Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Kejahatan Terhadap Ketertiban Umum Di Dalam Kuhp (Studi Putusan Ma No. 1914/K/Pid/2012)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP
PELAKU TINDAK PIDANA KEJAHATAN TERHADAP KETERTIBAN UMUM DI DALAM KUHP
(Studi Putusan MA No. 1914//K/PID/2012)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Akhir dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
Oleh: NOVA DINA TARI
110200022 DEPARTEMEN HUKUM PIDANA
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga sampai detik ini Penulis senantiasa menikmati kasihNya dan dapat menyelesaikan skripsi. Skripsi ini disusun guna melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk memproleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dimana hal tersebut merupakan kewajiban bagi setiap mahasiswa/i yang ingin menyelesaikan perkuliahannya. Adapun judul yang Penulis kemukakan “PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KEJAHATAN TERHADAP KETERTIBAN UMUM DI DALAM KUHP (Studi Putusan MA No. 1914/K/PID/2012)”.
Besar harapan Penulis semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca dan ilmu pengetahuan, khususnya bagi Penulis sendiri. Walaupun Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Dalam penyusunan skripsi ini, Penulis telah banyak mendapat bantuan, bimbingan, arahan, dan motivasi dari berbagai pihak. Untuk itu Penulis ucapkan terima kasih yang sebaik-baiknya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum, selaku Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Syafruddin Hasibuan, S.H., M.H., D.F.M, selaku Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Dr. OK. Saidin, S.H., M.Hum, selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

5. Bapak Prof. Dr. M. Hamdan, S.H., M.H, selaku Ketua Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan selaku Dosen Pembimbing I yang telah membantu, dan memberi petunjuk serta bimbingan sehingga skripsi ini akhirnya dapat selesai.
6. Bapak Dr. M. Ekaputra, S.H., M.Hum, selaku Dosen Pembimbing II yang selalu membantu dan membimbing Penulis dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini.
7. Seluruh Dosen dan Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mengajar dan membimbing penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
8. Seluruh Staf Tata Usaha dan Staf Administrasi Perpustakaan serta para pegawai di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Dalam menuntut ilmu di Fakultas Hukum yang penuh perjuangan, suka
dan duka maka Penulis kiranya tidak dapat melupakan segala bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, sehingga sudah seharusnya Penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Kedua orangtua Penulis yang tercinta yaitu Ayahanda Baharuddin Sinaga dan Ibunda Siti Erni yang telah memberikan segalanya bagi Penulis baik dari materil maupun moril yang tidak bisa ternilai harganya, untuk saat ini hanya doa tulus yang dapat diberikan dari Penulis untuk Ayah dan Ibu. Semoga kelak Penulis dapat membahagiakan kedua orangtua.
2. Untuk saudara-saudara Penulis yaitu bang Andi, bang Reza Gejot, bang Rey Pedopil, Saadah Godah, Alwi Gowi, dan Hamli Gomblot,

terimakasih untuk segala bantuan dan kasih sayang kepada Penulis sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 3. Untuk sahabat-sahabat Penulis yang telah menjadi keluarga di kampus: Titin, Elisa, Vivi, Cia Belle, Atit, Marjang, Tirta, Rio, Lambok, Choky Buy, Timo, Vincent, dan Nio. Terima kasih atas segala kebaikan, persahabatan, dan kehangatan yang telah kita jalani selama ini. Semoga persahabatan kita ini dapat terus terpelihara untuk ke depannya. Salam persahabatan dan penghargaan terdalam bagi ikatan kekeluargaan yang telah kita lalui bersama selama ini. 4. Untuk para sahabat-sahabat terdekat Penulis yaitu Weny, Icha, Siva, Ayu, Erin, Ema, Resty, Gita, Yohana, dan Julia. Terima kasih atas segala kebaikan, persahabatan dan kehangatan yang telah diberikan selama ini kepada Penulis. Semoga persahabatan kita ini tidak pernah terputus dan terus terpelihara untuk ke depannya. 5. Untuk Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Hukum USU yang telah memberikan pendidikan di luar kampus kepada Penulis sehingga Penulis dapat memperoleh banyak ilmu tentang kepemimpinan dan keislaman. Penulis juga mendapatkan banyak keluarga baru. “Bahagia HMI, Yakin Usaha Sampai.” 6. Untuk seluruh teman-teman UKM Bola Voli Universitas Sumatera Utara yang telah bersama-sama berjuang untuk mengharumkan nama baik Universitas Sumatera dalam seluruh pertandingan bola voli yang telah diadakan baik di dalam maupun di luar kampus. Terima kasih atas waktu yang telah kita lalui bersama selama ini.

7. Untuk seluruh teman-teman seperjuangan dari Melia Sehat Sejahtera (MSS) dalam komunitas The A Team Forbid. Terima kasih atas waktu yang telah kita lalui untuk menjadi orang sukses dan mendapatkan kemandirian ekonomi. “Apa kabar? Dahsyat. Melia, Sehat Sejahtera Yes.”
8. Untuk seluruh teman-teman stambuk 2011 yang terkhusus di grup D, kelompok Klinis, Ikatan Mahasiswa Hukum Pidana (IMADANA), dan Panitia PMB Reguler 2014 di Fakultas Hukum USU. Terima kasih atas waktu yang sempat kita lalui bersama di Fakultas Hukum USU ini.
9. Semua pihak yang telah terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam penulisan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu namanya. Penulis akan selalu menghargai dan mengingat dukungan dan kebersamaannya. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari sempurna,
oleh karenanya Penulis mengaharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan. Akhir kata Penulis ucapkan terima kasih.
Medan, Maret 2015 Penulis
Nova Dina Tari

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI...................................................................................................... v
ABSTRAKSI...................................................................................................... viii
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang............................................................................. 1 B. Perumusan Masalah..................................................................... 7 C. Tujuan Dan Manfaat Penulisan ................................................... 8 D. Keaslian Penulisan....................................................................... 8 E. Tinjauan Kepustakaan ................................................................. 9 F. Metode Penelitian Tinjauan......................................................... 29 G. Sistematika Penulisan.................................................................. 32
BAB II : PENGATURAN HUKUM TINDAK PIDANA KEJAHATAN TERHADAP KETERTIBAN UMUM DI DALAM KUHP 1. Ketentuan Tindak Pidana Penodaan Terhadap Bendera Kebangsaan, Lagu Kebangsaan, Dan Lambang Negara ............. 34 2. Ketentuan Tindak Pidana Menyatakan Perasaan Tak Baik Terhadap Pemerintah................................................................... 36 3. Ketentuan Tindak Pidana Menyatakan Perasaan Tak Baik Terhadap Golongan Tertentu....................................................... 40 4. Ketentuan Tindak Pidana Menyelenggarakan Pemilihan Anggota Untuk Suatu Lembaga Kenegaraan Asing.................... 44 5. Ketentuan Tindak Pidana Menghasut Di Muka Umum .............. 46 6. Ketentuan Tindak Pidana Menawarkan Bantuan Untuk Melakukan Tindak Pidana........................................................... 50

