Pengaruh Pengelolaan Kelas terhadap Prestasi Belajar Ekonomi Siswa

Pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan kondisi dalam kelompok kelas berupa lingkungan kelas yang baik, yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya. Prestasi belajar merupakan hasil dari interaksi siswa dengan materi yang pada akhirnya diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilan siswa. Pengelolaan kelas merupakan upaya untuk mendayagunakan potensi kelas yang ada. Oleh karena itu, kelas mempunyai peranan dan fungsi tertentu dalam menunjang keberhasilan proses belajar mengajar. Adanya pengelolaan kelas yang baik oleh guru diharapkan dapat membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran mendapatkan prestasi belajar secara optimal. Dengan demikian pengelolaan kelas diduga berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Dari penelitian yang dilakukan Tukimin (2002:145) menunjukkan terdapat hubungan antara pengelolaan kelas dengan efektivitas kegiatan belajar mengajar.


(63)

F. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan penelitiaan. Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka dikemukakan hipotesis sebagai berikut.

1. Ada pengaruh penggunaan media belajar terhadap prestasi belajar

ekonomi siswa.

2. Ada pengaruh penggunaan strategi mengajar dengan pendekatan

kontekstual terhadap prestasi belajar ekonomi siswa.

3. Ada pengaruh pengelolan kelas terhadap prestasi belajar ekonomi


(64)

42 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah studi kasus, yaitu penelitian yang dilakukan terhadap obyek pada sekelompok subyek tertentu. Studi kasus merupakan penelitian terperinci mengenai suatu obyek tertentu selama kurun waktu tertentu, termasuk lingkungan dan masa lalu dengan cukup mendalam (Umar, 2005:23). Dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menyelidiki pengaruh penggunaan media pembelajaran, strategi mengajar dengan pendekatan kontekstual, dan pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar ekonomi siswa.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat penelitian dilakukan di SMA Negeri 5 Yogyakarta.

2. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-September 2009.

C. Subyek dan Obyek Penelitian

1. Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 5 Yogyakarta tahun ajaran 2009/2010.


(65)

2. Obyek Penelitian

Obyek penelitian ini adalah pengaruh media pembelajaran, strategi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, pengelolaan kelas, dan prestasi belajar ekonomi siswa.

D. Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006:130). Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 5 Yogyakarta. Jumlah populasi penelitian adalah sebanyak 755 siswa.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006:131). Dalam penelitian ini, sampel yang akan digunakan adalah sebagian siswa SMA Negeri 5 Yogyakarta. Jumlah sampel penelitian adalah 97 siswa yang merupakan siswa kelas XII IPS SMA Negeri 5 Yogyakarta.

3. Teknik penarikan sampel

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling,

yaitu teknik pengambilan sampel dengan memperhatikan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2007:78). Peneliti menetapkan untuk mengambil sampel siswa kelas XII sosial, peneliti memilih sampel kelas XII Sosial karena peneliti menganggap bahwa siswa sudah banyak mengetahui


(66)

karakteristik guru dan ragam media pembelajaran yang pernah digunakan guru untuk mata pelajaran ekonomi. Berdasarkan pertimbangan tersebut peneliti berharap siswa dapat menjawab kuesioner dengan sebenarnya.

E. Variabel Penelitian dan Pengukuran

1. Variabel Penggunaan Media Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar

Siswa

Media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak, pandang, dengar, maupun bentuk 3 (tiga) dimensi yang dibuat dengan tujuan untuk mempermudah siswa dalam menangkap materi yang diberikan oleh guru. Agar media pembelajaran dapat digunakan dengan baik maka ada beberapa prinsip yang digunakan, yaitu: (a). objektivitas; (b). program pengajaran; (c). sasaran program; (d). situasi kondisi; (e). kualitas dan teknik; dan (f). efektif dan efisien. Prinsip tersebut harus dipertimbangkan dalam pemilihan dan penggunaan media secara umum. Penggunaa media ini meliputi 5 (lima) dimensi, yaitu:

a. media yang digunakan sesuai dengan tujuan pembelajaran;

b. media yang digunakan sesuai dengan materi pembelajaran;

c. media pembelajaran sesuai dengan minat, kebutuhan, dan kondisi

siswa;

d. media yang digunakan memperhatikan efektivitas dan efisien; dan


(67)

Berikut ini disajikan tabel operasionalisasi variabel pengaruh penggunaan media pembelajaran.

