Hubungan Pola Makan Dengan Metabolic Syndrome Dan Gambaran Aktivitas fisik Anggots Klub Senam Jantung Sehat Kampus II UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH TAHUN 2013

HUBUNGAN POLA MAKAN DENGAN METABOLIC SYNDROME
DAN GAMBARAN AKTIVITAS FISIK
ANGGOTA KLUB SENAM JANTUNG SEHAT KAMPUS II
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
TAHUN 2013
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)

Disusun oleh :
MUHAMMAD FAHAD
109101000083

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2013 M/1434 H

i

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN GIZI
Skripsi, Maret 2013
Muhammad Fahad, NIM : 109101000083
HUBUNGAN POLA MAKAN DENGAN METABOLIC SYNDROME DAN
GAMBARAN AKTIVITAS FISIK ANGGOTA KLUB SENAM JANTUNG SEHAT
KAMPUS II UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
TAHUN 2013
xvi + 108 halaman, 27 tabel, 3 bagan, 5 lampiran
Abstrak
Metabolic syndrome merupakan sekumpulan faktor risiko yang mengarah kepada
penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus. Metabolic syndrome diantaranya
dipengaruhi oleh pola makan dan aktivitas fisik. Pola makan tinggi kolesterol dapat
menaikkan kadar kolesterol total > 200mg/dL, yang berdampak pada risiko metabolic
syndrome, sedangkan aktivitas fisik rutin dapat mencegah metabolic syndrome.
Penelitian sebelumnya menyebutkan, pada tahun 2005, 50 % Anggota Klub Senam
Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah memiliki kadar kolesterol total > 200
mg/dl, sehingga diduga jumlah kasus metabolic syndrome cukup tinggi pada popolasi
ini, padahal mereka melakukan senam rutin 3 kali seminggu. Oleh karena itu, penelitian
ini bertujuan mengetahui hubungan pola makan dengan metabolic syndrome dan
gambaran aktivitas fisik Anggota Klub Senam Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif
Hidayatullah.
Jenis penelitian ini adalah penelitian epidemiologi analisis observasi dengan desain
cross sectional study. Metode sampling yang digunakan adalah simple random sampling
dengan jumlah sampel 40 orang. Data dianalisis menggunakan uji chi square.
Hasil penelitian ini menunjukan 52,5% responden menderita metabolic syndrome,
dengan kelompok komponen risiko yang dominan yaitu obesitas abdominal, resistensi
insulin dan hipertensi. Tidak ditemukan responden dengan aktivitas fisik dan asupan
karbohidrat berisiko, tetapi ditemukan variabel lain yang berisiko, yaitu asupan kalori
sejumlah 17,5 % responden, asupan protein sejumlah 35 % responden dan asupan lemak
sejumlah 40 % responden. Hasil uji chi square menunjukan asupan kalori dan asupan
lemak berhubungan dengan metabolic syndrome, dengan p value 0,009 dan 0,008.
Simpulan dari penelitian ini adalah pola makan berdasarkan asupan kalori dan asupan
lemak berhubungan dengan kejadian metabolic syndrome, sehingga disarankan bagi
Anggota Klub Senam untuk memperbaiki pola makannya, namun tetap memelihara dan
meningkatkan aktivitas fisiknya.
Kata kunci : Metabolic syndrome, pola makan dan aktivitas fisik.
Daftar bacaan : 59 (1989-2013)
ii

FACULTY MADICINE AND HEALTH SCIENCES
PUBLIC HEALTH PROGRAM STUDY
NUTRITION
Undergraduate Thesis, May 2013
Muhammad Fahad, NIM : 109101000083
The Relationship of Diet with Metabolic Syndrome and Physical Activity
Description of Healthy Heart Gymnastic Club Members of Kampus II UIN Syarif
Hidayatullah in 2013
xvi + 108 pages, 27 tabels, 3 diagrams, 5 attachments
Abstract
Metabolic syndrome is a complex of interrelated risk factors for cardiovascular
disease (CVD) and diabetes. Metabolic syndrome, of wich, are influenced by diet and
physical activity. A high cholesterol diet can rise total cholesterol levels > 200mg/dL,
wich have an impact on the risk of metabolic syndrome, while regular physical activity
can prevent metabolic syndrome. Previous studies mentioned, in 2005, 50% Healthy
Heart Gymnastics Club Members of Kampus II UIN Syarif Hidayatullah had total
cholesterol levels> 200 mg / dl, so the number of suspected cases of metabolic syndrome
is high in this popolasi, whereas they do routine gymnastics 3 times a week. Therefore,
this study aims to determine the relationship of diet with metabolic syndrome and
physical activity description of Healty Heart Gymnastics Club Members of Kampus II
UIN Syarif Hidayatullah.
This study is observational analytical epidemiological studies, that use cross sectional
study design. The sampling metode used was simple random sampling with a sampel of
40 people. Data were analyzed using chi square test.
The results of this study showed 52.5% of respondents suffer metabolic syndrome,
with a group dominant risk component are abdominal obesity, insulin resistance and
hypertension. It’s not found respondents with physical activity and carbohydrates intake
at risk, but it’s found other variables at risk, those are calorie intake as much as 17.5% of
respondents, total protein intake as much as 35% of respondents and fat intake as much
as 40% of respondents. Chi square test results showed calorie intake and fat intake
associated with metabolic syndrome, with p value 0.009 and 0.008.
The conclusions of this study is a diet based on calorie intake and fat intake is
associated with the incidence of metabolic syndrome, so it is advisable for the
Gymnastics Club Members to improve their diet, while maintaining and increasing their
physical activity.

Keywords : Metabolic syndrome, diet, and physical activity
Reading List : 59 (1989-2013)
iii

iv

v

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji serta rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Illahi Rabbi Allah SWT karena
atas sifat Rahmaan dan Rahiim-Nya, penulis diberi kesehatan dan kemudahan dalam
menjalankan segala aktivitas sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat
serta salam senantiasa tercurah limpahkan kepada Usawatun Hasanah sepanjang zaman,
Nabi Muhammad SAW juga kepada para keluarganya, para shahabatnya, para tabi’uttabi’innya dan kepada para pengikutnya yang senantiasa dalam kebaikan hingga akhir
zaman.
Pada kesempatan kali ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ayahanda dan Ibunda tercinta, Rosyad Nurdin dan Eulis Farida yang telah
berikhtiar, sabar, dan tawakal dalam mendidik anaknya dan memberi dukungan
serta selalu mendoakan penulis dalam penulisan skripsi ini.
2. Bapak Prof. DR (hc). Dr. M.K. Tadjudin, Sp.And, selaku dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah
mengabdikan dirinya untuk dunia pendidikan kesehatan.
3. Ibu Ir. Febrianti, M.Si selaku Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat
sekaligus Staf Dosen yang telah dengan sabar mendidik dan mengajarkan ilmu
dan pengetahuan yang berguna bagi masa depan penulis..
4. Ibu Minsarnawati, SKM, M.Kes dan dr. Yuli Prapanca Satar, MARS, selaku
pembimbing I dan pembimbing II yang telah membimbing, mendukung dan
mengizinkan penulis untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini.

vi

5. Kak Septiana dan Mbak Ai selaku Laboran Gizi dan Laboran Biokimia yang
telah membantu dalam pelaksanaan studi pendahuluan sehingga mendukung
terhadap penyelesaian skripsi ini
6. Rekan-rekan seperjuangan Kesehatan Masyarakat angkatan 2009, khususnya
rekan-rekan peminatan Gizi 2009 yang telah bersama-sama menuntut ilmu,
berdiskusi, memberi dukungan dan masukan terhadap penulisan ini.
7. Rekan-rekan Badan Eksekutif Mahasiwa FKIK periode 2012-2013 yang telah
memberikan dukungannya terhadap penulis untuk menyelesaikan ini disela-sela
berjalannya program kerja dan kegiatan.
8. Nadia tahsinia yang telah mendukung dan mendampingi penulis dalam
penyusunan skripsi ini.
Semoga ilmu dan pengetahuan yang telah diajarkan, bimbingan dan petunjuk
yang telah disampaikan serta dukungan yang telah diberikan dari berbagai pihak
terhadap penulis mendapatkan ganjaran pahala dari Allah SWT.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu
penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan
skripsi ini.
Tangerang Selatan, Mei 2013

Penulis

vii

CURRICULUM VITAE
A. Data Pribadi

Nama

: Muhammad Fahad

TTL

: Bandung, 14 Maret 1991

Alamat

: Jl. Ciganitri No. 39 001/002 Bojong Soang Bandung

Telp/HP

: 0857-23866701

Jenis kelamin

: Laki-laki

Kebangsaan

: Indonesia

Agama

: Islam

Status

: Belum Menikah

Email

: muhfahad.fahad@gmail.com

B. Riwayat Pendidikan
2009-Sekarang

: Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah

2006-2009

: MA Persis Tarogong Garut

2003-2006

: Mts Persis Tarogong Garut

1997-2003

: SDN Jakapurwa I Bandung

C. Prestasi dan Penghargaan
2009-2013

: Peraih Beasiswa Penuh Program Sarjana - Program
Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementrian Agama
Republik Indonesia.

2011

: Mahasiswa terfavorit Program Studi Kesehatan Masyarakat
pada acara Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK)
Awards UIN Syarif Hidayatullah tahun 2011.

D. Pengalaman Kerja
2011 dan 2012

: Ketua Praktek Belajar Lapangan (PBL) I dan II di Wilayah
Kerja Puskesmas Ciputat Timur.

2013

: Mahasiswa Magang HACCP di PT. Aerofood Indonesia
Divisi Industrial Catering unit RSPI Puri Indah.

viii

E. Pengalaman Organisasi
2012-2013

: Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan UIN Syaif Hidayatullah Jakarta

2012

: Ketua Departemen Kemahasiswaan Badan Eksekutif
Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN
Syaif Hidayatullah Jakarta

2010- 2011

: Wakil Ketua Komisariat Dakwah Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan UIN Syaif Hidayatullah Jakarta

2010-2011

:

Staf

Departemen

Kemahasiswaan

Badan

Eksekutif

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN
Syaif Hidayatullah Jakarta
2009-2011

: Anggota Muda Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Arkadia
UIN Syaif Hidayatullah Jakarta

F. Pengalaman Kepanitiaan
2011

: Ketua Umum the 7th FKIK Anniversary (Rangkaian acara
berlangsung 1 semester).

G. Seminar dan Pelatihan
2011

: Workshop Disaster Management

2011

: Pelatihan Gizi Kedaruratan

2012

: Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi X

H. Kemampuan Berbahasa Asing
1. Bahasa Inggris (Oral dan Written)
2. Bahasa Arab (Muhaddatsah dan Kitaabah)
I. Kemampuan Komputer
1. Nutrisurvey
2. Epi data dan SPSS
3. Desain Grafis (Corel Draw, Photoshop, and Ulead Video)
4. Microsoft Office (Word, Excell, Presentation and Project)

ix

DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN ................................................................................. i
ABSTRAK ........................................................................................................... ii
PERNYATAAN PERSETUJUAN ...................................................................... iv
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. v
KATA PENGANTAR ......................................................................................... vi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ............................................................................. viii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ x
DAFTAR TABEL ................................................................................................ xii
DAFTAR BAGAN .............................................................................................. xiv
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................. 3
C. Pertanyaan Penelitian ........................................................................ 4
1. Pertanyaan Umum ......................................................................... 4
2. Pertanyaan Khusus ........................................................................ 4
D. Tujuan Penelitian................................................................................ 6
1. Tujuan Umum ................................................................................ 6
2. Tujuan Khusus ............................................................................... 6
E. Manfaat Penelitian.............................................................................. 7
1. Manfaat Praktis .............................................................................. 7
2. Manfaat Akademis......................................................................... 7
F. Ruang Lingkup Penelitian .................................................................. 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Metabolic Syndrome .......................................................................... 9
1. Etiologi dan Pathogenesis Metabolic Syndrome ........................... 10
2. Patofisologi Metabolic Syndrome.................................................. 11
3. Prognosis Metabolic Syndrome ..................................................... 12

x

4. Pengukuran Komponen Metabolic Syndrome ............................... 13
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Metabolic Syndrome ................ 16
1. Umur .............................................................................................. 16
2. Jenis Kelamin ................................................................................ 18
3. Etnis ............................................................................................... 19
4. Obesitas ......................................................................................... 20
5. Pola Makan .................................................................................... 22
6. Aktivitas Fisik ............................................................................... 25
7. Faktor Genetik ............................................................................... 28
8. Faktor Endokrin ............................................................................. 30
9. Menopause ..................................................................................... 31
C. Zat Gizi .............................................................................................. 33
1. Karbohidrat .................................................................................... 33
2. Serat .............................................................................................. 36
3. Protein............................................................................................ 37
4. Lemak ............................................................................................ 39
5. Vitamin .......................................................................................... 43
6. Mineral .......................................................................................... 44
7. Air .................................................................................................. 45
D. Tingkat Konsumsi dan Angka Kecukupan Gizi ................................. 45
E. Penilaian Konsumsi Pangan Individu ............................................... 47
1. Metode Food Recall ..................................................................... 48
2. Metode Food Frequency Questionaire (FFQ) .............................. 49
F. Pengukuran Aktifitas Fisik Metode International Physical Activity
Questionaire (IPAQ) .......................................................................... 51
G. Kerangka Teori ................................................................................... 53
BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
A. Kerangaka Konsep ............................................................................. 54
B. Definisi Operasional .......................................................................... 57
C. Hipotesis Penelitian ............................................................................ 59
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
xi

