Pengharaman Daging Keledai yang Jinak pada Perang Khaibar

6.2.12. Pengharaman Daging Keledai yang Jinak pada Perang Khaibar

Ibn Hajar meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa ia berargumentasi atas ke- boleh- an daging keledai yang jinak dengan firman Allah: “Katakanlah, ‘Aku tidak menemukan sesuatu yang haram di dalam wahyu yang telah diwahyukan kepadaku ....” 6

1 Zâd Al- Ma‘âd, pasal Fî Bahts Zaman Tahrîm Al-Mut‘ah, jil. 2, hal. 158. 2 Zâd Al- Ma‘âd, pasal Fî Ibâhah Mut‘ah An-Nisâ’ tsumma Tahrîmuhâ, jil. 2/ 204. 3 Fath Al-Bârî, jil. 9, hal. 22. 4 Fath Al-Bârî, bab Nahy Rasulillah ‘an Nikâh Al-Mut‘ah Âkhiran, jil. 11, hal. 72. 5 Ibid, hal. 74. 6 Ibid, bab Luhûm Al-Khail, jil. 2, hal. 70.

B AB III: P ASAL K ETIGA 369

Mungkin pelarangan memakan daging keledai yang jinak hanya dikhususkan untuk keledai-keledai jinak yang terdapat di daerah Khaibar dan disebabkan oleh salah satu faktor yang telah disebutkan di dalam riwayat-riwayat berikut ini:

Dalam Shahîh Al-Bukhârî, diriwayatkan dari Abu Awfâ bahwa ia berkata: “Kami tertimpa kelaparan pada perang Khaibar. Kuali-kuali kami sudah mendidih dan sebagian daging-daging itu sudah matang. Tiba-tiba juru bicara Rasulullah saw. datang seraya berkata, ‘Janganlah kamu makan daging- daging keledai itu dan tumpahkanlah.’ Kami pun berbincang- bincang di antara kami bahwa beliau melarang memakan daging-daging tersebut karena daging itu belum dikeluarkan khumusnya. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa beliau melarang hal itu karena keledai-keledai itu memakan kotoran manusia.” 1

Mungkin sebab pengharaman tersebut adalah riwayat yang telah diriwayatkan oleh Abu Dâwûd dari ‘Irbâdh bin Sâriyah As-Salamî 2 di dalam

As-Sunan- nya, bab Ta‘syîr Ahl Adz-Dzimmah. Ia berkata: “Kami tiba di Khaibar dan para sahabat juga menyertai beliau. Pemilik Khaibar adalah seorang penentang yang mengingkari (kebenaran). Ia menghadap kepada Rasulullah saw. seraya berkata, ‘Hai Muhammad, apakah kamu sekalian berhak untuk menyembelih keledai-keledai kami, memakan buah-buahan kami, dan memukul kaum wanita kami?’ Rasulullah saw. marah seraya bersabda, ‘Hai Ibn ‘Awf, tunggangilah kudamu dan kemudian serulah, ‘Ketahuilah, sesungguhnya surga tidak dihalalkan kecuali untuk orang mukmin.

B erkumpullah semua untuk melaksanakan salat.’ Mereka berkumpul dan Nabi saw. mengerjakan salat bersama mereka. Setelah itu, beliau berdiri seraya bersabda, ‘Apakah seseorang dari kamu—dengan bersemayam di atas singgasananya —menyangka bahwa Allah tidak mengharamkan sesuatu kecuali yang terdapat di dalam Al- Qur’an ini? Ketahuilah! Sesungguhnya aku dapat memberikan nasehat, memerintah, dan melarang segala sesuatu. Seluruh perintah dan laranganku itu adalah seperti Al- Qur’an atau lebih banyak dari itu. Sesungguhnya Allah tidak menghalalkan bagimu untuk memasuki rumah-rumah para pengikut ahlulkitab kecuali dengan izin

1 Shahîh Al-Bukhârî, bab Luhûm Al-Khail; Fath Al-Bârî, jil. 9, hal. 22. 2 Abu Najîh ‘Irbâdh bin Sâriyah As-Salamî. Dari jalur orang ini, sebanyak tiga puluh

satu hadis telah diriwayatkan dari Rasulullah saw. Seluruh hadisnya itu diriwayatkan oleh seluruh penulis kitab Shihâh, kecuali Bukhârî dan Muslim. Ia meninggal dunia pada tahun 75 Hijriah atau pada masa fitnah Ibn Zubair. Silakan merujuk Usud Al- Ghâbah , jil. 3/399, Jawâmi‘ As-Sîrah, hal. 281, dan Taqrîb At-Tahdzîb, jil. 2/ 17.

B AB III: P ASAL K ETIGA

mereka dan tidak untuk memukul kaum wanita mereka, serta tidak juga untuk memakan buah-buahan mereka jika mereka memberikan kepadamu apa yang wajib 1 mereka berikan.’”

Sesuai dengan riwayat Ibn Abi Awfâ, para sahabat Rasulullah saw. menjelaskan mengapa beliau melarang memakan daging keledai yang sudah jinak pada waktu itu. Sebagian sahabat yang hadir dalam peristiwa itu berkata: “Pelarangan itu disebabkan oleh karena mereka tidak membayar khumusnya.” Pendapat ini dikuatkan oleh riwayat-riwayat yang memaparkan tentang harta curian dari khumus sebagai berikut:

Dalam Sunan Abi Dâwûd, diriwayatkan dari salah seorang dari kaum Anshar bahwa ia berkata: “Kami pernah keluar bersama Rasulullah saw. dalam sebuah perjalanan. Orang-orang yang ikut serta ditimpa oleh kelaparan yang sangat. Mereka mendapatkan seekor kambing dan merampasnya. Kuali-kuali kami sudah mendidih. Tiba-tiba Rasulullah saw. datang dengan menenteng busur panahnya. Beliau membalikkan kuali- kuali tersebut dan memoleskan daging-daging itu ke atas tanah. Setelah itu, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya harta rampasan perang yang dicuri tidak lebih halal daripada bangkai.’” 2

Sebagian sahabat yang lain berpendapat bahwa pelarangan memakan daging keledai yang jinak itu disebabkan oleh karena binatang ini memakan kotoran manusia.

Bagaimana pun juga, pelarangan memakan daging keledai yang jinak tersebut hanya dikhususkan untuk keledai-keledai jinak yang bersama mereka pada peperangan tersebut.

Begitu pula halnya berkenaan dengan pengharaman nikah mut‘ah pada perang Khaibar. ‘Irbâdh bin Sâriyah menceritakan bahwa orang Yahudi penentang (kebenaran) itu mengadu kepada Rasulullah saw. seraya bertanya: “Apakah kamu hendak menyembelih keledai-keledai kami, memakan buah- buahan kami, dan memukul kaun wanita kami?” Rasu- lullah mengumpulkan mereka seraya bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menghalalkan bagimu untuk memasuki rumah-rumah para pengikut ahlulkitab kecuali dengan izin mereka dan tidak memukul kaum wanita mereka, serta tidak juga memakan buah-buahan mereka jika mereka memberikan kepadamu apa yang wajib mereka berikan.”

1 Sunan Abi Dâwûd, jil. 2, hal. 64. 2 Ibid, Bab Fî An- Nahy ‘an An-Nuhbâ, jil. 3, hal. 66.

B AB III: P ASAL K ETIGA 371

Atas dasar ini, Rasulullah saw. hanya melarang memukul kaum wanita para pengikut ahlulkitab te rsebut, bukan beliau melarang nikah mut‘ah secara mutlak.

Tampaknya, realita yang telah terjadi pada perang Khaibar adalah seperti ini. Hanya saja, salah dari mereka menciptakan sebuah riwayat yang diriwayatkannya dari dua cucu Imam Ali, yaitu dua putra Muhammad, dari ayah mereka, dari ayahnya, Imam Ali bahwa beliau berkata kepada Ibn Abbas ketika ia mengizinkan nikah mut‘ah: “Engkau adalah orang yang bingung”, dan memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah saw. telah melarang nikah mut‘ah dan memakan daging keledai yang jinak pada perang Khaibar. Sementara itu, pencipta riwayat ini lupa bahwa Imam Ali as. pernah menegaskan: “Seandainya bukan karena pelarangan nikah mut‘ah yang telah dilakukan oleh Umar, niscaya tidak akan berzina kecuali orang yang celaka.” 1

Yang baru dalam hal ini, mereka meriwayatkan pengharaman nikah mut‘ah itu dari dua putra Muhammad, dari Muhammad, dari Imam Ali riwayat, dan mereka juga menyusun sanad yang sama berkenaan dengan riwayat yang memuat perintah Imam Ali untuk memisahkan ibadah haji dari ibadah umrah. Mungkin pencipta kedua riwayat ini adalah satu orang.

Begitu juga halnya berkenaan dengan riwayat-riwayat yang telah mereka riwayatkan dari Abu Dzar. Mereka pernah meriwayatkan dari Abu Dzar bahwa ia berkata: “Mut‘ah haji hanya dikhususkan untuk para sahabat Muhammad”: “Mut‘ah haji adalah sebuah kemurahan bagi kami”: “Nikah mut‘ah hanya dihalalkan bagi kami para sahabat Rasulullah saw. selama tiga hari, dan setelah itu Rasulullah saw. melarangnya”, dan “Nikah mut‘ah hanya diperbole hkan dalam kondisi takut dan peperangan.”

Yang aneh, di dalam sanad kedua kelompok riwayat Abu Dzar itu terdapat Ibrahim At-Taimî dan Abdurrahman bin Aswad. Kondisi sanad kedua riwayat Abu Dzar ini adalah sama dengan kedua riwayat Imam Ali tersebut.

Berkenaan dengan riwayat Saburah Al-Juhanî, yang benar adalah riwayat yang telah kami sebutkan di permulaan bab ini. Muslim, Ahmad, dan Al-Baihaqî meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mengizinkan nikah mut‘ah bagi mereka dan salah seorang dari mereka melakukan nikah mut‘ah dengan seorang wanita dari Bani ‘Âmir dengan mahar pakaian ridâ’- nya selama tiga hari. Setelah itu, Rasulullah saw. bersabda kepada mereka:

1 Buku-buku rujukannya telah disebutkan sebelumnya.

B AB III: P ASAL K ETIGA

“Barang siapa masih memiliki wanita yang telah dinikahinya secara mut‘ah, hendaknya ia melepaskannya (baca : berpisah darinya).” Maksudnya,

Rasulullah saw. memerintahkan mereka untuk berpisah dengan wanita- wanita itu dengan tujuan untuk bersiap-siap meninggalkan kota Mekkah. Kemudian, datanglah orang-orang yang ingin mencarikan dalih (justifikasi) bagi Khalifah Umar dan mendistorsi ungkapan riwayat “hendaknya ia melepaskannya” menjadi “nikah mut‘ah adalah haram dari harimu ini hingga hari kiamat” dan ungkapan-ungkapan serupa lainnya yang mengindikasikan pengharaman nikah mut‘ah dari sejak peristiwa penaklukan kota Mekkah tersebut.

Karena riwayat ini bertentangan dengan riwayat-riwayat lain yang menegaskan bahwa pengharaman nikah mut‘ah terjadi sebelum peristiwa penaklukan kota Mekkah, misalnya pada perang Khaibar dan dengan riwayat-riwayat yang menegaskan bahwa pembolehan dan pengharaman nikah mut‘ah terjadi setelah peristiwa penaklukan kota Mekkah, sedangkan mereka juga meyakini kesahihan seluruh riwayat yang kontradiktif tersebut, akhirnya mereka terpaksa harus merekayasa sebuah jawaban untuk (meng- cleAr- kan) kontradiksi ini. Sebagai akibatnya, mereka menisbatkan kepada syariat Islam sebuah hukum yang agama ini terbebaskan darinya. Mereka mengklaim terjadi pengulangan nasakh pada peristiwa itu, sebagaimana akan dijelaskan berikut ini.