Tabel 3.1

Operasionalisasi Variabel Pengaruh Penggunan Media Pembelajaran

Dimensi Indikator No. Pernyataan

Positif Negatif Sesuai dengan

tujuan

pembelajaran

1. Memudahkan siswa untuk

menangkap isi pelajaran

2. Mendukung pencapaian

hasil belajar 1 2 Sesuai dengan materi pembelajaran

1. Sesuai dengan materi yang

disampaikan.

2. Dapat mengkondisikan

siswa untuk memperhatikan secara dua

arah

15 16

Sesuai dengan minat, kebutuhan, dan kondisi siswa

1. Bervariasi sesuai dengan

materi ajar

2. Sesuai dengan kebutuhan

siswa

3. Tidak membebani siswa

dalam mengikuti pelajaran

4. Media pembelajaran tidak

membosankan

11 12 13 14

Efektif dan efisien 1. Membutuhkan biaya yang

murah

2. Mudah dibuat oleh siswa.

3. Dapat digunakan untuk

membantu belajar di rumah

4. Pemasangan tidak rumit

5. Dapat dipakai di setiap

tempat 3 4 5 6 7 Mudah dioperasikan

1. Dapat digunakan oleh

semua guru

2. Tidak mudah rusak pada

saat dipakai

3. secara teknis mudah

dioperasikan

8 9 10


(68)

2. Variabel Strategi Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual

Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai masyarakat. Secara umum terdapat pilar dalam pembelajaran kontekstual

ini, pilar tersebut antara lain: (a). kontruktivisme; (b). inquiry; (c).

bertanya; (d). masyarakat belajar; (e). permodelan; (f). reflection; dan

(g). penilaian autentik. Dari pilar tersebut terdapat lima dimensi yang akan diperhatikan dalam proses pembelajaran kontekstual, sebagai berikut:

1. pengaktifan pengetahuan yang sudah ada;

2. pemerolehan pengetahuan baru;

3. pemahaman pengetahuan;

4. mempraktekan pengetahuan;

5. melakukan refleksi.

Berikut ini disajikan tabel operasionalisasi variabel pengaruh penggunaan pendekatan kontekstual.


(69)

Tabel 3.2

Operasionalisasi Variabel Pengaruh Penggunaan Pendekatan Kontekstual

Dimensi Indikator

No. Pernyataan Positif Negatif Pengaktifan

pengetahuan yang sudah ada

1. Menghargai pengetahuan

yang sudah ada

2. Mengaitkan antara materi

lama dengan pengetahuan baru

3. Pemahaman rumus atau

skema berdasarkan konsepsi pengetahuan lama 17 18 19 Pemerolehan pengetahuan baru

1. Penggunaan bahasa yang

baru atau yang mudah dipahami siswa.

2. Memberikan pengalaman

langsung untuk memperoleh pengetahuan yang baru.

3. Menggunakan

simulasi/permainan untuk mempermudah pemahaman pengetahuan baru

4. Pengetahuan dikembangkan

sendiri oleh siswa

20 21 22 23 Pemahaman pengetahuan

1. bertanya kepada guru atau

teman jika belum memahami pengetahuan yang ada.

2. Pengetahuan yang didapat

terus dikembangkan oleh siswa.

25 26

Mempraktikkan pengetahuan

1. Pengetahuan digunakan

untuk membantu masyarakat

2. Pengetahuan dikembangkan

dengan cara mempraktikkan langsung

27 24

Melakukan refleksi

1. Penghargaan terhadap

pengalaman siswa

2. Hasil belajar diukur dengan

berbagai cara, proses kerja

30


(70)

dan hasil karya

3. Melakukan refleksi atas

pembelajaran yang baru dilewati

4. Saling mengkoreksi

kekurangan yang terjadi

selama proses berlangsung

31

28

3. Variabel Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas adalah kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien dan efektif. Guru yang mampu mengelola kelas adalah guru yang mampu menciptakan, memelihara, dan mengembalikan kondisi kelas apabila ada gangguan dalam proses belajar mengajar. Suasana yang nyaman dan menyenangkan akan tercipta apabila pengelolaan kelas dapat berjalan dengan baik, sedangkan pengelolaan kelas yang baik akan menambah semangat, motivasi, dan akhirnya diharapkan akan mempengaruhi prestasi belajar siswa.

Berikut adalah dimensi dalam pengelolaan kelas :

1. menciptakan iklim kelas yang baik;

2. menanggapi permulaan gangguan untuk mempertahankan

keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar; dan


(71)

Berikut ini akan disajikan tabel variabel operasional pengaruh pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar ekonomi siswa.

