Analisis kelayakan investasi peternakan ayam broiler pada kondisi risiko (Studi Kasus: Peternakan Rakyat Milik Bapak Marhaya, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat)

(1)

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI

PETERNAKAN AYAM BROILER PADA KONDISI RISIKO

(Studi Kasus: Peternakan Rakyat Milik Bapak Marhaya,

Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat)

SKRIPSI

EVIN EKA SAPUTRA H34096032

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2011


(2)

(3)

RINGKASAN

Evin Eka Saputra. Analisis Kelayakan Investasi Peternakan Ayam Broiler pada Kondisi Risiko (Studi Kasus: Peternakan Rakyat Milik Bapak Marhaya, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat). Dibawah bimbingan

TINTIN SARIANTI.

Konsumsi daging ayam broiler Indonesia adalah 545.1 ribu ton per tahun. Konsumsi daging ayam broiler sebesar 4,5 kilogram per kapita per tahun. Konsumsi per kapita tersebut terus didorong oleh Pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat mengingat kandungan gizi ayam broiler yang baik namun mudah diakses masyarakat karena harga yang relatif murah dibanding harga daging jenis lain. Dengan jumlah konsumsi per kapita tersebut, individu memperoleh asupan gizi harian sebesar 19,73 kalori, 1,19 protein, dan 1,63 lemak. Jumlah ini termasuk kecil dibanding dengan konsumsi perkapita negara lain. Masyarakat Singapura, Jepang, dan Amerika Serikat pada tahun 1987 saja masing-masing telah mencapai 22,69 gram, 53,50 gram, dan 73 gram per kapita per hari. Rendahnya konsumsi protein asal ternak masyarakat Indonesia ini merupakan faktor lain yang ikut mendorong perlunya pengembangan peternakan di Indonesia, termasuk pengembangan peternakan ayam pedaging.

Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah di propinsi Jawa Barat yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor peternakan untuk menjadi sektor unggulan dalam kontribusinya menyumbang pendapatan asli daerah. Dari Pemetaan Sektor Pertanian di Jawa Barat yang telah direncanakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah yang dipilih untuk pengembangan usaha unggas produksi daging dan telur. Sampai saat ini, Kabupaten Bogor berkontribusi terhadap total Produk Domestik Bruto Regional Jawa Barat lebih besar dari 10 persen. Salah satu wilayah daerah di Kabupaten Bogor yang masyarakatnya banyak bergerak dalam usaha budidaya ayam broiler dengan sistem kemitraan adalah kecamatan Darmaga. Para peternak yang dapat tergolong peternak rakyat lebih memilih sistem kemitraan karena banyak kelebihan-kelebihan yang diberikan dengan sistem ini dibanding budidaya mandiri dengan sistem konvensional.

Salah satu peternak di Kabupaten Bogor yang mengusahakan peternakan ayam broiler skala rakyat dengan jumlah 6.000 ekor per periode adalah Bapak Marhaya yang bertempat diwilayah Nanggung, Kabupaten Bogor. Usaha peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya diwilayah Nanggung, Kabupaten Bogor telah berjalan sejak tahun 2008. Sejauh ini usaha peternakan milik Bapak Marhaya berjalan dengan baik. Namun Bapak Marhaya belum mengetahui secara pasti seberapa besar manfaat (benefit) yang diperoleh atas investasi kandang yang telah dikeluarkan. Penelitian ini akan mencoba untuk menganalisis kelayakan invetasi dari usaha pembesaran ayam broiler yang dijalankan Bapak Marhaya di wilayah Nanggung, Kabupaten Bogor dengan memperhatikan kondisi risiko.

Kriteria yang digunakan dalam menilai kelayakan suatu proyek adalah Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (B/C), Payback Period (PP), dan Internal Rate of Return (IRR). Sedangkan tingkat risiko dinilai dengan standar deviasi dan koefisien variasi.


(4)

ii Usaha peternakan ayam broiler yang dijalankan Bapak Marhaya berdasarkan analisis aspek non finansial, yaitu aspek teknis, aspek pasar, aspek manajemen, serta aspek sosial dan lingkungan menunjukkan kelayakan. Pengelolaan pembesaran yang dijalankan berjalan dengan efektif dan efisien.

Analisis aspek kelayakan finansial usaha peternakan yang dijalankan Bapak Marhaya layak untuk dijalankan. Pada perhitungan tanpa kondisi risiko peternakan mampu menghasilkan NPV Rp 31.121.886 per tahun. Net B/C 1,77 , IRR 27,847 persen dan PP dalam jangka waktu 3 tahun 11 bulan 10 hari. Nilai dari masing-masing kriteria tersebut sesuai dengan nilai indikator yang ditetapkan sehingga peternakan layak dilanjutkan.

Dengan skenario risiko harga terbaik, normal dan terburuk mengahasilkan nilai koefisien variasi 0,667 dengan hasil kriteria investasi positif. Pada perhitungan dengan skenario produksi, hasil perhitungan memperlihatkan kondisi ini dapat membuat usaha peternakan menjadi tidak layak. Nilai koefisien variasi dengan risiko produksi bernilai 2,879 persen (lebih besar dari risiko harga). Kedua nilai koefisien tersebut menunjukkan tingkat risiko produksi lebih tinggi daripada risiko yang diakibatkan harga.


(5)

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI

PETERNAKAN AYAM BROILER PADA KONDISI RISIKO

(Studi Kasus: Peternakan Rakyat Milik Bapak Marhaya, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat)

EVIN EKA SAPUTRA H34096032

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2011


(6)

(7)

Judul Skripsi : Analisis Kelayakan Investasi Peternakan Ayam Broiler pada Kondisi Risiko (Studi Kasus: Peternakan Rakyat Milik Bapak Marhaya, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat)

Nama : Evin Eka Saputra

NIM : H34096032

Menyetujui, Pembimbing

Tintin Sarianti, SP, MM

NIP. 19750316 200501 2 001

Menyetujui:

Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi

NIP 19580908 198403 1 002


(8)

(9)

PERNYATAAN

Dengan ini saya mengatakan bahwa skripsi yang berjudul “Analisis Kelayakan

Investasi Peternakan Ayam Broiler pada Kondisi Risiko (Studi Kasus: Peternakan Rakyat Milik Bapak Marhaya, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa

Barat)” adalah hasil karya penulis sendiri dan belum pernah diajukan sebagai

karya tulis ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun.

Bogor, Juli 2011 Evin Eka Saputra


(10)

(11)

RIWAYAT HIDUP

Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara pasangan Bapak Sabar dan Ibu Sularmi. Penulis dilahirkan di Kota Metro pada tanggal 28 September 1988, Lampung. Penulis bersekolah di TK Aisyah Metro kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan dasar di SD Negeri 1 Hadimulyo, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Negeri 2 Kota Metro, dan Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Kota Metro.

Penulis masuk Institut Pertanian Bogor pada tahun 2006 melalui jalur USMI. Di IPB penulis mengambil Program Diploma III dengan jurusan Manajemen Agribisnis dan selesai pada tahun 2009. Kemudian, pada tahun yang sama penulis melanjutkan jenjang pendidikan sarjana pada program sarjana ekstensi IPB dengan jurusan Agribisnis. Program sarjana agribisnis diselesaikan pada Juli 2011.


(12)

(13)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Kelayakan Investasi Peternakan Ayam Broiler pada Kondisi Risiko (Studi Kasus: Peternakan Rakyat Milik Bapak Marhaya, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat)”

Penelitian ini bertujuan menganalisis kelayakan usaha peternakan ayam broiler skala rakyat berdasarkan aspek non finansial dan aspek finansial baik tanpa risiko maupun dengan kondisi risiko terhadap usaha peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Upaya yang terbaik telah dilakukan guna penyelesaian penyusunan skripsi. Semoga skripsi ini bermanfaat khususnya bagi berbagai pihak yang terkait dan bagi pembaca pada umumnya.

Bogor, Juli 2011

Evin Eka Saputra H34096032


(14)

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdullillahi Rabbil A`lamin, segala puja dan puji penulis panjatkan kehadirat Allah SWT serta salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabat beliau. Berkat rahmat dan ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai syarat kelulusan dan mendapat gelar Sarjana Ekonomi pada Perguruan Tinggi Negeri Institut Pertanian Bogor. Kegiatan penelitian ini tidak akan berhasil tanpa dukungan dari berbagai pihak yang telah memberikan dukungan moril dan pemikiran selama proses pembuatan karya tulis tentang Analisis Kelayakan Investasi. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang mendalam kepada:

1. Tintin Sarianti, SP. M.M. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan segala masukan, bimbingan dalam setiap kesulitan dalam proses penulisan dari awal hingga terselesaikannya skripsi ini.

2. Ir. Burhanuddin, M.M atas kesediaannya menjadi dosen evaluator dalam kolokium proposal penelitian dan proses sidang skripsi ini.

3. Amzul Rifin, PhD atas kesediaanya menjadi evaluator akademik tentang teknis penulisan skripsi ini.

4. Kedua orang tua tercinta, Bapak Sabar dan Ibu Sularmi yang selalu memberikan kasih sayang tulus serta bimbingan dalam segala hal untuk penulis baik moril maupun materil sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.

5. Adik-adikku tersayang Risty Evilia, Elsa Frestanti, dan M.Reza Shihab berkat mereka penulis selalu mendapatkan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

6. Seluruh keluarga besar di Lampung yang selalu memberikan nasihat mendalam untuk penulis agar penulis selalu berusaha untuk jadi seseorang yang lebih baik.

7. Bapak Rofi, Bapak Asep, Gina Mardika Sari dan seluruh karyawan Dramaga Unggas Farm yang memberikan kesempatan kepada penulis menimba pengalaman berharga selama proses penulisan.


(15)

ix 8. Bapak Marhaya sekeluarga, Asep dan pemilik peternakan di sekitar lokasi kandang yang bersedia membagi ilmu dan pengalaman kepada penulis guna mendukung terselesaikannya karya tulis ini.

9. Seluruh keluarga besar Asrama IPB Sukasari atas kesediaannya berbagi canda dan tawa yang penuh arti sehingga membuat penulis selalu bahagia dan tetap semangat untuk menyelesaikan skripsi ini.

10.Amelia Novianti, Ganda P Adyanto Siregar, Eva Christy dan Mbak Ana sebagai rekan seperjuangan selama proses pembimbingan dilakukan.

11.Seluruh rekan-rekan Agribisnis khususnya angkatan 7 yang telah memberi saran maupun kritik membangun terhadap rencana penulisan skripsi ini.