7. Ketentuan Tindak Pidana Pembujukan (Uitlokking) Melakukan Tindak Pidana Yang Gagal.......................................................... 55
8. Ketentuan Tindak Pidana Tidak Melaporkan Akan Adanya Tindak Pidana Tertentu ............................................................... 56
9. Ketentuan Tindak Pidana Merusak Keamanan Di Rumah (Huisvrede-Breuk) ....................................................................... 63
10. Ketentuan Tindak Pidana Memasuki Dengan Paksa Suatu Ruangan Dinas Umum (Openbare Dienst) ................................. 66
11. Ketentuan Tindak Pidana Turut Serta Dalam Perkumpulan Terlarang...................................................................................... 67
12. Ketentuan Tindak Pidana Mengganggu Ketentraman................. 69
13. Ketentuan Tindak Pidana Mengganggu Dan Merintangi Rapat Umum .......................................................................................... 75
14. Ketentuan Tindak Pidana Mengganggu Upacara Agama Dan Upacara Penguburan Jenazah ...................................................... 76
15. Ketentuan Tindak Pidana Mengenai Kuburan Atau Mayat ........ 78
BAB III : PERTANGGUNGJAWABA PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KEJAHATAN TERHADAP KETERTIBAN UMUM DALAM PUTUSAN MA NO. 1914/K/PID/2012
A. Gambaran Kasus.......................................................................... 83
1. Kronologis .............................................................................. 83
2. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum ............................................ 86
................................................................................................
3. Tuntutan Jaksa Penuntut Umum ............................................. 87
4. Putusan Pengadilan Negeri ..................................................... 87
a. Pertimbangan Hakim Pengadilan Negeri............................ 87
b. Amar Putusan Pengadilan Negeri ....................................... 92
5. Putusan Mahkamah Agung..................................................... 94

a. Pertimbangan Hakim Mahkamah Agung............................ 94 b. Amar Putusan Mahkamah Agung....................................... 97 B. Analisis Kasus............................................................................. 98 1. Analisis Putusan Pengadilan Negeri ....................................... 98 a. Tentang Pertimbangan Hukum ........................................... 98 b. Tentang Bunyi Putusan....................................................... 102 2. Analisis Putusan Mahkamah Agung ....................................... 104 a. Tentang Pertimbangan Hukum ........................................... 104 b. Tentang Bunyi Putusan....................................................... 106 3. Perbandingan Putusan Pengadilan Negeri dan Mahkamah Agung ..................................................................................... 107
BAB IV : PENUTUP A. Kesimpulan.................................................................................. 110 B. Saran ............................................................................................ 110
DAFTAR PUSTAKA

ABSTRAKSI
Nova Dina Tari ∗ Dr. M. Hamdan, SH., M. H.1 Dr. M. Ekaputra, SH., M. H.***
Skripsi ini berbicara mengenai pertanggungjawaban pidana kepada pelaku tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum yang sudah dijatuhkan hakim Mahkamah Agung terhadap sebuah perkara pidana dengan nomor putusan No. 1914/K/PID/2012 atas nama Terdakwa Jufri Antono yang didakwa telah melakukan salah satu tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum yaitu melakukan kekerasan dengan tenaga bersama di muka umum terhadap orang. Disini diteliti mengenai alasan ataupun pertimbangan hakim dalam menjatuhkan hukuman setelah Jaksa Penuntut Umum mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung atas putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam yang menjatuhkan putusan bebas kepada Terdakwa, apakah sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau tidak.
Ada dua permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini yaitu, bagaimana pengaturan tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum di dalam KUHP dan bagaimana pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum dalam putusan Mahkamah Agung No. 1914/K/PID/2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaturan tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum menurut KUHP dan untuk menganalisa dan mengkaji putusan Mahkamah Agung No. 1914 K/PID/2012 mengenai penerapan sanski pidana bagi pelaku tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum atas Terdakwa bernama Jufri Antono
Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah penelitian hukum normatif dengan studi kasus melalui penelitian kepustakaan, yakni yang menggunakan data sekunder, meliputi bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif, yaitu dengan mengumpulkan data dari bahan hukum yang telah disebutkan sebelumnya, mengkualifikasikan, menghubungkannya dengan masalah yang dibahas, kemudian menarik kesimpulan dari penelitian.
Data hasil penelitian memperlihatkan bahwa Pengadilan Negeri Lubuk Pakam telah salah dan keliru di dalam mengadili perkara dan pada akhirnya Mahkamah Agung memutuskan bahwa Terdakwa telah cukup dan terbukti melakukan melakukan kekerasan dengan tenaga bersama terhadap orang di muka umum dengan pidana penjara selama sembilan bulan.
Pengaturan tentang tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum diatur dalam buku II Bab V KUHP. Mengenai konsep pertanggungjawaban pidananya sama halnya dengan pertanggungjawaban pidana pada umumnya, yaitu harus ada kesalahan dan kemampuan bertanggungjawab, yang harus diperhatikan adalah terpenuhinya unsur-unsur di dalam pasal yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum.
∗Penulis, Mahasiswa Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara 1Pembimbing I, Staf Pengajar Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara ***Pembimbing II, Staf Pengajar Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

