Tataniaga rumput laut di Desa Kutuh dan Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali

I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan Produk Domestik Bruto
(PDB) sebesar 6,5 persen pada tahun 2011 dibandingkan dengan tahun 2010. PDB
merupakan salah satu hal yang dapat dijadikan sebagai indikator untuk
mengetahui kondisi perekonomian suatu negara pada periode waktu tertentu.
Sektor perikanan merupakan salah satu sektor yang memiliki kontribusi dalam
perekonomian nasional. Hal tersebut disampaikan melalui laporan dari Badan
Pusat Statistika.
Berdasarkan laporan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan disebutkan
bahwa laju pertumbuhan produksi perikanan nasional sejak tahun 2006 – 2010
mencapai 9,68 persen per tahun dengan kontribusi terhadap PDB nasional sebesar
3,14 persen atau sekitar Rp 148,16 triliun. Pada subsektor perikanan budidaya
terjadi pertumbuhan sebesar 19,56 persen sementara pada perikanan tangkap
hanya sebesar 2,78 persen.

Hal tersebut menunjukkan adanya potensi untuk

mengembangkan sektor perikanan khususnya pada subsektor perikanan budidaya.
Perikanan budidaya merupakan salah satu sektor primadona di hulu dalam
penyediaan bahan baku. Saat ini subsektor perikanan budidaya telah menetapkan
empat komoditas utama dalam mendukung kebijakan industrialisasi perikanan,
yaitu udang, rumput laut, bandeng dan patin. Indonesia memiliki potensi
perikanan budidaya dengan luas lahan mencapai lebih dari 15,59 juta ha. Potensi
perikanan budidaya ini terbagi menjadi potensi perikanan budidaya air tawar
seluas 2,23 juta ha, budidaya air payau seluas 1,22 juta ha dan potensi terbesar
pada budidaya laut yang mencapai 12,14 juta ha. Sampai dengan tahun 2010,
pemanfaatan lahan budidaya laut baru mencapai 117.649 ha atau hanya sekitar
0,01 persen dari potensi yang ada.
Berdasarkan data produksi perikanan budidaya laut pada Tabel 1,
menujukkan dalam waktu lima tahun terakhir produksi rumput laut tetap menjadi
komoditi unggulan pada subsektor perikanan budidaya laut. Komoditi rumput laut
merupakan komoditi dengan total produksi terbesar diantara komoditi perikanan
budidaya laut utama yang ada di perairan Indonesia.

1
 

Tabel 1. Produksi Perikanan Budidaya Laut Indonesia Tahun 2006 – 2010 (Ton)
Tahun
Komoditi
2006
2007
2008
2009
2010
Kerapu

3.132

6.370

4.768

7.648

7.657

Kakap

630

523

707

2.399

2.311

Udang Barong

558

-

292

339

311

18.1895

15.623

19.662

15.857

58.079

736

94

278,8

629

475,7

1.341.141

1.485.654

1.937.591 2.791.688

3.299.436

-

-

Kerang
Teripang
Rumput Laut
Bandeng

469

99

311

Sumber : Statistik Perikanan Budidaya Indonesia 2010 (Kementerian Kelautan dan Perikanan,
2011)

Rumput laut adalah salah satu komoditi strategis kelautan dalam negeri.
Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2011, volume
produksi rumput laut Indonesia mengalami peningkatan dari produksi pada tahun
2009 sebesar 2.791.688 meningkat menjadi 3.299.436 pada tahun 2010. Nilai
ekspor komoditas rumput laut pada tahun 2010 naik 54,87 persen menjadi US$
135 juta dibanding tahun 2009 yang hanya mencapai US$ 87,77 juta. Volume
ekspor rumput laut juga naik dari 94.003 ton pada tahun 2009 menjadi 123.074
ton pada tahun 2010. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan ekspor rumput
laut Indonesia yang tersaji pada Tabel 2. Potensi pengembangan rumput laut di
Indonesia sangat besar mengingat komoditas ini merupakan komoditas
perdagangan internasional yang telah diekspor ke berbagai negara seperti
Philipina, Chili, Korea Selatan dan China.
Tabel 2. Perkembangan Ekspor Rumput Laut di Indonesia Tahun 2006 - 2010
Tahun
Volume ( kg)
Nilai (US $)
Harga (Rp/kg)
2006

95.588.055

49.586.226

4.681,71

2007

94.073.398

57.522.350

5.625,45

2008

99.947.976

110.153.291

10.470,01

2009

94.003.326

87.773.297

8.870,39

2010

123.074.961

135.939.458

10.034,61

Sumber : Statistik Ekspor Hasil Perikanan 2010 (KKP 2011, data diolah)

2
 

Berdasarkan data perkembangan ekspor rumput laut pada tahun 2006
hingga 2010 menunjukkan bahwa ekspor rumput laut cenderung mengalami
peningkatan, walaupun sempat terjadi penurunan volume ekspor dan nilai ekspor
pada tahun 2009 kemudian mengalami peningkatan kembali pada tahun 2010.
Peningkatan volume ekspor tersebut dapat mengindikasikan bahwa terjadi
peningkatan permintaan rumput laut dunia untuk setiap tahunnya. Hal ini tentunya
menjadi peluang bagi Indonesia, untuk meningkatkan produksi serta pemasaran
rumput laut untuk pemenuhan kebutuhan di pasar internasional. Data harga ekspor
pada Tabel 2 diperoleh dengan melakukan pendekatan sebagai hasil dari nilai
ekspor rumput laut dibagi dengan volume ekspor rumput laut.
Bali merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terkenal dengan
daya tarik keindahan pesona wisata laut. Pesona perairan di wilayah Bali tidak
hanya pada sektor pariwisata saja namun juga dari kekayaan komoditi budidaya
laut yang telah lama dikembangkan, termasuk pengembangan budidaya rumput
laut. Wilayah perairan laut di provinsi Bali mencapai angka ± 95.000 km2 dengan
luas lahan yang memiliki potensi untuk dikembangkan dalam budidaya laut
adalah sekitar 1.551,75 ha dan berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan
Perikanan Provinsi Bali pada tahun 2008 luas lahan potensial tersebut baru
dimanfaatkan untuk usaha budidaya laut seluas 418,5 ha dengan komoditi utama
yang telah dikembangkan adalah rumput laut jenis Euchema cotonii sp dan
Eucheuma spinosum sp. Rumput laut untuk jenis Eucheuma sp memiliki potensi
untuk dikembangkan karena adanya peluang terkait tingginya permintaan pasar
jika dibandingkan dengan jenis rumput laut lainnya seperti Gracilaria sp seperti
yang ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Peluang Pasar Perdagangan Rumput Laut
Jenis Produk

2006

2007

Permintaan Dunia ( ton)

202.300

218.100

Produksi Indonesia (ton)

56.000

Permintaan Dunia (ton)
Produksi Indonesia (ton)

2008

2009

2010

235.300

253.900

274.100

60.000

66.000

73.000

80.000

79.200

87.040

95.840

105.440

116.000

29.000

36.000

41.500

48.000

57,50

Eucheuma sp

Gracilaria sp

Sumber : BPPT & ISS 2006 (Dalam Buku Profil Rumput Laut Indonesia, 2009)

3
 

Komoditi rumput laut khususnya untuk jenis Eucheuma sp, mulai
dibudidayakan secara massal di Indonesia pada tahun 1984 di wilayah perairan
Bali meliputi wilayah Nusa Dua, Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa
Ceningan. Pada produksi rumput laut nasional, Bali memberikan kontribusi
sebagai salah satu dari sepuluh provinsi penghasil rumput laut terbesar pada skala
nasional. Hal ini didasarkan pada data Kementerian Kelautan dan Perikanan
mengenai produksi rumput laut di beberapa provinsi utama di Indonesia yang
tersaji pada Tabel 4. Pada tabel tersebut menunjukkan bahwa antara tahun 2004 –
2008 terjadi fluktuasi hasil produksi rumput laut di Provinsi Bali. Produksi rumput
laut mengalami penurunan pada tahun 2007 kemudian meningkat kembali pada
tahun 2008. Tingkat produksi rumput laut di Provinsi Bali menempati urutan
ketiga diantara sepuluh provinsi utama penghasil rumput laut di Indonesia.
Tabel 4. Produksi Rumput Laut menurut Provinsi Utama Tahun 2004 - 2008
Tahun (dalam ton basah)
No.
Provinsi
2004
2005
2006
2007
2008
1.

Sulawesi

24.784

204.397

409.422

418.063

690.385

Selatan

2.

NTT

66.423

271.846

478.114

504.699

566.495

3.

Bali

156.104

161.053

164.804

152.317

170.860

84.725

12.041

24.660

82.092

89.510

39.091

36.747

60.410

76.552

84.750

2.480

722

3.104

17.013

37.590

126

297

1.772

17.730

19.820

41

6.245

10.231

12.932

16.300

4.

Sulawesi
Tenggara

5.

NTB

6.

Maluku

7.

Kalimantan
Timur

8.

Jawa Timur

9.

Jawa Barat

2.687

775

143

85

14.100

10.

Lampung

1.210

449

1.074

1.850

9.190

11.

Lainnya

405.472

877.319 1.345.077 1.488.463 1.951.910

Sumber : Data Statistik Ditjen. Perikanan Budidaya, DKP (Dalam Buku Profil Rumput Laut
Indonesia, 2009)

4
 

Provinsi Bali memiliki beberapa sentra wilayah dalam pembudidayaan
komoditi rumput laut. Menurut data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi
Bali, terdapat tiga kabupaten/kota dengan potensi terbesar dalam pengembangan
budidaya rumput laut, yaitu Kota Denpasar, Kabupaten Badung dan Kabupaten
Klungkung. Hal ini dapat dilihat pada data yang tersaji pada Tabel 5 mengenai
total produksi rumput laut yang dihasilkan oleh masing – masing kabupaten/kota
yang ada di Provinsi Bali. Sampai dengan akhir tahun 2011, produksi rumput laut
mencapai 141.863,4 ton basah dengan nilai produksi sebesar Rp 263.954.294.000
yang dapat dilihat pada data di Lampiran 3.
Tabel 5. Total Produksi Rumput Laut di Kabupaten/Kota di Provinsi Bali Tahun
2008 – 2010 (Ton)
Tahun
No.
Kabupaten/Kota
2008
2009
2010
1.

Denpasar

2.795,8

2.931,5

1.348,5

2.

Badung

23.469,0

28.393,5

29.026,4

3.

Buleleng

1.614,3

1.251,4

751,3

4.

Klungkung

101.210,2

103.234,5

101.514,6

Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali (data diolah, 2012)

Data pada Tabel 5 menunjukkan bahwa terdapat empat kabupaten/kota di
wilayah Provinsi Bali yang berperan sebagai penghasil komoditi rumput laut.
Kabupaten Badung merupakan penghasil rumput laut kedua terbesar di wilayah
Provinsi Bali. Produksi rumput laut di Kabupaten Badung pada sepanjang tahun
2008 hingga 2010 menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan setiap tahun.
Pada tahun 2009 terjadi peningkatan produksi sebesar 20,98 persen dibandingkan
produksi pada tahun 2008. Selanjutnya pada tahun 2010, produksi juga
mengalami peningkatan namun tidak sebesar peningkatan pada tahun 2009, pada
tahun 2010 peningkatan hanya sebesar 2,23 persen dari total produksi di tahun
2009 sebesar 28.393,5 ton menjadi 29.026,4 ton pada tahun 2010.
Wilayah Bali Selatan yang termasuk dalam regional wilayah Kabupaten
Badung memiliki areal potensi rumput laut seluas 95 ha yang tersebar dari Pantai
Sawangan, Pantai Kutuh, dan Pantai Geger yang berada di dalam wilayah
Kecamatan Kuta Selatan. Hasil produksi rumput laut di wilayah Kabupaten

5
 

Badung tahun 2010 mencapai 29.026 ton basah. Perkembangan produksi rumput
laut di wilayah Kabupaten Badung mengalami fluktuasi yang selanjutnya
berpengaruh terhadap nilai dari rumput laut, hal ini dapat dilihat melalui data
pada Tabel 6. Namun tingkat harga rumput laut di Kabupaten Badung cenderung
mengalami peningkatan pada tahun 2006 hingga 2010, walaupun sempat terjadi
penurunan harga sebesar 33,10 persen pada tahun 2009. Tingkat harga rumput
laut diperoleh melalui perbandingan nilai produksi terhadap produksi rumput laut
di Kabupaten Badung. Data pada Tabel 2 dan Tabel 6 dapat diperlihatkan bahwa
terdapat marjin dalam membandingkan harga rumput laut yang masih dalam
kondisi segar yang ditunjukkan pada Tabel 6 dengan rumput laut yang siap untuk
ekspor yang diwakili oleh data yang ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 6. Perkembangan Total dan Nilai Produksi Rumput Laut di Kabupaten
Badung Tahun 2006 – 2010
Produksi
Nilai Produksi
Tahun
Harga (Rp/kg)
%
(Ton)
( Rp .000)



2006

46.166,5

-

30.009.525

650,02

2007

34.821,7

- 24,57 %

22.635.395

650,03

2008

22.005,1

- 36,81 %

36.332.685

1.651,10

2009

28.393,5

29,03 %

31.364.149

1.104,62

2010

29.026,4

2,23 %

32.302.258

1.112,85

Sumber : Buku Saku Statistik Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Badung 2007
– 2011 (data diolah, 2012)

Hasil produksi rumput laut di wilayah Kecamatan Kuta Selatan
memberikan kontribusi hampir 100 persen penuh terhadap produksi rumput laut di
Kabupaten Badung. Hal ini dapat dilihat pada data produksi rumput laut di
Kecamatan Kuta Selatan pada Lampiran 4. Berdasarkan data pada Tabel 6
menunjukkan harga rumput laut setiap tahun juga cenderung mengalami
peningkatan. Namun tidak demikian dengan harga yang diperoleh petani rumput
laut setiap periode panen. Fluktuasi harga jual rumput laut tetap dirasakan oleh
para petani rumput laut. Fluktuasi harga yang terjadi tentunya mempengaruhi
tingkat pendapatan yang diperoleh petani. Dalam mengoptimalkan kegiatan
budidaya rumput laut tentunya perlu didukung dengan aktivitas pemasaran yang
mampu meningkatkan nilai tambah dari rumput laut yang dihasilkan serta
6
 

menentukan kesejahteraan di tingkat petani. Selain itu adanya marjin dalam
penetapan harga rumput laut yang ditujukan untuk pasar ekspor menunjukkan
adanya berbagai perilaku dalam upaya pemberian nilai tambah dalam kegiatan
ekspor rumput laut. Oleh karena itu diperlukan adanya penelusuran mengenai
penerapan fungsi – fungsi pemasaran rumput laut di Indonesia melalui pendekatan
sistem tataniaga yang dijalankan khususnya pada komoditi rumput laut yang
dihasilkan di wilayah Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.
1.2. Perumusan Masalah
Peningkatan ekspor rumput laut dunia menunjukkan adanya peluang
dalam hal pemasaran rumput laut. Kebutuhan dunia terhadap produk olahan
rumput laut cukup tinggi diantaranya bagi industri pengolahan agar – agar,
karaginan dan alginat. Kontinuitas suplai rumput laut tentunya sangat diperlukan
dalam kegiatan industri pengolahan pengguna bahan baku rumput laut serta
kegiatan perdagangan luar negeri terkait ekspor rumput laut. Bali sebagai salah
satu sentra pembudidayaan rumput laut nasional memiliki kontribusi dalam
kegiatan ekspor komoditi yang dikenal sebagai “emas” hijau lautan Indonesia.
Menurut data dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti)
menyebutkan realisasi ekspor rumput laut yang berasal dari Bali pada tahun 2011
berjumlah 23,6 ton senilai US $ 15.720.
Kabupaten Badung merupakan salah satu kabupaten yang memiliki
potensi pengembangan budidaya rumput laut di Provinsi Bali. Rumput laut yang
dihasilkan di wilayah Kabupaten Badung memiliki jaminan kualitas yang lebih
baik dibandingkan dengan kabupaten/kota lain yang berada di wilayah Provinsi
Bali. Berdasarkan Tabel 5, Kabupaten Klungkung memiliki keunggulan dalam hal
kuantitas produksi rumput laut namun jika dibandingkan dengan kualitas, rumput
laut di Kabupaten Badung memiliki jaminan kualitas yang lebih baik
dibandingkan dengan Kabupaten Klungkung. Berdasarkan hasil penelusuran
kepada petani rumput laut di wilayah Kecamatan Kuta Selatan, petani
menyebutkan bahwa harga yang mereka terima lebih tinggi dibandingkan petani
rumput laut di wilayah Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Hal ini juga dapat
dilihat melalui perbandingan harga rumput laut di tiga kabupaten/kota dengan
jumlah produksi rumput laut terbesar di Provinsi Bali yang tersaji pada Gambar 1.

7
 

Data pada Gambar 1 diolah melalui pendekatan total produksi dan nilai produksi
di tiga kabupaten/kota penghasil rumput laut terbesar di Provinsi Bali yang
terdapat pada Lampiran 2. Penetapan harga yang lebih tinggi mengindikasikan
adanya jaminan kualitas yang lebih baik sehingga adanya kesediaan untuk

Harga Rumput Laut (Rp/kg 
basah)

membayar lebih tinggi.
1,800.00 
1,600.00 
1,400.00 
1,200.00 
1,000.00 
800.00 
600.00 
400.00 
200.00 


1,569.95 

840.09 
666.00 

1,105.00 

1,113.00 
984.48 

820.96 
593.00 

700.00 

Denpasar
Badung
Klungkung

2008

2009

2010

Tahun

 

Gambar 1. Tingkat Harga Rumput Laut di Kabupaten/Kota di Provinsi Bali
Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Bali (data diolah, 2011)

Aktivitas pembudidayaan rumput laut di Kabupaten Badung didominasi
oleh para petani di wilayah Kecamatan Kuta Selatan. Kuta Selatan menjadi sentra
pembudidayaan rumput laut dengan kontribusi hampir 100 persen pada total
produksi rumput laut di wilayah Kabupaten Badung pada tahun 2009 dan 2010.
Desa Kutuh dan Kelurahan Benoa merupakan lokasi sentra budidaya rumput laut
di wilayah Kecamatan Kuta Selatan khususnya untuk jenis Euchema cotonii sp.
Para petani lebih banyak melakukan budidaya terhadap jenis ini karena
berdasarkan hasil wawancara, faktor harga menjadi salah satu pertimbangan
petani memlih untuk membudidayakan rumput laut jenis Eucheuma sp
dibandingkan rumput laut jenis lainnya seperti Gracilaria sp. Pada rumput laut
jenis Eucheuma sp petani memperoleh harga Rp 8.000 – Rp 10.000 per kg rumput
laut kering sementara untuk jenis Gracilaria sp hanya berkisar pada harga Rp
2.000 – Rp 4.000 per kg.
Rumput laut sebagian besar dipasarkan dalam kondisi segar yang
digunakan sebagai bahan baku mentah (raw seaweeds) sehingga belum ada upaya
pengolahan untuk menciptakan nilai tambah bagi komoditi rumput laut.

8
 

Penerapan sistem tataniaga yang baik tentunya diperlukan dalam upaya
meningkatkan nilai tambah dari komoditi rumput laut dalam proses pemasaran.
Proses produksi melalui pembudidayaan rumput laut yang diupayakan di
Kecamatan Kuta Selatan tentunya bertujuan untuk memperoleh keuntungan dan
pendapatan bagi para petani. Sistem tataniaga merupakan suatu hal yang terkait
dengan proses produksi rumput laut terutama dalam upaya pemasaran produk
hingga sampai ke tingkat konsumen. Tataniaga merupakan aktivitas bisnis dalam
upaya mengalirkan produk dari produsen primer (petani) ke konsumen akhir.
Melalui sistem tataniaga dapat diketahui proses penyaluran suatu produk hingga
sampai ke tangan konsumen, jumlah biaya yang dikeluarkan dalam penyaluran
produk tersebut serta pihak – pihak yang terlibat di dalamnya.
Permasalahan yang dihadapi oleh petani dalam memasarkan suatu
komoditi agribisnis adalah mengenai rendahnya posisi tawar petani khususnya
dalam penetapan harga. Begitu pula halnya pada petani rumput laut di Kecamatan
Kuta Selatan khususnya bagi petani yang tidak terfasilitasi oleh keberadaan
kelompok tani dalam aktivitas tataniaga. Peningkatan nilai tambah suatu komoditi
merupakan suatu hal penting yang dapat dijadikan sebagai upaya untuk
meningkatkan harga jual dari produk tersebut. Berdasarkan grafik yang tersaji
pada Gambar 2, terlihat bahwa terdapat fluktuasi nilai penjualan rumput laut di

1800
1600
1400
1200
1000
800
600
400
200
0
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

Harga (Rp/kg basah)

Kecamatan Kuta Selatan.

 

Gambar 2. Perkembangan Harga Rumput Laut di Kecamatan Kuta Selatan
Tahun 2009 – 2010
Sumber : Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kab. Badung (Data diolah, 2011)

9
 

Pembudidayaan rumput laut di Kecamatan Kuta Selatan sebagian telah
dikelola oleh petani melalui suatu wadah bersama dengan membentuk kelompok
tani.

Keberadaan

kelompok

dalam

aktivitas

usahatani

tentunya

akan

mempermudah pengelolaan kegiatan usaha. Peranan kelompok tidak hanya
mengkoordinasikan aktivitas budidaya saja melainkan juga dalam hal pemasaran
komoditi. Dalam tataniaga rumput laut, keberadaan kelompok tani juga memiliki
peranan dalam aktivitas pemasaran khususnya pada pengembangan budidaya
rumput laut di Kecamatan Kuta Selatan. Perbedaan wilayah desa lokasi
pembudidayaan rumput laut di wilayah Kecamatan Kuta Selatan juga
menimbulkan perbedaan peranan kelompok khususnya dalam pemasaran rumput
laut.
Petani di wilayah Desa Kutuh memiliki empat kelompok tani yang aktif.
Kelompok tani di wilayah ini telah berperan dalam aktivitas pemasaran rumput
laut bagi para anggotanya. Selain dalam bentuk kelompok, pengelolaan kegiatan
usaha budidaya rumput laut di wilayah Desa Kutuh juga ada yang dikelola secara
individual oleh petani. Berdasarkan informasi yang diperoleh, adanya penetapan
syarat mutu tertentu dari rumput laut yang harus dipatuhi oleh anggota kelompok
menjadi salah satu alasan petani memilih untuk mengelola usaha budidaya rumput
laut secara individual.
Sementara itu, berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian menunjukkan
bahwa para petani di wilayah Kelurahan Benoa memiliki gambaran yang berbeda
dalam aktivitas pemasaran. Para petani di kawasan ini tergabung dalam kelompok,
namun keberadaan kelompok tidak menunjang aktivitas pemasaran rumput laut
para petani. Petani di wilayah ini memasarkan rumput laut secara individu melalui
perantara yaitu para pedagang pengumpul. Perbedaan sistem manajemen dalam
kegiatan usaha ini tentunya juga akan memberikan perbedaan terhadap
pendapatan yang akan diperoleh antara petani yang tergabung dalam kelompok
dengan petani yang mengelola usahanya secara individual. Mengacu pada uraian
di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan dalam tataniaga rumput
laut di Kecamatan Kuta Selatan adalah sebagai berikut.
1) Bagaimana pelaksanaan sistem tataniaga pada komoditi rumput laut di
Kecamatan Kuta Selatan?

10
 

2) Bagaimana peranan kelompok tani dalam mempengaruhi sistem tataniaga
rumput laut di Kecamatan Kuta Selatan?
3) Apakah sistem tataniaga yang diterapkan oleh para petani di Kecamatan Kuta
Selatan sudah efisien?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pemikiran yang telah diuraikan maka adapun tujuan dari
penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Mengetahui serta menganalisis pelaksanaan sistem tataniaga rumput laut di
Kecamatan Kuta Selatan.
2) Mengkaji peranan kelompok tani dalam tataniaga rumput laut di Kecamatan
Kuta Selatan.
3) Menganalisis efisiensi sistem tataniaga rumput laut dari Kecamatan Kuta
Selatan.
1.4. Ruang Lingkup Penelitian
Kecamatan Kuta Selatan merupakan sentra rumput laut yang berada di
wilayah Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Hasil produksi rumput laut yang cukup
besar di wilayah Kecamatan Kuta Selatan mengindikasikan adanya peluang
pengembangan perekonomian desa. Pengembangan usaha komoditi rumput laut
merupakan salah satu upaya yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat
Kecamatan Kuta Selatan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh melalui wawancara dan literatur
terkait, pemasaran rumput laut dari wilayah Kecamatan Kuta Selatan telah
menjangkau permintaan pasar ekspor di wilayah Provinsi Bali dan luar Provinsi
Bali seperti melalui eksportir yang berasal dari Surabaya (Jawa Timur).
Rendahnya akses petani untuk dapat menjual langsung hasil panen rumput laut
kepada pihak eksportir menjadi salah satu kendala bagi petani untuk memperoleh
posisi tawar yang baik dalam menentukan harga. Berdasarkan informasi tersebut
maka dalam penelitian ini hanya mengkaji aktivitas tataniaga rumput laut yang
berasal dari wilayah Kecamatan Kuta Selatan hingga para pedagang pengumpul,
eksportir, serta berbagai lembaga tataniaga yang terkait dengan tataniaga rumput
laut di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.

11
 

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Rumput Laut
Algae (ganggang laut) atau lebih dikenal dengan sebutan rumput laut
adalah salah satu biota laut yang berpotensi di wilayah perairan Indonesia.
Rumput laut yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah seaweed
merupakan salah satu komoditas perikanan yang sudah populer dalam dunia
perdagangan dan menjadi salah satu komoditas utama perikanan Indonesia yang
diekspor ke berbagai negara di belahan dunia. Menurut Anggadiredja dkk (2010),
rumput laut dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelas yaitu :
1) Rhodophyceae (ganggang merah)
2) Phaeophyceae (ganggang cokelat)
3) Chlorophyceae (ganggang hijau)
4) Cyanophyceae (ganggang biru – hijau)
Beberapa jenis rumput laut Indonesia yang bernilai ekonomis dan sejak
dulu sudah diperdagangkan yaitu Eucheuma sp, Hypnea sp, dan Gelidium sp dari
kelas Rhodophyceae serta Sargassum sp dari kelas Phaeophyceae. Namun sebaran
rumput laut komersial yang dibudidayakan hanya terbatas untuk jenis Euchema
dan Gracilaria. Pembudidayaan kedua jenis rumput laut tersebut disesuaikan
dengan permintaan pasar yang cukup besar terhadap kedua jenis rumput laut. Di
wilayah Kabupaten Badung, Provinsi Bali, pengembangan budidaya rumput laut
lebih didominasi oleh rumput laut jenis Eucheuma sp, hal ini berdasarkan data
dari Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Badung mengenai
produksi perikanan, menunjukkan bahwa untuk budidaya laut khususnya pada
komoditi rumput laut, wilayah Kabupaten Badung hanya mengusahakan dua jenis
rumput laut yaitu jenis Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosum.
Jenis Euchema dibudidayakan di laut yang agak jauh dari sumber air
tawar, seperti sungai atau air buangan dari pemukiman. Rumput laut jenis
Euchema sp. pertama kali dibudidayakan secara massal pada tahun 1984 di
perairan Pulau Bali dan Nusa Tenggara Barat (Anggadiredja dkk 2010). Perairan
yang memiliki dasar berupa pasir yang bercampur dengan pecahan karang cocok
digunakan untuk budidaya rumput laut Euchema sp. Hal tersebut menunjukkan
adanya pergerakan air yang baik. Selain itu, lokasi yang tepat untuk budidaya
12
 

