Collaborative management model of inland water in Rawa Pening Lake Central Java Province

i

MODEL PENGELOLAAN KOLABORATIF PERAIRAN
UMUM DARATAN DI DANAU RAWA PENING
PROVINSI JAWA TENGAH

PARTOMO

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI
DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Model Pengelolaan
Kolaboratif Perairan Umum Daratan di Danau Rawa Pening Provinsi Jawa
Tengah adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum
diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Pebruari 2012

Partomo
NRP P062050311

3

ABSTRACT
PARTOMO. Collaborative Management Model of Inland Water in Rawa Pening
Lake
Central
Java
Province.
Under
supervision
of
SJAFRI
MANGKUPRAWIRA, AIDA VITAYALA S. HUBEIS and LUKY ADRIANTO.
Rawa Pening Lake is an aquatic ecological system which plays important
social role for surrounding residents. Disregarding involvement of surrounding
residents and stakeholders in managing the lake may result in conflicting
utilization of resources. Managing the lake based on collaborative management
involving all stakeholders will facilitate to create self-governance that pay off all
of the stakeholders. This research is intended to formulate strategic policy in
managing lake based on collaborative management. The research was conducted
in 4 villages using several method of sampling. Data analysis includes
stakeholders analysis, vulnerability analysis, resilience, and interpretative
structural modelling analysis. The results confirm that surrounding residents
depended on Rawa Pening Lake resources. The finding also shows that
Kecamatan Tuntang has the highest vulnerability index caused by population
pressure and degraded built land. Key success factors in collaborative
management of Rawa Pening Lake are involving fishermen, managing conflict
and empowerment of lake resource users, and the regulatory roles of Central
Government and Central Java Provincial Government. Furthermore, necessary
activities needed in upwarding lake collaborative management are education and
training for capacity building, besides enhancing coordination among
stakeholders.
Key words: lake, stakeholders, collaborative management

4

RINGKASAN
PARTOMO. Model Pengelolaan Kolaboratif Perairan Umum Daratan di Danau
Rawa Pening Provinsi Jawa Tengah. Dibimbing oleh SJAFRI
MANGKUPRAWIRA, AIDA VITAYALA S. HUBEIS dan LUKY ADRIANTO.
Danau Rawa Pening merupakan sebuah sistem ekologi yang mempunyai
peran sosial bagi masyarakat sekitarnya. Fungsi ekologi danau mulai terancam
oleh berbagai tekanan, baik yang bersifat alamiah maupun antropogenik. Kondisi
ini menjadikan ekosistem danau sebagai sistem yang rentan terhadap gangguan
atau tekanan yang bersifat eksternal. Kegiatan pemanfaatan sumberdaya danau
semakin meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk di sekitar
danau. Kondisi ini dapat mengancam keberadaan danau sebagai ekosistem
penyangga kehidupan dan penyedia langsung mata pencaharian bagi masyarakat
sekitar danau. Dalam hal ini, masyarakat sekitar Danau Rawa Pening
menggantungkan hidupnya terkait dengan mata pencaharian, terutama untuk
kegiatan perikanan tangkap, perikanan budidaya, dan pertanian. Potensi
sumberdaya perikanan danau menjadi kompleks dengan semakin tingginya
eksploitasi sumberdaya perikanan.
Pengelolaan Danau Rawa Pening bersifat multi stakeholders yang
melibatkan peran banyak pihak. Model pengelolaan sentralistik dengan mereduksi
peran masyarakat pemanfaat sumberdaya telah mengakibatkan pengelolaan danau
tidak efisien. Sebaliknya, pendekatan pengelolaan berbasis masyarakat tidak dapat
menjamin keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya. Ketidakseimbangan distribusi
peran antara pemerintah dan masyarakat telah mengakibatkan konflik
pemanfaatan sumberdaya dan kerusakan ekosistem danau. Hal ini yang menjadi
latar belakang pentingnya pendekatan pengelolaan kolaboratif untuk memperbaiki
sistem pengelolaan Danau Rawa Pening.
Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi tingkat kebergantungan
masyarakat terhadap Danau Rawa Pening, (2) menganalisis tingkat kerentanan
masyarakat sekitar Danau Rawa Pening, (3) menganalisis tingkat resiliensi
masyarakat sekitar Danau Rawa Pening, serta (4) merancang model pengelolaan
kolaboratif di Danau Rawa Pening. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil
empat desa sampel yang ditentukan secara purposive sampling, yaitu Desa
Tuntang, Desa Rowoboni, Desa Kebondowo, dan Desa Bejalen. Responden
masyarakat, pejabat pemerintah, pelaku usaha, akademisi, LSM, dan responden
pakar dilibatkan dalam penelitian ini. Data primer dan sekunder dianalisis
menggunakan analisis stakeholders, analisis kerentanan, analisis resiliensi, dan
interpretative structural modelling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis mata pencaharian masyarakat
yang bergantung pada sumberdaya alam adalah sektor perikanan dan pertanian.
Masyarakat nelayan dan petani memiliki tingkat kebergantungan yang sangat
tinggi terhadap sumberdaya danau. Masyarakat dengan tingkat pendapatan tinggi
memiliki tingkat kebergantungan yang rendah terhadap sumberdaya danau.
Semakin tinggi tingkat kebergantungan masyarakat terhadap sumberdaya danau,
maka akan meningkatkan peranserta masyarakat dalam pengelolaan danau.
Hasil analisis kerentanan menunjukkan bahwa kerentanan pertumbuhan
populasi penduduk tertinggi adalah di Kecamatan Bawen (12,48). Kerentanan

5
degradasi lahan terbangun tertinggi adalah di Kecamatan Ambarawa (23,10).
Selanjutnya kerentanan keterbukaan ekonomi tertinggi adalah di Kecamatan
Tuntang (24,54). Hasil standarisasi masing-masing variabel kerentanan
menunjukkan bahwa Kecamatan Tuntang memiliki komposit indeks kerentanan
tertinggi (0,72), sehingga dapat dikategorikan pada wilayah yang memiliki tingkat
kerentanan tinggi.
Kebijakan dalam peningkatan resiliensi masyarakat sekitar Danau Rawa
Pening adalah (1) pengembangan usaha kecil untuk meningkatkan pendapatan
masyarakat, (2) penegakan hukum terhadap pelanggaran kawasan, (3) konservasi
tanah dan rehabilitasi lahan, (4) penatagunaan dan pendayagunaan lahan
berdasarkan keseimbangan dan kelestarian lingkungan, (5) pengaturan alat
tangkap atau jaring nelayan, (6) melarang penggunaan bahan peledak, stroom, dan
racun dalam menangkap ikan, (7) normalisasi kawasan Danau Rawa Pening,
(8) pengembangan obyek wisata berbasis masyarakat nelayan, (9) pemberdayaan
masyarakat, serta (10) memelihara kelestarian daerah tangkapan air.
Hasil analisis stakeholders menunjukkan, bahwa masyarakat pemanfaat
sumberdaya yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Sedyo Rukun memiliki
tingkat kepentingan tinggi dalam pemanfaatan sumberdaya, akan tetapi memiliki
tingkat pengaruh yang rendah dalam penentuan kebijakan pengelolaan. Pemeritah
Pusat dan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah merupakan kelompok
stakeholders yang memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang sama tinggi
dalam proses penentuan kebijakan. Tingkat kepentingan yang tinggi terkait
dengan aspek pengelolaan danau yang menjadi kewenangannya. Selanjutnya
tingkat pengaruh yang tinggi terkait dengan peran penting dalam mengorganisir
kegiatan pengelolaan Danau Rawa Pening.
Elemen kunci dalam menyusun kebijakan pengelolaan kolaboratif adalah
(1) kelompok masyarakat yang terpengaruh dengan peubah kunci masyarakat
nelayan, (2) kendala utama dalam pengelolaan dengan peubah kunci konflik
kepentingan dalam pemanfaatan sumberdaya, (3) tujuan pengelolaan dengan
peubah kunci pemberdayaan masyarakat pemanfaat sumberdaya, (4) lembaga
yang terlibat dengan peubah kunci Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
Provinsi Jawa Tengah, serta (5) aktivitas dalam pengembangan pengelolaan
kolaboratif dengan peubah kunci melakukan pendidikan dan latihan untuk
meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia, serta meningkatkan koordinasi
antar stakeholders yang terlibat dalam pengelolaan.
Implikasi kebijakan dari hasil penelitian ini adalah (1) interaksi antara
masyarakat dan danau merupakan hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Untuk
melestarikan sumberdaya danau dapat dibangun melalui pengelolaan kolaboratif,
(2) pengambil keputusan dapat mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi, dan
sosial untuk pengembangan wilayah Kecamatan Tuntang dan Ambarawa,
(3) pemberdayaan masyarakat melalui penguatan modal sosial dan kelembagaan
lokal merupakan bagian utama dalam perbaikan sistem ketahanan masyarakat,
(4) pemberdayaan masyarakat pemanfaat sumberdaya dimaksudkan untuk
meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia agar memiliki peran dalam
penentuan kebijakan, serta (5) lembaga Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
Provinsi Jawa Tengah dapat berperan sebagai fasilitator dan koordinator dalam
pengelolaan kolaboratif di Danau Rawa Pening.
Kata kunci: danau, stakeholders, manajemen kolaboratif

6

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2012
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.

7

MODEL PENGELOLAAN KOLABORATIF PERAIRAN
UMUM DARATAN DI DANAU RAWA PENING
PROVINSI JAWA TENGAH

PARTOMO

Disertasi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor
pada
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

8

Penguji pada Ujian Tertutup: Dr. Ir. Abdul Kohar I, M.Sc.
Dr. Ir. Anna Fatchiya, M.Si.
Penguji pada Ujian Terbuka: Dr. Ir. Etty Riani, M.S.
(Departemen Menajemen Sumberdaya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut
Pertanian Bogor).
Dr. Ir. Siti Amanah, M.Sc.
(Departemen Komunikasi dan Pengembangan
Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia Institut
Pertanian Bogor).

9
Judul Disertasi : Model Pengelolaan Kolaboratif Perairan Umum Daratan di
Danau Rawa Pening Provinsi Jawa Tengah
Nama
: Partomo
NRP
: P 062050311
Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Disetujui
Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Sjafri Mangkuprawira
Ketua

Prof. Dr. Ir. Aida Vitayala S. Hubeis
Anggota

Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc.
Anggota

Diketahui
Ketua Program Studi Pengelolaan
Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, M.S.

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr.

Tanggal Ujian: 25 Januari 2012

Tanggal Lulus: 29 Pebruari 2012

10

Saya persembahkan karya ini kepada:
Bapak Saroyo (alm) dan Ibu Sutari (alm)
Kakak dan adik-adik tercinta

11

PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala
rahmat dan karunia-Nya sehingga disertasi ini dapat diselesaikan. Topik dalam
penelitian ini adalah kebijakan pengelolaan danau dengan judul penelitian Model
Pengelolaan Kolaboratif Perairan Umum Daratan di Danau Rawa Pening Provinsi
Jawa Tengah.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Ir. Sjafri Mangkuprawira, selaku ketua komisi pembimbing atas
perhatian tulus yang telah dicurahkan kepada penulis selama proses
pembimbingan, sejak penyusunan usulan penelitian, pelaksanaan penelitian
sampai penyusunan disertasi ini. Berkat bimbingan, kesabaran dan ketulusan
beliau, penulis dapat menyelesaikan disertasi ini dengan baik.
2. Prof. Dr. Ir. Aida Vitayala S. Hubeis, selaku anggota komisi pembimbing atas
segala arahan dan bimbingan selama penyusunan disertasi ini. Berkat
dukungan semangat, motivasi, dan kesabaran beliau, penulis termotivasi untuk
dapat menyelesaikan disertasi ini.
3. Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc, selaku anggota komisi pembimbing atas segala
arahan dan bimbingan selama penyusunan disertasi ini. Berkat dorongan
semangat, perhatian, dan kesabaran beliau, penulis termotivasi untuk
menyelesaikan disertasi ini.
4. Rektor Institut Pertanian Bogor dan Dekan Sekolah Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk
mengikuti pendidikan pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
Lingkungan.
5. Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, M.S, selaku Ketua Program Studi Pengelolaan
Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB yang telah memberikan arahan dalam
proses penyusunan disertasi dan penyelesaian studi.
6. Dr. Ir. M. Yanuar J. Purwanto, M.S dan Dr. Ir. Siti Amanah, M.Sc. yang telah
berkenan menjadi penguji luar komisi pada ujian prelim.
7. Dr. Ir. Abdul Kohar I, M.Sc dan Dr. Ir. Anna Fatchiya, M.Si. yang telah
berkenan menjadi penguji luar komisi pada ujian tertutup.

12
8. Dr. Ir. Etty Riani, M.S dan Dr. Ir. Siti Amanah, M.Sc yang telah berkenan
menjadi penguji luar komisi pada ujian terbuka.
9. Kepala Bappeda Provinsi Jawa Tengah, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber
Daya Air Provinsi Jawa Tengah, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pemali
Juana, Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Air Jragung Tuntang, Kepala
Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, dan Kepala Dinas
Peternakan dan Perikanan Kabupaten Semarang yang telah memberikan
pendapat dan masukan mendasar selama penelitian.
10. Kepala Desa Tuntang, Banyubiru, Kebondowo, dan Bejalen beserta segenap
masyarakatnya atas bantuan dan informasi selama pengumpulan data.
11. Ketua Kelompok Nelayan Sedyo Rukun beserta seluruh anggota kelompok
atas bantuan dan informasi selama pengumpulan data.
12. Kedua orang tua, Saroyo (alm) dan Sutari (alm), kakak dan adik tercinta atas
do’a dan segala dukungannya.
13. Seluruh teman mahasiswa Program Studi PSL-IPB atas segala saran dan
masukannya selama penyusunan disertasi ini.
Semoga hasil penelitian ini bermanfaat dan memberikan kontribusi
terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di bidang pengelolaan sumberdaya
alam dan lingkungan, khususnya pemberdayaan masyarakat, pengelolaan
kolaboratif, dan studi lingkungan.
Bogor, Pebruari 2012

Partomo

13

RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir di Klaten, Jawa Tengah pada tanggal 10 September 1966,
sebagai anak kedua dari pasangan Saroyo (alm) dan Sutari (alm). Pada Tahun
1992, penulis menyelesaikan pendidikan S1 pada Fakultas Hukum Universitas
Sebelas Maret Surakarta, dan pada Tahun 2004 menyelesaikan pendidikan S2 di
Program Studi Magister Manajemen Agribisnis, Sekolah Pascasarjana IPB.
Selanjutnya pada Tahun 2005 penulis menempuh pendidikan S3 pada Program
Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Sekolah Pascasarjana IPB.
Sejak Tahun 2005, penulis bekerja pada Yayasan Sukabumi Berkah Abadi
di Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Sebelumnya penulis pernah bekerja pada
perusahaan

perkebunan

PT.

Matahari

Kahuripan

Indonesia

di

Jakarta

(1997–2002), dan perusahaan jasa konsultan bidang lingkungan hidup PT. Trisida
Pantau di Bogor (1992–1996).
Publikasi ilmiah selama mengikuti pendidikan S3 adalah Formulasi
Strategi Pengembangan Ekowisata di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
telah diterbitkan pada Jurnal Ekologia Volume 6, No.1, April 2006. Artikel-artikel
lain berjudul (1) Pengelolaan Danau Berbasis Co-management: Kasus Rawa
Pening diterbitkan pada Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan
Volume 1, No.2, Desember 2011, dan (2) Ketergantungan dan Kerentanan
Masyarakat terhadap Sumberdaya Danau: Kasus Danau Rawa Pening diterbitkan
pada Jurnal Media Konservasi Volume 16, No.3, Desember 2011 merupakan
bagian dari disertasi ini.

14

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

Halaman
....................................................................................... xv

DAFTAR GAMBAR

................................................................................... xvii

DAFTAR LAMPIRAN

................................................................................ xix

I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

............................................................................

1.2 Perumusan Masalah

1

....................................................................

3

.......................................................................

7

1.4 Kegunaan Penelitian

...................................................................

7

1.5 Kebaruan Penelitian

...................................................................

7

1.3 Tujuan Penelitian

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perairan Umum Daratan

.............................................................

2.2 Sistem Sosial-Ekologi Danau

9

.....................................................

10

........................................................

12

................................................................

13

2.5 Konflik dalam Pemanfaatan Sumberdaya Alam .........................

15

2.3 Kerentanan (Vulnerability)
2.4 Resiliensi (Resilience)

2.6 Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasis Ko-manajemen
(Pengelolaan Kolaboratif)

.........................................................

17

2.7 Pengetahuan Lokal sebagai Prasarat Ko-manajemen
(Pengelolaan Kolaboratif)

.........................................................

2.8 Konsep Pemberdayaan Masyarakat

...........................................

2.9 Peranan Modal Sosial dalam Pemberdayaan Masyarakat

28

.........

30

..................................................

31

....................................................................................

35

2.10 Kerangka Pemikiran Penelitian
2.11 Hipotesis

25

2.12 Penelitian Terdahulu

..................................................................

35

III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2 Rancangan Penelitian

.....................................................

39

.................................................................

39

3.3 Jenis Data dan Metode Pengumpulan Data
xiii

................................

39

15
3.4 Metode Penentuan Wilayah Sampel

...........................................

40

...................................................

41

3.6 Metode Analisis Data

.................................................................

43

3.7 Definisi Operasional

...................................................................

50

3.5 Metode Penentuan Responden

IV KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN
4.1 Kondisi Fisik Danau Rawa Pening

............................................

4.2 Kondisi Perikanan Danau Rawa Pening

....................................

57

.........................................

60

...............................................

64

4.3 Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat
4.4 Pengelolaan Danau Rawa Pening

53

V KEBERGANTUNGAN DAN KERENTANAN MASYARAKAT
TERHADAP SUMBERDAYA DANAU
5.1 Kebergantungan Masyarakat terhadap Danau Rawa Pening

.....

70

5.2 Kerentanan Masyarakat sekitar Danau Rawa Pening

.................

74

5.3 Resiliensi Masyarakat sekitar Danau Rawa Pening

..................

80

VI KEBIJAKAN PENGELOLAAN KOLABORATIF DI DANAU
RAWA PENING
6.1 Indentifikasi Stakeholders dalam Pengelolaan Danau Rawa
Pening

.........................................................................................

6.2 Kebijakan Pengelolaan Kolaboratif di Danau Rawa Pening
6.3 Implikasi Keilmuan

.....

86
91

.................................................................... 112

VII SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan

.................................................................................... 115

7.2 Implikasi Kebijakan .................................................................... 116
7.3 Saran Penelitian

.......................................................................... 118

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... 119
LAMPIRAN

........................................................................................ 126

xiv

16

DAFTAR TABEL
Halaman
1 Tindakan skala lokal dalam peningkatan resiliensi sistem sosialekologi terkait kerentanan sumberdaya perikanan

................................

12

2 Karakteristik perbedaan antara pengelolaan berbasis masyarakat,
ko-manajemen, dan pengelolaan berbasis negara

................................

3 Peran stakeholders kunci dalam pengelolaan kolaboratif

19

.......................

24

..........................................................................................

36

4 Rekapitulasi penelitian sejenis yang pernah dilakukan,
Tahun 2010

5 Jumlah responden dari stakeholders pemerintah, Tahun 2010
6 Pola Pemanfaatan perairan Danau Rawa Pening, Tahun 2009

............

42

...............

54

7 Alokasi dana pengelolaan Danau Rawa Pening Tahun 2004 – 2008

......

55

..............................................................................................................