Bogor, Juli 2011 Evin Eka Saputra


(16)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan masalah ... 5

1.3. Tujuan Penelitian ... 7

1.4. Manfaat penelitian ... 7

1.5. Ruang Lingkup ... 7

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Ayam Broiler ... 9

2.2. Sejarah Ayam Broiler di Indonesia ... 9

2.3. Usaha Peternakan Ayam Broiler ... 10

2.4. Faktor-faktor Produksi Peternakan Ayam Broiler ... 11

2.4.1. Day Old Chick (DOC) ... 12

2.4.2. Lahan dan Perkandangan ... 12

2.4.3. Ransum ... 13

2.4.4. Obat dan Vaksinasi ... 14

2.4.5. Tenaga Kerja ... 15

2.4.6. Biaya Input ... 15

2.5. Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 15

2.5.1. Analisis Kelayakan Finansial ... 16

2.5.2. Penelitian yang akan dilakukan ... 17

III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 19

3.1.1. Studi Kelayakan bisnis ... 19

3.1.2. Aspek-aspek Studi Kelayakan Bisnis... 20

3.1.3. Konsep Nilai Waktu Uang (Time Value of Money) ... 24

3.1.4. Risiko dalam Investasi ... 25

3.1.5. Konsep Expected Return ... 28

3.1.6. Penilaian Risiko ... 29

3.1.7. Perhitungan Bunga ... 30

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ... 31

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu ... 34

4.2. Metode Penentuan Lokasi Penelitian ... 34

4.3. Data dan Sumber Data ... 34

4.4. Metode Pengumpulan Data ... 35

4.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 35

4.6. Analisis Kelayakan Aspek Non Finansial ... 36

4.6.1. Aspek Pasar ... 36

4.6.2. Aspek Teknis ... 37


(17)

xi

4.6.4. Aspek Hukum ... 37

4.7. Analisis Kelayakan Aspek Finansial ... 37

4.7.1. Net Present Value (NPV) ... 37

4.7.2. Net Benefit Cost Ratio (B/C) ... 38

4.7.3. Internal Rate of Return (IRR) ... 38

4.7.4. Payback Period (PP) ... 39

4.7.5. Discounting Factor dan Compounding Factor ... 40

4.7.6. Break Even Point... 40

4.7.7. Penilaian Risiko dalam Investasi ... 41

4.8. Asumsi Dasar ... 43

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Sejarah Umum Peternakan ... 46

5.2. Jalinan Kerjasama Peternakan milik Bapak Marhaya ... 46

5.3. Risiko Usaha Peternakan milik Bapak Marhaya ... 47

VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Analisis Aspek Kelayakan Non Finansial ... 51

6.1.1. Aspek Pasar ... 51

6.1.2. Aspek Teknis ... 53

6.1.3. Aspek Manajemen dan Hukum ... 57

6.1.4. Aspek Sosial dan Lingkungan ... 58

6.2. Analisis Aspek Finansial ... 59

6.2.1. Arus Manfaat (Inflow) ... 59

6.2.2. Arus Biaya (Outflow) ... 61

6.2.3. Kelayakan Investasi Usaha Usaha Peternakan Milik Bapak Marhaya Tanpa Risiko ... 67

6.2.4. Perhitungan Nilai Break Even Point ... 69

6.2.5. Nilai Kelayakan pada Peternakan Ayam Broiler dengan Pola Mandiri ... 69

6.3. Perhitungan Risiko Usaha Peternakan Milik Bapak Marhaya ... 71

6.3.1. Risiko Produksi ... 72

6.3.2. Risiko Harga ... 75

6.3.3. Perhitungan Tingkat Risiko... 77

VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan ... 80

7.2. Saran ... 81

DAFTAR PUSTAKA ... 82


(18)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Perkembangan Populasi Ayam Broiler di Indonesia dari Tahun 2001-2008 ... 3 2. Perkembangan Produksi Hewan Ternak di Kabupaten Bogor Tahun

2009-2010 ... 4 3. Ruang Gerak yang Dibutuhkan oleh Ayam Broiler Berdasarkan

Bobot Ternak ... 13 4. Kebutuhan Zat Nutrisi yang diperlukan Ayam Broiler ... 14 5. Kebutuhan Zat Nutrisi yang diperlukan Ayam Broiler Berdasarkan

Umur ... 14 6. Produksi Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya pada

Kondisi Berbagai Risiko ... 47 7. Harga Jual yang Diterima Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak

Marhaya pada Setiap Kondisi ... 49 8. Penerimaan Usaha Peternakan Ayam Broiler Kondisi Tanpa Risiko .... 60 9. Biaya Investasi Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya ... 61 10. Biaya Reinvestasi yang Dikeluarkan Peternakan Ayam Broiler Milik

Bapak Marhaya ... 63 11. Penyusutan dari Barang Investasi Peternakan Ayam Broiler Milik

Bapak Marhaya ... 64 12. Biaya Variabel yang Dikeluarkan Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya (4346 ekor) ... 66 13. Biaya Tetap Yang dikeluarkan Peternakan Ayam Broiler Milik

Bapak Marhaya ... 67 14. Hasil Perhitungan Kriteria Investasi Usaha Peternakan Ayam Broiler

Milik Bapak Marhaya ... 68 15. Perhitungan Nilai BEP pada Peternakan Ayam Broiler dengan Pola

Kemitraan ... 69 16. Hasil Perhitungan Kriteria Investasi Usaha Peternakan Ayam Broiler

Milik Bapak Marhaya dengan Asumsi Pola Mandiri ... 70 17. Perhitungan Nilai BEP pada Peternakan Ayam Broiler dengan Pola

Mandiri ... 71 18. Frekuensi Dan Bobot Panen Ayam Broiler di Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya ... 72 19. Biaya Variabel Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya


(19)

xiii 20. Kriteria Investasi pada Ketiga Kondisi Risiko Produksi Usaha

Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya ... 74 21. Frekuensi Harga Jual Daging Broiler di Peternakan Milik Bapak Marhaya Pada Setiap Kondisi... 75 22. Penerimaan Usaha Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya

pada Risiko Harga Kondisi Tiga Skenario ... 76 23. Kriteria Kelayakan Investasi Usaha Peternakan Ayam Broiler Milik

Bapak Marhaya pada Risiko Harga Kondisi Tiga Skenario ... 76 24. Probabilitas dari Ketiga Kondisi pada Risiko Produksi ... 77 25. Probabilitas dari Ketiga Kondisi pada Risiko Harga ... 77 26. Tingkat Risiko yang Terjadi pada Ketiga Skenario dalam Risiko


(20)

(21)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Kerangka Alur Pemikiran Operasional... 33 2. Saluran Pemasaran Ayam Broiler pada Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya ... 52 3. Saluaran Pemasaran Pupuk Kandang pada Peternakan Ayam Broiler

Milik Bapak Marhaya ... 53 4. Kandang Produksi Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya .... 54 5. Bentuk dan Layout Kandang Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya ... 55 6. Proses Pengosongan Kandang pada Masa Jeda Pemeliharaan Ayam Broiler untuk Persiapan Pemeliharaan ... 56 7. Ayam Broiler Siap Panen dengan Masa Pemeliharaan 45 hari ... 57 8. Struktur Organisasi pada Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak


(22)

(23)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Total Penerimaan Bapak Marahaya pada Kondisi Harga Normal ... 85 2. Total Penerimaan Bapak Marahaya pada Kondisi Risiko Harga

Terbaik ... 85 3. Total Penerimaan Bapak Marahaya pada Kondisi Risiko Harga

Terburuk ... 86 4. Total Penerimaan Bapak Marahaya pada Kondisi Risiko Produksi

Terburuk ... 86 5. Total Penerimaan Bapak Marahaya pada Kondisi Risiko Produksi

Terbaik ... 87 6. Total Penerimaan Bapak Marahaya pada Kondisi Risiko Produksi

Normal ... 87 7. Arus Kas Usaha Budidaya Ayam Broiler pada Kondisi Harga

Tanpa Risiko ... 88 8. Arus Kas Usaha Budidaya Ayam Broiler pada Kondisi Risiko

Harga Normal ... 89 9. Arus Kas Usaha Budidaya Ayam Broiler pada Kondisi Risiko

Harga Terbaik ... 90 10. Arus Kas Usaha Budidaya Ayam Broiler pada Kondisi Risiko

Harga Terburuk... 91 11. Arus Kas Usaha Budidaya Ayam Broiler pada Kondisi Risiko

Produksi Normal ... 92 12. Arus Kas Usaha Budidaya Ayam Broiler pada Kondisi Risiko

ProduksiTerbaik ... 93 13. Arus Kas Usaha Budidaya Ayam Broiler pada Kondisi Risiko

Produksi Terburuk ... 94 14. Tingkat Risiko Usaha Peternakan Ayam Broiler Bapak Marhaya

pada Kondisi Risiko Harga ... 95 15. Tingkat Risiko Usaha Peternakan Ayam Broiler Bapak Marhaya

pada Kondisi Risiko Produksi ... 95 16. Arus Kas Usaha Budidaya Ayam Broiler pada Kondisi Pola Mandiri... 96 17. Jadwal Proses Pemeliharaan Ayam Broiler pada Peternakan Milik


(24)

(25)

I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) dari hasil pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan atas dasar harga konstan 2000 adalah sebesar 284,6 triliun pada tahun 2008 dan 296,4 triliun pada tahun 2009 atau mengalami pertumbuhan sebesar 4,1 persen. Sedangkan Peranan Sektor Pertanian terhadap PDB Indonesia tahun 2009 tumbuh dari 14,5 persen menjadi 15,3 persen sehingga sektor pertanian berada pada ranking kedua yang memiliki kontribusi terhadap PDB setelah sektor industri pengolahan yaitu sebesar 26,4 persen. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kebijakan fiskal yang dibuat pemerintah memberi proporsi perhatian lebih pada pengembangan pertanian dalam rangka pembangunan perekonomian nasional sudah tepat, karena memberikan hasil kontribusi positip pada ekonomi nasional1.

Ketersediaan lahan yang luas di Indonesia belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat terutama untuk kegiatan peternakan, sampai saat ini produksi hasil peternakan dalam negeri belum dapat mencukupi kebutuhan konsumsi daging masyarakat, terutama untuk daging ayam. Dari aspek tersebut, pengembangan peternakan di Indonesia berpotensi sangat besar. Potensi lahan untuk pengembangan peternakan mencapai 88,2 juta hektar yang terdiri dari lahan perkebunan, lahan tegalan, lahan hutan alang-alang, lahan hutan, dan lahan persawahan2.

Konsumsi daging ayam broiler Indonesia adalah 545.1 ribu ton per tahun. Konsumsi daging ayam broiler sebesar 4,5 kilogram per kapita per tahun. Konsumsi per kapita tersebut terus didorong oleh Pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat mengingat kandungan gizi ayam broiler yang baik dan juga mudah diakses masyarakat karena harga yang relatif murah dibanding harga daging jenis lain. Dengan jumlah konsumsi per kapita tersebut, individu memperoleh asupan gizi harian sebesar 19,73 kalori, 1,19 protein dan 1,63 lemak. Jumlah ini termasuk kecil dibanding dengan konsumsi perkapita negara lain. Masyarakat Singapura, Jepang, dan Amerika Serikat pada tahun 1987 masing-masing telah mencapai 22,69 gram, 53,50 gram dan 73 gram per kapitas per hari. Rendahnya konsumsi protein asal ternak masyarakat Indonesia ini merupakan

1

http://www.deptan.go.id.Buletin. PDB sektor pertanian. 23 maret 2011. 2

Pemerintah Daerah Jawa Barat. Pemetaan Sektor Pertanian di Jawa Barat. 25 Maret 2011


(26)

2 faktor lain yang ikut mendorong perlunya pengembangan peternakan di Indonesia, termasuk pengembangan peternakan ayam pedaging3.

Pembangunan usaha peternakan ayam pedaging (broiler) untuk meningkatkan produksi daging sangat dirasakan manfaatnya, terutama untuk menjadi barang substitusi bagi daging sapi impor yang didatangkan dari Australia dalam jumlah besar, serta untuk penyediaan daging bagi masyarakat dengan harga murah, sehingga konsumsi protein hewani masyarakat juga dapat meningkat (Hartono, 2003).