ABSTRAKSI
Nova Dina Tari ∗ Dr. M. Hamdan, SH., M. H.1 Dr. M. Ekaputra, SH., M. H.***
Skripsi ini berbicara mengenai pertanggungjawaban pidana kepada pelaku tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum yang sudah dijatuhkan hakim Mahkamah Agung terhadap sebuah perkara pidana dengan nomor putusan No. 1914/K/PID/2012 atas nama Terdakwa Jufri Antono yang didakwa telah melakukan salah satu tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum yaitu melakukan kekerasan dengan tenaga bersama di muka umum terhadap orang. Disini diteliti mengenai alasan ataupun pertimbangan hakim dalam menjatuhkan hukuman setelah Jaksa Penuntut Umum mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung atas putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam yang menjatuhkan putusan bebas kepada Terdakwa, apakah sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau tidak.
Ada dua permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini yaitu, bagaimana pengaturan tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum di dalam KUHP dan bagaimana pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum dalam putusan Mahkamah Agung No. 1914/K/PID/2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaturan tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum menurut KUHP dan untuk menganalisa dan mengkaji putusan Mahkamah Agung No. 1914 K/PID/2012 mengenai penerapan sanski pidana bagi pelaku tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum atas Terdakwa bernama Jufri Antono
Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah penelitian hukum normatif dengan studi kasus melalui penelitian kepustakaan, yakni yang menggunakan data sekunder, meliputi bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif, yaitu dengan mengumpulkan data dari bahan hukum yang telah disebutkan sebelumnya, mengkualifikasikan, menghubungkannya dengan masalah yang dibahas, kemudian menarik kesimpulan dari penelitian.
Data hasil penelitian memperlihatkan bahwa Pengadilan Negeri Lubuk Pakam telah salah dan keliru di dalam mengadili perkara dan pada akhirnya Mahkamah Agung memutuskan bahwa Terdakwa telah cukup dan terbukti melakukan melakukan kekerasan dengan tenaga bersama terhadap orang di muka umum dengan pidana penjara selama sembilan bulan.
Pengaturan tentang tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum diatur dalam buku II Bab V KUHP. Mengenai konsep pertanggungjawaban pidananya sama halnya dengan pertanggungjawaban pidana pada umumnya, yaitu harus ada kesalahan dan kemampuan bertanggungjawab, yang harus diperhatikan adalah terpenuhinya unsur-unsur di dalam pasal yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum.
∗Penulis, Mahasiswa Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara 1Pembimbing I, Staf Pengajar Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara ***Pembimbing II, Staf Pengajar Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Manusia sebagai makhluk sosial sangat membutuhkan rasa aman,
tenteram dan terlindungi. Terutama segala yang berkaitan dengan hubungan atau interaksi terhadap sesama, sekitar dan komunitasnya. Setiap manusia memiliki kepentingan namun jika kepentingan itu salah sasaran maka dapat merugikan atau bahkan membahayakan orang lain. Negara sebagai payung tempat masyarakat berteduh wajib memberikan solusi dan melindungi segala kepentingan masyarakat agar tidak mengganggu dan saling merugikan antara yang satu dengan yang lainnya.
Indonesia sebagai negara hukum, sebagaimana telah dinyatakan dengan tegas dalam penjelasan Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yaitu Indonesia ialah negara yang berdasar atas hukum (rechstaat),2 hendaknya dapat melindungi warga negaranya berdasarkan tujuantujuan negara, sebagaimana yang termuat dalam alinea ke-4 (empat) Pembukaan Undang-Undang Dasar Negeri Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertiban dunia.
Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari hukum. Sepanjang sejarah peradaban manusia, peran sentral hukum dalam upaya menciptakan suasana yang memungkinkan manusia merasa terlindungi, hidup berdampingan secara damai,
2 Moh. Hatta, Beberapa Masalah Penegakan Hukum Pidana Umum dan Pidana Khusus, (Liberty : Yogyakarta, 2009), hlm. 1.

dan menjaga eksistensinya di dunia telah diakui.3 Pengertian tersebut didasarkan pada penglihatan hukum dalam arti kata materiil, sedangkan dalam arti kata formil, hukum adalah kehendak manusia ciptaan manusia berupa norma-norma yang berisikan petunjuk tingkah laku tentang apa yang boleh dilakukan dan tentang apa yang tidak boleh dilakukan, yang dilarang dan dianjurkan untuk dilakukan.4
Perlindungan hukum dirasakan begitu pentingnya dewasa ini karena semakin maraknya permasalahan hukum, khususnya terjadinya tindak pidana. Tindak pidana merupakan perbuatan yang merugikan tata kehidupan sosial. Perkembangan tindak pidana menimbulkan dampak yang begitu besar kepada kehidupan masyarakat. Berbagai macam kualifikasi tindak pidana yang terjadi tengah- tengah masyarakat. Salah satu tindak pidana yang tidak jarang ditemukan adalah kejahatan terhadap ketertiban umum sebagaimana diatur dalam KUHP.
Kejahatan terhadap ketertiban umum merupakan tindak kejahatan yang meresahkan dan mengganggu ketertiban umum dalam masyarakat. Hal ini tampak dari banyaknya kasus-kasus kejahatan yang diberitakan di berbagai media, baik media cetak maupun media elektronik. Salah satu fenomena bentuk kejahatan yang sering terjadi seperti tawuran pelajar, pengeroyokan, pembegalan, kerusuhan dan sebagainya.
Kerusuhan yang pernah terjadi ialah demonstrasi menuntut pemekaran daertah Sumatera Utara menjadi provinsi Tapanuli pada hari Selasa tanggal 3 Februari 2009 di Medan, yang berkembang menjadi kerusuhan, pemukulan
3 Jhonny Ibrahim, Teori & Metode Penelitian Hukum Normatif, (Bayumedia Publishing : Malang, 2005), hlm. 1.
4 Chainur Arrasjid, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, (Sinar Grafika : Jakarta, 2000), hlm. 21.

terhadap ketua DPRD Abd. Azis Angkat yang mengakibatkan kematiannya, perusakan gedung DPRD dan perabotnya. Kasus ini merupakan salah satu bentuk kejahatan terhadap ketertiban umum yang diatur dalam Pasal 170 KUHP, di samping delik lain yang dapat diterapkan sesuai dengan fakta di lapangan.5 Tidak hanya itu, selama kurun waktu 2012 hingga awal 2013 tercatat ada 10 kasus tindak kejahatan baik penganiayaan maupun pengeroyokan yang melibatkan geng motora atau begal yang terjadi di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Salah satu kasusnya terjadi pada tanggal 13 April 2012 pukul 01.35 WIB di Jalan RE Martadinata, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pelaku segerombolan pengendara motor dengan kurang lebih 200 orang dengan membawa parang, kayu, dan lainlain datang dari arah Kemayoran ke RE Martadinata - Permai dan melintas depan Polsek Metro Tanjung Priok, selanjutnya ke Jalan Warakas I Gang 21 Belok kanan masuk ke Kampung Bahari, selanjutnya melintasi rel kereta api dan masuk ke Jalan RE Martadinata. Ada tiga korban, Nahrowi luka tusuk dibagian pinggang kanan dan kiri, Ramdani luka sobek pada tangan kanan dan kiri, dan Tuherman luka bengkak pada muka akibat pukulan.6 Kasus kejahatan yang lain adalah kejahatan kekerasan yang dilakukan secara bersama-sama di muka umum oleh beberapa orang di Lubuk Pakam yang menyebabkan seseorang luka parah karena adanya dendam belaka. Perbuatan pidana yang dilakukan tersebut dalam penerapan hukumnya menyatakan bahwa pelaku dibebaskan dari segala tuntutan hukum. Oleh karena itu disinilah dibutuhkan pelaksanaan dan penegakan hukum secara tegas, agar dapat memberantas tindak pidana yang meresahkan masyarakat
5 Andi Hamzah, Delik-Delik Tertentu (Speciale Delicten) di dalam KUHP, (Sinar Grafika : Jakarta, 2009), hlm. 7.
6 http://www.tribunnews.com/metropolitan/2013/05/13/2012-hingga-2013-ada-10-kasuskejahatan-melibatkan-geng-motor diakses pada tanggal 1 April 2015.

