Jarak Tempuh Mikrajuddin Abdullah Fisika Dasar I 2016

Bab 2 Besaran-Besaran Gerak 100 bergerak. Yang perlu dicatat hanya di mana posisi awal benda dan di mana posisi akhirnya. Sedangkan untuk menentukan jarak tempuh maka tiap saat posisi benda harus dicatat. Jarak pergerakan benda dalam tiap pertambahan waktu sekecil apapun harus diukur. Jarak temput adalah jumlah semua jarak pergerakan tersebut. 1 2 3 Gambar 2.12 Jarak tempuh Bandung-Jakarta melalui lintasan 1, 2, dan 3 berbeda. Tetapi pepindahan dari Bandung ke Jakarta tetap sama, tidak bergantung pada lintasan yang diambil. Sebagai contoh, kita sudah tentukan bahwa besar perpindahan dari ITB ke Gedung Sate adalah 1,53 km. Jarak tersebut adalah panjang garis lurus yang menghubungkan ITB dengan Gednung Sate. Kalau kita jalan atau naik kendaraan tidak mungkin kita mengikuti garis lurus tersebut karena akan menabrak sejumlah rumah penduduk atau gedung perkantoran. Yang bisa kita lakukan adalah melewati jalan yang ada yang tentu berbelok-belok. Jalan yang kita tempuh ini disebut jarak tempuh. Besarnya jarak tempuh bergantung pada jalan yang dipilih. Mengukur Jarak Tempuh dengan GoogleMap Dengan menggunakan GoogleMap kita bisa memperkirakan jarak Bab 2 Besaran-Besaran Gerak 101 tempuh pada berbagai jalan yang dipilih. Gambar 2.13 adalah salah satu lintasan yang dapat kita pilih. Jika lintasan yang kita pilih adalah melewati jl. Ciungwanara dan jl. Diponegoro maka jarak tempuh sekitar 1,7 km. Jika kita melewati jl. Ciungwanara dan jl. Surapati maka jarak tempuh adalah 1,8 km dan jika kita memilih jl. Ir. J. Djuanda dan jl. Diponegoro maka jarak tempuh sekitar 1,7 km. Informasi ini ditampilkan oleh GoogleMap seperti ditunjukkan pada Gambar 2.14. Gambar 2.13 Menentukan jarak tempuh dari ITB ke Gedung Sate menggunakan GoogleMap. Bab 2 Besaran-Besaran Gerak 102 Gambar 2.14 Tampilan jarak tempuh dari ITB ke Gedung Sate dalam layar GoogleMap. Jarak di Permukaan Bumi Lokasi di permukaan bumi dinyatakan oleh sudut lintang dan sudur bujur. Dalam bahasa Inggris sudut lintang disebut latitude sedangkan sudut bujur disebut longitude. Jika kita diberikan data sudut lintang dan sudut bujur dua kota, berapakah jarak terdekat dua kota tersebut? Tentu jarak tersebut bukan sebuah garis lurus yang menghubungkan kedua kota. Sebab kalau lokasi kota cukup jauh maka garis lurus yang menghubugkan dua kota akan menembus tanah disebabkan oleh bentuk bumi yang mendekati bola. Jarak tedekat adalah garis lengkung mengikuti lengkungan permukaan bumi tetapi kalau diporoyeksikan ke bawah akan berupa garis lurus. Penerbangan pesawat komersial antar kota akan cenderung menempuh jarak terpendek tersebut. Tidak heran saat ini bahwa penerbangan dari China ke Amaerika atau Canada mengambil rute di atas kutub utara karena itulah garis lengkung terpendek yang menghubungkan dua kota yang disambung. Bab 2 Besaran-Besaran Gerak 103 Untuk menentukan jarak terpendek dua lokasi di permukaan bumi kita dapat menggunakan persamaan    R s 2.20 dengan R adalah jari-jari bumi   dinamakan sudut sentral dalam satuan radian Sudut sentral memenuhi persamaan     1 2 2 1 2 1 cos cos cos sin sin arccos            2.21 dengan  1 adalah sudut lintang lokasi pertama;  2 adalah sudut lintang lokasi kedua;  1 adalah sudut bujur lokasi pertama;  2 adalah sudut bujur lokasi kedua. Dalam menentukan sudut, ditetapkan bahwa lintang utara diambil bernilai positif dan lintang selatan bernilai negarif, bujur barat diambil negatif dan bujur timur diambil positif. Contoh 2.4 Koordinat kota Jakarta adalah 6,1745° LS, 106,8227° BT dan koordinat kota Osaka Jepang adalah 34,6939° LU, 135,5022° BT Gambar 2.15. Pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA-888 melakukan penerbangan langsung dari Bandara Internasional Soekarto Hatta jam Bab 2 Besaran-Besaran Gerak 104 23.30 WIB dan tiba di Bandara Kansai Osaka pukul 08.15 waktu Osaka dan kita anggap selama penerbangan pesawat selalu berada pada lintasan terpendek yang menghubungkan Jakarta dan Osaka. Kita ingin menentukan jarak terpendek dua kota tersebut. Gunakan jari-jari bumi 6.400 km. Gambar 2.15 Lokasi bandara Soekarno Hatta Jakarta dan bandara Kansai, Osaka Jepang pada peta penerbangan umber: flightaware.com, diakses 24 Januari 2016 Jawab Koordinat sudut dua kota adalah  1 = -6,1745 o ,  2 = 34,6939 o ,  1 = 106,8227, dan  2 = 135,5022 o . dengan demikian   =  2 -  1 = 135,5022 o – 106,8227 o = 28,6795 o . Besar sudut sentral yang menghubungkan Jakarta dan Osaka adalah     1 2 2 1 2 1 cos cos cos sin sin arccos                o o o o o 6795 , 28 cos 6939 , 34 cos 1745 , 6 cos 6939 , 34 sin 1745 , 6 sin arccos     = 0,8554 rad Bab 2 Besaran-Besaran Gerak 105 Jarak terpendek Jakarta-Osaka menjadi 8554 . 400 . 6      R s = 5.474 km

2.4 Kecepatan Rata-Rata

Ada benda yang berpindah cepat dan ada yang berpindah lambat. Jika siput dan kodok disuruh berpindah sejauh 1 meter, yang mana yang duluan sampai? Pasti kodok bukan? Kita katakan bahwa kodok memiliki kecepatan berpindah yang lebih besar dari siput. Oleh karena itu kita perlu definisikan besaran kecepatan untuk mengukur berapa cepat sebuah benda berpindah. Kita mulai dari definisi kecepatan rata-rata. Kecepatan rata-rata didefinsikan sebagai perbandingan antara perpindahan dengan lama waktu melakukan perpindahan. Misalkan pada saat t 1 posisi benda adalah 1 r  dan pada saat t 2 , posisi benda adalah 2 r  . Maka  Perpindahan benda adalah: 1 2 21 r r r        Lama waktu benda berpindah adalah: 1 2 t t t    Definisi kecepatan rata-rata adalah t r v    21  2.22 Di sini kita gunakan tanda kurung siku,  …, sebagai simbol untuk rata-rata. Kecepatan rata-rata juga merupakan besaran vektor. Karena hanya ditentukan oleh perpindahan dan waktu tempuh untuk melakukan perpindahan maka kecepatan rata-rata tidak dipengaruhi lintasan yang ditempuh. Informasi yang kita butuhkan hanya posisi awal, posisi akhir dan waktu tempuh. Bagaimana cara benda bergerak selama selang waktu tersebut tidak perlu diperhatikan. Bab 2 Besaran-Besaran Gerak 106 Contoh 2.5 Pada saat t = 2 s posisi sebuah benda adalah i r ˆ 10 1   m, pada saat t = 6 s posisi benda menjadi k j r ˆ 10 ˆ 8 2    m, dan pada waktu t = 16 s posisi benda adalah k j i r ˆ 5 ˆ 10 ˆ 15 3     meter. Berapakah kecepatan rata-rata benda selama perpindahan dari t 1 ke t 2 , dari t 2 ke t 3 , dan dari t 1 ke t 3 ? Jawab Perpindahan benda dari t 1 sampai t 2 adalah 1 2 21 r r r       ˆ 10 ˆ 10 ˆ 8 i k j    k j i ˆ 10 ˆ 8 ˆ 10     m. Lama perpindahan benda t = 6 – 2 = 4 s Kecepatan rata-rata benda dari t 1 sampai t 2 adalah t r v    21 21  4 ˆ 10 ˆ 8 ˆ 10 k j i     k j i ˆ 5 , 2 ˆ 2 ˆ 5 , 2     ms Perpindahan benda dari t 2 sampai t 3 adalah

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23