The Linkage Between Growth, Unemployment and Income Inequality on Poverty in Central of Java Province, 2004-2010

ANALISIS KETERKAITAN PERTUMBUHAN, PENGANGGURAN
DAN KETIMPANGAN TERHADAP KEMISKINAN
PROVINSI JAWA TENGAH 2004-2010

WALUYO

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Analisis Keterkaitan
Pertumbuhan, Pengangguran dan Ketimpangan terhadap Kemiskinan
Provinsi Jawa Tengah 2004-2010 adalah karya saya dengan arahan dari Komisi
Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi
manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Agustus 2012

Waluyo
NRP. H151104484

ABSTRACT

WALUYO. The Linkage Between Growth, Unemployment and Income Inequality
on Poverty in Central of Java Province, 2004-2010. Under direction of SRI
HARTOYO and LUKYTAWATI ANGGRAENI.
The issues about the benefit of growth for the poor have been a priority in
development policy. Poverty reduction can be achieved by income growth and
distribution. The objectives of this study are to analize the relation between
income percapita growth, unemployment and inequality on poverty reduction in
Central of Java Province and to identify the determinant of those factors. Using
Panel Two-Stage Least Square (2SLS), the results show that the income percapita
growth is significantly influenced by the the rate of skilled labor growth, mean
years schoolling of labor, the invesment, the quality of transportation and
electrical infrastructure, and government spending on investment. The
unemployment growth is positively influenced by the growth in skilled and
unskilled labor supply and negatively by income percapita growth. The change in
income inequality is positively influenced by income percapita growth, education
inequality, price index and negatively affected by government spending on
investment. The income percapita growth has the largest impact on poverty
reduction, but its effectiveness reduced by the growth in unemployment and price
index. In the period of 2004-2010, economic growth in Central of Java Province
was not pro poor.
Keywords: growth, inequality, unemployment, poverty reduction, panel 2SLS

RINGKASAN
WALUYO. Analisis Keterkaitan Pertumbuhan, Pengangguran dan Ketimpangan
terhadap Kemiskinan Provinsi Jawa Tengah 2004-2010. Dibimbing oleh SRI
HARTOYO dan LUKYTAWATI ANGGRAENI.
Pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan memiliki keterkaitan
yang sangat erat dengan tingkat kemiskinan. Setinggi apapun pendapatan nasional
perkapita dan pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh suatu negara selama
distribusi pendapatan berjalan tidak merata maka tingkat kemiskinan akan tetap
tinggi. Sebaliknya, meskipun distribusi pendapatan telah berjalan merata jika
tidak didukung oleh pendapatan nasional perkapita dan pertumbuhan ekonomi
yang tinggi maka kemiskinan juga akan semakin meluas (Todaro dan Smith,
2006). Sudah menjadi konsensus bahwa pertumbuhan menjadi syarat yang
diperlukan untuk menurunkan kemiskinan, namun belum menjadi syarat
kecukupan. Pengentasan kemiskinan akan berjalan lebih efektif jika pertumbuhan
yang dihasilkan mampu mendorong perluasan kesempatan kerja dan diimbangi
dengan kebijakan redistribusi yang akan membawa pada distribusi yang lebih
merata (Bourguignon, 2004).
Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi yang memiliki permasalahan
kemiskinan cukup kompleks. Berdasarkan data BPS, Jawa Tengah selalu
memiliki tingkat kemiskinan (HCI) di atas level nasional dan memiliki populasi
penduduk miskin (HC) terbanyak kedua setelah Jawa Timur. Hal ini menjadi
sangat ironis karena secara administratif Jawa Tengah memiliki lokasi yang
strategis, yakni berada di sentral Pulau Jawa yang dekat dengan pusat
perekonomian dan kekuasaan sehingga menjadi modal yang baik bagi
perkembangan perekonomian. Pencapaian target MDG’s dan RPJM sampai tahun
2011 masih jauh di atas sasaran. Kemiskinan menunjukkan tren menurun, namun
penurunannya lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan yang dicapai.
Permasalahan kemiskinan menjadi semakin kompleks karena alokasi sumber daya
ekonomi, sumber daya manusia dan infrastruktur yang tidak tersebar secara
merata antar kabupaten/kota, sehingga kinerja perekonomian dan pola kemiskinan
antar wilayah menjadi sangat beragam.
Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini memiliki beberapa tujuan.
Pertama, menganalisis dinamika pertumbuhan pendapatan perkapita,
pengangguran, ketimpangan pendapatan dan kemiskinan antar waktu dan antar
wilayah di Jawa Tengah. Kedua, menganalisis keterkaitan antara pertumbuhan,
distribusi pendapatan dan kemiskinan. Ketiga, menganalisis determinan dari
pertumbuhan, pengangguran, ketimpangan pendapatan dan kemiskinan.
Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari BPS RI,
BPS Provinsi Jawa Tengah, dan Kementrian Keuangan RI. Data pokok mencakup
pendapatan perkapita yang diproksi dengan PDRB perkapita, ketenagakerjaan,
kemiskinan, indeks ketimpangan, stok kapita/investasi, infrastruktur, indeks harga
dan belanja pembangunan. Penelitian mencakup semua kabupaten/kota di Jawa
Tengah selama 2004-2010. Metode analisis untuk menjawab tujuan terdiri dari
analisis deskriptif menggunakan tren, kuadran, peta tematik dan Poverty Growth
Curve (PGC) serta analisis ekonometrika menggunakan regresi penel simultan.

Hasil penelitian menunjukkan selama periode 2004-2010, pendapatan
perkapita di level provinsi dan semua kabupaten/kota memiliki tren meningkat
dan tidak terdapat korelasi yang signifikan antara level pendapatan perkapita
kondisi awal dengan tren perubahannya. Ketimpangan pendapatan pada level
provinsi dan mayoritas kabupaten/kota memiliki tren yang meningkat sehingga
distribusi pendapatan semakin tidak merata. Kemiskinan pada level provinsi dan
mayoritas kabupaten/kota memiliki tren yang menurun, meskipun terdapat
beberapa daerah kota yang memiliki tren kemiskinan meningkat. Terdapat
hubungan positif antara level pendapatan perkapita dan kemiskinan antar
kabupaten/kota. Secara umum, manfaat hasil pertumbuhan selama periode 20042010 secara dominan dinikmati oleh 10% penduduk berpendapatan tertinggi,
sehingga pertumbuhan selama periode tersebut belum bersifat pro poor.
Penelitian juga menghasilkan temuan determinan yang menjadi sumber
pertumbuhan pendapatan perkapita terdiri dari pertumbuhan jumlah pekerja
terampil, rata-rata usia lama sekolah, kualitas infrastruktur listrik dan jalan raya,
perubahan stok kapita/investasi dan belanja pembangunan. Pertumbuhan jumlah
penganggur dipengaruhi oleh pertumbuhan jumlah angkatan kerja menurut
pendidikan (SLTA ke atas dan SLTP ke bawah), sementara pertumbuhan
pendapatan perkapita memiliki pengaruh positif dalam menurunkan jumlah
penganggur. Ketimpangan pendapatan antar penduduk memiliki hubungan yang
searah dengan pertumbuhan pendapatan perkapita, ketimpangan pendidikan dan
indeks harga, tetapi tidak berhubungan searah dengan belanja pembangunan.
Selama periode 2004-2010, pertumbuhan pendapatan perkapita menjadi
determinan terpenting bagi penurunan jumlah penduduk miskin, namun
efektivitasnya menjadi berkurang karena pertumbuhan juga membawa pada
distribusi pendapatan yang semakin tidak merata. Kenaikan indeks harga dan
jumlah penganggur juga turut mengurangi efektivitas pengentasan kemiskinan.
Saran yang dapat diberikan diantaranya adalah: 1). mempertajam kualitas
pertumbuhan melalui perbaikan infrastruktur, kualitas modal manusia, kegiatan
investasi dan meningkatkan porsi belanja pembangunan, terutama di kabupaten
yang perekonomiannya masih tertinggal dan belum berkembang; 2). Pertumbuhan
yang tinggi juga membawa pada distribusi pendapatan yang semakin timpang,
sehingga pemerintah seharusnya tidak hanya fokus dalam mengejar akselerasi
pertumbuhan, tetapi juga fokus dalam memperbaiki distribusi pendapatan melalui
kebijakan redistribusi yang lebih progresif serta mempertajam efektivitas
kebijakan transfer subsidi yang sedang/akan dilakukan; 3). Pendidikan menjadi
sumber pertumbuhan terpenting dan menjadi variabel antara bagi pengentasan
kemiskinan, sehingga diperlukan kebijakan untuk memperluas kesempatan dan
menjamin pemerataan bersekolah bagi penduduk miskin dengan cara memberi
kuota tempat sampai tingkatan pendidikan menengah dan memberi beasiswa bagi
yang berprestasi sampai level pendidikan tinggi; 4). Distribusi pendapatan dan
kemiskinan sangat sensitif terhadap perubahan indeks harga, sehingga diperlukan
kebijakan untuk menjamin stabilitas harga terutama harga kebutuhan dasar.
Kata kunci: pertumbuhan, pengangguran, ketimpangan, kemiskinan, panel 2SLS

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
1.

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumbernya.
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya
ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.
b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

2.

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis
dalam bentuk apapun tanpa izin IPB

ANALISIS KETERKAITAN PERTUMBUHAN, PENGANGGURAN
DAN KETIMPANGAN TERHADAP KEMISKINAN
PROVINSI JAWA TENGAH 2004-2010

WALUYO

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Program Studi Ilmu Ekonomi

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. Ir. Yeti Lies Purnamadewi, M.Sc.Agr

Judul Penelitian : Analisis Keterkaitan Pertumbuhan, Pengangguran dan
Ketimpangan terhadap Kemiskinan
Provinsi Jawa Tengah 2004-2010
Nama
: Waluyo
NRP

: H151104484

Disetujui,
Komisi Pembimbing

Dr. Sri Hartoyo, M.S
Ketua

Dr. Lukytawati Anggraeni, S.P.,M.Si
Anggota

Diketahui,

Ketua Program Studi
Ilmu Ekonomi

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. R. Nunung Nuryartono, M.Si

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr.

Tanggal Ujian : 13 Agustus 2012

Tanggal Lulus :

PRAKATA

Ungkapan puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas
petunjuk, rahmat dan kekuatanNya penulis mampu menyelesaikan tesis dengan
judul “Analisis Keterkaitan Pertumbuhan, Pengangguran dan Ketimpangan
terhadap Kemiskinan Jawa Tengah 2004-2010”. Tesis ini menjadi salah satu
syarat untuk menyelesaikan jenjang pendidikan S2 dan memperoleh gelar
Magister Sains dari Program Studi Ilmu Ekonomi di Institut Pertanian Bogor.
Untaian terima kasih yang tak terhingga penulis haturkan kepada Dr. Sri
Hartoyo, MS selaku ketua komisi pembimbing dan Dr. Lukytawati Anggraeni,
S.P., M.Si selaku anggota komisi pembimbing atas waktu, bimbingan dan arahan
selama masa penyusunan tesis serta Dr. Ir. Yeti Lies Purnamadewi, M.Sc.Agr
selaku penguji luar komisi dan Dr. Ir. Sri Mulatsih, M.Sc.Agr selaku penguji
wakil program studi atas kesediaannya menjadi penguji dan atas semua koreksi
serta masukannya. Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada semua
dosen pengajar dan segenap pengelola Program Studi Ilmu Ekonomi Sekolah
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Penulis juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesarbesarnya kepada Kepala Badan Pusat Statistik Republik Indonesia dan Kepala
Badan Pusat Statistik Provinsi Daerah istimewa Yogyakarta yang telah memberi
kesempatan dan dukungan untuk melanjutkan kuliah di Magister Program Studi
Ilmu Ekonomi IPB. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada seluruh rekanrekan batch 3 Program Studi IE atas semua diskusinya serta rekan-rekan di BPS
Provinsi D.I. Yogyakarta atas semua bantuannya.
Secara khusus, penulis menyampaikan terima kasih kepada Hj. Suminah
(ibu), Tri Handayani (istri), Muhammad Shofwan Hanif (anak pertama), Syahran
Zakiya Absyar (anak kedua) dan Rizal Aulia Hikmaturrahim (anak ketiga) beserta
seluruh keluarga besar di Yogyakarta dan Temanggung atas doa, pengorbanan,
dukungan dan kesabarannya.
Akhirnya, penulis berharap agar tesis ini menjadi bermanfaat dan mampu
memberi kontribusi serta solusi terkait dengan persoalan kemiskinan di level
regional Jawa Tengah maupun daerah lainnya.

Bogor,

Agustus 2012
Penulis,

Waluyo

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Temanggung (Jawa Tengah) pada tanggal 4 Oktober
1977. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, dari pasangan H. Nur
Sarno (Alm) dan Hj. Suminah. Penulis menikah dengan Tri Handayani dan
dikaruniai tiga orang putra, yakni Muhammad Shofwan Hanif, Syahran Zakiya
Absyar dan Rizal Aulia Hikmaturrahim.
Penulis menamatkan sekolah dasar pada SD Negeri Mondoretno,
Temanggung pada tahun 1990 dan selanjutnya menamatkan jenjang SLTP pada
SMP Negeri 2 Temanggung pada tahun 1993. Pada tahun yang sama penulis
diterima di SMA Negeri 2 Temanggung dan lulus pada tahun 1996, kemudian
melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta Program
Diploma III dan tamat pada tahun 1999. Sejak tahun 1999 penulis bekerja di
Badan Pusat Statistik Provinsi D.I. Yogyakarta dan pada tahun 2002 penulis
kembali melanjutkan pendidikan Program Diploma IV STIS, tamat pada tahun
2003 dengan gelar Sarjana Sains Terapan (S.ST).
Pada tahun 2010, penulis mengikuti program alih jenis S1 di Departemen
Ilmu Ekonomi FEM Institut Pertanian Bogor dan lulus pada tahun 2010. Setelah
itu, penulis melanjutkan kuliah pada Program Studi Ilmu Ekonomi Sekolah
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor melalui program beawiswa Badan Pusat
Statistik.

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ....................................................................................................

xiii

DAFTAR TABEL ............................................................................................

xvii

DAFTAR GAMBAR .......................................................................................

xix

DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................

xxi

I

PENDAHULUAN .........................................................................................

1

1.1

Latar Belakang ......................................................................................

1

1.2

Perumusan Masalah ..............................................................................

6

1.3

Tujuan Penelitian ..................................................................................

8

1.4

Manfaat Penelitian ................................................................................

8

1.5

Ruang Lingkup Penelitian ....................................................................

9

II TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................................

11

2.1

Pertumbuhan Ekonomi .........................................................................

11

2.1.1 Definisi Pertumbuhan Ekonomi dan Pengukurannya ...............

11

2.1.2 Teori Pertumbuhan Ekonomi ....................................................

12

2.1.2.1 Teori Pertumbuhan Harold Domar ................................

12

2.1.2.2 Teori Pertumbuhan Solow .............................................

13

2.1.2.3 Teori Pertumbuhan Endogen ........................................

16

2.2

Konsep dan teori Pengangguran ..........................................................

18

2.3

Teori Ketimpangan Pendapatan ...........................................................

21

2.3.1 Konsep Distribusi Pendapatan ...................................................

21

2.3.2 Pengukuran Ketimpangan Pendapatan ......................................

22

Teori Kemiskinan ..................................................................................

25

2.4.1 Definisi Kemiskinan ..................................................................

25

2.4.2 Pengukuran Kemiskinan di Indonesia .......................................

26

2.4.3 Indikator Kemiskinan ................................................................

27

Kerangka Analitis Hubungan antara Pertumbuhan, Pengangguran,
Ketimpangan dan Kemiskinan .............................................................

29

2.5.1 Model Pembangunan Dua Sektor Lewis ...................................

29

2.5.2 Keterkaitan Pertumbuhan Dengan Ketimpangan ......................

31

2.5.3 Keterkaitan Pertumbuhan, Ketimpangan dan Kemiskinan .......

32

2.5.4 Analisis Poverty Growth Curve (PGC) .....................................

36

2.4

2.5

xiii

2.6

Determinan Pertumbuhan, Pengangguran, Ketimpangan Pendapatan
dan Kemiskinan ...................................................................................

37

2.7

Tinjauan Empiris Penelitian Terdahulu ................................................

39

2.8

Kerangka Pemikiran ............................................................................

43

2.9

Hipotesis Penelitian .............................................................................

44

III METODE PENELITIAN .............................................................................

45

3.1

Jenis dan Sumber Data ........................................................................

45

3.2

Metode Analisis ...................................................................................

46

3.2.1. Analisis Deskriptif ....................................................................

47

3.2.2 Analisis Regresi Data Panel ..........................................................

48

3.2.3 Regresi Data Panel Statis ..........................................................

51

3.2.4 Pemilihan Model (Hausman Test) .............................................

58

3.2.5 Persamaan Simultan dengan Error Component ........................

59

3.2.6 Pengujian Parameter Model ......................................................

60

3.2.7 Pengujian Asumsi .......................................................................

62

3.3

Spesifikasi Model ..................................................................................

63

3.4

Definisi Operasional ..................................................................................

65

IV DINAMIKA PERTUMBUHAN, PENGANGGURAN, DISTRIBUSI
PENDAPATAN DAN KEMISKINAN .......................................................

69

4.1

4.2

4.3

4.4
xiv

Gambaran Umum Provinsi Jawa Tengah ..............................................

69

4.1.1 Karakteristik Wilayah Administrasi............................................

69

4.1.2 Infrastruktur Wilayah .................................................................

70

4.1.3 Karakteristik Perekonomian........................................................

73

4.1.4 Karakteristik Sumber Daya Manusia ..........................................

76

Dinamika Pertumbuhan, Pengangguran, Ketimpangan Pendapatan
dan Kemiskinan ....................................................................................

79

4.2.1 Dinamika Pertumbuhan Ekonomi dan Pendapatan Perkapita ..

79

4.2.2 Dinamika Angkatan Kerja dan Pengangguran ..........................

85

4.2.3 Dinamika Ketimpangan Pendapatan ........................................

88

4.2.4 Dinamika Kemiskinan Provinsi Jawa Tengah ..........................

93

Kuadran Pertumbuhan, Ketimpangan dan Kemiskinan ......................

96

4.3.1 Kuadran Pertumbuhan dengan Ketimpangan ...........................

97

4.3.2 Kuadran Ketimpangan dengan Kemiskinan .............................

98

4.3.3 Kuadran Pertumbuhan dengan Kemiskinan ..............................

99

Analisis Poverty Growth Curve (PGC) ...............................................

101

V HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................... 105
5.1

Model Pertumbuhan Pendapatan Perkapita ......................................... 105

5.2

Model Pencari Kerja/Pengangguran ................................................... 109

5.3

Model Ketimpangan ............................................................................. 113

5.4

Model Kemiskinan ............................................................................... 116

5.5

Simulasi Kebijakan ............................................................................. 120
5.5.1 Validasi Model ........................................................................... 121
5.5.2 Dampak Kenaikan Belanja Pembangunan ................................. 121
5.5.3 Dampak Kenaikan Stok Kapita dan Indeks Harga .................... 124

VI KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................................... 127
`

6.1

Kesimpulan ......................................................................................... 127

6.2

Saran dan Implikasi Kebijakan ............................................................ 128

6.2

Saran Lebih Lanjut ................................................................................ 129

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 130

xv

Halaman ini sengaja dikosongkan

xvi

DAFTAR TABEL
1.

Tingkat Kemiskinan Provinsi Jawa Tengah dan Nasional (Persen) .........

5

2.

Jenis dan Sumber Data dalam Penelitian ...................................................

46

3.

Kriteria Identifikasi Autokorelasi ..............................................................

63

4.

IPM Jawa Tengah Beserta Komponennya, 2004-2010 ..............................

76

5.

Penduduk Usia Kerja Provinsi Jawa Tengah menurut Status
Ketenagakerjaan, 2004-2010 ....................................................................

86

Indeks Ketimpangan Pendapatan (Gini Rasio) Provinsi Jawa Tengah
menurut Wilayah, 2004-2010 ....................................................................

89

Pengeluaran Perkapita Riil per Bulan dan Pertumbuhannya Menurut
Persentil dan Wilayah di Jawa Tengah Tahun 2004 dan 2010 .................

101

8.

Hasil Estimasi Model Pertumbuhan ..........................................................

105

9.

Hasil Estimasi Model Pengangguran ........................................................

110

10.

Hasil Estimasi Model Ketimpangan .........................................................

113

11.

Hasil Estimasi Model Kemiskinan .............................................................

117

12.

Hasil Validasi Variabel Endogen Pada Model Estimasi ...........................

121

13.

Hasil Simulasi Peningkatan Belanja Pembangunan Sebesar 22 Persen ...

122

14.

Hasil Simulasi Peningkatan Rasio Belanja Pembangunan Terhadap APDB

6.
7.

15.

Kabupaten/Kota Sebesar 18 Persen, 20 Persen dan 23 Persen .................

123

Hasil Simulasi Peningkatan Investasi Sebesar 8 Persen (Sim-c) dan
Indeks Harga sebesar 2,68 Persen (Sim-d) ...............................................

125

xvii

Halaman ini sengaja dikosongkan

xviii

DAFTAR GAMBAR
1.

Tingkat Kemiskinan (Head Count Index) dan Persebaran Penduduk
Miskin Menurut Provinsi Tahun 2009 (Persen) .......................................

4

Tingkat Kemiskinan Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Tahun
2010 ...........................................................................................................

6

Kondisi Steady State dan Dampak Kenaikan Tabungan Terhadap
Kondisi Steady State .................................................................................

16

4.

Bagan Pembagian Penduduk Menurut Status Ketenagakerjaan ...............

19

5.

Kekakuan Upah Riil dalam Memengaruhi Pengangguran .........................

20

6.

Kurva Lorenz ............................................................................................

23

7.

Model Pembangunan Dua Sektor Lewis ...................................................

30

8.

Kurva U-Terbalik Hipotesis Kuznets ........................................................

31

9.

Keterkaitan Pertumbuhan dengan Kemiskinan .........................................

33

10.

Segitiga Pertumbuhan, Ketimpangan dan Kemiskinan .............................

34

11.

Perubahan Kemiskinan Akibat Efek Pertumbuhan dan Efek Distribusi ...

35

12.

Kerangka Pemikiran ..................................................................................

43

13.

Ringkasan Prosedur Analisis .....................................................................

46

14.

Estimasi Dengan Pendekatan Pooled Least Square (PLS) .......................

53

15.

Estimasi Dengan Pendekatan Within Group (WG) ...................................

54

16.

Kepadatan Penduduk Provinsi Jawa Tengah Menurut Kabupaten/ Kota
Tahun 2010 (Jiwa/Km2) ............................................................................

69

Infrastruktur Jalan Raya dan Listrik menurut Kabupaten/Kota Jawa
Tengah Tahun 2010 ..................................................................................

71

Boxplot Perkembangan Infrastruktur Jalan Raya dan Listrik menurut
Kabupaten/Kota Jawa Tengah Tahun 2004-2010 .....................................

72

Komposisi PDRB dan Penduduk Bekerja menurut Lapangan Usaha
Tahun 2010 (Persen) ..................................................................................

74

Sektor Dominan dan Pangsa Penduduk Bekerja (Persen) menurut
Lapangan Usaha dan Kabupaten/Kota Tahun 2010 ..................................

75

21.

IPM Jawa Tengah menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010 .........................

77

22.

Komponen IPM menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010 ............................

78

23.

Level PDRB Perkapita Penduduk Jawa Tengah Atas Dasar Harga
Berlaku dan Konstan serta Pertumbuhannya Tahun 2000-2010 ...............

80

Pola Perkembangan PDRB Perkapita Jawa Tengah menurut
Kabupaten/Kota Tahun 2004-2010 (Rp Juta) ............................................

81

2.
3.

17.
18.
19.
20.

24.

xix

25.

Tren Pertumbuhan PDRB Perkapita 2004-2010 (Persen) dan Level
PDRB Perkapita 2004 (Rp Juta) menurut Kabupaten/Kota ......................

82

Pengelompokan Kabupaten/Kota Jawa Tengah Berdasarkan Tipologi
Klassen Tahun 2004 dan 2010 ..................................................................

83

Perubahan Posisi Kuadran Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Berdasarkan
Tipologi Klassen, 2004-2010 ....................................................................

85

Tren TPT 2004-2010 dan Level TPT 2010 menurut Kabupaten/ Kota di
Jawa Tengah ..............................................................................................

87

Indeks Ketimpangan (Gini Rasio) menurut Kabupaten/Kota di Jawa
Tengah Tahun 2004-2010 .........................................................................

91

Tren Ketimpangan Distribusi Pendapatan menurut Kabupaten/Kota,
2004-2010 ..................................................................................................

92

Jumlah Penduduk Miskin Jawa Tengah (000 Jiwa) dan Persentase
Kemiskinan menurut Wilayah, 1999-2010 ...............................................

93

Level Kemiskinan (P 0 ) menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Tahun
2004-2010 (Persen) ..................................................................................

94

Tren Perubahan Kemiskinan menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa
Tengah Tahun 2004-2010 .........................................................................

96

Scatterplot Pertumbuhan Pendapatan Perkapita (Persen) dangan Indeks
Ketimpangan Tahun 2004 dan 2010 ........................................................

97

35.

Scatterplot Ketimpangan dangan Kemiskinan Tahun 2004 dan 2010 .....

99

36.

Scatterplot Pertumbuhan dan Kemiskinan Tahun 2004 dan 2010 ...........

100

37.

Poverty Growth Curve Jawa Tengah Periode 2004-2010 .........................

102

38.

Proporsi Jumlah Penganggur di Jawa Tengah menurut Pendidikan .........

112

39.

Pangsa Konsumsi menurut Kelompok Pengeluaran (Kuintil) di Jawa
Tengah Tahun 2004 dan 2010 ...................................................................

114

Usia Rata-rata Lama Sekolah Penduduk menurut Kelompok Pengeluaran
(Kuintil) di Jawa Tengah Tahun 2010 .......................................................

115

Kurva Distribusi Penduduk menurut Pengeluaran Perkapita di Jawa
Tengah Tahun 2004 dan 2010 ...................................................................

120

26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.

40.
41.

xx

DAFTAR LAMPIRAN
1.

PDRB Perkapita Jawa Tengah menurut Kabupaten/Kota, 2004-2010 .....

135

2.

Tingkat Kesempatan Kerja (TKK) dan Tingkat Pengangguran Terbuka
(TPT) Jawa Tengah menurut Kabupaten/Kota, 2004-2010 (Persen) ........ 136

3.

Indeks Ketimpangan Pendapatan Penduduk Jawa Tengah menurut
Kabupaten/Kota, 2004-2010 ...................................................................... 137

4.

Indeks Ketimpangan Pendidikan di Jawa Tengah menurut Kabupaten/
Kota, 2004-2010 ........................................................................................ 138

5.

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Jawa Tengah menurut
Kabupaten/Kota, 2004-2010 ...................................................................... 139

6.

Rata-rata Usia Lama Sekolah Penduduk Berusia Produktif di Jawa
Tengah menurut Kabupaten/ Kota, 2004-2010 .......................................... 140

7.

Posisi Kuadran Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Berdasarkan Tipologi
Klassen, 2004-2010 ................................................................................... 141

8.

Identifikasi Persamaan Struktural dengan Order Condition ......................

142

9.

Hasil Estimasi Model Pertumbuhan ..........................................................

142

10.

Hasil Estimasi Model Pengangguran ........................................................

143

11.

Hasil Estimasi Model Ketimpangan .........................................................

144

12.

Hasil Estimasi Model Kemiskinan .............................................................

145

13.

Hasil Validasi Model Menggunakan Koefisien Determinasi (R2) .............

146

14.

Hasil Simulasi Peningkatan Belanja Pembangunan Sebesar 22 Persen di
Semua Kabupaten/Kota ............................................................................. 148

15.

Hasil Simulasi Peningkatan Rasio Belanja Pembangunan Terhadap
APBD Kabupaten/Kota Menjadi 18 Persen ............................................... 149

16.

Hasil Simulasi Peningkatan Rasio Belanja Pembangunan Terhadap
APBD Kabupaten/Kota Menjadi 20 Persen Menurut Tipologi Klassen ... 150

17.

Hasil Simulasi Peningkatan Rasio Belanja Pembangunan Terhadap
APBD Kabupaten/Kota Menjadi 23 Persen Menurut Tipologi Klassen ... 151

18.

Hasil Simulasi Peningkatan Investasi Sebesar 8 Persen di Kabupaten/
Kota Menurut Tipologi Klassen ................................................................. 152

19.

Hasil Simulasi Peningkatan Indeks Harga Sebesar 2,68 Persen di
Kabupaten/Kota Menurut Tipologi Klassen .............................................. 153

xxi

Halaman ini sengaja dikosongkan

xxii

I. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Pembangunan merupakan suatu proses perbaikan secara multidimensional

dan berkesinambungan dari suatu masyarakat atau sistem sosial menuju tatanan
kehidupan yang lebih baik. Proses pembangunan tidak sekedar merepresentasikan
aspek ekonomi dalam mengejar akselerasi pertumbuhan, namun memiliki aspek
yang lebih luas yakni menyangkut transformasi struktur perekonomian, sosial dan
kultural, kelembagaan, serta sikap dan mental berfikir masyarakat. Tujuan
terpenting dari proses pembangunan adalah meningkatkan standar kehidupan dan
kesejahteraan masyarakat, mengurangi kemiskinan serta memperluas pilihan
ekonomi dan sosial yang membebaskan masyarakat dari sifat ketergantungan
(Todaro dan Smith, 2006).
Aspek pertumbuhan ekonomi, ketimpangan distribusi pendapatan dan
kemiskinan memiliki hubungan yang sangat kompleks dan saling memiliki
ketergantungan antara yang satu dengan yang lain. Setinggi apapun pendapatan
nasional perkapita dan pertumbuhan yang dicapai oleh suatu negara selama
distribusi pendapatan berjalan tidak merata maka tingkat kemiskinan akan tetap
tinggi. Sebaliknya, meskipun distribusi pendapatan telah berjalan merata jika
pendapatan nasional perkapita dan pertumbuhan rendah maka kemiskinan juga
akan semakin meluas (Todaro dan Smith, 2006). Permasalahan yang terpenting
bukan bagaimana cara menumbuhkan perekonomian, namun bagaimana kualitas
dari pertumbuhan yang dihasilkan. Dalam perspektif yang lebih luas adalah siapa
dan seberapa besar bagian dari penduduk yang terlibat dalam aktivitas
perekonomian serta siapa yang memperoleh manfaat dari hasil pertumbuhan.
Sudah menjadi konsensus bersama bahwa pertumbuhan menjadi syarat
yang diperlukan (necesarry condition) untuk menurunkan kemiskinan, namun
belum menjadi syarat kecukupan (sufficient condition). Pertumbuhan ekonomi
yang berdiri sendiri ibarat pisau yang akan berkurang ketajaman atau manfaatnya
bagi pengentasan kemiskinan (Kakwani et al, 2004). Pengentasan kemiskinan
akan mampu berjalan lebih efektif jika pertumbuhan yang dihasilkan diimbangi

2

dengan kebijakan redistribusi pendapatan, aset, kekayaan serta ketrampilan yang
akan membawa pada kondisi distribusi yang lebih merata (Bourguignon, 2004).
Fenomena umum yang terjadi di negara-negara yang sedang berkembang
(NSB) termasuk Indonesia menunjukkan bahwa aktivitas perekonomian hanya
digerakkan dan dikuasai oleh sebagian kecil dari penduduk, yakni para pemilik
modal. Distribusi kepemilikan aset dan sumber daya yang tidak merata
menyebabkan mayoritas penduduk hanya memiliki peran yang sangat kecil,
bahkan tak jarang keberadaan mereka hanya berfungsi sebagai penonton. Hal ini
sangat berpengaruh terhadap distribusi manfaat yang dihasilkan oleh proses
pembangunan yang belum dapat dinikmati secara merata oleh semua golongan
penduduk.

Penduduk golongan atas masih lebih dominan dalam menerima

manfaat hasil pertumbuhan, sementara mayoritas penduduk golongan bawah
masih belum menerima manfaat secara luas.

Akibatnya permasalahan

kemiskinan, pengangguran, ketimpangan distribusi pendapatan serta diskriminasi
masih terus terjadi dan belum menunjukkan penurunan secara signifikan.
Sejarah mencatat, strategi industrialisasi yang diterapkan pemerintahan
Orde Baru melalui mobilisasi modal asing dan modal penduduk Indonesia yang
berada di luar negeri pada tahap awal menunjukkan hasil yang sangat
mengesankan. Hingga pertengahan dekade 1990-an, Indonesia mampu mencapai
laju pertumbuhan ekonomi per tahun di atas 7 persen. Dalam kurun waktu yang
bersamaan, pertumbuhan mampu mendorong penurunan tingkat kemiskinan dari
33,3 persen di akhir tahun 1978 menjadi 17,47 persen di tahun 1996.
Kebijakan pembangunan yang bersifat sentralistik dan lebih berpihak pada
usaha ekonomi berskala besar menyebabkan pondasi perekonomian menjadi
rapuh. Mekanisme trickle down effect melalui akselerasi pertumbuhan tinggi
yang diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan ketimpangan distribusi
pendapatan kurang menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Distribusi

pendapatan justru bergerak ke arah yang semakin tidak merata.

Puncaknya,

goncangan krisis ekonomi 1997/1998 yang bermula dari krisis nilai tukar mata
uang berdampak luas pada penurunan kinerja perekonomian hingga mengalami
kontraksi atau pertumbuhan negatif sebesar 13 persen. Selama masa krisis, harga
barang dan jasa mengalami kenaikan yang sangat tajam sehingga inflasi pada

3

masa tersebut tercatat sebesar 77,63 persen dan mendorong peningkatan
kemiskinan menjadi 24,23 persen pada tahun 1998.
Permasalahan kemiskinan dan ketimpangan dalam distribusi pendapatan
telah menjadi fokus perhatian masyarakat baik di level nasional maupun
internasional.

Deklarasi Millenium Development Goals (MDGs) pada bulan

September 2000 menempatkan pengentasan kemiskinan dan kelaparan sebagai
tujuan pertama dari delapan butir kesepakatan dalam deklarasi (UNDP, 2003).
Target yang ingin dicapai adalah mengurangi hingga setengah dari jumlah orang
yang berpenghasilan di bawah US $1 sampai US $2 per hari dan mereka yang
menderita kelaparan di akhir tahun 2015.

Guna mendukung tujuan tersebut,

Pemerintah Republik Indonesia menuangkan penanggulangan kemiskinan sebagai
salah satu visi dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005-2025
dan dipertajam dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 20092014 dengan sasaran utama mempercepat penurunan tingkat kemiskinan di level
nasional secara bertahap hingga mencapai 7-10 persen di akhir tahun 2014.
Dalam jangka pendek, strategi pembangunan dituangkan dalam konsep triple track
strategy yakni pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan (pro growth),
penciptaan kesempatan kerja (pro job) dan memberikan manfaat pada kaum miskin
(pro poor).

Pencapaian target MDG’s dan RPJP di level nasional sampai tahun 2011
berada di level 12,36 persen, artinya masih jauh di atas sasaran yang ditetapkan.
Secara bertahap tingkat kemiskinan selama periode 1998-2011 menunjukkan tren
yang semakin menurun dengan dengan rata-rata penurunan 0,394 persen per
tahun.

Namun, jika dibandingkan dengan kinerja perekonomian nasional yang

mampu tumbuh di atas 5 persen per tahun maka penurunan kemiskinan terkesan
berjalan lambat.

Salah satu penyebabnya adalah kompleksitas permasalahan

kemiskinan di level regional yang sangat beragam, tetapi strategi pengentasasan
kemiskinan yang dijalankan masih bersifat sentralistik, serba seragam serta
kurang memperhatikan aspek nilai lokal, budaya dan partisipasi masyarakat.
Gambar 1 mengilustrasikan tingkat kemiskinan dan persebaran populasi
penduduk miskin menurut provinsi di Indonesia pada tahun 2009. Keragaman
permasalahan kemiskinan di level regional ditandai oleh persentase penduduk

4

miskin yang sangat bervariasi antar provinsi. Terdapat beberapa provinsi yang
sudah memiliki level kemiskinan rendah di bawah 10 persen, namun masih
banyak provinsi yang level kemiskinannya di atas 15 persen.
40

HCI
Sebaran Populasi
HCI Nasional

35

Persentase

30
25
20
15
10
5

Jawa Timur

Jawa Barat

Jawa Tengah

Sumut

Lampung

Sumsel

NTT

NTB

NAD

Sulsel

Banten

DIY

Papua

Riau

Sulteng

Sultra

Kalbar

Maluku

Sumbar

Bengkulu

DKI Jakarta

Jambi

Papua Barat

Kaltim

Gorontalo

Bali

Sulut

Kalsel

Kalteng

Kepri

Sulbar

Babel

Maluku Utara

0

Provinsi

Sumber : BPS, 2009

Gambar 1 Tingkat Kemiskinan (Head Count Index) dan Persebaran Penduduk
Miskin Menurut Provinsi, 2009 (Persen)

Salah satu provinsi yang memiliki permasalahan kemiskinan yang cukup
kompleks adalah Jawa Tengah. Berdasarkan data BPS, Jawa Tengah menjadi
salah satu provinsi yang selalu memiliki tingkat kemiskinan (Head Count
Index/HCI) di atas level nasional dan memiliki populasi penduduk miskin (Head
Count/HC) terbanyak kedua setelah Jawa Timur. Hal ini menjadi sangat ironis,
karena secara administratif Jawa Tengah tepat berada di sentral Pulau Jawa yang
dekat dengan pusat perekonomian maupun pusat kekuasaan sehingga menjadi
strategis bagi perkembangan perekonomian.

Dengan lokasi geografis yang

strategis karena menjadi penghubung perdagangan dari Bagian Timur dan Barat
Pulau Jawa dan dukungan infrastruktur fisik yang relatif lebih baik dibandingkan
dengan provinsi lainnya di luar Pulau Jawa, Jawa Tengah justru menjadi wilayah
yang memiliki populasi penduduk miskin sangat besar.
Jumlah penduduk miskin Jawa Tengah pada tahun 2011 tercatat sebanyak
5,26 juta jiwa atau 16,21 persen dari populasi penduduk (Tabel 1). Dengan
jumlah penduduk miskin secara nasional sebanyak 29,89 juta jiwa (12,36 persen),
maka sebanyak 17,58 persen dari populasi penduduk miskin terdapat di Jawa
Tengah.

Pencapaian target MDGs dan RPJP di level Provinsi Jawa Tengah

5

sampai tahun 2011 juga masih jauh di atas sasaran secara nasional. Tingkat
kemiskinan selama periode 1999-2011 menunjukkan tren yang menurun dengan
rata-rata penurunan sebesar 0,359 persen per tahun. Dibandingkan dengan tren
penurunan kemiskinan di level nasional yang mencapai 0,394 persen maupun
kinerja perekonomian Jawa Tengah yang mampu tumbuh di atas 5 persen per
tahun, maka penurunan kemiskinan berjalan jauh lebih lambat.

Lambatnya

pengentasan kemiskinan disebabkan oleh pencapaian pertumbuhan yang tinggi
belum dikompensasi oleh perbaikan dalam distribusi pendapatan. Selama periode
tersebut, ketidakmerataan pendapatan yang diukur dengan Gini rasio nilainya
berfluktuasi dan semakin meningkat dari 0,2524 di tahun 2001 menjadi 0,3087 di
tahun 2010.
Tabel 1 Tingkat Kemiskinan Provinsi Jawa Tengah dan Nasional (Persen)
Jawa Tengah
Tahun

Jawa Tengah
Nasional

K

D

K+D

1996

20,67

22,05

21,61

17,47

1999

27,80

29,05

28,46

2002

20,50

24,96

2003

19,66

2004
2005

Tahun

Nasional
K

D

K+D

2006

18,90

25,28

22,19

17,75

23,43

2007

17,23

23,45

20,43

16,58

23,06

18,20

2008

16,34

21,96

19,23

15,42

23,19

21,78

17,42

2009

15,41

19,89

17,72

14,15

17,52

23,64

21,11

16,66

2010

14,33

18,66

16,56

13,33

17,24

23,57

20,49

15,97

2011

14,67

17,50

16,21

12,36

-0,394

-0,331

-0,359

-0,394

Rata-rata Penurunan per Tahun (Persen)
Keterangan : K = Dearah Perkotaan; D = Daerah Perdesaan
Sumber : Data dan Informasi Kemiskinan 2002-2010, BPS

Permasalahan kemiskinan di Jawa Tengah menjadi semakin kompleks,
karena alokasi sumber daya ekonomi, kualitas infrastruktur perekonomian dan
sumber daya manusia tidak tersebar secara merata di level kabupaten/kota
maupun antar daerah perkotaan dan perdesaan. Di satu sisi, terdapat beberápa
daerah yang menjadi pusat konsentrasi perekonomian sehingga mampu tumbuh
dan berkembang lebih maju. Di sisi lain, masih terdapat beberapa daerah yang
perekonomiannya belum berkembang dan masih terbelakang. Ketidakmerataan
tersebut juga berpengaruh terhadap keragaman dalam kinerja perekonomian
maupun kesejahteraan penduduk antar wilayah.

Pola dan karakteristik

6

kemiskinan antar wilayah menjadi sangat beragam, meskipun keragaman dalam
pola kemiskinan juga dipengaruhi oleh faktor yang lain seperti kondisi sosial
budaya, politik, tata kelola pemerintahan maupun kondisi geografis.
Gambar 2 mengilustrasikan keragaman pola kemiskinan antar kabupaten/
kota di Jawa Tengah pada tahun 2010. Berdasarkan Gambar 2, terdapat tujuh
kabupaten/kota yang memiliki tingkat kemiskinan sekitar 10 persen, artinya sudah
mendekati sasaran MDGs dan RPJP.

Ketujuh daerah tersebut adalah Kota

Semarang, Kota Salatiga, Kota Pekalongan, Kota Tegal, Kabupaten Semarang,
Kudus dan Jepara.

Sebaliknya, masih terdapat delapan kabupaten yakni

Banyumas, Purbalingga, Kebumen, Wonosobo, Rembang, Pemalang, Brebes dan
Banjarnegara yang memiliki tingkat kemiskinan yang di atas 20 persen dan masih
jauh di atas sasaran MDGs maupun RPJP.

Tingkat Kemiskinan (Persen)

30
25
20

Tingkat Kemiskinan Jawa Tengah
15
10
5

Cilacap
Banyumas
Purbalingga
Banjarnegara
Kebumen
Purworejo
Wonosobo
Magelang
Boyolali
klaten
Sukoharjo
Wonogiri
Karanganyar
Sragen
Grobogan
Blora
Rembang
Pati
Kudus
Jepara
Bemak
Semarang
Temanggung
Kendal
Batang
Pekalongan
Pemalang
Tegal
Brebes
Kota Magelang
Kota Surakarta
Kota Salatiga
Kota Semarang
Kota Pekalongan
Kota Tegal

0

Kabupaten/Kota

Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah, 2010

Gambar 2 Tingkat Kemiskinan Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah, 2010

1.2

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, terdapat beberapa permasalahan yang

diidentifikasi terkait dengan fenomena kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah.
Pertama, tingkat kemiskinan di level provinsi dan beberapa kabupaten masih
sangat tinggi dan penurunannya berjalan lambat meskipun pertumbuhan ekonomi
yang dicapai sudah cukup tinggi (di atas 5 persen per tahun). Kedua, distribusi
pendapatan pada level provinsi bergerak semakin timpang/tidak merata, artinya
pertumbuhan yang dihasilkan semakin tidak berpihak pada golongan penduduk

7

berpendapatan rendah. Ketiga, terdapat keragaman yang cukup mencolok dalam
potensi ekonomi, infrastruktur dan sumber daya manusia antar kabupaten/kota
yang menyebabkan pola dan karakteristik kemiskinan antar wilayah menjadi
sangat beragam. Kemiskinan di kawasan perdesaan cenderung lebih tinggi
dibandingkan dengan kawasan perkotaan dan penurunannya juga berjalan lebih
lambat. Kemiskinan di daerah yang berstatus kabupaten juga cenderung lebih
tinggi dari daerah yang berstatus kota.
Keterkaitan antara pertumbuhan, ketimpangan pendapatan dan kemiskinan
menjadi topik penelitian yang banyak dikaji secara lintas negara maupun lintas
regional dalam suatu negara. Beberapa penelitian sebelumnya (Wodon, 1999;
Ravallion, 2001; Dollar dan Kraay, 2002; Hajiji, 2010) menyimpulkan tidak ada
trade-off atau hubungan yang sistematis antara pertumbuhan pendapatan perkapita
dengan ketimpangan distribusi pendapatan. Meskipun pendapatan perkapita
secara-rata-rata meningkat, distribusi tidak mengalami perubahan secara
signifikan. Artinya pertumbuhan lebih bersifat netral atau secara proporsional
sama untuk semua golongan penduduk. Distribusi pendapatan yang tidak berubah
tidak identik dengan tidak ada penurunan dalam kemiskinan. Tingkat kemiskinan
tetap mengalami penurunan, namun tingkat kecepatan dalam penurunannya
menjadi berkurang.
Beberapa

penelitian

sebelumnya

mengkaji

keterkaitan

antara

pertumbuhan, ketimpangan dan kemiskinan dengan membandingkan nilai
elastisitas kemiskinan terhadap pertumbuhan, elastisitas ketimpangan terhadap
pertumbuhan dan elastisitas kemiskinan terhadap ketimpangan. Secara eksplisit,
penelitian tersebut belum mengkaji determinan apa yang mendorong pertumbuhan
pendapatan perkapita, perluasan kesempatan kerja maupun determinan yang
menyebabkan perubahan dalam distribusi pendapatan dengan tujuan akhir
pengentasan kemiskinan. Bertolak dari hal tersebut, maka penelitian mengenai
keterkaitan antara pertumbuhan, pengangguran, ketimpangan dan kemiskinan
disertai dengan identifikasi determinan dari masing-masing variabel menjadi
menarik untuk dilakukan pada level regional Jawa Tengah.
Beberapa permasalahan yang dianalisis dalam penelitian dirumuskan
sebagai berikut:

8

1. Bagaimana dinamika pertumbuhan, pengangguran, ketimpangan pendapatan
dan kemiskinan antar waktu dan antar kabupaten/kota di Provinsi Jawa
Tengah?
2. Mengapa penurunan kemiskinan berjalan lambat dan bagaimana keterkaitan
antara pertumbuhan, distribusi pendapatan dengan penurunan kemiskinan di
Provinsi Jawa Tengah?
3. Determinan apa saja yang memengaruhi pertumbuhan pendapatan perkapita,
kesempatan kerja/pengangguran, ketimpangan pendapatan dan bagaimana
pengaruhnya bagi pengentasan kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah?
1.3

Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah maka beberapa tujuan

yang ingin dicapai melalui penelitian tesis dirumuskan sebagai berikut:
1.

Menganalisis dinamika pertumbuhan ekonomi, pengangguran, ketimpangan
pendapatan dan kemiskinan antar waktu dan antar wilayah di Jawa Tengah
menggunakan análisis tren dan análisis kuadran.

2.

Menganalisis keterkaitan antara pertumbuhan, distribusi pendapatan dan
kemiskinan di Jawa Tengah dengan análisis Poverty Growth Curve (PGC).

3.

Menganalisis determinan yang memengaruhi pertumbuhan, pengangguran,
ketimpangan

pendapatan

dan

besarnya

pengaruh

bagi

pengentasan

kemiskinan di Jawa Tengah menggunakan model ekonometrika serta
menganalisis dampak penerapan beberapa skenario kebijakan melalui
peningkatan belanja pembangunan, investasi dan perubahan indeks harga.
1.4

Manfaat Penelitian
Beberapa manfaat yang diharapkan dapat diperoleh melalui penelitian

adalah sebagai berikut:
1.

Informasi mengenai dinamika pertumbuhan, pengangguran, ketimpangan
pendapatan dan kemiskinan menggunakan analisis tren dan kuadran berguna
untuk membandingkan tingkat kemajuan dalam pencapaian penanggulangan
kemiskinan antar waktu dan antar wilayah sebagai bahan perencanaan dan
evaluasi kebijakan penanggulangan kemiskinan.

9

2.

Informasi mengenai PGC berguna untuk mengetahui distribusi manfaat hasil
pertumbuhan bagi semua golongan penduduk, sehingga berguna sebagai
bahan evaluasi dalam menentukan arah dan orientasi pembangunan agar lebih
berpihak kepada golongan penduduk miskin.

3.

Informasi mengenai determinan yang menjadi sumber pertumbuhan,
pengangguran, ketimpangan dan pengaruhnya bagi pengentasan kemiskinan
sangat berguna sebagai bahan evaluasi kebijakan dan penentuan sasaran/
fokus kebijakan selanjutnya.

1.5

Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup análisis hanya mencakup tiga hal. Pertama, mengkaji

dinamika pertumbuhan pendapatan perkapita, pengangguran, ketimpangan
pendapatan dan kemiskinan antar waktu dan antar wilayah. Kedua, mengkaji
keterkaitan antara pertumbuhan dan distribusi pendapatan dengan pengentasan
kemiskinan.

Ketiga, menggali informasi mengenai determinan pertumbuhan,

ketimpangan, pengangguran dan pengaruhnya bagi pengentasan kemiskinan
melalui model ekonometrika serta melakukan simulasi menggunakan beberapa
skenario kebijakan.
Lingkup wilayah mencakup semua kabupaten/kota di Jawa Tengah yang
terdiri dari 28 kabupaten dan 5 kota. Lingkup waktu análisis selama periode
2004-2010, disesuaikan dengan ketersediaan data pokok mengenai kemiskinan
sampai level kabupaten/kota. Keterbatasan dari penelitian hanya mengkaji
permasalahan dari aspek ekonomi dan belum memasukkan aspek non-ekonomi.
Keterbatasan yang lainnya menyangkut aspek tidak tersedianya data dari beberapa
variabel, sehingga digunakan data yang lain proksi atau pendekatan.

10

Halaman ini sengaja dikosongkan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pertumbuhan Ekonomi

2.1.1

Definisi Pertumbuhan Ekonomi dan Pengukurannya
Pertumbuhan ekonomi dalam perspektif ekonomi makro didefinisikan

sebagai penambahan nilai PDB riil dari waktu ke waktu, atau dapat juga diartikan
sebagai meningkatnya kapasitas perekonomian suatu wilayah (Dornbusch et al,
2008). Dalam kerangka regional, konsep PDB identik dengan Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB). Nilai PDB atau PDRB dapat dihitung melalui tiga
pendekatan, yakni pendekatan produksi, pendapatan dan pengeluaran (Dornbusch
et al, 2008). Pendekatan produksi dan pendapatan merupakan pen

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

The Linkage Between Growth, Unemployment and Income Inequality on Poverty in Central of Java Province, 2004-2010