Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara

7 KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa :
1. Hasil evaluasi program minapolitan di Kabupaten Gorontalo Utara bahwa
Kabupaten Gorontalo Utara belum layak dijadikan sebagai daerah
minapolitan perikanan tangkap,
2. Sumberdaya ikan yang berpotensi dan memiliki peluang pemanfaatan untuk
pengembangan perikanan tangkap meliputi ikan kuwe, ikan tembang, ikan
kembung, ikan teri dan ikan tuna,
3. Semua unit penangkapan yang dominan di Kabupaten Gorontalo Utara layak
berdasarkan analisis finansial yaitu unit penangkapan purse seine, pancing
tuna, bagan perahu, gillnet, payang, bubu, pancing ulur, dan sero,
4. Faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan perikanan tangkap adalah
aspek ekonomi yang terdiri dari pasar, kemitraan, dukungan modal dan
kestabilan harga,
5. Rancangan model pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo
Utara meliputi jenis ikan yang berpeluang untuk dikelola, dukungan unit
penangkapan ikan yang layak dikembangkan, dan selanjutnya memberikan
solusi terhadap faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan serta aspek
penunjang dalam pengembangan perikanan tangkap.

7.2 Saran
Dalam menentukan suatu kebijakan perikanan khususnya perikanan
tangkap, sebaiknya pemerintah terlebih dahulu mengkaji potensi sumberdaya
ikan, kelayakan usaha, serta faktor yang akan menunjang keberhasilan suatu
kebijakan perikanan.

Hasil kegiatan tersebut dijadikan sebagai dasar ilmiah

(scientific justification) dalam menentukan kebijakan perikanan tangkap yang
akan diambil.

ABSTRACT
ALFISAHRI R. BARUADI. Development of Fisheries Capture in North
Gorontalo District; Under Supervison by: DOMU SIMBOLON, ARI
PURBAYANTO, and ROZA YUSFIANDAYANI.
The potency of capture fisheries in the North Gorontalo itself has not been known
so far, especially for dominant species that caught from the waters of North
Gorontalo. Nevertheless, an understanding of fish resource potency is important
to optimize the management of the resource by fishers, private sector as well as
government. Fisheries management in the North Gorontalo District is still
conducted by government through fisheries development policies, however the
output sometimes has not been matched with the government expectation. The
fisheries development policies were implemented by several programs for
example fishing technology development of purse seine that managed by fishers
group, and grant of outboard fishing boat, whereas these programs were failed.
Now, the fisheries development policy that still continued done by the
government is the policy of capture fisheries minapolitan.Some constrains in
fisheries development require the attention of government and stakeholders in
carefully formulating and assigning each policy in accordance with the expected
goal and supporting factors for the successfull of the policy. Therefore, it needs
on the assessment of capture fisheries development that becomes one of the
reference for fisheries development policies. The methods used were first, to
analysis appropriatness of the capture fisheries minapolitan policy based on the
guideline of minapolitan which was published by the Ministry of Marine Affairs
and Fisheries; second, to analysis fish resource potency through surplus
production model; third, financial analysis for fishing units that feasible to be
developed; fourth, structural equation model (SEM) analysis for determining the
influence factors toward capture fisheries development; and fifth, to design the
capture fisheries development model. The result showed that North Gorontalo
District was not feasible to become a center of minapolitan capture fisheries
program. The potencial fish resources that could be developed consist of trevally,
sardine, mackerel, anchovies, tuna, and frigate mackerel. Fishing units that
feasible to be developed were purse seine, longline, boat liftnet, gillnet, boat
seine, basket trap, hand line, and guiding barrier trap. Factors affected to the
capture fisheries development were the economic aspect that consist of market,
partnership, capital support, and fish price.Based on the analysis of fish resources
that could be potencially developed, the feasible fishing units, and the factors
influenced to the capture fisheries development, therefore the design model of
capture fisheries development in the North Gorontalo District was created.
Keywords:

development, capture fisheries, fish resource, fishing unit, North
Gorontalo.

1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sumberdaya perikanan di Kabupaten Gorontalo Utara meliputi perikanan
tangkap dan perikanan budidaya. Salah satu potensi sumberdaya perikanan yang
belum banyak dimanfaatkan adalah sumberdaya perikanan tangkap. Kabupaten
Gorontalo Utara yang termasuk pada wilayah pengelolaan perikanan (WPP) Laut
Sulawesi sampai Samudera Pasifik diperkirakan mempunyai potensi perikanan
tangkap sebesar 590.970 ton yang terdiri dari ikan pelagis besar 175.260 ton, ikan
pelagis kecil 384.750 ton, dan jenis ikan lainnya sebesar 30.960 ton. Diukur dari
tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan, diperkirakan baru mencapai 46 % (Dinas
Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gorontalo Utara, 2010).
Potensi perikanan tangkap di perairan Kabupaten Gorontalo Utara saat ini,
belum diketahui berapa besar potensi per jenis ikan, terutama untuk jenis ikan
yang dominan tertangkap di perairan tersebut. Pentingnya mengetahui potensi
sumberdaya ikan adalah untuk mengoptimalkan pengelolaan terhadap sumberdaya
ikan oleh nelayan, swasta dan pemerintah.
Pengelolaan sumberdaya ikan di Kabupaten Gorontalo Utara masih terus
dilakukan oleh pemerintah melalui berbagai kebijakan pengembangan perikanan.
Namun, kebijakan perikanan yang dilakukan oleh pemerintah belum sesuai
dengan yang diharapkan. Kebijakan tersebut diantaranya adalah pengembangan
teknologi alat tangkap purse seine yang dikelola secara kelompok dan bantuan
perahu bermesin yang mengalami kegagalan.
Kebijakan pengembangan perikanan memang didesain untuk lebih
mendongkrak pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan untuk mengelola dan
mengoptimalkan sumberdaya ikan di wilayah tersebut. Kebijakan pengelolaan
sumberdaya kelautan dan perikanan oleh pemerintah diantaranya melalui
kebijakan minapolitan yang merupakan pengembangan perikanan.
Kebijakan minapolitan merupakan suatu kebijakan Pemerintah Pusat yang
bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dalam bidang perikanan. Kebijakan
minapolitan atau kota perikanan, merupakan kawasan terpilih yang dijadikan
kawasan bisnis perikanan. Untuk itu, pemerintah bersama para pemangku

2

kepentingan dituntut untuk dapat menciptakan iklim usaha yang lebih baik dalam
menunjang suatu program pengembangan perikanan.
Sasaran kebijakan pengembangan perikanan tersebut adalah untuk
meningkatkan produksi ikan dan menjamin mutu hasil tangkapan ikan serta
menciptakan pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Upaya yang dilakukan
meliputi

penataan

kawasan

yang

berfungsi

melayani

dan

mendorong

pengembangan kawasan perikanan, termasuk daerah sekitarnya atau disebut
program berbasis kawasan.
Kawasan minapolitan menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu
(1) perikanan merupakan sumber pendapatan utama masyarakat, (2) kegiatan
kawasan didominasi oleh kegiatan perikanan, (3) hubungan interdependensi atau
timbal balik antar pusat dan hinterland-hinterland, dan (4) kehidupan masyarakat
di kawasan minapolitan mirip dengan suasana kota, karena keadaan sarana yang
ada di kawasan minapolitan tidak jauh dengan yang di kota.
Kota perikanan atau minapolitan yang dijadikan sebagai konsep yang
dikembangkan adalah dengan mewujudkan kemandirian pembangunan di daerah
pesisir yang didasarkan pada potensi perikanan di wilayah tersebut.

Daerah

pesisir atau daerah nelayan akan diubah menjadi kawasan industri, yaitu kawasan
industri berbasis perikanan.

Penyediaan infrastruktur diperlukan untuk

menunjang keperluan aktivitas perikanan dan masyarakat di wilayah tersebut.
Dengan demikian, desa nelayan atau wilayah pesisir tidak lagi dipandang hanya
sebagai wilayah pendukung perkotaan.
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan untuk mengkaji kebijakan
perngembangan berbasis kawasan melalui kebijakan minapolitan, diantaranya
yang dilakukan oleh Maringi (2009) mengatakan bahwa faktor yang berpengaruh
terhadap pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Boyolali Provinsi
Jawa Tengah yaitu faktor teknologi, permintaan pasar, sumberdaya manusia dan
standardisasi mutu produk atau jaminan mutu hasil perikanan.

Selanjutnya

dikatakan, bahwa dalam pengembangan perikanan perlu menetapkan standar mutu
hasil perikanan, meningkatkan pemahaman, kepedulian, dan tanggungjawab dari
stakeholder serta segera membuat peraturan-peraturan yang berkaitan dengan

3

minapolitan dan untuk meningkatkan efesiensi dan efektivitas di kawasan
minapolitan, serta hendaknya terdapat kegiatan yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
Menurut Setiawan (2010) bahwa status keberlanjutan kawasan minapolitan
di Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan termasuk dalam kategori kawasan
yang kurang berkelanjutan. Hanya ada satu dimensi yang sudah berkelanjutan
yaitu dimensi hukum dan kelembagaan. Status yang kurang berkelanjutan yaitu :
dimensi ekologi, infrastruktur, teknologi, sosial budaya, dan dimensi ekonomi
yang belum begitu optimal dalam menunjang keberlanjutan kawasan minapolitan.
Adanya kebijakan pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten
Mandeh Provinsi Sumatra Barat dengan menetapkan komoditas perikanan sebagai
komoditas unggulan perlu ditinjau kembali, dan bila dikembangkan menjadi
kawasan minapolitan, perlu dukungan kesesuaian lahan yang didukung oleh
RTRW. Untuk masa yang akan datang, kebijakan minapolitan perlu diarahkan
pada produk yang terbukti memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan
kompetitif (Tar, 2010).
Cara pandang pengelolaan perikanan tangkap seperti di atas merupakan
pengelolaan berbasis pemerintah pusat (government based management), dimana
dalam pengelolaan, pemerintah bertindak sebagai pelaksana mulai dari
perencanaan, pelaksanaan sampai pengawasan. Menyikapi kegagalan kebijakan
pengelolaan perikanan, pemerintah perlu melakukan perbaikan-perbaikan untuk
mencapai keberhasilan suatu kebijakan perikanan.
Menurut Suseno (2004), bahwa kebijakan pengelolaan perikanan tangkap
dengan paradigma rasional selama ini dirasakan tidak efektif. Tidak efektifnya
sebuah kebijakan di daerah biasanya karena tidak didukung sepenuhnya oleh
pemerintah daerah setempat dan sarana dan prasarana yang masih minim dalam
menunjang kebijakan pemerintah pusat. Selain itu, kurangnya koordinasi lintas
sektoral baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, kurangnya sosialisasi
program baik oleh pemerintah pusat maupun daerah, dan timpang-tindihnya
kebijakan antara satu kebijakanan dengan kebijakan lain yang tidak mendukung.
Kebijakan

pengembangan

perikanan

tangkap

melalui

kebijakan

minapolitan di Kabupaten Gorontalo Utara dilaksanakan sejak tahun 2010 dan
masih terus dilaksanakan untuk tahun berikutnya yang merupakan program

4

Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Pemerintah Daerah. Dengan
berbagai kendala dalam pengembangan perikanan, mengharuskan pemerintah dan
stakeholder untuk cermat dalam merumuskan dan menetapkan setiap kebijakan
sesuai dengan tujuan yang diharapkan serta faktor-faktor yang mendukung
tercapainya suatu kebijakan pengembangan perikanan tangkap. Untuk itu,
perlunya suatu kajian pengembangan perikanan tangkap yang menjadi salah satu
acuan kebijakan pengembangan perikanan, khususnya perikanan tangkap di
Kabupaten Gorontalo Utara.
1.2 Perumusan Masalah
Pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara saat ini,
sedang dilakukan oleh Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Daerah dengan
menetapkan Kabupaten Gorontalo Utara sebagai salah satu pilot project kebijakan
minapolitan perikanan tangkap di Indonesia. Harapan pemerintah melalui
kebijakan minapolitan adalah dapat meningkatkan produksi hasil tangkapan,
menjamin mutu hasil tangkapan dan menciptakan pertumbuhan ekonomi di daerah
tersebut.
Belum diketahuinya berapa besar potensi sumberdaya ikan dan unit
penangkapan ikan yang layak serta kegagalan kebijakan pengembangan perikanan
melalui kebijakan minapolitan menjadi kendala dalam pengembangan perikanan
tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara.
Menyikapi berbagai tantangan kebijakan pengembangan perikanan
tangkap, maka diperlukan komitmen yang kuat dan kerjasama antara pemerintah
dan pihak swasta serta nelayan dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Untuk
itu, diperlukan terobosan konsep yang dapat mendorong tercapainya kebijakan
pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara.
Untuk mengatasi hal tersebut di atas, maka diperlukan penelitian
pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara, yang akan
menjawab sejumlah pertanyaan, sebagai berikut :
1) Bagaimana implementasi kebijakan program minapolitan di Kabupaten
Gorontalo Utara,
2) Berapa besar potensi sumberdaya ikan dan peluang pemanfatanya dalam
pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara,

5

3) Unit penangkapan ikan apa yang dominan dan layak dikembangkan dalam
pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara,,
4) Faktor-faktor apa yang berpengaruh terhadap pengembangan perikanan
tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara,
5) Bagaimana rancangan model pengembangan perikanan tangkap di
Kabupaten Gorontalo Utara.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Mengevaluasi implementasi program minapolitan perikanan tangkap
Kabupaten Gorontalo Utara,
2) Menentukan potensi sumberdaya ikan dan peluang pemanfaatan untuk
pengembangan perikanan di perairan Kabupaten Gorontalo Utara,
3) Menentukan tingkat kelayakan unit penangkapan ikan yang dominan di
perairan Kabupaten Gorontalo Utara,
4) Menentukan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan
perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara,
5) Menyusun rancangan model pengembangan perikanan tangkap di
Kabupaten Gorontalo Utara.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut :
1) Manfaat bagi pemerintah, dapat dijadikan rekomendasi bagi perbaikan
kebijakan perikanan tangkap khususnya yang berkaitan dengan kebijakan
minapolitan,
2) Manfaat bagi masyarakat, memberikan kontribusi pemikiran secara ilmiah
bagi masyarakat yang akan menginvestasikan modalnya dalam perikanan
tangkap,
3) Manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan, sebagai bahan referensi

dan pengkajian lebih lanjut tentang kebijakan perikanan khsusnya program
minapolitan.

