Terjadinya ketunawismaan Pekerjaan Sosial dan Ketunawismaan

349 persyaratan belum menerima bantuan perumahan dari semua jenis.

2. Terjadinya ketunawismaan

Sulit untuk menentukan secara pasti berapa orang yang tuna wisma di Amerika Serikat. Pertanyaan ini sulit dijawab sebagian karena “ketunawismaan ialah suatu keadaan sementara—buka suatu kondisi yang permanent” NCH, 2002c, dalam DuBois Miley, 2005: 294; “oleh karena itu, perhitungan-perhitungan sewaktu- waktu cenderung memperkirakan rendah jumlah orang- orang yang mengalami ketunawismaan. Juga sulit dijawab karena banyak orang-orang yang tuna wisma tinggal di lokasi-lokasi yang tidak terjangkau oleh para peneliti—di dalam mobil caravan yang bergerak, di dalam perkemahan, atau dengan teman-teman dan para kerabat mereka. Berdasarkan hambatan-hambatan ini, ada beberapa perbedaan pendapat berapa banyak manusia di Amerika Serikat yang tuna wisma. Perhitungan pertama Biro Sensus Amerika Serikat pada tahun 1990 menyimpulkan bahwa ada 178.828 orang tinggal di perumahan- perumahan dan 49.791 orang tinggal di jalan selama periode 24 jam U. S. Department of Commerce, 1990, dalam DuBois Miley, 2005: 294. Kebanyakan pembela hak-hak tuna wisma mengecam gambaran angka-angka di atas yang dianggap memberi perkiraan kasar yang rendah karena sejumlah besar orang terluputkan oleh para petugas sensus dan karena kesalahan asumsi yang mendasarinya yaitu perhitungan “sewaktu-waktu” akan memperlihatkan parahnya ketunawismaan sebagai suatu masalah sosial. Sebaliknya, pada tahun yang sama, para peneliti menyelenggarakan beberapa survei telefon yang anonim terhadap suatu sampel acak yang terdiri dari 1500 responden pada 200 daerah metropolitan terbesar di Amerika Serikat Link, Phelan, Bresnahan, 1995, dalam DuBois Miley, 2005: 294. Kepada para responden ditanyakan apakah mereka pernah menganggap diri mereka sebagai tuna wisma, termasuk Di unduh dari : Bukupaket.com 350 saat-saat mereka barangkali tinggal di rumah teman- teman atau para kerabat. Hasil-hasil studi menunjukkan bahwa 14 persen orang-orang yang disurvei itu telah menjadi tuna wisma pada suatu waktu tertentu, dan 4 persen menunjukkan bahwa mereka telah menjadi tuna wisma pada suatu waktu selama 5 tahun terakhir. Suatu studi tindak lanjut pada tahun 1994 terhadap para responden yang sama mendefinisikan ketunawismaan secara lebih tepat. Apabila tinggal bersama teman-teman atau para kerabat dimasukkan, angka ketunawismaan sepanjang hidup ialah 15 persen, dan angka ketunawismaan selama 5 tahun terakhir ialah 3,5 persen. Secara lebih eksplisit, para peneliti memperkirakan bahwa 6,5 persen telah menjadi tuna wisma secara harfiah pada suatu waktu tertentu dalam kehidupan mereka. Dari kalangan subkelompok ini, orang-orang menjadi tuna wisma rata-rata selama 80 hari, selama mana 66 persen menghabiskan malam di kendaraan- kendaraan pribadi dan 25 persen menghabiskan malam di tenda-tenda, kardus-kardus, atau perumahan-perumahan sementara lainnya. Yang menggegerkan, 41 persen dilaporkan mengalami kelaparan dan 42 persen dilaporkan diperkosa atau dirampok. Berdasarkan studi- studi mereka, para peneliti ini memperkirakan bahwa 12 juta penduduk di Amerika Serikat pernah mengalami ketunawismaan pada suatu waktu di dalam kehidupan mereka. Perkiraan mereka yang 18 juta ialah sesuatu yang mengejutkan apabila tinggal bersama teman-teman atau para kerabat dimasukkan ke dalam perhitungan. Tentu saja, ada kelemahan-kelemahan dari studi ini, termasuk landasan penarikan sampelnya dan besaran sampel, serta fakta bahwa penelitian ini tidak memasukkan daerah-daerah perkotaan di dalam perhitungannya. Seseorang dapat menyimpulkan secara seksama bahwa studi Biro Sensus pada tahun 1990 memperkirakan rendah tingkat ketunawismaan dan bahwa masalah sosial ketunawismaan lebih parah daripada yang dilaporkan. Bagaimana dengan ketunawismaan yang dialami oleh keluarga-keluarga? Keluarga barangkali merupakan lapisan masyarakat yang pertumbuhannya paling cepat Di unduh dari : Bukupaket.com 351 menjadi tuna wisma, mewakili sekitar 40 persen dari orang-orang yang menjadi tuna wisma NCH, 2001, dalam DuBois Miley, 2005: 295. “Bagi keluarga, ketunawismaan sering berarti suatu pergerakan yang membosankan dari satu tempat ke tempat lain: tinggal bersama para kerabat atau teman-teman untuk periode waktu yang singkat, berpindah ke perumahan-perumahan selama 30 hari, dan berpindah lagi” First, Rife, Toomey, 1995: 1333, dalam DuBois Miley, 2005: 295. Secara khusus, apakah menerima bantuan publik atau bekerja purna waktu, keluarga-keluarga yang tuna wisma tidak mampu memperoleh perumahan karena keadaan keuangan mereka yang tidak memadai. Kekerasan dalam rumahtangga juga menyumbang bagi ketunawismaan di kalangan perempuan dan anak-anak. Beberapa studi menunjukkan bahwa sebanyak 25 hingga 50 persen kaum perempuan yang tinggal di rumah-rumah penampungan sementara pernah mengalami situasi- situasi yang penuh dengan penganiayaan NCH, 1999c, dalam DuBois Miley, 2005: 295. Terakhir, ketunawismaan itu sendiri menyumbang bagi kehancuran keluarga. Sebagai contoh, beberapa rumah penampungan sementara bagi keluarga-keluarga memiliki kebijakan-kebijakan yang melarang kaum laki- laki dan anak laki-laki yang sudah besar untuk tinggal di rumah-rumah penampungan sementara, dan beberapa orangtua dapat menempatkan anak-anak mereka di panti asuhan atau menitipkan mereka tinggal bersama terman- teman atau para kerabat untuk menghindarkan diri mereka dari ketidakamanan karena hidup tanpa rumah Shinn Weitzman, 1996, dalam DuBois Miley, 2005: 295. Ketunawismaan secara khusus mendisorganisasikan bagi anak-anak. Suatu tinjauan penelitian memperlihatkan bahwa anak-anak yang tuna wisma mengalami gizi buruk, kemunduran-kemunduran perkembangan, kesehatan yang buruk, kecacatan fisik, pencapaian pendidikan yang buruk, dan masalah-masalah psikologis serta perilaku Rafferty Shinn, 1994, dalam DuBois Di unduh dari : Bukupaket.com 352 Miley, 2005: 295. Shinn dan Weitzman 1996: 118, dalam DuBois Miley, 2005: 295 melaporkan bahwa “data dari The National Health Interview Survey Survei Wawancara Kesehatan Nasional memperlihatkan bahwa anak-anak yang berpindah tiga kali atau lebih cenderung memiliki masalah-masalah emosional dan perilaku, tinggal kelas, dan diskor atau dikeluarkan dari sekolah”. Sering berpindah-pindah sekolah, lama absen dari sekolah, kurangnya tempat yang tenang untuk mengerjakan pekerjaan rumah, atau kekacauan kehidupan di jalan untuk selanjutnya mengganggu pembelajaran. Bagaimana dengan ketunawismaan di kalangan veteran? Sekitar 40 persen kaum laki-laki yang tuna wisma adalah veteran NCH, 1999d, dalam DuBois Miley, 2005: 295. Karena banyak veteran Perang Vietnam, kecenderungan-kecenderungan terbaru memperlihatkan suatu peningkatan ketunawismaan di kalangan para veteran yang tidak memiliki pengalaman perang tetapi menghadapi adanya faktor-faktor resiko yang meningkat seperti penyakit jiwa dan penyalahgunaan obat-obat terlarang. Hasil-hasil dari suatu studi eksploratoris tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh para veteran yang tuna wisma menunjukkan tiga sumber- sumber kesulitan utama yaitu masalah-masalah di bidang kesehatan dan kesehatan mental; masalah-masalah yang berkaitan dengan sumberdaya-sumberdaya seperti kurangnya kesempatan-kesempatan kerja, perumahan, dan transportasi; dan masalah-masalah yang berkaitan dengan sikap-sikap publik umum terhadap mereka seperti penolakan, prasangka buruk, kurang menghargai, dan ketakutan Applewhite, 1997, dalam DuBois Miley, 2005: 295. Dinas Militer memiliki reputasi memberikan berbagai jaminan yang meliputi pendidikan dan magang, memperjuangkan penempatan kaum militer aktif untuk mengisi posisi-posisi jabatan sipil, dan hak-hak seperti perawatan kesehatan, pinjaman-pinjaman untuk uang muka perumahan yang berbunga rendah, dan jaminan pensiun. Di dalam kenyataan, tingginya angka Di unduh dari : Bukupaket.com 353 pengangguran dan terbatasnya pendidikan di kalangan para veteran turut menyumbang bagi merebaknya masalah-masalah ketunawismaan di kalangan para veteran. Bagaimana dengan ketunawismaan di daerah-daerah pedesaan? Suatu survei berskala luas pada tahun 1990 tentang ketunawismaan pedesaan dan perkotaan menunjukkan bahwa orang-orang yang tuna wisma di daerah-daerah pedesaan ialah “orang-orang muda yaitu kaum perempuan lajang atau ibu-ibu yang sudah memiliki anak, sedangkan orang-orang yang berpendidikan lebih tinggi cenderung tidak menjadi orang-orang cacat” First, Rife, Toomey, 1994: 104, dalam DuBois Miley, 2005: 296. Dari kelompok- kelompok yang diidentifikasikan di dalam survei itu, 26,8 persen adalah keluarga-keluarga muda dan 31,2 persen orang-orang yang bekerja paruh waktu atau purna waktu. Penelusuran lebih lanjut terhadap data-data ini menunjukkan perbedaan-perbedaan antara ketunawismaan perkotaan dan pedesaan. Kontras sekali dengan daerah-daerah perkotaan, “banyaknya bantuan- bantuan sosial bagi kaum perempuan perkotaan dan minimnya peran-peran yang dapat dimainkan oleh para penyandang masalah sakit jiwa dan penyalahgunaan obat-obat terlarang di dalam episode-episode kaum perempuan pedesaan” Cummins, First, Toomey, 1998, dalam DuBois Miley, 2005: 297. Akan tetapi, konflik dan keretakan keluarga cenderung memperburuk ketunawismaan baik di daerah-daerah perkotaan maupun di daerah-daerah pedesaan. Para peneliti menyimpulkan bahwa suatu perekonomian pedesaan yang memburuk, meningkatnya angka pengangguran, ketidaksetaraan jender yang nampak jelas pada rendahnya upah bagi kaum perempuan, dan meningkatnya tuntutan akan perumahan yang bersewa rendah menyumbang bagi krisis ketunawismaan di daerah-daerah perkotaan di Amerika Serikat.

3. Respons pemerintah pusat terhadap