Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur).

MODEL PENYEDIAAN AIR BERSIH
BERKELANJUTAN DI PULAU KECIL
(STUDI KASUS : PULAU TARAKAN, KALIMANTAN TIMUR)

EMIL AZMANAJAYA

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Model Penyediaan Air
Bersih Berkelanjutan di Pulau Kecil (Studi Kasus : Pulau Tarakan, Kalimantan
Timur) adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun
kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip
dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
disertasi ini.

Bogor, Agustus 2012
Emil Azmanajaya
NIM. P062090121

ABSTRACT
EMIL AZMANAJAYA. Sustainable Water Supply Modelling in Small Island (Case
Study : Tarakan Island, East Kalimantan). Under direction of SURJONO H.
SUTJAHJO,
ASEP SAPEI, D. DJOKOSETIYANTO, and BAMBANG
PRAMUDYA N.
This research was conducted in all areas of water services of Tarakan
Island that is West Tarakan, Central Tarakan, East Tarakan and North Tarakan,
in October 2010 to October 2011. The main objective of this research is to build a
model of sustainable water supply in the small island of Tarakan City with the
scope of the study. To achieve these goals, then do some studies, that are : (1)
analysis of water needs for domestic, industrial and hospitality, (2) analysis of
water availability based on service taps and clean water naturally through
augmentation of ground water, (3) analysis of the sustainability of water supply,
(4) to design strategies for water supply, and (5) to design a model for water
supply. Water demand analysis method is done by projecting development of
population growth, industrial and hotel in the city of Tarakan. Analysis of services
water is done by calculating the capacity of water treatment plant service taps,
analysis of natural water availability is done by increasing ground water
augmentation through rain water conservation with infiltration wells, reforestation
and terracing. Analysis of the sustainability of water supply using the method of
multidimensional scaling (MDS) called RAP-TARAKAN, Montecarlo analysis and
prospective analysis. Analysis of water supply strategies performed using the
method of analytical hierarchy process (AHP), SWOT analysis and the analysis
of interpretative structural modeling (ISM). Water supply model using a dynamic
system through software powersim constructor 2.5c. The results showed that the
status of the environmental dimension of sustainability is less sustainable
(31.8%), sustainable on economic dimension (88.24%), sustained enough on the
legal dimensions of institutional (74.21%) and social dimensions (52.25%). While
the dimensions of the infrastructure and technology are not sustainable (20.14%).
In multi-dimensional, water supply of Tarakan City is sufficient sustainable
(52.38%). During the period of the year 2001 - 2030, the East and West Tarakan
potential water crisis whereas North and Central Tarakan no potential water
crisis. But the piping water service (PDAM) in all districts do not fulfill clean water
requirements in terms of quantity, so it needs to be improved with the
improvement of services through the construction of water conservation and
micro
water
treatment
plant
(Micro
IPAB).
Key words: Tarakan, water supply, a small island.

RINGKASAN
EMIL AZMANAJAYA. Model Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan di Pulau Kecil
(Studi Kasus : Pulau Tarakan, Kalimantan Timur). Dibimbing oleh SURJONO H.
SUTJAHJO,
ASEP SAPEI, D. DJOKOSETIYANTO, dan BAMBANG
PRAMUDYA N.
Pulau Tarakan merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di pantai
timur provinsi Kalimantan Timur. Posisi geografis yang strategis, menyebabkan
pertumbuhan Pulau Tarakan sudah berubah dari skala desa menjadi skala kota.
Dalam rangka pencapaian target penyediaan air bersih MDG‟s 2015, Kota
Tarakan perlu ditunjang oleh sistem penyediaan air bersih yang cocok
berdasarkan potensi yang ada di wilayah Pulau Tarakan.
Penelitian ini dilakukan di seluruh wilayah pelayanan air bersih Pulau
Tarakan yaitu Tarakan Barat, Tarakan Tengah, Tarakan Timur dan Tarakan
Utara, pada bulan Oktober 2010 sampai Oktober 2011. Tujuan utama penelitian
ini adalah membangun model penyediaan air bersih secara berkelanjutan di
pulau kecil dengan lingkup studi Kota Tarakan. Untuk mencapai tujuan tersebut,
maka dilakukan beberapa kajian yaitu : (1) analisis kebutuhan air bersih untuk
sektor domestik, perhotelan dan industri, (2) analisis ketersediaan air bersih
berdasarkan pelayanan PDAM dan air bersih alami melalui imbuhan air tanah,
(3) analisis tingkat keberlanjutan penyediaan air bersih, (4) merancang strategi
penyediaan air bersih, dan (5) merancang model penyediaan air bersih. Metode
analisis kebutuhan air bersih dilakukan dengan cara memproyeksikan
perkembangan pertumbuhan penduduk, industri dan hotel di Kota Tarakan.
Analisis ketersediaan air bersih perpipaan dilakukan dengan cara menghitung
kapasitas layanan instalasi pengolahan air bersih PDAM, sedangkan
ketersediaan air bersih alami dillakukan dengan cara meningkatkan imbuhan air
tanah melalui konservasi air hujan yaitu pembuatan sumur resapan, reboisasi
dan terasering. Analisis tingkat keberlanjutan penyediaan air bersih
menggunakan metode multidimensional scalling (MDS) yang disebut RAPTARAKAN, analisis montecarlo dan analisis prospektif. Analisis strategi
penyediaan air bersih dilakukan menggunakan metode analytical hierarchy
process (AHP), analisis SWOT dan analisis interpretative structural modelling
(ISM). Model penyediaan air bersih menggunakan sistem dinamis melalui
software powersim constructor 2.5c.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa status keberlanjutan dimensi
lingkungan kurang berkelanjutan (31,8%), dimensi ekonomi berkelanjutan
(88,24%), cukup berkelanjutan pada dimensi hukum kelembagaan (74,21%) dan
dimensi sosial (52,25%). Sedangkan dimensi infrastruktur dan teknologi tidak
berkelanjutan (20,14%). Secara multi dimensi, penyediaan air bersih Kota
Tarakan cukup berkelanjutan (52,38%) dengan 13 atribut yang sensitif
berpengaruh dalam meningkatkan indeks keberlanjutan. Atribut-atribut tersebut
terbagi atas 3 atribut pada dimensi lingkungan, 3 atribut pada dimensi ekonomi, 2
atribut pada dimensi sosial dan budaya, 3 atribut pada dimensi infrastruktur dan
teknologi, dan 2 atribut pada dimensi hukum dan kelembagaan. Untuk
meningkatkan status keberlanjutan ke depan (jangka panjang), skenario yang
perlu dilakukan untuk meningkatkan status penyediaan air bersih di Pulau
Tarakan adalah skenario progesif-optimistik dengan melakukan perbaikan secara
menyeluruh terhadap semua atribut yang sensitif, minimal 3 atribut faktor kunci