60

8 Kondisi demografi desa inti di sekitar Danau Rawa Pening,
Tahun 2009

9 Distribusi pendapatan responden di sekitar Danau Rawa Pening,
Tahun 2010

............................................................................................

62

10 Distribusi PDRB Kabupaten Semarang berdasarkan harga konstan
(Tahun 2000)

.........................................................................................

63

11 Proporsi aspek kunci dalam peraturan perundangan yang terkait
dengan pengelolaan Danau Rawa Pening, Tahun 2010

..........................

64

12 Nilai indeks pertumbuhan populasi penduduk di sekitar Danau
Rawa Pening, Tahun 2010

...................................................................................

75

13 Nilai indeks degradasi lahan terbangun di sekitar Danau Rawa
Pening, Tahun 2010

..............................................................................

76

14 Nilai indeks keterbukaan ekonomi di sekitar Danau Rawa Pening,
Tahun 2010

............................................................................................

77

15 Nilai komposit indeks kerentanan masyarakat di sekitar Danau
Rawa Pening, Tahun 2010

.....................................................................

78

16 Tindakan untuk meningkatkan resiliensi terkait kerentanan Danau
Rawa Pening, Tahun 2010

.....................................................................

81

17 Penilaian kriteria dalam memelihara keanekaragaman dalam
konteks sistem ekologi Danau Rawa Pening, Tahun 2010

xv

.....................

82

17
18 Penilaian kriteria pengembangan modal sosial dan kelembagaan
lokal yang sudah memiliki legitimasi

.....................................................

83

19 Peubah kunci sistem pengelolaan kolaboratif Danau Rawa Pening,
Tahun 2010

............................................................................................

xvi

92

18

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Identifikasi permasalahan dalam pengelolaan Danau Rawa Pening
dengan kerangka DPSIR (Sulistiawati 2011)

.......................................

6

2 Variasi ko-manajemen menurut peran pemerintah dan pelaku
pemanfaat sumberdaya (Pomeroy dan Rivera-Guieb 2006)

.................

21

....................................................................................

22

3 Aliran fungsional pentingnya ko-manajemen perikanan
(Adrianto 2007)

4 Perubahan rejim pengelolaan perikanan di Indonesia (Adrianto
2007)

.....................................................................................................

23

5 Kerangka pemikiran konseptual

............................................................

33

6 Kerangka pemikiran operasional

..........................................................

34

7 Matriks hasil analisis stakeholders (Grimble dan Chan 1995)
8 Tahapan analisis resiliensi (Walker et al. 2002)

...............

44

....................................

47

9 Jumlah produksi ikan di Danau Rawa Pening, Tahun 2007

....................

58

10 Jumlah produksi ikan menurut jenis ikan di Danau Rawa Pening,
Tahun 2007

............................................................................................

59

11 Sebaran penduduk desa sampel berdasarkan jenis mata pencaharian,
Tahun 2010

..............................................................................................................

61

12 Perceived value of dependency terkait dengan jenis mata
pencaharian penduduk di sekitar Rawa Pening, Tahun 2010 (n = 69)

...

71

.............

72

...........

73

15 Nilai komposit indeks kerentanan, Tahun 2010 ......................................

79

13 Perceived value of dependency terkait dengan tingkat pendapatan
masyarakat di sekitar Danau Rawa Pening, Tahun 2010 (n = 78)
14 Perceived value of dependency terkait dengan tingkat partisipasi
masyarakat di sekitar Danau Rawa Pening, Tahun 2010 (n = 80)
16 Pengelompokan stakeholders dalam pengelolaan kolaboratif
di Danau Rawa Pening, Tahun 2010

.....................................................

90

17 Matriks driver power dan dependence elemen kelompok masyarakat
yang terpengaruh dalam pengelolaan kolaboratif di Danau Rawa
Pening, Tahun 2010

..............................................................................

93

18 Struktur sistem elemen kelompok masyarakat yang terpengaruh
dalam pengelolaan kolaboratif di Danau Rawa Pening, Tahun 2010
xvii

...

95

19
19 Matriks driver power dan dependence elemen kendala utama dalam
pengelolaan kolaboratif di Danau Rawa Pening, Tahun 2010

..............

97

..................................

98

20 Struktur sistem elemen kendala utama dalam pengelolaan
kolaboratif di Danau Rawa Pening, Tahun 2010

21 Matriks driver power dan dependence elemen tujuan pengelolaan
kolaboratif di Danau Rawa Pening, Tahun 2010

................................. 101

22 Struktur sistem elemen tujuan pengelolaan kolaboratif di Danau
Rawa Pening, Tahun 2010

.................................................................... 102

23 Matriks driver power dan dependence elemen lembaga yang terlibat
dalam pengelolaan kolaboratif di Danau Rawa Pening, Tahun 2010

... 105

24 Struktur sistem elemen lembaga yang terlibat dalam pengelolaan
kolaboratif di Danau Rawa Pening, Tahun 2010

.................................. 107

25 Matriks driver power dan dependence elemen aktivitas
pengembangan dalam pengelolaan kolaboratif di Danau Rawa
Pening, Tahun 2010

.............................................................................. 109

26 Struktur sistem elemen aktivitas pengembangan dalam pengelolaan
kolaboratif di Danau Rawa Pening, Tahun 2010

xviii

.................................. 110

20

DAFTAR LAMPIRAN

1 Peta lokasi penelitian

Halaman
........................................................................... 126

2 Kebijakan terkait pengelolaan Danau Rawa Pening, Tahun 2010

........ 127

3 Hasil analisis stakeholders dalam pengelolaan Danau Rawa Pening,
Tahun 2010

.......................................................................................... 128

4 Hasil analisis Interpretative Structural Modelling

xix

.............................. 129

I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Danau merupakan perairan umum daratan yang memiliki fungsi penting
bagi pembangunan dan kehidupan manusia. Secara umum, danau memiliki dua
fungsi utama, yaitu fungsi ekologi dan sosial ekonomi. Dari aspek ekologi, danau
merupakan tempat berlangsungnya siklus ekologis dari komponen air dan
kehidupan akuatik di dalamnya. Keberadaan danau akan mempengaruhi
keseimbangan ekosistem di sekitarnya, sebaliknya kondisi danau juga dipengaruhi
oleh ekosistem di sekitarnya. Dari aspek sosial ekonomi, danau memiliki fungsi
yang secara langsung berkaitan dengan kehidupan masyarakat sekitar danau.
Menurut Hartoto et al. (2009), danau memiliki fungsi sebagai penyedia jasa
lingkungan, sosial-ekologi, pendidikan, kenyamanan, budaya, kemasyarakatan,
jasa spiritual, ketahanan masyarakat, ekonomi, dan rekreasi.
Menurut Puspita et al. (2005), saat ini di Indonesia terdapat sejumlah 843
danau dan 736 situ. Kondisi sebagian besar danau telah mengalami kerusakan
ekosistem dan penurunan fungsi. Hasil penelitian FDI (2004), melaporkan bahwa
faktor-faktor penyebab rusaknya ekosistem danau adalah tidak memadainya
pengetahuan, kekurangan teknologi, keterbatasan finansial, serta kebijakan
pengelolaan yang tidak tepat. Berdasarkan data Kementerian Negara Lingkungan
Hidup (2009), terdapat sembilan danau yang kondisinya kritis dan memerlukan
prioritas untuk penanganannya, yaitu Danau Toba (Provinsi Sumatera Utara),
Danau Maninjau dan Danau Singkarak (Provinsi Sumatera Barat), Danau Tempe
(Provinsi Sulawesi Selatan), Danau Tondano (Provinsi Sulawesi Utara), Danau
Poso (Provinsi Sulawesi Tengah), Danau Limboto (Provinsi Gorontalo), Danau
Batur (Provinsi Bali), serta Danau Rawa Pening (Provinsi Jawa Tengah).
Kondisi sebagian besar situ di Indonesia juga mengalami kerusakan
ekologi dan dalam kondisi kritis. Menurut Roemantyo et al. (2003), jumlah situ di
kawasan Jabodetabek pada tahun 1940 yaitu 76 situ dengan luas 7,900 km2,
selanjutnya jumlah situ pada tahun 2000 adalah 114 situ dengan luas 3,213 km2.
Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi fragmentasi situ yang mengakibatkan
penurunan kapasitas daya tampung situ.

2
Danau Rawa Pening dengan luas 2.770 hektar yang berada di Kabupaten
Semarang merupakan salah satu danau yang kondisinya kritis. Hasil penelitian
UNEP (1999), melaporkan bahwa berbagai faktor fisik-kimia dan biologi telah
mengakibatkan sedimentasi, serta masuknya limbah domestik dan industri.
Akumulasi endapan lumpur, limbah pertanian dan industri menyebabkan
suburnya tanaman Eichornia crassipes (Eceng Gondok). Luas tanaman Eceng
Gondok yang menutupi permukaan danau yang mencapai 1.080 hektar dengan
pertumbuhan 7,1%-10% per bulan telah menimbulkan kerusakan ekosistem danau
dan mengakibatkan krisis sumberdaya perikanan.
Potensi sumberdaya perikanan Danau Rawa Pening menjadi kompleks
dengan semakin tingginya eksploitasi sumberdaya perikanan. Berdasarkan data
Disnakan Kabupaten Semarang (2007), jumlah produksi perikanan di perairan
Danau Rawa Pening selama kurun waktu Tahun 2002 sampai dengan 2006
berturut-turut 982,5 ton, 1.033,7 ton, 1.084,5 ton, 1.026,0 ton, dan 1.042,8 ton.
Jumlah nelayan yang menggantungkan hidupnya pada sumberdaya danau sekitar
1.589 orang. Menurut Adrianto et al. (2010), status dan potensi sumberdaya
perikanan menjadi kompleks setelah adanya intervensi manusia karena adanya
demands (permintaan) yang kemudian diikuti eksplorasi dan eksploitasi
sumberdaya perikanan. Dalam kondisi tanpa pengelolaan, kegiatan eksploitasi
membuat sumberdaya perikanan menjadi kolaps.
Kegiatan pemanfaatan sumberdaya danau semakin meningkat seiring
dengan pertambahan jumlah penduduk di sekitar danau. Kondisi ini dapat
mengancam keberadaan danau sebagai ekosistem penyangga kehidupan dan
penyedia langsung mata pencaharian bagi masyarakat sekitar danau (Anshari
2006). Dalam hal ini, masyarakat sekitar Danau Rawa Pening menggantungkan
hidupnya terkait dengan matapencaharian, terutama untuk kegiatan perikanan
tangkap dan pertanian.
Danau Rawa Pening merupakan sebuah sistem ekologi yang mempunyai
peran sosial ekonomi bagi masyarakat sekitarnya. Kondisi ini menjadikan
ekosistem danau sebagai sistem yang rentan terhadap gangguan atau tekanan
eksternal. Berbagai gangguan atau tekanan eksternal, baik yang bersifat alamiah
maupun antropogenik dapat mempengaruhi kesehatan ekosistem danau. Hal ini

3
menjadi latar belakang pentingnya dilakukan penilaian kerentanan untuk
mengidentifikasi masyarakat atau tempat yang paling rentan terhadap bahaya serta
mengidentifikasi tindakan untuk mengurangi kerentanan.
Pengelolaan Danau Rawa Pening bersifat multi stakeholders yang
melibatkan banyak pihak seperti pemerintah, swasta, akademisi, lembaga nonpemerintah, petani, nelayan, dan pelaku perikanan lainnya. Model pengelolaan
sentralistik dengan kontrol mutlak oleh pemerintah telah menghasilkan pola
pengelolaan sumberdaya berbasis pemerintah. Dalam hal ini, pemerintah
mendominasi dalam penentuan kebijakan dan kurang mengakomodasikan
kepentingan masyarakat. Otoritas tunggal terbukti tidak efektif dalam pengelolaan
Danau Rawa Pening, khususnya dalam mengurangi kerusakan sumberdaya serta
menggalang dukungan dari masyarakat pemanfaat sumberdaya. Di lain pihak,
apabila masyarakat melakukan kontrol penuh terhadap pengelolaan akan
menghasilkan pola pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat. Model
pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat tidak dapat menjamin keberlanjutan
pemanfaatan sumberdaya dan mengakibatkan konflik kepentingan dalam
pemanfaatan sumberdaya.
Ketidakseimbangan distribusi peran antara pemerintah dan masyarakat
menjadi latar belakang pentingnya pendekatan pengelolaan kolaboratif untuk
memperbaiki sistem pengelolaan Danau Rawa Pening dan mengakhiri konflik
antar stakeholders tanpa adanya pihak yang dikalahkan. Seiring dengan tuntutan
desentralisasi dan kemandirian dalam pengelolaan sumberdaya alam, pengelolaan
kolaboratif merupakan model pengelolaan sumberdaya alam yang paling masuk
akal. Pengelolaan kolaboratif dapat menciptakan perimbangan peran dan tanggung
jawab antara pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam.
Dalam hal ini, masyarakat pemanfaat sumberdaya bertindak sebagai pelaku yang
mendayagunakan dan sekaligus memelihara sumberdaya alam, selanjutnya
pemerintah berperan sebagai fasilitator.

