Upaya meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Santo Lukas, Sokaraja, Paroki Santo Yosep Purwokerto Timur, Jawa Tengah melalui katekese umat model shared christian praxis.

(1)

viii ABSTRAK

Judul skripsi ini adalah “UPAYA MENINGKATKAN KETERLIBATAN UMAT DALAM HIDUP MENGGEREJA DI STASI SANTO LUKAS, SOKARAJA, PAROKI SANTO YOSEP PURWOKERTO TIMUR, JAWA TENGAH MELALUI KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS”. Judul ini dipilih bertitik tolak dari keprihatinan penulis terhadap umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Jumlah umat Stasi kurang lebih 335 orang namun sebagian besar belum terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Umat yang aktif hanya orang-orang tertentu saja seperti ketua lingkungan, katekis, prodiakon dan sebagian umat yang memiliki semangat melayani, sehingga tidak semua kegiatan yang dilaksanakan di Stasi maupun Lingkungan mendapat dukungan penuh dari umat. Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk melihat bagaimana pemahaman umat Stasi Santo Lukas Sokaraja mengenai hidup menggereja serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dan mengetahui bentuk kegiatan yang mampu meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja.

Bertolak dari tujuan penulisan, penulis memperoleh data dengan mengadakan penelitian. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner dan wawancara kepada umat Stasi Santo Lukas Sokaraja. Hasil penelitian menyatakan sebagian besar umat sangat setuju bahwa kesaksian akan Yesus Kristus diwujudkan lewat tindakan nyata sehari-hari. Mereka juga setuju bahwa semua umat Stasi Santo Lukas Sokaraja aktif dalam kegiatan gerejani.

Gereja merupakan persekutuan orang-orang yang beriman kepada Kristus sebagai perwujudan karya Allah yang konkret. Gereja berdiri kokoh atas dasar Kristus sebagai Kepala dan Allah yang berkarya memanggil umat-Nya untuk diberikan tanggung jawab dan kebebasan. Umat Katolik yang telah dibaptis dan menerima sakramen Penguatan atau Krisma diharapkan mampu untuk mengambil bagian dalam tugas perutusan Yesus Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja. Ardhisubagyo mengartikan hidup menggereja sebagai pengabdian sukarela untuk mengambil bagian dalam lima tugas Gereja yaitu koinonia, kerygma, martyria, liturgia dan diakonia. Dengan demikian kaum awam berperan aktif dalam kehidupan dan kegiatan Gereja.

Berdasarkan keprihatinan di atas, penulis mengusulkan katekese umat model Shared Christian Praxis (SCP) sebagai usaha untuk meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Penulis memilih katekese umat model SCP karena katekese ini dianggap dapat membantu umat Stasi Santo Lukas Sokaraja untuk semakin aktif terlibat dalam kegiatan hidup menggereja, bukan hanya hadir saja tetapi ikut ambil bagian dalam kegiatan. Tema umum yang diangkat dalam usulan program ini adalah “Panggilan untuk meningkatkan hidup menggereja umat mengikuti Kristus dengan Dasar Iman”. Kesimpulan dari skripsi ini bahwa keterlibatan dan keikutsertaan umat dalam hidup menggereja sangat diharapkan. Keterlibatan umat tidak hanya aktif dalam Perayaan Ekaristi dan koor saja tetapi umat diharapkan dapat terlibat aktif dalam setiap tugas dan peranan Gereja secara keseluruhan sehingga kegiatan hidup menggereja di Stasi Santo Lukas Sokaraja semakin maju dan berkembang.


(2)

ix ABSTRACT

The title of this thesis is the “EFFORTS TO INCREASE THE INVOLVEMENT OF THE FAITHFUL IN PARTICIPATING CHURCH LIFE IN SAINT LUKE STATION, SOKARAJA, PARISH SAINT JOSEPH EAST PURWOKERTO, CENTRAL JAVA THROUGH PEOPLE CATECHESIS BY USING SHARED CHRISTIAN PRAXIS MODEL". This title choosen was based on writer's concern on the people faithful in the Saint Luke Station Sokaraja. The current number of people in Station approximately 335 people, but most of them have not been involved in the activities of church activities. Those who are active are only some such as neighborhood leaders, catechists, Acolytes and most people who have a passion to serve. Not all activities carried out in the Station, have not received full support from them. The purpose of this paper is to see how the understanding of the faithful of the Station Santo Luke Sokaraja about church life and its application in everyday life and to know the activities that can improve the involvement of people in church living.

Based on the purpose of writing, the writer obtained the data by conducting a research. The study was conducted by distributing questionnaires and interviews to them of Santo Luke Sokaraja Station. The result of the study shows that the majority of people strongly agree that the testimony of Jesus Christ is realized through daily actions. They also agree that all them of Santo Luke Sokaraja Station are active in ecclesial activities.

The church is a fellowship of those who believe in Christ as the embodiment of God's work in concrete. The Church stands firmly on the foundation of Christ as the Head and the work of God who calls His people to have the responsibility and freedom. Catholics who have been baptized and received the sacrament of Confirmation are expected to be able to take part in the mission of Jesus Christ as Priest, Prophet and King. Ardhisubagyo interpret church life is a voluntary service to be taken part in the five duties of the Church. These are koinonia, Kerygma, martyria, liturgy and diakonia. Thus the laity play an active role in the life and activity of the Church.

Based on the concerns above, the writer proposes a model community catechesis Christian Shared Praxis (SCP) as an effort to increase the involvement of people in participating church life at Station Santo Luke Sokaraja. The writer choose community catechesis SCP model because catechesis is thought to help people Station Santo Luke Sokaraja for getting actively involved in the participating church life, not only to be present but to take part in activities. The common theme raised in the proposed program is "Calling the faithful to follow in faith Christ Basis of Faith". The conclusion of this paper is that the involvement and participation of people participating church life is expected. Community involvement is not in the celebration of the Eucharist and the choir only but to be actively involved in each task and role of the Church as a whole so that the activities participating church life at Station Santo Luke Sokaraja will be growing.


(3)

UPAYA MENINGKATKAN KETERLIBATAN UMAT

DALAM HIDUP MENGGEREJA DI STASI SANTO LUKAS, SOKARAJA, PAROKI SANTO YOSEP PURWOKERTO TIMUR, JAWA TENGAH MELALUI KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

Oleh:

Agnes Jajar Anur Umastuti NIM: 111124017

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2016


(4)

SKRIPSI

T]PAYA MENINGKATKAI\ KETERLIBATAFI UMAT

DALAM IIIDUP MENGGER&IA DI STASI SAI{TO LUKAS, SOX,q.RAJA,

PAROKI SAIITO YOSEP PURWOKERTO TIMUR, JAWA TtrNGAII MELALTII KATEKESE UMAT MODEL SIA&ED CHRISTAN PRAruS

o!eb:

.::

AS res J*jar Anur':Umastuti

NIM: 1t1D4Al7

Telah disetujui oleh:

Pambimbing


(5)

SKRIPSI

UPAYA MENINGKATKAN KETERLIBATAN UMAT

DALAM HIDUP MENGGEREJA DI STASI SANTO LUKAS, SOKARAJA, PAROKI SANTO YOSEP PURWOKERTO TIMUR, JAWA TENGAH

MELALUI KATEKESE UMAT MODEL SIARED CHRISTAN PRAXIS

Ketua Sekretaris Anggota

Tanda Tgtg,utt

.

..i:{y/....

L

?i5

Dipersiapkan dan ditulis oleh

Agnes Jajar Aaur Umastuti

NIM:

llln40fi

Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 21 Maret 2016

dan dinyatakan mernenuhi sYara{

SUSUNAN PA}{ITIA PENGtrff

Nama

Drs. F.X. Herr'atnc'Wana Siulung' S"J-, M.Ed.

Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd. 1. Drs. h{. Sumamo Ds., S.J., M.A.

2. Drs. L. Bambang Hendarto Y., M.Hum.

3. P. Banyu Dewa HS, S.Ag., tuI.Si.

Yogyakart a,

2l

}l4larct 201 6 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan


(6)

iv

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan untuk:

ayahku (Bernadus Sudarisman), ibuku (Anna Tatik Haryati),

kembaranku (Maria Jajar Anur Arsuma), adikku (Cicilia Novia Tri Risdiana) dan umat Stasi Santo Lukas, Sokaraja.


(7)

v

MOTTO

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8)


(8)

saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini

tidak memuat karya atau bagian karya dari orang lain, kecuali seperti yang telah

disebutkan dalam'kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layakrya karya tulis

Yogyakarta,

2l

Maret 2016

Penulis,

dl-J

Agnes Jajar Anur Umastuti


(9)

KARYA ILN{IAH UNTUK KEPENTINGAN AKAI}EMIS

Yang bertanda tangan

di

bawah

ini,

mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Agnes Jajar AnurUmastuti

NIM

: ll11o40l7

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, penulis memberikan wewenang bagi Perpustakaan Universitas Sanata Dhanna karya ilmiah penulis yang berjudul

..UPAYA MENINGKATKAN KETERLIBATAN

UMAT DALAM

HIDUP

MENGGEREJA

DI

STASI SANTO LUKAS, SOKARAJA, PAROKI SANTO YOSEP PURWOKERTO TIMUR, JAWA TENGAH MELALUI KATEKESE

UMAT

MODEL SHARED CHNSTAN PRAXIS' beserta perangkat yang

diperlukan (bila ada).

Dengan demikian penulis memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangfualan data, mendit6i6usikan secara terbatas, dan mempublikasikannya

di

intemet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin maupun memberikan royalti kepada penulis, selama tetap mencantumkan rutma saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini penulis buat dengan sebenarnya.

Yogyakarta

2l

Maret 2016 Yang menyatakan,

dl,+

Agnes Jajar Anur Umastuti


(10)

viii ABSTRAK

Judul skripsi ini adalah “UPAYA MENINGKATKAN KETERLIBATAN UMAT DALAM HIDUP MENGGEREJA DI STASI SANTO LUKAS, SOKARAJA, PAROKI SANTO YOSEP PURWOKERTO TIMUR, JAWA TENGAH MELALUI KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS”. Judul ini dipilih bertitik tolak dari keprihatinan penulis terhadap umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Jumlah umat Stasi kurang lebih 335 orang namun sebagian besar belum terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Umat yang aktif hanya orang-orang tertentu saja seperti ketua lingkungan, katekis, prodiakon dan sebagian umat yang memiliki semangat melayani, sehingga tidak semua kegiatan yang dilaksanakan di Stasi maupun Lingkungan mendapat dukungan penuh dari umat. Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk melihat bagaimana pemahaman umat Stasi Santo Lukas Sokaraja mengenai hidup menggereja serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dan mengetahui bentuk kegiatan yang mampu meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja.

Bertolak dari tujuan penulisan, penulis memperoleh data dengan mengadakan penelitian. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner dan wawancara kepada umat Stasi Santo Lukas Sokaraja. Hasil penelitian menyatakan sebagian besar umat sangat setuju bahwa kesaksian akan Yesus Kristus diwujudkan lewat tindakan nyata sehari-hari. Mereka juga setuju bahwa semua umat Stasi Santo Lukas Sokaraja aktif dalam kegiatan gerejani.

Gereja merupakan persekutuan orang-orang yang beriman kepada Kristus sebagai perwujudan karya Allah yang konkret. Gereja berdiri kokoh atas dasar Kristus sebagai Kepala dan Allah yang berkarya memanggil umat-Nya untuk diberikan tanggung jawab dan kebebasan. Umat Katolik yang telah dibaptis dan menerima sakramen Penguatan atau Krisma diharapkan mampu untuk mengambil bagian dalam tugas perutusan Yesus Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja. Ardhisubagyo mengartikan hidup menggereja sebagai pengabdian sukarela untuk mengambil bagian dalam lima tugas Gereja yaitu koinonia, kerygma, martyria, liturgia dan diakonia. Dengan demikian kaum awam berperan aktif dalam kehidupan dan kegiatan Gereja.

Berdasarkan keprihatinan di atas, penulis mengusulkan katekese umat model Shared Christian Praxis (SCP) sebagai usaha untuk meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Penulis memilih katekese umat model SCP karena katekese ini dianggap dapat membantu umat Stasi Santo Lukas Sokaraja untuk semakin aktif terlibat dalam kegiatan hidup menggereja, bukan hanya hadir saja tetapi ikut ambil bagian dalam kegiatan. Tema umum yang diangkat dalam usulan program ini adalah “Panggilan untuk meningkatkan hidup menggereja umat mengikuti Kristus dengan Dasar

Iman”. Kesimpulan dari skripsi ini bahwa keterlibatan dan keikutsertaan umat dalam hidup menggereja sangat diharapkan. Keterlibatan umat tidak hanya aktif dalam Perayaan Ekaristi dan koor saja tetapi umat diharapkan dapat terlibat aktif dalam setiap tugas dan peranan Gereja secara keseluruhan sehingga kegiatan hidup menggereja di Stasi Santo Lukas Sokaraja semakin maju dan berkembang.


(11)

ix ABSTRACT

The title of this thesis is the “EFFORTS TO INCREASE THE

INVOLVEMENT OF THE FAITHFUL IN PARTICIPATING CHURCH LIFE IN SAINT LUKE STATION, SOKARAJA, PARISH SAINT JOSEPH EAST PURWOKERTO, CENTRAL JAVA THROUGH PEOPLE CATECHESIS BY USING SHARED CHRISTIAN PRAXIS MODEL". This title choosen was based on writer's concern on the people faithful in the Saint Luke Station Sokaraja. The current number of people in Station approximately 335 people, but most of them have not been involved in the activities of church activities. Those who are active are only some such as neighborhood leaders, catechists, Acolytes and most people who have a passion to serve. Not all activities carried out in the Station, have not received full support from them. The purpose of this paper is to see how the understanding of the faithful of the Station Santo Luke Sokaraja about church life and its application in everyday life and to know the activities that can improve the involvement of people in church living.

Based on the purpose of writing, the writer obtained the data by conducting a research. The study was conducted by distributing questionnaires and interviews to them of Santo Luke Sokaraja Station. The result of the study shows that the majority of people strongly agree that the testimony of Jesus Christ is realized through daily actions. They also agree that all them of Santo Luke Sokaraja Station are active in ecclesial activities.

The church is a fellowship of those who believe in Christ as the embodiment of God's work in concrete. The Church stands firmly on the foundation of Christ as the Head and the work of God who calls His people to have the responsibility and freedom. Catholics who have been baptized and received the sacrament of Confirmation are expected to be able to take part in the mission of Jesus Christ as Priest, Prophet and King. Ardhisubagyo interpret church life is a voluntary service to be taken part in the five duties of the Church. These are koinonia, Kerygma, martyria, liturgy and diakonia. Thus the laity play an active role in the life and activity of the Church.

Based on the concerns above, the writer proposes a model community catechesis Christian Shared Praxis (SCP) as an effort to increase the involvement of people in participating church life at Station Santo Luke Sokaraja. The writer choose community catechesis SCP model because catechesis is thought to help people Station Santo Luke Sokaraja for getting actively involved in the participating church life, not only to be present but to take part in activities. The common theme raised in the proposed program is "Calling the faithful to follow in faith Christ Basis of Faith". The conclusion of this paper is that the involvement and participation of people participating church life is expected. Community involvement is not in the celebration of the Eucharist and the choir only but to be actively involved in each task and role of the Church as a whole so that the activities participating church life at Station Santo Luke Sokaraja will be growing.


(12)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan karena kasih dan penyertaan-Nya penulis dapat

menyelesaikan skripsi yang berjudul “UPAYA MENINGKATKAN KETERLIBATAN UMAT DALAM HIDUP MENGGEREJA DI STASI SANTO LUKAS, SOKARAJA, PAROKI SANTO YOSEP PURWOKERTO TIMUR, JAWA TENGAH MELALUI KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS”.

Skripsi ini ditulis atas dasar keprihatinan penulis terhadap keterlibatan umat dalam kegiatan hidup menggereja di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Salah satu penyebab kurang terlibatnya umat dalam kegiatan hidup menggereja yaitu karena kurang adanya kesadaran dalam diri umat itu sendiri.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat selesai karena bantuan dari banyak pihak. Pada kesempatan ini penulis dengan setulus hati mengucapkan terima kasih kepada:

1. Romo Drs. M. Sumarno Ds., S.J., M.A., selaku dosen pembimbing utama, yang telah memberi perhatian, memberi sumbangan pemikiran kepada penulis dan bersedia meluangkan waktu untuk membimbing penulis dengan kesabaran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

2. Bapak Drs. L. Bambang Hendarto Y., M.Hum., selaku dosen pembimbing akademik dan selaku dosen penguji II, yang telah membimbing penulis selama menempuh studi di IPPAK dan berkenan menjadi dosen penguji skripsi.


(13)

xi

3. Bapak P. Banyu Dewa HS, S.Ag., M.Si., selaku dosen penguji III, yang berkenan menguji penulis.

4. Romo Drs. F.X. Heryatno Wono Wulung, SJ selaku Kaprodi dan Bapak Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd., selaku Wakaprodi, yang telah bersedia memberikan dukungan, perhatian, motivasi kepada penulis selama berproses di Prodi IPPAK.

5. Segenap Staf Dosen dan Karyawan Prodi IPPAK-JIP-FKIP-USD, Yogyakarta yang telah mendidik dan membimbing penulis selama menempuh studi. 6. Bapak Petrus Bambang Purnama Eka selaku Ketua Stasi Santo Lukas

Sokaraja yang telah mengijinkan dan berkenan membantu dalam pelaksanaan penelitian serta memberikan informasi mengenai umat di Stasi Santo Lukas, Sokaraja.

7. Umat Stasi Santo Lukas Sokaraja yang telah bersedia membantu penulis dalam mengumpulkan data dengan mengisi kuesioner penelitian dan wawancara.

8. Bapak, Ibu, kakak dan adikku yang selalu mengingatkan dan memberi semangat kepada penulis selama mengerjakan skripsi ini.

9. Keluarga besar simbah Sukirman Hadiwiyono dan simbah Atmo Harjono yang selalu mendukung, menyemangati penulis sampai pada penyelesaian penulisan skripsi ini.

10. Teman-teman mahasiswa/mahasiswi khususnya angkatan 2011 yang telah memotivasi dan menyemangati penulis selama menempuh studi di IPPAK.


(14)

sflnangat kepada penulis dalam mengerjakan skripsi ini.

12. Sahabatku (Sr. Festina Asnawati Mendrofa, Sr. Margareta Danawati, Sr. Emiliana Takndare, Yesica Fridiani Claudia Dasti, Rosiana Wahyuningsih, Kristina Priska Adventa, Stefani Sinta Windriantari, Clarasati Isdianingtyas,

Stefanie Bui Moron, Theresia Sri Rahayq Agnes Fajat, Ade Mardiana dan

Elisabet

Riil

Rejeki) yang selalu mengingatkan, setia menemani dan memberikan semangat kepada penulis.

13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang selama ini

dengan tulus telah memberikan bantuan dan dukungan kepada penulis.

Penulis menyadari keterbatasan pengetahuan dan pengalaman dalam penyusunan skripsi, sehingga masih banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis

mengharapkan saran dan kritik dari pembaca untuk memperbaiki skripsi ini. Akhir

kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Yogyakarta, 21 Maret 2016

Penulis

dl,f

Agnes Jajar Anur Umastuti


(15)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……….. i

HALAMAN PERSETUJUAN………... ii

HALAMAN PENGESAHAN……… iii

HALAMAN PERSEMBAHAN………. iv

HALAMAN MOTTO………. v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………. vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI………... vii

ABSTRAK……….. viii

ABSTRACT……….. ix

KATA PENGANTAR……… x

DAFTAR ISI………... xiii

DAFTAR TABEL………... xviii

DAFTAR SINGKATAN……… xix

BAB I. PENDAHULUAN……….. 1

A.Latar Belakang……… 1

B.Rumusan Permasalahan………... 3

C.Tujuan Penulisan………. 3

D.Manfaat Penulisan………... 4

E. Metode Penulisan……… 4

F. Sistematika Penulisan……….. 4

BAB II. PENELITIAN TENTANG KEGIATAN HIDUP MENGGE- REJA UMAT DI STASI SANTO LUKAS SOKARAJA PAROKI SANTO YOSEP PURWOKERTO TIMUR, JAWA TENGAH……….. 6

A.Situasi Stasi Santo Lukas Sokaraja………. 6

1. Situasi Geografis Stasi Santo Lukas Sokaraja……… 7

2. Situasi Umat di Stasi………... 7

3. Situasi Kegiatan Hidup Menggereja Stasi……….. 8

a. Kegiatan-kegiatan Gerejani………... 9


(16)

xiv

B.Penelitian mengenai Kegiatan Hidup Menggereja Umat di

Stasi Santo Lukas Sokaraja………. 16

1. Latar Belakang Penelitian………... 17

2. Rumusan Penelitian……… 18

3. Tujuan Penelitian……… 18

4. Metodologi Penelitian………. 19

a. Metode Penelitian……….. 19

b. Tempat dan Waktu Penelitian……… 20

c. Populasi dan Sampel Penelitian………. 20

d. Instrumen Penelitian……….. 21

e. Variabel Penelitian………. 21

5. Hasil dan Pembahasan Penelitian tentang Kegiatan Hidup Menggereja Umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja, Paroki Santo Yosep Purwokerto Timur, Jawa Tengah………….. 22

a. Identitas Responden………... 23

b. Pemahaman tentang Hidup Menggereja……… 24

c. Keterlibatan Umat dalam Kegiatan Hidup Menggereja………... 27

d. Bentuk-bentuk Kegiatan Pendukung Perkembangan Penghayatan Iman Umat……… 32

e. Harapan dan Usulan Tema Terkait dengan Kegiatan Hidup Menggereja………. 36

6. Kesimpulan Penelitian……… 39

a. Identitas Responden………... 39

b. Pemahaman tentang Hidup Menggereja……… 39

c. Keterlibatan Umat dalam Hidup Menggereja………… 41

d. Bentuk-bentuk Kegiatan Pendukung Perkembangan Penghayatan Iman Umat……… 42

e. Harapan dan Usulan Tema terkait dengan Kegiatan Hidup Menggereja………. 43

BAB III. KEHIDUPAN MENGGEREJA UMAT MELALUI KATE- KESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS (SCP)………... 45


(17)

xv

1. Arti Gereja………. 46

2. Model-model Gereja……….. 47

a. Gereja sebagai Institusi………. 47

b. Gereja sebagai Persekutuan Mistik………... 48

c. Gereja sebagai Sakramen………... 49

d. Gereja sebagai Umat Allah………... 49

e. Gereja sebagai Pewarta………. 50

3. Hidup Menggereja………. 50

a. Arti Hidup Menggereja………. 51

b. Dasar-dasar Hidup Menggereja………. 52

B. Gambaran Umum Katekese……….. 56

1. Pengertian Katekese………... 57

2. Tujuan Katekese………... 58

3. Tugas Katekese……….... 58

a. Katekese memberitakan Sabda Allah, mewartakan Kristus……….. 59

b. Katekese mendidik umat beriman………... 59

c. Katekese mengembangkan Gereja……….. 60

4. Kekhasan Katekese……….. 61

5. Isi Katekese……….. 62

C.Gambaran Katekese Umat……… 63

1. Pengertian Katekese Umat………... 64

2. Tujuan Katekese Umat………... 65

3. Kekhasan Katekese Umat………... 66

D.Katekese Umat Model Shared Christian Praxis…………... 67

1. Komponen Utama dalam Shared Christian Praxis…….. 68

a. Shared………... 68

b. Christian………. 69

c. Praxis………... 70

2. Langkah-langkah Katekese Model Shared Christian Praxis………... 71


(18)

xvi

a. Langkah I: Mengungkapkan Pengalaman Hidup

Peserta……….. 72

b. Langkah II: Mendalami Pengalaman Hidup Peserta... 73

c. Langkah III: Menggali Pengalaman Iman Kristiani… 73 d. Langkah IV: Menerapkan Iman Kristiani dalam Situasi Peserta Konkret……… 74

e. Langkah V: Mengusahakan suatu Aksi Konkret……. 75

3. Catatan Khusus Shared Christian Praxis………... 76

a. Variasi dan urutan langkah……….. 76

b. Pemilihan waktu dalam Shared Christian Praxis…... 77

c. Lingkungan untuk Shared Christian Praxis………… 77

E. Peranan Katekese Umat Model Shared Christian Praxis (SCP) dalam Kegiatan Hidup Menggereja Umat………….. 79

1. Peran Shared Christian Praxis (SCP) dalam Koinonia (Paguyuban)………. 79

2. Peran Shared Christian Praxis (SCP) dalam Kerygma (Pewartaan)………... 80

3. Peran Shared Christian Praxis (SCP) dalam Martyria (Kesaksian Hidup)……… 81

4. Peran Shared Christian Praxis (SCP) dalam Liturgia (Ibadat)………. 82

5. Peran Shared Christian Praxis (SCP) dalam Diakonia (Pelayanan)………... 83

BAB IV. USULAN PROGRAM KATEKESE UNTUK MENING- KATKAN KETERLIBATAN UMAT DALAM HIDUP MENGGEREJA DI STASI SANTO LUKAS SOKARAJA….. 85

A.Latar Belakang Penyusunan Program Katekese untuk Meningkatkan Keterlibatan Umat dalam Hidup Menggereja………... 85

B. Alasan Pemilihan Tema dan Tujuan Katekese untuk Meningkatkan Keterlibatan Umat dalam Hidup Menggereja………... 87

C.Tema dan Tujuan……….. 88

D.Penjabaran Program……….. 89

E. Petunjuk Pelaksanaan Program………. 94

F. Contoh Persiapan Katekese Umat Model Shared Christian Praxis (SCP)………. 95


(19)

xvii

BAB V. PENUTUP……… 110

A.Kesimpulan………... 110

B.Saran……….... 111

DAFTAR PUSTAKA………. 114

LAMPIRAN……… 116

Lampiran 1: Surat Penelitian untuk Ketua Stasi………...…….. (1)

Lampiran 2: Surat Keterangan telah Melaksanakan Penelitian.. (2)

Lampiran 3: Contoh Kuesioner ………..…………... (3)

Lampiran 4: Contoh Isian Kuesioner………... (7)

Lampiran 5: Daftar Pertanyaan Wawancara...……… (13)

Lampiran 6: Hasil Wawancara dengan Umat Stasi Santo Lukas Sokaraja……….. (14)

Lampiran 7: Daftar Umat Stasi St. Lukas Sokaraja…………... (18)

Lampiran 8: Cerita “Lilin Harapan”………..……… (21)

Lampiran 9: Lagu “Bapa yang Setia”………... (22)


(20)

xviii

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Variabel Penelitian……… 22 Tabel 2 : Identitas Responden (N=40)………. 23 Tabel 3 : Pemahaman tentang Hidup Menggereja (N=40)…………... 24 Tabel 4 : Keterlibatan Umat dalam Kegiatan Hidup Menggereja

(N=40)……….. 28 Tabel 5 : Bentuk-bentuk Kegiatan Pendukung Perkembangan

Penghayatan Iman Umat (N=40)………... 33 Tabel 6 : Harapan dan Usulan Tema Terkait dengan Kegiatan Hidup


(21)

xix

DAFTAR SINGKATAN A. Singkatan Kitab Suci

Seluruh singkatan dari Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (Dipersembahkan kepada Umat Katolik Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam Rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal. 8.

B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja

AG : Ad Gentes, Dekrit Konsili Vatikan II tentang Kegiatan Misioner Gereja, 7 Desember 1965.

CT : Catechesi Tradendae, Anjuran Apostolik Yohanes Paulus II kepada para Uskup, klerus dan segenap umat beriman tentang katekese masa kini, 16 Oktober 1979.

SC : Sacrosanctum Concilium, Konstitusi tentang Liturgi suci.

C. Singkatan Lain Art : Artikel Bdk : Bandingkan

BKSN : Bulan Kitab Suci Nasional Bpk : Bapak


(22)

xx Dsb : dan sebagainya

Hal : Halaman

HUT RI : Hari Ulang Tahun Republik Indonesia Jabar : Jawa Barat

KK : Kepala Keluarga Komkat : Komisi Kateketik

KWI : Konferensi Waligereja Indonesia No : Nomor

OMK : Orang Muda Katolik PMI : Palang Merah Indonesia

PPL PAK : Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik Paroki

Puskat : Pusat Kateketik RI : Republik Indonesia RT : Rukun Tetangga RW : Rukun Warga

SCP : Shared Christian Praxis s/d : sampai dengan

St : Santo

WIB : Waktu Indonesia bagian Barat WK : Wanita Katolik


(23)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Umat merupakan anggota Gereja yang memiliki peran penting dalam perkembangan Gereja. Gereja didirikan untuk memperluas Kerajaan Allah di seluruh dunia demi kemuliaan Allah Bapa, supaya semua orang menerima buah dari penebusan yang menyelamatkan dan supaya mereka benar-benar terarah pada Kristus.

Cara yang dapat dilakukan oleh umat dalam menanggapi panggilan Allah ialah terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang ada dalam Gereja, misalnya saja kegiatan-kegiatan yang rutin dilaksanakan di Stasi maupun Lingkungan, seperti kegiatan pendalaman iman, latihan koor, pertemuan pengurus Stasi, dsb.

Kekuatan terpenting dalam pembangunan kehidupan menggereja di zaman sekarang ini dan juga di masa yang akan datang terletak dalam keikutsertaan dan keterlibatan umat sendiri. Oleh karena itu demi memperkembangkan iman akan Yesus Kristus serta demi perkembangan kegiatan itu sendiri, umat dituntut untuk terlibat secara aktif dalam hidup menggereja. Keikutsertaan dan keterlibatan umat sangat dibutuhkan dalam karya kerasulan di tengah-tengah umat. Hidup menggereja diartikan sebagai pengabdian sukarela untuk mengambil bagian dalam lima tugas Gereja yaitu koinonia, kerygma, martyria, liturgia dan diakonia (Ardhisubagyo, 1987: 22)..

Umat sebagai bagian dari Gereja diharapkan memiliki kesadaran untuk melakukan berbagai kegiatan kemajuan iman mereka dan demi perkembangan


(24)

Gereja. Kesadaran ini menuntut umat sendiri agar memiliki kepribadian yang matang dan dewasa, sehingga mendorong mereka untuk menyalurkan semangat kerja yang tinggi dan mampu memainkan peranannya dalam kehidupan menggereja dan kehidupan sosial. Kesemuanya itu perlu dilandasi dengan semangat Kristus serta dijiwai sikap patuh dan cinta kasih terhadap gembala Gereja sehingga diharapkan dapat membuahkan hasil yang berlimpah.

Dalam perkembangan iman Gereja menuntut kedewasaan iman umatnya. Umat sebagai pelaku perkembangan Gereja diharapkan mampu memperkembangkan imannya lewat karya kepada Gereja dan sesama. Perkembangan zaman menuntut umat agar lebih kritis dan kreatif dalam bertindak dan menentukan pilihan. Oleh karena itu umat perlu memiliki kesadaran untuk mau terlibat dalam kegiatan hidup menggereja, sehingga kegiatan-kegiatan gerejani semakin maju dan berkembang.

Salah satu stasi yang ada di Paroki Santo Yosep, Purwokerto Timur adalah Stasi Santo Lukas, Sokaraja. Stasi sendiri memiliki 2 Lingkungan yaitu Lingkungan Yohanes Paulus, Kalibagor dan Lingkungan Santa Maria, Sokaraja dengan jumlah umat 335 jiwa. Dari jumlah umat tersebut umat dewasa tercatat 292 orang.

Begitu banyak kegiatan yang sering dilakukan baik di Stasi maupun di Lingkungan. Namun, sering kali umat Stasi Santo Lukas Sokaraja kurang menyadari akan pentingnya keterlibatan mereka dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan tersebut sehingga banyak umat yang belum terlibat dalam kegiatan-kegiatan hidup menggereja.


(25)

Menanggapi kenyataan dengan melihat persoalan yang ada, maka perlu adanya pembaharuan diberbagai segi, diantaranya perlu adanya koordinasi dari pihak Gereja dan umat agar bersama-sama mencari solusi yang tepat sehingga kegiatan-kegiatan gerejani berjalan dengan didukung keterlibatan umat Stasi. Melihat kenyataan yang terjadi maka penulis mengajak umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja untuk mempelajari dan memahami akan keterlibatan atau keikutsertaan umat dalam proses pendewasaan iman. Untuk itu penulis mengambil judul “UPAYA MENINGKATKAN KETERLIBATAN UMAT DALAM HIDUP MENGGEREJA DI STASI SANTO LUKAS, SOKARAJA, PAROKI SANTO YOSEP, PURWOKERTO TIMUR, JAWA TENGAH MELALUI KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS”.

B. Rumusan Permasalahan

1. Bagaimana umat Stasi Santo Lukas Sokaraja memahami hidup menggereja umat dan mewujudkannya dalam keterlibatan hidup menggereja?

2. Apa makna keterlibatan umat dalam kehidupan menggereja?

3. Bentuk kegiatan seperti apa yang mampu meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja?

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui bagaimana umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja memahami hidup menggereja umat dan perwujudannya dalam keterlibatan hidup menggereja. 2. Mengetahui makna keterlibatan umat dalam kehidupan menggereja.

3. Mengetahui berbagai bentuk kegiatan yang diharapkan mampu meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja.


(26)

D. Manfaat Penulisan

1. Menambah pengetahuan yang lebih mendalam bagi penulis tentang makna hidup menggereja umat.

2. Memberikan sumbangan pemahaman baru kepada umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja tentang katekese umat model Shared Christian Praxis (SCP).

3. Memberikan sumbangan pemikiran bagi Stasi Santo Lukas Sokaraja dalam meningkatkan semangat pelayanan bagi umat.

E. Metode Penulisan

Metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode deskriptif analisis, di mana dalam penulisan skripsi ini penulis mengumpulkan data melalui penyebaran kuesioner dan melaksanakan wawancara dengan beberapa umat yang dianggap mengetahui banyak tentang berbagai kegiatan yang ada di Stasi Santo Lukas Sokaraja serta studi pustaka dari buku-buku dan situasi konkret kehidupan umat Kristiani dewasa ini.

F. Sistematika Penulisan

Sebagai gambaran umum tentang hal apa saja yang akan dibahas di dalam penulisan skripsi ini, berikut adalah sistematika penulisan skripsi ini:

Bab I akan menguraikan tentang latar belakang permasalahan, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.


(27)

Bab II akan menguraikan tentang gambaran situasi umat di Stasi, penelitian tentang kegiatan hidup menggereja umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja dan pembahasan penelitian.

Bab III akan menguraikan tentang hidup menggereja umat yang mencakup arti Gereja, model-model Gereja, hidup menggereja. Gambaran umum katekese yang mencakup pengertian katekese, tujuan katekese, tugas katekese, kekhasan katekese, isi katekese. Gambaran katekese umat yang mencakup pengertian katekese umat, tujuan katekese umat, kekhasan katekese umat. Katekese umat model Shared Christian Praxis (SCP) yang mencakup komponen utama dalam SCP, langkah-langkah katekese model SCP, catatan khusus SCP. Tentang peranan katekese umat model SCP dalam kegiatan hidup menggereja.

Bab IV akan menguraikan latar belakang usulan katekese untuk meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja, alasan pemilihan tema, tema dan tujuan, penjabaran program, petunjuk pelaksanaan program dan contoh Satuan Pertemuan.

Bab V berisi kesimpulan dan saran dari penulis sehubungan dengan usaha meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Santo Lukas Sokaraja.


(28)

BAB II

PENELITIAN TENTANG KEGIATAN HIDUP MENGGEREJA UMAT DI STASI SANTO LUKAS SOKARAJA

PAROKI SANTO YOSEP PURWOKERTO TIMUR, JAWA TENGAH

Gereja dapat berkembang karena adanya kesadaran umat untuk terlibat dalam setiap kegiatan hidup menggereja yang ada. Hal ini tentunya sama bagi Gereja yang ada di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Stasi membutuhkan keterlibatan umat untuk dapat menjalankan kegiatan-kegiatan hidup menggereja, karena tanpa keterlibatan mereka kegiatan yang sudah terjadwal tidak akan berjalan dengan baik. Faktor yang mempengaruhi keterlibatan umat di Stasi tentunya tergantung situasi umat di Lingkungan. Berbeda-beda situasi umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja karena Stasi ini terdiri dari 2 (dua) Lingkungan, tentunya ada perbedaan situasi umatnya.

A. Situasi Stasi Santo Lukas, Sokaraja

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis, Stasi Santo Lukas Sokaraja merupakan bagian dari Paroki Santo Yosep Purwokerto Timur yang terletak di Kecamatan Sokaraja. Letak gereja cukup strategis karena berada dipinggir jalan raya dan transportasi cukup terjangkau sehingga umat tidak kesulitan untuk dapat sampai ke Stasi ini. Sebagian besar umat stasi yang hidup menetap di Purwokerto berasal dari daerah luar, namun hal itu tidak menghambat mereka untuk saling mengakrabkan diri satu sama lain. Dalam banyak kesempatan mereka tidak melupakan saling menyapa dan saling membantu sehingga dapat tercipta suatu keharmonisan hidup bersama.


(29)

1. Situasi Geografis Stasi Santo Lukas, Sokaraja

Stasi Santo Lukas merupakan bagian dari Paroki Santo Yosep Purwokerto Timur, Keuskupan Purwokerto. Letak gereja Stasi Santo Lukas sendiri berada di Kecamatan Sokaraja Tengah dan cukup strategis karena berada dipinggir jalan raya.

Letak geografis Stasi Santo Lukas Sokaraja secara pemerintahan berada di Kecamatan Sokaraja Tengah, dengan batas-batas sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Purwokerto Timur, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kalimanah, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Patikraja, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Banyumas. Adapun letak geografis Stasi secara gereja dengan batas-batas sebelah Utara berbatasan dengan Lingkungan Pamijen, sebelah Barat berbatasan dengan Lingkungan Karangnanas, sebelah Timur berbatasan dengan Jompo Paroki Purbalingga dan sebelah Selatan berbatasan dengan Kaliori Paroki Banyumas.

Stasi Santo Lukas terdiri dari 2 Lingkungan yaitu Lingkungan Yohanes Paulus terletak di Kecamatan Kalibagor dan Lingkungan Santa Maria terletak di Kecamatan Sokaraja. Pembagian Lingkungan disesuaikan dengan daerah geografis dimana dari setiap Kecamatan tersebut lokasi rumah umat saling berdekatan satu dengan yang lain [Lampiran 6: (15)].

2. Situasi Umat di Stasi Santo Lukas, Sokaraja

Umat stasi berdasarkan data tahun 2012, berjumlah 335 orang. Umat yang berada di Lingkungan Yohanes Paulus Kalibagor sebanyak 33 KK dengan jumlah 118 orang. Dari 33 KK tersebut jumlah orang dewasa 106 orang dan anak-anak 12 orang. Umat yang berada di Lingkungan Santa Maria Sokaraja sebanyak


(30)

72 KK dengan jumlah 217 orang. Dari 72 KK tersebut jumlah orang dewasa 186 orang dan anak-anak 31 orang. Umat di masing-masing Lingkungan tidak semua terlibat dalam kegiatan hidup menggereja, baik yang dilaksanakan di Lingkungan maupun di Stasi. Hal tersebut terjadi karena kurangnya kesadaran umat untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Oleh karena itu berpengaruh dengan keterlibatan mereka dalam kegiatan hidup menggereja [Lampiran 6: (15)].

Umat yang terlibat dalam kegiatan gerejani hanya orang-orang tertentu saja. Biasanya mereka yang memiliki semangat untuk melayani dan dipandang dapat menjadi panutan bagi umat yang lain, seperti prodiakon, ketua Lingkungan, katekis dan sebagian umat yang memang ingin melayani. Hal di atas terlihat saat ada kegiatan sosialisasi bahan pendalaman iman Prapaskah, pelaksanaan pendalaman iman, sosialisasi pendalaman bulan Kitab Suci, pelaksanaan pendalaman Kitab Suci yang berlangsung di lingkungan-lingkungan hanya merekalah yang rajin mengikuti kegiatan tersebut. Umat yang hadir dalam pendalaman iman dan pendalaman Kitab Suci hanya sedikit sekitar 8-10 orang saja.

3. Situasi Kegiatan Hidup Menggereja Stasi Santo Lukas, Sokaraja

Dalam pelaksanaan karya pastoral bagi umat, Gereja turut memberi perhatian. Stasi mewadahi umat dengan mengadakan berbagai kegiatan dengan tujuan agar lewat kegiatan-kegiatan tersebut umat mampu menghayati imannya dalam menanggapi situasi dan kondisi zaman sekarang.

Pelaksanaan kegiatan melibatkan semua umat yang ada di Stasi Santo Lukas. Namun, ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan di masing-masing


(31)

Lingkungan. Kegiatan yang dilaksanakan di setiap Lingkungan tidak jauh berbeda antara Lingkungan yang satu dengan yang lain.

Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan adalah kegiatan-kegiatan gerejani, kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang diharapkan dapat memupuk persaudaraan baik sesama umat beragama maupun umat yang beragama lain.

a. Kegiatan-kegiatan Gerejani

Dalam pelaksanaan hidup menggereja, umat diharapkan mendukung dengan mau terlibat di dalamnya. Keikutsertaan dan keterlibatan mereka tidak hanya sebatas “hadir atau ada”, melainkan umat diharapkan terlibat dalam kegiatan-kegiatan demi pengembangan Gereja, Stasi, Lingkungan dan masyarakat dengan memberi hati sepenuhnya demi terlaksananya kegiatan-kegiatan tersebut. Peran serta umat sungguh mempengaruhi terlaksananya dan perkembangan kegiatan itu sendiri, sehingga Gereja sangat mengharapkan umat untuk terlibat. Kegiatan-kegiatan gerejani yang dilaksanakan umat stasi adalah sosialisasi bahan pendalaman iman Prapaskah, pelaksanaan Pendalaman Iman di Lingkungan/Blok, Doa Rosario, Misa Jumat Pertama, sosialisasi pendalaman bulan Kitab Suci, pelaksanaan pendalaman Kitab Suci di Lingkungan/Blok, Koor dan pertemuan pengurus Stasi.

1) Sosialisasi Bahan Pendalaman Iman Prapaskah

Sosialisasi bahan pendalaman iman Prapaskah dilaksanakan setiap tahun pada awal bulan Maret. Sosialisasi ini tidak dilaksanakan di Stasi tetapi dipusatkan di Paroki. Peserta yang hadir dalam kegiatan ini kurang lebih 25


(32)

sampai 30 orang. Mereka adalah calon pemandu yang akan bertugas di Stasi maupun Lingkungan saat pendalaman Iman berlangsung. Umat Stasi yang mewakili terdiri dari kedua Lingkungan yang ada. Kegiatan sosialisasi berlangsung pukul 09.00-13.00 WIB dan mengambil waktu pada hari Minggu setelah selesai perayaan Ekaristi. Bentuk kegiatan yang diadakan setelah tim Kitab Suci Paroki mengikuti sosialisasi dari Komisi Kitab Suci Keuskupan kemudian menyampaikan hasilnya kepada para calon pemandu di Stasi dan Lingkungan. Tujuannya supaya para calon pemandu Stasi maupun Lingkungan mampu melaksanakan tugas di Lingkungan masing-masing [Lampiran 6: (16)].

2) Pelaksanaan Pendalaman Iman di Lingkungan/Blok

Pendalaman Iman dilaksanakan setiap bulan Maret sampai April di masing-masing Lingkungan atau Blok. Peserta yang hadir dari setiap Lingkungan sekitar 8 sampai 10 orang. Kegiatan pendalaman iman berlangsung selama satu setengah jam (19.30-21.00 WIB). Pendalaman iman dilaksanakan di rumah umat, setiap minggunya tempat berpindah-pindah tidak menetap di rumah salah satu umat saja. Bentuk kegiatan yang diadakan biasanya diawali dengan lagu pembukaan, doa pembukaan, pengantar dari pemandu, bacaan Kitab Suci, sharing pengalaman, peneguhan dari pemandu, diakhiri dengan doa dan lagu penutup. Tujuan dari kegiatan ini agar umat mempunyai semangat bertobat untuk menanggapi cinta kasih Yesus yang telah rela menderita sengsara sampai wafat di salib. Kesan umat dari kegiatan ini mereka kurang berminat mengikuti pendalaman iman sehingga dari setiap pertemuan hanya orang tertentu saja yang hadir [Lampiran 6: (16)].


(33)

3) Doa Rosario

Doa Rosario dilaksanakan setiap bulan Mei dan Oktober di Lingkungan masing-masing pukul 18.00 WIB. Umat yang hadir dari setiap Lingkungan kurang lebih 45 orang, terdiri dari anak-anak, kaum muda/i, bapak-bapak dan ibu-ibu. Bentuk kegiatan doa Rosario diadakan satu bulan penuh setiap hari dari rumah ke rumah. Pelaksanaan doa diawali dengan lagu pembukaan dan dipimpin oleh salah satu umat (biasanya tuan rumah). Renungan setiap peristiwa dibacakan secara bergantian oleh OMK yang ditunjuk. Doa Salam Maria didoakan secara bergilir tiap orang. Pada akhir bulan Maria dan bulan Rosario selalu ditutup dengan misa. Kesan umat dari kegiatan doa ini sebagian besar umat berminat mengikutinya sehingga dari hari ke hari selama doa berlangsung banyak umat yang hadir [Lampiran 6: (17)].

4) Misa Jumat Pertama

Misa Jumat Pertama dilaksanakan secara rutin, sekali dalam satu bulan di gereja Stasi. Umat yang hadir dalam setiap pelaksanaan misa ini tidak banyak seperti misa hari Minggu biasa, jumlahnya antara 15 sampai 25 saja. Meskipun demikian, misa Jumat Pertama tetap dilaksanakan rutin setiap bulannya. Petugas misanya sendiri tidak terjadwal, sehingga yang bertugas adalah umat yang biasa hadir mengikuti misa. Misa dilaksanakan pada hari Jumat Pertama dalam setiap bulan, pukul 18.00-19.00 WIB dan dipimpin oleh romo paroki atau romo yang lain (romo pembantu). Kesan umat dengan adanya misa Jumat Pertama ini kurang mendukung karena sebagian besar umat pulang bekerja sudah sore sehingga tidak sempat lagi untuk mengikuti misa [Lampiran 6: (17)].


(34)

5) Sosialisasi Pendalaman Bulan Kitab Suci

Sosialisasi pendalaman bulan Kitab Suci dilaksanakan setiap tahun pada bulan Agustus. Sosialisasi ini tidak dilaksanakan di Stasi tetapi dipusatkan di Paroki. Peserta yang hadir dalam kegiatan ini kurang lebih 30 sampai 35 orang. Mereka adalah calon pemandu yang akan bertugas di Stasi maupun Lingkungan saat pendalaman Kitab Suci berlangsung. Umat Stasi yang mewakili terdiri dari kedua Lingkungan yang ada. Kegiatan sosialisasi berlangsung pukul 09.00-13.00 WIB dan mengambil waktu pada hari Minggu setelah selesai perayaan Ekaristi. Bentuk kegiatan yang diadakan setelah tim Kitab Suci Paroki mengikuti sosialisasi dari Komisi Kitab Suci Keuskupan kemudian menyampaikan hasilnya kepada para calon pemandu di Stasi dan Lingkungan. Tujuannya supaya para calon pemandu Stasi maupun Lingkungan juga mengetahui apa yang menjadi kesepakatan mengenai BKSN tahun tersebut baik mengenai tema, harapan-harapan yang mau dicapai, dsb [Lampiran 6: (17)].

6) Pendalaman Kitab Suci di Lingkungan/Blok

Pendalaman Kitab Suci dilaksanakan setiap bulan September di masing-masing Lingkungan atau Blok. Peserta yang hadir dari setiap Lingkungan sekitar 8 sampai 10 orang. Kegiatan pendalaman Kitab Suci berlangsung selama satu setengah jam (19.30-21.00 WIB). Bentuk kegiatan yang diadakan biasanya diawali dengan lagu pembukaan, doa pembukaan, pengantar dari pemandu, bacaan Kitab Suci, sharing pengalaman, peneguhan dari pemandu, diakhiri dengan doa dan lagu penutup. Tujuan dari kegiatan ini agar umat semakin mendalami Sabda Tuhan dan melalui Sabda-Nya mereka dapat memaknai peristiwa kehidupan sehari-hari sehingga peristiwa hidup yang telah dilalui


(35)

memiliki nilai-nilai yang dapat dijadikan pegangan dalam hidup. Kesan umat dari kegiatan ini mereka kurang berminat mengikuti pendalaman Kitab Suci sehingga dari setiap pertemuan hanya orang tertentu saja yang hadir [Lampiran 6: (17)].

7) Bertugas koor

Umat Stasi memiliki tugas utama untuk berlatih dan mempersiapkan nyanyian dalam memeriahkan Perayaan Ekaristi bila mendapat tugas koor di gereja. Di Stasi Santo Lukas terdapat lima kelompok koor sehingga setiap minggu Perayaan Ekaristi berlangsung petugas koor selalu bergantian. Lima kelompok tersebut yaitu koor Lingkungan Yohanes Paulus, koor Lingkungan Santa Maria, koor WK (Wanita Katolik), koor OMK dan koor Gregorius (bapak-bapak). Masing-masing kelompok biasanya berlatih sendiri-sendiri sesuai dengan tugas yang dijadwalkan. Kelompok koor tidak hanya mendapatkan tugas pada Perayaan Ekaristi hari Minggu saja tetapi juga mendapat tugas untuk memeriahkan misa hari-hari besar, seperti Natal dan Paskah. Jumlah anggota koor dari masing-masing kelompok cukup banyak, kurang lebih 20-30 orang artinya umat banyak yang mau ikut dan terlibat dalam kegiatan ini [Lampiran 6: (18)].

8) Pertemuan Pengurus Stasi

Pertemuan pengurus dilaksanakan dalam rangka persiapan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan maupun rencana kegiatan yang akan dilaksanakan bersama.

Pertemuan pengurus Stasi Santo Lukas Sokaraja dilaksanakan satu kali dalam sebulan. Dalam setiap pelaksanaan kegiatan ini, pengurus stasi yang hadir kurang lebih 10 orang. Hal-hal yang dibahas dalam pertemuan menyangkut


(36)

laporan kegiatan dari koordinator masing-masing bidang dan evaluasi kegiatan baik yang terlaksana maupun yang tidak terlaksana. Dengan adanya laporan dan evaluasi ini pengurus stasi dapat melihat hal-hal baik yang dapat dipertahankan dan juga memperbaiki hal-hal yang masih kurang. Untuk itu dalam pertemuan pengurus stasi ini dibutuhkan keterbukaan dari setiap bidang sehingga harapan yang dicita-citakan dapat terwujud demi perkembangan Stasi Santo Lukas Sokaraja [Lampiran 6: (18)].

b. Kegiatan Sosial Kemasyarakatan

Umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja tidak hanya terlibat dalam kegiatan-kegiatan gerejani, baik dalam lingkup Paroki, Stasi maupun Lingkungan, melainkan keterlibatan umat juga diwujudkan dalam kebersamaan dan keterlibatan dengan mengikuti kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Keterlibatan dan keikutsertaan umat dalam berbagai kehidupan, merupakan salah satu usaha umat untuk semakin memahami makna kebersamaan dalam hidup. Kebersamaan yang terjalin diharapkan tidak hanya sebatas dengan umat katolik saja tetapi juga dengan umat yang lain. Dengan demikian tumbuh juga rasa saling menghargai satu sama lain. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya: Aksi sosial, keterlibatan dalam kepengurusan RT, terlibat dalam Pesta Kemerdekaan RI dan donor darah.

1) Aksi sosial

Salah satu wujud keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat yakni dengan mengadakan aksi sosial. Aksi sosial biasanya dilakukan oleh umat stasi


(37)

saat menjelang Natal dan Paskah. Dalam pelaksanaan kegiatan ini umat stasi membagikan sembako seperti beras, minyak, gula, dsb kepada orang-orang yang membutuhkan. Sembako yang diberikan biasanya berasal dari umat stasi sendiri dan jika ada kekurangan panitia kegiatan menambahkan dengan membeli barang-barang yang masih dibutuhkan. Sasaran yang diberi sembako tidak hanya sebatas umat stasi yang membutuhkan tetapi juga dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan disekitar stasi. Pelaksanaan aksi sosial ini dikoordinator oleh ibu-ibu WK (Wanita Katolik) stasi. Kegiatan aksi sosial dilaksanakan dengan harapan umat katolik semakin termotivasi untuk lebih peka terhadap situasi yang ada di dalam masyarakat dengan mau terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan [Lampiran 6: (18)].

2) Kepengurusan RT

Umat Katolik tidak hanya terlibat dalam kegiatan-kegiatan gerejani saja tetapi juga ikut ambil bagian dalam kegiatan kemasyarakatan, seperti menjadi pengurus RT/RW. Kedudukan umat katolik dalam kepengurusan tersebut menduduki peran penting antara lain menjadi ketua RT, sekretaris, bendahara, dsb. Dengan mendapatkan peran penting tersebut menandakan bahwa umat katolik dipercaya oleh warga sekitar [Lampiran 6: (18)].

3) Pesta Kemerdekaan RI

Dalam memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia umat turut serta dalam memperingati hari bersejarah yang setiap tahun dirayakan dan diperingati oleh seluruh warga Indonesia. Dalam peringatan hari kemerdekaan


(38)

tersebut, berbagai kegiatan dan perlombaan dilaksanakan di setiap desa. Biasanya umat katolik ikut ambil bagian dalam perlombaan yaitu lomba olah raga. Dalam pelaksanaan lomba tersebut setiap RT mengirim perwakilan untuk bertanding di tingkat RW. Disamping itu pula umat terlibat dalam mempersiapkan syukuran pesta kemerdekaan RI, misalnya menyiapkan tempat untuk berkumpul bersama dan ikut menyiapkan makanan yang akan dinikmati bersama (biasanya ibu-ibu) [Lampiran 6: (18)].

4) Donor darah

Donor darah merupakan kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan oleh umat Stasi Santo Lukas Sokaraja. Pelaksanaan kegiatan ini yaitu saat menjelang hari pesta nama pelindung Gereja. Peserta donor darah adalah umat katolik sendiri. Dalam setiap pelaksanaan kegiatan ini, umat yang bersedia menyumbangkan darahnya kurang lebih 25 orang. Panitia kegiatan bekerja sama dengan PMI Kabupaten Banyumas. Darah yang telah terkumpul dikelola oleh PMI dan dapat dipakai tidak hanya untuk umat katolik saja, namun berlaku untuk umum. Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan kepedulian umat katolik kepada orang-orang sakit yang membutuhkan bantuan khususnya bantuan darah [Lampiran 6: (18)].

B. Penelitian mengenai Kegiatan Hidup Menggereja Umat di Stasi Santo Lukas, Sokaraja

Penulis sebelum melaksanakan penelitian terlebih dahulu melakukan persiapan. Adapun yang menjadi persiapan penelitian penulis meliputi latar


(39)

belakang penelitian, rumusan penelitian, tujuan penelitian, dan metodologi penelitian. Penelitian ini diadakan untuk mengetahui secara nyata bagaimana keterlibatan umat dalam kegiatan hidup menggereja di Stasi Santo Lukas, Sokaraja. Penelitian diadakan pada 13-14 Oktober 2015. Hasil penelitian kemudian akan dianalisis untuk mendapatkan gambaran nyata keterlibatan umat dalam kehidupan menggereja.

1. Latar Belakang Penelitian

Kegiatan gerejani merupakan kegiatan yang dapat membantu umat dalam menghidupi iman kristianinya. Melalui keterlibatan umat dalam kegiatan-kegiatan gerejani mereka semakin menyadari akan tanggung jawabnya sebagai anggota Gereja dalam memajukan kehidupan menggereja. Peranan ini akan semakin tampak apabila setiap umat memiliki kesadaran dalam dirinya masing-masing. Kegiatan-kegiatan gerejani tidak akan berkembang dengan baik tanpa keterlibatan umatnya.

Di zaman yang semakin modern ini orang ditantang untuk semakin maju dalam pola pikir maupun kehidupannya. Dinamika kehidupan yang semakin beragam dan tantangan hidup yang berliku merupakan keadaan yang dihadapi oleh orang zaman sekarang. Namun justru di tengah kehidupan yang serba modern dan penuh tantangan itu peran umat dalam keterlibatan dalam kegiatan menggereja akan dituntut.

Kegiatan yang diadakan dalam hidup menggereja merupakan salah satu wadah bagi umat untuk mewujudkan iman kristianinya melalui keterlibatan


(40)

mereka. Ketika umat menyadari bahwa hidup mati kegiatan yang dilaksanakan gereja sangat tergantung pada keterlibatan mereka maka dengan sendirinya mereka pun semakin merasakan manfaat dari kegiatan itu.

Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat mengetahui bagaimana pemahaman umat mengenai hidup menggereja dan seberapa besar keterlibatan umat dalam kegiatan hidup menggereja.

2. Rumusan Penelitian

Bertolak dari latar belakang di atas, penulis mencoba merumuskan permasalahan sebagai berikut:

a. Bagaimana umat stasi memahami atau mengerti hidup menggereja?

b. Bagaimana umat Stasi St. Lukas Sokaraja terlibat dalam hidup menggereja? c. Bentuk-bentuk kegiatan pendukung perkembangan penghayatan iman umat

stasi?

d. Bentuk kegiatan seperti apa yang diharapkan mampu meningkatkan keterlibatan umat stasi dalam hidup menggereja?

3. Tujuan Penelitian

Bertolak dari rumusan permasalahan di atas, tujuan penelitian ini dilaksanakan antara lain:

a. Mengetahui pemahaman umat stasi mengenai hidup menggereja.

b. Mengetahui keterlibatan umat di Stasi St. Lukas Sokaraja dalam hidup menggereja.


(41)

c. Mengetahui bentuk kegiatan yang mendukung perkembangan penghayatan iman umat di Stasi St. Lukas Sokaraja.

d. Mengetahui bentuk kegiatan yang diharapkan mampu meningkatkan keterlibatan umat stasi dalam hidup menggereja.

4. Metodologi Penelitian a. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan memanfaatkan metode wawancara serta pengamatan untuk mendapatkan data penelitian serta permasalahan yang terjadi di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Penulis mengadakan wawancara kepada beberapa umat stasi. Moleong (2011: 6) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll. Secara holistik dan dengan deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

Penulis memilih penelitian ini karena metode penelitian kualitatif memandang manusia sebagai instrumen utama dan mengutamakan proses dari pada hasil penelitian (Moleong, 2011: 11). Melalui penelitian kualitatif penulis dapat mengenal orang (subyek) secara pribadi. Latar belakang alamiah yang mengharuskan penulis terlibat langsung dalam proses penelitian menjadi suatu tantangan tersendiri untuk berproses bersama responden dimana penelitian diadakan dan menyesuaikan diri dengan kenyataan-kenyataan yang ada di lapangan.


(42)

b. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dengan menyebarkan kuesioner dan wawancara dilaksanakan pada 13-14 Oktober 2015 di Lingkungan Santa Maria Sokaraja dan Lingkungan Yohanes Paulus Kalibagor, Paroki Santo Yosep Purwokerto Timur. Penulis mendatangi satu persatu umat (door to door) karena penulis hanya mengambil beberapa umat saja untuk dijadikan responden. Sedangkan wawancara dilakukan untuk melengkapi data dan dilaksanakan bersamaan dengan penyebaran kuesioner (beberapa responden saja) yang dianggap mengetahui banyak tentang Stasi Santo Lukas Sokaraja.

c. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2014: 61). Penelitian ini mengambil populasi umat (orang dewasa) Stasi Santo Lukas Sokaraja dengan jumlah 292 orang.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2014: 62). Penelitian ini mengambil sampel umat Stasi Santo Lukas Sokaraja dengan jumlah 40 orang dan menggunakan simple random sampling. Alasan peneliti mengambil 40 orang sebagai responden karena dari masing-masing Lingkungan hanya 30 umat yang aktif. Simple random sampling adalah pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu (Sugiyono, 2014: 64). Penulis menyebar kuesioner sebanyak 40 dan semua kuesiner itu kembali lagi.


(43)

d. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan suatu alat yang digunakan mengumpulkan data (Moleong, 2011: 168). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto Suharsimi, 1997: 128-129). Jenis kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup. Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih (Arikunto Suharsimi, 1997: 128-129). Dalam penelitian ini kuesioner diajukan kepada umat Stasi Santo Lukas Sokaraja.

e. Variabel Penelitian

Variabel adalah gejala-gejala yang menunjukkan variasi, baik dalam jenis maupun dalam tingkatan (Sutrisno Hadi, 2004: 250). Yang menjadi fokus penelitian dalam penelitian ini yaitu seberapa besar keterlibatan umat dalam kegiatan hidup menggereja di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Adapun variabel yang diungkap dalam penelitian ini adalah identitas responden, pemahaman tentang hidup menggereja, keterlibatan umat dalam hidup menggereja, bentuk kegiatan pendukung perkembangan penghayatan iman umat. Masing-masing dari bagian penelitian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:


(44)

Tabel 1: Variabel Penelitian

No Variabel-variabel No. Item Jumlah

(1) (2) (3) (4)

1 Identitas Responden 1, 2, 3 3 2 Pemahaman tentang Hidup

Menggereja

4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13

10 3 Keterlibatan Umat dalam Hidup

Menggereja

14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27

14 4 Bentuk-bentuk Kegiatan

Pendukung Perkembangan Penghayatan Iman Umat

28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36

9

5 Harapan dan Usulan Tema terkait dengan Kegiatan Hidup Menggereja

37, 38, 39, 40, 41, 42, 43 7

Total 43

5. Hasil dan Pembahasan Penelitian tentang Kegiatan Hidup Menggereja Umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja, Paroki Santo Yosep Purwokerto Timur, Jawa Tengah

Bagian ini akan dipaparkan laporan dan pembahasan hasil penelitian. Laporan penelitian akan disajikan dalam bentuk tabel-tabel. Data yang diperoleh sesuai dengan variabel yang telah ditentukan yaitu meliputi identitas responden, pemahaman tentang hidup menggereja, keterlibatan umat dalam hidup menggereja, bentuk-bentuk kegiatan pendukung perkembangan penghayatan iman umat, harapan dan tema terkait dengan kegiatan hidup menggereja.

Dalam pengolahan data ini, prosentase suara responden diperoleh dengan cara membagi frekuensi suara masuk (F) dengan jumlah responden keseluruhannya (N) kemudian dikalikan dengan 100% atau dengan rumus:

F

x 100 N


(45)

Berikut ini disampaikan hasil pengolahan data dari 40 kuesioner yang disajikan dalam bentuk tabel, disertai dengan pembahasan dari hasil penelitian.

a. Identitas Responden

Pada identitas responden hal-hal yang akan diungkap berkenaan dengan jenis kelamin, umur dan asal Lingkungan. Berikut ini adalah data yang berkaitan dengan identitas responden.

1) Hasil Penelitian

Tabel 2: Indentitas Responden (N=40) No

Item

Pernyataan Frekuensi Persen

(%)

(1) (2) (3) (4)

1 Jenis Kelamin a. Perempuan b. Laki-laki 19 21 47,5 52,5 2 Umur

a. 15-25 b. 26-35 7 4 17,5 10

c. 36-45 8 20

d. 46-55 e. >55 15 6 37,5 15 3 Asal Lingkungan

a. Lingkungan Santa Maria Sokaraja b. Lingkungan Yohanes Paulus Kalibagor

20 20

50 50

2) Pembahasan Penelitian

Dari tabel dua, identitas responden dari segi jenis kelamin, yaitu dengan jumlah 19 (47,5%) adalah perempuan dan 21 (52,5%) adalah laki-laki. Identitas responden dari segi umur, yaitu 15-25 tahun ada 7 (17,5%), 26-35 tahun ada 4 (10%), 36-45 tahun ada 8 (20%), 46-55 tahun ada 15 (37,5%) dan di atas 55 tahun ada 6 (15%).


(46)

Identitas responden dari segi Lingkungan tempat asal, yaitu dengan jumlah 20 (50%) umat berasal dari Lingkungan Santa Maria Sokaraja dan Lingkungan Yohanes Paulus Kalibagor ada 20 (50%) umat.

Kenyataan di atas menunjukkan bahwa lebih banyak responden laki-laki yang mengisi kuesioner dibandingkan dengan responden yang perempuan dan responden yang berumur 46-55 tahun cukup mendominasi dalam pengisian kuesioner. Dari penggolongan Lingkungan tempat asal responden berjumlah sama yaitu 20 (50%).

b. Pemahaman tentang Hidup Menggereja

Bagian ini memaparkan sejauhmana pemahaman umat tentang hidup menggereja. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut ini:

1) Hasil Penelitian

Tabel 3: Pemahaman tentang Hidup Menggereja (N=40) No

Item Pernyataan

Jumlah Umat

Persen (%)

(1) (2) (3) (4)

4 Kata Gereja memiliki arti sebagai persekutuan orang-orang yang beriman kepada Kristus.

a. Sangat Setuju b. Setuju

c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

25 15 0 0 0 62,5 37,5 0 0 0 5 Tugas Gereja adalah mengajar,

menguduskan dan memimpin. a. Sangat Setuju

b. Setuju c. Ragu-ragu 17 21 1 42,5 52,5 2,5


(47)

(1) (2) (3) (4) d. Kurang Setuju

e. Tidak Setuju

1 0

2,5 0 6 Gereja mengajarkan kebenaran-kebenaran

kepada anggotanya sehingga mereka sampai pada keselamatan yang abadi.

a. Sangat Setuju 29 72,5

b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

11 0 0 0 27,5 0 0 0 7 Hidup menggereja merupakan kegiatan yang

menampakkan iman akan Yesus Kristus. a. Sangat Setuju

b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

22 18 0 0 0 55 45 0 0 0 8 Gereja menjalankan hidup menggerejanya

didasari oleh semangat Yesus Kristus sendiri selama hidup-Nya.

a. Sangat Setuju b. Setuju

c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

24 16 0 0 0 60 40 0 0 0 9 Gereja memiliki lima tugas pokok yaitu

koinonia/paguyuban, kerygma/pewartaan, martyria/kesaksian hidup, liturgia/ibadat dan diakonia/pelayanan.

a. Sangat Setuju b. Setuju

c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

23 17 0 0 0 57,5 42,5 0 0 0 10 Pewartaan Sabda Allah oleh Gereja bukan

hanya sekedar informasi mengenai Allah, melainkan sungguh-sungguh menghadirkan Allah di tengah dunia.

a. Sangat Setuju b. Setuju

c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

28 11 1 0 0 70 27,5 2,5 0 0 11 Kesaksian akan Yesus Kristus kita wujudkan


(48)

(1) (2) (3) (4) a. Sangat Setuju

b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

22 18 0 0 0 55 45 0 0 0 12 Hidup menggereja tidak hanya dilakukan di

lingkungan gereja saja, namun juga di lingkungan masyarakat.

a. Sangat Setuju b. Setuju

c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

24 16 0 0 0 60 40 0 0 0 13 Sikap kita terhadap hidup menggereja

sebagai umat katolik melaksanakan dengan sadar, tulus dan tanggungjawab sebagai anggota gereja, sehingga iman akan Allah semakin hari semakin berkembang.

a. Sangat Setuju b. Setuju

c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

19 21 0 0 0 47,5 52,5 0 0 0

2) Pembahasan Penelitian

Dari tabel 3, diketahui sejauh mana pemahaman umat tentang Gereja. Umat menyatakan sangat setuju ada 25 (62,5%) umat dan setuju ada 15 (37,5%) umat, bahwa Gereja sebagai persekutuan orang yang beriman kepada Kristus. Tugas Gereja adalah mengajar, menguduskan dan memimpin, atas pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 17 (42,5%) umat, setuju 21 (52,5%) umat, ragu-ragu ada 1 (2,5%) umat dan kurang setuju ada 1 (2,5%) umat. Ada 29 (72,5%) umat menyatakan sangat setuju dan setuju ada 11 (27,5%) umat, bahwa Gereja mengajarkan kebenaran-kebenaran kepada anggotanya.

Dari segi pemahaman tentang hidup menggereja, umat menyatakan sangat setuju ada 22 (55%) umat dan setuju ada 18 (45%) umat, bahwa hidup


(49)

menggereja merupakan kegiatan yang menampakkan iman akan Yesus Kristus. Ada 24 (60%) umat menyatakan sangat setuju dan setuju ada 16 (40%) umat, bahwa Gereja menjalankan hidup menggerejanya didasari oleh semangat Yesus Kristus selama hidup-Nya.

Umat menyatakan sangat setuju ada 23 (57,5%) dan setuju ada 17 (42,5%), bahwa Gereja memiliki lima tugas pokok yaitu koinonia, kerygma, martyria, liturgia dan diakonia.

Pewartaan Sabda Allah oleh Gereja bukan hanya sekedar informasi, melainkan sungguh-sungguh menghadirkan Allah di dunia, terhadap pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 28 (70%), setuju ada 11 (27,5%) dan ragu-ragu ada 1 (2,5%).

Umat menyatakan sangat setuju ada 22 (55%) dan setuju ada 18 (45%), bahwa kesaksian akan Yesus Kristus diwujudkan lewat tindakan nyata sehari-hari. Hidup menggereja tidak hanya dilakukan di lingkungan gereja, namun juga di lingkungan masyarakat. Dari pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 24 (60%) dan setuju ada 16 (40%).

Umat menyatakan sangat setuju ada 19 (47,5%) dan setuju ada 21 (52,5%), bahwa sikap sebagai umat katolik terhadap hidup menggereja melaksanakan dengan sadar, tulus dan tanggungjawab.

c. Keterlibatan Umat dalam Kegiatan Hidup Menggereja

Bagian ini akan memaparkan variabel tentang keterlibatan umat Stasi St. Lukas Sokaraja dalam hidup menggereja dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini:


(50)

1) Hasil Penelitian

Tabel 4: Keterlibatan Umat dalam Kegiatan Hidup Menggereja (N=40) No

Item Pernyataan

Jumlah Umat

Persen (%)

(1) (2) (3) (4)

14 Umat katolik adalah mereka yang selalu bersemangat dalam mengikuti kegiatan-kegiatan gerejani.

a. Sangat Setuju b. Setuju

c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

11 21 1 6 1 27,5 52,5 2,5 15 2,5 15 Hidup menggereja dapat diwujudkan oleh

siapa pun, kapan pun dan di mana pun orang atau sekelompok orang yang menampakkan imannya kepada Kristus.

a. Sangat Setuju b. Setuju

c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

15 24 0 1 0 37,5 60 0 2,5 0 16 Kegiatan-kegiatan gerejani yang dilakukan

selama ini sungguh membantu Anda dalam menghayati akan hidup menggereja.

a. Sangat Setuju b. Setuju

c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

14 24 2 0 0 35 60 5 0 0 17 Peranan umat dalam hidup menggereja yaitu

sebagai penerus Gereja di masa depan. a. Sangat Setuju

b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

16 24 0 0 0 40 60 0 0 0 18 Keterlibatan umat dalam Gereja pada

umumnya sama dengan peranan kaum awam yaitu sebagai warga Gereja yang tidak ditahbiskan atau orang-orang yang beriman Kristen yang oleh pembaptisan menjadi anggota Tubuh Kristus.


(51)

(1) (2) (3) (4) b. Setuju

c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

24 5 1 0 60 12,5 2,5 0 19 Sebagai umat katolik saya sudah terlibat

dalam kegiatan liturgi. a. Sangat Setuju b. Setuju

c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

9 27 1 3 0 22,5 67,5 2,5 7,5 0 20 Sebagai umat beriman kita perlu menjaga

nama baik keluarga dan masyarakat. a. Sangat Setuju

b. Setuju c. Ragu-ragu 29 11 0 72,5 27,5 0 d. Kurang Setuju

e. Tidak Setuju

0 0

0 0 21 Umat yang aktif adalah mereka yang selalu

terlibat diberbagai kegiatan gerejani. a. Sangat Setuju

b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

10 24 5 1 0 25 60 12,5 2,5 0 22 Semua umat Stasi Santo Lukas Sokaraja

aktif dalam kegiatan gerejani. a. Sangat Setuju

b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

5 13 9 11 2 12,5 32,5 22,5 27,5 5 23 Kegiatan-kegiatan gerejani di Stasi Santo

Lukas Sokaraja membantu saya dalam menghayati iman.

a. Sangat Setuju b. Setuju

c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

15 21 4 0 0 37,5 52,5 10 0 0 24 Kegiatan menggereja membantu saya dalam

pembentukan karakter. a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu 13 25 2 32,5 62,5 5


(52)

(1) (2) (3) (4) d. Kurang Setuju

e. Tidak Setuju

0 0

0 0 25 Kesibukan kerja menghambat keaktifan saya

dalam mengikuti kegiatan hidup menggereja. a. Sangat Setuju

b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

1 10 1 20 8 2,5 25 2,5 50 20 26 Kegiatan hidup menggereja di Stasi dapat

mempererat relasi umat antar Lingkungan. a. Sangat Setuju

b. Setuju c. Ragu-ragu 18 21 1 45 52,5 2,5 d. Kurang Setuju

e. Tidak Setuju

0 0

0 0 27 Saya senang mengikuti kegiatan gerejani.

a. Sangat Setuju b. Setuju

c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

14 23 2 1 0 35 57,5 5 2,5 0

2) Pembahasan Penelitian

Dari tabel 4, dapat diketahui sejauh mana keterlibatan umat Stasi Santo Lukas Sokaraja dalam kegiatan hidup menggereja. Umat dengan jumlah 11 (27,5%) menyatakan sangat setuju, jumlah 21 (52,5%) umat menyatakan setuju, bahwa umat katolik adalah mereka yang selalu bersemangat dalam mengikuti kegiatan-kegiatan gerejani, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 1 (2,5%) umat, kurang setuju ada 6 (15%) umat dan tidak setuju ada 1 (2,5%) umat.

Hidup menggereja dapat diwujudkan oleh siapa pun, kapan pun dan di mana pun orang atau sekelompok orang yang menampakkan imannya kepada Kristus, atas pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 15 (37,5%) dan menyatakan setuju ada 24 (60%) umat sedangkan yang menyatakan kurang setuju ada 1 (2,5%) umat.


(53)

Dari tabel yang sama diperoleh juga data 14 (35%) umat menyatakan sangat setuju, 24 (60%) umat menyatakan setuju dan 2 (5%) umat menyatakan ragu-ragu, bahwa kegiatan-kegiatan gerejani yang dilakukan sungguh membantu umat dalam menghayati akan hidup menggereja. Ada 16 (40%) umat menyatakan sangat setuju dan 24 (60%) umat menyatakan setuju, bahwa peranan umat dalam hidup menggereja yaitu sebagai penerus Gereja di masa depan.

Pemahaman yang menyatakan keterlibatan umat dalam Gereja pada umumnya sama dengan peran kaum awam sebagai warga Gereja yang tidak ditahbiskan atau orang-orang yang beriman Kristen yang oleh pembaptisan menjadi anggota Tubuh Kristus dihasilkan data umat menyatakan sangat setuju ada 10 (25%), setuju ada 24 (60%) umat, ragu-ragu 5 (12,5%) umat sedangkan yang menyatakan kurang setuju ada 1 (2,5%) umat.

Umat dengan jumlah 9 (22,5%) menyatakan sangat setuju dan 27 (67,5%) umat menyatakan setuju, bahwa sebagai umat katolik mereka sudah terlibat dalam kegiatan liturgi, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 1 (2,5%) umat dan kurang setuju ada 3 (7,5%) umat.

Sebagai umat beriman kita perlu menjaga nama baik keluarga dan masyarakat, atas pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 29 (72,5%) dan menyatakan setuju ada 11 (27,5%). Umat dengan jumlah 10 (25%) menyatakan sangat setuju, 24 (60%) umat menyatakan setuju, 5 (12,5%) umat menyatakan ragu-ragu dan 1 (2,5%) umat menyatakan kurang setuju, bahwa umat yang aktif adalah mereka yang selalu terlibat diberbagai kegiatan gerejani.

Semua umat Stasi Santo Lukas Sokaraja aktif dalam kegiatan gerejani, atas pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 5 (12,5%) umat dan menyatakan setuju ada 13 (32,5%) umat sedangkan yang menyatakan ragu-ragu 9 (22,5%) umat, kurang setuju 11 (27,5%) umat dan tidak setuju 2 (5%) umat.


(54)

Kegiatan-kegiatan Gerejani di Stasi Santo Lukas Sokaraja membantu umat dalam menghayati iman. Dari pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 15 (37,5%) dan menyatakan setuju ada 21 (52,5%) umat sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 4 (10%) umat.

Umat dengan jumlah 13 (32,5%) menyatakan sangat setuju, 25 (62,5%) umat menyatakan setuju dan 2 (5%) umat menyatakan ragu-ragu bahwa kegiatan menggereja membantu umat dalam pembentukan karakter. Kesibukan kerja menghambat keaktifan umat dalam mengikuti kegiatan hidup menggereja, atas pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 1 (2,5%) dan menyatakan setuju ada 10 (25%) umat sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 1 (2,5%) umat, menyatakan kurang setuju ada 20 (50%) umat dan menyatakan tidak setuju ada 8 (20%) umat.

Dari tabel yang sama diperoleh juga data 18 (45%) umat menyatakan sangat setuju, 21 (52,5%) umat menyatakan setuju dan 1 (2,5%) umat menyatakan ragu-ragu, bahwa kegiatan hidup menggereja di Stasi dapat mempererat relasi umat antar Lingkungan. Ada 14 (35%) umat menyatakan sangat setuju, 23 (57,5%) umat menyatakan setuju, sedangkan 2 (5%) umat menyatakan ragu-ragu dan 1 (2,5%) umat menyatakan kurang setuju bahwa umat senang mengikuti kegiatan gerejani.

d. Bentuk-bentuk Kegiatan Pendukung Perkembangan Penghayatan Iman Umat

Bagian ini akan memaparkan variabel tentang bentuk-bentuk kegiatan yang mendukung perkembangan penghayatan iman umat dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini:


(55)

1) Hasil Penelitian

Tabel 5: Bentuk-bentuk Kegiatan Pendukung Perkembangan Penghayatan Iman Umat (N=40)

No

Item Pernyataan

Jumlah Umat

Persen (%)

(1) (2) (3) (4)

28 Saya selalu terlibat dalam kerja bakti membersihkan kampung saat menjelang HUT RI.

a. Sangat Setuju b. Setuju

c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

10 20 6 3 1 25 50 15 7,5 2,5 29 Kegiatan gerejani mengurangi waktu kerja

saya.

a. Sangat Setuju b. Setuju

c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

1 3 1 17 18 2,5 7,5 2,5 42,5 45 30 Terlibat dalam kegiatan gerejani memberi

dampak positif bagi penghayatan iman saya. a. Sangat Setuju

b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju

16 23 1 0 40 57,5 2,5 0

e. Tidak Setuju 0 0

31 Selain merayakan Ekaristi, saya juga mengikuti pendalaman iman di Lingkungan. a. Sangat Setuju

b. Setuju 10 19 25 47,5 c. Ragu-ragu

d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

9 1 1 22,5 2,5 2,5 32 Sharing pengalaman saat pendalaman iman

semakin memperkaya dan meneguhkan iman saya.

a. Sangat Setuju b. Setuju

c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

17 19 4 0 0 42,5 47,5 10 0 0


(1)

BAB V PENUTUP

Pada bagian ini disampaikan kesimpulan dan saran mengenai “Upaya Meningkatkan Keterlibatan Umat dalam Hidup Menggereja di Stasi Santo Lukas, Sokaraja, Paroki Santo Yosep, Purwokerto Timur, Jawa Tengah melalui Katekese Umat Model Shared Christian Praxis”.

A. Kesimpulan

Keterlibatan dan keikutsertaan umat dalam kegiatan hidup menggereja sangat diharapkan. Gereja turut memberi perhatian kepada umat dalam pelaksanaan karya pastoral. Stasi mewadahi umat dengan mengadakan berbagai kegiatan hidup menggereja, supaya lewat kegiatan-kegiatan tersebut umat mampu menghayati imannya dalam menanggapi situasi dan kondisi zamana sekarang. Umat diharapkan dapat terlibat aktif dalam setiap tugas dan peranan Gereja secara keseluruhan. Namun, dalam kenyataannya umat Stasi Santo Lukas Sokaraja kurang memiliki kesadaran untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja sehingga tidak semua kegiatan yang dilaksanakan di Stasi maupun Lingkungan mendapat dukungan penuh dari umat.

Beriman Katolik tentu bukan hanya sebagai status saja tetapi harus kita wujudkan melalui tindakan nyata. Tindakan yang dapat kita lakukan diantaranya terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Dengan keterlibatan tersebut berarti kita menampakkan iman kita terhadap Yesus Kristus. Hidup menggereja sendiri diartikan sebagai pengabdian sukarela untuk mengambil bagian dalam lima tugas


(2)

Gereja yaitu koinonia, kerygma, martyria, liturgia dan diakonia (Ardhisubagyo 1987: 22). Umat katolik yang telah dibaptis dan menerima sakramen Penguatan atau Krisma diharapkan mampu untuk mengambil bagian dalam tugas perutusan Yesus Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja. Dengan demikian kegiatan hidup menggereja dapat maju dan berkembang.

Keterlibatan dan keikutsertaan umat dalam hidup menggereja sangat diharapkan. Keterlibatan umat tidak hanya aktif ketika mengikuti Perayaan Ekaristi dan koor saja. Umat diharapkan dapat terlibat aktif dalam setiap tugas dan peranan Gereja secara keseluruhan.

Mengenai bentuk kegiatan yang mampu meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja, kegiatan yang dapat diusulkan yaitu berupa katekese model SCP (Shared Christian Praxis). Usulan katekese model SCP diharapkan dapat meningkatkan kreativitas umat dalam merancang suatu kegiatan yang lebih menarik sehingga semakin banyak umat yang mau terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Tema umum yang akan diangkat dalam usulan program ini adalah “Panggilan untuk meningkatkan hidup menggereja umat mengikuti Kristus dengan dasar iman”. Melalui tema ini diharapkan umat semakin menyadari panggilan mereka dalam kegiatan hidup menggereja sebagai penghayatan imannya.

B. Saran

Pada bagian ini dipaparkan beberapa saran untuk meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Santo Lukas, Sokaraja melalui katekese umat model Shared Christian Praxis (SCP). Beberapa saran tersebut


(3)

ditujukan kepada Ketua Dewan Pastoral Stasi Santo Lukas Sokaraja, Para Ketua Bidang, Ketua Lingkungan, Umat, Pemandu Pendalaman Iman dan Dewan Pastoral Stasi.

1. Ketua Dewan Pastoral Stasi St. Lukas Sokaraja

Ketua dewan pastoral Stasi hendaknya mengatur kegiatan-kegiatan yang sudah ada sehingga dapat diikuti oleh semua umat Stasi Santo Lukas Sokaraja.

2. Dewan Pastoral Stasi

Dewan pastoral stasi hendaknya menyesuaikan situasi dan kondisi umat dalam menentukan tema, materi maupun sarana yang dipakai dalam setiap kegiatan, terutama kegiatan pendalaman iman dan saresehan. Dengan harapan apa yang disampaikan dalam kegiatan sungguh-sungguh berguna bagi umat dan mereka semakin termotivasi untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja dan bermasyarakat.

3. Para Ketua Bidang

Para ketua bidang hendaknya mengadakan rapat koordinasi juga dengan tim kerjanya secara rutin sehingga program yang telah tersusun dapat terlaksana dengan lancar dan baik.

4. Ketua Lingkungan

Masing-masing ketua Lingkungan berusaha melibatkan lebih banyak umat di Lingkungan untuk lebih banyak yang terlibat dalam kegiatan hidup menggereja.


(4)

5. Pemandu Pendalaman Iman

Pemandu pendalaman iman diharapkan lebih siap dalam memimpin. Dengan demikian segala sesuatu yang dibutuhkan perlu dipersiapkan dengan baik.

6. Umat

Setiap umat perlu memiliki kesadaran dan saling mendukung satu sama lain sehingga semakin banyak umat yang terlibat dalam kegiatan hidup menggereja.


(5)

DAFTAR PUSTAKA

Ardhisubagyo, Y. (1987). Menggereja di Kota (Seri Pastoral No. 136). Yogyakarta: Pusat Pastoral Yogyakarta.

Arikunto Suharsimi. (1997). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.

Bergant, Dianne& Karris, Robert. (Ed). (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius.

Boland, B.J. Dr. (1982). Tafsir Lukas II. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Groome, Thomas H. (1997). Shared Christian Praxis (SCP): Suatu Model Berkatekese (F.X. Heryatno Wono Wulung, Penyadur). Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat. (Buku asli diterbitkan 1991). Huber, Th. (1981). Katekese Umat. Yogyakarta: Kanisius.

Jacobs, Tom. SJ. (1987). Gereja Menurut Vatikan II. Yogyakarta: Kanisius. Komisi Kateketik KWI. (1995). Katekese Umat dan Evangelisasi Baru.

Yogyakarta: Kanisius.

Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius.

Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Kansili Vatikan II (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor.

Lalu, Yosef. (2005). Katekese Umat. Jakarta: Komisi Kateketik KWI. Leks, Stefan. (2003). Tafsir Injil Markus. Yogyakarta: Kanisius. Maryanto, Ernest. (2004). Kamus Liturgi. Yogyakarta: Kanisius.

Midiankhsirait.https://midiankhsirait.wordpress.com/2012/01/18/koinonia-marturia-diakonia/.Accesed on April, 2014)

Moleong, Lexy J. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Prasetya, L. (2003). Keterlibatan Awam sebagai Anggota Gereja. Malang: Dioma. Pusat Kateketik Yogyakarta. (1968). Geredja dan Sakramen-sakramennja.

Yogyakarta: Kanisius.

Sacra Congregatio Pro Clerici. (1991). Directorium Catechisticum Generale, (Direktorium Kateketik Umum). (Thom Wignyanta&Lukas Lege, Penerjemah). Flores: Nusa Indah.

Sugiyono. (2014). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sumarno Ds., M. (2013). Pengantar Pendidikan Agama Katolik Paroki. Diktat mata kuliah Pengantar Pendidikan Agama Katolik Paroki untuk Mahasiswa Semester III, Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

. (2014). Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik Paroki. Diktat mata kuliah Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik untuk Mahasiswa Semester VI, Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.


(6)

Telaumbanua, Marianus, OFMCap. (1999). Ilmu Kateketik. Jakarta: Obor.

Yohanes Paulus II. (1992). Catechesi Tradendae, (Penyelenggaraan Katekese). (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1979).


Dokumen yang terkait

Sumbangan katekese umat sebagai upaya untuk meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Mansalong Paroki Maria Bunda Karmel Mansalong Kabupaten Nunukan.

2 16 158

Sumbangan katekese umat dalam rangka meningkatkan penghayatan iman umat Lingkungan Santo Yusuf, Berut, Wilayah Santa Marta, Sumber, Paroki Santa Maria Lourdes, Sumber, Magelang, Jawa Tengah melalui Shared Christian Praxis.

8 70 209

Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari.

0 8 159

Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda stasi Gembala yang Baik Paroki Santo Yusuf Batang dalam hidup menggereja melalui katekese kaum muda.

6 40 156

Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda stasi Gembala yang Baik Paroki Santo Yusuf Batang dalam hidup menggereja melalui katekese kaum muda

2 2 154

Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di Paroki Santo Antonius, Bade, Keuskupan Agung Merauke melalui shared christian praxis - USD Repository

0 4 141

Upaya menumbuhkan hidup doa dalam keluarga-keluarga kristiani umat lingkungan Santa Maria stasi Majenang paroki Santo Stefanus Cilacap melalui katekese umat - USD Repository

0 0 137

Pendampingan iman keluarga kawin campur beda agama dalam menghayati hidup perkawinan kristiani di Paroki Santo Paulus, Palu, Sulawesi Tengah, melalui katekese umat model shared christian praxis - USD Repository

0 0 144

Usaha meningkatkan spiritualitas kerasulan awam bagi prodiakon paroki di wilayah Santo Yusup Sendangsari-Sendangrejo, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Yogyakarta, melalui katekese model Shared Christian Praxis - USD Repository

0 1 121

Sumbangan katekese umat bagi prodiakon melalui model shared christian praxis di Paroki Roh Kudus Kebonarum, Klaten, Jawa Tengah - USD Repository

0 4 178