yang dihasilkan dalam analisis prospektif, sehingga semua dimensi menjadi
berkelanjutan untuk sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan.
Masyarakat Kota Tarakan masih menaruh harapan yang tinggi kepada
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Dharma sebagai penyedia air
bersih Kota Tarakan. Adapun rumusan strategi pengembangan pelayanan air
bersih di Kota Tarakan adalah Strategi Kekuatan – Peluang yaitu (1)
Memanfaatkan/menerapkan teknologi penyediaan air bersih yang sudah ada
untuk daerah-daerah yang belum terlayani air bersih oleh pemerintah/PDAM
sebagai alternatif dalam penyediaan air bersih dengan menggunakan konsep
cluster yang memanfaatkan air hujan/permukaan. (2) Melakukan konservasi
pada land use melalui kegiatan reboisasi, pembuatan sumur resapan, terasering,
dan embung-embung penangkap air hujan untuk menjaga kelestarian sumber air
baku. (3) Mendorong PDAM sebagai penyedia air besih untuk terus
meningkatkan kapasitas layanan melalui pengurangan persentase kebocoran
dan peningkatan kapasitas IPA, sehingga semakin banyak masyarakat ingin
berlangganan air bersih PDAM. (4) Memanfaatkan program pemberdayaan
masyarakat dari koorporasi (CSR). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta
permintaan air bersih yang terus meningkat, memungkinkan bagi masyarakat
sanggup untuk mengelola sendiri sistem penyediaan air bersih di wilayahnya
melalui program pendampingan dari koorporasi. (5) Menerapkan, menata dan
menjaga suatu kawasan sesuai dengan fungsinya, berdasarkan atas komitmen
Pemerintah Kota Tarakan yang diuraikan dalam RTRW Tarakan.
Hasil analisis sistem dinamik, selama kurun simulasi tahun 2001 – 2030,
wilayah Tarakan Barat dan Timur berpotensi mengalami krisis air bersih
sedangkan Tarakan Utara dan Tengah tidak berpotensi krisis air bersih. Namun
pelayanan air bersih perpipaan (PDAM) diseluruh wilayah kecamatan tidak
memenuhi kebutuhan air bersih secara kuantitas, sehingga perlu ditingkatkan
dengan peningkatan pelayanan melalui konservasi air dan pembangunan
instalasi pengolahan air mikro (IPAB Mikro).
Kata kunci : pulau kecil, Pulau Tarakan, penyediaan air bersih.

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa
mencatumkan atau menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian,
penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau
tinjauan suatu masalah
b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya
tulis dalam bentuk laporan apapun tanpa izin IPB

MODEL PENYEDIAAN AIR BERSIH
BERKELANJUTAN DI PULAU KECIL
(STUDI KASUS : PULAU TARAKAN, KALIMANTAN TIMUR)

EMIL AZMANAJAYA

Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

Penguji pada Ujian Tertutup :
1. Dr. Ir. I Wayan Nurjaya, MSc.
(Staf Pengajar Departemen Ilmu & Teknologi
Kelautan – FPIK, IPB)
2. Dr. Ir. Roh Santoso Budi Waspodo, MT
(Staf Pengajar Departemen Teknik Sipil &
Lingkungan – FATETA, IPB)

Penguji pada Ujian Terbuka :
1. Dr. Ir. Muhammad Yunus Abbas, MSi
(Asisten III Bidang Kesejahteraan Rakyat Kota
Tarakan)
2. Dr. Ir. Yuli Suharnoto, M.Eng
(Staf Pengajar Departemen Teknik Sipil &
Lingkungan – FATETA, IPB)

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas perkenaan
dan rahmat yang diberikan sehingga penulis dapat menyusun draft disertasi ini.
Adapun judul disertasi yang diambil sebagai penelitian untuk memperoleh gelar
doktor ini adalah : Model Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan di Pulau Kecil
(Studi Kasus : Pulau Tarakan – Kalimantan Timur).
Terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya penulis haturkan
kepada Prof. Dr. Ir. Surjono Hadi Sutjahjo, MS, Prof. Dr. Ir. Asep Sapei, MS,
Prof. Dr. Ir. D. Djokosetiyanto, DEA dan Prof. Dr. Ir. Bambang Pramudya N.,
M.Eng selaku komisi pembimbing yang selalu memberikan masukan dan arahan
dalam penulisan draft disertasi ini. Terima kasih penulis haturkan pada Dr. Ir. Yuli
Suhartono, M.Eng dan Dr. Ir. Muhammad Yunus Abbas, MSi selaku penguji luar
komisi; Bapak/Ibu perwakilan dari program studi/mayor Pengelolaan Sumber
Daya Alam dan Lingkungan serta Bapak/Ibu perwakilan Rektor IPB atas
kesediaannya meluangkan waktu untuk menjadi penguji pada ujian terbuka ini.
Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini masih perlu mendapat
masukan untuk kesempurnaannya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat dan
memperkaya ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengelolaan sumberdaya alam
dan lingkungan.

Bogor, Agustus 2012
Emil Azmanajaya
P.062090121

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jambi pada tanggal 24 Februari 1977 sebagai anak
pertama dari pasangan Brigjen TNI (Pur) H. Azrai Kasim dan Hj. Syamsuwarni.
Pendidikan sarjana (S1) ditempuh di Program Studi Teknik Sipil, Institut
Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung, lulus tahun 2000. Pada tahun 2001
penulis melanjutkan pendidikan Magister (S2) di Program Studi Teknik Sipil
Rekayasa

Sumber

Daya

Air,

Institut

Teknologi

Bandung

(ITB)

dan

menyelesaikannya pada tahun 2004. Pada tahun 2009 penulis melanjutkan
pendidikan Doktor (S3) di Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan
Lingkungan, Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Saat ini penulis bekerja sebagai wirausaha dalam bidang penyediaan air
bersih dan pengembangan instalasi penyediaan air bersih berbasis masyarakat
dan koorporasi.

xx

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL......................................................................................… xiv
DAFTAR GAMBAR....................................................................................

xvii

DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………….....

xix

1

PENDAHULUAN...................................................................................

1

1.1 Latar Belakang...............................................................................

1

1.2 Tujuan Penelitian............................................................................

3

1.3 Kerangka Pemikiran.......................................................................

3

1.4 Perumusan Masalah......................................................................

6

1.5 Manfaat Penelitian .........................................................................

7

1.6 Kebaruan (Novelty)............................................................………..

7

TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................

8

2

2.1 Klasifikasi Pulau Besar dan Pulau Kecil …………………...…......... 8
2.2 Sumber Daya Air Tawar di Pulau Kecil.……………………….......... 10
2.3 Sistem Daerah Aliran Sungai/DAS…………………………………..

13

2.4 Teknologi Penyediaan Air Bersih di Pulau Kecil..………................

14

2.4.1 Teknologi Pemanenan Air Hujan ………………..…….…….

15

2.4.2 Teknologi Pengolahan Air Bersih Perkotaan ………………. 19

3

2.4.3 Teknologi Pengolahan Air Bersih Mikro …………………….

21

2.5 Pendekatan dan Permodelan Sistem………………………………..

22

METODE PENELITIAN.....................................................................…. 27
3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian …………………………..………….…. 27
3.2 Tahapan Penelitian……………………………………..………….….. 28
3.3 Jenis dan Metode Pengumpulan Data………………………..…….. 28
3.4 Metode Pemilihan Responden……………………………………..… 29
3.5 Analisis Data ………………………………………………………...… 30

4

KONDISI UMUM PULAU TARAKAN.................................................... 32
4.1

Kondisi Geografis dan Luas Wilayah..……………..……..………… 32

4.2

Topografi………..……………………………………………………… 35

4.3

Fisiografi ……………………………………………………….……… 35

4.4

Morfologi …………………………………………………….………… 36

4.5

Morfologi Daerah Aliran Sungai…………………………….……..… 36

xi

4.6

Debit Sungai dan Sedimentasi …………………………….……..… 36

4.7

Curah Hujan Rata-rata dan Suhu Perairan ……………………..… 38

4.8

Penggunaan Lahan ………………………………………………..… 39

4.9

Kependudukan ……………………………………………………..… 40

4.10 Kondisi Infrastruktur Perumahan …………………………………… 41
4.11 Kondisi Infrastruktur Air Bersih …………………………………...… 42
5

6

7

STRATEGI PENYEDIAAN AIR BERSIH KOTA TARAKAN ……….…

44

5.1

Analisis Kendala, Kebutuhan dan Kelembagaan
Penyediaan Air Bersih …………………………………………….… 44

5.2

Analisis Bentuk Pengelolaan Penyediaan Air Bersih …………..... 50

5.3

Strategi Pengembangan Kapasitas Layanan Air Bersih ……….... 53

5.4

Kesimpulan …………………………………………………………… 56

STATUS KEBERLANJUTAN PENYEDIAAN AIR BERSIH
PULAU TARAKAN………………………………..……………………...… 58
6.1

Status Keberlanjutan Penyediaan Air Bersih …………………...… 58

6.2

Skenario Strategi Penyediaan Air Bersih………………………..…

6.3

Kesimpulan …………………………………………………………… 75

73

MODEL PENYEDIAAN AIR BERSIH PULAU KECIL ………..……...… 76
7.1

Pendahuluan ……………………………………………………….… 76

7.2

Metode Analisis Model Penyediaan Air Bersih Pulau Kecil ……..

77

7.2.1 Jenis dan Sumber Data …………………………………….… 77
7.2.2 Metode Pengumpulan Data ………………………………..… 78
7.2.3 Metode Analisis Data ……………………………………….… 78
7.3

Model Penyediaan Air Bersih Pulau Tarakan …………………..… 82
7.3.1 Sub Model Kebutuhan Air Bersih ………………………….… 82
7.3.2 Sub Model Ketersediaan Air Bersih ………………………....

7.4

86

Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan
Tarakan Barat ………………………………………………………… 91
7.4.1 Kondisi Eksisting …………………………………………….… 91
7.4.2 Simulasi Skenario Model Penyediaan Air Bersih ………..… 94

7.5

Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan
Tarakan Timur ………………………………………………………..

102

7.5.1 Kondisi Eksisting …………………………………………….… 102
7.5.2 Simulasi Skenario Model Penyediaan Air Bersih ………….. 105
7.6

Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan
Tarakan Tengah …………………………………………………...… 114
7.6.1 Kondisi Eksisting ………………………………………………

xii

114

7.6.2 Simulasi Skenario Model Penyediaan Air Bersih ……….....
7.7

116

Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan
Tarakan Utara ……………………………………………………...… 125
7.7.1 Kondisi Eksisting ………………………………………….…… 125
7.7.2 Simulasi Skenario Model Penyediaan Air Bersih ………...… 128

7.8

Uji Validasi Model ………………………………………………….… 137
7.8.1 Uji Validasi Struktur …………………………………………… 137
7.8.2 Uji Validasi Kinerja ………………………………………….…. 138
7.8.3 Uji Sensitifitas Model ……………………………………….…. 138

7.9

Kesimpulan …………………………………………………………… 140

8

PEMBAHASAN UMUM ……………...………………………………….… 142

9

REKOMENDASI KEBIJAKAN PENYEDIAAN AIR BERSIH
PULAU TARAKAN ………………………………………………….…..… 146
9.1

Rekomendasi Kebijakan Kepada Pemerintah Kota ………..…..… 146

9.2

Rekomendasi Kebijakan Kepada PDAM …………………….….… 147

10 KESIMPULAN ……………………………………………………………... 148
DAFTAR PUSTAKA …………………………...…………………………….... 151
LAMPIRAN …………………………………………………………………….… 155

xiii

DAFTAR TABEL
Halaman
1

Jenis dan metode pengumpulan data ………………………..……………

29

2

Tahapan dan metode analisis model penyediaan air bersih ……………

31

3

Jumlah dan luas wilayah kecamatan/kelurahan di Kota Tarakan… ……

33

4

Inventarisasi sungai di Pulau Tarakan …………………………………….

37

5

Curah hujan dan hari hujan Kota Tarakan (2008) …………………. ……

39

6

Jenis dan tutupan lahan Pulau Tarakan (2008) ……………………. ……

39

7

Jumlah penduduk Kota Tarakan …………………………………….. ……

41

8

Sumber air baku alami Kota Tarakan ……………………………….. ……

43

9

Matriks faktor strategi internal (IFAS) ………………………………..….…

54

10 Matriks faktor strategi eksternal (EFAS) ……………………………. ……

55

11 Perbedaan nilai indeks keberlanjutan Analisis Monte-Carlo
Dengan Analisis RAP-TARAKAN ……………………………………. ……

73

12 Hasil analsisi nilai stress dan koefisien determinasi ………………. ……

73

13 Faktor kunci yang berpengaruh dalam penyediaan air bersih …….……

74

14 Analisis kebutuhan aktor dalam penyediaan air bersih …………….……

78

15 Standar kebutuhan air rumah tangga ……………………………….. ……

83

16 Klasifikasi industri berdasarkan jumlah tenaga kerja ……………… ……

83

17 Kebutuhan air untuk proses industri ………………………………… ..…..

83

18 Nilai koefisen run off masing-masing land use …………………….. ……

88

19 Proyeksi jumlah penduduk, hotel, industri serta kebutuhan
air bersih di Kecamatan Tarakan Barat ……………………………. …….

91

20 Ketersediaan dan neraca air bersih Kecamatan Tarakan Barat …. ……

92

21 Skenario penyediaan air bersih Kecamatan Tarakan Barat ……….……

94

22 Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan di Kecamatan
Tarakan Barat ………………………………………………………….. ……

96

23 Kebutuhan biaya reboisasi Kecamatan Tarakan Barat …………….……

97

24 Kebutuhan biaya terasering Kecamatan Tarakan Barat …………… …..

97

25 Kebutuhan biaya uprating IPA PDAM di Kecamatan
Tarakan Barat …………………………………………………………... …..

99

26 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui IPAB Mikro
di Kecamatan Tarakan Barat………………………………………………..

100

27 Neraca air bersih Kecamatan Tarakan Barat ………………………..……

101

28 Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) Kecamatan Tarakan Barat ….…..

102

xiv

29 Proyeksi jumlah penduduk, hotel, industri serta kebutuhan
air bersih di Kecamatan Tarakan Timur……………………………. ……..

103

30 Ketersediaan dan neraca air bersih Kecamatan Tarakan Timur ….……

104

31 Skenario penyediaan air bersih Kecamatan Tarakan Timur ………. …..

105

32 Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan di Kecamatan
Tarakan Timur………………………………………………………….. ……

107

33 Kebutuhan biaya reboisasi Kecamatan Tarakan Timur ……………. …..

108

34 Kebutuhan biaya terasering Kecamatan Tarakan Timur…………………

109

35 Kebutuhan biaya uprating IPA PDAM di Kecamatan
Tarakan Timur …………………………………………………………... …..

110

36 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui IPAB Mikro
di Kecamatan Tarakan Timur…………………………………………… ….

111

37 Neraca air bersih Kecamatan Tarakan Timur ……………………….. …..

113

38 Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) Kecamatan Tarakan Timur ….….

113

39 Proyeksi jumlah penduduk, hotel, industri serta kebutuhan
air bersih di Kecamatan Tarakan Tengah……………………………. …..

114

40 Ketersediaan dan neraca air bersih Kecamatan Tarakan Tengah …. …

115

41 Skenario penyediaan air bersih Kecamatan Tarakan Tengah ……….…

117

42 Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan di Kecamatan
Tarakan Tengah ………………………………………………………….. …

119

43 Kebutuhan biaya reboisasi Kecamatan Tarakan Tengah …………….…

120

44 Kebutuhan biaya terasering Kecamatan Tarakan Tengah ………………

120

45 Kebutuhan biaya uprating IPA PDAM di Kecamatan
Tarakan Tengah …………………………………………………………... ..

122

46 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui IPAB Mikro
di Kecamatan Tarakan Tengah …………………………………………….

123

47 Neraca air bersih Kecamatan Tarakan Tengah …………………………..

124

48 Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) Kecamatan Tarakan Tengah ..….

125

49 Proyeksi jumlah penduduk, hotel, industri serta kebutuhan
air bersih di Kecamatan Tarakan Utara………………………………. …..

126

50 Ketersediaan dan neraca air bersih Kecamatan Tarakan Utara …..……

127

51 Skenario penyediaan air bersih Kecamatan Tarakan Utara ……….……

128

52 Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan di Kecamatan
Tarakan Utara ………………………………………………………………..

131

53 Kebutuhan biaya reboisasi Kecamatan Tarakan Utara …………….. …..

131

54 Kebutuhan biaya terasering Kecamatan Tarakan Utara ………………...

132

55 Kebutuhan biaya uprating IPA PDAM di Kecamatan
Tarakan Utara …………………………………………………………...…...

134

56 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui IPAB Mikro

xv

di Kecamatan Tarakan Utara ………………………………………..……...

134

57 Neraca air bersih Kecamatan Tarakan Utara ………………………..……

135

58 Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) Kecamatan Tarakan Utara ……… 136
59 Hasil perhitungan nilai AVE, AME dan jumlah penduduk
dalam uji validasi kerja ………………………………..………………..……

xvi

139

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1

Kompleksitas permasalahan…………………………………………. ……

3

2

Kerangka pemikiran…………………………………………………………

5

3

Perumusan masalah………………..………………………………….……

7

4

Penyebaran tipe pulau kecil Indonesia ……………………………… …..

13

5

Bagan ilustrasi respon DAS akibat hujan ………………………………...

14

6

Ilustrasi sumur resapan ………………………………………………..…...

16

7

Ilustrasi bangunan ABSAH …………………………………………………

19

8

Skema proses pengolahan air bersih ………………………………..……

21

9

Peta lokasi penelitian ………………………………………………….……

27

10 Tahapan penelitian …………………………………………………….……

28

11 Peta Pulau Tarakan …………………………………………………………

34

12 Peta DAS Pulau Tarakan ……………………………………………..……

38

13 Penutupan lahan Pulau Tarakan …………………………………….……

40

14 Peta pembagian zona pelayanan air minum PDAM ……………….……

42

15 Matriks driver power-dependence untuk elemen kendala ………..…….

45

16 Struktur hirarki sub elemen kendala ………………………………...…….

46

17 Matriks driver power-dependence untuk elemen kebutuhan …….……..

47

18 Struktur hirarki sub elemen kebutuhan ……..………………….…...…….

48

19 Matriks driver power-dependence untuk elemen lembaga ………..……

49

20 Struktur hirarki sub elemen lembaga ………..………………….…...……

50

21 Struktur dan bobot hirarki elemen bentuk pengelolaan air bersih ... …..

51

22 Hasil analisis bentuk pengelolaan air bersih ………………………. ……

52

23 Hasil analisis bentuk pengelolaan air bersih (2) …………………………

53

24 Posisi kuadran strategi pengembangan pelayanan air bersih …………

56

25 Diagram layang nilai indeks keberlanjutan penyediaan air bersih..……

58

26 Peran masing-masing aspek lingkungan dalam bentuk rms……………

59

27 Peran masing-masing aspek ekonomi dalam bentuk rms………………

62

28 Peran masing-masing aspek sosial dalam bentuk rms………….………

66

29 Peran masing-masing aspek infrastruktur dan teknologi
dalam bentuk rms…………………………………………………….. ……

68

30 Peran masing-masing aspek hukum dan kelembagaan
dalam bentuk rms……………………………………………………………

xvii

69

31 Indeks keberlanjutan multidimensi penyediaan air bersih ………...……

72

32 Hasil analisis tingkat kepentingan faktor yang berpengaruh …………...

75

33 Diagram kotak gelap penyediaan air bersih ………………………… …..

80

34 Causal loop sub model kebutuhan air bersih ………………………. …..

85

35 Diagram alir sub model kebutuhan air bersih ………………………. …..

86

36 Causal loop sub model ketersediaan air bersih ……………………. …..

86

37 Diagram alir sub model ketersediaan air bersih ……………………. …..

90

38 Kebutuhan dan ketersediaan air bersih
Kecamatan Tarakan Barat ……………………………………………. …..

93

39 Proyeksi kebutuhan air bersih Kecamatan Tarakan Barat ………… ….

94

40 Simulasi ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Barat ……..……

95

41 Peningkatan layanan perpipaan Kecamatan Tarakan Barat …….. ……

98

42 Neraca air bersih Kecamatan Tarakan Barat ………………………. …..

100

43 Kebutuhan dan ketersediaan air bersih
Kecamatan Tarakan Timur …………………………………………….…..

105

44 Proyeksi kebutuhan air bersih Kecamatan Tarakan Timur ……………..

107

45 Simulasi ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Timur ……..……

108

46 Peningkatan layanan perpipaan Kecamatan Tarakan Timur ……..……

110

47 Neraca air bersih Kecamatan Tarakan Timur ……………………….…… 112
48 Kebutuhan dan ketersediaan air bersih
Kecamatan Tarakan Tengah ………………………………………….…… 116
49 Proyeksi kebutuhan air bersih Kecamatan Tarakan Tengah …………… 118
50 Simulasi ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Tengah .…..…… 118
51 Peningkatan layanan perpipaan Kecamatan Tarakan Tengah .…..……

121

52 Neraca air bersih Kecamatan Tarakan Tengah …………………….……

124

53 Kebutuhan dan ketersediaan air bersih
Kecamatan Tarakan Utara ……………………………………………. …..

128

54 Proyeksi kebutuhan air bersih Kecamatan Tarakan Utara ……………..

129

55 Simulasi ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Utara ……..……

130

56 Peningkatan layanan perpipaan Kecamatan Tarakan Utara ….…..…...

133

57 Neraca air bersih Kecamatan Tarakan Utara ……………………….……

136

xviii

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1

Gambar ilustrasi IPAB Mikro ………………………………………….. ….

157

2

Rincian biaya operasional IPAB Mikro ………………………………. …..

160

3

Nilai skor pendapat pakar dimensi keberlanjutan penyediaan
air bersih Kota Tarakan ……………………………………………….. …..

161

4

Nilai indeks lima dimensi keberlanjutan penyediaan air bersih……..….

163

5

Persamaan dinamis model penyediaan air bersih pulau kecil …………

166

6

Rencana Anggaran biaya IPAB Mikro …………………………………….. 173

7

Rencana Anggaran biaya Uprating IPA PDAM ……………………………. 174

xix

xx

1
1.1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Air merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki fungsi sangat

penting bagi kehidupan dan perikehidupan manusia, serta untuk memajukan
kesejahteraan umum dan berperan sebagai faktor utama pembangunan. Untuk
itu air perlu dilindungi agar dapat tetap bermanfaat bagi manusia serta mahluk
hidup lainnya. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa air memiliki peran yang
sangat strategis dan harus tetap tersedia dan lestari, sehingga mampu
mendukung kehidupan dan pelaksanaan pembangunan dimasa kini maupun
dimasa mendatang.
Indonesia negara kepulauan, tidak bisa dipisahkan dengan air. Potensi
sumberdaya pesisir dan lautan tersebar di sekitar 13.487 buah pulau dan 95.181
km panjang pantai di kepulauan Indonesia. Pulau-pulau ini mempunyai nilai
penting dari sisi politik, sosial, ekonomi, budaya dan pertahanan keamanan
Indonesia. Tiga belas ribu lebih pulau tersebut disatukan oleh 3,1 juta km2
perairan teritorial. Sumber air berasal dari gunung, sungai, danau dan laut.
Banyak kota yang dibangun didekat sumber-sumber air tersebut, hampir 300
kabupaten dan kotamadya dari 472 tersebar di pesisir, sisanya berada di daerah
aliran sungai dan pegunungan. Selain memiliki kelebihan strategis, pulau kecil
juga memiliki kekurangan, salah satunya adalah keterbatasan air yang menjadi
kendala dalam upaya pengembangan kegiatan di pulau kecil.
Definisi sebuah “pulau samudera” pada dekade 70an oleh IHP-UNESCO
dinyatakan sebagai pulau yang berukuran kurang dari 10.000 km2. Namun
karena alasan kepraktisan berdasar permasalahan yang dihadapi para peneliti
air dari berbagai penjuru dunia maka ditetapkan dalam UU No.27/2007 untuk
memakai nama “pulau kecil” yang didefinisikan sebagai pulau dengan ukuran
luas kurang dari 2000 km2. Selanjutnya ada pembagian jenis pulau yang lebih
rinci menjadi “pulau sangat kecil” untuk pulau yang luasnya kurang dari 200 km2.
Sebagai salah satu sumberdaya alam, air di muka bumi tidak terdapat
secara merata. Distribusi air dari satu tempat ke tempat lain di muka bumi
berbeda-beda menurut ruang dan waktu. Banyak daerah yang mempunyai
potensi air yang cukup, tetapi tidak jarang dijumpai daerah-daerah yang
mempunyai potensi air yang sangat kecil, bahkan pada waktu- waktu tertentu
mengalami kekurangan air.

2

Ketersediaan sumber daya air di pulau kecil sangat rentan akibat
perubahan kualitas air oleh intrusi air laut. Dalam UU No.7/2004 tentang Sumber
Daya Air telah ditetapkan bahwa air di pulau kecil atau gabungan beberapa pulau
kecil wajib dikelola sebagai satu kesatuan wilayah. Agar penyelamatan sumber
daya air di sebuah wilayah sungai dapat berhasil, ditetapkan pola pengelolaan air
yang lazim memakai kebijakan “satu wilayah sungai, satu kebijakan, satu
perencanaan pengelolaan”. Menurut UU No.7/2004, sebuah wilayah sungai (WS)
dapat terdiri dari satu atau gabungan dari beberapa pulau kecil. Dengan
ketetapan ini berarti bahwa pulau-pulau kecil juga perlu dilengkapi dengan
sebuah rencana pengelolaan air.
Pertambahan penduduk yang tinggi diikuti dengan pertumbuhan ekonomi
serta perkembangan industri yang banyak menggunakan lahan dan air
menyebabkan kelangkaan air semakin meningkat. Sumber-sumber air tercemar
karena limbah yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi dan industri, menyebabkan
kualitas air yang bisa langsung dicerna dan dikonsumsi oleh penduduk semakin
sedikit. Dibutuhkan suatu badan dan sistem pengelolaan dan penyediaan air
baku untuk dikelola menjadi air bersih yang dapat didistribusikan kepada
penduduk.
Perkembangan Kota Tarakan sebagai pintu gerbang kedua Kalimantan
Timur setelah Kota Balikpapan bagi lalu lintas pelayaran dan penerbangan
menyebabkan daya tarik bagi masyarakat daerah

sekitarnya sehingga

menyebabkan kepadatan penduduk menjadi meningkat. Industri, dunia usaha
dan masyarakat membutuhkan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Pulau
Tarakan

yang

berbatasan

dengan

lautan

mengakibatkan

rentannya

kondisi/kualitas air tanah maupun air permukaan.
Rendahnya cakupan pelayanan air bersih menyebabkan industri dan
masyarakat mengunakan air tanah sehingga terjadi penurunan muka air tanah
bahkan penurunan muka tanah di beberapa tempat di Pulau Tarakan.
Kompleksitas permasalahan yang menjadi latar belakang penelitian model
penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil dapat dilihat pada Gambar 1.
Berdasarkan kompleksitas permasalahan tersebut maka Kota Tarakan perlu
memiliki strategi dalam penyediaan air bersih.

3

Gambar 1 Kompleksitas permasalahan
1.2

Tujuan
Tujuan utama penelitian ini adalah membangun model penyediaan air

bersih berkelanjutan di pulau kecil dengan lingkup studi Kota Tarakan. Guna
mencapai tujuan tersebut, maka pada penelitian ini akan dilakukan berbagai
kajian yang akan mendukung penelitian, yaitu:
a) Menganalisis kebutuhan air bersih untuk sektor domestik, perhotelan dan
industri.
b) Menganalisis ketersediaan air bersih berdasarkan pelayanan PDAM dan air
bersih alami melalui imbuhan air tanah.
c) Menganalisis tingkat keberlanjutan penyediaan air bersih.
d) Merancang bangun strategi penyediaan air bersih.
e) Merancang bangun suatu model penyediaan air bersih berdasarkan
pendekatan sistem dengan memperhatikan aspek lingkungan fisik dan sosial,
teknologi, kelembagaan, aspek keuangan, tingkat pelayanan dan efisiensi
pengelolaan.
1.3

Kerangka Pemikiran
Pulau Tarakan sebagai salah satu wilayah kepulauan hingga saat ini

sedang giat melaksanakan pembangunan diberbagai sektor. Dalam proses

4

melaksanakan pembangunan yang bertujuan untuk pengembangan daerah
perkotaan, pemerintah Kota Tarakan dalam hal ini sebagai pemrakarsa kegiatan
menghadapi beberapa kendala atau permasalahan dalam pelaksanaan program
tersebut.
Beberapa kendala atau permasalahan yang hingga kini memerlukan
pemecahan baik secara pendekatan persuasif maupun dengan mengadakan
kegiatan fisik, antara lain :
a) Tingkat pertumbuhan penduduk yang sangat cepat dalarn kurun waktu yang
sangat pendek dengan penyebaran di wilayah kota yang tidak merata.
b) Masih terdapat daerah pemukiman penduduk yang dibawah standar (kumuh)
dalam jumlah dan luas yang cukup besar.
c) Penyediaan sarana dan prasarana kota yang masih belum seimbang dengan
jumlah penduduk.
d) Kurang koordinasi antara pihak-pihak terkait dalam hal ini pemerintah daerah
dalam merumuskan suatu kegiatan pembangunan dan pengembangan kota.
e) Sumber daya manusia.
Dengan meningkatnya pertumbuhan perekonomian dan bidang lainnya
maka memacu pertumbuhan penduduk di Kota Tarakan tersebut. Seiring dengan
bertambahnya jumlah penduduk di Kota Tarakan sudah tentu kebutuhan akan air
bersih untuk masyarakat semakin meningkat. Kebutuhan akan air bersih adalah
kebutuhan pokok bagi masyarakat Kota Tarakan sehingga pemerintah sudah
seharusnya menyediakan kebutuhan akan air baku untuk masyarakat Kota
Tarakan guna mendukung kesejahteraan masyarakat Kota Tarakan.
Diantara pulau-pulau kecil, baik di Indonesia bagian Timur maupun Barat,
penyediaan air bersih baik di musim kemarau maupun di musim hujan masih
merupakan persoalan yang sulit dan harus segera ditangani. Persoalan ini
semakin

kompleks

apabila

penyediaan

air

dikaitkan

dengan

rencana

pengembangan wilayah terpadu yang meliputi daerah permukiman, daerah
kegiatan industri, perdagangan, lalu lintas maritim, hankamnas dan lainnya.
Strategi pengelolaan pulau kecil harus diupayakan agar sumber daya air yang
tersedia tidak akan dipakai melebihi batas daya dukungnya. Permasalahan ini
mempunyai aspek yang kompleks dan unik karena kondisi alam dan dinamika
sosial, ekonomi dan lingkungan setempat.
Perhatian pemerintah Indonesia kepada masalah sumber daya air
sebenarnya telah cukup besar namun saat ini masih terkonsentrasi di pulau-

5

pulau besar berpenduduk padat. Hal tersebut tercermin dari banyaknya instansi
atau lembaga yang menangani permasalahan air. Namun penanganan khusus
sumber daya air di pulau-pulau kecil yang berada di lingkungan lautan dan
samudra dirasakan masih belum cukup memadai.
Hal tersebut menunjukkan akumulasi permasalahan pengelolaan sumber
daya air yang memerlukan penanganan segera secara terintegrasi dan simultan.
Penanganan terhadap permasalahan krusial tersebut selama ini masih dilakukan
secara parsial tanpa sistem
mengakibatkan

tidak

yang terkoordinasi dengan

tercapainya

solusi

yang

holistik

baik,

sehingga

dan berkelanjutan

(sustainable). Penanganan permasalahan pengelolaan sumber daya air tersebut
membutuhkan pendekatan sistem, kebijakan/regulasi, teknologi dan dukungan
pembiayaan. Kerangka pemikiran penelitian model pengelolaan air bersih di Kota
Tarakan dapat dilihat pada Gambar 2.
Berdasarkan kondisi dan permasalahan tersebut di atas, maka perlu
dikembangkan suatu model terintegrasi yang meliputi prosedur perencanaan,
pengembangan sistem dan teknologi pengolahan air bersih, serta kelembagaan,
pembiayaan, dan peran serta masyarakat.

Gambar 2 Kerangka Pemikiran

6

1.4

Perumusan Masalah
Kawasan pesisir dan pulau kecil yang dicirikan dengan tingkat

pembangunan yang pesat dan pertumbuhan penduduk yang tinggi, air bersih
merupakan barang yang langka dan mahal. Karena selain disebabkan oleh
semakin tingginya kebutuhan akan air, juga terjadi penurunan kualitas dan
kuantitas air. Penggunaan air di kawasan perkotaan di pulau kecil antara lain
adalah

untuk

air

minum

(permukiman),

industri,

usaha

perkotaan

(perdagangan/pertokoan), transportasi dan lainnya. Melihat besarnya peran dan
fungsi air serta untuk mengantisipasi semakin tingginya kebutuhan air khususnya
air bersih di pulau kecil, maka perencanaan sumber daya air harus mendapat
perhatian yang serius. Karena perencanaan sumber daya air merupakan salah
satu faktor utama dalam pemenuhan kebutuhan air bersih di pulau kecil.
Pada saat ini dipastikan kinerja pelayanan air bersih di pulau kecil masih
sangat kurang terutama di kawasan kota. Jika dicermati ada beberapa
permasalahan besar yang terkait dengan perencanaan air di pulau kecil, seperti :
(1) sumber air baku untuk air bersih di pulau kecil mengalami penurunan baik
kualitas dan kuantitas, (2) kebutuhan air yang terus meningkat sejalan dengan
peningkatan pembangunan dan pertumbuhan penduduk, (3) rendahnya cakupan
pelayanan air bersih, kinerja pengelolaan sistem air bersih yang menurun akibat
tingginya kebocoran, (4) biaya operasional dan umur instalasi, dan (5) alih fungsi
lahan yang menyebabkan lahan untuk konservasi air semakin sedikit.
Dengan

demikian

diperlukan

kajian

mendalam

mengenai

model

penyediaan air bersih di pulau kecil secara berkelanjutan. Beberapa pertanyaan
penelitian yang merupakan inti permasalahan penyediaan air bersih pulau kecil
adalah :
1) Bagaimana kondisi dan potensi air bersih yang dapat dimanfaatkan untuk
penyediaan air bersih di pulau kecil? Apakah sumber air baku tersebut layak
dan cukup?
2) Bagaimana sarana penyediaan air bersih yang paling cocok untuk pulau-pulau
kecil?
3) Model penyediaan air bersih yang bagaimanakah yang tepat di pulau kecil?
Berapa investasinya? Serta bagaimana kebijakan pengelolaannya sehingga
bisa berkelanjutan?
Perumusan masalah penelitian model pengelolaan air bersih pada pulau
kecil di Kota Tarakan dapat dilihat secara sistematis pada Gambar 3.

7

1.5

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi berupa konsep

model penyediaan air bersih di pulau kecil. Penelitian ini secara praktis
bermanfaat:
1) Sebagai alternatif pemecahan masalah dalam penyediaan air bersih di pulau
kecil secara komprehensif.
2) Sebagai usulan bagi stakeholder dalam membuat strategi dalam perencanaan
penyediaan air bersih di pulau-pulau kecil.

Gambar 3 Perumusan Masalah
1.6

Kebaruan (novelty)
Penelitian penyediaan dan pengelolaan air bersih di pulau kecil belum

pernah dilakukan dengan pendekatan sistem secara menyeluruh dengan
melibatkan aspek lingkungan (pengembangan sumber air baku), aspek ekonomi
(tarif air bersih yang layak), aspek teknologi (pengembangan teknologi instalasi
air

bersih

skala

mikro),

aspek

hukum-kelembagaan

(pengembangan

kelembagaan air bersih) dan aspek sosial (peningkatan pelayanan air bersih
masyarakat). Berdasarkan hal tersebut, kebaruan dari penelitian ini adalah
dihasilkannya rekomendasi kebijakan penyediaan air bersih di pulau kecil
khususnya Kota Tarakan.

2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Klasifikasi Pulau Besar dan Pulau Kecil
Definisi pulau menurut UNCLOS (1982) adalah massa daratan yang

terbentuk secara alamiah, dikelilingi oleh air dan selalu berada di atas
permukaan pasang tertinggi. Dalam definisi tidak membedakan air tawar dan air
laut. Pulau Samosir di Danau Toba misalnya, masuk dalam kategori pulau. Yang
tidak bisa dikategorikan sebagai pulau adalah mangrove, gosong dan batu.
Jumlah pulau di Indonesia tercatat 13.487 pulau. Pulau kecil terluar yang
berbatasan dengan Negara tetangga (Australia, Papua Nugini, Palau, Filipina,
Malaysia, Vietnam, Thailand, Singapura dan India), sebanyak 92 pulau.
Berdasarkan ketentuan definisi teknis pulau kecil ini sama dengan atau
lebih kecil dari 5.000 km2, maka dilakukan pembagian klasifikasi luas pulau-pulau
di Indonesia. Klasifikasi pulau-pulau ini (dalam 6 kelas) dari pulau besar sampai
dengan pulau kecil berdasarkan luas teknis adalah sebagai berikut (Soenarto,
2009) :
1)

Pulau besar makro atas, dengan luas di atas 500.000 km2, sebagai contoh
Pulau Papua (805.000 km2) dan Pulau Kalimantan (736.000 km2).

2)

Pulau besar makro bawah, dengan luas 100.000 km2 – 500.000 km2,
misalnya Pulau Sumatra (473.606 km2), Pulau Sulawesi (189.040 km2) dan
Pulau Jawa (134.045 km2).

3)

Pulau besar menengah, dengan luas 50.000 km2 – 100.000 km2, tidak ada
pulau yang memenuhi klasifikasi ini.

4)

Pulau besar mikro atas, dengan luas 10.000 km2 - 50.000 km2, dengan
contoh Pulau Timor (32.000 km2), Pulau Seram (18.625 km2), Pulau
Halmahera (17.800 km2), Pulau Flores (14.250 km2), Pulau Sumbawa
(13.300 km2), Pulau Bangka (11.940 km2), Pulau Sumba (11.100 km2).

5)

Pulau besar mikro bawah, dengan luas 5.000 km2 – 10.000 km2, dengan
contoh Pulau Buru (8473,2 km²), Pulau Bali (5.623 km2).

6)

Pulau kecil, dengan luas ≤ 5.000 km2, salah satu contoh adalah Pulau
Lombok (4.880 km2).
Pulau kecil secara teknis dinyatakan sebagai pulau dengan luas sama

dengan atau lebih kecil dari 5.000 km2. Pulau ini bisa dikelilingi melalui laut oleh
speed boat dalam tempo sekitar 12 jam (daylight) atau jauh kurang dari 24 jam
(day and night). Definisi teknis ini sama dengan yang diambil oleh Dewan

9

Kepulauan Inggris. Pulau kecil menurut definisi UNESCO, adalah pulau yang
mempunyai luas sama dengan atau lebih kecil dari 2.000 km2. Alasan
pengambilan angka ini tidak dijelaskan, dan mungkin hanya suatu kesepakatan
saja. Berdasarkan penjelasan dalam berbagai Undang-Undang di Indonesia,
pulau kecil adalah pulau yang luasnya sama dengan atau kurang dari 2.000 km2,
yang berarti, berdasarkan Undang-Undang, maka Pulau Alor (2.600 km2) tidak
termasuk sebagai pulau kecil.
Dalam pembagian penggolongan kelas pulau kecil, baik luas teknis
maupun berdasarkan Undang-Undang keduanya diadopsi, dan dimasukkan ke
dalam kelas pulau kecil makro atas dengan luas 1.000 km2 – 5.000 km2. Pulau
kecil untuk selanjutnya dibagi dalam 9 kelompok berikut ini:
1) Pulau kecil makro atas, 1.000 km2 – 5.000 km2 dengan contoh Pulau Lombok
(4.880 km2), Pulau Belitung (4.800 km2), Pulau Nias (4.100 km2), Pulau
Siberut (3.300 km2), Pulau Alor (2.600 km2), Pulau Pagai Utara dan Selatan
(2.200 km2), Pulau Simeuleu (1.400 km2), Pulau Batu (1.201 km2), Pulau
Bintan (1.075 km2), Pulau Morotai (1.000 km2).
2) Pulau kecil makro menengah, dengan luas 500 km2 – 1.000 km2 dengan
contoh Pulau Bengkalis (900 km2), Pulau Ambon (761 km2), Pulau Sipora (600
km2).
3) Pulau kecil makro bawah, dengan luas 100 km2 – 500 km2, dengan contoh
Pulau Batam (440 km2), Pulau Pantar (300 km2), Pulau Tarakan (250 km2),
Pulau Tabuan (194 km2), Pulau Selaru (175 km2), Pulau Weh (153 km2).
4) Pulau kecil menengah, dengan luas 50 km2 - 100 km2, dengan contoh Pulau
Gag (65 km2).
5) Pulau kecil mikro atas, dengan luas 10 km2 – 50 km2, dengan contoh Pulau
Nusa Laut (36 km2), Pulau Nyang-Nyang (17 km2), Pulau Marampit (12 km2),
Pulau Hinako (10,5 km2).
6) Pulau kecil mikro menengah, dengan luas 5 km2 – 10 km2, dengan contoh
Pulau Keramaian (10 km2), Pulau Fani (9 km2), Pulau Panjang (8 km2), Pulau
Puhawang (7 km2), Pulau Taka Bonerate (5 km2).
7) Pulau kecil mikro bawah, dengan luas 1 km2 – 5 km2, dengan contoh, Pulau
Krakatau (4 km2), Pulau Masakambing (3 km2), Pulau Miangas (3,15 km2),
Pulau Berhala (2,5 km2), Pulau Marore (2,15 km2), Pulau Pari (2 km2).
8) Pulau kecil mungil, dengan luas 0,5 km2 - 1 km2, dengan contoh Pulau Nipa
(0,6 km2).

10

9) Pulau kecil mini, dengan luas ≤ 0,5 km2.
Pembagian lebih lanjut lagi untuk pulau kecil mini dengan uas ≤ 0,5 km2
atau ≤ 50 ha, dibagi dalam 8 kelompok, yaitu:
1) Pulau kecil mini teratas, dengan luas 10 ha – 50 ha, dengan contoh Pulau
Tidung Besar (50 ha), Pulau Untung Jawa (40 ha), Pulau Batek (0,25 km²).
2) Pulau kecil mini atas, dengan luas 5 ha – 10 ha, dengan contoh Pulau Fanildo
(0,1 km²), Pulau Sebira (9 ha).
3) Pulau kecil mini menengah, dengan luas 1 ha – 5 ha, dengan contoh Pulau
Kelapa Dua (2 ha), Pulau Batusulu (1 ha).
4) Pulau kecil mini bawah, dengan luas 50 m2 – 100 m2.
5) Pulau kecil mini terbawah, dengan luas 10 m2 – 50 m2.
6) Pulau kecil renik atas, dengan luas 5 m2 – 10 m2 .
7) Pulau kecil renik menengah, dengan luas 1 m2 – 5 m2.
8) Pulau kecil renik bawah, dengan luas < 1 m2.
Pembagian ini diperlukan untuk menghadapi perubahan akibat terjadinya
penyusutan luas pulau kecil karena munculnya fenomena kenaikan muka air laut
pada kemudian hari, sebagai akibat pemanasan global dan perubahan iklim.
Pembagian luas pulau sampai pada angka 1 m2, mempunyai arti untuk
mengantisipasi terjadinya penyusutan luas pulau dataran yang mempunyai
ketinggian sekitar 1 m dari muka air laut rata-rata, yang berlangsung dalam
jangka waktu 50 tahun ke depan. Kelompok kelas 4 sampai dengan 8 masih
banyak yang belum diberi nama, dan saat ini sedang dibuatkan nama baru.
2.2

Sumber Daya Air Tawar di Pulau Kecil
Sumber daya air di wilayah pesisir terdiri dari 3 jenis sumber daya air

yaitu air atmosferik (hujan), air permukaan, dan air tanah. Jumlah sumber daya
air yang berasal dari air hujan akan bergantung pada musim yang sedang
berlangsung. Pada musim hujan air tersedia dalam jumlah yang banyak, dan
kondisi sebaliknya ditemui pada musim kemarau. Sumber daya air permukaan
terdiri dari air sungai, saluran irigasi, danau alam, danau buatan (waduk), dan
gena

Dokumen yang terkait

Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur).