Dampak kebijakan subsidi listrik terhadap perekonomian dan kemiskinan di Indonesia

DAMPAK KEBIJAKAN SUBSIDI LISTRIK
TERHADAP PEREKONOMIAN DAN KEMISKINAN
DI INDONESIA

DISERTASI

SRI DJOKO PARARTO

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

SURAT PERNYATAAN
Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam
disertasi saya yang berjudul:
Dampak Kebijakan Subsidi Listrik terhadap Perekonomian dan
Kemiskinan di Indonesia
Merupakan gagasan atas hasil penelitian saya sendiri, dengan bimbingan Komisi
Pembimbing, kecuali yang dengan jelas ditunjukkan rujukannya. Disertasi ini
belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar pada program sejenis di
perguruan tinggi lain. Semua data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan
secara jelas sumbernya dan dapat diperiksa kebenarannya.

Bogor, Januari 2012

Sri Djoko Pararto
NRP. A 161040374

ABSTRACT
SRI DJOKO PARARTO. The Impact of Electricity Subsidy Policy on
Economy and Poverty in Indonesia (YUSMAN SYAUKAT, as Chairman,
BONAR M. SINAGA and SRI HARTOYO, as Members of the Advisory
Committee)
The objectives of this study were to identify the factors that influence the
levels of subsidy for electricity and to analyze the impact of electricity subsidies
on economy and po verty in Indo nesia. This study used a simultaneous equations
econometric was model estimated using a two stage least squares (2SLS) method
and SYSLIN procedure for the data set period of 1990-2010. The forecast
simulation was set for 2011-2015 with NEWTON method and SIMNLIN
procedure. Since economic crises hit Indonesia in the middle 1997, electricity
market in Indo nesia has funda mental change s. The crises led to rising of the
operation cost of energy provision, while people’s purchasing power decreased.
The government adopt ed the electricity subs idies to help the peop le and to ensure
the survival of the provider of electric power. The amount of electricity subsidies
depends on government revenue. Besides that, the amount of electricity subsidies
also depends on the operation cost per kWh of electricity provision, margin of
electricity provider, and people’s purchasing power. The amount of the electricity
subsidies and the operation cost of electricity provision will determine the selling
price of electricity burdened to consumers. The changes of the selling price of
electricity will affect the economic performance and the poverty because the
electricity is one of main energy sources of household and other economic
activities. One of main results of the study is that the transfer of electricity
subsidies to other expenditures has a better impact on po verty although it can
suppress the economic growth. The results of forecast simulation also show that
the decrease in electricity subsidies, increase of Indonesia Crude Oil Prices (ICP),
and the depreciation of rupiah to dollar of United Stated caused rising in the
selling price of electricity, decreasing economic growth, and increasing inflation
and poverty rates. In other hand, decreasing of energy losses and reducing of
company margin will result in decreasing selling price of electricity subsidies,
increasing economic growth and decreasing inflation and poverty rate.
Keywords: electricity subsidies, production cost, selling price of electricity,
economic growth, poverty

RINGKASAN
Listrik sekarang telah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat karena
hampir setiap aktivitas masyarakat sangat tergantung pada ketersediaan tenaga
listrik. Di lain pihak, penyediaan tenaga listrik yang bersifat padat modal dan
teknologi menyebabkan harga tenaga listrik menjadi mahal dan belum dapat
menjangka u selur uh wilayah Indo nesia. Oleh karena itu, campur tangan
pemerintah sangat diperlukan untuk mendorong proses produksi dan distribusi
yang lebih merata dengan harga ya ng terjangka u.
Salah satu campur tangan pemerintah dalam sektor kelistrikan adalah
keterlibatannya dalam penentuan tarif listrik. Kebijakan penetapan tarif listrik ini
sangat erat kaitannya dengan kebijakan pemberian subsidi karena tarif listrik yang
ditetapkan biasanya lebih kecil dari biaya pokok penyediaan tenaga listrik. Subsidi
diberikan dengan tujuan agar ketersediaan listrik dapat terpenuhi, kelangsungan
penyediaan listrik dapat berjalan stabil, serta membantu pelanggan yang kurang
mampu dan masyarakat yang belum terjangkau pelayanan PT. PLN (Persero),
selanjutnya disebut PLN, dapat ikut menikmati energi listrik.
Namun demikian ada satu pertanyaan klasik yang sering muncul berkaitan
pe mberian subsidi ini, yaitu apaka h subs idi tersebut telah memba ntu masyarakat
miskin harena sampai saat ini subsidi diberikan kepada hampir semua pelanggan
PLN. Selain itu, subsidi listrik juga ditengarai lebih banyak dinikmati oleh rumah
tangga kaya. Ini disebabka n kebijakan subsidi listrik saat ini adalah subsidi harga,
sehingga semakin besar jumlah konsumsi listriknya semakin besar juga jumlah
subsidi yang dinikmati.
Berpijak dari permasalahan di atas, maka diperlukan adanya suatu
penelitian untuk mengetahui faktor- faktor apa saja yang mempengaruhi besarnya
subsidi listrik dan bagaimana dampaknya terhadap tingkat kemiskinan di
Indo nesia. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi faktor- faktor yang
mempengaruhi besarnya subsidi listrik di Indonesia; (2) mengestimasi besarnya
subsidi listrik yang harus dikeluarkan pemerintah; dan (3) menganalisis dampak
pemberian subsidi listrik terhadap tingkat kemiskinan.
Penelitian ini menggunakan data sekunder periode tahun 1990-2010 yang
bersumber dari berbagai instansi. Analisis menggunakan model persamaan
simultan yang diestimasi dengan metod e 2SLS (Two-Stage Least Squares) dan
prosedur SYSLIN. Model yang disusun terdiri da ri 29 persamaan struktural dan
27 persamaan identitas yang dikelompokkan dalam 8 blok, yaitu (1) blok produksi
listrik, (2) blok konsumsi listrik, (3) blok subsidi listrik, (4) blok harga jual tenaga
listrik, (5) blok pe nerimaan dan pengeluaran pemerintah, (6) blok PDB, nilai tukar,
dan inflasi, (7) blok tenaga kerja, dan (8) blok kemiskinan. Hasil estimasi
persamaan-persamaan struktural pada taraf signifikansi 40 persen secara ekonomi
logis serta mempunyai arti dan dapat dibuktikan secara statistik. Sebelum
melakukan simulasi, maka dilakukan uji validasi dengan metode NEWTON dan
prosedur SIMNLIN. Uji validasi menggunakan statistik RMSPE dan U-The il.
Hasil validasi menunjukkan model yang dibangun mempunyai daya ramal yang