rumput laut jenis ini adalah wilayah perairan yang terlindung dari arus dan
hempasan ombak yang terlalu kuat.
Waktu pemanenan rumput laut yang baik adalah ketika rumput laut telah
memiliki umur 6 – 8 minggu. Dalam penanganan pascapanen, rumput laut yang
telah dipanen melalui tahapan pencucian dan pengeringan yang biasanya
menghabiskan waktu 2 – 3 hari. Pada rumput laut jenis Euchema sp. kadar air
yang harus dicapai dalam pengeringan berkisar 30 – 35 persen (Ditjen Perikanan
Budidaya, 2011).
Pemanfaatan rumput laut sebagai bahan baku industri sangat tinggi. Hal
ini dapat dilihat pada data mengenai peluang pasar perdagangan rumput laut pada
Tabel 3. Data tersebut menunjukkan adanya peluang dalam mengusahakan
komoditi rumput laut khususnya jenis Eucheuma sp. Euchema cotonii sebagai
penghasil karaginan yang merupakan salah satu produk turunan dari komoditi
rumput laut yang digunakan sebagai bahan baku berbagai industri baik pangan
maupun non pangan. Penggunaan karaginan dalam industri pangan diantaranya
pada produk saus dan kecap, karaginan digunakan sebagai bahan pengental dan
penstabil alami. Sementara itu pada produk non pangan, karaginan juga digunakan
pada produk pewangi ruangan air-freshner gel sebagai gelling agent, pada produk
pasta gigi karaginan memiliki fungsi sebagai binder dan stabilizer serta pada
produk kosmetik seperti lotion dan cream, karaginan digunakan sebagai bodying
agent (Anggadiredja dkk 2010).
Pemanfaatan rumput laut sebagai bahan baku dalam produk olahan
menjadikan pentingnya jaminan mutu dan keamanan pangan pada komoditi
rumput laut. Persyaratan standar kadar air pada rumput laut kering menjadi hal
yang diutamakan oleh pihak eksportir dalam melakukan aktivitas ekspor. Adapun
persayaratan rumput laut yang ditetapkan menurut Standar Nasional Indonesia
(SNI) yang dapat dilihat pada data yang tersaji pada Tabel 7. Sebagai komoditi
ekspor, rumput laut memiliki kode perdagangan internasional yang digunakan
sebagai pengenal dan dikenal dengan istilah kode HS (Harmonized System).
Komoditi rumput laut termasuk dalam kode HS.1212.20 yang merupakan
kelompok seaweed and other alga, fresh and dried wether or not ground
(ganggang laut dan ganggang lainnya) (Rajagukguk 2009).

13
 

Tabel 7. Standar Nasional Rumput Laut Indonesia
Eucheuma
spp
Sensori
7
Kimia
-Kadar Air
% Fraksi
30 – 35
Massa
- Clean Anhydrous Weed
Fisik
-Benda Asing

Gracilaria
spp
7

Gelidium
spp

15 – 18

15 – 20

7

% Fraksi
Massa

Minimal 30

Minimal 30

Minimal 30

% Fraksi
Massa

Maksimal 5

Maksimal 5

Maksimal 5

Sumber : Direktorat Standarisasi dan Akreditasi DKP, 2008 (Dalam Buku Profil Rumput Laut
Indonesia, 2009)

2.2. Hasil Penelitian Terdahulu tentang Tataniaga
Ketersediaan hasil penelitian terkait sistem tataniaga rumput laut masih
sangat terbatas, oleh karena itu terdapat beberapa penelitian terdahulu terkait
tataniaga beberapa komoditi yang dijadikan sebagai acuan dalam penelitian ini.
Penelitian mengenai aktivitas tataniaga berbagai komoditi agribisnis umumnya
melakukan pengukuran terhadap efisiensi dari pelaksanaan sistem tataniaga
suatu komoditi tertentu. Berbagai pendekatan yang digunakan dalam mengukur
efisiensi adalah melalui marjin tataniaga, farmer’s share dan rasio keuntungan
terhadap biaya pemasaran yang dikeluarkan.
Beberapa penelitian yang terkait dengan aktivitas tataniaga/pemasaran
diantaranya Zulham (2007) menganalisis tentang risiko dan marjin pemasaran
pada rumput laut di Gorontalo, Firdaus dan Wagiono (2009) melakukan
penelitian mengenai dayasaing dan sistem pemasaran manggis Indonesia serta
Puspitasari (2010) yang menganalisis mengenai efisiensi tataniaga pada
komoditi ikan lele di Kecamatan Ciawi.
2.3. Kajian mengenai Konsep dan Penentuan Efisiensi Tataniaga
Zulham (2007), Firdaus dan Wagiono (2009) dan Puspitasari (2010)
menggunakan data primer dan sekunder pada masing - masing penelitian. Data
primer diperoleh menggunakan metode wawancara dan pengamatan langsung di
lokasi penelitian. Lokasi penelitian yang dipilih dalam penelitian Zulham (2007)
serta Firdaus dan Wagiono (2009) adalah melakukan penelitian lebih dari satu

14
 

lokasi yang menjadi sentra pengembangan dari masing – masing komoditi yang
dijadikan objek penelitian. Penentuan petani responden dilakukan dengan
purposive sampling dan selanjutnya digunakan metode snowball sampling dalam
melakukan penelusuran terhadap lembaga tataniaga yang terlibat dalam saluran
tataniaga dari setiap komoditi yang diteliti.
Penelitian Firdaus dan Wagiono (2009) dan Puspitasari (2010)
mempertimbangkan beberapa hal yang menjadi penilaian kualitatif dalam
aktivitas pemasaran/tataniaga yang dikaji meliputi analisis struktur, analisis
saluran dan perilaku lembaga pemasaran/tataniaga yang terlibat. Sementara itu
dalam penilaian kuantitatif Firdaus dan Wagiono (2009) dan Puspitasari (2010)
menggunakan analisis terhadap nilai marjin tataniaga, farmer’s share dan rasio
keuntungan terhadap biaya. Sementara itu pada penelitian Zulham (2007)
digunakan penilaian terhadap share harga dan marjin pemasaran dalam
melakukan kajian terhadap aktivitas pemasaran serta menghitung nilai expected
keuntungan untuk mengetahui peluang dan risiko yang dihadapi oleh petani
rumput laut di wilayah Gorontalo.
Penilaian kualitatif terhadap sistem tataniaga salah satunya dilakukan
melalui analisis perilaku pasar. Puspitasari (2010) melakukan analisis terhadap
perilaku pasar melalui beberapa pendekatan seperti praktik pembelian dan
penjualan, pada pendekatan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara petani
(pembudidaya) dengan pedagang pengumpul atau lembaga tataniaga telah tercipta
hubungan kepercayaan yang baik sehingga pedagang pengumpul telah menjadi
pembeli langganan dari petani, begitu juga halnya antara pedagang pengumpul
dengan lembaga tataniaga selanjutnya, namun para pelaku tataniaga bebas
menentukan pembeli yang menjadi tujuan penjualan dan tidak ada kontrak atau
perjanjian yang mengikat antar pelaku tataniaga. Selain itu, Firdaus dan Wagiono
(2009) dan Puspitasari (2010) juga melakukan pendekatan dari sistem penentuan
harga untuk menganalisis perilaku pasar dalam sistem tataniaga. Pendekatan
tersebut menunjukkan bahwa posisi tawar dari petani/pembudidaya cenderung
lemah karena keterbatasan modal, lemahnya akses pasar dan keterbatasan
informasi yang dimiliki oleh petani sehingga harga cenderung ditentukan oleh
lembaga tataniaga yang lebih tinggi tingkatannya. Berbeda dengan lembaga

15
 

tataniaga yang berada lebih tinggi tingkatannya daripada petani. Para pelaku ini
menetapkan harga dengan sistem tawar - menawar karena adanya pengetahuan
terhadap informasi pasar dari para pelaku yang setingkat. Hal ini menunjukkan
bahwa semakin banyak informasi pasar yang diterima oleh pelaku tataniaga maka
posisi dalam penentuan harga akan semakin kuat. Zulham (2007) mengidentifikasi
bahwa informasi harga rumput laut dari wilayah Gorontalo dari lini akhir hingga
lini awal berjalan dengan baik sehingga tidak terdapat distorsi harga yang
merugikan setiap pelaku bisnis rumput laut.
Pendekatan marjin pemasaran pada umumnya menjadi salah satu indikator
dalam penentuan efisiensi suatu aktivitas pemasaran/tataniaga. Begitu pula halnya
dengan ketiga penelitian yang dijadikan sebagai acuan dalam penelitian ini.
Zulham (2007) dan Puspitasari (2010) menganalisis marjin pada setiap saluran
yang terbentuk maupun marjin di masing – masing lembaga yang terlibat dalam
aktivitas tataniaga. Sementara itu Firdaus dan Wagiono (2009) melihat marjin
yang terbentuk secara keseluruhan di setiap pola saluran tataniaga.
Puspitasari (2010) mengidentifikasi empat saluran tataniaga yang diterapkan
dalam tataniaga komoditi ikan lele. Penilaian efisiensi melalui pendekatan nilai
marjin tataniaga yang dilakukan oleh Puspitasari (2010) menunjukkan bahwa
tidak selalu saluran dengan marjin tataniaga yang bernilai tinggi menunjukkan
bahwa saluran tersebut tidak efisien. Penelitian Puspitasari (2010) menunjukkan
bahwa salah satu penyebab tingginya marjin adalah akibat adanya pelaksanaan
aktivitas pengolahan yang meningkatkan biaya tataniaga sebagai upaya
penambahan kegunaan bentuk yang akan diperoleh konsumen hal ini
menunjukkan bahwa terjadi pemenuhan kepuasan yang diterima oleh konsumen
yang merupakan tujuan dari pelaksanaan sistem tataniaga. Namun Puspitasari
(2010) tetap menjadikan indikator bahwa saluran dengan marjin terkecil dinilai
relatif lebih efisien karena melibatkan sedikit lembaga tataniaga sehingga produk
dinilai akan lebih cepat sampai ke tangan konsumen.
Sementara itu pada penelitian Zulham (2007) dilakukan perhitungan
terhadap share harga di masing – masing lembaga yang terlibat dalam tataniaga
rumput laut di Gorontalo. Zulham (2007) menganalisis nilai marjin yang
diperoleh yang dihubungkan dengan expected keuntungan di setiap lembaga

16
 

yang selanjutnya dapat menggambarkan peluang dan risiko yang akan dihadapi
masing – masing lembaga dalam aktivitas pemasaran/tataniaga rumput laut.
Penelitian Zulham (2007) juga menunjukkan bahwa salah satu penyebab
tingginya marjin tataniaga adalah faktor jarak dalam pendistribusian produk
yang selanjutnya akan mempengaruhi biaya pemasaran yang dikeluarkan.
Zulham (2007) juga memberikan gambaran bahwa semakin kecil marjin
menunjukkan semakin kecil pula expected keuntungan dari sistem tataniaga
yang dijalankan sehingga risiko yang mungkin dihadapi juga akan lebih kecil.
Penentuan efisiensi pada suatu aktivitas tataniaga tidak hanya dilakukan
melalui pendekatan dari besarnya marjin yang terbentuk. Firdaus dan Wagiono
(2009) dan Puspitasari (2010) dilakukan pula pendekatan melalui nilai farmer’s
share dan nilai rasio keuntungan biaya. Puspitasari (2010) menentukan efisiensi
pada saluran tataniaga juga didasarkan pada nilai marjin tataniaga yang kecil
serta tingkat farmer’s share yang tinggi, selain itu Firdaus dan Wagiono (2009)
juga menyatakan bahwa kriteria tersebut juga menjadi indikator untuk penentuan
saluran pemasaran yang paling menguntungkan.

Sementara itu, nilai rasio

keuntungan terhadap biaya menunjukkan nilai keuntungan yang diterima oleh
produsen setiap satu rupiah biaya tataniaga yang dikeluarkan.
2.4. Hasil Penelitian Terdahulu tentang Rumput Laut
Beberapa penelitian terkait dengan komoditi rumput laut diantaranya
membahas mengenai skala usaha dan efisiensi ekonomi relatif dalam usahatani
rumput laut serta daya saing rumput laut. Sobari (1993) melakukan penelitian
mengenai usaha usaha dan efisiensi ekonomi relatif usahatani rumput laut dengan
mengambil lokasi penelitian di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung,
Bali. Pada penelitian tersebut, peneliti melihat hubungan antara skala usaha petani
dengan tingkat efisiensi yang dicapai dari masing – masing skala usaha tersebut.
Peneliti mengambil 130 responden yang diambil secara acak dengan membagi ke
dalam tiga skala usaha berdasarkan luas lahan usaha budidaya rumput laut, yaitu
skala usaha kecil (≤ 250 m2), skala usaha sedang (251 – 500 m2) dan skala usaha
besar ( ≥ 500 m2). Hubungan luas lahan dengan efisiensi ekonomi dilakukan
dengan menggunakan model analisis fungsi keuntungan dan dengan asumsi fungsi
produksi dalam bentuk Cobb – Douglas.

17
 

Sobari (1993) menyebutkan ada tiga faktor penting yang harus
diperhatikan dan dapat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan usahatani rumput
laut, yaitu kondisi alam yang meliputi salinitas, arus, gelombang, suhu, dasar
perairan dan kedalaman laut; ketersediaan dan penerapan teknologi yang sudah
dilakukan oleh petani rumput laut; dan faktor yang ketiga adalah kondisi sosial
ekonomi yang meliputi struktur sosial, kelembagaan (bank, koperasi) dan pasar
(penawaran, permintaan dan harga). Hasil yang diperoleh dalam penelitian Sobari
(1993) menunjukkan bahwa secara ekonomis semakin besar skala usaha maka
akan semakin efisien usaha yang dijalankan tersebut. Selain itu juga diperoleh
variabel yang memiliki pengaruh terhadap tingkat keuntungan usahatani rumput
laut yaitu luas lahan, modal investasi dan pengalaman usaha.
Rajagukguk (2009) membahas mengenai daya saing rumput laut di
Indonesia guna mengkaji pangsa pasar ekspor rumput laut di pasar internasional.
Pada penelitian tersebut, analisis dilakukan berdasarkan negara tujuan ekspor
yang diurutkan berdasarkan nilai ekspor terbesar. Selain itu, pada penelitian
tersebut dilakukan analisis mengenai faktor – faktor yang mempengaruhi
perubahan pangsa pasar ekspor rumput laut dan pengaruhnya terhadap pangsa
pasar ekspor rumput laut di negara tujuan.
Rajagukguk (2009) melakukan penelitian dengan menggunakan data
sekunder. Pada analisis faktor – faktor yang mempengaruhi pangsa pasar ekspor
rumput laut, dilakukan dengan menggunakan metode Pooled OLS, metode Fixed
Effect dan metode Random Effect. Hasil yang diperoleh dalam penelitian tersebut
menunjukkan bahwa dari lima faktor yang diduga mempengaruhi pangsa pasar
ekspor rumput laut Indonesia di negara tujuan yaitu volume ekspor rumput laut
Indonesia ke negara tujuan, harga ekspor rumput laut Indonesia, nilai tukar, GDP
per kapita negara tujuan ekspor dan produksi nasional rumput laut Indonesia,
maka variabel yang dinyatakan berpengaruh nyata terhadap pangsa pasar ekspor
rumput laut Indonesia di negara tujuan adalah volume ekspor ke negara tujuan,
nilai tukar dan GDP per kapita negara tujuan.
2.5. Keterkaitan dengan Penelitian Terdahulu
Penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian
terdahulu. Persamaan dari penelitian ini dengan penelitian terdahulu diantaranya

