Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe inside outside circle (ioc) untuk meningkatkan hasil belajar ips siswa kelas VII-B smp muhammadiyah 17 ciputat tahun ajaran 2014/2015

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
INSIDE OUTSIDE CIRCLE (IOC) UNTUK MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS VII-B SMP
MUHAMMADIYAH 17 CIPUTAT
TAHUN AJARAN 2014/2015

SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiya dan Keguruan Guna Memenuhi Syarat
Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

DisusunOleh :

NURHAYANI
NIM. 1111015000080

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU TARBIYA DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015

ABSTRAK
NURHAYANI. 1111015000080. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF TIPE INSIDE OUTSIDE CIRCLE (IOC) UNTUK
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS VII B SMP
MUHAMMADIYAH 17 CIPUTAT TAHUN AJARAN 2014/2015.
Hasil belajar siswa yang berupa indeks prestasi dapat di dipengaruhi oleh
adanya model mengajar yang digunakan guru dalam menyampaikan materi.
Permasalahan dalam materi ini yang pertama adalah, bagaimana hasil belajar mata
pelajaran IPS siswa di SMP Muhammadiyah 17 Ciputat, kedua apakah terdapar model
pembelajaran yang bervariasi di SMP Muhammadiyah 17 Ciputat selama proses belajar
mengajar.
Tujuan Penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran
IPS dengan model Pembelajaran kooperatif tipe Inside Outside Circle (IOC) pada siswa
kelas VII SMP Muhammadiyah 17 Ciputat tahun ajaran 2014/2015. Penelitian ini
menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Obyek penelitian adalah siswa
kelas VII b IPS SMP Muhammadiyah 17 Ciputat yang berjumlah 30 siswa. Penelitian
ini dilaksanakan dengan kolaborasi antara guru kelas, peneliti, dan melibatkan siswa.
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi, wawancara, tes dan
dokumentasi. Proses penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus
terdiri dari empat tahap, yaitu: (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3)
observasi dan interprestasi, dan (4) analisis dan refleksi. Siklus I dilaksanakan dalam
dua kali pertemuan, selama 4 x 40 menit. Siklus II dilaksanakan dalam dua kali
pertemuan, selama 4 x 40 menit.
Berdasarkan hasil penelitian terdapat peningkatan prestasi balajar mata pelajaran
IPS dengan model Pembelajaran kooperatif tipe Inside Outside Circle (IOC) pada siswa
kelas VII b SMP Muhammadiyah 17 Ciputat tahun ajaran 2014/2015. Hal tersebut
terefleksi dari beberapa indikator sebagai berikut: (1) Hasil belajar dari 30 siswa dari
siklus I : 63,16 meningkat menjadi 81,67 pada siklus II, (2) ketuntasan belajar
meningkat dari siklus I : 65% menjadi 100% pada siklus II.
Berdasarkan kesimpulan tersebut terdapat perbedaan yang signifikan hasil
belajar IPS siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Inside
Outside Circle dengan pembelajaran Konvensional, maka dapat direkomendasikan
bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Inside Outside Circle dapat digunakan
sebagai alternative model pembelajaran pada mata pelajaran IPS di SMP
Muhammadiyah 17 Ciputat tahun ajaran 2014/2015.

Kata kunci: , Inside Outside Circle, hasil belajar, dan IPS.

i

ABSTRACT
NURHAYANI. 1111015000080. THE IMPLEMENTATION OF COOPERATIVE
LEARNING MODEL “INSIDE OUTSIDE CIRCLE (IOC)” TO IMPROVE
STUDENTS’ OUTCOMES IN LEARNING SOCIAL STUDIES AT THE FIRST
GRADE OF SMP MUHAMMADIYAH 17 CIPUTAT IN ACADEMIC YEAR
2014/2015.
Students’ learning outcomes in the form of achievement index can be influenced
by teachers’ teaching model in presenting the material. The problems in this material
are, first, how is students’ outcomes in learning social studies in SMP Muhammadiyah
17 Ciputat, second, whether there are some varieties of learning models in SMP
Muhammadiyah 17 Ciputat during teaching learning process.
The objective of this research was to improve students’ achievement in learning
social studies using cooperative learning model “Inside Outside Circle (IOC)” for
students at the first grade of SMP Muhammadiyah 17 Ciputat in academic year
2014/2015. The method used in this research was Classroom Action Research (CAR).
The object of the research was students in VII-B class of SMP Muhammadiyah 17
Ciputat which consist of 30 students. This research was conducted with the
collaboration of classroom teacher, researcher and students. The technique of data
collection was initiated through observation, interview test and documentation. This
research was carried out in two cycles. Each cycle consist of four steps: (1) planning
action, (2) implementation of the action, (3) observation and interpretation, and (4)
analysis and reflection. The first cycle was held in two meetings for 4x40 minutes.
Meanwhile the second cycle was held in two meetings for 4x40 minutes.
Based on the results of this research was improvement in learning social studies
using cooperative learning model “Inside Outside Circle (IOC)” for students at the first
grade of SMP Muhammadiyah 17 Ciputat in academic year 2014/2015. It can be seen
from some indicators as follows: (1) there was an improvement learning outcomes
63.16 in cycle 1 to 81,67 cycle 2 from 30 30 students, (2) students’ learning mastery
increased 100% in cycle 2 from 65% in cycle 1.
In sum, there was a significant difference from students’ outcomes in learning
social studies with method using cooperative learning model “Inside Outside Circle
(IOC)” and conventional method. It means, cooperative learning model “Inside Outside
Circle (IOC)” can be recommended to be used as the model alternative in learning
social studies in SMP Muhammadiyah 17 Ciputat academic year 2014/2015.
Keywords: Inside Outside Circle, learning outcomes, and social studies.