A. Jenis dan Desain Penelitian ................................................................ 60
B. Lokasi dan Waktu Penelitian.............................................................. 61
C. Populasi dan Sampel Penelitian ......................................................... 61
D. Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian .................................... 63
E. Pengolahan Data ................................................................................. 69
F. Analisis Data ...................................................................................... 70
BAB V HASIL
A. Gambaran Umum Klub Senam Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif
Hidayatullah ....................................................................................... 71
B. Hasil Analisis Univariat ..................................................................... 72
C. Hasil Analisi Bivariat ......................................................................... 82
BAB VI PEMBAHASAN
A. Keterbatasan Penelitian ...................................................................... 85
B. Kejadian Metabolic Syndrome ........................................................... 86
C. Gambaran Pola Makan Karbohidrat ................................................... 89
D. Gambaran Aktivitas Fisik................................................................... 91
E. Pola Makan Kalori dan Hubungannya dengan Kejadian Metabolic
Syndrome ............................................................................................ 93
F. Pola Makan Protein dan Hubungannya dengan Kejadian Metabolic
Syndrome ............................................................................................ 95
G. Pola Makan Lemak dan Hubungannya dengan Kejadian Metabolic
Syndrome ............................................................................................ 96
BAB VII SIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 100
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 104
LAMPIRAN

xii

DAFTAR TABEL

Nomor Tabel
2.1
2.2
2.3
2.4
2.5
2.6
2.7
3.1
4.1
4.2
4.3
4.4
5.1

5.2
5.3
5.4
5.5
5.6
5.7
5.8
5.9
5.10
5.11

Kriteria Metabolic Syndrome
Zat Gizi Karbohidrat dan Sumber Pangannya
Zat Gizi Protein dan Sumber Pangannya
Jenis Asam Lemak dan Sumber Pangannya
Angka Kecukupan Gizi (AKG) Kelompok Usia Dewasa
Pria
Angka Keccukupan Gizi (AKG) Kelompok Usia Dewasa
Wanita
Jenis Aktifitas Fisik Sedang dan Berat
Definisi Operasional Hubungan Pola Makan dan
Aktivitas Fisik Terhadap Metabolic Syndrome
P1 dan P2 Hubungan Pola Makan terhadap Metabolic
Syndrome
P1 dan P2 Hubungan Aktivitas Fisik terhadap Metabolic
syndrome
Prosedur Pemeriksaan Kadar Kolesterol HDL dalam
Darah
Prosedur Pemeriksaan Kadar Trigliserida dalam Darah
Distibusi Anggota Klub Senam Jantung Sehat
Kampus II UIN Syarif Hidayatullah Berdasarkan Umur
dan Jenis Kelamin
Distribusi Lingkar Perut Anggota Klub Senam Jantung
Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah
Distribusi Tekanan Darah Anggota Klub Senam Jantung
Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah
Distribusi Kadar Gula Darah Puasa Anggota Klub Senam
Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah
Distribusi Kadar Trigliserida Anggota Klub Senam
Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah
Distribusi Kadar Kolesterol HDL Anggota Klub Senam
Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah
Distribusi Kejadian Metabolic syndrome Anggota Klub
Senam Jantung Sehat UIN Syarif Hidayatullah
Pengelompokan Komponen Metabolic Syndrome
Distribusi Aktifitas Fisik Anggota Klub Senam Jantung
Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah
Distribusi Asupan Energi Anggota Klub Senam Jantung
Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah
Distribusi Asupan Karbohidrat Anggota Klub Senam
Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah

xiii

Halaman
9
34
38
40
46
46
51
58
62
62
66
67
72

72
73
74
75
76
76
77
78
79
80

5.12
5.13
5.14

5.15

5.16

Distribusi Asupan Lemak Anggota Klub Senam Jantung
Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah
Distribusi Asupan Protein Anggota Klub Senam Jantung
Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah
Hubungan Asupan Kalori dengan Kejadian Metabolic
syndrome pada Anggota Klub Senam Jantung Sehat
Kampus II UIN Syarif Hidayatullah
Hubungan Asupan Protein dengan Kejadian Metabolic
syndrome pada Anggota Klub Senam Jantung Sehat
Kampus II UIN Syarif Hidayatullah
Hubungan Asupan Lemak dengan Kejadian Metabolic
syndrome pada Anggota Klub Senam Jantung Sehat
Kampus II UIN Syarif Hidayatullah

xiv

81
82
82

83

84

DAFTAR BAGAN

Nomor Bagan
2.1
Kerangka Teori Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Metabolic Syndrome
3.1
Kerangka Konsep Hubungan Pola Makan Dan Aktivitas
Fisik Terhadap Metabolic Syndrome.
4.1
Desain Penelitian Potong Lintang

xv

Halaman
53
56
60

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Lampiran
I
II
III
IV
V
VI

Surat-Surat Perizinan
Kuesioner Penelitian
Output-Output Hasil Penelitian di SPSS
Hasil Pengukuran
Hasil Wawancara Aktivitas Fisik
Hasil Wawancara Food recall dan FFQ

xvi

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
World Health Organization (WHO) (2013) mengemukakan bahwa Non
Communicabable Diseases (NCDs) merupakan tantangan kesehatan terbesar
pada abad ke 21 karena membunuh lebih dari 36 juta orang setiap tahunnya. Dari
seluruh kematian NCDs, jumlah penyakit kardiovaskular atau cardiovascular
disease (CVD) merupakan yang terbesar yaitu 17,3 juta jiwa/ tahun, diikuti
kanker sebanyak 7,6 juta jiwa/ tahun, penyakit pernafasan 4,2 juta jiwa/tahun
dan diabetes sebanyak 1,3 juta jiwa/tahun.
Berkaitan dengan diabetes, pada sebagian besar penderita diabetes tipe
dua atau intoleransi glukosa, didapatkan serangkaian faktor risiko yang muncul
bersamaan dengan faktor risiko CVD. Fenomena ini disebut dengan kejadian
metabolic syndrome.
Metabolic syndrome dipengaruhi oleh pola makan, aktivitas fisik, faktor
genetik, umur, jenis kelamin, etnis, menopause dan faktor endokrin (Christopher
et al., 2005). Pola makan dan aktivitas fisik merupakan faktor risiko yang dapat
diubah. Keduanya sering berkaitan dengan risiko penyakit degeneratif secara
umum. Disamping itu, berkaitan dengan pola makan, beberapa penelitian
mengemukakan bahwa terdapat hubungan antara pola makan berdasarkan asupan
energi, total protein, total lemak, total karbohidrat, protein hewani, dan
karbohidrat sederhana yang dikonsumsi melebihi Angka Kecukupan Gizi (AKG)

1

2

terhadap kejadian metabolic syndrome (Sudarminingsih et al., 2007; Kasiman,
2011).
Di dunia, prevalensi metabolic syndrome cukup tinggi karena mencapai
10-25 % pada kelompok umur dewasa (IDF, 2006). Di Amerika Serikat,
prevalensi metabolic syndrome sebanyak 22, 8 % terjadi pada pria dan 22, 6 %
terjadi pada wanita. Di Eropa, prevelensi metabolic syndrome meningkat seiring
umur. Pada pria didapatkan sebesar 13,2 % pada kelompok umur 30-39 tahun
dan 42,7 % pada umur 60-69 tahun, sedangkan pada wanita didapatkan sebesar
10,3 % pada kelompok umur 30-39 tahun, dan 45,9 % pada kelompok umur 60 –
69 tahun (Dellios, 2005).
Di tingkat regional, beberapa daerah di Asia Tenggara juga menunjukan
prevalensi metabolic syndrome yang cukup tinggi (Soewondo et al., 2006)
seperti di Malaysia didapatkan prevalensi metabolic syndrome sebesar 49, 4 %
pada umur > 20 tahun (Chan, 2005), di Thailand sebanyak 21,9%
(Deerochanawong, 2000) serta Filipina dan Singapura > 20 % (Deerochanawong,
2000 ; Chan, 2005).
Di Indonesia, belum terdapat data prevalensi metabolic syndrome secara
nasional, meskipun demikian di beberapa daerah telah menunjukan prevalensi
metabolic syndrome yang cukup tinggi : Surabaya sebanyak 34,0% (Pranoto et
al., 2005), Semarang sebanyak 16,6 % (Suhartono et al., 2005), Depok sebanyak
25,3 % (Soewondo, 2005), Jakarta sebanyak 28,4 % (Soewondo et al., 2006),
Bogor sebanyak 36, 2 % (Muherdiyantiningsih et al., 2008) dan Bali sebanyak
18,2 % (Dwipayana et al., 2011).

3

Kota Tangerang Selatan sebagai salah satu kota di Indonesia, yang pada
tahun 2007 masih bergabung dengan Kota Tangerang, diduga memiliki
prevalensi metabolic syndrome yang cukup tinggi seiring dengan tingginya
kejadian obesitas umum (21,8 %) diatas rata-rata rasional (20 %), obesitas sentral
(22,4%) di atas rata-rata nasional (18,4%), perilaku konsumsi kurang buah sayur
(97,3%) dan perilaku kurang aktivitas fisik (52,8%) (Depkes RI, 2007).
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

(FKIK) UIN Syarif

Hidayatullah sebagai lembaga pendidikan kesehatan di wilayah Kota Tangerang
Selatan seyogyanya turut berpartisipasi melakukan upaya kesehatan untuk
menyelesaikan metabolic syndrome di Kota Tengerang Selatan, dimulai dari
lingkungan sekitar kampus. Partisipasi ini sebagai bentuk pengamalan tridarma
perguruan tinggi. Salah satu lingkungan sekitar kampus dan merupakan sarana
yang tepat untuk upaya kesehatan adalah Klub Senam Jantung Sehat Kampus II
UIN Syarif Hidayatullah.
B. Rumusan Masalah
Pelaksanaan senam pada Klub Senam Jantung Sehat Kampus II UIN
Syarif Hidayatullah berlangsung 3 kali dalam seminggu. Kegiatan senam rutin
tersebut seharusnya dapat mencegah risiko penyakit degeneratif termasuk
metabolic syndrome (Ilanne-Parikka, 2010). Namun kenyataannya berbeda
dengan apa yang diemukan oleh Mubarak (2005), dimana telah ditemukan 50 %
Anggota Klub Senam Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah
memiliki kadar kolesterol total > 200 mg/dl, yang berdampak pada risiko untuk

4

menderita metabolic syndrome (Kamso, 2007). Disamping itu, diketahui bahwa
kadar kolesterol total dipengaruhi oleh pola makan (Ansar et al., 2011).
Pernyataan-pernyataan

tersebut

mengarah

kepada

dugaan

cukup

tingginya kejadian metabolic syndrome pada Anggota Klub Senam Jantung Sehat
UIN Syarif Hidayatullah. Oleh karena itu, untuk menjawab dugaan tersebut,
perlu dilakukan penelitian terkait hubungan pola makan dengan metabolic
syndrome dan gambaran aktivitas fisik Anggota Klub Senam Kampus II UIN
Syarif Hidayatullah.
C. Pertanyaan Penelitian
1. Pertanyaan Umum
Bagaimana hubungan pola makan dengan metabolic syndrome dan
gambaran aktivitas fisik Anggota Klub Senam Jantung Sehat Kampus II UIN
Syarif Hidayatullah tahun 2013?
2. Pertanyaan Khusus
a. Bagaimana gambaran kejadian metabolic syndrome Anggota Klub
Senam Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013?
b. Bagaimana gambaran konsumsi kalori Anggota Klub Senam Jantung
Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013?
c. Bagaimana gambaran konsumsi karbohidrat Anggota Klub Senam
Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013?
d. Bagaimana gambaran konsumsi lemak Anggota Klub Senam Jantung
Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013?

5

e. Bagaimana gambaran konsumsi protein Anggota Klub Senam Jantung
Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013?
f. Bagaimana gambaran aktivitas fisik Anggota Klub Senam Jantung Sehat
Kampus II UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013?
g. Bagaimana hubungan konsumsi kalori dengan metabolic syndrome pada
Anggota Klub Senam Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah
tahun 2013?
h. Bagaimana hubungan konsumsi lemak dengan metabolic syndrome pada
Anggota Klub Senam Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah
tahun 2013?
i. Bagaimana hubungan konsumsi protein dengan metabolic syndrome
pada Anggota Klub Senam Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif
Hidayatullah tahun 2013?