Pelaksanaan hukum merupakan salah satu cara untuk menciptakan tata tertib, keamanan, ketentraman, dalam masyarakat. Pelaksanaan hukum ini, dapat melalui usaha penegakan, maupun usaha pemberantasan atau penindakan karena terjadinya pelanggaran hukum, dengan kata lain melalui upaya represif maupun preventif. Secara umum, hukum pidana berfungsi mengatur kehidupan masyarakat agar dapat tercipta dan terpeliharanya ketertiban umum.
Tujuan dari negara yang menganut sistem negara hukum sebagaimana negara Indonesia adalah untuk mencapai suatu kehidupan yang adil dan makmur bagi warganya, berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Salah satu cara dalam mencapai tujuan tersebut adalah dengan menempatkan masalah hukum pada tempatnya, sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Artinya, hukum dijadikan kaidah yang disepakati bersama sebagai alat untuk mencapai ketertiban dalam masyarakat. Oleh karena itu harus ditaati bersama oleh seluruh lapisan masyarakat, terlebih oleh aparatur penegak hukum, dengan cara menjalankan hak dan kewajibannya sebagaimana mestinya.
Pengadilan merupakan salah satu tempat mencari keadilan dan kebenaran dari suatu permasalahan hukum yang terjadi di negara Indonesia. Badan peradilan ini adalah salah satu jalan untuk mendapatkan penyelesaian suatu perkara dalam sebuah negara hukum. Sebagaimana disebutkan pada Pedoman Pelaksanaan KUHAP yang dikeluarkan oleh Menteri Kehakiman, disebutkan bahwa tujuan Hukum Acara Pidana adalah sebagai berikut :
“Tujuan dari hukum acara pidana adalah untuk mencari dan mendapatkan atau setidak- tidaknya mendekati kebenaran materiil, ialah kebenaran yang selengkap- lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana secara tepat dan jujur dengan tujuan mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum, dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan

dari pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa itu dapat dipersalahkan”. Hukum pidana di Indonesia dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau disebut sebagai KUHP telah memuat beberapa Pasal mengenai tindak pidana dan sanksi bagi para pelaku kejahatan maupun pelanggar terutama terhadap ketertiban umum. Ini semua tentu demi tercapainya masyarakat yang sejahtera dan merdeka, dalam arti bebas melaksanakan segala kepentingan namun tetap dalam koridor Undang-undang atau dengan kata lain tidak salah jalan. Hukum Acara Pidana juga berperan dalam mengatur dan menentukan bagaimana badan-badan pemerintah yang berkuasa, yaitu kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan harus bertindak guna mencapai tujuan dari hukum acara pidana sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Jadi, hukum acara pidana ini memberikan pembatasan kekuasaan badan-badan pemerintah tersebut sehingga tidak terjadi kesewenangan, karena di lain pihak kekuasaan badan-badan tersebut juga merupakan jaminan bagi berlakunya hukum, sehingga hak asasi setiap warga negara terjamin. Upaya penegakan hukum ini, harus didukung dengan adanya kerjasama antara kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan sesuai dengan tugasnya masingmasing sebagaimana telah ditetapkan dalam Undang- undang. Selain itu, aparat penegak hukum juga harus memiliki kredibilitas dan moralitas yang tinggi dalam mewujudkan cita- cita hukum yang sebenarnya, supaya kiranya keadilan dapat terwujud. Dalam mengahadapi tugasnya, aparat penegak hukum diharapkan mampu melaksanakan tugas sebaik- baiknya. Tingkah laku penegak hukum dianggap menjadi panutan masyarakat. Oleh karena itu, apabila aparat penegak

hukum berbuat kesalahan dalam menjalankan tugasnya yang mengakibatkan kerugian warga masyarakat, akan menurunkan citra dan wibawa penegak hukum itu sendiri.
Hakim memegang peranan penting dalam memutus suatu perkara, karena kewajibannya menegakkan hukum di tengah- tengah masyarakat. Dalam melaksanakan tugasnya tersebut, Hakim harus selalu berpegang pada prinsip keadilan yang bebas dan tidak memihak seperti yang dituangkan dalam pasal 1 Undang- undang Nomor 4 tahun 2004 :
“Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia”. Hakim harus memperhatikan keadilan berdasarkan Pancasila, yang tidak hanya didasarkan pada kodifikasi hukum saja, melainkan juga harus mempertimbangkan dan mengingat perasaan keadilan yang hidup di dalam masyarakat. Pembuktian juga turut mempengaruhi dan menjadi dasar pertimbangan Hakim dalam membuat putusannya. Unsur pembuktian menjadi unsur vital yang dijadikan bahan pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan putusan, apakah itu putusan bebas, pemidanaan, atau bahkan putusan lepas dari segala tuntutan hukum. Oleh karena itu pembuktian tentang benar tidaknya terdakwa melakukan perbuatan yang didakwakan, merupakan bagian terpenting dalam hukum acara pidana.7 Pertimbangan Hakim memegang peranan penting dalam memutuskan terdakwa dalam suatu perkara pidana yang membebaskan Terdakwa. Namun,
7Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, (Sinar Grafika: Jakarta, 2008), halaman 249.

apakah selamanya pertimbangan Hakim tersebut sudah bisa diterima oleh terdakwa, Penuntut Umum, bahkan masyarakat? Hal ini perlu dicermati pula. Kemudian, setelah putusan bebas ini ditetapkan oleh Hakim, masih ada hal yang perlu diteliti, yaitu sesuai tidaknya putusan tersebut dengan peraturan perundangundangan yang berlaku, karena kemungkinan itu selalu ada. Karena putusan tersebut tidak diterima oleh Penuntut Umum, maka Penuntut umum mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, untuk mengetahui apakah sudah benar putusan yang telah dijatuhkan sebelumnya. Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk menelaah lebih lanjut permasalahan mengenai apa saja yang menjadi dasar pertimbangan hakim baik di Pengadilan Negeeri maupun di Mahkamah Agung dalam menjatuhkan putusan kepada pelaku tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum dan menuangkannya dalam skripsi yang berjudul “Pertanggungjawaban Pidana Bagi Pelaku Tindak Pidana Kejahatan Terhadap Ketertiban Umum di dalam KUHP (Studi Putusan Mahkamah Agung No. 1914/K/Pid/2012)”. B. Perumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaturan tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum di dalam KUHP?
2. Bagaimana pertanggungjawaban pidana bagi pelaku tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum berdasarkan Putusan Mahkamah Agung No. 1914 K/PID/2012 ?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan skripsi ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaturan tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum menurut KUHP.
2. Untuk menganalisa dan mengkaji putusan Mahkamah Agung No. 1914 K/PID/2012 mengenai penerapan sanski pidana bagi pelaku tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum atas Terdakwa bernama Jufri Antono. Penulisan skripsi ini juga bermanfaat untuk :
1. Manfaat Secara Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikirana secara
teoritis kepada disiplin ilmu hukum sehingga dapat berguna bagi pengembangan ilmu hukum pidana di Indonesia khususnya berkaitan dengan pengaturanpengaturan penjatuhan hukuman tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum.
2. Manfaat Secara Praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat untuk kepentingan
penegak hukum, sehingga dapat dijadikan masukan kepada aparatur pelaksana penegakan hukum dalam rangka melaksanakan tugas-tugas mulianya memperjuangkan keadilan dan mewujudkan tujuan hukum yang dicita-citakan.
D. Keaslian Penulisan Penulisan skripsi dengan judul Pertanggungjawaban Pidana Bagi Pelaku
Tindak Pidana Kejahatan Terhadap Ketertiban Umum (Studi Putusan Mahkamah

Agung No. 1914 K/PID/2012) berdasarkan arsip hasil-hasil penulisan skripsi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) belum pernah dilakukan.
Penulisan skripsi ini adalah asli dari ide, gagasan pemikiran dan usaha penulis sendiri tanpa ada penipuan, penjiplakan atau dengan cara lain yang dapat merugikan pihak-pihak tertentu. Hasil dari upaya penulis dalam mencari keterangan-keterangan yang berkaitan dengan judul baik berupa buku-buku maupun internet, peraturan perundang-undangan dan pihak-pihak lain yang sangat erat kaitannya dengan pemberantasan tindak pidana korupsi. Dengan demikian, penulisan skripsi ini merupakan penulisan pertama dan asli adanya.
E. Tinjauan Pustaka 1. Pertanggungjawaban Pidana a. Pengertian Pertanggungjawaban Pidana Seseorang dapat dihukum sekaligus memenuhi tuntutan keadilan dan
kemanusiaan, harus ada suatu perbuatan yang bertentangan dengan hukum dan yang dapat dipersalahkan kepada pelakunya. Tambahan pada syarat-syarat ini adalah bahwa pelaku yang bersangkutan harus merupakan seseorang yang dapat dimintai pertanggungjawaban (toerekeningsvatbaar).8
Pertanggungjawaban pidana dalam bahasa asing disebut sebagai toerekeningsbaarheid, criminal responsibility, criminal liability, pertanggungjawaban pidana di sini dimaksudkan untuk menentukan apakah
8 Jan Remmelink, Hukum Pidana, (PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta, 2003), hlm. 85.

seseorang tersebut dapat dipertanggungjawabkan atasnya pidana atau tidak terhadap tindakan yang dilakukannya itu.9
Pertanggungjawaban pidana adalah pertangungjawaban orang terhadap tindak pidana yang dilakukannya. Tegasnya, yang dipertanggungjawabkan orang itu adalah tindak pidana yang dilakukannya. Dengan demikian, terjadinya pertanggungjawaban pidana karena telah ada tindak pidana pada hakikatnya merupakan suatu mekanisme yang dibangun oleh hukum pidana untuk bereaksi terhadap pelanggaran atas ‘kesepakatan menolak’ suatu perbuatan tertentu.10
Mempertanggungjawabkan seseorang dalam hukum pidana bukan hanya berarti sah menjatuhkan pidana terhadap orang itu, tetapi juga sepenuhnya dapat diyakini bahwa memang pada tempat-tempatnya meminta pertanggungjawaban atas tindak pidana yang dilakukannya. Pertanggungjawaban pidana tidak hanya berarti ‘rightfully sentenced’ tetapi juga ‘rightfully accused’. Pertanggungjawaban pidana pertama-tama merupakan keadaan yang ada pada diri pembuat ketika melakukan tindak pidan. Kemudian pertangungjawaban pidana juga berarti menghubungkan antara keadaan pembuat tersebut dengan perbuatan dan sanksi yang sepatutnya dijatuhkan. Dengan demikian, pengkajian dilakukan dua arah. Pertama, pertanggungjawaban pidana ditempatkan dalam konteks sebagai syaratsyarat faktual (conditioning facts) dari pemidanaan, karenanya mengemban aspek preventif. Kedua, pertanggungjawaban pidana merupakan akibat hukum (legal consequensces) dari keberadaan syarat faktual tersebut, sehingga merupakan bagian dari aspek represif hukum pidana. Pertanggungjawaban pidana
9 S. R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia dan Penerapannya, (Alumni Ahaem-Peteheam : Jakarta, 1996), hlm. 245.
10 Chairul Huda, Dari Tiada Pidana Tanpa Kesalahan Menuju Kepada Tiada Pertanggungjawaban Pidana Tanpa Kesalahan, (Kencana : Jakarta, 2006), hlm. 68.

