Musik Dalam Ibadah Kontemporer di GBI Medan Plaza: Suatu Kajian Struktur, Konteks dan Fungsi Sosial

MUSIK DALAM IBADAH KONTEMPORER
DI GBI MEDAN PLAZA :
SUATU KAJIAN STRUKTUR, KONTEKS DAN FUNGSI SOSIAL

TESIS
Oleh
ANDY K. MANURUNG
NIM. 097037006

PROGRAM STUDI
MAGISTER (S2) PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

: Musik Dalam Ibadah Kontemporer di GBI Medan Plaza:
Suatu Kajian Struktur, Konteks dan Fungsi Sosial

Nama

: Andy K. Manurung

Nomor Pokok

: 097037006

Program Studi : Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian Seni

Menyetujui
Komisi Pembimbing

Prof. Mauly Purba, M.A.,Ph.D

Rev. Dr. Paul Kwangjong Suh

NIP. 196108291989031003
Ketua

Anggota

Program Studi Magister (S2)

Fakultas Ilmu Budaya

Penciptaan dan Pengkajian Seni

Dekan,

Ketua,

Drs. Irwansyah Harahap, M.A.

Dr. Syahron Lubis, M.A.

NIP. 19621221 199703 1 001

NIP. 19511013 197603 1 001

Tanggal lulus: 5 Agustus 2011

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada
Tanggal 5 Agustus 2011

PANITIA PENGUJI UJIAN TESIS

Ketua

: Drs. Irwansyah Harahap, M.A. (______________________ )

Sekretaris

: Drs. Torang Naiborhu, M.Hum. ( ______________________ )

Anggota I

: Dra. Rithaony Hutajulu, M.A.

Anggota II

: Prof. Mauly Purba, M.A.,Ph. D. ( ______________________ )

Suh

Anggota III
( ______________________ )

( ______________________ )

: Rev. Dr. Paul Kwangjong

Universitas Sumatera Utara

PRAKATA

Pertama, puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, yang oleh kebaikan
dan kemurahanNya, tesis ini dapat saya selesaikan.
Saya menyampaikan terima kasih kepada Ketua Program Studi Magister (S2)
Penciptaan dan Pengkajian Seni Universitas Sumatera Utara, Drs. Irwansyah
Harahap, M.A., Sekretaris Program Studi Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian
Seni, Drs. Torang Naiborhu, M.Hum., atas kesempatan yang diberikan kepada saya
untuk mengikuti dan menyelesaikan Program Studi Magister (S2) Penciptaan dan
Pengkajian Seni di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Ucapan terima kasih yang teramat istimewa saya tujukan kepada
pembimbing saya Prof. Mauly Purba, M.A., Ph.D., sebagai Komisi Pembimbing dan
kepada Rev. Dr. Paul Kwangjong Suh (South East Asia Bible Seminary, Malang)
sebagai Anggota. Terima kasih atas dukungan dan bimbingan yang diberikan kepada
saya sehingga tesis ini selesai, khususnya kepada Rev. Dr. Paul yang telah menempuh
ribuan mil dari Malang untuk hadir di Medan, juga tidak lupa terima kasih kepada
keluaga Prof. Mauly Purba dan Ibu atas dukungan yang luar biasa. Tuhan
memberkati.
Terima kasih saya tujukan kepada Bapak Pdt. R. Bambang Jonan sebagai
Gembala Pembina GBI Rayon 4 atas materi kuliah Pujian dan Penyembahan, Bapak
Pdp. Obed Sembiring (Flow Music dan Departemen Musik GBI Medan Plaza),
kepada Bapak Pdt. Stefanus Liong (Gembala GBI MMTC), Bapak Andreas Siahaan

Universitas Sumatera Utara

(rekan-rekan imam musik di Departemen Musik GBI MMTC), kepada Bapak Hendy
Yunus, Darwin Tjemerlang dan seluruh pengerja GBI SWorD Swiss-Bel Hotel,
terima kasih atas support-nya, serta rekan-rekan kolega di STT Misi Internasional
Pelita Kebenaran.

Saya juga berterima kasih kepada Bapak Drs. Muhammad

Takari, M.Hum., Ph.D beserta para dosen yang tidak saya tuliskan satu persatu, atas
dukungan dan bimbingannya di Magister Penciptaan dan Pengkajian Seni, kepada Ibu
Dra. Rithaony Hutajulu, M.A. sebagai penguji atas masukan dan saran dalam tulisan
ini, serta rekan-rekan staf pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas HKBP
Nommensen Medan, Purwacaraka Music Studio Medan, Saudara Alvon Bernardus,
S.Sn., Bang Leo Sirait dan Kak Erika Sigalingging (Opus Le Music School), Yopi
Kuncoro, SE. (Yopi Music School), Bapak Ir. Reynold Nadeak (Redrow
Architecture), Sister Nathalie Marbun,S.S (Global English Course)
Saya juga sangat berterima kasih kepada istri tercinta Dinar br. Manullang dan
sumber inspirasiku Kimi Kanaan Manurung serta Khezia Shekinah Manurung yang
telah ikut “berjibaku” dalam perjuangan ini. Kepada keempat orang tua saya terkasih
yang ada di Medan dan di Jambi, beserta seluruh keluarga besar saya. Terima kasih
atas dukungan dan doanya. Saya berdoa agar anugerah damai sejahtera dan kasih
karunia Allah dicurahkan dari sorga atas kehidupan kita. Dalam nama Yesus, Amin.
Andy K. Manurung
Penulis

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

: Andy K. Manurung

Tempat/Tanggal Lahir

: Cot Girek, Aceh Utara / 8 Agustus 1977

Alamat

: Jalan Pelajar Gg. Alas No. 1 Medan

Agama

: Kristen

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

: Dosen Fakultas Bahasa & Seni Universitas HKBP
Nommensen Medan.
Staf Pengajar Purwacaraka Music Studio Medan.

Pendidikan

: 1. Sarjana Seni (S.Sn) dari Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas
Musikologi,

HKBP

Nommensen,

Jurusan

lulus tahun 2003
2. SMA Kristen Immanuel Medan, lulus tahun 1995

Pada tahun akademi 2009/2010 diterima menjadi mahasiswa pada Program
Studi Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian Seni Fakultas Ilmu Budaya,
Universitas Sumatera Utara.

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam
naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan,

Andy K. Manurung
NIM. 097037006
Tanda tangan dan nama terang

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Hal

HALAMAN JUDUL……………………………………………………….
HALAMAN PERSYARATAN……………………………………….........
HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………...

i

HALAMAN PENGESAHAN PANITIA PENGUJI..……………………...

ii

PRAKATA………………………………………………………………....

iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP……………………………………………..

v

PERNYATAAN……………………………………………………………

vi

DAFTAR ISI……………………………………………………………….

vii

DAFTAR TABEL……………………………………………….................

xi

ABSTRACT………………………………………………………………..

xii

INTISARI…………………………………………………………………..

xiii

BAB I.

PENDAHULUAN …………………………………………….

1

1.1

Latar Belakang……………………………………...

1

1.2

“Porsi” dan Genre Musik yang lebih Berbeda……...

15

1.2.1. Label Kharismatik………………………......

19

1.2.2. Gereja Sebagai Organisme dan Organisasi….

20

Mengkaji Struktur, Konteks dan Fungsi Sosial…….

21

1.3.1. Asumsi Dasar Penelitian …………………….

21

1.4

Lingkup Penelitian……………………………….....

23

1.5

Tujuan dan Kegunaan Penelitian ……………….......

23

1.3

Universitas Sumatera Utara

1.6

Terminologi dan Konsep……………………………

24

1.7

Landasan Teori ………………………………………..

27

1.7.1. A Functional Theory of Culture oleh Bronislaw Malinowski…………………………. ….
1.7.2. Used and Function Theory oleh Alan P.
Merriam……………………………………...

28

1.7.3. Teori Struktur Upacara dan Isi Simbolik
Dalam Agama Oleh Victor Turner………….

31

1.7.4. Music and Trance: A Theory of the Relation
Between Music and Possession oleh Gilbert
Rouget……………………………………….

32

1.7.5. Perspective in Music Theory oleh Paul
Cooper……………………………………….

34

1.8

Rumusan Masalah…………………………………..

35

1.9

Tinjauan Pustaka……………………………………

36

1.10

Metodologi Penelitian………………………………

38

1.10.1. Pendekatan Penelitian……………………...

38

Sistematika Penulisan………………………………

39

1.11

BAB II.

MELIHAT SEJARAH KHARISMATIK DAN TRANSFORMASI
MUSIK GEREJA……………...................

41

2.1

41

Sejarah Munculnya Gerakan Kharismatik…………...

Universitas Sumatera Utara

2.1.1. Berakar Dari Gerakan Montanis (170 M)…….

41

2.1.2. Latar Belakang Sejarah Gereja Bethel Indonesia…………………………………………..

48

2.1.3. Sejarah ‘Lahirnya’ GBI Medan Plaza………...

50

2.1.3.1. Gereja Mula-Mula Dengan 119 Jemaat
Dan Pengerja……………………………….

53

2.1.3.2. Tempat Ibadah Yang Nomaden Menjadi
Permanen………………………………........

55

2.2

Sejarah Musik Dalam Kekristenan…………………..

60

2.3

Apa Itu Musik Gereja………………………………...

62

2.4

Musik Dalam Ibadah Menurut Fungsionalisme……...

64

2.5

Kontekstualisasi Musik Gereja………………………

65

2.5.1. Lahirnya Istilah Kontekstualisasi…………….

65

2.5.2. Sejarah Transformasi Musik Dalam Gereja…..

74

2.5.3. GBI Medan Plaza: “Porsi” Musik Yang

2.6

Lebih Besar…………………………………...

79

2.5.4. Peranan Imam Musik………………………….

83

Musik Dalam Ibadah Kontemporer Terhadap Kajian Perilaku…………………………………………..

90

2.6.1. Sejarah Awal GBI Medan Plaza Menekankan Pujian Penyembahan…..……………. …..

92

2.6.2. Manifest (Spirit Possession, Trance) Mela-

2.7

lui Pujian Penyembahan………………… …..

93

‘Lahirnya’ Musik Kristen Kontemporer……………..

104

Universitas Sumatera Utara

2.8

Ibadah Kontemporer: Bentuk Pola Ibadah di Abad20…………………………………………………….

BAB III.

112

MUSIK DALAM IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA……………………………………………...

3.1

Pelayanan Musik………………………………..........

114

3.1.1. Merekrut dan Inisiasi Imam Musik…………...

114

3.1.2. Menentukan Lagu Dalam Ibadah…………….

117

3.2

Nashville Number System…………………………...

119

3.3

Penggunaan Nada Dasar (Key Signature)……………

123

3.4

Flowing………………………………………………

126

3.5

Improvisasi…………………………………………..

132

3.6

Pemakaian Kode Jari (Fingering Code)……………..

136

3.7

Modulasi (Modulation)………………………………

144

3.8

Pola Ending…………………………………………..

147

3.9

Kadens (Cadence)……………………………………

157

3.9.1. Authentic Cadence……………………………

160

3.9.2. Plagal Cadence……………………………….

161

3.9.3. Accidental Cadence………………………......

162

3.10

Tempo dan Dinamik…………………………………

163

3.11

Sorak-Sorai…………………………………………..

165

3.12

Open Chord…………………………………………..

169

3.13

Slash Chord………………………………………….

172

Universitas Sumatera Utara

3.14

BAB IV

Karakteristik Progresi Akord………………………...

174

3.14.1. Progresi Akord I-V/VII-vi-V-IV-iii-ii-V-I….

174

3.14.2. Progresi Akord IV-IV/V-iii-vi-ii-V-I……......

176

3.14.3. Progresi Akord I-VIIb-IV/vi-IV/vib-I/V-V-I…

178

3.14.4. Progresi Akord IV-vi-VIIb-V-I………………

180

IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN
PLAZA: KAJIAN STRUKTUR, KONTEKS

4.1

4.2

DAN FUNGSI SOSIAL……………………………

182

Etnografi GBI Medan Plaza………………………….

182

4.1.2. Perangkat Pendukung Ibadah…………………

186

4.1.3. Pelayanan Yang Terlibat Dalam Ibadah……...

195

Struktur Ibadah Yang Fleksibel dan Spontan……….

197

4.2.1. Ibadah Kontemporer Sebagai Sistem dan

4.3

Struktur Kebudayaan…………………………

200

4.2.2. Penyajian Ibadah Kontemporer………………

204

Ibadah Kontemporer Sebagai Sebuah Kontekstualisasi………………………………………………….

214

4.3.1. Ibadah Kontemporer Dalam Konsep Kon –
tekstualisasi…………………………………...

214

4.3.2. Hubungan Restorasi Pondok Daud dan Dominasi Musik…………………………………

215

Universitas Sumatera Utara

4.3.3. Kriteria Ibadah Yang Sukses…………………

223

4.3.4. Refleksi Kebudayaan Kharismatik Dalam
Perspektif Etnologi……………………………

224

4.3.5. Gerakan-Gerakan Kultural Kharismatik

4.4

4.5

BAB V

Dalam Perspektif Alkitabiah…………………

232

Aspek Sosiologis Agama…………………………….

238

4.4.1. Ungkapan Religius Perorangan……………….

239

4.4.2. Ungkapan Religius Kolektif………………….

240

Fungsi Sosial Musik dan Ibadah Kontemporer………

241

KESIMPULAN DAN SARAN………………………………

248

5.1

Kesimpulan………………………………………….

248

5.2

Saran…………………………………………………

251

KEPUSTAKAAN…………………………………………………………..

253

GLOSARIUM………………………………………………………….......

258

LAY OUT GBI MEDAN PLAZA…………………………………………..

263

LAMPIRAN FOTO-FOTO…………………………………………….......

264

LAMPIRAN AYAT-AYAT ALKITAB…………………………………...

267

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Muatan Isi Dari Musik Gereja (Rohani)………………………

71

Tabel 2. Perbedaan Tujuan Musik Sekuler Dan Musik Gereja…………

73

Tabel 3. Struktur Umum Penyajian Ibadah Kontemporer Di GBI Medan Plaza …………………………………………………..

199

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
This writing discussed about how Christian Charismatic movements used
music as a religious service to communicate to God in GBI Medan Plaza. By using
scientific and theology approach, this recitation will be doing by other approach
which used qualitative research method. By using several approach like
multidiscipline, interdiscipline and transdiscipline, this writing will researh how a
Charismatic religious service is—contemporary worship—done by using Christian
contemporary music. By using ethnology theories, it will be analyze how the cultures
of Charismatic applied as a congregation effort to fulfill their religious necessity.
A finding that have gotten from this research is as following, contemporary
worship performed flexible structurally and the characteristic is more spontaneous. It
is very different with traditional churches which is used liturgy “style”. In
contemporary worship, music has a dominant role when worship is performing. Thus
from the first second till the end of worship, music sounds always have a role to
produce and build an atmosphere in worship God. Music domination in worship
looks like a strong relevance by perspective of GBI Medan Plaza to restore tabernacle
of David which have overthrown. Tabernacle of David is full of praise and worship
(music) to God. Thus the worship is identical with music and it is a form of
contextual what does King David do when he worships God.
Christian contemporary music and contemporary worship have functions in
it’s social- culture context. Music and contemporary worship still can go on and
applies in GBI Medan Plaza because of social functions like : (a) social-culture
integration, (b) conservation and culture continuity, (c) education, (d) consolation, (e)
as tool of Evangelist, (f) as tool of communication, (g) as reflection of Christian
spiritual.

Keywords: contemporary worship, Christian contemporary worship, structure,
context, social function, tabernacle of David, praise and worship.

Universitas Sumatera Utara

INTISARI
Tulisan ini akan mengulas bagaimana sebuah gerakan Kristen Kharismatik
memanfaatkan musik dalam sebuah ibadah untuk berkomunikasi dengan Sang Khalik
di GBI Medan Plaza. Dengan menggunakan pendekatan saintifik dan teologis, kajian
ini akan dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Selain itu,
berbagai pendekatan baik multidisiplin, interdisiplin dan transdisiplin tulisan ini akan
meneliti bagaimana sebuah ibadah Kharismatik—ibadah kontemporer (contemporary
worship)—dilakukan dengan menggunakan musik Kristen kontemporer (Christian
contemporary music). Menggunakan teori-teori etnologi akan ditelaah bagaimana
kultur-kultur Kharismatik tersebut dilakukan sebagai sebuah usaha jemaatnya untuk
memenuhi kebutuhan rohani mereka.
Temuan yang di dapati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut, secara
struktur ibadah kontemporer dilakukan dengan fleksibel dan sifatnya lebih spontan.
Sangat berbeda dengan gereja-gereja tradisional yang menggunakan “gaya” ibadah
liturgi. Dalam ibadah kontemporer musik juga memiliki peran yang begitu dominan
saat ibadah dilakukan. Sehingga mulai detik pertama hingga ibadah berakhir, bunyi
musik selalu berperan dalam menciptakan dan membangun sebuah atmosfir yang
menyembah kepada Tuhan.
Dominasi musik dalam ibadah tampak sebagai sebuah relevansi yang kuat
dengan visi GBI Medan Plaza untuk memulihkan pondok Daud yang telah roboh.
Dimana dalam pondok Daud tersebut dipenuhi oleh pujian dan penyembahan (musik)
kepada Allah. Sehingga ibadah gereja ini identik dengan musik dan merupakan
bentuk kontekstualisasi apa yang Raja Daud lakukan ketika menyembah Allah.
Musik Kristen kotemporer dan ibadah kontemporer memiliki fungsi dalam
konteks sosio-budaya. Musik dan ibadah kontemporer tetap dapat berlangsung dan
dilakukan di GBI Medan Plaza karena fungsi-sungsi sosial. Musik dan ibadah
kontemporer memiliki fungsi-fungsi sebagai: (a) integrasi sosio-budaya, (b)
kelestarian dan kesinambungan budaya, (c) pendidikan, (d) hiburan, (e) sebagai
sarana penginjilan (misionari), (f) sebagai sarana komunikasi, (g) sebagai
pencerminan spiritualitas Kristen.

Kata kunci: ibadah kontemporer, musik Kristen kontemporer, struktur, konteks,
fungsi sosial, pondok Daud, pujian dan penyembahan.

Universitas Sumatera Utara

“Gereja ini —GBI Medan Plaza— menjadi pionir, karena gereja ini
memiliki pemimpin yang peka akan isi hati Tuhan” (Pdt. Joshua Ginting)

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
This writing discussed about how Christian Charismatic movements used
music as a religious service to communicate to God in GBI Medan Plaza. By using
scientific and theology approach, this recitation will be doing by other approach
which used qualitative research method. By using several approach like
multidiscipline, interdiscipline and transdiscipline, this writing will researh how a
Charismatic religious service is—contemporary worship—done by using Christian
contemporary music. By using ethnology theories, it will be analyze how the cultures
of Charismatic applied as a congregation effort to fulfill their religious necessity.
A finding that have gotten from this research is as following, contemporary
worship performed flexible structurally and the characteristic is more spontaneous. It
is very different with traditional churches which is used liturgy “style”. In
contemporary worship, music has a dominant role when worship is performing. Thus
from the first second till the end of worship, music sounds always have a role to
produce and build an atmosphere in worship God. Music domination in worship
looks like a strong relevance by perspective of GBI Medan Plaza to restore tabernacle
of David which have overthrown. Tabernacle of David is full of praise and worship
(music) to God. Thus the worship is identical with music and it is a form of
contextual what does King David do when he worships God.
Christian contemporary music and contemporary worship have functions in
it’s social- culture context. Music and contemporary worship still can go on and
applies in GBI Medan Plaza because of social functions like : (a) social-culture
integration, (b) conservation and culture continuity, (c) education, (d) consolation, (e)
as tool of Evangelist, (f) as tool of communication, (g) as reflection of Christian
spiritual.

Keywords: contemporary worship, Christian contemporary worship, structure,
context, social function, tabernacle of David, praise and worship.

Universitas Sumatera Utara

INTISARI
Tulisan ini akan mengulas bagaimana sebuah gerakan Kristen Kharismatik
memanfaatkan musik dalam sebuah ibadah untuk berkomunikasi dengan Sang Khalik
di GBI Medan Plaza. Dengan menggunakan pendekatan saintifik dan teologis, kajian
ini akan dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Selain itu,
berbagai pendekatan baik multidisiplin, interdisiplin dan transdisiplin tulisan ini akan
meneliti bagaimana sebuah ibadah Kharismatik—ibadah kontemporer (contemporary
worship)—dilakukan dengan menggunakan musik Kristen kontemporer (Christian
contemporary music). Menggunakan teori-teori etnologi akan ditelaah bagaimana
kultur-kultur Kharismatik tersebut dilakukan sebagai sebuah usaha jemaatnya untuk
memenuhi kebutuhan rohani mereka.
Temuan yang di dapati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut, secara
struktur ibadah kontemporer dilakukan dengan fleksibel dan sifatnya lebih spontan.
Sangat berbeda dengan gereja-gereja tradisional yang menggunakan “gaya” ibadah
liturgi. Dalam ibadah kontemporer musik juga memiliki peran yang begitu dominan
saat ibadah dilakukan. Sehingga mulai detik pertama hingga ibadah berakhir, bunyi
musik selalu berperan dalam menciptakan dan membangun sebuah atmosfir yang
menyembah kepada Tuhan.
Dominasi musik dalam ibadah tampak sebagai sebuah relevansi yang kuat
dengan visi GBI Medan Plaza untuk memulihkan pondok Daud yang telah roboh.
Dimana dalam pondok Daud tersebut dipenuhi oleh pujian dan penyembahan (musik)
kepada Allah. Sehingga ibadah gereja ini identik dengan musik dan merupakan
bentuk kontekstualisasi apa yang Raja Daud lakukan ketika menyembah Allah.
Musik Kristen kotemporer dan ibadah kontemporer memiliki fungsi dalam
konteks sosio-budaya. Musik dan ibadah kontemporer tetap dapat berlangsung dan
dilakukan di GBI Medan Plaza karena fungsi-sungsi sosial. Musik dan ibadah
kontemporer memiliki fungsi-fungsi sebagai: (a) integrasi sosio-budaya, (b)
kelestarian dan kesinambungan budaya, (c) pendidikan, (d) hiburan, (e) sebagai
sarana penginjilan (misionari), (f) sebagai sarana komunikasi, (g) sebagai
pencerminan spiritualitas Kristen.

Kata kunci: ibadah kontemporer, musik Kristen kontemporer, struktur, konteks,
fungsi sosial, pondok Daud, pujian dan penyembahan.

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang
—Saat akan menghadiri ibadah di GBI Medan Plaza, mata saya
dimanjakan terlebih dahulu oleh berbagai produk yang ditawarkan di
gerai-gerai dan toko-toko sepanjang perjalanan saya menuju gereja,
mulai dari lantai satu hingga ke lantai enam di mana GBI Medan Plaza
tersebut berada. Saya lebih memilih menggunakan escalator daripada lift
yang penuh karena disesaki oleh jemaat yang juga hendak beribadah
seperti saya. Tentu sebuah pengalaman yang belum pernah saya rasakan
sebelumnya ketika saya hendak beribadah di gereja, di mana gereja
tradisional 1 biasanya tidak berdiri dan melakukan aktivitas ibadah di
tempat-tempat publik dan elit, gedung-gedung bertingkat seperti hotel,
mall, plaza dan pusat perbelanjaan lainnya.
Tentu saja orang tidak sepenuhnya mengira bahwa saya hendak beribadah
ke gereja—jika mereka tidak melihat saya menggenggam Alkitab
ditangan saya 2 —selain karena di gedung yang sama dan atap yang sama
terdapat begitu banyak tempat yang bisa saya tuju selain beribadah ke
gereja yang ada di lantai enam dan tujuh, juga karena baju yang saya
gunakan lebih casual tidak formil seperti di gereja tradisional yang
identik dengan pakaian formil dalam beribadah. Ketika saya tiba di lantai
1

Sebuah terminologi yang diberikan kepada gereja-gereja yang ibadahnya dilakukan dengan
liturgikal. Paul Basden mengarahkan terminologi tersebut umumnya diberikan kepada gereja Protestan
dan gereja Katolik (Paul Basden, The Worship: Finding a Style to Fit Your Church, Downers
Grove:Intervarsity,1999.,hlm.42)
2
Ada beberapa kemungkinan jemaat tidak membawa Alkitab ke gereja, pertama:
kenyataannya saat ini telah tersedia Digital Bible yang dapat dengan mudah di simpan di dalam
telepon selular atau perangkat (gadget) lainnya sehingga saat ibadah
ketika pengkhotbah
memerintahkan jemaat membaca Firman Tuhan, kita mungkin akan melihat beberapa orang justru
sedang mengutak-atik telepon selularnya (kemungkinan sedang mencari ayat tertentu). Yang kedua, di
gereja kharismatik tersedia in focus dengan screen yang siap menampilkan ayat-ayat yang sedang
menjadi topik bahasan dalam khotbah, sehingga jemaat merasa tidak perlu membawa Alkitab dari
rumah.

Universitas Sumatera Utara

enam, lobby gereja telah disesaki oleh jemaat yang antri menunggu
masuk (ibadah jam sebelumnya sudah hampir usai, terdengar samarsamar doa syafaat sedang dipanjatkan).
Setibanya di pintu masuk, dengan sedikit berdesakan saya masih sempat
disambut dengan hangat dan senyuman oleh diaken 3 dan diakones yang
mengenakan pakaian hitam putih, sambil mempersilahkan saya masuk
tentunya tidak lupa diaken tersebut membagikan lembaran warta jemaat
kepada saya. Setelah memilih tempat duduk, saya memandangi sekeliling
ruangan gereja, cukup luas untuk ukuran sebuah gereja jika dibandingkan
dengan gereja-gereja lain yang selama ini pernah saya kunjungi.
Dengan kapasitas gedung
yang terbilang cukup besar, mampu
4
menampung ±3300 jemaat, tentu tidak mudah bagi diaken untuk
mengenal secara fisik maupun secara personal setiap jemaat yang hadir di
ibadah. 5 Seperti penuturan Bapak Simanjuntak salah seorang diaken yang
pernah melayani di GBI Medan Plaza, beliau mengatakan bahwa saat
ibadah berakhir dan saat akan memulai ibadah berikutnya merupakan
suasana yang penuh sesak, karena jemaat yang hendak beribadah
berusaha masuk, sedangkan jemaat yang selesai ibadah berusaha keluar.
Walaupun sudah dikoordinasikan agar masuk dan keluar melalui pintu
tertentu, tetapi dengan jumlah jemaat yang mencapai ribuan dan berusaha
keluar dan masuk secara bersamaan menjadikan suasana berdesakan.
Terdapat panggung (stage)—dalam istilah teologia disebut altar—yang
diatasnya terdapat podium kayu yang memiliki tanda salib di depannya
seakan-akan menegaskan bahwa kita sedang berada di gereja, juga
dilengkapi seperangkat alat band dan sound system Electro Voice (EV)
tergantung di langit-langit (line arai), juga terdapat beberapa kamera
video profesional yang siap menampilkan jalannya ibadah kedalam layar
yang besar yang terpasang di atas mimbar. Semua perangkat hardware
3

Pejabat/pelayan dalam jemaat purba yang melayani para janda dan orang miskin. Namun
dalam konteks gereja sekarang diaken (pria) dan diakones (wanita) melayani sebagai yang menerima
dan meyambut jemaat di gereja.
4
Persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus Kristus, baik yang di satu tempat maupun
keseluruhan persekutuan Kristen
5
Salah satu pola gereja Kharismatik saat ini adalah jumlah jemaat yang super-besar (mega
church) namun Wilfred J. Samuel mengungkapkan dalam gereja yang super-besar koinonia
(persekutuan) tidak berfungsi dengan maksimal. (Wilfred J. Samuel, Kristen Kharismatik, BPK
Gunung Mulia, Jakarta.2007.hlm.43.

Universitas Sumatera Utara

tadi mungkin biasa ditemukan dalam suasana konser artis-artis
profesional, tetapi saat ini telah “mampir” di gereja. Kebaktian dimulai
dengan doa, sang pemimpin pujian (worship leader) 6 dan penyanyi latar
(singer) bernyanyi diiringi oleh combo band dengan membawa pujian dan
penyembahan 7 yang dilantunkan ±8-10 kali pengulangan. Jemaat
kemudian diundang untuk bangkit berdiri sambil bernyanyi, melompat,
menari, bersalaman, bersorak karena gembira, menangis, mengepalkan,
mengacungkan tangan, dan sebagainya. Sementara itu bagi anggota
jemaat yang telah lanjut usia, diperbolehkan tetap duduk dan menikmati
musik yang terkesan “hingar-bingar”.
Setelah 45-50 menit ibadah berlangsung, saatnya bagi pengkhotbah
menyampaikan Firman Tuhan, lalu pengkhotbah mulai naik ke altar,
bernyanyi dan berdoa dengan suara ringan. Sambil menyapa jemaat,
pengkhotbah
mengeluarkan
gadget-gadget
pendukung
dalam
menyampaikan materi khotbah misalnya, Notebook, Handphone, I-Pad,
Blackberry dan sebagainya. 8 Sepanjang khotbah, diselingi beberapa
nyanyian yang relevan dengan tema khotbah, menggunakan kisah-kisah
kesaksian tentang kesembuhan, Roh Kudus, 9 tentang berkat,
menggunakan berbagai ilustrasi untuk menyampaikan Firman Tuhan dan
diselingi humor-humor untuk menghindari perasaan kantuk jemaat.
Khotbah dilakukan dengan sangat sistematis, menyerupai orasi, berapiapi, suara yang “menggelegar” dan cenderung komunikatif dua arah
dengan mengajak jemaat untuk berdialog.

6

Di lingkungan GBI Medan Plaza dan kalangan Kharismatik istilah worship leader dan singer
lebih populer digunakan, sehingga kedepannya dalam tulisan ini saya akan gunakan istilah tersebut.
7
Istilah pujian dan penyembahan dapat mengacu kepada sebuah bentuk pola ibadah dan
repertoar lagu. Kata pujian atau penyembahan yang digunakan pada konteks yang berbeda memiliki
arti yang berbeda juga.
8
Pengkhotbah dalam gereja ini juga biasa menggunakan Microsoft Power Point untuk
menyampaikan materi khotbah, sesuatu perlengkapan yang tidak digunakan dalam khotbah-khotbah
dalam gereja-gereja tradisional.
9
Oleh Roh dan Firman-Nya Allah menciptakan langit dan bumi dan memberi nafas kepada
manusia (Kejadian 1:2;2:7; Mazmur 33:6;104:23). Roh Allah juga menggerakkan orang-orang
tertentu: hakim-hakim, raja-raja, nabi-nabi. Dalam Perjanjian Baru seringkali disebut:Roh Kudus atau
Roh Allah atau Roh Yesus (Kisah Rasul 16:17) atau Roh Anak Allah (Galatia 4:6) ialah Roh pelaksana
kehendak Allah di bumi. Ia sebagai Penghibur (penolong) melanjutkan dan menerapkan karya
Keselamatan Yesus. Dialah dinamik pekabaran Injil. Ia memberi kesaksian Allah dalam hati orangorang percaya bahwa mereka anak-anak Allah (Roma 8:15-16) [Seluruh ayat Alkitab terdapat pada
lembar lampiran pada tesis ini]

Universitas Sumatera Utara

Tulisan di atas sengaja saya awali dalam topik ini untuk memberikan
gambaran bagaimana ibadah dilakukan oleh gereja masa kini. Gambaran suasana
ibadah persekutuan di atas mencerminkan sejumlah ciri khas gerakan 10 dan
persekutuan gereja Kharismatik yang juga dapat dijumpai dibanyak tempat di seluruh
belahan dunia. Perubahan-perubahan dan perkembangan-perkembangan yang terjadi
dialami gereja selama di dunia merupakan sebuah sejarah yang sangat panjang selama
±2000 tahun. Sejarah gereja menceritakan tentang kisah pergumulan antara Injil
dengan bentuk-bentuk yang digunakan untuk mengungkapkan Injil tersebut. 11
Judul tulisan ini—saya harap—akan mewakili terhadap kerinduan saya dalam
mengkaji bagaimana sebuah ibadah yang dilakukan di GBI Medan Plaza yang
memanfaatkan musik

sebagai media doa. Musik yang digunakan dalam ibadah

Kharismatik merupakan musik dengan gaya yang sangat berbeda dari gereja-gereja
tradisional yang himne. Kita melihat terjadi perkembangan perlakuan terhadap cara
menyanyi jemaat dalam ibadah. Awalnya nyanyian jemaat dalam ibadah hanya
mazmur 12 saja, kemudian berkembang dengan adanya himne. Himne adalah nyanyian
berbait dengan syair baru (bukan dari kitab suci). Himne dan liturgi dikembangkan

10

Gerakan dalam tulisan ini dapat mengacu kepada aktivitas gerak-gerik olah tubuh, seperti:
melompat, menari, bertepuk tangan, dan sebagainya. Namun juga dapat mengacu kepada sebuah
periode masa perkembangan gereja seperti Gerakan Pentakostal, Gerakan Kharismatik dan sebagainya.
Sehingga pada konteks yang berbeda kata gerakan akan memiliki arti yang berbeda pula.
11
Dr. Th.van den End, Harta dalam Bejana, BPK Gunung Mulia.Jakarta.2004
12
Mazmur ialah doa gereja yang dinyanyikan. Oleh karena itu, mazmur harus mendapat
tempat liturgis sendiri di dalam ibadah. (G.W.Oberman, De Gang van het Kerkelijk Jaar,’s
Gravenhage,1947.blz.109vv dalam Dr. J.L.Ch.Abineno, Unsur-Unsur Liturgia Yang Dipakai Oleh
Gereja-Gereja di Indonesia,BPK Gunung Mulia,Jakarta.2005, hlm.70. Mazmur juga merupakan nama
kitab yang ditulis oleh Raja Daud pada Perjanjian Lama.

Universitas Sumatera Utara

oleh dua tokoh besar yaitu Ambrosius (333-397) dan Gregorius Agung (590-604).13
Ambrosius kemudian dianggap sebagai Bapak Himne Katholik karena nyanyian yang
diciptakan oleh kedua tokoh ini digunakan sebagai model himne bagi generasi
berikutnya dan sangat mempengaruhi perkembangan musik Barat pada jaman-jaman
selanjutnya. 14
Sebagai sebuah kehidupan bersama religius yang berpusat pada Kristus,
gereja sarat akan aktivitas seni, khususnya musik. Sebagian besar dari hal tersebut
termanifestasi dalam ibadah. Ibarat dua buah sisi mata uang, musik dan ibadah tidak
dapat dipisahkan dalam sebuah tata ibadah gereja. Ibadah merupakan salah satu cara
jemaat untuk berhubungan dengan Sang Khalik secara dramatis-simbolis. 15 Secara
historis, gereja telah meyakini bahwa ibadah merupakan tindakan komunal yang
ditawarkan dalam bentuk ucapan syukur sebagai pemberian kepada Allah, suatu
penerimaan akan Firman Allah dan berbagai anugerah dari Allah, juga sebagai
tanggapan atas pemberian dari setiap orang, semua yang kurang dari itu bukanlah
maksud sebenarnya dari ibadah itu sendiri.
David R. Ray mengatakan jika sebuah gereja ingin ibadahnya menjadi
autentik dan kontekstual, ibadah tersebut haruslah merefleksikan bagaimana jemaat
itu sesungguhnya. Suatu ibadah jemaat yang autentik merefleksikan siapa diri mereka
secara kultural, waktu dan tempat mereka tinggal, dan iman dari hati dan pikiran
13

Stanley Sadie, The New Grove-Dictionary of Music and Musician-Volume VII, hlm.696
Albert Seay, Music in the Medieval World, Prentice-Hall,Inc.1975, Englewood Cliffs, New
Jersey., hlm.48.
15
F.W Fore, Para Pembuat Mitos dalam Kristian Feri Arwanto. 11 Oktober 2006 dalam situs
www.gkj.or.id
14

Universitas Sumatera Utara

mereka. Beribadah secara autentik dan kontekstual tidak semudah dan dapat diduga
seperti dengan cara biasanya dilakukan atau seperti diambil dari buku salah satu
denominasi, namun jauh lebih dapat dinikmati, diimani dan efektif16 .
Selain

perubahan

dalam teologi dogmatika, dalam gereja juga terjadi

perubahan dan kontekstualisasi pola ibadah serta musik yang digunakan. Alkitab
menuliskan peran musik dalam kehidupan serta ibadah jemaat, namun setiap gereja
memiliki peran, “gaya musik” dan “porsi” musik yang berbeda-beda pula. Dalam
gereja tradisional misalnya, penyembahan dilakukan dengan lagu-lagu yang
dinyanyikan dari buku-buku himne yang sudah lama dan digunakan sebatas aktivitas
liturgikal 17 dengan pola ibadah teratur.
Pola ibadah yang sifatnya liturgikal merupakan sesuatu yang telah lama
menjadi pertentangan hangat bagi kaum gereja tradisional dan Kharismatik. Kata
liturgi sendiri berasal dari bahasa Yunani litourgia, yang artinya mempersatukan
orang-orang. 18 Secara populer masyarakat awam mengartikan liturgi sebagai upacara
gereja, atau tatacara ibadah gereja, dan sebagainya. Sangat berbeda dengan yang
dilakukan oleh kalangan gereja-gereja Kharismatik, musik dalam ibadah sifatnya
lebih fleksibel, spontan, tidak dilakukan dengan struktur yang “kaku”.
Ketika gereja Kharismatik menggunakan musik yang dikenal sebagai musik

16

David R. Ray, Gereja Yang Hidup, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2000.,hlm.41
Tatacara liturgikal dalam kekristenan merupakan cara-cara yang ibadah yang digunakan
dalam Synagogue rumah doa, pujian, dan pengajaran agama kaum Yahudi.(Albert Seay,
Op.Cit.,hlm.9.)
18
Alexander Schemann, Sacraments and Orthodoxy, (New York, Herder and
Herder,1965,hlm.28. dalam Wilfred J. Samuel,Op.Cit.,hlm.71.
17

Universitas Sumatera Utara

Kristen kontemporer (Christian contemporary music) 19 dalam sebuah ibadah,
kalangan gereja tradisional justru menganggapnya sebagai sebuah ketidakmengertian
akan arti himne dan telah “mencuri” kemuliaan Allah. Penggunaan musik Kristen
kontemporer dengan peralatan combo band—gaya musik dan aransemennya seperti
musik populer umumnya—tersebut kemudian merefleksikan sebuah ibadah yang
disebut sebagai ibadah kontemporer (contemporary worship) 20 yang sifatnya dinamis
dan penuh antusiasme.
Kalangan industri rekaman di Indonesia, produser dan pengamat musik
memberi label yang berbeda terhadap musik-musik yang memiliki pesan Injil, yakni
menyebutnya sebagai musik atau rohani. Sedangkan untuk lagu atau musik yang
bernafaskan Islam mereka menyebutnya sebagai musik atau lagu religi. Pembedaan
ini selain untuk memberi klasifikasi juga lebih bertujuan kepada motif penjualan di
pasar industri musik Indonesia.
Di luar dari perilaku penyanyinya, musik rohani merupakan musik yang
mengandung nilai-nilai ibadah. Musik rohani adalah musik gerejawi, namun musik
gereja adalah musik yang dipakai dalam ibadah gereja. 21 Sementara itu kalangan
gereja Kharismatik memiliki pandangan yang berbeda terhadap musik-musik yang
19

Istilah Christian Music Contemporer dianalogikan sebagai jenis musik gereja yang diluar
kaidah-kaidah musik maupun instrumentasi gereja tradisi yang menggunakan musik bergaya himne
diiringi piano,organ dan sebagainya dalam setiap ibadah, sedangkan Christian Music Contemporer
identik dengan terminologi musik masa kini dengan perangkat musik combo band komplit. Winardo
Saragih, Misi Musik, Yogyakarta, Andi Offset,hlm.76
20
Ibadah kontemporer (contemporary worship) merupakan ibadah yang sifatnya lebih
fleksibel dan tidak diatur dalam sebuah rutinitas yang tersusun secara liturgis.
21
Aris Sudibyo B.C.M (Kepala Program Apresiasi dan Pengembangan Musik Gereja Petra
Surabaya) hasil wawancara dengan majalah Tiang Api, dalam Winnardo Saragih, Ibid., hlm.89.

Universitas Sumatera Utara

ada di luar gereja. Mereka menyebutnya sebagai musik “dunia”22 yang sangat
berbeda tujuan dengan musik-musik Kristen kontemporer. Bagi sebagian orang
sekilas tidak ada yang berbeda antara musik-musik Kristen kontemporer dengan
musik-musik “dunia” tadi, baik dari segi instrumentasi maupun aspek musikal, seperti
aransemen dan iramanya. Letak perbedaan yang signifikan justru hanya pada
penggunaan lirik lagu tersebut.
Musik Kristen kontemporer cenderung menggunakan lirik-lirik Alkitabiah
yang diarahkan vertikal kepada Allah, sedangkan musik “dunia” menggunakan liriklirik yang lebih diarahkan horizontal kepada sesama manusia atau alam. Di dalam
musik gereja penggunaan lirik yang Alkitabiah mendapat perhatian khusus, karena
melalui lirik tersebut akan muncul interpretasi musikal yang akan menghidupkan lirik
tersebut. Dengan kekuatan lirik akan terjadi “aklamasi” dan “proklamasi” tentang
iman percaya di dalam nyanyian. 23 Seorang imam musik sendiri ketika mengikuti
sebuah mata kuliah pujian dan penyembahan 24 di STT Misi Internasional Pelita
Kebenaran berbicara secara terus terang, bahwa ia mengalami kesulitan membedakan
antara musik “dunia” dan musik gereja—yang kontemporer—jika tidak mendengar
dari liriknya. Hal ini terutama karena musik “dunia” dan musik Kristen kontemporer

22

Dibaca “sekuler”, dalam tulisan ini saya akan menggunakan istilah “dunia” karena kata ini
lebih familiar di lingkungan gereja.
23
Aklamasi: jemaat bernyanyi dan bermusik karena ingin memberikan jawaban iman percaya
melalui puji-pujian atas karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Allah melalui Yesus Kristus.
Proklamasi: jemaat ataupun gereja juga harus memberitakan bagi orang lain tentang perbuatanperbuatan Allah yang dahsyat melalui Yesus Kristus.
24
Mata kuliah yang di asuh oleh Pdp.Obed Sembiring dan Pdt. R Bambang Jonan di STT Misi
Internasional Pelita Kebenaran

Universitas Sumatera Utara

memiliki kesamaan dalam berbagai aspek musikal. Bapak Pdp.Obed Sembiring 25
mengatakan agar berhati-hati memilih lagu yang akan digunakan dalam ibadah.
Menurut Bapak Pdp. Obed Sembiring bahwa banyak musik yang mengaku atau
dianggap sebagai lagu rohani tetapi justru tidak ada kata Yesus, Tuhan atau Allah
disitu. 26
Hal ini kemudian menarik perhatian saya dan kemudian saya mencoba
menelaah hal tersebut. Saya kemudian teringat ketika diakhir tahun 2010 dalam
sebuah perayaan Natal di sebuah gereja, dimana saya termasuk salah seorang pemain
musik di acara ibadah Natal tersebut dalam rangka mengiringi sebuah vokal grup.
Vokal grup tersebut justru menyanyikan sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Alm.
Chrisye dengan judul Hening, yang sama sekali tidak ada kata Yesus dan Allah di
dalamnya. Pdp. Obed Sembiring mengatakan memang terdapat kata Tuhan
disebutkan di lagu tersebut, tapi Tuhan yang mana? Tidak mengarah kepada satu
sosok pribadi, yaitu Yesus.
Dalam tulisan ini saya perlu mengulas unsur-unsur apa yang menjadikan
sebuah lagu bisa dikatakan sebagai lagu atau musik gereja. Karena saya menemukan
banyak kasus dalam lagu-lagu lain, sebagian orang menanggapi sebagai lagu rohani,
sementara pihak lain tidak demikian. Seperti lagu Ruth Sahanaya “Kaulah
25

Pdp.Obed Sembiring adalah Ketua Departemen Musik GBI Rayon IV Medan Plaza,
Direktur Sekolah Musik FLOW yang juga dibawahi oleh GBI Medan Plaza.
26
Pdp.Obed Sembiring mengatakan “Tidak semua musik yang memiliki kata Tuhan itu
sebagai lagu rohani” (Disampaikan dalam sebuah kuliah Pujian dan Penyembahan di STT Misi
Internasional Pelita Kebenaran pada tanggal 25 Februari 2011)

Universitas Sumatera Utara

Segalanya”, atau lagu Josh Groban “You Raise Me Up” yang sering ‘mampir’ di
gereja. Hal ini bisa terjadi karena setiap pihak memiliki kriteria yang berbeda dalam
memberi label terhadap sebuah lagu sehingga menjadi lagu rohani. Hal ini bisa saja
akibat ketidakmengertian, minimnya pemahaman, atau karena batasan dan kriteria
yang berbeda-beda pada institusi-institusi gereja sehingga belum ada kriteria yang
“pas” dan dapat diterima banyak pihak untuk menentukan sebuah lagu rohani atau
tidak.
Hal ini mungkin akan menjadi sebuah perdebatan yang cukup serius bagi
kalangan gereja Kharismatik dan di luar Kharismatik. Khususnya dalam tulisan ini
saya mengaitkan permasalahan ini dengan musik Kristen kontemporer dan
Departemen Musik yang ada di GBI Medan Plaza yang sudah memiliki konsepkonsep dan batasan yang jelas terhadap sebuah lagu, mana yang layak diberi label
lagu rohani (gereja) dan yang tidak layak—tanpa memandang genre 27 musik—seperti
pernyataan Bapak Pdp.Obed Sembiring di atas. Sementara bagi kalangan di luar
GBI Medan Plaza memiliki pandangan yang lebih luas dan batasan yang sedikit
lebih “longgar” terhadap sebuah lagu yang layak diberi label rohani atau tidak.
Tujuan saya tidak untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi justru
saya merasa perlu dalam tulisan ini untuk menjelaskan bagaimana perbedaan musik
yang layak diberi label sebagai musik gereja dan musik “dunia” (sekuler)
Selanjutnya dalam tulisan ini akan mengulas bagaimana sesungguhnya
27

Genre adalah jenis musik, kategori, seperti symphony, himne, ballad, march, atau opera.
(David Willoughby, The World of Music 3rd Edition, Brown & Benchmark Publisher, Susquehanna
University,1996.hlm.26)

Universitas Sumatera Utara

struktur bentuk dari sebuah ibadah yang kontemporer tersebut. Ketika ibadah tersebut
dilakukan apa-apa saja yang dilakukan oleh para jemaat, oleh hamba Tuhan, dan
semua orang yang memiliki andil sehingga ibadah tersebut dapat berjalan dengan—
saya meminjam istilah Pdt. R. Bambang Jonan—“sukses”. Bagaimana sebuah ibadah
kontemporer dapat dikatakan “sukses” dan apa yang menjadi kriteria sebuah ibadah
kontemporer “sukses” juga menjadi perhatian menarik bagi saya untuk menelaahnya
lebih jauh.
Kajian lebih jauh juga saya tujukan pada ibadah kontemporer tersebut saat
dilakukan, kemudian melalui aktivitas ibadah tersebut akan terlihat begitu banyak
kebudayaan-kebudayaan Kharismatik yang termaktub di dalamnya melalui penyajianpenyajian musik Kristen kontemporer. Adakah relevansi yang kuat antara refleksi
kebudayaan Kharismatik yang dilakukan jemaat dengan musik Kristen kontemporer,
atau ibadah kontemporer dengan visi GBI Medan Plaza untuk memulihkan pondok
Daud, 28 sehingga muncul sebuah pola ibadah yang menurut Wilfred J. Samuel
cenderung berkesan selebratif, “hingar bingar” dan antusias. Dimana dalam suasana
yang selebratif jemaat merasa begitu dinamis serta aktif dalam ibadah termasuk
melakukan gerakan-gerakan yang dilakukan atas tujuan tertentu. Perilaku jemaat
dalam ibadah kontemporer sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh kemampuan

28

Pondok Daud adalah pola ibadah yang dipenuhi sorak sorai dan puji-pujian, sukacita,
ucapan syukur, dan dapat dimasuki oleh semua bangsa (Lihat Mazmur 86:9). Pondok Daud merupakan
satu pola ibadah yang sangat menekankan pujian dan penyembah yang dinominasi serta peranan
musik sangat penting didalamnya, ibadah pujian dan penyembahan akan membawa kita kepada salah
satunya adalah selebratif atau perayaan. Alkitab mencatat ada tiga tempat pemujaan yang digunakan
untuk bersekutu dengan Tuhan. Ketiga tempat tersebut adalah Tabernakel Musa, Tabernakel (Bait)
Salomo dan Tabernakel (pondok) Daud

Universitas Sumatera Utara

pemimpin pujian (worship leader), imam musik 29 (worship musician) membangun
komunikasi yang aktif. 30 Worship leader merupakan pelayanan yang memerlukan
kecakapan tersendiri, yang berbeda dengan pelayanan imam musik (worship
musician), pendeta, penatua atau penyanyi (singer). Worship leader memiliki beban
yang berat untuk memimpin seluruh jemaat (mereka yang sakit, letih, sakit hati, keras
kepala, malas, tak dapat diajar) ke dalam suatu suasana yang menciptakan hubungan
dengan Allah baik secara pribadi maupun jemaat secara keseluruhan.31 Ada tiga tugas
worship leader dalam sebuah ibadah kontemporer, yaitu: (1) membawa seluruh
jemaat ke dalam hadirat Allah sehingga mereka dapat memuji dan menyembah-Nya
dan mendengarkan-Nya dalam setiap ibadah, (2) mengkoordinir dan menyatukan para
penyanyi dan pemain musik dalam pelayanan mereka kepada Allah dan dalam
jemaat, (3) untuk mempersiapkan jemaat pada pelayanan Firman Tuhan. Kemudian
saya akan melihat perilaku jemaat dan aktivitas dalam ibadah tersebut melalui
perspektif sosiologis.
Sebuah ibadah kontemporer menurut pandangan ilmu sosial merupakan
sebuah pertunjukan seni (performing art) yang juga dengan mudah dipahami bagi
pandangan masyarakat awam. Dalam sebuah kesempatan bersama orang tua, saya
dan keluarga menghadiri satu ibadah di GBI Resto Surabaya dan merupakan salah

29

Imam adalah suatu jabatan dalam umat Israel yang penting peranannya. Tugasnya:
mempersembahkan korban, mengadakan doa syafaat dan memberi berkat. Dalam gereja, imam musik
adalah jabatan yang bertugas melayani dalam bidang musik
30
Secara teologi pendapat ini tidak diterima, seorang worship leader dan imam musik tidak
mengandalkan kemampuannnya dalam melayani Tuhan, melainkan karena Tuhanlah yang
memampukan mereka melalui Roh Kudus.
31
Mike & Viv Hibbert, Pelayanan Musik, Penerbit Andi, Yogyakarta,1988,hlm.90.

Universitas Sumatera Utara

satu cabang GBI Medan Plaza. Sepulang dari ibadah dalam perjalan pulang di mobil
orang tua saya berkata “Seperti melihat konser saya tadi!”. Saya menafsirkan orang
tua saya memiliki konsep yang cukup jelas bahwa apa yang disaksikannya adalah
sebuah pertunjukan seni seperti yang ia juga lihat dan kenal selama ini dibanyak
media. Karena ia menyaksikan seseorang menyanyi (worship leader) di panggung
diiringi oleh musisi (imam musik) yang memainkan seperangkat alat musik seperti,
piano, synthesizer, gitar bas, drum dan beberapa penyanyi latar (backing vocal).
Sehingga orang tua saya menyimpulkannya bahwa yang ia saksikan lebih menyerupai
sebuah konser daripada sebuah ibadah di gereja yang selama ini ia kenal.
Menurut Murgiyanto (1995) 32 kajian-kajian keilmuan mengenai seni terbagi
dalam beberapa cabang seni, salah satunya adalah seni pertunjukan (performing art
atau cultural performance) yang didalamnya termasuk: seni musik, tari, teater, yang
juga meliputi seperti: sirkus, kabaret, olah raga, ritual, upacara, prosesi pemakaman,
dan lain-lain.
Dalam sebuah ibadah kontemporer, proses “membangun” mesbah 33 bagi
Tuhan melalui doa, pujian dan penyembahan yang dipenuhi atmosfir penyembahan
yang intim dengan Tuhan dilakukan ketika lagu penyembahan pertama dinyanyikan.
Atmosfir penyembahan adalah menciptakan atau membangun suasana dalam
32

Dalam Muhammad Takari, et al Masyarakat Kesenian di Indonesia, Studia Kultura Fakultas
Sastra, Universitas Sumatera Utara,2008.hlm.5
33
Mesbah (the altar of God) merupakan tempat pertemuan manusia dengan Tuhan, dimana
manusia menyembah dan menaikkan doa-doa kepada Tuhan dan Tuhan mencurahkan berkat-Nya
(1Raja-Raja 18:36-37). Mesbah juga sebagai dasar tempat korban diletakkan. Sebenarnya tubuh
manusia juga mesbah dimana korban-korban itu diletakkan, artinya setiap orang Kristen harus
memberikan korban kepada Tuhan melalui puji-pujian.

Universitas Sumatera Utara

keintiman (intimacy) dengan Tuhan melalui musik sehingga menghadirkan suasana
yang penuh dengan hadirat Tuhan (His presence). 34 Dalam hadirat Tuhan tersebut
ada, sukacita (Mazmur 16:11), kuasa (Kisah Para Rasul 1:8), karunia-karunia Roh
Kudus yang nyata (1 Korintus 12:7-11), berkat-berkat jasmani (Matius 6:33), doa dan
permintaan dan lain-lain.
Atmosfir penyembahan “dibangun” melalui lagu-lagu penyembahan yang
kemudian dilanjutkan dengan menggunakan sebuah pola akor penyembahan yang
disebut flowing dilakukan berulang-ulang dengan dinamik yang bervariatif dengan
mengundang Roh Kudus dan hadirat Tuhan memenuhi tempat ibadah tersebut.
Sementara itu menurut Pdp. Obed Sembiring akor penyembahan bukanlah sebuah
pola, tetapi akor penyembahan adalah cara untuk membawa jemaat dalam kesatuan
penyembahan melalui musik yang baik. Beliau mengatakan “Musik yang baik adalah
musik yang memiliki unsur doa, penyembahan dan firman”.
Dalam “

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Musik Dalam Ibadah Kontemporer di GBI Medan Plaza: Suatu Kajian Struktur, Konteks dan Fungsi Sosial