Tabel 3.3

Operasionalisasi Variabel Pengaruh Pengelolaan Kelas

Dimensi Indikator No. Pernyataan

Positif Negatif Menciptakan

iklim kelas yang baik

1. Sikap tanggap

2. Memusatkan perhatian

kelompok/ kelas

3. Memberi petunjuk yang jelas

4. Menghindari kesalahan

dalam mengatur kelancaran proses belajar mengajar dalam kelas

5. Menghindari kesalahan

dalam mengatur kecepatan proses belajar mengajar dalam kelas 32 33,34 36 38 37,35 Menanggapi permulaan gangguan untuk mempertahankan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar

1. Menegur siswa

2. Memberi bombongan

3. Menghindari

kesalahan-kesalahan lain

4. Fokus terhadap Materi yang

diajarkan 43 45 48,41 42 Mengembalikan kondisi kelas dalam kondisi yang baik

1. Modifikasi tingkah laku

2. Pengelolaan proses

kelompok

3. Kombinasi-kombinasi proses

lainnya

44,39 47,40 46

Pengukuran variabel pengaruh penggunaan media pembelajaran, penggunaan strategi belajar dengan pendekatan kontekstual, dan pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar siswa didasarkan pada indikator-indikatornya. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala Likert. Skala Likert skala yang digunakan untuk mengukur sikap,


(72)

pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial. Berikut ini disajikan tabel skoring berdasarkan skala likert yang digunakan dalam penelitian ini.

Tabel 3.4

Skoring Berdasarkan Likert

Kriteria Jawaban Skor

Pernyataan Positif Pernyataan Negatif

Sangat sering 5 1

Sering 4 2

Netral 3 3

Kadang-kadang 2 4

Tidak pernah 1 5

4. Variabel Prestasi Belajar

Diukur atau didekati berdasarkan nilai rapor semester genap tahun ajaran 2008/2009.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data serta keterangan yang diperlukan adalah kuesioner. Kuesioner adalah teknik pengumpulan data dengan menggunakan sejumlah daftar pertanyaan maupun pernyataan yang disusun secara tertulis berkaitan dengan penelitian yang dilakukan (Sugiyono.2007:135). Kuesioner ini melibatkan responden yang sebenarnya. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data mengenai pengaruh penggunaan media pembelajaran, penggunaan strategi


(1)

153

atau baris-baris dalam tabel kontijensi sehinga perhitungan di atas menjadi sebagai berikut:

a. prestasi belajar siswa : sangat tinggi =0% b. prestasi belajar siswa : tinggi =0% c. prestasi belajar Sedang =0%

d. prestasi belajar siswa : rendah =

e. prestasi belajar siswa : sangat rendah =

Perhitungan masing-masing fh terlihat seperti di bawah ini a. Prestasi belajar siswa: Rendah

1) fh penggunaan pengelolaan kelas sangat setuju = 32.98% x 0 = 0 2) fh pengunaan pengelolaan kelas setuju =32.98%x64=21.11 3) fh penggunaan pengelolaan kelas ragu-ragu =32.98%x 30= 9.89 4) fh penggunaan pengelolaan kelas tidak setuju =32.98% x 0 =0 5) fh penggunaan pengelolaan kelas sangat tidak setuju =32.98% x 0=0

Jumlah 31

b. Prestasi belajar siswa: Sangat rendah

1) fh penggunaan pengelolaan kelas sangat setuju = 67.02% x 0 = 0 2) fh pengunaan pengelolaan kelas setuju =67.02% x 64=42.893 3) fh penggunaan pengelolaan kelas ragu-ragu =67.02%x30=20.106 4) fh penggunaan pengelolaan kelas tidak setuju =67.02% x 0=0 5) fh penggunaan pengelolaan kelas sangat tidak setuju =67.02% x 0=0

Jumlah 62.999


(2)

154

Sangat

Setuju Setuju Ragu-ragu

Tidak Setuju

Sangat Tidak

Setuju Jumlah fo fh fo fh fo fh fo fh fo fh

Sangat

Tinggi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Tinggi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Sedang 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Rendah 0 0 20 21.11 11 9.89 0 0 0 0 31

Sangat

Rendah 0 0 44 42.89 19 20.11 0 0 0 0 63

Jumlah 0 64 30 0 0 94


(3)

(4)

(5)

(6)