Economic Valuation of Natural Resource in Kamojang Geothermal Area of West Java

VALUASI EKONOMI SUMBERDAYA ALAM KAWASAN
PANAS BUMI KAMOJANG JAWA BARAT

SAFRUDIN YUSRI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

SURAT PERNYATAAN
Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam tesis
saya yang berjudul :
VALUASI EKONOMI SUMBERDAYA ALAM KAWASAN PANAS BUMI
KAMOJANG JAWA BARAT
Merupakan gagasan dan hasil penelitian tesis saya sendiri, dengan arahan dari
Komisi Pembimbing dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada
perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya
yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam
teks dan dicantumkan dalam dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juli 2012

Safrudin Yusri
NRP H351090041

ABSTRACT
SAFRUDIN YUSRI, 2012. Economic Valuation of Natural Resource in
Kamojang Geothermal Area of West Java. Supervised by EKA INTAN KUMALA
PUTRI as the leader and AHYAR ISMAIL as member of supervisory commission.
Natural resource is something the can utilized for various purposes and
needs of human life. Natural resources must always be well kept and preserved,
because of its limited resources. Kamojang geothermal area is an area containing
abundant of natural resources, where the geothermal energy is converted to
electricity. Besides containing the geothermal potential energy, Kamojang is also
an area of Nature Park, Production Forest, Horticultural Agriculture and
ecotourism. The area of Kamojang is located in the border of two different
regions: Regency of Bandung and Regency of Garut in West Java. The regular
control is conducted by the PT. Pertamina Geothermal Energy as administrator of
Kamojang geothermal area and BKSDA of West Java as administrator of Nature
park and Ecotourism. Therefore, preservation of Kamojang area is still
maintained. By appropriate management from PT. Pertamina Geothermal Energy
and the local governments of Kamojang area, it is expected that this area can be
better quality of environment in the future. The direct use value significances of
Kamojang geothermal area is IDR 1.810.197.943.950, while its indirect use value
significances is IDR 3.011.714.430. The existence value of natural resources in
Kamojang geothermal area is IDR 8.023.230.000, and the bequest values of
natural resource in Kamojang geothermal area is IDR1.139.490.000. The total
economic value derived from Kamojang geothermal area is IDR
1.822.372.378.380.
Key Words : Natural Resources, Geothermal Area, Direct Use Value, Indirect
Use Value, Total Economic Value

RINGKASAN
SAFRUDIN YUSRI, 2012. Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam Kawasan
Panas Bumi Kamojang Jawa Barat . Dibimbing oleh EKA INTAN KUMALA
PUTRI sebagai ketua dan AHYAR ISMAIL sebagai anggota komisi pembimbing.
Sumberdaya alam adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk
keberlangsungan hidup manusia. Sumberdaya alam harus selalu dijaga dan
dilestarikan karena sumberdaya alam itu bersifat terbatas. Kawasan panas bumi
Kamojang merupakan suatu kawasan dengan sumberdaya alam yang melimpah,
dimana kawasan ini terdapat sumber panas bumi yang dikonversi menjadi energi
listrik. Kawasan Kamojang selain memiliki potensi panas bumi kawasan ini juga
merupakan kawasan Taman Wisata Alam, Hutan Produksi, Pertanian Hortikultura
dan ekowisata. Kawasan Kamojang terdapat di perbatasan dua wilayah yakni
Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut Jawa Barat. Pengontrolan rutin yang
dilakukan oleh PT. Pertamina Energy Geothermal selaku pengelola kawasan
panas bumi Kamojang serta BKSDA Jawa Barat selaku pengelola Taman Wisata
Alam dan Ekowisata, sehingga membuat kawasan Kamojang sampai saat ini
masih terjaga kelestariannya. Dengan pengelolaan yang baik oleh PT. Pertamina
Energy Geothermal dan pemerintah setempat terhadap kawasan Kamojang
diharapkan dimasa yang akan datang kawasan ini dapat lebih baik kualitas
lingkungannya. Nilai manfaat langsung dari kawasan panas bumi Kamojang
adalah Rp1.810.197.943.950, sedangkan nilai manfaat tidak langsung adalah
Rp3.011.714.430. Nilai keberadaan sumberdaya alam dikawasan panas bumi
Kamojang adalah Rp 8.023.230.000, dan nilai warisan adalah Rp1.139.490.000,.
Nilai ekonomi total yang di dapat dari kawasan panas bumi Kamojang adalah
Rp1.822.372.378.380.
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Identifikasi Sumberdaya alam dan
lingkungan yang ada di kawasan panas bumi Kamojang; 2) Menghitung dan
menganalisis nilai ekonomi manfaat langsung dan manfaat tidak langsung yang
ada di kawasan panas bumi Kamojang; 3) Menghitung nilai ekonomi keberadaan
(Existence Value), dan warisan (Bequest Value), yang ada di kawasan panas bumi
Kamojang; 4) Menghitung nilai total ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan
yang ada di kawasan panas bumi Kamojang.
Hasil Penelitian ini adalah: 1) Kondisi aktual sumberdaya alam di kawasan
panas bumi Kamojang pada saat ini masih terjaga. Hal ini disebabkan karena
pengontrolan rutin yang dilakukan oleh PT Pertamina Goethermal Energy dan
BKSDA Jawa Barat: 2) Nilai ekonomi manfaat langsung (Direct use value)
sumberdaya alam kawasan panas bumi Kamojang sebesar Rp 1.810.197.943.950,
terdiri dari nilai Panas bumi sebesar Rp 1.673.568.000.000, nilai kayu hutan
produksi sebesar Rp 10.153.656.000, nilai kayu bakar sebesar Rp 1.782.600.000,
nilai hewan buruan sebesar Rp 594.000.000, nilai sayuran yang diperoleh dari
alam sebesar Rp 120.364.692.000, nilai tanaman obat-obatan alami yang
diperoleh sebesar Rp 1.950.338.700, dan nilai pertanian hortikultura sebesar
Rp1.784.657.250. Sedangkan nilai ekonomi manfaat tidak langsung (Indirect use
value) sumberdaya alam kawasan panas bumi Kamojang yaitu sebesar
Rp3.011.714.430, terdiri dari nilai air sebesar Rp 1.587.132.000, nilai ekowisata
sebesar Rp 447.855.000 dan nilai penyimpan karbon sebesar Rp 976.727.430; 3)

Nilai ekonomi keberadaan (existence value) sumberdaya alam kawasan panas
bumi Kamojang sebesar Rp8.023.230.000, dan nilai ekonomi warisan (bequest
value) sebesar Rp1.139.490.000; 4) Nilai ekonomi total (Total economic value)
yang dapat dihitung dari kawasan panas bumi Kamojang yaitu sebesar
Rp1.822.372.378.380.
Saran dari penelitian ini yaitu: 1) Melihat potensi sumberdaya alam yang
ada di kawasan panas bumi Kamojang kiranya para stakeholder dan pihak
pengelolah dapat menjaga dan melestarikan sumberdaya alam yang ada terutama
kawasan hutan cagar alam sebagai penyimpan air bagi keberlangsungan
pembangkit energi panas bumi (PLTP) serta sebagai penyimpan dan penyedia
karbon dimasa yang akan datang; 2) Dari data hasil penelitian dapat dijadikan
sebuah pertimbangan bagi para stakeholder untuk pengelolaan kawasan
Kamojang yang lebih baik, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan terutama
bagi masyarakat sekitar kawasan Kamojang serta meningkatkan manfaat yang
lebih dari kawasan tersebut secara maksimal dan berkelanjutan; 3) Perlu
dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai valuasi dampak lingkungan terhadap
kehidupan sosial masyarakat di kawasan panas bumi Kamojang, serta penelitian
lanjutan tentang valuasi ekonomi yang secara lebih detail akan potensi yang ada
yang belum termasuk dalam penelitian ini.

© Hak Cipta milik Institut Pertanian Bogor tahun 2012
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
1. Dilarang mengutip

sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa

mencantumkan atau menyebutkan sumber.
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan
karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu
masalah.
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar di IPB.
2. Dilarang menggunakan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya
tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.

VALUASI EKONOMI SUMBERDAYA ALAM KAWASAN
PANAS BUMI KAMOJANG JAWA BARAT

SAFRUDIN YUSRI

Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sain pada
Program Studi Ekonomi Sumberdaya Dan Lingkungan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

Penguji Luar Komisi Pada Ujian Tesis: Ir. Sahat M. H. Simanjuntak, M.Sc

Judul Penelitian
Nama
NRP

: VALUASI
EKONOMI
SUMBERDAYA
ALAM
KAWASAN PANAS BUMI KAMOJANG JAWA BARAT
: Safrudin Yusri
: H351090041

Disetujui
Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, M.S
Ketua

Dr. Ir. Ahyar Ismail, M.Agr
Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi

Dekan Sekolah Pascasarjana

Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan

Prof. Dr. Ir. Akhmad Fauzi, M.sc

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc,Agr

Tanggal Ujian: 06 Juni 2012

Tanggal Lulus:

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL .............................................................................................. i
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah .................................................................................. 2
1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 3
1.4 Manfaat Penilitian ..................................................................................... 4
1.5 Ruang Lingkup Penelitian ........................................................................ 5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 7
2.1 Sumberdaya Energi .................................................................................. 7
2.2 Konsep dan Metode Valuasi Ekonomi ...................................................... 9
2.3 Pengelolaan Kawasan .............................................................................. 11
2.4 Penelitian Terdahulu yang Relevan ......................................................... 16
BAB 3 KERANGKA PEMIKIRAN .................................................................. 20
BAB 4 METODE PENELITIAN ....................................................................... 21
4.1 Tempat dan waktu penelitian ................................................................... 21
4.2 Jenis dan Sumber Data ............................................................................. 21
4.3 Metode PenentuanSampel ........................................................................ 22
4.4 Metode Analisis Data ............................................................................... 23
BAB 5 GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN ................................ 39
5.1 Sejarah ....................................................................................................... 39
5.2 Letak Geografis dan Administrasi ........................................................... 39
5.3 Keadaan Fisik Cagar Alam dan TWA Kamojang ..................................... 40
5.4 Kawasan Panas Bumi Kamojang ............................................................. 41
5.5 Penduduk Kawasan Kamojang ................................................................. 42
5.6 Karakteristik Responden ........................................................................... 43
BAB 6 IDENTIFIKASI SUMBERDAYA ALAM A KAMOJANG ............... 47
6.1 Sumberdaya Alam Panas Bumi ................................................................ 47
6.2 Potensi Taman Wisata Alam .................................................................... 48

6.3 Potensi Kehutanan .................................................................................... 50
6.4 Potensi Pertanian Hortikultura dan Sayuran Alami ................................. 52
BAB 7 NILAI EKONOMI TOTAL ................................................................... 55
7.1 Nilai Ekonomi Manfaat Langsung ........................................................... 55
7.2 Nilai Ekonomi Manfaat Tidak Langsung ................................................. 67
7.3 Nilai Ekonomi Keberadaan ....................................................................... 73
7.4 Nilai Ekonomi Warisan ............................................................................. 77
7.5 Nilai Ekonomi Total.................................................................................. 80
7.6 Net Present Vale (NPV) ............................................................................ 82
7.7 Implikasi Terhadap Kebijakan .................................................................. 84
BAB 8 KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 87
8.1 Kesimpulan ............................................................................................... 87
8.2 Saran.......................................................................................................... 87
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 89
LAMPIRAN ......................................................................................................... 93

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel. 1 Matriks Penelitian terdahulu ................................................................. 17
Tabel. 2 Matriks Penelitian ................................................................................. 34
Tabel. 3 Model Perhitungan Valuasi Ekonomi SDA KPBK ............................. 35
Tabel. 4 Jumlah Penduduk di Masing-masing Desa diantaranya
Kec. Ibun dan Kec. Samarang Provinsi Jawa Barat ............................. 42
Tabel. 5 Jenis dan Potensi Sumberdaya Alam Kayu Hutan Produksi di
Kawasan Panas Bumi Kamojang.......................................................... 50
Tabel. 6 Jenis dan Potensi SDA Pertanian Hortikultura di KPBK ..................... 53
Tabel. 7 Jenis dan Potensi Sayuran Alami di KPBK .......................................... 53
Tabel. 8 Biaya Konversi Panas Bumi ke Tenaga Listrik .................................... 55
Tabel. 9 Jumlah Produksi dan Harga Jual SDA Panas Bumi dari
PT. PGE ke PT PLN di Kawasan Panas Bumi Kamojang ................... 56
Tabel. 10 Nilai Ekonomi Panas Bumi di KPBK ................................................... 56
Tabel. 11 Nilai Ekonomi Hasil Kayu Hutan Produksi di KPBK ......................... 57
Tabel. 12 Nilai Ekonomi Kayu Bakar di KPBK ................................................... 58
Tabel. 13 Jenis Binatang Satwa Buruan di KPBK ................................................ 60
Tabel. 14 Nilai Ekonomi Satwa Buruan di KPBK ................................................ 60
Tabel. 15 Nilai Ekonomi Sayuran yang Bersumber dari alam di KPBK .............. 62
Tabel. 16 Nilai Ekonomi Pertanian Hortikultura di KPBK .................................. 64
Tabel. 17 Nilai Ekonomi Tanaman Obat Alami di KPBK.................................... 66
Tabel. 18 Nilai Ekonomi Air di KPBK ................................................................. 67
Tabel. 19 Nilai Ekonomi Penyimpan Karbon di KPBK ....................................... 68
Tabel. 20 Nilai WTP Ekowisata TWA Kamojang.. .............................................. 70
Tabel. 21 Hasil Analisi Regresi Nilai WTP Ekowisata KPBK.. ........................... 71
Tabel. 22 Nilai WTP Keberadaan KPBK. ........................................................... 74
Tabel. 23 Hasil Analisis Regresi WTP Keberadaan di KPBK ............................. 75
Tabel. 24 Nilai WTP Warisan KPBK. .................................................................. 77
Tabel. 25 Hasil Analisis Regresi WTP Warisan di KPBK ................................... 78
Tabel. 26 Nilai Ekonomi Total di KPBK .............................................................. 81
Tabel. 27 Net Present Value di KPBK .................................................................. 83

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1

Model Nilai Ekonomi Total (TEV) ............................................... 12

Gambar 2

Kerangka Pemikiran Penelitian ..................................................... 20

Gambar 3

Peta Lokasi Penelitian. .................................................................. 21

Gambar 4

Karakteristik Responden di Kawasan Panas Bumi
Kamojang Berdasarkan Tingkat Usia ............................................ 43

Gambar 5

Karakteristik Responden di Kawasan Panas Bumi
Kamojang Berdasarkan Tingkat Pendidikan ................................. 44

Gambar 6

Karakteristik Responden di Kawasan Panas Bumi
Kamojang Berdasarkan Jenis Pekerjaan ........................................ 45

Gambar 7

Karakteristik Responden di Kawasan Panas Bumi
Kamojang Berdasarkan Tingkat Pendapatan................................. 45

Gambar 8

Karakteristik Responden di Kawasan Panas Bumi
Kamojang Berdasarkan Jenis Suku Bangsa .................................. 46

PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan tesis denga judul:
Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam Kawasan Panas Bumi Kamojang Jawa
Barat. Tesis ini merupakan salah satu persyaratan utama dalam mendapatkan
gelar Magister Sains di Sekolah Pascasarjana IPB.
Penulis menyadari bahwa masih banyak hal-hal yang perlu disempurnakan
dalam penulisan tesis ini. Mengingat penulis adalah manusia biasa yang memiliki
kemampuan yang terbatas, oleh karena itu segala kritik dan saran yang
membangun sangat berguna bagi penyempurnaan penlisan tesis ini. Semoga tesis
ini dapat bermanfaat bagi penulis sebagai panduan dalam melakukan penelitian
dan bagi semua pihak yang akan memanfaatkan.

Bogor,

Juli 2012

Safrudin Yusri

UCAPAN TERIMA KASIH
Penyusunan tesis ini tidak terlepas dari bantuan serta bimbingan berbagai
pihak. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, penulis ingin
menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada:
1. Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, M.S selaku ketua komisi pembimbing atas
segala bimbingan, arahan, Waktu dan kesabaran yang telah di berikan
kepada penulis selama penysunan tesis ini.
2. Dr. Ir. Ahyar Ismail, M.Agr selaku Anggota Komisi pembimbing atas
segala waktu dan semangat yang telah diberikan kepada penulis selama
penyusunan tesis ini.
3. Prof. Dr. Ir. Akhmad Fauzi, M.Sc selaku Ketua Program Studi Ekonomi
Sumberdaya dan lingkungan (ESL) IPB atas segala ilmu, pelajaran dan
sosial capital yang telah diberikan kepada penulis selama menempuh
pendidikan di Sekolah Pascasarjana IPB.
4. Ir. Sahat M. H. Simanjuntak, M.Sc selaku dosen penguji luar komisi pada
ujian sidang yang telah meleuangkan waktunya serta memberikan kritik
dan sekaligus orang tua (opung) yang bijak atas segala ilmu, waktu dan
semangat yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan tesis ini.
5. Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc selaku Rektor IPB yang telah
memberikan rekomendasi kepada penulis untuk menempuh pendidikan di
Sekolah Pascasarjana IPB.
6. Seluruh Dosen dan Staf Departemen ESL IPB (Teh Sofi) atas bantuan dan
social capital selama penulis menempuh pendidikan di Sekolah
Pascasarjana IPB.
7. Ayah dan Ibunda serta keluarga tercinta untuk setiap dukungan cinta kasih
dan doa yang diberikan. Semoga ini bisa menjadi persembahan yang
terbaik.
8. Ayunda Nuraini Alting atas doa dan semangat yang telah diberikan dalam
penulisan tesi ini. Semoga ini menjadi sebuah persembahan yang terbaik.

9. Rekan-rekan seperjuangan ESL, ESK dan PWD angkatan 2009 atas
semangat dan social capital selama ini serta seluruh pihak yang tidak dapat
disebutkan satu persatu, terima kasih atas bantuannya.
10. Rekan-rekan Gugahsari Mahasiswa Ternate Bogor yang selama ini telah
memberikan semangat dan ispirasi kepada penulis.

Bogor,

Juli 2012

Safrudin Yusri

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Tafaga Maluku Utara pada tanggal 07 April 1984
sebagai anak ke-2 dari 5 bersaudara Keluarga Yusri Hi Murid dan Rasia Hasan.
Penulis menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di SMK Negri 2 Ternate pada
tahun 2002 dan melanjutkan sekolah Starata satu di Universitas Muslim Indonesia
Makassar, dan selesai tahun 2007.
Pada Tahun 2009 penulis melanjutkan sekolah pendidikan pada Program
Studi Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan di Sekolah Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor. Saat ini penulis bekerja sebagai Instruktur Perencanaan
Penilaian Kerusakan Kawasan Pasca Tambang di PT. Indonesia Lokal Election.`

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Panas bumi sebagai energi yang terbarukan dan ramah lingkungan
mempunyai potensi untuk menjadi energi alternatif masa depan. Namun demikian,
pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia saat ini masih sangat kecil jika
dibandingkan dengan potensi yang ada. Perkembangan harga minyak bumi yang
terus meningkat dan juga isu lingkungan / pemanasan global memberikan peluang
sekaligus tantangan bagi peningkatan pemanfaatan energi panas bumi
Kawasan panas bumi yang sudah dilakukan kegiatannya, baik untuk
eksplorasi, produksi

tenaga listrik maupun dalam tahap pengembangan,

berjumlah 70 lapangan. Dari jumlah tersebut, 60 lapangan telah dilakukan survei
eksplorasi dan 15 diantaranya telah menjadi wilayah kerja pertambangan (WKP)
pertamina untuk dikembangkan oleh Pertamina sesuai dengan Kepmen ESDM
No. 667/2002 (Departemen ESDM 2004). WKP yang masih dilanjutkan untuk
dikembangkan salah satunya adalah kawasan panas bumi Kamojang.
Kawasan Kamojang merupakan suatu kawasan dimana terdapat potensi
panas bumi yang terletak di wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut
provinsi Jawa Barat, lebih tepatnya di perbatasan diantara kedua Kabupaten
tersebut dengan luasan ±154.318

ha berdasarkan Surat Keputusan Menteri

Pertambangan dan Energi Nomor 466/Kpts/M/Pertamb/74 tanggal 10 Agustus
1974. Namun dari luasan wilayah yang diberikan hanya digunakan 108,55 ha
yang terbagai dalam tata guna lahan yaitu Cagar Alam 48,85 ha, Hutan Produksi
50,35 ha dan Hak Milik 9,35 ha.
Pembangunan kawasan panas bumi kamojang adalah usaha untuk
mengembangkan dan meningkatkan hubungan saling ketergantungan antara
sistem ekonomi, masyarakat dan lingkungan hidup beserta sumberdaya alam yang
ada didalamnya. Kawasan adalah wilayah yang berbasis pada keberagaman fisik
dan ekonomi tetapi memiliki hubungan erat dan saling mendukung satu sama lain
secara fungsional demi mempercepat pertumbuhan ekonomi suatu daerah dan
meningkatkan kesejahteraan rakyatnya (DITJEN Tata Ruang, 2007).

2

Pengelolaan kawasan Kamojang pada saat ini hanya terfokus pada
pengeloaan panas bumi yang dihasilkan, namun informasi yang berkaitan dengan
sumberdaya alam lainnya yang bermanfaat dan bernilai ekonomi di kawasan
Kamojang masih diabaikan. Kurangnya informasi secara keseluruhan dari
kawasan Kamojang baik manfaat secara langsung maupun tidak langsung
menyebabkan tidak diketahuinya nilai sumberdaya alam secara optimal pada
kawasan tersebut.
Potensi sumberdaya alam kamojang selain panas bumi yang dikonversi
menjadi energi listrik, juga terdapat beberapa potensi lainnya seperti : potensi
Hutan, Satwa, Pertanian Hortikultura, Obat-obatan alami, Sayuran alami, Air,
Penyimpan Karbon dan Taman Wisata Alam
Sejauh ini nilai dari kawasan Kamojang, belum diketahui secara rinci dan
pasti, sehingga penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa besar
nilai total ekonomi yang ada di kawasan panas bumi Kamojang. Selain itu
pemanfatan kawasan panas bumi untuk hutan produksi dan pertanian holtikultura
sangat besar. Berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, maka penelitian
mengenai valuasi ekonomi sumberdaya alam kawasan panas bumi Kamojang di
Jawa Barat sangat perlu untuk dilakukan.
1.2 Perumusan Masalah
Kawah panas bumi Kamojang yang terletak 40 km sebelah Tenggara dari
Kota Bandung atau tepatnya di Kabupaten Garut dengan ketinggian 1500 meter
dari permukaan laut merupakan kawasan dimana terdapat cadangan sumberdaya
alam energi panas bumi. Potensi sumberdaya alam Kamojang selain panas bumi
yang dikonversi menjadi energi listrik, juga terdapat beberapa potensi lainnya
seperti : potensi hutan, fauna, pertanian hortikultura, obat-obatan alami, sayuran
alami, air, penyimpan karbon dan taman wisata alam.
Menurut para pakar bahwa suatu kawasan perlu dilindungi untuk menjaga
keberlangsungan fungsi dan manfaatnya, namun dilain sisi terjadi praktek-praktek
yang menghancurkan kawasan itu sendiri. Hal ini biasanya terjadi akibat
perbedaan penetapan nilai terhadap suatu sumberdaya alam, dimana fungsi dan
manfaat sumberdaya alam yang belum dikenal dihargai nol. Untuk itu pasar hanya
menghargai barang dan jasa yang mudah diidentifikasi dan diperjual belikan,

3

terutama barang dan jasa dari sumberdaya alam dan lingkungan (public goods).
Akibatnya pemberian nilai tersebut menjadi terlalu rendah (under value) dan
terjadilah pemanfaatan sumberdaya alam yang berlebihan (over exploitation),
sehingga dengan sendirinya akan terjadi kerusakan sumberdaya alam.
Mengingat masih rendahnya penghargaan terhadap potensi suatu kawasan
secara keseluruhan jika dibandingkan dengan manfaat yang didapat dari kawasan
itu sendiri, maka diperlukan usaha untuk meningkatkan nilai ekonomi kawasan
baik melalui nilai-nilai pemanfaatan langsung maupun pemanfaatan tidak
langsung dan persepsi masyarakat terhadap manfaat dari suatu kawasan.
Berdasarkan uraian tersebut diatas menunjukan bahwa penelitian valuasi
kawasan dengan menggunakan pendekatan metode valuasi ekonomi menjadi
penting, dimana dinamika sumberaya alam yang ada dimasukan kedalam
pertimbangan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan termasuk kawasan
panas bumi Kamojang.
Dari perumusan masalah tersebut diatas, maka pertanyaan penelitian yang
muncul adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kondisi aktual sumberdaya alam dan lingkungan di kawasan
panas bumi Kamojang saat ini ?
2. Berapakah besar nilai manfaat langsung dan tidak langsung dari
sumberdaya alam dan lingkungan yang ada di kawasan panas bumi
Kamojang ?
3. Berapakah besar nilai keberadaan (Existence Value), dan nilai warisan
(Bequest Value) dari sumberdaya alam dan lingkungan yang ada di
kawasan panas bumi Kamojang ?
4. Berapakah besar nilai ekonomi total (Total Economic Value) dari
sumberdaya alam dan lingkungan yang ada di kawasan panas bumi
Kamojang ?

1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka
tujuan utama dari penelitian ini adalah mengitung nilai ekonomi sumberdaya alam

4

kawasan panas bumi Kamojang. Adapun tujuan yang lebih spesifik pada
penelitian ini yaitu :
1.

Identifikasi Sumberdaya alam dan lingkungan yang ada di kawasan panas
bumi Kamojang

2.

Menghitung dan menganalisis nilai ekonomi manfaat langsung dan
manfaat tidak langsung yang ada di kawasan panas bumi Kamojang.

3.

Menghitung nilai ekonomi keberadaan (Existence Value), dan warisan
(Bequest Value), yang ada di kawasan panas bumi Kamojang.

4.

Menghitung total nilai ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan yang
ada di kawasan panas bumi Kamojang.

1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini ditujukan bagi :
1.) Pemerintah :
a. Untuk memberikan informasi mengenai nilai ekonomi total
kawasan panas bumi Kamojang yang ada di Provinsi Jawa Barat
b. Memberikan masukan kepada pembuat kebijakan, menentukan
sisitem pengelolaan dan perlakuan terhadap kawasan sesuai
dengan potensi yang ada serta masukan pemikiran bagi semua
pihak yang memerlukan.
2.) Pengelola Kawasan:
a. Untuk memberikan informasi mengenai nilai ekonomi total
sumberdaya alam yang ada di kawasan panas bumi Kamojang
terhadap pengelolaan yang dilakukan.
b. Memberikan

masukan

kepada

pengelola

kawasan

dalam

pelaksanaan pengelolaan atau perlakuan yang diterapkan pada
sumberdaya alam yang ada di kawasan panas bumi Kamojang.
3.) Masyarakat: Untuk memberikan informasi mengenai total nilai
ekonomi yang ada di kawasan panas bumi Kamojang
4.) Mahasiswa : Dapat dijadikan sebagai bahan

referensi penelitian

tentang valuasi ekonomi kawasan, khususnya dalam bidang ekonomi
sumberdaya alam dan lingkungan serta penerapannya.

5

1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Batasan/ ruang dalam penelitian ini yaitu :
1. Objek yang diteliti hanya sebahagian saja yaitu kawasan Kamojang yang
mana kawasan ini berada di Desa Ibun Kecamatan Ibun Kabupaten
Bandung dengan Desa Sukakarya Kecamatan Samarang Kabupaten. Garut
Jawa Barat. Berdasarkan

SK Menteri Pertambangan dan Energi Nomor

466/Kpts/M/Pertamb/74 tanggal 10 Agustus 1974.
2. Harga produk yang terdapat di kawasan panas bumi Kamojang didekati
dengan harga pasar

yang berlaku, dengan pendekatan Market base

approach sedangkan untuk menghitung jasa lingkungan digunakan harga
pasar yang dibangun dengan Non-market base approach

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Sumberdaya Energi
Sumberdaya alam secara umum dibagi menjadi sumberdaya alam yang

dapat diperbarui (renewable resources) dan sumberdaya alam yang tidak dapat
diperbarui (non-renewable resources). Pengklasifikasian ini sangat dipengaruhi
oleh peran variabel waktu (time). Sumberdaya alam yang dapat diperbarui
merupakan sumberdaya alam yang terus -

menerus tersedia sebagai input

produksi dengan batas waktu tak terhingga. Hutan, tanah, panas matahari, angin,
panas bumi, ombak, air dan sebagainya termasuk dalam sumberdaya alam yang
dapat diperbarui. Sedangkan sumberdaya alam yang tidak dapat diperbarui adalah
sumberdaya alam yang persediaannya (input produksi) sangat terbatas dalam
jangka waktu tertentu. Minyak bumi, gas alam, batubara, dan sebagainya
termasuk sumberdaya alam yang tidak dapat diperbarui (Simanjuntak 2009).
Sumberdaya energi menurut jenisnya dibagi menjadi dua, yaitu
sumberdaya energi fosil dan non-fosil. Minyak bumi, gas alam, batubara dan
sebagainya termasuk dalam kategori sumber energi fosil. Sedangkan tenaga air,
tenaga surya, tenaga ombak, tenaga angin, uranium (nuklir) dan panas bumi
termasuk dalam kategori sumber energi non fosil. Sumber energi yang dapat
dimanfaatkan dan sedang dikembangkan akhir – akhir ini adalah (panas bumi).
Panas bumi dinilai sebagai sumber energi yang dapat diperbahrui dan ramah
lingkungan.
Energi panas bumi adalah energi yang terbaharukan karena air di dapat
dari air hujan dan panas secara kontinyu diproduksi dari dalam bumi. Energi
panas bumi atau geothermal dibentuk pada inti bumi dengan kedalaman kira-kira
4.000 mil dibawah permukaan tanah. Suhu lebih panas dari pada panas permukaan
matahari, yang secara kontinyu diproduksi di dalam perut bumi dengan cara
peluruhan radio aktif secara perlahan, proses ini terjadi dalam semua lapisan
batuan. Energi geothermal tersimpan dalam bentuk:


Gunung api, dan fumarol (lubang dimana gas vulkanik lepas)



Sumber air panas



Geiser

8

Salah satu penggunaan yang sering dilakukan di Indonesia terhadap energi
panas bumi atau geothermal adalah untuk pembangkit tenaga listrik.
Prinsip dasar pembangkit listrik panas bumi adalah, uap dari dalam bumi
melalui sumur produksi, dan disalurkan melalui pipa instalasi khusus untuk
menggerakkan turbin generator. Uap tersebut kemudian dikondensasi melalui
evaporasi di tower pendingin dan dipompakan kembali ke dalam sumur injeksi
untuk kebersinambungan produksi.
Energi mempunyai peranan penting dalam pencapaian tujuan sosial,
penggunaan ekonomi di Indonesia meningkat pesat sejalan dengan pertumbuhan
ekonomi dan pertumbuhan penduduk. Di lain pihak akses energi yang handal dan
terjangkau merupakan persyaratan utama untuk meningkatkan standar hidup
masyarakat, karena dua pertiga dari total kebutuhan energi nasional berasal dari
ekonomi komersial.
Minyak bumi, gas alam dan batubara merupakan sumberdaya energi non
panas bumi atau biasanya disebut sumberdaya energi yang tidak pulih (nonrenewable resources) habis terpakai. Minyak bumi adalah campuran komplek
hidrokarbon plus senyawa organik dari Sulfur, Oksigen, Nitrogen dan senyawasenyawa yang mengandung konstituen logam terutama Nikel, Besi dan Tembaga.
Minyak bumi sendiri bukan merupakan bahan yang uniform, melainkan
berkomposisi yang sangat bervariasi, tergantung pada lokasi, umur lapangan
minyak dan juga kedalaman sumur.
Gas alam sering juga disebut sebagai gas bumi atau gas rawa, adalah
bahan bakar fosil berbentuk gas yang terutama terdiri dari metana CH4. Ia dapat
ditemukan di ladang minyak, ladang gas bumi dan tambang batubara. Ketika gas
yang kaya dengan metana diproduksi melalui pembusukan oleh bakteri an-aerobik
dari bahan-bahan organik selain dari fosil, maka disebut biogas. Sumber biogas
dapat ditemukan di rawa-rawa, tempat pembuangan akhir sampah, serta
penampungan kotoran manusia dan hewan.
Batubara adalah batuan yang mudah terbakar yang lebih dari 50% -70%
berat volumenya merupakan bahan organik yang merupakan material karbon
termasuk inherent moisture. Bahan organik utamanya yaitu tumbuhan yang
dapat berupa jejak kulit pohon,daun, akar, struktur kayu, spora, polen, damar, dan