6

1.5 Kerangka Pemikiran
Berkaitan dengan kegiatan pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap
saat ini, pemerintah berperan dalam perencanaan, pelaksanaan, operasional serta
pembinaan dan pengawasan sumberdaya perikanan tangkap. Peran tersebut berupa
kebijakan pengembangan perikanan tangkap melalui kebijakan minapolitan yang
menjadikan Kabupaten Gorontalo Utara sebagai pilot project oleh Kementerian
Kelautan dan Perikanan.
Belum diketahuinya potensi sumberdaya ikan di perairan Kabupaten
Gorontalo Utara dan kegagalan kebijakan pengembangan perikanan tangkap
dibeberapa daerah menjadi pertimbangan dalam pengembangan perikanan
tangkap. Selain itu, diduga ada faktor-faktor yang berpengaruh, sehingga
pengembangan perikanan tangkap belum optimal.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka diperlukan adanya penelitian
yang akan memberikan informasi tentang potensi sumberdaya ikan, kelayakan
unit

penangkapan

ikan

dan

faktor-faktor

penyebab

belum

optimalnya

pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara. Setelah itu, di
desain rancangan model pengembangan perikanan tangkap yang akan menjadi
bahan acuan dalam penentuan kebijakan pengembangan perikanan tangkap.

7

KEGAGALAN
MINAPOLITAN

RENDAHNYA MUTU
HASIL TANGKAPAN

RENDAHNYA
PRODUKSI

ASPEK EKONOMI
UNIT PENANGKAPAN
IKAN

ASPEK
PENGEMBANGAN
PERIKANAN
TANGKAP

MSY
SCHAEFER

NVP
NET B/C
IRR

SEM

KELAYAKAN
SUMBERDAYA IKAN

KELAYAKAN
INVESTASI

KELAYAKAN
PENGEMBANGAN
PERIKANAN TANGKAP

SUMBERDAYA IKAN

PENGEMBANGAN
PERIKANAN TANGKAP

Keterangan:
INPUT

PROSES

OUTPUT

Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian

2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Model Pengembangan Perikanan Tangkap
Model merupakan terjemahan bebas dari istilah modelling. Secara umum
model didefinisikan sebagai suatu perwakilan atau abstraksi dari sebuah obyek
atau situasi aktual. Model memperlihatkan hubungan-hubungan langsung maupun
tidak langsung serta kaitan timbal balik dalam istilah sebab akibat, oleh karena itu
model dapat dikatakan lengkap apabila dapat mewakili berbagai aspek dari
realitas yang sedang dikaji. Salah satu dasar utama untuk mengembangkan model
adalah guna menemukan peubah-peubah apa yang penting dan tepat. Model juga
diartikan suatu teknik untuk membantu konseptualisasi dan pengukuran dari suatu
yang kompleks, atau untuk memprediksi konsekuensi (response) dari sistem
terhadap tindakan (intervensi) manusia.
manajemen dan alat ilmiah.

Model dapat berfungsi sebagai alat

Umumnya model digunakan sebagai alat untuk

mengambil keputusan tentang bagaimana pengolahan sumberdaya alam yang
terbaik. Penggunaan model dalam penelitian umum merupakan cara pemecahan
masalah yang bersifat umum (Eriyatno, 2003).
Model perikanan tangkap dapat diwujudkan melalui pengelolaan
sumberdaya yang terintegrasi. Artinya mengintegrasikan semua kepentingan dari
pelaku sistem perikanan. Pengelolaan dilakukan secara terpadu untuk seluruh
lingkup perairan, tidak dilakukan secara spasial per provinsi atau kabupaten.
Model perikanan juga harus didukung oleh kebijakan pemerintah dan dukungan
sarana dan prasarana penunjang usaha perikanan tangkap, khususnya kebijakan
pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap, perizinan, penciptaan iklim berusaha
yang kondusif, kebijakan standar mutu produk, kebijakan ekspor dan kebijakan
terhadap lingkungan (Haluan et al, 2007).
Pengembangan perikanan merupakan suatu proses atau kegiatan manusia
untuk

meningkatkan

produksi

dalam

bidang

perikanan

dan

sekaligus

meningkatkan pendapatan nelayan melalui penerapan teknologi yang lebih baik.
Apabila pengembangan perikanan di wilayah perairan ditekankan pada perluasan
kesempatan kerja, maka teknologi yang perlu dikembangkan adalah jenis unit
penangkapan ikan yang relatif dapat menyerap tenaga kerja banyak, dengan

10

pendapatan nelayan yang memadai. Pengembangan perikanan dibutuhkan untuk
penyediaan protein bagi masyarakat Indonesia, maka dipilih unit penangkapan
ikan yang memiliki produktivitas unit dan produktivitas nelayan yang tinggi,
namun masih dapat dipertanggungjawabkan secara biologis dan ekonomis
(Monintja, 2000).
Pengembangan perikanan tangkap selama ini berjalan lambat. Hal ini,
disebabkan oleh kompleksnya permasalahan yang dihadapi, menyangkut faktorfaktor

teknis,

sosial,

ekonomi

dan

lingkungan.

Penyebab

lambatnya

pengembangan usaha perikanan tangkap saat ini adalah posisi tawar yang lemah,
kurangnya modal usaha, tingkat pengetahuan dan ketrampilan yang rendah dan
kurangnya pembinaan dari instansi terkait. Oleh karena itu dalam perencanaan dan
pengembangannya perlu dilakukan suatu pendekatan komprehensif yang dilandasi
oleh teknologi yang tepat guna dan tepat waktu sehingga hasilnya benar-benar
berdaya guna, terutama bagi nelayan di wilayah masyarakat pantai. Untuk itu,
teknologi yang akan dipakai haruslah yang dapat dipertanggungjawabkan, baik
dari segi teknis (mencakup aspek sumberdaya), ekonomi, sosiologi, kelembagaan
dan lingkungan (Yahya, 2007). Selanjutnya dikatakan bahwa pengembangan
perikanan harus diubah menjadi suatu usaha perikanan tangkap yang dikelola
dengan cara-cara maju, tetapi tetap melibatkan masyarakat. Oleh karena itu,
diperlukan suatu desain sistem untuk menghasilkan usaha yang efisien dengan
penerapan teknologi yang sesuai. Untuk perencanaan dan pengembangannya
diperlukan intervensi kekuatan dari luar antara lain untuk melakukan reformasi
modal, menciptakan pasar, sistem kelembagaan dan input teknologi.
Sektor perikanan juga akan dihadapkan pada berbagai hambatan seperti
ditolaknya produk ekspor hasil perikanan oleh beberapa negara tujuan ekspor
seperti Eropa dan Amerika, sebagai akibat mutu produk tidak terjamin dan
memenuhi persyaratan, karena diduga tercemar logam berat. Posisi penawaran
harga produk yang lemah karena harga ditentukan oleh negara tujuan ekspor yaitu
Jepang dan Amerika, Uni Eropa dan Korea. Untuk mengantisipasi gejala ini,
pengembangan perikanan harus melalui pengembangan agroindustri, karena
agroindustri khususnya industri perikanan membutuhkan ketersediaan bahan baku
berkembang tanpa dukungan kegiatan perikanan yang menghasilkan bahan baku

11

primer (ikan). Untuk penyediaan bahan baku primer harus didukung oleh sarana
(alat tangkap dan kapal) maupun infrastruktur berupa pelabuhan perikanan yang
dilakukan secara bersamaan dan harmonis serta sesuai dengan persyaratan dunia
tentang produk hasil perikanan (Wahyuni, 2002).
Charles (2001) mengemukakan sistem perikanan terdiri dari tiga
komponen, yaitu sistem alam (natural system), sistem manusia (human system)
dan sistem pengelolaan perikanan (fishery management system). Sistem alam
terdiri dari 3 subsistem, yaitu ikan (fish), ekosistem biota (ecosystem) dan
lingkungan biofisik (biophysical environment). Sistem manusia terdiri dari 4
subsistem yaitu nelayan (fishers), bidang pasca panen dan konsumen (post harvest
sector and consumers), rumah tangga dan komunitas masyarakat perikanan
(fishing households and communities) dan lingkungan sosial ekonomi budaya
(social economic/cultural environment). Sistem manajemen dikelompokkan
menjadi 4 subsistem, yaitu perencanaan dan kebijakan perikanan (fishery policy
and planning), manajemen perikanan (fishery management), pembangunan
perikanan (fishery development) dan riset perikanan (fishery research).
Pengembangan wilayah di daerah pesisir, khususnya pengembangan
sumberdaya perikanan menuntut sumberdaya di daerah tersebut

dapat

berkesinambungan. Salah satu cara adalah membuat wilayah tertentu menjadi
wilayah terlindung (marine protected areas) yang merupakan bentuk program
untuk melindungi keberagaman dan mengelola habitat laut yang sensitif dan juga
untuk melindungi spesies yang mengalami tekanan pemanfaatan berlebih atau
spesies yang hampir punah (Cho, 2005).
Salah satu konsep ruang dalam pengembangan pemanfaatan sumberdaya
perikanan, yaitu melibatkan nelayan, meningkatkan kesadaran akan adanya
pengembangan pemanfaatan sumberdaya perikanan dan menampung aspirasi yang
diaspirasikan oleh semua stakeholder dalam pengembangan sumberdaya
perikanan di wilayah pesisir (Storrier dan McGlashan, 2006).
Pengelolaan sumberdaya perikanan, haruslah dikelola secara terpadu,
karena dalam proses pengaturan, para stakeholder yang umumnya anggota
kelompok nelayan memiliki kekuatan dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam
perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan sumberdaya perikanan di daerahnya.

12

Saat ini, sudah banyak kelompok masyarakat nelayan yang sadar akan pentingnya
keterlibatan mereka dalam merumuskan atau merencanakan kegiatan-kegiatan
perikanan di wilayahnya (Kaplan dan Powell, 2000).
Umumnya masyarakat nelayan membutuhkan koordinasi lebih lanjut
dengan pemerintah dalam pembentukan peraturan yang mengatur tentang
bagaimana

sebaiknya

memanfaatkan

sumberdaya

perikanan

yang

berkesinambungan. Pengelolaan sumberdaya perikanan, hendaknya dimengerti
sebagai proses dinamis dan interaktif yang mengalami dinamika dan perubahan
secara terus menerus.

Untuk itu, dukungan pemerintah untuk mengelola

sumberdaya perikanan yang efesien dan berkesinambungan sangat dibutuhkan
saat ini (Hauck dan Sowman, 2001).
Kebijakan pengembangan sumberdaya perikanan diharapkan tidak terjadi
tumpang tindih program dalam pengelolaan. Ada beberapa cara pengembangan
perikanan, diantaranya memperbaiki kerangka legislatif yang berpengaruh pada
sektor perikanan. Penguatan departemen perikanan berupa kolaborasi yang lebih
baik dengan departemen lain, memecahkan masalah pendanaan, meningkatkan
penelitian perikanan, serta pengembangan sumberdaya manusia dibidang
perikanan (Thorpe, 2009).
Menurut Putro (2002) bahwa perlunya strategi dalam mengatasi tantangan
dan menghadapi berbagai hambatan dalam pengembangan perikanan tangkap
antara lain menyusun strategi kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah seperti :
1) Membangun prasarana berupa pelabuhan perikanan samudera yang tidak
lain adalah untuk memberi pelayanan dalam pengembangan industri
perikanan,
2) Menghilangkan birokrasi yang dapat menghambat kinerja industri,
3) Mengembangkan dan mendorong organisasi nelayan agar nelayan
tradisional mampu meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan
usahanya guna memanfaatkan sumberdaya perikanan guna mensuplai
kebutuhan bahan baku industri,
4) Menyediakan modal investasi dan modal kerja kepada industri perikanan
agar mampu meningkatkan kualitas produk dengan harga yang kompetitif
untuk memenangkan persaingan pasar.

13

Salah satu komponen pokok yang sensitif dan selalu menjadi ciri khas
pada pengembangan perikanan tangkap skala kecil dan menengah adalah
permasalahan permodalan. Permasalahan modal bukan disebabkan oleh tidak
adanya lembaga keuangan dan kurangnya uang beredar, namun disebabkan
sebagian besar lembaga keuangan di Indonesia kurang berminat pada kegiatan
usaha perikanan, karena dianggap beresiko tinggi (high risk) mengingat hasil
tangkapan nelayan tidak pasti. Sedangkan dalam menyalurkan dana pinjamannya,
lembaga keuangan pada umumnya menetapkan syarat agunan (collateral) yang
sulit untuk dapat dipenuhi oleh para pelaku usaha penangkapan ikan skala kecil.
Modal merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam
pengembangan perikanan tangkap. Hanya saja pemodal atau lembaga keuangan
selalu mempertimbangkan risiko yang melekat pada usaha perikanan tangkap
antara lain: (1) production risk, yaitu meliputi risiko atas hasil tangkapan nelayan
yang diharapkan, seperti gangguan alam (cuaca, arus), stok ikan yang makin tipis;
(2) natural risk, yaitu risiko akibat kondisi alam, biasanya merupakan salah satu
faktor yang menyebabkan timbulnya risiko produksi, seperti terjadinya angin
badai atau topan; (3) price risk, yaitu harga hasil tangkapan ikan tidak sesuai
dengan yang diharapkan, misalnya karena ada permainan tengkulak; (4)
technology risk, yaitu perubahan-perubahan yang terjadi oleh pesatnya kemajuan
teknologi, yang dapat menimbulkan ketidakpastian; (5) other risk, yaitu macam
risiko lainnya (Ritonga, 2004).
Perlunya pengelolaan perikanan yang dinamis dalam menghadapi era
globalisasi, yaitu sesuai dengan perspektif para stakeholder yang senantiasa
berkembang. Implikasi dari perkembangan perspektif tersebut adalah penyesuaian
atau perubahan dapat terjadi pada tujuan, strategi dan kegiatan pengelolaan
perikanan.