1.2 Perumusan Masalah
Sumberdaya Danau Rawa Pening dianggap sebagai free goods (barang
bebas) atau common property (sumberdaya milik bersama). Konsekuensi terhadap

4
sumberdaya milik bersama adalah bahwa semua orang berhak mengeksplorasi dan
mengeksploitasi sumberdaya yang ada atau yang lebih dikenal dengan prinsip
open access. Menurut Nasution et al. (2007), dampak negatif dari prinsip open
access dalam pengelolaan sumberdaya alam adalah tidak adanya pihak yang
peduli untuk mengembalikan atau memulihkan potensi sumberdaya yang telah
rusak. Kerusakan sumberdaya alam dapat menurunkan produktivitas ekonomi
dalam pemanfaatannya, sehingga dapat mengakibatkan menurunnya tingkat
kesejahteraan masyarakat.
Eksploitasi sumberdaya danau dilakukan secara intensif untuk memenuhi
kebutuhan hidup masyarakat sekitar kawasan. Pemanfaatan sumberdaya semakin
meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Hal ini dapat
mengancam keberadaan danau sebagai ekosistem penyangga kehidupan dan
penyedia langsung mata pencaharian masyarakat (Anshari 2006). Kebergantungan
masyarakat terhadap sumberdaya danau tidak hanya terbatas pada upaya untuk
memenuhi kehidupan sehari-hari, akan tetapi telah berkembang menjadi upaya
untuk memperoleh hasil yang lebih untuk dapat dipasarkan. Dalam hal ini, telah
berkembang beberapa mata pencaharian alternatif terkait dengan pemanfaatan
sumberdaya danau, yaitu industri rumah tangga, jasa pariwisata alam, serta usaha
perdagangan di sekitar Danau Rawa Pening.
Kebergantungan masyarakat sekitar Danau Rawa Pening terhadap
sumberdaya danau terkait dengan (1) kegiatan sektor pertanian lahan pasang surut
seluas 1.020 hektar, (2) nelayan dan petani ikan sebanyak 1.589 orang,
(3) budidaya karamba ikan berjumlah 200 keramba jaring apung dan 500 keramba
tancap, (4) pemanfaatan Eceng Gondok dengan kapasitas 1.000 kg/hari,
(5) pemanfaatan gambut untuk kompos dengan kapasitas 54.000 m3/tahun, serta
(6) pariwisata dengan jumlah pengunjung 50-100 orang/hari (BPSDA Jratun
2009). Konsep terpadu dalam pemberdayaan masyarakat belum tersusun, oleh
sebab itu pemanfaatan potensi sumberdaya danau menghadapi banyak kendala.
Konflik horisontal antar pemanfaat sumberdaya yang terus berlanjut telah
menyebabkan tidak efektifnya program pemberdayaan masyarakat.
Danau Rawa Pening merupakan sebuah sistem ekologi yang mempunyai
peran sosial ekonomi bagi masyarakat sekitarnya. Fungsi ekologi danau mulai

5
terancam oleh berbagai tekanan, baik yang bersifat alamiah maupun antropogenik.
Tekanan yang bersifat alamiah disebabkan oleh pemanasan suhu bumi secara
global dan perubahan iklim yang ekstrim. Selanjutnya tekanan yang bersifat
antropogenik merupakan faktor terpenting yang mengakibatkan kerusakan
ekosistem danau. Hal ini menjadikan danau sebagai sistem yang rentan terhadap
gangguan atau tekanan eksternal. Tingkat kerentanan yang tinggi merupakan
penghalang atau hambatan bagi keberlanjutan danau.
Penanggulangan terhadap kerusakan ekologi akan mempertinggi resiliensi
untuk dapat kembali pada kondisi keseimbangan setelah adanya gangguan.
Tingkat resiliensi bergantung pada kemampuan suatu sistem lingkungan dalam
menanggulangi berbagai gangguan eksternal. Kapasitas beradaptasi merupakan
kemampuan sistem sosial-ekologi untuk menghadapi situasi baru tanpa
kehilangan pilihan di masa depan. Dalam hal ini, resiliensi merupakan kunci
untuk meningkatkan kapasitas beradaptasi.
Pengelolaan Danau Rawa Pening bersifat lintas sektoral dan melibatkan
banyak stakeholders. Lemahnya koordinasi antar stakeholders mengakibatkan
pelaksanaan program pengelolaan cenderung sektoral. Model pengelolaan
sentralistik dengan tidak memberikan ruang bagi peranserta masyarakat
pemanfaat sumberdaya tidak mampu melindungi ekosistem danau dari kerusakan
ekologi. Ketidakadilan distribusi peran dalam pemanfaatan sumberdaya alam telah
mengakibatkan munculnya konflik kepentingan. Konflik internal terjadi akibat
adanya ketidakharmonisan hubungan antar stakeholders dalam kegiatan
pemanfaatan sumberdaya. Dalam hal ini, tidak ada kerangka hukum dan peraturan
yang secara tegas dapat dipakai untuk menyelesaikan berbagai konflik yang
terjadi dalam pemanfaatan sumberdaya Danau Rawa Pening.
Ekosistem Danau Rawa Pening merupakan penyangga kehidupan dan
penyedia langsung mata pencaharian masyarakat sekitarnya. Terdapat keterkaitan
antara aktivitas masyarakat terhadap kondisi ekosistem Danau Rawa Pening.
Identifikasi permasalahan dalam pengelolaan Danau Rawa Pening mengacu
penilaian biodiversity pada kerangka Drivers-Pressures-States-Impacts-Responses
(DPSIR) yang dikembangkan Bin et al. (2009) diacu dalam Sulistiawati (2011)
seperti disajikan pada Gambar 1. Menurut Bowen dan Riley (2003), model DPSIR

6
bertujuan mengidentifikasi aspek-aspek atau parameter-parameter kunci pada
suatu sistem dan memantau tingkat keberlanjutan dari pengelolaan.

Pengurangan
Peningkatan

Kerusakan
ekosistem danau
dan potensi
sumberdaya

Dampak/ Impacts (I)
Krisis perikanan,
produktivitas
ekonomi dan
kesejahteraan
masyarakat
menurun, dan
konflik kepentingan

Responses (R)

Pengurangan

Eksploitasi
sumberdaya,
degradasi lahan di
sekitar danau,
sedimentasi,
ekspansi Eceng
Gondok

Perubahan Kondisi
Lingkungan/
Environmental
States Changes (S)

Kebutuhan

Petumbuhan
populasi penduduk,
kepentingan
ekonomi
(permintaan
sumberdaya,
kegiatan perikanan)

Pengurangan

Faktor Penggerak/
Drivers (D)

Tekanan
Lingkungan/
Environmental
Pressures (P)

Respon ekologi,
ekonomi, dan
sosial

Gambar 1 Identifikasi permasalahan dalam pengelolaan Danau Rawa Pening
dengan kerangka DPSIR (Sulistiawati 2011)
Kondisi ekosistem Danau Rawa Pening dipengaruhi oleh faktor
pertumbuhan populasi penduduk dan aktivitas masyarakat ekonomi seperti
pemanfaatan sumberdaya dan kegiatan perikanan. Hal ini mengakibatkan tekanan
terhadap ekosistem danau berupa eksploitasi sumberdaya, degradasi lahan di
sekitar danau, sedimentasi dan penyuburan yang mengakibatkan kerusakan
ekosistem danau dan kerusakan potensi sumberdaya danau. Sebagai dampaknya
adalah terjadinya krisis sumberdaya perikanan, menurunnya tingkat produktivitas
ekonomi dan tingkat kesejahteraan masyarakat, serta terjadinya konflik
kepentingan dalam pemanfaatan sumberdaya.
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah dengan kerangka
DPSIR, maka dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana tingkat kebergantungan masyarakat terhadap sumberdaya Danau
Rawa Pening?
2. Bagaimana tingkat gangguan eksternal yang dapat mempengaruhi ekosistem
dan masyarakat sekitar Danau Rawa Pening?

7
3. Bagaimana masyarakat sekitar Danau Rawa Pening dapat menyerap
gangguan-gangguan yang bersifat eksternal?
4. Bagaimana merancang model pengelolaan kolaboratif di Danau Rawa Pening
yang

mampu

memperbaiki

sistem

pengelolaan

sumberdaya

dengan

mengintegrasikan seluruh stakeholders?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi tingkat kebergantungan masyarakat terhadap sumberdaya
Danau Rawa Pening.
2. Menganalisis tingkat kerentanan masyarakat sekitar Danau Rawa Pening.
3. Menganalisis tingkat resiliensi masyarakat sekitar Danau Rawa Pening.
4. Merumuskan model dan kebijakan strategis pengelolaan kolaboratif di Danau
Rawa Pening.
1.4 Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat untuk:
1. Menghasilkan informasi ilmiah sebagai dasar dalam pembuatan kebijakan
pengelolaan danau dengan mempertimbangkan tingkat kebergantungan
masyarakat terhadap sumberdaya danau, kerentanan masyarakat, dan resiliensi
masyarakat dalam menyerap perubahan dan gangguan-gangguan yang bersifat
eksternal.
2. Bahan pertimbangan dalam perbaikan sistem pengelolaan sumberdaya danau
dengan mengintegrasikan pengakuan hak dan kemitraan dari seluruh
stakeholders yang terlibat.
1.5 Kebaruan Penelitian
Konsep

pengelolaan

kolaboratif

telah

banyak

diterapkan

dalam

pengelolaan sumberdaya alam, terutama dalam pengelolaan sumberdaya
perikanan dan hutan. Konsep yang mengintegrasikan antara masyarakat dan
ekosistem danau belum dipertimbangkan dalam pengelolaan danau. Adanya pola
interaksi antara masyarakat dan ekosistem danau akan mempermudah kontrol
terhadap kerusakan ekosistem danau.

8
Kebaruan penelitian ini apabila dibandingkan dengan penelitian-penelitian
yang pernah dilakukan adalah:
1. Strategi pengelolaan dengan mempertimbangkan tingkat kebergantungan
masyarakat, kerentanan masyarakat, dan resiliensi masyarakat sekitar danau.
2. Model pengelolaan yang mengintegrasikan masyarakat dan danau dengan
lebih memfokuskan pada masyarakat serta adanya inisiasi kemitraan antara
pemerintah dan masyarakat pemanfaat sumberdaya.

9

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perairan Umum Daratan
Air merupakan sumberdaya yang mutlak diperlukan bagi kehidupan
manusia. Kebutuhan manusia terhadap air cenderung meningkat seiring dengan
pertumbuhan jumlah penduduk dan semakin beragamnya jenis pemanfaatan
terhadap sumberdaya air. Menurut Odum (1998), habitat air tawar menempati
daerah yang relatif kecil pada permukaan bumi apabila dibandingkan dengan
habitat laut dan daratan. Kepentingan bagi manusia jauh lebih berarti
dibandingkan dengan luas daerahnya, karena (1) habitat air tawar merupakan
sumber air yang paling praktis dan murah untuk kepentingan domestik dan
industri, (2) komponen air tawar adalah daerah kritis pada daur hidrologi, dan
(3) ekosistem air tawar menawarkan sistem pembuangan yang memadai dan
murah. Selanjutnya Gunderson et al. (2006), meyatakan bahwa ekosistem akuatik
merupakan sistem paling produktif yang menyediakan layanan dalam bentuk
kualitas air serta kehidupan akuatik lainnya.
Menurut Suwignyo et al. (2003), semua badan air yang ada di daratan
diistilahkan sebagai inland water atau perairan umum daratan. Dalam kajian ilmu
lingkungan, badan-badan air tersebut dapat dibedakan antara perairan dengan
ekosistem tertutup dan perairan dengan ekosistem terbuka. Perairan dengan
ekosistem tertutup tidak terpengaruh oleh lingkungan di sekitarnya, misalnya
kolam buatan dan kolam budidaya. Perairan dengan ekosistem terbuka
terpengaruh oleh keadaan lingkungan di sekitarnya, misalnya sungai, rawa,
waduk, dan danau.
Kajian tentang ekosistem danau telah mengalami perkembangan dalam
berbagai disiplin ilmu. Danau dipandang sebagai sistem berbatasan yang
ditentukan oleh permukaan perairan darat, sehingga dari sisi limnologi danau
harus dipahami dalam konteks lansekap penampungan. Perubahan yang
disebabkan oleh kegiatan pertanian, pemanfaatan lahan, kehutanan, konsumsi
bahan bakar fosil, dan permintaan jasa ekosistem terkait dengan danau telah
memberikan manfaat sosial ekonomi yang lebih besar (Carpenter dan Cottingham
1997). Menurut Kumurur (2002), danau adalah salah satu bentuk ekosistem yang

10
menempati daerah yang relatif kecil pada permukaan bumi dibandingkan dengan
habitat laut dan daratan.
Berdasarkan tingkat produktivitasnya, danau dapat dikelompokkan
menjadi oligotrophic dan eutrophic. Danau oligotrophic memiliki kualitas air
yang bersih dan bernilai tinggi bagi masyarakat. Danau eutrophic memiliki
kualitas air rendah dan bernilai rendah bagi masyarakat (Odum 1998). Selanjutnya
menurut Janssen dan Carpenter (1999), penyuburan yang disebabkan oleh
kelebihan masukan nutrien menjadi permasalahan yang berkembang luas pada
ekosistem danau.
Penyuburan menjadi permasalahan yang dapat terjadi pada ekosistem
perairan seiring dengan perkembangan pertanian, industri dan urbanisasi.
Permasalahan menjadi semakin serius apabila terjadi pada ekosistem lentik
(tergenang), seperti danau. Hal ini disebabkan waktu tinggal bahan pencemar dan
masa pemulihan di danau lebih lama jika dibandingkan pada ekosistem lotik
(mengalir). Laju penyuburan yang meningkat pesat pada ekosistem perairan
tergenang dapat mengakibatkan pendangkalan danau (Soeprobowati dan
Hadisusanto 2009).
Danau Rawa Pening merupakan tempat berkembangnya keanekaragaman
hayati akuatik, terutama spesies asli setempat. Keanekaragaman hayati danau
sangat rentan terhadap gangguan terutama dari spesies asing yang bukan asli
setempat. Hilangnya spesies endemik yang disebabkan oleh berkembangbiaknya
spesies asing dapat mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan danau manjadi
ekosistem daratan. Pertumbuhan Eceng Gondok yang tidak terkendali telah
mengakibatkan dampak negatif terhadap ekosistem dan berbagai fungsi dan
manfaat Danau Rawa Pening.

2.2 Sistem Sosial-Ekologi Danau
Menurut Anderies et al. (2004), sistem sosial-ekologi didefinisikan
sebagai unit ekosistem yang dihubungkan dan dipengaruhi oleh satu atau lebih
sistem sosial. Dalam hal ini, sistem sosial-ekologi berhubungan dengan unit
ekosistem seperti wilayah pesisir, ekosistem mangrove, ekosistem danau, terumbu
karang, dan pantai yang mencakup sistem perikanan sebagai unit yang berasosiasi

11
dengan proses sosial. Selanjutnya Berkes dan Folke (1998); Carpenter dan Folke
(2006) mendefinisikan sistem sosial-ekologi sebagai sistem alam dan sistem
manusia yang terintegrasi dengan hubungan yang bersifat timbal balik.
Dalam kajian sistem perairan danau, kondisi perubahan pada komponen
ekologi seperti berkembangnya ganggang di danau dan beberapa perubahan
komunitas tumbuhan lahan basah merupakan indikasi perubahan kondisi ekologi
yang dianggap sebagai krisis ekologi. Hal ini terkait dengan bagaimana komponen
sosial dari sistem sosial-ekologi dapat menjawab perubahan kondisi masa lalu
atau akan merespon perubahan di masa depan (Gunderson et al. 2006). Konsep
yang

mengintegrasikan

antara

komunitas

manusia

dan

danau

dengan

mempertimbangkan proses kontrol terhadap degradasi danau. Beberapa proses
yang terkait dengan masyarakat dan danau adalah vegetasi air, tata guna lahan,
kegiatan sosial, dan perekonomian daerah. Dalam hal ini terdapat pola interaksi
yang dapat memberikan kontribusi untuk pemahaman tentang interaksi antara
masyarakat dan danau (Carpenter dan Cottingham 1997).
Mengacu pendapat Adrianto dan Azis (2006), paradigma sistem sosialekologi danau membicarakan unit ekosistem danau yang berasosiasi dengan
struktur dan proses sosial, dimana aspek sistem alam (ekosistem) dan sistem
manusia tidak dapat dipisahkan. Hal ini didasarkan pada karakteristik dan
dinamika danau yang merupakan suatu sistem dinamis dan saling terkait antara
sistem komunitas manusia dengan sistem alam sehingga kedua sistem tersebut
bergerak dinamik dalam kesamaan besaran. Diperlukan integrasi pengetahuan
dalam implementasi pengelolaan danau yang dikenal dengan paradigma sistem
sosial-ekologi.
Sistem sosial-ekologi merupakan konsep yang sangat penting dalam
kerangka ko-manajemen perikanan, karena pelaku perikanan memiliki keterkaitan
dengan dinamika ekosistem perairan dan sumberdaya perikanan. Dengan kata
lain, kedua dinamika sistem tersebut memerlukan pengintegrasian melalui
kerangka ko-manajemen perikanan. Dengan pendekatan sistem sosial-ekologi
diharapkan mampu meningkatkan resilience atau ketahanan dan menanggulangi
kerentanan melalui beberapa tindakan, baik dalam skala lokal maupun nasional
(Adrianto dan Azis 2006). Menurut Hartoto et al. 2009, beberapa contoh tindakan

12
skala lokal maupun regional dalam konteks peningkatan resiliensi sistem sosialekologi seperti disajikan pada Tabel 1, yaitu (1) pemeliharaan ekosistem melalui
pemanfaatan sumberdaya secara berkelanjutan, (2) proses pembelajaran untuk
merespon dampak lingkungan dan hubungan sosial, (3) keanekaragaman dalam
konteks sistem ekologi, serta (4) modal sosial dan kelembagaan masyarakat yang
memiliki legitimasi.
Tabel 1 Tindakan skala lokal dalam peningkatan resiliensi sistem sosial-ekologi
terkait kerentanan sumberdaya perikanan
No
Kerentanan
Tindakan Skala Lokal
1 Sensitivitas terhadap
1) Pemeliharaan ekosistem melalui pemanfaatan
bencana dan kerusakan
sumberdaya alam secara berkelanjutan
sumberdaya alam
2) Pemeliharaan memori atas pola pemanfaatan
sumberdaya, proses pembelajaran untuk
merespon dampak lingkungan dan hubungan
sosial
2 Kapasitas adaptif
1) Keanekaragaman dalam konteks sistem ekologi
2) Keanekaragaman dalam konteks teori sosialekonomi
3) Modal sosial dan kelembagaan masyarakat yang
memiliki legitimasi
Sumber: Modifikasi Adger et.al. (2005) diacu dalam Hartoto et al. (2009)

2.3 Kerentanan (Vulnerability)
Konsep kerentanan didefinisikan sebagai atribut yang potensial dari suatu
sistem untuk dirusakkan oleh dampak-dampak yang bersifat exogenous. Dalam
hal ini, tingkat gangguan eksternal diperkirakan dengan menggunakan variabelvariabel ekologi dan ekonomi dalam menyusun indeks kerentanan. Tujuan dari
suatu indeks kerentanan adalah untuk menaksir tingkat gangguan eksternal pada
suatu sistem. Berbagai potensi kerusakan yang dianggap berbahaya adalah resikoresiko secara antropogenik dan alamiah. Resiko-resiko adalah suatu kejadian dan
proses-

Dokumen yang terkait

Collaborative management model of inland water in Rawa Pening Lake Central Java Province