9

lain-lain. Selanjutnya bahan organik tersebut mengalami berbagai tingkat
pembusukan (dekomposisi) sehingga menyebabkan perubahan sifat-sifat fisik
maupun kimia baik sebelum ataupun sesudah tertutup oleh endapan lainnya
(Menrisetek, 2006).
2.2

Konsep dan Metode Valuasi Ekonomi
Konsep nilai (value) adalah harga yang diberikan oleh seseorang terhadap

sesuatu pada suatu tempat dan waktu tertentu. Ukuran harga di tentukan oleh
waktu, barang atau uang yang akan dikorbankan seseorang untuk menggunakan
barang atau jasa yang diinginkan. Penilaian (valuation) adalah kegiatan yang
berkaitan dengan pembangunan konsep dan metodologi untuk menduga nilai
barang dan jasa. Kajian – kajian valuasi ekonomi membahas masalah nilai
lingkungan (valuing the environmental) atau harga lingkungan (pricing the
environmental).
Pada prinsipnya valuasi ekonomi bertujuan untuk memberikan nilai
ekonomi kepada sumberdaya yang digunakan sesuai dengan nilai riil dari sudut
pandang masyarakat. Menurut Thampapillai (1993) dalam Sanim (1997) tujuan
utama dari valuasi ekonomi barang – barang dan jasa lingkungan (environmental
goods and services) adalah untuk dapat menempatkan lingkungan sebagai
komponen integral dari setiap ekonomi.
Bermacam-macam teknik penilaian yang dapat digunakan untuk
mengkuatifikasikan konsep dari nilai. Sanim, (1997) menyatakan hal – hal yang
harus diperhatikan dan dipertimbangkan dalam memilih suatu metode valuasi
ekonomi adalah sebagai berikut :
1. Banyaknya tujuan atau perkiraan yang ingin diukur. Apabila analisis
yang dilakukan memiliki tujuan ganda, maka akan lebih meyakinkan
seseorang analisis apabila mampu menyarankan besaran – besaran
dampak yang disarankan.
2. Konsep dan aspek yang ingin dinilai. Metode valuasi yang saling
berbeda satu sama lain bersifat saling melengkapi bukan berkompetisi,
karena mengukur aspek atau konsep yang berbeda.

10

3. Kebutuhan atau kepentingan pemakai hasil valuasi. Pemakai hasil
valuasi memiliki preferensi tertentu dan tersendiri terhadap suatu metode
valuasi ekonomi tergantung biaya, waktu dan tujuan.
4. Kepentingan umum atau masyarakat secara keseluruhan. Preferensi
masyarakat umum harus mampu ditangkap secara maksimal dan setepat
mungki. Oleh karena itu, perlu ditempuh cara jajak pendapat yang
intensif dan memadai.
5. Perbandingan atau bobot antara biaya dengan nilai ekonomi penggunaan
hasil valuasi ekonomi. Apakah keuntungan yang diperoleh dari hasil
penggunaan valuasi tersebut sebanding dengan biaya yang akan
dikeluarkan.
Dalam melakukan valuasi ekonomi sumberdaya alam, dapat digunakan
berbagai metode beserta teknik-teknik yang telah dikenal, baik dengan
menggunakan data primer maupun data sekunder. Constanza et al (1997) dalam
Anonim (2002) mengatakan beberapa pendekatan dan teknik yang umum
digunakan untuk valuasi sumberdaya alam antara lain :
1. Pendekatan Nilai Pasar (Market Value Approaches) : Teknik Perubahan
Produktifitas, Teknik Perubahan Pendapatan, Teknik Biaya Pengganti,
Teknik Pengeluaran Preventif, Teknik Biaya Relokasi.
2. Pendekatan Pasar Proksi (Surrogate Market Approaches): pendekatan
dengan pasar substitusi untuk mendekati kondisi pasar yang sebenarnya
karena berbagai keterbatasan. Pendekatan dengan harga pengganti
meliputi : Pendekatan Biaya Perjalanan, Teknik Nilai Properti,
Pendekatan Perbedaan Upah, Pendekatan Barang Proksi.
3. Pendekatan Pasar Simulasi (Simulation Market Approaches): Penilaian
Kontingensi, Permainan Pertukaran, Peringkat Kontingensi dan Tingkat
Kontingensi, Teknik Evaluator Prioritas
4. Pendekatan Nilai Lahan
5. Biaya Kesehatan

11

2.3

Pengelolaan Kawasan

2.3.1 Identifikasi Manfaat dan Fungsi Kawasan Panas Bumi
Manfaat kawasan panas bumi Kamojang dapat diketogorikan ke dalam dua
komponen utama yaitu manfaat langsung (use value) dan manfaat tidak langsung
(indirect use value). Nilai kegunaan langsung merujuk pada kegunaan langsung
dari pemanfaatan kawasan panas bumi Kamojang baik secara komersil maupun
non komersil, sedangkan nilai kegunaan tidak langsung merujuk pada nilai yang
dirasakan tidak langsung terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh
sumberdaya alam dan lingkungan.
Komponen manfaat tidak langsung adalah nilai yang diberikan kepada
hutan yang berada di kawasan panas bumi Kamojang atas keberadaannya
meskipun tidak dikonsumsi secara langsung dan lebih bersifat sulit diukur (less
tangibel) karena lebih didasarkan pada preferensi terhadap lingkungan ketimbang
pemanfaatan langsung. Komponen manfaat tidak langsung dibagi lagi dalam subclass yaitu nilai keberadaan (existence value), nilai pewarisan (bequest value) dan
nilai pilihan (option value). Nilai keberadaan pada dasarnya adalah penilaian yang
diberikan dengan terpeliharanya sumberdaya. Nilai pewarisan diartikan sebagai
nilai yang diberikan oleh generasi kini dengan menyediakan atau mewariskan
sumberdaya untuk generasi mendatang. Nilai pilihan diartikan sebagai nilai
peliharaan sumberdaya sehingga pilihan untuk memanfaatkannya masih tersedian
untuk masa yang akan datang.
Menurut Fauzi (2006), penggunaan metode analisis biaya dan manfaat
(cost-benefit analysis) yang konvensional sering tidak mampu menjawab
permasalahan dalam menentukan nilai ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan
karena konsep biaya dan manfaat tersebut sering tidak memasukan manfaat
ekologis didalam analisisnya. Oleh karena itu lahirlah konsep analisis valuasi
ekonomi, hususnya valuasi non-pasar (non market valuation).
Pengukuran valuasi ekonomi di kawasan dapat menggunakan model
pengukuran dari nilai ekonomi sumberdaya, dimana secara tradisional nilai terjadi
didasarkan pada interaksi antara manusia sebagai subjek dan objek (Pearce dan
Moran, 1994; Turner, Pearce dan Bateman,1994). Setiap individu memiliki
sejumlah nilai yang dikatakan sebagai nilai penguasaan yang merupakan basis

12

preferensi individu. Pada akhirnya nilai objek ditentukan oleh bermacam-macam
nilai yang dinyatakan (assigned value) oleh individu. Model bagan nilai ekonomi
total (total economic value) seperti pada Gambar 1.