Saat

ini,

pengelolaan

perikanan

lebih

diarahkan

untuk

memaksimumkan manfaat sumber daya ikan, memastikan diterapkannya keadilan
terhadap para pengguna terutama nelayan atau masyarakat pesisir yang masih
terjerat dalam kemiskinan, melestarikan sumber daya ikan serta menjaga kondisi
lingkungan.
Usaha perikanan sangat beragam dan ada faktor yang mempengaruhi
dalam pengelolaan sumberdaya perikanan. Faktor tersebut meliputi faktor biologi,

14

teknologi, sosial budaya dan ekonomi. Perkembangan percepatan kegiatan atau
aktivitas di daerah pesisir lebih diarahkan pada pematangan kelembagaan
organisasi perikanan, penataan ruang dan sumberdaya. (Guillemot et al, 2009).
Pengembangan perikanan tangkap tidak berkembang kearah yang lebih
baik, karena (1) masih rendahnya muatan teknologi disektor kelautan dan
perikanan; (2) lemahnya pengelolaan; dan (3) masih kurangnya dukungan
ekonomi-politik (Adrianto dan Kusumastanto, 2004).
Perikanan tangkap menurut Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap adalah
kegiatan ekonomi dalam bidang penangkapan atau pengumpulan hewan atau
tanaman air yang hidup di laut atau perairan umum secara bebas. Berdasarkan
pengelolaannya, UU No. 22 Tahun 1999 pasal 10 ayat 2 menyatakan bahwa
kewenangan daerah di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada pasal 3, meliputi
(1) eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan kekayaan laut sebatas
wilayah laut tersebut, (2) pengaturan kepentingan administrasi, (3) pengaturan tata
ruang, (4) penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah
yang dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah, dan (5) bantuan penegakan
keamanan dan kedaulatan negara. Selanjutnya pasal 10 ayat 3 dijelaskan bahwa
kewenangan daerah kabupaten dan daerah kota di wilayah laut, sebagaimana
dimaksud pada ayat 2 adalah sejauh sepertiga dari batas laut daerah provinsi.
Kegiatan perikanan tangkap di Indonesia dikategorikan di dalam dua
kelompok besar, yakni perikanan komersil dengan investasi rendah hingga sedang
dan perikanan komersil dengan investasi tinggi atau dapat disebut dengan
perikanan industri (industrial fishery). Perbedaan dua kelompok tersebut terletak
pada armada perikanan tangkap yang digunakan. Perikanan komersil dengan
investasi rendah hingga sedang dicirikan oleh penggunaan armada kapal motor 230 Gross Tonnage (GT). Nilai investasi yang ditanamkan pada kegiatan ini
tergolong kecil hingga sedang dengan alat tangkap yang digunakan juga sangat
bervariasi. Daerah operasi penangkapan ikan umumnya terkonsentrasi di perairan
pantai pada jalur penangkapan 0,3 – 12 mil. Sedangkan perikanan industri
dicirikan menggunakan armada kapal penangkapan ikan berukuran lebih besar
dari 30 GT dengan alat tangkap yang relatif besar dan dilengkapi pula dengan alat
bantu

penangkapan

ikan

mekanis

maupun

elektronik.

Daerah

operasi

15

penangkapan ikan umumnya dilakukan dijalur penangkapan di atas 12 mil hingga
perairan ZEE Indonesia sejauh 200 mil (Ditjen Perikanan Tangkap, 2005).
Perikanan tangkap merupakan aktivitas perekonomian yang meliputi
penangkapan atau pengumpulan hewan dan atau tanaman air yang hidup di
perairan laut atau perairan umum secara bebas. Perikanan tangkap merupakan
suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen yang saling berkaitan atau
berhubungan dan saling mempengaruhi satu dengan sama lainnya. Komponenkomponen perikanan tangkap: (1) SDM nelayan; (2) sarana produksi; (3) usaha
penangkapan; (4) prasarana pelabuhan; (5) unit pengolahan; (6) unit pemasaran
dan (7) ekspor (Kesteven 1973 yang dimodifikasi oleh Monintja, 2001).
Selanjutnya dikatakan bahwa dalam pengembangan perikanan disuatu wilayah
perairan ditekankan pada perluasan kesempatan kerja, maka teknologi yang perlu
dikembangkan adalah jenis unit penangkapan ikan yang relatif dapat menyerap
banyak tenaga kerja dengan pendapatan yang memadai. Modal yang dibutuhkan
untuk pengembangan tersebut perlu disiapkan oleh pemerintah melalui suatu
anggaran khusus. Pengembangan perikanan tersebut harus dapat mensinkronkan
kegiatan produksi dengan kesiapan sarana dan prasarana perikanan tangkap,
penguasaan pasar yang baik, dan kestabilan harga yang diawasi oleh pemerintah
dan punya jenis produk yang diunggulkan, kontinyu jumlahnya, punya grade
kualitas atau mutu tertentu, selalu ada pada saat dibutuhkan (tepat waktu), dan
produknya tersedia pada berbagai tempat yang resmi.
Pengembangan perikanan khususnya sub sektor perikanan tangkap tidak
hanya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian
sumberdaya ikan, tetapi juga untuk meningkatkan konstribusi sektor perikanan
terhadap perekonomian nasional, utamanya guna membantu mengatasi krisis
ekonomi, baik dalam bentuk penyediaan lapangan kerja, penerimaan devisa
melalui ekspor, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (Manggabarani, 2005).
Selajutnya dikatakan bahwa pengelolaan perikanan menjadi semakin penting oleh
sebab perubahan-perubahan dalam hal ekonomi, teknologi, dan lingkungan,
termasuk penggunaan cara-cara tradisional dalam penanganan sumberdaya
perikanan. Contoh pengaruh perubahan-perubahan tersebut adalah peningkatan
pendapatan nelayan semakin penting sejalan dengan meningkatnya pengeluaran

16

untuk konsumsi dan barang. Semakin efisien alat penangkapan (misalnya gill net)
berarti semakin banyak ikan yang dapat ditangkap per satuan waktu; juga dengan
adanya kemampuan sarana penyimpan seperti freezer, maka lebih banyak ikan
yang dapat disimpan. Semua itu menunjukkan bahwa pengelolaan perikanan
meliputi berbagai aspek dan sifatnya dinamis sesuai perkembangan lingkungan.
Pengembangan perikanan tangkap membutuhkan kaidah-kaidah tata ruang
khususnya tata ruang wilayah pesisir dan laut yang umumnya selalu berubahberubah seriring terjadi pasang surut di wilayah pantai.

Hal ini terkadang

menyulitkan terutama untuk justifikasi batas wilayah administrasi daerah. Untuk
kepentingan pengelolaan, batas wilayah pesisir dibagi dua macam, yaitu batas
wilayah perencanaan (planning zone) dan batas wilayah pengaturan (regulation
zone)

atau

pengelolaan

keseharian

(day-today

management).

Wilayah

perencanaan dapat meliputi seluruh daratan apabila terdapat aktivitas ekonomi
yang dilakukan oleh manusia yang secara nyata dapat menimbulkan dampak
terhadap lingkungan dan sumberdaya pesisir serta masih memungkinkan untuk
dikembangkan. Untuk wilayah keseharian, pemerintah mempunyai kewenangan
yang dapat menetapkan beberapa peraturan terkait dengan aktivitas ekonomi atau
pembangunan yang dilakukan oleh manusia (Dahuri, 2001)
Pentingnya melibatkan berbagai pihak, yaitu nelayan, pemerintah, dan
stakeholder lainnya dalam pengembangan perikanan tangkap. Oleh karena itu,
pengelolaan perikanan diperlukan untuk menjamin agar sektor perikanan dapat
memberikan manfaat yang optimal bagi para stakeholder baik sekarang atau masa
yang akan datang, serta terciptanya perikanan yang bertanggung jawab.
Pengembangan penangkapan ikan pada hakekatnya terarah pada pemanfaatan
sumberdaya ikan secara optimal dan rasional bagi kesejahteraan masyarakat pada
umumnya dan nelayan khususnya, tanpa menimbulkan kerusakan sumberdaya
ikan itu sendiri maupun lingkungannya. UUNo.31/2004 tentang perikanan juga
mengamanatkan bahwa pengelolaan perikanan, termasuk kegiatan perikanan
tangkap, harus dilakukan berdasarkan asas manfaat, keadilan, kemitraan,
pemerataan,

keterpaduan,

keterbukaan,

efesiensi,

dan

kelestarian

yang

berkelanjutan. Kendala yang dihadapi oleh usaha perikanan tangkap skala kecil
dan menengah secara umum ada 4 (empat) faktor yang sangat dominan

17

mempengaruhi keberhasilan upaya pengembangan usaha perikanan yaitu:
pemasaran, produksi, organisasi, keuangan dan permodalan. Selain itu, usaha
perikanan tangkap sangat berbeda dengan bidang-bidang lainnya. Usaha
perikanan tangkap di laut relatif lebih sulit untuk diprediksi keberhasilannya,
karena sangat peka terhadap faktor eksternal (musim dan iklim) serta faktor
internal (teknologi, sarana dan prasarana penangkapan ikan dan modal).
Kerentanan dalam proses produksi akan mengakibatkan adanya fluktuasi dalam
perolehan hasil tangkapannya (Baskoro, 2006).
2.2 Alat Tangkap
2.2.1 Purse seine
Purse seine biasanya disebut jaring kantong, karena bentuk jaring tersebut
waktu dioperasikan menyerupai kantong.

Purse seine kadang-kadang juga

disebut jaring kolor, karena pada bagian bawah jaring dilengkapi dengan tali kolor
yang berguna untuk menyatukan bagian bawah jaring sewaktu operasi, dengan
cara menarik tali kolor tersebut (Sadhori, 1985).
Alat tangkap purse seine merupakan alat tangkap yang dioperasikan secara
aktif, yaitu dengan cara mengejar dan melingkarkan jaring pada suatu gerombolan
Selanjutnya dikatakan bahwa purse seine terdiri dua jenis yaitu tipe

ikan.

Amerika dan Jepang. Purse seine tipe Amerika berbentuk empat persegi panjang
dengan bagian pembentuk kantong terletak di bagian tepi jaring. Purse seine tipe
Jepang berbentuk empat persegi panjang dengan bagian bawah berbentuk busur
lingkar.

Bagian pembentuk kantong pada purse seine tipe Jepang terletak

ditengah jaring (Brandt, 2005).
Sadhori (1985), menyatakan bahwa purse seine dibedakan berdasarkan
empat kelompok besar yaitu :
(1) Berdasarkan bentuk jaring utama : persegi panjang atau segi empat,
trapesium atau potongan, dan lekuk,
(2) Berdasarkan jumlah kapal yang digunakan pada waktu operasi : tipe satu
kapal (one boat system) dan tipe dua kapal (two boat system),
(3) Berdasarkan waktu operasi yang dilakukan : purse seine siang dan purse
seine malam,

18

(4) Berdasarkan spesies ikan yang tertangkap : purse seine lemuru, layang,
kembung, cakalang.
Prinsip penangkapan dengan menggunakan purse seine adalah melingkari
gerombolan ikan dengan jaring, kemudian bagian bawah jaring dikerucutkan
sehingga ikan tujuan penangkapan akan terkurung pada bagian kantong, atau
dengan memperkecil ruang lingkup gerakan ikan, sehingga ikan tidak dapat
melarikan diri. Oleh sebab itu, jika ikan belum terkumpul pada suatu catchable
area atau berada diluar kemampuan tangkap jaring, maka dapat diusahakan ikan
datang atau berkumpul dengan menggunakan lampu atau rumpon (Ayodhyoa,
1981).
2.2.2 Bagan perahu
Bagan (lifnet) merupakan alat tangkap yang dioperasikan dengan cara
menarik waring ke permukaan air pada posisi horisontal. Pada saat pengangkatan
waring ke permukaan terjadi proses penyaringan air, ikan yang berukuran lebih
besar dari ukuran mata waring akan tersaring pada waring (Fridman, 1986).
Kontruksi bagan perahu terdiri dari waring, perahu, rumah bagan (anjanganjang), lampu, serok, dan roller yang berfungsi untuk mengangkat dan
menurunkan waring (Subani dan Barus, 1989).
Menurut Von Brandt (2005), bagan diklasifikasikan ke dalam klasifikasi
jaring angkat (lifnet) karena proses pengoperasiannya, jaring diturunkan ke dalam
perairan, kemudian diangkat secara vertikal, berdasarkan teknik yang digunakan
untuk memikat perhatian ikan agar berkumpul pada area, maka bagan
diklasifikasikan dalam light fishing yang menangkap ikan dengan menggunakan
atraktor cahaya untuk mengumpulkan ikan.
Bagan perahu menggunakan lampu atau cahaya sebagai alat bantu
penangkapan, oleh karena itu operasi tidak dimungkinkan dilakukan pada siang
hari atau saat sinar bulan terang, karena cahaya menyebar merata dipermukaan air.
Penangkapan ikan dengan bagan hanya akan efektif dilakukan pada malam hari.
Waktu operasi penangkapan biasanya dimulai saat matahari mulai terbenam
hingga menjelang fajar. Pada umumya ikan akan aktif dan menunjukkan sifat
fototaksis yang maksimum sebelum tengah malam (Gunarso, 1985).

19

2.2.3 Hand line
Hand line atau pancing ulur adalah salah satu alat tangkap yang paling
dikenal oleh masyarakat umum, terlebih dikalangan nelayan. Prinsip penggunaan
pancing adalah dengan meletakan umpan pada mata pancing, lalu pancing diberi
tali, setelah umpan dimakan ikan, maka mata pancing akan termakan oleh ikan
dan dengan tali manusia menarik ikan (Ayodhyoa, 1975).
Pada prinsipnya pancing terdiri dari dua komponen utama yaitu : tali (line)
dan pancing (hook). Jumlah mata pancing yang terdapat pada tiap perangkat
(satuan) pancing terdiri satu atau lebih mata pancing. Sedangkan ukuran mata
pancing bervariasi disesuaikan dengan besar kecilnya ikan yang akan ditangkap
(Subani dan Barus, 1989).
Pancing ulur adalah sistem penangkapan yang mempergunakan mata
pancing dengan atau tanpa umpan yang dikaitkan pada tali pancing dan secara
langsung dioperasikan dengan tangan manusia. Ciri khas dari alat ini adalah bisa
dioperasikan di tempat yang alat tangkap lain sukar dioperasikan, misalnya
tempat-tempat yang dalam, berarus cepat atau dasar perairan yang berkarang.
Alat ini dapat dioperasikan oleh satu atau dua orang.
Keberhasilan usaha penangkapan ikan pada alat tangkap pancing
tergantung dari beberapa faktor, diantaranya adalah pemilihan umpan yang cocok
untuk ikan target. Umpan berfungsi menarik perhatian ikan, sehingga ikan akan
memakan umpan yang terkait pada pancing. Mekanisme ikan yang tertangkap
dengan pancing disebabkan karena ikan terangsang atau tertarik pada umpan,
kemudian berusaha membawa pancing yang terdapat umpan dan akhirnya pancing
terkait pada mulutnya (Subani dan Barus, 1989).
2.2.4 Payang
Menurut International Standard Statistical Classfication of Fishing Gear
(ISSCFG) vide FAO (1990) payang digolongkan kedalam boat seine. Disainnya
terdiri atas dua sayap, badan dan kantong mirip trawl. Jaring ini dioperasikan dari
kapal dan ditarik dengan dua tali selembar.
Menurut klasifikasi Von Brandt (2005) payang termasuk kelompok seine
net yaitu alat tangkap yang memiliki warp penarik yang sangat panjang dengan
cara melingkari wilayah seluas-luasnya dan kemudian menariknya ke kapal atau

20

pantai. Seine net terdiri dari kantong dan dua buah sayap yang panjang, serta
dilengkapi pelampung dan pemberat.
Jaring payang terdiri atas bagian sayap (wing), badan (body) dan kantong
(code end). Semua bagian jaring ini dibuat dengan cara disambungkan mulai
bagian kantong sampai bagian sayap dimana ukuran mata jaring (mesh size) dari
bagian kantong hingga kaki semakin membesar. Umumnya terbuat dari bahan
sintesis karena bahan tersebut memiliki keunggulan dibandingkan dengan
penggunaan bahan alami, tidak perlu perlakuan seperti penjemuran serta sangat
kuat dan tidak banyak menyerap air. Nilon merupakan salah satu contoh bahan
sintesis yang sangat baik untuk payang atau seine net.
Ikan yang tekurung dalam jaring payang diharapkan dapat masuk kedalam
kantong. Fungsi ukuran mata jaring pada kantong hanya merupakan dinding
penghadang, semakin kecil ukuran mata jaring berarti semakin sedikit ikan yang
meloloskan diri. Pembukaan kantong juga dipengaruhi oleh gaya tarik tersebut,
oleh sebab itu perlu adanya batasan ukuran mata jaring dengan pehitungan besar
ikan (girth). Kecepatan melingkar dan menarik jaring pada setiap operasi serta
pembukaan mulut jaring menentukan operasi penangkapan (Ayodhyoa, 1981).
2.2.5 Bubu
Bubu merupakan salah satu alat tangkap yang banyak digunakan oleh
nelayan di Indonesia untuk menangkap ikan-ikan karang. Beberapa keuntungan
menggunakan bubu seperti: bahan mudah diperoleh dan harga relatif murah,
desain dan konstruksinya sederhana, pengoperasiannya mudah, tidak memerlukan
kapal khusus, ikan hasil tangkapan masih memiliki tingkat kesegaran yang baik
dan alat tangkap dapat dioperasikan di perairan karang yang tidak terjangkau oleh
alat tangkap lainnya (Iskandar dan Diniah, 1999).
Bubu adalah alat tangkap yang cara pengoperasiannya bersifat pasif yaitu
dengan cara menarik perhatian ikan agar masuk kedalamnya. Prinsip penangkapan
bubu adalah membuat ikan dapat masuk dan tidak dapat keluar dari bubu
(Sainsbury, 1996).
Secara garis besar komponen bubu di bagi menjadi tiga bagian, yaitu
badan (body), mulut (funnel) dan pintu. Bubu biasanya terbuat dari bahan
anyaman bambu, anyaman rotan atau anyaman kawat. Bentuk bubu sangat

21

bervariasi, hampir setiap daerah di Indonesia memiliki bentuk sendiri-sendiri
(Subani dan Barus, 1989).
Unit penangkapan bubu terdiri atas perahu atau kapal, bubu dan nelayan.
Pemasangan bubu dasar biasanya dilakukan di perairan karang. Untuk
memudahkan dalam mengetahui tempat pemasangan bubu, biasanya bubu
dilengkapi dengan pelampung tanda (Subani dan Barus, 1989).
2.2.6 Gillnet
Gillnet secara harfiah berarti jaring insang. Alat tangkap ini disebut jaring
insang karena ikan yang tertangkap oleh gillnet umumnya tersangkut pada tutup
insangnya (Sadhori, 1985). Martasuganda (2002), mengemukakan bahwa yang
dimaksud dengan jaring insang adalah jaring yang berbentuk empat persegi
panjang, dimana mata jaring dari bagian jaring utama ukurannya sama dan jumlah
mata jaring ke arah horisontal lebih banyak dari pada jumlah mata jaring arah
vertikal. Pada bagian atasnya dilengkapi dengan beberapa pemberat dan bagian
bawahnya dilengkapi dengan beberapa pemberat sehingga adanya dua gaya yang
berlawanan.
Gillnet merupakan dinding jaring dengan bahan yang lembut dan
mempunyai daya visibilitas yang rendah. Gillnet sebagai dinding yang lebar
ditempatkan di atas dasar laut untuk menangkap ikan demersal, atau seluruh
tempat mulai dari pertengahan kolom air sampai lapisan permukaan untuk
menangkap ikan pelagis (Sainsburry, 1996). Menurut Ayodhyoa (1981)
mengklasifikasikan gillnet berdasarkan cara pengoperasiannya atau kedudukan
jaring di daerah penangkapan. yaitu :
(1) Surface gillnet, yaitu gillnet yang direntangkan di lapisan permukaan dengan
area daerah penangkapan yang sempit,
(2) Bottom gillnet, yaitu gillnet yang dipasang dekat atau di dasar laut dengan
menambahkan jangkar sehingga jenis ikan tujuan penangkapannya adalah
ikan demersal,
(3) Drift gillnet, yaitu gillnet yang dibiarkan hanyut di suatu perairan terbawa
arus dengan atau tanpa kapal. Posisi jaring ini ditentukan oleh jangkar.
Sehingga pengaruh kecepatan arus terhadap kekuatan tubuh jaring dapat
diabaikan,

22

(4) Encircling gillnet, yaitu gillnet yang dipasang melingkar terhadap
gerombolan ikan dengan maksud menghadang ikan.
Secara umum cara pemasangan gillnet adalah dipasang melintang
terhadap arah arus dengan tujuan menghadang arah ikan dan diharapkan ikanikan tersebut menabrak jaring serta terjerat (gilled) di sekitar insang pada mata
jaring atau terpuntal (entangled) pada tubuh jaring. Oleh karena itu wama jaring
sebaiknya disesuaikan dengan warna perairan tempat gillnet dioperasikan
(Sadhori, 1985).
Menurut Martasuganda (2002), jaring insang hanyut (drift gillnet) adalah
jaring yang cara pengoperasiannya dibiarkan hanyut di perairan, baik itu
dihanyutkan di bagian permukaan (surface drift gillnet), kolom perairan
(midwater/submerged drift gillnet) atau dasar perairan (bottom drift gillnet).
Besar kecilnya ukuran mata jaring mempunyai hubungan erat dengan ikan
yang tertangkap. Gillnet akan bersifat selektif terhadap ukuran ikan tertangkap.
Untuk menghasilkan tangkapan yang besar pada suatu daerah penangkapan,
hendaknya ukuran mata jaring disesuaikan dengan besar badan ikan yang terjerat.
Pada umumnya ikan tertangkap secara terjerat pada bagian tutup insangnya
(opperculum), maka luas mata jaring disesuaikan dengan luas penampang tubuh
ikan antara batas tutup insang sampai sekitar bagian depan dari sirip dada
(pectoral) (Ayodhyoa, 1981).
Jenis-jenis ikan yang tertangkap oleh gillnet adalah layang (Decapterus
spp), tembang (Sardinella fimbriata), kuwe (Caranx spp, selar (Selaroides spp),
kembung (Rastrelliger spp), daun bambu (Chorinemus spp), belanak (Mugil spp),
kuro (Polynemus spp), tongkol (Auxis spp), tenggiri (Scomberomorus spp) dan
cakalang (Katsuwonus pelamis) (Sadhori. 1985).
2.2.7 Sero
Sero adalah alat penangkap ikan yang dioperasikan di perairan pantai,
bersifat menetap dan berfungsi sebagai perangkap ikan yang melakukan gerakan
ke pantai atau ikan yang habitatnya di pantai. Sifat ikan sasaran, umumnya adalah
berenang menyusuri pantai karena pola ruayanya dan pada waktu tertentu akan
kembali mendekati pantai (Martasuganda, 2002).

23

Unit penangkapan sero, umunya terbuat dari kombinasi antara jaring dan
bambu yang disusun menyerupai pagar. Pada prinsipnya jaring terdiri atas empat
bagian penting (Barus, et al, 1991) yaitu:
(1) Penaju (leader net)
Penaju merupakan bagian penting dari sero, berfungsi menghambat
pergerakan ikan dan mengarahkan ke bagian jaring tempat ikan yang
tertangkap terkumpul. Penaju terdiri atas tiang-tiang yang dipancangkan,
jarak antar tiang sekitar 1,50 meter.

Panjang penaju bervariasi pada

ukuran sero.
(2) Serambi (trap net)
Serabi adalah bagian yang berfungsi sebagai tempat berkumpulnya ikan
untuk sementara waktu sebelum memasuki kantong. Pada bagian ini ikan
dikondisikan agarpeluang untuk masuk ke dalam kantong menjadi lebih
besar. Serambi berbentuk kerucut lebih efektif karena peluang memasuki
kantong bagi ikan menjadi lebih besar.
(3) Kantong (cribe)
Kantong berguna untuk mengumpulkan ikan yang telah masuk ke dalam
alat tangkap. Ukuran kantong harus cukup besar, agar mampu menjamin
hasil tangkapan tetap hidup dan mengurangi keluarnya ikan yang sudah
berada di dalam.

Pada bagian inilah dilakukan pengambilan hasil

tangkapan.
(4) Pintu (entrance)
Pintu adalah tempat masuknya ikan setelah diarahkan oleh penaju. Pada
bagian ini biasanya terdapat sepasang sayap (wings) yang berfungsi untuk
mempercepat jalannya ikan masuk ke dalam serambi.
Menurut Subandi dan Barus (1989) bahwa disamping penaju, serambi,
kantong dan pintu, masih ada kelengkapan lain sebagai alat bantu penangkapan.
Alat tersebut adalah sisir atau penggiring dan serok (scoop net) sebagai alat untuk
mengambil ikan.
Lokasi yang cocok untuk pengoperasian alat tangkap sero menurut
Ayodhyoa (1981), harus memiliki kriteria sebagai berikut:
(1) Merupakan perairan teluk yang terlindungi pada setiap musim,

24

(2) Merupakan alur dari ruaya kelompok ikan ke arah pantai,
(3) Topografi dasar perairan mempunyai kemiringan (slope) yang tidak tajam,
(4) Lokasi pemasangan mudah terjangkau, dekat dengan sarana dan prasarana.
2.3 Jenis Ikan
2.3.1 Ikan layang (Decapterus spp)
Di Indonesia terdapat ikan layang jenis Decapterus russelli dan
Decapterus macrosoma. Ikan ini hidup perairan lepas pantai dan membentuk
gerombolan besar. Panjang tubuhnya mencapai panjang 30 cm, bentuk badan
agak memanjang dan agak gepeng. Dalam statistik perikanan, kedua jenis ikan
layang ini dimasukan dalam satu kategori (Decapterus spp) (Widodo, 1988).
Ikan layang selain hidup bergelombol, ikan ini termasuk ikan perenang
cepat yang hidup diperairan berkadar garam relatif tinggi (32 - 34 0/00) dan
menyenangi perairan jernih. Ikan layang mempunyai salinitas optimum berkisar
antara 32 - 32,5 0/00, ikan ini banyak terdapat di perairan yang berjarak 37-56 km
dari pantai.
Pada perairan yang mempunyai suhu minimum, yaitu sebesar 170C
biasanya ikan layang akan memijah. Ikan layang umumnya memiliki dua kali
masa pemijahan pertahun dengan puncak pemijahan pada bulan Maret sampai
April (musim barat) dan Agustus sampai September (musim timur).
Menurut Asakin (1971), ikan layang muncul ke permukaan karena
dipengaruhi oleh ruaya harian dari plankton hewani (zoo plankton) yang terdapat
disuatu perairan. Secara spesifik, makanan ikan layang terdiri dari copepoda
39%, crutacea 31% dan organisme lainnya 30%.
2.3.

Dokumen yang terkait

Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara