The Management Strategies of Kelimutu National Park Through Co-management Approach.

(1)

LUKITA AWANG NISTYANTARA

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR


(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul “Strategi Pengelolaan Taman Nasional Kelimutu Melalui Pendekatan Co-management“ adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Mei 2011

Lukita Awang Nistyantara NRP P052090181


(3)

LUKITA AWANG NISTYANTARA. The Management Strategies of Kelimutu National Park Through Co-management Approach. Supervised by SAMBAS BASUNI and RINEKSO SOEKMADI.

The management of Kelimutu National Park (KNP), that applies preservationist paradigm and centralized policy, had caused a conflict of interest among stakeholders. Therefore, the management strategies of the park by co-management approach are needed to conserve the park and became a conflict resolution. The aims of this research are to analyze the application of the principle of co-management at the time, to identify relevant stakeholders, and to determine the management strategies of the park through co-management approach. The results showed that application of the principle of co-management in the Wologai Tengah village in the category of high/ good, while in the Saga village in the category of middle. The results also showed that there were 15 (fifteen) stakeholders, who were affected by or can affect by the decisions and the actions of the management of the park. Based on the expert’s assessment, the core of the stakeholders are both of the park management and the local community. They can influence the succesfull management of the park. The management strategies of the park include: a) to integrate the management plans of KNP among stakeholders through coordination mechanisms; b) to synchronize the implementation of the management plans; c) to improve the good communication, partnerships and the community participation; and d) to do a continuous meeting among both of the park management and the local community in order to find the solutions.


(4)

LUKITA AWANG NISTYANTARA. Strategi Pengelolaan Taman Nasional Kelimutu Melalui Pendekatan Co-management. Dibimbing oleh SAMBAS BASUNI dan RINEKSO SOEKMADI

Pengelolaan TNKL (Taman Nasional Kelimutu) masih dikelola dengan berpegang pada paradigma preservationist serta kebijakan yang sentralistik, sehingga seringkali keputusan yang diambil oleh pengelola taman nasional tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Hal tersebut memicu munculnya konflik kepentingan antar stakeholders, antara lain kebutuhan lahan untuk berkebun, klaim kepemilikan atas sebagian lahan dalam kawasan, serta pengambilan kayu untuk pembangunan rumah adat. Konflik tersebut juga memungkinkan terjadinya degradasi sumberdaya alam dalam kawasan TNKL. Oleh karena itu, strategi pengelolaan melalui pendekatan co-management diperlukan dalam rangka melindungi TNKL dan menjaga kelestariannya sekaligus berusaha menyelesaikan dan mengakhiri konflik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip co-management dalam pengelolaan TNKL pada saat ini; mengidentifikasi serta menganalisis kepentingan dan aspirasi stakeholders; mengklasifikasi stakeholders terkait pengelolaan TNKL; dan menentukan strategi pengelolaan TNKL melalui pendekatanco-management.

Penelitian dilakukan mulai bulan Juli sampai dengan Desember 2010. Observasi dan survey lapangan dilakukan di dua desa yaitu Desa Wologai Tengah dan Desa Saga. Dalam rangka analisis kondisi existing penerapan prinsip co-management, pengambilan contoh dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 60 responden. Data dikumpulkan dengan melakukan observasi dan pengisian kuisioner. Dalam rangka identifikasi stakeholders, analisis kepentingan dan aspirasistakeholders, serta analisis nilai penting dan pengaruh stakeholders, pengambilan contoh dilakukan dengan teknik snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara mendalam menggunakan kuisioner sebagai panduan. Sementara itu, strategi pengelolaan disusun menggunakan teknik ISM, dengan cara melakukan penilaian elemen-elemen pengelolaan oleh 10 pakar.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip co-management di Desa Wologai Tengah pada kategori tinggi/ baik, sedangkan di Desa Saga masuk kategori sedang. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa terdapat 15 stakeholders yang mempengaruhi maupun dipengaruhi oleh kebijakan dan tindakan dalam pengelolaan TNKL. Secara umum, kepentingan (interest) dan aspirasi stakeholders tersebut telah sinergi dengan fungsi ekosistem TNKL. Namun, kepentingan dan aspirasi petani kopi, masyarakat Saga dan lembaga adat Saga yang tidak sinergis dengan fungsi ekosistem TNKL adalah pengambilan kayu untuk pembangunan rumah adat, kebutuhan lahan untuk berkebun, serta klaim kepemilikan atas sebagian lahan dalam kawasan.

Hasil klasifikasistakeholders menunjukkan bahwa kategorisubjectsadalah masyarakat Saga dan Wologai Tengah serta petani kopi dalam kawasan. Stakeholders ini memerlukan pemberdayaan agar terlibat dalam pengambilan keputusan dan tindakan pengelolaan TNKL. Stakeholders yang berada pada kategori key playersadalah BTNKL, Disbudpar, lembaga adat, kepala desa dan Tananua Flores. Stakeholders ini perlu dilibatkan sebagai mitra dan perlu untuk mempertahankan komitmennya dalam pengelolaan TNKL. Sementara itu stakeholders yang berada pada kategori context setters adalah BAPPEDA, Dishutbun, Swisscontact dan Unflor. Stakeholders ini perlu dikelola untuk


(5)

Berdasarkan penilaian pakar, strategi yang dapat dikembangkan sebagai resolusi konflik sekaligus untuk mengakomodir kebutuhan dan kepentingan stakeholders dalam pengelolaan TNKL melalui pendekatan co-management yaitu: a) memprioritaskan masyarakat dan BTNKL sebagai lembaga/pelaku yang menentukan keberhasilan pengelolaan TNKL secara co-management; b) mengintegrasikan rencana-rencana pengelolaan TNKL antar lembaga/stakeholders melalui mekanisme koordinasi sebagai kebutuhan dari program pengelolaan; c) mensinkronisasikan pelaksanaan rencana pengelolaan antar lembaga/stakeholders; d) menciptakan mekanisme pembelajaran dialogis, serta meningkatkan komunikasi yang baik, potensi kemitraan, dan partisipasi masyarakat sebagai tujuan pengelolaan; serta e) melaksanakan kegiatan pertemuan antara BTNKL dan komunitas lokal sebagai kegiatan kunci dalam rangka mencari solusi bersama.


(6)

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.


(7)

LUKITA AWANG NISTYANTARA

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR


(8)

(9)

Nama : Lukita Awang Nistyantara

NRP : P052090181

Disetujui Komisi Pembimbing

Prof.Dr.Ir. Sambas Basuni, MS. Dr.Ir. Rinekso Soekmadi, M.Sc.F.

Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana

Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Prof.Dr.Ir. Cecep Kusmana, MS. Dr.Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr.


(10)

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kasih dan karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Juli 2010 ini adalah pengelolaan kawasan konservasi secara co-management, dengan judul Strategi Pengelolaan Taman Nasional Kelimutu Melalui Pendekatan Co-management.

Penghargaan dan ucapan rasa terimakasih penulis sampaikan dengan tulus kepada:

1. Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS. selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, M.Sc.F. selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan dan masukan yang sangat berguna.

2. Ir. Gatot Soebiantoro, M.Sc selaku mantan Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu yang telah memberikan motivasi dan dorongan selama menjalani studi.

3. Ir. Sri Mulyani, M.Si. selaku Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu beserta Agustinus Krisdijantoro, S.Si., MP. dan staf: Ridwan, Toni, Hence, Yulius, dan Fredy, yang telah memfasilitasi kegiatan penelitian dan membantu pengumpulan data.

4. Para narasumber dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ende, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ende, BAPPEDA Kabupaten Ende, Fakultas Pertanian Universitas Flores, serta kepala desa dan tokoh adat di Desa Saga dan Wologai Tengah yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya dalam penilaian ISM.

5. Dr. Ir. Soeryo Adiwibowo, MS. selaku Penguji Luar Komisi dan Dr. Ir. Sri Mulatsih, M.Sc. selaku Pimpinan Sidang pada ujian tesis.

6. Rekan-rekan mahasiswa PSL-IPB yang ikut memberikan saran dan masukan dalam penyusunan tesis ini.

7. Orang tua, istri dan anak-anakku, atas segala doa dan kasih sayangnya. Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih belum sempurna, namun demikian semoga masih ada manfaat bagi semua pihak yang memerlukan, terkhusus demi terwujudnyaEnde Lio Sare Pawe.

Bogor, Mei 2011


(11)

Penulis dilahirkan di Fakfak (Papua Barat) pada tanggal 12 Januari 1975 dari Rama Silih Antara KH (alm.) dan Ibu Darti. Penulis merupakan putra kesepuluh dari sebelas bersaudara. Pada tahun 2003 menikah dengan Wiwit Ayu Fajar Riyanti, SE dan dikaruniai dua orang anak, Ajengkanthi Prabaningjati (lahir 3 Maret 2004) dan Yogatama Prabantara (lahir 15 Mei 2007).

Pada tahun 1993, setelah lulus dari SMA 1 Purworejo, penulis melanjutkan studi ke Fakultas Kehutanan UGM. Penulis memilih jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan dan lulus tahun 1998. Pada tahun 2009 penulis melanjutkan studi pada program studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor, dengan beasiswa Departemen Kehutanan.

Pada tahun 2000 penulis diangkat sebagai pegawai negeri Departemen Kehutanan dan bertugas di Balai KSDA Jawa Tengah, Semarang. Pada tahun 2007 penulis dipromosikan sebagai Kepala Sub Bagian Tata Usaha di Balai Taman Nasional Kelimutu, Ende, Flores.


(12)

i

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

DAFTAR SINGKATAN... vii

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Kerangka Pemikiran ... 4

1.3. Perumusan Masalah ... 5

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Strategi ... 7

2.2. Pembangunan Berkelanjutan dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi ... 7

2.3. Konflik Pengelolaan Sumberdaya Alam ... 9

2.4. AnalisisStakeholders ... 11

2.5. Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi ... 13

2.6. Kolaborasi dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi ... 15

2.7. TeknikInterpretative Structural Modeling(ISM) ... 18

III. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 21

3.2. Jenis dan Sumber Data ... 21

3.3. Teknik Pengambilan Contoh ... 22

3.4. Pengumpulan Data ... 23

3.5. Metode Analisis Data ... 24

3.5.1. Analisis penerapan prinsip co-management dalam pengelolaan TNKL pada saat ini ... 25

3.5.2. Analisisstakeholders... 26

3.5.3. Analisis strategi pengelolaan dengan pendekatan co-management ... 31

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Umum ... 34

4.1.1. Letak geografis ... 34

4.1.2. Sejarah kawasan ... 34

4.1.3. Organisasi pengelola ... 36

4.1.4. Luas kawasan dan zonasi ... 36

4.2. Biofisik ... 38

4.2.1. Klimatologi dan tipe-tipe ekosistem di dalam kawasan ... 38

4.2.2. Flora dan fauna ... 39

4.2.3. Kondisi geologis ... 41

4.2.4. Daerah Aliran Sungai (DAS) sekitar TNKL ... 42

4.3. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Sekitar Kawasan ... 42


(13)

ii

4.4. Adat Istiadat dan Budaya Masyarakat di Sekitar Kawasan ... 45

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Penerapan Prinsip Co-managementdalam Pengelolaan TNKL pada Saat Ini ... 49