ii

KATA PENGANTAR
   

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadlirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan

rahmat,

taufik,

dan

hidayah-Nya

kepada

penulis,

sehingga

dapat

menyelesaikan Skripsi dengan judul “PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF TIPE INSIDE OUTSIDE CIRCLE (IOC) UNTUK MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS VII B SMP MUHAMMADIYAH 17 CIPUTAT
TAHUN AJARAN 2014/2015”. Sholawat serta salam senantiasa terucap kepada junjungan
besar Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga
sepanjang masa.
Skripsi disusun untuk melengkapi salah satu persyaratan untuk memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Strata Satu (SI) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan Skripsi ini. Namun berkat
bantuan dan bimbingan serta dorongan dari berbagai pihak, yang sangat bermanfaat bagi
penulis. Untuk itu dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih, yang
setulus-tulusnya kepada :
1. Orang tua penulis Ayahanda Ahmad dan Ibunda Marwiyah tercinta serta Kakakku
Heru Awal Ludin SHI dan Nenekku Hj. Rohmani tercinta yang telah memberikan
banyak motivasi, kasih sayang dan curahan perhatian baik berupa moril maupun
materil serta do’a yang selalu teriring setiap saat untuk Ananda dalam mengahadapi
segala hal dalam pembuatan skripsi.
2. Bapak Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA Selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan.
3. Bapak Dr. Iwan Purwanto, M.Pd. Selaku Ketua Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial,
serta seluruh Dosen IPS yang telah menjadi fasilitator dalam memperoleh ilmu
selama belajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Bapak Syaripulloh M.Si, Selaku Skertaris Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Sosial
iii

5. Ibu Anissa Windarti, M.Sc, Selaku Dosen Pembimbing Akademik yang selalu
membimbing selama proses perkuliahan.
6. Bapak Muhammad Noviadi, M.Pd, dan Ibu Zaharah, M.Si Selaku Dosen Pembimbing
Skripsi yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membimbing
dengan sabar, tulus, Ikhlas, dan mengarahkan hingga menyelesaikan Skripsi ini.
7. Bapak Drs. Sayuti Sufriatna selaku kepala sekolah SMP Muhammadiyah 17 Ciputat
beserta Dewan Guru dan Staf.
8. Bapak Drs. H. Ahmad Mulyadi selaku Guru IPS SMP Muhammadiyah 17 yang telah
memberikan waktu dan kelas untuk penulis Skripsi.
9. Para Siswa dan siswi SMP Muhammadiyah 17 Ciputat, khususnya VII b yang sudah
membantu dalam penelitian skripsi ini.
10. Teman-teman Prodi Pendidikan IPS angkatan 2011 yang sudah menjadi teman baik
susah maupun bahagia yang telah menjadi semangat dan inspirasi penulis.
11. Sahabat-sahabatku RK yakni Amali, Dewi, Febri, Fuji, Dian, Alfi, Nia, Ria, Naya,
Vina, Gaun dan Zizah, dan Teman terbaik ku Nurul Hidayanti Yang selama ini selalu
bersama baik susah maupun senang. Terima kasih sudah mau menjadi sahabat terbaik
penulis semoga persahabatan ini abadi untuk selamanya. Sukses dan Semangat
12. Teman seperjuangan bimbingan skripsi Laura Era Wardan yang selalu memberikan
semangat kepada penulis.
Semua pihak yang penulis sadari atau tidak sadari telah membantu secara langsung
maupun tidak langsung dalam menyelesaikan Skripsi ini. Hanya ucapan terima kasih yang
mampu penulis sampaikan dan seraya berdo’a mudah-mudahan segala kebaikan yang
diberikan memperoleh ganjaran amal kebajikan yang berlipat ganda oleh Allah SWT.
Mudah-mudahan Skripsi ini dapat bermanfaat yang sebesar-besarnya bagi pembaca.
Alhamdulillahirrobil’Alamiin
Jakarta,

4 Oktober 2015

Penulis
Nurhayani
iv

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING
ABSTRAK………………………………………………………………………...

i

ABSTRACK……………………………………………………………………….

ii

KATA PENGANTAR…………………………………………………………….

iii

DAFTAR ISI……………………………………………………………………….

v

DAFTAR TABEL…………………………………………………………………

vii

DAFTAR GRAFIK……………………………………………………………….

ix

DAFTAR BAGAN………………………………………………………………..

x

DAFTAR LAMPIRAN...........................................................................................

xi

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………………………………………….

1

B. Identifikasi Masalah…………………………………………….

6

C. Batasan Masalah………………………………………………...

6

D. Rumusan Masalah……………………………………………….

6

E. Tujuan Penelitian………………………………………………..

7

F. Manfaat Penelitian………………………………………………

7

KAJIAN TEORI
A. Kajian Teori……………………………………………………..

8

1. Model Pembelajaran Kooperatif …………………………...

8

2. Pembelajaran Kooperatif Tipe Inside Outside Circle………

14

3. Hasil Belajar………………………………………………..

17

a. Pengertian Belajar…………………………………..

17

b. Pengertian Hasil Belajar ……………………………

18

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar…..

19

d. Cara Mengukur Hasil Belajar IPS…………………..

20

v

BAB III

BAB IV

BAB V

4. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) SMP/MTs…...

22

a. Pengertian ilmu pengetahuan sosial………………...

22

b. Tujuan ilmu pengetahuan IPS………………………

23

5. Penelitian Tindakan Kelas………………………………….

25

a. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas……………..

25

B. Penelitian yang Relevan…………………………………………

26

C. Kerangka Berpikir………………………………………………..

27

D. Hipotesis Tindakan………………………………………………

28

METODELOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian …………………………………..

29

B. Model dan Desain Penelitian……………………………………

29

C. Penelitian Tindakan Kelas………………………………………

30

D. Subjek atau Pratisispan Yang Terlibat...………………………...

32

E. Peran dan Posisi Peneliti Dalam Penelitian……………………..

33

F. Instrument Pengumpulan Data………………………………….

33

G. Teknik Pengumpulan Data………………………………………….

41

H. Teknik Pemeriksaan Kepercayaan………………………………

41

I. Analisis Data dan Iterprestasi Data……………………………..

43

J. Mengembangkan Perencanaan Tindakan……………………….

44

HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum SMP Muhammadiyah 17 Ciputat…………...

45

B. Deskripsi Data Hasil Pengamatan/Hasil Intervensi Tindakan…..

55

C. Analisis data dan Interprestasi Data Penelitian…………………

82

D. Pembahasan……………………………………………………..

92

PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………...……...

95

B. Saran……………………………………………………………

95

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………

97

vi

DAFTAR TABLE
Tabel 3.1 Rincian Kegiatan, Waktu dan Jenis Kegiatan Penelitian
Table 3.2 Kisi-kisi Instrumen Tes Hasil Belajar IPS Siklus 1
Table 3.3 Kisi-kisi Instrumen Tes Hasil Belajar IPS Siklus 2
Tabel 3.4 Lembar Observasi Aktivitas Pembelajaran
Tabel 3.5 Lembar Observasi Aktivitas Siswa
Table 3.6 Lembar Observasi Aktivitas Guru
Table 3.7 Catatan lapangan kegiatan belajar siswa
Table 3.8 Petikan Wawancara Dengan Siswa/I Sebelum Tindakan Penelitian
Table 3.9 Petikan Wawancara Dengan Siswa/I Setelah Tindakan Penelitian
Table 3.10 Petikan Wawancara dengan guru IPS terkait masalah pengajaran di kelas
Table 4.1 Keadaan Struktur Guru SMP Muhammadiyah 17 Ciputat
Table 4.2 Keadaan Struktur Murid SMP Muhammadiyah 17 Ciputat
Tabel 4.3 Keadaan Sarana dan Prasarana SMP Muhammadiyah 17 Ciputat
Table 4.4 Pengelolahan Pembelajaran Pada Siklus I
Tabel 4.5 Aktivitas Guru dan Siswa Pada Siklus I
Table 4.6 Aktivitas Siswa Siklus I
Tabel 4.7 Aktivitas Guru Siklus I
Tabel 4.8 Aktivitas Pembelajaran Siklus I
Tabel 4.9 Catatan Lapangan Kegiatan Belajar Siswa Siklus I
Tabel 4.10 Pengelolahan Pembelajaran Pada Siklus II
Table 4.11 Aktivitas Guru dan Siswa Pada Siklus II
Tabel 4.12 Aktivitas Siswa Siklus II
Tabel 4.13 Aktivitas Guru Siklus II
vii

Tabel 4.14 Aktivitas Pembelajaran Siklus II
Tabel 4.15 Catatan Lapangan Kegiatan Belajar Siswa Siklus II
Tabel 4.16 Hasil Belajar Siklus I
Tabel 4.17 Hasil Belajar Siklus II

viii

DAFTAR GRAFIK
Grafik 4.1 Rekapitulasi Hasil Belajar Siklus I
Grafik 4.2 Hasil Pretest dan Postest Siklus II
Grafik 4.3 Perbandingan hasil belajar siklus I dan siklus II

ix

DAFTAR BAGAN

Bagan 3.1 Model Penelitian Tindakan Kelas Kemmis dan MC Taggrat.
Bagan 4.1 Struktur Organisasi Smp Muhammadiyah 17 Ciputat
Bagan 4.2 Keadaan Struktur Tata Usaha dan Staf SMP Muhammadiyah 17 Ciputat
Bagan 4.4 Keadaan Struktur Murid SMP Muhammadiyah 17 Ciputat

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Uji Coba Instrument Tes IPS Siklus I
Lampiran 2 Uji Coba Instrumen Tes IPS Siklus II
Lampiran 3 Kunci Jawaban Uji Validitas Instrument Tes IPS Siklus I dan II
Lampiran 4 RPP Siklus I
Lampiran 5 Materi Pembelajaran Siklus I
Lampiran 6 Soal Pretest dan Posttest Siklus I
Lampiran 7 RPP Siklus II
Lampiran 8 Materi Pembelajaran Siklus II
Lampiran 9 Pretest dan Posttest Siklus II
Lampiran 10 Kunci Jawaban Pretest dan Posttest Siklus I dan Siklus II
Lampiran Pengelolahan Pembelajaran Pada Siklus I
Lampiran Aktivitas Guru dan Siswa Pada Siklus I
Lampiran Aktivitas Siswa Siklus I
Lampiran Aktivitas Guru Siklus I
Lampiran Aktivitas Pembelajaran Siklus I
Lampiran Pengelolahan Pembelajaran Pada Siklus II
Lampiran Aktivitas Guru dan Siswa Pada Siklus II
Lampiran Aktivitas Siswa Siklus II
Lampiran Aktivitas Guru Siklus II
Lampiran Aktivitas Pembelajaran Siklus II

xi

Lampiran 11 Petikan Wawancara Dengan Siswa Sebelum Tindakan Penelitian
Lampiran 12 Petikan Wawancara Dengan Siswa Sesudah Tindakan Penelitian
Lampiran 13 Hasil Wawancara Responden Siswa/I Sebelum Penelitian
Lampiran 14 Hasil Wawancara Responden Siswa/I Setelah Penelitian
Lampiran 15 Hasil Wawancara Dengan Guru Sebelum dan Sesudah Penelitian
Lampiran 16 Foto-foto Proses PTK Siklus I
Lampiran 17 Foto-foto Proses PTK Siklus II
Lampiran Surat Bimbingan Skripsi
Lampiran Surat Permohonan Observasi
Lampiran Surat Permohonan Izin Penelitian
Lampiran Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian

xii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam
proses kehidupan. Majunya suatu bangsa dipengaruhi oleh mutu pendidikan
dari bangsa itu sendiri karena pendidikan yang tinggi dapat mencetak sumber
daya manusia yang berkualitas. Pendidikan memegang peranan penting untuk
menjamin kelangsungan hidup suatu bangsa dan Negara, dan untuk
mengembangkan sumber daya manusia. Perwujudan masyarakat berkualitas
tersebut menjadi tanggung jawab pendidikan terutama dalam mempersiapkan
peserta didik menjadi subjek yang makin berperan menampilkan keunggulan
dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri, dan makin professional pada
bidangnya masing-masing, seperti tujuan pendidikan Nasional yang tercantum
dalam Undang-Undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Bab II pasal 3 yang menyebutkan1:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan tujuan mengembangkan
potensi Peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertawakal kepada Allah SWT dan Rosulnya, berakhlak mulia,
berpengatahuan yang luas, kreatif, mandiri, serta berjuang untuk
mencapai cita-cita meningkatkan kemajuan Negara.
Tujuan pendidikan nasional dapat kita capai dengan upaya
menyelengarakan pendidikan bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu
pemerintah memberikan kesempatan kepada warga negaranya untuk
mendapatkan pendidikan. Pendidikan merupakan suatu aktivitas yang sangat
penting bagi kehidupan seseorang karena dengan adanya pendidikan hidup
seseorang dapat terarah sesuai dengan norma-norma yang berlaku di

1

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003, Tentang System Pendidikan
Nasional. (Sidiknas). Bandung: Citra Umbara

1

2

masyarakat, oleh karena itu pendidikan butuh perencanaan yang baik agar
tujuan yang di ingginkan tercapai.
Tujuan pendidikan dikatakan tercapai apabila hasil belajar peserta
didik mengalami perkembangan dan peningkatan, adapun yang dimaksud
dengan belajar merupakan proses dalam diri individu yang berinteraksi
dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan dalam prilakunya 2.
Sedangkan hasil belajar (Gagne & Driscoll ) adalah kemampuan-kemampuan
yang dimiliki peserta didik sebagai akibat perbuatan belajar dan dapat diamati
melalui penampilan peserta didik (learne’r performance)3. Dalam pendidikan
formal selalu diikuti pengukuran dan penilaian, demikian juga dalam proses
kegiatan belajar mengajar, dengan mengetahui hasil belajar dapat diketahui
kedudukan peserta didik yang pandai, sedang atau lambat. Laporan hasil
belajar peserta didik dapat dilihat dari hasil ulangan dan diserahkan dalam
periode tertentu yaitu dalam bentuk raport.
Usaha untuk mencapai suatu hasil belajar yang optimal dari proses
belajar mengajar seseorang peserta didik dipengaruhi oleh faktor internal dan
eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang timbul dari dalam diri peserta didik
itu sendiri, di antaranya keadaan fisik, intelegensi, bakat, minat, dan perhatian,
keadaan emosi serta disiplin. Sedangkan faktor eksternal yaitu faktor yang
timbul dari luar diri peserta didik di antaranya guru, teman, orang tua, fasilitas
belajar, dan lain-lain.
Salah satu yang mempengaruhi dalam proses belajar mengajar adalah
guru. Guru memiliki peran kunci bagi keberhasilan dalam pendidikan dan
pembelajaran disekolah. Guru adalah pendidik dan pendidik bertugas sebagai
fasilitator agar peserta didik dapat mencapai tujuan pendidikan. Pendidik juga
berfungsi sebagai fasilitator yang baik dalam menjalankan kegiatan
pendidikan. Pendidik harus melakukan beberapa peran di antaranya adalah
bahwa pendidik perlu memiliki model atau teknik yang tidak saja disesuaikan
2

Purwanto, Tujuan Pendidikan Dan Hasil Belajar. Jurnal Tektodik (Departemen
Pendidikan Nasional Pusat Teknologi Koomunikasi Dan Informasi Pendidikan, 2005) Hal: 150
3
Djamaah Sopah, Pengaruh Model Pembelajaran Dan Motivasi Berprestasi Terhadap
Hasil Belajar. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan (Jakarta: Badan Penenlitian Dan
Pengembangan, Departemen Pendidikan Nasional, 2000, Tahun Ke-5, No.022), Hal: 126

3

dengan bahan atau isi pendidikan yang akan disampaikan tapi juga
disesuaikan terhadap kondisi peserta didik dan lingkungan belajar mengajar.
Melihat pentingnya peran seorang guru dalam mengajar, hendaklah
seorang guru itu dapat mengerahkan segala kemampauan dan keterampilanya
dalam mengajar secara profesional dan efektif. Salah satunya adalah seorang
guru mampu untuk memilih model atau model pembelajaran yang bervariasi
dan efektif untuk tercapainya tujuan pembelajaran yang diingginkan.
Cara mengajar guru berperan penting dalam menentukan proses
pembelajaran. Pembelajaran di kelas yang selama ini lebih berpusat pada guru
dan tidak memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk aktif
dalam pembelajaran merupakan salah satu permasalahan dalam dunia
pendidikan. Pembelajaran semacam ini mengakibatkan hasil belajar peserta
didik untuk belajar di kelas rendah, karena guru hanya menggunakan model
ceramah.
Berdasarkan pada hasil observasi pendahuluan dengan guru IPS di
SMP Muhammadiyah 17 Ciputat diperoleh data pencapaian hasil belajar
ulangan UTS kelas VII-B di bawah KKM. Hal ini terbukti dengan nilai ratarata 62,4. Sedangkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan di
sekolah ini yaitu 75. Masih rendahnya hasil belajar IPS disebabkan masih
dominannya skill menghafal daripada skill memproses sendiri pemahaman
suatu materi. Selama ini, hasil belajar peserta didik terhadap mata pelajaran
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) masih tergolong sangat rendah. Hal ini dapat
dilihat pada sikap peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran tidak
fokus dan ramai sendiri. Faktor minat itu juga dipengaruhi oleh adanya model
mengajar yang digunakan guru dalam menyampaikan materi. Model yang
konvensional seperti menjelaskan materi secara abstrak, hafalan materi dan
ceramah dengan komunikasi satu arah, yang aktif masih didominasi oleh
pengajar, sedangkan peserta didik biasanya hanya memfokuskan penglihatan
dan pendengaran. Kondisi pembelajaran seperti inilah yang mengakibatkan
peserta didik kurang aktif dan pembelajaran yang dilakukan kurang efektif, di
sini guru dituntut untuk pandai menciptakan suasana pembelajaran yang

