Keterbatasan Penelitian Hubungan Pola Makan Dengan Metabolic Syndrome Dan Gambaran Aktivitas fisik Anggots Klub Senam Jantung Sehat Kampus II UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH TAHUN 2013

85

BAB VI PEMBAHASAN


A. Keterbatasan Penelitian


Penelitian ini berfokus kepada faktor-faktor risiko yang dapat diubah, yaitu pola makan dan aktivitas fisik. Adapun fakto-faktor risiko yang tidak
dapat diubah, terutama faktor endokrin, status menopause dan faktor genetik tidak diteliti pada penelitian ini, oleh karena pengaruh faktor-faktor risiko
terhadap metabolic syndrome erat kaintannya dengan adanya pola makan dan aktivitas fisik, sehingga dengan fokus pada faktor risiko pola makan dan aktivitas
fisik dapat mewakili pengaruh faktor-faktor risiko yang tidak dapat diubah dan menjadi dasar yang efektif untuk intervensi masalah metabolic syndrome pada
masyarakat. Aktivitas fisik dalam penelitian ini tidak dianalisis hubungannya dengan
metabolic syndrome. Hal ini karena pada populasi sasaran tidak ditemukan adanya aktivitas fisik berisiko atau aktivitas fisiknya homogen. Meskipun
demikian, gambaran aktivitas fisik responden digunakan untuk membantu menjawab masalah kejadian metabolic syndrome.
Pengumpulan data konsumsi dengan metode food recall 24 jam dalam penelitian ini memiliki kelemahan, yaitu data yang dikumpulkan bergantung
pada daya ingat responden dan kecenderungan adanya overestimate ataupun underestimate. Meskipun demikian, pelaksanaan food recall sebanyak 2 kali
pada hari berbeda, ditambah penggunanan metode penilaian lain, yaitu metode FFQ, dapat menanggulangi kelemahan tersebut dan memberikan data yang
representatif menggambarkan pola makan responden Sanjur 1997, dalam
Supariasa et al., 2002. B.
Kejadian Metabolic Syndrome
Metabolic syndrome merupakan sekumpulan faktor risiko yang saling berkaitan dan mengarah pada penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus.
Sekumpulan faktor risiko tersebut antara lain obesitas abdominalsentral, kenaikan kadar gula darah, kenaikan tekanan darah, kenaikan kadar trigliserida,
dan penurunan kadar kolesterol HDL Alberti et al., 2009. Seseorang dikatakan menderita metabolic syndrome ketika didapatkan minimal 3 kriteria berisiko
diantra 5 kriteria yang diukur. Hasil penelitian ini, menggambarkan bahwa sebagian besar 52,5
Anggota Klub Senam Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah menderita
metabolic syndrome
Tabel 5.7.
Kemudian berdasarkan
pengelompokan komponen metabolic syndrome tabel 5.8, diperoleh informasi bahwa kelompok krtiteria berisiko yang dominan menyebabkan metabolic
syndrome pada sebagian besar anggota klub senam ini adalah obesitas abdominal dibarengi dengan resistensi insulin atau intoleransi glukosa dan hipertensi.
Obesitas abdominal dan resistensi insulin erat kaitannya dengan konsep keseimbangan energi. Dimana energi yang diperoleh dari asupan makan harus
seimbang dengan energi yang dikeluarkan untuk beraktivitas fisik. Bila terjadi ketidak seimbangan, sebagaimana yang mungkin terjadi pada Anggota Klub
Senam Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah , baik berupa asupan makan berlebih atau pengeluaran energi yang kurang maka akan terjadi
penyimpanan energi dalam bentuk lemak dalam tubuh, terutama tertimbun pada lemak visceral.
Keberadaan lemak visceral tersebut mempengaruhi proses metabolisme energi dan merusak sel beta pancreas penghasil hormon insulin. Hormon insulin
berperan dalam mengontrol kadar gula darah, sehingga bila terjadi kerusakan, maka berdampak pada resistensi insulin dan akhirnya berpengaruh pada organ
tubuh lainnya. Rahman 2007 menjelaskan bahwa obesitas abdominal terjadi akibat
adanya penumpukan sel lemak visceral yang mendorong peningkatan lipolisis yang menghasilkan asam lemak bebas dalam jumlah besar. Peningkatan asam
lemak bebas itu, pada organ hati, akan meningkatkan gluconeogenesis, menurunkan sensitifitas insulin dan mengakibatkan hiperinsulinemia. Selain itu,
pada jaringan otot, peningkatan asam lemak bebas akan menurunkan pemakaian glukosa, serta pada sel
sel β pancreas, penigkatan asam lemak bebas akan menurunkan sekresi insulin.
Selain itu, Rahman 2007 juga menyebutkan sel lemak pada obesitas abdominal akan
mengeluarkan sitokin adipositokin seperti TNF α, yang menghambat aktifitas tirosin kinase pada reseptor insulin dan menurunkan
ekspresi glucose transporter-4 GLUT-4 di sel lemak dan otot. Kejadian ini mengakibatkan resistensi insulin dan hiperinsulinema. Resistensi insulin dan
hiperinsulinema ini, pada gilirannya menyebabkan perubahan metabolik yang menimbulkan hipertensi dan dislipidemia.
Rahman 2007 juga menegaskan bahwa resistensi insulin berdampak pada hipertensi karena pengaruh hiperinsulinemia, dimana hiperinsulinemia
yang terjadi berbarengan dengan resistensi insulin akan meningkatkan reabsorsi sodium dan air yang mengakibatkan terjadinya ekspansi volume intra-vaskular.
Hiperinsulinemia juga meningkatkan aktifitas chanel Na-K ATP-ase, sehingga terjadi peningkatan Na dan kalsium intrasel yang mengakibatkan peningkatan
kontraksi otot polos pembuluh darah yang berdampak pada tekanan darah naik Keberadaan obesitas abdominal, resistensi insulin dan hipertensi sebagai
komponen yang dominan ditemukan pada penderita metabolic syndrome, juga didukung oleh beberapa penelitian di beberapa tempat, meskipun penyebutannya
hanya tidak berdasarkan pengelompokan, sebagaimana diperoleh dalam penelitian ini. Penelitian-penelitian tersebut antara lain:
1. National Health and Nutrition Survey NHANES di Amerika Serikat dengan kriteria NCEP ATP III menyebutkan metabolic syndrome meningkat
seiring dengan meningkatnya resistensi insulin Dwipayana et al., 2011. 2. Penelitian di Makasar Herman A, 2003 dalam Dwipayana et al., 2011,
penelitian penduduk Amerika Keturunan Arab Jaber et al, 2004 dan penelitian di Bali Dwipayana et al., 2011 yang menyebutkan metabolic
syndrome meningkat seiring dengan meningkatnya obesitas abdominal. 3. Penelitian di Jakarta dan Semarang menyebutkan bahwa hipertensi
merupakan kriteria yang sering ditemukan pada penderita laki-laki, sedangkan obesitas abdominal sering ditemukan pada penderita perempuan
Soewondo, 2005; Suhartono et al., 2005.

C. Gambaran Pola Makan Karbohidrat


Dokumen yang terkait

Serat Protein Zat Gizi

 61  484  150

Dokumen baru