PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISIONS) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA DI SDN PERUM SURADITA CISAUK

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD
(STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISIONS) TERHADAP HASIL
BELAJAR MATEMATIKA SISWA DI SDN PERUM SURADITA CISAUK

(Penelitian Quasi Eksperimen di Kelas V SDN Perum Suradita Cisauk)

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh:
RIMA MUSYIFAH
NIM. 109018300014

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014

ABSTRAK

Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Team
Achievement Divisions) terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa di SDN Perum
Suradita Cisauk. Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta, 2014.
Kata Kunci: STAD (Student Team Achievement Divisions), Hasil Belajar Siswa
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode konvensional terhadap hasil
belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen dengan rancangan penelitian Two
group Rendomized subject posttest only. Penelitian ini dilakukan di SDN Perum
Suradita Cisauk tahun ajaran 2013/2014. Teknik pengambilan sampel dalam
penelitian ini menggunakan cluster random sampling. Instrumen yang digunakan
untuk mengumpulkan data pada penelitian ini adalah tes pilihan ganda. Tes yang
diberikan terdiri dari 20 soal bentuk pilihan ganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar matematika
siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah
sebesar 66,03, sedangkan rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diajarkan
dengan model pembelajaran konvensional adalah sebesar 60,85. Berdasarkan
perhitungan uji-t diperoleh thitung = 2,41 dan ttabel= 1,66 dengan taraf signifikansi
(α) = 0,05 dan derajat kebebasan 66. Karena thitung > ttabel, maka rata-rata hasil
belajar matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD lebih tinggi dari pada rata-rata hasil belajar matematika siswa yang
diajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Dengan demikian, model
pembelajaran tipe STAD lebih baik dibandingkan model pembelajaran
konvensional.

i

ABSTRACT

Improving Mathematics Student Learning Outcomes Through Cooperative
Learning Model Application Type STAD (Student Team Achievement Divisions).
Thesis Department of Elementary School Teacher Education, Faculty of Tarbiyah
and Teaching, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, 2014.
Keywords : STAD ( Student Team Achievement Divisions ), Student Results
The purpose of this study was to compare the STAD cooperative learning model
by conventional methods on learning outcomes of students in mathematics. The
method used in this study is a quasi-experimental method to the study design Two
group posttest only Rendomized subject. This research was conducted in SDN
Housing Suradita Cisauk academic year 2013/2014. Sampling technique in this
study using cluster random sampling. The instrument used to collect data in this
study is a multiple-choice test. Given test consists of 20 multiple choice questions.
The results showed that the average mathematics learning outcomes of students
taught with cooperative learning model STAD amounted to 66.03, while the
average math learning outcomes of students taught by conventional teaching
model is equal to 60.85. Based on the calculation of the t-test obtained t = 2.41
and t table = 1.66 with a significance level ( α ) = 0.05 and 66 degrees of freedom.
Due t count > t table, the average mathematics learning outcomes of students who
are taught by the learning model STAD cooperative higher than the average
mathematics learning outcomes of students taught with conventional learning
models. Thus, STAD learning model is better than conventional learning models.

ii

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang senantiasa
mengikuti ajarannya sampai akhir zaman.
Skripsi ini disusun untuk melengkapi salah satu persyaratan dalam
memperoleh gelar sarjana pendidikan pada program studi pendidikan guru
madrasah ibtidaiyah. Skripsi ini disusun berdasarkan hasil penelitian di SDN
Perum Suradita Cisauk. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan
hambatan dalam penulisan skripsi ini. Hal ini dikarenakan keterbatasan
pengetahuan dan pengalaman penulis, namun berkat dorongan dan bantuan dari
berbagai pihak maka hambatan tersebut dapat terselesaikan dengan baik.
Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis menyampaikan
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dan
memberikan moril dan materil, sehingga skripsi ini dapat selesai. Ucapan
terimakasih penulis sampaikan kepada:
1.

Dra. Nurlena Rifa’i, MA. Ph.D, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan.

2.

Dr. Fauzan, M.A, Ketua Jurusan Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
(PGMI) dan Dosen Pembimbing Akademik.

3.

Abdul Muin, M.Pd, Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktunya
selalu memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penulisan skripsi ini.

4.

Seluruh dosen dan staf Jurusan Kependidikan Islam Program Studi
Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

5.

Subadi Bejo, S.Pd, Kepala SDN Perum Suradita Cisauk tempat penulis
melakukan penelitian.

iii

6.

Muarif Shaleh (Ayah) dan Dede R.A (Mama) orang tua tercinta yang selalu
mendoakan tiada henti dan memberikan dukungan baik secara moril maupun
materil agar skripsi ini dapat selesai.

7.

Dwi Purwanto (Suami) yang selalu memberikan semangat demi kelancaran
skripsi ini.

8.

Teman-teman PGMI yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu per satu
terimakasih atas kerjasama, transfer ilmu, do`a dan dukungannya selama ini.

9.

Syifa Urohmah dan Heni Nuraiani teman seperjuangan, terimakasih atas
waktu masukan dan dukungan selama penyelesaian skripsi.

10. Semua pihak yang telah memberikan bantuan, dorongan dan informasi yang
bermanfaat bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu, penulis meminta kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan penulisan dimasa yang akan datang. Akhir kata
semoga skripsi ini dapat berguna bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca
pada umumnya.

Tangerang, 13 Mei 2014
Penulis

Rima Musyifah

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK…………………………………..………..….……………

i

ABSTRACT…………………………………..………..…..…………

ii

KATA PENGANTAR………..………………..….…….……………

iii

DAFTAR ISI………..……………....………..…….…….………...…

v

DAFTAR LAMPIRAN……………………..…….…….……………

vii

DAFTAR TABEL……………………………….…..….……………

ix

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah……………………………

1

B. Identifikasi Masalah………………………………..

5

C. Pembatasan Masalah…………….……..…………..

5

D. Perumusan Masalah…………….……..……………

6

E. Tujuan Penelitian………...…………………………

6

F. Manfaat Penelitian………...……………………….

6

KAJIAN

TEORI,

KERANGKA

BERPIKIR,

DAN

HIPOTESIS PENELITIAN
A. Kajian Teori…………....………………………..….

8

1. Model Pembelajaran Kooperatif….……………

8

2. Tipe STAD …………………………….………..

15

3. Metode Pembelajaran Konvensional…….……

17

4. Belajar dan Hasil Belajar……..………...………

18

5. Definisi Matematika………..……………………

23

6. Materi Konsep KPK dan FPB ………………...

24

7. Hasil Penelitian yang Relevan…..……………...

25

B. Kerangka Berpikir……………………..……………

27

C. Hipotesis Penelitian………..…….…….……………

28

v

BAB III

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian………….……………

29

B. Metode dan Desain Penelitian…………….…………

29

C. Variabel Penelitian………..……...…….……………

30

D. Populasi dan Sampel………..………….……………

30

E. Teknik Pengumpulan Data...…….…….……………

31

F. Instrumen Penelitian……….…….…….……………

31

G. Uji Coba Instrumen………..….....…….……………

33

H. Teknik Analisis Data………..…..…….……………

37

I. Hipotesis Statistik………....…….…….……………

40

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data……..……...……….….……………

BAB V

42

1. Praktik Pembelajaran....…………………………

42

2. Data Hasil Belajar Matematika Siswa….....……

43

B. Pengujian Persyaratan Analisis Data.………………

46

1. Uji Normalitas Data.………...…….……………

46

2. Uji Homogenitas………...……..…….…………

47

3. Uji Hipotesis…….…...…..…….…….…………

48

C. Pembahasan Hasil Penelitian………..…….…..……

49

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan……………….……….…….…………

56

B. Saran………..………..………………….…………

57

DAFTAR PUSTAKA………………………….….…….……………

58

LAMPIRAN-LAMPIRAN

vi

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1

: Desain Penelitian…………………………..….

29

Tabel 3.2

: Kisi-Kisi Instrumen Tes Pilihan Ganda….…...

32

Tabel 3.3

: Kategori Derajat Kesukaran……………….….

33

Tabel 3.4

: Kategori Daya Beda……………………….….

37

Tabel 4.1

: Distribusi Frekuensi Hasil Posttest Siswa Kelas
Eksperimen………………………………...….

Tabel 4.2

: Distribusi Frekuensi Hasil Posttest Siswa Kelas
Kontrol…………………………………….….

Tabel 4.3

47

: Hasil Perhitungan Uji Homogenitas
Posttest…………………………………….….

Tabel 4.5

45

: Hasil Uji Normalitas Posttest Kelas
Eksperimen dan Kelas Kontrol…………....….

Tabel 4.4

44

48

: Data Hasil Perhitungan Uji Hipotesis Posttest Kelas
Eksperimen dan Kelas Kontrol…………....….

vii

49

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memiliki peranan penting bagi kemajuan suatu
bangsa.Majunya suatu bangsa ditandai dengan kualitas sumber daya
manusia yang berkualitas. Dengan sumber dara manusia yang berkualitas,
bangsa indonesia dapat mengembangkan potensi dan berkompetensi dalam
bidang IPTEK. Pendidikan merupakan alternatif utama dalam tercapainya
salah satu tujuan bangsa indonesia. Hal ini dapat dilihat dari isi
pembukaan UUD 1945 alinea IV yang menegaskan bahwa salah satu
tujuan bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kualitas pendidikan yang baik tentu akan menghasilkan sumber
daya manusia yang baik pula. Oleh karena itu pendidikan perlu
diperhatikan untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Pendidikan saat ini
masih memerlukan perbaikan dari berbagai aspek pendidikan terutama
dalam kurikulum pendidikan.Kurikulum pendidikan harus disesuaikan
dengan perkembangan jaman dan mengacu pada tujuan nasional bangsa
Indonesia.Oleh karena itu di Indonesia telah dibentuk Sisdiknas yang
mengatur tentang hal yang berkaitan dengan pendidikan di Indonesia.
Agama islam pun sangat memperhatikan pentingnya pendidikan.
Proses pendidikan yang baik diharapkan mampu mengarahkan manusia ke
arah yang lebih baik dari segi imtaq maupun intelektual. Oleh karena itu
islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu sebagaimana disebutkan
dalam Al-qur’an berbunyi:

 

Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) oarng-orang yang beriman
diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan
Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al Mujadalat:11)

1

2

Proses pendidikan tidak selamanya berjalan dengan baik. Masih
banyak kendala-kendala dalam proses pendidikan baik dari segi sarana dan
prasarana yang kurang mendukung ataupun kualitas guru maupun siswa.
Oleh karena itu perlu pengembangan kualitas dalam proses pendidikan
yang nantinya berdampak pada hasil yang maksimal. Pengembangan ini
dapat ditempuh dengan jalan pendidikan formal, nonformal, maupun
informal.Namun demikian, yang menjadi prioritas adalah pendidikan
formal. Pendidikan formal memiliki acuan pendidikan berupa kurikulum
dan merupakan tempat yang paling kondusif bagi siswa dalam proses
pendidikan secara menyeluruh. Kualitas pendidikan di sekolah dilihat
berdasarkan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator yang
dicapai siswa dalam penguasaan materi dan dapat mengaplikasikannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin
canggih dan mutakhir, terutama dalam bidang informasi.Menuntut
perlunya perbaikan dalam penggunaan pola pembelajaran tradisional
menjadi pembelajaran yang lebih aktif dan menyenangkan. Guru tidak lagi
sebagai satu-satunya sumber informasi. Begitupun dengan siswa, tidak lagi
hanya sekedar sebagai penerima pasif informasi.Siswa pun dituntut untuk
lebih aktif dalam mencari informasi atau pengetahuan dan keterampilan.
Hal ini sebagaimana dengan Peraturan Pemerintah (PP) No, 19/2007 yang
berbunyi bahwa “setiap guru bertanggung jawab terhadap mutu kegiatan
pembelajaran untuk setiap mata pelajaran yang diampunya dengan cara
menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, inovatif, dan tepat
unutk mencapai tujuan pembelajaran”.1
“Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan
lingkungannya sehinga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih
baik.

“Adapun

2

1

komponen-komponen

pembelajaran

yang

saling

Redaksi Sinar Grafika, UU Sistem Nasional (UU RI No. 20 Tahun 2003),
(Pendidikan Jakarta: Sinar Grafika, 2008), Cet. Pertama, h.194
2
Kunandar, Guru Profesional Implementasi KTSP dan Sukses dalam Sertifikasi
Guru, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), h.287.

3

mempengaruhi
evaluasi”.

3

antara

laintujuan,

bahan,

metode,

media

san

Dalam pembelajaran tugas guru adalah mengondisikan

lingkungan belajar yang mendukung perubahan perilaku bagi siswa.
Peran guru dalam pendidikan menempati posisi yang sentral dalam
menerapkan proses pendidikan. Terutama dalam proses pembelajaran,
guru harus mampu menentukan cara efektif menyampaikan materi agar
dapat tersampaikan kepada siswa dengan baik. Sehingga potensi siswa
yang dimiliki dapat berkembang baik.Oleh karena itu guru diharapkan
mampu

menguasai

strategi

pembelajaran

yang

baik

dan

dapat

mengaplikasikannya.
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran terpenting dalam
pendidikan.Bahkan matematika menjadi salah satu mata pelajaran
prasyarat dalam kelulusan sekolah misalnya dalam ujian nasional baik dari
tingkat SD, SMP, maupun SMA.Penguasaan matematika perlu ditanamkan
sejak dini agar konsep-konsep matematika dapat diterapkan dengan tepat
dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memakai konsep dasar matematika
maka anak akan memiliki bekal untuk mengembangkan ilmu dan
teknologi yang semakin berkembang pesat saat ini. Dengan belajar
matematika seseorang akan mempunyai kebiasaan berpikir kritis, logis,
analitis, sistematis, dan kreatif. Mata pelajaran matematika terutama
disekolah dasar sebagai sekolah awal siswa agar memiliki kemampuan
berhitung dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran

matematika

di

sekolah

tidak

lepas

dari

konsep.Konsep yang diajarkan pun harus benar-benar dipahami oleh
siswa. Jika tidak maka siswa akan menganggap bahwa matematika sulit
dipelajari. Disamping itu, metode mengajar yang sering sekali dipakai oleh
guru dalam pembelajaran matematika yaitu pembelajaran yang masih
berpusat pada guru, seperti metode ekspositori yaitu menjelaskan,

3

Masitoh dan Laksmi Dewi, Strategi Pembelajaran,(Jakarta Pusat: Direktorat
Jendral Pendidikan Islam Depag RI, 2009), cet. I, hal. 8

4

memberi contoh, dan latihan. Sehingga hal tersebut membuat siswa kurang
tertarik, bosan, dan ngobrol saat proses pembelajaran berlangsung.
Dari hasil observasi terbatas yang dilakukan penulis di salah satu
sekolah SD bahwa hasil belajar pada mata pelajaran matematika belum
terlihat maksimal yaitu masih banyak yang dibawah KKM 56. 4 Dan
apabila dilihat dari proses pembelajaran matematika masih berpusat pada
guru, siswa tidak memperhatikan penjelasan guru bahkan mengobrol de
ngan temannya, siswa tidak berusaha bertanya mengenai pelajaran
matematika, dan siswa kurang menguasai materi.
Masalah yang teridentifikasi tersebut di atas adalah terkait dengan
penggunaan strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru.Strategi
pembelajaran yang biasa digunakan dalam pembelajaran matematika yaitu
metode konvensional sehingga membuat siswa kurang tertarik, bosan, dan
ngobrol saat pelajaran berlangsung.Hal tersebut menjadi tidak efektif dan
kondusif.Oleh karena itu, sebagai guru dalam mengajarkan matematika
dituntut untuk dapat menyesuaikan dan mengubah strategi pembelajaran
yang lebih aktif dan menyenangkan.
Adapun

alternatif

yang

dapat

dipilih

oleh

guru

dalam

melaksanakan pembelajaran matematika di sekolah dasar yaitu dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif (cooperative learning).
“Pembelajaran

kooperatif

adalah

model

pembelajaran

dengan

menggunakan system pengelompokkan/tim kecil, yaitu antara empat
sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan
akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen)”.5
Salah satuteknikpembelajarankooperatifadalah STAD (Student
Team Achievement Divisions).“STAD adalah suatu tim pembantu
pelaksanaan pelajaran bagi guru untuk belajar bekerjasama”. 6 Didalam

4

Daftar Nilai Mata Pelajaran Matematika Kelas 5 SD
WinaSanjaya, Strategi Pembelajaran Beorientasi Standar Proses Pendidikan,
(Jakarta: Kencana Prenada Media, 2011), Cet. 8, h. 242.
6
Zulfiani, Tonih Feronika, dan Kinkin Suartini, Strategi Pembelajaran Sains,
(Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), h. 138.
5

5

STAD terdapat metode diskusi sebagai solusi untuk menyelesaikan
masalah siswa yang kurang memperhatikan, siswa yang bosan, atau siswa
yang kurang tertarik dengan matematika.Model pembelajaran kooperatif
tipe STAD tersebut menekankan pada kerja kelompok dan tanggung jawab
bersama untuk tercapainya tujuan bersma dan adanya interaksi antara
anggota kelompok.Dengan adanya kerjasama maka siswa yang cepat
paham dengan matematika dapat berkolaborasi dengan siswa yang kurang
paham. Didalam STAD kelompok dibuat beragam kemampuan siswa agar
dapat berkolaborasi dengan baik sehingga akan berpengaruh terhadap hasil
belajar.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas,
penulis tertarik untuk menjadikan sebagai penelitian yang berjudul
“Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student
Team Achievement Divisions) Terhadap Hasil Belajar Matematika
Siswa” di SDN Perum Suradita Cisauk.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uarian latar belakang masalah di atas maka masalah
dapat diidentifikasi antara lain sebagai berikut:
1. Pembelajaran masih berpusat pada guru
2. Siswa belum terlibat aktif dalam pembelajaran matematika
3. Sebagian besar guru menggunakan metode pengajaran yang cenderung
sama

setiap

kali

pembelajaran

di

kelas

berlangsung

yaitu

menerangkan, memberi contoh, dan latihan.
4. Hasil belajar matematika masih banyak yang di bawah KKM yaitu 56.

C. Pembatasan Masalah
Dalam skripsi ini penulis membatasi hal-hal sebagai berikut:
1. Hasil belajar yang diukur yaitu hasil belajar bentuk kognitif aspek
C2,C3, dan C4

6

2. Materi dibatasi pada kompetensi dasarnya yaitu menggunakan faktor
prima untuk menentukan KPK dan FPB dengan indikatornya antara
lain menjelaskan cara menentukan faktor, faktor prima, dan faktorisasi
prima, menentukan KPK dan FPB dengan menggunakan faktor prima,
dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan KPK dan FPB.

D. Perumusan Masalah
Secara rinci rumusan tersebut diuraikan sebagai berikut:
1. Bagaimana hasil belajar matematika siswa yang diajari dengan strategi
STAD?
2. Bagaimana hasil belajar siswa yang diajari secara konvensional?
3. Apakah hasil belajar siswa yang pembelajarannya dengan strategi
STAD lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang pembelajarannya
secara konvensional?

E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini antara lain:
1. Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diajari dengan strategi
STAD.
2. Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diajari secara konvensional.
3. Untuk mengetahui manakah yang lebih baik antara hasil belajar siswa
yang pembelajarannya dengan strategi STAD dengan hasil belajar
siswa yang pembelajarannya secara konvensional.

F. Manfaat Penelitian
1. Bagi sekolah, sebagai informasi mengenai penerapan metode STAD
dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Bagi guru, sebagai alternatif model pembelajaran yang digunakan di
kelas serta dapat meningkatklan kualitas profesionalisme guru dalam
proses belajar mengajar.

7

3. Bagi siswa, untuk meningkatkan hasil belajar matematika sehingga
bermanfaat bagi peningkatan prestasi di sekolah dan mampu
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Bagi peneliti, sebagai umpan balik dalam proses belajar mengajar
matematika dan menambah pengetahuan serta pengalaman.

BAB II
KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS
PENELITIAN

A. Kajian Teori
1. Model Pembelajaran Kooperatif
a. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Mohammad Surya menjelaskan bahwa “pembelajaran
adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu
perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari
pengalaman individu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.1
Pendapat lain mengatakan bahwa “pembelajaran adalah suatu
kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material,
fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk
mencapai tujuan pembelajaran”.2
Pembelajaran kooperatif menurut Yatim Riyanto yaitu “model
pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan
akademik (academic skill), sekaligus keterampilan sosial (social skill)
termasuk interpersonal skil”.3Pembelajaran kooperatif merupakan
suatu model pembelajaran yang menuntut siswa untuk bekerja sama
dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran. Dalam hal ini, seluruh
anggota kelompok diharapkan saling membantu satu sama lain
sehingga permasalahan setiap anggota dalam kelompok dapat diatasi.
Menurut Slavin, “dalam metode pembelajaran kooperatif para
siswa akan duduk bersama dalam kelompok yang beranggotakan
empat orang untuk menguasai materi yang disampaikan oleh

1

Masitoh dan Laksmi Dewi, Strategi Pembelajaran, (Jakarta Pusat: Direktorat Jendral
Pendidikan Islam Depag RI, 2009), cet. I, hal. 7.
2
Masitoh , ibid, hal.8
3
Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 267.

8

9

guru”.4Metode

pembelajaran

kooperatif

siswa

dituntut

untuk

menguasai suatu materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru.
Menurut Made Wena “pembelajaran kooperatif adalah system
pembelajaran yang berusaha memanfaatkan teman sejawat (siswa lain)
sebagai sumber belajar, disamping guru dan sumber belajar yang
lainnya”.5Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang
membentuk siswa menjadi kelompok kecil untuk mempelajari sesuatu
secara bersama-sama di dalam kelompoknya.
Menurut Priyanto pembelajaran kooperatif merupakan
salah satu model pembelajaran kelompok yang memiliki
aturan-aturan tertentu.Prinsip dasar pembelajaran kooperatif
adalah siswa membentuk kelompok kecil dan saling mengajar
sesamanya
untuk
mencapai
tujuan
bersama.Dalam
pembelajaran kooperatif siswa pandai mengajar siswa yang
kurang pandai tanpa merasa dirugikan.Siswa kurang pandai
dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan karena
banyak teman yang membantu dan memotivasinya. Siswa yang
sebelumnya terbiasa bersikap pasif setelah menggunakan
pembelajaran kooperatif akan terpaksa berpartisipasi secara
aktif agar bisa diterima oleh anggota kelompoknya.6
Melalui pembelajaran kooperatif siswa diberikan kesempatan
untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang
terstruktur dan seorang siswa yang pandai akan menjadi sumber belajar
bagi temannya yang lain sehingga siswa yang kurang pandai dapat
termotivasi untuk belajar dalam suasana yang menyenangkan.
Menurut

Lie

“pembelajaran

kooperatif

adalah

sistem

pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja
sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur, dan
dalam sistem ini guru bertindak sebagai fasilitator”.7 Pembelajaran
kooperatif merupakan suatu model pembelajaran di mana siswa belajar
4

Robert E. Slavin, Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik, (Bandung: Nusa
Media, 2010), Cet. IV, h. 8.
5
Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, (Jakarta: Bumi Aksara,
2012), hal. 190.
6
Made Wena, ibid, h. 189.
7
Made Wena, Ibid.,h. 189-190.

10

dan bekerja dalam kelompoknya untuk menyelesaikan tugas, dalam hal
ini guru memegang peranan penting yaitu sebagai pengarah dan
pemberi tugas serta penilaian terhadap tugas yang diberikan, karena
dalam belajar kelompok siswa memerlukan bimbingan dan arahan agar
proses pembelajaran berjalan dengan efektif.
Sedangkan Abdurrahman dan Bintoro mengatakan bahwa
“pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan
sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan
silih asuh antarsesama siswa sebagai latihan hidup di dalam
masyarakat nyata”.8Dalam hal ini, pembelajaran kooperatif dapat
meningkatkan rasa saling mencerdaskan, saling menyayangi, dan
saling tenggang rasa antarsesama siswa agar terhindar dari
ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan
permusuhan dan sebagai latihan siswa dalam hidup di masyarakat.
Artzt & Newman menyatakan bahwa “dalam belajar kooperatif
siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugastugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, setiap anggota
kelompok memiliki tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan
kelompoknya”.9Sehingga dalam hal ini, anggota dalam kelompok
mengerjakan tugas bersama dalam suasana kebersamaan diantara
sesame anggota kelompok untuk mencapai keberhasilan baik secara
individual maupun kelompok.
Dalam pembelajaran kooperatif siswa bekerja secara terarah
untuk mencapai tujuan belajar bersama dalam kelompok kecil yang
umumnya terdiri dari 4-5 orang.Dalam hal ini siswa bekerja bersama
dalam kelompok kecil untuk memaksimalkan belajar mereka dan
belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut.
Penulis menyimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif
adalah model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada
8

Made Wena, Ibid., h. 190.
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2010), Cet. 4, h. 56.
9

11

siswa untuk bekerja sama antarsesama siswa dengan membentuk
kelompok

kecil

untuk

menyelesaikan

masalah

dan

dalam

pembelajaran ini guru bertindak sebagai fasilitator.
Berdasarkan beberapa pengertian menurut para pakar di atas
maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif adalah
suatu

model pembelajaran yang menuntut siswa untuk saling

membantu dan bekerja sama dalam kelompoknya dengan berbagai
kemampuan

yang mereka

miliki

untuk

menyelesaikan

suatu

permasalahan di mana siswa dapat menjadi sumber belajar bagi siswa
yang lain dengan bimbingan dan arahan dari guru untuk mencapai
keberhasilan baik secara individu maupun kelompok dalam mencapai
suatu tujuan pembelajaran.

b. Prosedur Pembelajaran Kooperatif
Prosedur pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas
empat tahap, yaitu:
(1) Penjelasan materi, tahap ini merupakan tahapan penyampaian
pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam
kelompok.
(2) Belajar kelompok, tahapan ini dilakukan setelah guru memberikan
penjelasan materi, siswa bekerja dalam kelompok yang telah
dibentuk sebelumnya.
(3) Penilaian, penilaian dalam pembelajaran kooperatif bisa dilakukan
melalui tes atau kuis, yang dilakukan secara individu atau
kelompok.
(4) Pengakuan tim, adalah penetapan tim yang dianggap paling
menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan
penghargaan atau hadiah.10
Penjelasan materi merupakan tahap yang pertama dalam hal ini
guru memberikan gambaran umum mengenai materi pelajaran dimana
materi tersebut harus dikuasai siswa yang selanjutnya siswa harus
memperdalam materi yang telah diberikan oleh guru dalam
pembelajaran kelompok. Belajar kelompok yaitu siswa bersama-sama
10

Rusman, Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2011), Cet. Ke-3, h. 212-213.

12

dengan kelompoknya untuk melakukan tukar-menukar ( sharing)
informasi dan pendapat, mendiskusikan permasalahan secara bersamasama, dan membandingkan jawaban mereka. Penilaian, dalam hal ini
dapat dilakukan secara individu maupun kelompok setelah siswa
belajar dalam kelompoknya. Pengakuan tim merupakan tahap terakhir
dimana dalam tahap ini ditentukannya kelompok yang paling
berprestasi untuk diberikan suatu penghargaan atas hasil kerja sama
dalam menyelesaikan tugas.

c. Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Menurut Sanjaya pembelajaran kooperatif memiliki empat
karakteristik sebagai berikut:
(1) Pembelajaran secara tim, semua anggota tim (anggota kelompok)
harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.
(2) Didasarkan pada manajemen kooperatif, sebagaimana pada
umumnya, manajeman mempunyai empat fungsi pokok, yaitu
fungsi perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan dan
fungsi kontrol.
(3) Kemauan untuk bekerja sama, setiap anggota kelompok bukan saja
harus diatur tugas dan tanggung jawab masing-masing, akan tetapi
juga ditanamkan perlunya saling membantu.
(4) Keterampilan bekerja sama, siswa perlu didorong untuk mau dan
sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain.11
Setiap anggota kelompok bersifat heterogen, artinya setiap
kelompok terdiri atas anggota yang memiliki kemampuan akademik,
latar belakang, dan jenis kelamin yang berbeda.Dengan adanya
perbedaan dalan kelompok tersebut, setiap anggota kelompok dapat
saling memberi dan menerima, berbagi pengalaman sehingga setiap
anggota kelompok dapat saling memberikan kontribusi untuk
keberhasilan kelompoknya.
Untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran kooperatif
diperlukan prinsip kebersamaan atau kerja sama, karena keberhasilan

11

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
(Jakarta: Kencana Prenada Media, 2011), Cet. 8, h. 244-246.

13

pembelajaran

kooperatif

ditentukan

oleh

keberhasilan

secara

kelompok. Tanpa adanya kerja sama yang baik, pembelajaran
kooperatif tidak akan mencapai hasil yang optimal.
Dalam pembelajaran kooperatif kemauan untuk bekerja sama
itu diterapkan atau dipraktikkan melalui aktivitas dalam kegiatan
pembelajaran secara berkelompok. Oleh karena itu, diperlukannya
kemauan

dan

kesanggupan

siswa

untuk

berinteraksi

dan

berkomunikasi dengan anggota yang lain dalam rangka mencapai
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

d. Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif
Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam pembelajaran
kooperatif antara lain:12
1. Saling ketergantungan positif
Guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa
saling

membutuhkan

membutuhkan

antarsesama.

antarsesama,

maka

Dengan

mereka

akan

saling
saling

ketergantungan satu sama lain. Saling ketergantungan dapat
dicapai dalam: (1) pencapaian tujuan; (2) menyelesaikan
pekerjaan; (3) bahan atau sumber untuk menyelesaikan
pekerjaan; (4) peran.
2. Interaksi tatap muka
Interksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok dapat
saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog,
tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesame siswa.
Interaksi tatap muka memungkinkan para siswa saling menjadi
sumber belajar.Dengan interaksi diharapkan memudahkan
siswa dalam mempelajari materi.
3. Akuntabilitas individual
12

Kunandar, Guru Profesional Implementasi KTSP dan Sukses dalam Sertifikasi Guru,
(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 359.

14

Walaupun pembelajaran bersifat kooperatif namun dalam
penilaian

dilakukan

secara

individual.

Hasil

penilaian

individual selanjutnya akan disampaikan oleh guru kepada
kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa
anggota yang memerlukan bantuan. Penilaian kelompok yang
didasarkan atas rata-rata penguasaan semua anggota kelompok
secara individual.
4. Keterampilan menjalin hubungan antarpribadi
Pembelajaran kooperatif akan menumbuhkan keterampilan
menjalin

hubungan

antarpribadi.

Hal

itu

dikarenakan

pembelajaran kooperatif ditekankan aspek-aspek: tenggang
rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan
mengkritik orangnya, berani mempertahankan pikiran logis,
tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan sebagainya.

e. Keunggulan danKelemahan Pembelajaran Kooperatif
Keunggulan
pembelajaran
kooperatif
sebagai
suatu
pembelajaran di antaranya:
(1) Melalui
pembelajaran
kooperatif
siswa
tidak
terlalu
menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah
kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi
dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
(2) Pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan
mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal
dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
(3) Pembelajaran kooperatif dapat membantu anak untuk respek pada
orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta
menerima segala perbedaan.
(4) Pembelajaran kooperatif dapat membantu memberdayakan setiap
siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.13
Pembelajaran kooperatif memiliki keunggulan di antaranya,
siswa dapat belajar secara mandiri dengan siswa yang lain sehingga
pembelajaran berpusat pada siswa, dan siswa dapat saling berbagi
pengetahuan dan informasi serta dapat menjadi sumber belajar bagi
13

Wina Sanjaya, Op.cit., h. 249-250.

15

siswa yang lain. Selain itu siswa dapat saling mengungkapkan
pendapatnya antarsesama siswa, saling menerima kekurangan dan
kelebihan yang dimiliki oleh setiap anggota, dan dapat meningkatkan
rasa tanggung jawab dalam belajar.
Selain memiliki keunggulan, pembelajaran kooperatif juga
mempunyai beberapa kelemahan, di antaranya:
(1) Dalam kelompok dengan keahlian campuran, seringkali siswa yang
lebih kuat harus mengajar siswa yang lebih lemah dan mengerjakan
sebagian besar tugas kelompok.
(2) Waktu pada pembelajaran ini hanya cukup untuk fokus tugas pada
tingkatan yang paling mendasar.
(3) Strategi ini mungkin hanya mendukung pemikiran tingkat rendah
dan mengabaikan strategi pemikiran kritis dan tingkat tinggi.14
Namun pembelajaran kooperatif memiliki kelemahan di
antaranya, setiap kelompok yang anggotanya memiliki kemampuan
akademik yang tinggi lebih besar perannya dalam menyelesaikan tugas
dari pada anggota yang memiliki kemampuan akademik yang rendah,
waktu

untuk

pembelajaran

kooperatif

hanya

cukup

untuk

menyelesaikan tugas pada tingkat yang paling mendasar, dan hanya
mendukung untuk pemikiran tingkat rendah.

2. Tipe STAD
a. Pengertian STAD
Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif adalah tipe
STAD (Student Team Achievement Divisions). Model Pembelajaran
tipe STAD diawali dengan persentasi berupa penyampaian tujuan
pembelajaran dan materi, diskusi kelompok, kuis, dan penghargaan
kelompok.
Slavin (dalam Nur, 2006:26) menyatakan “bahwa STAD, siswa
dikelompokkan menjadi tim belajar yang beranggotakan 4-5 secara
heterogen, guru menyajikan pelajaran, dan siswa bekerja dalam tim
14

Zulfiani, Tonih Feronika, dan Kinkin Suartini, Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta:
Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), Cet. 1, h. 136-137.

16

mereka memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai
pelajaran, kemudian siswa diberi tes individu”.15“STAD bertugas
membantu anggota kelompok untuk bekerja memecahkan masalah
yang diberikan guru, membuat kelompok bekerja yang saling
mngemukakan pendapat maupun menghadapi tes atau ulangan”.16
Dengan adanya kerjasama antar anggota kelompok tersebut akan
meningkatkan minat belajar, partisipasi dalam proses pembelajaran,
adanya keberanian untuk mengungkapkan pendapat, mengajukan dan
menjawab pertanyaan.
Shlomo Sharan mengemukakan bahwa “Gagasan utama
dibelakang STAD adalah memicu siswa agar saling mendorong dan
membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang
diajarkan guru”17Model pembelajaran tipe STAD memungkinkan
siswa untuk melakukan pertukaran informasi sehingga mendapatkan
informasi tambahan tentang suatu materi dari anggota kelompok yang
lain. Keterlibatan dengan orang lain membuka kesempatan bagi
mereka untuk saling mengevaluasi dan memperbaiki terhadap sesama.

b. Langkah-Langkah STAD
Adapun langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai
berikut:
1. Penyampaian tujuan dan motivasi.
Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan
memotivasi siswa untuk belajar.
2. Pembagian kelompok.
Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok
terdiri dari 4 -5 siswa secara heterogen.
3. Persentasi dari guru.
Di dalam proses pembelajaran guru dibantu media, pertanyaan
atau masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
15

Trianto, Mendesain Model pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana, 2010),

16

Zulfiani, Op.cit., hal.139
Shlomo Sharan, The Handbook of Cooperative Learning, (Yogyakarta: Familia, 2012),

hal. 68.
17

hal. 9.

17

Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang
diharapkan dikuasai siswa.
4. Kegiatan belajar dalam tim (kerja tim)
Siswa belajar secara berkelompok. Guru menyiapkan lembaran
kerja sebagai pedoman bagi kelompok, sehingga semua
anggota menguasai dan masing-masing memberikan kontribusi.
5. Kuis (evaluasi).
Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis
tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian
terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok.
Siswa mengerjakan kuis secara individu.18
Dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD,
pertama-tama guru membentuk siswa berkelompok secara heterogen
terdiri dari 4-5 orang per kelompok, selanjutnya setiap kelompok
diberikan lembar kerja, yang harus diisi oleh masing-masing anggota
kelompok kemudian saling menjelaskan jawaban satu sama lain dan
saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau
diskusi antar sesame anggota kelompok. Setelah tiap-tiap kelompok
berdiskusi,

guru

meminta

salah

satu

kelompok

untuk

mempersentasikan hasil diskusinya yang kemudian akan dikoreksi
oleh guru dan kelompok lainnya. Selanjutnya guru meminta siswa
untuk kembali duduk ke posisi semula dan membagikan soal kuis
sebagai evaluasi untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap bahan
ajar yang telah dipelajari. Tiap siswa dan tiap kelompok akan diberi
skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar.

3. Metode Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang sering
dilakukan oleh guru.Pembelajaran ini cendrung berpusat pada guru,
sehingga terjadi prakrik pembelajaran yang kurang optimal karena guru
membuat siswa pasif.Metode yang sering dipakai dalam pembelajaran
konvensional adalah ekspositori.
18

Rusman, Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2011), cet. 4, hal. 215.

18

Metode ekspositori sama halnya seperti metode ceramah dalam hal
terpusatnya kegiatan pembelajaran pada guru sebagai pemberi informasi
(materi pelajaran). Namun pada metode eskpositori dominasi guru sudah
banyak berkurang, karena guru tidak terus-menerus berbicara. Pada awal
pembelajaran guru terlebih dahulu menerangkan materi dan memberi
contoh soal disertai tanya jawab. Siswa tidak hanya mendengar dan
membuat catatan, akan tetapi bersama guru berlatih menyelesaikan soal
latihan dan siswa bertanya jika ada yang belum dimengerti.

4. Belajar dan Hasil Belajar
a. Pengertian Belajar
Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata
mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam
bentuk informasi/materi pelajaran. Orang yang beranggapan demikian
biasanya akan segera merasa bangga ketika anak-anaknya telah
mampu menyebutkan kembali secara lisan (verbal) sebagian besar
informasi yang terdapat dalam buku teks atau yang diajarkan oleh
guru.
Skinner

berpandangan

bahwa

“belajar

adalah

suatu

perilaku.Pada saat orang belajar, maka responsnya menjadi lebih
baik.Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responsnya menurun”. 19Hal
ini menunjukkan bahwa belajar dapat mengarah kepada tingkah laku
yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada
tingkah laku yang lebih buruk.
Witherington,

dalam

buku

Educational

Psychology

mengemukakan “belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian
yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang
berupa

19

kecakapan,

sikap,

kebiasaan,

kepandaian,

atau

suatu

Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010),
Cet. Keempat, h. 9.

19

pengertian.”20 Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang
menyangkut berbagai aspek kepribadian

seperti baik

yang

menyangkut perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah
atau berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan maupun sikap.
Menurut James O. Wittaker, “belajar dapat didefinisikan
sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui
latihan atau pengalaman”.21Dalam hal ini belajar dapat diperoleh
melalui latihan dan pengalaman yang diterima oleh setiap individu
yang belajar.
Dari beberapa pendapat para ahli pada dasarnya mengenai
pengertian belajar maka dapat disimpulkan bahwa belajar pada
dasarnya merupakan proses perubahan tingkah laku karena adanya
pengalaman. Artinya belajar adalah proses interaksi antara siswa
dengan lingkungannya, sehingga dari interaksi itu akan menghasilkan
perubahan tingkah laku yang diarahkan pada suatu tujuan tertentu.

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Muhibbin Syah mengemukakan faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar, antara lain:
1. Faktor Internal Siswa
Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi
dua aspek, yakni:
a) Aspek Fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang
menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan
sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan
intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran.
b) Aspek Psikologis
Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang
dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan
pembelajaran siswa. Namun, di antara faktor-faktor
rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih
esensial itu adalah sebagai berikut: 1) tingkat
20

Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1990),
Cet. Kelima, h. 84.
21
Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), Cet. Kelima,
h. 104.

20

kecerdasaan/intelegensi siswa; 2) sikap siswa; 3) bakat
siswa; 4) minat siswa; 5) motivasi siswa.
2. Faktor Eksternal Siswa
Seperti faktor internal siswa, faktor eksternal siswa juga
terdiri atas dua macam, yakni:
a. Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf
administrasi, dan teman-teman sekelas dapat
mempengaruhi semangat belajar seorang siswa.
b. Lingkungan Nonsosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ialah
gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal
keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan
cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa.22
Yang dimaksud dengan faktor internal yaitu faktor yang berasal
dari dalam diri seseorang melalui aspek fisiologis dan aspek
psikologis.Yang termasuk ke dalam aspek fisiologis yaitu kesehatan
jasmani, keadaan tubuh yang sehat merupakan kondisi yang
memungkinkan seseorang untuk dapat belajar secara aktif.Seorang
murid yang sering sakit biasanya mengalami kesulitan tertentu dalam
belajar, misalnya cepat lelah, tidak bisa berkonsentrasi, merasa malas
dan sebagainya.Dengan demikian sehat dan tidaknya jasmani seorang
murid dapat mempengaruhi hasil belajarnya.
Sedangkan

faktor

internal

yang

kedua

adalah

faktor

psikologis.Setiap manusia atau anak didik pada dasarnya memiliki
kondisi psikologis yang berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan ini
tentunya akan berpengaruh pada proses dan hasil belajarnya masingmasing. Beberapa faktor yang menyangkut psikologis dapat diuraikan
sebagai berikut:
1) Tingkat Kecerdasan/Intelegensi adalah kemampuan psiko-fisik
untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan
lingkungan dengan cara yang tepat. Intelegensi sebenarnya bukan

22

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2010), Cet. 15, h. 132-138.

21

persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ
tubuh lainnya.
2) Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa
kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara relatif
tetap terhadap objek orang, barang, dan lain sebagainya, baik
secara positif maupun negatif.
3) Bakat adalah potensi atau kemampuan jika diberi kesempatan
untuk dikembangkan melalui belajar, akan menjadi kecakapan
yang nyata. Setiap siswa mempunyai bakat yang berbeda antara
yang satu dengan yang lain.
4) Minat adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau
keinginan yang besar terhadap sesuatu.
5) Motivasi merupakan dorongan yang mendasari dan mempengaruhi
setiap usaha serta kegiatan seseorang untuk mencapai tujuan yang
diinginkan. Dalam belajar hendaknya siswa mempunyai motivasi
belajar yang kuat. Hal ini akan memperbesar kegiatan dan
usahanya untuk mencapai prestasi yang tinggi. Bila motivasi
tersebut makin berkurang, maka berkurang pulalah usaha dan
kegiatan serta kemungkinan untuk mencapai prestasi yang tinggi.
Sedangkan faktor eksternal siswa antara lain, faktor lingkungan
sosial dan lingkungan nonsosial. Faktor lingkungan sosial seperti para
guru dan staf administrasi di sekolah dan teman-teman sekelas.Faktor
lingkungan nonsosial seperti gedung sekolah dan letaknya, tempat
tinggal siswa.alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar.

c. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan hasil dari proses belajar. Selama ini
hasil belajar merupakan cerminan dari keberhasilan proses belajar
yang dilakukan. “Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua
kata yang membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. Pengertian hasil
(product) menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu

22

aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara
fungsional”.23Dalam hal ini hasil belajar merupakan perubahan yang
mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya.
Menurut pendapat Sudjana bahwa “hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima
pengalaman belajarnya”.24Dalam hal ini, individu yang belajar akan
mempunyai kemampuan setelah individu tersebut memperoleh
pengalaman belajarnya.
Sedangkan Soedijarto mendefinisikan “hasil belajar sebagai
tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti proses
belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang diterapkan”.25
Menurut winkel bahwa “hasil belajar adalah perubahan yang
mengakibatkan manusia berubah dalam sikap tingkah lakunya dan
aspek perubahan itu mengacu kepada taksonomi tujuan pengajaran
yang dikembangkan oleh Bloom mencakup aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik”.26Kognitif menurut Bloom terdiri dari 6 tingkatan,
yaitu: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan
evaluasi.27
Dari beberapa pengertian hasil belajar menurut para pakar di
atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu kemampuan
atau tingkat penguasaan yang dimiliki oleh siswa setelah siswa
tersebut menerima pengalaman belajarnya atau setelah mengikuti
proses belajar mengajar.
Dalam penelitian ini hasil belajar matematika yang akan diukur
yaitu pada aspek kognitif tahap pemahaman, penerapan, dan anlisis.
Pemahaman berkaitan dengan kemampuan menjelaskan.Penerapan

23

Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), Cet. I, h. 44.
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2012), Cet. 17, h. 22.
25
Purwanto, Op.cit., h. 46.
26
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h.45.
27
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2008), hal. 126.
24

23

berkaitan

dengan

kemampuan

memecahkan

masalah

dengan

menggunakan rumus.Analisis berkaitan dengan kemampuan bernalar.
Ada 5 indikator hasil belajar yang akan diukur dalam penelitian ini
diantaranya:
1. Menjelaskan arti faktor, faktor prima dan faktorisasi
2. Menentukan KPK dengan menggunakan faktor prima
3. Menentukan FPB dengan menggunakan faktor prima
4. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan KPK
5. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan FPB.

5. Definisi Matematika
Ketika ada anak yang bertanya kepada gurunya: "apa itu
matematika, dan apa gunanya mempelajari matematika?" maka kalimat itu
menunjukkan bahwa ternyata masih banyak yang belum mengenal
matematika.Sama halnya dengan ilmu-ilmu lainnya, matematika memiliki
aspek teori dan aspek terapan. Matematika akan terus berkembang karena
sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-sehari. Oleh karena itu
pengenalan matematika harus dikenalkan sejak dini agar dapat dipahami
sesuai dengan perkembangannya hingga dewasa nanti.
Matematika menurut Sujo

Dokumen yang terkait

PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAMSACHIEVEMENT DIVISIONS) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS IV SD MUHAMMADIYAH 5 MALANG

0 20 57

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISIONS) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA DI SDN PERUM SURADITA CISAUK

0 5 161

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA ANTARA MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GI (GROUP INVESTIGATION) DENGAN STAD (STUDENTS TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS) MELALUI METODE EKSPERIMEN

0 7 52

UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAM ACHIERVEMENT DIVISIONS) DI KELAS VII.1 SMP NEGERI 1 KEDONDONG TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 8 61

UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAM ACHIERVEMENT DIVISIONS) DI KELAS VII.1 SMP NEGERI 1 KEDONDONG TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 4 60

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE FIND SOMEONE WHO TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA

0 0 9

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN PECAHAN

0 0 15

PERBEDAAN PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DAN TIPE JIGSAW TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA

0 0 13

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN KEMAMPUAN PEMETAAN KONSEP SISWA PADA MATERI EKOSISTEM

0 0 6

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA SD

0 1 5

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1617 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 416 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 376 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 237 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 345 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 487 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 429 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 276 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 446 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 511 23