cukup valid untuk melakukan simulasi ramalan. Simulasi ramalan dilakukan
untuk periode tahun 2011-2015 dengan metode NEWTON dan prosedur
SIMNLIN. Seluruh perhitungan menggunakan program piranti lunak Statistical
Analysis System/Estimation Time Series (SAS/ETS) versi 9.1.
Berdasarkan hasil pendugaan parameter, dapat disimpulkan bahwa
produksi tenaga listrik yang dibangkitkan sendiri dipengaruhi secara positif oleh
konsumsi bahan bakar yang digunakan. Tenaga listrik yang dibeli dipengaruhi
secara negatif oleh jumlah tenaga listrik yang diproduksi sendiri dan pos itif oleh
besarnya permintaan tenaga listrik dan jumlah tenaga listrik yang hilang. Total
biaya operasional dipengaruhi secara positif oleh jumlah tenaga listrik yang dibeli,
biaya untuk konsumsi bahan bakar (BBM, batu bara, dan gas alam), dan biaya
rutin lainnya. Pengeluaran untuk konsumsi bahan bakar dipengaruhi oleh harga
dan jumlahnya. Jumlah konsumsi bahan bakar dipengaruhi secara negatif oleh
harganya, jumlah tenaga listrik yang diproduksi sendiri, dan secara positif oleh
harga dunia bahan bakar. Konsumsi tenaga listrik dipengaruhi secara negatif oleh
harga jual tenaga listrik da n secara positif oleh pendapatan pelanggan. Subsidi
harga listrik dipengaruhi secara positif oleh besarnya penerimaan pemerintah.
Harga jual tenaga listrik dihitung berdasarkan selisih antara biaya pokok
penyediaan tenaga listrik per kWh (BPP, termasuk margin usaha) de ngan nilai
subsidi per kWh yang diberikan. Jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan
dan pedesaan dipengaruhi secara positif oleh tingkat inflasi dan jumlah
pengangguran. Selain itu, jumlah penduduk miskin di perkotaan dipengaruhi
secara negatif oleh tingkat upa h riil, seda ngka n di pede saan oleh jumlah
pengeluaran pemerintah.
Simulasi peramalan pe ngurangan subsidi listrik, ke naika n harga minya k
mentah Indo nesia (ICP), dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar
Amerika Serikat menyebabkan kenaikan harga jual tenaga listrik, memicu inflasi,
menekan laju pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan jumlah penduduk miskin.
Sedangkan penurunan tenaga listrik yang hilang da n pe ngurangan margin usaha
perusahaan penyedia tenaga listrik dapat menurunkan biaya operasional
perusahaan penyedia tenaga listrik da n harga jual tenaga listrik, meneka n inflasi,
mendorong laju pertumbuhan ekonomi, da n dapat menurunkan jumlah pe nduduk
miskin.

@ Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2012

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa
mencantumka n atau menyebutka n sumber
a.

Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian,
penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik
atau tinjauan suatu masalah

b.

Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh
karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB

DAMPAK KEBIJAKAN SUBSIDI LISTRIK
TERHADAP PEREKONOMIAN DAN KEMISKINAN
DI INDONESIA

SRI DJOKO PARARTO

DISERTASI
Sebagai salah satu syarat untuk me mperoleh gelar
Doktor
pada
Prog ram Studi Ilmu Ekonomi Pertanian

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

Penguji Luar Komisi Ujian Tertutup:
1.

Dr. Ir. Suharno, MSc
Staf Pengajar Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen,
Institut Pertanian Bogor.

2.

Dr. Ir. M. Parulian Hutagaol, MS
Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen,
Institut Pertanian Bogor.

Penguji Luar Komisi Ujian Terbuka:
1.

Prof. Dr. Zuhal, M.Sc.
Guru Besar pada Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.

2.

Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, M.Ec.
Guru Besar pada Fakultas Eko nomi da n Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Judul Disertasi

: Dampak Kebijakan Subsidi Listrik
terhadap Perekonomian dan Kemiskinan
di Indonesia

Nama Mahasiswa

: SRI DJOKO PARARTO

Nomor Pokok

: A 161040374

Program Studi

: Ilmu Ekonomi Pertanian

Menyetujui:
1. Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Yusman Syaukat, MEc.
Ketua

Dr. Sri Hartoyo, MS.
Anggota

Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA
Anggota

Mengetahui:
2. Ketua Program Studi
Ilmu Ekonomi Pertanian

3. Dekan Sekolah Pascasarjana, IPB

Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA.

Dr. Ir. Dahrul Syah, MSc. Agr.

Tanggal Ujian: 18 Januari 2012

Tanggal Lulus:

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga disertasi berhasil diselesaikan. Disertasi dengan judul Dampak
Subsidi Listrik Terhadap Tingka t Kemiskinan di Indo nesia disusun sebagai salah
satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Ilmu Ekonomi
Pertanian.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Dr. Ir. Yusman
Syaukat, M.Ec. selaku Ketua Komisi Pembimbing, Bapak Prof. Dr. Ir. Bonar M
Sinaga dan Bapak Dr. Sri Hartoyo, MS selaku Anggota Komisi Pembimbing yang
telah memberikan masukan dan saran dalam penyusunan proposal ini. Kepada
teman-teman di program studi Ilmu Ekonomi Pertanian kelas khusus angkatan II
Institut Pertanian Bogor (IPB) juga penulis sampaikan ucapan terima kasih atas
masuka nnya untuk lebih menyempurnaka nnya.
Penulis sadari bahwa dengan segala keterbatasan, penelitian ini tentulah
be lum sempurna. Ketidak sempurnaan penelitian ini menjadi tangjung jawab
penulis sepenuhnya. Oleh karena itu kritik dan saran dari para pembaca sangat
diharapkan guna penyempurnaan penetilian sejenis ini dimasa mendatang akan
sangat berguna bagi penulis dan juga bagi masyarakat ilmiah. Penulis berharap
agar hasil penelitian ini berguna bagi masyarakat dan pihak-pihak yang
memerluka n.
Bogor, Januari 2012
Penulis

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 4 Oktober 1951 di Sragen, Jawa Tengah
dan memiliki orang tua Bapak Suwarno da n Ibu Sri Amini.
Pada tahun 1969 penulis menyelesaikan sekolah di Sekolah Menengah
Atas di SMA Negeri Sragen . Pendidikan sarjana diselesaikan pada tahun 1977
pada Fakultas Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya.
Pada tahun 2002 atas sponsor PT PLN(Persero) penulis melanjutkan pendidikan
pada Program Pasca Sarjana (S2) di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetya Mulya
Jakarta, gelar Magister Manajemen diraih pada tahun 2004. Pada tahun 2004
penulis melanjutkan kuliah pada Program S3 bidang Ilmu Ekonomi Pertanian di
Sekolah Pascasarjana,Institut Pertanian Bogor.
Penulis sejak tahun 1977 bekerja di PT PLN (Persero) ditempatkan di
PLN Distribusi Jawa Timur, Surabaya sampai dengan tahun 1990. Sejak tahun
1990 sampai dengan 1995 ditempatkan di PLN Distribusi Jakarta Raya dan
Tangerang sampai dengan tahun 1995. Tahun 1995 sampai dengan 1997 di PLN
Wilayah Aceh, pada tahun 1997 sampai dengan 2000 di PLN Wilayah
Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur. Sejak tahun 2000 sampai tahun 2004
ditempatkan di kantor pusat. Pada tahun 2004 sampai dengan 2009 ditugas
karyakan di PT Cogindo sebagai Direktur Utama dan sejak tahun 2009 sampai
dengan sekarang sebagai Wakil Direktur Utama Dana Pensiun PLN.
Penulis meningkah dengan Ollysari Kentjonowati pada tahun 1980 dan
dikaruniai tiga anak, anak pertama laki- laki Priyo Santoso, kedua perempuan
Mina Samantha da n ke tiga laki- laki Firman Parrol.

RIWAYAT HIDUP
Nama

: Sri Djoko Pararto

Tempat dan tanggallahir :Sragen, 4-Oktober-1951
Agama

: Islam

Alamat

: Jl. BukitHijau VIII/15A PondokI ndah, JakartaSelatan

NamaIstri

: Olly Sari Kentjonowati

NamaAnak

: 1. PriyoSantoso, 2. Mina Samantha dan
3. FirmanParrol

RiwayatPendidika n

:

1. SekolahRakyat Negeri di Sragen, lulusTahun 1963
2. SekolahMenengahPertama di Sragen, lulusTahun 1966
3. SekolahMenengah Atas di Sragen, lulusTahun 1969
4. FakultasTeknikEletro ITS, lulusTahun 1977
5. SekolahTinggiManajemenPrasetiyaMulya, lulus 2004
6. Sekolah Pasca SarjanaJakarta IPB, lulus 2012
RiwayatPekerjaan:
1. Karyawan PLN Tahun 1977 – 2004
2. DirekturUtamaPT. CogindoDayaBersama
3. WakilDirekturUtamaDana Pensiun PT PLN(Persero)

DemikianRiwayathidupini kami buatsayabuatdengansebenarbenaryadanapabiladikemudianhariternyataterdapatketerangan yang tidakbenar,
makasayabersediadituntutdimuka hakim.

Bogor 27-Februari-2012
Yang MembuatRiwayatHidup

Sri DjokoPararto

DAFTAR ISI
Halaman

I.

II.

III.

DAFTAR TABEL ………………………………………………………….......

iv

DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………...

vi

DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………………

vii

PENDAHULUAN ……………………………………………………………...

1

1.1. Latar Belakang ………………………………………………………........

1

1.2. Perumusan Masalah ………………………………………………………

10

1.3. Tujuan Penelitian …………………………………………………………

12

1.4. Manfaat Penelitian ………………………………………………………..

12

1.5. Ruang Lingkup da n Keterbatasan ………………………………………...

13

TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………………..

15

2.1. Pengertian dan Jenis Subs idi ……………………………....…………….

15

2.2. Efek Pemberian Subsidi .................…………………………………….

17

2.3. Kemiskinan …...............…………………………………………………

19

2.3.1. Konsep dan Ukuran Kemiskinan ..................................................

19

2.3.2. Penyebab Kemiskinan ..................................................................

21

2.4. Inflasi …...................................................................…………………….

22

2.5. Dampak Subs idi Terhadap Kemiskinan ..........……………………........

24

2.6. Dampak Subsidi Terhadap Kesejahteraan Masyarakat ………………….

27

2.7. Monopo li Alami ..............................................………………………….

29

2.8. Penelitian yang Perna h Dilakuka n ………………………………………

29

2.8.1. Tarif Listrik ……………………………..………………………..

29

2.8.2. Subsidi Listrik …………………………………..………………..

31

2.8.3. Keterkaitan Subsidi dengan Kemiskinan ..……..………………..

34

METODE PENELITIAN ……………………………………………………...

37

3.1. Kerangka Pikir …………………………………………………………..

37

3.2. Hipotesis Penelitian ……………………………………………………..

38

3.3. Metode Analisis ………………………………………………………..…

38

3.3.1. Model Ekonometrika ………………………………………….…

40

3.3.1.1. Persamaan Struktural dan Identitas ……………………

41

i

IV.

V.

VI.

3.3.1.2. Uji Identifikasi …………………………………………

58

3.3.1.3. Pengujian Parameter Model ……………………..……

60

3.3.1.4. Uji Durbin- h …......................………………………...

61

3.3.1.5. Metode Estimasi Model ……………………………….

62

3.3.1.6. Validasi Model …………………………………………

64

3.3.1.7. Skenario Simulasi ……………………………………...

67

3.3.2. Jenis dan Sumber Data yang Digunakan ……………….....….....

70

GAMBARAN UMUM KELISTRIKAN DAN KEMISKINAN DI
INDONESIA TAHUN 1990-2010 ....................................................................

71

4.1.

Konsumsi Energi Nasional .....................................................................

71

4.2.

Produksi Tenaga Listrik ..........................................................................

73

4.3.

Konsumsi Tenaga Listrik ........................................................................

76

4.4.

Subsidi Listrik .........................................................................................

78

4.5.

Kemiskinan di Indonesia ........................................................................

79

4.6.

Subsidi Listrik, Pertumbuhan Ekonomi, da n Kemiskinan .....................

81

PEMBAHASAN HASIL ESTIMASI MODEL SUBSIDI HARGA LISTRIK

85

5.1. Gambaran Umum ………………………………………………………..

85

5.2. Penjelasan Persamaan …………………………………………………...

86

5.2.1. Blok P rod uksi Tenaga Listrik …………………………………..

86

5.2.2. Blok K onsumsi Tenaga Listrik …………………………………

100

5.2.3. Blok Subs idi Harga Listrik ……...……………….......…………

108

5.2.4. Blok Harga Jua l Tenaga Listrik .…....................……………….

113

5.2.5. Blok Penerimaan dan Pengeluaran Pemerintah ………………..

113

5.2.6. Blok Perekonomian ……………….............................................

116

5.2.7. Blok Tenaga Kerja ......................................................................

128

5.2.8. Blok Kemiskinan .........................................................................

131

SIMULASI KEBIJAKAN DAN PEMBAHASAN …………………………..

137

6.1. Validasi Model ………………………………………………………….

137

6.2. Ramalan Variabel Endogen ……………………………....……………..

139

6.3. Simulasi Kebijakan Berkaitan dengan Perubahan Nilai Subsidi ……….

141

6.3.1. Dampak Kebijakan Peningkatan Subsidi Harga Listrik Sebesar
10 Persen .......................................................................................
ii

141

6.3.2. Dampak Kebijaka n Penurunan Subsidi Harga Listrik Sebesar 10
Persen …………………………………………………………...

142

6.3.3. Dampak Kebijaka n Penurunan Subsidi Harga Listrik Sebesar 10
Persen dan Dialihkan ke Belanja Lain ..........................................

144

6.3.4. Dampak Kebijakan Menaikkan Harga Jual Tenaga Listrik
Sebesar 10 Persen ..........................................................................

145

6.4. Simulasi Kebijakan Berkaitan dengan Perubahan Faktor Eksternal .......... 146
6.4.1. Dampak Kenaikan ICP Sebesar 10 Persen .................................... 147
6.4.2. Dampak Kenaikan ICP Sebesar 10 Persen dengan Harga Jual
Tenaga Listrik Tetap .....................................................................

148

6.4.3. Dampak Kenaikan ICP Sebesar 10 Persen dengan Subsidi Per
kWh Tetap .....................................................................................

149

6.4.4. Dampak Depresiasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar
Amerika Serikat Sebesar 10 Persen ..............................................

150

Simulasi Kebijakan Berkaitan dengan Efisiensi Perusahaan Penyedia
Tenaga Listrik ...........................................................................................

152

6.5.1. Dampak Pengurangan Susut Tenaga Listrik Sebesar 10 Persen

152

6.5.2. Dampak Pengurangan Margin Usaha Sebesar 1 Persen ………...

153

6.5.3. Dampak Penurunan Susut Tenaga Listrik Sebesar 10 Persen dan
Pengurangan Margin Usaha Sebesar 1 Persen .............................

153

6.6. Ringkasan Dampak Kebijakan Subsidi Harga Listrik terhadap Tingkat
Kemiskinan ..............................................................................................

156

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN ……………………………

159

7.1. Kesimpulan ……………………………………………………………...

159

7.2. Implikasi Kebijakan ……………………………………………………..

162

7.3. Saran untuk Penelitian Selanjutnya ……………………………………..

162

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….

165

LAMPIRAN ……………………………………………………………………

169

6.5

VII.

iii

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman

1. Perkembangan Rasio Elektrifikasi di Indonesia, Tahun 2005 – 2009 …………….

1

2. Perkiraan Jumlah Permintaan Energi Listrik, Rasio Elektrifikasi, dan Investasi
yang Dibutuhkan, Tahun 2010–2019 ……………………………………………...

2

3. Pengeluaran Pemerintah Pusat untuk S ubs idi Tahun 2000–2010 ………………...

5

4. Biaya Operasional Perusahaan Penyedia Tenaga Listrik Menurut Jenis
Pengeluaran Tahun 2000–2010 ...............................................................................

6

5. Besarnya Subsidi Menurut Golongan Pelanggan, Tahun 2005–2010 ……....…….

7

6. Nilai Subsidi yang Diterima Per Pelanggan Menur ut Golongan Tarif Rumah
Tangga, Tahun 2005–2009 ………………………………………………………..

8

7. Jumlah Pelanggan PLN Rumah Tangga Sangat Kecil dan Rumah Tangga Miskin,
Tahun 2005 – 2010 ………………………………………………………………..

11

8. Distribus i Konsumsi Energi Akhir Menurut Jenis ,Tahun 1990 – 2009 ................

72

9. Produksi Tenaga Listrik, Tahun 1990–2010 ...........................................................

73

10. Bauran Energi Menur ut Sumber Energi, Tahun 1998 – 2009 .................................

74

11. Total Biaya Operasional, Tahun 1990–2010 ...........................................................

75

12. Konsumsi Tenaga Listrik Menurut Golongan Pelanggan, Tahun 1990–2010 ........

76

13. Tenaga Listrik yang Dikonsumsi Sendiri dan Hilang, Tahun 1990–2010 ..............

77

14. Realisasi Subsidi Listrik, Tahun 1998–2010 ...........................................................

79

15. Jumlah da n Persentase Penduduk M iskin di Indo nesia Menur ut Daerah, Tahun
1990-2010 ..............................................................................................................

80

16. Garis Kemiskinan Menurut Daerah, Tahun 1990-2010 ..........................................

81

17. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Produksi Tenaga Listrik yang Diproduksi
Sendiri, Tahun 1990-2010 ……………………………………………..................

88

18. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Konsumsi BBM, Tahun 1990-2010 ...........

89

19. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Konsumsi Batubara, Tahun 1990-2010 …

90

20. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Konsumsi Gas Alam, Tahun 1990-2010 …

91

21. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Harga BBM, Tahun 1990-2010 ….……….

93

22. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Harga Batubara, Tahun 1990-2010 .........

94

iv

23. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Harga Gas Alam, Tahun 1990-2010 ..……

95

24. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Tenaga Listrik yang Dibeli, Tahun 19902010…………………………………………………...........................................

96

25. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Total Biaya Operasional Penyediaan
Tenaga Listrik, Tahun 1990-2010 .........................................................................

98

26. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Konsumsi Energi Listrik oleh Rumah
Tangga, Tahun 1990-2010 ...…………………………………………...................

101

27. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Konsumsi Energi Listrik oleh Industri
,Tahun 1990-2010 ..................................................................................................

104

28. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Konsumsi Energi Listrik o leh Pelanggan
Lainnya, Tahun 1990-2010 ………......................................................................

106

29. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Subs idi Harga Listrik untuk Rumah Tangga
, Tahun 1990-2010 ..................................................................................................

109

30. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Subs idi Harga Listrik untuk Industri, Tahun
1990-2010 ...............................................................................................................

111

31. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Subs idi Harga Listrik untuk Pelanggan
Lainnya, Tahun 1990-2010 ....................................................................................

111

32. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Penerimaan Pajak, Tahun 1990-2010 ..........

114

33. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Belanja Lain, Tahun 1990-2010 ..................

115

34. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Pengeluaran di Luar Konsumsi Listrik,
Tahun 1990-2010 ...................................................................................................

117

35. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Investasi, Tahun 1990-2010 ........................

119

36. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Ekspor, Tahun 1990-2010 ..........................

119

37. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Impor, Tahun 1990-2010 ............................

121

38. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Nilai, Tukar Rupiah Terhadap Dolar
Amerika Serikat, Tahun 1990-2010 .......................................................................

123

39. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Indeks Harga Kons umen, Tahun 1990-2010

125

40. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Tingkat Suku Bunga, Tahun 1990-2010 ......

127

41. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Penawaran Tenaga Kerja, Tahun 1990-2010

129

42. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Permintaan Tenaga Kerja, Tahun 19902010………………………………………………………………………………..

130

43. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Upa h Riil Tenaga Kerja, Tahun 1990-2010

131

44. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Jumlah Penduduk Miskin Daerah Perkotaan
, Tahun 1990-2010...................................................................................................

132

45. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Jumlah Penduduk Miskin Daerah Pedesaan,
Tahun 1990-2010 ....................................................................................................

134

v

46. Ringkasan Hasil Validasi Mode l Subsidi Harga Listrik di Indonesia .....................

138

47. Dampak Kebijakan Subsidi Harga Listrik Terhadap Kemiskinan Periode
Peramalan, Tahun 2011-2015...................................................................................

154

vi

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Halaman

1. Biaya Pokok Penyediaan da n Rata-Rata Harga Jual Tenaga Listrik per kWh
Tahun 1990–2010 ...................................................................................................

3

2. Dampak Pemberian Subsidi terhadap Kemiskinan .................................................

25

3. Dampak Pemberian Subsidi terhadap Kesejahteraan ..............................................

28

4. Pengaturan Harga Monopo li Alami .........................................................................

30

5. Kerangka Pemikiran Dampak Subsidi Harga Listrik terhadap Kemiskinan …..…

39

6. Keterkaitan Antarblok Model Subsidi Harga Listrik di Indonesia ..........................

42

7. Model Subsidi Harga Listrik ……...……………………………………………...

57

8. Besarnya Subsidi Listrik, Tingkat Kemiskinan, d an Laju Pertumbuhan Ekonomi
di Indonesia, Tahun 1990-2010 ...............................................................................

83

9. Realisasi dan Ramalan Subsidi Listrik Tahun 1998–2015 ......................................

vii

140

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
1.

Halaman
Keterangan Variabel yang digunakan dalam Model Subsidi Harga Listrik ........

167

2. Ringkasan Model Subsidi Harga Listrik .............................................................

170

3.

Program Estimasi Model Subsidi Harga Listrik Harga menggunakan Metode
2SLS dan Prosedur SYSLIN dengan Program SAS/ETS versi 9.1 .....................

173

Hasil Estimasi Mode l Subsidi Harga Listrik menggunakan Metode 2SLS da n
Prosedur SYSLIN de ngan Program SAS/ETS versi 9.1 …………….................

177

Program Estimasi Statistik Durbin-h menggunakan Metode OLS dan Prosedur
AUTOREG dengan Program SAS/ETS versi 9.1 ................................................

192

Hasil Estimasi Statistik Durbin- h menggunakan Metode OLS dan Prosedur
AUTOREG dengan Program SAS/ETS versi 9.1 ................................................

196

Program Validasi Model Subsidi Harga Listrik menggunakan Metode Newton
dan Prosedur SIMNLIN de ngan Program SAS/ETS versi 9.1 …….....................

209

Hasil Validasi Model Subsidi Harga Listrik menggunakan Metode Newton dan
Prosedur SIMNLIN dengan Program SAS/ETS versi 9.1 ……...........................

214

Program Peramalan Variabel Endogen Tahun 2011-2015 Model Subsidi Harga
Listrik menggunakan Metode Newton da n Prosedur SIMNLIN de ngan
Program SAS/ETS versi 9.1 .................................................................................

218

10. Hasil Peramalan Variabel Endogen Tahun 2011-2015 Mode l Subsidi Harga
Listrik menggunakan Metode Newton dan Prosedur SIMNLIN dengan
Program SAS/ETS versi 9.1 ................................................................................

222

11. Program Simulasi Model Subsidi Harga Listrik Periode Peramalan Tahun
2011-2015 menggunakan Metode Newton dan Prosedur SIMNLIN dengan
Program SAS/ETS versi 9.1(Simulasi 2a) ...........................................................

225

12. Hasil Simulasi Model Subsidi Harga Listrik Periode Peramalan Tahun 20112015 menggunakan Metode Newton dan Prosedur SIMNLIN dengan Program
SAS/ETS versi 9.1(Simulasi 2a) ………….……………………………..........

230

13. Hasil Peramalan Variabel Endogen Tahun 2011-2015 .......................................

232

14. Hasil Simulasi Mode l Subsidi Harga Listrik Periode Peramalan Tahun 20112015 .....................................................................................................................

234

15. Data untuk Mode l Subsidi Harga Listrik, Tahun 1990-2010 ..............................

237

4.
5.
6.
7.
8.
9.

viii

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Listrik sekarang telah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat karena
hampir setiap aktivitas masyarakat, terutama masyarakat perkotaan, sangat
tergantung pada ketersediaan energi listrik. Namun di sisi lain belum semua
penduduk Indo nesia telah menikmati energi listrik. Rasio elektrifikasi 1 di
Indo nesia sampai dengan akhir tahun 2009 baru mencapai 65 persen, yang berarti
masih ada 35 persen penduduk yang belum menikmati aliran listrik (PT PLN
(Persero), 2010). Pertumbuhan pembangunan jaringa n listrik juga masih terpusat
di wilayah Jawa-Bali dan Sumatera. Wilayah bagian timur Indonesia merupakan
daerah de ngan rasio elektrifikasi paling rendah dibandingkan wilayah lain (lihat
Tabe l 1).
Tabel 1. Perkembangan Rasio Elektrifikasi di Indonesia,Tahun 2005–2009
(%)
Wilayah

2005

2006

2007

2008

2009

Indo nesia

58.3

59.0

60.8

62.3

65.0

Jawa-Bali

63.1

63.9

66.3

68.0

69.8

Sumatera

55.8

57.2

56.8

60.2

63.5

Kalimantan

54.5

54.7

54.5

53.9

55.1

Sulawesi

53.0

53.2

53.6

54.1

54.4

Indo nesia Bagian Timur

30.1

30.6

30.6

30.6

31.8

Sumber: PT PLN (Persero), 2010

Di lain pihak, penyediaan tenaga listrik yang bersifat padat modal dan
teknologi menyebabkan harga energi listrik menjadi mahal dan belum dapat
1

Rasio elektrifikasi d idefinisikan sebagai jumlah ru mah tangga berlistrik d ibagi ju mlah ru mah
tangga yang ada

2

menjangka u selur uh wilayah Indo nesia. Sebagai contoh, untuk meningkatkan
rasio elektrifikasi dari 66.1 persen pada tahun 2010 menjadi 68.5 persen pada
tahun 2011 membutuhka n investasi sebesar US$ 9.74 miliar. Diperkirakan
investasi yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan energi listrik dari tahun
2010 sampa i dengan tahun 2019 mencapai US$ 97.1 miliar.
Tabel 2. Perkiraa n Jumlah Permintaan Energi Listrik, Rasio Elektrifikasi,
dan Investasi yang Dibutuhkan,Tahun 2010–2019

2010

Jumlah
Permintaan
(GWh)
147.8

Rasio
Elektrifikasi
(%)
66.1

Kebutuhan
Investasi
(Juta US$) *)
8122.2

2011

161.1

68.5

9 739.0

2012

176.4

71.1

11 821.1

2013

193.6

73.7

12 153.3

2014

212.7

76.5

10 890.8

2015

233.7

79.5

9 493.2

2016

256.3

82.5

9 265.0

2017

280.7

85.5

9 326.9

2018

306.9

88.5

8 551.5

2019

334.4

90.9

7 740.5

Tahun

Jumlah

97 103.6

Keterangan: *) PT PLN (Persero) dan IPP
Sumber:
PT PLN (Persero), 2010

Melepaskan harga listrik sesuai mekanisme pasar tidak mungkin dilakukan
pemerintah di tengah masih tingginya angka kemiskinan 2 . Berdasarkan data dari
Bada n Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2010 jumlah penduduk miskin di
Indo nesia mencapai 31.02 juta orang atau 13.33 persen dari 237 juta penduduk.
Apalagi Pasal 33 UUD 1945 secara jelas menyatakan bahwa cabang produksi
2

Angka kemiskinan menunjukkan ju mlah penduduk miskin di seluruh Indonesia. Menurut BPS,
penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di
bawah garis kemiskinan. Pada tahun 2010 garis kemiskinan mencapai Rp. 232 989 untuk daerah
perkotaan dan Rp. 192 354 untuk daerah pedesaan.

3
yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara, serta bumi, air
dan kekayaan alam yang terdapat di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan
sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Sehingga usaha penyediaan tenaga
listrik harus disediakan oleh negara dan tersebar merata serta terjangkau oleh
seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, campur tangan pemerintah sangat
diperlukan untuk mendorong proses produksi dan distribusi tenaga listrik yang
lebih merata dengan harga yang terjangka u.
Salah satu campur tangan pemerintah dalam sektor kelistrikan adalah
keterlibatannya dalam penentuan tarif listrik. Kebijakan penetapan tarif listrik ini
sangat erat kaitannya dengan kebijakan pemberian subsidi. Hal ini dikarenakan
sejak tahun 1998 tarif listrik yang ditetapkan pemerintah selalu lebih rendah dari
biaya pokok penyediaan tenaga listrik (lihat Gambar 1). Hal ini menyebabkan
perusahaan penyedia tenaga listrik mengalami kerugian. Sehingga untuk
mengganti kerugian akibat penetapan harga jual tenaga listrik tersebut, pemerintah
membayar selisih harga tersebut kepada perusahaan penyedia tenaga listrik.

1600

Rp/kWh

1200

800

400

19
90
19
91
19
92
19
93
19
94
19
95
19
96
19
97
19
98
19
99
20
00
20
01
20
02
20
03
20
04
20
05
20
06
20
07
20
08
20
09
20
10

0

BPP

Rata-rata HJTL

Gambar 1. Biaya Pokok Penye diaa n dan Rata-Rata Harga Jual Tenaga
Listrik Per kWh, Tahun 1990–2010

4

Selain itu terus meningkatnya permintaan tenaga listrik juga harus diikuti
kemampuan produksi perusahaan penyedia tenaga listrik. Untuk meningkatkan
produksi maka perlu membangun pembangkit-pembangkit baru yang berarti
membutuhkan investasi. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2 di atas bahwa
untuk memenuhi peningkatan permintaan tenaga listrik diperlukan investasi yang
besar. Untuk itu sejak tahun 2009 pemerintah memasukka n unsur margin usaha
dalam menghitung besarnya subsidi yang dibayarkan kepada PLN. Pemberian
margin ini dimaksudkan agar PLN mendapatkan keuntungan, sehingga dapat
melakukan investasi dari keuntungan tersebut. Selain itu, pemberian margin
dilakukan untuk menyehatkan kondisi keuangan PLN. Hal ini dilakukan karena
besarnya investasi yang diambil dari keuntungan PLN tidak mencukupi untuk
memenuhi seluruh investasi yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan tenaga
listrik. Sejak tahun 2005 pemerintah tidak lagi melakukan investasi untuk PLN,
sehingga untuk menutupi kekurangan investasi tersebut PLN mencari sumbersumber lain seperti dunia perbankan maupun lembaga-lembaga peminjam lainnya.
Untuk dapat meminjam dari perbankan dan lembaga-lembaga lain baik lokal
maupun internasional maka ko ndisi ke uangan PLN harus sehat.
Dengan demikian kebijakan pemberian subsidi listrik yang dilakukan
pemerintah bertujuan selain untuk membantu pelanggan yang kurang mampu dan
masyarakat yang belum terjangkau pelayanan PLN dapat ikut menikmati energi
listrik, juga untuk menjaga ketersediaan tenaga listrik listrik, serta menjamin
kelangsungan hidup p erusahaan penyediaan tenaga listrik (Purwoko, 2003).
Pemerintah telah mengeluarkan anggaran triliunan rupiah untuk subsidi
listrik setiap tahun. Nilai realisasi subsidi listrik tersebut cenderung naik setiap

5
tahun, kecuali pada tahun 2009 yang mengalami penurunan yang cukup signifikan
yaitu dari 78.58 triliun rupiah pada tahun 2008 menjadi 53.72 triliun rupiah. Sejak
tahun 2006 besaran subsidi listrik mengalami kenaikan drastis dan juga
realisasinya selalu lebih besar dari nilai anggaran yang disediaka n.
Tabel 3. Penge luaran Pe merintah Pusat untuk Subsidi, Tahun 2000–2010
Belanja
Pem.
Pusat
Tahun
(Triliun
Rp)

Persentase Persentase terhadap
Total Subsidi
Subsidi
Non BBM
terhadap
Belanja BBM
Jumlah
LainListrik
Pem. Pusat
nya

Subsidi (Triliun Rp)
Non BBM
BBM

Listrik

Lainnya

2000

188.39

53.81

3.93

5.01

62.75

33.31 85.76

6.26

7.98

2001

260.51

68.38

4.62

4.44

77.44

29.73 88.30

5.96

5.74

2002

247.80

31.16

4.10

7.37

42.64

17.21 73.09

9.62 17.29

2003

253.71

13.21

4.52

7.74

25.47

10.04 51.87

17.75 30.38

2004

300.04

59.76

3.31

7.37

69.85

23.28 85.55

4.74 10.55

2005

361.16

95.60

8.85 16.32

120.77

33.44 79.16

7.33 13.51

2006

440.03

64.21

30.39 12.83

107.43

24.41 59.77

28.29 11.94

2007

504.62

83.79

33.07 33.35

150.21

29.77 55.78

22.02 22.20

2008

693.36

139.11

83.91 52.28

275.29

39.70 50.53

30.48 18.99

2009

628.81

45.04

49.55 43.50

138.08

21.96 32.62

35.88 31.50

2010*

781.53

88.89

55.11 57.27

201.26

25.75 44.17

27.38 28.45

27.28 58.45

22.13 19.47

Ratarata

Sumber: Kementerian Keuangan dan Kementerian Energ i dan Su mber Daya Mineral (dio lah)
*) APBN-P 2010

Berdasarkan data dari Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan,
dalam kurun waktu 2000–2010, secara rata-rata subs idi yang dikeluarkan
pemerintah mencapai 27.28 persen dari total belanja pemerintah pusat, dimana
58.45 persen digunakan untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM). Subsidi listrik
adalah yang terbesar diantara subsidi-subsidi non BBM lainnya yang secara ratarata mencapai 22.19 persen pada periode yang sama. Sejak tahun 2006 subsidi
listrik mengalami kenaikan tajam, baik dari nilai maupun persentasenya, di saat

6

subsidi BBM mulai berkurang. Bahkan pada tahun 2009 mencapai 35.88 persen,
melebihi subsidi untuk BBM sebesar 32.62 persen.
Kenaikan subsidi listrik ini disebabkan karena biaya operasional
perusahaan penyedia tenaga listrik (PLN) yang terus meningkat, sementara tarif
listrik relatif tetap. Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat
sejak krisis ekonomi tahun 1997 dan masih tingginya ketergantungan PLN
terhadap BBM merupaka n dua sebab utama meningkatnya biaya operasional
PLN. Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa pada periode 2000-2010 sebesar 54.19
persen dari seluruh biaya operasional digunakan untuk membeli bahan bakar dan
pelumas. Namun di sisi lain, krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada
pertengahan tahun 1997 telah menurunkan pendapatan riil dan daya beli
masyarakat. Sehingga pemerintah merasa perlu

mengeluarkan kebijakan

pemberian subsidi listrik untuk mengurangi beban masyarakat tersebut.
Tabel 4. Biaya Operasional Perusahaan Penyedia Tenaga Listrik Menurut
Je nis Penge luaran, Tahun 2000–2010
(Miliar Rupiah)
Jenis Pengeluaran
Bahan
Tahun
Jumlah
Pembelian
PemeliKepegaBakar dan
Lainnya
Listrik
haraan
waian
Pelumas
2000
9 395.4 10 375.8
1 610.3
1 802.4
4 032.0
27 215.8
2001
8 717.1 14 007.3
2 630.4
2 066.3
4 498.3
31 919.4
2002
11 168.8 17 957.3
3 588.8
2 583.3 17 047.4
52 345.6
2003
10 834.0 21 477.9
4 827.6
3 827.7 14 910.0
55 877.2
2004
11 970.8 24 491.1
5 202.1
5 619.4 12 427.4
59 710.8
2005
13 598.2 37 355.5
6 511.0
5 508.1 13 050.9
76 023.6
2006
14 845.4 63 401.1
6 629.1
6 719.7 13 632.8 105 228.2
2007
16 946.7 65 560.0
7 269.1
7 064.3 14 665.8 111 506.0
2008
20 742.9 107 782.8
7 619.9
8 344.2 16 107.9 160 597.8
2009
25 447.8 76 235.1
7 964.5
9 758.3 15 870.3 135 276.0
2010
25 217.8 84 190.7
9 900.6 12 954.4 16 844.5 149 108.1
Rata-rata (%)
17.50
54.19
6.61
6.87
14.83
100.00
Keterangan: *) PT PLN (Persero) dan IPP
Sumber:
PT PLN (Persero), 2010

7
Ada satu pertanyaan klasik yang sering muncul berkaitan pemberian
subs idi, yaitu apakah subs idi tersebut telah mencapai target, baik target “orang”
maupun target filosofinya. Target “orang” maksudnya adalah subsidi dinikmati
oleh masyarakat yang membutuhkannya, sedangkan target filosofi adalah subsidi
berhasil membantu masyarakat marjinal dan miskin tersebut keluar dari
kemarjinalan dan kemiskinannya.
Sampai saat ini adalah subsidi listrik tidak hanya diberikan kepada
masyarakat miskin, tetapi kepada hampir semua pelanggan PLN. Tahun 2009,
sebagai contoh, berdasar data da ri PT PLN (Persero), dari total realisasi subsidi
Rp. 53.72 triliun, pelanggan rumah tangga menyerap Rp. 30.01 triliun atau 55.86
persen, dimana Rp. 22.34 triliun diberikan kepada rumah tangga kecil (450VA
dan 900VA). Kalangan bisnis da n industri mendapatkan subsidi masing- masing
4.0 triliun rupiah dan Rp. 16.22 triliun. Instans i pemerintah dan kantor pelayanan
publik lainnya mendapat jatah Rp. 1.82 triliun.
Tabel 5. Besarnya Subsidi Menurut Golongan Pelanggan, Tahun 2005–2010
(Miliar Rp)
Tahun
2005
2006
2007
2008
2009
2010*)

Rumah Tangga
s.d. 450VA
Lainnya
dan 900VA
7 300.6
599.7
15 237.0
4 023.3
16 335.6
4 782.4
28 537.8 10 688.4
22 344.8
7 661.9
26 860.0
9 300.0

Bisnis

Industri

Sos ial

159.6
2 963.7
3 529.3
9 043.3
3 997.2
2 920.0

1 892.4
9 465.8
10 273.5
24 952.8
15 947.1
12 000.0

333.4
977.3
1 131.9
2 216.5
1 674.6
1 900.0

Pelayanan
Publik
288.2
1 199.1
1 383.6
2 851.6
1 817.0
1 710.0

Sumber: Kementerian ESDM dan PLN (diolah )
*) Alokasi subsidi listrik tahun 2010

Selain itu, subsidi listrik selama ini lebih banyak dinikmati oleh rumah
tangga kaya. Tabel 6 memperlihatkan bahwa meskipun secara total nilai subsidi

8

terbesar untuk rumah tangga sangat kecil, tetapi dilihat per pelanggan nilai subsidi
yang dinikmati rumah tangga kaya jauh lebih besar dari rumah tangga kecil. Hal
ini tentunya tidak sesuai dengan tujuan awal pemberian subsidi yaitu untuk
membantu seseorang atau rumah tangga kurang mampu untuk dapat menikmati
energi listrik.
Tabel 6. Nilai Subsidi yang Diterima Pe r Pelanggan Pe r Tahun Menurut
Golongan Tarif Rumah Tangga, Tahun 2005–2010
(Ribu Rupiah)
Tahun

s.d.
450VA

2005
2006
2007
2008
2009
2010

299.5
526.2
537.6
857.4
674.7
716.2

> 2.200
>
900VA 1.300VA 2.200VA
s.d.
6.600VA
6.600VA
182.3
529.9
553.9
1 023.1
753.1
800.6

138.1
732.9
781.1
1 522.1
1 132.2
1 080.5

270.8
1327.6
1421.9
2756.8
2004.5
1 942.8

1 724.3
1 986.1
4 395.2
2 782.3
2 745.6

Ratarata

246.8
1 987.3
584.5
2 439.3
612.0
5 060.2 1 088.9
813.3
849.0

Sumber: PT PLN (d iolah)

Kebijaka n subsidi pe merintah yang be rupa subsidi harga (price goods
subsidies) juga mempunyai beberapa kelemahan (Farabi, 2010), antara lain: (i)
dari sisi anggaran pemerintah (APBN), subsidi BBM dan listrik yang sangat
tergantung pada harga minyak dunia dan nilai tukar, dalam pelaksanaannya
cenderung berfluktuasi. (ii) subsidi listrik menyebabkan kesenjangan spasial
karena pembangunan listrik masih terpusat di wilayah Jawa-Bali dan Sumatera,
dan (iii) subsidi telah menyebabkan ketidakadilan personal karena subs idi hanya
diberikan kepada pelanggan PLN sehingga akan menciptakan kecemburuan dan
kesenjangan dengan masyarakat pelanggan non PLN dan masyarakat yang belum
teraliri listrik.

9
Melebarnya

kesenjangan dapat

menyebabkan

konflik

di tengah

masyaraka t. Oleh karena itu, para pembuat kebijakan ekonomi, termasuk
kebijakan sektor kelistrikan, harus memperhatikan masalah kesenjangan ini
sebelum menetapkan suatu kebijakan. Menurut Setianegara (2008), salah satu
alasan

mengapa

masalah

kesenjangan

distribusi

pe ndapa tan

harus

dipertimbangkan adalah karena kebijakan pemerataan pendapatan, baik langsung
maupun tidak langsung, dijalankan dalam rangka menurunkan tingkat kemiskinan.
Masalah ketidakmerataan pendapatan dan kemiskinan telah menjadi
perhatian utama pemerintah dalam proses pembangunan nasional. Berbagai upaya
telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009, pemerintah telah
menetapkan tiga strategi pembangunan ekonomi, yaitu pro growth, pro jobs, dan
pro poor. Melalui strategi pro growth diharapkan terjadi percepatan laju
pertumbuhan ekonomi yang disertai dengan perbaikan distribusi pendapatan
(growth with equity). Percepatan laju pertumbuhan ini diikuti dengan makin
banyaknya kesempatan kerja tercipta sehingga semakin banyak keluarga
Indonesia yang dapat dilepaskan dari perangkap kemiskinan, serta memperkuat
pereko nomian untuk menghadapi berba gai goncangan.
Berpijak dari permasalahan di atas, maka diperlukan adanya metode yang
dapat dipertanggungjawabkan untuk mengetahui faktor- faktor apa saja yang dapat
mempengaruhi besarnya subsidi listrik di Indonesia dan bagaimana dampak
pemberian subsidi listrik tersebut terhadap perekonomian dan kemiskinan. Model
ekonometrika merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi faktor- faktor apa saja yang mempengaruhi besaran subsidi listrik

10

dan bagaimana pengaruhnya dengan tingkat kemiskinan. Menurut Koutsoyiannis
(1977), ada tiga kegunaan model ekonometrika, yaitu untuk: (i) alat analisis,
seperti pengujian suatu teori ekonomi, (ii) penetapan kebijakan, berdasar nilai
estimasi parameter, dan (iii) peramalan dampak, yaitu dengan melakukan
perlakuan tertentu pada suatu variabe l untuk mempredisi eko nomi menda tang.
1.2. Perumusan Masalah
Besarnya nilai subsidi listrik yang harus dike luarka n sangat tergantung
pada kemampuan membayar pemerintah dan faktor-faktor yang mempengaruhi
besarnya biaya ope rasional perusahaan penyedia tenaga listrik. Selain itu juga
memperhatikan kondisi kemampuan masyarakat dan kondisi perekonomian secara
menyeluruh.
Secara teknis pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada PLN dalam
penyaluran subsidi listrik. Berdasarkan alokasi jumlah subsidi yang diberikan
pemerintah, PLN memberikan subs idi sesuai golongan tarif dengan besaran yang
berbeda-beda. Sebagai contoh, untuk rumah tangga “miskin” dengan kategori
rumah tangga yang terpasang daya 450VA dan 900VA. Untuk pelanggan industri
dan kalangan bisnis juga tetap diberi subsidi tanpa kecuali. Begitu juga dengan
lemba ga- lembaga sosial, kantor pemerintahan, dan penerangan jalan umum tetap
diberi subs idi.
Kebijakan pemberian subsidi yang hanya menggunakan kriteria tersebut
memberi ruang pada pemberian subsidi yang tidak tepat sasaran. Sebagai contoh,
tidak semua pelanggan rumah tangga sangat kecil (450VA dan 900VA) adalah
rumah tangga miskin. Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa persentase rumah tangga
miskin pengguna listrik terhadap jumlah pelanggan rumah tangga 450VA dan

11
900VA relatif kecil yaitu hanya sekitar 20 persen, yang berarti ada sekitar 80
persen pelanggan rumah tangga tersebut adalah bukan rumah tangga miskin.
Tabel 7. Jumlah Pelangga n PLN Rumah Tangga Sanga t Kecil dan Rumah
Tangga Miskin, Tahun 2005 – 2010

Tahun

Jumlah Pelanggan
Rumah Tangga Sangat
Kecil (450VA dan
900VA)
(000)

Jumlah Rumah
Tangga Miskin
‘(000) *)

Persentase Rumah
Tangga Miskin terhadap
Jumlah Pelanggan
Rumah Tangga 450VA
dan 900VA

2005

28.160,1

5,603.5

19.90

2006

28,886.2

5,983.1

20.71

2007

30,052.4

5,659.2

18.83

2008

31,005.9

6,279.8

20.25

2009

31.676,8

5,842.8

18.45

2010

32.348,3

5,572.2

17.23

Sumber: BPS dan PT PLN (dio lah)
*) Jumlah rumah tangga miskin pengguna listrik = Jumlah penduduk

Dokumen yang terkait

Dampak kebijakan subsidi listrik terhadap perekonomian dan kemiskinan di Indonesia