Rancang bangun model pengembangan klaster agroindustri aren di Sulawesi Utara

RANCANG BANGUN MODEL PENGEMBANGAN
KLASTER AGROINDUSTRI AREN
DI SULAWESI UTARA

TOMMY FERDY LOLOWANG

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

IPB 2012

TOMMY FERDY LOLOWANG 995003

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Rancang Bangun Model
Pengembangan Klaster Agroindustri di Sulawesi Utara adalah karya saya dengan
arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada
perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya
yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam
teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.
Bogor, Februari 2012

Tommy Ferdy Lolowang
NRP 995003

ABSTRACT
TOMMY FERDY LOLOWANG. Modelling Design for Cluster Plan of Sugar-palm
Agroindustry in Sulawesi Utara. Under direction of DJUMALI MANGUNWIDJAJA,
MARIMIN, ANAS MIFTAH FAUZI, and TITI CANDRA SUNARTI
Sugar-palm (Arenga pinnata Merr) is local plant which produced some
products such as palm sugar, brewing and alcohol. Most of sugar-palm agroindustries
in Indonesia are rural industries and involved many household for harvesting and
processing. This research is aimed to design a system modeling for strategic planning
in the development of sugar-palm agroindustry. Sulawesi Utara is second production
center in Indonesia, was chosen as case study. Designing models consisted of (1)
determinationof location, (2) determination of core industry, (3) cluster institutional,
(4) determination of processing tecnologiy, and (5) financial analysis. The result
showed that Kabupaten Minahasa Selatan was the potential location for agroindustry
cluster development in Sulawesi Utara, with palm-sugar based industry was the most
prospective core industry, and crystal palm-sugar as most prospective products. The
results explained the interpretive structural modeling could be identified as
hierarchical structure, classification of matrix driver power-dependency, and the key
elements of the essential agroindustry development system. Output from ptocessing
technology models shows that crystal palm sugar industry with 5000 liters of palm
saps production capacity and open-pan & vacuum evaporating techniques were
chosen as competitive processing technology; and feasible to be developed in
Sulawesi Utara.
Keywords: sugar-palm, palm-sugar, agoindustry cluster, feasibility analysis

RINGKASAN
TOMMY FERDY LOLOWANG. Rancang Bangun Model Pengembangan Klaster
Agroindustri Aren di Sulawesi Utara. Dibimbing oleh DJUMALI
MANGUNWIDJAJA, MARIMIN, ANAS MIFTAH FAUZI, dan TITI CANDRA
SUNARTI.
Agroindustri aren memiliki potensi untuk dikembangkan, baik ditinjau dari
ketersediaan bahan baku, tenaga kerja, proses produksi, maupun peluang pasar.
Pengembangan industri ini mempunyai arti penting karena dapat memperluas
kesempatan kerja, meningkatkan nilai tambah, meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat khususnya di wilayah pedesaan.
Penelitian bertujuan untuk mendapatkan model penunjang keputusan
pengembangan klaster agroindustri yang menggunakan bahan baku yang berasal dari
tanaman aren di Sulawesi Utara. Sistem model yang dibangun dianalisi dengan
menggunakan beberapa teknik pendekatan. Sub model lokasi pengembangan klaster
digunakan teknik loqation quotient dan analitycal hirarchy process (AHP), sub
model industri inti menggunakan teknik AHP, sub model kelembagaan klaster
menggunakan teknik interpretive structural modelling, sub model pemilihan produk
menggunakan teknik AHP, sub model penentuan kapasitas olah dan teknologi
pengolahan menggunakan metode perbandingan eksponensial. Sedangkan sub model
penilayan kelayakan investasi menggunakan kriteria-kriteria finansial.
Berdasarkan keluaran model, lokasi pengembangan klaster agroindustri aren
prioritas di Sulawesi Utara adalah Kabupaten Minahasa Selatan, diikuti oleh Kota
Tomohon, dan Kabupaten Minahasa. Sedangkan agroindustri inti prospektif untuk
dikembangkan adalah agroindustri gula aren, diikuti oleh agroindustri bioetanol dan
agroindustri minuman beralkohol.
Model kelembagaan pengembangan klaster yang dibangun terdiri dari lima
elemen sistem yaitu elemen tujuan pengembangan, elemen pelaku, elemen kendala,
elemen aktivitas dan elemen indikator keberhasilan. Berdasarkan hasil analisis
struktur sistem terhadap elemen-elemen tersebut diperoleh masing-masing: (1) Sub
elemen kunci tujuan pengembangan klaster agroindustri aren adalah meningkatkan
pendapatan petani penyadap aren, meningkatkan nilai tambah agroindustri, dan
meningkatkan kemampuan inovasi dan teknologi; (2) Sub elemen kunci pelaku
pengembangan adalah pemilik lahan, petani penyadap, agroindustri pengolahan,
industri terkait / pendukung, pedagang perantara, kelompok tani dan koperasi; (3)
Sub-elemen kunci kendala pengembangan adalah kurangnya dukungan dari
pemerintah, rendahnya kualitas sumberdaya manusia, dan rendahnya kemampuan
manajerial; (4) Sub elemen kunci aktivitas pengembangan adalah pengembangan
kerjasama dan koordinasi kegiatan antar agroindustri aren, pengembangan kerjasama
dengan industri / lembaga terkait, dan pengembangan inovasi dan aplikasi teknologi;
dan (5) Sub-elemen kunci indikator keberhasilan pengembangan adalah peningkatan

jumlah dan bentuk kerjasama antar pelaku dan peningkatan kemampuan penguasaan
teknologi
Model pemilihan teknologi yang didahului dengan penentuan produk unggulan
menunjukan bahwa usaha agroindustri gula semut merupakan produk yang paling
potensi untuk dikembangkan. Kapasitas olah unit pengolahan gula semut yang
terpilih adalah 5.000 l nira per satu kali olah. Sedangkan teknologi proses yang
dianjurkan teknik open pan dengan vacum evaporator.
Model kelayakan usaha agroindustri aren khususnya usaha pengolahan gula
semut menunjukan bahwa pada tingkat kapasitas olah 5.000 l, harga jual di tingkat
pabrik sebesar Rp15.000,00 per kg adalah layak dan menguntungkan untuk
dilaksanakan. Keuntungan bersih yang diperoleh adalah Rp1.192.876.720,00 per thn
dengan tingkat pengembalian modal mencapai 41,17%.
Model simulasi kelayakan usaha menunjukan bahwa jika harga produk
mengalami penurunan sebesar 20% menjadi Rp12.000,00 per kg maka usaha
pengolahan agroindustri gula semut tersebut masih menguntungkan karena
koefisien-koefisien indikator yang diperoleh masih berada pada kategori layak
dimana keuntungan bersih rata rata yang diperoleh adalah Rp406.164.220,00 per thn.
Namun apabila harga bahan baku mengalami kenaikan sebesar 50% menjadi
Rp1.500,00 per l, maka usaha pengolahan gula semut tersebut secara ekonomi tidak
layak untuk dilaksanakan karena manfaat riil yang diperoleh bernilai negatif.

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan
pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan
kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan
kepentingan yang wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apapun tanpa izin IPB

RANCANG BANGUN MODEL PENGEMBANGAN
KLASTER AGROINDUSTRI AREN
DI SULAWESI UTARA

TOMMY FERDY LOLOWANG

Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor pada
Program Studi Teknologi Industri Pertanian

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Penguji pada Ujian Tertutup : Dr. Ir. Sukardi, M.M.
Dr. Ir. Sapta Raharja, DEA.
Penguji pada Ujian Terbuka : Dr. Ir. Undang Fadjar, M.Sc.
: Dr. Ir. Endang Warsiki, STP., M.T.

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di dusun kecil Torout Tompasobaru di Kabupaten Minahasa
Selatan pada Tanggal 3 Agustus 1964 sebagai anak pertama dari pasangan ayah
Alexander Lolowang dan ibu Margotje Poli. Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah
Dasar di Kolongan-Atas Sonder pada tahun 1975, Sekolah Menengah Pertama di Sonder
pada tahun 1979, sedangkan Sekolah Menengah Atas di Kawangkoan pada tahun 1982.
Pendidikan sarjana diselesaikan pada Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian
Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi pada Tahun 1982. Pada Tahun 1993
penulis mengikuti Program Pembangunan Nasional di Universitas Indonesia. Pada
tahun 1998 penulis menyelesaikan studi S2 di Institut Pertanian Bogor Program Studi
Ekonomi Pertanian.
Penulis diangkat sebagai pegawai negeri sipil pada tahun 1989 dan sejak saat itu
bekerja sebagai staf pengajar pada Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi
Manado. Pada tahun 2004 penulis menikah dengan Martha Dorkas Pasla SP dan
dikarunia tiga orang anak yaitu Axel Dennis Lolowang, Chelsea Aurelia Lolowang, dan
Luvmitha Ivory Lolowang.
Pada tahun 1999 penulis diberi kesempatan melanjutkan studi S3 pada Program
Studi Ekonomi Pertanian, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor dengan bantuan
dana Beasiswa Pendidikan Pascasarjana yang diperoleh dari Departemen Pendidikan
Nasional Republik Indonesia. Pada tahun 2003 penulis memutuskan untuk pindah ke
Program Studi Teknologi Industri Pertanian.
Sebuah artikel berjudul Model Penunjang Keputusan Pengembangan Klaster
Agroindustri Aren di Sulawesi Utara akan diterbitkan pada Jurnal Teknologi Industri
Pertanian pada Edisi Maret tahun 2012 dan artikel lain berjudul Model Penilaian
Kelayakan Investasi Agroindustri Gula Aren akan diterbitkan pada Buletin Balitka dan
Tanaman Palma lainnya pada Edisi Mei tahun 2012.

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ..................................................................................................... xiii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. xiv
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................................. xv
1

PENDAHULUAN ...............................................................................................
1.1. Latar Belakang .............................................................................................
1.2. Tujuan Penelitian ..........................................................................................
1.3. Ruang Lingkup .............................................................................................
1.4. Manfaat Penelitian ........................................................................................
1.5. Kebaruan Penelitian ......................................................................................

1
1
4
4
5
5

2

TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................................
2.1. Pendekatan Sistem ........................................................................................
2.2. Agroindustri Aren .........................................................................................
2.3. Teknologi Pengolahan Agroindustri Aren ....................................................
2.4. Klaster Agroindustri .....................................................................................
2.5. Pengembangan Inovasi dan Teknologi .........................................................
2.6. Metode Penunjang Keputusan ......................................................................
2.6.1. Location Quotients (LQ) ...................................................................
2.6.2. Analytical Hierarchy Process ...........................................................
2.6.3. Interpretive Structural Modelling .....................................................
2.6.4. Metode Perbandingan Eksponensial .................................................
2.6.5. Teknik Heuristik ...............................................................................
2.6.6. Analisis Kelayakan Finansial ............................................................

6
6
8
10
12
19
21
22
22
23
26
26
27

3

METODOLOGI PENELITIAN ..........................................................................
3.1. Kerangka Pemikiran .....................................................................................
3.2. Tahapan Penelitian ........................................................................................
3.3. Jenis dan Sumber Data ..................................................................................
3.4. Metode Pengumpulan Data ...........................................................................
3.5. Metode Pengolahan Data ..............................................................................

31
31
32
34
34
34

4

ANALISIS SISTEM ............................................................................................
4.1. Analisis Sistuasional .....................................................................................
4.2. Analisis Kebutuhan .......................................................................................
4.3. Formulasi Permasalahan ...............................................................................
4.4. Identifikasi Sistem ........................................................................................

36
36
39
41
42

5

PEMODELAN SISTEM .....................................................................................
5.1. Konfigurasi Model Pengembangan Klaster ..................................................
5.1.1. Penentuan Lokasi Unggulan .............................................................
5.1.2. Penentuan Industri Inti ......................................................................

44
45
45
46

5.1.3. Identifikasi dan Strukturisasi Model Kelembagaan Klaster ..............
5.2. Konfigurasi Model Pengembangan Teknologi Pengolahan .........................
5.2.1. Penentuan Produk Unggulan ............................................................
5.2.2. Penentuan Kapasitas Olah ................................................................
5.2.3. Penentuan Teknologi Pengolahan ......................................................
5.3. Konfigurasi Model Kelayakan Investasi ......................................................

47
49
49
49
50
51

6

VERIFIKASI DAN VALIDASI MODEL ..........................................................
6.1. Model Pengembangan Klaster Agroindustri Aren .......................................
6.1.1. Sub Model Lokasi Pengembangan ...................................................
6.1.2. Sub Model Industri Inti .....................................................................
6.2. Model Struktural Kelembagaan Pengembangan ..........................................
6.2.1. Sub Model Sistem Elemen Tujuan ...................................................
6.2.2. Sub Model Sistem Elemen Pelaku ....................................................
6.2.3. Sub Model Sistem Elemen Kendala .................................................
6.2.4. Sub Model Sistem Elemen Aktivitas ................................................
6.2.5. Sub Model Sistem Elemen Indikator Keberhasilan ..........................
6.3. Model Pengembangan Teknologi Pengolahan .............................................
6.3.1. Sub Model Produk Unggulan ...........................................................
6.3.2. Sub Model Kapasitas Olah ...............................................................
6.3.3. Sub Model Teknologi Pengolahan ....................................................
6.4. Model Penilaian Kelayakan Investasi ...........................................................

52
52
52
54
55
56
58
59
61
63
65
65
67
70
72

7

RANCANGAN SISTEM PENGEMBANGAN KLASTER AGROINDUSTRI AREN ...............................................................................................
7.1. Sistem Pengembangan Lokasi dan Industri Inti ...........................................
7.2. Sistem Pengembangan Kelembagaan ............................................................
7.3. Sistem Pengembangan Teknologi .................................................................
7.4. Sistem Pengukuran Kinerja ..........................................................................
7.5. Implikasi Kebijakan ......................................................................................

76
76
77
81
82
83

8

KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................... 87
8.1. Kesimpulan ................................................................................................... 87
8.2. Saran ............................................................................................................. 88

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 89
LAMPIRAN ................................................................................................................ 97

DAFTAR TABEL
Halaman
1

Komposisi bahan dari nira kelapa, nira aren dan nira tebu .................................

9

2

Sebaran dan produksi tanaman aren di Sulawesi Utara tahun 2010 ................... 36

3

Sebaran dan produksi agroindustri aren di Sulawesi Utara tahun 2010 .............. 38

4

Analisis kebutuhan pelaku agroindustri aren ....................................................... 40

5

Koefisien LQ agroindustri aren di Sulawesi Utara ............................................. 53

6

Keluaran sub model lokasi pengembangan ......................................................... 54

7

Keluaran sub model industri inti .......................................................................... 55

8

Hubungan kontekstual elemen kelembagaan ....................................................... 56

9

Keluaran sub model elemen tujuan pengembangan ........................................... 57

10 Keluaran sub model elemen pelaku pengembangan ........................................... 58
11 Keluaran sub model elemen kendala pengembangan ......................................... 60
12 Keluaran sub model elemen aktivitas pengembangan ........................................ 62
13 Keluaran sub model elemen indikator keberhasilan pengembangan .................. 64
14 Keluaran sub model produk unggulan ................................................................ 66
15 Peringkat prioritas kapasitas olah ....................................................................... 68
16 Sumber dan produksi nira aren Kabupaten Minahasa Selatan tahun 2010 ......... 69
17 Peringkat prioritas teknologi pengolahan ........................................................... 71
18 Koefisisen indikator kelayakan investasi usaha agroindustri gula aren
Pada kondisi normal ............................................................................................ 74
19 Dampak penurunan harga produk terhadap indikator
kelayakan investasi ............................................................................................. 74
20 Dampak kenaikan harga bahan baku terhadap indikataor kelayakan ................. 75

DAFTAR GAMBAR
1

Halaman
Proses pengolahan nira aren ............................................................................. 11

2

Kelembagaan konseptual program pengembangan agroindustri ......................

16

3

Model pengukuran kinerja klaster industri .......................................................

18

4

Kerangka pemikiran konseptual pengembangan klaster ..................................

32

5

Diagram alir perancangan model klaster agroindustri aren ..............................

33

6

Pohon industri tanaman aren ............................................................................

37

7

Diagram sebab akibat pengembangan sistem agroindustri aren ......................

42

8

Diagram input output pengembangan klaster agroindustri aren .......................

43

9

Sistem penunjang keputusan pengembangan klaster agroindustri aren ...........

45

10 Diagram alir model penentuan lokasi klaster agroindustri aren .......................

46

11 Diagram alir model penentuan industri inti ......................................................

47

12 Diagram alir identifikasi elemen sistem pelaku pengembangan ......................

48

13 Diagram alir strukturisasi elemen sistem pelaku pengembangan .....................

48

14 Diagram alir penentuan produk unggulan ........................................................

49

15 Diagram alir penentuan kapasitas olah .............................................................

50

16 Diagram alir pemilihan teknologi pengolahan .................................................

50

17 Diagram alir penilaian kelayakan investasi ......................................................

51

18 Struktur sistem pengembangan klaster agroindustri aren .................................

78

19 Jaringan kerjasama dalam sistem kelembagaan klaster .....................................

85

DAFTAR LAMPIRAN
1.

Halaman
Peta lokasi penelitian ......................................................................................... 97

2.

Struktur hirarki AHP penentuan lokasi pengembangan klaster .........................

98

3.

Struktur hirarki AHP penentuan industri inti .....................................................

98

4.

Hasil pengolahan ISM elemen sistem tujuan pengembangan ...........................

99

5.

Hasil pengolahan ISM elemen sistem pelaku pengembangan ........................... 100

6.

Hasil pengolahan ISM elemen sistem kendala pengembangan ......................... 101

7.

Hasil pengolahan ISM elemen sistem aktivitas pengembangan ........................ 102

8.

Hasil pengolahan ISM elemen sistem indikator keberhasilan pengembangan .. 103

9.

Struktur hirarki AHP penentuan produk unggulan ............................................ 104

10. Kriteria penentuan kapasitas olah ...................................................................... 104
11. Aturan-aturan pemilihan kapasitas olah ............................................................ 105
12. Analisis penentuan kapasitas olah unit pengolahan gula aren ........................... 106
13. Analisis penentuan teknologi pengolahan gula aren ......................................... 107
14. Modal tetap investasi agroindustri gula aren kapasitas olah 5000 l .................. 108
15. Modal kerja investasi ........................................................................................ 109
16. Biaya investasi lainnya ...................................................................................... 109
17. Kewajiban pengembalian pinjaman usaha ......................................................... 109
18. Perkiraan rugi laba usaha agroindustri gula aren pada kondisi normal ............. 110
19. Perkiraan rugi laba usaha agroindustri gula aren pada kondisi harga bahan
baku naik sebesar 50% ....................................................................................... 113
20 Perkiraan rugi laba usaha agroindustri gula aren pada kondisi harga produk
Turun sebesar 20% ............................................................................................. 115

1

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Salah satu agroindustri yang memiliki potensi untuk meningkatkan nilai
tambah dan pendapatan masyarakat khususnya di pedesaan adalah agroindustri
yang menggunakan bahan baku dari tanaman aren. Sulawesi Utara termasuk
daerah di Indonesia yang memiliki potensi tersebut baik dilihat dari sebaran
tanaman aren sebagai sumber bahan baku maupun dilihat dari jumlah tenaga kerja
yang terlibat dalam kegiatan pengolahan. Total areal tanaman aren di Sulawesi
Utara pada tahun 2010 adalah sekitar 5,615.40 Ha (BPS 2011b ) dengan populasi
tanaman diperkirakan mencapai 1.585.000 pohon (Dinas Perkebunan Sulut 2011).
30-35% diantaranya merupakan tanaman produktif (Mahmud 1991), sedangkan
jumlah tenaga kerja yang terlibat langsung dalam kegiatan agroindustri ini
mencapai 29.600 orang ( BPS 2011b).
Agroindustri aren sebagian besar diusahakan rakyat dalam skala usaha
kecil dan menengah, lokasi yang terpencar, modal terbatas, peralatan dan
teknologi sederhana dan akses informasi terbatas. Disamping itu, pihak-pihak
yang berkepentingan

terhadap

berkembangnya

agroindustri

aren

belum

menunjukan keterpaduan dalam melakukan aktivitasnya. Petani penyadap,
industri, lembaga terkait dan pemerintah dalam melaksanakan kegiatannya masih
bersifat sendiri-sendiri, kurang mendukung dan belum terkoordinasi. Kondisi
tersebut menyebabkan rendahnya daya saing dari agroindustri aren dibandingkan
dengan agroindustri substitusi yang disebabkan oleh rendahnya produktivitas dan
mutu dari produk yang dihasilkan. Kenyataan lain yang diakibatkan oleh kondisi
tersebut adalah rendahnya nilai tambah yang diterima oleh pelaku-pelaku usaha
khususnya petani penyadap dan industri kecil.
Kecenderungan

meningkatnya

permintaan

pasar

dan

tersedianya

sumberdaya alam yang cukup besar menunjukan bahwa agroindustri aren
memiliki potensi untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar terhadap setiap
pelaku yang terlibat didalam sistem. Permintaan produk agroindustri aren dalam
beberapa tahun terakhir ini menunjukkan peningkatan yang sangat berarti
terutama produk gula merah. Sebagai contoh, konsumsi rataan per kapita gula

2

merah Indonesia meningkat dari 1,25 kg pada tahun 2001 menjadi 1.40 kg pada
tahun 2010 (BPS 2011d). Selain itu, agroindustri aren dapat menjadi alternatif
untuk mengurangi defisit kebutuhan gula nasional yang mencapai sekitar 2,8 juta
ton pada tahun 2010. Namun pada kenyataannya, potensi dan peluang tersebut
belum mampu direspon secara optimal oleh pihak-pihak yang berkepentingan
khususnya oleh pelaku usaha maupun oleh pemerintah.
Permasalahan utama yang dihadapi dalam upaya meningkatkan nilai
tambah dan daya saing agroindustri aren bersumber dari sisi penawaran dan yang
bersumber dari sisi permintaan (Anonim 2008). Kenyataan lokasi usahatani yang
terpencar-pencar serta jauh dari lokasi industri penggolahan, diskontinuitas bahan
baku, mutu bahan baku rendah, teknologi pengolahan sederhana dan tradisionil
merupakan kendala yang bersumber dari sisi permintaan.

Sementara itu,

ketidakstabilan harga, rendahnya mutu produk, dan perubahan perilaku konsumen
menjadi kendala utama pengembangan agroindustri aren dari sisi penawaran.
Beberapa program pengembangan industri kecil dan pedesaan secara
empiris telah dilaksanakan oleh pemerintah dan instansi terkait namun manfaat
yang dihasilkan seringkali belum sesuai dengan yang diharapkan (Nasution 2001).
Hal tersebut antara lain disebabkan oleh pola pengembangan yang dilakukan
umumnya bersifat parsial yang hanya fokus pada satu atau sedikit aspek yang
berhubungan dengan sistem yang harus dikembangkan. Selain itu, pola
pengembangan tersebut seringkali hanya terbatas pada sektor internal yang
umumnya menjadi karakteristik pembangunan di Indonesia dimana pembangunan
dilakukan dengan tidak adanya koordinasi dan integrasi dengan sektor lain yang
sebenarnya berkaitan satu sama lain, misalnya antara sektor pertanian dan sektor
industri.
Pengembangan agroindustri di Indonesia semestinya menjadi pilihan yang
strategis dalam menanggulangi permasalahan ekonomi dan pemberdayaan
ekonomi masyarakat. Hal ini disebabkan adanya kemampuan yang tinggi dari
agroindustri dalam hal perluasan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha,
meningkatkan nilai tambah dan perolehan devisa, mengingat sifat industri
pertanian yang padat karya dan bersifat masal.

3

Hubungan timbal balik yang erat antara sektor pertanian dan industri
mutlak perlu dipadukan, diserasikan dan diselaraskan menuju suatu pola
pembinaan dan pengembangan industri sektor pertanian atau agroindustri, yang
sesuai dengan sumber daya industri serta kondisi alam wilayah setempat, untuk
dapat mewujudkan pola operasionai tersebut butuhkan persepsi yang senada
dalam pengertian definitif dan Agroindustri di Indonesia (IPB 1983).
Dalam rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) tahun 2010-2014
yang disusun oleh pemerintah disebutkan bahwa revitalisasi pertanian
dilaksanakan antara lain melalui pengembangan agroindustri yang merupakan
pilihan strategis untuk menggerakkan roda perekonomian dan pemberdayaan
ekonomi masyarakat pedesaan.

Selanjutnya dikatakan bahwa pengembangan

tersebut sangat mungkin untuk dilaksanakan karena adanya kemampuan yang
tinggi dari agroindustri dalam penyerapan tenaga kerja, mengingat sifat
agroindustri yang padat karya dan bersifat masal. Agroindustri yang berbasis pada
masyarakat tingkat menengah dan bawah ini merupakan sektor yang sesuai untuk
menampung banyak tenaga kerja dan menjamin perluasan usaha sehingga akan
efektif dalam upaya meningkatkan perekonomian di pedesaan.
Model pengembangan industri yang relatif belum banyak diadopsi oleh
sektor agroindustri di Indonesia adalah model klaster. Berdasarkan beberapa
penelitian menunjukan bahwa model pengembangan agroindustri ini di beberapa
menunjukan hasil yang nyata dalam meningkatkan nilai tambah dan daya saing
khususnya agroindustri di pedesaan (Unido 2004; FAO 2008; Unido 2009).
Klaster industri merupakan pola pikir tentang pengembangan industri suatu
wilayah yang menekankan pada integrasi dan kerja sama diantara pihak-pihak
yang berkepentingan yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya
saing.
Pengembangan klaster agroindustri aren dipandang dapat memberikan
alternatif strategi yang dapat dipakai untuk meningkatkan nilai tambah dan daya
saing agroindustri ini. Namun oleh karena agroindustri aren merupakan suatu
sistem yang kompleks dan rumit maka dalam proses pengembangan model
dibutuhkan suatu metode pendekatan yang dapat membantu pengembangan

4

tersebut sehingga keluaran model diharapkan dapat mewakili kondisi nyata dan
berguna dalam membantu pengambilan keputusan.
Eriyatno (1999) dan Marimin (2005) menyatakan bahwa pendekatan
sistem dapat dipakai untuk memahami sistem secara lengkap dalam rangka
merumuskan strategi pengembangan. Pendekataan sistem mensyaratkan suatu
rancangan model dengan tahapan-tahapan tertentu yang dimulai dengan
identifikasi kemudian diakhiri dengan penilaian terhadap keluaran model sehingga
diperoleh suatu keputusan yang efektif dan efisien.

1.2. Tujuan
Secara umum penelitian bertujuan untuk mendapatkan model penunjang
keputusan pengembangan klaster agroindustri yang menggunakan bahan baku
yang berasal dari tanaman aren di Sulawesi Utara. Secara khusus bertujuan untuk:
(1) menentukan lokasi pengembangan agroindustri aren dan industri inti potensial,
(2) mendapatkan struktur dan hubungan elemen sistem pengembangan klaster
agroindustri aren, (3) menentukan produk unggulan serta kapasitas olah dan
teknologi pengolahan pada agroindustri aren, (4) mengukur kelayakan investasi
agroindustri aren terpilih.

1.3. Ruang Lingkup
Penelitian ini diarahkan untuk menyusun suatu model penunjang
keputusan pengembangan klaster agroindustri aren di Sulawesi Utara serta
merumuskankan perencanaan strategis implementasi model tersebut namun dalam
pengembangannya tidak menyertakan suatu perangkat lunak yang dapat
membantu pengguna dalam pengambilan keputusan. Walaupun demikian, model
yang dibangun dianggap cukup representatif untuk menjadi referensi dalam
penentuan keputusan dan kebijakan pengembangan agroindustri aren di masa
depan khususnya dalam rangka peningkatan nilai tambah dan daya saing. Ruang
lingkup penelitian meliputi: a) penyediaan model lokasi pengembangan dan
industri inti agroindustri aren, b) penyediaan model pengembangan kelembagaan
klaster agroindustri aren, c) penyediaan model pemilihan produk unggulan,

5

kapasitas olah, dan teknologi pengolahan agroindustri aren, dan d) penyediaan
model kelayakan investasi usaha agroindustri aren terpilih.

1.4. Manfaat Penelitian
Model yang dirancang dan dikembangkan diharapkan dapat dijadikan
pertimbangan oleh para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan
sehingga menghasilkan efek pengganda khususnya bagi peningkatan pendapatan
dan kesejahteraan petani dan pelaku agroindustri aren. Bagi pemerintah,
khususnya pemerintah daerah, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
pertimbangan dalam penyusunan strategi pembangunan agroindustri kedepan,
khususnya agroindustri berbasis bahan baku lokal dan pedesaan sehingga
mampu menjadi motor penggerak perekonomian daerah. Hasil penelitian ini
juga diharapkan dapat membantu memberikan informasi sekaligus bahan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi bagi investor (perusahan
agroindustri), petani aren, lembaga keuangan dan koperasi.

1.5. Kebaruan Penelitian
Unsur kebaruan dari penelitian yang dilakukan berkaitan dengan substansi
atau obyek kajian. Sedangkan dari aspek metodologi dan konsep pengembangan,
model pendekatan sistem dan model klaster dipandang relatif telah banyak
digunakan

dan

dikembangkan

dalam

penelitian-penelitian

terdahulu.

Pengembangan model klaster dengan fokus pada agroindustri aren secara relatif
belum banyak bahkan belum pernah dilakukan baik secara perorangan maupun
institusi, padahal sektor agroindustri aren memiliki arti strategis dalam rangka
peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat khususnya di beberapa daerah
potensial di Indonesia.

6

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pendekatan Sistem
Sistem didefinisikan sebagai seperangkat elemen atau sekumpulan entitas
yang saling berkaitan, yang dirancang dan diorganisir untuk mencapai satu atau
beberapa tujuan (Manetsch & Park 1976). Sistem dapat merupakan suatu proses
yang sangat rumit yang ditandai oleh sejumlah lintasan sebab akibat, menurut
Eriyatno (2003) sistem adalah totalitas himpunan hubungan yang mempunyai
struktur dalam nilai posisional serta matra dimensional terutama dimensi ruang
dan waktu. Pada dasarnya ada dua sifat dari sistem, yaitu berkaitan dengan aspek
prilaku dan aspek struktur, sehingga permasalahan yang berkaitan dengan sistem
akan menyangkut pada prilaku sistem dan struktur sistem. Prilaku sistem
berkaitan dengan input dan output; dan struktur sistem berkaitan dengan susunan
daii rangkaian diantara elemen-elemen sistem.
Menurut Eriyatno (2003), karena disebabkan pemikiran sistem selalu
mencari keterpaduan antarbagian melalui pemahaman yang utuh, maka diperlukan
suatu kerangka fikir baru yang terkenal sebagai pendekatan sistem (system
approach). Pendekatan sistem merupakan cara penyelesaian persoalan yang
dimulai dengan dilakukannya identifikasi terhadap adanya sejumlah kebutuhankebutuhan sehingga dapat menghasilkan suatu operasi dari sistem yang dianggap
efektif.
Pada dasarnya pendekatan sistem adalah penerapan dari sistem ilmiah
dalam manajemen (Eriyatno 2003). Dengan cara ini hendak diketahui faktorfaktor yang mempengaruhi perilaku dan keberhasilan suatu organisasi atau suatu
sistem. Metode ilmiah dapat menghindarkan manajemen mengambil kesimpulankesimpulan yang sederhana dan simplisitis searah oleh suatu masalah disebabkan
oleh penyebab tunggal. Pendekatan sistem dapat memberi landasan untuk
pengertian yang lebih luas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
sistem dan memberikan dasar untuk memahami penyebab ganda dari suatu
masalah dalam kerangka sistem.
Menurut Marimin (2004), pendekatan sistem adalah suatu pendekatan
analisis organisatoris yang menggunakan ciri-ciri sistem sebagai titik tolak

7

analisis. Dengan demikian, manajemen sistem dapat diterapkan dengan
mengarahkan perhatian kepada berbagai ciri dasar sistem yang perubahan dan
gerakannya akan mempengaruhi keberhasilan suatu sistem.
Pendekatan sistem adalah suatu cara penyelesaian persoalan yang dimulai
dengan melakukan identifikasi terhadap sejumlah kebutuhan-kebutuhan sehingga
dapat

menghasilkan suatu operasi dari

sistem

yang dianggap efektif

(Eriyatno 2003). Karakteristik pendekatan sistem adalah: 1) kompleks karena
interaksi antar elemen cukup rumit, 2) dinamis, ada perubahan faktor menurut
waktu dan ada pendugaan ke masa depan, dan 3) probabilistik, diperlukan fungsi
peluang dan inferensi kesimpulan maupun rekomendasi.
Jika diklasifikasikan masalah sistem secara garis besarnya ada tiga, yaitu
1) untuk sistem yang belum ada, struktumya dirancang untuk merealisasikan
rancangan yang memiliki prilaku sesuai dengan yang diharapkan (persoalan
sintesis sistem); 2) untuk sistem yang sudah ada (dalam kenyataan atau hanya
sebagai suatu rancangan) dan strukturnya diketahui, maka prilaku ditentukan pada
basis dari struktur yang diketahui itu (persoalan analisis sistem); dan 3) untuk
sistem yang sudah ada (dalam kenyataan) tetapi tidak mengenalnya serta
strukturnya tidak dapat ditentukan secara langsung, maka permasalahannya adalah
mengetahui prilaku dari sistem itu serta strukturnya, yang dikenal dengan
persoalan black box atau kotak hitam (Gaspersz 1992).
Menurut Eriyatno (1998) dalam transformasi input menjadi output, perlu
dibedakan antara elemen (entity) dari suatu sistem dengan sub sistem dari sistem
itu sendiri. Sub sistem dikelompokkan dan bagian sistem yang masih
berhubungan satu dengan lainnya pada tingkat resolusi yang tertinggi, sedangkan
elemen dari sistem adalah pemisahan bagian sistem pada tingkat resolusi yang
rendah. Masing-masing sub sistem saling berinteraksi untuk mencapai tujuan
sistem. Interaksi antara sub sistem (disebut juga interface) terjadi karena output
dari suatu sistem dapat menjadi input dari sistem lain. Jika interface antar sub
sistem terganggu maka proses transformasi pada sistem secara keseluruhan akan
terganggu juga sehingga akan menghasilkan bias pada tujuan yang hendak
dicapai.

8

Proses transformasi yang dilakukan oleh suatu elemen dalam sistem dapat
berupa fungsi matematik, operasi logic, dan proses operasi yang dalam ilmu
sistem dikenal dengan konsep kotak gelap (black box). Kotak gelap adalah sebuah
sistem dari rincian tidak berhingga yang mencakup struktur-struktur terkecil
paling mikro. Dengan demikian karakter kotak gelap adalah behavioristic
(tinjauan sikap). Kotak gelap digunakan untuk mengobservasi apa yang terjadi,
bukan mengetahui tentang bagaimana transformasi terjadi. Untuk mengetahui
transformasi yang terjadi dalam kotak gelap dapat dilakukan melalui tiga cara,
yaitu 1) spesifikasi; 2) analog; kesepadanan dan modifikasi; dan 3) observasi dan
percobaan.
Eriyatno (1998) menyimpulkan ada tiga pola pikir dasar yang selalu
menjadi pegangan pokok para ahli sistem dalam merancang bangun solusi
permasalahan, yaitu 1) sibernetik (cybernetic), artinya berorientasi pada tujuan;
2) holistik (holistic), yaitu cara pandang yang utuh terhadap keutuhan sistem; dan
3) efektif (effectiveness). yaitu prinsip yang lebih mementingkan hasil guna yang
operasional serta dapat dilaksanakan dari pada pendalaman teoritis untuk
mencapai efisiensi keputusan.

2.2. Agroindustri Aren
Kegiatan pemanfaatan bahan baku dari tanaman aren untuk diolah menjadi
beberapa produk telah dilakukan oleh masyarakat secara turun temurun. Usaha
ini umumnya masih bersifat tradisional yang ditandai dengan penggunaan
teknologi sederhana dan dalam skala usaha kecil. Bahan baku yang berasal dari
tanaman aren yang paling banyak digunakan oleh masyarakat untuk menghasilkan
beberapa produk adalah nira aren yang diperoleh lewat proses penyadapan.
Keberadaan gula (sukrosa) yang dihasilkan selain dari tanaman tebu
menunjukkan potensi yang besar baik sebagai produk untuk dikonsumsi langsung
maupun sebagai bahan baku industri pengolahan khususnya industri makanan.
Salah satu tanaman yang memiliki potensi tersebut adalah aren (Arenga Pinnata
Merr). Menurut Mahmud et al. (1991) dan Novarianto et al. (2001), selain
menghasilkan gula, tanaman ini pada umumnya memiliki potensi untuk

9

menghasilkan beragam produk lain yang memiliki nilai ekonomi seperti daun,
lidi, ijuk dan batang.
Tanaman aren dapat tumbuh pada ketinggian 0 - 1400 m di atas
permukaan laut serta pada berbagai kondisi agroklimat. Pohon aren akan
mencapai tingkat kematangannya pada umur 6 - 12 tahun (Mahmud 1991).
Selanjutnya, kondisi penyadapan terbaik pada umur 8 - 9 tahun, ditandai dengan
keluarnya mayang. Penyadapan dapat dilakukan pada pagi dan sore hari. Setiap
tahun dapat disadap 3-12 tangkai bunga dengan hasil nira mencapai 300 - 400 liter
per musim (3-4 bulan) atau sekitar 900 -1600 liter per pohon setahun.
Komposisis bahan dari nira aren utamanya terdiri atas sukrosa dan air yang
relatif sama dengan yang terkandung pada nira yang berasal dari tanaman kelapa
dan dari tanaman tebu (Tabel 1). Rendeman gula atau alkohol dari nira berkisar
antara 15 - 20%, tergantung dari kondisi pohon aren yang disadap niranya
(Novarianto et al. 2001).
Tidak semua pohon yang hendak dipersiapkan untuk disadap dapat
menghasilkan nira yang baik. Rendeman ini cenderung lebih tinggi pada nira yang
dihasilkan dari mayang pertama hingga mayang ketiga. Sedangkan produktivitas
petani untuk menyadap nira cukup beragam yang sangat tergantung dari
keterampilan dan kemampuan petani dan juga tergantung pada tujuan pengolahan.
Tabel 1 Komposisi bahan dari nira kelapa, nira aren dan nira tebu
Komponen

Nira Aren )

Air
Sukrosa
Gula Pereduksi
Protein
Lemak
Abu
Mineral
Sabut
Zat Warna,
malam, gum
pH

85
12,67
0,28
0,19
0,14
0,06
na
na
Na

Kandungan bahan (%)
Nira Arenb)
Nira
Kelapac)
85 - 87,75
84,7
11,42 – 12,67 14,35
0,28
Na
0,09 – 0,19
0,19
0,14
0,5 – 1
0,06
Na
na
0,66
na
Na
na
Na

Na

6,9

a

Na

Nira Tebud)
60,0 – 80,0
11,0 – 14,0
0,5 – 2,0
0,15 – 0,20
0,20 – 0,55
0,5 – 1,10
0,3 – 0,75
10.0 – 15.0
7.5 – 15.0
Na

Sumber: a) Ardi dalam Laluyan (1995); b) Iskandar (1991), c) Anonimous (1989);
d) Moerdokusumo (1993)

10

Nira aren yang dihasilkan dari penyadapan tandan bunga jantan oleh
masyarakat umumnya diolah untuk menghasilkan gula aren, alkohol dan bioetanol
(Mahmud et al. 1991; Novarianto et al. 2001). Namun demikian keputusan
pengolahan nira sangat dipengaruhi oleh karakteristik dan kondisi dari nira itu
sendiri.
Agroindustri merupakan industri sekunder atau industri dengan tingkatan
lebih lanjut yang memanfaatkan komoditas hasil pertanian sebagai bahan baku
utamanya (IPB 1983; Austin 1992; Wirakartakusuma 1994). Pada agroindustri
kendali sentral ada pada manusia dan perangkat teknologi serta institusi sebagai
hasil rekayasanya. Secara lebih spesifik agroindustri dapat diartikan sebagai
industri pengolahan yang memberikan nilai tambah baik dari segi ekonomi
maupun kegunaan pada hasil-hasil pertanian (dalam arti luas) yang mencakup
produk tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan serta hasil hutan.
Bentuk-bentuk pertambahan nilai itu dapat berupa perluasan pasar, perbaikan
daya simpan atau nilai gizi yang kesemuanya akan mendorong peningkatan
pendapatan dan keuntungan bagi produsen (Wirakartakusuma 1994).
Agroindustri

aren

merupakan

industri

yang

mengolah

dan

mentransformasi bahan baku yang berasal dari tanaman aren menjadi berbagai
produk kebutuhan manusia terutama untuk menghasilkan gula dan alkhohol.
Tanaman dan industri pengolahan aren telah ada sejak lama dan diusahakan oleh
masyarakat di Indonesia, khususnya di Sulawesi Utara. Pengelolaan tanaman dan
industri aren tersebut masih terbatas pada skala usaha kecil dan rumah tangga
serta bersifat tradisional dengan menggunakan teknologi yang sangat sederhana.

2.3. Teknologi Pengolahan Agroindustri Aren
Berdasarkan pohon industri, nira aren dapat diolah menjadi gula aren dan
bioethanol.

Menurut Mangunwidjaja dan Sailah (2005) bahwa prinsip dasar

pengolahan gula dari tanaman palma meliputi ekstraksi (penyadapan nira) pada
tahap awal sehingga diperoleh nira kotor yang selanjutnya dibersihkan melalui
proses karbonatasi atau sulfitasi lalu dipekatkan dengan proses evaporasi.
Sedangkan pada produk bioethanol, proses pengolahan dilakukan melalui tiga
tahapan yaitu persiapan, sakarifikasi, fermentasi dan destilasi.

11

Nira Aren
(Juice)

Nira kadar
sukrosa 10-15%,
pH 6 - 7
Pemanasan
pada suhu ± 110oC
selama ± 3 jam

Nira kadar
sukrosa

Dokumen yang terkait

Rancang bangun model pengembangan klaster agroindustri aren di Sulawesi Utara