6

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan pola makan dengan metabolic syndrome dan
gambaran aktivitas fisik Anggota Klub Senam Jantung Sehat Kampus II UIN
Syarif Hidayatullah tahun 2013.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai
berikut:
a. Gambaran kejadian metabolic syndrome Anggota Klub Senam Jantung
Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013.
b. Gambaran konsumsi kalori Anggota Klub Senam Jantung Sehat
Kampus II UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013.
c. Gambaran konsumsi karbohidrat Anggota Klub Senam Jantung Sehat
Kampus II UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013.
d. Gambaran konsumsi lemak Anggota Klub Senam Jantung Sehat
Kampus II UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013.
e. Gambaran konsumsi protein Anggota Klub Senam Jantung Sehat
Kampus II UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013.
f. Gambaran aktivitas fisik Anggota Klub Senam Jantung Sehat Kampus II
UIN Syarif Hidayatullah tahun 2013.
g. Hubungan konsumsi kalori dengan metabolic syndrome pada Anggota
Klub Senam Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah tahun
2013.

7

h. Hubungan konsumsi lemak dengan metabolic syndrome pada Anggota
Klub Senam Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah tahun
2013.
i. Hubungan konsumsi protein dengan metabolic syndrome pada Anggota
Klub Senam Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah tahun
2013.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Praktis
a. Memberikan informasi jumlah kasus metabolic syndrome pada Anggota
Klub Senam Jantung Sehat UIN Syarif Hidayatullah.
b. Menjadi dasar untuk mencegah dan menanggulangi kasus metabolic
syndrome pada Anggota Klub Senam Jantung Sehat Kampus II UIN
Syarif Hidayatullah.
2. Manfaat Akademis
a. Menambah pengetahuan dan mengembangkan keilmuan gizi, khususnya
terkait epidemiologi gizi dan kesehatan.
b. Menambah khazanah kepustakaan FKIK UIN Syarif Hidayatullah.

8

F. Ruang Lingkup
Peneliti adalah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Peminatan Gizi FKIK
UIN Syarif Hidayatullah. Penelitian ini berjudul “Hubungan Pola makan dengan
Metabolic Syndrome dan Gambaran Aktivitas Fisik Anggota Klub Senam
Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah Tahun 2013” dengan sasaran
adalah Anggota Klub Senam Jantung Sehat Kampus II UIN Syarif Hidayatullah
tahun 2013. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah kasus metabolic
syndrome pada Klub Senam Jantung Sehat UIN Syarif Hidayatullah, sehingga
menjadi dasar untuk pencegahan dan penanggulangan metabolic syndrome di
populasi tersebut. Penelitan ini dilaksanakan pada bulan Maret-April 2013 di
Kampus II UIN Syarif Hidayatullah. Penelitian ini berjenis penelitian
epidemiologi analitik observasi, dengan desain penelitian cross sectional study,
metode sampling menggunakan simple random sampling serta analisis data
menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat uji chi square.

9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Metabolic Syndrome
1. Definisi Metabolic Syndrome
Metabolic syndrome merupakan sekumpulan faktor risiko yang saling
berkaitan dan mengarah pada penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus.
Sekumpulan faktor risiko tersebut antara lain obesitas abdominal/sentral,
kenaikan kadar gula darah (hiperglikemik), kenaikan tekanan darah
(hipertensi),

kenaikan

kadar

trigliserida

(hipertrigliseridemia),

dan

penurunan kadar kolesterol HDL (Alberti et al., 2009). Seseorang dikatakan
menderita metabolic syndrome ketika didapatkan minimal 3 kriteria positif
berisiko diantara 5 kriteria yang diukur, sebagaimana dijelaskan dalam tabel
berikut ini :
Tabel 2.1.
Kriteria Metabolic Syndrome
Faktor
Obesitas
abdominal
(wilayah Asia)
Kadar
trigliserida
Penurunan
kadar
kolesterol
HDL
Tenakan darah
Gula darah
puasa (GDP)

≥ 90 cm pada laki-laki
≥ 80 cm pada perempuan

Risiko

≥ 150 mg/ dL (1,7 mmol/L) atau pengobatan khusus
terhadap lipid abnormal
< 40 mg/dL (1,03 mmol/L) pada laki-laki
< 50 mg/dL (1,29 mmol/L) pada wanita
Atau sedang dalam pengobatan khusus lipid abnormal
Tekanan darah sistolik ≥130 atau diastolik ≥85 mmHg
atau sedang dalam pengobatan hipertensi.
GDP ≥ 100 mg/dL (5,6 mmol/L), atau sedang dalam
pengobatan hiperglikemik.

Sumber : (Alberti et al., 2009)

10

2. Etiologi dan Pathogenesis Metabolic Syndrome
Etiologi metabolic syndrome belum diketahui secara pasti, namun
kejadiannya meningkat seiring dengan meningkatnya kejadian obesitas dan
gaya hidup yang buruk (Alberti et al., 2009). Disamping itu, kebanyakan
penderita metabolic syndrome mengalami obesitas abdominal dan resistensi
insulin. Kedua komponen tersebut berpengaruh terhadap perkembangan
komponen metabolic syndrome lainnya (Alberti et al., 2009).
Obesitas abdominal berpengaruh terhadap insensifitas insulin dan
hiperinsulinemia yang berdampak pada prognosis diabetes mellitus (DM)
tipe II. Berawal dari penumpukan sel lemak viskeral yang meningkatkan
asam lemak bebas dari hasil lipolisis yang berdampak pada penurunan
sensifitas insulin. Di hati, peningkatan asam lemak bebas mendorong
peningkatan glukoneogenesis yang mengakibatkan kadar gula dalam darah
naik dan menurunkan ekstraksi insulin sehingga terjadi hiperinsulinemia.
Kemudian di otot, peningkatan asam lemak bebas berdampak pada
penurunan pemakaian glukosa dan di sel α pankreas berdampak pada
penurunan sekresi insulin (Rohman, 2007).
Obesitas abdominal berpengaruh terhadap resistensi insulin. Hal ini
berkaitan dengan sel lemak bebas hasil lipolisis yang mengeluarkan sitokin
(adipositokin) seperti angiotensin, TNF α, resistin dan leptin yang
berhubungan dengan penurunan resistensi insulin. TNF α menyebabkan
resistensi insulin dengan cara menghambat aktifitas tirosin kinase pada
reseptor insulin dan menurunkan ekspresi glucose transporter-4 (GLUT-4)

11

di sel lemak dan otot. Resistensi insulin dan hiperinsulinema ini pada
gilirannya akan menyebabkan perubahan metabolik, sehingga timbul
hipertensi dan dislipidemia. Resistensi insulin semakin lama semakin berat
dan sekresi insulin akhirnya menurun, sehingga terjadi hiperglikemia dan
manifestasi DM tipe II (Rohman, 2007).
Hipertensi pada metabolic syndrome diduga terjadi akibat pengaruh
hipersinsulinemia yang meningkatan reabsorsi sodium dan air, sehingga
terjadi ekspansi volume intra-vaskular. Hiperinsulinemia juga meningkatkan
aktifitas chanel Na-K ATP-ase, sehingga terjadi peningkatan natrium dan
kalsium intrasel yang menyebabkan peningkatan kontraksi otot polos
pembuluh darah yang menyebabkan tekanan darah naik (Rohman, 2007).
Dislipidemia pada metabolic syndrome dipengaruhi oleh resistensi
insulin.

Resistensi

insulin

meningkatkan

terjadinya

lipolisis

yang

mengakibatkan peningkatan asam lemak bebas dalam plasma, yang
selanjutnya meningkatkan pengeluaran asam lemak bebas kedalam hati. Ciri
spesifik dislipidemia yang dipengaruhi resistensi insulin adalah peningkatan
trigliserida, penurunan HDL, peningkatan small dense LDL meskipun total
LDL kadang normal (Rohman, 2007).
3. Patofisiologi Metabolic Syndrome
Kerusakan organ target terjadi akibat akumulasi dari masing-masing
mekanisme komponen metabolic syndrome. Sebagai contoh, hipertensi pada
metabolic syndrome meninggalkan hipertropi ventrikular, penyakit arteri
peripheral lanjut, dan disfungsi ginjal (Cuspidi et al., 2008). Selain itu, risiko

12

kumulatif metabolic syndrome menyebabkan disfungsi mikrovaskular yang
hal ini mejelaskan lebih lanjut kondisi resistensi insulin dan hipertensi
meningkat (Serne et al., 2007).
Metabolic syndrome merupakan penyebab penyakit jantung koroner
melalui serangkaian mekanisme yaitu dengan menaikan trombogenesit pada
sirkulasi darah, menaikan aktivator plasminogen tipe 1 dan tingkat adipokin
yang menyebabkan disfungsi endothelial (di beberapa bagian) (Alessi,
2008). Metabolic syndrome juga mungkin menaikan risiko kardiovaskular
dengan menaikan kekakuan arterial (Stehouwer et al., 2008).
4. Prognosis Metabolic Syndrome
Berdasarkan penelitian-penelitian, komplikasi dari metabolic syndrome
sangat luas. Beberapa komplikasi berkaitan dengan sistem kardiovaskular
antara lain penyakit jantung koroner fibrilasi atrial, gagal jantung dan
stenosis aorta dan struk iskemik (Obunai et al., 2007).
Kekacauan metabolik pada metabolic syndrome telah berdampak pada
perkembangan penyakit perlemakan hati nonalkoholik (Kotronen dan YkiJarvinen, 2008). Asam lemak sendiri memainkan peranan penting dalam
kejadian metabolic syndrome.
Kajian lainnya menyebutkan bahwa metabolic syndrome berdampak pada
penurunan kognitif dan beberapa patofisiologi penyakit yaitu obstruktif sleep
apnea, kanker payudara, kanker kolon, kanker kantung kemih, penyakit
ginjal, dan kelenjar prostat (Hsing et al., 2007). Selain berdampak secara

13

fisiologis, metabolic syndrome juga berdampak secara psikologis seperti
kondisi marah dan depresi (Goldbacher et al., 2007).
5. Pengukuran Komponen Metabolic Syndrome
1. Lingkar Perut
Pengukuran antropometri lingkar perut menggunakan pita meter.
Adapun langkah-langkah pengukuran sebagai berikut :
1) Menetapkan titik batas tepi tulang rusuk paling bawah.
2) Menetapkan titk ujung lengkung tulang pangkal panggul.
3) Menetapkan titik tengah antara titik tulang rusuk terakhir, titik
ujung lengkung tulang pangkal panggul dan ditandai titik tengah
tersebut dengan alat tulis.
4) Responden berdiri tegak dan bernafas normal.
5) Menarik pita meter mulai dari titik tengah, kemudian secara sejajar
hizontal melingkari pinggang dan perut kembali menuju titik tengah
diawal pengukuran mendekati 0,1 cm.
6) Bila responden mempunyai perut gendut ke bawah, pita meter
dilingkarkan mulai dari bagian yang paling buncit berakhir sampai
pada titik tengah tersebut (Supariasa et al., 2002).
2. Tekanan Darah
Pengukuran klinis tekanan darah menggunakan stetoskop dan
spygmomanometer. Berikut penjelasan langkah-langkah pengukuran:
1) Responden duduk beristirahat setidaknya 5-15 menit sebelum
pengukuran.

14

2) Manset dipasang pada lengan atas. Posisi lengan tidak tegang
dengan telapak tangan terbuka ke atas. Ujung bawah mancet
terletak kira-kira 1–2 cm di atas siku. Posisi pipa mancet terletak
sejajar dengan lengan atas responden.
3) Pengukuran dilakukan pada posisi duduk meletakkan lengan kanan
responden di atas meja, sehinga mancet yang sudah terpasang
sejajar dengan jantung responden.
4) Mamometer dipompa sampai tekanan sekitar 180-200 mmHg.
5) Tekanan diturunkan secara perlahan-lahan.
6) Sambil tekanan diturunkan, dengan stetoskop didengarkan suara
degup pada arteri brakhialis di fossa cubiti.
7) Degup pertama yang terdengar, adalah tekanan sistolik dan degup
yang terakhir terdengar, adalah tekanan diastolik (Depkes RI,
2007).
3. Kadar Kolesterol HDL
Untuk mengetahui kandungan kolesterol dalam berbagai bahan
makanan, dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode
pengukuran baik secara kualitatif maupun kuantitatif dari metode yang
sederhana sampai metode yang kompleks.
Pengukuran kadar kolesterol HDL salah satunya menggunakan uji
spektrofotometri. Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa
yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh
suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan

15

menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor
fototube (Dawiesah, 1989).
4. Kadar Trigliserida
Pengukuran kadar trigliserida dapat dilakukan secara kuantitatif
atapun kualitatif. Salah satu pengukuran kuantitatif yang digunakan
untuk

mengukur

kadar

trigliserida

adalah

menggunakan

uji

spektrofotometri. Bahan dan alat yang diperlukan antara lain : serum,
tabung reaksi dan rak, dispenser 1,0 ml, mikropipet 0,01 (10 µl),
colorimeter dengan gelombang 500 nm (520-546) (Dawiesah, 1989).
5. Kadar Gula Darah
Kadar gula darah dalam penelitian ini menggunakan alat glucometer.
Alat ini bekerja dengan cara membaca elektron yang dihasilkan dari
proses pemecahan glukosa menjadi glukogon. Proses pemecahan ini
dilakukan oleh enzim glukosa oksidase yang terdapat dalam strip
glucometer dengan cara oksidasi. Semakin banyak glukosa dalam darah
yang teroksidasi menjadi glukagon maka semakin banyak elektron yang
dihasilkan sehingga semakin tinggi nilai yang terbaca di alat (Nesco
Multicheck, 2009).
Alat ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Beberapa
kelebihan memakai glucometer adalah waktu untuk mendapatkan hasil
pemeriksaan lebih cepat, bentuk alat yang kecil sehingga mudah dibawa
kemana mana, volume sampel yang dipakai sedikit. Adapun kelemahan

16

dari alat ini adalah karena range pada alat 20 mg/dl – 600 mg/dl maka
hasil dibawah 20 mg/dl atau di atas 600 mg/dl hasil tidak keluar.
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Metabolic Syndrome
1. Umur
Umur adalah lama waktu hidup atau ada sejak dilahirkan atau diadakan
(Soetardjo, 2011). Jenis perhitungan umur terdiri dari umur kronologis, umur
mental dan umur biologis. Adapun periodisasi biologis perkembangan
manusia (Soetardjo, 2011) adalah sebagai berikut :
a. 0-1 tahun : masa bayi, dimana terjadi banyak pertumbuhan dan
perkembangan mulai dari pertumbuhan fisik, pematangan struktur dan
fungsi, perkembangan motorik, serta pembentukan hubungan emosional
dengan ibu dan lingkungan sekitar.
b. 1-6 tahun : masa pra sekolah, dimana laju pertumbuhan menurun bila
dibandingkan masa bayi.
c. 6-10 tahun : masa sekolah, dimana tumbuh perlahan dan menunjukan
pematangan motorik kasar dan halus. Pada masa ini terbentuk sikap
suka atau tidak suka terhadap makanan.
d. 10-20 tahun : masa pubertas, puncak dari tumbuh kembang baik secara
fisiologis, psikologis dan sosial. Pada masa ini pola makan dipengaruhi
oleh pola makan keluarga, pengaruh teman, nafsu makan, pengaruh
body image melalui media dan ketersedian pangan.
Banyak penelitian epidemiologi yang menunjukan bahwa
penyakit CVD dan diabetes telah dimulai pada masa ini (Worthington-

17

roberts dan Williams, 2000 dalam Soetardjo, 2011). Hal ini disebabkan
sebagian besar remaja mengalami obesitas akibat pola makan tidak
teratur.
e. 20 – 64 tahun : masa dewasa, dimana pertumbuhan dan perkembangan
prkatis tidak terjadi dan zat gizi diperlukan untuk pemeliharaan
kesehatan dan pencegahan penyakit kronis. Pada umur ini beberapa
orang menjadi lebih rentan terkena penyakit, terutama yang memiliki
hipertensi, jantung atau berbadan gemuk baik karena keturunan atau pun
akibat gaya hidup. Saat berada di umur ini harus waspada terhadap
penyakit degeneratif (penyakit akibat bertambahnya umur) seperti
jantung koroner, kolesterol, dan asam urat (Soetardjo, 2011).
f. 65 tahun ke atas : masa lanjut umur (Senium), dimana aktivitas fisik
banyak berkurang, kebutuhan gizi berkurang dan kerusakan sel-sel
banyak terjadi. Penurunan fungsi tubuh banyak terjadi sehingga risiko
terserang penyakit semakin tinggi. Pada umur ini tingkat kesehatan
cenderung sudah menurun, karenanya seseorang rentan terkena
beberapa penyakit seperti artritis, osteoporosis, penyakit jantung,
gangguan memori, stroke, pembesaran prostat dan juga kanker.
Beberapa penelitian menyebutkan prevalensi metabolic syndrome
meningkat sesuai dengan umur. Hal ini karena makin banyaknya faktor
risiko jantung koroner dan makin besar kemungkinan mengalami resistensi
insulin akibat dari gaya hidup yang kurang baik yaitu pola makan buruk dan
aktivitas fisik kurang yang berlangsung lama (Dwipayana et al., 2011).

18

Disamping itu, pernyataan tersebut sesuai dengan hasil penelitian National
Health and Nutrition Survey di Amerika Serikat (Ford, Giles, & Mokdad,
2004 dalam Wang, 2012).
Beberapa penelitan menyebutkan pada laki-laki, prevalensi metabolic
syndrome meningkat pada umur 60 tahun sedangkan pada perempuan
meningkat pada umur 50 tahun (Soewondo et al., 2006). Perbedaan ini
disebabkan

adanya

perbedaan

perubahan

hormonal

seperti

wanita

mengalami kehamilan dan menopause.
2. Jenis kelamin
Jenis kelamin merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi aktivitas
fisik dan pola makan seseorang terutama dimulai pada umur remaja. Pada
umur ini laki-laki lebih memilih melakukan aktifitas fisik motorik kasar
yaitu berolahraga sedang dan berat, sedangkan wanita lebih mengembangkan
diri pada aktifitas motorik halus aktifitas fisik sedang dan ringan. Aktivitas
fisik berat terhindar dari kelebihan energi yang menyebabkan penumpukan
lemak (Soetardjo, 2011).
Pola makan cukup berbeda antara umur remaja laki-laki dengan
perempuan. Hal ini, salah satunya, dipengaruhi oleh citra tubuh (body
image), sehingga laki-laki cenderung menambah porsi makan sedangkan
perempuan cenderung mengurangi porsi makananya untuk mendapatkan
masing masing citra tubuh yang diidamkan (Soetardjo, 2011).
Obesitas sering dihibungkan dengan hiperinsulinemia, khususnya tipe
android. Laki-laki obesitas cenderung mempunyai deposit lemak di daerah

19

atas tubuh khususnya pada tengkuk, leher, bahu, dan perut yang disebut
obesitas tipe android. Pada perempuan obesitas dijumpai deposit lemak
dengan area yang sama dengan laki-laki, meskipun mereka juga mempunyai
batas area segmen bawah seperti pada bokong dan pinggul yang disebut
obesitas tipe ginekoid .
Penelitian National Health and Nutrition Examination Survey di Amerika
Serikat mengemukakan Prevalensi metabolic syndrome pada pria lebih
tinggi dibandingkan pada wanita (Ford, Giles, & Mokdad, 2004 dalam
Wang, 2012). Pernyataan tersebut serupa dengan penelitian di Eropa (Delios,
2005) tapi berbeda dengan hasil penelitian di Makasar (Jafar, 2011), di Bali
(Dwipayana et al., 2011) dan penelitan terhadap penduduk Amerika
keturunan Arab (Jaber et al., 2004 dalam Wang 2012) yang menyatakan
prevalensi metabolic syndrome pada wanita lebih tinggi dibandingkan pria.
3. Etnis
Etnis mempengaruhi kejadian metabolic syndrome karena erat kaitannya
dengan fenotip obesitas. Fenotip Obesitas pada beberapa kelompok etnis di
negara sedang berkembang berbeda dengan orang kaukasian putih pada
negara maju.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa orang Asia memiliki
lemak tubuh yang lebih banyak, utamanya Asia Selatan, dibandingkan
dengan orang kaukasian putih pada nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) yang
sama (Dudeja, 2001; Deurenberg, 2000; Yajnik, 2002 dalam Wang, 2012).
Penelitian lain menunjukkan bahwa pada nilai IMT yang sama, imigran

20

India memiliki lemak abdominal total dan intraabdominal yang lebih besar
secara signifikan dibandingkan orang Kaukasian putih di Amerika Serikat
(Raji et al., 2001, dalam Wang, 2012).
Orang India memiliki kadar trigliserida hati yang lebih tinggi, yang
dihubungkan dengan kadar insulin yang tinggi dan adiponektin yang rendah
dibandingkan

Orang

Kaukasian

Putih.

Kadar

trigliserida

tersebut

berpengaruh terhadap metabolic syndrome (Raji et al., 2001, dalam Wang,
2012).
Penelitian

yang

lain

menyebutkan

kebanyakan

negara-negara

berkembang di Asia, Amerika Latin dan Afrika Northern dan Timur Tengah
pada umumnya mengalami perubahan diet berupa peningkatan konsumsi
lemak terutama lemak dari hewani dan gula serta asupan sereal dan serat
yang rendah (Wang, 2012). Ditambah lagi, adanya arus urbanisasi yang
mengubah pola hidup ke arah yang buruk seperti perilaku merokok, perilaku
konsumsi alkohol dan pola konsumsi yang tidak seimbang serta memiliki
gaya hidup sedentari (sedentary life style) atau kurang aktivitas fisik (Misra
et al, 2001; Misra dan Khurana, 2008).
4. Obesitas
Obesitas adalah sebutan untuk orang gemuk dimana status gizinya berada
pada nilai Indeks antropometri IMT > 27, BB/U, TB/U (Supariasa, 2002).
Meningkatnya

obesitas

yang

merupakan komponen utama metabolic

syndrome tak lepas dari berubahnya gaya hidup, seperti perilaku kurang
aktivitas fisik dan pola konsumsi yang tidak seimbang (Alberti et al., 2009).

21

Research Triangle Institute International menyatakan adanya hubungan
prevalensi obesitas/berat badan lebih dengan jumlah jam yang dipakai anakanak untuk nonton TV. Studi ini menunjukan bahwa aktivitas fisik yang
kurang berpengaruh terhadap kejadian obesitas (Arief, 2008 dalam Wang,
2012).
Obeistas terbagi ke dalam 2 tipe yaitu obeistas tipe android dan obesitas
tipe genekoid. Obesitas tipe android sering dialami oleh laki-laki dimana
deposit lemak di daerah atas tubuh khususnya pada tengkuk, leher, bahu,
dan perut sedangkan obesitas tipe ginekoid sering dijumpai pada perempuan
dimana deposit lemak dengan area yang sama dengan laki-laki ditambah
segmen bawah bokong dan pinggul. Pada obesitas tipe android (obesitas
sentral), lemak berakumulasi sebagai lemak viskeral atau lemak subkutan
abdomen. Kelebihan pada daerah ini berisiko mengalami metabolic
syndrome dan penyakit kardiovaskular (Haris et al, 2009).
Obesitas ini memicu terjaidnya resistensi insulin. Berawal dari kadar
adiponektin yang rendah, adanya resistensi leptin, serta berbagai sitokin
yang terlepas dari sel adiposa dan sel inflamasi yang menginfiltrasi jaringan
lemak (misalnya makrofagh) menurunkan ambilan asam lemak bebas oleh
mitokondria pada beberapa jaringan, menurunkan oksidasi asam lemak
bebas, dan menyebabkan akumulasi asam lemak bebas intrasel. Kelebihan
asam lemak bebas intraselular dan metabolik dapat memicu terjadi resistensi
insulin (bahkan hiperisulinemia dan hiperglikemia) (Yogiantoro, 2006).

22

5. Pola Makan
Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran
mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan setiap hari oleh
seseorang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok tertentu ( Karjati,
1985 dalam Sulistyoningsih, 2011).
Secara umum pola makan yang baik adalah bila perbandingan komposisi
energi dari karbohidrat, protein dan lemak adalah 50-65% : 10-20% : 2030% dalam sehari. Disamping itu ditambah bebera hal sebagai berikut
a.

Konsumsi karbohidrat sederhana dianjurkan tidak lebih dari 10 % dari
konsumsi total karbohidrat (WHO, 1990 dalam Gizi & Kesmas UI,
2010).

b.

Kecukupan serat sebanyak 19-30 g/kap/hari bagi orang dewasa dan 1014 g/1000 kkal bagi anak ≥ 1 tahun. Adapun rasio serat makanan tidak
larut dan serat makanan larut 3 : 1, (WNPG VIII, 2004).

c.

Proporsi asam lemak baik asam lemak jenuh, Monounsaturated Fatty
Acid (MUFA) dan Polyunsaturated Fatty Acids (PUFA) maksimal 10
% dari energi total.

d.

Proporsi protein hewani minimal seperlima (20%) dari total protein.

e.

Konsumsi kolesterol dianjurkan < 300 mg/hari (Guthrie, 1989 dalam
Gizi Kesmas UI, 2010).

Disamping perbandingan proporsi zat gizi perhari, secara kualitatif, pola
makan yang baik adalah pola makan gizi seimbang. Gizi seimbang adalah
susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan

23

jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip
keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat
badan (BB) ideal (Danone Institute, 2009).
Gizi seimbang divisualisasikan dalam bentuk Tumpeng Gizi Seimbang
(TGS), yang terdiri atas potongan-potongan tumpeng. 1 potongan besar
merupakan golongan makanan karbohidrat, 2 potongan sedang merupakan
golongan sayuran dan buah, 2 potongan kecil di atasnya yang merupaka

Dokumen yang terkait

Dokumen baru