Merencanakan Program Pelatihan Bagi Guru

melayani pemberitaan Injil tapi baru berada dalam tahap informatif. Apa yang ia berikan hanya merupakan pemindahan informasi dari apa yang ia dapat. Setelah membaca satu buku, ia langsung mengkhotbahkan buku itu, tanpa bisa mengolah, sehingga dalam berkhotbah ia tidak peduli apakah kotbahnya pada minggu lalu berlawanan dengan khotbahnya pada minggu ini. Setelah itu kemampuan seorang guru harus naik ke tahap yang lebih tinggi, yaitu tahap analitik. Pada saat membandingkan, baru kita mengetahui bahwa ada hal-hal yang perlu dipertanggungjawabkan. Ini tugas analisa. Tahap berikutnya adalah tahap sinkretik dan kritik, dimana guru harus mampu mengintegrasikan hal-hal yang penting dan akhirnya bisa melakukan kritik yang akurat dan tajam. Jika tahap-tahap ini Saudara tidak mengerti, maka Saudara akan secara sembarangan menerima pelayanan, dan hanya akan mengajar dengan cerita yang lucu-lucu, yang jika pendengarnya banyak tertawa dianggap sebagai guru yang baik. Gereja akan menuju kepada kekacauan yang luar biasa kalau guru-gurunya tidak dapat mencapai tahap komparatif, analitik dan sinkretik ketika menerima suatu informasi. Seorang guru bukan sekedar memberikan informasi, bukan hanya memberikan isyarat-isyarat dan tumpukan pengetahuan secara kepingan- kepingan fragmentaris. Saudara harus mempunyai pengetahuan yang bersifat integratif, yang bersifat analitik dan kritis, sehingga Saudara dapat membedakan dan dapat memberikan kepada murid-murid Saudara jauh melebihi apa yang mereka dengar dari ajaran itu sendiri.

1352003: Merencanakan Program Pelatihan Bagi Guru

Berikut ini beberapa petunjuk tentang latihan guru Sekolah Minggu. Latihan-latihan tersebut diharapkan dapat semakin menambah pengetahuan seorang guru dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya di Sekolah Minggu mereka masing-masing. 1. Adakanlah program khusus Kursus untuk para guru SM. Alangkah bergunanya jikalau pendeta sendiri memimpin suatu kursus bagi guru-guru Sekolah Minggu dalam gerejanya. Misalnya seminggu sekali mereka dididik dalam pendidikan Alkitab, khususnya mengenai Alkitab atau pokok lain yang harus diajarkannya Minggu depan, dan lagi bagaimana materi atau pokok seperti itu harus diuraikan dan dibawa kepada murid-murid mereka. 2. Pertolongan guru-guru lama yang sudah berpengalaman tentu saja penting sekali supaya guru-guru baru dapat belajar dengan cepat seluk beluk seputar pelayanan SM sehingga dapat segera diperbantukan dalam mengajar SM. Bila guru lama dapat mengajarkan pengetahuan mengenai SM dengan baik dan sungguh-sungguh, maka dengan cepat dan lancar pula guru-guru baru tersebut akan mencontoh pengajaran yang baik, yang diberikan oleh senior-senior mereka. 3. Adakanlah pertemuan sebulan sekali antara pendeta dan semua guru SM. Hal ini sangat bermanfaat, bukan selaku pertemuan resmi, melainkan selaku perundingan bersama tentang kesukaran-kesukaran yang ditemui, pengalaman-pengalaman yang baik diberitahukan kepada teman-teman, soal-soal tentang isi Alkitab atau tentang metode, dan sebagainya. Perundingan semacam itu mempererat hubungan antara para pekerja dan menambah semangat untuk berjuang terus dalam pelayanan SM. 4. Kemungkinan yang lain ialah memakai sebuah Sekolah Minggu sebagai sekolah demonstrasipraktek. Di sana haruslah ditempatkan ahli- ahli pengajaran Sekolah Minggu yang handal. Mereka dapat mempertunjukan metode-metode dan alat-alat yang baru. Biasanya guru-guru SM yang ingin bertumbuh pengetahuannya senang sekali menghadiri dan mempelajari demonstrasi sedemikian. 5. Dalam hubungan yang lebih luas dapatlah kita mengadakan pertemuan yang berupa kursus latihan bagi guru-guru Sekolah Minggu dalam Gereja kita, atau bekerja sama dengan beberapa gereja lainnya. Pertemuan seperti itu biasanya sangat menarik perhatian dan besar manfaatnya bagi pekerjaan ini. 6. Suatu jalan lain pula, yang juga tak sukar diatur, ialah membuka perpustakaan jemaat, terutama untuk guru-guru atau mereka yang terbeban dalam pelayanan anak. Makin lama makin banyak diterbitkan kitab-kitab dan buletin untuk mempelajari Alkitab, iman dan kesusilaan Kristen, Gereja dan Pekabaran Injil, pengajaran agama dan bermacam-macam pokok lain, yang semuanya besar gunanya bagi guru-guru kita. Pengetahuan dapat terus bertambah dengan banyak membaca. Walaupun tidak ada pendeta atau guru ahli yang dapat membimbing kita para guru, asalkan kita rajin membaca banyak bahan yang dapat kita gunakan dalam tugas kita, pastilah pengetahuan kita akan terus bertumbuh. 7. Jika memungkinkan, gunakanlah film-film atau gambar-gambar sorot filmstrip yang dapat memberikan penerangan bagi para guru-guru SM. Di Amerika sudah banyak di buat film dan gambar sorot untuk maksud ini. Di Indonesia pun, sekurang-kurangnya di kota-kota besar, metode ini dapat dipakai.

1362003: Buah-Buah Dalam Pelayanan Guru SM