5.1.1. Partisipasi komunitas lokal ... 49

5.1.2. Pengakuan terhadap hak masyarakat adat ... 51

5.1.3. Proses negosiasi ... 53

5.1.4. Kejelasan hak dan tangggung jawab komunitas lokal dengan BTNKL ... 54

5.1.5. Konsensus yang disepakatistakeholdersinti ... 56

5.2. Stakeholders, Kepentingan (Interest) dan Aspirasi ... 57

5.2.1. Identifikasistakeholders ... 58

5.2.2. Kepentingan (interest) dan aspirasistakeholders ... 61

5.3. Nilai Penting (Importance) dan PengaruhStakeholders ... 70

5.3.1. Nilai penting (importance)stakeholders... 70

5.3.2. Pengaruhstakeholders ... 72

5.3.3. Klasifikasistakeholders ... 74

5.4. Pengolahan Elemen-elemen Strategi Pengelolaan TNKL dengan Teknik ISM ... 77

5.4.1. Lembaga dan pelaku yang terlibat dalam pengelolaan TNKL melalui pendekatanco-management... 77

5.4.2. Kebutuhan dari program pengelolaan TNKL ... 82

5.4.3. Kendala utama dalam pengelolaan TNKL secara co-management ... 86

5.4.4. Tujuan dari pengelolaan dengan pendekatan co-management ... 89

5.4.5. Kegiatan yang diperlukan ... 92

5.4.6. Strategi pengelolaan ... 99

VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 102

6.2. Saran ... 103

DAFTAR PUSTAKA... 104


(14)

iii

Halaman

1 Faktor pendukungco-management ... 18

2 Jenis dan sumber data berdasarkan tujuan penelitian ... 22

3 Ukuran kuantitatif terhadap nilai penting dan pengaruhstakeholders ... 28

4 Jenis-jenis fauna langka di TNKL ... 41

5 Karakteristik penduduk di lokasi penelitian ... 43

6 Jenis tanaman di setiap penggunaan lahan ... 45

7 Data penggunaan lahan Kecamatan Detusoko ... 45

8 Stakeholderspengelolaan TNKL ... 58

9 Kepentingan (interest)stakeholdersterkait dengan fungsi ekosistem dan program pengelolaan TNKL ... 62

10 Aspirasistakeholdersterkait dengan fungsi ekosistem dan program pengelolaan TNKL ... 64

11 Rekapitulasi hasil analisis kepentingan/ aspirasistakeholders ... 66

12 Nilai penting (importance)stakeholders pengelolaan TNKL ... 71

13 Pengaruhstakeholderspengelolaan TNKL ... 73

14 Strategi keterlibatanstakeholdersdalam siklus pengelolaan TNKL melalui pendekatanco-management ... 81

15 Analisis kegiatan yang diperlukan dalam pengelolaan TNKL secara co-management ... 93

16 Elemen kunci strategi pengelolaan TNKL melaui pendekatan co-management ... 100


(15)

iv

Halaman

1 Kerangka pemikiran penelitian ... 5

2 Arah kerjaco-management ... 17

3 Peta lokasi penelitian di Desa Wologai Tengah dan Desa Saga ... 21

4 Tahapan penelitian ... 25

5 Matriks pengaruh dan nilai penting ... 30

6 Pemandangan Danau Kelimutu dilihat dari udara ... 35

7 Struktur organisasi Balai Taman Nasional Kelimutu ... 36

8 Peta zonasi kawasan TNKL ... 37

9 Begonia kelimutuensissebagai flora endemik Kelimutu ... 40

10 Tari adat Gawi yang dilaksanakan setelah upacara adatPati Ka Du’a Bapu Ata Mataoleh para ketua adat (Mosalaki) ... 47

11 Persentase pendapat responden tentang partisipasi komunitas lokal dalam pengelolaan TNKL ... 50

12 Persentase pendapat responden tentang pengakuan terhadap hak masyarakat dalam pengelolaan TNKL ... 52

13 Persentase pendapat responden tentang proses negosiasi dalam pengelolaan TNKL ... 54

14 Persentase pendapat responden tentang kejelasan hak dan tanggung jawab dalam pengelolaan TNKL ... 55

15 Persentase pendapat responden tentang konsensus yang disepakati dalam pengelolaan TNKL ... 57

16 Ilustrasi posisistakeholderspengelolaan TNKL berdasarkan nilai penting (importance) dan pengaruh ... 74

17 Posisi sub elemen lembaga dan pelaku yang terlibat dalam pengelolaan TNKL melalui pendekatanco-managementpada Grafik Driver Power – Dependence ... 78

18 Diagram model struktural dari elemen lembaga dan pelaku yang terlibat dalam pengelolaan TNKL melalui pendekatan co-management ... 79

19 Posisi sub elemen kebutuhan pada GrafikDriver Power – Dependence ... 83

20 Diagram model struktural dari elemen kebutuhan dalam pengelolaan TNKL melalui pendekatanco-management ... 85

21 Posisi sub elemen kendala utama dalam pengelolaan TNKL melalui pendekatanco-managementpada GrafikDriver Power – Dependence ... 87

22 Diagram model struktural dari elemen kendala utama dalam pengelolaan TNKL melalui pendekatanco-management ... 88


(16)

v

25 Posisi sub elemen kegiatan yang diperlukan dalam pengelolaan

TNKL melalui pendekatanco-managementpada GrafikDriver Power

– Dependence ... 94 26 Diagram model struktural dari elemen kegiatan yang diperlukan


(17)

vi

Halaman 1 Panduan kuisioner penelitian ... 110 2 Hasil pengolahan ISM VAXO elemen lembaga dan pelaku yang

terlibat dalam pengelolaan TNKL melalui pendekatan

co-management ... 113 3 Hasil pengolahan ISM VAXO elemen kebutuhan dalam

pengelolaan TNKL ... 114 4 Hasil pengolahan ISM VAXO elemen kendala utama dalam

pengelolaan TNKL secaraco-management ... 115 5 Hasil pengolahan ISM VAXO elemen tujuan dari pengelolaan

dengan pendekatanco-management ... 116 6 Hasil pengolahan ISM VAXO elemen kegiatan yang diperlukan ... 117


(18)

vii

APBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

BAPPEDA : Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Ende

BTNKL : Balai Taman Nasional Kelimutu

Disbudpar : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ende Dishutbun : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ende

Ditjen PHKA : Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam ISM : Interpretative Structural Modeling

LIPI : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat

PAD : Pendapatan Asli Daerah Pemda : Pemerintah Daerah

PNBP : Penerimaan Negara Bukan Pajak RM : Reachability Matrix

SDM : Sumber Daya Manusia

SPKP : Sentra Penyuluh Kehutanan Pedesaan SPTNW : Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah SSIM : Structural Self Interaction Matrix

TNKL : Taman Nasional Kelimutu Unflor : Universitas Flores


(19)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Jumlah penduduk dari tahun ke tahun yang terus meningkat, berarti penyediaan tenaga kerja yang cukup banyak. Namun sejalan dengan itu kebutuhan dasar atas sandang, papan dan pangan juga meningkat. Apabila kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, maka bagi masyarakat di sekitar hutan, akan mencukupi kebutuhannya dengan mengambil sumberdaya dari dalam hutan. Hal ini merupakan salah satu ancaman bagi kelestarian hutan. Berdasarkan perhitungan Badan Planologi Kehutanan, deforestasi Indonesia pada tahun 2000–2005 telah mencapai 1,1 juta hektar/tahun (Dephut 2008).

Desa yang berada di sekitar dan berinteraksi langsung dengan kawasan konservasi berjumlah kurang lebih 1.908 desa, dengan jumlah masyarakat sekitar 660.845 kepala keluarga (Dephut 2006). Fakta ini mengindikasikan bahwa pengelolaan kawasan hutan konservasi tidak dapat di

k

elola sendiri oleh aparat kehutanan. Pengalaman memberikan pelajaran bahwa dalam pengelolaan kawasan hutan konservasi diperlukan dukungan nyata dari para pemangku kepentingan, khususnya masyarakat di sekitar kawasan hutan konservasi.

Taman Nasional Kelimutu (TNKL) merupakan salah satu kawasan hutan konservasi yang terletak di Kabupaten Ende - Flores, yang ditunjuk sebagai Kawasan Taman Nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 279/Kpts-II/92 dengan luas ± 5.000 hektar. Pada tahun 1997, TNKL ditetapkan sebagai taman nasional dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 675/Kpts-II/97 dengan luas 5.356,5 hektar. Taman nasional ini, selain memiliki keanekaragaman hayati yang bernilai tinggi, juga memiliki keunikan dan nilai estetika yang tinggi yaitu dengan adanya tiga buah danau yang selalu berubah warna yang berada di puncak Gunung Kelimutu (1.690 meter dari permukaan laut) (BTNK 2008a).

Berdasarkan Laporan Studi Komunitas Flora dan Fauna Taman Nasional Kelimutu yang dilaksanakan oleh Balai Taman Nasional Kelimutu (BTNKL) bersama LIPI (BTNK 2007) menyebutkan bahwa terdapat 2 (dua) jenis tumbuhan sebagai flora endemik Kelimutu yaitu Uta onga (Begonia kelimutuensis) dan Turuwara (Rhododendron renschianum) serta satu ekosistem spesifik Kelimutu yaitu Ekosistem Vaccinium dan Rhododendron (EkosVR) yang terdapat di


(20)

puncak Kelimutu. Selain itu, jenis burung endemik yang terdapat di TNKL yaitu Halcyon fulgida (Raja udang), Heleia crassirostris (Opior paruh tebal), Lophozosterops dohertyi (Opior jambul),Pachycephala nudigula (Kancilan), dan Phylloscopus presbytes (Cikrak). Fauna endemik lainnya antara lain sejenis kelelawar Otomops johnstonei (Otomop alor), Papagomys armandvillei (Tikus besar flores),Rattus hainaldi(Tikus), danSus heureni(Babi flores).

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kawasan TNKL secara umum merupakan tipe ekosistem hutan pegunungan (1.000–1.700 meter dari permukaan laut). Ekosistem pegunungan TNKL terdiri dari berbagai tipe hutan dan tipe penutupan lahan yang terkait erat dengan fenomena geomorfologi yang unik. Kawasan TNKL juga merupakan daerah tangkapan air yang perlu dilindungi agar sumberdaya air terjaga secara berkesinambungan. Sungai yang berair sepanjang tahun yaitu Lowo Ae Merah dan Lowo Ae Bai (BTNK 2008b) merupakan sumber air utama bagi kepentingan budidaya pertanian, pemukiman dan lain-lain, baik bagi masyarakat di sekitar kawasan maupun yang berada di bagian hilir.

Karakteristik kawasan yang demikian penting menjadikan TNKL sebagai sumber biodiversitas dan penyedia berbagai jasa lingkungan bagi wilayah sekitarnya. Di sisi lain, karakteristik demografi di sekitar kawasan adalah terdapatnya 24 desa di 5 (lima) kecamatan, dengan jumlah penduduk sekitar 20.843 jiwa dan 5.648 KK (BTNK 2010), sehingga tidak dapat dihindari bahwa pengelolaan taman nasional turut dipengaruhi olehnya.

Taman Nasional Kelimutu mempunyai visi yaitu ''Sebagai Model Pengelolaan Kawasan Pelestarian Alam Berbasis Ekosistem Daratan Flores-NTT melalui Pengembangan Ilmu Pengetahuan Bio-geologis dan Ekowisata Berbasis Budaya Setempat untuk Menunjang Kesejahteraan Masyarakat''. Visi tersebut dijabarkan menjadi beberapa misi (BTNK 2008b), yaitu 1) mengembangkan sistem keamanan berbasis masyarakat untuk menjamin keamanan dan keutuhan kawasan; 2) melakukan pengelolaan flag species secara optimal dan pemanfaatan secara lestari plasma nutfah untuk menunjang budidaya; 3) mengembangkan wisata alam berbasis budaya lokal dan pendekatan ekonomi kerakyatan; 4) menyelenggarakan pendidikan lingkungan sebagai wahana kesadaran lingkungan dan wahana interaksi masyarakat sekitar kawasan dan masyarakat luas berbasis pada keunikan dan ciri khas ekosistem; 5) mengembangkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan berbasis pada kondisi


(21)

biofisik dan sosial budaya yang ada di sekitar kawasan; 6) memberdayakan masyarakat sekitar kawasan; dan 7) memperkuat organisasi dan sinergi dengan stakeholders.