4

menyenangkan bagi peserta didik sehingga peserta didik kembali berminat
mengikuti kegiatan belajar.
Setiap proses belajar dan mengajar ditandai dengan adanya beberapa
unsur antara lain tujuan, bahan, alat, dan model, serta evaluasi. Unsur model
dan alat merupakan unsur yang tidak bisa dilepaskan dari unsur lainnya yang
berfungsi sebagai cara atau teknik untuk mengantarkan bahan pelajaran agar
sampai kepada tujuan. Dalam pencapaian tujuan tersebut, model pembelajaran
akan lebih mudah dipahami oleh peserta didik apabila diikuti dengan
pemilihan model pembelajaran. Model pembelajaran ini penting karena
mampu menunjukan dan memperlihatkan interaksi belajar mengajar. Kegiatan
pembelajaran IPS pada umumnya masih bertumpu pada aktivitas guru, di
mana penyampaian materi pelajaran masih menggunakan model ceramah
dalam pembelajaran di kelas. Jika dalam proses pembelajaran guru hanya
menggunakan model ceramah saja, maka akan muncul rasa jenuh peserta
didik terhadap suasana belajar yang monoton.
Keadaan seperti ini ternyata juga masih dijumpai di kelas VII b SMP
Muhammadiyah 17 Ciputat. Proses pembelajaran yang berlangsung masih
terfokus pada guru sebagai sumber utama, di mana pihak yang aktif selama
proses pembelajaran didominasi oleh guru. Guru IPS di SMP Muhammadiyah
17 Ciputat juga kurang memvariasikan model pembelajaran, sehingga
menyebabkan hasil belajar peserta didik rendah. Rendahnya hasil belajar
peserta didik dalam proses pembelajaran dapat dilihat melalui banyaknya
peserta didik yang tidak memperhatikan penjelasan dari guru, peserta didik
mengobrol dengan teman sebangkunya, tidur-tiduran di kelas, dan aktivitas
negatif lainnya selama proses pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan pengalaman peneliti pada kegiatan mengajar di SMP
Muhammadiyah 17 Ciputat diketahui bahwa siswa-siswi lebih menyukai
kegiatan pembelajaran yang aktif dan bersifat kelompok. Oleh karena itu
untuk menjawab peryataan di atas, perlu diterapkan model pembelajaran yang
bervariasi agar peserta didik mudah memahami proses belajar mengajar yang
belangsung. Guru harus menerapkan suatu model pembelajaran yang dapat

5

mengembangkan pengetahuan peserta didik, mengembangkan ingatan peserta
didik dan proses berfikir peserta didik dalam memecahkan masalah. Model
pembelajaran yang dipilih harus tepat, efektif, dan model yang dapat memberi
kesempatan peserta didik untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses belajar
mengajar.
Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) sebagai salah satu
model pembelajaran yang diharapkan mampu memberikan pengalaman
tersendiri bagi peserta didik dalam proses pembelajaran. Pembelajaran
kooperatif mampu membuat peserta didik menjadi aktif dan kreatif karena
model pembelajaran ini memicu suasana yang asik dan menyenangkan.
Dengan pembelajaran seperti ini akan membuat hasil belajara peserta didik
meningkat.
Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran di
mana siswa belajar dengan kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat
kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota
saling kerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran4.
Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran di
mana siswa belajar dengan kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat
kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota
saling kerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran.
Ada

banyak

model

pembelajaran

yang

menarik

dan

dapat

meningkatkan hasil belajar peserta didik, salah satunya yaitu model
pembelajaran Inside Outside Circle. model pembelajaran Inside Outside
Circle adalah salah satu model pembelajaran dalam Cooperative Learning.
Menyikapi hal tersebut di atas maka peneliti bermaksud mengadakan
penelitian dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Inside Outside Circle Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa”.
Penerapan model pembelajaran Inside Outside Circle diharapkan dapat
meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam mengikuti pembelajaran IPS.
4

Rusman, Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru.(Jakarta:
Rajawali Pers, 2012), hal: 209

6

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasikan
beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Masih rendahnya hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran,
dikarenakan keadaan pembelajaran di kelas kurang variatif sehingga siswa
cenderung pasif.
2. Model pembelajaran yang biasanya diterapkan selama ini, seperti model
ceramah dan tanya jawab belum dapat meningkatkan hasil belajar siswa
sehingga pemahaman siswa terhadap mata pelajaran IPS kurang.
3. Peran guru yang terlalu mendominasi pembelajaran menyebabkan siswa
kurang berpartipasi aktif dalam proses pembelajaran mata pelajaran IPS.

C. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, dan mengingat begitu
luasnya permasalahan yang ada, maka peneliti membatasi pada rendahnya
hasil belajar peserta didik dalam proses pembelajaran IPS. Penerapan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Inside Outside Circle diharapkan dapat
meningkatkan hasil belajar IPS serta mengetahui kendala-kendala yang
dihadapi dalam pembelajaran IPS

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, maka masalah yang diangkat
dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana penerapan model pembelajaran Inside Outside Circle (IOC)
dalam mata pembelajaran IPS di kelas VII SMP Muhammadiyah 17
Ciputat tahun pelajaran 2014/2015?
2. Apakah dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Inside
Outside Circle (IOC) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam
pembelajaran IPS di kelas VII SMP Muhammadiyah 17 Ciputat tahun
pelajaran 2014/2015 ?

7

E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini antara lain:
1. Mendiskripsikan gambaran mengenai penerapan model pembelajaran
Inside Outside Circle (IOC) dalam mata pembelajaran IPS di kelas VII
SMP Muhammadiyah 17 Ciputat tahun pelajaran 2014/2015.
2. Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS di kelas VII
SMP Muhammadiyah 17 Ciputat tahun pelajaran 2014/2015.

F. Manfaat Penelitian
Adapun hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:
a. Bagi Guru
Dapat dijadikan sebagai masukan dan bahan pertimbangan dalam
menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan konsep materi yang
akan disampaikan.
b. Bagi Kepala Sekolah
Hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang banyak dalam
rangka memperbaiki pembelajaran dalam kelas sehingga meningkatkan
kualitas sekolah
c. Bagi Pengawas Sekolah
Dapat menjadi model pembelajaran alternatif yang dapat diterap-kan untuk
meningkatkan hasil belajar siswa.
d. Bagi Peneliti
Sebagai

sarana

untuk

menambah

wawasan,

pengembangan

diri,

menambah pengalaman, dan pengetahuan peneliti terkait dengan
penelitian meng-gunakan model pembelajaran Kooperatif tipe Inside
Outside Circle (IOC) serta sebagai refrerensi peneliti lain yang melakukan
penelitian sejenis.

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Model Pembelajaran Kooperatif
a. Model pembelajaran
Pemilihan model pembelajaran yang tepat merupakan salah satu
hal yang mutlak dilakukan oleh guru. Trianto menyatakan bahwa model
pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan
sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau
pembelajaran dalam tutorial1.
Selain penjelasan mengenai definisi dari model pembelajaran,
penting juga untuk mengetahui tujuan dan fungsi dari model
pembelajaran. Tujuan dari model pembelajaran yaitu untuk meningkatkan
motivasi belajar, sikap belajar di kalangan siswa, mampu berpikir kritis,
memiliki keterampilan sosial, dan pencapaian hasil pembelajaran yang
lebih optimal. Sedangkan fungsi model pembelajaran menurut Trianto
yaitu sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam
melaksanakan pembelajaran.
Model-model pembelajaran sendiri biasanya disusun berdasarkan
berbagai prinsip atau teori pengetahuan. Para ahli menyusun model
pembelajaran

berdasarkan

prinsip-prinsip

pembelajaran

teori-teori

psikologis, sosiologis, analisis sistem, atau teori-teori lain yang
mendukung. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya
para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisein
untuk mencapai tujuan pendidikan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran merupakan suatu pola yang digunakan sebagai pedoman
dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau prosedur sistematis
1

Trianto, Model Pembelajaran Terpadu: Konsep, Strategi dan Implementasinya Dalam
Kurikulum Tingkata Satuan Pendidikan (KTSP). (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2010), hal: 51

8

9

dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar.

b. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Falsafah yang mendasari model pembelajaran gotong royong
dalam pendidikan adalah homo socius. Berawal dengan teori Darwin,
falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah mahkluk sosial.
Kerjasama merupakan kebutuhan yang sangat penting, artinya bagi
kelangsungan hidup. Tanpa kerja sama, tidak akan ada individu, keluarga,
organisai, atau sekolah2.
Anita

Lie

mendefinisikan

“Sistem

pembelajaran

kooperatif,

merupakan sistem kerja atau belajar kelompok yang terstruktur”. Sedangkan
menurut Etin Sholihatin dan Raharjo “Cooperatif learning mengandung
pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja dan
membantu di antara sesama dalam stuktur kerja sama yang teratur dalam
kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih di mana keberhasilan kerja
sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu
sendiri”3.

Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran

yang

dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (Academic Skill),
sekaligus keterampilan sosial (Sosial Skill) termasuk interpersonal skill4.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang
dalam kegiatan pembelajaran, siswa melakukan kerjasama atau diskusi
dengan teman satu kelompok dan kelompok lain untuk mendapatkan hasil
yang semaksimal mungkin dalam pembelajaran.

2

AnitaLie, Cooperative Learning: Memperaktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang
Kelas. (Jakarta: Grasindo, 2002), hal: 27
3
Etin Sholihatin, dan Raharjo. Cooperative Learning: Analisis Model Pembelajaran IPS.
(Jakarta: Bumi Askara, 2008), hal: 4
4
Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran: Sebagai Referensi Bagi Guru/Pendidikan
Dalam Implementasi Pembelajaran Yang efektif dan Berkualitas. (Jakarta: Kencana, 2009), hal: 267

10

c. Kategori tujuan dalam pembelajaran Kooperatif:
a) Individual: keberhasilan seseorang ditentukan oleh orang itu sendiri
tidak di pengaruhi orang lain.
b) Kompetitif: keberhasilan seseorang dicapai karena kegagalan orang
lain (ada ketergantungan)
c) Kooperatif: keberhasilan seseorang kerena keberhasilan orang lain,
orang tidak dapat mencapai keberhasilan dengan sendiri.

d. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif
Kelebihan dan Kelamahan Model Pembelajaran Kooperatif
menurut Wina Sanjaya5
a) Kelebihan Kooperatif
1. Melalui

model

pembelajaran

kooperatif

siswa

tidak

menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah
kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi
dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
2. Model

pembelajaran

kooperatif

dapat

mengembangkan

kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata
secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
3. Model pembelajaran kooperatif dapat membantu anak untuk
respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya
serta menerima segala perbedaan
4. Model pembelajaran kooperatif dapat membantu memperdaya
setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar
5. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu strategi yang
cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus
kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri,
hunbungan
5

interpersonal

yang

positif

dengan

yang

lain,

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar proses Pendidikan. (Jakarta:
Kencana, 2006) hal: 247-249

11

mengembangkan keterampilan me-menage waktu, dan sikap
positif terhadap sekolah.
6. Melalui model pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan
kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri,
menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan
masalah tanpa takut membuat permasalahan. Karena keputusan
yang dibuat tanggung jawab kelompok.
7. Model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan
siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstak
menjadi nyata.
8. Interaksi selama kooperatif belangsung dapat meningkatkan
motivasi dan memberikan rangsangan untuk berfikir. Hal ini
berguna untuk proses pendidikan jangka panjang.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwah kelebihan
dari model pembelajaran kooperatif yaitu siswa tidak bergantung kepada
guru, mampu mengungkapkan ide dan gagasannya, saling menerima
perbedaan, saling bertukar pendapat, dan siswa menjadi aktif.

b) Kelemahan model pembelajaran kooperatif
1. Untuk memahami filosofi model pembelajaran kooperatif memang
butuh waktu. Sangat tidak rasional kalau kita mengharapkan secara
otomotis siswa dapat mengerti dan memahami filsafat cooperative
learning. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan,
contohnya meraka akan merasa terhambat oleh siswa yang
dianggap kurang memiliki kemampuan. Akibatnya, keadaan
semacam ini dapat mengganggu iklim kerjasama dalam kelompok.
2. Ciri utama dari model pembelajaran kooperatif, bahwa siswa
saling membelajarkan. Oleh karena itu, jika tanpa peer teaching
yang efektif, maka dibandingankan dengan pengajaran langsung
dari guru, bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang
seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapi oleh siswa.

12

3. Penilaian yang diberikan dalam model pembelajaran kooperatif
didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru
perlu menyadari, bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang
diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.
4. Keberhasilan model pembelajaran kooperatif dalam upaya
mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan priode
waktu yang cukup panjang, dan hal ini tidak mungkin dapat
tercapai hanya dengan satu kali atau sekali-sekali penerapan
strategi ini.
5. Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang
sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam
kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara
individual. Oleh karena itu, idealnya melalui model pembelajaran
kooperatif selain siswa belajar bekerja sama, siswa juga harus
belajar bagaimana membangun kepercayaan diri. Untuk mencapai
kedua hal itu dalam model pembelajaran kooperatif memang
bukan pekerjaan yang mudah.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwah kelebihan
dari model pembelajaran kooperatif yaitu dapat terjadi perdebatan kecil,
siswa lebih cenderung bergurau dengan temannya, terjadi perluasan
masalah sehingga waktu terbuang sia-sia terkadang diskusi didominasi
seorang saja sehingga siswa lain menjadi pasif.

e. Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif
David Jonson dalam Anita Lie menyatakan bahwa “Tidak semua
kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning”. Untuk mencapai
hasil maksimal, ada lima unsur model pembelajaran yang harus diterapkan
yaitu 6 :

6

AnitaLie, Cooperative Learning: Memperaktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang
Kelas. (Jakarta: Grasindo, 2002), hal: 31-34

13

1. Saling Ketergantungan Positif
Keberhasilan kelompok sangat bergantung pada usaha setiap
anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif,
pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap
anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang
lain bisa mencapai tujuan mereka.
2. Tanggung Jawab Perseorangan
Unsur ini merupakan akibat dari unsur yang pertama. Jika tugas dan
pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran
Cooperative Learning, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab
untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan model kerja
kelompok adalah persiapan guru dalam penyusunan tugasnya.
Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran Cooperative
Learning membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa
sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan
tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok
bisa dilaksanakan.
3. Tatap Muka
Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan
berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar
untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Hasil
pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya daripada hasil pemikiran
dari satu kepala. Lebih jauh lagi, hasil kerja sama ini jauh lebih besar
daripada jumlah hasil masing-masing anggota. Inti dari sinergi ini
adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan dan mengisi
kekurangan masing-masing.
4. Komunikasi Antar Anggota
Unsur ini juga menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan
berbagai ketrampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan siswa
dalam

kelompok,

pengajar

perlu

mengajarkan

cara-cara

berkomunikasi. Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada

14

kesediaan

para

anggotanya

untuk

saling

mendengarkan

dan

kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat meraka.
5. Evaluasi Proses Kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk
mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar
selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini
tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa
diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa kali pembelajar
terlibat dalam kegiatan pembelajaran Cooperative Learning.
Unsur-unsur pembelajaran kooperatif tersebut harus ada untuk
menilai proses pembelajaran kooperatif tersebut sudah dapat berjalan
dengan baik atau belum. Dan unsur-unsur tersebut merupakan penentu
masing-masing individu untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal.

2. Pembelajaran Kooperatif Tipe Inside Outside Circle
Model pembelajaran kooperatif tipe Inside Outside Circle hadir dalam
dunia pendidikan khususnya dalam pembelajaran didalam kelas memberikan
suasana baru dalam proses belajar mengajar. Model pembelajaran kooperatif
tipe Inside Outside Circle adalah model pembelajaran yang dikembangkan
oleh Spencer Kagan untuk memberikan kesempatan pada siswa agar saling
berbagai informasi pada saat yang bersamaan7. Pembelajaran Inside Outside
Circle mengembangakan sebuah pembelajaran yang inovati dan variatif.
Selanjutnya Hamzah dalam jurnal PGSD menyebutkan bahwa “Inside
Outside Circle merupakan pembelajaran yang menepatkan siswa saling
membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda
secara singkat dan teratur dengan pola lingkaran dalam dan lingkaran luar.
Andhika dalam jurnal PGSD menyatakan Model pembelajaran Inside Outside
Circle berlandaskan kepada pendekatan kontruktivisme yang didasari pada
kepercayaan bahwa siswa mengkontruksi pemahaman konsep dengan
7

AnitaLie, Cooperative Learning: Memperaktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang
Kelas, (Jakarta: Grasindo, 2002), hal: 4

15

memperluas atau memodifikasi pengetahuan yang sudah ada8. Inside Outside
Circle juga melibatkan nilai-nilai kooperatif dalam peran aktif siswa dalam
proses pembelajaran, sedangkan tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan
pemahaman siswa.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa
model pembelajaran Inside Outside Circle adalah model pembelajaran
kooperatif yang berbentuk kelompok lingkaran dalam dan lingkaran luar yang
menekankan aktivitas siswa untuk aktif dalam berbagai informasi dengan
temannya, dengan menggunakan rentang waktu setiap kali terjadi perputaran
lingkaran.
Dalam model kooperatif Tipe Inside Outside Circle siswa dituntut
untuk bekerja kelompok, sehingga dapat memperkuat hubungan antar
individu. Selain itu model pembelajaran kooperatif tipe Inside Outside Circle
memerlukan keterampilan berkomunikasi dan proses kelompok yang baik.
Beberapa yang harus dipersiapkan dalam pembelajaran cooperative
teknik Inside Outside circle tersebut antara lain :
1) Perangkat pembelajran
2) Membentuk kelompok kooperatif
3) Mengatur tempat duduk
4) Kerja kelompok
Adapun langkah-langkah model pembelajaran tipe Inside Outside
Circle adalah sebagai berikut9:
1) Lingkaran individu
a) Separuh kelas (atau seperempat jika jumlah siswa terlalu banyak)
berdiri membentuk lingkaran kecil. Mereka berdiri melingkari dan
menghadap keluar.

8

Pande Rahmalika, Oka Negara, Semara Putra, Pengaruh Model Pembelajaran Inside Outside
Circle Dengan Time Berbantuan Multimedia Terhadap Hasil Belajar Ipa Kelas V Gugus 2 Denpasar
Timur, (E-Journal MIMBAR PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD, Vol. 2 No. 1
Tahun 2014), hal: 3
9
AnitaLie, Cooperative Learning: Memperaktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang
Kelas. (Jakarta: Grasindo, 2002), hal: 64-65

16

b) Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran di luar lingkaran yang
pertama. Dengan kata lain, mereka berdiri menghadap ke dalam dan
berpasangan dengan siswa yang berada dilingkaran dalam.
c) Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil dan lingkaran besar
berbagai informasi. Siswa yang berada di lingkaran kecil yang
memulai. Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua
pasangan dalam waktu yang bersamaan.
d) Kemudian, siswa yang berada dilingkaran kecil diam di tempat,
sementara siswa yang searah berputaran jarum jam. Dengan cara ini,
masing-masing siswa mendapatkan pasangan yang baru untuk berbagi.
e) Sekarang giliran siswa yang berada di lingkaran besar yang
membagikan informasi. Demikian seterusnya.
2) Lingkaran kelompok
a) Satu kelompok berdiri dilingkaran kecil menghadap keluar. Kelompok
yang lain berdiri dilingkaran besar.
b) Kelompok berputar seperti prosedur lingkaran individu yang
dijelaskan di atas dan saling berbagi.

Ada beberapa keuntungan pembelajaran Inside Outside Circle ( IOC),
yaitu10:
1) Mengajarkan siswa lebih percaya kepada guru dan lebih percaya kepada
kemampuan sendiri untuk berfikir, mencari informasi dari sumber lain,
dan belajar dari siswa lain.
2) Membantu siswa menghormati yang pintar dan siswa yang lemah serta
menerima perbedaan itu.
3) Mendorong siswa lemah untuk tetap berbuat dan membantu siswa pintar
mengidentifikasi masalah dalam pemahaman pembelajaran.

Valensy Rachmedita “Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Teknik Inside Outside
Circle (IOC) Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VII SMP Wiyata Karya Natar Tahun Pelajaran
2013/2014”. Skripsi pada Universitas Lampung 2014, hal: 13
10

17

4) Mendorong

siswa

mengungkapkan

idenya

secara

verbal

dan

membandingkan dengan ide temannya, sehingga pembelajaran menjadi
bermakna.
5) Interaksi yang terjadi membantu memotivasi siswa dalam berfikir.

Adapun beberapa keterbatasan model pembelajaran cooperative teknik
Inside Outside Circle adalah:
1) Beberapa siswa mungkin pada awalnya enggan mengeluarkan ide
2) Sulit membentuk kerja kelompok yang dapat bekerja sama secara
harmonis.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inside outside circle
adalah suatu model pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan
pada siswa untuk berbagi informasi secara bersamaan dan melibatkan lebih
banyak siswa yang menelaah materi yang tercakup dalam suatu pembelajaran.

3. Hasil Belajar
a. Pengertian Belajar
Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai
macam kompetensi, keterampilan, dan sikap. Usaha untuk mencapai
kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi
kebutuhannya, mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dipunyai
sebelumnya. Menurut Oemar Hamalik “belajar merupakan suatu proses,
suatu kegiatan dan bukan suatu hasil dan tujuan. Belajar bukan hanya
mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami”.11 Sehingga
dengan belajar manusia menjadi tahu, memahami, mengerti, dapat
melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu ilmu yang sudah di pelajari.
Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil dan
tujuan. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah kegiatan belajar
mengajar merupakan kegiatan paling pokok. Hal ini berarti bahwa
11

Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar. (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005, Cet: 4), hal:27

18

keberhasilan atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan bergantung pada
proses belajar yang dilakukan siswa sebagai anak didik.
Menurut Winkel (dalam Riyanto) “belajar adalah suatu aktivitas
mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan,
yang

menghasilkan

perubahan-perubahan

dalam

pengatahuan,

pemahaman, keterampilan, dan sikap-sikap. Perubahan itu bersifat secara
konstan dan berbekas”12.
Menurut Hilgard dan Bower (dalam Ngalim) “belajar berhubungan
dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu
yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi
itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar
kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan
sesaat seseorang”13.
Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Belajar
berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu
situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang
dalam suatu situasi.

b. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan hasil yang telah dicapai setelah di
laksanakan program kegiatan belajar mengajar di sekolah. Hasil belajar
dalam periode tertentu dapat dilihat dari nilai raport yang secara nyata
dapat di lihat dalam bentuk angka-angka.
Menurut Gagne dalam jurnal Purwanto, “hasil belajar adalah
terbentuknya konsep, yaitu kategori yang kita berikan pada stimulus yang
ada di lingkungan, yang menyediakan sekama yang terorganisasi untuk
12

Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran: Sebagai Referensi Bagi Guru/Pendidikan
Dalam Implementasi Pembelajaran Yang efektif dan Berkualitas. (Jakarta: Kencana, 2009), hal: 5
13
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010, Cet: 24)
hal: 84

19

mengasimilasi stimulus-stimulus baru dan menentukan hubungan didalam
dan di antara kategori-kategori. Skema itu akan beradaptasi dan berubah
selama perkembangan kognitif seseorang”14.
Menurut Gagne dan Driscool mengatakan “hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat
perbuatan belajar dan dapat diamati melalui penampilan siswa
(learner’s performance). Dick dan Reiser mengatakan bahwa hasil
belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki sebagai siswa
sebagai hasil kegiatan pembelajaran. Mereka membedakan hasil
belajar atas empat macam, yaitu: (1) pengetahuan, (2) keterampilan
intelektual, (3) keterampilan motorik, dan (5) sikap”15.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa hasil belajar berupa
perolehan

perubahan

tingkah

laku

yang

meliputi:

pengamatan,

pengenalan, pengertian, perbuatan, keterampilan, perasaan, minat, dan
bakat. Dalam dunia pendidikan prestasi belajar digunakan sebagai
pendorong bagi peserta didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan yang
berperan untuk meningkatkan mutu pendidikan.

c. Faktor-Faktor yang Mempengaru

Dokumen yang terkait

Penerapan modal pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together (NHT) dalam upaya meningkatkan hasil belajar kimia siswa

1 5 88

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe kepala bernomor terstruktur untuk meningkatkan aktivitas belajar matemetika siswa (penelitian tindakan kelas di SMP Islam al-Ikhlas Cipete)

1 9 47

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep gaya bernuansa nilai (penelitian tindakan kelas di MTs Hidayatul Islamiyah Karawang)

0 8 223

Penerapan model pembelajaran kooperatif Tipi Inside-outside circle untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematika siswa (penelitian tindakan kelas di MTSN Tangerang 11 Pamulang)

4 20 61

Penerapan model pembelajaran direct instruction untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep termokimia

0 2 18

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe kepala bernomor struktur dalam meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa SMPN 3 kota Tangerang selatan

1 12 173

Penerapan model pembelajaran kooperatif informal tipe Formulate-Share-Listen-Create (FSLC) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa

11 55 158

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe inside outside circle (ioc) untuk meningkatkan hasil belajar ips siswa kelas VII-B smp muhammadiyah 17 ciputat tahun ajaran 2014/2015

3 43 0

Upaya meningkatkan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Stad (Student Teams Achievement Division) pada pembelajaran IPS kelas IV MI Miftahul Khair Tangerang

0 13 0

Perbedaan hasil belajar ips siswa dengan menggunakan pembelajaran kooperatif teknik inside outside circle dan two stay two stray

0 12 0

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23