Keadaan tersebut membuat ayam broiler menjadi salah satu komoditas ternak yang paling potensial untuk dikembangkan. Ayam broiler merupakan jenis unggas yang mempunyai siklus produksi cepat dengan pertambahan bobot badan 50-100 gram per hari. Waktu pemeliharaan sampai panen ayam broiler adalah 4-5 minggu. Laju pertumbuhan ayam broiler dapat diatur dengan pencahayaan dan program jadwal pemberian pakan yang baik.

Peternakan ayam broiler di Indonesia sebagian besar masih didominasi peternakan rakyat. Perusahaan besar yang terlibat dalam usaha peternakan ayam broiler ini menangkap potensi bisnis tersebut dengan menawarkan pola inti plasma kepada peternak. Pola kemitraan ini adalah bentuk kerjasama antara perusahaan dengan masyarakat. Banyak manfaat yang diperoleh peternak dengan adanya bentuk kerjasama tersebut, jaminan pasokan sarana produksi, harga jual produk dan pasar merupakan keuntungan-keuntungan yang diperoleh peternak yang menjadi plasma perusahaan inti (Setiawan, 2010). Sistem kerjasama ini diharapkan menjadi salah satu cara dalam mengatasi permasalahan yang sering dihadapi peternak skala kecil.

“Harga Day Old Chick (DOC) dan harga pakan berpengaruh nyata terhadap penawaran ayam pedaging. Nilai rerata elastisitas penawaran atas harga DOC dan rerata elastisitas penawaran atas harga pakan masing-masing sebesar 0,3688 dan 1,7079. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan harga DOC sebesar 1 persen akan diikuti oleh perubahan penawaran sebesar 0,3688 persen dan perubahan harga pakan sebesar 1 persen akan diikuti oleh perubahan penawaran sebesar 1,7079 persen. Angka elastisitas penawaran yang positif menunjukkan bahwa arah perubahan penawaran ayam pedaging sama dengan arah perubahan

sdsdgfsd3

http://www.BPS.go.id. Statistik Pertanian.Profil Pangan dan Pertanian. 25 Maret 2011


(27)

3 harga DOC dan dengan arah perubahan harga pakan. Peningkatan atau penurunan harga kedua macam input ini akan diikuti oleh peningkatan atau penurunan penawaran ayam pedaging” (Hartono, 2003). Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang terjadi pada budidaya ayam broiler selama ini adalah harga input DOC maupun pakan yang berfluktuasi dan semakin mahal membuat jumlah penawaran daging ayam broiler di pasaran menjadi semakin berkurang.

Tidak seimbangnya jumlah penawaran dalam mengimbangi jumlah permintaan daging yang semakin tinggi menjadikan harga daging unggas ini menjadi semakin mahal. Jika tidak segera diatasi maka masyarakat akan semakin jauh dari akses daging murah sebagai salah satu sumber gizi murah. Padahal data populasi yang ditunjukkan oleh Tabel 1 memperlihatkan jumlah populasi ayam yang memiliki tren meningkat. Peningkatan populasi tersebut mengindikasikan bahwa peternak sangat tertarik dengan bisnis ini. Oleh karena itu, pemerintah perlu memperhatikan permasalahan tersebut agar peternakan ayam broiler dapat berkembang dengan pesat.

Tabel 1. Perkembangan Populasi Ayam Broiler di Indonesia dari Tahun 2001-2008

Tahun Populasi

(000 ekor) Perubahan (%) 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 621.870,43 865.074,79 847.743,89 778.969,84 811.188,68 797.527,45 920.851,12 902.052,42 - 0,391 -0,020 -0,081 0,041 -0,016 0,154 -0,020 Sumber: Departemen Pertanian (2011)

Kabupaten Bogor secara garis besar terdiri atas tiga wilayah dan 40 kecamatan yakni wilayah timur, wilayah tengah dan wilayah barat. Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor peternakan untuk menjadi sektor unggulan dalam berkontribusi menyumbang pendapatan asli daerah.


(28)

4 Dari Pemetaan Sektor Pertanian di Jawa Barat yang telah direncanakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah yang dipilih untuk pengembangan usaha unggas produksi daging dan telur. Sampai saat ini, Kabupaten Bogor berkontribusi terhadap total Produk Domestik Bruto Regional Jawa Barat lebih besar dari 10 persen4.

Tabel 2. Perkembangan Produksi Hewan Ternak di Kabupaten Bogor Tahun 2009-2010

NO JENIS

TERNAK 2009 (Kg) 2010 (Kg) Perubahan (%)

1 Sapi 11.153.409 10.790.992 -3,25

2 Kerbau 238.800 262.268 9,83

3 Kambing 796.475 869.807 9,21

4 Domba 2.700.532 3.183.134 17,87

5 Ayam Ras 71.540.084 78.340.100 9,51

6 Ayam Buras 934.193 1.220.336 30,63

7 Itik 83.721 85.462 2,08

Sumber: Dinas Peternakan Kabupaten Bogor (2011)

Dari sisi geografis wilayah ini ideal karena letaknya berjauhan dari pemukiman penduduk Bogor yang pada umumnya terkonsentrasi di wikayah Kota Bogor sehingga tidak membuat polusi bagi masyarakat. Keadaan ini diharapkan mengurangi kemungkinan timbulnya masalah antara peternak dan masyarakat. Keadaan ini membuat masyarakat Kabupaten Bogor memiliki pekerjaan dibidang pertanian. Salah satu bisnis yang berkembang di masyarakat adalah budidaya ayam broiler. Ayam broiler banyak dipilih karena memiliki kemudahan dibidang teknis produksi dan permintaan pasar. Peternakan ayam ras mendominasi total produksi hewan ternak yang mampu dihasilkan Kabupaten Bogor. Pada tahun 2009 Kabupaten Bogor mampu menghasilkan 71.540.084 kilogram daging dan pada tahun 2010 bertambah menjadi 78.340.100 kilogram. Rata-rata produksi daging meningkat 9 persen tiap tahunnya.

Salah satu wilayah daerah di Kabupaten Bogor yang masyarakatnya banyak bergerak dalam usaha budidaya ayam broiler dengan sistem kemitraan adalah kecamatan Nanggung. Salah satu peternak di Kabupaten Bogor yang mengusahakan peternakan ayam broiler skala rakyat dengan jumlah 6.000 ekor/

4 www.google.com. Pemetaan Sektor Pertanian di Jawa Barat. 25 Maret 2011.


(29)

5 periode adalah Bapak Marhaya yang bertempat diwilayah Nanggung, Kabupaten Bogor.

Usaha subsektor peternakan yang dikelola Bapak Marhaya adalah budidaya pembesaran ayam broiler yang merupakan bagian dari proyek pertanian. Proyek pertanian sangatlah sensitif terhadap perubahan lingkungan, baik lingkungan ekstenal maupun internal. Hal ini disebabkan berbagai faktor diantaranya adalah kenaikan biaya bahan baku, adanya gangguan penyakit, dan sebagainya. Perubahan tersebut diduga akan langsung mempengaruhi komponen cashflow yang pada akhirnya akan mempengaruhi net benefit dan mengubah kelayakan investasi yang dilakukan peternak atas kandang yang didirikan.

1.2. Perumusan masalah

Usaha peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya di wilayah Nanggung, Kabupaten Bogor telah berjalan sejak tahun 2008. Sejauh ini usaha peternakan milik Bapak Marhaya berjalan dengan baik. Namun Bapak Marhaya belum mengetahui secara pasti seberapa besar manfaat (benefit) yang diperoleh atas investasi kandang yang telah dikeluarkan. Hal ini dikarenakan belum pernah dilakukan perhitungan secara khusus dari pihak pemilik sendiri. Walaupun telah berjalan cukup lama, apakah berarti usaha yang dijalankan Bapak Marhaya ini telah layak secara finansial.

Pemilihan lokasi peternakan Bapak Marhaya didasari pada berbagai aspek pertimbangan. Aspek pertama adalah skala usaha yang dikerjakan peternakan milik Bapak Marhaya masih dalam lingkup peternakan skala rakyat dengan kapasitas produksi dibawah 15.000 ekor per siklus. Aspek kedua adalah pengalaman kerja operasional pemilik peternakan dalam mengelola peternakan ayam broiler. Sedangkan aspek yang terakhir adalah efisiensi peternakan yang dinilai efisiensi konversi pakan ke bobot pakan dan tingkat kematian ayam pada saat proses pemeliharaan. Dari arahan tersebut diharapkan gambaran yang muncul dari peternakan merupakan jawaban terbaik yang dapat menjawab permasalahan yang diangkat. Oleh karena itu, penelitian ini akan mencoba untuk menganalisis kelayakan investasi dari usaha pembesaran ayam broiler yang dijalankan Bapak Marhaya di wilayah Nanggung, Kabupaten Bogor.


(30)

6 Selain melakukan perhitungan secara finansial, penelitian ini akan mencoba memberikan gambaran terhadap aspek kelayakan non finansial yang akan dianalisis melalui analisis deskriptif. Analisis aspek non finansial diperhitungkan karena pelaksanaan kegiatan operasional akan berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas output yang dihasilkan.

Informasi yang juga penting untuk dilihat adalah risiko yang dihadapi peternak dalam melaksanakan budidaya ayam broiler. Kajian ini digali karena dalam kegiatannya ada beberapa hal yang dapat membuat jumlah penerimaan pada akhir periode budidaya berfluktuasi. Perubahan tersebut terjadi akibat perubahan harga jual daging, jumlah output, dan harga input sarana produksi pertanian. Perubahan-perubahan akibat pengaruh risiko akan berdampak pada nilai kriteria kelayakan usaha dan penilaian kelayakan bisnis ayam broiler yang dijalankan Bapak Marhaya.

Oleh karena itu, penelitian ini akan mencoba untuk menganalisis tingkat kelayakan investasi dari usaha pembesaran ayam broiler yang dijalankan Bapak Marhaya dengan memperhatikan risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan budidaya ayam broiler. Setelah analisis aspek non finansial dan analisis aspek finansial dilakukan diharapkan akan muncul sebuah rekomendasi terhadap peternak mengenai kelayakan dari kegiatan bisnis yang telah dilakukan. Hal tersebut dapat dijadikan sebuah pertimbangan mengenai apa yang harus dilakukan di masa yang akan datang. Ketika bisnis dikatakan layak secara aspek finansial dan non finansialmaka bisnis dapat dilanjutkan. Dan sebaliknya, ketika bisnis dikatakan tidak layak maka perlu dilakukan tinjauan ulang dan dilakukan perbaikan pada kegiatan yang tidak efisien.

Berdasarkan uraian tersebut, masalah-masalah yang dianggap perlu untuk dikaji yaitu sebagai berikut:

1. Bagaimana kelayakan aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum usaha budidaya ayam broiler Bapak Marhaya di kawasan Nanggung, Kabupaten Bogor?

2. Bagaimana tingkat kelayakan investasi kandang usaha budidaya ayam broiler Bapak Marhaya jika dilihat dari aspek finansial (NPV, IRR, Net B/C, PP)?


(31)

7 3. Bagaimana dampak kelayakan investasi usaha budidaya ayam broiler Bapak

Marhaya dengan adanya risiko?

4. Mengetahui perbandingan kelayakan finansial antara peternakan ayam broiler dengan sistem kemitraan dengan mandiri pada skala peternakan rakyat?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini antara lain:

1. Menganalisis kelayakan usaha budidaya ayam broiler Bapak Marhaya berdasarkan aspek non finansial.

2. Menganalisis kelayakan usaha budidaya ayam broiler milik Bapak Marhaya berdasarkan aspek finansial pada kondisi tanpa risiko.

3. Menganalisis kelayakan usaha budidaya ayam broiler milik Bapak Marhaya berdasarkan risiko produksi dan risiko harga.

4. Menganalisis tingkat perbandingan kelayakan finansial antara peternakan ayam broiler dengan sistem kemitraan dengan mandiri pada skala peternakan rakyat?

1.4. Manfaat penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini antara lain:

1. Menjadi bahan masukan bagi pemilik usaha ternak untuk melakukan pengembangan bisnis yang dimiliki sehingga dapat berkembang baik dari skala usaha maupun kualitas usaha.

2. Menjadi bahan pembelajaran untuk menambah pengalaman bagi penulis dalam mempraktekkan ilmu yang telah diperoleh selama kegiatan perkuliahan. 3. Menjadi referensi dan bahan bacaan yang memberikan manfaat ilmu bagi para

pembaca.

1.5. Ruang Lingkup

Penelitian ini membahas tentang tingkat kelayakan investasi usaha peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya di kawasan Nanggung, Kabupaten Bogor. Peternak yang dipilih sebagai kajian adalah peternak pemilik. Peternak pemilik merupakan peternak yang memiliki lokasi dan kandang bukan peternak mitra penyewa kandang. Pokok bahasan berupa analisis deskriptif yang akan menggambarkan keadaan non finansial bisnis. Selain itu juga akan dilakukan


(32)

8 analisis secara kuantitatif serta pembahasannya dalam implikasi atau makna secara kualitatif dari perhitungan kelayakan finansial.

Ruang lingkup penelitian akan difokuskan pada peternakan ayam broiler skala rakyat. Hal tersebut dikarenakan wilayah kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor didominasi oleh peternak yang memiliki skala usaha kurang dari 15.000 ekor/periode. Risiko yang akan dibahas dibatasi pada pengukuran risiko produksi dan harga.


(33)

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Karakteristik Ayam Broiler

Rasyaf (2008) memberikan definisi ayam broiler adalah ayam jantan dan betina muda yang dijual pada umur dibawah delapan minggu dengan bobot tubuh tertentu, mempunyai pertumbuhan yang cepat serta mempunyai dada yang lebar dengan timbunan daging yang baik dan banyak. Ciri-ciri khas ayam broiler dibanding daging jenis unggas yang lain diantaranya: rasanya yang khas dan enak, memiliki tekstur daging yang lembut dan banyak, pengolahan yang singkat karena daging ini mudah lunak.

Keunggulan-keunggulan sifat yang dimiliki ayam broiler menjadikan budidaya ayam ini dangat diminati. Dua kriteria yang hanya dimiliki ayam broiler adalah hasil utama dan pertumbuhannya. Peternak akan mampu menghasilkan ayam siap potong dalam waktu singkat karena ayam ini memiliki tingkat pertambahan bobot yang relatif cepat bila dibandingkan dengan jenis ayam lainnya. Ayam broiler umur satu sampai dengan lima minggu memiliki tingkat pertumbuhan yang paling baik. Bobot jual antara lima sampai enam minggu bobot ayam broiler telah mencapai sekitar 1,3-1,6 kilogram per ekornya. Bobot ini adalah bobot ayam konsumsi atau dengan kata lain ayam broiler hanya memerlukan siklus waktu maksimum enam minggu dalam setiap satu silkus budidayanya.

Jenis-jenis strain ayam ras pedaging yang banyak beredar adalah: Super 77,

Tegel 70, ISA, Kim cross, Lohman 202, Hyline, Vdett, Missouri, Hubbard, Shaver

Starbro, Pilch, Yabro, Goto, Arbor arcres, Tatum, Indian river, Hybro, Cornish,

Brahma, 2 Langshans, Hypeco-Broiler, Ross, Marshall”m”, Euribrid, A.A 70, H&N,

Sussex, Bromo,CP 707.

2.2. Sejarah Ayam Broiler di Indonesia

Ayam broiler mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1960-an. Pada awal tahun tersebut peternak sudah mulai memelihara ayam broiler namun belum bersifat komersil. Pada tahun 1980-an ayam ini mulai populer dibudidayakan untuk kegiatan bisnis karena memiliki berbagai kelebihan yang tidak ada pada ayam pedaging lain. Pemerintah mencanangkan panggalakan konsumsi daging ruminansia yang pada saat itu semakin sulit keberadaannya. Pada awal mula ayam


(34)

10 broiler mengalami berbagai hambatan karena kalah bersaing dengan ayam kampung yang sedang berkembang pesat. Terjadi persaingan produk antara ayam broiler dan ayam kampung. Namun, dalam perkembangannya ayam broiler dan ayam kampung memiliki segmen pasar yang berbeda sehingga kedua bisnis tersebut berkembang baik. Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan diberbagai wilayah Indonesia (Rasyaf, 2008).

2.3. Usaha Peternakan Ayam Broiler

Permintaan tinggi membuat kepastian pasar yang menjadi salah satu penyebab bisnis peternakan ayam broiler berkembang pesat mulai dari skala rumah tangga, menengah sampai besar yang dijalankan perusahaan secara intensif. Berdasakan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.472/Kpts/TN.330/6/96 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Usaha Peternakan Ayam Ras, ditetapkan bahwa usaha peternakan dibagi menjadi tiga kategori yaitu, peternakan rakyat, pengusaha kecil peternakan dan pengusaha peternakan. Peternakan Rakyat adalah usaha peternakan dengan jumlah ternak yang dimiliki kurang dari 15.000 ekor per siklus. Pengusaha Kecil Peternakan adalah usaha peternakan dengan jumlah ternak yang dimiliki kurang dari 65.000 ekor per siklus. Sedangkan Perusahaan Peternakan adalah perusahaan budidaya ayam pedaging yang memiliki skala usaha lebih besar dari 65.000 ekor per siklus. Pada prinsipnya usaha peternakan ayam broiler dibedakan menjadi tiga hal yaitu manajemen produksi, manajemen pemasaran dan manajemen keuangan. Ketiga prinsip tersebut mencakup beberapa fungsi yang lebih kecil. Fungsi pada prinsip manajemen produksi yakni perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan atau evaluasi (Suharno, 2004).

Perencanaan merupakan tahapan awal yang dilakukan sebelum kegatan budidaya dilaksanakan. Pada tahapan ini peternak melakukan fungsi pemilihan terhadap komoditi yang akan diusahakan, lokasi dimana kegiatan budidaya akan didirikan, waktu pelaksanaan yang tepat untuk memulai aktivitas, sumber daya manusia yang dipilih, sampai dengan tata cara teknis tentang cara pembudidayaan yang benar. Fungsi pegorganisasian adalah tahapan kedua setelah kegiatan perencanaan di awal. Kegiatan ini menindaklanjuti aktivitas perencanaan sehingga


(35)

11 peternak dituntut mampu dalam mengorganisir karyawan dan kegiatan peternakannya. Tahapan terakhir yang merupakan fungsi ketiga yakni evaluasi pada umumnya dilakukan setelah satu siklus budidaya ayam broiler terselesaikan. Usaha peternakan dikatakan berhasil apabila peningkatan produksi persatuan luas dan perolehan pendapatan dapat dicapai secara maksimal dari bisnis budidaya yang dilakukan (Rasyaf, 2008).

Standar produksi yang bisa dijadikan sebagai indikator adalah pertambahan berat badan, konsumsi pakan, dan konversi pakan. Keberhasilan teknis budidaya yang diterapkan terlihat dengan bobot ideal yang mampu dicapai dalam waktu yang telah ditentukan. Barang-barang modal yang merupakan input dalam menjalankan usaha budidaya ayam broiler diantaranya ayam, kandang, ransum, alat peternakan dan obat-obatan. Biaya invetasi terbesar bagi para peternak adalah biaya pembuatan kandang. Sedangkan biaya operasional yang memiliki proporsi terbesar dari seluruh jenis pengeluaran adalah biaya pakan yang diberikan pada ternak tiap harinya khususnya pada ayam broiler. Makanan ternak, temperatur lingkungan dan manajemen pemeliharaan merupakan tiga faktor yang sangat penting pengaruhnya dalam menentukan keberhasilan budidaya (Rasyaf, 2008).

Pengelolaan pemberian pakan yang baik membuat biaya operasional yang dikeluarkan peternak efektif dan efisien. Pemborosan pakan berakibat pada pembengkakan pengeluaran biaya. Keadaan ini akan berakibat pada proporsi pendapatan yang berkurang. Lingkungan yang mendukung akan membuat tingkat pertumbuhan ayam broiler akan dapat tercapai secara optimal sehingga keuntungan dapat tercapai.

2.4. Faktor-faktor Produksi Peternakan Ayam Broiler

Faktor produksi merupakan berbagai input yang diperlukan dalam menjalankan proses produksi. Input diproses untuk kemudian diproses menjadi output. Faktor produksi dalam peternakan ayam broiler secara umum terbagi menjadi dua, pertama faktor produksi tetap dan faktor produksi variabel. Faktor produksi tetap merupakan faktor produksi yang jumlahnya tidak berubah dengan besaran output yang dihasilkan. Faktor produksi tetap yang diperlukan oleh peternakan ayam broiler adalah kandang dan peralatan. Faktor produksi variabel


(36)

12 adalah faktor produksi yang jumlahnya berubah sejalan dengan jumlah output yang dihasilkan. Faktor produksi variabel terdiri atas Day Old Chick (DOC), obat, vaksin, vitamin, sekam, listrik, air, minyak tanah dan tenaga kerja (Murtidjo, 1992).

2.4.1. Day Old Chick (DOC)

DOC adalah anak ayam usia satu hari. Bobot anak ayam pada usia ini berkisar 35-40 gram. Anak ayam yang sehat memiliki ciri memiliki mata yang cerah bercahaya, aktif terlihat segar, tidak memperlihatkan cacat fisik, dan tidak ada tinja yang melekat pada duburnya (Rasyaf, 2008).

Menurut Pramudyati dan Effendy (2009), persyaratan Bibit (DOC) yang baik dan sehat mempunyai ciri-ciri diantaranya :

1) Bobot tubuh 35-40 gram,

2) Bulu berwarna kuning muda, mengkilap dan mata cerah, 3) Warna paruh dan kulit kaki kuning kecoklatan,

4) Gerakan lincah,

5) Tidak memiliki cacat tubuh, 6) Memiliki nafsu makan yang baik,

7) Tidak terdapat letakan tinja di duburnya, serta 8) Suara nyaring.

2.4.2. Lahan dan Perkandangan

Lokasi merupakan hal yang penting dipertimbangkan dalam memulai budidaya ayam broiler. Lokasi menjadi pertimbangan penting karena ada tumpang tindih kepentingan dalam pemanfaatan suatu areal. Tiga poin yang dapat dijadikan acuan dalam pemilihan lokasi kandang (Rasyaf, 2008):

1) Lokasi yang dipilih adalah lokasi yang jauh dari keramaian, jauh dari lokasi perumahan atau dipilih tempat yang sunyi

2) Tidak jauh lokasi pusat pasokan bahan baku dan lokasi pemasaran

3) Lokasi yang dipilih sebaiknya masuk dalam area agribisnis agar terhindar dari penggusuran.