Misi pengelolaan TNKL tersebut di atas belum sepenuhnya terlaksana. Kondisi ini ditunjukkan dengan masih terjadinya konflik kepentingan dan hak penguasaan atas sebagian lahan dalam kawasan TNKL, antara pengelola dengan masyarakat di beberapa desa sekitar TNKL. Berdasarkan data yang tercatat oleh pengelola bahwa pada tahun 2008 terjadi perambahan kawasan untuk lahan pertanian di sekitar Desa Kelikiku seluas 500 m2, Saga seluas 5.000 m2, Woloara seluas 3.000 m2, dan pada tahun 2009 terjadi perambahan kawasan di Desa Niowula seluas 5.000 m2 (BTNK 2010). Sementara itu, hasil survey penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi perambahan kawasan untuk tanaman kopi sekitar 4 ha di Desa Saga. Walaupun kawasan TNKL yang dirambah tidak terlalu luas, namun dengan luasan kawasan taman nasional yang hanya 5.356,5 ha, hal ini cukup signifikan untuk mengganggu keutuhan dan kelestarian kawasan.

Kegiatan perambahan dan pengakuan (klaim) kepemilikan lahan dalam kawasan taman nasional oleh masyarakat dikarenakan mereka menganggap bahwa tanah tersebut milik leluhur. Klaim kepemilikan lahan di dalam kawasan TNKL tercatat ada di Dusun Toba (BTNK 2010), walaupun fakta lapangan mengindikasikan bahwa terdapat juga klaim kepemilikan lahan di desa lainnya.

Jika kedua hal tersebut tidak segera diantisipasi oleh pihak pengelola dengan strategi pengelolaan yang tepat, maka dimungkinkan terjadi peningkatan intensitas konflik pengakuan dan penambahan luasan perambahan. Hal ini terkait dengan sikap dan nilai-nilai yang dipahami oleh masyarakat setempat yang cenderung untuk mbelo ro (menunggu dan melihat dahulu hasilnya). Pembiaran atas perambahan dan klaim lahan kawasan TNKL oleh masyarakat ini, akan memicu masyarakat lainnya untuk turut melakukan hal yang sama.

Masyarakat adat Lio yang telah bertahun-tahun mendiami daerah di sekitar kawasan TNKL, memiliki ikatan batin yang kuat dengan keberadaan puncak dan Danau Kelimutu. Mereka percaya bahwa arwah leluhur dan juga arwah mereka jika sudah mati akan bersemayam di puncak Kelimutu. Ikatan batin ini juga terlihat ketika acara ritual adat pembangunan rumah adat/keda kanga akan dilaksanakan. Masyarakat adat Lio mempercayai bahwa untuk membangun rumah adat/keda kanga, kebutuhan kayu akan diambil dari dalam kawasan TNKL


(22)

melalui mimpi sang ketua adat/Mosalaki (BTNK 2008b). Perbenturan nilai-nilai lokal yang dipercaya oleh masyarakat adat seperti ini juga menyebabkan konflik.

Berdasarkan hal tersebut di atas, strategi pengelolaan disusun untuk melindungi TNKL dan menjaga kelestariannya sekaligus berusaha menyelesaikan dan mengakhiri konflik. Strategi pengelolaan perlu disusun dan direncanakan dengan mengakomodasi kebutuhan, aspirasi dan keinginan semua stakeholders. Strategi yang dimaksud dikembangkan atas dasar prinsip-prinsip saling percaya, keinginan untuk terlibat, komitmen serta kesetaraan hak dan tanggung jawab yang disetujui bersama oleh seluruh stakeholders. Prinsip-prinsip tersebut dikenal dengan pendekatan co-management dalam pengelolaan kawasan konservasi.

Co-management seringkali dimaknakan sebagai upaya untuk menjembatani kepentingan para pemangku kepentingan (stakeholders) yang menimbulkan konflik agar bersinergi dan menghasilkan win win solution. Situasi konflik dalam konteks pengelolaan sumberdaya alam, termasuk pengelolaan kawasan TNKL dimana terdapat sumberdaya alam hayati di dalamnya, menjadi salah satu isu dalam pembangunan daerah di Kabupaten Ende. Kawasan konservasi mestinya tidak dikelola untuk menutup kawasan dari masyarakat sekitar, melainkan untuk memanfaatkan kawasan dan biodiversitas TNKL secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan untuk kepentingan generasi kini dan yang akan datang. Oleh karenanya, pendekatan co-management dalam pengelolaan kawasan TNKL merupakan hal strategis untuk segera dilakukan demi tujuan konservasi dan pembangunan daerah, yaitu tercapainya tujuan pelestarian kawasan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

1.2. Kerangka Pemikiran

Pengelolaan TNKL masih menerapkan paradigma preservationist yang terfokus pada sistem ekologi serta kebijakan yang sentralistik, sehingga seringkali keputusan yang diambil oleh pengelola taman nasional tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Akibat dari paradigma dan kebijakan tersebut, memicu munculnya konflik kepentingan antar stakeholders didalam pengelolaan kawasan TNKL. Konflik tersebut juga memungkinkan terjadinya degradasi sumberdaya alam dalam kawasan TNKL.

Penyelesaian masalah melalui perencanaan strategi pengelolaan yang tepat diperlukan untuk mengantisipasi berbagai permasalahan dan mengatasi konflik. Perencanaan strategi pengelolaan dilakukan dengan menganalisis


(23)

kepentingan, pengaruh dan kebutuhan stakeholders, dalam rangka mensinergikan upaya-upaya pengelolaan oleh pengelola taman nasional. Sinergisitas upaya pengelolaan yang disusun melalui pendekatan co-management, diharapkan menjadi strategi pengelolaan kawasan yang memungkinkan untuk diterapkan dan akuntabel. Secara skematis kerangka pemikiran penelitian disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian. 1.3. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut di atas ditengarai bahwa penyebab konflik dalam pengelolaan TNKL antara lain kebutuhan lahan untuk berkebun, klaim kepemilikan atas sebagian lahan dalam kawasan, serta pengambilan kayu untuk pembangunan rumah adat. Oleh karena hal tersebut di atas, maka pertanyaan penelitian ini meliputi hal-hal sebagai berikut:

1). Seberapa besar pengaruhstakeholdersterhadap pengelolaan kawasan? 2). Seberapa sinergi kebutuhan dan kepentingan masyarakat sekitar dengan

program pengelolaan kawasan?

3). Bagaimana strategi yang dapat dikembangkan agar kebutuhan dan kepentinganstakeholdersdapat diakomodir dalam pengelolaan kawasan?

Pengelolaan Taman Nasional Kelimutu

Kebijakan sentralistik dan paradigmapreservationist

Kepentingan, pengaruh dan kebutuhanstakeholders

Pendekatanco-management

Strategi pengelolaan Taman Nasional Kelimutu Konflik pengelolaan TNKL


(24)

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan untuk:

1) Menganalisis penerapan prinsip co-management dalam pengelolaan TNKL pada saat ini.

2) Mengidentifikasi serta menganalisis kepentingan (interest) dan aspirasi stakeholdersterkait pengelolaan TNKL.

3) Mengklasifikasistakeholdersterkait pengelolaan TNKL.

4) Menentukan strategi pengelolaan Taman Nasional Kelimutu melalui pendekatanco-management.

Manfaat hasil penelitian sebagai masukan bagi Balai Taman Nasional Kelimutu (BTNKL) dalam merumuskan kebijakan pengelolaan ke depan.


(25)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Strategi

Konsep mengenai strategi memiliki perbedaan pandangan atau konsep selama tiga dekade terakhir. Menurut Chandler (1962) dalam Rangkuti (2006) strategi adalah tujuan jangka panjang dari suatu perusahaan, serta pendayagunaan dan alokasi semua sumberdaya yang penting untuk mencapai tujuan tersebut. Sementara itu Fisher et al. (2001) menyebutkan bahwa strategi merupakan serangkaian langkah yang saling terkait secara logis ke arah seluruh tujuan, yang dapat diuji dan diubah sesuai dengan perkembangan situasi.

Strategi yang digunakan dalam pengelolaan kawasan konservasi adalah mewujudkan tujuan konservasi seperti tercantum dalam Undang-undang nomor 5 tahun 1990 yaitu melalui kegiatan perlindungan sistem penyangga kehidupan; pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Ketiga kegiatan ini saling berintegrasi, tidak ada yang lebih utama dari yang lainnya (Soemarwoto 2008). Artinya jika yang dilakukan hanya satu aspek, misalnya perlindungan saja tanpa dibarengi dengan pengawetan dan pemanfaatan, maka akan menimbulkan resiko biaya pengelolaan yang sangat tinggi, dengan tanpa memperoleh hasil. Sebaliknya, jika kegiatan tersebut hanya memfokuskan pada aspek pemanfaatan dengan tanpa memperhatikan pada perlindungan dan pengawetan, maka yang akan terjadi tentu saja pemusnahan sumberdaya alam hayati tersebut.

Salah satu strategi pengelolaan TNKL dapat dilakukan dengan pengembangan konsep co-management. Co-management diperlukan dalam pengelolaan kawasan konservasi, karena menyangkut kompleksnya aspek ekologi, budaya, ekonomi dan politik dengan keterkaitan berbagai isu dan keterlibatan banyak kelompok kepentingan dalam masing-masing aspek tersebut.

2.2. Pembangunan Berkelanjutan dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi

Pembangunan berkelanjutan merupakan pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan atau mengurangi peluang generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya (Soemarwoto 2008). Munasinghe (1993) dalam Kassa (2009) mengemukakan bahwa konsep pembangunan akan berkelanjutan apabila memenuhi tiga dimensi yaitu: secara


(26)

ekonomi dapat efisien serta layak, secara sosial berkeadilan, dan secara ekologis lestari. Makna pembangunan berkelanjutan dari dimensi ekologi memberikan penekanan pada pentingnya menjamin dan meneruskan kepada generasi mendatang sejumlah kualitas modal alam yang dapat menyediakan suatu hasil berkelanjutan secara eknomis dan jasa lingkungan termasuk estetika. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah konsep pemanfaatan sumberdaya yang berkelanjutan yang bermakna bahwa eksploitasi atau pemanfaatan sumberdaya tidak melebihi jumlah yang dapat diproduksi atau dihasilkan dalam kurun waktu yang sama.

Keraf (2002) menyebutkan bahwa gagasan terhadap tiga aspek pembangunan yaitu aspek ekonomi, sosial budaya dan lingkungan hidup, harus dipandang sebagai terkait erat satu sama lain, sehingga unsur-unsur dari kesatuan yang saling terkait ini tidak boleh dipisahkan atau dipertentangkan satu dengan lainnya. Soemarwoto (2008) menyebutkan bahwa pembangunan yang hanya memperhatikan faktor ekonomi tidak akan dapat berkelanjutan. Untuk itu perlu memperhatikan faktor sosial-budaya, seperti halnya sejarah menunjukkan, bahwa faktor sosial budaya telah menyebabkan tak berkelanjutannya pembangunan di banyak negara. Faktor sosial budaya berhubungan dengan keterikatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi.

Perwujudan pengelolaan kawasan konservasi hanya dapat dicapai oleh masyarakat yang hidup dengan prinsip berusaha untuk tidak melampaui kapasitas daya dukung bumi serta menghormati dan memelihara komunitas kehidupan (Djajadiningrat 2001). Prinsip ini mengandung arti bahwa orang atau sekelompok masyarakat harus peduli kepada orang atau kelompok masyarakat lain dimanapun, baik sekarang maupun di masa mendatang. Untuk mencapai hal tersebut perlu diciptakan dan dikembangkan kemitraan yang saling menguntungkan dan dinamis semua unsur pelaku pembangunan, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat.

Dalam pasal 37 Undang-undang nomor 5 tahun 1990 menyebutkan bahwa peranserta masyarakat dalam konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. Peranserta masyarakat dalam pengelolaan hutan dalam pasal 68 Undang-undang nomor 41 tahun 1999 meliputi: (1) masyarakat berhak menikmati kualitas lingkungan hidup yang dihasilkan hutan; (2) masyarakat dapat memanfaatkan hutan dan hasil hutan


(27)

sesuai dengan peraturan yang berlaku, mengetahui rencana peruntukan hutan, pemanfaatan hasil hutan, memberi informasi, saran, serta pertimbangan dalam pembangunan kehutanan dan melakukan pengawasan; dan (3) masyarakat berhak memperoleh kompensasi karena hilangnya akses atau hak atas tanah miliknya.

2.3. Konflik Pengelolaan Sumberdaya Alam

Dalam suatu interaksi antara satu pihak dengan pihak lain dalam hal apa saja jika sudah menimbulkan ketidakcocokan atau ketidaksetujuan satu pihak dengan yang lainnya, maka pada saat itulah benih konflik mulai dapat berkembang (Suporahardjo 2000). Selanjutnya tinggal menunggu apakah akan menjadi konflik yang terbuka atau konflik tersembunyi yang belum muncul menjadi sengketa.

Pada dasarnya konflik adalah benturan yang terjadi antara dua pihak atau lebih, yang disebabkan oleh ketidakpastian hak penguasaan (property right) (Basuni 2003), perebutan akses (Colfer et al.1999a), perbenturan nilai dan rasa keamanan (Kartodihardjo & Jhamtani 2006), serta perbedaan kepentingan (Fuad & Maskanah 2000).

Kepemilikan sumberdaya alam bersifat kompleks. Di satu pihak, ada bagian dari suatu ekosistem yang dapat memberi manfaat atau mendatangkan kerugian bagi masyarakat banyak, di pihak lain sumberdaya alam dapat berupa komoditi yang manfaatnya hanya dinikmati oleh perorangan. Menurut Suparmoko (1989) ketidakpastian hak penguasaan akan memunculkan keputusan perorangan untuk mengambil sumberdaya tersebut secara boros, yang berarti bersifat deplisi.

Adapun bentuk-bentuk hak penguasaan (property right) sumberdaya alam menurut Hanna et al. (1996) seperti dikutip Kartodihardjo dan Jhamtani (2006) adalah dikuasai oleh negara (state property), diatur bersama didalam suatu kelompok masyarakat atau komunitas tertentu (common property), dan berupa hak individu (private property). Pengalokasian sumberdaya yang tidak efisien serta ketidakpastian property right dapat mengakibatkan terjadinya free access (Basuni 2003), yang mana dampak selanjutnya dimungkinkan terjadi konflik.

Akses merupakan kemampuan memperoleh manfaat dari sumberdaya alam (Ribot & Peluso 2003). Penekanan ini berarti bahwa akses bukan hanya hak penguasaan, melainkan juga hubungan sosial yang memampukan seseorang mendapatkan keuntungan dari sumberdaya tanpa memperhatikan hubungan kepemilikannya. Konflik yang terjadi yaitu ketika terjadi perubahan


(28)

terhadap akses sumberdaya. Hutan yang dialokasikan sebagai state property, pengelolaannya diatur berdasarkan regulasi negara demi tercapainya kemakmuran seluruh rakyat. Regulasi pengelolaan taman nasional yang berdasarkan zonasi dimaksudkan untuk meningkatikan efektifitas pengelolaan tersebut. Namun kenyataan yang ada bahwa masyarakat masih melakukan aktifitas ekonomi untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Secara etis, akses masyarakat terhadap makanan merupakan pertimbangan penting. Secara praktis, masyarakat yang anaknya lapar karena mereka tidak diberi akses terhadap hutan mungkin tidak akan menghormati batas-batas hutan. Perubahan penguasaan dan akses pada sumberdaya alam dari common resources menjadi state property (milik negara) jelas akan menimbulkan berbagai masalah, mulai dari ketidakacuhan masyarakat terhadap kebijakan pengelolaan hutan sampai pada peningkatan konflik (Colferet al.1999a).

Nilai-nilai spiritual dalam masyarakat menjalin ikatan batin dan emosional yang kuat dengan keberadaan sumberdaya alam. Keraf (2002) menyebutkan bahwa masyarakat tradisional memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik mengenai hubungan antara semua penguhuni komunitas ekologis. Nilai-nilai dalam masyarakat ini dipraktekkan, diajarkan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya yang sekaligus membentuk pola perilaku manusia sehari-hari. Sementara itu, negara percaya bahwa pembangunan ekonomi adalah alat utama untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Untuk itu negara akan menerapkan sistem ekonomi yang mengadopsi paradigma pasar untuk menghasilkan devisa sebesar-besarnya (Kartodihardjo & Jhamtani 2006). Demi mencapai tujuan pembangunan secara nasional, keberadaan masyarakat lokal sering diabaikan, tidak diakui, dan bahkan dipinggirkan atau dengan sengaja dimusnahkan hingga terjadi erosi nilai-nilai tradisional. Erosi ini berakibat lebih jauh pada degradasi perilaku, dan hilangnya rasa aman bagi masyarakat lokal yang ingin mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya. Tentu saja perubahan-perubahan nilai sosial itu akan memunculkan perlawanan dan menimbulkan konflik.

Paradigma pengelolaan kawasan konservasi yang lebih menitikberatkan pada aspek ekologi semata, tanpa memperhatikan kepentingan sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya menghasilkan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi yang salah arah (Kassa 2009). Hal ini disebabkan karena pengelolaan kawasan yang sentralistik dengan perencanaan dan


(29)

keputusan-keputusan yang bersifat top down mengakibatkan nilai dan kepentingan dari pengelolaan kawasan konservasi tidak searah dengan nilai dan kepentingan masyarakat di sekitar kawasan. Dampak dari kondisi ini adalah terjadinya ketidakstabilan yang ditandai dengan terjadinya konflik kepentingan antara pengelola kawasan denganstakeholderslainnya terutama komunitas–komunitas lokal yang berada di sekitar kawasan tersebut.

Akhir-akhir ini berbagai wujud konflik sumberdaya alam dari aspek ekologi, sosial dan ekonomi, telah timbul menjadi konflik yang sulit terselesaikan. Tumpang tindihnya kepentingan pada suatu wilayah hutan yang sama pada akhirnya menimbulkan konflik yang tidak terhindarkan (Fuad & Maskanah 2000). Dalam konteks pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia, keberanian komunitas lokal dalam melakukan penjarahan masal atas sumberdaya di dalam kawasan konservasi merupakan indikasi meningkatnya power yang dimiliki masyarakat di satu sisi, serta melemahnya power yang dimiliki pihak pengelola kawasan. Pada akhirnya memicu intensitas terjadinya konflik pengelolaan kawasan.

Dalam rangka menyelesaikan konflik dan berbagai permasalahan pengelolaan sumberdaya, diperlukan pendekatan logis melalui partnerships (kemitraan) yang disebut dengan co-management (Carlsson & Berkes 2005). Menurut Natcheret al.(2005)dalamBerkes (2009),co-managementtidak hanya pengelolaan sumberdaya saja, melainkan juga pengelolaan relationships. Lockwood (2010) menambahkan bahwa perubahan bentuk penguasaan kawasan konservasi, dari tanggung jawab pemerintah menjadi pengelolaan bersama antarastakeholders (pemerintah, swasta dan masyarakat), disebabkan oleh meningkatnya pengetahuan ilmiah atas peran manusia dalam membentuk lingkungannya; kesadaran masyarakat lokal atas aspek sosial dan budaya, pengakuan terhadap hak asasi manusia, pengakuan hak masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan yang akan mempengaruhinya; demokratisasi dan peralihanpowerpemerintah pusat kepada pemerintah daerah; serta kebangkitan kekuatan ekonomi politik.

2.4. AnalisisStakeholders

Stakeholders merupakan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap pengelolaan taman nasional, yang mempengaruhi ataupun dipengaruhi oleh tujuan pengelolaan taman nasional tersebut, baik individu, kelompok ataupun organisasi. Sementara itu, Eden and Ackermann dalam Bryson (2004)


(30)

menyebutkan bahwa stakeholders merupakan orang atau kelompok yang mempunyai power (kekuatan) untuk mempengaruhi secara langsung masa depan suatu organisasi.

Dalam menentukan para stakeholders, harus dilakukan secara teliti. Hal ini dikarenakan berpotensi mengesampingkan kelompok yang sebenarnya relevan dengan permasalahan utama, yang berakibat pada biasnya hasil penelitian. Oleh karena itu Reed et al. (2009) menyebutkan bahwa analisis stakeholders perlu dilakukan dengan: 1) mendefinisikan aspek-aspek fenomena alam dan sosial yang dipengaruhi oleh suatu keputusan atau tindakan; 2) mengidentifikasi individu, kelompok dan organisasi yang dipengaruhi atau mempengaruhi fenomena tersebut; dan 3) memprioritaskan individu dan kelompok untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan.

Lebih lanjut, analisis stakeholders mempelajari bagaimana manusia berhubungan satu sama lain dalam pemanfaatan suberdaya alam dengan cara memisahkan peranstakeholderske dalamrights(hak),responsibilities(tanggung jawab), revenues (pendapatan) sertarelationship (menilai hubungan antar peran tersebut) (Mayers 2005; Reedet al.2009).

Colfer et al. (1999a, 1999c) menyebutkan bahwa untuk menentukan siapa yang perlu dipertimbangkan dalam analisis stakeholders, dilakukan dengan mengidentifikasi dimensi yang berkaitan dengan interaksi masyarakat terhadap hutan, dimana stakeholders dapat ditempatkan berdasarkan faktor: kedekatan dengan hutan, hak-hak yang sudah ada, ketergantungan, kemiskinan, pengetahuan lokal, integrasi hutan/budaya, dan defisit kekuasaan. Faktor kedekatan dengan hutan merupakan jarak tinggal masyarakat yang berhubungan dengan kemudahan akses terhadap hutan. Masyarakat yang memiliki akses yang mudah terhadap hutan akan menguntungkan jika dilibatkan dalam pengelolaan. Faktor hak-hak masyarakat yang sudah ada pada suatu kawasan hutan hendaknya diakui dan dihormati. Faktor ketergantungan merupakan kondisi yang menyebabkan masyarakat tidak mempunyai pilihan yang realistis untuk kelangsungan hidupnya, sehingga mereka sangat bergantung dengan keberadaan hutan. Faktor kemiskinan mengandung implikasi serius terhadap kesejahteraan manusia, sehingga masyarakat yang miskin sangat perlu dilibatkan dalam pengelolaan. Faktor pengetahuan lokal yang telah dimiliki oleh masyarakat lokal menjadikan pengelolaan hutan lebih baik. Faktor integrasi hutan/budaya berkaitan dengan tempat-tempat keramat dalam hutan,


(31)

sistem-sistem simbolis yang memberi arti bagi kehidupan dan sangat erat dengan perasaan masyarakat tentang dirinya, fungsi keamanan dari hutan selama musim paceklik, dan banyak sekali hubungan lainnya. Selama cara hidup masyarakat terintegrasi dengan hutan, kelangsungan budaya mereka terancam oleh kehilangan hutan, sehingga mempunyai dampak kemerosotan moral yang berakibat pada kerusakan hutan itu sendiri. Faktor defisit kekuasaan berhubungan dengan hilangnya kemampuan masyarakat lokal dalam melindungi sumberdaya atau sumber penghidupan mereka dari tekanan luar, sehingga mereka terpaksa melakukan praktik-praktik yang merusak.

2.5. Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi

Partisipasi merupakan sikap kesediaan dan ikut serta untuk terlibat dalam kegiatan dan proses pengambilan keputusan dalam mencapai tujuan bersama, serta ikut bertanggung jawab atas hasil yang dicapai. Sementara itu Dephut (2006) mendefinisikan partisipatif sebagai keterlibatan dalam keseluruhan tahapan proses pembangunan kehutanan (pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dan pemanfaatan hasil pembangunan) dengan memberikan kesempatan dan kedudukan yang setara dan dilaksanakan bersama masyarakat setempat.

Terkait dengan partisipasi, Nanang dan Devung (2004)dalamKassa (2009) mengembangkan konsep Wilcox menjadi beberapa tingkat, yaitu:

 Tingkat 6. Mobilisasi dengan kemauan sendiri (self-mobilization) yaitu masyarakat mengambil inisiatif sendiri, jika perlu dengan bimbingan dan bantuan pihak luar. Mereka memegang kontrol atas keputusan dan pemanfaatan sumberdaya, sedangkan pihak luar memfasilitasi mereka.

 Tingkat 5. Bermitra (partnership) yaitu masyarakat mengikuti seluruh proses pengambilan keputusan bersama dengan pihak luar, seperti studi kelayakan perencanaan, implementasi, evaluasi, dan lain-lain. Partisipasi merupakan hak mereka dan bukan kewajiban untuk mencapai sesuatu, ini disebut “partisipasi interaktif”.

 Tingkat 4. Plakasi/berkonsiliasi (placation/consilliation) yaitu masyarakat ikut dalam proses pengambilan keputusan yang biasanya sudah diputuskan sebelumnya oleh pihak luar, terutama menyangkut hal-hal penting. Mereka mungkin terbujuk oleh insentif berupa uang, barang dan lain-lain.


(32)

 Tingkat 3. Berunding (consultation) yaitu pihak luar berkonsultasi dan berunding dengan masyarakat melalui pertemuan atau public hearing dan sebagainya. Komunikasi dua arah, tetapi masyarakat tidak ikut serta dalam menganalisis atau mengambil keputusan.

 Tingkat 2. Memberi informasi (information gathering) yaitu masyarakat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh orang luar. Komunikasi searah dari masyarakat ke luar.

 Tingkat 1. Mendapat informasi (informing) yaitu hasil yang diputuskan oleh orang luar (pakar, pejabat, dan lain-lain) diberitahukan kepada masyarakat. Komunikasi terjadi satu arah dari luar ke masyarakat setempat.

Tingkat partisipasi masyarakat tersebut bermanfaat sebagai alat untuk menilai partisipasi nyata di lapangan. Pada dasarnya partisipasi yang sesungguhnya terdapat pada Tingkat 5 dan Tingkat 6.

Banyak upaya partisipatif beranggapan bahwa para stakeholders lokal merupakan kelompok-kelompok homogen yang memiliki kepentingan bersama dalam mengelola hutan. Namun, sering kenyataan di lapangan tidaklah demikian. Masyarakat lokal dan kelompok-kelompok lokal lainnya sering mempunyai kepentingan-kepentingan terhadap hutan yang saling berbeda, atau bahkan bertentangan. Kendati demikian, banyak pemrakarsa upaya partisipatif tidak peka terhadap perebedaan-perbedaan antar kelompok, tidak mengetahui bagaimana menangani konflik, atau tidak memiliki cara untuk mendorong kerjasama. Jadi, menurut Kusumanto et al. (2006) tantangan terbesar dalam upaya-upaya partisipatif adalah ketidakmampuan pelaksana upaya-upaya tersebut dalam menghadapi tuntutan-tuntutan yang beragam atas hutan melalui kolaborasi.

Upaya desentralisasi pemerintah dan meningkatnya kekuatan pasar menjadi faktor-faktor penting terjadinya pergeseran pengelolaan yang dulunya tidak mampu menghadapi perbedaan tuntutan atas hutan dan ketidakpastian, menjadi pengelolaan hutan bersama atau kolaboratif. Akibatnya diperlukan pelibatan berbagai kelompok kepentingan yang lebih luas. Disamping itu, munculnya kelompok-kelompok kepentingan baru dan berubahnya pola-pola hubungan antar kelompok, menjadikan kerjasama merupakan kebutuhan pokok.


(33)

2.6. Kolaborasi dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi

Pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia merupakan salah satu tumpuan terakhir dalam upaya menyelamatkan biodiversitas tropika yang masih tersisa. Keberhasilan pengelolaannya sangat dipengaruhi oleh berbagai perubahan situasi dan settingpolitik, pemerintahan serta sosial-ekonomi-budaya masyarakat. Seringkali kebijakan pemerintah di bidang konservasi sumberdaya alam hayati beserta ekosistemnya tidak mampu mengimbangi kecepatan perubahan tersebut, sehingga banyak hal terkait dengan kebijakan dan paradigma pengelolaan kawasan konservasi yang tidak lagi relevan dengan situasi terkini. Hal ini menyebabkan kondisi tidak menentu dalam pendekatan pengelolaan kawasan yang mengakibatkan ketidakpastian sistem manajemen di lapangan.

Paradigma pengelolaan kawasan konservasi yang masih kental dengan pengaruh pendekatan Yellowstone, terjadinya gap (kesenjangan) pemahaman terhadap konservasi bagi pelaku konservasi serta instrumen regulasi yang kurang relevan dengan perubahan situasi terkini, dapat mengakibatkan potensi kegagalan dalam pengelolaan kawasan konservasi. Hal ini diindikasikan oleh semakin menurunnya apresiasi dan dukungan para pihak terhadap pengelolaan kawasan konservasi. Di sisi lain, degradasi keanekaragaman hayati di kawasan konservasi juga semakin memprihatinkan. Keraguan pengelola kawasan dalam melakukan tindakan manajemen di lapangan seringkali kontra-produktif terhadap upaya konservasi itu sendiri. Oleh karenanya, diperlukan pendekatan pengelolaan yang mampu mengakomodasikan kepentingan para pihak tanpa melupakan tujuan utama pengelolaan, yaitu keberlanjutan keberadaan, fungsi, dan manfaat sumberdaya alam hayati beserta ekosistemnya bagi kesejahteraan rakyat.

Departemen Kehutanan telah menanggapi permasalahan di atas dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Kehutanan nomor P.19/Menhut-II/2004 tentang Kolaborasi Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Kolaborasi pengelolaan ini bertujuan untuk mewujudkan efektivitas pengelolaan kawasan yang dilindungi, terpenuhinya kebutuhan kesetaraan, keadilan dan demokrasi dalam pengelolaan sumberdaya alam, serta terpenuhinya keinginan para pihak untuk mengakhiri konflik tanpa ada pihak yang merasa dikalahkan (Dephut 2004). Hal tersebut juga diungkapkan oleh Carlsson and Berkes (2005)


(34)

bahwa co-management merupakan pendekatan logis untuk menyelesaikan permasalahan pengelolaan sumberdaya melalui kemitraan.

Istilah collaborative management atau kolaborasi pengelolaan dalam bahasa Inggris sering digunakan bergantian dengan berbagai istilah lainnya seperti co-management, participatory management, joint management (pengelolaan bersama), shared management, multistakeholder management, atau round-table management (Kusumanto et al. 2006). Di Indonesia istilah co-management diartikan sebagai pengelolaan kolaboratif, pengelolaan bersama, pengelolaan berbasis kemitraan atau pengelolaan partisipastif.

Borrini-Feyerabend et al. (2000, 2004) menyebutkan bahwa co-management merupakan suatu kondisi dimana dua atau lebih stakeholders bernegosiasi, menetapkan dan memberikan jaminan di antara mereka serta membagi secara adil mengenai fungsi manajemen, hak/wewenang dan tanggung jawab atas suatu daerah teritori atau sumberdaya alam tertentu.

Co-management dalam pengelolaan sumberdaya alam merupakan bentuk pengelolaan sumberdaya yang kegiatannya didasarkan pada kerjasama antara pemerintah dan masyarakat yang berorientasi pada optimalisasi pencapaian tujuan organisasi dengan mempertimbangkan pembagian wewenang, manfaat dan tanggung jawab. Knigt and Tighe (2003) dalam Kassa (2009) menyebutkan bahwa konsep co-management antara masyarakat dan pemerintah merupakan mitra yang bekerja bersama-sama dalam pengelolaan sumberdaya alam di suatu kawasan. Pengembangan konsep kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam menjalankan suatu program pengelolaan sumberdaya alam, memiliki peran dan fungsi yang jelas antara masing-masing pihak.

Gambar 2 mengilustrasikan wilayah pengelolaan kolaboratif yang berada di antara manajemen di bawah kontrol penuh pemerintah dan di bawah kendali penuh stakeholders. Arah kerja co-management tersebut mencakup berbagai cara menerapkan manajemen kerjasama yang adaptif, mulai dari konsultasi aktif, mencari konsensus, negosiasi, sharing otoritas dan transfer otoritas (Borrini-Feyerabend 1996 dalamPurwanti 2008).

Selanjutnya Borrini-Feyerabend et al. (2004) menyebutkan bahwa modal co-management adalah keberagaman pelaku sosial, dengan berbagai ragam tingkatan, bagian dan disiplin. Co-management didasarkan pada negosiasi dengan pengambilan keputusan dilakukan secara bersama, serta terjadi power sharing dan pembagian pendapatan diantara semua pelaku yang terlibat.


(35)

Co-management mencoba mencapai keadilan dalam pengelolaan sumberdaya. Keadilan disini bukan berarti kesamaan.

Kontrol penuh

pemerintah Kontrol bersama

Kontrol penuh stakeholders Sharing otoritas & tanggung jawab secara formal COLLABORATIVE MANAGEMENT Konsultasi secara aktif Mencari konsensus terbaik Negosiasi (keterlibatandalam pengambilan keputusan)dan mengembangkan kesepakatan

Tidak ada interfensi dan kontribusi

stakeholders

Tidak ada interfensi dan kontribusi

pemerintah

Tingkat KeterlibatanStakeholders

Rendah Sedang Tinggi/ Kuat

Kontribusi,komitmen &akuntabilitasstakeholdersmeningkat Harapanstakeholdersmeningkat

Tingkatpartisipasistakeholdersmeningkat

Transfer otoritas

dan tanggung

jawab

Sumber: Borrini-Feyerabend 1996dalamPurwanti 2008

Gambar 2 Arah kerjaco-management.

Kunci keberhasilan co-management (Kusumanto et al. 2006) yaitu bahwa para stakeholders kunci tidak hanya berpartisipasi dalam pelaksanaan saja, tetapi dalam semua tahapan pengelolaan yang meliputi pengamatan, perencanaan, aksi, pemantauan dan refleksi. Selain itu, pengembangan minat, keterampilan dan kemampuan lokal yang dapat membantu para stakeholders menyesuaikan diri dengan dinamika perubahan yang sangat cepat. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan para stakeholders dalam menanggapi perubahan adalah dengan mengikuti pembelajaran yang berkelanjutan dan terstruktur yang dapat membantu dalam mengadaptasi pendekatan pengelolaan. Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat dirangkum beberapa faktor pendukung co-managementseperti Tabel 1.

Pada dasarnya konsep pengelolaan co-management berbeda dengan pengelolaan partisipatif lainnya atau dengan pengelolaan berbasis masyarakat, karena ada mekanisme pelembagaan yang menuntut kesadaran dan distribusi tanggung jawab pemerintah dan stakeholders. Berdasarkan pengertian tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa co-management di taman nasional merupakan kemitraan antara pemerintah dengan stakeholders yang berkomitmen dan konsisten dalam berbagi hak/wewenang dan tanggung jawab


(36)

pada tahap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan suatu kegiatan dalam kawasan taman nasional.

Tabel 1 Faktor pendukungco-management

No Indikator Dephut

2004

Borrini-Fayerabend 2000

Knigt and Tighe 2003

Kusumanto et al.2006

1 Kemitraan  

2 Pembagian wewenang dan tanggung jawab

 

3 Kesepakatan  

4 Kerjasama  

5 Partisipasi  

6 Pengakuan hak, sederajat  7 Saling percaya dan menghargai 

8 Berbagi keuntungan  

9 Peningkatan ketrampilan dan kemampuan lokal

Beberapa jenis kegiatan yang dapat dikolaborasikan dengan masyarakat dalam taman nasional (Dephut 2004) antara lain kegiatan rehabilitasi kawasan, wisata alam, pelaksanaan perlindungan dan pengamanan, serta program peningkatan kesejahteraan dan kesadaran masyarakat. Pada kegiatan rehabilitasi kawasan, bentuk kemitraan bersama stakeholders bisa dilakukan dalam hal penyediaan jenis bibit sekaligus kegiatan penanamannya. Pada kegiatan wisata alam, bentuk kemitraan bersama stakeholders bisa dilakukan dalam hal penyusunan rencana aktivitas wisata alam yang dikaitkan dengan wisata adat budaya, beserta program interpretasinya. Selain itu, keterlibatan stakeholders dalam kegiatan wisata alam dapat dilakukan dengan pembentukan guide/pemandu wisata lokal yang menguasai interpretasi wisata alam taman nasional. Pada kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan, kemitraan bersama stakeholders dilakukan dengan perencanaan dan pembentukan kelompok pengamanan swakarsa oleh masyarakat setempat. Di samping itu, pemerintah dan stakeholders juga mempunyai tanggung jawab untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus turut merencanakan program peningkatan kesejahteraannya. Kegiatan dalam hal ini berupa berbagai kegiatan penyuluhan dan pelatihan yang direncanakan bersama masyarakat.

2.7. TeknikInterpretative Structural Modeling(ISM)

Teknik Interpretative Structural Modeling (ISM) merupakan suatu metodologi dengan menggunakan bantuan komputer yang dapat membantu suatu kelompok untuk mengidentifikasi hubungan antara gagasan/ide dan


(37)

struktur penentu dalam sebuah masalah yang kompleks (Eriyatno & Sofyar 2007). Teknik ISM mengkaji kelompok dimana model-model struktural dihasilkan guna memotret perihal yang kompleks dari suatu sistem, melalui pola yang dirancang secara seksama dengan menggunakan grafik serta kalimat. ISM ini menyediakan suatu keadaan yang sangat baik untuk memperoleh keragaman dan sudut pandang yang berbeda dalam sebuah konsep kompleks yang lebih baik.

Prinsip dasarnya adalah identifikasi dan struktur didalam suatu sistem akan memberikan nilai manfaat yang tinggi guna meramu sistem secara efektif dan pengambilan keputusan yang lebih tinggi. Dalam teknik ISM, program yang ditelaah perjenjangan strukturnya dibagi menjadi elemen-elemen dimana setiap elemen selanjutnya diuraikan menjadi sejumlah subelemen. Studi dalam perencanaan program yang terkait memberikan pengertian mendalam terhadap berbagai elemen dan peranan kelembagaan guna mencapai solusi yang lebih baik dan mudah diterima. Teknik ISM memberikan basis analisa dimana informasi yang dihasilkan sangat berguna dalam formulasi kebijakan serta perencanaan strategis. Menurut Saxena (1992) dalam Marimin (2005) bahwa program dapat dibagi menjadi sembilan elemen yaitu:

1). Sektor masyarakat yang terpengaruh 2). Kebutuhan dari program

3). Kendala utama

4). Perubahan yang dimungkinkan 5). Tujuan dari program

6). Tolok ukur untuk menilai setiap tujuan

7). Aktivitas yang dibutuhkan untuk pencapaian tujuan.

8). Ukuran aktivitas guna mengevaluasi hasil yang dicapai oleh setiap aktivitas. 9). Lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan program.

Untuk setiap elemen dari program yang dikaji, selanjutnya dijabarkan menjadi sub elemen. Kemudian ditetapkan hubungan kontekstual antara sub elemen yang mengandung adanya suatu pengarahan pada perbandingan berpasangan. Hubungan kontekstual pada teknik ISM selalu dinyatakan dalam terminologi sub ordinat yang menuju pada perbandingan berpasangan antara sub elemen yang mengandung suatu arahan pada hubungan tersebut. Menurut Eriyatno (2003) dalam Adiprasetyo (2010) hubungan kontekstual dapat bersifat kualitatif atau kuantitatif. Keterkaitan antar sub elemen dapat meliputi berbagai


(38)

jenis hubungan seperti perbandingan, pernyataan, pengaruh, keruangan, atau kewaktuan.

Berdasarkan hubungan kontekstual tersebut, maka disusun Structural Self Interaction Matrix(SSIM) dengan menggunakan simbol VAXO sebagai berikut: V ... hubungan dari elemen Eiterhadap Ej, tetapi tidak sebaliknya.

A... hubungan dari elemen Ejterhadap Ei, tetapi tidak sebaliknya. X... hubungan interrelasi antara Eidan Ej(dapat sebaliknya) O ..Eidan Ejtidak ada hubungan.

Marimin (2005) menguraikan bahwa metodologi dan teknik ISM dibagi menjadi dua bagian yaitu penyusunan hirarki dan pengelompokan sub elemen. Untuk menentukan klasifikasi sub elemen digunakan nilai driver power dan dependence yang digolongkan dalam empat sektor yaitu:

- Sektor 1: weak driver – weak dependent variable(autonomous). Sub elemen yang masuk dalam sektor ini umumnya tidak berkaitan dengan sistem, dan mungkin mempunyai hubungan sedikit. Walaupun hubungan tersebut bisa saja kuat namun dalam penentuan strategi pengelolaan, sub elemen pada sektor ini dapat diabaikan.

- Sektor 2: weak driver – strongly dependent variables (dependent). Sub elemen yang masuk dalam sektor ini umumnya sub elemen yang tidak bebas. Dalam strategi pengelolaan, sub elemen pada sektor ini didefinisikan sebagai akibat dari pengaruh sub elemen yang terdapat pada sektor IV dan III.

- Sektor 3: strong driver – strongly dependent variable (linkage). Sub elemen yang masuk dalam sektor ini harus dikaji secara hati-hati, sebab hubungan antara sub elemen tidak stabil. Setiap tindakan pada sub elemen akan memberikan dampak terhadap sub elemen lainnya dan pengaruh umpan baliknya dapat memperbesar dampak. Dalam strategi pengelolaan, sub elemen pada sektor ini dapat menyukseskan program atau bahkan menggagalkan program.

- Sektor 4: strong driver – weak dependent variables (Independent). Sub elemen yang masuk dalam sektor ini merupakan bagian sisa dari sistem dan disebut juga peubah bebas. Dalam strategi pengelolaan, sub elemen pada sektor ini sangat mempengaruhi sub elemen pada sektor lainnya sehingga perlu dimaksimalkan pengelolaannya karena dapat menyukseskan program.


(39)

III. METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di TNKL (Gambar 3) dengan pertimbangan bahwa (1) TNKL memiliki flora dan fauna endemik Flores yang perlu dipertahankan kelestariannya, (2) dari sisi keindahan alam, terdapat Danau Kelimutu yang terdiri dari tiga kawah yang selalu berubah warna sesuai aktifitas vulkanik di bawahnya, (3) keterkaitan budaya yang sangat erat antara puncak Kelimutu dengan masyarakat di sekitarnya.

Gambar 3 Peta lokasi penelitian di Desa Wologai Tengah dan Desa Saga. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Desember 2010. Survey awal dilakukan pada bulan Juli dan Agustus 2010, sedangkan pengumpulan data dan informasi yang relevan dengan tujuan penelitian, serta diskusi pakar pada bulan November – Desember 2010.

3.2. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan dan


(40)

wawancara mendalam dengan para stakeholdersTNKL (Tabel 2). Data sekunder diperoleh dari dokumen yang dipublikasikan pihak terkait yang berupa buku, laporan hasil kegiatan, dan laporan lainnya. Dokumen yang dapat dioptimalkan kegunaannya antara lain Laporan Kajian Perilaku Adat Kegiatan Bercocok Tanam Masyarakat Lio di Daerah Sekitar Kawasan Taman Nasional Kelimutu Tahun 2009, Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Taman Nasional Kelimutu Periode 2009 – 2029, Statistik BTNKL Tahun 2009, Rencana Strategis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Ende Tahun 2009 - 2014, Rencana Strategis Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Ende Tahun 2009 – 2014, Ende dalam Angka Tahun 2009, serta Detusoko dalam Angka Tahun 2009.

Tabel 2 Jenis dan sumber data berdasarkan tujuan penelitian

Tujuan penelitian Variabel yang diukur Sumber data

Teknik pengumpulan data Teknik analisis data Output yang diharapkan Menganalisis penerapan prinsip co-management dalam pengelolaan TNKL

1. Partisipasi komunitas lokal

2. Pengakuan terhadap hak masyarakat adat 3. Ada proses negosiasi 4. Kejelasan hak dan

tanggung jawab stakeholders 5. Ada konsensus yang

disepakati

Masyarakat lokal Observasi, wawancara dan kuisioner Analisis penerapan prinsip co- management Kondisiexisting penerapan konsep co-management dalam pengelolaan TNKL Mengidentifikasi serta menganalisis kepentingan (interest) dan aspirasi stakeholders terkait pengelolaan TNKL Kepentingan (interest) dan aspirasi stakeholders Petani kopi dalam kawasan, masyarakat lokal, lembaga adat, kepala desa, BTNKL, Pemda, Unflor, dan LSM.

Observasi danindepth – interview Analisis stakeholders Stakeholders, serta kepentingan (interest) dan aspirasinya terkait pengelolaan TNKL Mengklasifikasi stakeholders terkait pengelolaan TNKL Nilai penting (importance)dan pengaruhstakeholders terkait pengelolaan TNKL Petani kopi dalam kawasan, masyarakat lokal, lembaga adat, kepala desa, BTNKL, Pemda, Unflor, dan LSM.

Observasi danindepth – interview

Analisis stakeholders

Matriks nilai penting dan pengaruh stakeholdersterkait pengelolaan TNKL Merumuskan strategi pengelolaan melalui pendekatan co-management Strategi pengelolaan berdasarkan elemen lembaga/pelaku yang terlibat, kebutuhan, kendala utama, tujuan,dan kegiatan Diskusi pakar dan hasil olahan

Wawancara dan diskusi pakar

Analisis strategi pengelolaan dengan teknik ISM dan secara diskriptif

Strategi pengelolaan melalui pendekatan co-management

3.3. Teknik Pengambilan Contoh

Penelitian lapangan dilakukan di Desa Wologai Tengah dan Desa Saga, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Pemilihan lokasi penelitian secara

purposive sampling di kedua desa berdasarkan pertimbangan bahwa di Desa Saga terjadi konflik berupa perambahan kawasan dan klaim batas kawasan, sedangkan di Desa Wologai Tengah tidak terjadi konflik yang mencuat.


(41)

Dalam rangka analisis kondisi existing penerapan prinsip co-management, pengambilan contoh dilakukan dengan teknik purposive sampling terhadap masyarakat lokal yang terkait dengan pengelolaan TNKL dan konflik yang terjadi di 2 (dua) desa masing-masing sebanyak 30 responden. Responden penelitian tersebut dipilih secara hati-hati dengan persyaratan tertentu yakni keterkaitan dengan konflik yang terjadi, kepentingan dan/atau kepedulian dengan keberadaan TNKL, pekerjaan terkait dengan pengelolaan TNKL, serta kesediaan dalam memberikan informasi.

Teknik pengambilan contoh yang digunakan untuk mengidentifikasi

stakeholders, menganalisis kepentingan (interest) dan aspirasi stakeholders, serta untuk mengklasifikasi stakeholders, dilakukan dengan teknik snowball sampling (Sugiyono 2009). Jumlah informan pada penelitian ini disesuaikan dengan kondisi penelitian sebagaimana tekniksnowball(Sitorus 1998).

Penilaian terhadap elemen dan sub elemen pada teknik ISM, dilakukan oleh 10 pakar dari lembaga adat, kepala desa, BTNKL, Universitas Flores (Unflor), dan pemda. Pertimbangan dalam menentukan pakar yaitu 1) memiliki pengalaman dan kompetensi sesuai bidang yang dikaji, 2) memiliki reputasi, kedudukan dan jabatan dalam kompetensinya dengan kajian penelitian, dan 3) memiliki kredibilitas yang tinggi, bersedia dan berada pada lokasi penelitian.

3.4. Pengumpulan Data

Pengumpulan data primer dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut: 1) Untuk mengetahui kondisiexisting penerapan prinsip co-management dalam

pengelolaan TNKL, pengumpulan data primer dilakukan dengan observasi, dan pengisian kuisioner oleh masyarakat di dua desa penelitian masing-masing sebanyak 30 informan.

2) Untuk mengidentifikasi stakeholders, menggali informasi kepentingan (interest) dan aspirasi, serta mengklasifikasistakeholders, pengumpulan data primer dilakukan dengan observasi dan wawancara mendalam (Sugiyono 2009) menggunakan kuisioner sebagai panduan (Colferet al.1999b).

3) Untuk menyusun strategi pengelolaan dengan teknik ISM, dilakukan dengan studi pustaka, hasil analisis sebelumnya, dan diskusi pakar. Sebanyak 10 pakar diminta melakukan penilaian hubungan kontekstual antar sub elemen dari setiap elemen.


(42)

Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara studi dokumen sebagai pelengkap dari penggunaan metode wawancara, yaitu mengumpulkan dokumen hasil studi/penelitian, peraturan perundang-undangan dan data pendukung lainnya sebagai kompilasi kebijakan dari berbagai sektor baik nasional maupun lokal yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat (Departemen Kehutanan cq. Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam) maupun pihak pengelola kawasan yaitu BTNKL, serta Pemerintah Kabupaten Ende.

3.5. Metode Analisis Data

Data primer dan data sekunder yang diperoleh, kemudian dianalisis dengan tiga alat analisis sesuai dengan karakteristik dan tujuan analisis data (Gambar 4) yaitu:

1) Analisis penerapan prinsip co-management untuk mengetahui sejauhmana prinsip-prinsip co-management telah diterapkan dalam pengelolaan TNKL pada saat ini;

2) Analisis stakeholders untuk mengidentifikasi stakeholders, kepentingan dan aspirasi, serta mengklasifikasistakeholders; dan

3) Analisis strategi pengelolaan menggunakan teknik ISM dengan elemen yang terkait dengan pengelolaan yaitu lembaga dan pelaku yang terlibat, kebutuhan terhadap program pengelolaan TNKL secara co-management, kendala utama terhadap pengelolaan TNKL secara co-management, tujuan dari pengelolaan TNKL secara co-management, serta aktifitas/kegiatan yang diperlukan.


(43)

Pengelolaan TNKL

1. Identifikasistakeholders

2. Kepentingan (interest) dan aspirasi

stakeholders

3. Klasifikasistakeholders

1. Lembaga dan pelaku yang terlibat 2. Kebutuhan dari program

3. Kendala utama dalam pengelolaan TNKL 4. Tujuan dari pengelolaan TNKL

5. Kegiatan yang diperlukan Upaya

co-managementTNKL Penerapan prinsip

co-management

Strategi Pengelolaan TNKL

Analisis

Stakeholders

Analisis penerapan prinsip

co-management

Analisis strategi dengan teknik ISM

Gambar 4 Tahapan penelitian.

3.5.1. Analisis penerapan prinsip co-management dalam pengelolaan TNKL pada saat ini

Analisis penerapan prinsipco-managementpada penelitian ini akan melihat sejauhmana prinsip co-management telah dilaksanakan dalam pengelolaan TNKL pada kondisi saat ini (existing). Prinsipco-management(Kassa 2009) yang dijadikan parameter dalam penelitian ini yaitu (1) partisipasi komunitas lokal, yaitu antusiasme untuk terlibat dan ikut serta dalam pengelolaan karena motivasinya; (2) pengakuan terhadap hak masyarakat adat, yaitu pengakuan terhadap hak masyarakat lokal atas nilai-nilai kearifan lokal dan pengelolaan tradisional; (3) ada proses negosiasi, yaitu komunikasi dua arah antar

stakeholders inti yang duduk bersama mengkomunikasikan pandangan yang berbeda; (4) kejelasan hak dan tanggung jawab komunitas lokal dengan BTNKL,


(44)

yaitu stakeholdersyang terlibat mengerti secara penuh dengan peran yang jelas dan sikap saling percaya; serta (5) ada konsensus yang disepakati oleh

stakeholders inti, yaitu kesepakatan bersama yang diperoleh dari hasil negosiasi terhadap perbedaan kepentingan yang dijadikan kontrol oleh masing-masing

stakeholdersdalam pengelolaan TNKL.

Selanjutnya untuk mengukur seberapa besar penerapan prinsip co-management dalam pengelolaan TNKL akan diukur berdasarkan skala Chapin (Kassa 2009) yakni apabila persentase penerapannya:

 ≤ 25% maka penerapannya rendah,

 > 25% – 50% penerapannya sedang, dan

 > 50% maka dapat dikatakan bahwa penerapan prinsip co-management

dalam pengelolaan TNKL berada pada kategori yang baik/tinggi.

3.5.2. Analisisstakeholders

Untuk mengetahui kepentingan dan aspirasi stakeholders, karakteristik permasalahan, serta klasifikasi stakeholdersdalam pengelolaan TNKL, dilakukan dengan analisis stakeholders. Analisis stakeholders dilaksanakan dengan menentukan maksud analisis, identifikasi stakeholders, penilaian atribut

stakeholders, dan menyusun analisis untuk melengkapi hal-hal yang telah ditemukan yang diintegrasikan ke dalam fungsi ekosistem TNKL.

Stakeholders yaitu individu, kelompok atau institusi yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh kebijakan atau tindakan dalam pengelolaan TNKL. Identifikasi stakeholders merupakan proses yang dilakukan secara berulang, hingga ditetapkan stakeholders yang benar-benar mengetahui pengelolaan taman nasional melalui pendekatan co-management. Jika pembatasan

stakeholders telah ditetapkan sejak awal, maka stakeholders memang dapat lebih mudah teridentifikasi. Namun, hal ini mengandung resiko bahwa beberapa

stakeholdersakan terabaikan, dan tentu saja identifikasi ini menjadi tidak relevan lagi (Reed et al. 2009). Penentuan stakeholders ditetapkan melalui kombinasi pendapat pakar, wawancara dan snowball sampling.

Setelah para stakeholders teridentifikasi, maka langkah selanjutnya yaitu mengkaji kepentingan (interest) dan aspirasinya. Pada analisis ini dilakukan pencermatan terhadap faktor-faktor yang menjadi kebutuhan (Hartrisari 2007) dan aspirasi stakeholders terhadap tujuan pengelolaan TNKL, yaitu kesesuaian terhadap kelestarian fungsi ekosistem TNKL dan program pengelolaan TNKL.


(45)

Kategori fungsi ekosistem yang dikaji dalam penelitian ini (de Groot et al.

2002; de Groot 2006) adalah: fungsi regulasi, fungsi habitat, fungsi produksi, fungsi informasi, serta carrier functions. Sementara itu, program-program pengelolaan TNKL (Dephut 2004) yang dikaji adalah program rehabilitasi kawasan; program pengembangan wisata alam yang meliputi perencanaan aktivitas dan interpretasi wisata; program perlindungan dan pengamanan kawasan; serta program pembinaan partisipasi masyarakat yang meliputi peningkatan kesejahteraan, peningkatan kesadaran, pendidikan dan pelatihan.

Langkah selanjutnya yaitu mengelompokkan dan membedakan antar

stakeholders berdasarkan posisinya terkait nilai penting (importance) dan pengaruhnya dalam pengelolaan TNKL. Metode analisis yang digunakan yaitu menggunakan matriks pengaruh dan nilai penting. Menurut Groenendijk (2003) pengaruh (influence) merupakan kekuatan (power) yang dimiliki stakeholders

untuk mengontrol pengambilan keputusan, memfasilitasi pelaksanaannya atau bahkan memaksa untuk melaksanakan keputusan yang diambil tersebut. Pengaruh dipahami sebagai kemampuan stakeholders untuk mendesak

stakeholders lainnya dalam membuat keputusan atau mengikuti tindakan tertentu. Sementara itu, nilai penting (importance) menunjukkan prioritas

stakeholders terhadap pengelolaan fungsi ekosistem dalam memberikan kepuasan pada kebutuhan dan kepentingannya. Stakeholders mempunyai nilai penting tinggi terhadap pengelolaan TNKL jika mempunyai masalah, kebutuhan dan kepentingan yang sangat relevan terhadap fungsi-fungsi ekosistem TNKL.

Menurut Eden and Ackermann (1998) yang dikutip oleh Bryson (2004) dan Reed et al. (2009) matriks pengaruh dan kepentingan disusun untuk mengklasifikasikanstakeholderske dalam key players, context setters, subjects,

dan crowd. Key players merupakan stakeholders yang aktif karena mereka mempunyai nilai penting (importance) dan pengaruh yang tinggi terhadap permasalahan dan konflik pengelolaan taman nasional. Context setters memiliki pengaruh yang tinggi tetapi nilai penting terhadap keberhasilan program kecil. Oleh karena itu, mereka dapat menjadi resiko yang signifikan sehingga harus dipantau. Subjects memiliki nilai penting (importance) yang tinggi tetapi pengaruhnya rendah dan walaupun mereka mendukung kegiatan, kapasitasnya terhadap dampak mungkin tidak ada. Namun, mereka dapat menjadi berpengaruh jika membentuk aliansi dengan stakeholders lainnya. Crowd


(46)

pengaruh terhadap hasil yang diinginkan dan hal ini menjadi pertimbangan untuk mengikutsertakannya dalam pengambilan keputusan. Pengaruh dan nilai penting (importance) akan mengalami perubahan dari waktu ke waktu, sehingga perlu menjadi bahan pertimbangan.

Penyusunan matriks pengaruh dan nilai penting (importance) dilakukan atas dasar pada deskripsi pernyataan informan yang dinyatakan dalam ukuran kuantitatif (skor), dan selanjutnya dikelompokkan menurut kategorinya. Penetapan skoring mengacu pada model yang dikembangkan oleh Abbas (2005) yaitu pengukuran data berjenjang lima yang disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Ukuran kuantitatif terhadap nilai penting dan pengaruh stakeholders

Skor Kriteria Keterangan Nilai Penting (Importance)Stakeholders

5 Sangat tinggi Sangat relevan terhadap keberhasilan pengelolaan TNKL 4 Tinggi Relevan terhadap keberhasilan pengelolaan TNKL

3 Cukup tinggi Cukup relevan terhadap keberhasilan pengelolaan TNKL 2 Kurang tinggi Kurang relevan terhadap keberhasilan pengelolaan TNKL 1 Rendah Tidak relevan terhadap keberhasilan pengelolaan TNKL

PengaruhStakeholders

5 Sangat tinggi Sangat mampu mempengaruhi pengelolaan TNKL 4 Tinggi Mampu mempengaruhi pengelolaan TNKL

3 Cukup tinggi Cukup mampu mempengaruhi pengelolaan TNKL 2 Kurang tinggi Kurang mampu mempengaruhi pengelolaan TNKL 1 Rendah Tidak mampu mempengaruhi pengelolaan TNKL

Kriteria yang digunakan untuk mengukur nilai penting (importance)

stakeholders dalam menentukan keberhasilan pengelolaan TNKL, yaitu berdasarkan relevansi kepentingannya dengan fungsi ekosistem TNKL. Skor tinggi diberikan kepada stakeholders yang menjadi sasaran pengelolaan,

stakeholders yang kebutuhan dan harapan-harapannya relevan dengan fungsi ekosistem, serta stakeholders yang menentukan keberhasilan pengelolaan fungsi ekosistem. Fungsi ekosistem TNKL, yaitu fungsi regulasi, habitat, produksi, informasi dan carrier (de Groot et al.2002; de Groot 2006), dijelaskan sebagai berikut:

1) Fungsi regulasi; yaitu nilai penting stakeholders terhadap kelestarian fungsi ekosistem TNKL dalam mengatur proses-proses ekologis yang esensial serta sistem pendukung kehidupannya yang bermanfaat secara langsung maupun


(47)

tidak langsung, seperti pemeliharaan kualitas udara, penyediaan air bersih, perlindungan tanah dari erosi, serta jasa ekologi lainnya.

2) Fungsi habitat; yaitu nilai penting stakeholders terhadap kelestarian fungsi ekosistem TNKL sebagai tempat berlindung dan berkembangbiaknya berbagai flora dan fauna. Pada kriteria ini, fungsi habitat lebih ditekankan pada kebutuhan kondisi ruang yang dapat memelihara keanekaragaman biotik dan genetik serta mendukung proses evolusi yang terjadi.

3) Fungsi produksi; yaitu nilai penting stakeholders terhadap kelestarian berbagai sumberdaya yang dihasilkan oleh TNKL untuk memenuhi kebutuhan mulai dari makanan, bahan baku, sampai bahan genetik dan sumberdaya energi.

4) Fungsi informasi; yaitu nilai penting stakeholders terhadap kelestarian ekosistem alam TNKL yang memberikan kontribusi bagi pemeliharaan kesehatan manusia, dengan menyediakan tempat untuk berefleksi menikmati pemandangan (keindahan jalan, perkampungan dan lain-lain), perjalanan berekreasi/ekowisata, budaya, pendidikan dan pengembangan spiritual. 5) Carrier function; yaitu nilai penting stakeholders terhadap kelestarian

ekosistem TNKL dalam menyediakan ruang untuk kebutuhan beraktivitas manusia seperti ruang dalam kawasan TNKL untuk tempat beraktivitas wisata dan jalan penghubung antar desa.

Pengaruh stakeholders terhadap pengelolaan TNKL melalui pendekatan

co-management diukur berdasarkan instrumen dan sumber kekuatan, sebagaimana yang disebutkan oleh Galbraith (1983) dalam Reed et al. (2009), sebagai berikut:

1) Instrumen kekuatan:

a. Candign power; yaitu pengaruh stakeholders tertentu karena memiliki kemampuan memberikan hukuman/sanksi yang sepadan/selayaknya terhadap stakeholders lain. Pengaruh ini diperoleh melalui emosi, keuangan, ancaman fisik, sanksi adat, sanksi hukum, atau sanksi lainnya. b. Compensatory power; yaitu pengaruh yang diperoleh melalui kemampuan dalam mengkompensasi stakeholders lainnya melalui simbolisasi, keuangan, serta penghargaan berupa materi, seperti pemberian gaji/upah, bribes/sogokan, pemberian bantuan desa penyangga, atau pemberian sebidang lahan.


(48)

c. Conditioning power; yaitu pengaruh yang diperoleh melalui manipulasi kepercayaan atau pembentukan opini dan informasi, misalnya melalui kelompok yang sepadan, norma budaya, pendidikan, atau propaganda. 2) Sumber kekuatan:

a. Personality power dan property power; yaitu pengaruh yang diperoleh berdasarkan kepribadian, kepemimpinan seseorang (karisma, kekuatan fisik, kecerdasan mental, atau pesona seseorang), atau kepemilikan/kekayaan.

b. Organisation power; yaitu pengaruh dari suatu organisasi karena memiliki massa, jejaring kerja, kesesuaian bidang tugas, atau kontribusi fasilitas. Berdasarkan data jawaban stakeholders yang teridentifikasi terhadap tingkat nilai penting dan pengaruhnya, selanjutnya disusun ke dalam matriks pengaruh dan nilai penting (Gambar 5).

ti n g g i tinggi rendah re n d a h

PENGARUH

Crowd Context setters Subjects Key players

N

IL

A

I

P

E

N

T

IN

G

(

IM

P

O

R

T

A

N

C

E

)

Sumber: dengan modifikasi dari Eden & Ackermann 1998 dalam Bryson 2004; dan Reedet al. 2009

Gambar 5 Matriks pengaruh dan nilai penting.

Posisi pada kuadran menggambarkan ilustrasi kategori masing-masing

stakeholders dalam pengelolaan TNKL yaitu subject (nilai penting tinggi tetapi pengaruh rendah),key players(nilai penting dan pengaruh tinggi),context setters

(nilai penting rendah tetapi pengaruh tinggi), dan crowd (nilai penting dan pengaruh rendah). Stakeholders kunci adalah subject, key players, dan context setters, karena mereka cukup signifikan mempengaruhi keberhasilan pengelolaan TNKL (Groenendijk 2003). Sementara itu stakeholders yang berada


(49)

pada crowd, mendapatkan perhatian dan prioritas yang rendah atau bisa diabaikan dari aktifitas pengelolaan TNKL.

3.5.3. Analisis strategi pengelolaan dengan pendekatanco-management

Strategi pengelolaan TNKL disusun berdasarkan pada resolusi konflik yang terjadi di TNKL, utamanya di Desa Saga, dengan menentukan elemen dan sub elemen melalui klarifikasi dan kajian yang mendalam terhadap data yang diperoleh dari wawancara dengan stakeholders, dan juga berdasarkan kajian kepentingan dan aspirasi stakeholders pada analisis sebelumnya. Metode analisis data untuk merencanakan strategi pengelolaan TNKL adalah dengan metode ISM (Marimin 2005) dan metode deskriptif (Sugiyono 2009). Metode ISM dapat digunakan untuk membantu suatu kelompok, dalam mengidentifikasi hubungan kontekstual antar sub elemen dari setiap elemen yang membentuk suatu sistem berdasarkan gagasan/ide atau struktur penentu dalam sebuah masalah yang komplek (Saxena 1992 dalamEriyatno & Sofyar 2007). Beberapa kategori struktur dan kategori gagasan/ide yang mencerminkan hubungan kontekstual antar elemen dapat dikembangkan dengan memakai ISM, seperti struktur pengaruh (misal “sub elemen Ei mempengaruhi munculnya sub elemen Ej”), struktur prioritas (misal “sub elemen Ei lebih prioritas daripada sub elemen Ej), atau gagasan/ide kategori (misal sub elemen Ei memiliki kategori yang sama dengan sub elemen Ej).

Analisis strategi pengelolaan TNKL dengan pendekatan co-management

dilakukan dengan menganalisis elemen-elemen secara berurutan, sebagai berikut:

1). Elemen lembaga dan pelaku yang terlibat

Analisis ini mengkaji stakeholders kunci yang dihasilkan pada analisis

stakeholderssebelumnya. Hasil analisis yaitu stakeholders kunci mana yang perlu diprioritaskan dalam pengelolaan TNKL secaraco-management,karena akan mempengaruhi keberhasilan pengelolaan TNKL. Stakeholders kunci yang dihasilkan merupakanstakeholdersinti dalam pengelolaan TNKL

2). Elemen kebutuhan dari program pengelolaan TNKL

Analisis ini mengkaji hasil analisis kepentingan (interest) dan aspirasi

stakeholders yaitu kebutuhan mana yang paling mempengaruhi kebutuhan-kebutuhan lainnya. Hasil analisis ini akan digunakan sebagai rujukan untuk


(50)

menentukan kendala utama dalam mencapai kebutuhan tersebut, serta tujuan pengelolaan TNKL secara co-management.

3). Elemen kendala utama

Analisis ini mengkaji berbagai kendala yang dimungkinkan akan menghambat pelaksanaan pengelolaan TNKL secara co-management. Sub elemen kendala diperoleh melalui observasi, analisis kepentingan stakeholders dan diskusi pakar.

4). Elemen tujuan program

Analisis ini mengkaji tujuan program pengelolaan TNKL secara co-management, yaitu agar fokus pelaksanaan kegiatan nantinya diarahkan pada tujuan yang menjadi elemen kunci. Sub elemen tujuan program diperoleh melalui observasi, studi pustaka dan diskusi pakar.

5). Elemen kegiatan/aktifitas yang akan dijalankan

Analisis ini mengkaji berbagai kegiatan yang merupakan serangkaian langkah-langkah yang saling terkait untuk melaksanakan pengelolaan TNKL secara co-management. Ketentuan co-management dalam penelitian ini mengikuti Peraturan Menteri Kehutanan No. P.19/Menhut-II/2004 tentang Kolaborasi Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Disamping itu, orientasi dalam penyusunan prioritas kegiatan ini berdasarkan pada resolusi konflik yang terjadi. Kajian pada analisis ini mempertimbangkan hasil analisis kepentingan (interest) dan aspirasi

stakeholders, serta kebutuhan pengelolaan, kendala utama dan tujuan pengelolaan sebagaimana analisis sebelumnya.

Langkah-langkah identifikasi hubungan antar sub elemen dalam suatu sistem yang komplek dengan metode ISM (Marimin 2005; Eriyatno & Sofyar 2007) sebagai berikut:

1). Identifikasi elemen: elemen sistem diidentifikasi dan didaftar sebagaimana maksud penelitian ini, yaitu lembaga dan pelaku yang terlibat, kebutuhan dari program pengelolaan TNKL, kendala utama, tujuan program, dan kegiatan/aktifitas yang akan dijalankan. Selanjutnya ditentukan sub elemen pada masing-masing elemen yang diperoleh melalui kajian pada analisis sebelumnya, studi pustaka dan diskusi pakar.

2). Hubungan kontekstual: antar sub elemen pada masing-masing elemen disusun hubungan kontekstual sesuai maksud penelitian ini.

3). Matriks interaksi tunggal terstruktur (Structural Self Interaction Matrix- SSIM): matriks ini mewakili elemen persepsi pakar/informan terhadap elemen


(1)

PANDUAN KUISIONER UNTUK ANALISIS PENGARUHSTAKEHOLDERS

NO PERTANYAAN JAWABAN

1 Bagaimana pengaruh kelayakan Anda dalam memberikan sanksi; melalui: sanksi finansial,

ancaman fisik, sanksi hukum, sanksi adat, atau sanksi lainnya (sebutkan)

2 Bagaimana pengaruh kekuatan mengkompensasi Anda?

Pengaruh yang diperoleh melalui kekuatan uang, simbolik, dan penghargaan berupa materi, seperti pemberian gaji/ upah, bribes, pemberian bantuan/ kegiatan, atau pemberian sebidang lahan, atau pemberian penghargaan lainnya

3 Bagaimana pengaruh kondisi kekuatan Anda? Pengaruh yang diperoleh melalui opini, massa dan manipulasi kepercayaan, yaitu melalui kelompok yang sepadan, norma budaya, pendidikan, atau propaganda. 4 Bagaimana pengaruh kekuatan

Anda? Pengaruh yang diperoleh berdasarkan kepribadian/

kepemimpinan seseorang melalui karisma, atau pesona seseorang, kekuatan fisik dan kecerdasan mental, atau kekayaan? 5 Bagaimana pengaruh sumber

kekuatan Anda? Pengaruh yang diperoleh dari suatu organisasi (jumlah angggaran, kapasitas kelembagaan, kesesuaian tupoksi, jejaring kerja, dan SDM).


(2)

Lampiran 2. Hasil pengolahan ISM VAXO elemen lembaga dan pelaku yang terlibat dalam pengelolaan TNKL melalui pendekatan co-management

1. Matriksreachabilityawal (kiri) dan final (kanan) dengan mencakup perhitungandriver powerdandependence


(3)

Lampiran 3. Hasil pengolahan ISM VAXO elemen kebutuhan dari program pengelolaan TNKL

1. Matriksreachability awal (kiri) dan final (kanan) dengan mencakup perhitungandriver powerdandependence


(4)

Lampiran 4. Hasil pengolahan ISM VAXO elemen kendala utama dalam pengelolaan TNKL secaraco-management

1. Matriksreachabilityawal (kiri) dan final (kanan) dengan mencakup perhitungandriver powerdandependence


(5)

Lampiran 5. Hasil pengolahan ISM VAXO elemen elemen tujuan dari pengelolaan dengan pendekatanco-management

1. Matriksreachability awal (kiri) dan final (kanan) dengan mencakup perhitungandriver powerdandependence


(6)

Lampiran 6. Hasil pengolahan ISM VAXO elemen kegiatan yang diperlukan 1. Matriksreachabilityawal (kiri) dan final (kanan) dengan mencakup

perhitungandriver powerdandependence