Nilai Ekonomi Total
(Total Economic
Value)

Nilai Pemanfaatan
(Use value)

Nilai Guna Langsung
(Direct Use Value)

Nilai Tanpa Pemanfaatan
(Non Use Value)

Nilai Guna Tak Lansung
(Indirect Use Value)

Nilai Warisan
(Bequest Value)

Nilai Keberadaan
(Existence Value)

Nilai Pilihan
(Option Value)

Sumber: Pearce dan Moran (1994)

Gambar 1 Model Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value)
Nilai ekonomi total (total economic value) suatu sumberdaya secara garis
besar dikelompokan menjadi nilai guna (use value) dan nilai non-guna/intrinsik
(non-use value), (Pearce dan Turner, 1990; Pearce dan Moran, 1994; Turner,
Pearce dan Bateman, 1994). Nilai guna (use value) dibagi menjadi nilai guna
langsung (direct use value), nilai guna tak langsung (indirect use value) dan nilai
pilihan (option value). Nilai guna diperoleh dari pemanfaatan aktual lingkungan
(Turner, Pearce dan Bateman, 1994).
Nilai non-guna dibagi menjadi nilai keberadaan (existence value), nilai
warisan (bequest value) dan nilai pilihan (option value). Nilai guna langsung
(direct use value) adalah nilai yang ditentukan oleh kontribusi lingkungan pada
aliran produksi dan konsumsi (Munasinghe, 1993). Nilai guna langsung berkaitan
dengan output yang langsung dapat dikonsumsi, misalnya makanan, biomassa,
rekreasi dan kesehatan. Nilai guna tak langsung (indirect use value) ditentukan
oleh manfaat yang berasal dari jasa-jasa lingkungan dalam mendukung aliran

13

produksi dan konsumsi. Nilai pilihan (option value) berkaitan dengan pilihan
pemanfaatan lingkungan pada masa yang akan datang. Pernyataan preferensi
(kesediaan membayar) untuk konservasi sistem lingkungan atau komponen sistem
berhadapan

dengan

beberapa

kemungkinan

pemanfaatan

oleh

individu

dikemudian hari. Ketidakpastian penggunaan dimasa yang akan datang
berhubungan dengan ketidakpastian penawaran lingkungan, teori ekonomi
mengindikasikan bahwa nilai pilihan adalah kemungkinan positif (Turner et. Al,
1994). Nilai intrinsik dibagi menjadi dua bagian yaitu nilai keberadaan (existence
value) dan nilai warisan (bequest value).
Nilai intrinsik berhubungan dengan kesediaan membayar positif, jika
responden tidak bermaksud memanfaatkannya dan tidak ada keinginan untuk
memanfaatkannya (Pearce dan Moran, 1994). Nilai warisan berhubungan dengan
kesediaan membayar untuk melindungi manfaat lingkungan bagi generasi
mendatang. Nilai warisan bukan merupakan nilai penggunaan untuk individu
petani, tetapi merupakan potensi penggunaan atau bukan penggunaan dimasa yang
akan datang (Turner et. al, 1994). Nilai keberadaan muncul karena adanya
kepuasan atas keberadaan sumberdaya meskipun yang melakukan penilaian tidak
memiliki keinginan untuk memanfaatkannya.
2.3.2

Pilihan Alternative Pengelolaan Kawasan Panas Bumi
Kawasan konservasi adalah areal daratan dan laut terutama diperuntukan

bagi perlindungan dan pemeliharaan keaneka ragaman hayati dan sumberdaya
alam serta budayanya, dikelola dengan cara-cara legal atau cara-cara
efektif lainnya (IUCN, CNPPA, WCMC, 1994). Menurut UU No. 5 Tahun 1990
kawasan tersebut terdiri dari kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam dan taman buru.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.14/Menhut-II/2007
tentang Tata Cara Evaluasi Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam
danTaman Buru :
1. Evaluasi Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam dan Taman Buru adalah
serangkaian kegiatan untuk melakukan penilaian terhadap suatu kondisi
yang sebelumnya telah ditetapkan kriterianya sebagai bahan penentuan kebijakan.
2. Kawasan Suaka Alam Adalah kawasan dengan ciri khas tertentu baik di daratan
maupun perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan

14

keaneka ragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya serta sebagai wilayah
sistem penyangga kehidupan yang terdiri dari cagar alam dan suaka marga satwa.
3. Kawasan Pelestarian

Alam adalah

kawasan dengan

ciri khas

tertentu baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai
wilayah sistem penyangga kehidupan serta kawasan pengawetan keanekaragaman
tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya.
4. Kawasan Cagar Alam adalah kawasan suaka alam yang karena
keadaannya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya
atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan pengembangannya secara
alami.
5. Kawasan Suaka Margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri
khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang
untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan diluar habitatnya.
6. Kawasan Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai
ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk
keperluan

penelitian,

ilmu

pengetahuan,

pendidikan,

budidaya,

pariwisata dan rekreasi.
7. Kawasan Taman Hutan Raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi
tumbuhan dan atau satwa yang alami, jenis asli dan atau bukan asli yang
dimanfaatkan

bagi

kepentingan

penelitian,

ilmu

pengetahuan,

pendidikan, budaya, pariwisata dan rekreasi. Kawasan Taman Wisata Alam
adalah kawasan pelestarian alam dengan tujuan utama untuk
dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata alam dan rekreasi alam.
8. Taman Buru adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat
diselenggarakan perburuan satwa buru secara teratur.
Kawasan suaka alam terdiri dari kawasan cagar alam dan kawasan suaka
margasatwa. Kawasan pelestarian alam terdiri dari kawasan taman nasional,
taman hutan raya dan taman wisata alam.
Pemerintah bertugas mengelola kawasan konservasi yaitu kawasan suaka alam,
kawasan pelestarian alam dan taman buru, yang dalam sistem pengelolaannya dilakukan
sesuai dengan fungsi kawasan.

Disisi lain sejarah membuktikan bahwa

kenyataannya kawasan konservasi selalu mengalami gangguan. Gangguan

15

kawasan konservasi bermula

karena adanya kesalahan dalam pengelolaan kawasan

konservasi.
Masyarakat sekitar kawasan konservasi selalu dianggap musuh oleh
pengelola. Pada kenyataannya kawasan konservasi sebagian besar wilayahnya selalu berbatasan
langsung dengan pemukiman masyarakat bahkan terdapat juga pemukiman
penduduk dalam kawasan tersebut. Ini membuktikan bawa terdapat hubungan yang erat antara
kawasan dengan masyarakat sekitar.
Gangguan terberat yang dihadapi dalam pengelolaan kawasan konservasi
adalah terbitnya ijin pemanfaatan sumber daya alam yang ada dalam kawasan oleh sebuah
lembaga. Pemanfaatan ini bersifat legal. Gangguan seperti ini dapat mengakibatkan kondisi
kawasan konservasi berubah dan akibatnya kawasan tersebut tidak sesuai lagi
dengan fungsinya sebagai kawasan konservasi. Penyebab utama hilangnya keanekaragaman
hayati bukanlah dari eksploitasi manusia secara langsung, melainkan kerusakan habitat sebagai
akibat yang tak dapat dihindari dari bertambahnya populasi penduduk dan kegiatan
manusia (Indrawan et al. 2007).
Berbagai gangguan yang terjadi pada kawasan suaka alam, kawasan
pelestarian alam dan taman buru mengakibatkan kondisinya tidak lagi sesuai
dengan fungsi kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam dan taman buru, sehingga
perlu dilakukan evaluasi fungsi kawasan sebagai bahan untuk pengelolaan kembali kawasan
konservasi.
Evaluasi fungsi kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam dan taman buru
dimaksudkan untuk memperoleh data dan informasi kondisi riil kawasan
konservasi. Tujuan evaluasi fungsi sebagai bahan menentukan kebijakan lebih lanjut dalam
pengelolaan kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam dan taman buru.
Dalam

menetapkan

kebijakan

dengan

mengutamakan

prinsip

keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian fungsi sumberdaya hutan
kawasan panas bumi, maka pemahaman terhadap nilai ekonomi total (Total
economic value) hutan kawasan panas bumi serta kombinasi alokasi pemanfaatan
sumberdaya yang efisien mutlak diperlukan. Konsep nilai ekonomi menurut
Barbier (1989) terdiri dari 5 komponen yaitu nilai manfaat langsung (direct use
value), nilai manfaat tidak langsung (indirect use value), nilai manfaat pilihan

16

(option value), nilai keberadaan (existence value) dan nilai warisan (bequest
value).
Menurut Sanim, (1997) nilai ekonomi dari asset lingkungan hidup dapat
dipilah ke dalam suatu set bagian komponen. Sebagai ilustrasi dalam konteks
penentuan alternatif penggunaan lahan dari hutan konservasi kawasan panas bumi.
Berdasarkan hukum biaya dan manfaat (benefit – cost rule), keputusan untuk
mengembangkan suatu hutan konservasi kawasan panas bumi dapat dibenarkan
apabila manfaat dari pengembangan hutan tersebut lebih besar dari manfaat bersih
konservasi.
2.4

Penelitian Terdahlu yang Relevan
Penelitian yang menggnakan Willingness To Pay Masyarakat Terhadap

Pembayaran Jasa Lingkungan Mata Air Cirahab Desa Curug Goong, Kecamatan
Padarincang, Kabupaten Serang Banten (Merryna, 2009). Adapun hasil penelitian
yang dilakukan adalah sebagai berikt :
1. Persentase responden yang bersedia untuk melakukan pembayaran jasa
lingkungan

sebesar

52

responden

(60%).

Faktor-faktor

yang

mempengaruhi kesediaan atau tidak kesediaan responden terhadap
pembayaran jasa lingkungan sebagai upaya konservasi mata air Cirahab
adalah penelitian terhadap kualitas air, jarak rumah ke sumber air dan
jumlah kebutuhan air.
2. Nilai potensial pemanfaatan jasa lingkungan mata air Cirahab adalah
Rp5.240.617.805 per tahun lebih besar dibandingkan dibandingkan dengan
biaya pemulihan sebesar Rp 544.758.500 per tahun, jika nilai potensial
pemanfaatan jasa lingkungan mata air Cirahab lebih besar dari pada biaya
pemlihannya maka hal itu dapat mengurangi tingkat degradasi terhadap
mata air Cirahab.

17

Tabel 1. Matriks Penelitian terdahulu
Nama Peneliti

Judul Penelitian

Alat
Analisis

Choong-Ki Lee
dan James W.
Mjelde
2010

Vakuasi
of
Ecotourism
Resources sing a
Contingent Valation
Method : The Case
of the Korean DMZ
Valuasi
Ekonomi
Sumberdaya Alam
Taman Hutan Bukit
Suharto Kalimantan
Timur

CVM

Total nilai ekowisata adalah $ 152,8 Milion

TEV

Analisis Willingness
To Pay Masyarakat
Terhadap
Pembayaran
Jasa
Lingkungan Mata
Air Cirahab Desa
Curug Goong, Kec.
Padarincang
Kabupaten Serang,
Banten
Analisis
Valuasi
Ekonomi Investasi
Perkebunan Kelapa
Sawit di Indonesia

WTP

Tahura Bukit Suharto memiliki potensi
sumberdaya alam yang sangat besar dengan
total nilai ekonomi Rp. 141.390.367.264.492,00
yang terdiri dari nilai ekonomi manfaat
langsung, nilai ekonomi manfaat tidak langsung,
nilai ekonomi manfaat pilihan dan nilai
ekonomi kerusakan sumberdaya Alam.
Persentase responden yang bersedia untuk
melakukan pembayaran jasa lingkngan sebesar
52 responden (63%). Faktor-faktor yang
mempengaruhi kesediaan atau tidak kesediaan
membayar oleh responden terhadap pembayaran
jasa lingkungan sebagai upaya konservasi mata
air Cirahab adalah penelitian terhadap mata air,
jarak rumah ke sumber air dan jumlah
kebutuhan air.

Erfan Noor
Yulian
2010

Merryna
2009

Togu
Manurung
2001

Analisis
Finansial

Ringkasan

Berdasarkan analisis finansial, investasi
perkebunan kelapa sawit skala besar (10.000 ha)
layak untuk dilaksanakan karena manfaat yang
diterima oleh investor lebih besar dibandingkan
dengan total biaya yang dikeluarkan. NPV
perkebunan kelapa sawit sebesar US$ 72,62 juta
(internal rate of return sebesar 26,35%)
Penerimaan perusahaan berasal dari hasil
penjualan CPO dan KPO.

Perbedaan antara penelitian terdahulu dengan peneliti yang akan dilakukan
ini adalah jika dalam penelitian terdahulu hanya melihat dari sisi pemanfaat
ene

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Economic Valuation of Natural Resource in Kamojang Geothermal Area of West Java