Hardjosworo dan Rukmiasih (2000), menyatakan unggas pedaging sebaiknya dipelihara dalam kandang agar memiliki ruang gerak yang terbatas. Pembatasan ruang gerak dimaksudkan agar pakan yang diberikan pada ternak


(37)

13 dapat dikonversi secara optimal menjadi daging. Bila ruang geraknya tidak terbatas, energi yang diperoleh dari pakan akan digunakan untuk bergerak.

Letak dan arah kandang dimaksudkan untuk mencegah agar sinar matahari tidak terlalu lama ke dalam kandang. Kandang yang baik dibuat poros panjang dan membentang kearah Timur-Barat. Ventilasi yang baik mampu memberikan jaminan terhadap efisiensi penggunaan makanan, sehingga kesehatan dan pertumbuhan terjamin. Ventilasi juga harus dibuat dengan baik agar udara di kandang dapat bertukar secara lancar. Ukuran kandang yang tepat tergantung dari kepadatan jumlah populasi yang dipelihara. Luas kandang yang cukup memberikan ruang gerak yang cukup bagi ternak agar tidak stres dan saling patuk.

Ruang gerak yang cukup akan membuat pertumbuhan ayam broiler optimal. Tabel 3 memberikan gambaran yang jelas tentang kebutuhan luas ruang gerak berdasarkan bobot badan unggas.

Tabel 3. Ruang Gerak yang Dibutuhkan oleh Ayam Broiler Berdasarkan Bobot Ternak

Bobot Badan (kg) Ruang Gerak (m2/ekor)

1,4 1,8 2,2 2,5 3,0

0,06 0,08 0,1 0,13 0,16 Sumber: Hardjosworo dan Rukmiasih (2000)

2.4.3. Ransum

Ransum merupakan kumpulan bahan makanan pokok yang diberikan kepada ternak dengan komposisi bahan yang telah disusun dengan mengikuti aturan tertentu. Aturan tersebut megikuti nilai kebutuhan gizi ayam dan nilai kandungan gizi dari bahan makanan yang digunakan. Kebutuhan nilai gizi ayam broiler berbeda bergantung pada umur ternak. Semakin besar umur ternak maka kebutuhan gizi ternak tersebut juga semakin tinggi. Kebutuhan gizi ayam broiler diperliharkan oleh Tabel 4.


(38)

14

Tabel 4. Kebutuhan Zat Nutrisi yang diperlukan Ayam Broiler Jenis unggas Umur (minggu) Zat Nutrisi Energi (kkal/kg) Protein (%) Metionin (%) Lisin (%) Ca (%) P (%) Ayam ras 0-3 3-6 6-8 3.200 3.200 3.200 23,00 20,00 18,00 0,50 0,38 0,32 1,10 1,00 0,85 1,00 0,90 0,80 0,45 0,35 0,30 Sumber: Hardjosworo dan Rukmiasih, 2000

Standar kebutuhan pakan bervariasi, tergantug dari bibit DOC yang dikeluarkan oleh masing-masing perusahaan pembibitan. Susunan ransum yang diperlukan untuk ayam broiler harus mengandung zat-zat yang diperlukan berdasarkan umur yang diperlihatkan oleh Tabel 5. Besarnya pakan yang digunakan mempengaruhi perhitungan konversi pakan. Konversi pakan merupakan perbandingan antara jumlah pakan yang diperlukan dengan pertumbuhan berat badan. Bell dan Weaver (2002) memberikan standar FCR broiler yang dipelihara selama 35-38 hari adalah lebih kecil dari 1,83 kilogram pakan. Dengan kata lain 1,83 kilogram pakan diberikan kepada ternak untuk mendapatkan bobot hidup unggas 1 kilogram.

Tabel 5. Kebutuhan Zat Nutrisi yang diperlukan Ayam Broiler Berdasarkan Umur

Fase Starter (0-4 minggu) Fase Finisher (5-8 mingggu) ME (kkal/kg)

Protein (%) Lemak (%) Lemak Kasar (%)

2.800-3.00 23-24 7 4 3.000-3.200 21-22 7 4 Sumber: Hardjosworo dan Rukmiasih, 2000

2.4.4. Obat dan Vaksinasi

Vaksin merupakan bahan yang dibuat dari bahan mikroorganisme atau komponen antigen dari virus atau bakteri tersebut. Vaksin diperlukan untuk menimbulkan kekebalan dalam tubuh unggas. Obat merupakan bahan kimia yang mempunyai kemampuan untuk menghambat atau menghentikan perkembangbiakkan mikroorganisme (Hardjosworo dan Rukmiasih, 2000).


(39)

15

2.4.5. Tenaga Kerja

Tenaga kerja adalah sumber daya manusia yang diperlukan untuk mengelola proses produksi. Kualitas sumber daya manusia yang digunakan mempengaruhi kualitas ternak yang dihasilkan. Tenaga kerja pada peternakan ayam broiler yang dikelola secara manual (tanpa alat-alat otomatis) untuk 2.000 ekor ayam broiler mampu dipelihara oleh satu orang pria dewasa. Untuk 6.000 ekor cukup dipakai tenaga kerja satu orang pria dewasa sebagai tenaga kandang yang biasa disebut anak kandang dan bertugas dalam pemeliharaan keseharian di kandang. Tenaga kerja tetap, tanaga kerja harian dan tenaga kerja harian lepas maupun kontrak adalah tenaga kerja yang digunakan dalam satu peternakan (Rasyaf, 2008).

2.4.6. Biaya Input

Dalam ilmu ekonomi biaya diartikan sebagai semua pengorbanan yang perlu untuk suatu proses produksi, dinyatakan dalam uang menurut harga yang berlaku di pasar, Gilarso (2003). Biaya merupakan nilai output yang diperlukan untuk memproduksi output (Lipsey et. al, 1995).

Dari beberapa difinisi tersebut, ada beberapa komponen penting yang terdapat dalam definisi suatu biaya. Yang pertama, pengorbanan merupakan pemakaian faktor-faktor produksi atau sumber-sumber ekonomi. Kedua, dinilai dalam uang artinya semua pengorbanan yang dikeluarkan dalam proses produksi diperhitungkan dalam bentuk nilai uang, yakni biaya yang benar-benar dikeluarkan (biaya eksplisit) maupun biaya yang secara ekonomis harus dihitung tetapi bukan dalam bentuk pengeluaran uang riil (biaya implisit). Terakhir, penilaian biaya tersebut berdasarkan harga pasar yang berlaku agar nilai yang dihitung relevan. Biaya merupakan komponen yang dipengaruhi oleh besaran skala produksi yang dilakukan peternak. Semakin besar skala peternakan maka biaya yang diperlukan semakin besar. Biaya yang digunakan dalam kegiatan budidaya ayam broiler adalah seluruh biaya dalam pengadaan input dan tenaga kerja dalam satu siklus produksi.

2.5. Penelitian Terdahulu yang Relevan

Tinjauan mengenai penelitian yang relevan dilakukan untuk membantu melihat gambaran awal terhadap kajian penelitian yang akan dilakukan. Penelitian


(40)

16 terdahulu yang akan dilihat dipilih berdasarkan hubungan yakni penelitian-penelitian yang membahas mengenai analisis kelayakan finansial pada bisnis yang bergerak di bidang pertanian.

2.5.1. Analisis Kelayakan Finansial

Dari penelitian yang dilakukan Setiawan (2000), dalam penelitiannya analisis kelayakan finansial peternak plasma ayam broiler pola kemitraan inti-plasma Cikahuripan PS menyimpulkan bahwa mekanisme pola kemitraan yang dijalankan oleh perusahaan kemitraan Cikahuripan PS dengan peternak plasma berjalan baik. Kemitraan yang dijalankan berhasil, khususnya bagi peternak plasma. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa keuntungan peternak yang berproduksi pada bulan September-Oktober diperoleh dari usaha ternaknya Rp 3.111,92 per ekor atau Rp 1.618,34 per kilogram. Mekanisme pola kemitraan yang dilakukan perusahaan Cikahuripan PS berdampak baik peternak plasma.

Pola kemitraan yang dijalankan mampu mengatasi permasalahan substansif dan teknis yang umumnya dihadapi peternak skala kecil, seperti kepastian harga, pasar, pasokan input dan pembinaan dalam melakukan kegiatan budidaya. Usaha peternakan ayam broiler ditingkat peternak plasma memberikan hasil yang baik dan menunjukkan bahwa secara finansial layak untuk dikembangkan.

Jenis pola usaha yang memiliki sensitivitas terkecil terhadap perubahan-perubahan yang terjadi adalah pola usaha III yaitu pola usaha dengan pengembangan usaha puyuh petelur dan pembibit (Pangestuti, 2010). Diversifikasi usaha yang dilakukan peternak puyuh membuat tingkat sensitivitas usaha yang dijalankan lebih naik dibandingkan pola yang lain. Artinya, diversifikasi adalah cara lain untuk menurunkan tingkat risiko yang dijalankan dalam bisnis perunggasan selain pola kemitraan.

Kajian kelayakan investasi usaha penggilingan padi pada kondisi risiko oleh Novianti (2010) menunjukkan risiko berpengaruh pada tingkat kelayaan investasi mesin penggiling padi. Skenario yang diterapkan pada cashflow yang ada berupa skenario hasil terbaik, skenario hasil terburuk dan skenario hasil yang paling mungkin terjadi pada bisnis. Risiko yang dikaji berupa risiko produksi dan risiko pasar. Kedua jenis risiko ini dipilih karena dampak yang ditimbulkan sangat


(41)

17 berpengaruh pada kelancaran kegiatan operasional bisnis penggilingan padi. Simpulan hasil perhitungan output cashflow dengan hasil skenario adalah risiko harga merupakan kondisi yang mengandung tingkat risiko paling besar.

Berdasarkan penelitian Novianti (2010), dapat diketahui bahwa tiga komponen penting yang perlu diketahui untuk mempertimbangkan aspek risiko dalam bisnis adalah NPV yang diharapkan, standar deviasi dan koefisien variasi. Standar deviasi dan koefisien variasi menunjukkan ukuran risiko bisnis. Dengan kedua ukuran tersebut dapat dilakukan perhitungan NPV dengan risiko. Risiko menjadi pertimbangan yang penting karena setiap tindakan investasi memiliki unsure risiko, probabilitas dan opportunity cost.

Kriteria kelayakan investasi yang dihasilkan menunjukkan tingkat kelayakan pada suatu bisnis yang dikaji. Penelitian yang dilakukan Asep (2008), Sri (2005), Citra (2007), Gustriyani (2007) menghasilkan nilai Net Presen Value lebih besar dari nol, nilai Internal Rate of Return yang jauh lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku, dan Net B/C lebih dari satu. Bidang bisnis yang dikaji adalah bisnis yang bergerak dalam bidang pertanian. Kesimpulan yang ada dalam penelitian-penelitian tersebut memperlihatkan bahwa bisnis pertanian sangat potensial untuk dikembangkan.

2.5.2. Penelitian yang akan dilakukan

Penelitian-penelitian terdahulu memiliki beberapa persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan. Kesamaan yang diperlihatkan penelitian terdahulu diantaranya skala usaha budidaya ternak ayam broiler yang akan dikaji. Alat analisis yang digunakan pada penelitian yang akan dilakukan pada umumnya tidak jauh berbeda dengan penelitian tentang studi kelayakan finansial yang lainnya.

Penelitian yang dilakukan akan menekankan pada tingkat kelayakan investasi, mengacu pada kriteria kelayakan investasi. Penekanan pada aspek finansial dipilih karena umumnya peternakan ayam broiler skala peternakan rakyat bermasalah dalam mempertimbangkan aspek ini dengan berbagai pengaruh akibat perubahan harga jual output dan harga input. Dari perhitungan dengan menggunakan sensitivity value analisys juga akan dilihat sejauh mana aspek risiko pasar mempengaruhi perhitungan cashflow analisis kelayakan finansial. Risiko


(42)

18 yang akan dibahas adalah pengukuran risiko pasar karena dengan sistem kemitraan kondisi ini yang membuat penerimaan peternak sangat bervariasi.


(43)

III KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis

Bisnis atau proyek merupakan suatu kegiatan investasi, yang menggunakan sejumlah sumber daya untuk memperoleh keuntungan atau manfaat dalam periode waktu tertentu. Investasi adalah suatu kegiatan pengadaan barang modal dengan nilai yang besar ataupun memiliki umur pakai ekonomis lebih dari satu tahun. Perhitungan dalam analisis sebuah kegiatan investasi tidak dapat menggunakan analisis laba rugi saja, namun perlu dilakukan perhitungan yang memasukkan komponen nilai uang terhadap waktu yang biasa disebut dengan studi kelayakan bisnis.

Studi kelayakan bisnis merupakan salah satu langkah awal yang dapat digunakan untuk menilai tingkat kelayakan bisnis yang akan dikerjakan. Selain itu, perhitungan ini juga dapat dipakai pada bisnis yang sedang berjalan jika perhitungan kelayakannya belum pernah dilakukan selama bisnis berjalan. Dari perhitungan analisis kelayakan finansial akan diperoleh informasi megenai kelayakan bisnis dari sisi finansial.

3.1.1. Studi Kelayakan bisnis

Proyek merupakan kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam satu bentuk kesatuan dengan menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan benefit. Gittinger (1986) menyatakan, proyek yang bergerak dibidang pertanian merupakan sebuah kegiatan investasi yang mengubah sumber-sumber finansial menjadi menjadi barang-barang modal yang dapat menghasilkan keuntungan atau manfaat setelah beberapa periode waktu (Gray et. al, 1985).

Proyek adalah suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan manfaat (benefit), atau dapat juga dimaknai sebagai suatu aktivitas dimana dilkeluarkan uang dengan harapan untuk mendapatkan hasil (return) diwaktu yang akan datang, dan yang dapat direncanakan, dibiayai dan dilaksanakan sebagai satu unit (Kadariah, 2001). Proyek yang akan dilaksanakan diperhitungkan dengan menggunakan studi kelayakan proyek karena nilai investasi besar yang dikeluarkan pada tahap awal pelaksanaan, nilainya tidak langsung kembali di awal tahun pertama.


(44)

20 Ada tiga acuan yang dapat dijadikan pedoman dalam penentuan panjang umur bisnis (Kadariah, 1999):

1) Ukuran umum dapat diambil suatu periode (jangka waktu) yang kira-kira sama dengan umur ekonomis dari suatu asset. Umur ekonomis adalah jumlah tahun selama pemakaian aset tersebut dapat meminimumkan biaya tahunan. 2) Untuk bisnis yang mempunyai investasi modal yang sangat besar, umur

bisnis yang digunakan adalah umur teknis. Dalam hal ini, untuk bisnis-bisnis tertentu, umur teknis dari unsur-unsur pokok investasi adalah lama, tetapi umur ekonomisnya dapat jauh lebih pendek karena ketinggalan zaman akibat penemuan teknologi baru yang lebih efisien.

3) Untuk bisnis yang umurnya lebih dari 25 tahun, dapat diambil 25 tahun karena nilai-nilai tersebut jika di-discount dengan discount rate sebesar 10 persen keatas maka present value-nya sudah sangat kecil.

Studi kelayakan proyek merupakan penelitian-penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek biasanya merupakan proyek investasi, dilaksanakan dengan berhasil. Indikator keberhasilan dalam menilai sebuah proyek yang berjalan beragam. Penentuan keberhasilan pelaksanaan proyek berjalan tergantung dari sudut pandang subyek yang melakukan kegiatan investasi. Investor swasta akan menganggap suatu proyek berhasil dilaksanakan apabila memberikan manfaat ekonomis bagi pihak pelaksana, sedangkan menurut pemerintah atau lembaga-lembaga nonprofit akan cenderung kearah manfaat sosial yang dirasakan masyarakat secara luas (Husnan dan Muhammad, 2000).

Husnan dan Muhammad (2000) memberikan deskripsi keberhasilan suatu proyek bila kegiatan investasi tersebut memenuhi kriteria manfaat investasi menjadi tiga, yaitu; manfaat ekonomis proyek terhadap proyek itu sendiri (manfaat finansial), manfaat proyek bagi Negara tempat proyek itu didirikan (manfaat ekonomi nasional), manfaat sosial proyek bagi masyarakat di sekitar proyek.

3.1.2. Aspek-aspek Studi Kelayakan Bisnis

Kegiatan analisa suatu proyek yang dilaksanakan akan efektif bila mempertimbangkan aspek-aspek yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Aspek-aspek yang berkaitan secara bersama-sama menentukan bagaimana


(45)

21 keuntungan yang diperoleh dari suatu penanaman investasi-investasi tersebut dan mempertimbangkan seluruh aspek tersebut pada setiap tahap dalam perencanaan proyek dan siklus pelaksanaannya (Gittinger, 1986). Aspek tersebut antara lain:

3.1.2.1. Aspek-aspek Non Finansial Studi Kelayakan

1. Aspek Pasar

Pasar merupakan aspek pertama dan terpenting untuk dipertimbangkan karena besar kecilnya nilai investasi yang ditanamkan akan selalu mengacu pada aspek pasar.

Pasar diartikan sebagai sebuah proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan dan menukarkan produk yang bernilai satu sama lain (Kotler, 2002). Kotler cenderung memandang pengertian pasar sebagai sesuatu yang kompleks, dimana pasar merupakan proses. Sedangkan Pass (1991) berpendapat pasar adalah sekelompok hasil produksi yang memungkinkan proses pertukaran satu dengan yang lain. Oleh karena itu, pasar merupakan faktor yang sangat penting dalam usaha peternakan.

Aspek-aspek pasar yang perlu dipelajari dalam pelaksanaan suatu bisnis (Husnan dan Muhammad, 2000):

a. Permintaan

Jumlah komoditi yang ingin dibeli oleh semua rumah tangga disebut jumlah yang diminta untuk komoditi tersebut (Lipsey, 1995). Variabel-variabel penting yang mempengaruhi permintaan tersebut adalah harga komoditi tersebut, harga komoditas yang berkaitan, pendapatan, selera dan jumlah populasi.

b. Penawaran

Penawaran merupakan jumlah komoditi yang akan dijual oleh perusahaan yang berupa kuantitas yang ditawarkan oleh komoditas tersebut (Lipsey, 1995).


(46)

22 c. Program Pemasaran

Program pemasaran merupakan bauran pemasaran yang diterapkan perusahaan yakni; produk, harga, distribusi dan komponen promosi (Kotler, 2002).

2. Aspek Teknis

Teknik merupakan penerapan ilmu dan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan melalui pengetahuan, dan pengalaman praktis yang diterapkan mendesain objek atau proses yang berguna. Teknik juga dapat berarti metode atau sistem mengerjakan sesuatu (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2003).

Aspek ini dianalisis dengan tujuan memberikan jawaban kelayakan secara teknis dan pilihan teknologi yang baik untuk diterapkan. Melalui kajian aspek teknis akan terungkap berbagai kebutuhan yang diperlukan dalam pelaksanaan bisnis, bagaimana teknis proses produksi dilakukan, kapasitas produksi, jenis teknologi yang diterapkan, perlengkapan peralatan dan mesin produksi, lokasi pembudidayaan dan pengawasan kualitas. Analisis aspek teknis antara lain menentukan jenis teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan usaha yang dikaji.

3. Aspek Manajemen

Manajemen merupakan sejumlah aktivitas yang terdiri dari kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian pelaksanaan bisnis. Manajemen dalam pembangunan suatu proyek berupa proses untuk merencanakan persiapan fisik dan peralatan lainnya agar proyek dapat beroperasi tepat waktu.

4. Aspek Hukum

Merupakan badan hukum yang akan digunakan, izin usaha, akta, sertifikat dan perizinan lain yang diperlukan untuk melaksanakan usaha sesuai dengan peraturan hukum dan perundang-undangan yang berlaku.


(47)

23

4.1.2.2. Aspek Kelayakan Finansial

Analisis finansial merupakan suatu analisis yang membandingkan antara biaya dan manfaat untuk menentukan apakah suatu proyek akan menguntungkan selama umur proyek (Husnan dan Suwarsono, 2000).

1. Teori Biaya dan Manfaat

Biaya merupakan sesuatu yang mengurangi tujuan (Gittinger, 1986). Biaya akan dikeluarkan sebelum bisnis berjalan dan selama kegiatan operasional bisnis berlangsung. Manfaat merupakan segala sesuatu yang membantu tujuan. Manfaat dapat terbagi menjadi ; manfaat langsung, manfaat tidak langsung, dan manfaat yang sulit untuk diukur dengan uang (Kadariah, 2001).

Biaya atau pengeluaran adalah nilai input yang dikeluarkan untuk memproduksi output (Lipsey et. al, 1995). Berdasarkan volume kegiatan biaya dibedakan atas biaya tetap (fix cost) dan biaya variabel (variable cost). Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan produksi yang jumlah tetap pada volume kegiatan tertentu. Sedangkan biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah-ubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

Biaya diartikan sebagai salah satu yang mengurangi suatu tujuan, sedangkan manfaat adalah segala sesuatu yang membantu terlaksananya suatu tujuan (Gittinger, 1986). Biaya adalah suatu korbanan yang mengurangi manfaat yang mungkin diterima. Biaya dapat dibedakan menjadi:

1) Biaya modal, merupakan dana untuk investasi yang penggunannya bersifat jangka panjang. Contoh biaya modal seperti tanah, bangunan, pabrik dan mesin.

2) Biaya operasional atau modal kerja, nerupakan kebutuhan dana yang diperlukan pada saat kegiatan proyek mulai dilaksanakan. Contoh biaya operasional seperti biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja. 3) Biaya lainnya, merupakan biaya selain biaya modal dan operasional

yang dikeluarkan proyek berjalan. Contoh dari biaya lainnya seperti pajak, bunga pinjaman.


(48)

24 Manfaat adalah suatu hasil dari kinerja proyek dalam bentuk kontribusi. Manfaat yang ditimbulkan proyek dapat dibedakan menjadi: 1) Manfaat langsung, merupakan manfaat yang secara langsung dapat

diukur dan dirasakan sebagai akibat dari investasi seperti peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja.

2) Manfaat tidak langsung, manfaat yang secara nyata diperoleh dengan tidak langsung dari proyek dan bukan merupakan tujuan utama proyek.

Biaya tetap dalam usaha budidaya ayam broiler adalah seperti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), sewa tanah (jika status tanah adalah sewa), sewa kandang (jika status kandang adalah sewa), gaji pegawai, penyusutan kandang dan peralatan peternakan. Sedangkan biaya variabel seerti pakan, bibit, buruh harian dan pemeliharaan. Penerimaan hasil peternakan ayam broiler adalah ayam broiler dan tinja yang dijual. Kedua komponen tersebut adalah penerimaan, sehingga penerimaan merupakan hasil perkalian antara total hasil dan harga (Rasyaf, 2008).

2. Cashflow

Cashflow terdiri dari inflow yang menggambarkan arus penerimaan kas dan outflow sebagai pengeluaran kas selama jangka waktu umur proyek (Gittinger, 1986).

3. Kriteria Kelayakan Invetasi

Kriteria yang digunakan dalam menilai kelayakan suatu proyek adalah Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (B/C), Payback Period (PP), dan Internal Rate of Return (IRR).

3.1.3. Konsep Nilai Waktu Uang (Time Value of Money)

Bisnis dengan investasi jangka panjang akan memberikan manfaat yang baru dirasakan beberapa periode kedepan. Hal itu disebabkan oleh nilai invetasi besar yang umumnya dikeluarkan pada periode awal pendirian proyek. Untuk mengatasi hal itu, perhitungan cashflow memperhatikan konsep time preference. Konsep time preference memberikan gambaran bahwa ada nilai yang harus diperhitungkan dalam pengorbanan penggunaan waktu pakai uang. Biaya


(49)

25 korbanan itu diperhitungkan karena uang yang diinvetasikan memiliki opportunity cost yang dapat didapatkan bila uang ditabungkan.

Discounting Factor yaitu menentukan jumlah uang disaat sekarang (present) bila diketahui sejumlah uang tertentu dimasa yang akan datang (future) dengan memperhatikan periode waktu tertentu dan Compounding Factor yaitu menentukan nilai uang dimasa yang akan datang jika telah diketahui sejumlah uang saat ini dengan memperhatikan periode waktu tertentu.

3.1.4. Risiko dalam Investasi

Risiko adalah prospek suatu hasil yang tidak disukai (operasional sebagai deviasi standar) (Keown et. al, 2004). Risiko dipakai sebagai suatu atas pengembalian yang nilainya berupa perkiraan. Pengukuran perkiraan dalam penilaian suatu risiko mengunakan standar deviasi ( ). Standar deviasi adalah akar rata-rata penyimpangan pangkat dua dari setiap kemungkinan pengembalian terhadap pengembalian yang diharapkan. Semakin besar rentang penyimpangan yang mungkin terjadi maka semakin besar risiko yang diterima suatu bisnis. Besar kecilnya suatu risiko dapat dipengaruhi lama usia dari invetasi yang dikeluarkan. Semakin lama usia investasi semakin besar kemungkinan terjadi penyimpangan atas return yang diharapkan ( ) dari return rata-rata (E), yang disebabkan meningkatnya variabelitas. Selain faktor jangka investasi faktor-faktor lain yang dapat membuat bisnis berisiko tinggi adalah situasi ekonomi, situasi politik, situasi keamanan, situasi pasar, situasi konsumen dan lainnya.

Risiko adalah kemungkinan kejadian yang merugikan (Kountur, 2006). Dalam pelaksanaan kegiatan, pelaku bisnis dihadapkan pada berbagai kemungkinan kejadian yang merugikan. Kejadian merugikan yang tergolong dalam risiko seperti barang yang tidak dapat dijual, harga bahan baku yang tiba-tiba meningkat dan kemungkinan lain. Tiga unsur yang selalu ada dalam setiap risiko (Kountur, 2006):

1) Risiko adalah suatu kejadian,

2) Kejadian tersebut masih mengandung kemungkinan yang berarti bisa terjadi atau bisa tidak terjadi,


(50)

26 Risiko dikelompokkan berdasarkan akibat yang ditimbulkan dan penyebabnya. Jenis Risiko yang dikelompokkan berdasarkan akibat yang ditimbulkan risiko adalah risiko spekulatif dan risiko murni. Sedangkan jenis risiko yang dikelompokkan berdasarkan penebabnya adalah risiko keuangan dan operasional.

Pengurangan risiko dapat dilakukan dengan diversifikasi portofolio, akan tetapi hanya pada suatu titik tertentu. Risiko yang dapat dihidari terbatas pada risiko spesifik atau risiko unik perusahaan (risiko yang dapat didiversifikasikan atau tidak sistematik). Risiko yang sistematik atau risiko pasar (risiko yang tidak dapat didiversifikasi) tidak dapat dihilangkan dengan cara diversifikasi portofolio, (Keown et. al, 2004).

Teori portofolio dan model penentuan harga aktiva berguna dalam masalah penilaian invetasi dengan memasukkan unsur risiko (yang diukur dengan menggunakan standar deviasi) bisa dihilangkan dengan menggunakan diversifikasi. Dengan diversikasi akan terdapat beberapa alternatif investasi yang dapat dipilih. Dengan berbagai pilihan investasi maka fluktuasi tingkat keuntungan akan semakin berkurang karena saling menguntungkan dan menutupi kekurangan antar pilihan investasi. Oleh karena itu, standar sekumpulan investasi akan lebih kecil penyimpangannya dari investasi tunggal. Investasi yang memiliki nilai nol, maka tingkat keuntungannya tidak mengandung unsur risiko (tingkat keuntungan bebas risiko). Tetapi bila risiko diukur dengan standar deviasi maka teori yang diapai adalah teori portofolio dan model penentuan harga aktiva (Husnan dan Muhammad, 2000).

Terdapat tiga jenis risiko yang terpisah dan berbeda satu dengan yang lain (Weston dan Brigham, 1995):

1) Risiko berdikari (stand alone risk), yaitu semua risiko yang didasari pada asumsi bahwa bisnis tersebut merupakan satu-satunya aktiva perusahaan dan bahwa perusahaan merupakan satu-satunya perusahaan yang dimiliki investor.

2) Risiko dalam perusahaan (within firm risk), yaitu risiko yang diukur tanpa mempertimbangkan diversifikasi portofolio pemegang saham.


(51)

27 3) Risiko pasar atau beta (market or beta risk), yaitu bagian dari risiko bisnis yang tdak dapat dieliminasi melaui diversifikasi, diukur dengan beta koefisien.

Risiko yang ada dalam bisnis yang dijalankan Bapak Marhaya dalam usaha budidaya ayam broiler yang dilakukan selama ini termasuk kedalam risiko berdikari. Risiko tersebut diperhitungkan dengan penentuan ketidakpastian yang terkandung dalam arus kas bisnis. Terdapat tiga teknik yang dapat digunakan dalam memperkirakan risiko berdikari, yaitu:

1. Analisis sensitivitas

Analisis sensitivitas merupakan analisis dalam menentukan bagaimana distribusi pengmbalian yang mungkin untuk bisnis dipengaruhi oleh perubahan salah satu variabel input (Keown et. al, 2004). Analisis sensitivitas dilakukan pada sebuah proyek dengan memakai tiga kemungkinan perubahan, yaitu (Siahaan, 2009):

Variabel unit penjualan dinaikkan atau diturunkan sebesar presentase tertentu, sementara lainnya konstan.

Variabel penyusutan diubah, dinaikkan atau diturunkan sebesar presentase tertentu, sementara variabel input lainnya dianggap konstan.

Cost of kapital (k) diubah, sementara variabel lainnya dianggap konstan. Analisis sensitivitas banyak digunakan untuk mengukur perubahan-perubahan pada bisnis yang akan berpengaruh pada kelayakan finansial. Metode ini cocok digunakan untuk bisnis yang menghadapi risiko, namun kelemahan dari metode ini adalah kurang cocok jika digunakan pada bisnis yang melakukan kontrak kerja. Oleh karena itu perlu analisis lanjutan untuk mengatasi permasalahan tersebut, metode yang dipakai adalah analisis skenario.

2. Analisis Skenario

Analisis Skenario merupakan salah satu variasi dari analisis sensitivitas. Secara definisi sensitivity analisys adalah a technique which indicates exactly how much the NPV will change in response to a given change in an variable, other things held constant (Siahaan, 2009). Analisis skenario mengidentifikasikan hasil yang mungkin terjadi dalam kategori kasus yang paling jelek, terbaik, dan yang paling mungkin terjadi (Keown et. al, 2004).


(52)

28 Metode ini digunakan dengan merubah variabel-variabel penting yang berpengaruh pada bisnis dengan skenario yang mengacu pada kondisi aktual. Informasi variabel yang akan dirubah didapat dari pengalaman-pengalaman terdahulu. Pada proyek pertanian perubahan tersebut diakibatkan oleh tiga permasalahan utama yaitu; perubahan harga jual produk, kenaikan biaya dan volume produksi. Terdapat beberapa hasil NPV dari analisis skenario yaitu dalam keadaan buruk dan baik. Kedua nilai NPV dalam dua kondisi tersebut kemudian dibandingkan dengan NPV yang diharapkan atau NPV dasar.

3. Analisis Monte Carlo

Analisis Monte Carlo merupakan analisis digunakan dalam menghasilkan estimasi tingkat pengembalian dan indeks risiko dengan menggunakan simulasi komputer. Analisis ini adalah bagian dari analisis skenario, memiliki keunggulan utama memberikan berbagai hasil yang mungkin dan probabilitas kejadiannya.

3.1.5. Konsep Expected Return

Tingkat pengembalian yang diharapkan (Expected Return) merupakan tingkat pengembalian minimum yang dapat menarik investor dalam pembelian atau kepemilikan sekuritas. Ada berbagai alternatif investasi yang dapat dipilih oleh investor untuk menanamkan uangnya. Artinya , perlu adanya pertimbangan biaya kesempatan (opportunity cost) dalam membuat keputusan investasi. Keputusan investasi yang telah dipilih akan melepaskan pengembalian tingkat pengembalian berbeda dari alternatif bisnis lainnya. Kesempatan pengembalian yang tidak dapat diperoleh dalam investasi tunggal merupakan biaya kesempatan dana (opportunity cost of fund) bagi investor. Konsekuensi yang diterima dalam pemilihan investasi tunggal adalah penerimaan hanya berasal dari investasi yang dipilih (Keown et. al, 2004).

Dalam pembuatan keputusan investasi ada dua pertimbangan penting dalam pemilihan alternatif. Dua pertimbangan tersebut yaitu pengembalian yang diharapkan dan risiko yang harus ditanggung. Tingkat pengembalian yang diharapkan dinyatakan dalam bentuk presentase dan dikenal dengan istilah expected rate of return. Nilai ini memberikan gambaran mengenai penerimaan total yang meungkin diperoleh. Sedangkan risiko merupakan bentuk konsekuensi yang harus ditanggung investor, risiko bersifat merugikan karena akibatnya akan


(53)

29 berdampak pada pengurangan nilai penerimaan tersebut. Risiko timbul karena tingkat pengembalian di masa yang akan datang adalah sebuah bentuk yang tidak pasti (incertainly). Terdapat hubungan terkait antara tingkat pengembalian yang diharapkan dengan risiko usaha. Hubungan tersebut adalah bentuk hubungan negatif karena risiko yang besar akan mengurangi tingkat pengembalian (Warsono, 2000).

Pertimbangan pemilihan investasi merupakan keputusan personal para investor. Tingkat kepentingan, harapan, pengembalian, risiko dan berbagai aspek pertimbangan lain akan berbeda antara individu yang satu dengan individu lainnya. Dasar penetapan tersebut adalah preferensi personal investor. Ada tiga tipe preferensi investor terhadap risiko yang harus ditanggung akibat investasi yang dipilih. Pertama adalah risk seeker/lover, tipe ini merpakan individu yang suka terhadap risiko atau pencari risiko sehingga kecenderungan jenis investasi yang dipilih adalah bisnis berisiko. Kedua risk averter, individu yang memiliki preferensi ini akan mengindari risiko sehingga memilih bisnis aman dengan tingkat risiko relatif kecil. Ketiga risk neutral, kecenderungan ini dimiliki pada investor yang bersikap netral terhadap risiko dan berada di antara dua preferensi ekstrim sebelumnya (Weston dan Copeland, 1995).

3.1.6. Penilaian Risiko

Penilaian risiko bisnis yang tepat akan membuat nilai pengembalian yang diberikan dari perhitungan kelayakan investasi akan lebih mendeskripsikan kondisi aktual bisnis. Terdapat tiga ukuran yang menjadi patokan dalam penilaian investasi. Tiga nilai tersebut yaitu NPV yang diharapkan, standar deviasi, dan koefisien variasi. NPV yang diharapkan diperoleh dari perkalian antara probabilitas pengembalian dengan NPV. Sedangkan koefisien variasi adalah hasil bagi antara Standar deviasi dengan NPV yang diharapkan. NPV yang diharapkan besar akan membuat bisnis kajian semakin tinggi tingkat kelayakan. Standar Deviasi dan koefisien variasi merupakan indikator risiko, semakin besar dua nilai tersebut maka risiko yang terkandung dalam bisnis juga semakin besar karena keduanya memiliki hubungan positif (Weston dan Copeland, 1995).


(54)

30

3.1.7. Perhitungan Bunga

Bunga memiliki dua peran utama dalam penilaian kelayakan bisnis. Bunga merupakan biaya modal dan juga biaya kesempatan yang harus dikeluarkan investor. Bunga sebagai biaya modal merupakan beban tanggungan bagi peminjam uang (debitor), besar kecilnya nilainya dipengaruhi jangka waktu pinjaman, jumlah nominal uang yang dipinjam, dan tingkat bunga yang diberlakukan kreditor. Bunga dijadikan biaya kesempatan karena bunga adalah kesempatan yang harus dibuang investor dengan pemilihan investasi daripada tabungan. Biaya merupakan daya tarik pinjaman yang ditawarkan bank atas simpanan yang dilakukan masyarakat (Ibrahim, 1998).

Ada tiga bentuk sistem perhitungan bunga yang penggunaannya tergantung pada keperluan berbeda, tiga sistem tersebut adalah (Keown et. al, 2004):

1) Bunga Biasa (Simple interest)

Besar kecilnya jumlah bunga yang diterima kredidor tergantung pada tiga hal, yaitu besar kecilnya modal, tingkat bunga dan jangka waktu.

Keterangan: B : Bunga

P : Prinsipal (modal)

i : interest rate (tingkat bunga) n : jangka waktu

2) Bunga Majemuk (Compound interest)

Bunga majemuk adalah bunga yang perhitungannya dilakukan lebih dari satu periode. Bunga majemuk merupakan bunga yang terjadi ketika bunga dibayar terhadap investasi selama periode pertama ditambahkan kepokoknya kemudian, selama periode kedua bunga ditambahkan pada jumlah yang baru. Bunga majemuk dapat dihitung dalam suatu interval, satu bulan, empat bulan, enam bulan dan satu tahun.


(1)

dengan melakukan pemberian vaksin dan vitamin dengan jadwal dan dosis yang tepat. Selain itu, sistem pengelolaan yang bersih emnjadi penentu keberhasilan kegiatan operasional pembesaran ayam broiler. Tujuannya adalah mengurangi tingkat kematian dan efisiensi konversi pakan ke bobot badan ayam. Dengan pengambilan langkah tersebut maka hasil panen berada di pencapaian optimal.


(2)

VII KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan pada usaha peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya, dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Usaha peternakan ayam broiler yang dijalankan Bapak Marhaya berdasarkan analisis aspek non finansial, yaitu aspek teknis, aspek pasar, aspek manajemen, serta aspek sosial dan lingkungan menunjukkan kelayakan. Pada aspek pasar harga jual yang diperoleh dari kontrak kerja dengan Dramaga Unggas Farm adalah harga jual yang tergolong baik. Berdasarkan aspek teknis, Bapak Marhaya telah dapat melakukan kegiatan pengelolaan mulai dari pemeliharaan masa awal dan pemeliharaan masa akhir ayam broiler dengan tepat. Efisiensi dan efektivitas pelaksanaan kegiatan operasional dapat diperoleh. Pada aspek manajemen, Bapak Marhaya menerapkan struktur organisasi sederhana namun dapat membuat kegiatan pembesaran ayam broiler mampu berjalan lancar. Aspek sosial yang dianalisis memperlihatkan kepedulian dan rasa tanggung jawab sosial peternakan terhadap lingkungan sekitar lokasi kandang.

2. Berdasarkan analisis aspek kelayakan finansial usaha peternakan yang dijalankan Bapak Marhaya layak untuk dijalankan. Pada perhitungan tanpa kondisi risiko peternakan mampu menghasilkan NPV Rp147.928.117 per tahun. Net B/C 2,124 , IRR 27,847 persen dan PP dalam jangka waktu 3 tahun 3 bulan. Nilai dari masing-masing kriteria tersebut sesuai dengan nilai indikator yang ditetapkan sehingga peternakan layak dilanjutkan.

3. Perhitungan tingkat risiko pada dua kondisi yakni risiko harga menunjukkan usaha layak dijalankan. Dengan skenario risiko harga terbaik, normal dan terburuk mengahasilkan nilai koefisien variasi 0,667 dengan hasil kriteria investasi positif. Pada perhitungan dengan skenario produksi, hasil perhitungan memperlihatkan kondisi ini dapat membuat usaha peternakan menjadi tidak layak. Nilai koefisien variasi dengan risiko produksi bernilai 2,879 (lebih besar dari risiko harga). Kedua nilai koefisien tersebut


(3)

menunjukkan tingkat risiko produksi lebih tinggi daripada risiko yang diakibatkan harga. Artinya Bapak Marhaya perlu melakukan tindakan prefentif untuk mengurangi kerugian akibat pengaruh risiko produksi.

7.2. Saran

Adapun saran yang dapat diberikan pada usaha peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya adalah sebagai berikut:

1. Peternakan yang dijalankan oleh Bapak Marhaya dapat dilakukan pengembangan pada skala usaha karena usaha yang dijalankan berjalan baik. Penambahan skala produksi juga akan mengingkatkan kelayakan investasi karena pada kondisi saat ini kapasitas optimal hanya berada sedikit di atas skala ekonomis dari perhitungan BEP.

2. Tetap menjalankan kegiatan peternakan dengan cara kemitraan dengan Dramaga Unggas Farm karena dapat menjamin pasar yang menyerap hasil produksi. Namun jika modal dan informasi mengenai pasar produk diketahui pemilik maka peternakan dapat memperoleh nilai kelayakan yang lebih tinggi dengan pola mandiri karena dengan pola peternakan mandiri akan diperoleh harga jual sebesar Rp 17.000 per kilogram. Tingkat kelayakan investasi pada pola mandiri menghasilkan NPV Rp 553.347.610, Net B/C 5,205, IRR 94,597 persen dan PP 1 tahun. Empat kriteria tersebut jauh lebih besar dengan pola kemitraan pada kondisi tanpa risiko yang dijalankan saat ini dengan Dramaga Unggas Farm.

3. Melakukan pengaturan keuangan dengan lebih baik agar anggaran untuk melakukan kegiatan pembesaran dapat berjalan dengan optimal tanpa terganggu masalah modal. Permasalahan yang timbul merupakan akibat dari tidak ada pengelolaan keuangan yang baik oleh pemilik peternakan. Bapak Marhaya belum melakukan pemisahan antara pos keuangan rumah tangga dengan pos pengeluaran bisnis peternakan.


(4)

DAFTAR PUSTAKA

Bell D D, Weaver W D, North, M O. 2002. Commercial Chicken Meat and Egg

Production. Jakarta: Springer.

Courant R G, Lipsey R G, Purvis D D, Steiner P O. 1995. Pengantar Mikroekonomi. Edisi Kesepuluh. Jakarta: Binarupa Aksara.

[DP] Departemen Pertanian. 2011. Perkembangan Populasi Ayam Broiler di Indonesia dari Tahun 2001-2008. Jakarta: Departemen Pertanian.

Effendy J, Pramudyati Y S. 2009. Petunjuk Teknis Beternak Ayam Ras Pedaging (Broiler). Sumatera Selatan: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (Bptp) Sumatera Selatan.

Gittinger J P. 1986. Analisis Proyek-Proyek Pertanian. Edisi Kedua. Universitas Indonesia.

Hardjosworo P S. dan Rukmiasih, M.S. 2000. Meningkatkan Produksi Daging Unggas. Yogyakarta: Penebar Swadaya.

Hartono G. 2003. Analisis Penawaran Ayam Pedaging (Broiler) di Tingkat Petani. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Kristen Satya Wacana.

Kadariah. 2001. Evaluasi Proyek Analisis Ekonomi. LPFE. Universitas Indonesia. Jakarta.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2003. Jakarta: Prehalindo.

Kotler P. 2002. Manajemen Pemasaran. Edisi Milenium. Jakarta: Prehalindo. Kountur R. 2006. Manajemen Risiko. Jakarta: Abdi Tandur.

Markus M. 2005. Perpajakan Indonesia sebuah pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Murtidjo B A. 1990. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Yogyakarta: Kanisius. Murtidjo B A. 1992. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Yogyakarta: Kanisius. Murtikasari D A. 2010. Analisis Kelayakan Finansial Usahaternak Sapi Perah

(Studi Kasus Peternak Anggota KPSBU di TPK Cibedug KabupatenBandung Barat, Propinsi Jawa Barat). Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

Musarofah S M. 2009. Analisis Kelayakan Usaha Pengolahan Nugget Ikan (Kasus pada Pengolahan Nugget Ikan Putera Barokah, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat). Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.


(5)

Novianti E. 2010. Analisis Investasi Usaha Penggilingan Padi Pada Kondisi Risiko, Studi Kasus di Penggilingan Padi Skala Kecil Sinar Ginanjar, Kabupaten Karawang, Jawa barat. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

Pangestuti Y D. 2010. Analisis Kelayakan Usaha Peternakan Puyuh pada Peternakan Puyuh Bintang Tiga Desa Situ Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

Putri Y H. 2009. Analisis Kelayakan Finansial Peternakan Kelinci Istana Rabbit Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

Rasyaf M. 2008. Panduan Beternak Ayam Broiler. Jakarta: Penebar Swadaya. Setiawan P. 2010. Analisis Kelayakan Finansial Peternak Ayam Broiler Pola

Kemitraan Inti Plasma Cikahuruipan Ps Kabupaten Ciamis. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

Siahaan H. 2009. Manajemen Risiko pada Perusahaan dan Birokarasi. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Suharno B. 2004. Pembesaran Ayam Kampung Pedaging Hari Per Hari. Jakarta: Niaga Swadaya.

Umar H. 2005. Studi Kelayakan Bisnis. Edisi Ketiga. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.


(6)