berhubungan dengan keadaan yang menjadi syarat adanya pemidanaan dan konsekuensi hukum atas adanya hal itu.11
b. Unsur-Unsur Pertanggungjawaban Pidana Pelaku tindak pidana dapat dikenakan sanksi pidana jika memenuhi
keseluruhan unsur-unsur pidana yang didakwakan dan dapat dipertanggungjawabkan pidana. Sedangkan jika pelaku tidak memenuhi salah satu unsur mengenai pertanggungjawaban pidana, maka tidak dapat dipidana. Adapun unsur-unsur pertanggungjawaban pidana pidana adalah sebagai berikut:12
1. Melakukan perbuatan yang melawan hukum atau perbuatan pidana ; 2. Untuk adanya pidana harus mampu bertanggungjawab ; 3. Mempunyai suatu bentuk kesalahan ; 4. Tidak adanya alasan pemaaf. Ad. 1. Melakukan perbuatan yang melawan hukum atau perbuatan pidana
Unsur pertanggungjawaban pidana dalam bentuk melakukan perbuatan yang melawan hukum (wederrechtelijkheid) sebagai syarat mutlak dari tiap-tiap melakukan perbuatan pidana. Sifat melawan hukum dari tindak pidana yang terdapat pada KUHP merumuskan delik tersebut secara tertulis dan juga tidak tertulis. Jika rumusan delik tidak mencantumkan adanya sifat melawan hukum suatu perbuatan pidana, maka unsur delik tersebut dianggap dengan diam-diam telah ada, kecuali jika pelaku perbuatan dapat membuktikan tidak adanya sifat melawan hukum tersebut.13
11 Ibid., hlm. 63-64. 12 Moeljatno, Azas-Azas Hukum Pidana, (Bina Aksara : Jakarta, 1983, hlm. 71. 13 Ibid., hlm. 134.

Sifat melawan hukum dibedakan antara sifat melawan hukum formil dan sifat melawan hukum materil. Sifat melawan hukum formil, maksudnya adalah semua bagian yang tertulis dalam rumusan delik telah dipenuhi (jadi semua syarat tertulis untuk dapat dipidana).14 Sedangkan sifat melawan hukum materil, maksudnya adalah melanggar atau membahayakan kepentingan umum yang hendak dilindungi oleh pembentuk undang-undang dalam rumusan delik tertentu.15 Ad. 2. Untuk adanya pidana harus mampu bertanggungjawab
Kemampuan bertanggung jawab merupakan unsur yang diwajibkan guna memenuhi pertanggungjawaban suatu perbuatan pidana. Menurut Moeljatno, yang menjadi dasar adanya kemampuan bertanggungjawab adalah :16
1. Kemampuan untuk membeda-bedakan antara perbuatan yang baik dan yang buruk yang sesuai hukum dan yang melawan hukum.
2. Kemampuan untuk menentukan kehendaknya menurut keinsyafan tentang baik dan buruknya perbuatan tadi.
KUHP tidak memberikan batasan tentang “mampu bertanggung jawab” (teorekeningsvatbaarheid). Yang ada dalam KUHP ialah sebaliknya, pengertian negatifnya yakni “tidak dapat dipertanggungjawabkan”. Batasan-batasan mengenai perbuatan pidana (dader) dianggap tidak mampu bertanggungjawab menurut KUHP adalah : 17
14 Sahetapy, Hukum Pidana, (Liberty : Yogyakarta, 2003), hlm. 39. 15 Ibid. 16 Moeljatno, Op. Cit., hlm. 165. 17 Martiman Prodjohamidjojo, Penerapan Pembuktian Terbalik dalam Delik Korupsi (UU No. 31 Tahun 1999), (CV. Mander Maju : Medan, 2001), hlm. 30.

1. Kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akalyaa (Pasal 44 ayat (1) KUHP) ;
2. Anak yang belum dewasa (Pasal 45 KUHP). Dasar ketentuan KUHP tersebut di atas menyatakan bahwa pelaku
perbuatan pidana (dader) tidak termasuk mempunyai pertanggungjawaban pidana dalam melakukan perbuatan pidana.
Satochid Kartanegara mengatakan, bahwa dapat dipertanggungjawabkan (toerekeningsyabaarheid) adalah mengenai keadaan jiwa seseorang, sedangkan pertanggunggjawaban adalah mengenai perbuatan yang dihubungkan dengan si pelaku atau pembuat. Selanjutnya Satochid mengatakan, seseorang dapat dipertanggungjawabkan jika : 18
a. Keadaan jiwa orang itu adalah sedemikian rupa, sehingga dia dapat mengerti atau tahu akan nilai perbuatannya itu, juga akan mengerti akibatnya.
b. Keadaan jiwa orang itu adalah sedemikian rupa, sehingga menentukan kehendaknya atas perbuatan yang dilakukan.
c. Orang itu sadar dan insyaf, bahwa perbuatan yang dilakukan adalah perbuatan yang dilarang atau tidak dibenarkan dari sudut hukum, masyarakat dan tata susila. Roeslan Saleh mengatakan dalam hal kemampuan bertanggung jawab
ada 2 faktor yaitu : 19 1. Akal 2. Kehendak.
18 Ibid., hlm. 31. 19 Ibid., hlm. 32.

Akal atau daya pikir menentukan orang dapat membedakan antara perbuatan yang diperbolehkan dan perbuatan yang tidak diperbolehkan. Dan dengan kehendak atau kemauan atau keinginan orang dapat menyesuaikan tingkah laku mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan. Kemudian Roeslan Saleh lebih lanjut mengatakan bahwa adanya kemampuan bertanggungjawab ditentukan oleh dua faktor. Dengan akal dapat membedakan antara perbuatan yang diperoleh atau tidak diperbolehkan, sedangkan faktor kehendak bukan faktor yang menentukan mampu bertanggung jawab melainkan salah satu faktor dalam menentukan kesalahan karena faktor kehendak adalah tergantung dan kelanjutan dari faktor akal.20 Ad. 3. Mempunyai suatu bentuk kesalahan
Perbuatan manusia dianggap mempunyai kesalahan atau “schuld” merupakan bagian dari unsur pertanggungjawaban pidana. Asas yang dipergunakan dalam pertanggungjawaban pidana yaitu tidak dipidana jika tidak ada kesalahan (geen straf zonder schuld ;actus non fasit reum nisi mens sir rea). Menurut Moeljatno, perbuatan manusia dianggap mempunyai kesalahan, jika :
Orang dikatakan mempunyai kesalahan jika dia pada waktu melakukan perbuatan pidana, dilihhat dari segi masyarakat dapat tercela karenanya, yaitu kenapa melakukan perbuatan yang merugikan masyarakat padahal mampu untuk mengetahui makna (jelek) perbuatan tersebut dan karenanya dapat bahkan harus menghindari untuk berbuat demikian.21
Sedangkan menurut Simons sebagaimana dikutip dari bukunya Moeljatno, kesalahan adalah “keadaan psychis yang tertentu pada orang yang melakukan perbuatan pidana dan adanya hubungan antara keadaan tersebut
20 Ibid., hlm. 33. 21 Moeljatno, Loc. Cit., hlm. 157.

dengan perbuatan yang dilakukan yang sedemikian rupa, sehingga orang itu dapat tercela karena melakukan perbuatan tadi.”22

Pertanggungjawaban pidana seseorang yang melakukan perbuatan

pidana dapat dibatalkan demi hukum jika terdapat alasan pemaaf atau

verontschukdiginsgrond. Alasan pemaaf menurut teori hukum adalah alasan yang

menghapus kesalahan. Menurut Moeljatno, kalau ada alasan-alasan yang

menghapuskan kesalahan (alasan pemaaf), maka masih ada perbuatan pidana,

tetapi orangnya tidak dipidana (tidak dapat dipertanggungjawabkan). Dampak

yang terjadi akibat adanya alasan pemaaf bagi seseorang yang melakukan

perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa tetap bersifat

melawan hukum, jadi tetap merupakan perbuatan pidana, tetapi tidak dipidana

karena tidak ada kesalahan. Menurut Andi Zainal Abidin mengemukakan sebagai

berikut : “Ketidakmampuan bertanggungjawab menghapuskan kesalahan dalam arti luas dan oleh karena itu termasuk alasan pemaaf”.23

Ad. 4. Tidak adanya alasan pemaaf

Sudarto

berpendapat,

alasan-alasan

tidak

dapat

dipertanggungjawabkannya seseorang atau tidak dipidananya seseorang karena 2 (dua) hal, yaitu :24

a. Meskipun perbuatan itu telah mencocoki rumusan delik, namun tidak

merupakan suatu tindak pidana karena tidak bersifat melawan hukum

(ingat ajaran sifat melawan hukum yang formil dan materil) ;

22 Ibid., hlm. 168. 23 Andi Zainal Abidin, Azas-Azas Hukum Pidana Bagian Pertama, (Alumni : Bandung,
1997), hlm. 223. 24 Sudarto dan Wonosusanto, Catatan Kuliah Hukum Pidana II, (Fakultas Hukum
Universitas Surakarta : Surakarta, 1987), hlm. 1.

b. Meskipun perbuatannya itu dapat dikualifikasikan sebagai perbuatan pidana, namun orangnya tidak dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya, karena padanya tidak ada kesalahan.
c. Hapusnya Pertanggungjawaban Pidana Pertanggungjawaban pidana bisa terhapus karena adanya sebab, baik
yang berkaitan dengan perbuatan si pelaku tindak pidana maupun sebab yang berkaitan dengan pembuat delik. Adapun terhapusnya pertanggungjawaban pidana karena adanya alasan-alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang atau alasan-alasan tidak dapat dipidananya seseorang. Hal ini berdasarkan pada dua alasan yaitu :25
1. Alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yang terletak pada diri orang tersebut ;
2. Alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorant yang terletak di luar dari diri orang tersebut. Kedua alasan di atas menimbulkan kesan bahwa pembuat undang-undang
dengan tegas merujuk pada penekanan tidak dapat dipertanggungjawabkannya orang, tidak dapat dipidananya pelaku / pembuat, bukan tidak dapat dipidananya tindakan / perbuatan. Hal ini dipertegas lagi dalam Pasal 58 KUHP :
“Keadaan diri yang menyebabkan penghapusan, pengurangan atau penambahan hukumannya hanya boleh dipertimbangkan terhadap yang mengenai diri orang yang melakukan perbuatan itu atau diri si pembantu saja”. Hukum pidana membedakan adanya alasan pembenar dan alasan pemaaf. Mengenai alasan pembenar dan alasan pemaaf, sebenarnya pembedaan ini tidak
25 M. Hamdan, Alasan Penghapus Pidana : Teori dan Studi Kasus, (Refika Aditama : Bandung, 2012), hlm. 27-28.

penting bagi pembuat sendiri, karena jika ternyata ada alasan penghapusan pidana, maka teranglah tidak akan dipidana.
Alasan penghapus pidana adalah alasan yang memungkinkan orang yang melakukan perbatan yang sebenarnya telah memenuhi rumusan delik, untuk tidak dipidana, dan ini merupakan kewewangan yang diberikan undang-undang kepada hakim.26
Alasan penghapus pidana dapat dibagi dua ditinjau dari sudut pandang doktrin, yaitu : 27
1. Alasan pembenar (rechtsvaardigingsgronden) Alasan pembenar adalah alasan-alasan yang menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan. Artinya tidak dipidananya seseorang yang telah melakukan perbuatan yang mencocoki rumusan delik disebabkan karena hal-hal yang mengakibatkan tidak adanya sifat melawan hukumnya perbuatan. Oleh karena alasan penghapus pidana ini menyangkut tentang perbuatan, maka alasan ini berlaku untuk semua orang yang melakukan perbuatan tersebut. Perbuatan yang pada umumnya dipandang sebagai perbuatan yang keliru, dalam kejadian yang tertentu itu dipandang sebagai perbuatan yang dibenarkan, bukanlah perbuatan yang keliru, meskipun perbuatan ini telah memenuhi rumusan delik dalam undang-undang. Adapun yang termasuk dalam alasan pembenar adalah : a. Keadaan darurat (noodtostand) Diatur dalam Pasal 48 KUHP. Yang dimaksud keadaan darurat ialah karena :
26 Ibid., hlm. 27. 27 Ibid., hlm. 28.

1. Terdapat pertentangan antara dua kepentingan hukum / hak (conflicht vanrechtplichten) ;
2. Terdapat pertentangan antara kepentingan hukum dengan kewajiban hukum (conflicht van rechtsbelang on rechtsplicht) ;
3. Terdapat pertentangan antara kewajiban hukum dengan kewajiban hukum (conflicht van rechtsbelangen).
b. Pembelaan darurat / terpaksa (noodweer) Diatur dalam Pasal 49 ayat 1 KUHP menentukan beberapa syarat yang harus dipenuhi agar dapat disebut sebagai noodweer, yaitu : 1. Harus ada serangan : a) yang seketika (ogenblikkelijk) b) mengancam secara langsung (onmiddelijkdreigend) c) melawan hak 2. Ada pembelaan : a) sifatnya mendesak (noodzakelijk) b) pembelaan itu menunjukkan keseimbangan antara kepentingan hukum yang dilanggar dan kepentingan hukum yang dibela (geboden) c) kepentingan hukum yang dibela hanya badan, kehormatan , harta sendiri maupun orang lain.
c. Menjalankan peraturan perundang-undangan (wettelijkkvoorshrift) Diatur dalam Pasal 50 KUHP yang menentukan bahwa apa yang diperintahkan oleh undang-undang atau wewenang yang diberikan oleh suatu undang-undang untuk melakukan suatu hal tidak dianggap seperti

suatu peristiwa pidana. Yang dimaksud dengan peraturan hukum di sini ialah segala peraturan yang dikeluarkan oleh penguasa yang berhak menetapkan peraturan di dalam batas wewenangnya. d. Menjalankan perintah jabatan yang sah / berwenang (ambtelijkbevel) Diatur dalam Pasal 51 ayat (1) KUHP. Perlu diketahui dan diingat bahwa dalam menjalankan perintah jabatan antara yang memerintah dan yang diperintah harus ada hubungan yang didasarkan pada hukum publik. Perintah yang diberikan untuk seorang majikan kepada bawahannya di dalam hubungan hukum perdata tidak termasuk dalam Pasal 51 KUHP ini. 2. Alasan pemaaf (schulduitsluitingsgronden) Alasan pemaaf adalah alasan-alasan yang menghapuskan kesalahan dari si pelaku / terdakwa. Artinya tidak dipidananya seseorang yang telah melakukan perbuatan yang mencocoki rumusan delik disebabkan karena tidak sepantasnya orang itu dicela, tidak sepatutnya dia disalahkan, maka hal-hal yang menyebabkan dia tidak sepantasnya dicela itu disebut sebagai hal-hal yang dapat memafkannya. Oleh karena alasan ini menyangkut tentang kesalahan pelaku, maka alasan penghapus pidana ini berlaku hanya untuk diri piribadi si pelaku / terdakwa. Adapun yang termasuk alasan pemaaf adalah : a. Ketidakmampuan bertanggungjawab (ontoerekeningsvatbaarheid) Diatur dalam Pasal 44 ayat (1) KUHP menentukan bahwa orang yang menyebabkan peristiwa tidak dipidana karena :

1. Jiwa / akal yang tumbuhnya tidak sempurna (gebrekkige outwikelling). Orang yang jiwanya tidak sempurna sebenarnya tidak sakit, akan tetapi karena cacat yang dibawa sejak lahir
2. Jiwa yang diganggu oleh penyakit, pada waktu lahirnya sehat, akan tetapi kemudian dihinggapi penyakit seperti penyakit gila dan sebagainya. Menurut Memorie van Toelichting (MVT), seseorang itu dikatakan tidak mampu bertanggungjawab apabila : a) keadaan jiwa orang itu sedemikian rupa sehingga ia tidak mengerti akan harga dan nilai sikap tindaknya ; b) ia tidak dapat menentukan kehendaknya terhadp sikap tindaknya ; c) ia tidak dapat menginsyafi bahwa sika tindak itu terlarang.
b. Daya paksa (overmacht) Diatur dalam Pasal 48 KUHP menentukan bahwa suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang karena terpaksa tidak dapat dihukum. Menurut Memorie van Toelichting, yang dimaksud dengan overmacht yaitu tiap kekuatan, tiap dorongan, tiap paksaan yang tidak dapat dielakkan. Perkataan keterpaksaan bukan saja berarti fisik / jasmani, tetapi jua tekanan psikis dan rohani. Menrut J. E. Jonkers, overmacht itu berwajah tiga rupa : 1. Overmacht yang bersifat mutlak (vis absoluta). Dalam hal ini orang terpaksa tidak mungkin dapat berbuat lain. 2. Overmacht dalam arti sempit yang bersifat nisbi (vis compulsiva) atau berat lawan. Orang yang terpaksa masih ada kesempatan untuk memilih berbuat yang lain, akan tetapi menurut perhitungan yang

layak tidak mungkin dapat dielakkan. Perbedaannya dengan overmacht mutlak adalah dalam overmacht mutlak, orang yang memaksa itulah yang berbuat. Sedangkan dalam overmacht relatif, orang yang dipaksa itu yang berbuat. 3. Overmacht dalam arti noodtoestand atau keadaan darurat. c. Noodweer Excess Diatur dalam Pasal 49 ayat (2) KUHP menentukan bahwa pembelaan yang melampaui batas merupakan perbatan yang terlarang, akan tetapi karena perbuatan tersebu akibat dari suatu goncangan rasa yang disebabkan oelah serangan misalnya naik darah, maka perbuatan tersebut dapat dimaafkan oleh undang-undang. d. Menjalankan perintah jabatan yang tidak sah (ambtelijk bevel) Diatur dalam Pasal 51 ayat (2) KUHP. Orang yang melaksanakan perintah tidak sah tidak dapat dipidana bila memenuhi syarat-syarat : 1. jika ia dengan itikad baik mengira bahwa perintah itu sah ; 2. jika perintah itu terletak dalam lingkungan kekuasaan orang yang diperintah. Perlu diingat bahwa di dalam menjalankan perintah jabatan antara yang memerintah dan yang diperintah harus ada hubungan yang didasarkan pada hukum publik. 2. Tindak Pidana a. Pengertian Tindak Pidana Masalah pokok yang berhubungan dengan hukum pidana adalah membicarakan tiga hal, yaitu : a. Perbuatan yang dilarang

b. Orang yang melakukan perbuatan yang dilarang itu c. Pidana yang diancamkan terhadap pelanggar larangan itu
Kata “perbuatan yang dilarang” dalam hukum pidana mempunyai banyak istilah dengan pengertiannya masing-masing, karena merupakan istilah yang berasal dari bahasa Belanda : “strafbaarfeit” yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, antara lain :28
1. Tindak Pidana 2. Peristiwa Pidana 3. Delik 4. Pelanggaran Pidana 5. Perbuatan yang boleh dihukum 6. Perbuatan yang dapat dihukum 7. Perbuatan pidana
Istilah dan pengertian tentang hal ini dapat dihindari dengan menggunakan istilah “tindak pidana”. Dalam peraturan perundang-undangan Indonesia tidak ditemukan defenisi tindak pidana, tetapi pengertian tindak pidana yang dipahami selama ini merupakan kreasi teoritis para ahli hukum.
Pengertian tindak pidana (strafbaar feit), menurut para ahli hukum adalah: 1. Simons
Tindak pidana (strafbaarfeit) adalah kelakuan yang diancam dengan pidana, bersifat melawan hukum, dan berhubung dengan kesalahan yang dilakukan oleh orang yang bertanggung jawab.29
28 Mohammad Ekaputra, Dasar-Dasar Hukum Pidana, (USU Press : Medan, 2013), hlm. 73.
29 Chairul Huda, Op.