18
 

adalah metode penentuan responden yang dilakukan yaitu dengan menggunakan
metode purposive sampling dan snowball sampling. Salah satu tujuan dalam
penelitian ini adalah untuk menganalisis efisiensi dari penerapan sistem tataniaga
seperti penelitian yang dilakukan oleh Firdaus dan Wagiono (2009) dan
Puspitasari (2010). Pengukuran efisiensi tataniaga dilakukan melalui pendekatan
nilai marjin tataniaga yang terbentuk, nilai farmer’s share dan rasio keuntungan
dan biaya pada pola saluran tataniaga yang terbentuk. Kesamaan lain dari
penelitian ini adalah pemilihan lebih dari satu lokasi yang merupakan sentra
pengembangan budidaya sebagai studi kasus seperti yang dilakukan oleh Zulham
(2007) dan Firdaus dan Wagiono (2009).
Sementara itu perbedaan penelitian ini dari penelitian terdahulu terletak
dari pemilihan komoditi dan lokasi yang dijadikan sebagai objek penelitian.
Penelitian ini memfokuskan pada analisis tataniaga rumput laut yang
dibudidayakan di wilayah Desa Kutuh dan Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta
Selatan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Selain itu, perbedaan yang terdapat
pada penelitian ini adalah mengkaji dua lokasi budidaya yang terletak dalam satu
wilayah kecamatan yang dijadikan sentra pengembangan rumput laut serta
menganalisis adanya perbedaan pengelolaan sistem tataniaga rumput laut di
tingkat petani melalui ada atau tidaknya peranan kelompok tani. Pada penelitian
ini juga dilakukan upaya pemberian alternatif saluran tataniaga melalui
peningkatan kualitas rumput laut yang mampu meningkatkan efisiensi sistem
tataniaga.

19
 

III KERANGKA PEMIKIRAN
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1. Sistem Tataniaga
Tataniaga adalah suatu kegiatan dalam mengalirkan produk dari produsen
(petani) sampai ke konsumen akhir. Tataniaga erat kaitannya dengan kegiatan
pemasaran. Tataniaga disebut juga pemasaran atau marketing merupakan salah
satu bagian dari ilmu pengetahuan ekonomi (Limbong dan Sitorus 1985).
Pemasaran adalah proses yang mengakibatkan aliran produk melalui suatu sistem
dari produsen ke konsumen (Downey dan Erickson 1992).
Hanafiah dan Saefuddin (2006) menjelaskan bahwa aktivitas tataniaga erat
kaitannya dengan penciptaan atau penambahan nilai guna dari suatu produk baik
barang atau jasa, sehingga tataniaga termasuk ke dalam kegiatan yang produktif.
Kegunaan yang diciptakan oleh aktivitas tataniaga meliputi kegunaan tempat,
kegunaan waktu dan kegunaan kepemilikan. Asmarantaka (2009) menyebutkan
bahwa pengertian tataniaga dapat ditinjau dari dua aspek yaitu aspek ekonomi dan
aspek manajemen. Pengertian tataniaga dari aspek ilmu ekonomi adalah :
1) Tataniaga (pemasaran) produk agribisnis merupakan keragaan dari semua
aktivitas bisnis yang meliputi aliran dari barang dan jasa dari petani sebagai
titik awal kegiatan usahatani hingga barang dan jasa tersebut sampai ke
tangan konsumen akhir (Kohls dan Uhl 2002).
2) Tataniaga pertanian merupakan serangkaian tahapan, fungsi yang diperlukan
untuk memperlihatkan pergerakan input atau produk dari tingkat produksi
primer (usahatani) hingga konsumen akhir. Hal tersebut dapat dilihat dari
pelaksanaan fungsi ataupun hubungan antara lembaga tataniaga yang terlibat
(Hammond and Dahl 1977).
3) Rangkaian fungsi-fungsi tataniaga merupakan aktivitas bisnis dan merupakan
kegiatan produktif sebagai proses meningkatkan atau menciptakan nilai
(value added) yaitu nilai guna bentuk (form utility), tempat (place utility),
waktu (time utility) dan kepemilikan (possession utility) (Asmarantaka 2009).
Petani/peternak dalam proses produksi merubah input-input pertanian
menjadi output produk pertanian (nilai guna bentuk dan kepemilikan).
Pedagang pengumpul, mengumpulkan produk dan mengemas, kemudian
20
 

menjual (nilai guna kepemilikan dan tempat). Pabrik penggilingan tepung dan
pembuat kue kemudian menjual kue (nilai guna bentuk dan tempat). Pabrik
pengolah memanfaatkan output dari petani sebagai bahan baku (gandum)
menjadi tepung dikemas dan kemudian menjual tepung ke grosir (nilai guna
bentuk dan kepemilikan), grosir ke pedagang eceran (nilai guna tempat dan
waktu) yang akhirnya ke pabrik roti (nilai guna bentuk) dan konsumen akhir
(kepuasan). Dari proses tataniaga ini banyak nilai guna yang terjadi dan
mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.
4) Tataniaga pertanian merupakan salah satu sub-sistem dari sistem agribisnis
yaitu sub-sistem : sarana produksi pertanian, usahatani (produksi primer),
tataniaga dan pengolahan hasil pertanian dan sub-sistem penunjang
(penelitian, penyuluhan, pembiayaan, kebijakan tataniaga). Pelaksanaan
aktivitas tataniaga merupakan faktor penentu efisiensi dan efektivitas dari
pelaksanaan sistem agribisnis.
Sementara itu tataniaga dapat dipandang dari sisi makro dan mikro
(Asmarantaka 2009). Dari sisi makro tataniaga merupakan suatu sistem yang
terdiri dari lembaga – lembaga tataniaga yang terlibat dalam proses aliran produk
dari

produsen

primer

ke

konsumen.

Sementara

itu

dari

sisi

mikro,

tataniaga/pemasaran dipandang sebagai upaya masing – masing individu untuk
memperoleh keuntungan yang salah satunya ditempuh melalui pelaksanaan
bauran pemasaran. Analisis terhadap suatu sistem tataniaga dapat dilakukan
melalui berbagai

pendekatan.

Pada masing – masing pendekatan akan

menunjukkan perspektif secara nyata dan pelaksanaan proses dari aktivitas
pemasaran/tataniaga (Kohls dan Uhl 2002). Kohls dan Uhl (2002) menyebutkan
beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam menganalisis suatu sistem
tataniaga diantaranya :
1) Pendekatan Fungsi
Fungsi dalam aktivitas tataniaga dapat diartikan sebagai spesialisasi aktivitas
yang dilakukan dalam upaya menyempurnakan sistem tataniaga (Kohls dan
Uhl 2002). Pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui beragam fungsi
tataniaga yang diterapkan pada suatu sistem tataniaga dalam upaya
menciptakan efisiensi pemasaran

serta mencapai suatu tujuan yaitu

21
 

meningkatkan kepuasan konsumen. Fungsi-fungsi tataniaga meliputi fungsi
pertukaran

yang

pengumpulan;

meliputi

fungsi

fungsi

fisik

yang

pembelian, penjualan dan fungsi
terdiri

dari

fungsi

penyimpanan,

pengangkutan dan pengolahan; dan fungsi fasilitas yang merupakan fungsi
yang memperlancar pelakasanaan fungsi pertukaran dan fungsi fisik, fungsi
fasilitas

terdiri

dari

fungsi

standarisasi,

fungsi

keuangan,

fungsi

penanggungan risiko dan fungsi intelijen pemasaran. Melalui pendekatan
fungsi juga dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan biaya tataniaga pada
beragam komoditi agribisnis.
2) Pendekatan Kelembagaan
Merupakan pendekatan yang dilakukan untuk mengetahui para pelaku serta
pihak – pihak yang terlibat dalam suatu sistem tataniaga. Para pelaku yang
terlibat dalam aktivitas tataniaga dikelompokkan dalam kelembagaan
tataniaga. Kelembagaan tataniaga adalah berbagai organisasi bisnis atau
kelompok bisnis yang melaksanakan/mengembangkan aktivitas bisnis berupa
kegiatan – kegiatan produktif yang diwujudkan melalui pelaksanaan fungsifungsi tataniaga. Melalui pendekatan ini dapat diketahui peranan lembaga –
lembaga yang terlibat dalam penanganan suatu komoditi mulai dari tingkat
produsen hingga konsumen (Limbong dan Sitorus 1985). Sementara itu Kohls
dan Uhl (2002) menyatakan bahwa pendekatan kelembagaan ini sekaligus
menjawab “siapa” dan “apa” yang dilakukan dalam mengatasi permasalahan
dalam sistem tataniaga. Para pelaku dalam aktivitas tataniaga terdiri dari
pedagang

perantara

(merchant

middlemen),

agen

perantara

(agent

middlemen), spekulator (speculative middlemen), pengolah dan pabrikan
(processors and manufactures) dan organisasi (facilitative organization).
3) Pendekatan Sistem
Pendekatan sistem dalam aktivitas tataniaga dilakukan untuk mengetahui
efisiensi serta kontinuitas dari pelaksanaan suatu sistem tataniaga
(Asmarantaka 2009). Pemahaman aktivitas tataniaga dalam konteks sebagai
suatu sistem merupakan perpaduan antara ilmu ekonomi dengan aktivitas
fisik serta penerapan ilmu teknologi (Kohls dan Uhl 2002). Seperti yang
telah dijelaskan pada pendekatan kelembagaan bahwa dalam suatu sistem

22
 

tataniaga terdapat berbagai pelaku/lembaga tataniaga yang terlibat. Para
pelaku/lembaga tataniaga dapat dipandang sebagai suatu sistem perilaku yang
digunakan dalam membuat suatu keputusan khususnya yang terkait dengan
kegiatan pemasaran/tataniaga dari suatu produk. Pendekatan ini terdiri dari
input-output system, power system, communications system, dan the
behavioral system for adapting to internal-external change.
3.1.2. Fungsi Tataniaga
Tataniaga merupakan suatu kegiatan produktif yang mencakup proses
pertukaran serta serangkaian kegiatan yang terkait pada proses pemindahan
produk baik berupa barang ataupun jasa dalam upaya menciptakan dan
meningkatkan nilai guna (Asmarantaka 2009). Beragam kegiatan produktif yang
terdapat di dalam sistem tataniaga disebut dengan fungsi tataniaga. Pelaksanaan
fungsi – fungsi tataniaga akan menetukan efisiensi dari pelaksanaaan suatu sistem
tataniaga.
Tujuan dari pelaksanaan fungsi tataniaga adalah untuk meningkatkan
kepuasan konsumen. Kemampuan suatu produk untuk memuaskan keinginan
konsumen dapat diukur dengan utilitas yang mampu diberikan oleh produk
tersebut. Utilitas merupakan nilai guna suatu produk yang meliputi nilai guna
bentuk yaitu bagaimana menciptakan produk memiliki nilai guna misalnya
dengan mengolah bahan mentah menjadi barang jadi; nilai guna waktu yaitu
membuat produk tersedia pada waktu yang tepat sesuai dengan keinginan
konsumen; nilai guna tempat yaitu menyediakan produk di tempat yang sesuai
bagi konsumen yang membutuhkan; serta nilai guna kepemilikan yaitu bagaimana
produk bisa untuk dimiliki serta digunakan oleh konsumen.
Fungsi tataniaga dapat digolongkan pada tiga kelompok fungsi utama
(Limbong dan Sitorus 1985; Asmarantaka 2009), fungsi tataniaga tersebut adalah
sebagai berikut :
1) Fungsi Pertukaran
Fungsi Pertukaran merupakan aktivitas yang terkait dengan pemindahan hak
milik atas barang (Limbong dan Sitorus 1985; Kohls dan Uhl 2002).
Aktivitas pertukaran juga disesuaikan pada utilitas yang diharapkan para
konsumen, yaitu menyangkut tempat, waktu dan bentuk barang/jasa yang

23
 

dibutuhkan. Fungsi pertukaran terdiri atas dua fungsi yaitu fungsi penjualan
dan pembelian (Limbong dan Sitorus 1985; Kohls dan Uhl 2002;
Asmarantaka 2009).
-

Fungsi penjualan, merupakan pengalihan produk kepada pihak pembeli
dengan tingkat harga tertentu sebagai akibat dari pemberian nilai tambah
dari produk tersebut. Fungsi penjualan diperlukan untuk melakukan
penjualan produk yang sesuai dengan yang diinginkan konsumen dilihat
dari jumlah, bentuk dan mutu pada tempat dan waktu yang tepat.

-

Fungsi pembelian terhadap produk – produk pertanian dilatarbelakangi
oleh beragam kebutuhan konsumen diantaranya pembelian untuk
konsumsi langsung ataupun pembelian untuk bahan baku produksi
seperti pembelian yang dilakukan oleh pabrik yang mengolah bahan
mentah menjadi barang setengah jadi ataupun barang jadi yang siap
pakai.

2) Fungsi Fisik
Limbong dan Sitorus (1985) menyatakan pengertian fungsi fisik sebagai
seluruh aktivitas yang langsung berhubungan dengan barang dan jasa
sehingga memiliki nilai kegunaan tempat, bentuk dan waktu. Sementara itu
Kohls dan Uhl (2002) menyebutkan bahwa fungsi fisik menyangkut aktivitas
penanganan, perpindahan serta perubahan fisik dari suatu komoditi. Fungsi
fisik terdiri atas tiga fungsi yaitu fungsi penyimpanan, fungsi pengangkutan,
dan fungsi pengolahan (Limbong dan Sitorus 1985; Kohls dan Uhl 2002;
Asmarantaka 2009).
- Fungsi pengangkutan, yaitu pemindahan barang-barang dari tempat
produksi/tempat penjualan ke tempat dimana barang - barang tersebut
akan dipakai. Proses pengangkutan akan menciptakan nilai guna tempat
dan waktu. Dalam fungsi ini tentunya aspek terpenting yang perlu
diperhatikan oleh pelaku tataniaga adalah penggunaan alternatif sarana
pengangkutan yang selanjutnya akan mempengaruhi biaya pengangkutan.
Besarnya biaya pengangkutan yang dikeluarkan akan berdampak pada
penentuan dari harga produk tersebut ketika sampai di tangan konsumen.
Proses pengangkutan juga sangat bergantung pada efektifitas dalam

24
 

informasi dan komunikasi serta pemanfaatan teknologi yang ada sehingga
e

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Tataniaga rumput laut di Desa Kutuh dan Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali